Tragedi yang terjadi seperti di Mesir, yang bertanggung jawab adalah Umara / penguasa dan termasuk pula Ulama karena Ulama selama ini tidak memperingatkan Umara / penguasa.
Umumnya fatwa ulama dikeluarkan untuk "akibat" bukan pada "penyebab"
Demonstrasi seperti di Mesir, hakikatnya adalah sebuah akibat, sedangkan umat muslim sebenarnya butuh fatwa ulama untuk "penyebab". Itulah yang kami tuliskan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2010/06/08/fatwa-untuk-penguasa/
Untuk mengatasi permasalahan baik di Mesir, Palestina, Afghanistan dan negara-negara lain yang pemimpinnya cuma "boneka" Amerika.
Sebaiknya seluruh ulama mengeluarkan fatwa bagi seluruh pemimpin yang mengaku sebagai muslim wajib hukumnya untuk menghentikan pergaulan/pertemanan dengan Amerika atau sejenisnya, dimana dibelakang mereka semua adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik
Mengingat bahwa Allah ta'ala memang menciptakan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik mempunyai rasa permusuhan kepada kaum muslim.
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).
Sudah jelas kita ketahui bahwa negara-negara dengan pemimpin bonekanya Amerika telah menimbulkan kemudharatan bagi kaum muslim.
Sudah dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya yang artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)
Kita harus selalu ingat bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak beragama karena agama hanyalah Islam. Baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2011/01/21/agama-hanya-islam/
dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2010/10/27/orang-orang-beriman/
Marilah kita perlakukan orang-orang non muslim itu sebatas manusia biasa. Kita baik pada mereka jika mereka baik kepada kita, namun jangan pernah menjadikan teman ataupun penasehat bidang apapun.
“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )
Bagaimanakah kita harus bersikap terhadap para pemimpin dan penguasa yang berteman dengan orang-orang yang memang telah diciptakan Allah Azza wa Jalla untuk dimurkai, marilah kita ikuti sabda Rasulullah berikut ini
Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang dungu.” Ka’ab bertanya, “Apakah kepemimpinan orang-orang dungu itu ?”. Beliau berkata, “Yaitu para penguasa yang ada setelahku, mereka tidak mengikuti tuntutanku, dan mereka tidak meneladani sunnahku. Siapa yang membenarkan mereka dengan kebohongannya dan membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bukan bagian dariku dan aku bukan dari mereka, serta mereka tidak akan menemuiku di atas telagaku. Dan siapa yang tidak membenarkan mereka dengan kebohongannya dan tidak membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bagian dariku dan aku bagian darinya serta akan menemuiku di atas telagaku.” (HR. Ahmad, haditsnya Shahih)
Wassalamu’alaikum
Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830
Tampilkan postingan dengan label Palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palestina. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 Februari 2011
Butuh Fatwa Ulama
Selasa, 08 Juni 2010
Fatwa untuk Penguasa
Kami Menunggu Fatwa Ulama untuk Umara (para penguasa negeri)
Fatwa Al Bani tentang Palesitna
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/06/fatwa_albani_palestina.pdf
Fatwa Abdul Aziz tentang Palestina
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/06/fatwa_abdulaziz_palestina.pdf
Tetapi belum ada fatwa Ulama kepada Umara (Penguasa Arab Saudi dan para pemimpin negeri muslim lainnya) untuk bersatu padu membebaskan Palestina dari penjajah brutal agar saudara-saudara kita di Palestina mendapatkan kemerdekaan !
Dalam Islam, para ulama mendapatkan kedudukan yang sangat terhormat sekali. Diantaranya adalah apa yang disebutkan Allah swt dalam salah satu firman-Nya :
” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )
Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah , Rosul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya.
Adapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.
Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat bahwa ulil amri di atas mencakup para ulama dan umara ( pemimpin/penguasa ).
Ini sesuai dengan apa yang kita dapati dalam perjalanan sejarah Islam pertama, bahwa Rosulullah saw adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafa’ rasyidin sesudahnya : Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.
Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara.
Dalam posisi seperti ini, manakah yang harus kita taati terlebih dahulu, ulama atau umara ?
Kalau kita perhatikan ayat di atas secara seksama, akan kita dapati bahwa ketaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya.
Sedang orang yang paling mengetahui tentang perintah Allah dan Rosul-Nya adalah para ulama, dengan demikian ketaatan kepada para ulama didahulukan daripada ketaatan kepada umara, karena umara sendiri wajib mentaati ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.
Jelaslah masalahnya, bagaimana Umara (para penguasa) mentaati Ulama, karena Ulama tidak mengeluarkan nasehat atau fatwa untuk Umara.
Ulama mempunyai "kekuasaan" untuk mengeluarkan nasehat ataupun fatwa untuk penguasa/pemimpin/umara. Jika ulama dengan kekuasaan yang ada pada mereka sehingga "membiarkan" kezaliman berlangsung di muka bumi, maka para pembaca tentu paham akibat yang akan ditanggung mereka di akhirat nanti.
Kami yang lemah ini hanya sanggup demonstrasi atau sekedar menulis atau menyatakan pendapat bahwa kami muslim dan umat muslim di Palestina adalah saudara-saudara muslim kami (mereka bukan orang sesat apalagi kaum kafir) serta kami menginginkan saudara-saudara muslim kami di Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan mereka, dan itupun sesuai dengan pembukaan UUD negeri kami,
“Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan”
."...membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan...."
Kami sedang bersedih karena penguasa negeri kami tidak amanah, tidak peduli dengan pembukaan UUD yang telah diletakkan oleh para pendiri negeri ini dan para pejuang/mujahid, dengan darah dan nyawa mereka. Apalagi perbuatan atau kebijkan penguasa negeri kami, jika diperiksa dengan landasan Al-Qur'an dan Hadits, belum banyak memenuhi perintah Allah maupun sunnah Nabi.
Kami menyakini hadits bahwa ada larangan untuk memberontak / memerangi / menggulingkan pemimpin yang muslim (selama mereka masih sholat) walaupun mereka jahat / tidak adil / zalim
Namun disisi lain ada anjuran dari Rasulullah bagaimana menghadapi pimpinan yang jahat/tidak adil/zalim yakni,
"Barangsiapa yang benci (terhadap kejahatan/kezaliman pimpinan tersebut) sungguh ia telah berlepas diri dan barangsiapa yang mengingkari sungguh ia telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang ridha dan mengikuti (kejahatan penguasa) maka orang itu bersalah / berdosa pula".
Wassalam
Zon di Jonggol
Senin, 07 Juni 2010
Kita Butuh Gaza
Surat "Gaza tidak membutuhkanmu !", dibuat Santi Soekanto ( wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010 ) di atas kapal Mavi Marmara saat masih berada di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.
Surat ini beredar cukup luas dan cepat. Menurut saya dikarenakan disebarluaskan oleh baik yang pro membantu Palestina maupun yang “membiarkan” Palestina.
Mungkin para pembaca akan terkejut, saya katakan bahwa ada sebagian umat muslim yang “membiarkan” palestina ?
Bacalah tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/dukung-palestina/
Bagi mereka yang “membiarkan” palestina, tertarik menyebar luaskan dikarenakan judul surat tersebut “Gaza Tidak Membutuhkanmu!”
Komentar mereka secara cepat tanpa membaca isi surat itu, diantaranya adalah "Benar, Gaza tidak membutuhkanmu !"
Padahal inti surat itu ada pada kalimat berikut
…Gaza tidak membutuhkan aku. Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds….
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak -betapa pun sedikitnya- menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.
Tepat sekali ungkapan hati, jurnalis kita bahwa “Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini”…
Benarlah saudara-saudara muslimku. Kita yang membutuhkan Gaza ! Kita yang membutuhkan saudara-saudara muslim kita di Palestina !
Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
“Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai……..(HR. Muslim).
Ketetapan Allah tentang keadaan di Palestina saat ini, merupakan cobaan bagi kita, umat muslim di tempat lain.
Membantu dan Mendukung saudara-saudara muslim kita di Palestina adalah bagian dari penyempurnaan keimanan kita sebagaimana hadits di atas.
Sedangkan membiarkan mereka adalah wujud dari cinta dunia.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)
”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” [Asy Syuura:20]
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam : 44 ).
Surat ini beredar cukup luas dan cepat. Menurut saya dikarenakan disebarluaskan oleh baik yang pro membantu Palestina maupun yang “membiarkan” Palestina.
Mungkin para pembaca akan terkejut, saya katakan bahwa ada sebagian umat muslim yang “membiarkan” palestina ?
Bacalah tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/dukung-palestina/
Bagi mereka yang “membiarkan” palestina, tertarik menyebar luaskan dikarenakan judul surat tersebut “Gaza Tidak Membutuhkanmu!”
Komentar mereka secara cepat tanpa membaca isi surat itu, diantaranya adalah "Benar, Gaza tidak membutuhkanmu !"
Padahal inti surat itu ada pada kalimat berikut
…Gaza tidak membutuhkan aku. Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds….
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak -betapa pun sedikitnya- menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.
Tepat sekali ungkapan hati, jurnalis kita bahwa “Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini”…
Benarlah saudara-saudara muslimku. Kita yang membutuhkan Gaza ! Kita yang membutuhkan saudara-saudara muslim kita di Palestina !
Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
“Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai……..(HR. Muslim).
Ketetapan Allah tentang keadaan di Palestina saat ini, merupakan cobaan bagi kita, umat muslim di tempat lain.
Membantu dan Mendukung saudara-saudara muslim kita di Palestina adalah bagian dari penyempurnaan keimanan kita sebagaimana hadits di atas.
Sedangkan membiarkan mereka adalah wujud dari cinta dunia.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)
”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” [Asy Syuura:20]
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam : 44 ).
Selasa, 01 Juni 2010
Bulat dukung Palestina
Kita harus bulat mendukung dan membantu Palestina.
Berlarut-larutnya masalah kebebasan atau belum terwujudnya kemerdekaan Palestina dari penjajah dan penyerang Yahudi Israel ada kemungkinan besar karena kita sesama saudara muslim belum “bulat” mendukung dan membantu Palestina.
Kita bisa dapatkan sebagian saudara muslim kita berpendapat sebagai berikut:
- Warga muslim Palestina harus meninggalkan negerinya dan hijrah ke negara lain
- Kami berwasiat kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
- Demo membela saudara muslim Palestina termasuk membuat kerusakan di muka bumi.
- Kenapa sih Palestina dipikirin, mereka itu kan sering berbuat maksiat
Perhatikan pendapat terakhir, khususnya “mereka itu kan sering berbuat maksiat”
Apa yang terlintas di pikiran antum ketika membaca kalimat tersebut ?
Berapa banyakkah kemungkinan saudara-saudara muslim kita yang berpikiran/berpendapat/berpemahaman seperti itu ?
Mengapa mereka merasa berhak atau gemar “menilai” saudara muslim lain, seolah-olah mewakili Allah ?
Apakah mungkin pemikiran seperti itu yang menyebabkan tidak tegaknya Ukhuwah Islamiyah sehingga permasalahan Palestina, Afghanistan, Somalia dan lain-lain belum terselesaikan ?
Tanpa kita sadari, kita diadu domba oleh orang-orang yang memusuhi kaum mukmin, sebagaimana saya uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/kita-diadu-domba/
Dengan adanya pemikiran/pemahaman bahwa “mereka itu kan sering berbuat maksiat” sebagai bukti bahwa kita diadu domba oleh orang-orang yang memusuhi orang yang beriman.
Orang-orang yang memusuhi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firmanNya yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Sadarlah saudara-saudaraku, bahwa ghazwul fikri / perang pemikiran telah diupayakan oleh orang-orang yang memusuhi kaum mukmin.
orang beriman.
Ingatlah selalu, setiap muslim yang telah bersaksi Laa Ilaha Illallah, tidak akan “menilai” atau bahkan memusuhi saudara muslim lainnya, kecuali mereka yang telah gagal “bersaksi” atau tidak paham dengan yang dimaksud “bersaksi”.
Hati-hatilah jika antum mempunyai “rasa benci” atau “rasa permusuhan” terhadap sesama muslim karena sesungguhnya tidak bisa bercampur antara haq dan bathil.
Pahamilah firman Allah yang artinya
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara....” ( Qs. Al-Hujjarat :10)
Jika tidak peduli saudara-saudara muslim lainnya, mungkin berarti karena lebih cinta dunia, merasa aman dengan kedudukan, kekuasaan, harta dan kehidupan di dunia yang sementara ini.
Wassalam
Zon di Jonggol
.
.
Tulisan ini sebagai bentuk solidaritas bagi saudara-saudara muslimku di Palestina. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi saudara-saudaraku dalam menjalankan kehidupan di dunia ini sesuai ketentuan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Semoga Allah selalu mencurahkan kepada mereka, karunia Iman dan Islam dan kekuatan untuk teguh bertaqwa kepada Allah.
Contoh ulama yang "menilai" saudara muslim kita di Palestina belum pada manhaj yang benar.
http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/surat-terbuka-untuk-yahudi-dan-juga-kaum-muslimin.html
Berikut cuplikan dari link di atas, khusus yang berkenaan penilaian mereka terhadap saudara-saudara muslim kita di Palestina
Berlarut-larutnya masalah kebebasan atau belum terwujudnya kemerdekaan Palestina dari penjajah dan penyerang Yahudi Israel ada kemungkinan besar karena kita sesama saudara muslim belum “bulat” mendukung dan membantu Palestina.
Kita bisa dapatkan sebagian saudara muslim kita berpendapat sebagai berikut:
- Warga muslim Palestina harus meninggalkan negerinya dan hijrah ke negara lain
- Kami berwasiat kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
- Demo membela saudara muslim Palestina termasuk membuat kerusakan di muka bumi.
- Kenapa sih Palestina dipikirin, mereka itu kan sering berbuat maksiat
Perhatikan pendapat terakhir, khususnya “mereka itu kan sering berbuat maksiat”
Apa yang terlintas di pikiran antum ketika membaca kalimat tersebut ?
Berapa banyakkah kemungkinan saudara-saudara muslim kita yang berpikiran/berpendapat/berpemahaman seperti itu ?
Mengapa mereka merasa berhak atau gemar “menilai” saudara muslim lain, seolah-olah mewakili Allah ?
Apakah mungkin pemikiran seperti itu yang menyebabkan tidak tegaknya Ukhuwah Islamiyah sehingga permasalahan Palestina, Afghanistan, Somalia dan lain-lain belum terselesaikan ?
Tanpa kita sadari, kita diadu domba oleh orang-orang yang memusuhi kaum mukmin, sebagaimana saya uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/kita-diadu-domba/
Dengan adanya pemikiran/pemahaman bahwa “mereka itu kan sering berbuat maksiat” sebagai bukti bahwa kita diadu domba oleh orang-orang yang memusuhi orang yang beriman.
Orang-orang yang memusuhi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firmanNya yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Sadarlah saudara-saudaraku, bahwa ghazwul fikri / perang pemikiran telah diupayakan oleh orang-orang yang memusuhi kaum mukmin.
orang beriman.
Ingatlah selalu, setiap muslim yang telah bersaksi Laa Ilaha Illallah, tidak akan “menilai” atau bahkan memusuhi saudara muslim lainnya, kecuali mereka yang telah gagal “bersaksi” atau tidak paham dengan yang dimaksud “bersaksi”.
Hati-hatilah jika antum mempunyai “rasa benci” atau “rasa permusuhan” terhadap sesama muslim karena sesungguhnya tidak bisa bercampur antara haq dan bathil.
Pahamilah firman Allah yang artinya
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara....” ( Qs. Al-Hujjarat :10)
Jika tidak peduli saudara-saudara muslim lainnya, mungkin berarti karena lebih cinta dunia, merasa aman dengan kedudukan, kekuasaan, harta dan kehidupan di dunia yang sementara ini.
Wassalam
Zon di Jonggol
.
.
Tulisan ini sebagai bentuk solidaritas bagi saudara-saudara muslimku di Palestina. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi saudara-saudaraku dalam menjalankan kehidupan di dunia ini sesuai ketentuan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Semoga Allah selalu mencurahkan kepada mereka, karunia Iman dan Islam dan kekuatan untuk teguh bertaqwa kepada Allah.
Contoh ulama yang "menilai" saudara muslim kita di Palestina belum pada manhaj yang benar.
http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/surat-terbuka-untuk-yahudi-dan-juga-kaum-muslimin.html
Berikut cuplikan dari link di atas, khusus yang berkenaan penilaian mereka terhadap saudara-saudara muslim kita di Palestina
Khusus kepada pemerintah Muslimin
Hendaklah kalian membentuk pasukan Islam yang terdidik di atas Kitabullah dan Sunnah dan menjadikannya sebagai pondasi bagi pasukan Islam dan untuk mencapai tujuan dan target dari pasukan yang tegak di atas manhaj Muhammad shallallahu alaihi wasallam Wajib bagi kalian mendidiknya diatas aqidah, manhaj Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, metode Al-Faruq, Khalid (bin Al-Walid) dan mendidiknya di atas tujuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, agar mereka menjadi tentara Allah dengan sebenar-benarnya
Kepada rakyat Palestina secara khusus:
Hendaklah rakyat ini mengetahui bahwa Palestina tidaklah dimenangkan kecuali dengan Islam, melalui tangan Al-Faruq milik Islam dan pasukan Islamnya di bawah bimbingan Al-Faruq. Tidaklah akan dapat dibebaskan (tanah Palestina) dari kotoran Yahudi kecuali dengan Islam yang benar pula, sebagaimana dimenangkannya melalui tangan Al-Faruq.
Kalian telah melakukan lemparan batu terhadap mereka dan aku tidak mengetahui ada rakyat yang memiliki kesabaran seperti kalian. Akan tetapi kebanyakan dari kalian tidak membawa aqidah yang dimiliki Al-Faruq, tidak pula manhajnya. Sekiranya jihad kalian ditegakkan di atas ini, maka akan terselesaikan problem kalian dan kalian akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan.
Maka wajib atas kalian untuk menegakkan aqidah,manhaj dan jihad kalian di atas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan berpegang teguh secara keseluruhan dengan tali Allah dan jangan kalian berpecah belah.
Lakukan semua ini dengan kesungguhan dan ikhlas di masjid-masjid kalian, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi. Bersikap jujurlah terhadap Allah dalam semua itu. Insya Allah pasti pertolongan akan datang untuk mengalahkan saudara-saudara monyet dan babi itu.
Sesungguhnya penduduk Syam yang muslim mendapatkan janji yang benar melalui lisan Hamba yang benar dan dibenarkan ,yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dimana mereka mendapatkan kemenangan melawan Yahudi dan Nashara. Maka singsingkanlah lengan kalian dengan penuh kesungguhan. Niscaya Allah akan mewujudkannya untuk kalian. Tanpa itu semua, kalian tidak akan mendapatkan hasil kecuali kegagalan dan kerugian. Dan tidak –demi Allah-, tidak akan bermanfaat bagi kalian adanya campur tangan Amerika dan tidak pula PBB ataupun fanatisme yang terkutuk terhadap suatu kaum,atau negara.
Maka bersegeralah menuju kepada sebab –sebab pertolongan yang hakiki. Cukuplah bagi kalian banyaknya pengalaman yang tidak membawa hasil dan tidak akan membawa hasil bagi kalian sedikitpun. Janganlah kalian seperti apa yang disebutkan dalam sebuah sya’ir:
“Bagaikan unta dipadang pasir yang mati kehausan, Sementara air dipikul diatas punggungnya”
“Ya ALLAH, kokohkanlah umat ini diatas petunjuk, sehingga mulia para penolong agamaMu dan menjadi hina musuh-musuhMu.
Ya allah, tinggikanlah kalimatMu dan agungkanlah agamaMu dan agungkanlah kaum muslimin.
Bimbinglah mereka menuju jalanMu
.
Ditulis oleh :
Rabi’ bin Hadi Umair Al-Madkhali
Pada tanggal 21-7-1421 H.
Kamis, 08 April 2010
Banyak Perbedaan
Kita pahami bahwa Allah menghendaki agar kita kaum muslim tidak bercerai-berai sebagaimana firmanNya yang artinya,
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).
Namun saat ini kita temui bahwa kita belum lagi bersatu dan menegakkan Ukhuwah Islamiyah karena terjadinya perbedaan pemahaman/i’tiqad/akidah.
Diantara yang berbeda dengan kaum Ahlussunah wal Jama’ah adalah antara lain yang jumlahnya cukup banyak, kaum Syiah dan kaum Salaf(i) / Wahabi.
I'tiqad/akidah kaum Syiah terlampau banyak perbedaannya dengan Ahlusunnah Wal Jama'ah diantaranya, kaum Syiah hanya mengakui hadits-hadits yang diriwayatkan Saidina 'Ali, Saidinan Hasan dan Husen dan mereka menolak hadits-hadits dari Saidina Abu Bakar, Umar dan Ustman, apalagi hadits-hadits yang dirawikan oleh Sahabat-sahabat Nabi dari suku Bani Umayyah, semuanya tak diterima.
Sebagian kaum Syi'ah ada yang mempercayai bahwa ruh Imam-imam itu turun temurun, dari Imam Ali turun ke bawah, turun lagi kebawah sampai kepada Imam yang ke 12, sehingga ruh itu menjadi suci.
Di dalam Islam tidak diakui paham "Ruh turun temurun". Setiap orang mempunyai ruh tersendiri yang akan bertanggung jawab kepada Tuhan bersama jasadnya tentang apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.
Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.
Bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, khalifah (yang dalam golongan Syi’ah dinamai Imam) adalah manusia biasa yang dapat salah dan lupa. Jadi tidak ma’shum sebagaimana pandangan Syi’ah
Lain lagi kaum Syiah aliran Abdullah bin Saba (Yahudi dari Yaman) yang meyakini Saidina Ali sebagai putera Mahkota dari Nabi Muhammad dan meyakini Ali tidak terbunuh melainkan Ali naik ke langit. Suara guruh dan petir adalah suara Saidina Ali yang marah melihat tindak tanduk Mu'awiyah, kata Abdullah bin Saba.
Salah satu pokok bagi i'tiqad kaum Syiah adalah at-taqiyah yaitu menyembunyikan paham yang sebenarnya dan melahirkan yang lain daripada yang ada dalam hati. Paham at-taqiyah ini sama dengan "membohong". Bagi kaum Syiah kalau kita takut boleh melahirkan bohong, boleh melahirkan apa yang tidak ada dalam hati. Hal ini betentangan dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah dan tetap beranggapan termasuk golongan orang munafik.
Begitu juga ada perbedaan dengan I'tiqad kaum dengan pemahaman dari Muhammad bin Abdul Wahab atau dikenal dengan nama kaum Wahabi atau kaum Salaf(i).
I'tiqad Muhammad bin Abdul Wahab sepemahaman dengan I'tiqad Ibnu Taimiyah bahkan sebagian orang mengatakan lebih lebih fanatik dan lebih radikal dari Ibnu Taimiyah.
Bagi saya pemahaman Wahabi cenderung menuju sekuler lebih mengutamakan urusan individu terhadap Tuhan dan "menyerahkan" urusan negara bagi penguasa. Sehingga mereka berpegang teguh untuk taat terhadap penguasa walaupun zhalim asalkan masih sholat dan penguasa tidak memerintahkan berbuat maksiat. Kecenderungan ini terjadi karena sikap pragmatis dari Muhammad bin Abdul Wahab..
Berdasarkan sejarah, gerakan da’wah wahabi pada awalnya ditolak dibeberapa tempat. Pahamnya tidak diterima di Basrah juga tidak diterima di “Ainiyah, sehingga ia diusir dari kedua tempat itu oleh penguasa. Guru-gurunya semua termasuk bapak dan kakaknya adalah ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini dapat dibaca dalam, buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi al Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi), karangan kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahab.
Tersebut dalam sejarah, bahwa suatu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan ini.
Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab: “lima”.
Sulaiman: Tetapi kamu menjadikan enam!
Muhammad: Apa, ?
Sulaiman: Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
Muhammad : Terdiam dan marah.
Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” yang tersebut di atas tadi.
Dari buku ini kita dapat melihat fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab yang ganjil-ganjil.
Pemahaman Abdullah bin Abdul Wahab sangat berbeda dengan pemahaman jumhur ulama (ulama pada umumnya) namun akhirnya dapat diterima di Dur’iyah.
Raja Dur’iyah bernama Muhammad bin Sa’ud menolong Muhammad bin Abdul Wahab dalam penyiaran paham-pahamnya.
Maka bersatulah dua orang “Muhammad”, yang berlain kepentingan, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa’ud.
Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi (yang sesuai) untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.
Maka bersatulah antara paham agama dengan raja, sebagai bersatunya paham Syi’ah di Iran dengan Syah Iran dan bersatunya paham Syi’ah Imamiyah di Yaman dengan “Imam” yang menguasai Yaman (sebelum Republik).
Keturunan Muhammad bin Sa'ud yang akhirnya “menguasai” daerah Hijaz dan sekitarnya sehingga terbentuk Kerajaan Saudi Arabia.
Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik suka cita melihat pemahaman “nation state” (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme dapat diterima dan diwujudkan oleh kaum muslim di jazirah arab.
Padahal sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M.
Hadits yang diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan/hukum dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).
Contoh ikatan shalat yang terlepas adalah kaum Ahmadiyah tidak mau sholat berjamaah dengan kaum non Ahmadiyah. Ini sebagai contoh memang mereka berbeda dengan kaum Ahlus sunnah wal jama’ah.
Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ketika perang dunia dan penyerangan/ peperangan ke negeri/ wilayah muslim melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Oleh karenanya banyak tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah banyak tersimpan dengan baik di negeri-negeri yang dikuasai orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Merekapun turut membantu menyebarluaskan / penerbitan ulang karya-karya Ibnu Taimiyah yang ulama sejaman dengannya banyak berbeda pendapat dengan harapan terjadi konflik sesama muslim. Mereka turut menyebar luaskan dengan dalih pembaharuan. Sedangkan di luar jazirah Arab mereka menakut-nakuti dan menganjurkan kaum muslim untuk waspada terhadap paham Wahabi. Mereka sejatinya memecah belah umat muslim, “devide et impera” (farriq tasud).
Berpegang teguhlah pada peringatan yang di firmankan Allah yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Sedangkan kaum Wahabi "mengundang" orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik untuk mendirikan pangkalan militer . Sehingga kaum Wahabi akan tetap menjaga dan melindungi mereka dengan dalil terikat perjanjian (al-mu’âhad).
Kaum Wahabi meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi yang membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik makin bertambah sehingga mereka sanggup membiayai persenjataan untuk mengganggu kehidupan dan membunuh saudara-saudara muslim kita dipelbagai negeri muslim.
Hal serupa terjadi pula di negeri kami Indonesia, dimana pemerintah selalu meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi, hasil alam, hasil tambang lainnya yang merupakan karunia Allah, sehingga membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang Musyrik bertambah banyak. Sehingga bertolak belakang dengan slogan "mendukung" saudara-saudara muslim yang sedang terjajah di negeri lain. Hal ini membuat pemimpin / penguasa menjurus kepada golongan orang munafik. Naudzubillah min zalik. Semoga Allah memberikan kekuataan kepada para pemimpin / penguasa untuk dapat mentaatiMu dan Rasulullah serta berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.
Perbedaan pemahaman antara Wahabi dan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah ini yang dapat kita lihat dalam hal "pembiaran" masalah Palestina. Walaupun Kerajaan Arab Saudi dan negara lain-lain yang tergabung dalam OKI sebenarnya mempunyai "kekuasaan" untuk menegakkan kebenaran terhadap masalah Palestina tidak lagi selemah-lemahnya bantuan hanya dengan doa semata.
Bagi kaum Wahabi, saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina (seperti HAMAS) adalah mereka yang tidak mengikut ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan mereka juga termasuk Ahlul Bidaah. Oleh karenanya fatwa-fatwa mufti Wahabi menyerukan (bahkan cenderung memastikan) bahwa saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina untuk bertobat.
Bagi kaum Wahabi, faktor penyebab berkuasanya kaum kuffar terhadap kaum muslimin adalah semata-mata kelemahan dan pertikaian pada kaum muslimin itu sendiri, mendurhakai perintah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan hasrat mereka terhadap dunia yang lebih didahulukan.
Bahkan sebagian kaum Wahabi menuduh mereka berperang dgn Yahudi hanya karena tanah (hasrat terhadap dunia) bukan agama.
Sesungguhnya yang membuat Wahabi menjaga jarak dengan kaum Ahlu sunnah wal jamaah adalah salah satunya karena perbedaan pemahaman tentang bid’ah.
Nabi Muhammad Saw bersabda yang artinya
Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)
Arti kata-kata “dalam urusan kami” ialah urusan keagamaan, karena Nabi Muhammad Saw, diutus Allah untuk menyampaikan agama. Maka dari hadist ini dapat diambil pengertian bahwa kalau dalam urusan kedunian atau ghairu mahdah boleh saja diadakan asal tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.
Hal lain perbedaan kaum Wahabi dengan kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah keenganan mereka untuk berkelompok / berjama’ah / jama’ah minal muslimin karena kekhawatirkan akan terjadinya fanatik tahazzub (bergolong-golongan), hizbiyyah yang memecah belah kaum muslim. Padahal Allah mewajibkan kita berjamaah sesuai firmanNya yang artinya,
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).
Agak aneh kita temui dalam terjemahan Al-Qur’an akhi-akhir ini kalimat “secara berjama’ah” tidak dicantumkan.
Turunnya ayat ini, suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing, saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar peristiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?. Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpelukkan.
Sesungguhnya keenganan berjamaah adalah mendukung paham orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik, akan bersandar pada kekuatan individu. Sebagaimana mereka mensosialisakan demokrasi pemilihan langsung oleh rakyat/individu padahal kita lebih baik secara perwakilan (ahlul halli wal ‘aqdi) atau bersandar pada jama'ah yang berkompeten, berilmu dan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.
Dirikanlah jama’ah minal muslimin dengan semangat Ukhuwah Islamiyah dan dalam harapan terwujudnya jama’atul muslimin disaat Allah menghendakinya nanti.
Sekali lagi, mari kita tegakkan Ukhuwah Islamiyah tanpa memandang bangsa, suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah. Kita bersatu dalam kesatuan akidah Islam dan bersaudara sesama muslim.
Berikut pegangan kita untuk saling mengasihi dan bersaudara karena Allah,
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs. Al-Hujjarat :10)
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs Al-Hujurat : 13)
Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian! (HR. Muslim).
”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat mereka yang bukan para Nabi maupun para Syuhada, namun para Nabi dan para Syuhada cemburu dengan mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka? “ Beliau bersabda: ”Mereka adalah kaum yang saling mencinta dengan ruh Allah, mereka tidak diikat oleh hubungan keluarga di antara mereka maupun harta yang mereka kejar. Maka, demi Allah, sungguh wajah mereka bercahaya, dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Dan mereka tidak bersedih saat manusia bersedih.” Lalu beliau membacakan ayat: ”Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak merasa takut dan tidak bersedih hati.” (HR Abu Dawud 3060)
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
Sesunguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku”
Jalinan persaudaraan yang ada antara kaum muslimin adalah jalinan yang lahir akibat adanya persamaan yang mendasar antara kita, yaitu persamaan akidah tauhid yang terwujud melalui dua kalimat syahadat, dengan demikian seluruh yang mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi bersaudara.
Ukhuwah Islamiyah memiliki peranan yang penting bagi kehidupan muslim. Sehingga syareat Islam menggariskan beberapa aturan agar hubungan sesama kaum muslimin selalu Bagai tanaman yang harus dipupuk dan disiram, begitu pula ukhuwah Islamiyah haruslah dijaga dan dikokohkan.
Sekali lagi, marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah apapun suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah.
Klo kita bersatu maka akan ada kekecewaan dikalangan orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar bagi orang-orang mukmin.
Orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar adalah yang sesuai dengan firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Jadi sekali lagi harus diingat bahwa yang mempunyai rasa permusuhan yang besar terhadap orang mukmin bukanlah sesama muslim.
Juga marilah kita "periksa" pemahaman / i'tiqad / manhaj / metode masing-masing agar kita mendapatkan kebahagian akhirat kelak.
Jika sepanjang hidup dengan paham / i'tiqad / manhaj yang dipilih ternyata hanya disibukkan dengan "pembenaran", "mencari-cari" dalil semata sehingga tidak menegakkan/mendapatkan kebenaran sejati. Sebagaimana Saidina Ali mengingatkan, “kalimatu haqin urida bihil batil” yang artinya perkataan/dalil yang benar dengan tujuan yang salah atau perkataan/dalil yang benar untuk maksud / tujuan yang "lain".
Sekali lagi marilah kita berjalan diatas "kebenaran" dengan merujuk pada Al-Qur 'an dan Hadits dan hindarilah berjalan diatas "pembenaran" dengan Al-qur'an dan Hadits karena akan membuat anda lelah dan merugi.
Wassalam
Catatan :
Pemahaman penulis, Wahabi berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah walaupun mereka mengakui sebagai/termasuk Ahlussunnah Wal Jama'ah atau mereka mengakui sebagai Ahlussunnah saja.
Tulisan terkait bacalah bahaya laten
Link terkait yang perlu kajian lebih lanjut dan otentifikasi (periksa kebenarannya).
Dinasti SAUD Satu Trah Dengan Yahudi ?
Bangsa Yahudi dan Palestina yang Sebenarnya
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).
Namun saat ini kita temui bahwa kita belum lagi bersatu dan menegakkan Ukhuwah Islamiyah karena terjadinya perbedaan pemahaman/i’tiqad/akidah.
Diantara yang berbeda dengan kaum Ahlussunah wal Jama’ah adalah antara lain yang jumlahnya cukup banyak, kaum Syiah dan kaum Salaf(i) / Wahabi.
I'tiqad/akidah kaum Syiah terlampau banyak perbedaannya dengan Ahlusunnah Wal Jama'ah diantaranya, kaum Syiah hanya mengakui hadits-hadits yang diriwayatkan Saidina 'Ali, Saidinan Hasan dan Husen dan mereka menolak hadits-hadits dari Saidina Abu Bakar, Umar dan Ustman, apalagi hadits-hadits yang dirawikan oleh Sahabat-sahabat Nabi dari suku Bani Umayyah, semuanya tak diterima.
Sebagian kaum Syi'ah ada yang mempercayai bahwa ruh Imam-imam itu turun temurun, dari Imam Ali turun ke bawah, turun lagi kebawah sampai kepada Imam yang ke 12, sehingga ruh itu menjadi suci.
Di dalam Islam tidak diakui paham "Ruh turun temurun". Setiap orang mempunyai ruh tersendiri yang akan bertanggung jawab kepada Tuhan bersama jasadnya tentang apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.
Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.
Bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, khalifah (yang dalam golongan Syi’ah dinamai Imam) adalah manusia biasa yang dapat salah dan lupa. Jadi tidak ma’shum sebagaimana pandangan Syi’ah
Lain lagi kaum Syiah aliran Abdullah bin Saba (Yahudi dari Yaman) yang meyakini Saidina Ali sebagai putera Mahkota dari Nabi Muhammad dan meyakini Ali tidak terbunuh melainkan Ali naik ke langit. Suara guruh dan petir adalah suara Saidina Ali yang marah melihat tindak tanduk Mu'awiyah, kata Abdullah bin Saba.
Salah satu pokok bagi i'tiqad kaum Syiah adalah at-taqiyah yaitu menyembunyikan paham yang sebenarnya dan melahirkan yang lain daripada yang ada dalam hati. Paham at-taqiyah ini sama dengan "membohong". Bagi kaum Syiah kalau kita takut boleh melahirkan bohong, boleh melahirkan apa yang tidak ada dalam hati. Hal ini betentangan dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah dan tetap beranggapan termasuk golongan orang munafik.
Begitu juga ada perbedaan dengan I'tiqad kaum dengan pemahaman dari Muhammad bin Abdul Wahab atau dikenal dengan nama kaum Wahabi atau kaum Salaf(i).
I'tiqad Muhammad bin Abdul Wahab sepemahaman dengan I'tiqad Ibnu Taimiyah bahkan sebagian orang mengatakan lebih lebih fanatik dan lebih radikal dari Ibnu Taimiyah.
Bagi saya pemahaman Wahabi cenderung menuju sekuler lebih mengutamakan urusan individu terhadap Tuhan dan "menyerahkan" urusan negara bagi penguasa. Sehingga mereka berpegang teguh untuk taat terhadap penguasa walaupun zhalim asalkan masih sholat dan penguasa tidak memerintahkan berbuat maksiat. Kecenderungan ini terjadi karena sikap pragmatis dari Muhammad bin Abdul Wahab..
Berdasarkan sejarah, gerakan da’wah wahabi pada awalnya ditolak dibeberapa tempat. Pahamnya tidak diterima di Basrah juga tidak diterima di “Ainiyah, sehingga ia diusir dari kedua tempat itu oleh penguasa. Guru-gurunya semua termasuk bapak dan kakaknya adalah ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini dapat dibaca dalam, buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi al Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi), karangan kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahab.
Tersebut dalam sejarah, bahwa suatu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan ini.
Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab: “lima”.
Sulaiman: Tetapi kamu menjadikan enam!
Muhammad: Apa, ?
Sulaiman: Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
Muhammad : Terdiam dan marah.
Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” yang tersebut di atas tadi.
Dari buku ini kita dapat melihat fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab yang ganjil-ganjil.
Pemahaman Abdullah bin Abdul Wahab sangat berbeda dengan pemahaman jumhur ulama (ulama pada umumnya) namun akhirnya dapat diterima di Dur’iyah.
Raja Dur’iyah bernama Muhammad bin Sa’ud menolong Muhammad bin Abdul Wahab dalam penyiaran paham-pahamnya.
Maka bersatulah dua orang “Muhammad”, yang berlain kepentingan, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa’ud.
Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi (yang sesuai) untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.
Maka bersatulah antara paham agama dengan raja, sebagai bersatunya paham Syi’ah di Iran dengan Syah Iran dan bersatunya paham Syi’ah Imamiyah di Yaman dengan “Imam” yang menguasai Yaman (sebelum Republik).
Keturunan Muhammad bin Sa'ud yang akhirnya “menguasai” daerah Hijaz dan sekitarnya sehingga terbentuk Kerajaan Saudi Arabia.
Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik suka cita melihat pemahaman “nation state” (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme dapat diterima dan diwujudkan oleh kaum muslim di jazirah arab.
Padahal sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M.
Hadits yang diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan/hukum dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).
Contoh ikatan shalat yang terlepas adalah kaum Ahmadiyah tidak mau sholat berjamaah dengan kaum non Ahmadiyah. Ini sebagai contoh memang mereka berbeda dengan kaum Ahlus sunnah wal jama’ah.
Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ketika perang dunia dan penyerangan/ peperangan ke negeri/ wilayah muslim melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Oleh karenanya banyak tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah banyak tersimpan dengan baik di negeri-negeri yang dikuasai orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Merekapun turut membantu menyebarluaskan / penerbitan ulang karya-karya Ibnu Taimiyah yang ulama sejaman dengannya banyak berbeda pendapat dengan harapan terjadi konflik sesama muslim. Mereka turut menyebar luaskan dengan dalih pembaharuan. Sedangkan di luar jazirah Arab mereka menakut-nakuti dan menganjurkan kaum muslim untuk waspada terhadap paham Wahabi. Mereka sejatinya memecah belah umat muslim, “devide et impera” (farriq tasud).
Berpegang teguhlah pada peringatan yang di firmankan Allah yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Sedangkan kaum Wahabi "mengundang" orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik untuk mendirikan pangkalan militer . Sehingga kaum Wahabi akan tetap menjaga dan melindungi mereka dengan dalil terikat perjanjian (al-mu’âhad).
Kaum Wahabi meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi yang membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik makin bertambah sehingga mereka sanggup membiayai persenjataan untuk mengganggu kehidupan dan membunuh saudara-saudara muslim kita dipelbagai negeri muslim.
Hal serupa terjadi pula di negeri kami Indonesia, dimana pemerintah selalu meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi, hasil alam, hasil tambang lainnya yang merupakan karunia Allah, sehingga membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang Musyrik bertambah banyak. Sehingga bertolak belakang dengan slogan "mendukung" saudara-saudara muslim yang sedang terjajah di negeri lain. Hal ini membuat pemimpin / penguasa menjurus kepada golongan orang munafik. Naudzubillah min zalik. Semoga Allah memberikan kekuataan kepada para pemimpin / penguasa untuk dapat mentaatiMu dan Rasulullah serta berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.
Perbedaan pemahaman antara Wahabi dan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah ini yang dapat kita lihat dalam hal "pembiaran" masalah Palestina. Walaupun Kerajaan Arab Saudi dan negara lain-lain yang tergabung dalam OKI sebenarnya mempunyai "kekuasaan" untuk menegakkan kebenaran terhadap masalah Palestina tidak lagi selemah-lemahnya bantuan hanya dengan doa semata.
Bagi kaum Wahabi, saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina (seperti HAMAS) adalah mereka yang tidak mengikut ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan mereka juga termasuk Ahlul Bidaah. Oleh karenanya fatwa-fatwa mufti Wahabi menyerukan (bahkan cenderung memastikan) bahwa saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina untuk bertobat.
Bagi kaum Wahabi, faktor penyebab berkuasanya kaum kuffar terhadap kaum muslimin adalah semata-mata kelemahan dan pertikaian pada kaum muslimin itu sendiri, mendurhakai perintah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan hasrat mereka terhadap dunia yang lebih didahulukan.
Bahkan sebagian kaum Wahabi menuduh mereka berperang dgn Yahudi hanya karena tanah (hasrat terhadap dunia) bukan agama.
Sesungguhnya yang membuat Wahabi menjaga jarak dengan kaum Ahlu sunnah wal jamaah adalah salah satunya karena perbedaan pemahaman tentang bid’ah.
Nabi Muhammad Saw bersabda yang artinya
Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)
Arti kata-kata “dalam urusan kami” ialah urusan keagamaan, karena Nabi Muhammad Saw, diutus Allah untuk menyampaikan agama. Maka dari hadist ini dapat diambil pengertian bahwa kalau dalam urusan kedunian atau ghairu mahdah boleh saja diadakan asal tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.
Hal lain perbedaan kaum Wahabi dengan kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah keenganan mereka untuk berkelompok / berjama’ah / jama’ah minal muslimin karena kekhawatirkan akan terjadinya fanatik tahazzub (bergolong-golongan), hizbiyyah yang memecah belah kaum muslim. Padahal Allah mewajibkan kita berjamaah sesuai firmanNya yang artinya,
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).
Agak aneh kita temui dalam terjemahan Al-Qur’an akhi-akhir ini kalimat “secara berjama’ah” tidak dicantumkan.
Turunnya ayat ini, suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing, saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar peristiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?. Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpelukkan.
Sesungguhnya keenganan berjamaah adalah mendukung paham orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik, akan bersandar pada kekuatan individu. Sebagaimana mereka mensosialisakan demokrasi pemilihan langsung oleh rakyat/individu padahal kita lebih baik secara perwakilan (ahlul halli wal ‘aqdi) atau bersandar pada jama'ah yang berkompeten, berilmu dan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.
Dirikanlah jama’ah minal muslimin dengan semangat Ukhuwah Islamiyah dan dalam harapan terwujudnya jama’atul muslimin disaat Allah menghendakinya nanti.
Sekali lagi, mari kita tegakkan Ukhuwah Islamiyah tanpa memandang bangsa, suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah. Kita bersatu dalam kesatuan akidah Islam dan bersaudara sesama muslim.
Berikut pegangan kita untuk saling mengasihi dan bersaudara karena Allah,
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs. Al-Hujjarat :10)
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs Al-Hujurat : 13)
Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian! (HR. Muslim).
”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat mereka yang bukan para Nabi maupun para Syuhada, namun para Nabi dan para Syuhada cemburu dengan mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka? “ Beliau bersabda: ”Mereka adalah kaum yang saling mencinta dengan ruh Allah, mereka tidak diikat oleh hubungan keluarga di antara mereka maupun harta yang mereka kejar. Maka, demi Allah, sungguh wajah mereka bercahaya, dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Dan mereka tidak bersedih saat manusia bersedih.” Lalu beliau membacakan ayat: ”Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak merasa takut dan tidak bersedih hati.” (HR Abu Dawud 3060)
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
Sesunguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku”
Jalinan persaudaraan yang ada antara kaum muslimin adalah jalinan yang lahir akibat adanya persamaan yang mendasar antara kita, yaitu persamaan akidah tauhid yang terwujud melalui dua kalimat syahadat, dengan demikian seluruh yang mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi bersaudara.
Ukhuwah Islamiyah memiliki peranan yang penting bagi kehidupan muslim. Sehingga syareat Islam menggariskan beberapa aturan agar hubungan sesama kaum muslimin selalu Bagai tanaman yang harus dipupuk dan disiram, begitu pula ukhuwah Islamiyah haruslah dijaga dan dikokohkan.
Sekali lagi, marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah apapun suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah.
Klo kita bersatu maka akan ada kekecewaan dikalangan orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar bagi orang-orang mukmin.
Orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar adalah yang sesuai dengan firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Jadi sekali lagi harus diingat bahwa yang mempunyai rasa permusuhan yang besar terhadap orang mukmin bukanlah sesama muslim.
Juga marilah kita "periksa" pemahaman / i'tiqad / manhaj / metode masing-masing agar kita mendapatkan kebahagian akhirat kelak.
Jika sepanjang hidup dengan paham / i'tiqad / manhaj yang dipilih ternyata hanya disibukkan dengan "pembenaran", "mencari-cari" dalil semata sehingga tidak menegakkan/mendapatkan kebenaran sejati. Sebagaimana Saidina Ali mengingatkan, “kalimatu haqin urida bihil batil” yang artinya perkataan/dalil yang benar dengan tujuan yang salah atau perkataan/dalil yang benar untuk maksud / tujuan yang "lain".
Sekali lagi marilah kita berjalan diatas "kebenaran" dengan merujuk pada Al-Qur 'an dan Hadits dan hindarilah berjalan diatas "pembenaran" dengan Al-qur'an dan Hadits karena akan membuat anda lelah dan merugi.
Wassalam
Catatan :
Pemahaman penulis, Wahabi berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah walaupun mereka mengakui sebagai/termasuk Ahlussunnah Wal Jama'ah atau mereka mengakui sebagai Ahlussunnah saja.
Tulisan terkait bacalah bahaya laten
Link terkait yang perlu kajian lebih lanjut dan otentifikasi (periksa kebenarannya).
Dinasti SAUD Satu Trah Dengan Yahudi ?
Bangsa Yahudi dan Palestina yang Sebenarnya
Langganan:
Postingan (Atom)