Tampilkan postingan dengan label suluk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suluk. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Januari 2011

Perjalanan Hidup

Dalam tulisan kami sebelumnya pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/23/jalan-yang-lurus/ ternyata ada dipahami oleh pembaca,   seolah kami menyampaikan bahwa "jalan yang lurus" adalah beragam

Mohon maaf  atas kejadian ini sehingga timbul pemahaman yang tidak sesuai dengan apa yang kami maksud. Semua itu semata-mata keterbatasan kami dalam mengungkapkan apa yang kami pahami dalam bentuk tulisan

Kami tak pernah menyampaikan atau bermaksud menyampaikan ada banyak jalan lurus.

Dalam menjalani kehidupan kita memahami agama ataupun memahami petunjukNya ada dua cara yakni,

1. Berijtihad sendiri dengan Al-Qur'an dan Hadits.
2. Mengikuti "orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat" , namun dalam mengikuti jangan secara "buta" tetaplah merujuk kepada Al-Qur'an dan Hadits.

Kami  sampaikan bahwa "orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat" itu banyak orangnya, banyak macamnya atau banyak gayanya atau banyak polanya.

Masing2 dari mereka diumpamakan membuat jalur/alur/track untuk berupaya berada pada jalan yang lurus. Berikut cuplikan tulisan kami  sebelumny
***********************
Namun “jalan yang lurus” diatasnya terdiri dari beberapa jalur/alur/track, pahamilah dari firman Allah dalam (QS Al Fatihah, [1]:7). Dalam firman tersebut Allah ta’ala menyatakan “Jalan orang-orang” , bersifat jamak atau bersifat plural (beragam). Keberagaman inilah yang disebut dengan cabang (furuiyah).

Semua hamba Allah akan berada pada “jalan yang lurus” (walaupun berbeda jalur) minimal adalah yang telah bersyahadat.
******************

Jejak pada jalur/alur/track itulah yang kita ikuti dengan berbagai kemampuan (ilmu dan amal) dan kecepatan (akhlak) yang kita bisa jalankan.

Untuk apakah kita mengikuti jejak pada jalur/alur/track yang telah dilalui "orang-orang yang telah Allah ta'ala beri ni'mat" ?

Agar masuk surgakah ?

SurgaNya bukan lah tujuan namun sebuah keniscayaan bagi “orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya”

Tujuan kita adalah untuk sampai kepadaNya

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam“. (QS Al An’aam [6]:162 )

Selengkapnya, telah kami uraikan dalam dua tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/lillahi-taala/
dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/22/perjalanan-menuju-allah/


Apa yang kita upayakan agar sampai kepada Allah ta'ala diumpamakan melakukan "perjalanan".

Dalam agama Islam ada 3 pokok utama yakni
Tentang Islam (rukun Islam/Fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin/I’tiqad), Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam)

Fiqih, Ushuluddin, I’tiqad dll yang merupakan pendalaman/pengamalan rukun Iman, dan rukun Islam adalah syariat/syarat “perjalanan”, rambu2 dan petunjuk “perjalanan”, tanpa syariat/syarat maka “perjalanan” akan tersesat.

Sedangkan Ihsan atau tasawuf adalah yang dimaksud dengan "perjalanan", "perjalanan" untuk sampai kepada Allah. Dalam tasawuf kita dapat mengenal Allah (ma'rifatullah) agar paham kemana "perjalanan" hendak dituju.

Dalam "perjalanan" akan mendapatkan suasana yang disampaikan oleh Anas Ra, Rasulullah saw berkata “….kesenanganku dijadikan dalam shalat”

Dalam "perjalanan" akan dapat memahami bahwa "syariat bukanlah beban". Silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/16/syariat-bukanlah-beban/

Dalam "perjalanan" inilah yang disampaikan oleh Imam Syafi'i rahimullah sebagai "keni'matan taqwa" atau "keni'matan perjalanan".



*********************

Nasehat/Diwan Imam Syafi'i ~ rahimullah
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?

********************



Nasehat/Diwan Imam Syafi'i seperti inilah yang seolah-olah dilenyapkan oleh sebagian saudara-saudara kita kaum Salafi/Wahabi untuk membenarkan atau mempertahankan  apa yang mereka pahami atau pemahaman mereka.

Jadi bagi pemahaman kami, sebagian ulama-ulama kaum Salafi/Wahabi seolah-olah bukannya menegakkan kebenaran namun memperturutkan hawa nafsu yakni membenarkan pemahaman mereka. Mereka menggunakan ayat-ayat untuk berdalih bukan berdalil. Wallahu a'lam

Beda berdalih dengan berdalil

“Menggunakan” ayat untuk PEMBENARAN inilah yang disebut “BERDALIH”
Menyampaikan ayat untuk menegakkan KEBENARAN inilah yang disebut “BERDALIL”

Wahai ahli-ahli syariat (fiqih, ushuluddin, i'tiqad dll) marilah kita tinggalkan perselisihan, perdebatan, saling mengejek, saling menghujat, saling merasa paling benar dan yang lainnya sesat.

"Demi Masa" (QS Al Ashr [103]:1 ) Sebaiknya kita tidak membuang waktu sehingga melupakan tujuan hidup kita sesungguhnya.

Marilah kita taati ulama-ulama yang "keulamaannya" telah disepakati jumhur ulama, bukan mengikuti ulama yang dipertanyakan/disanggah oleh jumhur ulama.
Sebaiknya tidak bangga dengan merasa asing ditengah-tengah pemahaman yang telah disepakati jumhur ulama, karena jumhur ulama sepakat dalam kebenaran.

Marilah kita berlomba-lomba menuju kepada Allah, berlarilah kepada Allah , “Fafirruu Ilallah” berlomba-loba untuk dapat seolah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.

"Seolah-olah melihat Allah" adalah bukti bahwa telah sampai kepada Allah.
Sebagai pembuktian nyata akan syahadat yang telah kita ucapkan merupakan “sidqan min qalbihi“ (betul-betul keluar dari qalbu)
Itulah hakikat dari syahadat / "kesaksian" / "menyaksikan" / "melihat" /"syahid" bahwa "tiada tuhan selain Allah"

Semoga kita semua dapat mencapai muslim yang Ihsan, muslim yang baik, muslim yang sholeh
Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

Semoga dari tulisan ini dapat kita pahami hakikat dari pemahaman Salafush Sholeh yang harus kita pahami dan kita ikuti. Sekaligus menjawab mengapa mereka dipanggil dengan "Salafush sholeh" karena mereka telah mencapai muslim yang sholeh, muslim yang ihsan.

Sebagian umat muslim yang mengaku mengikuti Salafush Sholeh, sesungguhnya baru mengikuti sebagian saja yakni tentang syariat Islam namun belum mencoba memahami /mengikuti "perjalanan" yang telah dilakukan Salafush Sholeh.

"Perjalanan" memang tidak mudah disampaikan kepada khalayak ramai karena "perjalanan" itu semata-semata kehendak Allah ta'ala. Kita paham bahwa tidak semua khalayak ramai dikehendaki oleh Allah ta'ala untuk melakukan "perjalanan" atau "kembali" kepada Allah.

"Perjalanan" harus dilakukan atas bimbingan orang per orang sebagaimana contoh Rasulullah membimbing Sayyidina Ali ra secara langsung. Inilah yang dimaksud sanad ilmu, pengijazahan tharekat, atau berguru secara langsung (tatap muka) bukan dengan cara memahami dari tulisan.

Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An Nuur [24]:35 )

…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (membimbingmu/memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282)

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Sabtu, 22 Januari 2011

Perjalanan menuju Allah

Tujuan kita melangkahkan kaki di muka bumi ciptaan Allah ta'ala adalah untuk sampai kepada Allah karena dicintai Allah atau menjadi kekasih Allah (Wali Allah)

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

Kita semua umat Islam dapat menjadi kekasih Allah dengan menjalankan segala perbuatan/ibadah "yang Allah ta'ala diamkan" yakni perbuatan/ibadah berdasarkan kesadaran sendiri dari hamba Allah atau amal kebaikan / amal sholeh atau perkara/amalan sunnah. Perbuatan/ibadah yang diharapkan timbul atas kesadaran/kemauan sendiri bagi diri hamba Allah , jika tidak timbul kesadaran tsb maka Allah ta'ala diamkan.

Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Lawan dari perbuatan/ibadah berdasarkan kesadaran sendiri adalah perbuatan/ibadah ketaatan atau yang disyaratkan sebagai hamba Allah yakni perbuatan/ibadah yang harus dikerjakan dan harus ditinggalkan yakni perkara yang hukumnya Wajib , hukumnya Haram (bentuknya batas/pelarangan dan pengharaman).

Perbuatan/ibadah ketaatan adalah yang dimaksud oleh Allah ta'ala pada hadits diatas sebagai "perkara yang Aku wajibkan"

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Tulisan lebih lanjut mengenai peta perbuatan/ibadah silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/09/peta-perbuatan-ibadah/

Salah satu perbuatan/ibadah termasuk yang "Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya" atau amal sholeh atau amal kebaikan agar kita mejadi muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muslim yang terbaik adalah zuhud

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya)

Pahami bagian yang di bold "Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu"
Allah mencintai kita maka kita menjadi kekasih Allah (wali Allah).

Seluruh perkara sunnah diluar/selain yang Allah katakan sebagai "perkara yang Aku wajibkan" pada hakikatnya jika dilaksanakan maka Allah akan mencintai kita seperti berdzikir, berdoa, sholat sunnat rawatib, tahajud, dhuha dan sholat sunnat lainya termasuk sekedar menjaga wudhu (selalu berwudhu setiap kali batal) atau bahkan menyingkirkan batu di jalan. Perbuatan/Ibadah inilah yang dilaksanakan atas kesadaran sendiri dari hamba Allah atau amal kebaikan atau amal sholeh.

Cara dan sarana menuju Allah ta'ala


Dalam agama Islam ada 3 pokok utama yakni
Tentang Islam (rukun Islam/Fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin/I'tiqad), Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam)

Tasawuf dapat dikatakan sebagai perjalanan (suluk) seorang hamba Allah menuju atau agar sampai (wushul) kepada Allah.

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

Pada hakikatnya Tasawuf (tentang Ihsan) bukanlah sebuah ilmu atau sebuah pemahaman namun sebuah amal atau perbuatan atau "perjalanan" atau dikenal dengan suluk dan "pejalan"nya disebut seorang salik.

Sedangkan Fiqih, Ushuluddin, I'tiqad dll yang merupakan pendalaman/pengamalan rukun Iman, dan rukun Islam adalah syariat/syarat "perjalanan", rambu2 dan petunjuk "perjalanan", tanpa syariat/syarat maka "perjalanan" akan tersesat atau sebagian mengatakan termasuk zindiq.

Pada hakikatnya setiap hamba Allah yang mempunyai kesadaran sendiri untuk menuju kepada Allah akan dapat memahami dan merasakan bahwa Allah ta'ala yang membimbing walaupun secara dzahir dibimbing oleh seorang/beberapa mursyid (pembimbing)

…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (membimbingmu/memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282)
"Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS An Nuur [24]:35 )

Beberapa sarana bimbingan adalah melalui mursyid , hati, mimpi, suatu kejadian/cobaan dan bentuk-bentuk lain atas kehendakNya

"Perjalanan" yang dilakukan seorang hamba Allah menuju kepada Allah sebaiknya tidak dilakukan seorang diri karena kemungkinan tersesatnya akan besar sekali dan godaan syetanpun semakin besar dan semakin halus (semakin sukar dibedakan antara kebenaran dengan kesesatan), godaaan syetan berbanding lurus dengan tingkat perjalanan yang telah dilampaui atau disebut juga dengan maqam, jadi tingkatan/pangkat syetan yang menggoda mengikuti tingkatan(maqam) salik itu sendiri.
Oleh karenanya dibutuhkan seorang/beberapa mursyid (pembimbing) yang telah mengetahui/melewati "jalan yang lurus".

Thariqat adalah jalan yang telah dilalui oleh seorang mursyid yang mengikuti jalan mursyid yang membimbing dan seterusnya dikenal sebagai sanad ilmu atau dengan pengijazahan thariqat.

"Jalan yang lurus" atau jalan orang-orang yang telah bersyahadat di atasnya ada beberapa jalur/cabang/furuiyah. Inilah yang disebut dengan thariqat atau juga untuk yang hamba Allah yang hanya mengenal tentang syariat (rukun Islam dan rukun Iman) saja disebut dengan madzhab atau manhaj.

Semua hamba Allah yang telah bersyahadat baik yang hanya mengenal tentang syariat saja (rukun Iman dan rukun Islam) maupun ditambah menjalankan Tasawuf (ihsan) adalah mereka yang berada pada jalan yang lurus menuju kepada Allah.
Pertanyaannya adalah seberapa cepat sampai kepada Allah, seberapa cepat dapat seolah-olah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati atau disebut Ihsan.

Tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka“. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Tasawuf adalah tentang akhlak , akhlak melakukan "perjalanan"
Akhlak sebagai hamba Allah terhadap Allah, akhlak sebagai hamba Allah terhadap ciptaanNya yang lain seperti alam, hewan, tumbuh2-an, dll , termasuk akhlak dengan sesama manusia apalagi akhlak dengan sesama muslim / saudara.

Tasawuf adalah tentang tazkiyatun nafs, menyucikan jiwa
Firman Allah ta’ala yang artinya: ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

Firman Allah yang artinya,
[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
(QS Shaad [38]:46-47)

Tasawuf adalah mengenal Allah (ma'rifatullah). mengenal dzatNya melalui namaNya, sifatNya dan perbuatanNya. Juga termasuk memahami seperti contoh beberapa hadits di atas, bagaimana memahami "yang Allah ta'ala diamkan", "perkara yang Aku wajibkan",beda maafNya dengan ridhoNya Contoh perbedaan silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/11/ridho-allah-taala/

Tasawuf atau perjalanan adalah perbuatan/ibadah yang termasuk atas kemauan/kesadaran sendiri atau amal kebaikan / amal sholeh atau perkara sunnah yang dicintai Allah. Tasawuf targetnya adalah menjadi muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau shiddiqin atau sufi . Semua ini hakikatnya sama.

Siapakah muslim yang ihsan ?

Firman Allah dalam (QS Lukman [31]: 1-7 )
[31:1] Alif Laam Miim
[31:2] Inilah ayat-ayat Al Quraan yang mengandung hikmat
[31:3] menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)
[31:4] (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
[31:5] Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dari ayat-ayat tersebut dapat kita pahami muhsin/muhsinin adalah,
- Seorang muslim (diwakilkan dengan mendirikan sholat, menunaikan zakat dan yakin akan akhirat) dan
- Orang-orang yang berbuat kebaikan atau orang-orang yang beramal sholeh

Berbuat kebaikan dilakukan oleh orang yang melakukan perjalanan atau orang-orang yang hanya tahu tentang rukun Iman dan rukun Islam , namun pertanyaannya adalah seberapa cepat mampu seolah-olah melihatNya atau melihat Allah ta'ala dengan hati karena inilah bukti bahwa telah sampai (wushul) kepada Allah.

Selambat-lambatnya seorang muslim mendapatkan karunia Allah untuk dapat melihat Allah adalah ketika di akhirat nanti.

Sedangkan mereka yang telah sampai kepada Allah di dunia atau mampu seolah-olah melihat Allah di dunia mereka tidak akan khawatir atau bersedih atau mereka yang merasakan kesenangan dalam shalat (sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah), seolah berjumpa dengan Allah dalam shalat, puasa, zakat dan ibadah haji. Hakikatnya adalah mereka yang benar-benar telah bersaksi (syahid/menyaksikan) tiada tuhan selain Allah.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS Yunus [10]:62 )

Semoga kita semua bisa menjadi wali-wali Allah, Shiddiqin, muslim yang ihsan, muslim yang sholeh. Sehingga kita bisa termasuk yang disholawatkan oleh seluruh muslim sampai akhir zaman.

Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,

Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

Sesuai janji Allah ta'ala maka setiap muslim yang sholeh (muhsin) atau orang-orang beriman dan beramal sholeh maka akan masuk surga tanpa di hisab,

Janji Allah swt dalam firmanNya yang artinya.

….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab." (QS Al Mu’min [40]:40 )

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124

Marilah kita berlomba-lomba menuju kepada Allah, berlarilah kepada Allah , “Fafirruu Ilallah” berlomba-loba untuk dapat seolah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.

Wassalam


Zon di Jonggol

Jumat, 14 Januari 2011

Siapakah Wali Allah

Siapakah Wali Allah itu ?

Sedikit uraian kami tentang Wali Allah,  selebihnya silahkan lakukan perjalanan (suluk) menuju (wushul) kepada Allah ta'ala sebagian ulama mengatakan larilah kembali kepada Allah, “Fafirruu Ilallah”

Dalam hadits qudsi, "Allah berfirman yang artinya: "Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya"

Tidak mengapa kalau belum sanggup meyakini adanya Wali Allah maupun Hadits Qudsi.

Hadits Qudsi memang diperuntukkan untuk muslim yang ahlinya, tidak semua muslim bisa sanggup untuk memahami dan meyakininya
Namun Hadits Qudsi tetaplah perkataan Rasulullah dan semua perkataan Rasulullah bukanlah berdasarkan hawa nafsu.

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka - untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa : Wali-wali Allah, Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Jadi jelas, wali bukanlah dari kalangan tertentu dengan penampilan tertentu. Apalagi kalau sampai ada orang yang mengaku-aku sebagai wali, itu bukanlah ciri kewalian. Seorang wali Allah akan selalu menyembunyikan kedekatan dan ketaatannya kepada Tuhan. Andaipun ia mendapatkan karamah (keluar biasaan semacam mukzizat) maka ia tidak akan menceritakan dan mengumumkannya kepada orang ramai.

As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajakrkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.

Rasulullah Saw : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah saw
“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : " Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

Kita sebagai hamba Allah dapat mencapai derajat wali Allah yakni dengan mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin.

Cara mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin melalui pendalaman dan pengamalan Tasawuf dalam Islam.  Pendalamaman dan pengamalan Tasawuf dibimbing oleh pembimbing yang disebut mursyid.  Allah ta’ala lah yang menetapkan siapa dan kapan, seorang mursyid (pembimbing) mendatangi dan membimbing ”perjalanan” (suluk) kita menuju (wushul) kepada Allah ta’ala

Hal yang terpenting tanamkan dahulu niat dan keinginan untuk menuju (wushul) kepada Allah ta’ala karena sungguh Dia lah tempat kita kembali.

Mohonkanlah kepada Allah untuk dapatkan seorang mursyid yang membimbing kita menuju (wushul) kepada Allah.

Contoh permohonan,
Ya Allah, Tuhan kami
Ampunilah dosa kami, bimbinglah kami dengan kasih sayangMu, menuju kepadaMu


Berhati-hati dengan orang yang mengaku sebagai mursyid ataupun wali, karena sebagai mursyid ataupun sebagai wali bukanlah melalui sebuah pengakuan seorang manusia atau diri sendiri namun pengakuan/penetapan Allah ta’ala semata dan Allah ta’ala mencintai mereka.

Seorang mursyid termasuk wali Allah, tentu menjalankan syariat Islam lengkap dengan amalan sunnah sehingga dicintai Allah, salah satu amalan sunah yang dijalankan agar dicintai Allah adalah zuhud di dunia.

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya)

Seorang wali Allah bukan untuk disembah
Kita mengikuti dan percaya kepada Mursyid yang merupakan Wali Allah karena mereka membimbing kita untuk mentaati Allah dan RasulNya

Ciri hamba Allah yang dicintaiNya, diantaranya adalah apa yang mereka katakan adalah kebaikan, tidak berhujat, tidak berolok-olok dan tidak berkata yang tidak perlu. Langkah/jalan mereka menuju kebaikan. Apa yang mereka lihat dan dengar adalah kebaikan. Apa yang mereka perbuat adalah kebaikan

Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Rasulullah saw telah bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Sesungguhnya para-wali-Ku itu dari hamba-Ku dan kesayangan-Ku dari hamba-Ku, yaitu orang-orang yang berdzikir dengan menyebut-Ku, dan Aku berdzikir dengan menyebut mereka.

Rasulullah saw telah bersabda: “Maukah kalian saya beritahu orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab: “mau wahai Rasulullah” beliau bersabda: “ yaitu orang-orang yang bila kalian melihatnya, mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Wali Allah berbagai tingkatan, tingkat tertinggi adalah seorang hamba Allah yang terpilih menjadi kekasih Allah di setiap zaman untuk membimbing manusia agar tetap di jalan yang diridhai-Nya.

Jika Kekasih Allah itu wafat maka Allah ta'ala menggantinya dengan yang lain untuk menjalankan tugas mulia tersebut, itulah yang disebut Imamnya para Wali Allah atau Imam Zaman atau Wali Zaman.

Imam Zaman yang pernah disampaikan oleh Rasulullah adalah Imam Sayyidina Ali ra.

Rasulullah bekata: "Kedudukan Ali dengan diri saya sama dengan kedudukan Harun dengan Musa; kecuali tidak ada Nabi setelah saya!" (Shahih Muslim)

Rasulullah menyampaikan setelah wafatnya beliau maka  pengganti beliau sebagai Imamnya Wali Allah atau Imam Zaman adalah Sayyidina Ali ra dan kedudukan Imam Zaman seperti  Nabi, namun kita ketahui,  paham dan yakini bahwa tiada Nabi setelah Rasulullah.

Riwayat dari Sa'ad bin Abi Waqash, Aku mendengar khutbah Rasulullah saw pada hari Jumat. Ia memegang lengan Ali dan berkhutbah dengan didahului lafaz pujian kepada Allah Swt, dan memuji-Nya. Kemudin beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, aku adalah wali bagi kalian semua". Mereka menjawab, "Benar apa yang engkau katakan wahai Rasulullah saw". Kemudian beliau mengangkat lengan Ali dan bersabda. "Orang ini adalah waliku, dan dialah yang akan meneruskan perjuangan agamaku. "Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui/meyakini Ali sebagai wali, dan aku juga merupakan orang yang akan memerangi orang yang memeranginya"

Perhatikan (bagian di atas yang dibold/cetak tebal) bahwa Rasulullah mengatakan "Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui/meyakini Ali sebagai wali" maksudnya hanya muslim yang ahlinya yang dapat mengakui/meyakini Ali sebagai wali atau imamnya para Wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang dapat memahami/meyakini pula bahwa Rasulullah adalah imamnya para Wali Allah.

Telah terjadi fitnah, perselisihan dan kesalahpahaman umat muslim tentang pemahaman riwayat yang disampaikan Sa'ad bin Abi Waqash ataupun riwayat yang semakna, mereka memahami  imamnya para Wali Allah adalah khalifah dan mengakui riwayat-riwayat seperti itu merupakan ketetapan Rasulullah untuk pengangkatan Sayyidina Ali ra sebagai khalifah.  Mereka adalah saudara-saudara muslim kita yakni kaum Syiah.

Jadi apa yang diperselisihkan umat muslim bahwa Sayyidina Abu Bakar ra ataupun Sayyidina Umar ra "merebut" kepemimpinan atau khalifah dari Imam Sayyidina Ali ra atau bahkan anggapan keji bahwa Sayyidina Abu Bakar ra ataupun Sayyidina Umar ra menghianati ketetapan Rasulullah di Ghadir Khum adalah merupakan kesalahpahaman karena sesungguhnya kepemimpinan pada wilayah yang berbeda.

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.

Khalifah adalah kepemimpinan secara umum atau secara syariat. Sedangkan Wali adalah kepemimpinan yang secara khusus yang diketahui/diyakini oleh para ahlinya atau secara hakikat.

Rasulullah tidak pernah mewasiatkan tentang khalifah dan kita sudah ketahui khalifah pertama adalah Sayyidina Abu Bakar ra, kemudian Sayyidina Umar ra, dilanjutkan  oleh Sayyidina Ustman ra dan terakhir dari para Khulafaur Rasyidin yakni Imam Sayyidina Ali ra, yang kekhalifahan bukan atas keinginan beliau namun permintaan/permohonan dari para sahabat.

Satu-satunya dari keempat Khulafaur Rasyidin yang dipanggil atau mendapat sebutan sebagai imam, hanyalah Imam Sayyidina Ali ra atau Imam Ali ra.

Ya Allah, Tuhan Kami
Kumpulkan kami di dunia dengan orang –orang yang shaleh (sholihin)  dan kumpulkan kami di akhirat dengan  para nabi,  shiddiqiin, syuhada dan sholihin.

Wassalam

Senin, 02 Agustus 2010

Rahasia Kehidupan (Suluk)

Bahwa sesungguhnya seseorang masuk surga bukan karena amalnya, bukan karena banyak ilmu atau pemahaman yang telah diketahui, bukan karena kepandaiannya dalam bahasa Arab atau kepandaian memahami, menterjemahkan atau mentafsirkan, bukan karena pengetahuan atau hafalan al Qur'an dan haditsnya semata. Intinya bukan karena Amal dan Ilmu semata ! atau ibaratnya semua bukan karena "aku" (maksudnya diri kita).

Semua semata-mata karena pertolongan Allah, karunia Allah, rahmat Allah, hidayah dari Allah,  petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Intinya semua karena Dia (oleh karenanya orang-orang yang mendalami tasawuf, memanggilNya atau mengingatNya dengan Huwa artinya Dia).

"...Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga:"..Dan mereka berkata:"segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.."(QS Al-A'raaf:43)

."..Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS an Nuur : 21)

Untuk itulah kita berjanji sesuai firmanNya yang artinya,
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" (QS al Fatihah : 5).

Pada saat kita mengucapkan "hanya Engkaulah yang kami sembah", pada saat itulah kita berupaya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kepada Wali Allah, Mursyid, Syaikh, Ulama, muslim yang sholeh atau mereka yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Berupaya untuk menjadi muslim yang menjalankan Ihsan (akhlak/tasawuf), muslim yang ihsan atau muhsinin yakni muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah atau minimal muslim yang yakin bahwa Allah melihat kita,  muslim yang sholeh, muslim terbaik.  Sebagaimana doa  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan doa yang selalu kita ucapkan “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin” yang artinya  “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”

Pada saat kita mengucapkan "hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan"
, pada saat itulah kita sadar bahwa upaya kita untuk taat atau untuk menjadi muslim yang sholeh  adalah semata-mata pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala,  pada saat itu pula kita menghilangkan / memfanakan "aku" (maksudnya diri kita), sehingga yang Ada hanyalah Dia.

Fana, itu secara sederhana bisa dimaknai menghilangkan pengakuan "Aku" atau ego. Sehingga tidak setitikpun rasa sombong, riya, ujub yang  timbul dari hati kita. Sehingga kita dapat mencapai puncak keikhlasan, menjadi tawadhu dan tersungkur sujud di hadapanNya.

Kita ketahui
"Keagungan adalah sarungKU dan kesombongan adalah pakaianKU. Barangsiapa merebutnya (dari AKU) maka AKU menyiksanya. (HR. Muslim)
Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia
” (HR. Muslim)

Sebagaimana yang saya sudah tuliskan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/10/kesombongan/

Fana itu dapat dimaknai mengendalikan "hawa nafsu" atau akhlak yang sadar dan mengingat Allah atau diibaratkan sebagai "mati".  "Mati" dalam keadaan syahid (bersaksi),  seolah-olah melihatNya.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya
”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)

Pakaian yang baru = Pakaian Ruhani = Akhlakul karimah = keadaan sadar (kesadaran) atau perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah.

Sebagaimana yang disampaikan ulama sufi, imam Al Qusyairi bahwa “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Wassalam

.
Wassalammualaikum Wr Wb.

.

Zon di Jonggol