Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2011

Kebangkitan Islam

Berikut tulisan menarik tentang kebangkitan Islam masa modern kini, apakah condong kebangkitan materi atau kebangkitan akhlak.

Pilihan kami adalah kebangkitan akhlak atau kebangkitan menuju muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau muslim bertasawuf.

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini

Kebangkitan Islam


PADA 22 Desember 2010 lalu, saya diminta menjadi pembahas dalam sebuah seminar tentang peradaban Islam di Jakarta Islamic Centre. Diantara pembicara ada Prof. Dr. Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Jakarta. Dalam uraiannya, Prof Azyumardi menyatakan, bahwa peluang kebangkitan Islam lebih besar akan terjadi di Asia Tenggara ketimbang di Timur Tengah. Berbagai alasan dikemukakannya.

Pada sesi pembahasan saya menyampaikan bahwa soal kebangkitan Islam sebenarnya sudah banyak dipaparkan dalam al-Quran. Misalnya, dalam al-Quran Surat Al-Maidah ayat 54. Disitu disebutkan ciri-ciri satu kaum yang dijanjikan Allah yang akan meraih kemenangan: mereka dicintai Allah dan mereka mencintai Allah; mereka saling mengasihi sesama mukmin; mereka memiliki sikap ‘izzah terhadap orang-orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah; dan mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang memang suka mencela. Kaum seperti inilah yang harus mampu dibentuk oleh umat Islam, khususnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Hanya saja, saat bicara tentang kebangkitan Islam, maka yang perlu didefinisikan terlebih dahulu adalah apa yang sebenarnya disebut dengan “bangkit”. Sebab, jangan-jangan, makna kata “bangkit” itu sendiri sudah kabur di benak banyak kaum Muslimin. Seperti kaburnya makna kata “kemajuan”, “pembangunan”, “kebebasan”, dan sebagainya.

Misalnya, negara-negara Barat membuat definsi yang materialistis terhadap makna “kemajuan”. Mereka membagi negara-negara di dunia menjadi negara maju, negara sedang berkembang dan negara terbelakang. Tentu saja, ukuran-ukuran yang digunakan adalah ukuran kemajuan materi. Faktor akhlak tidak masuk dalam definisi “kemajuan” atau “pembangunan” tersebut. Jadi, jika dikatakan suatu negara sudah maju, maka yang dimaksudkan adalah kemajuan materi, khususnya dalam ekonomi, sains dan teknologi. Padahal, secara akhlak, negara itu sebenarnya hancur-hancuran.

Kita, kaum Muslimin, yang masih memiliki keimanan dan menjaga akhlak mulia, sudah selayaknya tidak merasa hina dan rendah martabat saat berhadapan dengan dunia Barat yang serba gemerlap dalam dunia materi. Kita sungguh kasihan kepada sebagian pejabat kita yang rela begadang, bersorak-sorai, menghambur-hamburkan uang hanya untuk menyambut pergantian Tahun Baru dalam tradisi Barat. Mestinya, jika mereka Muslim, mereka mengajak rakyatnya untuk beribadah, mensyukuri setiap tambahan nikmat umur yang mereka terima dari Allah SWT.

Jika kita memiliki kebanggaan akan nilai-nilai dan akhlak kita, maka kita justru akan bersikap sebaliknya. Kita kasihan pada orang-orang sekular – di mana pun -- yang tidak tahu lagi kemana hidup mereka harus diarahkan. Hidup mereka hanya ditujukan untuk memuaskan syahwat, tidak beda jauh dengan peri hidup binatang. Mereka tidak ingat lagi perjanjian azali dengan Allah, saat berada di alam arwah, bahwa mereka pernah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, dan mereka adalah hamba Allah. (QS 7:172).

Maka, ketika negara kita diminta mengejar kemajuan, kita melihat, yang lebih difokuskan adalah kemajuan materi, bukan kemajuan akhlak. Padahal, dalam UU Sisdiknas disebutkan, tujuan pendidikan nasional juga mencakup persoalan akhlak. Juga, sesuai lagu “Indonesia Raya”, kita harus membangun jiwa, baru membangun badan/raga. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” begitu katanya. Tapi, apakah setiap tahun, ada laporan pemerintah kita tentang keberhasilan atau kegagalan membangun jiwa?

Bagi kita, umat Muslim, jika ingin membangun atau membangkitkan sebuah peradaban, maka yang seharusnya dibangun adalah manusia-manusia yang beradab. Membangun peradaban bukan sekedar bercita-cita merebut kekuasaan. Sebab, untuk sekedar berkuasa yang diperlukan adalah kekuatan, dan tidak harus selalu berbasis pada keilmuan. Bangsa Mongol pernah berhasil merebut kekuasaan di Baghdad, 1215, meskipun mereka sangat rendah ingkat peradabannya. Pasukan Salib pernah menaklukkan kaum Muslimin yang jauh lebih tinggi tingkat peradabannya.

Sekarang pun, kita menyaksikan, banyak orang di dunia bisa merebut kekuasaan, dengan mengandalkan modal kecantikan, popularitas, dan banyaknya anak buah, meskipun tingkat keilmuan dan akhlaknya sangat rendah. Jika seorang atau satu kelompok berperadaban rendah tetapi kuat secara fisik dan materi berhasil merebut kekuasaan, maka bisa menimbulkan kerusakan.

Jadi, sekali lagi, dalam merumuskan kebangkitan Islam, yang perlu digariskan adalah makna kebangkitan itu sendiri! Bangkit dalam hal apa? Barulah setelah itu dirumuskan, bagaimana cara bangkitnya! Sejarah Islam menunjukkan, bahwa kebangkitan umat Islam sebagai sebuah peradaban terjadi saat umat berhasil menghidupkan tradisi ilmu dan menanamkan jiwa cinta pengorbanan. Dua aspek ini pun sebenarnya bukan khas Islam. Peradaban lain juga harus menempuh jalan yang sama untuk bisa bangkit, yakni membangun tradisi ilmu dan menanamkan semangat pengorbanan.

Kita bisa menyimak kisah-kisah hebat berikut ini, seputar semangat pengorbanan:

Alkisah, Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang. Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan. Petugas bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak, demi Allah!” Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.” Penasaran dengan jawaban itu, para petugas bertanya lagi, “Siapa nama kamu?” Dijawab si laki-laki, “Tidak, kalian tidak perlu tahu namaku agar kalian dan orang-orang lain tak memujiku. Aku sudah cukup bersyukur kepada Allah dan puas dengan ganjaran-Nya itu.” Setelah diselidiki, diketahuilah, laki-laki itu bernama Amir bin Abdi Qais.

Sebelum terjadi perang Qadisiah, Panglima Perang Sa’ad bin Abi Waqash mengirimkan utusan bernama Rabi’ bin Amir untuk menemui Jenderal Rustum, panglima Perang Persia. Rabi’ masuk ke tenda Rustum yang bergelimang kemewahan dengan tetap memegang tombak dan menuntun kudanya. Ketika Rustum bertanya, “Apa tujuan kalian?” Dengan tegas Rabi’ menjawab, “Allah telah mengutus kami untuk membebaskan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan Allah semata, dan membebaskan manusia dari kesempitan menuju kelapangan hidup di dunia, dan dari penindasan berbagai agama yang sesat menuju agama Islam yang menuh keadilan.”

Kita ingat sebuah cerita terkenal, ketika Ja’far bin Abdul Muthalib dan kawan-kawan sedang berada di Habsyah, sejumlah pemuka Quraish juga mengejar mereka. Raja Najasyi diprovokasi untuk mengusir kaum Muslim itu. Kepada Najasyi dan para pendeta Kristen, Amr bin Ash dan Amarah menyatakan, bahwa orang-orang Islam tidak akan mau bersujud kepada Raja. Ketika kaum Muslim dipanggil menghadap Raja, mereka diperintahkan, “Bersujudlah kalian kepada Raja!”. Dengan tegas Ja’far menjawab, “Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah semata.”

Sejumlah cerita tentang kezuhudan dan kegigihan generasi-generasi awal Islam itu diungkap oleh Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dalam bukunya, “Maa Dzaa Khasiral ‘Aalam bi-inkhithaathil Muslimin.\\\\\\\" (Terjemah versi Indonesia oleh M. Ruslan Shiddieq, Islam Membangun Peradaban Dunia, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1988). Melalui bukunya, Ali an-Nadwi memang ingin menggugah kaum Muslim, bahwa kebangkitan dan kemenangan kaum Muslim hanya akan bisa diraih jika umat Islam memiliki keimanan yang kokoh, dan tidak goyah dengan berbagai godaan dunia.

Dalam risalahnya yang terkenal, Limaadza Taakkharal Muslimun wa-Limaadza Taqaddama Ghairuhum, Syekh Amir Syakib Arsalan juga mengungkap sejumlah perbandingan, mengapa kaum Muslimin bisa dikalahkan oleh bangsa-bangsa Barat di berbagai lini kehidupan. Salah satu sikap yang menonjol adalah rendahnya sikap rela berkorban kaum Muslim dalam perjuangan. Sebagai contoh, ia mengungkapkan kesetiaan bangsa Inggris terhadap barang-barang produksinya dan toko-tokonya sendiri, walaupun harganya lebih mahal. “Aku pernah mendengar bahwa bangsa Inggris yang ada di daerah jajahannya, mereka tidak suka membeli barang-barang yang diperlukan terutama barang-barang yang berharga, melainkan mereka mesti membeli (pesan) dari negara mereka sendiri…”.

Lebih jauh tentang sebab-sebab kemunduran umat Islam di awal abad ke-20, diuraikan dengan sangat tajam oleh Amir Syakib Arsalan dalam risalah yang ditulisnya menjawab pertanyaan Syekh Muhammad Basyuni Imran, Imam Kerajaan Sambas, dengan perantaraan Muhammad Rasyid Ridha. Moenawwar Chalil menerjemahkan buku ini tahun 1954 dengan judul Mengapa Kaum Muslim Mundur. (Jakarta: Bulan Bintang, 1954).

Hilangnya semangat berkorban – jiwa, raga, harta, dan sebagainya – di tengah umat Islam bersamaan dengan munculnya sikap cinta dunia (hubbud-dunya). Sikap ini muncul karena ilmu yang salah, yang melihat dunia sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kehidupan akhirat. Kapan saja sikap ini muncul, maka umat Islam tidak akan pernah mengenyam kejayaan. Rasulullah saw sudah mengingatkan, umat Islam akan menjadi sampah (buih), ketika sudah terjangkit penyakit “al-wahnu” (hubbud-dunya dan takut mati) dalam diri mereka.

Kecintaan akan pengorbanan tidak mungkin muncul dalam diri seseorang atau masyarakat, jika tidak didahului dengan tumbuhnya tradisi ilmu yang benar di tengah masyarakat. Bisa dikatakan, tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu. Tanpa kecuali, peradaban Islam. Rasulullah saw telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Di tengah masyarakat jahiliah gurun pasir, Rasulullah saw berhasil mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat Nabi saw dikenal sebagai orang-orang yang “gila ilmu”.

Bukan hanya itu, tradisi ilmu Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw telah melahirkan manusia-manusia unggulan dalam satu ”generasi shahaby” yang belum mampu dicapai oleh peradaban manapun, hingga kini. Rasulullah saw berhasil mengubah ”masyarakat ummiy” yang hidup dalam tradisi lisan menjadi masyarakat yang cinta ilmu dan tradisi tulis. Tradisi ilmu Islam saat itu pun mampu mengubah masyarakat yang gila minuman keras menjadi masyarakat yang bersih dari ”tradisi teler” hanya dalam tempo beberapa tahun saja.

Memang, peradaban yang dibangun oleh Islam adalah peradaban tauhid, yang menyatukan unsur dunia dan akhirat, aspek jiwa dan raga. Islam bukan agama yang menganjurkan manusia untuk lari dari dunia demi tujuan mendekat kepada Tuhan. Nabi memerintahkan umatnya bekerja keras untuk menaklukkan dunia dan meletakkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya. Nabi melarang keras sahabatnya yang berniat menjauhi wanita dan tidak menikah selamanya, agar bisa fokus kepada ibadah.

Berbeda dengan jalan pikiran banyak tokoh agama pada zaman itu, Nabi Muhammad saw justru mendeklarasikan: ”Nikah adalah sunnahku, dan siapa yang benci pada sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku.” Meskipun begitu, Rasulullah saw juga memperingatkan dengan keras: ”Jika umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan dicabut kehebatan Islam dari mereka.”

Inilah peradaban Islam: bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu dalam masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuwan yang zalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, (radhiyallahu ’anhum), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan sebagainya. Imam Abu Hanifah, misalnya, lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan Qadhi negara.

Tradisi ilmu yang tinggi disertai dengan tertatanamnya kecintaan akan pengorbanan untuk meraih cita-cita luhur itulah yang harus diwujudkan di tengah umat Islam, jika umat Islam ingin meraih satu kebangkitan sebagai sebuah peradaban. [Depok, Januari 2011/hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP} Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Sumber:  http://www.hidayatullah.com/read/14903/15/01/2011/kebangkitan-islam?.html

Kamis, 27 Januari 2011

Ikhtilaf dalam Persatuan

Marilah kita sabar dan menghargai perbedaan pemahaman ( ikhtilaf) dalam bingkai persatuan.

Sebaiknya jangan pernah memaksakan keinginan bahwa hanya pemahaman (kaum) kita saja yang benar selain pemahaman (kaum) kita adalah sesat. Apalagi diikuti dengan langkah-langkah seperti mengubah atau merusak  karya ulama-ulama terdahulu.

Ikhtilaf adalah kehendak Allah ta'ala. Allah ta'ala telah meperlihatkan kepada kita bahwa Dia menerima hamba Allah dengan berbagai metode pemahaman, dengan izinNya mengunjungi rumah Allah, Baitullah, Ka'bah. Namun Allah ta'ala telah mempersiapkan agar tidak terjadi perselisihan (khilaf) dengan larangan berdebat selama berkunjung ke rumahNya. Kita harus dapat membedakan antara ikhtilah (perbedaan pemahaman dengan khilaf (perselisihan pemahaman). Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/20...nya-keragaman/

Lalu kalau ada masalah baru kemana kita bertanya ?

Setiap permasalahan yang kita hadapi, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah komunikasikan dengan Allah ta'ala karena pada hakikatnya segala permasalahan , segala cobaan, segala kebutuhan dan keinginan kita merupakan kehendakNya. Allah ta'ala lah yang akan membimbing kita kemana kita akan bertanya atau dengan kehendakNya bisa saja Dia "menunjukkan" langsung firmanNya atau hadits atau melalui mimpi , firasat atau apapun yang dikehendakiNya. Allah ta'ala akan mencintai hambaNya yang mengadukan segala permasalahan kepadaNya untuk kesempatan pertama. Jika Allah ta'ala mencintai kita maka tidak ada lagi rasa khawatir dan tidak pula bersedih hati.

Berita terkait :

Syeikh Al Azhar:”Ada Pihak yang Berusaha Rusak Karya Ulama”

Rabu, 26 Januari 2011

Hidayatullah.com--Syeikh Al Azhar, Dr. Ahmad At Thayyib menyatakan bahwa pengkafiran dan pemfasikan adalah perkara penyebab rusaknya masyarakat Muslim. Hal itu beliau sampaikan dalam sesi pembukaan "Forum Alumni Al Azhar VI," yang mengangkat tema tentang persatuan dalam komunitas Ahlu Sunnah, demikian lansir onislam.net, (25/1).

Selain itu, Dr. Ahmad Thayyib juga menyatakan, “Penyakit umat Islam adalah perpecahan dan perselisihan intern. Ini adalah penyakit yang buruk, yang merupakan titik lemah yang dimanfaatkan oleh para penjajah, yang masih menggunakan strategi belah bambu.”

Masalah perpecahan juga berpengaruh kepada umat Islam khususnya para pemuda. Menurut beliau, para pemuda Muslim saat ini terlibat perselisihan kuat di antara mereka karena madzhab. Perselisihan ini memalingkan perhatian mereka dari masalah al-Quds, serta penyerangan Amerika terhadap Iraq, Afghanistan serta Sudan.

Dr. Ahmad At Thayyib juga memperingatkan adanya pihak-pihak yang jelas-jelas “mempermainkan” fiqih madzhab imam empat dan menggantinya dengan fiqih baru dan mewajibkannya kepada masyarakat.

Beliau juga memperingatkan adanya upaya negatif terhadap buku para ulama, “Demikian juga adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya.”

Syeikh Al Azhar juga berpesan bahwa umat mestinya belajar bagaimana mereka toleransi kepada sesama mereka dan Al-Azhar pada waktu yang akan datang di forum ulama Ahlu Sunnah akan membahas tema, ”Ikhtilaf dalam Bingkai Persatuan”, yang juga akan membahas masalah takfir dan perseteruan. * OIN

Sumber: http://hidayatullah.com/read/15006/26/01/2011/syeikh-al-azhar:%E2%80%9Dada-pihak-yang-berusaha-rusak-karya-ulama%E2%80%9D.html

Ulama bukan ahlinya

Al-Qaradhawi: ”Jangan Dengar Dukhala’ Ilmi!"

Dukhala 'Ilmi (ulama bukan ahlinya)

Rabu, 26 Januari 2011

Hidayatullah.com--Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam pembukaan Forum Alumni Al Azhar VI, yang mengangkat tema tentang "Persatuan dalam Komunitas Ahlu Sunnah" itu memperingatkan bahwa pengkafiran dan penyesatan sesama umat Islam membuat umat ini akan terpecah-belah, demikian lansir onislam.net (25/1).

Dalam sesi mudakhalat (masukan) Syeikh Dr. Yususf Al Qaradhawi, selaku Ketua Himpunan Ulama Muslim Internasional memperingatkan adanya usaha kelompok fanatik yang menyesatkan Al-Asy’ariah (pengikut theologi Sunni yang banyak dianut ulama madzhab As Syafi’I dan Al Azhar sendiri).

Kalau umat Islam berjalan di belakang kelompok fanatik ini, maka ummat akan lenyap dan terpecah-belah.”

Beliau juga memperingatkan agar umat tidak perlu mendengar mereka yang bukan ahli ilmu, “Tidak sepatutnya umat Islam melakukan pengkafiran dan tidak perlu mendengar dukhala ilmi (mereka yang berkecimpung dalam ilmu namun bukan ahlinya).”

Beliau juga memberikan masukan dalam forum agar memberikan pencerahan kepada umat dengan pengetahuan yang membuat mereka bersatu. Dan para ulama bertanggung jawab dalam menyatukan umat.

"Maka kita perlu melakukan upaya untuk mendekatkan kelompok yang terpacah belah untuk menyatukan mereka."

Ulama yang menetap di Qatar ini optimis bahwa perbaikan umat juga akan datang dari Al-Azhar, karena alumninya menyebar di berbagai wilayah dunia Islam. * ONN

Sumber:

http://www.hidayatullah.com/read/15001/26/01/2011/al-qaradhawi:-%E2%80%9Djangan-dengar-dukhala%E2%80%99-ilmi

Rabu, 03 Februari 2010

Membaca pesan JK

Disebuah mailing list, terlibat membicarakan berita tentang sebuah cerita yang disampaikan JK ketika menghadiri acara tahlil, tujuh hari wafatnya almarhum Gus Dur, Selasa malam Rabu (5/1).


Jusuf Kalla bercerita, saat Gus Dur menjadi Presiden, dia diangkat menjadi Menteri Perindustrian.


Dalam suasana yang penuh ketegangan politik dan gaya kepemimpinan Gus Dur yang kontroversi, JK mengaku bahwa dia mempunyai kenangan yang tidak terlupakan. Salah satunya, dia pernah membohongi Gus Dur.


"Gus Dur doyan sekali memecat menteri. Setiap dua bulan sekali, Gus Dur memecat menteri. Sebenarnya, waktu itu saya sudah mau dipecat dua kali. Tapi, saya berhasil selamat," ujarnya.


Nah, JK punya pengalaman tentang ini. Kata JK, waktu itu dia dipanggil Gus Dur ketika sedang berada di luar negeri. Tiba-tiba, Gus Dur memerintahkannya untuk kembali ke Tanah Air, segera. Tanpa pikir panjang, JK pulang, dan segera menghadap atasannya. Dia berpikir ada masalah yang gawat.


"Anda sudah tidak bisa diajak bekerjasama lagi," begitu kenang JK mengutip ucapan Gus Dur ketika itu. Dengan penuh tanda tanya, JK mempertanyakan mengapa.


"Anda pergi ke luar negeri tanpa izin," kata JK yang mantan Ketua Umum Golkar ini, menirukan pernyataan Gus Dur seperti dilansir inilah.com.


Mendengar itu, JK langsung berpikir panjang, bagaimana agar dirinya tidak dipecat. Entah darimana idenya, tiba-tiba saja terlintas di pikirannya untuk menipu Gus Dur.


Lalu, JK mengeluarkan sebuah kertas. Dengan percaya diri, JK menyerahkan lembar kertas itu pada Gus Dur dan bilang: "Ini surat izin dari Setneg".


"Gus Dur tidak melihat. Nah, karena saya tipu itu, saya selamat dari pemecatan. Tapi, pas sebulan kemudian, saya dipanggil lagi. Dan, kali itu, saya dipecat betulan," kata JK disambut gelak tawa para hadirin. (mad)


Sumber: NU Online


Beberapa tanggapan/komentar secara awam (tersurat), antara lain,



  • Lucu yaaaaahhh, Seorang yang mengaku pejabat tapi menipu orang cacat...



  • Mungkin JK merasa bangga bisa menipu GD, tetapi menurut saya hal ini tidak layak untuk diceritakan saat tahlilan GD bahkan sampai kapan pun.



  • Mungkin sebenarnya dibawah sadar pikiran beliau, JK hanya ingin meminta maaf sama Gus Dur, walaupun hanya didepan jazad-nya.



  • Andaikan Anda harus memilih dua capres, Capres yang berpikir matang sebelum berbicara, dan capres JK yang berbicara sebelum berpikir matang2, langsung tabrak begitu, kira2 capres yang mana yng akan anda pilih ?



  • Saya hanya mengulas dada, seorang menteri (waktu itu JK menjadi menteri) melakukan penipuan terhadap presidennya yang kebetulan mempunyai keterbatasan.



  • Saya mengira itu hanya kelakar saja walau tidak tepat suasananya. Sekiranya benarpun saya bisa menghargai orang yang masih berani terbuka dengan kesalahan masa lalunya sebab problem di negeri ini sekarang justeru terlalu banyak orang yang lebih memilih menutup rapat-rapat rahasia sendiri dan kelompoknya supaya terkesan jejaknya bagus dimata publik padahal penuh kepalsuan, rekayasa dan tipu-daya. Banyak yang lebih memilih membiarkan publik tersesat selamanya daripada harus buka kartu yang sebenarnya.


Tampak disini para pemberi komentar/tanggapan belum dapat menyerap pesan sesungguhnya (tersirat) dari cerita ini.


Kata kuncinya adalah ucapan alm Gus Dur yang diceritakan, yakni,


"Anda sudah tidak bisa diajak bekerjasama lagi,"


Ucapan inilah yang menerangkan keadaan/suasana ketika itu.


JK sangat memegang teguh pendirian sehingga kadang pihak lain menilainya dengan “tidak bisa diajak bekerjasama lagi”.


JK ikhlas/rela/legowo melepaskan jabatan menteri dikarenakan memegang teguh pendirian dan beliau tidak "mencari" jabatan atau kekuasaan.


JK sebenarnya sudah memberi "peringatan", sehingga dianggap "sudah tidak bisa diajak bekerjasama lagi." Namun para pemimpin tidak menanggapi dan melanjutkan apa pendapat mereka sendiri.


Benarlah, pendirian JK, setelah beberapa bulan JK “dipecat” , kemudian GD dilengserkan. Sedangkan JK meningkat menjadi menko pada kabinet berikutnya.


Begitu pula dengan presiden SBY, yang telah “bersama” JK dari  2004 s/d 2009.


Diakhir periode kebersamaan, SBY pun terlihat menilai JK sudah “tidak bisa diajak bekerjasama lagi”. Sehingga ketika pilpres ada suatu kemungkinan cawapres dari Golkar namun asal bukan JK.


Salah satu pendirian teguh JK adalah untuk tidak membail-out bank Century dan beliau belajar dari peristiwa 1998 dimana rakyat menanggung akibatnya sampai sekarang dan kedepan. Kasus bank century dapat dijelaskan kepada masyarakat adalah dikarenakan "perampokan" semata,  sehingga dapat mengurangi kekhawatiran masyarakat akan pengaruh krisis keuangan.


Benarlah, pendirian JK, selama 100 hari masa kepemimpinan SBY-BOEDIONO disibukkan dengan kasus Century dan kasus-kasus terkait.

Kamis, 25 Juni 2009

Pemikiran JK bag 8 - Berdakwah dan Berdagang

Dalam rangka mendukung siapakah sosok yang didukung oleh para Ulama dan mempertimbangkan bahwa “tak kenal maka tak sayang”, marilah kita lihat sosok JK berdasarkan buah pikiran beliau yang diambil dari 2 buah buku kumpulan pidato tanpa teks yang direkam dan ditranskripsikan dalam judul.

Buku ke-1, Pikiran-pikiran Praktis M. Jusuf Kalla – Mengurai benang Kusut, 68 Pidato

Buku ke-2, Bunga Rampai Lepas M. Jusuf Kalla – Krisis Membuahkan Kemajuan, 71 Pidato

Dengan melihat buah pikiran beliau, semoga kita dapat membaca kompetensi/ kemampuan dan harapan beliau dalam memimpin negeri ini kelak.

Berikut cuplikan pemikiran beliau tentang berdakwah dan berdagangt, buku ke-2, hal 278 s/d 281



Berdakwah dan berdagang

Alangkah tidak tepatnya apabila kita semua ingin melaksanakan syariat dengan cara yang tidak sesuai dengan ajaran syariat itu sendiri.

Kita semua menyadari bahwa tanpa peningkatan pendidikan, umat Islam akan selalu ketinggalan. Pemerintah tentu selalu berusaha meningkatkan pendidikan untuk seluruh bangsa. Apabila kita berbicara seluruh bangsa itu berarti  85% umat Islam yang akan ditingkatkan pendidikannya. Akan tetapi itu belum cukup tanpa partisipasi kita semua khususnya umat Islam. Apalagi upaya-upaya yang lainnya seperti dakwah. Dakwah adalah upaya meningkatkan keimanan, pengetahuan, dan kecintaan kita terhadap Allah SWT.

Kita semua merasa berbahagia dan mensyukuri bahwa bangsa Indonesia telah dikaruniai dengan segala macam nikmat kekayaan alam dan nikmat keimanan, sehingga kita dapat menjadi umat Islam yang ingin selalu meningkatkan keimanannya. Namun, banyak di antara kita yang selalu mengurangi kenikmatan dengan berbagai cara, mulai dari cara-cara kebebasan untuk mengurangi keimanan dan sebagainya. Akan tetapi hanyalah dengan dakwah secara bersama-sama, melalui pendidikan, pengajian masjid, mushala, melalui dakwah langsung, melalui dakwah bil haal, semuanya itu akan dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan keimanan kita semuanya.

Kita semua juga bersyukur ke hadirat Allah SWT, bahwa bangsa ini masih dengan sistem suatu keyakinan dan cara pemerintahan ini berjalan, sehingga kita umat Islam dapat melaksanakan syariat kita sebaik-baiknya. Pemerintah pun mendukung apa saja yang mungkin untuk meningkatkan syariat tersebut. Ini penting karena tidak ada bangsa yang seperti Indonesia. Negara dan pemerintah, memberikan kita semua dorongan, kemungkinan, dan segala upaya untuk menjalankan apa saja yang dapat meningkatkan keimanan dengan cara syariat yang sebaik-baiknya.

Maka alangkah tidak tepatnya apabila kita semua ingin melaksanakan syariat dengan cara yang tidak sesuai dengan ajaran syariat itu sendiri. Ingin melaksanakan syariat dengan cara teror, bunuh-membunuh dan sebagainya. Hal itu pasti tidak sesuai dengan ajaran agama. Orang sering bertanya, apakah saya ingin melaksanakan syariat? Jawabanya, sejak lahir insya Allah sampai kapan pun saya akan melaksanakan syariat sebaik-baiknya. Syariat ini pada dasarnya adalah keimanan kita, ibadah, dan muamalah.

Saya sering bertanya, tunjukkan satu saja yang tidak bisa dilaksanakan oleh kita semua dalam hubungannya dengan syariat tersebut. Akidah umpamanya, semua akidah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya di negeri yang tercinta ini. Ibadah apa saja sesuai dengan hukum-hukum kita. Kita mempunyai kemampuan, kebebasan dan dorongan oleh pemerintah untuk melaksanakannya. Jika ingin melaksanakan shalat, masjid ada dimana-mana. Jika ingin melaksanakan haji, pemerintah membuka kesempatan seluas-luasnya. Jika ingin mengeluarkan zakat ada aturan-aturannya yang mendukung itu semua. Semuanya terakomodasi, tidak ada satu yang tidak bisa dilaksanakan.

Dalam muamalah, semuanya, masalah perkawinan, masalah waris, semua yang berlaku adalah hukum Islam. Kita tidak pernah kawin dengan hukum yang bukan Islam, bahwa pemerintah mancatatnya itu adalah tugas pemerintah. Masalah waris, semua hukum Islam yang berlaku. Jual-beli dipersilahkan. Jika tidak percaya bank umum, ada bank syariah. Semua ada di negeri ini, tidak ada yang tidak bisa. Tidak banyak negara seperti itu. Banyak yang menanyakan perihal melaksanakan syariat dengan perda (peraturan daerah). Saya sangat tersinggung dengan pertanyaan tersebut. Itu artinya kita melaksanakan ibadah bukan lagi dengan ittaqullah, tetapi ittaqul-bupati. Kalau semua orang harus keluarkan zakat atau pergi shalat karena perda, artinya jika salah nanti ditangkap hansip. Itu berarti kita mendiskon agama. Itu bukan lagi ittaqullah tetapi ittaqul-hansip. Bagi kita semua undang-undang tidak ada artinya dengan Al-Quran dan Al-Hadist. Itulah dasar keimanan kita semua.

Umat Islam ini kekuatannya adalah berusaha, tanpa usahawan-usahawan yang baik, siapa yang akan membayar zakat, infak dan sedekah, untuk membiayai dakwah ini. Kalau yang berusaha lebih banyak nonmuslim, tentu mereka tidak akan keluarkan zakat. Jadi perlu ditumbuhkan banyak pembayar zakat. Itu juga bagian dari dakwah. Sejarah Rasulullah dimulai dari seorang pengusaha, Siti Khadijah juga pengusaha, dan pada dasarnya Islam datang dari Arab itu bukan dibawa oleh ulama. Islam dibawa oleh para pedagang. Bukan pula para dai yang membawa ajaran Islam ke Indonesia tetapi para pedagang, saudagar.

Maka selain berdakwah perlu ditumbuhkan semangat berusaha kepada seluruh umat dan masyarakat. Itu akan menjadi kekuatan masa depan kita semua. Jika tidak, masjid akan berkurang jamaahnya karena tidak mampu datang.

Pemikiran JK bag 7 - Demokrasi yang Santun

Dalam rangka mendukung siapakah sosok yang didukung oleh para Ulama dan mempertimbangkan bahwa “tak kenal maka tak sayang”, marilah kita lihat sosok JK berdasarkan buah pikiran beliau yang diambil dari 2 buah buku kumpulan pidato tanpa teks yang direkam dan ditranskripsikan dalam judul.

Buku ke-1, Pikiran-pikiran Praktis M. Jusuf Kalla – Mengurai benang Kusut, 68 Pidato

Buku ke-2, Bunga Rampai Lepas M. Jusuf Kalla – Krisis Membuahkan Kemajuan, 71 Pidato

Dengan melihat buah pikiran beliau, semoga kita dapat membaca kompetensi/ kemampuan dan harapan beliau dalam memimpin negeri ini kelak.

Berikut cuplikan pemikiran beliau tentang ruang ditata untuk rakyat, buku ke-2, hal 203 s/d 207



Demokrasi yang Santun

Seruan ulama, nasihat ulama, kadang-kadang lebih didengar dan dihormati daripada nasihat dan imbauan para menteri. Sangat pentinglah kerja sama antara pemerintah dan para ulama.

Kita semua menyadari bagaimana kita mempunyai tujuan yang sama untuk bangsa ini, memajukan bangsa ini, menyejahterakan rakyatnya, memajukan bangsanya, menuju baldatun thayyibatun warobbun ghafur. Itulah cita-cita kita semua dan tentu itu juga cita-cita dan tujuan para ulama. Kita mempunyai satu tujuan dan satu cita-cita yang sama, yang membedakan hanyalah cara dalam mencapai tujuan tersebut. Untuk mencapainya diperlukan semakin banyak program kerja.

Harapan kita semua adalah dalam menjalankan pemerintahan negara dan memimpin bangsa ini dengan dasar yang saya katakan tadi, menjaga NKRI dengan demokrasi dan tradisi, tentu tradisi yang dimaksud adalah tradisi ulama yang menjaga akhlak bangsa, menjaga agamanya. Untuk menjalankan seluruh upaya tersebut tentu dengan istiqomah, dengan akhlaqul karimah. Tanpa itu semua kita tidak bisa memimpin bangsa ini dengan sebaik-baiknya, tidak bisa mencapai tujuan kita dengan sebaik-baiknya. Karena itulah, di samping doa para ulama, upaya bersama dalam bidang agama, bidang sosial, bidang pendidikan, bidang ekonomi tentu sangat diharapkan.

Kita semua sangat menghargai semua upaya para ulama kita yang demikian hebatnya memajukan pendidikan, apakah itu melalui pendidikan di pesantren, madrasah, dan sebagainya. Sungguh luar biasa. Tanpa upaya dari para alim ulama, para ustadz, dan para kiai yang menjalankan pesantren, madrasah, dan sebagainya, saya yakin kecerdasan bangsa tidak akan seperti ini.

Pemerintah selalu menghargai dan membantu upaya itu karena sebenarnya ini adalah tugas pemerintah yang dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh para alim ulama dan para kiai karena ini adalah bagian dari tujuan dan cita-cita kita bersama. Pemerintah akan selalu membantu memberikan jalan karena sebaliknya, para ulama juga telah membantu pemerintah, mendoakan pemerintah, mendoakan rakyat dan mencerdaskan rakyat. Inilah hal yang selalu menjadi penghargaan dan harapan kita semua.

Disamping itu, usaha-usaha sosial yang sedemikian rupa, apakah itu berupa usaha sosial kemasyarakatan, usaha-usaha yang memberikan harmoni dan keseimbangan bangsa yang dilaksanakan oleh para alim ulama juga merupakan karya dan upaya yang tidak ternilai harganya untuk bangsa ini.

Seperti yang telah saya sampaikan tadi, bahwa jika kita secara pribadi mengalami kesulitan atau kegembiraan, atau negara mengalami kesulitan atau kegembiraan, maka yang pertama kita undang dan kita harapkan kehadirannya adalah para ulama untuk berdoa. Karena itulah kita sangat menghargai semua perbuatan tersebut.

Sekarang kita juga ditantang untuk memajukan ekonomi bangsa, menggerakkan masyarakat untuk membangun dan berusaha, menggerakkan masyarakat kecil untuk tumbuh dalam berusaha. Saya selalu ingatkan bahwa kita umat Islam adalah umat yang sangat mandiri. Hal ini terlihat apabila kita ingin membangun madrasah, pesantren, masjid, mushala dan panti asuhan, sumber dana utamanya adalah zakat, infak dan sedekah. Zakat, infak dan sedekah bisa tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar jumlahnya hanya apabila ekonomi umat menjadi baik. Kehidupan ekonomi umat bisa lebih baik hanya jika umat mau bekerja keras, penuh semangat, dan kreatif dengan diiringi doa dan dorongan para ulama.

Hal ini penting karena moral ulama, seruan ulama, dan nasihat ulama kadang-kadang lebih didengar dan dihormati daripada nasihat dan imbauan para menteri. Sangat pentinglah kerja sama antara pemerintah dan para ulama. Kita mengharapkan kerja sama dan bantuan para ulama.

Apabila bangsa ini maju maka 85–90% umat akan maju. Begitu juga sebaiknya, apabila bangsa ini tidak maju maka bagian terbesar rakyat Indonesia yang tidak maju adalah umat kita sendiri. Karena itulah, dorongan dan dukungan doa dari para ulama sangat penting bagi kita semua.

Dewasa ini banyak sekali ajaran yang kita anggap sesat. Pentinglah bagi kita semua, bagi majelis ulama, bagi organisasi islam, bagi partai islam untuk mengevaluasi dan mawas diri apa yang kurang, apa yang salah dalam dakwah kita. Kita harus menyelesaikannya secara baik, dengan dakwah terlebih dahulu, memberi nasihat dengan hikmah, tidak melaksanakannya secara jahiliyah dengan menggunakan batu dan api. Kita tidak boleh melakukan cara-cara seperti itu, tetapi dengan hikmah dan dengan dakwah. Kita renungkan dan pikirkan persoalannya dengan tenang dan bijaksana. Itulah harapan kita bersama sebagai organisasi, sebagai partai, apalagi tentu sebagai partai para alim ulama.

Karena itulah, kita mengharapkan upaya bersama untuk membangun bangsa ini secara baik, akhlaqul karimah, mengajarkan hal-hal tersebut kepada seluruh bangsa dengan contoh-contah yang baik. Apabila kita jalankan itu, baik dalam pendidikan, dalam kita bernegara, dalam pemerintahan, dalam DPR, dalam hal-hal kita berdemokrasi, saya yakin kemajuan bangsa ini akan dapat jauh lebih cepat.

Sekarang ini kita memang sudah berdemokrasi. Tetapi, demokrasi bukan hanya ketika setiap orang bebas berbicara apa saja, bisa membicarakan apa saja, bahkan kadang-kadang menghujat siapa saja. Kita berdemokrasi dengan penuh kesantunan. Tanpa kesantunan tentu kita tidak menjalankan apa yang disebut tadi dengan tradisi, tradisi ulama, tradisi ahlussunnah wal jama’ah.

Itulah hal-hal yang menjadi harapan kita semua karena sebuah bangsa harus mempunyai nilai-nilai moral yang dijaga, yang dalam hal ini dijaga oleh para alim ulama, para pemuka agama, oleh kita semua. Kita telah melihat dalam sejarah panjang bangsa kita bahwa tanpa ada yang menjaga moral bangsa tentu kita tidak akan mempunyai bangsa yang besar dan semangat yang besar.

PEMBUKAAN MUSYAWARAH NASIONAL

ALIM ULAMA DAN

RAPAT KERJA NASIONAL

PARTAI KEBANGKITAN NASIONAL ULAMA (PKNU)

TAHUN 2007

GEDUNG SERBA GUNA

KOMPLEK GELORA BUNG KARNO, JAKARTA

9 NOVEMBER 2007

Pemikiran JK bag 6 - Ruang ditata untuk rakyat

Dalam rangka mendukung siapakah sosok yang didukung oleh para Ulama dan mempertimbangkan bahwa “tak kenal maka tak sayang”, marilah kita lihat sosok JK berdasarkan buah pikiran beliau yang diambil dari 2 buah buku kumpulan pidato tanpa teks yang direkam dan ditranskripsikan dalam judul.

Buku ke-1, Pikiran-pikiran Praktis M. Jusuf Kalla – Mengurai benang Kusut, 68 Pidato

Buku ke-2, Bunga Rampai Lepas M. Jusuf Kalla – Krisis Membuahkan Kemajuan, 71 Pidato

Dengan melihat buah pikiran beliau, semoga kita dapat membaca kompetensi/ kemampuan dan harapan beliau dalam memimpin negeri ini kelak.

Berikut cuplikan pemikiran beliau tentang ruang ditata untuk rakyat, buku ke-1, hal 417 s/d 424

Ruang Ditata Untuk Rakyat

memperluas sawah dengan memanfaatkan lahan gambut, yang terjadi adalah neraka.

kemarau berasap karena airnya hilang, saat hujan kebanjiran.

kita bikin neraka kita sendiri.

Persoalannya di pengaturan. Kenapa tata ruang sangat penting? Ruang itu tidak bisa bertambah, tidak ada yang bisa menambah. Ada juga negara yang bisa menambah seperti Singapura tetapi dengan mengurangi milik kitA. Maka terjadilah pergeseran, ruang dia bertambah, ruang kita berkurang.

Jadi, sekali lagi, ruang tidak bisa bertambah. Lalu, masalah apa yang mendesak dewasa ini. Penduduk bertambah, 1,5% per tahun. Sedangkan semua orang meminta lingkungan yang baik, hijau, jalan yang baik, yang lebar. Kalau penduduk bertambah, dibutuhkan beras lebih banyak, gula lebih banyak, perlu jalan 7yang lebih baik, segala macam meningkat pertumbuhannya. Akan tetapi tata ruang ini tidak bisa bertambah. Oleh karena itu, penataannyalah yang harus lebih baik, lebih efisien. Tanpa penataan raung yang efisien maka kita akan menghadapi banyak masalah macet dan banjir seperti sekarang ini.

Tujuan penataan ruang adalah agar kita bisa bekerja efisien, bersih dan enak, juga murah. Lalu, bagaimana efisien itu? Contohnya, di kota besar sangat tidak efisien. Orang bekerja di pusat kota, tinggalnya jauh di pinggir kota sehingga terpaksa mempunyai mobil. Awalnya satu mobil, tetapi karena si Ibu ingin juga keluar rumah, maka punya mobil lagi. Karena macet, anak juga perlu punya mobil. Makin banyak mobil, makin banyak asap, jalan mesti dilebarkan. Pengaturan ruang memakai sistem cluster. Untuk perkotaan, harus rumah bertingkat, tidak boleh rumah melebar. Kalau rumah melebar maka lahan sawah diambil lagi. Jika lahan sawah diambil, kita harus impor beras lagi, didemo lagi. Banyak sekali tantangannya.

Mari kita lihat kesalahan fatal yang kita lakukan. Di Kalimantan Tengah, banyanyak penduduk berpikir akan baik memperluas sawah dengan memanfaatkan lahan gambut. Yang terjadi adalah neraka, kita bikin neraka kita sendiri. Asap terus menerus karena airnya hilang. Jika hujan turun, banjir terus menerus. Semua terjadi karena kita tidak mengatur dan mendisiplinkan lingkungan dengan benar.

Perencanaan tata ruang haruslah dilakukan dengan cernat. Secara nasional, pemerintah pusat bertugas mengatur secara nasional, kemudian daerah mengatur mikronya. Tentu provinsi mengatur tingkat provinsi, dan kota-Kabupaten menatur penataan mikronya. Semua itu tentunya harus di hitung dengan baik sjalan dengan pertumbuhan ekonomi kita. Dalam catatan kita, Indonesia yang luas ini setiap daerahnya mempunyai karaktristik tertentu yang sangat kompetitif. Misalnya di Sumatera. Untuk bisa memakmurakn Sumatera, kita perlu tahu apa yang menjadi kekuatan daerah ini. Ada dua hal pokok kekuatan Sumatera ini, yakni -perkebunan dan energi. Tentu banyak lagi yang lain seperti industri, tetapi dua hal itu inti pokoknya. Sekarang bagaiman dua hal tersebut bisa berjalan dengan efisien dan tetap memberikan manfaat seluas-luasnya kepad masyarakatnya.

Jawa dengan penduduk 140 juta, tentu berbeda pula kondisi dan persoalannya. Disini harus di desain lebih banyak kepada manufacturing. Kita harus menaati peta seperti itu. Jangan berfikir bahawa karena disini membangun industri, maka mau pula membangun industri, bersaing kiri-kana, membangun pelabuhan. Kita mempunyai comptitiveness yang berbeda-beda. Di Kalimantan rasanya hampir sama juga, energi kuat dan perkebunan kuat. Jngan semua daerah berfikir bahwa industri itulah yang memakmurkan negara. Banyak negara yang makmur karena pertanian yang kuat. Pada dasarnya Amerika kuat karena pertanian. Selandia Baru dan Swiss kuat karena pertanian. Karena itu, perkebunan harus kita tingkatkan.

Namun, bagaimana caranya menguatkan semua itu?Indonesia Timur tentu kuatnya pertanian, perikana, juga pertambangan, dan semua itu harus diatur kekuatan ekonominya, dengan cara mengatur tata ruang masing-masing dengan penuh disiplin. Untuk ini, dibutuhkan pengetahuan. Pengetahuan itu tidak berarti semua orang harus jadi insinyur atau kalau perkebunan harus tentang lingkungan. Tidak, bisa kita belajar. Gubernur atau Bupati tidak perlu ahli 100% toh ada staf dan pembantunya, ada dinas, dan sebagainya. Namun, yang pasti dibutuhkan kedisiplinan untuk menjaga prinsip-prinsip pokok yang sudah kita setujui.

Jadi, initinya adalah merncanakan sesuatu, menyepakati, menaati, dan melaksanakan aturan-aturan tersebut. Mengapa kita ingin melakukan demikian? Itu semua supaya kita dapat memaksimalkan kekayaan alam kita secara efisien. kita mempunya harapan yang besar. Bukan saja harapan, tetapi keyakinan yang besar bahwa ekonomi kita akan sangat maju pada tahun-tahun ini dan yang akan datang. Kalau hari ini ekonomi kita hanyua maju 6,3%, tahun depan kita rencanakan 7%,mungkin 7% lebih, tahun berikutnya 8%. Pokoknya tekad kita jangan pernah berfikir akan kalah dengan india. Jangan pernah berfikir kalah dengan Vietnam yang dapat tumbuh mencapai angka 8%. Kita harus optimistik.

Kenapa kita harus yakin seperti itu? Masalah dunia saat ini adalah energi, mineral, dan komoditas. Semua harga naik dan tolong tunjukkan satu negara di dunia, setidak-tidaknya di Asia yang mempunyai tiga hal ini. Malaysia punya komoditas, mineral sedikit. Vietnam tidak, India tidak, China tidak cukupm, masih kurang. Kita memiliki tiga-tiganya. Namun, kalau kita tidak mengelolanya dengan benar, kalau bupati tiba-tiba meneluarkan 200 izin macam-macam pertambangan, seperti nikel atau timah, maka kita akan habis, jita akan menjual Tanah Air Kita. Itu terjadi di Bangka. Tiba - tiba semua batu bara diberikan kepada siapa saja dan kita tidak dapat apa-apa. Karena itulah, perizinan penting seperti itu harus diatur dengan betul. Misalnya, tahun ini yang ini dulu, tahun berikutnya yang ini, tidak bisa langsung semua diberikan izin. Klau terjadi seperti itu, akan habis semua potensi kita, dan tidak ada yang tersis untuk yang akan datang.

Jadi, tidak ada alasan kita tidak bisa maju dengan kemampuan kita sendiri. Orang bisa maju apabial bekerja keras, berpikir bagus, dan berdisiplin tinggi. Jadi, jangan sebaliknya, karena takut maka tidak berbuat apa-apa. Kalau bersikap seperti itu, sama juga akibatnya. Tkut dipanggil karena takut melanggar maka lebih baik diam, salah juga itu. Tak perlu takut, yang penting adalah sudah sesuai dengan aturan-aturan yang ada. Saya yakin dengan itu, bangsa ini harus tidak kalah, dan memang tidak akan kalah dengan negara lain.

Dalam menjalankan otonomi daerah tidak berarti harus terkotak -kotak. Tidak berarti kembali mengotak-kotakkan diri. Kalau mengotak-kotakkan diri maka semua menjadi mahal. Nah, karena itulah maka kit aharus bekerja dengan tidak terkotak-kotak lagi tetapi harus sinkron dan dengan disiplin yang baik. Kita bisa mengalami kemajuan yang besar. Tetapi semua harus dilakuakan secara bersama - sama. Harus ada standar yang sama dalam cara berfikir kita semua, bahwa yang kkita lakukan adalah untuk kemajuan, dengan suatu peta keadialn yang sama. Barulah kita bisa mencapai suatu tingkat bangsa yang kompetitif. Untuk mengisinya setelah itu kita harus meningkatkan produktivas. Misalnya, walaupun sawah tidak ditambah, beras tidak berkurang, artinys produktivitas harus dinaikkan. Kalau sekarang rata-rata 5 ton maka harus dinaikkan mencapai 6-7 tin dengan teknologi dan bibit yang baik. Karena itu kita harus mengikuti, jangan sampai disuruh membeli bibit, bupatinya malah takut. Tidak ada uang tidak bagus, ada uang juga tidak bagus, susah negeri ini. Daerah diberi uang untuk membeli bibit, tidak dipakai dananya, tidak ada uang juga marah-marah, kenapa kurang DAU-nya. Gula kita mesti impor, tidak perlu ada tata ruang baru untuk menambah kebun tebu, tidak perlu, tetapi yang harus dilakukan adalah menaikkan rendemennya.

Karena kota -kota besar penduduknya terus bertambah dan ruamh juga memang bertambah maka pembangunan rumah harus diarahkan keatas jangan kesamping. Ditempat lainpun sudah sperti itu. Misalnya, di Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Thailand, semua bangunannya diarahkan keatas.

Dengan cara tersebut maka kita dapat memperbaiki kualitas hidup dan lingkungan yang baik. Kalau kualita hidup tidak baik maka begitu ada hari libur, yang ada dalam pikiran adalah Singapura, begitu libur, anak-anak ingin pergi ke Malaysia, karena ingin melihat taman, melihat kebun, mereka tidak mau melihat sampah seperti itu, jangan berfikir sekadar hanya kewajiban saja, lihatlah jauh kedepan untuk bangsa ini karena lingkungan sangat penting untuk kita semua.

Mudah - mudahan dengan hal tersebut, bangsa yang selalu kita cita - citakan, bangsa yang adil makmur ini akan dicapai dengan kerja keras kita semua.

PEMBUKAAN RAPAT KERJA NASIONAL

BADAN KOORDINASI TATA RUANG NASIONAL (BKTRN)

TAHUN 2007

DENGAN TEMA “PENINGKATAN KUALITAS

PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG

DALAM UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN

PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH”

HOTEL PLANET HOLIDAY

BATAM, KEP. RIAU, 2 AGUSTUS 2007

Pemikiran JK bag 5 - Koperasi dan Zakat

Dalam rangka mendukung siapakah sosok yang didukung oleh para Ulama dan mempertimbangkan bahwa “tak kenal maka tak sayang”, marilah kita lihat sosok JK berdasarkan buah pikiran beliau yang diambil dari 2 buah buku kumpulan pidato tanpa teks yang direkam dan ditranskripsikan dalam judul.

Buku ke-1, Pikiran-pikiran Praktis M. Jusuf Kalla – Mengurai benang Kusut, 68 Pidato

Buku ke-2, Bunga Rampai Lepas M. Jusuf Kalla – Krisis Membuahkan Kemajuan, 71 Pidato

Dengan melihat buah pikiran beliau, semoga kita dapat membaca kompetensi/ kemampuan dan harapan beliau dalam memimpin negeri ini kelak.

Berikut cuplikan pemikiran beliau tentang koperasi dan zakat, buku ke-2, hal 49 s/d 52



Koperasi dan Zakat

Yang tumbuh sekarang adalah pengusaha-pengusaha yang tidak mempunyai kewajiban untuk membayar zakat.

Kita semua menyadari bahwa kemajuan suatu bangsa, kemajuan kita semua, hanyalah dapat ditingkatkan apabila kita semua bekerja dengan baik. Kita harus bekerja dengan teratur dan bekerja keras secara bersama-sama. Hakikat daripada itu tercermin dalam upaya kita untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dengan cara koperasi, kerja sama. Inilah suatu cara menjelaskan ekonomi bangsa sesuai dengan falsafah kita sebagai bangsa.

Kita juga menyadari bahwa kita membutuhkan suatu pertumbuhan ekonomi agar meningkatkan kesejahteraan bangsa. Pertumbuhan yang baik adalah yang tinggi dan merata. Pertumbuhan tinggi saja tidak cukup, juga merata saja tidak cukup. Akan tetapi pertumbuhan harus tinggi dan merata. Ada pemerataan agar apa pun pertumbuhan tersebut dinikmati oleh banyak orang dan seluruh bangsa ini. Untuk mencapai itu, peningkatan yang tinggi dan merata, banyak upaya yang harus dijalankan.

Orang sering mengatakan, zakat bagian dari upaya menciptakan pemerataan, tidak dapat tumbuh dengan baik di masyarakat. Sebenarnya, persoalannya sederhana. Hal itu karena yang tumbuh sekarang adalah pengusaha-pengusaha yang tidak mempunyai kewajiban untuk membayar zakat. Jadi harus ditumbuhkan para pengusaha yang mempunyai kewajiban zakat. Dan pengusaha tersebut tidak mungkin tumbuh hanya dengan suatu keppres dan UU, haruslah dengan pengalaman, haruslah dengan semangat, dan tentu haruslah dengan pendidikan-pendidikan dasar.

Sementara itu, kita semua memahami pesantren sebagai lembaga pendidikan umat yang mempunyai suatu cakupan yang sangat luas. Dengan jumlah santri yang begitu besar, jauh lebih mudah meningkatkan semangat dari sisi tersebut daripada lembaga pendidikan yang lain.

Di samping itu juga, apabila kita berbicara dakwah, bahwa yang menjalankan dakwah awal untuk dakwah Islamiyah, atau pengembangan agama sejak awal, sejak sejarah awalnya dimulai oleh para pengusaha. Pengusaha dari Arab, Gujarat datang ke Indonesia, atau pengusaha-pengusaha di sepanjang pesisir pantai. Mereka itulah yang mengembangkan agama, kemudian mengundang para ulama, kiai-kiai, bukan sebaliknya. Maka apabila umat dapat menumbuhkan pengusaha-pengusaha yang baik, yakinlah bahwa dakwah ini akan baik.

Bila di daerah-daerah ekonominya baik, pasti pesantrennya juga baik. Santrinya juga baik. Akan tetapi di daerah-daerah yang ekonominya tidak maju, pasit juga sebaliknya, itu wajar-wajar saja. Kegiatan ekonomi umat ini haruslah didorong untuk maju. Fungsi koperasi pesantren menjadi satu hal yang krusial untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi di pesantren itu sendiri, di masyarakat sekitarnya dan yang sangat penting adalah menjadi lembaga pendidikan kewirausahaan santri-santir. Bila telah tamat dari pesantren, mereka dapat berkembang dengan pengetahuan-pengetahuan dasar yang diperoleh dari pesantren itu sendiri.

Pesantren sejak awal telah mempunyai sejumlah program untuk membangun koperasi secara keseluruhan. Salah satunya sistem kredit. Program ini adalah suatu program kerja sama usaha untuk mendorong hal tersebut.

Tugas kita semua adalah di samping menjalankan koperasi juga mendorong sekali lagi pengusaha-pengusaha muda yang kecil-kecil untuk berusaha dan kemudian maju bersama-sama bank-bank yang ditunjuk pemerintah. Jika mereka memerlukan modal tambahan, pemerintah akan mendorong usaha-usaha tersebut.

PEMBUKAAN RAPAT KERJA NASIONAL

INDUK KOPERASI PESANTREN

ISTANA WAKIL PRESIDEN, JAKARTA

14 DESEMBER 2007

Pemikiran JK bag 4 - Kemandirian

Dalam rangka mendukung siapakah sosok yang didukung oleh para Ulama dan mempertimbangkan bahwa “tak kenal maka tak sayang”, marilah kita lihat sosok JK berdasarkan buah pikiran beliau yang diambil dari 2 buah buku kumpulan pidato tanpa teks yang direkam dan ditranskripsikan dalam judul.

Buku ke-1, Pikiran-pikiran Praktis M. Jusuf Kalla – Mengurai benang Kusut, 68 Pidato

Buku ke-2, Bunga Rampai Lepas M. Jusuf Kalla – Krisis Membuahkan Kemajuan, 71 Pidato

Dengan melihat buah pikiran beliau, semoga kita dapat membaca kompetensi/ kemampuan dan harapan beliau dalam memimpin negeri ini kelak.

Berikut cuplikan pemikiran beliau tentang kemandirian, buku ke-1, hal 457 s/d 468

Mari Kita  Kerjakan Sendiri,

Satu hal yang harus ada dalam pikiran kita adalah semua harus dijalankan dengan satu otak, otot, dan kantong Indonesia.hilangkan paradigma bahwa kita tidak mampu.

Saya baru saja pulang dari Bali. Di pesawat kebetulan diputarkan film dari Discovery Channel tentang mengastruktur di Dubai. Film ini memperlihatkan bagaimana pembangunan mengastruktur itu dilakukan, termasuk juga yang ada di Negara-negara seperti kita. Setelah itu saya menuju bandara Bali untuk melihat bagaimana dan seberapa pesat kemajuan pembangunan di sana. Turis-turis sudah  mulai masuk lagi, dan kami semua minta agar bandara Bali segera di perluas.

Saya masih ingat bahwa bandara ini didesain dan dibangun oleh Jepang. Saya tidak merasakan bahwa desain itu hebat, karena dibanding dengan dandara yang lain rasanya bandara ini sangat rumit. Karena itu, saya ingin kembali menekankan bahwa kita harus lebih menggunakan otak kita sendiri. Selain otak, otot dan kantong kita sendiri perlu dimanfaatkan untuk membangun bangun bangsa.

Selama ini ketergantungan kita kepada pihak asing sangat luar biasa. Untuk membangun jembatan saya yang mungkin hanya seratus meter lebih sedikit, kita langsung mencari  konsultan asing. Pembangunan bendungan yang melebihi Rp 100 miliar, minta kontraktor asing. Pembangunan bandara yang besar-besar selama 60 ahun ini tidak ada satu pun yang memasang konsultan dalam negeri.

Saya melihat kelemahan kita ini adalah akibat kemajuan,atau dimanjakan, diperbodoh oleh system yang selama ini kita pilih. Walupun kita menghasilkan begitu banyak insinyur yang baik, tetap saja kita bergantung pada teknologi, kontraktor, dan konsultan dari luar negeri. Ketika terjadi krisis moneter, pembangunan kia langsung menurun dan semakin melemahkan posisi kontraktor kita. Sekarang kita baru menyadari bahwa kita harus membangun dengan kemampuan kita sendiri dan tidak menjadikan bangsa kita bangsa yang tergantung kepada orang lain untuk hal-hal yang sebenarnya bias dan patut kita kerjakan sendiri. Kita harus percaya dan memanfaatkan kemampuan kita sendiri. Itulah pemikiran yang harus selalu kita jadikan landasan.

Selama 10 tahun ini kita mengalami degadrasi. Mengapa terjadi degadrasi? Sepertinya kita ini hancur lebur. Kita ini sekumpulan orang yang tidak berbuat apa-apa lagi. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Kita mempunyai apresiasi tinggi.

Sebelumya, pertumbuhan ekonomi kita 8%, dan bisa dipastikan bahwa anggaran penmbangunan juga tumbuh sebesar itu. Pda tahun 1999 terjadi angka pertumbuhan negatif, sekarang ini sudah naik menjadi 45%. Tahun depan pertumbuhan itu harus diupayakan mencapai minimum 7%. Walaupun di DPR diperkirakan hanya tumbuh 6,8%, sebenarnya pemerintah menargetkan bangsa ini harus tumbuh lebih tinggi lagi. Kapasitas bangsa ini lebih besar daripada apa yang kita capai dewasa ini. Saya berulang kali mengatakan bahwa saya yakin bangsa ini dapat tumbuh lebih tinggi lagi, karena kita memiliki komoditas yag tidak dimiliki oleh orang lain di seluruh dunia.

Dimana-mana di dunia ini sedang dilanda kesulitan energi, sedangkan kita memiliki energi, apakah minyak, gas, hidro, atau batu bara. Tidak ada negara di dunia yang selengkap kita. Walaupun jumlahnya tidak sebesar, katakanlah Timur Tengah, atau Rusia, dibanding dengan negara Asia, kita masih sangat surplus energi, karena itu masih bisa menjalankan pembangunan kita. Seluruh dunia kekurangan mineral, apakah itu nikel, copper, bouksit, dan air. Kita dikaruniai dengan kekayaan alam, antara lain mineral-mineral tersebut.

Namun, satu hal menjadi kelemahan kita adalh ketergantungan pada pihak asing. Hal seperti ini harus segera diakhiri. perlu kita ketahui bahwa untuk mengelola sumber daya tersebut harus didampingi teknologi, juga dibutuhkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki kontraktor. Kontraktor itu bukan hanya untuk membangun rumah, saya rasa Anda semua tahu itu.

Soal komoditas, tidak ada negara di dunia ini yang mempunyai palm oil, karet, dan lain-lain seperti kita karena kita berada di daerah tropis. Sayangnya, kita mempunyai keterbatasan, yaitu tertinggal dalam soal teknologi dan sumber daya manusia.

Untuk mencapai kemajuan itu maka yang harus diutamakan adalh menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri bangsa ini. Semangat dan rasa percaya diri adalah syarat pokok. Kenapa saya mengatakan percaya diri dan semangat sangat pokok? Selalu selalu orang dengan mudah mengatakan, “Ya kita kan tidak punya uang!” “siapa bilang tak punya uang, ad Rp 300 triliun uang di bank yang tidak keluar, karena ada yang memakainya.” Karena itu, kalau ke mana-mana saya selalu mengatakan, “Jangan pinjam ke luar negeri, kita mampu. Yang tidak kita miliki adalah rasa percaya diri. Itu yang harus ditumbuhkan dengan sistem ini.”

Contoh Makasar

Saya juga bisa mengatakan bangsa ini miskin kemampuan dan kemauan. Pengalaman panjang saya, selama enam puluh tahun kita merdeka tetapi tidak pernah ada yang mencoba menbangun bandara dengan tenaga dan kemampuan sendiri, kecuali bandara perintis. mau membangun bandara di jakarta, kontraktornya Prancis. Membangun di surabaya, kontraktornya Jepang. Membangun di Padang, Jepang lagi. Di Manado dan Ambon oleh Word Bank yang konsultannya berasal dari berbagai negara. Kontraktornya memang dari dalm negri, tetapi kita tetap bergantung pada negara lain.

ketika  kita akan membangun bandara di Makasar, saya berkata, “Tidak boleh ada orang asing yang campur tangan di situ, titik.” Pakai otak kalian, pakai tangan kalian, pakai kantong kita . Bagaimana? Pokoknya saya tidak tahu, tidak boleh ada orang asingyang menyentuh ini sampai selesai. Bangsa ini harus di paksa. Memang dulu Prancis pernah menawar Rp 4 triliun. Kemudian terjadi evaluasi, Jepang hampir Rp 2,5 triliun. kemudian kita membangun sendiri dengan konsultan nasional, dengan kontraktor nasional, termasuk sebagian besar orang Makassar, dan ternyata pembangunan itu hanya menghabiskan Rp 1,5 triliun. Menurut saya, hasilnya itu adalah bandara yang paling cantik. Nanti kalau sudah selesai, kita undang semuanya untuk merayakan bahwa kita sebagai bangsa mampu membangun dengan kemampuan dan kekuatan sendiri.

Untuk membangun bandara Medan, kami mengundang semua pimpinan proyek di Medan untuk melihat pembangunan di Makassar. Tak usahlah kita mengandalkan bangsa lain, tidak boleh begitu lagi. Menurut saya, tidak apa kita membangun jalan dengan sedikit kekurangan. Misalnya jalannya sedikit berombak; lebih baik jalan sedikit berombak daripada kita tidak pernah memiliki rasa percaya diri. Yang berombak-ombal itu bisa kita sempurnakan.

Saya minta kepada Mentri PU untuk memberdayakan tenaga dalam negri tetapi katanya tidak ada orang lagi. Saya meminta untuk memanggil mereka yang sudah pensiun untuk kembali bekerja dengan gaji yang lebih tinggi. Meskipun kita melakukan outsourcing, tidak apa-apa karena ada satu tujuan mulia yang harus kita capai, yaki mengejar ketertinggalan kita dari pihak asing. tidak boleh lagi ada gubernur yang melapor bahwa semua sudah disetujuh Bank Dunia, sudah datang ahli dari Jepang, dari Korea untuk mengurus jagung. Kita memiliki IPB, UNPAD, dan lain-lain, semua harus kita berdayakan. Hilangkan paradigma bahwa kita tidak mampu. Kita harus mampu dan memang mempunyai kemampuan. Kalau betul-betul tidak mampu, barulah kita mencari ahli, tetapi terbatas saja. kalau ada teknologi itu atau kita mengirim orang untuk pergi mempelajarinya.

Bangsa ini bangsa yang kaya. Hanya saja, ada masa lalu yang kita harus diperbaiki, yaitu soal hutang, bunga, dan subsidi. Sekarang ini anggaran APBN kita sangat tinggi, tertinggi dalam sejarah republik ini sudah mencapai lebih dari Rp 360 triliun. Tiga tahun lalu hanya Rp 300 triliun. Pada pemerintah yang ini terjadi kenaikan hampir dua kali lipat, termasuk juga kenaikan pajak dan hal-hal lain. Namun, begitu kita menandatanginya, 40% lari menguap untuk membayar subsidi, membayar bunga. Karena itu, kita harus mengatasi masalah-masalah seperti ini dulu, sekali lagi dengan teknologi, bukan hanya berbicara di DPR. Kita bukan hanya menaikkan harga. Apa-apa saja disubsidi tersebut. Ternyata subsidi itu untuk minyak tanah, maka upayakan untuk menghapus minyak tanah dan menggantinya dengan gas elpiji, yang lebih murah. Subsidi apalagi, untuk listrik, memakai diesel, maka digantilah dengan batu bara. hal seperti itu membutuhkan investasi yang besar sekali. Dua itu saja sudah mencapai Rp 100 triliun.

Menurunkan bunga dan memperbaiki sistem pembayaran hutang, jika sudah melakukan semua itu, kita akan berkembang dan pasti kontrakor juga akan berkembang dengan sangat cepat.

Masalah apalagi yang dihadapi bangsa ini? ternyata masalah infastruktur, semua tahu itu. Kita kita harus membangun mulai dari jalan, listrik, telepon, pelabuhan laut, bandara. Saya kemudian mendatangi satu persatu, dan ternyata tidak ada yang susah. Sama sekali tidak susah.

Untuk membangun jalan tol, mula-mula kita berpikir bagaimana mendapat uang, lau kita berpikir untuk memanggil bank, kepada bank kita minta untuk membiayainya. Kalau tidak mau membiayai, mak banknya akan rugi, dan juga pejabat itu tidak bisa lagi menjadi dirut karena banknya rugi. Bank Mandiri, BNI, atau bank-bank lainnya, mula-mula hanya bank-bank itu, tetapi lama-lama siapa saja mau. Seandainya Menteri PU susah melyani permintaan membangun jalan tol sekarang, semua mau melakukannya. Kalau untuk membangun jalan tol, ada persoalan tanah, maka perlu dilakukan negosiasi tanah dengan betul, jangan hanya soal ganti rugi saja, tetapi harus ada untung. Kita harus ada untung, 50% daripada NJOP, tetapi jangan terlalu tinggi juga. Jadi, untuk jalan, listrik, bandara tersebut saja kira-kira hampir Rp 200 triliun. Itu harus selesai dalam tiga tahun karena pada 2009 kita semua harus berhenti. Artinya, kalau kita berhasil anda bisa memimpin kita lagi. Bukan hanya itu, negara ini sudah terlalu lama tidak maju. Jadi, saya yakin menjadi dua kali lipat pun jumlah kontraktor sekarang ini, mulai tahun depan akan setegah mati bekerja.

untuk menguruk saja, kalau satu proyek PLN membutuhkan biaya Rp 400 miliar, berapa truk yang di butuhkan untuk menguruk. ternyata proyek PLN itu nilainya US$ 600 juta. Masya Allah, itu sama dengan Rp 6 triliun. Zaman dulu kalau bicara triliun-triliunan, kita bisa terkejut. dalam satu kali rapat saya membagi-bagikan sekian triliun rupiah dengan gampang sekali. rasanya dulu waktu menjadi kontraktor,berhasil mendapat kontrak Rp 2 miliar saja sudah hebat sekali;sekarang mendapat kontrak triliun-triliunan rupiah diam-diam saja. Satu hal yang ada dalam pikiran kita  adalah bahwa semua harus di jalankan dengan satu otak, otot, dan kantong Indonesia.

Mari kita lihat Pelabuhan Tanjung Priok. Saya menginginkan pelabuhan yang berkelas internasional dalam waktu dua tahun, apakah bisa? Berapa biayanya? Ternyata hanya hampir Rp 2,5 triliun untuk tahap awal. Uangnya dari mana? Panggil bank untuk membiayainya. Jangankan R 2,5 triliun, Rp 10 triliun pun bisa di biayai. Dalam waktu seminggu, kita menantang, lebih menantang lagi bank itu. jadi, tidak ada yang susah di Indonesia selama ada tekad, ada semangat. Ada perintah untuk mmbangun pabrik gula,maka berdirilah pabrik gula dengan usaha sendiri. Utangnya di selesaikan dalam dua minggu.

Kita membutuhkan konntraktor semacam ini, maka carilah dan bayar kontraktor itu Rp 10 triliun, dan selesaikan utang Rp 10 triliun itu dalam 2-3 tahun. Jadi, apa pun bisa di jalankan, selama kita mempunyai semangat. Sekali lagi, komitmen Anda untuk meningkatkan pengetahuan teknologi harus berjalan. kita sudah merdeka lama sekali, karena itu kita harus menyegarkan otak kita lagi.

saya yakin bahwa jika kita memakai kemampuan kita sendiri, ongkos pembangunan yang kita kelurkan hanya setengah dari ongkos bila dikerjakan orang asing. Hal ini sudah di buktikan dalam pengalaman pembangunan bandara di Makassar itu. Selama ini kita di bodoh-bodohi oleh perusahaan-perusahaan luar negri atau kadang-kadang kita mendapat 1-2% karena ikut memberi dukungan dalam mendukung penawaran.

Karena itu, tahun ini,tahun depan, walaupun persentase anggaran pembangunan kita yang terfokus pada anggaran modal, lebih kecil persentasenya, tetapi jumlah nominalnya tinggi. Namun, kita bisa membagi menjadi dua, semua yang bisa dijalankan secara komersial, diberikan kepada yang komersial. Jadi, sakarang ini jangan hanya berpikir untuk menjadi kontraktor untuk pemerintah. Di jawa semua bisa komersial: pelabuhan, bandara, dan jalan. Semua itu bisa di laksanakan degan cara private partnership public private partnership. Namun, yang di luar jawa tidak mungkin ada sedikit yang komersial tetapi tidak semua . kalau membangun Trans Sumatera, Trans Kalimantan, kita tidak bisa memakai APBN. Pemerintah tentu lebih memfokuskan kepada daerah-daerah yang jauh. Contohnya, saya kira, untuk pertama kali dalam sejarah, Departemen PU anggarannya mencapai Rp 35 triliun.

Kami menantang Anda untuk mampu melaksanakan semua ini. semua yang di putuskan di DPR akhirnya tergantung di tangan Anda semua. kalau Anda cepat. Kalau Anda lambat, maka lambat pula anggaran. itulah prinsip-prinsip pokok yang harus kita laksanakan. kalau semua ini baik, kalau semua infrastruktur baik, keadaan politik lebih baik, keamanan baik, maka pasti swata akan lebih banyak lagi berperan serta.

Untuk itu, saya mengharapkan bahwa ada suatu pertimbangan kesiapan pemerintah dan kesiapan kontraktor. Tanpa kesiapan tersebut, pembangunan tidak bisa berjalan dengan baik. Kita sudah bertekad untuk tidak lagi mengunndang kontraktor-kontraktor dari luar, malah kita ingin mendorong kontraktor-kontraktor Indonesia ke luar, bekerja di Timur Tengah, dan di tempat-tempat lain. Hal seperti ini akan membuka kesempatan bagi semua kontraktor, karena kontraktor ini mempunyai multiplier effect yang besar.

Pada akhirnya pembangunan itu diukur dengan pertumbuhan; seandainya bangsa ini seperti China yang angka pertumbuhannya bisa 11. India 8, maka dengan angka 9 bolehlah. Kita harus membuat target, harus seperti Vietnam. Untuk bisa bisa seperti itu yang diperlukan adalah keadaan stabil, tidak bisa sedikit-sedikit buruh berdemo. Usahakanlah supaya buruh dibayar dengan benar, jangan sedikit-sedikit mengamuk seperti terjadi di Makassar. Kalau negara stbil, buruh baik, semua akan baik, tak ada yang akan susah.

Saya ingin mengulangi lagi pertanyaan saya, “Tunjukkan pada saya negara mana di Asia ini yang sebaik negara kita?” Tidak ada, yang menjadi masalah adalah hanyalah bahwa kita kalah dalam kemampuan mengelola bangsa. Namun, insya Allah dengan tekad yang teguh, kita tidak akan kalah. Saya berharap kita akan berkemang sesuai kemampuan kita sesungguhnya. Anda tidak bisa hanya menunggu seperti Bagdad yang meminta untuk menurunkan mutu pengawas. Hal seperti itu tidak bisa dilakukan, Kita tidak bisa menuggu, kita harus menaikkan kualitas. Bukan konsultan menaikkan itu, tetapi kita.

SAAT MENERIMA DEWAN PENGURUS

LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI

NASIONAL

ISTANA WAKIL PRESIDEN RI

JAKARTA, 26 SEPTEMBER 2007

Selasa, 23 Juni 2009

Pemikiran JK bag 3 - Birokrasi yang tidak korup

Dalam rangka "tak kenal maka tak sayang" dan sekaligus bertujuan agar tidak
terjadi salah memilih pemimpin negeri. Alih-alih mengharapkan / memaksakan untuk 1 kali putaran untuk menghemat "uang rakyat" sebesar 4 trilyun, namun sebuah kekeliruan bisa berakibat kerugian "uang rakyat" ratusan trilyun rupiah dalam 5 tahun kedepan. Menurut saya kampanye ini , benar-benar "membodohkan" rakyat. Sayangnya pemimpin membiarkan itu terus berlangsung.

Kekhawatiran sebagian masyarakat dan usaha pencitraan yang kurang baik tentang "dunia usaha" pa JK, sesungguhnya tidak beralasan.
Pa JK sejak beliau memutuskan masuk kedalam pemerintahan, beliau meninggalkan urusan bisnisnya dan sangat mengutamakan urusan pemerintahan / negara. Prinsip hidup yang dipegang beliau sangat konsisten. Satu kata satu perbuatan. Kalaupun ada kebutuhan pemerintah yang kompetensi sesuai dengan perusahaan keluarga beliau, maka itu diikuti secara fair mengikuti aturan.

Kalla Group dan Bukaka Group seluruhnya dikelola oleh keluarga beliau dan para profesional. Pesan keluarga Kalla kepada seluruh karyawan adalah, dilarang keras menggunakan "jabatan" pa JK untuk kepentingan perusahaan maupun kepentingan pribadi. Jikalau ada yang melakukan pelanggaran dapat dikeluarkan/PHK.
Dalam urusan perusahaan , harus tetap dalam bidang usaha masing-masing. Jikalau mengikuti tender kebutuhan pemerintah harus dilakukan secara fair / sesuai aturan. Pesan/aturan ini sangat berbeda dengan jaman dahulu/orde baru.

Salah satu prinsip hidup oleh pa' JK yang kerap disampaikan juga kepada bawahan beliau bahwa, "Seorang pemimpin harus meneladani kejujuran jika mengharapkan yang dipimpinnya/rakyatnya mengutamakan kejujuran."

Berikut cuplikan dari buku kumpulan pidato pa JK tanpa teks, dari buku ke 1,
"Mengurai Benang Kusut"

"Birokrasi yang tidak korup", hal 469

BIROKRASI YANG TIDAK KORUP

Pemerintahan yang efisien adalah pemerintah yang melayani, mengayomi, menyejahterakan, dan tidak korup. Tidak korup berarti tidak menyalahgunakan wewenang.

Sebuah negara memerlukan pemerintahan, tidak ada negara tanpa pemerintahan. Negara mempunyai aparat pemerintahan, di samping aparat yang lainnya. Aparat-aparat tersebut tentu mempunyai tingkatan yang berjenjang dan sektoral. Itulah yang sering kita sebut birokrasi dalam pemerintahan apa pun.

Tugas para birokrasi itu pada pokoknya adalah melayani masyarakatnya, meningkatkan kesejahteraan dan mengayomi, serta melindungi rakyatnya. Itulah tugas pamong praja. Jadi, keberhasilan sebuah birokrasi apabila hal-hal ini telah dijalankan secara baik oleh aparatnya.

Birokrasi juga berkembang seiring dengan berkembangnya sistem kenegaraan atau pemerintahan. Kita mempunyai sistem pemerintahan yang juga berubah secara dinamis sesuai dengan zamannya. Sebelum tahun 1989-1990 pemerintahan kita sangat sentralistik sehingga birokrasi kita juga bersifat sentralistik. Sekarang setelah otonomi, situasinya tentu sangat berbeda. Pada waktu sebelum otonomi, pemerintahan daerah secara sektoral umumnya diatur oleh pemerintah pusat dari Jakarta, sampai jauh sekali ke bawah, dimulai dari departemen, ke kanwil, kandep sampai kabupaten. Dengan otonomi berarti pemerintah daerah melaksanakan pemerintahan umum di semua sektor oleh daerah itu sendiri. Ini mengubah sistem birokrasi kita yang juga berdampak besar dalam sistem negara kita.

Birokrasi kita juga mempunyai peraturan-peraturan atau prosedur yang serat sanksi yang sebenarnya bagi kita jumlahnya banyak sekali. Sekiranya negara dapat mencapai kemajuan berkat peraturan, saya kira Indonesia sudah termasuk negara yang cukup memiliki peraturan. Malahan kadang-kadang kita ingin melakukan deregulasi untuk mengurangi sebagian peraturan tersebut. Jadi, dari segi itu negara kita tidak kurang dibandingkan dengan negara-negara lain. Apalagi mengingat kita mempunyai begitu banyak institusi yang mengeluarkan peraturan dan tentu juga sanksi-sanksi.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah peraturan itu kita jalankan secara baik atau tidak. Apakah sanksi-sanksi telah dijatuhkan dengan tepat atau tidak. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kualitas birokrasi kita. Telah banyak upaya yang dilakukan untuk itu, melalui pendidikan, diklat, pendidikan umum ( universitas ). Meskipun demikian, ada banyak masalah juga. Samapi sekarang kita masih ingat bagaimana salah satu institusi, IPDN, yang begitu banyak masalahnya.

Selain masalah kualitas, masih ada masalah lain, yaitu gaji. Kesejahteraan saling berpengaruh dengan pelayanan. Tidak mungkin kita mengharapkan pelayanan yang sangat baik dengan deremunerasi yang sangat minim. Hal itu juga sangat kita sadari. Salah satu bagian yang kita reform tentunya adalah perbaikan kesejahteraan meskipun tentu tidak cukup.

Kita juga mempunyai pengalaman, sebuah instansi yang dinaikkan gajinya berlipat-lipat kali, tetapi layanannya tetap tidak menunjukkan perbaikan, ada juga bukti-bukti seperti itu. Jadi, memang banyak hal yang harus kita perbaiki dari dalam.

Kemudian kita juga berbicara tentang tools, alat, dan teknologi. Kita sekarang sedang ramai memperbincangkan e-government, dan sebagainya. Kita mempunyai online system yang memungkinkan untuk dapat saling mengawasi atau transparan. Semua itu berbentuk dalam suatu sistem pemerintahan yang terbuka dan demokratis, ada pengecekan dan balances. Jadi, dari segi perangkat sebenarnya ilmu kita tidak kurang dibandingkan dengan sistem pemerintahan apa pun di banyak negara. Pertanyaannya, bagaimana mengukur semua itu menjadi baik atau tidak baik.

Tiga Ukuran

Ada tiga hal yang harus kita ukur. Pertama, efektivitas dan efisiensi yang berhubungan dengan kualitas pelayanan. Apakah kualitas pelayanan itu baik? Tentu kita tahu bagaimana semua kualitas pelayanan, mulai dari lurah, camat, bupati, sampai hal-hal bersifat sektoral. Apakah aparat birokrasi melayani masyarakat dengan baik. Kedua, soal waktu. Apakah tepat waktu, seminggu, dua minggu, tiga minggu, atau lebih lama. Pelayanan aparat birokrasi kita sangat terkenal membutuhkan waktu yang cukup lama. Ketiga, biaya. Biasanya biaya ada dua macam, biaya formal dan tidak formal. Di sinilah letak sebenarnya bagaimana mengurangi korupsi di dalam birokrasi. Apa yang dikorupsi oleh birokrasi kita?

Pada dasarnya birokrasi kita bersifat tidak korup. Biasanya orang mau membayar lebih karena dua hal, yaitu wakut dan kewenangan. Seseorang yang sangat sederhana, mau membayar lebih banyak dari ketentuan yang berlaku untuk sebuah KTP karena ingin selesai secepat mungkin, bukan satu bualn kemudian. Jadi, seseorang rela membayar lebih mahal karena ingin lebih cepat selesai. Contohnya bagi seorang pengusaha, lebih baik membayar lebih banyak dari ketentuan daripada menunggu sebulan berarti kemungkinan hilangnya kesempatan dan harus membayar bunga 2%. Kemudian soal kewenangan. Saya berikan ke “a” atau “b” yang saya miliki izin kewenangannya asalkan Anda mau membayar kewenangan itu. Demikian itulah caranya orang membayar untuk membeli kewenangan atas sesuatu, dan orang mau membayar karena waktu. Itulah yang kemudian kita sebuh korupsi. Tak ada yang membuat aturan mainnya. Praktik korupsi masih banyak variasinya, tetapi saya sederhanakan menjadi dua hal tersebut, karena pada umumnya yang terjadi adalah seperti itu.

Karena itu, yang dapat memperbaikinya adalah transparansi dan aturan-aturan yang lebih jelas. Kalau telah ditentukan sesuatu harus selesai dalam satu minggu dengan harga sekian, maka lewat dari waktu itu, si aparatlah yang bersalah. Bagaimana mengontrolnya akan menjadi sulit jika sistem transparansi tidak dilakukan. Dengan mengenal sistem tender yang baik atau sistem pemilihan yang baik tentu akan sangat mengurangi hal-hal tersebut di atas.

Semua itu tentu kita pahami, tinggal sekarang masalahnya adalah bagaimana melaksanakannya secara baik dalam sistem birokrasi kita. Kita juga selalu mengatakan hal ini terjadi karena birokrasi kita terlalu besar. Kita juga pernah mengalami birokrasi dengan jenjang yang terlalu hebat – sampai-sampai Menteri PAN pada waktu itu menggunakan istilah zero growth. Kita menganggapnya jumlah aparat birokrasi terlalu besar walaupun secara perbandingan dapat juga dinilai tidak terlalu besar. Jadi, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Namun, seiring dengan perkembangan dinamika keterbukaan, dinamika era informasi yang lebih modern, tentu kita tidak membutuhkan birokrasi yang terlalu besar lagi dibandingkan dengan sebelumnya. Kalau dulu dibutuhkan mungkin lima tukang ketik, sekarang tinggal satu operator komputer. Demikian seterusnya. Kita harus mempunyai standar. Ada kabupaten yang penduduknya hanya 200-300 ribu, pegawainya puluhan ribu seperti misalnya di Kalimantan. Meskipun demikian, ada juga yang efisien. Ini memang menjadi tugas pemerintah untuk membuat ratio dan ketentuannya.

Reformasi Birokrasi

Memang kadang-kadang kita terkendala oleh peraturan-peraturan otonomi. Birokrasi sekarang ini juga agak terkendala oleh tingkat kemampuan SDM yang tersedia. Birokrasi sistem sentralistik bersifat nasional sehingga memungkinkan seseorang dapat dipindahtugaskan dari Medan ke Makassar. Berbeda dengan sekarang. Kadang-kadang kita juga menyayangkan birokrasi kita yang berputar-putar hanya dalam satu kabupaten, sulit keluar kabupaten karena peraturan-peraturan otonomi itu. Ini harus menjadi perhatian kita. Supaya orang tersebut mempunyai masa depan juga. Kalau seseorang sudah mempunyai pangkat IV / e di kabupaten, saya tidak tahu jabatan apalagi yang dapat diembannya di kabupaten tersebut. Kalau bisa sebaiknya dia keluar dari kabupaten itu.

Ini juga harus kita bicarakan dalma suatu reformasi birokrasi. Seorang aparat negara, selain menjadi birokrat sekaligus juga akrab dengan negara kita. Selain anggota TNI dan Polri, seseorang dapat menjadi pejabat yang mempunyai jangkauan visi nasional yang kuat, tidak hanya visi kabupaten yang kuat, tetapi juga visi provinsi. Hal ini diperlukan untuk membuat birokrasi yang lebih baik. Banyak langkah yang harus dilakukan untuk memperbaiki birokrasi, dimulai dari perbaikan organisasi kita laksanakan reorganisasi, regulasi, dan deregulasi.

Di samping itu, para birokrat kita harus mengikuti pelatihan demi pelatihan di dalam dan luar negeri. Para birokrat tersebut harus direkrut secara nasional lalu dikembangkan ke daerah. Intinya adalah tentu bagaimana menjalankan pemerintahan yang efisien ini. Pemerintahan yang efisien adalah pemerintah yang melayani dan tidak korup. Tidak korup berarti tidak menyalahgunakan wewenang. Wewenang tentu melekat pada tanda tangan dan karena itu kita harus membicarakan dulu deregulasi demi mengurangi tanda tangan.

Kita semau mengetahui bahwa di bea cukai pelabuhan, untuk mengeluarkan barang diperlukan 21 tanda tangan. Artinya ada 21 tempat kemungkinan menyetor sesuatu. Kemudian dikurangi menjadi tujuh agar kewenangan berkurang. Kewenangan berkurang berarti korupsi berkurang karena tidak ada korupsi tanpa kewenangan, kewenangan apa saja.

Birokrasi yang korup tentu mengambil uang negara, tetapi birokrat yang tidak berani berbuat sesuatu karena ketakutan tidak menghasilkan sesuatu, juga tidak melayani karena itu mempunyai efek yang sama. Tujuan kita adalah birokrat yang berani mengambil tindakan yang benar karena bertindak benar itu tidak korup.

Birokrat yang hanya takut terus-menerus juga menghambat kemajuan negara. Pengalaman kita baru-baru ini adalah waktu kita ingin meningkatkan produksi beras supaya mengimpor beras 1 juta ton. Segala macam tanda tangan agar bupati, pembeli benih dengan harga sekian langsung saja. Lebih dari 50 bupati tidak berani dan akhirnya kita tidak mencapai peningkatan produksi beras 1 juta ton itu. Terlambat tidak melanggar hukum, tetapi karena tidak bertindak maka tidak mencapai kemakmuran juga.

Bagaimana mengombinasikan kedua hal itulah yang menjadi tugas kita semua dan salah satunya adalah reformasi birokrasi. Artinya, mendayagunakan birokrasi kita sebaik-baiknya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Saya selalu mengatakan kepada aparat negara, menteri sampai bupati, “Tunjukkan kepada saya seseorang yang dipanggil KPK atau polisi atau jaksa yang menjalankan peraturan sesuai prosedur, tunjukkan kepada saya pejabat yang membeli barang dengan tender yang diumumkan di koran, tetapi ditangkap, tidak ada.” Birokrasi adalah sistem yang menjalankan peraturan-peraturan dengan baik dan efisien, cepat, dengan biaya seperti yang tercantum dalam peraturan. Birokrasi, negara, dan ekonomi adalah lingkaran yang tidak berujung.

Sementara itu, birokrasi yang efektif adalah birokrat yang baik dan mempunyai gaji dan reputasi yang baik. Untuk itu diperlukan ekonomi yang baik. Sebaliknya, ekonomi yang baik membutuhkan kerja birokrasi yang baik pula. Kita semua—saya fikir—setuju dengan rumusan sederhana tersebut.

ACARA PEMBUKAAN SEMINAR NASIONAL


“PENCEGAHAN KORUPSI MELALUI REFORMASI


BIROKRASI”


HOTEL FOUR SEASONS


JAKARTA, 1 NOVEMBER 2007

Pemikiran JK bag 2 - Tentang Partai

Kesempatan kali ini saya akan sampaikan pemikiran pa JK tentang partai politik yang saya ambil dari buku pemberian kawan,  2 buah buku kumpulan pidato tanpa teks pa' JK seputar tahun 2007 yang direkam kemudian ditranskripsikan.

Buku ke 1, Mengurai benang kusut
Buku ke 2, Krisis membuahkan kemajuan.

Jujur, dari dulunya, saya sangat membenci partai Golkar.
Preferensi saya ya cuma PKS,PBB,PAN dan PPP , untuk pemilihan anggota legislatif, ya saya pilih orang yang saya kenal atau dikenalkan oleh teman, apapun partainya asal ke 4 partai tsb.

Tapi untuk pilpres, saya tentu tidak lagi menggunakan syarat 4 partai tsb namun track record capresnya, karena kehidupan bermasyarakat untuk 5 tahun kedepan, kita gantungkan pada seorang presiden bukannya kehendak partai politik.

Semoga presiden terpilih nanti dapat mengajak kita selalu pada "jalan yang lurus". Sesuai firman Allah, (yaitu) jalan-jalan orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya. bukan (jalan) mereka yang  dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (al Fatihah: 7)

Harapan awal saya ke empat partai preferensi saya itu bisa bersatu, namun realitanya tidaklah terjadi karena mereka tidak berkemauan, hanya menyandarkan diri pada partai yang menurut mereka kemungkinan besar akan berhasil dalam pilpres agar kelak kemudian akan turut "berkuasa" tanpa memperhatikan nilai-nilai yang dipegang.

Setelah saya mengetahui pemikiran pa JK tentang partai politik, jadi saya (kalau boleh menduga) menganggap kader partai golkar yang tersisa sekarang adalah yang sepemikiran dengan pemimpinnya. Yang tidak sepemikiran akan keluar dari partai atau maaf, tersisihkan disuatu pojok, terjadi seleksi alami.

Namun jujur saya belum sampai terpincut dengan partai Golkar, mohon maaf, karena disana bercampur antara hak dan bathil.
Namun Alhamdulillah, pemimpin partai golkar periode ini seorang pemimpin yang baik sehingga gerbong tsb berjalan kearah yang baik.

Jadi saya melihat pa JK, baik/berhasil di kepemimpinan keluarga, kepemimpinan usaha, kepemimpinan organisasi, kepemimpinan partai, sekarang tinggal satu kemungkinan lagi yakni kepemimpinan negara.

Dari membaca kedua buku tsb tentang pemikiran-pemikiran pa JK, buat saya tampak perbedaan Beliau dengan capres yang lain, yang satu "benar-benar" wanita dengan penuh "perasaan", yang satu lagi, maaf, "seperti" wanita karena sangat "reaktif" dengan isu/gosip/sindiran, sibuk menjaga "penampilan" dan sibuk menutupi yang sesungguhnya terjadi.

Klo rakyat banyak yang tahu tentang pemikiran-pemikiran pa JK, besar harapan rakyat akan memilih beliau. Sebaiknya ke dua buku diatas dapat dibaca dan dimengerti banyak orang. Sungguh menarik.
Lanjutkan! apa yang telah diperbuat oleh pa' JK bukan lanjutkan! yang keliru.

Mari "melakukan", untuk masa depan yang semoga lebih baik.

Wassalam

Zon di Jonggol

========================================================
Mendirikan Partai untuk Memerintah (Buku ke 2, hal 152)

Dalam suatu negara demokrasi keputusan rakyatlah yang tertinggi. Adalah sangat sulit 240 juta orang mengambil keputusan secara bersama-sama. Partailah yang mewakili suara rakyat --- yang memilih partai tersebut. Suatu negara jika ingin berjalan dengan baik membutuhkan aturan-aturan perundang-undangan. Hal itu --- segala sumbangan kebijakan, anggaran negara, semua --- harus melalui parlemen/DPR. Isi DPR adalah utusan-utusan partai. Jadi apabila ingin “menentukan negara” dengan segala kebijakannya, dengan segala undang-undangnya, dengan segala anggarannya, harus lewat partai. Siapa saja yang tidak menyenangi partai maka dia tidak bisa masuk dalam sistem pengambilan keputusan negara. Itulah dasar ketentuan konstitusi kita.

Jadi walau banyak LSM yang bersuara keras, para cerdik pandai bersuara keras, itu hanya hal biasa. Pada akhirnya yang menentukan adalah DPR yang isinya partai politik. Tanpa partai, tanpa keterlibatan partai, atau tanpa diwakili oleh partai, maka DPR tidak ada. Posisi partai adalah kemutlakan. Namun, kalau yang mengisi partai adalah orang tidak paham tentang kenegaraan, tidak mempunyai intelektualitas, kepintaran, dan kecerdasan, maka rusaklah bangsa ini. Keputusan DPR tersebut adalah arah untuk bangsa ini.

Pemimpin bangsa ini, semua level, mulai dari bupati, gubernur, presiden, kini telah dipilih secara demokratis. Meski pemimpin dipilih rakyat, pemimpin dipilih dulu oleh partai. Jika kalau tidak didukung partai, jangan harap mereka dipilih menjadi pemimpin bangsa dalam segala level. Sehebat apa pun, sepintar apa pun, mau segagah apa pun, sulit menjadi gubernur jika tidak ada partai yang mendukung. Pemimpin-pemimpin, pucuk-pucuk pimpinan penting itu harus lewat DPR. Menjadi gubernur Bank Indonesia, menjadi ketua Mahkamah, menjadi anggota KPU, dan anggota KPI, semuanya lewat DPR. Semuanya mesti lewat partai, itulah sistem yang sekarang berlaku.

Sewaktu Orde Baru, partai hanya alat stempel. Namun, sekarang itu tidak ada lagi. Apa pun urusan kenegaraan dan masyarakat banyak, tidak ada yang lolos dari peranan partai politik. Tidak ada yang bisa mengambil kebijakan, tidak ada yang lolos menjadi pemimpin lembaga apa saja, tanpa lewat DPR. Artinya, itu semua harus melalui partai. Itulah hak kemutlakan yang dimiliki partai politik. Konsekuensinya, pengurus harus menjaga partainya agar tidak salah memilih orang. Begitu salah mengambil kebijakan, memilih orang, atau mengatur undang-undang, maka macam-macamlah akibatnya ke depan. Maka jangan pernah alergi, karena partai politik adalah jalan masuk untuk segala kebijakan yang penting untuk bangsa ini.

Semua partai berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, partai-partai tersebut mempunyai upaya-upaya, kebijakan-kebijakan, dan langkah-langkah tertentu untuk mencapai tujuan tersebut. Golkar, misalnya, sebagai partai kebangsaan, yang terbuka untuk semua warga negara Indonesia, segala usahanya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ini memang tidak mudah, karena tujuan Golkar sejak didirikan dulu adalah untuk kemajuan itu sendiri. Maka kadang-kadang orang menghubungkannya dengan Orde Baru. Padahal Orde Baru sebagai salah satu tujuan tidak ada masalah karena tujuannya adalah tetap kemajuan dan kesejahteraan rakyat.

Yang salah adalah pada Orde Baru adalah perilakunya yang bersifat otoriter. Tidak semua hal salah dari apa yang dilakukan Orde Baru. Apa yang dilakukan sebagian ada baiknya juga, ada pembangunan sekolah, fasilitas kesehatan, jalanan, umpamanya. Bahwa pada zaman Orde Baru sarat dengan KKN,  sarat akan otoriter, itulah yang salah.

Itulah perjalanan sejarah bangsa dan sejarah memang membawa dinamikanya sendiri, terutama politik dan kehidupan di Indonesia. Bila diibaratkan mungkin seperti model busana atau pakaian. Hari ini yang menjadi pola kegemaran mungkin celana yang kecil ujung bawahnya, akan tetapi 10 tahun lagi, mungkin yang ujung bawahnya lebar-lebar, atau lama-lama berubah lagi, kecil lagi. Ibaratnya begitu saja terus.

Karena itu, bagi Golkar, dalam menjalankan kehidupan berbangsa, partai mempunyai posisi sebagai organisasi yang mewadahi masyarakat. Dari posisi ini partai mempunyai kewajiban membela, menjalankan, memanjakan organisasinya dan semua pendukungnya. Peranan yang kedua adalah organisasi yang berjuang memajukan bangsa ini. Itulah hal-hal prinsip pokok dari partai.

Tidak ada satu pun partai yang didirikan khususnya di Indonesia ini yang ingin menjadi partai oposisi. Semua partai diniatkan, didirikan, untuk menjadi partai pemerintah. Partai apa pun tujuannya adalah untuk menang dan ingin memerintah. Tidak ada partai yang menang melawan pemerintah. Semua partai didirikan secara jujur untuk membangun bangsanya secara baik. Semua mengklaim begitu, bahwa kemudian mangkir itu urusan kedua. Tidak ada suatu partai di kota, misalnya, yang niatnya hanya melawan wali kota. Pokoknya, apa pun, maunya untuk melawan walikota. Itu sebenarnya hanya karena tidak berhasil jadi wali kota maka partai yang kalah tersebut mengambil sikap menjadi oposisi wali kota. Begitulah rumus politik itu. Akan tetapi minggu, bulan atau tahun depan mungkin antar partai berkawan lagi. Dalam politik itu tidak ada lawan tidak ada kawan, yang ada kepentingan niat tadi.

Semua partai yang penting adalah mampu bekerja mengatur kebijakan negara, dalam bentuk perundangan, kebijakan, anggaran yang betul, dan kemudian mengatur negara itu untuk kepentingan bangsanya. Setiap posisi yang dipilih atau terpaksa dipilih --- menjadi pro pada pemerintah atau oposisi --- mempunya konsekuensi. Partai politik dalam pemilu tidak ada serinya, jika hanya berprinsip menang dan kalah saja.

PEMBEKALAN KEPADA MAHASISWA
SELURUH INDONESIA
DI TAMAN BUNGA WILADATIKA CIBUBUR
JAKARTA TIMUR
9 APRIL 2007

Pemikiran JK Bag 1 - Tentang Konflik

Alhamdulillah saya diberikan oleh kawan 2 buah buku kumpulan pidato tanpa teks pa' JK seputar tahun 2007 yang direkam kemudian ditranskripsikan.

Buku ke 1, Mengurai benang kusut
Buku ke 2, Krisis membuahkan kemajuan.

Saya ambilkan salah contoh dibawah ini, pemikiran beliau tentang konflik.

Selamat menikmati

Wassalam

========================================================
Memecahkan Konflik (Buku ke 1, hal 447)

Kenapa tidak bisa berdamai atau selalu konflik?
Banyak sebabnya, bukan hanya satu sebab. Ada karena masalah ekonomi, ketidakadilan atau memang suatu kesengajaan. Baru saja kita mendengar bahwa perang Irak terjadi karena minyak, atau perang di Afghanistan karena gas bumi. Konflik sering terjadi juga karena ketidakadilan. Ada pula karena ideologi politik, seperti di negara-negara Timur Tengah.

Karena itu, saya ingin membagi dulu konflik menjadi dua: antarnegara dan intranegara. Kekuasaan, kenapa terbagi dua? Pertama dan kedua adalah karena kekuasaan, ketiga karena agama. Ini sudah terjadi sejak dahulu kala. Ada perang Salib, ada perang Sabit. Hal seperti inilah yang sulit diatasi, dan itu adalah sejarah manusia. Konflik dan perang sudah ada sepanjang sejarah manusia, bukan hal yang yang baru. Zaman nabi pun banyak konflik, banyak perang, dan sampai sekarang masih berlangsung. Perang pun mempunyai tahapan. Zaman dulu sudah meminta banyak korban manusia, sekarang lebih banyak lagi yang dikorbankan. Manusia menjadi korban, ekonomi dan teknologi hancur. Tidak mudah menyelesaikannya karena tiap orang mempunyai ambisi yang berbeda-beda.

Macam Konflik
Konflik intranegara juga bermacam-macam dan dapat kita kelompokan menjadi tiga macam konflik yang membuat masyarakat terpecah-pecah..
Pertama, konflik yang timbul karena ada pemberontakan melawan negara. Setidak-tidaknya perang melawan negara di Indonesia terjadi 11 kali. Sejak kemerdekaan terus terjadi pemberontakan, mulai dari pemberontakan PKI, RMS, PRRI, DI/TII tiga kali di Jawa Barat, Sulawesi, Aceh, Permesta, sampai Papua dan GAM. Konflik adalah ancaman terhadap negara.

Kedua, terjadi juga antarmasyarakat yang timbul karena SARA. Poso, Ambon, Kalimantan, antara suku yang satu dan yang lain, dan juga konflik kecil lokal antarmasyarakat.

Ketiga, konflik melawan apa saja, itulah yang kita sebut terror. Meletakan bom, lalu kena siapa saja yang berada di dekatnya.
Jadi, ada tiga jenis konflik nasional yang ada di negara kita.

Konflik melawan negara juga sebabnya bermacam-macam; ada karena masalah ideologi. Kali pertama adalah RMS, lalu komunis yang ingin negara berpaham komunis. Idaeologi atau politik seperti RMS di Maluku, OPM di Papua, dan juga di Timor Timur. Kemudian yang dasarnya karena ketidakadilan ekonomi yang akhirnya berkembang menjadi macam-macam, tetapi dasarnya adalah karena merasa di perlakukan tidak adil, seperti PRRI,Permesta, yang merasa punya kemampuan tetapi menghadapi pilih kasih. Awalnya GAM pada dasarnya juga akibat ketidakadilan ekonomi. DI/TII dasarnya agama karena mereka ingin membangun negara Islam. Jadi, ada berbagai macam latar belakang terjadinya konflik. Karena itu, marilah kita selesaikan sebab-sebab itu. Kalau sebabnya agama, kita selesaikan dengan cara agama.

Dari 11 koflik  melawan negara delapan di pecahkan dengan perang dan selesai. Artinya, negara menang. Mulai dari PKI, RMS, DI/TII, PRRI, Permesta. Dua di selesaikan negara dengan damai. Dua-duanya di Aceh. DI/TII damai, DI/TII yang lain, pimpinanya meningal, Kartosuwiryo meningal. Aceh di selesaikan dengan damai, GAM damai. Jadi justru di Aceh, penyelesaiannya damai terjadi. Sekeras-kerasnya hati orang Aceh, ternyata ada jalan damai. Justru di lain tempat tidak seperti itu. Konflik di timor timur kita kalah, kalahya secara politik, bukan kalah perang. Itulah peta koflik negara kita.

Jadi, kita menyelesaikan semua tersebut dengan melihat sebab-sebab konfliknya. Karena itu, ideologi yang di benarkan adalah ideologi pancasila yang ada di hati semua orang, ada keterbukaan. Kalau dirasakan ada ketidak adilan. Cara yang dianggp terbaik adalah dengan otonomi, yakni otonomi khusus.

Ketidakadilan ekonomi adalah pemicu terjadinya pemberontakan PRRI, Permesta. Di Papua dan Aceh juga karena ketidak adilan ekonomi. Menyadari hal itu, satnya kita memberikan otonomi pembangunan yang lebih besar kepada daerah. DI/TII dengan keterbukaan agama yang moderat.

Penyelesaian konflik bisa dilakukan dengan dua cara, seperti yang dikatakan tadi, yakni dengan perang dan dialog atau perundingan. Jika pilihannya perang, hanya satu ujungnya: siapa yang kalah atau menang. Namun, dalam sejarah negara tidak pernah kalah. Masalahya, perang memakan waktu lama, banyak korban, dan ongkosnya besar. Jika pilihannya dialog atau perundingan, hasil akhirya kompromi, harus kompromi. Kita selama ini memakai dua hal ini, menggabungkan keduanya. Perang sambil berunding. Itu terjadi, dimanapun bisa terjadi.

Itulah satu karakteristik dalam mengelola kemampuan negara. Sekarang kita megatakan “oh ini yang menjadi pemicu kemaran rakyat ,” maka pilihannya adalah kita menghilangkan pemicunya, menghilangkan sebabnya. Kita menata kembali pemerintahan agar lebih terbuka, lebih demokratis, kita menata ekonomi yang lebih adil kepada semua orang. Pembangunan yang merakyat, hasil otonomi yang lebih baik, dengan begiu tidak akan ada lagi orang yang marah. Sebab itu, kita harus mecari penyebabnya, apapun, bagaimanapun, dan dimanapun persoalan itu.

Ada juga konflik antar masyarakat akibat SARA. Di beberapa wiayah negara ini terjadi konflik horizontal yag pemicunya adalh SARA, yaitu di Poso antara pemeluk Islam dan pemeluk Kristen, di Sambas antara orang suku dayak dan Madura. Orang Madura yang muslim melawan oleh suku Dayak yang Kristen, dibantu oleh orang Melayu dan Bugis perantauan yang Muslim. Di kota-kota lain seperti Surabaya dan Makassar juga terjadi konflik, tetapi hanya berlagsung singkat, tidak seperti yang terjadi di Poso dan Ambon yang berlang sung lama sekali.

Ketakadilan
Agama tidak pernah mengajarkan orang berkonflik. Konflik-konflik antar pemeluk agama itu dasarnya bukan agama, hanya saja disangkutkan ke persoalan agama. Awalnya tentu ada sebab yang sudah lama di rasakan tetapi kemudian dipicu oleh hal lain seperti perkelahian pemuda. Penyebab yang sebenarnya adalah karena ketidakadilan yang dirasakan dan karena ada suasana demokratis maka orang berani menyuarakan pendapatnya. Di Poso sebabnya adalah orang berkelahi karena mabuk, tetapi sebenarnya kalau di teliti lebih cermat bukan itu sebabnya. Itu hanya alasan yang di cari-cari dan letusan pemicu.

Di Ambon memang ada perkelahian orang Bugis dan orang Ambon. Tetapi sebabnya bukan karena alasan kesukuan, melainkan karena ketidakadilan dalam posisi politik. Semua konflik ini adalah akibat demokrasi yang tiba-tiba dirasakan dan ingin selalu di terapkan. Pada survey tentang demokrasi yang teratur; bukan yang teratur tetapi diatur. Kalau gubernurnya beragama Islam, biasanya sekretarisnya Kristen. Di Poso bupatinya beragama Islam, wakilnya Kristen, atau kebalikannya, hidup harmonis. Tiba- tiba diajarkan demokrasi Barat pada pemilu 1998 yang mengatakan ”The winner takes it all”. Demokrasi yang kita jalankan dengan tiba-tiba itu menjadi tidak terkendali sehingga yang terjadi adalah mayoritas itulah yang berkuasa, memonopoli kekuasan, yang penduduknya banyak itulah yang memegang kendali. Yang terjadi di Ambon adalah pada waktu itu penduduknya penduduk Islam lebih besar karena pendatang. Demikian juga penduduk muslim Maluku lebih banyak disbanding Kristen, apalagi masih bergabung dengan Maluku Utara. Saya kira perbandingannya 60-40, maka otomatis anggota DPR lebih banyak yang Islam. Maka gubernur-wakil gubernur, sekwilda yang dipilih semuanya beragama Islam. The winner takes it all. maka timbullah perasaan terpinggirkan, maka tiba-tiba muncullah konflik perasaan yang luar biasa. Lalu tiba-tiba ada orang berkelahi seolah akibat SARA, tetapi pada dasarnya bukan itu sebabnya.

Demokrasi liberal yang tiba-tiba diterapkan yang menyebabkan semua itu terjadi, disamping tentunya akibat dari keadaan ekonomi sebelumnya, eknomi monopoli. Demokrasi terpimpin yang menyebabkan ekonomi termonopoli. Kemudian, tiba-tiba ada kebebasan politik yang luar biasa, tanpa arah, yang memicu konflik besar, dan akhirnya disangkutkan ke agama. Yang tadinya bukan agama di buat menjadi konflik keagamaan. Ketika dibuat menjadi konflik agama maka konflik itu menjadi berbahaya.

Kenapa konflik keagamaan berbahaya? Dalam dua tahun korban di Maluku sekitar 5.000, di Poso sekitar 2.000 dalam waktu 2 sampai 3 tahun, di Aceh yang begitu kerasnya perlu 30 tahun perang dan korban yang dicatat 15.000, jadi pertahunya 500 jiwa melayang. Tetapi di Ambon yang wilayahnya kecil, satu tahun makan korban 2.000 karena di sana sambil tersenyum orang membunuh, membakar rumah, membakar gereja, membakar masjid.

Paham seperti itu membuat masing-masing kelompok merasa yang paling benar. Ketika masjid atau gereja mereka di bakar orang maka dengan gampang mereka membalasnya dengan membunuh kelompok lain. Akibatnya, bunuh-membunuh tak ada habisnya. Itulah sebabnya konflik ini sulit berakhir. Mereka memainkan surga dan neraka  maka kita juga seperti itu.

Dengan dasar pemikiran tersebut, prinsip dasar perundingan Poso hanya di kerjakan dalam 15 hari. Saya mengatakan dengan sangat keras soal surga dan neraka. Di Ambon pun sama akhirnya kita selesaikan konflik Ambon dalam waktu 17 hari di Malino.

Sedangkan konflik di Kalimantan terjadi karena perilaku orang Madura yang pekerja keras. Karena pekerja keras tentu mereka mendapat lebih banyak, tetapi sayangnya, sedikit “kurang peduli dengan lingkungan yang lain”, akibatnya timbulah konflik. Orang Dayak merasa ini daerah saya, kenapa hutan di habiskan orang lain? Lalu timbul pemikiran bahwa tidak boleh lagi membiarkan orang lain membabat hutan mereka. Hal itu akhirnya di selesaikan dengan tidak boleh membabat hutan.

Jadi, semua masalah harus di cari penyebabnya, akan persoalannya.
Kemudian tentu ketidakdamaian yang lebih dahsyat adalah terror. Terror itu paling murah. Kenapa paling murah? Terror Bom di Bali ongkosnya kira-kira hanya Rp 50 juta, tetapi korbannya triliunan. Dengan satu Bom saja di ledakan, habislah ekonomi Bali. Selama tiga tahun, tidak ada turis, begitu juga ekonomi Yogya, yang berkaitan dengan itu, belum lagi korban jiwa. Bom di Jakarta membuat orang asing takut datang. Ongkosnya paling murah, korbannya paling besar, itulah terror.

Kalau perang atau konflik, masih besar ongkosnya. Harus beli senjata, harus ada pasukan. Kalau terror, hanya dengan 2 atau 3 orang memasang Bom, lalu mereka berlari, kemudian meledak. Beritanya sampai ke seluruh dunia. Hanya dengan begitu saja, ekonomi kita hancur. Oleh karena itu, kita harus memahami ideologi dan sejalan dengan itu mengurangi angka kemiskinan.

Konflik melawan negara, konflik antar masyarakat, dan terror, al hamdulillah dalam dua tahun terakhir ini dapat kita redakan, kita mengupayakan perdamaian. Kita bersyukur dapat memahami masalah yang sebenarnya. Namun, keadaan seperti ini harus kita jaga dan menjaganya adalah dengan mengupayakan negara yang rakyatnya sejahtera. Kalu negara sejahtera,  saya kira tidak akan ada yang berbuat macam-macam lagi.

Kita juga harus mencapai keadilan secara politik dan ekonomi. Kalau kita bisa mewujudkan sebuah negara yang sejahtera, maka aka nada keadilan politik dan ekonomi, insya Allah. Agama tentu harus kuat, maka pemahaman dan ibadah kita juga kuat. Denga dukungan pendidikan yang baik, maka kita akan mencapai negara yang makmur.

Negara yang makmur otomatis polisinya baik, hukumnya baik, semua akn lebih terjaga. Hal seperti ini terjadi di Amerika, tidak terjadi diAustralia, tidak terjadi di Singapur, tidak terjadi di Malaysia, karena negaranya makmur, adil. Jadi, semua ada sebabnya. Kalau bicara upaya perdamaian, maka tentu perlu mencari sebab-sebab terjadinya konflik sehngga mengerti bahw hal-hal seperti itulah yang harus kita hindari.