Tampilkan postingan dengan label Bersaksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bersaksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Januari 2011

Agama hanya Islam

Manusia,  Dunia dan ciptaanNya yang lain,  ada namun tidak berdiri sendiri.
Segala ciptaanNya itu maujud artinya ada namun karena pengaruh yang lain yakni karena Allah ta’ala.

Segala ciptaanNya, ada karena Ar Rahmaan dan Ar Rahiim nya Allah ta’ala

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/lillahi-taala/

Jadi kalau kita pahami secara hakikat, bukan lagi tiada tuhan selain Allah melainkan tiada selain Allah.

Inilah ajaran tauhid yang disampaikan oleh nabi Adam a.s s/d nabi terakhir, nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam

Juga seluruh para Nabi sejak nabi Adam a.s telah bersaksi (syahadah) bahwa Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata:  ‘Setiap kali Allah swt. mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah swt. menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah saw. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )

"Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah  yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )

Inilah yang ditelaah lebih lanjut dalam hakikat "Nur Muhammad" bahwa Rasulullah telah "ada" sebelum Beliau lahir.  Kita  yakin bahwa kesaksian akan Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah dilakukan oleh seluruh nabi, karena pada hakikatnya seluruh nabi menyampaikan tentang Islam


“…dia (malaikat Jibril) langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata 

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “,Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”




Islam adalah bersyahadat bahwa "tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah" sedangkan syariat lainnya yang dibawa para Nabi berbeda-beda tergantung kehendakNya  (zaman dan kaum para Nabi) sampai dengan ketika Allah ta'ala menyampaikan
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" QS Al Maa'idah [5]: 3) .  Sejak itu berlakulah selain syahadat, syariat yang kita kenal dengan syariat Islam didalamnya sholat, zakat, puasa dan ibadah haji

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS Al Baqarah [2]: 132 )

"Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi  atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah : "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik" (QS Al Baqarah [2]: 139 )

"Sesungguhnya agama  disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka" (QS Ali Imran [3]: 19)

Sesungguhnya agama sejak nabi Adam a.s sampai Rasulullah hanyalah Islam, tidak berselisih jika orang-orang yang mengetahuinya.

Namun sayang sekali orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidaklah lagi dikatakan beragama karena mereka tidak menegakkan syahadat.

Firman Allah ta’ala yang artinya

Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu“. (QS Al Maa’idah [5]:68 )

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Wassalam

Kamis, 03 Juni 2010

Saya bersaksi

Marilah merasakan dan mengalami sebenar-benarnya
"saya bersaksi"


Pada dunia maya (internet), baik melalui  email, chatting, milis,  forum diskusi, blog   kadang kita temui perdebatan dalam bidang agama dengan berbekal pemahaman maupun ilmu yang dipahami/diketahui.

Kita dapat pula temukan sebagian umat muslim gemar “mencela”, “menghujat”, “menilai”, “menghakimi” saudara-saudara muslim lainnya berdasarkan tingkat pemahaman mereka sendiri.

Padahal Allah telah sampaikan bahwa adanya perbedaan tingkat pemahaman / kompetensi pada muslim semata-mata semua itu merupakan kehendak Allah sebagaimana firmanNya yang artinya.

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

Insyaallah muslim yang sudah memahami dan mengupayakan ma’rifatullah tidak akan “mencela”, “menghujat”, “menilai” atau “menghakimi” saudara-saudara muslim lainnya, karena mereka sudah “merasakan”  dan “mengalami” makna “saya bersaksi” dalam kalimat syahadatain.

Sebagaimana yang disampaikan imam Al Qusyairi bahwa,
Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Orang-orang yang terhijab tidak akan mampu "bersaksi". Hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul 'ibadah,  sampai karomah juga hijab, dll. Salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain nggak kelihatan, bagaimana dia bisa "melihat" Allah ( "bersaksi").

Orang-orang yang sibuk memperturutkan hawa nafsu adalah bukan sebenar-benarnya seorang syahid (penyaksi) pantaslah kalau mereka masih “mencari” “di mana Allah” atau “bagaimana Allah”. Celakalah mereka ! Semoga Allah memberikan pertolongan karunia pemahaman yang lebih baik kepada mereka.

Imam Al Qusyairi mengatakan, " Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan "bagaimana Dia?" atau "dimana Dia?". Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu  menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apap pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa".

Secara syariat, seorang muslim sudah terpenuhi rukun Islam ketika telah dengan sungguh-sungguh mengucapkan “saya bersaksi” dalam kalimat syahadatain ( 2 kalimat syahadat). Sebaiknya kita tidak berpuas diri sebatas pengucapan atau pernyataan saja.

Bilakah manusia sebenar-benarnya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah ?

Setiap manusia sudah bersaksi bahwa Allah adalah sebagai Rabbnya ketika masih dalam alam kandungan. Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firman yang artinya.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Keadaan sebenar-benarnya bersaksi terjadi dikarenakan manusia (ketika bayi dalam kandungan) dalam keadaan suci dan bersih.

Ketika bayi dalam kandungan berada di dalam air ketuban (omnium water). Sehingga seorang bayi dalam kandungan tidak melakukan aktifitas inderawi secara sempurna. Dengan kata lain seorang bayi tidak makan dan tidak minum atau berbicara dengan mulut, tidak bernapas dengan hidung, tidak melihat dengan mata, tidak mendengar dengan telinga, dan tidak buang air besar atau kecil melalui anus atau kemaluan. Tetapi bayi tersebut mendapatkan semua kebutuhan jasmaninya melalui saluran plasenta yang menghubungkan antara pusar bayi dengan dinding rahim ibu.

Dalam kandungan, seorang bayi juga tidak berpikir dikarenakan fungsi otaknya belum sempurna, tetapi kemampuan ruhani bayi telah hidup sempurna.

Keadaan sebenar-benarnya bersaksi terjadi dikarenakan dalam keadaan suci dan bersih, ketika panca indera dan hawa nafsu (jasmani) belum mempengaruhi ruhani. Saat-saat manusia terhubung (wushul) dengan Allah SWT.

Jadi upaya yang harus dilakukan agar kita bisa merasakan dan mengalami sebenar-benarnya bersaksi  dan kembali terhubung (wushul) dengan Allah SWT adalah kembali bersih dan suci.  Upaya yang dilakukan adalah dengan bertaubat yang sungguh-sungguh, akhlak yang baik, adab yang mulia, mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs), mengenal diri, manajemen hati, sebagaimana upaya yang dilakukan oleh kaum sufi.

Sekarang kita dapat mengambil pelajaran (al-hikmah) dari perkataan Rasulullah SAW,  "Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid" (HR.Ibnu Majah), dengan makna mensucikan jiwa, akhlak yang baik, adab yang mulia dalam perjalanan hidup kita, mengantarkan kita kembali sebenar-benarnya bersaksi (syahid) sebagaimana pada awal mula kejadian kita (ketika bayi dalam kandungan).

Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan, agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada saat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” (QS Al An’am 6: 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: “ Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu” (QS Al Kahfi 18:48).

Pahamlah kita kenapa muslim ketika selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan kembali dalam keadaan suci bersih, kembali fitri dengan kiasan "berbaju baru" yakni kemenangan menjaga hawa nafsu, mensucikan jiwa, berakhlak baik dan beradab mulia.  Namun sebagian umat muslim hanya memaknai secara lahiriah atau tekstual dengan mengenakan "baju baru" disaat hari raya Idul Fitri.  Akhlak adalah pakaian ruhani. Semakin  akhlaknya tambah bagus, pasti ruhaninya tambah bersih.

Begitu pula syarat syahnya sholat (mi'raj kaum muslim) adalah dengan bersuci atau berwudhu, yang diuraikan dalam thaharah.

"Tak akan diterima sholatnya orang yang ber-hadats sampai ia berwudhu’" . [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (135 & 6954), dan Muslim dalam Shohih-nya (536)]

Nasehat Syaikh Ibnu Athailllah

Betapa hati manusia akan menyinarkan cahaya, bila cermin hati kita masih memantulkan beraneka macam gambaran tentang alam kemakhlukan? Betapa seorang hamba mampu menjumpai Allah, padahal ia terbelenggu ke dalam syahwat. Bagaimana mungkin seorang hamba dengan keinginan kerasnya untuk masuk kehadirat Allah, padahal ia belum bersih dari janabat kelalaiannya. Bagaimana mungkin seorang hamba mampu memahami berbagai rahasia yang halus halus, padahal ia belum juga bertobat dari kesalahannya. ”

Wasssalam

Zon di Jonggol

.

.

Anjuran:  Silahkan lanjutkan dengan membaca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/09/mereka-lalai/