Tampilkan postingan dengan label dicintai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dicintai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Januari 2011

Siapakah Wali Allah

Siapakah Wali Allah itu ?

Sedikit uraian kami tentang Wali Allah,  selebihnya silahkan lakukan perjalanan (suluk) menuju (wushul) kepada Allah ta'ala sebagian ulama mengatakan larilah kembali kepada Allah, “Fafirruu Ilallah”

Dalam hadits qudsi, "Allah berfirman yang artinya: "Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya"

Tidak mengapa kalau belum sanggup meyakini adanya Wali Allah maupun Hadits Qudsi.

Hadits Qudsi memang diperuntukkan untuk muslim yang ahlinya, tidak semua muslim bisa sanggup untuk memahami dan meyakininya
Namun Hadits Qudsi tetaplah perkataan Rasulullah dan semua perkataan Rasulullah bukanlah berdasarkan hawa nafsu.

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.

Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab : “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka - untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa : Wali-wali Allah, Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Jadi jelas, wali bukanlah dari kalangan tertentu dengan penampilan tertentu. Apalagi kalau sampai ada orang yang mengaku-aku sebagai wali, itu bukanlah ciri kewalian. Seorang wali Allah akan selalu menyembunyikan kedekatan dan ketaatannya kepada Tuhan. Andaipun ia mendapatkan karamah (keluar biasaan semacam mukzizat) maka ia tidak akan menceritakan dan mengumumkannya kepada orang ramai.

As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajakrkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa.

Rasulullah Saw : Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah saw
“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : " Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

Kita sebagai hamba Allah dapat mencapai derajat wali Allah yakni dengan mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin.

Cara mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin melalui pendalaman dan pengamalan Tasawuf dalam Islam.  Pendalamaman dan pengamalan Tasawuf dibimbing oleh pembimbing yang disebut mursyid.  Allah ta’ala lah yang menetapkan siapa dan kapan, seorang mursyid (pembimbing) mendatangi dan membimbing ”perjalanan” (suluk) kita menuju (wushul) kepada Allah ta’ala

Hal yang terpenting tanamkan dahulu niat dan keinginan untuk menuju (wushul) kepada Allah ta’ala karena sungguh Dia lah tempat kita kembali.

Mohonkanlah kepada Allah untuk dapatkan seorang mursyid yang membimbing kita menuju (wushul) kepada Allah.

Contoh permohonan,
Ya Allah, Tuhan kami
Ampunilah dosa kami, bimbinglah kami dengan kasih sayangMu, menuju kepadaMu


Berhati-hati dengan orang yang mengaku sebagai mursyid ataupun wali, karena sebagai mursyid ataupun sebagai wali bukanlah melalui sebuah pengakuan seorang manusia atau diri sendiri namun pengakuan/penetapan Allah ta’ala semata dan Allah ta’ala mencintai mereka.

Seorang mursyid termasuk wali Allah, tentu menjalankan syariat Islam lengkap dengan amalan sunnah sehingga dicintai Allah, salah satu amalan sunah yang dijalankan agar dicintai Allah adalah zuhud di dunia.

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya)

Seorang wali Allah bukan untuk disembah
Kita mengikuti dan percaya kepada Mursyid yang merupakan Wali Allah karena mereka membimbing kita untuk mentaati Allah dan RasulNya

Ciri hamba Allah yang dicintaiNya, diantaranya adalah apa yang mereka katakan adalah kebaikan, tidak berhujat, tidak berolok-olok dan tidak berkata yang tidak perlu. Langkah/jalan mereka menuju kebaikan. Apa yang mereka lihat dan dengar adalah kebaikan. Apa yang mereka perbuat adalah kebaikan

Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Rasulullah saw telah bersabda: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Sesungguhnya para-wali-Ku itu dari hamba-Ku dan kesayangan-Ku dari hamba-Ku, yaitu orang-orang yang berdzikir dengan menyebut-Ku, dan Aku berdzikir dengan menyebut mereka.

Rasulullah saw telah bersabda: “Maukah kalian saya beritahu orang yang terbaik di antara kalian?” mereka menjawab: “mau wahai Rasulullah” beliau bersabda: “ yaitu orang-orang yang bila kalian melihatnya, mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Wali Allah berbagai tingkatan, tingkat tertinggi adalah seorang hamba Allah yang terpilih menjadi kekasih Allah di setiap zaman untuk membimbing manusia agar tetap di jalan yang diridhai-Nya.

Jika Kekasih Allah itu wafat maka Allah ta'ala menggantinya dengan yang lain untuk menjalankan tugas mulia tersebut, itulah yang disebut Imamnya para Wali Allah atau Imam Zaman atau Wali Zaman.

Imam Zaman yang pernah disampaikan oleh Rasulullah adalah Imam Sayyidina Ali ra.

Rasulullah bekata: "Kedudukan Ali dengan diri saya sama dengan kedudukan Harun dengan Musa; kecuali tidak ada Nabi setelah saya!" (Shahih Muslim)

Rasulullah menyampaikan setelah wafatnya beliau maka  pengganti beliau sebagai Imamnya Wali Allah atau Imam Zaman adalah Sayyidina Ali ra dan kedudukan Imam Zaman seperti  Nabi, namun kita ketahui,  paham dan yakini bahwa tiada Nabi setelah Rasulullah.

Riwayat dari Sa'ad bin Abi Waqash, Aku mendengar khutbah Rasulullah saw pada hari Jumat. Ia memegang lengan Ali dan berkhutbah dengan didahului lafaz pujian kepada Allah Swt, dan memuji-Nya. Kemudin beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, aku adalah wali bagi kalian semua". Mereka menjawab, "Benar apa yang engkau katakan wahai Rasulullah saw". Kemudian beliau mengangkat lengan Ali dan bersabda. "Orang ini adalah waliku, dan dialah yang akan meneruskan perjuangan agamaku. "Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui/meyakini Ali sebagai wali, dan aku juga merupakan orang yang akan memerangi orang yang memeranginya"

Perhatikan (bagian di atas yang dibold/cetak tebal) bahwa Rasulullah mengatakan "Aku adalah wali bagi orang-orang yang mengakui/meyakini Ali sebagai wali" maksudnya hanya muslim yang ahlinya yang dapat mengakui/meyakini Ali sebagai wali atau imamnya para Wali Allah. Mereka adalah orang-orang yang dapat memahami/meyakini pula bahwa Rasulullah adalah imamnya para Wali Allah.

Telah terjadi fitnah, perselisihan dan kesalahpahaman umat muslim tentang pemahaman riwayat yang disampaikan Sa'ad bin Abi Waqash ataupun riwayat yang semakna, mereka memahami  imamnya para Wali Allah adalah khalifah dan mengakui riwayat-riwayat seperti itu merupakan ketetapan Rasulullah untuk pengangkatan Sayyidina Ali ra sebagai khalifah.  Mereka adalah saudara-saudara muslim kita yakni kaum Syiah.

Jadi apa yang diperselisihkan umat muslim bahwa Sayyidina Abu Bakar ra ataupun Sayyidina Umar ra "merebut" kepemimpinan atau khalifah dari Imam Sayyidina Ali ra atau bahkan anggapan keji bahwa Sayyidina Abu Bakar ra ataupun Sayyidina Umar ra menghianati ketetapan Rasulullah di Ghadir Khum adalah merupakan kesalahpahaman karena sesungguhnya kepemimpinan pada wilayah yang berbeda.

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.

Khalifah adalah kepemimpinan secara umum atau secara syariat. Sedangkan Wali adalah kepemimpinan yang secara khusus yang diketahui/diyakini oleh para ahlinya atau secara hakikat.

Rasulullah tidak pernah mewasiatkan tentang khalifah dan kita sudah ketahui khalifah pertama adalah Sayyidina Abu Bakar ra, kemudian Sayyidina Umar ra, dilanjutkan  oleh Sayyidina Ustman ra dan terakhir dari para Khulafaur Rasyidin yakni Imam Sayyidina Ali ra, yang kekhalifahan bukan atas keinginan beliau namun permintaan/permohonan dari para sahabat.

Satu-satunya dari keempat Khulafaur Rasyidin yang dipanggil atau mendapat sebutan sebagai imam, hanyalah Imam Sayyidina Ali ra atau Imam Ali ra.

Ya Allah, Tuhan Kami
Kumpulkan kami di dunia dengan orang –orang yang shaleh (sholihin)  dan kumpulkan kami di akhirat dengan  para nabi,  shiddiqiin, syuhada dan sholihin.

Wassalam

Kamis, 28 Oktober 2010

Dicintai Allah

Ketika Allah ta’ala mencintai mereka.

Allah ta'ala berfirman yang artinya,
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan\} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar". ( QS Yunus [10]:62-64 )

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:  ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya.
Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya;
Bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya”. (H.R.al-Bukhâriy)

Innallâha Ta’âla Qâla ;  Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman
ini merupakan salah satu redaksi Hadîts Qudsiy

man ‘âdâ lî waliyyan ; ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku
Terdapat variasi lafazh, diantaranya: “man âdzâ lî waliyyan” ; “man ahâna lî waliyyan faqad bârazanî bi al-Muhârabah” .
Kata “al-Waliy” diambil dari kata al-Muwâlâh , makna asalnya adalah al-Qurb (dekat) sedangkan makna asal kata “al-Mu’âdâh” ( kata benda dari kata kerja ‘âdâ ) adalah al-Bu’d (jauh);
Jadi, kata “al-Waliy” artinya orang yang dekat kepada Allah.

Dalam hadits tersebut diuraikan kriteria wali Allah yakni:
Hamba yang bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan ibadah yang telah diwajibkan/disyariatkan oleh Allah ta’ala (ibadah mahdah/ketaatan) diikuti dengan selalu menjalankan ibadah sunnah atau amal sholeh (ibadah ghairu mahdah/kebaikan) sehingga mendapatkan kecintaanNya

Bertaqarrub, mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan cara menjadi orang beriman dan  beramal sholeh

Allah ta'ala berfirman, yang artinya:
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh), mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga) (QS  Saba [34]:37 )

Tidak cukuplah menjadi orang beriman dapat dikatakan sebagai wali Allah, karena menjadi orang beriman merupakan sebuah keharusan baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa. Tentang orang-orang beriman silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Allah ta'ala berfirman, yang artinya:
“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa” (QS Ar Ra’d [13]:15 )

Tidak cukup dengan menjalankan ibadah ketaatan atau ibadah yang disyariatkan atau ibadah yang diwajibkan (ibadah mahdah) dapat menghantarkan kita menjadi wali Allah, haruslah ditambah dengan amal sholeh untuk mendapatkan keridhoan dan kecintaan Allah ta’ala

Mereka yang termasuk wali Allah adalah mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh  atas kesadaran sendiri dan atas petunjuk dan pertolongan/karunia Allah ta’ala. Tentang amal saleh silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/amal-sholeh/

Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga:”..Dan mereka berkata: “segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk..” (QS Al-A’raaf:43).

Firman Allah ta’ala:”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

Firman Allah yang artinya,
"Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik." (QS Shaad [38]:46-47)

Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.

Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi) terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.

Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.

Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.

Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Sebagaimana firman Allah yang artinya:
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An Nahl [16]:97 )

"Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan." (QS Al Ankabut [29]:7 )

Salah satu ibadah sunnah atau amal sholeh yang dijalankan oleh kaum sufi sehingga Allah ta’ala mencintai mereka adalah berlaku zuhud dan selalu mengingat Allah (dzikrullah)

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia mereka.

Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.

Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”

Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”

Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.

Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.

Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw :
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka.
Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).

Allah ta'ala juga berfirman, yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah [2]:277 )

Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka. Nabi bersabda :
اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.

Jadi, seorang Wali akan mengalami hinaan dan makian sebagaimana yang dialami oleh Para Nabi dan itu tidak akan menyurutkan langkah mereka untuk berdakwah membesarkan Nama Tuhan.

Allah ta'ala berfirman, yang artinya:
“kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali” (QS  Asy Syu-ara [26]:227 )

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih saying (QS Maryam [19]:96 )

Allah SWT berfirman:
"…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah: 54)

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian! (HR. Muslim).

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh" (QS Al Ankabut [29]:9 )

"Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An Nisaa' [4]:69 )

“Cintailah yang di bumi maka yang di langit akan mencintaimu”

Semoga Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan Kekasih-Nya di muka bumi agar kita bisa mencintai kekasih-Nya dengan demikian maka Allah SWT pasti mencintai kita.

Amin Ya Rabbal ‘Alamin

Selasa, 10 Agustus 2010

Perbaguslah hubungan dengan Allah

Perbaguslah hubungan dengan Allah

Wahai Tuhanku
Aku bukan orang yang pantas tinggal di surga-Mu
Tetapi aku juga tak sanggup di neraka-Mu
Anugerahi aku kemampuan kembali pada-Mu
Dan ampuni dosa-dosaku


Pengakuan di atas mempunyai makna bahwa kita dapat masuk surga bukan karena semata-mata amal kita namun karena anugerahNya, karuniaNya dan ampunanNya.

Kita paham bahwa seseorang tidak bisa dipastikan masuk surga walaupun ia telah melakukan amalan-amalan yang baik.[ibadahnya nampak ikhlas, dan ketaatannya demikian tinggi] dan jalan kehidupannya pantas untuk  diteladani- kecuali jika diijinkan oleh Allah, sebagai keutamaan yang diberikan kepadanya. Maka dengan keutamaan dan karunia-Nya itu ia masuk surga.

Karena amal baik yang ia lakukan tidaklah dapat dilakukan dengan mudah kecuali karena kemudahan/pertolongan dari Allah. Jika Allah  tidak memberi kemudahan / pertolongan niscaya ia tidak dapat melakukannya. Dan jika Allah tidak mengarunianya hidayah niscaya ia tidak mendapat hidayah selama-lamanya, [meskipun ia telah berupaya keras].

Hal ini sebagaimana firman Allah ta'ala:"...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki..." (QS An-Nuur:21)

Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga:"..Dan mereka berkata: "segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.." (QS Al-A'raaf:43).

Ahli ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadah mereka, memandang pengetahuan bahasa Arab mereka, memandang ilmu dan pemahaman agama mereka.

Lalu bagaimana upaya kita agar mendapatkan kemudahan atau pertolongan dari Allah ?

Perbaguslah hubungan kita dengan Allah.

Bagaiamana kita dapat melangsungkan hubungan dengan Allah ?

  1. Kenalilah Allah  (ma’rifatullah).

  2. Akhlak yang baik dihadapan Allah atau akhlakul karimah yakni keadaan sadar (kesadaran) atau perilaku secara sadar dan mengingat Allah.

  3. Berinteraksilah dengan Allah, berinteraksi  melalui firman-firmanNya, baca, pahami dan jalankanlah petunjukNya, sebagai contoh  ketahuilah dan lakukanlah apa yang Allah cintai dari hambaNya,  dan hindari apa yang Allah tidak sukai seperti,



  • - Allah mencintai muslim yang bertobat

  • - Allah mencintai muslim yang mensucikan dirinya

  • - Allah menyukai muslim yang bersih

  • - Allah menyukai muslim yang bertaqwa

  • - Allah menyukai muslim yang bertawakal kepadaNya

  • - Allah mencintai muslim yang berbuat baik.

  • - Allah mencintai muslim yang zuhud di dunia.

  • - Allah mencintai muslim yang sabar

  • - Allah mencintai muslim yang menepati janji

  • - Alah mencintai muslim yang berlaku adil

  • - Allah mencintai muslim bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min

  • - Allah mencintai muslim yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir

  • - Allah mencintai muslim yang berjihad dijalan Allah.

  • - Allah mencintai muslim yang berperang dijalan Allah dalam barisan yang teratur.

  • - Allah tidak menyukai orang-orang  yang sombong , membanggakan diri.

  • - Allah tidak menyukai orang-orang kafir

  • - Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

  • - Allah tidak menyukai orang-orang yang ingkar

  • - Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim

  • - Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

  • - Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan

  • - Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat

  • - Allah tidak menyukai orang-orang yang bergelimang dosa

  • -  Allak tidak menyukai ucapan yang buruk kecuali orang yang teraniaya.


Marilah dengan ibadah puasa Ramadhan,  kita dapat merasakan  pertemuan dengan Allah sehingga kesempatan yang baik bagi  kita untuk dapat memperbagus hubungan dengan Allah.

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari).

Bagaimana dengan puasa kita dapat merasakan pertemuan dengan Allah ?

Silahkan baca tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/05/hakikat-puasa/

Wassalam

Zon di  Jonggol, Kab Bogor, 16830