Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

Tegakkan Ukhuwah Islamiyah

Wahabi/Salaf(i) dan Kemerdekaan Palestina


Berlarut-larutnya masalah kebebasan atau belum terwujudnya kemerdekaan Palestina dari penjajah dan penyerang Yahudi Israel ada kemungkinan besar karena kita sesama saudara muslim belum bulat mendukung dan membantu Palestina.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)

“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Apa yang diharapkan kaum muslim di seluruh dunia agar ulama di Arab Saudi dapat memimpin gerakan terhadap kaum yang memusuhi orang-orang yang beriman ternyata belum dapat terwujud karena mereka menganggap/memahami bahwa saudara-saudara muslim lainnya belumlah berada pada manhaj/pemahaman seperti mereka.

Berikut pendapat/pemahaman/pemikiran ulama Wahabi atau Salaf(i) Rabi’ bin Hadi Umair Al-Madkhali
Kalian telah melakukan lemparan batu terhadap mereka dan aku tidak mengetahui ada rakyat yang memiliki kesabaran seperti kalian. Akan tetapi kebanyakan dari kalian tidak membawa aqidah yang dimiliki Al-Faruq, tidak pula manhajnya. Sekiranya jihad kalian ditegakkan di atas ini, maka akan terselesaikan problem kalian dan kalian akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan.

Sumber:  http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/surat-terbuka-untuk-yahudi-dan-juga-kaum-muslimin.html

Bahkan sebagian mereka beranggapan bahwa saudara-saudara muslim yang negerinya mengalami peperangan melawan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik merupakan bukti kekeliruan mereka tidak berada pada manhaj/pemahaman serupa mereka.

Perhatikanlah fatwa-fatwa ulama kaum Wahabi atau Salaf(i)

Fatwa Al Bani tentang Palesitna

http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/06/fatwa_albani_palestina.pdf

Fatwa Abdul Aziz tentang Palestina

http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/06/fatwa_abdulaziz_palestina.pdf

Bahkan di sisi lain kaum Wahabi atau Salaf(i) di negeri mereka kerajaan Arab Saudi "menerima" dengan tangan terbuka kaum yang sesungguhnya memusuhi orang-orang yang beriman yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Kaum Wahabi atau Salaf(i) menggolongkan mereka yang memusuhi orang-orang yang beriman sebagai Kafir Mu'ahid ataupun Kafir Dzimmi dengan "menutup mata" atas perbuatan saudara-saudara mereka terhadap negeri-negeri Islam lainnya

Bahkan Kaum Wahabi atau Salaf(i) mengajak mereka mengelola secara bersama-sama akan kekayaan alam yang dianugerahkan oleh Allah swt. Sehingga dengan kekayaan yang mereka peroleh dan dibawa ke negara mereka untuk dibelanjakan senjata sebagai alat untuk membunuh saudara-saudara muslim lainnya.

Juga Kaum Wahabi atau salaf(i) mengangkat mereka yang memusuhi orang-orang yang beriman sebagai penasehat dan pelindung keamanan negeri mereka. Mereka berlindung dari apa yang mereka prasangkakan namun mereka telah membiarkan musuh sejati masuk ke negeri mereka dan mempengaruhi pemahaman mereka sendiri.

Inilah sejatinya kemenangan perang pemikiran (ghazwul fikri) yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Musuh sejati itu telah diperingatkan oleh Allah swt melalui firmanNya yang artinya.

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sangat sukar mengharapkan kepada mereka yang telah berkolaborasi dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Silahkan baca tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/12/kolaborasi/

Kita dapat mengambil pelajaran (hikmah) dari perbedaan pemahaman/pendapat/pemikiran antara Ustadz Ja'far Umar Thalib dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir. Selengkapnya analisa kami terhadap perbedaan pemahaman/pendapat/pemikiran kedua ustadz tersebut, silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/10/pertengkaran-wahabisalafi/

Sebaiknya umat muslim seluruh dunia menyadari keadaan dan tidak lagi menunggu kepemimpinan dari kaum Wahabi atau Salaf(i) untuk menegakkan Ukhuwah Islamiyah.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Selasa, 08 Juni 2010

Fatwa untuk Penguasa

Kami Menunggu Fatwa Ulama untuk Umara (para penguasa negeri)


Fatwa Al Bani tentang Palesitna
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/06/fatwa_albani_palestina.pdf

Fatwa Abdul Aziz tentang Palestina
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/06/fatwa_abdulaziz_palestina.pdf

Tetapi belum ada fatwa Ulama kepada Umara (Penguasa Arab Saudi dan para pemimpin negeri muslim lainnya) untuk bersatu padu membebaskan Palestina dari penjajah brutal agar saudara-saudara kita di Palestina  mendapatkan kemerdekaan !

Dalam Islam, para ulama mendapatkan kedudukan yang sangat terhormat sekali. Diantaranya adalah apa yang disebutkan Allah swt dalam salah satu firman-Nya :

” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )

Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah , Rosul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya.

Adapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.
Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat bahwa ulil amri di atas mencakup para ulama dan umara ( pemimpin/penguasa ).

Ini sesuai dengan apa yang kita dapati dalam perjalanan sejarah Islam pertama, bahwa Rosulullah saw adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafa’ rasyidin sesudahnya : Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.

Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara.

Dalam posisi seperti ini, manakah yang harus kita taati terlebih dahulu, ulama atau umara ?

Kalau kita perhatikan ayat di atas secara seksama, akan kita dapati bahwa ketaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya.

Sedang orang yang paling mengetahui tentang perintah Allah dan Rosul-Nya adalah para ulama, dengan demikian ketaatan kepada para ulama didahulukan daripada ketaatan kepada umara, karena umara sendiri wajib mentaati ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.

Jelaslah masalahnya, bagaimana Umara (para penguasa) mentaati Ulama, karena Ulama tidak mengeluarkan nasehat atau fatwa untuk Umara.

Ulama mempunyai "kekuasaan" untuk mengeluarkan nasehat ataupun fatwa untuk penguasa/pemimpin/umara. Jika ulama dengan kekuasaan yang ada pada mereka sehingga "membiarkan" kezaliman berlangsung di muka bumi, maka para pembaca tentu paham akibat yang akan ditanggung mereka di akhirat nanti.

Kami yang lemah ini hanya sanggup demonstrasi atau sekedar menulis atau menyatakan pendapat bahwa kami muslim dan umat muslim di Palestina adalah saudara-saudara muslim kami (mereka bukan orang sesat apalagi kaum kafir)  serta kami menginginkan saudara-saudara muslim kami di Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan mereka, dan itupun sesuai dengan pembukaan UUD negeri kami,

“Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan”

."...membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan....
"

Kami sedang bersedih karena penguasa negeri kami tidak amanah, tidak peduli dengan pembukaan UUD yang telah diletakkan oleh para pendiri negeri ini dan para pejuang/mujahid,  dengan darah dan nyawa mereka.  Apalagi perbuatan atau kebijkan penguasa negeri kami, jika diperiksa dengan landasan Al-Qur'an dan Hadits,  belum banyak  memenuhi perintah Allah maupun sunnah Nabi.

Kami menyakini hadits bahwa ada larangan untuk memberontak / memerangi / menggulingkan pemimpin yang muslim (selama mereka masih sholat) walaupun mereka jahat / tidak adil / zalim

Namun disisi lain ada anjuran dari Rasulullah bagaimana menghadapi pimpinan yang jahat/tidak adil/zalim yakni,
"Barangsiapa yang benci (terhadap kejahatan/kezaliman pimpinan tersebut) sungguh ia telah berlepas diri dan barangsiapa yang mengingkari sungguh ia telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang ridha dan mengikuti (kejahatan penguasa) maka orang itu bersalah / berdosa pula".

Wassalam

Zon di Jonggol