Tampilkan postingan dengan label Athoillah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Athoillah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Mei 2010

Tasawuf Atha’illah

Pemikiran Ibnu Atha’illah

Berdasarkan biografi dan karya-karya tulis Ibnu Atha’ilah, sudah jelas, bahwa ia seorang ahli hukum mazhab mailki, ia juga sebagai seorang guru sufi tarekat Syadziliyah. Oleh sebab itu sepantasnya ia dijuluki sebagai ahli Hikmah, yang melahirkan salah satu dari pemikiranya adalah Kitab al-Hikam.

Untuk memudahkan mendalami pemikiran Ibnu ‘Atha’illah, perlu memahami terlebih dahulu perkembangan pemikiran Ibnu ‘Atha’illah, mulai dari karir hingga wafatnya. Hal ini dilakukan untuk memperjelas dalam mengklasifikasikan pemikiran Ibnu ‘Atha’illah, yang sedikit banyak berorientasi pada nilai-nilai Taswuf yang melekat pada dirinya.

Perkembangan pemikiran Ibnu ‘Atha’illah dapat diketahui dari karya tulisnya al-Hikam. Kitab al-Hikam merupakan  ciri khas pemikiran Ibnu ‘Atha’illah pada khusunya dalam paradigma Tasawuf. Diantara para tokoh sufi  yang lain, seperti al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen Annuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu ‘Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi, tetapi diseimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadat dan suluk, artinya diantara syari’at, tharikat dan hakikat ditempuh  dengan cara metodis. Kenyataan ini terbukti dalam karya-karya tulis dan warisan spiritualnya dan selain ia seoarang ahli hukum yang bermazhab Maliki dan sebagai penganut teologi Asy’ariyah juga ia memiliki posisi sebagai  dalam tahrekat Sydziliyah.

Corak Pemikiran Ibnu ‘Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya ia lebih menekankan nilai Tasawuf  pada Ma’rifat.  Selain itu juga bahwa Ibnu ‘Atha’illah merupakan guru ketiga dari taharikat Syadziliyah, maka ia memilki pandangan tasawuf pada kahususnya tentang ma’rifat berdasarkan pandangan tarekat Syadziliyah.

Adapun pemikiran-pemikiran tarekat tersebut adalah :
Pertama, tidak dianjurkan kepada para muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Dalam hal pandangannya mengenai pakaian, makanan,  dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah. dan mengenal rahmat Illahi.  Meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur, dan berlebih-lebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kedzaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah Swt. dengan sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, tidak mengabaikan dalam menjalankan syari’at islam. Ia adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir serarah dengan al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan  kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, mengarah kepada asketisme, pelurusan dan penyucian jiwa (tazkiat an-Nafs), dan pembinaan moral (akhlak), suatu nilai tasawuf yang dikenal cukup moderat.

Ketiga,  zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati selain dari pada Tuhan. Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia. Kesenangan dunia adalah tingkah laku syahwat, berbagai keinginan yang tak kunjung habis, dan hawa nafsu yang tak kenal puas. Semua itu hanyalah permainan (al-la’b) dan senda gurau (al-lahw) yang akan melupakan Allah. Dunia semacam inilah yang dibenci kaum sufi.

Keempat,  tidak ada halangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimiliknya. Seorang salik boleh mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan-Nya dan jangan samapi menjadi hamba dunia, tiada kesedihan ketika harta hilang dan tiada kesenangan ketika berlebihan ketika harta datang. Sejalan dengan itu pula, seorang salik harus memakai baju lusush yang tidak berharga, yang akhirnya akan menjatuhkan martabatnya.

Kelima,  berusaha merespon apa yang sedang mengancam kehidupan ummat, berusaha menjebatani antara kekeringan spiritual yang dialami oleh banyak orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap pasif yang banyak dialami para salik. Abu hasan al-Syadzili menawarkan tasawuf positif yang ideal dalam arti bahwa di samping berupaya mencari ‘langit’, juga harus beraktivitas dalam realitas sosial di ‘bumi’ ini. Beraktivitas sosial demi kemaslahatan umat adalah bagian integral dari hasil kontemplasi.

Keenam,  tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah. Tasawuf memiliki empat aspek penting  yakni berakhlak dengan akhlak Allah Swt., senantiasa melakukan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsunya serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sunguh-sungguh

Ketujuh, dalam kaitannya dengan ma’riaft al-Syadzili berpendapat bahwa ma’rifat adalah salah satu tujuan dari tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan

1). Mawahib atau ‘ain al-ujd (sumber kemurahan Tuhan) yaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha  dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugrah tersebut.

2). Makasib atau madzi al-majhud yaitu ma’rifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui ar-riyadhah, mulazamah al-dzikir, mulazamah al-wudlu, puasa sahalat sunnnah dan amal shalih lainnya.

Karena itu, maka dalam mengupas pemikiran Ibnu ‘Atha’illah ini akan berangkat dari teori ma’rifat yang digunakan oleh Abi Hasan al-Syadzili serta tulisan tulisan Ibnu ‘Atha’illah dalam kitab Hikam.

Alasan digunakannya teori ini, karena Kitab Al-Hikam meletakan Transendental mengenai eksistensi Tuhan secara empiris,  sehingga dari sini kita dapat memahami pemikiran Ibnu ‘Atha’illah dari penglaman puncak (Fick eksperience).

Ibnu ‘Atha’illah telah memahami ajaran konsep Tasawuf yang banyak mengandung dari ajaran Syadziliyah, yang mana ajaran taswuf tersebut diringkas menjadi lima bagian yaitu :

  • Secara lahir dan batin melakukan Taqwa kepada Allah Swt

  • Berkata dan berbuat sesuai dengan As Sunnah

  • Dalam penciptaan dan pengaturan menolak akan kekuasaan Makhluk

  • Baik dalam keadaan sedikit maupun banyak ridha kepada Allah Swt.

  • Baik dalam keadaan senang maupun susah selalu ingat kepada Allah Swt.


Selain kelima kosep Tasawuf diatas, Ibnu ‘Atha’illah memiliki ajaran pokok dalam Tasawuf antara lain :

  1. Peniadaan kehendak dibalik kehendak Tuhan

  2. Pengaturan manusia dibanding kehendak Tuhan

  3. Pengaturan manusia dibanding pengaturan Allah SWT.


Mengenai konsep yang pertama dan kedua,. Ibnu ‘Atha’illah memberikan penegasan dalam hikmah sebagai berikut.
مَا تَرَاكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْأً مَنْ اَرَادَنَ يُحْدِثُ فِى اْلوَقْتِ غَيْرَ اَظْهَرَهُ اللهُ فِيْه

Artinya : “tidak meninggalkan kedunguan sedikitpun (sangat bodoh) orang yang menghendaki perubahan di dalam waktu (yang telah ditentukan) menuju kelain waktu yang Allah telah menampakannya didalam waktu itu”.

Allah Swt adalah Dzat yang maha merajai diseluruh alam semesta ini. Dia mengetahui segela sesuatu yang ada didalam kerajaannya, itu dengan kebijaksanaan dan kehendak-Nya sendiri. Maka dari itu apa saja yang terjadi apa saja dialam semesta ini,  misalnya jatuh sakit, orang yang berada ditingkat tajrid, orang berada ditingkat kasab, miskin serta kaya, semua itu berjalan dengan kehendak dan iradat yang telah direncanakan sejak semula oleh Allah Swt dan juga mengikuti peraturan yang telah ditetapkan dalam alam wujud ini.  Dalam Hal ini Allah Swt berfirman :

وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ

Artinya : “…Dan segala sesuatu pada sisi Allah adalah dengan ketentuan taqdir” (Q.S: Ar-rod :8)

Oleh sebab itu jika ada sesorang yang ingin merubah suatu keadaan yang telah ditentukan oleh Allah pada waktu itu juga, orang yang semacam ini adalah sedungu-dungu atau sebodoh-bodohnya orang, yang tidak memahami akan qudrat dan iradat Allah Swt. Dengan alasan, karena ia menghendaki suatu keadaan yang belum dikehendaki Allah, berarti dalam garis besarnya ia tidak rela akan ketetapan  dan keputusan Allah yang telah diberikan kepadanya. Padahal apa saja yang telah ditetapkan Allah kepadanya bukanlah termasuk suatu keadaan yang tercela.

Jadi usahanya untuk merubah suatu keadaan yang telah ditetapkan oleh Allah itu termasuk perbuatan yang tidak sopan (tercela). Sebaiknya setiap manusia harus menerima ketetapan (taqdir) Allah ini harus dengan lapang dada dan rela hati yang dibarengi dengan ikhtiar.

Ketiga, pengaturan manusia dibanding pengaturan Tuhan,  Ibnu ‘Atha’illah menegaskan pula dalam hikmah sebagi berikut :

لاَ ِنهَايَةَ ِلمَذَامِكَ اِنْ أَرْجَعَكَ إِليَْكَ وَلاَ تَفْرَغُ مَدَ فَحِكَ إِنْ أَظْهَرَوُجُوْدَهُ عَلَيْكَ

Artinya “ tidak ada batas akhirnya (tidak ada selesainya) kejelekanmu jika Allah mengembalikan kamu kepada kekuatan usaha dan daya upayamu sendiri. Dan tidak akan ada habisnya kebaikanmu, jika Allah memperlihatkan kemurahan-Nya kepadamu”

Tidak akan ada pangkal ujungnya atau batas akhirnya orang yang mengerjakan kejahatan jika amal itu dikendalikan hawa nafsunya, sebab nafsu itu cenderung pada kejelekan. Sebaliknya orang yang merasa bosan atau tidak henti-hentinya untuk mengerjakan amal kebaikan jika Allah memberikan sifat kemurahannya kepadanya.

Penjelasan menganai hikmah diatas, seseorang seharusnya lepas terhadap amal usahanya, tidak memepedulikan apa hasilnya baik atau buruk. Artinya manusia harus bergantung pada Tuhan, jangan bergantung pada perbuatan atau tindakan diri sendiri. Untuk menegakkan adab Sufi dan kehalusan budi kepada Allah Swt. Maka  hanya kehendak dan daya kekuatan Allahlah yang ditegakkan dalam setiap pembicaraan tasawuf.

Pemikiran  Ibnu ‘Atha’illah tentang Tuhan tersebut sangat berimplikasi pada struktur internal kitab al-Hikam tentang ma’rifat. Tema dasar kitab tersebut adalah ma’rifat. Ia adalah ma’rifat iluminatif dimana disana terdapat benang yang merentang batu-batu permata, sehingga memberikan karya itu keutuhan dan pandangan  yang mendasarinya.

Dalil metafisikanya adalah terbaik dalam sufisme: ke Esaan Tuhan sendiri adalah absolut atau hakiki (al-haqq), atau tidak terbatas. Sementara selain Dia adalah relatif atau tidak riil, atau terbatas. Ini adalah doktrin tauhid  (Devine Unity), dasar islam yang dinyatakan sebagai kesimpulan akhir metafisika. Dilihat dari sudut pandang kebenaran (al-haqq), dunia adalah tidak ada, tidak ada “selain” al-Haqq (the Real). Konsekuensi-konsekuensi` spiritual mendalam yang mengalir dari doktrin tauhid ini adalah prosesi realisasi itu sendiri.

Mengenai tiga prinsip agama Islam, yang disebutkan dalam hadits Nabi yakni Iman Islam dan Ihsan, memainkan ajaran penting dalam ajaran Sufi Ibnu ‘Atha’illah mengambil syahadah islam dan mengimplikasikannya dalam tekhnik dzikir yang penting: “manusia terbagi kedalam tiga kategori kelompok dalam kaitannya dengan penegasan dirinya terhadap keEsaan.

Tuhan dalam Dzikir.
Ketegori kelompok peratama adalah diantara para pemula pada umumnya. Pada kategori ini,  penegasan keesaan dengan lisan, kata, kepercayaan  dan kepatuhan dengan jalan pencerahan-pencerahan dalam kesaksian keesaan, bahwa “tidak adan Tuhan selain Allah  Muhammad adalah utusaan-Nya, ‘ dan itu adalah Islam”.

Kategori kelompok kedua, adalah orang-orang yang tepilih tingkat menegah.  Pada kelompok ini, penegasan keesaannya dengan hati,  secara bebas  dan dengan kehendak sendiri,  dalam keyakinan dan kepatuhan. Dan itu adalah Iman.

Kategori kelompok ketiga adalah orang-orang pilihan dari orang-orang yang terpilih. Pada kelompok ini penegasan keesaan dengan akal (al-aql), mata (‘iyan),  yakin (yakin) dan kontemplasi (Musyahadah).  Dan itu adalah ihsan.

Selain pandangan diatas, Ibnu ‘Atha’illah membagi dzikir kedalam tiga tingkatan.

Pertama dzikir dengan lidah. Ia merupakan dzikir yang sifatnya umum. Kedua dzikir yang dilakukan dengan hati. Ini adalah dzikir orang-orang terpilih yang mempunyai keyakinan.
Ketiga dzikir dengan jiwa. Ini adalah dzikir orang-orang pilihan dari yang terpilih yang merupakan dzikir orang-orang gnostik (‘arifun) yang menghentikan dzikir mereka sendiri dengan mengingat (kontemplasi) Tuhan.

b.    Metafisika Ibnu ‘Atha’illah
Dalam berbagai hal yang bertkaitan dengan kehidupan, Ibnu ‘Atha’illah lebih memprioritaskan pada qalb meskipun sedikit berbeda dengan al-Ghazali yang lebih mengedepankan Riydhah Fisik.

Nilai-nilai Metafisika Ibu ‘Atha’illah dapat dilihat dari berbagai macam pemikirannya, terutama tentang wujud dibalik alam fisik/ragawi, dalam hal ini Ibnu ‘Atha’illah menjelaskan : “ sesungguhnya alam dapat mencukupi kamu dari segi jasmanimu dan dia tidak mencukupi dari segi ketetapan ruhanimu”

Benda yang ada di alam sama bentuknya dengan badan manusia (sama dalam bentuk kasarnya). Oleh karena itu anggota badan selalu bergantung dengan benda-benda tersebut bahkan mencukupinya. Sebaliknya ruh itu tidak sejenis badan atau benda-benda alam ini, maka kehidupan dan pertumbuhan ruh tidak bergantung pada benda-benda dunia akan tetapi bergantung dan berhubungan kepada terciptanya benda-benda alam tersebut yakni Allah Swt.

Jadi benda-bemnda alam itu tidak dapat memuat atau mencukupi kebutuhan ruhaniayah. Oleh karena itu untuk menyempurnakan kehidupan ruh tersebut sebaiknya setiap orang haus selalau berdzikir dan menyingkirkan segala hawa nafsu yang ada pada diri manusia, sehingga ruh itu bersih dari segala kotoran yang menempel pada kita.

Secara biologis, manusia tersusun dari dua macam unsur yakni tubuh kasar (jasmani) dan ruh halus. Dengan tubuhnya, maka manusia itu dapat menemukan, mengingat, berfikir, mengetahui, berkehendak, memilih, mencintai, membenci, dan sejenisnya.

Ibnu ‘Athaillah berpendapat tentang tubuh manusia, ia mengemukakan bahwa tubuh mansia tercipta dari tanah. Hal ini sudah merupakan kepastian yang mau tidak mau harus di akuinya. Sedangkan mengenaui ruh,  Ibnu ‘Atha’illah tetap berpegang pada al-qur’an, sebagaimana firman Allah Swt.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً

Artinya : “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". Q.S. Al-Isra : 85)

Ruh termasuk urusan dan perkataan Allah Swt. Sendiri yang selain-Nya itu pasti tidak akan dapat mengetahui, tidak dahulu, tidak sekarang dan tidak nanti, bahkan tidak untuk selama-lamanya.

Sebenarnya setinggi-tingginya pengetahuan yang dapat diperoleh mengenai hal ruh itu ialah bahwa ruh itu berdiam didalam tubuh manusia  dan bahwa dengan adanya ruh itu lalu tampaklah gerak kehidupan dari tubuh itu dan dapat diketahui pula apa yang diakibatkan oleh adanya kehidupan berfikir, mencintai, menbenci dan sejenisnya, selain itu yang dapat  diketahui mngenai ruh ialah bahwa ruh itu sewaktu-waktu berpisah dengan tubuh yang merupakan media kediamannya dan tubuh yang sudah ditinggalkan oleh ruh tersebut lalu menjadi benda mati, beku dan tidak lagi memiliki gerakan.

Dapat disimpulkan bahwa ruh yang dikaruniakan kepada manusia itu merupakan zat yang membedakan antara manusia dan benda-benda yang lain dialam semesta. dengan adanya ruh manusia menjadi pandai dan alim secara sendirinya, sehingga seluruh mala’ikat diperintah oleh Allah untuk tunduk memberi penghormatan kepada manusia tadi. Sebagian ulama Islam berpendapat bahwa “ruh adalah zat yang memiliki sifat yang tersendiri, dan berada dalam benda-benda lain. Ia adalah jisim Nuraniyah (Nur atau cahaya), dan kedudukannya tinggi dalam kehidupan manusia.

Selain ia dapat meninggalkan tubuh kasar dan dapat menjalar kerongga-rongga, tubuh itu bagaikan mengalirnya air dalam tangkai yang hijau hidup. Ruh itu tidak dipisah-pisahkan, atau dibagi. Kepada tubuh ruh memberikan kesan kehidupan dan apa-apa yang berhubungan dengan adanya kehidupan itu, selama tubuh masih dapat menerima berdiamnya ruh di dalamnya.

Adanya zat yang disebut ruh itu seudah disepakati oleh seluruh agama yang datangnya dari langit (agama samawi) yakni dari Allah Swt. Manusia meyakinkan adanya ruh itu dan dan mempercayainya sejak mereka mengenal agama-agamanya.

Bahkan aliran yag semata-mata berdasarkan materi atau kebendaan, sebelumnya mereka mempercayainya adanya ruh sampai tersebar tiga abad terakhir,  kemudian mereka mengingkari dan tidak mengakui bagi adanya kenyataan ruh tersebut.

Paham materialis mengumumkan bahwa di balik alam materi tidak ada alam lain, kecuali alam yang sama-sama disaksikan secara empiris, juga tidak ada benda lain, kecuali benda-benda yang tampak lagi untuk apa yang dinamakan ruh itu dalam alam semesta yang maujud ini.

Berdasarkan beberapa keterangan diatas, Ibnu ‘Atha’illah mengemukakan juga selain manusia tersusun dari dua unsur yaitu jasad dan ruh atau materi dan imateri,  ia berpandangan bahwa, akal (aql) dan hati (qalb) sangat berpengaruh dalam kehidupan dan pencapaian ma’rifat. Karena itu Ibnu ‘Atha’illah pempriortiskan keduanya untuk melakukan suluk agar jiwa dapat bersih dari ketergantungan materi, sebagaimana hikmah yang ditulisnya :
اُخْرُجْ مِنْ اَوْصَافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَاقِصٍ لِعُبُوْدِيَّتِكَ لِتَكُوْنَ لِنِدَاءِاْلحَقِّ مجُِيْبًاوَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيْبًا.

Artinya : “keluarlah kamu dari sifat-sifat kemanusiaanmu (materi) yang buruk dari setiap sifat yang dapat merusak sifat kebudihanmu agar kamu berada untuk menyambut panggilan Zat yang haq (Allah Swt.), dan dari kehadirat-Nya adalah lebih dekat.”

B.    Pengertian Ma’rifat Pandangan Ibnu ‘Atha’illah
Dari sisi bahasa ‘arif  memiliki sighat isim fa’il yang berarti orang yang mengenal atau mengetahui, Perkataan ‘arif adalah perkataan umum dalam tasawuf kerenanya ‘arif ditinjau dari segi tasawuf memiliki kriteria diantaranya:

  • a). Cintanya hanya kepada Allah yang agung

  • b). tidak pernah mengendahkan yang banyak atau yang sedikit, yakni disegala hal.

  • c). mematuhi segala perintah Allah,

  • d). terlalu bimbang dari pertukaran keadaan.


Tetapi Ibnu ‘Atha’illah nampaknya disini menegaskan pengertian ‘arif sebagai orang yang bijak dalam melakukan segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. Seiring pula dengan Abul Abbas Al-Mursi  memprediksi pribadi Ibnu ‘Atha’illah sebagai orang yang bijak dan menjadi tokoh sufi yang bijak pula.

Adapun Ma’rifat secara istilah adalah cara mengenal atau mengetahui eksistensi Tuhan dan orang yang mengetahui eksistensi Tuhan disebut ‘arif. Pengertian tersebut dapat diperluas lagi menjadi cara mengenal atau mengetahui  eksistensi Tuhan melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya yang berupa makhluk-makhluk Ciptaan-Nya.  Karena itu, pengertian diatas menegaskan dua penjelasan.

Penjelasan yang pertama berupa Nur anugrah dari Allah yang diberikan secara langsung. Dalam istilah Abu Hasan al-Syadzili disebut mawahib atau ‘ain al-ujd. Ibnu ‘Atha’illah menuliskan hikmah sebagai berikut :
مَنْ اَشْرَ قَتْ بِدَا َيتُهُ اَشْرَقَتْ نِهَا يَتُهُ

Artinya : “Barang siapa bercahaya pada permulaannya, niscaya bercahaya pada akhirnya”.

Cahaya dalam pengertian disini, adalah Nur Iman (Cahaya ketauhidan) dengan cahaya ini manusia dapat melihat Allah dengan mata hatinya dan cahaya tersebut merupakan Hakikat cahaya yang sebenarnya.
Adapun tempat Cahaya ketuhanan tersebut ada di dalam hati. Sumber dari segala sumber, yakni sinar Ilmu, sinar ma’rifat,  dan sinar tauhid. Keterangan ini sesuai dengan hikmah yang ditulisnya :
مَاطَاِلعُ ْاَلاْنوَارِ اْلقُلُوْبُ َواْلاَسْرَارُ

Artinya : “ tempat terbitnya berbagai cahaya Illahi itu ada dalam hati manusia dan rahasia-sahasianya”

Pada kesempatan lain, Ibnu ‘Atha’illah menyebutkan ada tiga cahaya yang merupakan bekal bagi manusia untuk dapat mengetahui kedekatan dengan Tuhan dan mensifati wujud Tuhan. Tiga macam cahaya tersebut adalah ,pertama Syu’aa’ul Bashiirah yakni dengan akalnya manusia dapat mengetahui akan hakikat dirinya dan mengarti bahwa Allah itu dekat dengannya. Kedua, ‘Ainul Bashiirah yakni dengan Ilmunya, manusia bisa mengetahui bahwa dirinya itu sama sekali tidak ada di dalam wujud Allah. Ketiga, Haqqul Bashirah, yakni dengan kesaksiannya, manusia bisa mengetahui bahwa dirinya yang semula tidak ada menjadi ada, kemudian menjadi tidak ada lagi, sama sekali tidak disamakan dengan ada-Nya Allah yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Dengan ketiga cahaya itulah manusia dapat mengetuhi, menghayati, mensifati tentang Wujud Tuhan.

Ibnu ‘Atha’illah menjelaskan pula cahaya Illahi yang masuk kedalam hati sebagai Hidayah (petujuk) terdiri dari dua macam hati :
Cahaya yang masuk kedalam hati tetapi hanya di bagian luarnya saja (belum meresap kedalam hati). Hal ini menyebabkan  pandangan seseorang tidak bisa sepenuhnya tertuju kepada Allah, karena sebagian hati yang lain masih tertambat pada kesenangan dunia.
Cahaya yang masuk dan meresap kedalam hati. Hal ini menyebabakan seseorang bisa dengan sepenuhnya mencintai dan mencurahkan perhatiannya hanya kepada Allah semata.
Sehubungan dengan hal ini, sebagian ahli Ma’rifat berkata :

“Apabila Iman itu ada dibagian luar hati, maka seorang hamba akan mencintai dunia dan akhirat, yakni sebagian mencintai Allah dan sebagian mencintai dirinya.  Dan apabila iman telah masuk kedalam lubuk hati maka dia akan membenci dunianya dan ditolak kehendak hawa nafsunya”

Di satu sisi Ibnu ‘Atha’illah memaknai cahaya yang ditulis diatas sebagai “hidayah” dalam melakukan suluk (Ibadah). Sebagaimana yang dilontarkan oleh Ust Labib Mz. Dalam Kitab Al-Hikam sebagai berikut :
“Apa bila seesorang itu pada awalnya sudah bercahaya, yakni banyak beribadah kepadanya, maka pada akhirnyapun ia akan bercahaya, yakni bisa berma’rifat kepada Allah, yang dengan Ma’ifatullah ini ia akan mancapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat”

Penjelaskan kedua, bahwa Ma’rifat dapat diraih dengan cara (tarekat) kesungguhan dalam melakukan suluk (kesungguhan dalam beribadah), dan kesungguhan ini merupakan tonggak titik awal untuk mendapatkan puncak akhir dari  Ikhsan (kebajikan spiritual), yang memainkan peran penting dalam ajaran Sufi.

Pada kelompok Ikhsan ini, penegasan keesaannya adalah dengan akal (al-aql), mata (‘iyan), yakin (yaqin) dan kontemplasi (Musyahadah). Dalam istilah Abu Hasan al-Syadzili disebut sebagai makasib atau atau badzi al-majhud.

Dalam hal suluk Ibnu Athaillah menjelaskan dalam kitab Al-Hikam bahwa Ma’rifat bisa dicapai dengan jalan memperbanyak beribadah (suluk) kepada Allah. dalam hikmah yang ditulis sebagai berikut :
اَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ اْلبِدَايَاتِ مَجَلاَّتُ النِّهَايَاتِ وَاِنَّ مَنْ كَانَتْ بِااللهِ ِبدَايَتُهُ كَانَتْ اِلَيْهِ ِنهَايَتُهُ

Artinya : “ Amma Ba’du : sesungguhnya permulaan (suatu perkara) itu cermin yang memperlihatkan pada puncak kesudahannya. Dan sesungguhnya orang sejak permulaannya itu selalu bersandar kepada Allah, maka puncak kesudahannya akan samapai kepada-Nya,”

Permulaan yang baik akan membuahkan hasil yang baik, dan permulaan yang jelek akan membuahkan hasil yang jelak pula.  Demikian pula apabila seseorang itu mempunyai keinginan untuk bertemu dengan Allah kemudian ia memulainya dengan cara yang baik dan usaha yang sungguh sungguh (suluk), niscaya pada akhirnya apa yang diinginkannya itu akan tercapai dengan baik pula.

Sebaliknya jika keinginan untuk bertemu dengan Allah tidak dimulai dengan cara yang baik dan tidak pula disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh (suluk), maka sudah barang tentu keinginannya itu hanya tinggal keinginan belaka tanpa ada hasil yang memuaskan.

Dalam hal penegasan dengan akal (al-aql). Ibnu ‘Atha’illah menuliskan dalam Kitab Al-Hikam bahwa ‘arif  dapat menyaksikan eksistensi Tuhan semata, sebagaimana Hikmah dibawah ini :

Artinya : “ bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu padahal Allah yang mendahirkan (menampakkan) segala sesuatu”.

Artinya : “bagaimana akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia (Allah) lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu”.

Dalam hal mata hati (iyan) menjelaskan bahwa satu mata dapat melihat Tajalli (penzahiran) sifat-sifat dan nama-nama Allah. Pandangan ini akan terus berlanjut sepanjang evolusi keruhanian berlangsung (yaitu pengalaman-pengelaman dalam tingkat-tingkat keruhania menuju Allah).

Mata yang lainnya dapat melihat apa yang diterangi oleh cahaya atau nur tauhid dan keEsaan. Seorang salik yang telah masuk ke peringkat “disisi Allah” saja yang dapat melihat ke Esaan yang mutlak (yaitu Allah) yaitu mereka yang berada dalam peringkat tinggi yaitu Tajalli Dzat. Dalam hal ini Ibnu athaillah menyebutkan :

فَاِنَّهَا لاَتَعْمَىْ اْلاَبصَْارُ وَلكِنْ تَعْمَىْ اْلقُلُوْبُ التَّىِ فِى الصُّدُوْرِ.

Artinya : “ Sesungguhnya bukan matanya yang buta, tapi mata hatinyalah (yang buta) yang ada dalam rongga dada”.

Sedangkan dalam hal Musyahadah lebih dari apa yang dikatakan oleh Amr bin Utsman Al-Makky r.a. arti yang diucapkan, bahwa cahaya-cahaya yang melingkupi qalbunya, tanpa adanya tutup dan faktor yang memutus di celahnya. Sebagaimana perkiraan kilatan dalam kilatan yang bersambung. Seperti malam yang gelap dilampaui cahaya siang.

Begitupun qalbu, apabila keadaan tajalli tampat terus menerus, akan menjadi siang yang nikmat, tiada malam sama sekali.  Sejalan dengan Ibnu ‘Atha’illah yang menyebutkan :

Artinya : “Bagaimana mungkin dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia (Allah) yang tampak dhahir pada segala sesuatu”

Berangkat dari gambaran diatas, dapat disimpulkan bahawa ma’rifat pandangan Ibnu Athai’llah adalah salah satu tujuan dari tarekat atau tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan.
Pertama, adalah mawahib atau ‘ain al-ujd (sumber kemurahan Tuhan) yaitu tuhan memberikannya tanpa usaha  dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugrah tersebut.
Kedua, adalah makasib atau madzi al-majhud yaitu ma’rifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui ar-riyadhah, mulazamah al-dzikir, mulazamah al-wudlu, puasa sahalat sunnnah dan amal shalih lainnya.

C.    Macam macam Ma’rifat Pandangan Ibnu Atha’illah
Karya Al-hikam sejak beredarnya, telah banyak melahirkan syarah  (komentar) dari beberap komentator  atau pensyarah. Hikam adalah jamak dari hikmah  yaitu kitab khusus yang menerangkan tiga bagian pokok; aforisme, risalah dan munajat (do’a). aforisme atau aksioma-aksioma spiritual merupakan bagian pertama al-Hikam dan merupakan subtansi dari seluruh bagian lainnya, dimana muatan  dua bagian lainnya terbahas/tersaji dalam bagain aforisme.

Aforisme mengenai Ma’rifat adalah tema dasar kitab tersebut. Ia adalah ma’rifat iluminatif, dimana di sana terdapat benang yang merentang batu-batu permata, sehingga memberikan karya itu keutuhan dan pandangan yang menadsarinya.
Aforisme Tentang Tingkatan Ma’rifat
Aforisme-aforisme yang mendasar mengenai Ma’rifat, dapat dilihat dari tinggkatan-tingkatan sufisme yang ditulis Ibnu Atha’ilah yakni dibagi mejadi tiga tingakatan yaitu : Sinar mata hati (syu’aa’u lbashirah) atau dapat disebut  cahaya akal,  mata hati (Ainul bashirah) atau dapat disebut Cahaya Ilmu dan Hakikat Mata hati (Haqqul bashirah) atau dapat disebut cahaya Illahi

“Sinar Mata hati itu dapat memeperlihatkan kepadamu dekatnya Allah kepadamu. Dan Mata hati itu sendiri dapat memperlihatkan kepadamu ketiadaanmu karena wujud (adanya) Allah, dan Hakikat Mata hati itulah yang menunjukan kepadamu, hanya adanya Allah, bukan ‘adam (ketiadaanmu) dan bukan pula wujudmu.”

“Fikiran itu dua macam : fikiran yang timbul dari iman percaya, dan fikiran yang timbul karena melihat kenyataan, maka bagi yang pertama bagi orang salik yang mengambil dalil : Adanya makhluk menunjukan adamnya Khalik, ialah mereka ahli I’tibar. Sedangkan yang kedua mereka yang terbuka hijab hingga dapat melihat kenyataan dengan mata hatinya.”
Kemudian mereka yang kedua ini berdalil : ada yang menjadikan itulah yang menunjukan adanya benda yang dijadikan.

Mengenai yang pertama dapat disebut dengan ma’rifat orang salih dan mengenai yang kedua dapat disebut ma’rifat orang mahjdzub Orang yang memfikirkan adanya alam, ada yang langsung melihat pada yang menjadikan, sehingga ia berkata : Karena adanya pencipta, maka terjadilah yang dicipta, dan sebaliknya ada yang terpengaruh oleh bendanya, sehingga berkata adanya ciptaan ini menunjukan adanya pencipta.
“hakikat ilmu yang diturunkan Allah kepada arifiin ketika tajalli itu Mujmal (Singkat), tetapi setelah tertangkap terjadinya penerangan (keterangan)nya ayat : maka apabila kami bacakan, ikutilah bacaannya, kemudian kami sedndiri yang akan menerangkannya (penjelasan perincian).

Ilmu adalah sesuatu yang didapat dengan belajar, dan hakikat dari sebuah ilmu adalah ilham dari Allah kedalam hati tanpa perantara. Hakikat ilmu itu dapat juga disebut ilmu ladunni.

D.    Metode Pencapaian Ma’rifat Pandangan Ibnu ‘Atha’illah
“Seorang salik mencari kebenaran (himmat salik) hampir ingin terus, tidak ingin berhenti ketika sebagian yang baik tersingkap baginya, melainkan suara hakikatnya (hawatif al haqiah) segera memeperingatkan kepadanya, “bukan itu tujuan yang engkau cari, karena ia masih berada di depanmu!” demikian pula hampir tidak tampak keindahan alam baginya, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya, bahwa kami semata-mata adalah sebagian batu ujian, maka janganlah engkau menjadi orang kafir.”

Aforisme Tentang Pencapaian Ma’rifat

اَلعَْاِرفُ لاَ يَزُوْلُ اْضطِرَارُهُ وَلاَ يَكُوْنُ مَعَ غَيْرِاللهِ قَرَارُهُ

“Seorang arif tidak kunjung hilang rasa kebutuhannya, dan tidak merasa tenang, atau bersandar pada sesuatu selain Allah.”

Sumber: http://ridwanpsi.net23.net/1_12_Tasawuf-Ibnu-Atha-illah.html

Senin, 29 Maret 2010

Seolah melihat

Nabi saw. Bersabda, “ Aku melihat surga dan aku bisa mengambil setangkai buah darinya. Jika aku mengambilnya, niscaya kalian bisa memakannya sepanjang keberadaan dunia.”

Menurut Syekh Abu al Abbas, hadis di atas menyatakan bahwa para nabi melihat hakikat segala sesuatu, sementara para wali melihat yang serupa dengannya. Karena itu, Nabi mengatakan, “Aku melihat surga,” bukan, “Seolah-olah aku melihat surga.” Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa ketika Nabi saw. bertanya kepada Haritsah, “Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Haritsah?” Ia menjawab, “Pagi ini aku benar-benar beriman.”

Mendengar jawabannya, Nabi berujar, “Setiap kebenaran ada hakikatnya. Apa hakikat imanmu?”

Ia menjawab, “Aku berpaling dari dunia sehingga bagiku sama saja antara emas atau tanah. Seolah-olah aku melihat penduduk surga tengah merasakan nikmat surga. Dan seolah-olah aku melihat penduduk neraka sedang merasakan siksa. Juga seolah-olah aku melihat Arasy dengan jelas. Karena itu, aku bangun malam (untuk beribadah) dan berpuasa di siang hari.”

Mendengar jawabannya, Nabi bersabda, “Wahai Haritsah, kau telah makrifat. Tetaplah dalam keadaanmu!”

Kemudian Nabi melanjutkan, “Ia hamba yang Allah terangi hatinya dengan cahaya iman.”4

Dalam hadits itu, Haritsah berkata, “ Seolah-olah aku melihat.” Ia tidak berkata, “Aku telah melihat,” karena maqam itu hanya untuk para nabi. Demikian pula ucapan Hanzhalah al-Asadi kepada Rasulullah saw., “Engkau telah mengingatkan kami kepada surga dan neraka sehingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala sendiri.”5 Ia tidak mengatakan, “Sehingga kami melihatnya dengan mata kepala sendiri.”

Pada hadits pertama, yang menyebutkan dialog Nabi saw. dengan Haritsah, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik:

Pertama, Haritsah tidak mengatakan bahwa pagi itu ia kaya, sehat, atau menyebutkan keadaan fisik dan urusan duniawi lainnya. Sebab, Haritsah menyadari bahwa Rasulullah saw. tidak akan menanyakan urusan dunia. Ia paham bahwa Rasulullah menanyakan hubungannya dengan Allah. Karena itu, ia menjawab, “Pagi ini aku benar-benar beriman.” Sedangkan para pencinta dunia, jika ditanya dengan pertanyaan serupa, akan menjawabnya dengan menyebutkan urusan dunia mereka. Mungkin mereka akan menyebutkan urusan dunia mereka. Mungkin mereka akan menyebutkan kerisauan menghadapi takdir Allah. Orang yang bertanya kepada orang semacam itu berarti sama dengannya karena , berkat pertanyaannya, ia menjadi sebab orang itu mengungkapkan urusan dunianya.

Syekh Abu al-Abbas r.a. pernah bertanya kepada seorang yang baru pulang dari haji, “Bagaimana hajimu?”

Ia menjawab, “Banyak kemudahan dan banyak air. Harga barang anu sekian, barang anu sekian.”

Mendengar jawabannya, Syekh berpaling dan berkata, “Kalian bertanya kepada mereka tentang haji mereka. Mereka tidak mendapatkan ilmu, cahaya, dan penyingkapan. Mereka menjawab dengan menyebutkan murahnya harga-harga dan banyaknya air sehingga seakan-akan hanya itu yang ditanyakan kepada mereka.”

Kedua, seorang guru atau syekh harus melihat ahwal para murid dan seorang murid boleh memberitahukan ahwalnya kepada sang guru meskipun hal itu akan menelanjangi dirinya. Sebab, guru adalah dokter, sedangkan ahwal murid adalah aurat yang boleh diperlihatkan kepada dokter agar ia bisa mengobatinya.

Ketiga, lihatlah kekuatan cahaya Haritsah dalam ucapannya, “Pagi ini aku benar-benar beriman.” Seandainya ia tidak diberi cahaya bashirah (penglihatan batin) yang mengantarkannya kepada keyakinan dan sunah, niscaya ia tidak akan memberitahukan keadaannya, serta tidak akan memperlihatkan dan menetapkan keadaan imannya di depan orang yang paling berhak untuk menetapkan. Namun, ia mengatakannya karena tahu bahwa ia wajib mematuhi Rasulullah saw. yang bertanya kepadanya, dan ia tidak boleh menyebunyikannya. Ia memperlihatkan karunia yang Allah berikan kepadanya berkat mengikuti Rasulullah saw. agar Rasul senang. Rasulullah bersyukur kepada Allah dan meminta Haritsah untuk istikamah dalam keadaan itu.

Sumber: Ibnu Athoillah, Lathaif al Minan, Rahasia Yang Maha Indah, Penerbit Serambi

Rabu, 25 Maret 2009

Seputar sufi dan yang saya alami

Banyak perbedaan pendapat seputar sufi.

Saya pribadi sedang dalam proses mempelajarinya.

Namun ada seorang teman saya yang mendalaminya dan saya lihat beliau sejauh ini menjalankan syariah dan berpegang teguh pada Al Qur'an dan Hadist. Pernah saya tanyakan kepada beliau bagaiman perbedaan sufi yang benar dan sesat. Beliau menyatakan bahwa sufi yang sesat adalah yang meninggalkan syariah. Sejauh seorang sufi menjalankan syariah dan berpegang teguh pada Al-Quran dan Hadist serta tidak ditambah perbuatan bid'ah maka mereka insyaallah dijalan yang lurus.

Saya minta petunjuk teman, buku-buku karya siapa yang sebaiknya saya baca jika ingin mengetahui seputar sufi yang baik. Teman saya itu merekomendasikan karya Ibnu Athaillah Al-Sakandari, karena beliau berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadist.

Beberapa buku terjemahan karya Ibnu Athaillah saya dapatkan dari penerbit Serambi (www.serambi.co.id) dan salah satu buku yang berkesan cukup dalam adalah "Menyelam ke samudera ma'rifat dan hakekat", Syekh Ahmad Ibnu Athaillah, Penerbit Amelia Surabaya terbitan 2006 yang saya beli di TB WaliSongo Kwitang.

Sungguh buku-buku tersebut membawa perubahan berarti bagi hidup saya.

Dahulu saya merasa "aku" dan bangga dengan kemampuan saya. Salah satunya dahulu saya senang sekali klo boss memuji saya dengan, "wah klo ndak ada zon, bisa ndak terselesaikan masalah ini".

Dahulu juga saya merasakan dalam mencari rezeki, bersusah payah seperti kebanyakan orang-orang. Pagi sampai sore di kantor sebuah perusahaan swasta, pulang kerja masih juga "menjual" profesionalitas saya (bidang IT). Terkadang pulang larut malam bahkan sampai pukul 1 atau 2 dini hari. Sabtu - minggu pun kadang saya pergunakan sehingga menelantarkan anak dan istri.

Dahulu saya sering sholat dirasakan tidak khusyuk, ibadah lain pun terasa 'kering' sehingga jelas dahulu saya hanya menjalankan Iman dan Islam tanpa mengerti arti sesunguhnya Ihsan.

Pendapat saya dunia sufi lah yang menjelaskan tentang Ihsan sesungguhnya, dan menurut saya, kita sebagai muslim wajib untuk mengetahui lebih dalam tentang Ihsan. Inilah sebenarnya jawaban atas pertanyaan negatif sebagian orang seperti.

"Dia muslim, tapi koq korupsi"

"Dia sholat, tapi koq maksiat"

"Dia muslim, tapi koq ....... perbuatan/sifat lain-lainnya yang tidak mencerminkan perbuatan/sifat seorang muslim.

Alhamdulillah, setelah saya berkenalan dengan dunia sufi, terjadi perubahan dalam hidup saya. Saat ini saya merasakan betapa lemahnya saya dihadapan Allah. Benar-benar tidak ada daya upaya selain atas izin Allah. Saya merasakan segala ilmu yang saya dapatkan sangat kecil sekali dibandingkan dari ke Maha Tahu an Nya. Tidak ada lagi yang patut di sombongkan. Allah lah Maha Besar.

Klo saya melihat teman yang meninggalkan sholat wajib, saya menganggap teman itu, berani sekali / sombong kepada Allah. Sholat adalah hak Allah.

Selanjutnya dalam kehidupan saya, selalu berpegang teguh pada firman Allah,

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Az Zariyat 56) dan

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu (al Hijr 99)

Bahwa tujuan hidup manusia di dunia adalah semata-mata beribadah kepada Allah.

Kemudian kita menerima apapun ketetapan Allah untuk kita di dunia
dan menjalankan ketetapan secara ikhlas/rido, sabar, istiqomah, profesional dan tawakal.

Firman Allah,

"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan.”(QS Qasas :8)

Kemudian mengenai rezeki di dunia kita serahkan hasilnya pada Allah, kita manusia hanya punya hak untuk ikhtiar/prosesnya saja.

Firman Allah,

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Sedangkan selama kehidupan di dunia yang perlu selalu diingat adalah hidup kita penuh cobaan baik dalam posisi kesempitan/miskin maupun pada posisi kelapangan/kaya. Selalulah mengutamakan kehidupan Akhirat kelak.

Sesuai firman Allah.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)

”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” [Asy Syuura:20]

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al An'aam : 44 )

Firman - Firman Allah diatas lah yang merupakan beberapa pegangan sebagai saya menjalani kehidupan.

Selanjutnya saya berupaya selalu untuk merasakan kehadiran Allah disetiap waktu , setiap detik. Kadang-kadang saya tergelincir (maklum manusia lemah) namun saya berusaha secepatnya untuk meminta ampun pada Nya. Akhirnya saya ikhlas berserah diri pada Allah dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Semoga bermanfaat, mohon maaf atas kesalahan tulisan dan pendapat hamba yang lemah ini.

Tulisan lain mengenai Ihsan, silahkan lihat http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/28/menjadi-muslim-terbaik/

=========================================
Catatan tentang sufi seperti yang ditulis oleh Ibnu Athaillah.

=========================================

Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.

Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.

Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.

Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi)
terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.

Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa'uhu(kesuciannya)

Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa'uhu(kesetiaannya)

Huruf fa' berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana'uhu(kefanaannya).

Huruf ya' adalah huruf nisbat.

Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.

Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

======================================

Senin, 23 Maret 2009

Mengapa Harus Berserah

Kami tuliskan review/resensi buku Al Tanwir fi Isqath Al Tadbir karya ulama Sufi Syaikh Ibnu Athoillah, pada edisi terjemahan  "Mengapa Harus Berserah" penerbit Serambi

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku
(Adz Dzariyat 56)
Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu (al Hijr 99)
Ibadah adalah bentuk lahir pengabdian dan penghambaan adalah ruhnya.
Apabila kau telah memahami hal ini, ketahuilah bahwa ruh dan hakikat penghambaan adalah tidak ikut mengatur dan tidak menentang takdir Tuhan.
Jadi jelas, penghambaan adalah tidak ikut mengatur dan memilih bersama rububiyahNya. Penghambaan sebagai kedudukan yang paling mulia hanya bisa dicapai dengan sikap tidak ikut mengatur.
Jadi seorang hamba semestinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus berusaha mencapai tingkatan yang paling sempurna dan paling mulia.
Orang yang ikut mengatur bersama Allah adalah seperti anak yang pergi bersama ayahnya. Keduanya berjalan di malam hari.
Karena menyayangi anaknya, sang ayah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya tanpa diketahui sang anak.
Anak itu tidak bisa melihat ayahnya karena malam yang teramat gelap. Ia meresahkan keadaan dirinya dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Ketika cahaya bulan menyinari dan ia melihat ayahnya dekat kepadanya, keresahannya sirna. Ia tahu ayahnya begitu dekat dengannya. Kini ia merasa tidak perlu ikut mengurus dirinya karena segala sesuatu telah diperhatikan oleh ayahnya.
Seperti itulah orang mengatur untuk dirinya. Ia melakukannya karena berada dalam kegelapan – terputus dari Allah. Ia tidak merasakan kedekatan Allah. Andaikata bulan tauhid atau mentari makrifat menyinarinya, tentu ia melihat Tuhan begitu dekat, sehingga ia malu untuk mengatur dirinya dan merasa cukup dengan pengaturan Allah.
Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah SWT dan orang yang tidak ikut mengatur adalah seperti dua budak milik seorang majikan.
Budak yang satu sibuk dengan perintah majikan serta tidak memikirkan masalah pakaian dan makanan. Seluruh perhatiannya terpusat pada upaya untuk mengabdi kepada majikannya sehingga lupa memerhatikan kepentingan dirinya.
Sebaliknya, budak yang kedua, selalu memerhatikan kebutuhan dirinya. Setiap kali sang majikan mencarinya, ia sedang mencuci baju, memperbaiki keretanya dan menghias pakaiannya.
Tentu saja budak yang pertama lebih layak mendapat perhatian sang majikan daripada budak kedua yang sibuk dengan kepentingan dirinya dan melupakan kewajibannya. Seorang budak dibeli untuk mengabdi kepada majikan, bukan untuk memuaskan kepentingan dirinya sendiri.
Orang yang ikut mengatur untuk dirinya adalah seperti orang yang menjual sebuah rumah. Setelah akad jual beli, si penjual mendatangi si pembeli dan berkata “jangan membangun apa pun di dalamnya”. Tentu saja si pembeli menegurnya, “Kamu telah menjualnya, dan kini kamu tak punya hak melakukan apapun atasnya, Setelah akad, kamu tidak boleh ikut campur.”
Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (At Taubah 111)
Orang beriman harus menyerahkan dirinya kepada Allah beserta segala sesuatu yang terkait dengan dirinya. Sebab, Allah lah yang menciptakannya dan Dia pula yang membelinya. Salah satu keniscayaan dari sikap berserah diri adalah tidak ikut mengatur atas apa yang telah kauserahkan.
Sungguh setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan.
Ketahuilah, musuh sejatimu, yaitu setan, akan senantiasa mengganggumu ketika kau berada dalam keadaan yang Allah tetapkan untukmu. Kemudian setan membisikkan buruknya keadaan itu sehingga kau menghendaki keadaan lain diluar yang telah ditetapkan Allah. Akibatnya, kau selalu gelisah dan hatimu keruh.
Setan akan mendatangi orang bekerja dan mengatakan kepadanya,
“Jika kau meninggalkan pekerjaanmu dan khusyuk beribadah, tentu kau akan mendapatkan cahaya dan kebeningan hati. Itulah yang dialami si fulan dan si fulan”
Sementara Allah tidak meneetapkannya sebagai abid yang melulu beribadah. Ia tak mampu melakukannya. Kebaikannya hanya ada dalam kerja. Jika ia mengikuti bisikan setan dan meninggalkan pekerjaannya, imanya akan goyah dan keyakinannya akan runtuh.
Pada orang yang melulu beribadah, setan mebisikan hasutan yang berbeda,
”Sampai kapan kau enggan bekerja? Jika kau tidak bekerja, kau akan mengharapkan milik orang lain dan hatimu diliputi ketamakan. Tanpa kerja, kau tidak akan bisa membantu dan meendahulukan kepentinganorang lain serta tidak akan mampu menunaikan kewajibanmu. Keluarlah dari keadaanmu yang selalu menunggu pemberian makhluk. Jika kau bekerja, orang lainlah yang akan menunggu pemberianmu.”
Begitulah setan membisikan godaannya.
Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan.
(QS Qashash : 68)
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).
Tujuan setan adalah agar manusia tidak rida atas keadaan yang Allah tetapkan untuknya. Ia berusaha mengeluarkan mereka dari pilihan Allah menuju pilihan mereka sendiri.
Ketahuilah, ketika Allah memasukkanmu ke dalam suatu keadaan, Dia pasti akan selalu membantumu.
Namun, jika kau masuk ke dalamnya dengan kemauan sendiri, Dia akan membiarkanmu.
Allah berfirman, “Katakan, “Wahai Tuhan, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, serta berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong (QS Al-Isra : 80)
Sesungguhnya engkau tidak mengetahui akhir dan akibat dari setiap urusan. Mungkin kau bisa mengatur dan merancang sebuah urusan yang baik menurutmu. Tetapi ternyata urusan itu berakibat buruk bagimu. Mungkin ada keuntungan di balik kesulitan dan sebaliknya, banyak kesulitan di balik keuntungan. Bisa jadi bahaya datang dari kemudahan dan kemudahan datang dari bahaya.

Mungkin saja anugerah tersimpan dalam ujian dan cobaan tersembunyi dibalik anugerah. Dan bisa jadi kau mendapatkan manfaat lewat tangan musuh dan binasa lewat orang yang kau cintai. Orang yang berakal tidak akan ikut mengatur bersama Allah karena ia tidak mengetahui mana yang berguna dan mana yang berbahaya bagi dirinya.

Syekh Abu Al Hasan rahimahullah berkata,
“Ya Allah, aku tidak berdaya menolak bahaya dari diri kami meskipun datang dari arah yang kami ketahui dan dengan cara yang kami ketahui. Lalu, bagaimana kami mampu menolak bahaya yang datang dari arah dan cara yang kami tidak ketahui?”

Cukuplah untukmu firman Allah,
“Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk untuk kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” (QS al Baqarah : 216)

Seringkali kau menginginkan sesuatu, namun Tuhan memalingkannya darimu. Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya. Namun, ketika akhir dan akibat dari apa yang kau hasratkan itu tersingkap, barulah kau menyadari bahwa Allah SWT melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kau ketahui, dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kau ketahui. Sungguh buruk seorang hamba yang tidak paham dan tidak pasrah kepadaNya.
Engkau adalah hamba yang selalu Dia pelihara. Seorang hamba tidak boleh ragu kepada majikannya. Apalagi sang majikan selalu memberi dan tidak pernah mengabaikan. Inti ibadah adalah percaya kepada Allah dan pasrah kepadaNya. Sikap itu berlawanan dengan hasrat ikut mengatur dan memilih bersama Allah. Seorang hamba harus mengabdi kepadaNya, dan Dia akan memberikan karunia untuknya.

Pahamilah firmanNya, “Perintahkan keluargamu untuk shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rezeki. Kamilah yang memberimu rezeki.” ”[QS Thaha : 132]

Artinya, mengabdilah kepada Kami, tentu Kami akan memberikan bagian padamu. Ayat itu mengandung dua hal, sesuatu yang Allah jamin untukmu sehingga kau tidak perlu mencarinya dan sesuatu yang diminta darimu sehingga tidak boleh kamu abaikan.
Kami tidak memintamu untuk memberi rezeki kepada diri dan keluargamu.

Bagaimana mungkin Kami memintamu melakukan hal semacam itu ?!
Bagaimana mungkin Kami membebani kewajiban untuk memberi rezeki kepada dirimu, sementara kau tidak akan mampu melakukannya ?
Terpujikah Kami jika memerintahkanmu mengabdi, sementara kami tidak memberikan bagian untukmu?
Orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah sehingga lalai dari apa yang diminta, berarti sangat bodoh dan lalai. Semestinya setiap hamba menyibukkan diri dengan apa yang dituntut darinya tanpa memikirkan apa yang telah dijamin untuknya.
Allah SWT, memberi rezeki kepada kaum yang membangkang, jadi bagaimana mungkin Dia tidak memberi kepada kaum yang taat ?
Apabila Dia telah mengalirkan rezekiNya kepada orang kafir, bagaimana mungkin Dia menahannya untuk orang yang beriman ?
Kau telah mengetahui bahwa dunia telah dijamin untukmu, sedang akhirat diminta darimu.
Kau memiliki akal dan mata hati, jadi kenapa kau arahkan perhatianmu kepada sesuatu yang telah dijamin untukmu sehingga kau melalaikan kewajibanmu ?
Perumpamaan orang yang sibuk bekerja dan orang yang sibuk beribadah adalah seperti dua budak satu tuan.
Sang tuan berkata kepada salah seorang dari mereka, “Bekerjalah, dan makanlah dari hasil usahamu.”
Kemudian kepada budak satunya ia berkata, “Tetaplah bersamaku dan melayaniku. Akan kuberikan kepadamu semua kebutuhanmu”.
“Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus” (QS Al Imran : 101 )
“Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya” (QS Al Thalaq : 3)
Ketahuilah, sikap tawakal kepada Allah dalam urusan rezeki tidak bertentangan dengan usaha manusia
Rasulullah SAW bersabda, Karena itu, bertakwalah kepada Allah, dan mintalah (atau carilah) rezeki dengan cara yang baik.”
Rasulullah SAW, membolehkan kita berusaha mencari rezeki. Seandainya usaha atau bekerja bertentangan dengan tawakal, tentu Rasulullah akan melarangnya.
Rasulullah SAW tidak mengatakan, "Jangan mencari rezeki," namun, "Carilah rezeki dengan cara yang baik."
Nabi Muhammad SAW membolehkan kita mencari rezeki, karena itu merupakan bagian dari usaha. Nabi Muhammad SAW bersabda “ Makanan yang paling halal dimakan seseorang adalah yang merupakan hasil usahanya sendiri”
Ketahuilah ada beberapa perwujudan dari sikap mencari rezeki dengan baik. Berikut beberapa cara sebagaimana yang Allah sampaikan melalui karunia Nya.


  1. Cara mencari rezeki yang baik adalah yang tidak melalaikanmu dari Allah Swt.

  2. Cara mencari rezeki yang baik adalah mencarinya kepada Allah Swt, tanpa menetapkan batasan, sebab, dan waktunya sehingga Dia akan memberikan kepadanya apa yang Dia kehendaki, dan diwaktu yang Dia kehendaki. Itulah etika meminta rezeki. Orang yang mencari rezeki seraya menetapkan kadar, sebab dan waktunya berarti telah mengatur Tuhannya, dan sikap itu menunjukkan kelalaian hatinya.

  3. Cara meminta rezeki yang baik adalah memintanya kepada Allah Swt, dan jangan jadikan apa yang kau inginkan sebagai tujuan doamu. Permintaanmu itu sesungguhnya hanyalah sarana untuk bermunajat kepada Nya.

  4. Cara mencari rezeki yang baik adalah dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa jatahmu telah ditetapkan dan akan mendatangimu, bukan permintaan dan usahamu yang mengantarkanmu kepadanya

  5. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta kepada Allah sesuatu yang bisa mencukupimu bukan yang melenakanmu. Jangan menghendaki sesuatu secara berlebihan. Nabi Muhammad SAW , mengajarkan doa yang baik “ Ya Allah, jadikanlah makanan keluarga Muhammad sekedar bisa mencukupi’.

  6. Cara meminta rezeki yang baik bisa dengan cara meminta bagian dunianya. Allah berfirman “dan, diantara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami , berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka” (QS Al Baqarah : 201)

  7. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta tanpa meragukan jatah yang diberikan Allah, serta tetap menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang.

  8. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta tanpa menuntut untuk segera dikabulkan.

  9. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta dan bersyukur kepada Allah jika diberi dan menyadari pilihan terbaik Nya jika tidak diberi.

  10. Cara meminta rezeki dengan baik adalah meminta kepada - Nya agar kau berpegang pada pembagian-Nya yang telah ditetapkan, tidak kepada permintaanmu.


Ya Allah, Engkau telah menetapkan untuk kami bagian yang Engkau sampaikan kepada kami. Maka sampaikanlah kami kepadanya dengan mudah dan tanpa kepenatan, terjaga dari keterhijaban, diliputi cahaya hubungan dengan-Mu, yang kami saksikan dari-Mu sehingga kami termasuk golongan yang bersyukur dan menyandarkan bagian kami itu kepada-Mu, bukan kepada salah satu mahluk-Mu.