Tampilkan postingan dengan label Mukmin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mukmin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

Wahabi Syiah Liberal

Dalam sebuah diskusi ada pertanyaan yang diajukan kepada kami

Apa beda antara kaum Wahabi/Salafi, syiah dan Liberal??
manakah yg benar / bisa diikuti??



Jawaban kami adalah

Mengapa harus menjadi kaum Wahabi/Salafi, kaum Syiah atau Kaum Liberal ?

Setiap kaum tersebut mempunyai "ciri khas" sehingga mereka berbeda dengan umat muslim pada umumnya.

Bagi kami jadilah seorang muslim, mukmin dan yang terbaik adalah muhsin (muslim yang ihsan) atau muslim yang sholeh atau ‘ibaadillaahish shoolihiin

Jika kita bisa mencapai muslim yang terbaik atau muhsin atau muslim yang sholeh maka kita akan didoakan / disholawatkan oleh umat muslim sampai akhir zaman.

Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
“Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

Muslim yang sholeh dijamin masuk surga tanpa di hisab.

Berikut uraian singkat kami mengenai ketiga kaum tersebut,

Kaum Liberalisme, Pluralisme, sekularisme, sudah ada fatwanya dari MUI

Kaum Syiah.

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: "Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu".

Kaum Wahabi/Salafi
Kaum yang dicetuskan oleh Syaikh Ibnu Abdul Wahab yang berguru secara tidak langsung dengan Syaikh Ibnu Taimiyah. Berguru tidak langsung artinya mereka tidak pernah bertemu karena zaman kehidupannya berbeda ratusan tahun. Pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah yang menisbatkan kepada pemahaman Salafush Sholeh. Perhatikan menisbatkan bukan berarti apa yang dipahami oleh Syaikh Ibnu Taimiyah adalah serupa apa yang dipahami oleh Salafush Sholeh. Lalu kemudian dalam perjalanannya apa yang dipahami oleh kaum Wahabi pada masa sekarangpun belum tentu serupa dengan yang dimaksud Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau Syaikh Ibnu Taimiyah

Berikut cuplikan tanggapan  Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasan terhadap kaum Wahabi/Salafi masa sekarang.
Banyak kita lihat di dunia Islam para pemuda yang mengaku salafiyah (pengikut jejak para ulama terdahulu).

Sungguh, pengakuan itu sangat mulia apabila pengakuan itu mereka realisasikan.

Beberapa golongan lainnya mengaku ahli hadits (berpegang teguh kepada hadits).

Pengakuan ini pun sangat mulia.

Sebagian yang lain mengatakan tidak perlunya bermadhzab dan hanya berpegang teguh dengan al Qur’an dan as Sunnah saja karena al Qur’an dan as Sunnah adalah pilar-pilar agung berdirinya agama Islam sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam. إِنِّى قَدْ خَلَفْتُ فِيْكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا مَا أَخَذْ تُمْ بِهِمَا أَوْ عَمِلْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ الله وَسُنَّتِى وَلَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَي الْحَوْضِ (رواه البيهقى في السنن

“Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Kalian tidak akan tersesat selagi berpegang teguh atau mengamalkan keduanya, yaitu al Qur’an dan Sunnahku. Keduanya tidak terpisahkan sampai mengantarkan aku ke al-haudl/telaga.”(H.R. al Baihaqy).

Pengakuan ini pada hakikatnya sangat terpuji.

Namun, pengakuan-pengakuan ini hanya pengakuan dari orang-orang yang bukan ahlinya. Pengakuan dari orang-orang yang berfatwa secara individual tanpa ada dasar ataupun sandaran dari para ulama yang terpercaya. Pendapat dan fatwa-fatwa mereka terlontar begitu saja tanpa adanya batasan, keterikatan kaidah-kaidah, bahkan asal-usulnya.

Oleh karena itu, mereka mengingkari dan menyanggah keyakinan orang-orang selain mereka.

Mereka beranggapan, “hanya merekalah yang berada dalam jalan kebenaran dan selain mereka telah terjerumus dalam kesesatan.”

Hal ini adalah salah satu pijakan atas apa-apa yang kita dengar dari mereka dalam mengafirkan, memusyrikkan, dan menuduhkan hukum-hukum dengan memberikan julukan-julukan dan sifat-sifat yang tidak pantas bagi seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah ta’ala dan bahwa Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam adalah utusan Allah ta’ala.

Misalnya, tuduhan mereka dengan mengatakan kepada orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dengan sebutan ”perusak! dajjal! ahli bid’ah! Bahkan, pada akhirnya mereka mengatakan “musyrik, kafir, dan lainnya. Sungguh, sangat sering kita dengar dari orang-orang yang mengaku berakidah, mereka membabi buta mengucapkan kata-kata keji di atas.

Bahkan, sebagian dari mereka menuduh orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dengan berkata,

”Wahai orang yang mengajak kepada kemusyrikan dan kesesatan di zaman ini”.

“Wahai pembaharu agama, Amr bin Luhai!”

Begitulah, sering kita dengar mereka melontarkan hinaan dan ejekan yang tidak sepantasnya terlontar dari mulut seorang pelajar apalagi dari mulut seorang ahli ilmu yang seyogyanya memilih cara-cara terbaik dalam berdakwah dan bersopan santun dalam berdiskusi.

Kemudian setelah itu, mereka mengaku pengikut Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka menjadikan beliau sebagai pintu atas segala perilaku mereka, sandaran hukum bagi pendapat mereka, dan mengajak manusia seraya menakut-nakuti mereka dengan berlindung pada nama besar beliau.

Dalam kesempatan ini akan saya paparkan perkataan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab yang membebaskan dirinya dari orang-orang yang mengaku sebagai pengikutnya. Mereka melakukan segala kehendak mereka dengan berlindung kepada beliau. Mereka membunuh siapa saja yang mereka kehendaki dengan menggunakan tajamnya pedang beliau.

Mereka mengafirkan siapa saja yang mereka kehendaki dengan bersandar pada fatwa beliau. Mereka membagi segolongan manusia di surga dan sebagian yang lain di neraka hanya menurut pendapat mereka.

Al Imam Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam suratnya yang dikirim kepada orang-orang al Qashim: ”Telah kalian ketahui bahwasanya aku mendengar Sulaiman bin Suhaim telah mengirim surat kepada kalian. Bahkan, kalangan orang-orang berilmu di daerah kalian menerima dan membenarkan isi surat itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui bahwasannya orang itu (Sulaiman bin Suhaim) telah berbohong mengatasnamakan aku dalam beberapa perkara yang aku tidak pernah mengucapkannya. Bahkan, tidak pernah terlintas dalam hatiku.

Di antara isi surat itu yang dia tulis bahwa aku mengingkari kitab-kitab empat madzhab yang ada dan aku berkata, ‘sesungguhnya manusia selama 600 tahun telah hidup dalam keadaan sia-sia dan bahwa aku mengaku sebagai mujtahid, aku tidak bertaqlid, dan aku berkata bahwa perbedaan pendapat di antara para ulama adalah bencana dan bahwa aku mengafirkan orang-orang yang bertawasul dengan orang sholeh, dan bahwa aku mengafirkan al Bushiri karena dia berkata, ‘Wahai makhluk termulia!’ Dan bahwa aku berkata, ‘andai aku mampu menghancurkan kubah Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam, niscaya akan aku hancurkan dan andai aku mampu, aku akan mengambil talang emas ka’bah dan aku ganti dengan talang kayu, dan aku mengharamkan ziarah ke makam Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam dan aku mengingkari ziarah kepada kedua orang tua dan lainnya, dan aku bersumpah dengan selain nama Allah ta’ala dan aku mengafirkan Ibnu al Faridl dan Ibnu ‘Arobiy, dan aku membakar kitab Dalailul Khoirot dan kitab Roudur Royyahin dan menamainya Roudus Syaithan. “

Aku jawab semua masalah ini seraya aku katakan, ”Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang besar dan sebelumnya telah ada orang yang mendustakan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, juga ada orang yang telah menghina Isa bin Maryam dan orang-orang sholeh sehingga hati mereka menjadi serupa dalam kedustaan dan kebohongan.

Allah ta’ala berfirman:

إِِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ

”Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.”(Q.S. An Nahl:105)

Mereka semua telah mendustakan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam bahwa para malaikat, Isa, dan Uzair akan masuk neraka.

Maka Allah swt menjawab perkataan mereka dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمُ ِّمنَّا الْحُسْنَى أُولئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ

”Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (Q.S. Al Anbiya’: 101)

Surat Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab lainnya:

Surat ini dikirim oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab kepada as Suwaidi, seorang ulama di Iraq, sebagai jawaban dari surat as Suwaidi kepadanya.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam suratnya berkata: “Sungguh, menyebarkan kebohongan adalah hal yang memalukan bagi orang yang berakal apalagi mengadakan kebohongan. Adapun yang Anda katakan bahwasanya aku mengafirkan segenap manusia kecuali pengikutku sungguh mengherankan. Bagaimana hal ini bisa terpikirkan oleh orang yang berakal? Apakah pantas seorang muslim berkata demikian?

Adapun yang Anda katakan bahwa aku berkata, ’Andai aku mampu menghancurkan kubah Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam, niscaya akan aku hancurkan. Juga tentang Kitab Dalailul Khairot, bahwa aku melarang untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam. Hal itu semua adalah dusta belaka dan seorang muslim tidak akan berkeyakinan adanya hal yang lebih mulia dari pada kitab Allah (al Qur’an). ”

Selengkapnya silahkan baca pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Lalu mereka bertanya,
Apakah penjelasan anda itu dapat disimpulkan bahwa Wahabi,Syiah dan Liberal itu sudah menyimpang dari ajaran Islam??
mohon tdk terprovokasi dgn pertanyaan saya...


Jawaban kami,

Kalau kaum Liberalisme kita sudah sepakat dengan apa yang telah difatwakan oleh MUI

Sedangkan untuk kaum Wahabi/Salafi dan kaum Syiah sejauh ini MUI belum ada keterangan atau bahkan fatwa bahwa mereka menyimpang dari ajaran Islam.

Namun yang kita perlu cermati adalah sikap ghuluw atau fanatik dengan pemahaman kaum sendiri sehingga beranggap bahwa hamba Allah lainnya yang tidak sesuai pemahaman dengan kaumnya adalah tidak pada jalan yang lurus atau jauh dari kebenaran.

Sayyid Muhammad Alwi alMaliki mengatakan:
"Perlu adanya kesadaran bahwa semua pintu di medan ini (medan pemikiran, aliran, pemahaman dan pendapat ) tidak bisa terlepas dari kritik, sanggahan, dan garis bawah (dari pihak lain).

Sebab, terjaga dari kesalahan (ishmah) hanya berlaku bagi Kitab Allah yang tidak bisa didatangi kebatilan dari depan maupun belakang, dan berlaku bagi Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam yang tidak berkata atas dasar keinginan, melainkan wahyu yang diwahyukan.

Dalam masalah ini, Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) telah menggariskan satu standar ideal dan ungkapan yang tepat yang bisa dijadikan ukuran keadilan. Beliau mengatakan, “Setiap dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam. "

Selengkapnya silahkan baca pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Kalau hanya pengertian Syiah Ali hanyalah pengikut Imam Sayyidina Ali ra, maka kami pun Syiah Ali namun tidak dalam pengertian kaum Syiah dengan segenap ciri khasnya termasuk 12 Imam ataupun kepercayaan bahwa Sayyidina Abu Bakar ra dan Sayyidina Umar ra dan Sayyidina Ustman ra telah berkhianat kepada Rasulullah karena menyalahi ketetapan Rasululullah di Ghaidir khum.

Begitu pula jika pengertiaan Salafiyyah adalah menisbatkan pada Salafush Sholeh, maka kamipun Salafiyyah namun tidak dalam pegertian/pemahaman secara dzahir kaum Wahabi/Salafi atau sifat/karakter kaum Wahabi/Salafi yang mereka perlihatkan bahwa hanya manhaj. mereka yang benar.

Apakah pasti masuk neraka bagi muslim yang tidak kenal dengan 12 imam di kaum Syiah atau tidak kenal Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahab di kaum Wahabi/Salafi atau tidak kenal syaikh-syaikh di Wahabi/Salafi yang mengatakan hanya manhaj kami yang benar ?
Pertanyaan ini membuktikan bahwa memang ada pemahaman/ijtihad terhadap Al-Qur’an dan Hadits selain kaum mereka.

Contoh kaum muslim yang bermadzhab Syafi’i mereka tidak pernah mengklaim bahwa hanya mereka yang benar dan madzhab yang lain seperti madzhab Maliki adalah sesat karena kaum muslim pada umumnya menyadari bahwa memang ada perbedaan pemahaam/ijtihad namun ijtihad/pemahaman hanya dilakukan oleh Imam Mujtahid dengan berbagai syarat untuk menjadi Imam Mujtahid.

Hal inilah yang mendorong saya untuk menuliskan tulisan ini, dengan diawali bentuk pertanyaan, mengapa harus menjadi kaum Syiah atau mengapa harus menjadi kaum Wahabi/Salafi.

Realitanya kita diantara kaum muslim bersyahadat menjadi berbeda dalam beberapa kaum, terjadi perbedaan/perselisihan/perdebatan maka kita diminta untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits dimana di dalamnya ada petunjuk jadilah muslim sholeh, musim yang baik dan terbaik (ihsan), muhsin/muhsinin.

Oleh karenanya, bagi kami (admin blog) cara menguji sebuah pemahaman/ijtihad adalah memeriksa apakah benar akan menghantarkan kita menuju kepada tujuan yakni menjadi muslim yang terbaik (ihsan).

Muslim yang terbaik atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin adalah minimal mereka yang selalu yakin bahwa Allah ta'ala melihat perbuatan kita dan yang terbaik adalah mereka yang seolah-olah melihat Allah ta'ala.

…أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ …

“…. hendaknya kamu menyembah Allah seakan–akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu .…” (H.R. Muslim)

Contoh, mereka yang mengaku beriman, menjalankan seluruh rukun Islam sampai dengan menunaikan ibadah haji namun mereka korupsi, memimpin dengan tidak adil dan perbuatan-perbuatan lain yang telah dilarang oleh Allah ta'ala, hal ini sesungguhnya terjadi karena mereka tidak mencapai tingkatan muslim yang Ihsan. Mereka seperti tidak yakin bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan mereka atau dengan kata lain mereka sebagai hamba Allah yang berakhlak tidak baik terhadap Allah yang menciptakan mereka. Ihsan adalah bagaimana kita berakhlak baik terhadap Allah ta'ala dan berakhlak baik kepada ciptaan Allah ta'ala lainnya termasuk kepada sesama manusia. Inilah yang disebut akhlakul karimah atau juga disebut menuju muslim yang sholeh sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dan Salafush Sholeh.

“Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S Al-Ahzab : 21)

Wassalam

Rabu, 27 Oktober 2010

Orang Orang Beriman

Firman Allah ta’ala yang artinya

Katakanlah:"Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". (QS Al Maa'idah [5]:68 )

“Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)

Siapakah yang termasuk orang-orang yang beriman ?

Marilah kita pahami petunjuk dari Allah ta’ala dalam Al-Qur’an yang diperuntukan bagi seluruh manusia.

“(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS Ali Imran [3]: 138 )

“Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini” ( QS Jaatsiyah [45]:20 )

( QS Al Mu'minun [23]:1-11 )
[23:1] Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
[23:2] (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya
[23:3] dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
[23:4] dan orang-orang yang menunaikan zakat
[23:5] dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
[23:6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
[23:7] Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
[23:8] Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
[23:9] dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya
[23:10] Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
[23:11] (ya'ni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya

“…dia (malaikat Jibril) langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “,Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”

Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya......” (HR Muslim)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Kesimpulannya bahwa orang-orang yang beriman adalah mereka yang memahami dan menjalankan rukun Islam dan rukun Iman dengan minimal melaksanakan seluruh kewajiban (hukum/perkara wajib) dan menjauhi seluruh larangan dan pengharaman (hukum/perkara haram).

Setelah melaksanakan perihal yang minimal tersebut, seorang mukmin dengan kesadaran sendiri dapat melakukan amal kebaikan (amal sholeh) untuk mencapai muslim yang terbaik, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan (muhsinin). Amal kebaikan (amal sholeh) dilaksanakan untuk memperoleh keridhoan Allah ta’ala  atau kecintaan Allah ta’ala kepada hambaNya.

Tahapannya Muslim (Muslimin) -->  Mukmin (Mukminin) --> Muhsin (Muhsinin)

( QS Lukman [31]:3-5 )

[31:3] menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)
[31:4] (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
[31:5] Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Hal ini berlaku terhadap seluruh manusia termasuk orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.

Seluruh umat manusia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah ta’ala maka wajib bagi seluruh manusia mengakui kenabiannya, karena sesungguhnya berita kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wassalam telah disampaikan pada kitab-kitab Allah sebelumnya.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".  ( QS Ali Imran [3]:81 )

“Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS Ali Imran [3]: 82 )

Barangsiapa yang berpaling sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam diutus dengan kitab Al-Qur’an yang membenarkan kitab-kitab Allah sebelumnya maka mereka termasuk orang-orang yang fasik,  orang yang berpaling atau  tidak mengindahkan perintah Allah ta’ala.  Akhir bagi mereka adalah neraka jahanamlah sebagaimana firmanNya yang artinya:
“Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya." ( QS  As Sajadah [32]:20 )

Buya Hamka menulis dalam Tafsir al-Azhar: ”Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.” (Ibid, hal. 213).

Justru disinilah persoalan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka menolak kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran. Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Muslim:

Berkata Rasulullah s.a.w.: " Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Lalu, selanjutnya, Hamka menjelaskan makna hadits Rasul saw tersebut: ”Dengan hadits ini jelaslah bahwa kedatangan nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup sekalian Nabi (Khatimil Anbiyaa) membawa Al-Quran sebagai penutup sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajaran Allah digenap dan disempurnakan. Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai.

Maka, orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.”

Tafsir Ibnu Katsir tentang orang-orang yang dimurkai dan mereka yang sesat.

“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”, yakni bukan jalan orang-orang yang dimurkai. Mereka adalah orang yang rusak kehendaknya; mereka mengetahui kebenaran, namun berpindah darinya. Dan “bukan jalannya orang-orang yang sesat”, yaitu mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan menggandrungi kesesatan. Mereka tidak mendapat petunjuk kepada kebenaran. Hal ini dikuatkan dengan laa guna menunjukkan bahwa di sana ada dua jalan yang rusak: jalan kaum Yahudi dan jalan kaum Nasrani.

Sesungguhnya jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan akan kebenaran dan pengalamannya, dan kaum Yahudi tidak memiliki amal, sedang kaum Nasrani tidak memiliki pengetahuan.

Oleh karena itu, kemurkaan bagi kaum Yahudi dan kesesatan bagi kaum Nasrani.

Karena orang yang mengetahui, tetapi tidak beramal, maka ia berhak mendapat kemurkaan, dan ini berbeda dengan orang yang tidak tahu. Kaum Nasrani menuju pada suatu perkara, yaitu mengikuti kebenaran, namun mereka tidak benar dalam melakukakannya sebab tidak sesuai dengan ketentuannya sehingga mereka pun sesat.

Demikian pula hadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai", beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, "Kaum Nasrani."

Baik Yahudi maupun Nasrani adalah sesat dan dimurkai.

Sifat Yahudi yang paling spesifik ialah kemurkaan, sebagaimana Allah berfirman ihwal mereka, “yaitu orang yang dikutuki dan dimurkai Allah.” (al-Ma’idah: 60)

Sifat Nasrani yang sangat spesifik ialah kesesatan, sebagaimana Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Ma’idah: 77)

Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’

Jadi dapat kita pahami kekeliruan muslim yang membenarkan atau mengikuti paham pluralisme agama karena secara tidak disadari mereka membenarkan orang-orang yang menolak seorang Nabi Allah, mereka membenarkan orang-orang yang dimurkai Allah ta’ala dan mereka membenarkan orang-orang yang telah sesat.  Kita wajib tidak membenarkan apa yang mereka pahami namun kita tidak boleh membenci mereka dan pergauli dengan cara yang baik (toleransi). Selengkapnya baca tulisan pada:

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/04/23/2009/10/03/etik-dengan-non-muslim/

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri". (QS  Al Ankabut [29]:46 )

"Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah : "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita) ". (QS Asy Syuura [42]:15 )

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” ( QS. Al-Mumtahanah [60]:8 )

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maa-idah [5]:8 )

Oleh karenanya jadilah termasuk orang-orang yang beriman dan berpegang teguh kepada agama Islam, maka Allah ta’ala akan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan memasukkan kedalam surga.

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS  An Nisaa’ [4]:175 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Senin, 09 Agustus 2010

Keselamatan Dunia Akhirat

Berangkat dari banyaknya permasalahan yang terjadi pada zaman modern ini, pada negeri ini, sesungguhnya pokok permasalahan ada pada masalah akhlak. Apa yang kita dapat ambil pelajaran dari perilaku penguasa, pengusaha, artis, pekerja, orang-orang tua, generasi muda, mahasiswa, pelajar atau rakyat pada umumnya bermasalah karena akhlak mereka. Mereka yang dzalim, korupsi, kolusi, mafia kasus/hukum, berzina, pornografi, narkotika, miras, berkelahi/kerusuhan, gaya hidup berlebihan, rakus dan cinta dunia dan perbuatan buruk lainnya pada dasarnya timbul dari akhlak yang buruk. Mereka melakukan kerusakan di muka bumi.

Untuk itu kita perlu mensosialisasikan tentang akhlakul karimah.

Akhlakul karimah adalah keadaan sadar (kesadaran) atau  perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah (zikrullah).

Selain sosialisasi , wajib kita memasukkan tentang akhlakul karimah kedalam sistem pendidikan agar dihasilkan sumber daya manusia yang berakhlakul karimah.

Dalam tulisan kali ini, Insyaallah saya mencoba menguraikan tentang akhlakul karimah.

Kunci Keselamatan Dunia dan Akhirat


Kita, muslim sudah paham dan sering mengucapkan doa keselamatan dunia dan akhirat berdasarkan firman Allah yang artinya,

“Dan di antara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Al Baqarah [2] : 201 )

Selain berdoa kita diwajibkan mengiringinya dengan ikhtiar atau upaya.

Apakah ikhtiar atau upaya kita menuju keselamatan dunia dan akhirat ?

Kuncinya adalah berupaya menjadi hamba-hamba Allah yang sholeh (‘ibaadillaahish shoolihiin), mukmin yang sholeh, mukmin yang berakhlakul karimah, mukmin yang terbaik, mukmin yang ihsan atau muhsin, Mukmin yang seolah-olah melihatNya atau miminal mukmin yang yakin bahwa Allah melihat kita.

Kunci keselamatan dunia dan akhirat  berdasarkan doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mi’raj dan menghadap Allah Subhaanahu wa Ta‘ala.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membaca, “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin” yang artinya  “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.  Do’a yang selalu kita baca pula setiap sholat.

Pokok-pokok ajaran dalam agama Islam adalah

Islam (rukun Islam / fikih),
Iman (rukun Iman / Usuluddin/I’tiqad),
Ihsan (akhlak / tasawuf)

Berdasarkan pokok-pokok ajaran dalam agama Islam maka tingkatan manusia sebagai berikut:

Muslim (muslimin)   =>  Mukmin (mukminin)  =>   Muhsin (muhsinin)

Tingkatan pertama (paling rendah) dalam tingkatan muhsin (muhsinin) adalah "selalu merasa dilihat Allah". Sampai disini belum muncul akhlakul karimah.

Barulah ketika merasakan seolah-olah melihat Allah (tingkatan kedua) akan muncul akhlak tersebut sehingga mencapai muslim yang sholeh sebagaimana yang telah dicapai pula oleh Salafush sholeh atau "‘ibaadillaahish shoolihiin" , hamba-hamba Allah yang sholeh

Dzikir jahar dan dzikir khofi dapat kita lakukan dalam upaya untuk selalu mengingat Allah yang merupakan sebuah latihan untuk memunculkan akhlakul karimah karena selalu merasa dilihat Allah.

Rumusan sederhananya,

"Seolah-olah melihatNya" = Akhlakul karimah =  Keadaan sadar (kesadaran) atau perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah.

Oleh karenanya dalam Al-Qur'an selalu diingatkan untuk orang-orang mukmin untuk meningkatkan diri untuk mencapai tingkatan muhsin (muhsinin) dengan contoh keadaan sadar (kesadaran) atau perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah yakni, sabar, shalat dan zakat

"Hai orang-orang yang beriman (mukmin), jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". ( QS al Baqarah [2] : 153 )"

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS al Baqarah [2]: 277 )

"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)". (QS al Maaidah [5] : 55 )

Sabar adalah contoh keadaan sadar (kesadaran) dan mengingat Allah dalam hubungannya dengan Allah dan Manusia.
Sholat adalah contoh perbuatan yang dilakukan secara sadar dan mengingat Allah dalam hubungannya dengan Allah
Zakat adalah contoh perbuatan yang dilakukan secara sadar dan mengingat Allah dalam hubungannya antar manusia.

Melihat  hasil  dari keyakinan

Untuk menjelaskan tentang ‘Seolah-olah melihatNya”, marilah kita ambil hikmah dari cerita anak dan ayah yang berjalan dalam kegelapan malam.

Syaikh ibnu Athoillah mengatakan “Orang yang ikut mengatur bersama Allah adalah seperti anak yang pergi bersama ayahnya. Keduanya berjalan di malam hari. Karena menyayangi anaknya, sang ayah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya tanpa diketahui sang anak. Anak itu tidak bisa melihat ayahnya karena malam yang teramat gelap. Ia meresahkan keadaan dirinya dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ketika cahaya bulan menyinari dan ia melihat ayahnya dekat kepadanya, keresahannya sirna. Ia tahu ayahnya begitu dekat dengannya. Kini ia merasa tidak perlu ikut mengurus dirinya karena segala sesuatu telah diperhatikan oleh ayahnya. Seperti itulah orang mengatur untuk dirinya. Ia melakukannya karena berada dalam kegelapan – terputus dari Allah. Ia tidak merasakan kedekatan Allah. Andaikata bulan tauhid atau mentari makrifat menyinarinya, tentu ia melihat Tuhan begitu dekat, sehingga ia malu untuk mengatur dirinya dan merasa cukup dengan pengaturan Allah”.

Anak itu melihat ayahnya,  setelah lepas dari kegelapan malam karena cahaya bulan ===> timbul keyakinan ===> keresahannya sirna, anak itu yakin bahwa ayahnya begitu dekat, anak itu merasa (yakin)  tidak perlu mengurus dirinya karena segala sesuatu telah diperhatikan oleh ayahnya, anak itu yakin bahwa ayahnya mengawasi (melihat) dirinya.

Intinya,  Anak itu melihat ayahnya ===> maka timbul keyakinan.

Sedangkan kita terhadap Allah kebalikan dari hal ini.
Dari keyakinan yang ada  ===> maka timbul (mendapatkan karuniaNya) seolah-olah melihatNya.

Keyakinan bahwa Allah melihat/mengawasi kita. Berdasarkan firman Allah yang artinya,
"Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (QS al Hujurat [49]:18 )

Keyakinan bahwa Allah mengurus kita. Berdasarkan firman Allah yang artinya,
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya" (QS Ali Imran [3]:2 )

Keyakinan bahwa Allah itu dekat. Berdasarkan firman Allah yang artinya,
“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah [56] : 85 ).
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf [50] : 16 )

Berdasarkan keyakinan-keyakinan diatas dan keyakinan yang lainnya maka kita dapat merasakan seolah-olah melihatNya, mengalami kebersamaan dengan Allah (Billah) , bertemu dengan Allah di dunia.

Selanjutnya kita berupaya menjaga dan memelihara keyakinan-keyakinan (iman) tersebut sampai akhirat kelak dimana pertemuan dengan Allah sesungguhnya dengan wajah berseri-seri.
Firman Allah yang artinya,
"Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat." (QS Al Qiyaamah [75] : 22-23 )

Upaya menjaga dan memelihara keyakinan-keyakinan (iman) itulah yang disebut dengan taqwa kepada Allah,  sedangkan kunci taqwa adalah akhlakul karimah = Keadaan sadar (kesadaran) atau perilaku yang sadar dan mengingat Allah. Kata Taqwa merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang artinya adalah memelihara atau menjaga

Akhlakul karimah, mengingat Allah (zikrullah) inilah yang memotivasi kita untuk menjadi muslim yang sholeh (‘ibaadillaahish shoolihiin), memotivasi kita mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya sehingga kita dapat menjadi orang-orang yang mulia di sisi Allah, pada shaf-shaf terdepan dan terdekat dengan Allah, dekat dengan Tauladan kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Nabi dan Rasul Allah, para Salafush Sholeh, para muslim pilihan Allah.

Terlintas di benak.

"Seolah-olah melihatNya" ,  kata "melihat" ini sebaiknya tidak dimaknai secara dzahir sehingga mengharapkan akan terlintas, terbentuk, tergambar dalam benak.

Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Dzu an-Nun al Mishri (W. 245 H) salah seorang murid terkemuka al Imam Malik menuturkan kaidah yang sangat bermanfaat dalam ilmu Tauhid:
Maknanya: "Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu". Perkataan ini dikutip dari Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu al Fadll at-Tamimi dalam kitabnya I'tiqad al Imam al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal dan diriwayatkan dari Dzu an-Nun al Mishri oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad. Dan ini adalah kaidah yang merupakan Ijma' (konsensus) para ulama. Karena tidaklah dapat dibayangkan kecuali yang bergambar. Dan Allah adalah pencipta segala gambar dan bentuk, maka Ia tidak ada yang menyerupai-Nya.

Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya– berkata: "Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir.
Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu'aththil -atheis- (orang yang meniadakan Allah).
Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim". (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya)

Melihat dibalik ciptaanNya

“Seolah-olah melihatNya”, mata kepala kita melihat benda/makhluk atau ciptaanNya tapi akal dan qalbu / mata hati (bashirah) melihat siapa Pencipta semuanya.

Mata hati (bashirah) melihat Allah di balik semuanya.

Begitulah seolah-olah melihat Allah.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya–

"Jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim"

Seolah-olah melihatNya termasuk ulil albab (orang-orang berakal), sebagaimana firman Allah yang artinya

"yakni, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS Ali Imran : 191).

Muslim yang dapat merasakan seolah-olah melihatNya, dalam kehidupannya akan dapat "bercengkerama" atau berinteraksi dengan Allah, berinteraksi melalui firman-firmanNya. Muslim yang akan menikmati apa-apa yang telah diputuskan atau dipilihkan Allah untuk kita

Keniikmatan ini sesuai dengan nasehat (diwan) Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya– bahwa
"Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf / akhlakul karimah, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan / kenikmatan takwa" Jadi untuk mendapatkan kenikmatan taqwa maka kita harus menjalankan tasawuf. Ingat menjalankan tasawuf, bukan memahami tasawuf karena tasawuf adalah keadaan, perilaku atau perbuatan.

Intinya kita wajib menjaga dan memelihara keadaan sadar (kesadaran)  atau perilaku yang sadar dan mengingat Allah.

Muslim yang sholeh, muslim yang Ihsan, muslim yang seolah-olah melihatNya dalam menjalankan kehidupan di dunia  tidak akan khawatir dan bersedih hati  karena dapat merasakan bahwa Allah bersama kita (Billah), sebagaimana firman Allah yang artinya,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS al Baqarah [2]: 277 )

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS Ar Ra'd [13] : 28 )

"Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir" (QS at Taubah [9]: 26 ).

"Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu'min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS al Fath [48] : 26)

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS Al Baqarah [2]: 153)

"....Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al Ankabut [29] : 45 )

Allah beserta orang-orang beriman (mukmin) yang sabar (akhlakul karimah) yang bisa menjadikan sholat sebagai mengingat Allah.

Muslim ====> Mukmin ==== > Mukmin yang sabar = Muhsin = Muslim yang Sholeh (‘ibaadillaahish shoolihiin) = Hamba-hamba Allah yang menuju keselamatan dunia maupun Akhirat

Amin

Wassalam

Zon di Jonggol,  Kab Bogor, 16830

Selasa, 13 April 2010

Kelemahan Salafiyyah

Setelah saya mengkaji metode pengajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang sepemahaman dengan Syaikh Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dan yang sepahaman lainnya yang ketika kenal dengan kaum Salaf(i), titik kelemahannya salah satu yang utama  adalah menolak pengajaran bidang Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat)..



Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat) bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, tazkiyatun nafs, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.

Pokok pengajaran mereka hanya pada bidang Ilmu Fiqih (tentang Islam / Syariat) dan Ilmu Tauhid /. Usuluddin (tentang Iman / Hakikat).

Kemungkinan penolakan pengajaran Ilmu Tasawuf  disebabkan oleh

  • Allah tidak menganugerahkan kemampuan pemahaman ilmu Tasawuf kepada mereka.

  • Mereka mengambil kesimpulan yang keliru terhadap data/fakta  yang mereka ketahui terhadap orang-orang yang “mengaku” telah mempeljari ilmu Tasawuf.


Contoh fakta-fakta keliru yang mereka ketahui tentang mereka yang berkecimpung pada ilmu Taswuf antara lain:

  1. Ahli tasawuf, umumnya, dalam menjalankan agama dan melaksanakan ibadah tidak berpedoman kepada Al-Qur`ân dan Sunnah, tetapi, pedoman mereka adalah bisikan jiwa dan perasaan mereka, serta ajaran yang digariskan oleh pimpinan-pimpinan mereka.

  2. Juga termasuk doktrin ajaran tashawwuf yang sesat, yaitu apa yang mereka namakan sebagai suatu keadaan/tingkatan, yang jika seseorang telah mencapainya, maka ia akan bebas dari kewajiban melaksanakan syariat Islam.

  3. Mereka membatasi ibadah hanya pada aspek al-mahabbah (kecintaan) saja dengan mengenyampingkan aspek-aspek lainnya, seperti aspek al-khauf (rasa takut) dan ar-raja` (pengharapan), sebagaimana terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tasawuf: "Aku beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka" .


Pelurusan atas fakta-fakta keliru di atas,

  1. Pendapat syaikh  Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits

  2. Pendapat Syaikh Abu al Hasan Asy-Syadzali, jika seorang yang fakir tidak mewajibkan dirinya untuk mendirikan sholat 5 waktu dengan berjamaah, maka jangan engkau dengarkan ocehannya”  atau Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”

  3. Pemahaman kaum Salaf(i) terhadap pernyataan ahli tasawuf  di atas, dkarenakan metode mereka dalam pemahaman secara tekstual, harfiah atau apa yang tersurat. Mereka tidak dianugerahi kemampuan pemahaman secara tersirat.


Metode pengajaran kaum Salaf(i) yang tidak memasukkan pengajaran ilmu Tasawuf  mengakibatkan Al-Qur’an dan Hadist dimaknai hanya sebagai dalil, hukum, perintah dan larangan semata.

Metode pengajaran seperti ini memang baik sebagai bentuk ketaatan, penyeragaman, doktrinisasi.  Efektif untuk mengatasi permasalahan waktu itu yakni  tahyul, bid’ah dan khurafat.

Kelemahannya adalah menjadikan manusia seperti robot yang terprogram secara logika/akal tanpa unsur hati.  Sehingga dengan metode pengajaran Salaf(i) ini para pengikutnya akan mengikuti atau diwarnai  oleh "suasana hati" atau kepentingan dari yang mengajarkan.  Sebagai contoh bagaimana “suasana hati” dari kaum yang kita kenal Salafi Jihadi, "suasana hati" kaum Ikhwanul Muslimin  atau  para pengikut ketika kehidupan Muhammad bin Abdul Wahab memenuhi “kepentingan” penguasa Muhammad bin Sa’ud.

Manfaat pengajaran ilmu Tasawuf adalah seraya mempersiapkan pengikut / murid / umat dalam urusan hati agar mudah (ikhlas) menerima pengetahuan baik dalil, hukum, perintah dan larangan. Dimulai mengenal diri sendiri kemudian dilanjutkan mengenal Allah (makrifatullah) yang mengeluarkan perintah dan larangan. Dari pengenalan inilah kita dapat memaklumi kenapa Allah membuat perintah dan larangan yang semua itu dalam rangka ke Maha Pengasih dan ke Maha Penyayang  Nya.

Sehingga kita ikhlas menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya walaupun ibaratnya tidak ada surga maupun neraka seperti yang dinyatakan ahli tasawuf sebelumnya.

Sebagaimana pendapat  syaikh  Abu Al Hasan Asy-Syadzili,

Kaum sufi (orang yang mengeluti tasawuf) telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Kalau kita ibaratkan kaum Salaf(i) adalah yang melihat dengan "mata kepala" sehingga emas dan tanah itu tetap berbeda

Sedangkan kaum Sufi adalah yang dapat melihat dengan "mata hati" sehingga dapat melihat emas  dan tanah  itu sama

Dalam hadits  diriwayatkan bahwa ketika Nabi saw. bertanya kepada Haritsah, “Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Haritsah?” Ia menjawab, “Pagi ini aku benar-benar beriman.”

Mendengar jawabannya, Nabi berujar, “Setiap kebenaran ada hakikatnya. Apa hakikat imanmu?”

Ia menjawab, “Aku berpaling dari dunia sehingga bagiku sama saja antara emas atau tanah. Seolah-olah aku melihat penduduk surga tengah merasakan nikmat surga. Dan seolah-olah aku melihat penduduk neraka sedang merasakan siksa. Juga seolah-olah aku melihat Arasy dengan jelas. Karena itu, aku bangun malam (untuk beribadah) dan berpuasa di siang hari.”

Mendengar jawabannya, Nabi bersabda, “Wahai Haritsah, kau telah makrifat. Tetaplah dalam keadaanmu!”

Kemudian Nabi melanjutkan, “Ia hamba yang Allah terangi hatinya dengan cahaya iman.”4

Silahkan membaca tulisan yang berhubungan di http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/29/seolah-melihat/

Wallahu a’lam

Kamis, 01 April 2010

Posisi kita di sisi Allah

Di manakah posisi/derajat kita di sisi Allah saat kini ?

Firman Allah yang artinya,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS. Al-Hujurat: 13)

Sebagian kita memahami “di sisi” Allah adalah semata-mata kejadian kelak di akhirat nanti. Namun sesungguhnya posisi/derajat manusia di sisi Allah berlangsung ketika kehidupan di dunia.

Ada sebagian muslim “berani” melakukan perbuatan yang dilarang Allah, sesungguhnya karena tidak merasakan “di sisi” Allah.  Padahal Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Sedangkan ada sebagian muslim karena posisi/derajat nya lebih mulia “di sisi” Allah  maka Allah berikan jalan keluar dan Allah berikan rezeki  dari arah yang tidak disangka dan Allah mencukupkan (keperluan)nya

Sesuai dengan firman Allah yang artinya,

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Benarlah, manusia di sisi Allah ketika kehidupan di dunia bahkan dimulai sejak manusia diciptakan.

Menurut para ahli Tasawuf, hakikat manusia dibagi menjadi dua bangunan utama, yaitu bangunan jasmani dan rohani. Bangunan jasmani manusia diciptakan melalui enam proses kejadian yaitu:

  1. Sari pati tanah

  2. Nuftah

  3. Segumpal darah

  4. Segumpal daging

  5. Pertumbuhan tulang-belulang

  6. Pembungkusan tulang-belulang


Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari sari pati tanah. Kami jadikan sari pati tanah itu air mani yang ditempatkan dengan kokoh di tempat yang teguh. Kemudian air mani itu kami jadiukan segumpal darah, dari segumpal darah itu, Kami jadikan segumpal daging, Kami jadikan pula tulang-belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging (QS Al Mu-minun (23): 12-14)

Setelah melalui enam tahap proses tersebut maka jasmani manusia boleh dikatakan sebagai makhluk yang sempurna apabila dipandang dari sudut jasmaniah, tetapi apabila dipandang dari sudut Rohaniah, manusia yang belum ditiupkan Roh-Ku belumlah dapat disebut manusia sempurna. Oleh karenanya itu, pada proses kejadian yang ketujuh, Allah meniupkan sebagian Roh-Nya kepada jasmani manusia. Pada saat itulah manusia tersebut bisa dikatakan sebagai manusia yang sempurna baik jasmani maupun rohani.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka jika Aku telah menyempyurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya Roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama. (QS Al Hijr (15):28-30)

Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.

“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

Menurut tinjauan ahli Tasawuf, di bagian kepala manusia terdapat tujuh buah lubang (pintu) sebagai sumber rasa inderawi, yaitu,

  1. Dua lubang telinga sebagai sumber (alat) pendengaran.

  2. Satu lubang mulut sebagai sumber (alat) pengucapan dan pengecapan

  3. Dua lubang mata sebagai sumber (alat) penglihatan

  4. Dua lubang hidung sebagai sumber (alat) pernapasan.


Ketujuh buah lubang (pintu) yang ada di kepala manusia tersebut secara simbolis diinformasikan Allah dalam al-Qur’an dengan istilah “tujuh buah jalan” yang ada di atas badan manusia.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas (badan) kamu tujuh buah jalan dan kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami” (QS Al-Mu’minun (23):17)

Tujuh lubang ini disebut juga sebagai “pembuka”, karena dengan tujuh lubang inilah, manusia berhasil membuka segala rahasia pengetahuan, baik yang bersifat lahir maupun batin.

Proses terjadinya aktifitas alat inderawi tersebut yang terwujudkan dalam bentuk pendengaran, pengucapan atau pengecapan, penglihatan dan pernapasan inilah yang disebut kiasan “tujuh buah jalan” yang dapat memberi petunjuk karena dengan adanya empat inderawi tersebut maka manusia mendapatkan pengetahuan tentang masalah apapun yang sedang dipelajarinya.

Pada tubuh manusia, total keseluruhan terdapat sepuluh lubang inderawi, yaitu tujuh di kepala dan tiga lubang dibagian badan yaitu lubang pusar, lubang anus dan lubang kemaluan. Khusus untuk lubang pusar sudah tidak berfungsi sejak manusia dilahirkan. Sehingga yang berfungsi secara maksimal adalah Sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia.

Apabila dikaitkan dengan keadaan bayi dalam kandungan maka dapat terlihat bahwa Sembilan lubang yang ada pada tubuh bayi tidaklah berfungsi, hal ini dikarenakan seorang bayi dalam kandungan berada di dalam air ketuban (omnium water). Sehingga seorang bayi dalam kandungan tidak melakukan aktifitas inderawi secara sempurna. Dengan kata lain seorang bayi tidak makan dan tidak minum atau berbicara dengan mulut, tidak bernapas dengan hidung, tidak melihat dengan mata, tidak mendengar dengan telinga, dan tidak buang air besar atau kecil melalui anus atau kemaluan. Tetapi bayi tersebut mendapatkan semua kebutuhan jasmaninya melalui saluran plasenta yang menghubungkan antara pusar bayi dengan dinding rahim ibu.

Dalam kandungan, seorang bayi juga tidak berpikir dikarenakan fungsi otaknya belum sempurna, tetapi kemampuan rohani bayi telah hidup sempurna. Peristiwa ini dialami oleh seorang bayi selama kurang lebih sembilan bulan.  Dalam bahasa Tasawuf, keadaan ini disebut dengan peristiwa dimana seorang bayi berada dalam Janah yang berada  di bawah telapak kaki ibu selama Sembilan bulan.

Sayangnya setelah bayi itu tumbuh dewasa, dia tidak dapat mengingat perjalanannya ketika berada dalam kandungan rahim ibunya. Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan,agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada saat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” (QS Al An’am 6: 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: “ Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu” (QS Al Kahfi 18:48).

Sejak bayi dalam kandungan yang bersih dan suci telah keadaan  “menemui” Allah.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (QS- Al A’raf 7:172)

Setelah anak manusia terlahir ke dunia,  keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak.

Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi. Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama.

Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak.

Di dalam Islam, sistem pendidikan dalam keluarga menjadi penentu masa depan anak. Apakah anak akan menjadi shaleh, baik, santun, penyayang atau kurang ajar, kasar, bengis, semuanya tergantung pada tangan-tangan pertama yang mendidiknya, yakni orang tuanya.

Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani atau seorang Majusi.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Yang dimaksud adalah anak-anak yang baru dilahirkan memiliki fitrah yang bersih dan suci, yaitu beriman kepada Allah SWT. Orang tua memiliki peran dalam mengarahkan fitrah anak. Apakah akan tetap bersih, murni dan bersinar? Ataukah cahayanya akan memudar, bahkan hilang.

Lalu bagaimana arah tujuan pendidikan anak berdasarkan Islam

Kalau mengacu kepada al Qur’an, maka al Qur’an memberi tuntunan bagaimana  seharusnya tujuan pendidikan anak.

Allah SWT berfirman  yang artinya, “Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al Furqaan  25: 74)

…"Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur"” (QS. Al A’raf  7: 189)

…“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

Ini sebenarnya inti dari kurikulum pendidikan anak: (1) menjadikan anak-anak kita sebagai penyenang hati / penyejuk mata dan  orang-orang bertaqwa (2) Menjadikan anak-anak kita sebagai anak-anak yang shaleh (3) Menjadikan anak-anak kita sebagai umat terbaik yang akan mengemban dakwah Islam, dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar

Kemudian setelah anak dewasa dan mampu dengan bekal pengetahuan dan pendidikan yang didapatnya mereka akan mengarungi kehidupan dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadist.

Dengan kemampuan merekalah mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan Hadist, mengupayakan posisi/derajat di sisi Allah. Sebagian mereka yang dianugerahi Allah ilmu pengetahuan mendapatkan posisi/derajat yang lebih baik sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Mujaadilah 58: 11)


Upaya kitamendapatkan posisi/derajat yang lebih baik di sisi Allah, salah satunya  dengan mengendalikan hawa nafsu atau mengendalikan tujuh buah lubang (pintu) sebagai sumber rasa inderawi.

Hawa nafsu yang bersarang pada jasmani kita, dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu:

1. Nafsu Amarah yang bentuk perwujudannya berupa sifat marah, dengki, ujub dan syirik. Nafsu ini sumbernya di telinga  yang dapat timbul melalui hantaran pendengaran. (Dua lubang telinga, disimbolkan pintu Umar bin Khatab)

2. Nafsu Lawamah yang termanifestasikan dalam bentuk sifat rakus, tamak, loba dan malas. Nafsu ini sumbernya di mulut   yang dapat dimbul melalui hantaran pengucapan atau peengecapan.  (Satu lubang mulut disimbolkan  pintu Ali bin Thalib)

3. Nafsu Sufiyah yang termanifestasikan dalam bentuk sifat cinta, kekaguman, dan keindahan. Nafsu tersebut berada pada mata  yang akan timbul melalui hantaran penglihatan. (Dua lubang mata disimbolkan pintu Usman bin Affan)

4. Nafsu Mutmainah yang termanifestasikan dalam sifat ketenangan dan kedamaian. Nafsu tersebut berada di hidung  yang dapat timbul melalui hantaran pernafasan. (Dua lubang  hidung disimbolkan pintu Abu Bakar)

Ke empat nafsu yang termanifestaasikan dalam bentuk pendengaran, pengucapan (pengecapan), penglihatan dan pernafasan, pada akhirnya akan menimbulkan "hawa" yang berbentuk rasa jasmani yakni

  1. Rasa Pendengaran.

  2. Rasa Pengecapan ataiu pengucapan

  3. Rasa Penglihatan

  4. Rasa Pernafasan atau penciuman


Semua bentuk "rasa" tersebut bersifat ghaib atau bathin yang tidak berwujud tetapi bisa dirasakan keberadaannya. Ke-empat rasa dari nafsu tersebut dapat dimatikan maupun dihidupkan, tergantung dari bagaimana kita menutup atau membuka "pintu" keluar masuknya rasa dari sumber nafsu tersebut.

Cara menutup pintu hawa nafsu tersebut, dengan mempergunakan "alat" yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap manusia, sesuai firman Allah yang artinya:

"Carilah Akhirat dengan "alat" yang telah Kami anugerahkan kepadamu dan janganlah kamu lupakan kenikmatan dunia" (QS Al Qashash 28: 77)

"Tatkala aku berada di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba beliau bertanya : Adakah orang asing diantara kamu ?" lantas beliau memerintahkan supaya pintu di tutup dan bersabda "Angkat tangan kamu" (HR Al Hakim)

"Tutup pintumu dan ingatlah Allah". (HR Bukhari).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi saw ” Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”

Prosesi "menutup pintu" hawa nafsu yang ada pada kepala manusia, inilah yang dinamakan dengan "Takbiratul Ihram",  (Takbir Larangan) yang mempunyai arti bahwa ketika kita mengangkat kedua telapak tangan kita saat mengawali sholat, kita diharamkan atau dilarang untuk melakukan aktifitas inderawi seperti mendengar, melihat, dan berbicara  kecuali bernafas (simbol pintu Abu Bakar), karena kita sedang berhadapan dengan Allah Swt (bertawajuh).  Hal ini sesuai dengan firmanNya yang artinya,

"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan". (QS Al An'am 6: 79)

Ayat di atas merupakan pernyataan setiap kali kita sholat, bahwa kita menyadari sedang menghadapkan wajah kita kepada Allah, yang Maha Suci (bertawajuh). Kemudian dilanjutkan dengan penegasan bahwa "Sholatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku semata-mata hanya untuk Allah semata". Jika keadaan ini terjadi, tak mungkin akal kita berkeliaran tak terkendali mengingat selain Allah. Kita juga tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar tuntunan Allah.

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab dan dirikan sholat. Sesungguhya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah dalam (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain)" (QS Al Ankabut 29: 45)

Allah memberikan gelar kepada orang yang shalat tidak sesuai dengan ikrar/sumpahnya sebagai sholatnya orang munafik.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk Sholat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka dzikrullah (menyebut Allah)  kecuali hanya sedikit sekali" (QS An-Nisa 4: 142)

Ketika melakukan sholat, ada kalanya mengalami rasa jenuh dan tidak kusyu', padahal dalam doa iftitah kita telah berikrar bahwa kita sedang menghadapkan wajah kita kepada Allah. Hal ini terjadi karena tidak mengetahui bagaimana cara melakukan Takbiratul Ihram dengan baik.

Nabi Muhammad Saw bersabda, bahwa "sholat itu adalah mi'rajnya orang-orang mukmin".   Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.

Apakah kita bisa "bertemu"  dengan Allah ketika Sholat ?

Sebagian orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori dan berkeyakinan bahwa manusia tidak mungkin bertemu dengan Allah di dunia. Akibatnya kebanyakan orang tak mau pusing mengenai hakikat Sholat atau bahkan hanya menganggap sholat sebagai kewajiban yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.

Dilain pihak ada orang yang melakukan sholat, telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai kusyu', akan tetapi tetap saja pikiran masih menerawang tidak karuan sehingga tanpa disadari sudah keluar dari "kesadaran sholat". Allah telah mengingatkan hal ini, bahwa banyak orang sholat akan tetapi kesadarannya telah terseret keluar dari keadaan sholat itu sendiri, yaitu bergeser niatnya bukan lagi karena Allah.

'.... maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya" (QS Al-Ma'un 107: 4-6)

Perihal itu terjadi bagi orang yang dalam sholatnya tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya sehingga pikirannya melayang liar tanpa kendali. Sholat yang demikian adalah sholat yang shahun. Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menghendaki sholat sebagai jalan untuk mengingat Allah.

"... maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku" (QS Thaha 20: 14)

"... dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai"(QS Al A'raaf 7: 205)

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah kedalaman ibadah sholat, yaitu untuk mengingat Allah, bukan sekedar membungkuk, bersujud dan komat-kamit tiada sadar dengan yang dilakukan. Sholat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan orang, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, yaitu tercegah dari perbuatan keji dan mungkar.

"Jangan engkau mendekati sholat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sadar)... " (QS An nisa 4: 43)

Nahyi (larangan) ditujukan kepada mushalilin agar tidak melakukan sholat jika masih belum sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Sang Khaliq.  Larangan itu merupakan syarat mutlak dari Allah. Coba kita renungkan, untuk mendekati saja kita dilarang, apalagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan maka Allah akan murka, yang ditunjukkan dengan perkataan yaitu "maka celakalah orang yang sholat,  (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya dan orang-orang yang berbuat riya" (QS Al-ma'un 107: 4-6)"

Allah juga memberikan pujian kepada orang-orang mukmin yang khusyu dalam sholatnya

"Sungguh beruntunglah mereka yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya" (QS Al Mukminun 23: 1-2)

Al-Quran menyebutkan penyebab dicabutnya ilmu khusyu', yaitu karena memperturutkan hawa nafsu dan melalaikan sholatnya. Dalam Al-Qur'an Allah juga telah menunjukkan jalan bagi yang mendapatkan kekhusyu'an

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS Al Baqarah 2: 45-46)

Semoga kita dapat merasakan menemui Allah,  kedekatan dengan Allah, mengetahui posisi/derajat kita di sisi Allah.

Semakin kita dekat dengan Allah maka kita akan semakin sibuk dengan Allah, semakin jauh kita dengan Allah maka kita akan semakin sibuk dengan diri kita sendiri.

Semakin kita dekat dengan Allah maka kita yakin bahwa segala keperluan kita didunia , Allah akan mencukupkannya, sedangkan semakin jauh kita dengan Allah maka kita akan "kepayahan" dengan upaya sendiri memenuhi segala keperluan kita di dunia.

Orang yang dekat dengan Allah dikenal sebagai orang-orang Arif.

Orang-orang Arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan jika Allah yang berkenan bukan karena keinginan mereka sendiri.

Mereka paham bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Jalan untuk dapat selalu menyibukkan diri dengan Allah atau mengetahui apa yang Allah berkenan adalah dengan “mengenal” Allah, yakni yang kita kenal marifatullah.  Dengan mengenal Allah (marifatullah) maka kita bisa memahami apa yang Allah berkenan.

Ilmu untuk mempelajari  tentang marifatullah itulah Ilmu Tasawuf.

Untuk mencapai pemahaman orang-orang arif tidak cukup dengan metode pemahaman secara harfiah atau tekstual akan tetapi melalui metode pemahaman yang lebih dalam / maknawi atau dikenal “mengambil pelajaran” dengan hikmah.

Sesuai dengan firman Allah,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)

Wassalam.

Ditulis dari berbagai sumber, sebagian besar diambil dari buku Abu Irsyad, Menyingkap Rahasia Shalat & Puasa sebagai sarana menemui Allah, Pustaka Aladdin

Klik disini untuk pemesanan buku Menyingkap Rahasia Shalat & Puasa sebagai sarana menemui Allah