Minggu, 13 Juni 2010

Alat atau Sarana

Alat atau sarana menuju kepada Allah


Saya mengingatkan baik diri saya pribadi dan pembaca pada umumnya, sebaiknya kita tidak berpuas diri dengan ilmu, amal, kelompok, madzhab, manhaj, jama’ah minal muslimin, aliran, tarekat, harokah/pergerakan karena semua itu adalah bukan tujuan hidup kita namun semata mata alat atau sarana menuju kepada Allah.

Saya sangat sedih melihat ada muslim yang begitu bangga dan "mendebatkan" dengan kaum muslim lainnya atau "membela mati-matian" akan kaumnya bahwa menurut dia,  mereka berada pada "jalan yang lurus" atau "jalan yang benar", namun pada kenyataannya dia tidak "melakukan" atau "melanjutkan" perjalanannya. Ibaratnya dia terpaku di jalan itu dan pada hakikatnya dia masih berada pada alam dunia.

Untuk itu,  saya hadirkan blog ini,  InsyaAllah dalam rangka saling mengingatkan baik diri saya pribadi maupun para pembaca agar marilah kita "melakukan" atau "melanjutkan" perjalanan "menuju" kepada Allah, "bersaksi" sebenar-benarnya "saya bersaksi", kembali kepada Allah bahkan ada sebagian muslim mengingatkan agar kita "Fafirruu Ilallah", Larilah kembali kepada Allah !

Marilah kita hentikan saling hujat-menghujat ataupun berdebat yang tidak jelas, jangan mau diadu domba baik oleh hawa nafsu maupun oleh orang-orang yang memusuhi orang mukmin yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. jangan mau masuk dalam kancah perang pemikiran (ghazwul fikri).

Cukuplah dengan pendapat saya atau kami begini , pendapat antum begitu. Tidak lebih dari itu, karena sesungguhnya pendapat atau pemahaman adalah sekedar apa yang "dilhat" atau "disaksikan" oleh seorang muslim selama dalam "perjalanan".  Dimana bisa saja terjadi perbedaan diantara muslim, karena tergantung karunia pemahaman (al-hikmah) yang Allah kehendaki, sebagaimana Allah telah sampaikan dalam firmanNya yang artinya,
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

Saya membenci terhadap pensesatan atau pengkafiran muslim lain, yang dilakukan orang-perorang atau satu kelompok saja. Semua muslim yang sudah paham rukun Islam, rukun Iman tidak dilebihkan dan tidak dikurangi, maka InsyaAllah pada jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah Allah beri ni'mat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Semua muslim, InsyaAllah berada pada jalan yang lurus. Sedangkan yang perlu kita pahami, bagaimanakah perjalanan yang telah dan akan kita lakukan. Umat muslim yang senang menghujat, berdebat, membela mati-matian kaum atau pemahamannya adalah semata-mata membanggakan "kendaraan" atau alat atau sarana yang dia/mereka pergunakan.

Periksa, intropeksi diri maupun alat atau sarana yang kita pergunakan dalam perjalanan menuju kepada Allah. Apakah alat atau sarana tersebut mempercepat kita mencapai tujuan kepada Allah ? ataukan kita berpuas diri dengan "kecepatan" yang ada sekarang ? ataukah kita terjerembab atau terkubur pada "lubang" (dosa) ?

Beruntunglah orang-orang yang "dilipatkan perjalanannya" oleh Allah atau "ditarik" atas Kehendak Allah. Mereka adalah yang telah menyerahkan kendali (kendali perjalanan) mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Begitu juga adanya kekeliruan yang tidak disadari oleh kita pada zaman modern ini, yakni tentang ulama, pembimbing spiritual, guru.

Mereka sama sekali bukan yang berkehendak dan mereka wajib menghilangkan "keakuan" atau ego diri pribadi. "Keakuan" akan memungkinkan timbulnya sifat ujub, yakni mereka melihat pada kemampuan dan kekuasaan dirinya dalam ilmu, ketaatan dan ibadahnya,  tidak melihat pada kekuasaan dan keagungan Tuhan,  Sikap semacam ini, sangat berbahaya, tidak ada yang lebih bahaya daripada ini.! Selengkapnya tentang bahaya ujub, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/13/memandang-dosa/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/10/kesombongan/

Tugas utama/pertama bagi  ulama, pembimbing spritual, guru adalah semata-mata membantu, membimbing, mendidik, menghantarkan murid (hamba Allah)  kepada Allah, membuat murid (hamba Allah) dapat mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring, “bertemu” Allah atau “terhubung”(wushul) dengan Allah .

Sesungguhnya Allahlah yang memimpin/mengajari hambaNya, sebagaimana firmanNya yang artinya,  “…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282).

Cara membantu, membimbing, mendidik, menghantarkan murid (hamba Allah) kepada Allah adalah dengan mempersiapkan murid (hamba Allah) untuk "bertemu" Allah yakni mengajarkan pencapaian keadaan suci dan bersih baik ruhani maupun jasmani, meliputi pengetahuan dan latihan tentang Tazkiyatun Nafs, Akhlak,Hati, Pengenalan diri dan Ma'rifatullah. Selengkapnya, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/03/saya-bersaksi/

Jadi itulah sesungguhnya hakikat fungsi utama/pertama  bagi ulama, pembimbing, guru   bukan sebagai yang dikultuskan, dipuja atau bahkan ada sampai tersesat sebagai yang disembah, tempat meminta pertolongan, dll. Juga  kekeliruan seperti "menilai", memberikan "raport", menghakimi, mensesatkan bahkan mengkafirkan murid atau hambaNya.

Selengkapnya tentang pendidikan agama dan akhlak, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Setelah murid(hamba Allah) sampai pada Allah, barulah ulama, pembimbing, guru mengajarkan apa-apa yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits tanpa dicampur dengan  hawa nafsu, kepentingan (pragmatis), kreasi sendiri atau bahkan sesuatu bid'ah dalam Islam.

Dalam mengajarkan sebaiknya dalam kesadaran bahwa segala sesuatu yang diajarkan adalah semata-mata bersumber dari Allah dan berserah diri kepada Allah.

Wassalam

Zon di Jonggol

Memandang Dosa

Bagaimana Kita Memandang Dosa


Tulisan kali ini merupakan kelanjutan tulisan sebelumnya tentang kesombongan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/10/kesombongan/

Nasehat ulama sufi, Syaikh Ibnu Athoillah,

Jangan beban berat akan besarnya dosa-dosa yang telah anda lakukan, menjadikan penghalang bagi anda untuk bersangka baik kepada Allah.

Sesungguhnya apabila orang yang mengenal Tuhannya, tentu ia akan memandang kecil dosa-dosa bila dibandingkan dengan sifat-sifat Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.

Tidak ada dosa kecil, apabila Allah menghadapi anda dengan keadilan-Nya, dan tidak ada dosa besar, apabila Allah menghadapi anda dengan karunia dan kemurahan-Nya

Besarnya dosa bagi orang melakukan dosa dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu:

Pertama:

Hendaklah seorang hamba memandang dosa yang dilakukannya itu sebagai dosa besar, sehingga mendorongnya untuk segera bertobat, kembali sadar, lalu bertobat dengan tobat yang sungguh-sunguh, dengan niat tidak akan kembali melakukan dosa-dosa yang pernah dikerjakannya, dan berharap rahmat Allah terus-menerus, agar tidak tidak tergoda dan tergilincir untuk kedua kalinya ke lembah dosa. (itulah yang disebut “taubatan nasuha”).

Memandang besarnya dosa yang demikian ini adalah baik dan terpuji, dan merupakan tanda-tanda keimanannya.

Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya orang mukmin yang merasa  dosa-dosanya seperti setinggi gunung, dia kuatir kalau-kalau dosa yang besar dan tinggi itu akan jatuh dan menimpa dirinya (seperti gunung yang bisa roboh menimpa manusia di bawahnya). Sebaliknya, orang yang durhaka / pendosa, menganggap remeh dosa dan kesalahan yang pernah diperbuatnya, laksana lalat yang hinggap di ujung hidungnya, yang begitu mudah ia menghalaunya

Seorang mukmin yang merasa dosa-dosanya seperti setinggi gunung bukanlah seorang pendosa! Namun jika orang itu mengulang atau menganggap remeh dosanya maka dia menjadi durhaka / pendosa.

Kedua:

Jika pandangan akan besarnya dosa itu, akan menjatuhkannya pada putus asa dari rahmat Allah dan sikap buruk sangka (su-uzhan) kepada Allah, maka pandangan akan besarnya  dosa semacam ini, adalah tercela dan mengotori iman.



Sikap yang demikian itu, tidaklah baik dan menunjukkan akan kebodohannya terhadap sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Pemurah lagi Maha menerima tobat.

Nabi Saw bersabda:

Demi dzat yang menguasai diriku, seandainya  anda sekalian tidak pernah melakukan dosa, tentu Allah melenyapkan anda, kemudian mendatangkan kaum (menggantikan anda) yang berbuat dosa, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Allah mengampuninya

Seyognya seorang hamba tidak memandang berlebihan besar dosanya, kalau pandangan akan kebesaran dosanya itu membuatnya putus asa dari rahmat Allah dan berburuk sangka kepada Nya. Tetapi hendaklah hal-hali itu, sebagai pendorong baginya untuk segera bertobat, dan beri’tikad untuk tidak akan mengulanginya lagi.

Apabila seorang hamba merasa besar sekali dosanya terhadap Allah, setiap saat ada saja dosa yang dikerjakannya walaupun dosa-dosa yang kecil, maka perasaan seperti ini akan memperburukkan dirinya sendiri.

Sesungguhnya rahmat dan kasih saying Allah itu lebih banyak dan lebih luas dari siksa-Nya.  Sifat adil dan bijak Allah itu meliputi langit dan bumi dengan segala isinya.

Allah Swt, mengetahui tentang manusia yang ada di muka bumi ini, kemampuan ilmu dan kekuatan imannya. Sehingga tuangan rahmat dan kasih-Nya bagi yang ada di permukaan bumi ini, sangat sempurna dan sangat bijaksana. Sifat Allah Ta’ala yang pemaaf dan pengampun adalah bagian anugerah Alla Swt, kepada manusia dan semua makhluk yang ada di alam semesta.

Manusia tidak perlu berlebih-lebihan merasa dosa dan kesalahannya terhadap Allah Swt, setelah mengetahui/mengenal sifat Allah dan besarnya rahmat dan anugerah Allah kepada seisi alam ini. Tugas seorang hamba terhadap Allah Swt, karena dosa-dosa dan kesalahan yang diperbuatnya adalah kembali sadar, lalu bertobat seperti yang diuraikan sebelumnya.

Hubungan dosa dan ujub

Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi saw, bersabda:

Seandainya dosa itu tidak lebih baik bagi orang mukmin daripada ujub (merasa sombong dan membangga-banggakan amal kebaikan), tentu Allah tidak akan membiarkan orang-orang mukmin berbuat dosa selama-lamanya.”

Melalui hadits tersebut Nabi Saw, mengingatkan kepada kita bahwa adanya dosa itu sesunggunnya sebagai penghalang yang dapat mencegah timbulnya ujub !

Dimana ujub itu merupakan hijab yang paling tebal antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Karena orang yang bersikap ujub. ia melihat pada kemampuan dan kekuasaan dirinya dalam ketaatan dan ibadahnya,  tidak melihat pada kekuasaan dan keagungan Tuhan,  Sikap semacam ini, sangat berbahaya, tidak ada yang lebih bahaya daripada ini.!

Sebaliknya, dosa menyebabkan seorang menjadi takut dan cemas lalu ia berlari mendekat kepada Allah karena kesalahan dan dosanya itu.

Sikap ujub membuat sesorang (disadari atau tidak disadari) berpaling dari Allah (tidak menuju kepada Allah).

Sementara dosa, membuat seseorang menghadap dan mendekat kepadaNya. Sifat ujub, menyebabkan seseorang merasa tidak butuh dan mengandalkan kemampuan dirinya.

Sementara dosa menyebabkan seseorang merasa terhina, merendahkan diri di hadapan Ilahi. Sifat seorang hamba yang merasa terhina dan butuh kepada Allah swt, merupakan sikap seorang mukmin yang paling disukai Allah swt, sebaik-baik sikap yang membuatnya sampai kepada Allah, dan Allah pun berkenan menerimanya.

Yahya bin Mu’adz berkata: “Jika Allah menghadapi hamba-hambaNya dengan keadilanNya, maka tidak tersisa satu kebaikan pun bagi mereka. Tetapi jika mereka memperoleh kemurahan anugerah-Nya, maka tidak akan tersisa satu keburukan mereka.”

Diantara do’a Yahya bin Mu’adz ialah: “Jika Engkau berkenan mencintaiku, tentu Engkau akan mengampuni kesalahan-kesalahanku. Tetapi jika Engkau murka kepadaku, tentu Engkau tidak akan menerima kebaikan-kebaikanku”.

Pahamilah, bahwa sombong, riya, ujub dan sejenisnya akan membuat Allah murka, sehingga tidak akan menerima amal, ibadah dan kebaikan-kebaikan kita.

Kita memohon perlindungan Allah dari sifat-sifat tercela itu.

Wassalam

Zon di Jonggol

Sumber tulisan dari beberapa terjemahan “Al-Hikam”, Syaikh Ibnu Athoillah, antara lain,

  • “Menyelam ke samudera ma’rifat & hakekat”, Penerbit “Amelia”, Surabaya

  • “Mutu Manikam dari kitab Al Hikam”, Penerbit “Mutiara Ilmu”, Surabaya

Sabtu, 12 Juni 2010

Hadits Jariyah

Benarkah Allah berada di langit berdasarkan hadits shahih ?


Sumber tulisan : http://alnof.multiply.com/journal/item/145

Sebagian kawan kita yang menyatakan Allah berada di langit atau bersemayam di atas `arsy berdalil dengan sebuah hadits yang menceritakan tentang kisah seorang budak wanita yang berdialog dengan Rasul Saw.. Dalam hadits tersebut  Rasul Saw. melakukan dialog untuk mengetahui keimanan atau indikasi yang menunjukkan bahwa budak wanita yang dimaksud sudah beriman atau belum? Budak dimaksud apakah telah memenuhi persyaratan untuk bisa menjadi kafarah, berupa pembebasan seorang budak beriman bagi muslim yang melanggar perbuatan tertentu di dalam syariat atau tidak?!

Pada penghujung sebuah hadits riwayat Imam Muslim dengan sanad Mu`awiyah bin Hakam direkamkan dialog antara Rasul Saw. dengan budak seperti redaksi berikut:
Rasulullah Saw. berkata: "datangkanlah ia kesini". Kemudian  akupun mendatangkan budak wanita tersebut ke hadapaan beliau. Beliau kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah" Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia, karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim)

Secara umum jumhur umat menolak hadits ini, disebabkan karena faktor:
1. Hadits ini bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat secara naqli dan `aqli[1].
1. Diantara dalil naqli:
a. QS: An Nahl: 17
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?

b. QS: Al Syura: 11:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia
c. Banyak hadits yang menyatakan bahwa Rasul Saw. ketika menanyakan atau menguji keimanan seseorang selalu dengan menggunakan syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan syahadat Muhammad adalah utusan Allah. Hadits seperti ini mencapai kapasitas mutawatir!

2. Dalil `aqly
a. Allah mahasuci dari tempat dan bertempat pada sesuatu apapun dari makhluqNya. Allah mahasuci dari waktu dan pengaruh ruang waktu. Karena keduanya adalah milik Allah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al Razi di dalam menafsirkan firman Allah QS: Al An`am: 12:  "Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah"."
Ayat ini menjelaskan bahwa tempat dan semua yang berada pada tempat adalah milik Allah.

Dan firman Allah QS: Al An`am: 13:
"Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari."
Ayat ini menjelaskan bahwa waktu yang bergulir dan semua yang masuk ke dalam ruang waktu adalah kepunyaan Allah,
bukan sifatNya.

b. Akal manusia secara pasti dan tegas menyatakan bahwa Allah, al Khaliq pasti beda dengan makhluqNya. Bila makhluq bertempat/tidak terlepas dari tempat tertentu, maka Allah tidak bertempat tertentu. Karena Allah beda dengan makhluqNya. Bila makhluq berada atau dipengaruhi oleh dimensi waktu, sedangkan Allah tidak!

c. Allah bersifat qadim, oleh karena itu Allah tidak berada pada ruang tempat tertentu, baik sebelum diciptakan `arsy dan langit ataupun setelahnya. Apabila Allah berada di atas langit atau di atas `arsy setelah Allah menciptakan keduanya, berarti Allah memiliki sifat hadits, karena keberadaan Allah di atas langit dan `arsy telah didahului oleh ketiadaan langit dan `arsy dan Allah tidak berada di atas langit dan `arsy sebelum diciptakan keduanya. Setelah ada,  baru kemudian bersemayam diatasnya. Ini artinya kita menyifati Allah dengan sifat hadits. Sedangkan secara kaidah dinyatakan: bahwa semua yang bisa dihinggapi oleh sifat hadits adalah hadits.

2. Hadits ini merupakan hadits yang menjadi perbincangan para ulama sejak dahulu dan sampai kini, yang tidak diterima oleh sebagian orang karena bid`ah yang mereka lakonkan[2]. Para hafiz di bidang hadits dan para pakar hadits yang mu`tabar sepanjang sejarah sepakat menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, yang disebabkan oleh banyaknya versi dari hadits ini, baik secara redaksional maupun secara sanad hadits. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah sahih tapi syadz dan tidak bisa dijadikan landasan menyangkut masalah akidah!

Mari kita kaji lebih lanjut hadits yang menceritakan tentang kisah budak wanita ini secara komprehensif, komparatif dan kritis.

Perhatikanlah redaksi hadits di dalam Sahih Muslim secara lengkap:

روى عن معاوية بن الحكم السلمي قال: بينا أنا أصلي مع رسول الله صلى الله عليه و سلم إذ عطس رجل من القوم فقلت يرحمك الله فرماني القوم بأبصارهم فقلت واثكل أمياه ما شأنكم ؟ تنظرون إلي فجعلوا يضربون بأيديهم على أفخاذهم فلما رأيتهم يصمتونني لكني سكت فلما صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فبأبي هو وأمي ما رأيت معلما قبله ولا بعده أحسن تعليما منه فوالله ما كهرني ولا ضربني ولا شتمني قال إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس إنما هو التسبيح والتكبير وقراءة القرآن  أو كما قال رسول الله صلى الله عليه و سلم قلت يا رسول الله إني حديث عهد بجاهلية وقد جاء الله بالإسلام وإن منا رجالا يأتون الكهان قال فلا تأتهم قال ومنا رجال يتطيرون قال ذاك شيء يجدونه في صدورهم فلا يصدنهم (قال ابن المصباح فلا يصدنكم ) قال قلت ومنا رجال يخطون قال كان نبي من الأنبياء يخط فمن وافق خطه فذاك قال وكانت لي جارية ترعى غنما لي قبل أحد والجوانية فاطلعت ذات يوم فإذا الذيب [ الذئب ؟ ؟ ] قد ذهب بشاة من غنمها وأنا رجل من بني آدم آسف كما يأسفون لكني صككتها صكة فأتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم فعظم ذلك علي قلت يا رسول الله أفلا أعتقها ؟ قال ائتني بها فأتيته بها فقال لها أين الله ؟ قالت في السماء قال من أنا ؟ قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة

Diriwayatkan dari Mu`awiyah Bin Hakam Al Sulamiy: Ketika saya shalat bersama Rasulullah Saw. ada seorang laki-laki yang bersin, lantas saya mendo`akannya dengan mengucapkan yarhamukaLlah. Semua orang yang shalat lantas melihat kepadaku dan aku menjawab: "Celaka kedua orangtua kalian beranak kalian, ada apa kalian melihatku seperti itu?!" Kemudian mereka memukulkan tangan mereka ke paha-paha mereka. Aku tahu mereka memintaku untuk diam, maka akupun diam. Ketika telah selesai Rasul Saw. menunaikan shalat, demi ayah dan ibuku, aku tidak pernah melihat sebelum dan sesudahnya seorang guru yang lebih baik cara mendidiknya daripada Rasul saw.. Demi Allah, beliau tidak menjatuhkanku, tidak memukulku, dan juga tidak mencelaku. Beliau hanya berkata: "Sesungguhnya shalat ini tidak boleh ada perkataan manusia di dalamnya. Di dalam shalat hanyalah terdiri dari tasbih, takbir dan bacaan al Qur`an." Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul saw.. Aku kemudian menjawab: "Wahai Rasul Saw. sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang islam. Dan sesungguhnya diantara kami masih ada yang mendatangi para dukun. Beliau berkata: "Jangan datangi mereka!" Aku kemudian menjelaskan bahwa diantara kami masih ada yang melakukan tathayyur (percaya terhadap kesialan dan bersikap pesimistis). Beliau mengatakan: "Itu hanyalah sesuatu yang mereka rasakan di dalam diri mereka, maka janganlah sampai membuat mereka berpaling (Kata Ibnu Shabbah: maka janganlah membuat kalian berpaling). Kemudian ia melanjutkan penjelasan: Aku berkata: dan sesungguhnya diantara kami ada yang menulis dengan tangan mereka. Rasul Saw. berkata: dari kalangan Nabi juga ada yang menulis (khat) dengan tangan, barangsiapa yang sesuai apa yang mereka tulis, maka beruntunglah ia. Dia kemudian berkata: saya memiliki seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing di sekitar bukit Uhud dan Jawwaniyyah. Pada suatu hari aku memperhatikan ia mengembala, ketika itu seekor srigala telah memangsa seekor kambing. Aku adalah seorang anak manusia juga. Aku bersalah sebagaimana yang lain. Kemudian aku menamparnya (budak wanita) dengan sekali tamparan. Maka kemudian aku mendatangi Rasul Saw.. Rasul Saw. menganggap itu adalah suatu hal yang besar bagiku. Akupun berkata: "Apakah aku mesti membebaskannya?" Rasul  Saw. menjawab: "Datangkanlah ia kesini!". Kemudian akupun mendatangkan budak wanita tersebut ke hadapan Rasul Saw.. Rasul Saw. kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia (budak wanita) menjawab: “Di langit”, Rasul Saw. bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah”. Lalu Rasul Saw. bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia adalah seorang yang beriman” (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan beberapa hal penting kepada kita, diantaranya
1. Sekelumit pelajaran yang bisa dipetik dari hadits, diantaranya;
a. Rasul Saw. mencontohkan metode mengajar yang tauladan.
b. Hadits ini menceritakan tentang masalah membayar kafarah berupa pembebasan seorang budak yang disyaratkan mesti beriman. Rasul Saw. memastikan apakah budak yang akan dibebaskan sudah beriman?!
c. Di dalam hadits menceritakan tentang status periwayat hadits yang baru masuk islam.
d. Di dalam hadits menceritakan keadaan kaum si periwayat hadits.
e.  Di dalam hadits diceritakan cara Rasul Saw. mengetahui bahwa si budak seorang beriman atau bukan? Berdasarkan indikasi yang nampak oleh Rasul Saw..[3]

2. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim pada bab "Haram berbicara di dalam shalat". Beliau tidak meriwayatkan pada bab "iman", bab "kafarah dengan pembebasan budak beriman", dan juga bukan pada bab "pembebasan budak". Artinya hadits ini beliau kelompokkan ke dalam masalah-masalah `amaliyah, bukan bersifat masalah akidah. Karena hadits ini tidak cukup kuat untuk berdalil di dalam masalah akidah.

3. Imam Nawawi dalam menjelaskan penghujung hadits yang merupakan dialog antara Rasul Saw. dengan  budak wanita, mengatakan bahwa ulama memiliki banyak persepsi dalam memahaminya, secara ringkas ulama memahaminya dengan 2 metode;
a. Mengimani hadits sebagaimana yang disampaikan oleh Rasul Saw. tanpa mengkaji lebih jauh makna yang dimaksud dan meyakini bahwa tidak ada yang semisal dengan Allah sesuatupun serta mensucikan Allah dari segala sifat makhluq.
b. Takwil dengan makna sesuai dengan sifat yang layak bagi Allah.[4]

Berkenaan dengan hadits Muslim ini, Imam Baihaqi berkomentar di dalam kitabnya Al Asma` Wa Al Shifat[5]:

وهذا صحيح ، قد أخرجه مسلم مقطعا من حديث الأوزاعي وحجاج الصواف عن يحيى بن أبي كثير دون قصة الجارية ، وأظنه إنما تركها من الحديث لاختلاف الرواة في لفظه . وقد ذكرت في كتاب الظهار من السنن مخالفة من خالف معاوية بن الحكم في لفظ الحديث

"Hadits ini adalah shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara terpotong dari hadits yang bersumber dari Auza`ie dan Hajjaj al Shawwaf dari Yahya bin Abi Katsir tanpa menyebutkan tentang kisah budak wanita. Saya mengira ia meninggalkan kisah budak wanita tersebut karena terjadinya perbedaan riwayat pada redaksinya dan saya juga menyebutkan hadits ini pada bab zhihar di dalam kitab sunan (al kubra). Riwayat yang ada berbeda dengan riwayat para periwayat yang bertentangan dengan riwayat Muawiyah Bin Hakam dari segi redaksi hadits."

Dari pernyataan Imam Baihaqi ini dipahami secara jelas bahwa pemaparan kisah budak wanita yang merupakan bagian dari hadits[6];
1. Tidak terdapat di dalam sahih Muslim menurut versi Imam Baihaqi.
2. Bahwa kisah ini terjadi perbedaan riwayat dari segi redaksi hadits.

Penjelasan lebih lanjut dari pernyataan Imam Baihaqi;
1.       Naskah Sahih Muslim tidak sama antara satu naskah dengan naskah yang lain tentang kisah budak wanita ini. Boleh jadi Imam Muslim menarik kembali hadits ini dan merevisinya pada periode selanjutnya serta menghapusnya atau redaksi hadits yang ada tidak ditemui pada naskah Sahih Muslim yang dimiliki oleh Imam Baihaqi[7].  Sebagaimana juga dilakukan oleh imam Malik di dalam kitab Muwatha` riwayat Laits, yang tidak menyebutkan redaksi "sesungguhnya ia adalah seorang yang beriman". Samahalnya dengan Imam Bukhari yang menyebutkan potongan hadits ini pada bab af`al al `ibad, dan hanya mengambil potongan yang berhubungan dengan masalah mendo`akan orang yang bersin, tanpa mengisyaratkan sedikit pun tentang masalah "Allah berada di langit".  Imam Bukhari meringkas hadits tanpa menyebutkan sebab beliau meringkasnya. Namun beliau tidak berpegang kepada kesahihan hadits tentang budak wanita ini, karena melihat perbedaan riwayat tentang kisah ini yang menunjukkan bahwa periwayat hadits tidak kuat hafalan (dhabit) dalam periwayatan.

2. Terjadinya perbedaan riwayat antara riwayat yang bersumber dari Mu`awiyah Bin Hakam dengan riwayat yang lain. Bahkan menurut DR. Umar Abdullah Kamil terjadi perbedaan riwayat yang bersumber dari Mu`awiyah bin Hakam sendiri. Sebagaimana penjelasan berikut:

DUA RIWAYAT YANG BERSUMBER DARI MU`AWIYAH BIN HAKAM:

RIWAYAT PERTAMA[8]
Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Muslim diatas dengan menggunakan redaksi:

فقال لها: أين الله ؟ قالت: في السماء. قال: من أنا ؟ قالت: أنت رسول الله. قال: أعتقها فإنها مؤمنة

Beliau (Rasul Saw.) kemudian bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda Rasul Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia, karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim)

RIWAYAT KEDUA
أوردها الذهبى وذكر سندها الحافظ المزى من طريق سعيد بن زيد عن توبة العنبرى عن عطاء بن يسار قال حدثنى صاحب الجارية نفسه -يشير إلى معاوية بن الحكم- وذكر الحديث وفيه: ( فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده إليها وأشار إليها مستفهما: (من فى السماء؟) قالت: الله

Diriwayatkan oleh Imam Al Dzahaby dan ia menyebutkan bahwa pada sanad riwayat ini terdapat al Hafiz Al Mizziy dari jalur Sa`id bin Zaid dari Taubah al `Anbarry dari Atha` bin Yassar, ia berkata: disampaikan kepadaku oleh pemilik budak -mengisyaratkan kepada Mu`awiyah Bin Hakam-  dan menyebutkan hadits, dan di dalam hadits terdapat redaksi: kemudian Nabi Saw. menjulurkan tangannya kepadanya (budak) seraya mengisyaratkan pertanyaan, "siapa di langit?" ia menjawab: "Allah"

Untuk mengkaji lebih jauh tentang jalur-jalur hadits secara komprehensif, silahkan rujuk kitab al `Uluww, Imam Dzahaby, Kitab Tauhid, Ibnu Khuzaimah dan syarah-syarah dari kitab Al Muwatha`, Imam Malik.[9]

Sebagaimana diketahui pada riwayat ini, Rasul Saw. tidak mengatakan "dimana Allah?" dan juga tidak mengatakan "siapa yang ada di langit?", namun Rasul Saw. hanya menggunakan bahasa isyarat! Perkataan Rasul Saw dan budak wanita pada kedua riwayat merupakan pengungkapan dan redaksi dari periwayat hadits dan pemahamannya, bukan dari Rasul Saw.![10]

Sanad hadits ini insya Allah berderajat hasan. Sa`id Bin Zaid merupakan periwayat hadits yang tsiqah dan beliau merupakan salah seorang rijal Imam Muslim. Beliau juga dinyatakan tsiqah oleh: Ibnu Ma`in, Ibnu Sa`ad, Al `Ajaly dan Sulaiman Bin Harb. Imam Bukhari dan Al Darimy berkomentar tentangnya: "Ia adalah seorang yang sangat bisa dipercaya dan ia adalah seorang yang hafiz". Meskipun Yahya Bin Sa`id dan yang lainnya menyatakannya sebagai seorang periwayat yang dha`if. Oleh karena itu hadits yang diriwayatkannya tidak akan turun, kecuali kepada derajat hasan.

Pada riwayat pertama yang diriwayatkan oleh Imam Muslim terdapat Hilal Bin Ali Bin Usamah (Hilal Bin Abi Maimunah). Abu Hatim berkomentar tentangnya: "Beliau merupakan seorang syaikh yang ditulis hadits-haditsnya". Imam Nasa`i juga mengomentari: "tidak apa-apa dengannya, artinya sanad darinya adalah berderajat hasan". Sebagaimana juga diisyaratkan oleh Al Hafiz Ya`cub Bin Sofyan Al Qasawy. Al Hafiz Ibnu `Abdil Barr pun berkomentar senada dengan itu.[11]

Dari dua riwayat ini tidak bisa dielakkan bahwa terjadi idlthirab (keraguan karena banyak versi) di dalam riwayat dan tentang kepastian adanya lafaz "dimana Allah?" Beghitu juga dengan pernyataan: "berada di langit". Keduanya merupakan redaksi yang bersumber dari periwayat hadits.

Sangat perlu dipahami bahwa periwayat hadits, Mu`awiyah Bin Hakam bukanlah seorang ulama, bukan seorang fuqaha di kalangan sahabat serta jarang menyertai Rasul Saw. sehingga tidak mempelajari banyak ilmu secara lebih mendalam. Bahkan sebagaimana disebutkan di dalam riwayat hadits pada sahih Muslim di awal, "saya baru saja terlepas dari kaum jahiliyah dan masuk islam". Ketika itu beliau tidak tahu bahwa menjawab (mendo`akan) orang yang bersin dapat menyebabkan batal shalat dan berbicara dengan orang lain juga membatalkan shalat. Oleh karena itu beliau belum memahami syariat -yang di dalamnya termasuk masalah tauhid- secara lebih matang.

Tentang keadaan periwayat hadits, Muawiyah Bin Hakam ini, akan semakin jelas ketika kita melakukan komparasi dengan riwayat hadits lain, yang diriwayatkan bukan melalui jalur beliau.[12]

Selanjutnya mari kita perhatikan pemaparan Imam Baihaqi:
Ada riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Baihaqi di dalam kitab sunan kubra di dalam Bab zhihar pada sub bab "membebaskan budak yang bisu ketika mengisyaratkan bahwa dirinya telah beriman".

Riwayat ini dari jalur `Aun bin Abdullah dari Abdullah bin Uthbah dari Abu Hurairah;

عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بِجَارِيَةٍ سَوْدَاءَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَىَّ عِتْقَ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَقَالَ لَهَا :« أَيْنَ اللَّهُ؟ ». فَأَشَارَتْ إِلَى السَّمَاءِ بِإِصْبَعِهَا فَقَالَ لَهَا :« فَمَنْ أَنَا؟ ». فَأَشَارَتْ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَإِلَى السَّمَاءِ تَعْنِى : أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ ».

Dari Abi Hurairah Ra. bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw dengan seorang budak wanita yang berkulit hitam dan ia berkata kepada Nabi Saw: Wahai Rasulullah Saw., sesungguhnya saya memiliki kewajiban untuk membebaskan seorang budak beriman. Kemudian Rasul Saw. berkata kepadanya (budak wanita): "dimana Allah?" kemudian ia (budak wanita) memberi isyarat ke arah langit dengan jarinya. Rasul Saw. kemudian bertanya lagi kepadanya "dan saya siapa?" Ia kembali mengisyaratkan kepada Nabi Saw. dan selanjutnya menunjuk ke arah langit, maksudnya "engkau adalah seorang utusan Allah". Kemudian Rasulullah Saw. berkata kepada laki-laki tadi: "Bebaskanlah ia, karena ia adalah seorang yang beriman".[13]

Jika melihat kepada keumuman riwayat, ini sama dengan riwayat yang sebelumnya, menceritakan tentang kisah yang sama dan di dalam riwayat juga disebutkan bahwa ada redaksi:

فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده اليها وأشار اليها مستفهما وقال (من فى السماء) قالت: الله


Berarti dialog terjadi dengan bahasa isyarat dari kedua sisi dan redaksi yang didakwakan sebenarnya tidak ada. Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali menambahkan bahwa budak wanita ini adalah seorang yang bisu dan ia tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan ketinggian Allah Yang Maha Kamal kecuali dengan menggunakan bahasa isyarat menunjuk langit. Dialog ini dilakukan oleh Rasul Saw. karena para sahabat menyangka budak wanita sebagai seorang penyembah berhala di rumah-rumah penyembahan berhala. Rasul Saw. ingin mengetahui kebenaran prasangka mereka terhadap keyakinan sang budak, maka sang budak memberitahukan kepada mereka keyakinannya bahwa sembahannya bukanlah berhala-berhala yang ada di rumah-rumah penyembahan berhala, sebagaimana yang disangkakan terhadapnya[14]. Isyarat ini selain menujukkan bahwa budak adalah seorang yang bisu juga mengisyaratkan bahwa si budak adalah seorang non arab sebagaimana disebutkan oleh sebagian riwayat. Isyarat ke langit ini juga adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh orang awam dan mereka tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan Tuhan mereka. Jikalaupun dialog ini benar terjadi sesuai dengan redaksi pada Sahih Muslim, maka Rasul Saw. menyetujui dialog ini sebagai perwujudan metode dakwah yang menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuan akal mereka[15]

Bagaimana mungkin kita berpegang kepada riwayat yang menjadi perbincangan sepanjang sejarah ini dan realitanya menyatakan tidak adanya redaksi dari Rasul Saw. dan budak secara tegas dan pasti, seperti yang didakwakan?![16]

ANALISA RIWAYAT DARI JALUR SELAIN MU`AWIYAH BIN HAKAM YANG MENCERITAKAN KISAH YANG SAMA DENGAN MENGGUNAKAN REDAKSI  أَتَشْهَدِينَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ؟  "(APAKAH ENGKAU BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH?)"

RIWAYAT PERTAMA:
Bersumber dari periwayat Atha` bin Yassar -juga terdapat di dalam kitab Mushannaf Abdul Razzaq-:

عن ابن جريج قال: أخبرنى عطاء أن رجلا كانت له جارية فى غنم ترعاها وكانت شاة صفى- يعنى غزيرة فى غنمه تلك- فأراد أن يعطيها نبى الله صلى الله عليه وسلم فجاء السبع فانتزع ضرعها فغضب الرجل فصك وجه جاريته فجاء نبى الله صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له وذكر أنها كانت عليه رقبة مؤمنة وافية قد هم أن يجعلها إياها حين صكها، فقال له النبى صلى الله عليه وسلم: إئتنى بها! فسألها النبى صلى الله عليه وسلم: أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم. وأن محمدا عبد الله ورسوله؟ قالت: نعم. وأن الموت والبعث حق؟ قالت: نعم. وأن الجنة والنار حق؟ قالت: نعم. فلما فرغ، قال: اعتق أو أمسك!

Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku dikhabarkan oleh `Atha`, bahwasanya seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan yang dipekerjakannya untuk mengembalakan kambingnya dan kambing-kambing ini merupakan kambing pilihan - yakni dari kambingnya yang banyak itu-. Kemudian ia bermaksud memberikannya (kambing tersebut) kepada Nabi Saw.. Lalu tibalah binatang buas dan menerkam kambingnya. Si laki-laki kemudian marah dan menampar wajah budak perempuan. Si lak-laki lantas mendatangi Nabi Saw. dan menyebutkan semua yang terjadi kepada Nabi Saw.. Ia juga menyebutkan bahwa ia mesti membebaskan seorang budak yang beriman sebagai kafarah dan ia bermaksud untuk menjadikan budak ini sebagai budak yang dibebaskannya ketika ia menamparnya itu. Maka Rasul Saw. berkata kepadanya: "Datangkanlah ia kepadaku!". Rasul Saw. kemudian menanyainya (budak wanita): "Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?" Ia menjawab: "Iya". Dan "bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?" Ia menjawab: "Iya". Dan "kematian serta kebangkitan adalah sesuatu yang haq?" Ia menjawab: "Iya". Dan "surga dan neraka dalah haq?" Ia menjawab: "Iya". Ketika selesai dialog tersebut, Rasul Saw. mengatakan: "Bebaskanlah ia atau tetap bersamamu!"[17]

Ini adala riwayat dengan sanad shahih, `aliy (paling dekat) kepada `Atha` (periwayat hadits Mu`awiyah bin Hakam), sebagaimana telah diketahui!

Ini adalah riwayat ketiga tentang hadits yang menceritakan kisah budak wanita yang diriwayatkan dari jalur Atha`.

Sudah disebutkan sebelumnya bahwa dari segi redaksi, hadits diriwayatkan dengan redaksi:
1. Riwayat pertama diriwayatkan dengan redaksi: " أين الله  (dimana Allah)?".
2. Sedangkan riwayat kedua diriwayatkan dengan redaksi: فمد النبى صلى الله عليه وسلم يده إليها وأشار إليها مستفهما وقال (من فى السماء) قالت: الله (Menggunakan isyarat kepada si budak untuk bertanya, "siapa yang berada di langit?").
3. Dan riwayat ketiga dengan redaksi "أَتَشْهَدِينَ (Apakah engkau bersaksi)?".

Beghinilah kita lihat, redaksi hadits menyatakan bahwa Rasul Saw. tidak mengatakan "dimana Allah?"

Pembaca budiman cobalah perhatikan secara lebih seksama ada keraguan lagi yang ditemui pada riwayat lain tentang hadits budak perempuan ini, yang bersumber dari jalur selain periwayat Atha`. Bahkan riwayat berikut ini lebih meragukan lagi dibandingkan dengan riwayat `Atha` yang sedang kita bahas ini.

RIWAYAT KEDUA
- وَحَدَّثَنِى مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِجَارِيَةٍ لَهُ سَوْدَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَىَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَإِنْ كُنْتَ تَرَاهَا مُؤْمِنَةً أُعْتِقُهَا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَشْهَدِينَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ؟ ». قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ « أَتَشْهَدِينَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ « أَتُوقِنِينَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ؟ ». قَالَتْ: نَعَمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَعْتِقْهَا ».

Disampaikan kepadaku oleh Imam Malik: dari Syihab dari `Ubaidillah Bin Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud bahwasanya seorang laki-laki dari kalangan Anshar mendatangi Rasul Saw. ia memiliki seorang budak wanita berkulit hitam dan berkata: Wahai Rasul Saw. sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang budak beriman, jikalau engkau melihatnya beriman, maka bebaskanlah ia. Maka Rasul Saw. berkata kepadanya (budak wanita) "Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?" Ia menjawab: "Iya". Dan "apakah engkau bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?" ia menjawab: "Iya". Dan "apakah engkau meyakini adanya kebangkitan setelah kematian?! Ia menjawab: "Iya". Rasul Saw. kemudian mengatakan : "bebaskanlah ia"[18]

Dan diriwayatkan oleh Imam Abdur Razaq[19], ia berkata: saya dikhabarkan oleh Ma`mar dari Zhuhry dari Ubaidillah dari seorang laki-laki dari kaum Anshar dengan hadits ini. Dan dari jalurnya (Abdul Razaq) juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad[20], sebagaimana juga diriwayatkan oleh periwayat lain.

Adapun tentang `Ubaidillah Bin `Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud, maka beliau adalah salah seorang dari tujuh fuqaha di Madinah yang terkenal dan merupakan rijal ahli hadits yang enam juga. Selain itu, beliau termasuk seorang imam yang tsiqah. Berkata Al Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Al Taqrib tentang beliau: "Ia adalah seorang yang tsiqah, seorang faqih, diterima riwayatnya, kuat hafalannya, tidak diketahui bahwa beliau seorang yang mudallis dan riwayat beliau yang diriwayatkan dengan riwayat `an `anah bisa diterima sebagai riwayat yang bersumber dari pendengaran langsung (sama`). Dan ia benar-benar telah berkomentar tentang seorang laki-laki yang berasal dari kaum Anshar ini.

Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya:  "Sanadnya (hadits diatas) adalah sahih dan sifat jahalah (tidak dikenal) seorang sahabat yang melekat pada dirinya tidak mempengaruhi periwayatannya."

Berkata Ibnu Abdil Barr, di dalam kitabnya Al Tamhid Lima Fie Al Muwatha` Min Al Ma`anie Wa Al Asanid: "Secara zhahir haditsnya adalah hadits mursal, akan tetapi dipercayai bahwa haditsnya adalah terjadi ketersambungan riwayat (ittishal), karena adanya pertemuan `Ubaidillah dengan sekelompok sahabat.

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsami, di dalam kitab Majma` Al Zawaid: "Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para rijalnya adalah rijal yang sahih."

Jelaslah bagi kita bahwa hadits tentang kisah budak wanita di dalam kitab Sahih Muslim dan pertanyaan Nabi kepadanya, minimal merupakan riwayat yang mudltharib secara redaksional. Jikalau kita ambil dengan cara mentarjih dengan berdasarkan syahid[21] dan indikasi yang mendukungnya, maka riwayat dengan redaksi: أَتَشْهَدِينَ (apakah engkau bersaksi)?" adalah riwayat yang rajih (terkuat). Karena riwayat ini sesuai dengan akidah islam secara yakin dan merupakan hadits yang paling sahih jika di pandang dari sisi sanad.

Jika dipandang dari seluruh sisi, kita tidak boleh mengambil riwayat yang mengatakan: "dimana Allah?" berdasarkan zahir (makna yang langsung dipahami) dari lafaznya. Oleh karena itu riwayat ini ditakwil oleh para ulama, seperti Imam Nawawi, Qadhi Ibnu Al `Arabi, al Bajiy dan masih banyak selain mereka.

Imam Nawawi berkata dalam menjelaskan tentang hadits mudltharib: Hadits mudltharib adalah: hadits yang diriwayatkan dengan pelbagai redaksi yang berbeda namun berdekatan. Apabila ditarjih salah satu riwayat, maka tarjih dengan cara melihat hafalan periwayatnya atau melihat banyaknya sahabat yang meriwayatkan tentang hadits ini, atau dengan cara selain itu. Maka kemudian baru bisa dihukumi bahwa hadits tersebut adalah hadits yang rajih, sehingga tidak lagi menjadi hadits yang mudltharib. Dan idlthirab menyebabkan sebuah hadits menjadi dha`if (lemah) karena hadits menunjukkan ketidak patenan (dhabit) dalam meriwayatkan. (Idlthirab) ini kadang bisa terjadi pada sanad dan kadang bisa terjadi pada matan (redaksi)  hadits. Pada kedua keadaan, (idlthirab) bisa jadi bersumber dari satu periwayat atau dari banyak periwayat.

Al Hafidz Ibnu Daqid Al `Id di dalam kitab Al Iqtirah, memaparkan: Hadits mudltharib adalah hadits yang diriwayatkan dengan pelbagai redaksi yang berbeda-beda dan ini merupakan salah satu yang menyebabkan hadits memiliki illat menurut mereka (kalangan ahli hadits) dan menyebabkan hadits berkedudukan dha`if (lemah)

DIANTARA SYAHID YANG MEMPERKUAT HADITS DENGAN RIWAYAT أَتَشْهَدِينَ (APAKAH ENGKAU BERSAKSI)?"
Syahid adalah hadits lain yang diriwayatkan senada secara makna, namun berbeda secara redaksi. Sedangkan laki-laki yang disebutkan pada beberapa riwayat hadits yang disebutkan pada pembahasan ini semuanya dimaksudkan kepada Mu`awiyah Bin Hakam[22]

1.      Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Darimiy[23];
أخبرنا أبو الوليد الطيالسي ثنا حماد بن سلمة عن محمد بن عمرو عن أبي سلمة عن الشريد قال : أتيت النبي صلى الله عليه و سلم فقلت إن على أمي رقبة وإن عندي جارية سوداء نويبية أفتجزىء عنها قال ادع بها فقال أتشهدين أن لا إله إلا الله؟ قالت: نعم. قال: اعتقها فإنها مؤمنة!

Pada bab "Apabila seseorang mesti membebaskan seorang budak beriman"
Dikhabarkan kepada kami oleh Al Walid Al Thayalisiy bersumber dari Hamad Bin Salamah dari Muhammad Bin `Amru dari Abu Salamah dari Syarid, ia berkata: Aku mendatangi Rasul Saw. dan aku berkata bahwa saya mesti membebaskan seorang budak perempuan dan saya memiliki seorang budak perempuan berkulit hitam dari suku Nuwaibah, apakah cukup dengan membebaskannya sebagai kafarah bagiku? Rasul Saw. berkata: "Panggillah ia!"  maka Rasul saw. kemudian bertanya: "Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?" Ia menjawab: "Iya". Rasul memerintahkan: "Merdekakanlah ia, karena sesungguhnya ia adalah seorang yang beriman."

Berkata Husain Salim Asad: sanadnya hasan karena adanya periwayat hadits yang bernama Muhammad Bin `Amru.

2.      Hadist yang diriwayatkan oleh Al Thabraniy[24];

روى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: إِنَّ عَلَيَّ رَقَبَةً وَعِنْدِي جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ أَعْجَمِيَّةٌ , فَقَالَ: ائْتِنِي بِهَا, فَقَالَ:أَتَشْهَدِينَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ , قَالَ:أَتَشْهَدِينَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ, قَالَ:فأَعْتِقْهَا!

Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas bahwasanya seorang laki-laki mendatangi Rasul Saw. dan ia berkata: sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang budak beriman dan saya memiliki seorang budak berkulit hitam dari kalangan non arab. Rasul Saw. berkata: "Bawalah ia kesini!". Rasul Saw. kemudian menanyainya: "Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah? Ia berkata: "Iya". Kemudian beliau berkata: "Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah? Ia menjawab: "Iya". Rasul Saw. kemudian memerintahkan: "bebaskanlah ia!"

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Haitsamy di dalam kitabnya Majma` Al Zawaid, berkomentar:
Pada sanad hadits ada seorang periwayat yang bernama Muhammad Bin Abi Layla dan beliau adalah seorang yang jelek hafalannya, tetapi beliau sebelumnya adalah seorang yang tsiqah.

3.      Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dengan redaksi: "siapa tuhanmu?" yang juga merupakan  hadits sahih secara sanad[25];

روى عن الشريد بن السويد الثقفى، قال: قلت: يا رسول الله إن أمى أوصت أن نعتق عنها رقبة وعندى جارية سوداء، قال: ادع بها! فجاءت فقال: من ربك؟ قالت: الله، قال: من أنا؟ قالت: رسول الله. قال: أعتقها فإنها مؤمنة!

Diriwayatkan dari Syarid Bin Suwaid Al Tsaqafiy, ia berkata: aku berkata: Wahai Rasul saw., sesungguhnya ibuku telah mewasiatkan kepadaku untuk membebaskan seorang budak atas dirinya dan saya memiliki seorang budak berkulit hitam. Rasul Saw. berkata: "Panggilah ia!" Maka datanglah budak itu dan Rasul Saw. bertanya: "Siapa tuhanmu?" Ia menjawab: "Allah". Rasul Saw. bertanya lagi: "siapa saya?" Ia menjawab: "Utusan Allah." Rasul Saw. berkata: "Bebaskanlah ia, karena ia adalah seorang yang beriman."

Riwayat ini semakna dengan riwayat yang memiliki redaksi " أَتَشْهَدِينَ (apakah engkau bersaksi)?"

HADITS-HADITS INI TIDAK TERDAPAT DI DALAM KUTUB AL SITTAH
Apabila ada yang mengklaim bahwa hadits-hadits yang dijadikan rujukan dalam pembahasan ini tidak terdapat di dalam kutub al sittah (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmudzi, Sunan Abi Daud, Sunan Nasa`i, dan Sunan Ibnu Majah) sehingga tidak bisa diterima, dijadikan pedoman dan pijakan kita, apalagi dalam masalah akidah, mari kita perhatikan komentar Al Hafiz Abu Al Fadl `Abdillah Muhammad Shiddiq Al Ghumary[26]:

Bila ada yang menolak hadits dengan statement bahwa "hadits ini tidak ditemui di dalam dua kitab sahih (bukhari-Muslim), atau tidak diriwayatkan oleh kutub al sittah". Pernyataan seperti ini, akan disangka oleh orang-orang yang sedikit ilmu, bahwa setiap hadits yang tidak diriwayatkan di dalam dua kitab sahih (Bukhari-Muslim) dan juga tidak diriwayatkan di dalam kutub al sittah lainnya, adalah hadits dha`if atau maudhu`! Pernyataan ini sesungguhnya adalah statement bathil yang tidak berdasarkan kepada pijakan ilmu yang benar, akan tetapi sebagai bagian dari bid`ah yang mereka munculkan pada zaman sekarang ini. Tidak ada di dunia ini seorangpun `alim, fuqaha` mujtahid, dan para muhadits yang hafiz mensyaratkan bahwa standar kesahihan hadits harus diriwayatkan di dalam salah satu kutub sittah! Akan tetapi ulama sepakat bahwa "hadits apabila memenuhi persyaratan sahih, wajib beramal dengan hadits tersebut, baik diriwayatkan di dalam kutub sittah ataupun tidak.

STUDI KRITIS DAN ANALISA TERHADAP HADITS
Apakah pertanyaan "dimana Allah?" yang biasa digunakan untuk menanyakan tempat secara indrawi menunjukkan terhadap ketuhanan Zat yang ditanyakan?

Dengan kata lain: Apakah pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui bahwa si budak wanita seorang yang murni menyembah Allah atau menyekutukan Allah dengan sembahan lainnya? Si budak wanita -yang ditanya oleh Rasul Saw.,- adalah seorang yang telah hidup di arab dengan keyakinan penduduk yang menyektukan Allah dengan sembahan mereka berupa berhala.

Jikalau demikian, bukankah sebagian orang arab juga menyembah berhala sebagai Tuhan mereka yang berada di bumi dan mereka juga mengakui adanya Tuhan di langit?! Menilik kepada sejarah, bukankah sudah ada sebagian umat yang menyembah matahari, bulan dan bintang-bintang, dan ini telah disebutkan oleh Al Quran?! Ternyata Tuhan-tuhan mereka adalah di langit juga!

Maka pertanyaan yang disebutkan "dimana Allah?" tidak bisa diklaim untuk menunjukkan terhadap ketuhanan dan jawaban yang ada di dalam redaksi hadits "di langit" juga tidak tidak menunjukkan terhadap ketauhidan!

Maka atas dasar apa disebutkan riwayat yang syadz dan tertolak ini, bahwa Rasul Saw bersaksi terhadap keimanan budak wanita?!

Contoh-contoh dari hadits sebelumnya dan sesudahnya menguatkan bahwa yang diinginkan sebagai bukti terhadap keislaman seseorang adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Bukan persaksian bahwa Allah -sebagaimana mereka katakan- memiliki tempat, yaitu di langit! Maka pertanyaannya sebenarnya ditujukan untuk menyatakan bahwa Allah tinggi secara maknawi bukan secara indrawi, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam kitab syarah Sahih Muslim. Hal senada juga disebutkan oleh Imam Al Ghazali.[27]

AKIDAH DAN HADITS AHAD
Sesungguhnya akidah kaum muslim tidaklah dibangun, kecuali di atas keyakinan yang bersifat qath`iy (tegas) dan yaqiniy (yakin) serta tidak mungkin dibangun ditas dalil-dalil yang bersifat zhanniy. Para ulama tauhid sepakat bahwa sumber dalil-dalil pada permasalahan akidah harus bersifat qath`iy (tegas) dan yaqiniy (yakin), baik diambil dari dalil naqli maupun dalil aqly.

Zhan sebagaiman diketahui adalah segala sesuatu yang secara umum adalah benar, akan tetapi ada potensi terdapatnya kesalahan. Jikalau hadits Ahad termasuk ke dalam kategori zhanniyyat (dalil-dalil yang bersifat zhanny), maka tidak bisa berdalil dengannya dalam masalah akidah, sebagaimana dijelaskan pada beberapa statement berikut:

1. Berkata Al Hafiz Al Khatib Al Baghdady, di dalam kitab Al Faqih wa Al Mutafaqqih: Dan apabila seorang, yang bisa dipercaya, yang tsiqah meriwayatkan sebuah khabar yang bersambung sanadnya, bisa ditolak periwayatannya dengan beberapa perkara; salah satunya, apabila riwayatnya bertentangan dengan dalil `aqli (hukum akal), maka bisa langsung diketahui bahwa riwayat tersebut adalah bathil!

2. Berkata Imam Nawawi di dalam Syarah Sahih Muslim:
Sebagian ahli hadits berpendapat bahwa hadits Ahad di dalam Shahih Bukhari dan Sahih Muslim bisa menghasilkan ilmu, bedahalnya dengan riwayat selainnya (Bukhari-Muslim) terhadap hadits-hadits ahad. Kami telah menyebutkan masalah ini sebelumnya dan kami juga membatalkan pendapat ini, pada beberapa sub bab. Kemudian (Imam Nawawi) berkomentar -setelah beberapa baris-: dan adapun yang berkata: khabar Ahad menghasilkan ilmu, maka ini adalah mengabaikan fungsi indra manusia, bagaimana mungkin menghasilkan ilmu, sedangkan kemungkinan salah, waham, bohong dan selainnya sangat mungkin disematkan kepadanya. Wallahu a`lam.

KETERANGAN SECARA JELAS PARA IMAM, HUFAZH DAN PAKAR HADITS TERHADAP STATUS HADITS YANG MENCERITAKAN KISAH BUDAK WANITA INI SEBAGAI HADITS MUDLTHARIB

1.      Imam Baihaqi
Sebagaimana telah disebutkan di awal kajian, Imam Baihaqi menyatakan: Hadits ini adalah shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim secara terpotong dari hadits yang bersumber dari Auza`ie dan Hajjaj al Shawwaf dari Yahya bin Abi Katsir tanpa menyebutkan tentang kisah budak wanita. Saya mengira ia meninggalkan kisah budak wanita tersebut karena terjadinya perbedaan riwayat pada redaksinya dan saya juga menyebutkan hadits ini pada bab zhihar di dalam kitab sunan (al kubra). Riwayat yang ada berbeda dengan riwayat para periwayat yang bertentangan dengan riwayat Muawiyah Bin Hakam dari segi redaksi hadits.  Imam Baihaqi juga menyebutkan secara terang dan jelas bahwa hadits ini bukan merupakan bagian dari hadits Sahih Muslim.

Dari sisi lain yang sangat penting diperhatikan, Imam Baihaqi menyebutkan secara terang bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, maksudnya terjadi perbedaan para periwayat hadits dari segi redaksional hadits. Jikalaupun diterima riwayat Imam Muslim, maka hadits ini adalah hadits mudltharib, tanpa diragukan dibimbangkan lagi, sebagaimana telah kita tetapkan pada bagian-bagian sebelumnya ketika mengkaji jalur hadits.

Dari sisi ketiga, hadits tentang kisah budak wanita ini juga tidak disebutkan oleh Imam Muslim pada bab pembebasan budak, juga bukan pada bab sumpah dan nazar. Ini merupakan penguat pernyataan Imam Baihaqi dan selain beliau.

2.      Imam Al Hafiz al Bazzar,  di dalam kitab Kasyfu Al Astar:
Imam al Bazzar juga menyatakan dengan terang bahwa hadits ini adalah hadits yang mudltharib di dalam kitab musnad beliau. Beliau berkata setelah meriwayatkan hadits dari salah satu jalur dari pada jalur-jalur yang ada: "Dan hadits ini juga diriwayatkan semisal dengannya dengan redaksi yang berbeda-beda".

3.      Al Hafiz Ibnu Hajar :
Ibnu Hajar di Dalam kitab Al Talkhis Al Habir, menyatakan secara jelas dan terang bahwa hadits ini adalah hadits yang mudltharib dan beliau berkomentar: "Dan pada lafaz hadits terjadi perbedaan yang sangat banyak".

Ibnu Hajar di dalam kitab Fath Al Bari, juga menyebutkan secara jelas bahwa tidak boleh meyakini  "dimana" kepada Zat Allah dan tidak diamalkan hadits ini, meskipun sanadnya sahih menurut beliau, akan tetapi ini disebabkan karena idlthirab pada hadits! Karena idlthirab pada hadits menyebabkan sebuah hadits berkedudukan dha`if, meskipun sanadnya sahih. Oleh karen itu Al Hafiz berkomentar: Sesungguhnya pengetahun akal terhadap rahasia-rahasia Ilahi sangatlah terbatas, tidak mungkin dihukumi Allah dengan pertanyaan "kenapa" dan "bagaimana?" Sebagaimana juga tidak bisa diajukan pertanyaan "dimana" dan "dalam kondisi apa?"

Oleh karena itu pernyataan Allah berada di langit atau di atas `arsy adalah konsekuensi dari pertanyaan "dimana?" dan "bagaimana?", meskipun tidak menyebutkan secara jelas pertanyaan tersebut! Meskipun pernyataan Allah berada di langit atau di atas `arsy dikunci dengan pernyataan "jangan fikirkan bagaimana Allah berada di langit atau di atas `arsy", ini tidak menafikan mereka menisbahkan sifat makhluq kepada Al Khaliq, yaitu keduanya sama-sama berada pada suatu tempat!

Ketika anda menyatakan bahwa Allah berada di atas `arsy atau di atas langit itu artinya anda sudah duluan menentukan kaifiyah terhadap Allah dengan menetapkan langit atau `arsy sebagai tempat Allah berada. Ketika ini disampaikan kepada orang lain maka anda sudah membuat orang berfikir. Ketika anda sudah dahuluan memikirkan zat Allah dan membuat orang berfikir kemudian anda melarang orang memikirkan tentang kaifiah zat Allah! Justru pemikiran anda yang seperti ini sangat sulit dipahami oleh orang lain, karena kontradiktif secara akal!

Maka dengan pernyataan-pernyataan para ulama hadits seperti disebutkan, kita bisa meyakini seyakin-yakinnya dan tidak diragukan lagi terhadap status dan kedudukan hadits tentang budak wanita yang mudltharib, yang dipandang  berdasarkan kaidah ilmu hadits (ilmu Mushtalah Hadits) yang juga diperkuat oleh keterangan secara jelas para ahli hadits  dari dulu sampai sekarang. Oleh karena itu tidak mungkin lafaz hadits dijadikan `Illat (pijakan). Sebagaimana juga dijelaskan bahwa hadist yang diriwayatkan dengan redaksi "apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?" adalah merupakan riwayat yang paling sahih.

Jikalau seandainya dilakukan tarjih, diantara riwayat-riwayat yang ada, maka riwayat yang paling rajih- tidak diragukan lagi- adalah riwayat dengan redaksi  "apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?"

Karena riwayat ini merupakan riwayat yang paling sahih dan yang bisa diyakini sesuai dengan apa yang selalu dilakukan oleh Nabi Saw.. Jikalau kita telisik kembali lembaran sejarah Nabi Saw. akan kita temui  bahwa beliau selalu menyuruh seseorang yang masuk islam atau menanyakan keimanan seseorang dengan syahadatain (dua syahadat). Kisah-kisah seperti ini telah diriwayatkan kepada kita secara mutawatir bahwa beliau menyuruh manusia, memerangi mereka dan menguji keimanan mereka dengan syahadatain (dua syahadat). Oleh karena itu maka riwayat "dimana Allah?" merupakan riwayat syadz yang diingkari.

HADITS-HADITS NABI SAW. YANG MENYATAKAN BUKTI KEISLAMAN SESEORANG, DENGAN "BERSAKSI BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH", BUKAN MENANYAKAN "DIMANA ALLAH?"

1.      Hadits riwayat Bukhari[28]
روى البخارى عن ابن عمر أن النبى صلى الله عليه وسلم  قال لابن الصياد: ( أتشهد أني رسول الله )؟

Diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Ibnu `Umar, bahwasanya Nabi Saw., berkata kepada Ibnu Shayyad: Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?

2.      Hadits Bukhari – Muslim[29]

عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليع وسلم قال: أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

Dari Ibnu `Umar bahwasanya Rasul Saw. bersabda: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!

Setelah menyebutkan hadits ini, Imam Suyuthi berkomentar: hadits ini adalah hadits mutawatir[30]

3.      Hadits Sahih Muslim[31]

عن ابن عباس أن معاذا قال بعثني رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله

Dari Ibnu `Abbas bahwasanya Mu`adz berkata: Aku diutus oleh Rasul Saw. , beliau berkata: sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum dari golongan ahlul kitab. Maka serulah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah.

4.      Hadits Sahih Muslim[32]
روى أن رسول الله أبا هريرة نعليه، قال: يا أبا هريرة اذهب بنعلي هاتين فمن لقيت من وراء هذا الحائط يشهد أن لا إله إلا الله مستيقنا بها قلبه فبشره بالجنة.

Diriwayatkan dari Rasul Saw. Wahai Abu Hurairah pergilah engkau dengan membawa kedua sandalku ini, siapapun yang engkau temui di balik kebun ini yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan meyakini (syahadat itu) di hati mereka, maka kabarkanlah mereka dengan surga!

5.      Hadits Sahih Muslim[33]

حديث عتبان بن مالك قال إن جماعة من الصحابة أحبوا أن يدعو النبى صلى الله عليه وسلم على مالك ابن دخشم ليهلك  فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أليس يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله ؟ قالوا إنه يقول ذلك وما هو في قلبه. قال لا يشهد أحد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله فيدخل النار أو تطعمه قال أنس فأعجبني هذا الحديث فقلت لابني اكتبه فكتبه

Hadits `Itban bin Malik, ia berkata: Sesungguhnya sekelompok sahabat Rasul Saw. berharap agar Rasul Saw. mendoakan Malik Bin Dukhsyum celaka. Rasul Saw. menjawab: Bukankah ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah? Mereka menjawab: sesungguhnya ia mengatakan itu hanyalah di lisan saja dan ia tidak meyakini di hatinya. Rasul Saw. bersabda: Tidak ada seorangpun yang besaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah akan masuk neraka dan dimakan oleh neraka. Anas berkata: Hadits ini mengagumkanku, maka aku berkata kepada anakku: Tulislah hadits ini! Maka ia pun menulisnya.

Inilah sekelumit pemaparan hadits dan selain hadits-hadits ini sangat banyak sekali -bahkan sampai derajat mutawatir- semuanya menguatkan kita untuk merajihkan riwayat hadits dengan redaksi: اتشهدين أن لا إله إلا الله (apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah)?. Disamping hadits ini merupakan hadist yang paling sahih sanadnya.

KESIMPULAN
Dari pemaparan tentang hadits budak wanita yang dibebaskan Rasul Saw. ini kita ketahui bahwa:
1. Hadits yang diriwayatkan dengan redaksi: اتشهدين أن لا إله إلا الله (apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah)? Adalah hadits yang paling sahih secara sanad dan paling kuat pegangan untuk beramal dengannya, terutama dalam masalah akidah.
2. Hadits Sahih Muslim dengan redaksi pertanyaan Rasul Saw: أين الله؟  (dimana Allah)? dan jawaban budak wanita: فى السماء  adalah hadits mudltharib -sebagaimana diakui oleh para imam dan pakar hadits- yang tidak sah dijadikan pijakan di dalam masalah akidah. Pertanyaan Rasul Saw. dan jawaban budak yang selalu dijadikan pegangan dalil, bisa diyakini  bukanlah bersumber dari Rasul Saw. dan budak wanita, akan tetapi bersumber dari periwayat hadits.
3. Tidak dijadikannya Hadits Sahih Muslim sebagai landasan berdalil dikuatkan oleh; bahwa hadits ini bertentangan dengan dalil yang qath`iy (tegas) dan yaqini (yakin), baik itu secara naqli maupun secara `aqli serta bertentangan dengan ijma` kaum muslimin dari dulu sampai sekarang bahwa Allah berbeda dengan makhluqNya dan Allah tidak bertempat/butuh kepada tempat layaknya makhluq.

Oleh karena itu maka keyakinan bahwa Allah berada di langit tidak bersandarkan kepada dalil yang sahih dan kuat. Adapun orang awam dan anak-anak yang biasa mengatakan/mengisyaratkan bahwa Allah berada di langit tidaklah bisa dijadikan pijakan dalil, karena hanya itulah kemampuan mereka untuk menunjukkan wujud Allah. Orang awam atau anak-anak kecil ketika mengucapkan/mengisyaratkkan hal tersebut sangat ditoleransi oleh syariat, tidak dianggap bid`ah apalagi kafir, akan tetapi dipahami perkataan mereka dengan makna majaz, bahwa maksud mereka adalah ketinggian Allah Yang Maha Kamal tidak sama dengan semua makhluq! Apakah mungkin orang-orang yang berilmu akan berdalil dengan perbuatan orang awam dan anak-anak?! Beghitu juga halnya bahwa ketika kita berdo`a dengan menengadahkan tangan ke langit, bukan berarti Allah berada di langit, tapi karena langit adalah kiblatnya do`a, sebagaimana Ka`bah adalah kiblatnya shalat!

Kepada sahabat-sahabat yang berpegang teguh dengan hadits tentang budak wanita yang diriwayatkan di dalam sahih Muslim ini saya ajak untuk tidak fanatis dengan doktrinan sepihak. Bukalah fikiran sejernih-jernihnya dan lapangkanlah hati untuk menerima dan menganalisa ilmu yang diperoleh oleh orang lain. Saya yakin bahwa tidak ada yang ma`shum, selain Rasulullah Saw.. Kenapa tidak mencoba mengkritisi apa yang disampaikan oleh guru kita dan mencoba menanyakan akal,  apakah masih netral dan objektif?

Kita selalu mendakwa bahwa al haq (kebenaran) lebih didahulukan daripada figuritas seseorang! Jikalau benar demikian, bukankah kebenaran tidak hanya dimonopoli oleh guru-guru yang semanhaj dengan kita?! Jikalau kita mengaku bahwa kita adalah orang yang kuat berpegang dengan al Qur`an dan sunnah -jikalau benar demikian-, adalah tidak layak bila mengambil secara parsial atau tidak mengkaji secara detail kesahihan nash syariat yang kita terima? Generasi salaf itu sangat banyak, maka adalah sangat aib bila kita memilah dan memilih salaf yang kita pedomani dengan mengabaikan salaf yang lain! Sahabat tidak mesti menerima orang lain, tapi tidak bijak bila menolak analisa orang lain, hanya karena alasan berbeda dengan apa yang diyakini!

Jikalau sahabat selalu mendakwa bahwa pemahaman sahabat adalah pemahaman generasi salaf, sekali-kali bertanyalah kepada diri sahabat, apakah benar pemahaman generasi salaf seperti yang saya pahami dan seperti yang saya aplikasikan?! Jikalau generasi salaf merupakan orang yang tunduk kepada kebenaran dan sangat tawadhu`, kenapa kita tunduk kepada guru doktrinan guru saja dan terlalu sulit menerima orang lain yang beda manhaj?! Jikalau generasi salaf sangat mendahulukan husnuzhan kepada saudaranya, kenapa kita justru mendahulukan su`u zhan kepada saudara kita yang sama-sama muslim?!

Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa kita sama-sama bermaksud untuk menetapkan segala sifat kesempurnaan bagi Allah dan menafikan segala sifat yang menunjukkan kekurangan, aib dan kelemahan.
Wallahu a`lam

Ya Allah berikanlah kepada kami cahaya kebenaran dan mudahkanlah kami untuk istiqomah dengan kebenaran serta hilangkan sikap fanatisme buta dari diri kami sampai akhir hayat kami. Amiin

Referensi dan rujukan kajian :
1. Al Qur`an Al Karim
2. Kitab-kitab hadits dan sunan
3. DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009
4. Abu Hamid Al Ghazali, Al Iqtishad Fie Al I`tiqad, Dar Al Bashair, Kairo, cet. ke I, 2009, editing dan komentar: DR. Musthafa `Imran.
5. Abu Hamid Al Ghazaly, Iljam Al `Awwam `An Ilmi Al Kalam, Al Maktabah Al Azhariyyah li al Turats, Kairo.
6. Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, 2010, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
7. Taqiyyuddin Al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
8. Taqiyyuddin Abi Bakar Al Hishniy Al Dimasqiy, Daf`u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary, 2010.
9. `Abdurrahman Abi Al Hasan Al Jauziy, Daf`u Syubhat al Tasybih, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary, 2010.
10. Muhammad Zahid Al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, 2010, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
11. Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin Al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.
12. Al Hafiz Abu al Fadl `Abdillah Muhammad Shiddiq Al Ghumary, Nihayat Al Amal Fie Shihati Wa Syarh Hadits `Ardl Al A`mal, Maktabah al Qahirah, Kairo, 2006.
13. DR. Thaha Al Dusuqiy Hibisyi, Al Janib Al Ilahy Fie Fikri Al Imam Al Ghazali, Fak. Ushuluddin Al Azhar University, Kairo, 2010.
14. DR. Muhyiddin Al Shafi, Muhadharat Fie Al `Aqidah Al Islamiyyah Qism Al Ilahiyyat, Maktabah Iman dan Maktabah Al Jami`ah Al Azhariyyah, Kairo, cet. ke II, 2010
15. DR. Manshur Muhammad Muhammad `Uwais, Ibnu Taimiyyah Laisa Salafiyyan, Dar Al Nahdah Al `Arabiyyah, Kairo, cet. ke I, 2010.
16. DR. Muhammad Abdil Fadhil Al Qushy, Hawamisy ` Ala Al `Aqidah Al Nizhamiyyah Li Al Imam Al Haramain, Maktabah Iman, Kairo, cet. ke II, 2006.
17. DR. Ahmad `Umar Hasyim, Qawaid Ushul Al Hadits, Fak. Ushuluddin Al Azhar University, Kairo

Endnote:
[1] Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. Editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[2] Taqiyuddin Al Subky Al Kabir, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary

[3] Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[4] Imam Nawawi, Syarah Sahih Muslim, Dar Al Hadits, Kairo, cet. ke IV, 2001, Vol. III, Hal.:30 , Editing, takhrij dan indeks: `Isham Al Shababithy, dkk.

[5] Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 391. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[6]  DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:338

[7]  Muhammad Zahid Al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Imam Baihaqi, Al Asma` Wa Al Shifat, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, 2010, hal.:392. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[8]  DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:338 dan setelahnya.

[9] Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. Tahqiq: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[10] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:339.

[11] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:339

[12] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:340.

[13] Imam Baihaqi, Sunan Kubra, hadits no. : 15045

[14] Lihat juga: Abu Hamid Al Ghazali, Al Iqtishad Fie Al I`tiqad, Dar Al Bashair, Kairo, cet. ke I, 2009, Hal.: 245, editing dan komentar: DR. Musthafa `Imran.

[15]  Lihat: DR. Thaha Al Dusuqiy Hibisyi, Al Janib Al Ilahy Fie Fikri Al Imam Al Ghazali ` Ardl Wa Al Tahlil, Fak. Ushuluddin Al Azhar University, Kairo, 2010, hal.: 103. Dan lihat juga:  DR. Muhyiddin Al Shafi, Muhadharat Fie Al `Aqidah Al Islamiyyah Qism Al Ilahiyyat, Maktabah Iman dan Maktabah Al Jami`ah Al Azhariyyah, Kairo, cet. ke II, 2010, Hal.: 79

[16] DR. Umar Abdullah Kamil, Qadhaya `Aqaid Al Mu`Ashirah -Al Inshaf Fie Maa Utsira Haula Al Khilaf, Al Wabill Al Shayyib, Kairo, cet. ke I, 2009, hal.:340.

[17]  `Abdul Razzaq, Mushannaf, hadits no.: 16815

[18] Imam Malik, Al Muwatha`, hadits no.: 1469

[19]`Abdul Razzaq, Mushannaf, hadits no.: 16815

[20] Imam Ahmad, Al Musnad, hadits no.: 15781

[21]  Syahid adalah hadits lain yang diriwayatkan senada secara makna, namun berbeda secara redaksi

[22] Muhammad Zahid al Kautsary di dalam editing dan komentar terhadap kitab Taqiyuddin al Subky, Al Saif Al Shaqil Fie Al Radd ` Ala Ibni Al Zafiil, Al Maktabah Al Azhariyyah Li Al Turats, Kairo, hal.: 83. editing dan komentar: Muhammad Zahid Al Kautsary.

[23]  Imam al Darimiy, Sunan Al Darimiy, hadits no.: 2348

[24] Imam Thabraniy, Al Kabir, hadits, no.: 12369

[25] Imam Ahmad, Musnad Ahmad, hadits no.: 17974, Imam Al Nasa`i pada kitabnya Al Kubra: hadits no.: 6480, Imam Al Darimiy pada kitab Sunan, hadits no.: 2348 dengan redaksi " أَتَشْهَدِينَ (apakah engkau bersaksi)?", Imam Ibnu Hibban: hadits no.: 189, Imam Baihaqi pada sunan Kubra, hadits no.: 15049

[26] Al Hafiz Abu al Fadl `Abdillah Muhammad Shiddiq Al Ghumary, Nihayat Al Amal Fie Shihati Wa Syarh Hadits `Ardl Al A`mal, Maktabah al Qahirah, Kairo, 2006, hal.: 28

[27]  Lihat: Imam Nawawi, Syarah Sahih Muslim, Dar Al Hadits, Kairo, cet. ke IV, 2001, Vol. III, Hal.: , Editing, takhrij dan indeks: `Isham Al Shababithy, dkk.. Abu Hamid Al Ghazali, Al Iqtishad Fie Al I`tiqad, Dar Al Bashair, Kairo, cet. ke I, 2009, Hal.: 252, editing dan komentar: DR. Musthafa `Imran. DR. Thaha Al Dusuqiy Hibisyi, Al Janib Al Ilahy Fie Fikri Al Imam Al Ghazali ` Ardl Wa Al Tahlil , Fak Ushuluddin Al Azhar University, Kairo, 2010, hal.: 106

[28]  Imam Bukhari, hadits no.: 2890 dan Imam Muslim, hadits no.: 2930

[29]  Imam Bukhari, hadits no.: 25 dan Imam Muslim, hadits no.: 22

[30]  Imam Suyuthi, Al Jami` Al Shagir, hadits no.: 1630

[31] Imam Muslim, hadits no.:19

[32] Imam Muslim, hadits no.: 31

[33] Imam Muslim, hadits no.: 33

Perlunya Akhlak

Orang-orang yang asing (Al Ghuroba)


Perlunya para penuntut ilmu atau umat muslim pada umumnya memahami tentang akhlak

Baiklah kita lanjutkan tulisan sebelumnya tentang kesombongan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/10/kesombongan.

Kalau kita amati, telah terjadi keanehan pada zaman modern ini, zaman  yang dikatakan penuh ulama-ulama "mengaku" pembaharu (mujaddid), dimana sebagian mereka merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Mereka bahkan adalah orang yang berilmu agama yang tinggi, menguasai bahasa Arab yang baik, hafal sejumlah hadits dan bahkan hafal Al-Qur’an dengan baik

Dahulu kita kenal, bahwa semakin tinggi ilmu manusia maka dia semakin merunduk (sadar akan Allah yang Maha Mengetahui).
Ibarat Padi, semakin berisi semakin merunduk artinya semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya, atau kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati.

Zaman modern ini, sebagian orang yang merasa ilmunya tinggi menjadikan mereka  sombong, berdasarkan kajian atau ijtihad mereka atau kelompok mereka, akhirnya menurut mereka, mereka telah menemukan "kebenaran", bahkan memandang orang tuanya, keluarganya, lingkungannya, ulama-ulama terdahulu itu keliru dalam mengikuti/memahami  agama Islam.

Klo saya tanyakan , mengapa yang keliru itu begitu banyak?.

Mereka menjawab dengan rujukan hadist yang menjadi "pembenaran" bagi mereka yakni,
Rasulullah bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba')."(hadits shahih riwayat Muslim)

"Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). Yaitu mereka yang mengadakan perbaikan (ishlah) ketika manusia rusak."(hadits shahih riwayat Abu Amr Ad Dani dan Al Ajurry)

Mereka memandang bahwa mereka hidup zaman sekarang ini ditengah banyak manusia yang rusak. Artinya mereka memandang dirinya lebih baik dibandingkan banyak orang lain.

Bahkan dengan pembenaran terhadap golongan mereka, menggunakan hadits berikut

"Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka." (hadits shahih riwayat Ahmad).

Menurut mereka, mereka bisa  paham kenapa banyak orang yang memusuhi mereka dan jumlah mereka yang memusuhi lebih banyak daripada yang mengikuti mereka. Padahal kami sesama muslim, InsyaAllah tidak akan memusuhi orang muslim lainnya karena sesungguhnya sesama muslim adalah bersaudara sebagaimana firman Allah yang artinya, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara" ( Qs. Al-Hujjarat :10). Mungkin mereka telah berprasangka buruk terhadap sesama muslim.

Mereka belum dapat memahami dengan benar yang dimaksud orang-orang asing (ghuroba) yakni orang-orang shalih ditengah-tengah orang yang berperangai / bertabiat buruk.  Mereka berpemahaman bahwa orang-orang shalih adalah cukup menjalankan seluruh perintah (hukum/perkara wajib) dan menjauhi larangan  atau menjauhi yang diharamkan (hukum/perkara haram).  Belum-belumlah cukup dengan hanya dengan ibadah ketaatan yang dapat menjamin kita akan masuk surga.

Hal yang terpenting yang kadang terlupakan bahwa kita memerlukan ridho Allah ta'ala  atau kita memerlukan karunia Allah ta'ala agar kita masuk surga. Mereka yang masuk surga adalah mereka yang mendapat petunjuk Allah dan mereka temasuk orang-orang shalih atau orang-orang asing (ghuroba).

Untuk mendapatkan ridho Allah yang perlu kita lakukan adalah amal kebaikan atau amal sholeh.

Firman Allah ta’ala yang artinya: ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga, yang artinya: ”..Dan mereka berkata: “segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk..” (QS Al-A’raaf:43).

Tahukah para pembaca, mengapa mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh?

Karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.
Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin/muhsinin).  Ihsan (kata arab) yang maknanya baik, terbaik.

Siapakah yang termasuk muhsinin (orang-orang sholeh) ?

Orang-orang sholeh (muhsinin) adalah orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan / amal kebaikan / amal sholeh atau yang mencapai ihsan.

Firman Allah yang artinya

"menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin) , (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Lukman [31] 3-5 ).

Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, mereka tahu bahwa jalan menuju kesempurnaan (ihsan) seorang muslim adalah mendalami tentang ihsan(tasawuf/akhlak),  sehingga mereka berupaya mencitrakan buruk kepada tasawuf dalam Islam dan sebagian ulama termakan propaganda tersebut.

Perhatikanlah bagaimana Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik berupaya meruntuhkan akhlak kaum muslim dengan budaya mereka, pornografi, seks bebas, homoseksual, miras, narkoba dll.

Jelaslah bahwa akhlakul karimah adalah kunci bagi keberhasilan, kesuksesan dan keselamatan seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat.

Juga ada sebagian dari mereka yang salah memahami tentang orang-orang asing (ghuroba) mendakwahkan jangan bertaqlid pada imam yang empat (imam madzhab) karena mereka tidak maksum.  Apakah mereka memahami oleh karena tidak maksum maka hasil upaya ijtihad imam yang empat menyalahi Al-Qur’an dan Hadits ? Ataukah mereka tidak paham membedakan antara yang dimaksud taqlid buta dengan taqlid itu sendiri yakni mengikuti, mentaati ulama mujtahid. Sebagaimana Allah telah firmankan yang artinya, ”Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 ).

Begitu juga kalau saya berdiskusi dan mencoba mengingatkan mereka, pada suatu keadaan tertentu malah mereka "mengakhiri" diskusi dengan menggunakan firman Allah yang artinya
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah,  maka merekalah orang-orang yang merugi" (Al'A'raaf:178).

Disesatkan Allah berarti bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah.

Mereka belum paham bahwa orang yang disesatkan Allah adalah  bukan orang yang telah bersyahadat juga bukan orang yang beriman kepada Kitabullah dan Sunnah.

Dalam Al-Qur’an dapat diketahui siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang-orang dimurkai dan orang-orang disesatkan.

Orang-orang yang dimurkai Allah ta'ala sebagaimana firmanNya yang artinya,

"Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi424 dan (orang yang) menyembah thaghut ?". Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus" (Al Maa-idah [5]:60 )

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". (QS Al Maa-idah [5]:77 )

Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’

Jadi klo boleh saya simpulkan, bahwa mereka bukannya menegakkan/ mensiarkan kebenaran namun menegakkan pembenaran atau menggunakan kebenaran untuk kepentingan (hawa nafsu) mereka.

Sebagaimana ketika disampaikan kepada Saidina ‘Ali Ra, semboyan orang khawarij,    kemudian beliau menjawab:  “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan/keinginan/hasrat/kepentingan  yang salah)

Oleh karenanya zaman modern ini kita dapatkan sebagian dari ulama pembaharu, sesungguhnya adalah ulama pragmatis, ulama berdasarkan/bersandarkan kepentingan seperti kekuasaan atau kebutuhan/keperluan duniawi lainnya. Mereka bukan ulama yang idealis, yang semata-mata berpegang pada al-Qur’an dan Hadits.

Salah satu solusi agar orang-orang yang menuntut ilmu tidak menjadi sombong maka mereka harus dilengkapi dengan ilmu tentang akhlak, hati, tazkiyatun nafs, ma’rifatullah

Nasehat ulama sufi, syaikh Ibnu Athailllah

Betapa hati manusia akan menyinarkan cahaya, bila cermin hati kita masih memantulkan beraneka macam gambaran tentang alam kemakhlukan? Betapa seorang hamba mampu menjumpai Allah, padahal ia terbelenggu ke dalam syahwat. Bagaimana mungkin seorang hamba dengan keinginan kerasnya untuk masuk kehadirat Allah, padahal ia belum bersih dari janabat kelalaiannya. Bagaimana mungkin seorang hamba mampu memahami berbagai rahasia yang halus halus, padahal ia belum juga bertobat dari kesalahannya. ”

Jika kita ibaratkan hati sebuah cermin, bagaimana cermin itu akan memantulkan cahaya kebenaran, jika terhijabi oleh nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ‘ibadah juga hijab,  sampai karomah juga hijab, dan hijab lainnya.

Selengkapnya saya telah uraikan dalam tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

dan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/03/saya-bersaksi/

Sesungguhnya kita tidak mebutuhkan ulama yang "mengaku"  pembaharu (mujaddid) dalam agama Islam, yang kita butuhkan adalah kesungguhan dan ke-kafah-an dalam mengikuti dan mengimplementasi Al-Qur’an dan Hadits, bagaimanapun atau kapanpun zaman kehidupan atau  teknologi yang kita hadapi karena Al-Qur’an dan Hadits tidak akan pernah ”usang”.

Tak mengapa kita mengikuti / taqlid pada ulama-ulama mujtahid karena keterbatasan kemampuan kita untuk berijtihad.  Lagi pula harus terpenuhi syarat-syarat yang banyak untuk dapat melakukan ijtihad. Bahkan sebagian ulama menyatakan agak sulit mendapatkan imam mujtahid pada masa sekarang karena masa kehidupan kita sudah terlampau jauh dengan masa kehidupan Rasulullah dan masa kehidupan generasi Salafush Sholeh.

Imam mujtahid, merekapun tentu berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits juga mengambil pelajaran dari kehidupan Salafush Sholeh (generasi terbaik dari umat Islam).

Namun umat Islam dalam mengikuti (taqlid) Imam mujtahid harus tetap merujuk kepada Al-Qur'an dan Hadits.  Selama kita selalu mengingat Allah maka insyaAllah,  Allah akan menganugerahkan pemahaman yang dalam (al-hikmah) sehingga kita dapat mengambil pelajaran / petunjuk dari Al-Qur'an dan Hadits.  Sebagaimana firman Allah yang artinya,

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

Wassalam

Zon di Jonggol

Kamis, 10 Juni 2010

Kesombongan

Kesombongan mengakibatkan tidak masuk surga

Kesombongan adalah inti dosa paling besar berdasarkan apa yang dicontohkan,
- Iblis ketika menolak perintah Allah. Ia merasa tak pantas untuk bersujud kepada Adam as, sebab ia merasa lebih baik kok malah disuruh bersujud.
- Orang-orang Yahudi memandang bahwa mereka adalah umat pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka merasa diistimewakan dan dilebihkan atas seluruh umat pada zaman yaitu semasa Nabi Musa ‘alaihissalam

Menurut ulama sufi, hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ‘ibadah, sampai karomah juga bisa menjadi hijab, dll.

Salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain nggak kelihatan, bagaimana dia bisa “melihat” Allah ( “bersaksi”).
Lebih lanjut tentang "Saya bersaksi", silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/03/saya-bersaksi/

Kita simak sebuah kisah ini tentang kesombongan,

Siang itu Abu Nawas pergi ke rumah Syekh Ahmad. Disana mereka terlibat obrolan tentang makhluk gaib.
"Sikap pertama yang dihembuskan setan kepada anak Adam adalah sombong, takabur atau 'ujub, yaitu bangga diri."

"Kenapa bukan yang lain, Syekh?" tanya Abu Nawas.

"Sebab sifat inilah yang telah membuat nenek moyang mereka, iblis dilaknat Allah. Karena sifat ini pula iblis menolak perintah Allah. Ia merasa tak pantas untuk bersujud kepada Adam as, sebab ia merasa lebih baik kok malah disuruh bersujud.

Karena itu jauhilah oleh kalian  sifat merasa lebih berilmu dari orang lain, sifat merasa lebih bertaqwa dari orang lain, sifat merasa lebih layak masuk surga dari yang lain atau dengan kata lain sifat merasa lebih baik dari orang lain.

Saya lebih baik kok harus begini..., saya lebih taat kok malah menjadi makmum,...saya lebih tinggi sekolahnya kok malah dia yang disuruh..., saya yang lebih paham agama kok.., dan sebagainya.
Nah, sifat yang seperti inilah yang berbahaya, jadi kita harus menghindarinya. Ingatlah itu!"

"Susah juga ya, Syekh!"

"Benar, perasaan itu begitu halus ditiupkan setan. Begitu tersembunyi sehingga sering secara lahir kita biasa-biasa saja padahal nan jauh di dalam lubuk hati tergores perasaan yang begitu halus, yaitu rasa bangga diri."

"Apa resikonya, Syekh?"

"Ya bakalan seperti iblis, yaitu diusir dari surga. Rasulullah telah mengancam bagi siapa saja yang di hatinya ada rasa sombong meski sekecil apapun tidak akan diizinkan Allah masuk surga. Sombong disini yang dimaksud beliau adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Kira-kira gimana kiatnya biar kita nggak sombong, Abu?

"Waduh. Kok jadi tanya sama Abu, sih Syekh?"

"Lho, kamu kan cerdik, mestinya bisa jawab dong!"

"Nah, itu jeratan kesombongan, Syekh.
Syekh memuji saya cerdik, wah kalau nggak hati-hati bisa jadi sombong nih saya. Kalau begitu kita harus serahkan semuanya kepada Allah, bahwa segala pujian itu hanyalah milik Allah semata."

"Terus apa lagi?"

"Hem...ya, Allah mengajarkan di surat Al-Kahfi jika kita melihat kebaikan atau sesuatu yang bagus hendaknya mengucapkan, "Masya Allah, Laa Quwwata Illaa Billah." (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)
Jadi semua itu atas kehendak Allah, bukan karena kepintaran kita."

"Benar jawabanmu. Kita yang lain, sesuai hadist tadi, kalau ada kebenaran kita harus mau menerima meski dari siapapun datangnya. Apakah itu dari orang yang lebih muda maupun bodoh sekalipun, dan kita tak boleh meremehkan orang lain.

Hidup kita belum berakhir, bisa jadi mereka yang sekarang malas beribadah nanti akan mati sebagai syuhada' kan kita nggak tahu."

Wassalam

Zon di Jonggol
http://mutiarazuhud.wordpress.com

Rujukan
*Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (HR. Muslim)

**Keagungan adalah sarungKU dan kesombongan adalah pakaianKU. Barangsiapa merebutnya (dari AKU) maka AKU menyiksanya. (HR. Muslim)

Selasa, 08 Juni 2010

Fatwa untuk Penguasa

Kami Menunggu Fatwa Ulama untuk Umara (para penguasa negeri)


Fatwa Al Bani tentang Palesitna
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/06/fatwa_albani_palestina.pdf

Fatwa Abdul Aziz tentang Palestina
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/06/fatwa_abdulaziz_palestina.pdf

Tetapi belum ada fatwa Ulama kepada Umara (Penguasa Arab Saudi dan para pemimpin negeri muslim lainnya) untuk bersatu padu membebaskan Palestina dari penjajah brutal agar saudara-saudara kita di Palestina  mendapatkan kemerdekaan !

Dalam Islam, para ulama mendapatkan kedudukan yang sangat terhormat sekali. Diantaranya adalah apa yang disebutkan Allah swt dalam salah satu firman-Nya :

Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )

Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah , Rosul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya.

Adapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.
Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat bahwa ulil amri di atas mencakup para ulama dan umara ( pemimpin/penguasa ).

Ini sesuai dengan apa yang kita dapati dalam perjalanan sejarah Islam pertama, bahwa Rosulullah saw adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafa’ rasyidin sesudahnya : Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.

Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara.

Dalam posisi seperti ini, manakah yang harus kita taati terlebih dahulu, ulama atau umara ?

Kalau kita perhatikan ayat di atas secara seksama, akan kita dapati bahwa ketaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya.

Sedang orang yang paling mengetahui tentang perintah Allah dan Rosul-Nya adalah para ulama, dengan demikian ketaatan kepada para ulama didahulukan daripada ketaatan kepada umara, karena umara sendiri wajib mentaati ulama yang komitmen dengan ajaran Islam.

Jelaslah masalahnya, bagaimana Umara (para penguasa) mentaati Ulama, karena Ulama tidak mengeluarkan nasehat atau fatwa untuk Umara.

Ulama mempunyai "kekuasaan" untuk mengeluarkan nasehat ataupun fatwa untuk penguasa/pemimpin/umara. Jika ulama dengan kekuasaan yang ada pada mereka sehingga "membiarkan" kezaliman berlangsung di muka bumi, maka para pembaca tentu paham akibat yang akan ditanggung mereka di akhirat nanti.

Kami yang lemah ini hanya sanggup demonstrasi atau sekedar menulis atau menyatakan pendapat bahwa kami muslim dan umat muslim di Palestina adalah saudara-saudara muslim kami (mereka bukan orang sesat apalagi kaum kafir)  serta kami menginginkan saudara-saudara muslim kami di Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan mereka, dan itupun sesuai dengan pembukaan UUD negeri kami,

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan

."...membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan....
"

Kami sedang bersedih karena penguasa negeri kami tidak amanah, tidak peduli dengan pembukaan UUD yang telah diletakkan oleh para pendiri negeri ini dan para pejuang/mujahid,  dengan darah dan nyawa mereka.  Apalagi perbuatan atau kebijkan penguasa negeri kami, jika diperiksa dengan landasan Al-Qur'an dan Hadits,  belum banyak  memenuhi perintah Allah maupun sunnah Nabi.

Kami menyakini hadits bahwa ada larangan untuk memberontak / memerangi / menggulingkan pemimpin yang muslim (selama mereka masih sholat) walaupun mereka jahat / tidak adil / zalim

Namun disisi lain ada anjuran dari Rasulullah bagaimana menghadapi pimpinan yang jahat/tidak adil/zalim yakni,
"Barangsiapa yang benci (terhadap kejahatan/kezaliman pimpinan tersebut) sungguh ia telah berlepas diri dan barangsiapa yang mengingkari sungguh ia telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang ridha dan mengikuti (kejahatan penguasa) maka orang itu bersalah / berdosa pula".

Wassalam

Zon di Jonggol