Tampilkan postingan dengan label beriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beriman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Oktober 2010

Orang Orang Beriman

Firman Allah ta’ala yang artinya

Katakanlah:"Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". (QS Al Maa'idah [5]:68 )

“Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)

Siapakah yang termasuk orang-orang yang beriman ?

Marilah kita pahami petunjuk dari Allah ta’ala dalam Al-Qur’an yang diperuntukan bagi seluruh manusia.

“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS Ali Imran [3]: 138 )

“Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini” ( QS Jaatsiyah [45]:20 )

( QS Al Mu'minun [23]:1-11 )
[23:1] Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
[23:2] (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya
[23:3] dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
[23:4] dan orang-orang yang menunaikan zakat
[23:5] dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
[23:6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
[23:7] Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
[23:8] Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
[23:9] dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya
[23:10] Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
[23:11] (ya'ni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya

“…dia (malaikat Jibril) langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “,Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”

Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya......” (HR Muslim)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Kesimpulannya bahwa orang-orang yang beriman adalah mereka yang memahami dan menjalankan rukun Islam dan rukun Iman dengan minimal melaksanakan seluruh kewajiban (hukum/perkara wajib) dan menjauhi seluruh larangan dan pengharaman (hukum/perkara haram).

Setelah melaksanakan perihal yang minimal tersebut, seorang mukmin dengan kesadaran sendiri dapat melakukan amal kebaikan (amal sholeh) untuk mencapai muslim yang terbaik, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan (muhsinin). Amal kebaikan (amal sholeh) dilaksanakan untuk memperoleh keridhoan Allah ta’ala  atau kecintaan Allah ta’ala kepada hambaNya.

Tahapannya Muslim (Muslimin) -->  Mukmin (Mukminin) --> Muhsin (Muhsinin)

( QS Lukman [31]:3-5 )

[31:3] menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)
[31:4] (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
[31:5] Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Hal ini berlaku terhadap seluruh manusia termasuk orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.

Seluruh umat manusia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah ta’ala maka wajib bagi seluruh manusia mengakui kenabiannya, karena sesungguhnya berita kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wassalam telah disampaikan pada kitab-kitab Allah sebelumnya.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".  ( QS Ali Imran [3]:81 )

“Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS Ali Imran [3]: 82 )

Barangsiapa yang berpaling sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam diutus dengan kitab Al-Qur’an yang membenarkan kitab-kitab Allah sebelumnya maka mereka termasuk orang-orang yang fasik,  orang yang berpaling atau  tidak mengindahkan perintah Allah ta’ala.  Akhir bagi mereka adalah neraka jahanamlah sebagaimana firmanNya yang artinya:
“Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya." ( QS  As Sajadah [32]:20 )

Buya Hamka menulis dalam Tafsir al-Azhar: ”Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.” (Ibid, hal. 213).

Justru disinilah persoalan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka menolak kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran. Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Muslim:

Berkata Rasulullah s.a.w.: " Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Lalu, selanjutnya, Hamka menjelaskan makna hadits Rasul saw tersebut: ”Dengan hadits ini jelaslah bahwa kedatangan nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup sekalian Nabi (Khatimil Anbiyaa) membawa Al-Quran sebagai penutup sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajaran Allah digenap dan disempurnakan. Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai.

Maka, orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.”

Tafsir Ibnu Katsir tentang orang-orang yang dimurkai dan mereka yang sesat.

“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”, yakni bukan jalan orang-orang yang dimurkai. Mereka adalah orang yang rusak kehendaknya; mereka mengetahui kebenaran, namun berpindah darinya. Dan “bukan jalannya orang-orang yang sesat”, yaitu mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan menggandrungi kesesatan. Mereka tidak mendapat petunjuk kepada kebenaran. Hal ini dikuatkan dengan laa guna menunjukkan bahwa di sana ada dua jalan yang rusak: jalan kaum Yahudi dan jalan kaum Nasrani.

Sesungguhnya jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan akan kebenaran dan pengalamannya, dan kaum Yahudi tidak memiliki amal, sedang kaum Nasrani tidak memiliki pengetahuan.

Oleh karena itu, kemurkaan bagi kaum Yahudi dan kesesatan bagi kaum Nasrani.

Karena orang yang mengetahui, tetapi tidak beramal, maka ia berhak mendapat kemurkaan, dan ini berbeda dengan orang yang tidak tahu. Kaum Nasrani menuju pada suatu perkara, yaitu mengikuti kebenaran, namun mereka tidak benar dalam melakukakannya sebab tidak sesuai dengan ketentuannya sehingga mereka pun sesat.

Demikian pula hadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai", beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, "Kaum Nasrani."

Baik Yahudi maupun Nasrani adalah sesat dan dimurkai.

Sifat Yahudi yang paling spesifik ialah kemurkaan, sebagaimana Allah berfirman ihwal mereka, “yaitu orang yang dikutuki dan dimurkai Allah.” (al-Ma’idah: 60)

Sifat Nasrani yang sangat spesifik ialah kesesatan, sebagaimana Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Ma’idah: 77)

Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’

Jadi dapat kita pahami kekeliruan muslim yang membenarkan atau mengikuti paham pluralisme agama karena secara tidak disadari mereka membenarkan orang-orang yang menolak seorang Nabi Allah, mereka membenarkan orang-orang yang dimurkai Allah ta’ala dan mereka membenarkan orang-orang yang telah sesat.  Kita wajib tidak membenarkan apa yang mereka pahami namun kita tidak boleh membenci mereka dan pergauli dengan cara yang baik (toleransi). Selengkapnya baca tulisan pada:

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/04/23/2009/10/03/etik-dengan-non-muslim/

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri". (QS  Al Ankabut [29]:46 )

"Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah : "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita) ". (QS Asy Syuura [42]:15 )

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” ( QS. Al-Mumtahanah [60]:8 )

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maa-idah [5]:8 )

Oleh karenanya jadilah termasuk orang-orang yang beriman dan berpegang teguh kepada agama Islam, maka Allah ta’ala akan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan memasukkan kedalam surga.

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS  An Nisaa’ [4]:175 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Rabu, 08 September 2010

Ibadah Ketaatan dan Kebaikan

Bagi seorang muslim yang telah mengaku sebagai hamba Allah, muslim yang telah bersyahadat maka seluruh perbuatan di alam dunia adalah ibadah yang wajib ditujukan kepada Allah swt.

Perbuatan = Ibadah

Perbuatan = Perilaku, Akhlak, Hati, Pikiran

Perbuatan = Aktivitias lahiriah (jasmani) atau Aktivitas bathiniah (ruhani)

Hakekat manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah yang artinya,

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS adz Dzariyat [51]:56 )

Oleh karenanya segala bentuk perilaku / perbuatan, akhlak, hati, pikiran, semuanya, seharusnyalah untuk beribadah kepada-Nya.

Ibadah terbagi dalam dua bagian yakni Ibadah Mahdah  (ibadah khusus) dan Ibadah Ghairu Mahdah (ibadah umum).  Pembagian Ibadah Mahdah dan Ibadah Ghairu Mahdah terjadi perbedaan pendapat diantara ulama dan sebagian ulama mendangkalkan makna ibadah ghairu mahdah hanyalah untuk urusan muamalah atau adat atau kebiasaan atau ‘urf atau Hablumminannas, hubungan antar manusia.

Pendangkalan makna ini merupakan kesalahpahaman karena hakikatnya Ibadah Ghairu Mahdah ditujukan kepada Allah swt ,  ibadah mengikuti anjuran, seperti contoh akan sedikit kita bahas tentang  ibadah bekerja atau mencari rezeki.

Mencari rezeki adalah sebagaimana anjuran Rasulullah saw sehingga mengerjakan perbuatan/ibadah yang semula hukumnya mubah(boleh) maka karena perbuatan ini dilakukan dengan mengingat Allah swt dan merupakan anjuran maka akan mendapatkan pahala bagi yang melakukannya.

Rasulullah SAW bersabda, “karena itu, bertakwalah kepada Allah, dan mintalah (atau carilah) rezeki dengan cara yang baik.”

Hakikatnya segala kebutuhan orang-orang beriman telah dicukupi oleh Allah swt sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya”  (QS Al Thalaq : 3)

Rasulullah SAW, membolehkan kita berusaha mencari rezeki. Seandainya usaha atau bekerja bertentangan dengan tawakal, tentu Rasulullah akan melarangnya.

Rasulullah SAW tidak mengatakan, “Jangan mencari rezeki,” namun, “Carilah rezeki dengan cara yang baik.”

Nabi Muhammad SAW membolehkan kita mencari rezeki, karena itu merupakan bagian dari usaha.

Nabi Muhammad SAW bersabda “ Makanan yang paling halal dimakan seseorang adalah yang merupakan hasil usahanya sendiri”

Allah swt berfirman yang artinya,

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumu'ah [62]:10 )

Intinya ibadah/perbuatan mencari rezeki / bekerja adalah mengharapkan karunia Allah swt dan dilakukan dengan selalu mengingat Allah swt.

Ibadah mahdah adalah ibadah ketaatan yang merupakan ibadah yang disyaratkan bagi orang beriman (mukmin), baik mereka tidak menginginkan atau membutuhkan untuk melaksanakannya namun sebuah keharusan atau ibadah wajib.

Ibadah ghairu mahdah adalah ibadah kebaikan yang merupakan ibadah yang dilakukan bagi muslim yang ingin mencapai tingkatan ihsan, muhsinin atau muslim yang sholeh (ibaadillaahish shoolihiin), mereka melaksanakan perbuatan/ibadah atas kesadaran, keinginan dan kebutuhan sendiri atau ibadah sukarela.

Jadi perbedaan batasan ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah terletak kepada ibadah ketaatan (ibadah wajib) dan ibadah kebaikan (ibadah sukarela).

Ibadah mahdah adalah ibadah yang sudah ada rukun, aturan dan contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita ikuti seperti sholat, puasa, zakat, haji, umroh dll

Ibadah mahdah adalah ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan disampaikan oleh Rasulullah saw, dengan rinci dan sejelas-jelasnya dan Allah swt tidak lupa !

“Dan Allah telah memerinci kepadamu sesuatu yang Ia telah haramkan atas kamu.” (QS al-An’am: 119)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS an-Nahl [16]:116 )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun (dari perkataan atau perbuatan) yang (bisa) mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan (semuanya) telah dijelaskan bagimu (dalam agama Islam ini)” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
Perkataan atau perbuatan yang mendekatkan kamu dari surga = kewajiban, menjauhkanmu dari neraka = larangan.

Jadi seluruh kewajiban, larangan, pengharaman sudah ditetapkan dan dijelaskan sejelas-jelasnya, Allah tidak lupa!, selebihnya Allah ta’ala diamkan atau bolehkan (mubah) sebagai tanda kasihNya kepada hambaNya.

Sehingga bid’ah dalam hal ibadah mahdah  adalah bid’ah dholalah , yang tertolak.  Ibadah mahdah inilah yang dalam hadits disebutkan sebagai “urusan kami” atau “dalam agama” atau “dalam Islam”

“Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak” (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan: “Barangsiapa yang berbuat satu kebid’ahan di dalam Islam dan dia menganggapnya baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati risalah. Karena Allah azza wajalla telah menyatakan: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian. Dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al- Maidah: 3)

Ibadah ghairu mahdah adalah ibadah yang beberapa dicontohkan oleh Rasulullah saw dan dianjurkan untuk mengikuti , namun sebagian lagi diserahkan kepada manusia sesuai keinginan, kebutuhan, teknologi atau zaman asalkan tidak ada larangan dalam Al-Qur’an dan hadits, seperti bersedekah, berdoa, berdzikir, bersholawat, bekerja, makan, minum, jima’, menggunakan safety belt, menggunakan helm, menggunakan rem kendaraan dll

Ibadah ghairu mahdah adalah ibadah yang boleh (mubah) dilakukan oleh muslim dan karena ibadah tersebut dilakukan untuk memenuhi anjuran maka mereka yang melaksanakan dengan mengingat Allah swt,  akan mendapatkan pahala / kebaikan.

Bid’ah dalam ibadah ghairu mahdah adalah yang dimaksud bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda:

Maknanya: “Barangsiapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun”. (H.R. Muslim dalam Shahih-nya)

Pendapat Imam Syafi’i –semoga Allah meridlainya-

“Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)

Sebagai contoh anjuran untuk bersholawat bagi Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)

Nabi Muhammad SAW bersabda " Siapa yang bersholawat kepadaku sekali, maka Allah SWT akan bersholawat kepadanya sepuluh kali" (hadits riwayat Muslim)

Imam Ahmad, Imam al-Hakim dan Imam al Baihaqi, meriwayatkan dari Sayyidina Umat bin Khatab R.A. yang berkata " Ya Rasulullah, apakah baik jika sepertiga dari doa-doaku berisi sholawat atasmu", Rasulullah menjawab " jika engkau tambah itu lebih baik" Umar berkata "aku jadikan dua pertiga ", beliau menjawab "jika engkau tambah itu lebih baik", Umat berkata "demi bapakku, engkau dan ibuku ya Rasulullah, aku jadikan doa-doaku semuanya berisi sholawat kepadamu". Rasulullah berkata "jika demikian, Allah SWT akan mencukupi urusan dunia dan akhiratmu". (tersebut dalam kitab "bahrul Anwar")

Hadits ini telah menguraiakan bahwa berdoa, berdzikir, bersholawat dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan kita (ibadah kebaikan) asalkan matan/kandungannya tidak ada  menyalahi Al-Quran dan Hadits termasuk tidak menyalahi adab berdoa, berdzikir, bersholawat.

Untuk bersholawat dianjurkan untuk mengikuti yang telah dicontohkan Rasulullah saw seperti sholawat Ibrahimiyah, bacaan sholawat ketika kita sholat, atau paling singkatnya, “Allahumma Sholli 'Ala Muhammad” atau “shallallahu ‘alaihi wasallam” . Namun tidak ada larangan jika kita mengucapkan sholawat menurut keinginan dan kebutuhan kita seperti contohnya sholawat ketika memulai pembicaraan di muka umum, “Sholawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wasallam” atau mengucapkan sholawat badar atau sholawat nariyah dan sholawat lainnya sebagaimana yang dicontohkan oleh para ulama. Namun untuk sholawat badar dan sholawat nariyah sebagian ulama menganggap sebagai bid’ah dholalah dan sesat karena mereka salah memahami tentang tawasul.

Bagi orang awam, tawasul = perantara, makna tawasul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT.

Sebenarnya, tawasul = penghormatan , makna tawasul adalah berdoa kepada Allah SWT dengan diiringi penghormatan kepada orang sholeh yang telah berjasa dalam pengajaran agama Islam dan diterima oleh kita.

Tawasul atau penghormatan itu sesungguhnya serupa ketika orang berbicara di podium yang diawali dengan penghormatan kepada orang-orang yang terkait.

Serupa juga ketika kita membuat tulisan / buku diawali pemanjatan syukur ke hadhirat Allah swt dan sholawat dan salam pada junjungan kita nabi Muhammad.SAW diikuti dengan penghormatan atau pengucapan terima kasih kepada berbagai pihak.

Orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Sungguh seorang muslim akan selalu ingat kalimat syahadat dan firman Allah swt yang artinya, “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (QS Al Fatihah [1]:5 )

Semoga kita dapat memahami perbedaan ibadah mahdah/ibadah khusus/ibadah ketaatan/ibadah wajib dengan ibadah ghairu mahdah/ibadah umum/ibadah kebaikan/ibadah sukarela.

Sebagian ulama berpendapat bahwa dapat digunakan hadits dhaif untuk landasan amal atau ibadah kebaikan namun tidak boleh untuk landasan ibadah mahdah atau syariat/hukum. Oleh karenanya untuk menentukan kewajiban, larangan dan pengharaman wajib berlandaskan  Al-Qur’an dan Hadits, sebagaimana yang telah saya sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/06/pengharaman-ibadah/

Pokok-pokok  ajaran agama islam sebagaimana yang telah diajarkan malaikat Jibril yakni tentang Islam, Iman dan Ihsan. Pokok ajaran yang mengupas untuk menjadi orang-orang beriman adalah tentang Islam (rukun Islam/Fikih) dan tentang Iman (rukun iman/ushuluddin/aqidah) dan pokok ajaran yang mengupas untuk menjadi muslim yang ihsan (muhsinin) adalah tasawuf / akhlakul karimah yakni kesadaran atau perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah swt.

Dalam Al-Qur’an, Allah swt telah menerangkan berulang-ulang bahwa bagi muslim yang menjalani ibadah ketaatan, ibadah mahdah (mukminin) dan ibadah kebaikan, ibadah ghairu mahdah (muhsinin) , maka mereka termasuk orang-orang yang sholeh dan mereka menempati surga di akhirat kelak

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan/amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh” (QS Al ankabut [29]:9 )

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal kebaikan/amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al Baqarah [2]:277 )

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah [2]:25 )

“Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”. (QS Al Baqarah [2]: 82 )



“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”. (QS An Nisaa’ [4]:  57)

"....Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Al Mu'min [40]:40 )

"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun". (QS An Nisaa' [4]:124 )

Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,

Semoga keselamatan  bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh.

Hamba-hamba Allah yang sholeh adalah hamba-hamba Allah yang berakhlakul karimah, hamba-hamba Allah yang selalu dalam keadaan sadar atau berperilaku secara sadar dan mengingat Allah.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830