Tampilkan postingan dengan label Wushul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wushul. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Januari 2011

Siapakah Wali Allah

Siapakah Wali Allah itu ?

Sedikit uraian kami tentang Wali Allah,  selebihnya silahkan lakukan perjalanan (suluk) menuju (wushul) kepada Allah ta'ala sebagian ulama mengatakan larilah kembali kepada Allah, “Fafirruu Ilallah”

Dalam hadits qudsi, "Allah berfirman yang artinya: "Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya"

Tidak mengapa kalau belum sanggup meyakini adanya Wali Allah maupun Hadits Qudsi.

Hadits Qudsi memang diperuntukkan untuk muslim yang ahlinya, tidak semua muslim bisa sanggup untuk memahami dan meyakininya
Namun Hadits Qudsi tetaplah perkataan Rasulullah dan semua perkataan Rasulullah bukanlah berdasarkan hawa nafsu.

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka - untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa : Wali-wali Allah, Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Jadi jelas, wali bukanlah dari kalangan tertentu dengan penampilan tertentu. Apalagi kalau sampai ada orang yang mengaku-aku sebagai wali, itu bukanlah ciri kewalian. Seorang wali Allah akan selalu menyembunyikan kedekatan dan ketaatannya kepada Tuhan. Andaipun ia mendapatkan karamah (keluar biasaan semacam mukzizat) maka ia tidak akan menceritakan dan mengumumkannya kepada orang ramai.

As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajakrkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.

Rasulullah Saw : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah saw
“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : " Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

Kita sebagai hamba Allah dapat mencapai derajat wali Allah yakni dengan mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin.

Cara mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin melalui pendalaman dan pengamalan Tasawuf dalam Islam.  Pendalamaman dan pengamalan Tasawuf dibimbing oleh pembimbing yang disebut mursyid.  Allah ta’ala lah yang menetapkan siapa dan kapan, seorang mursyid (pembimbing) mendatangi dan membimbing ”perjalanan” (suluk) kita menuju (wushul) kepada Allah ta’ala

Hal yang terpenting tanamkan dahulu niat dan keinginan untuk menuju (wushul) kepada Allah ta’ala karena sungguh Dia lah tempat kita kembali.

Mohonkanlah kepada Allah untuk dapatkan seorang mursyid yang membimbing kita menuju (wushul) kepada Allah.

Contoh permohonan,
Ya Allah, Tuhan kami
Ampunilah dosa kami, bimbinglah kami dengan kasih sayangMu, menuju kepadaMu


Berhati-hati dengan orang yang mengaku sebagai mursyid ataupun wali, karena sebagai mursyid ataupun sebagai wali bukanlah melalui sebuah pengakuan seorang manusia atau diri sendiri namun pengakuan/penetapan Allah ta’ala semata dan Allah ta’ala mencintai mereka.

Seorang mursyid termasuk wali Allah, tentu menjalankan syariat Islam lengkap dengan amalan sunnah sehingga dicintai Allah, salah satu amalan sunah yang dijalankan agar dicintai Allah adalah zuhud di dunia.

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya)

Seorang wali Allah bukan untuk disembah
Kita mengikuti dan percaya kepada Mursyid yang merupakan Wali Allah karena mereka membimbing kita untuk mentaati Allah dan RasulNya

Ciri hamba Allah yang dicintaiNya, diantaranya adalah apa yang mereka katakan adalah kebaikan, tidak berhujat, tidak berolok-olok dan tidak berkata yang tidak perlu. Langkah/jalan mereka menuju kebaikan. Apa yang mereka lihat dan dengar adalah kebaikan. Apa yang mereka perbuat adalah kebaikan

Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Rasulullah saw telah bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Sesungguhnya para-wali-Ku itu dari hamba-Ku dan kesayangan-Ku dari hamba-Ku, yaitu orang-orang yang berdzikir dengan menyebut-Ku, dan Aku berdzikir dengan menyebut mereka.

Rasulullah saw telah bersabda: “Maukah kalian saya beritahu orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab: “mau wahai Rasulullah” beliau bersabda: “ yaitu orang-orang yang bila kalian melihatnya, mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Wali Allah berbagai tingkatan, tingkat tertinggi adalah seorang hamba Allah yang terpilih menjadi kekasih Allah di setiap zaman untuk membimbing manusia agar tetap di jalan yang diridhai-Nya.

Jika Kekasih Allah itu wafat maka Allah ta'ala menggantinya dengan yang lain untuk menjalankan tugas mulia tersebut, itulah yang disebut Imamnya para Wali Allah atau Imam Zaman atau Wali Zaman.

Imam Zaman yang pernah disampaikan oleh Rasulullah adalah Imam Sayyidina Ali ra.

Rasulullah bekata: "Kedudukan Ali dengan diri saya sama dengan kedudukan Harun dengan Musa; kecuali tidak ada Nabi setelah saya!" (Shahih Muslim)

Rasulullah menyampaikan setelah wafatnya beliau maka  pengganti beliau sebagai Imamnya Wali Allah atau Imam Zaman adalah Sayyidina Ali ra dan kedudukan Imam Zaman seperti  Nabi, namun kita ketahui,  paham dan yakini bahwa tiada Nabi setelah Rasulullah.

Riwayat dari Sa'ad bin Abi Waqash, Aku mendengar khutbah Rasulullah saw pada hari Jumat. Ia memegang lengan Ali dan berkhutbah dengan didahului lafaz pujian kepada Allah Swt, dan memuji-Nya. Kemudin beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, aku adalah wali bagi kalian semua". Mereka menjawab, "Benar apa yang engkau katakan wahai Rasulullah saw". Kemudian beliau mengangkat lengan Ali dan bersabda. "Orang ini adalah waliku, dan dialah yang akan meneruskan perjuangan agamaku. "Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui/meyakini Ali sebagai wali, dan aku juga merupakan orang yang akan memerangi orang yang memeranginya"

Perhatikan (bagian di atas yang dibold/cetak tebal) bahwa Rasulullah mengatakan "Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui/meyakini Ali sebagai wali" maksudnya hanya muslim yang ahlinya yang dapat mengakui/meyakini Ali sebagai wali atau imamnya para Wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang dapat memahami/meyakini pula bahwa Rasulullah adalah imamnya para Wali Allah.

Telah terjadi fitnah, perselisihan dan kesalahpahaman umat muslim tentang pemahaman riwayat yang disampaikan Sa'ad bin Abi Waqash ataupun riwayat yang semakna, mereka memahami  imamnya para Wali Allah adalah khalifah dan mengakui riwayat-riwayat seperti itu merupakan ketetapan Rasulullah untuk pengangkatan Sayyidina Ali ra sebagai khalifah.  Mereka adalah saudara-saudara muslim kita yakni kaum Syiah.

Jadi apa yang diperselisihkan umat muslim bahwa Sayyidina Abu Bakar ra ataupun Sayyidina Umar ra "merebut" kepemimpinan atau khalifah dari Imam Sayyidina Ali ra atau bahkan anggapan keji bahwa Sayyidina Abu Bakar ra ataupun Sayyidina Umar ra menghianati ketetapan Rasulullah di Ghadir Khum adalah merupakan kesalahpahaman karena sesungguhnya kepemimpinan pada wilayah yang berbeda.

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.

Khalifah adalah kepemimpinan secara umum atau secara syariat. Sedangkan Wali adalah kepemimpinan yang secara khusus yang diketahui/diyakini oleh para ahlinya atau secara hakikat.

Rasulullah tidak pernah mewasiatkan tentang khalifah dan kita sudah ketahui khalifah pertama adalah Sayyidina Abu Bakar ra, kemudian Sayyidina Umar ra, dilanjutkan  oleh Sayyidina Ustman ra dan terakhir dari para Khulafaur Rasyidin yakni Imam Sayyidina Ali ra, yang kekhalifahan bukan atas keinginan beliau namun permintaan/permohonan dari para sahabat.

Satu-satunya dari keempat Khulafaur Rasyidin yang dipanggil atau mendapat sebutan sebagai imam, hanyalah Imam Sayyidina Ali ra atau Imam Ali ra.

Ya Allah, Tuhan Kami
Kumpulkan kami di dunia dengan orang –orang yang shaleh (sholihin)  dan kumpulkan kami di akhirat dengan  para nabi,  shiddiqiin, syuhada dan sholihin.

Wassalam

Sabtu, 26 Juni 2010

Sampai kehadhirat Allah

Sampai kehadhirat Allah (Wushul)


Dalam tulisan sebelumnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/26/tips-sholat-khusyu/ telah diuraikan bahwa tujuan mendirikan sholat adalah untuk mengingat Allah , menuju (mi’raj) kepada Allah, seolah dihadapan atau berjumpa kehadhirat Allah untuk menyembahNya, sehingga kita dapat  terhubung / sampai  (wushul) kepada Allah dalam upaya kita untuk mendapatkan pertolongan Allah.

Dalam sebuah nasehat yang disampaikan oleh ulama sufi, Syaikh Ibnu Athoillah mengatakan,

“Seandainya Anda tidak dapat sampai / berjumpa kehadhirat Allah, sebelum Anda menghapuskan dosa-dosa kejahatan dan noda-noda keangkuhan yang melekat pada diri anda, tentulah anda tidak mungkin sampai kepada-Nya selamanya.

Tetapi apabila Allah menghendaki agar anda dapat berjumpa denganNya , maka Allah akan menutupi sifat-sifatmu dengan sifat-sifat Kemahasucian-Nya , kekuranganmu dengan Kemahasempurnaan-Nya.

Allah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”

Seorang hamba tidak akan bisa sampai berjumpa (wushul) kehadhirat Allah SWT, kecuali dengan jalan melebur dan menghapus sifat-sifat kemanusiaannya yang rendah (menyingkirkan sifat-sifat hawa nafsu manusianya dari dalam diri dan jiwanya) dan memutuskan hati dari segala keterkaitan dengan yang selain Allah  atau menanggalkan sifat syrik dan kemaksiatan diri dalam kehidupannya.

Hal ini, bukanlah sesuatu yang mudah dari sisi si hamba, karena hal itu merupakan sifat-sifat keniscayaan yang melekat kepadanya. Seandainya bukan karena kehendak Allah SWT, yang memberinya kemampuan untuk membersihkan diri dari sifat-sifat itu, tentu dia selamanya tidak akan bisa sampai kehadhiratnya.

Tetapi ketika Allah sudah menghendaki, tidak ada sesuatupun yang sulit bagiNya. Pertolongan Allah itu, semata-mata sebagai anugerah dari-Nya. Allah mengasihi hamba-Nya, Dia menutup atau menanggalkan dari diri hamba itu, sifat-sifat kemanusiaannya yang rendah  dengan sifat-sifat Allah Yang Maha Suci, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Syaikh Abu Abbas Al-Mursyi berkata: ‘Soerang wali tidak akan bisa sampai berjumpa ke hadhirat Allah, selama ia belum bisa memutus syahwat dan keinginannya sendiri untuk sampai kepada Allah Ta’ala”

Syaikh Abu Hasan Asy Syadzili berkata: “Seorang wali tidak akan bisa sampai berjumpa ke hadhirat Allah, selama ia masih menyertakan syahwat dan keinginannya, pengaturan dan ikhtiarnya serta masih masih terikat dengan urusannya sendiri.”

Apabila Allah  SWT. Membiarkan seorang hamba masih terbelenggu dengan nafsunya dan terikat dengan kemauannya sendiri, maka selamanya ia tidak akan bisa sampai berjumpa kehadhirat Allah SWT.

Apabila Allah Ta’ala berkehendak memberi karunia kepada hamba-Nya agar segera sampai kepadaNya, sehingga tanggallah dari dirinya ketergantungan dan keterikatan hamba itu dengan dirinya sendiri dan dengan urusan keduniaannya. Lalu Allah memunculkan dan menampakkan sifat-sifat kesucian yang menanggalkan sifat-sifat kemanusiaan yang rendah pada hamba itu dan memberinya anugerah (pertolongan) untuk bisa sampai kehadhirat-Nya.

Bila hal demikian terjadi pada seorang hamba, maka itu sebagai tanda dari sebuah anugerah besar baginya, yaitu memperoleh kecintaan Allah SWT. Sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman:

“Apabila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya (kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku”

Dengan demikian, maka hamba itu, tidak lagi memiliki pengaturan, kehendak dan pilihan melainkan pengaturan, kehendak dan pilihan Allah SWT semata. Dalam kondisi demikian, ia akan bisa sampai kehadhirat Allah SWT (wushul)  dengan anugerah (pertolongan) Allah semata, bukan atas kehendak dan amal ibadahnya sendiri.

Maha Suci Allah Yang memberikan anugerah besar kepada hamba-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Sumber: (kompilasi dari)

1. Menyelam ke Samudera Ma'rifat & Hakekat, terjemahan Al-Hikam, Syaikh Ibnu Athoillah,  Penerbit Amelia Surabaya.

2. Mutu Manikam dari kitab Al-Hikam, terjemahan Al-Hikam, Syaikh Ibnu Athoillah, Penerbit Mutiara Ilmu Surabaya

Jumat, 25 Juni 2010

Tips Sholat Khusyu'

Sholat didirikan karena Allah (Lillah) untuk mendapatkan dan merasakan kebersamaan atau kedekatan dengan Allah (Billah).  Oleh karena menginginkan selalu kebersamaan atau kedekatan dengan Allah (Billah) maka sebagian muslim, selain mendirikan sholat wajib 5 waktu menambah lagi dengan sholat-sholat sunnah dan amalan-amalan sunnah lainnya.  Kesadaran akan kebutuhan sholatlah yang membuat kita rindu,  senang dan selalu merasa butuh untuk melakukannya. Insyaallah, tulisan berikut ini akan menguraikan tips sholat khusyu'

Tips sholat khusyu'

  • Mencari tahu tentang sholat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW

  • Mengetahui tujuan mendirikan sholat dan syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan sholat.

  • Memperhatikan dan kesadaran tumakninah


Perihal awal yang utama adalah mencari tahu tentang sholat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.  Dengan mengetahui sholat seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, kita akan mendapatkan sholat yang khusyu'.

Dimana ilmu / pengetahuan tentang contoh sholat Rasulullah SAW bisa  kita peroleh ?

Sumber awal tentu adalah dari Al-Qur’an dan hadits.

Jikalau kemampuan kita terbatas untuk menggali hukum tentang sholat dari dalam Al-Qur’an dan Hadits maka kita dapat mengikuti imam yang telah mengeluarkan / menggali  hukum (istinbath)  tentang sholat dari dalam Al-Qur’an dan Hadits yang dikenal sebagai Imam Mujtahid. Tulisan tentang imam mujtahid, silahkan baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/31/imam-mujtahid/

Imam Mujtahid yang kita ketahui ada empat yakni, Imam Abu Hanifah (Madzhab Hanafi), Imam Malik bin  Anas (Madzhab Maliki), Imam Muhammad bin Idris (Madzhab Syafi’i), Imam Ahmad bin Hanbal (Madzhab Hanbali). Masa kehidupan Imam yang empat ini adalah pada masa salafush sholeh, yakni pada masa Tabi’in (orang yang berjumpa dengan Sahabat Nabi) maupun Tabi’ Tabi’in (orang yang berjumpa dengan orang telah berjumpa dengan Sahabat Nabi). Imam Empat ini diibaratkan mengumpulkan hadits-hadits, menghafalnya yang kemudian menjadikan sebagai dasar untuk mengeluarkan / menggali hukum-hukum yang kita kenal sebagai Fiqh atau fikih. Sehingga mereka pun dikenal sebagai Ulama Besar Fikih. Ikutilah salah satu dari mereka, umumnya adalah mengikuti hukum-hukum (madzhab) yang terbanyak diikuti disuatu wilayah / negara agar dapat saling mengingatkan. Untuk mengetahui sedikit riwayat tentang Imam Madzhab yang empat, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/03/madzhab-empat/

Untuk mengetahui mengapa perlunya madzhab silahkan baca tulisan pada, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/07/2010/05/07/perlunya-madzhab/

Untuk mengetahui Madzhab yang banyak diikuti di wilayah/negara kita, silahkan baca tulisan pada, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/10/riwayat-ahlussunah-wal-jamaah/

Sebelum kita mendirikan sholat,  hal yang perlu kita ketahui adalah syarat yang harus dipenuhi dan tujuan kita mendirikan sholat. Dengan mengetahui syarat dan tujuan sholatlah, insyaallah akan mendapatkan sholat yang khusyu'.

Apakah tujuan kita mendirikan sholat ?

Petunjuk Allah dalam Al –Qur’an, yang artinya

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”  (QS  Thaha 20: 14)

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat  sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS al Baqarah 2 : 153)

Tujuan mendirikan sholat adalah untuk mengingat Allah , menuju (mi’raj) kepada Allah, seolah dihadapan atau berjumpa ke hadhirat Allah untuk menyembahNya, sehingga kita dapat  terhubung / sampai  (wushul) kepada Allah dalam upaya kita untuk mendapatkan pertolongan Allah.

Nabi Muhammad Saw bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi'rajul Mu'minin,  “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.

Dalam sebuah hadist Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”

Allah berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya sembahyang (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu' yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).

Sholat adalah amal / perbuatan yang merupakan kelanjutan atau perwujudan dari syahadat (kesaksian) yang telah diucapkan atau kita janjikan.

Apakah syarat agar amal / perbuatan sholat kita dapat berhasil, dilakukan khusyu', terhubung / sampai (wushul) kepada Allah ?

Kita harus mencontoh peristiwa ketika kita pernah terhubung / sampai (wushul) kepada Allah.

Ketika kita masih bayi dalam kandungan yang bersih dan suci telah keadaan  “menemui” Allah.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7: 172)

Ketika kita masih bayi dalam kandungan tidak melakukan aktifitas inderawi secara sempurna. Dengan kata lain seorang bayi tidak makan dan tidak minum atau berbicara dengan mulut, tidak bernapas dengan hidung, tidak melihat dengan mata, tidak mendengar dengan telinga, dan tidak buang air besar atau kecil melalui anus atau kemaluan. Tetapi bayi tersebut mendapatkan semua kebutuhan jasmaninya melalui saluran plasenta yang menghubungkan antara pusar bayi dengan dinding rahim ibu.

Dalam kandungan, seorang bayi juga tidak berpikir dikarenakan fungsi otaknya belum sempurna, tetapi kemampuan ruhani bayi telah hidup sempurna.

Sayangnya setelah bayi itu tumbuh dewasa, dia tidak dapat mengingat perjalanannya ketika berada dalam kandungan rahim ibunya. Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan, agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

Jadi syarat agar dapat mendirikan sholat khusyu'  sehingga kita dapat ”menemui”, mi’raj,  terhubung (wushul) kepada Allah adalah kita harus mencontoh keadaan ketika kita masih bayi dalam kandungan yakni, bersih dan suci (fitrah),  mengistirahatkan panca indera atau aktifitas inderawi, meninggalkan ikatan hawa nafsu, mengistirahatkan apapun yang dipikirkan ,   memutuskan hati dari segala keterkaitan dengan yang selain Allah

Syarat ini diwujudkan secara amal lahiriah dalam bentuk wudhu, bersuci (thaharah) sebagai hukum syarat sholat, namun hakikat atau secara bathinnya  adalah menghapuskan dosa atau pensucian diri (tobat),  menyingkirkan sifat-sifat hawa nafsu manusianya dari dalam diri dan jiwanya, memutuskan hati dari segala keterkaitan dengan yang selain Allah atau menanggalkan sifat syirik dan kemaksiatan diri dalam hidupnya,  sebagai contoh  mendirikan sholat tidak lalai ataupun riya. Selengkapnya tentang sholat yang lalai, silahkan baca tulisan pada, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/09/mereka-lalai/

Diantara waktu wudhu saat ini dengan sholat terakhir kita ada kemungkinan secara tidak sengaja hati kita ada keterkaitan dengan selain Allah atau syirik, maka teguhkanlah kesaksian kembali dengan mengucapkan syahadat agar sholat yang akan dikerjakan diterima Allah dengan baik, karena kita  sebagai seorang muslim.  Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

"Seorang yang selesai berwudhu dengan baik lalu mengucapkan dua kalimat syahadat, maka akan terbuka baginya pintu-pintu surga yang delapan dan dia dapat memasuki pintu yang mana saja dia kehendaki". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Peneguhan kesaksian kembali sangat diperlukan agar kita sebagai muslim karena Allah memperingatkan dalam firmanNya yang artinya,

“Sungguh, bila kamu berbuat syirik, maka hapuslah amalanmu, dan sunguh kamu tergolong orang-orang yang rugi” (QS Az Zumar: 65 )

“Amalan-amalan mereka (orang-orang musyrik/kafir) adalah bagaikan debu yang diterpa oleh angin kencang di hari yang penuh badai” (QS Ibrahim: 18 )

“Siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia beramal shalih dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam ibadah kepada Tuhannya” (QS Al Kahfii: 110 )

“Dan siapa yang melakukan amal shalih, sedang dia itu mukmin, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya dan sesungguhnya Kami tuliskan bagi dia apa yang dia lakukan” (QS Al Anbiya: 94 )

“Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedang dia itu mukmin, maka Kami akan berikan kepadanya penghidupan yang baik serta Kami akan memberikan kepadanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan” (QS An Nahl: 97 )

"Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedangkan dia mukmin, maka mereka masuk surga seraya mereka diberi rizqi di dalamnya tanpa perhitungan" (QS al Mukmin : 40 )

Agar mendapatkan khusyu' dalam sholat adalah dengan memperhatikan dan kesadaran tumakninah.

Diriwayatkan dari Abu  Hurairah:

Rasulullah Saw masuk ke dalam masjid dan seseorang mengikutinya. Orang itu mengerjakan shalat kemudian menemui Nabi Saw dan mengucapkan salam. Nabi Saw membalas salamnya dan  berkata, "Kembalilah dan shalatlah karena kau belum shalat". Orang mengerjakan shalat dengan cara sebelumnya, kemudian menemui dan mengucapkan salam kepada Nabi Saw. Beliau pun kembali berkata, "Kembalilah dan shalatlah karena kau belum shalat". Hal itu terjadi tiga kali. Orang itu berkata, "Demi  Dia  yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak dapat mengerjakan shalat dengan cara yang lebih baik selain cara ini. Ajarilah aku bagaimana cara shalat". Nabi Saw bersabda, "Ketika kau berdiri untuk shalat, ucapkan takbir lalu bacalah (surah) dari Al Quran kemudian rukuklah hingga kau merasa tenang (thuma'ninah). Kemudian angkatlah kepalamu dan berdiri lurus, lalu sujudlah hingga kau merasa tenang selama sujudmu, kemudian duduklah dengan tenang, dan kerjakanlah hal yang sama dalam setiap shalatmu".  (1:724 - Shahih Al Bukhari).

Diantara gerakan dalam Sholat, berikan waktu sejenak (tinggalkan aktifitas jasmani/ jasad) agar ada kesempatan ruhNya dapat  mi'raj, bertemu dan terhubung (wushul) kepada Allah.

Sebagaimana Imam Al-Ghazali mengibaratkan gerakan dan bacaan dalam shalat itu seperti jasad, sedangkan khusyu' dan tumakninah adalah ruhnya. Masih banyak para mushallin yang ‘berjasad’ baik, bahkan sempurna tanpa cacat, namun tak memiliki ‘ruh’. Akhirnya, shalatnya hanya sebatas ritual, bukan sumber spiritual.

Selengkapnya tentang tumakninah, silahkan baca pada tulisan pada, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/09/mereka-lalai/tumakninah/

Dasar dari Tumakninah,  kita harus mengetahui dan mempunyai  kesadaran tentang RuhNya,  sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Ruh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah 32 : 9 )

Dengan melakukan sholat khusyu', InsyaAllah akan membekas yang dalam keadaan selalu mengingat Allah, sehingga waktu  diantara mendirikan  sholat  akan tercegah perbuatan keji dan mungkar dan kita termasuk orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (ulil albab).

Sebagaimana firman Allah yang artinya,

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS al Ankabut : 45)

Bagi sebagian muslim yang mendalami tasawuf, mereka mengikuti thariqah/tarekat dengan memperbanyak dzikir (wirid) terhadap Allah untuk menambah frekeunsi atau waktu untuk mengingat Allah. Sehingga, dengan pertolongan Allah, tiada waktu lagi tanpa mengingat Allah atau dengan kata lain, dengan pertolongan Allah, mencapai keadaan selalu mengingat Allah dan sebenar-benarnya bersaksi,

لا إِلَهَ إِلا اللهُ


La illa ha illallah


Wassalam

Zon di Jonggol


.


.



Berikut sebuah contoh petunjuk latihan sholat khusyu

Khusyu itu Mudah di tulis oleh Mardibros dari Sholatcenter