Tampilkan postingan dengan label Baik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baik. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Februari 2011

Tips bertasawuf

Tips untuk memulai bertasawuf

Beberapa pertanyaan telah dilayangkan kepada kami, setelah mereka membaca tulisan “Rasulullah bertasawuf”,  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/rasulullah-bertasawuf/ dan tulisan “Penjelasan bertasawuf”,  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/penjelasan-bertasawuf/ . Pertanyaan umumnya berkisar tentang mursyid (pembimbing) dalam bertasawuf.

Pada hakikatnya siapakah mursyid yang akan ”menghampiri” kita adalah semata-mata kehendak Allah Azza wa Jalla.  Pesan kami jika pembaca dalam penantian mursyid, berhati-hatilah jika seseorang mempromosikan dirinya sebagai mursyid bagi anda namun jangan pernah menganggap remeh seorang muslimpun yang dijumpai karena bisa jadi beliau adalah mursyid anda.

Baiklah sambil menanti mursyid, berikut adalah tips atau langkah-langkah awal dalam bertasawuf

Bertauhidlah dengan cara menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pihak pertama yang dikomunikasikan segala permasalahan, cobaan, kebutuhan dan keinginan kita, termasuk atas segala kenikmatan  yang telah Allah ta’ala berikan dalam bentuk bersyukur.  Begitupula kita komunikasikan kebutuhan dan keinginan bertasawuf kepada Allah ta’ala.

Teguhkan tujuan hidup kita adalah untuk sampai kepada Allah Azza wa Jalla sedangkan surgaNya adalah keniscayaan/kepastian bagi mereka yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya.

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

Sampai kepada Allah Azza wa Jalla , sehingga dapat berkumpul dengan Rasulullah dan para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan para Sholihin.  Ikutilah jalan mereka yang termasuk orang-orang yang telah Allah Azza wa Jalla berikan nikmat.

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:7 )

Shiddiqin adalah orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul
Syuhada adalah orang-orang yang mati syahid
Sholihin adalah orang-orang sholeh atau muslim yang terbaik atau muslim yang Ihsan (muhsin), muslim yang dapat melihat Allah ta'ala dengan hati/keimanan atau muslim yang selalu yakin bahwa Allah ta'ala melihat perbuatan.

Allah Azza wa Jalla telah memberikan ni’mat kepada mereka dan setelah mereka merasakan kematian, mereka hidup di sisi Allah Azza wa Jalla, sesuai dengan kehendak Allah menempatkan mereka dan mereka masih mendapatkan rezeki atau kehendakNya.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

Imam al-Baihaqi telah membahas sepenggal kehidupan para nabi. Ia menyatakan dalam kitab Dalailun Nubuwwah: “Para nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti para syuhada.“

Selengkapnya silahkan baca tulisan ” Rasulullah hidup di sisi Allah Azza wa Jalla” pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/rasulullah-hidup/

Jadi tujuan kita bertasawuf karena Allah ta’ala semata atau agar kita sampai kepadaNya dan berkumpul dengan mereka yang telah menerima ni’mat dari Allah Azza wa Jalla.

Berikut langkah-langkah untuk memulai bertasawuf sampai Allah Azza wa Jalla menetapkan mursyid (pembimbing) bagi kita.

Mulailah dengan pembersihan diri, bertobatlah kepada Allah Azza wa Jalla

Bersikap tawaduk, merendah serta memohon maaf dan ampunan, apakah kita telah melakukan dosa atau tidak. Jika kita melakukan kesalahan atau dosa, akuilah segera dan mintalah ampunan, karena orang yang bertobat dari dosa laksana orang tidak berdosa. Semua manusia pasti melakukan kesalahan. Tak ada yang lepas sepenuhnya dari dosa. Namun yang paling penting, jagalah diri kita agar tidak terus berkubang dosa.

Nasehat Syaikh Ibnu Athoillah dalam al-Hikam,

Adakalanya Dia bukakan pintu ketaatan untukmu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaan.
Adakalanya Dia menetapkanmu berbuat dosa, tetapi itu menjadi sebab kau sampai kepada-Nya
Maksiat yang melahirkan rasa hina dan papa lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan kecongkakan dan kesombongan.

Setelah pembersihan diri dengan bertobat kemudian buktikan syahadat kita dengan menegakkan sholat wajib 5 waktu, zakat,  puasa dan berhaji jika mampu.

Jadikan sholat wajib 5 waktu bukan sebuah beban namun rasakan sebagai wujud Ar Rahmaan dan Ar Rahiim nya Allah Azza wa Jalla dalam bentuk peluang bagi kita untuk dapat berkomunikasi denganNya, 5 kali sehari. Kitalah yang membutuhkan sholat.

Raihlah ridho Allah ta’ala dengan sholat wajib 5 waktu dengan tepat waktu dan di masjid bagi pria. Karena sesungguhnya bagi yang tidak sholat berjamaah ke masjid tanpa alasan yang berarti dan mereka yang tidak sholat wajib 5 waktu tepat waktu tanpa alasan yang berarti adalah mereka yang mengharapkan maafnya Allah ta’ala. Sedangkan kita butuh ridho Allah ta’ala agar kita sampai kepadaNya. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/11/ridho-allah-taala/

Disetiap selesai sholat wajib 5 waktu, berdzikir dan berdoalah. Dalam berdzikir sebaiknya diawali istighfar, syahadah, sholawat dan dzikir sebagaimana Rasulullah anjurkan kemudian akhiri dengan doa yang menunjukkan keinginan kita bertasawuf  agar sampai kepadaNya. Berdoalah seperti “Ilahi Anta Maqsudi Waridhoka Matlubi“, Tuhan hanya Engkaulah yang kumaksud dan ridhoMu yang kuharap. dan ditambah berdoa dengan redaksi sesuai keinginan sendiri seperti “Ya Allah ampunkanlah dosa kami, Bimbinglah kami dengan kasih sayangMu, untuk sampai kepadaMu“. .

Setelah seluruh perkara yang Allah Azza wa Jalla  wajibkan berikut niat dan doa kita laksanakan maka lanjutkan untuk meraih cintanya Allah Ar Rahmaan dan Ar Rahiim dengan amalan-amalan sunnah agar kita sampai kepadaNya dengan derajat  kekasih Allah (Wali Allah).

Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Ikutilah amalan-amalan sunnah sebagaimana para ulama kita terdahulu contohkan yakni para Wali Songo yang mengajak kita untuk mentaati Allah ta’ala dan RasulNya.

Nasehat  mereka tertuang dalam  syair lagu ”OBAT HATI”

Obat hati ada lima perkara.
Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua, shalat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.


Yang pertama, baca Qur’an dan Maknaya
Untuk bertasawuf atau menjadi orang khusus (yang dicintai Allah ta’ala) , bacalah Al-Qur’an dengan maknanya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kita melakukan segala aktivitas. Pergunakanlah terjemahan Al-Qur’an dan lebih baik dengan tafsir.

Yang kedua, Sholat malam dirikanlah
“Dan pada sebagian malam tahajudlah kamu, sebagai ibadah tambahan bagimu, semoga Rabbmu mengangkat derajatmu ke tempat yang paling terpuji.” (QS Al Isro’ [17]:79 )

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS Al Muzzammil [73]:6 )

Rasulullah SAW. bersabda: “Kerjakan sholat malam, sebab hal itu adalah kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kamu, juga sebagai suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagai penebus keburukan-keburukanmu, dan pencegah dosa.” (HR Tirmidzi)

Yang ketiga, berkumpulah dengan orang sholeh
Untuk bertasawuf atau menjadi orang sholeh maka kitapun harus memperbanyak berkumpul dengan orang sholeh.
“ar-ruuhu junnudun mujannadah
"Ruh itu kelompok (berbala) yang mengelompok atau teman yang ditemankan." (HR Bukhari)

Kalau kita berkumpul dengan orang-orang sholeh, maka kita akan menjadi orang sholeh. Orang sholeh seperti penjual minyak wangi – kata Nabi. Jadi orang sholeh itu akan menyemprotkan wangi-wangiannya ke sekelilingnya. Jadi sekitarnya akan menjadi wangi karenanya. Oleh karena itu dekat-dekatlah kita kepada penjual minyak wangi sebab kalaupun toh tidak mampu membeli kita akan memperoleh bau wanginya.

Berkumpul adalah melihat dan mendengar. Termasuk berkumpul dengan orang sholeh jika kita membaca tulisan/buku-buku yang ditulis oleh orang sholeh. Hindari membaca buku yang ditulis oleh  Dukhala ‘Ilmi yakni ahli ilmu (ulama) namun bukan ahli bidang tasawuf.

Kami merekomendasikan beberapa buku-buku baru yang merupakan terjemahan dari karya penulis ulama Tasawuf ternama.

Karya Syaikh Abdul Qadir Jailani yang diterjemahkan
Trilogi “Jalan Sejati Menuju Sang Khalik”
Buku ke 1 “Rahasia mencintai Allah”
Buku ke 2 “Rahasia berjumpa Allah”
Buku ke 3 “Rahasia menjadi kekasih Allah”
Buku-bukut itu diterbitkan oleh penerbit Sabil, Jogyakarta. http://www.divapress-online.com

Karya Syaikh Ibnu Athoillah yang diterjemahkan
1 set buku “Terapi Makrifat” penerbit Zaman, http://www.penerbitzaman.com
1. Misteri Berserah kepada Allah
2. Rahasia Kecerdasan Tauhid
3. Tutur Penerang Hati
4. Zikir Pententram Hati
5. Kasidah Cinta dan Amalan Wali Allah

Bacaan dalam bentuk majalah yang kami rekomendasikan adalah Cahaya Sufi.

Sejauh ini kami tidak ada hubungan dengan para penerbit, kami merekomendasikan karena untuk tahap permulaan lebih baik membaca buku yang mudah untuk dipahami, diresapi dan diambil hikmahnya. Buku-buku tersebut adalah termasuk buku yang baru diterbitkan dan diterjemahkan oleh penterjemah masa kini.

Ikuti pengajian yang membahas kitab-kitab Tasawuf seperti kitab Al Hikam , Syaikh Ibnu Athoillah atau pengajian yang membahas seputar hati atau tazkiyatun nafs seperti manajemen qalbu.

Selain bergaul dengan orang sholeh, kita upayakan meninggalkan pergaulan dengan orang yang tidak sholeh seperti

  1. Tinggalkan menonton sinetron TV yang berisikan atau mempertunjukkan sifat-sifat orang yang tidak sholeh seperti marah, sombong, dengki, iri, hasut dll. Menonton sinetron TV seperti itu pada hakikatnya kita bergaul dengan orang tidak sholeh.

  2. Tinggalkan menonton infotainment yang berisikan membicarakan keburukan orang lain (ghibah).

  3. Tidak menonton acara yang memperlihatkan gaya hidup yang bukan berzuhud. Sedangkan berzuhud adalah gaya hidup yang dicintai Allah ta’ala. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/30/zuhudlah-di-dunia/


Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari).

Dari Sahl dari Nabi bersabda : Sesungguhnya dalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama Ar Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat, dan selain mereka tidak akan masuk melaluinya. ….(Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

Lakukanlah puasa sunnah Senin-Kamis, sepanjang tahun jika kesempatan memungkinkan. Tulisan tentang puasa silahkan baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/05/hakikat-puasa/

Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al Ahzab [33]:41 )

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS Ar Rad [13]:28 ]

Hal yang sebaiknya dilakukan sebelum dalam berdzikir adalah harus diawali dengan bertawasul atau diawali beberapa dzikir yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/24/allah-itu-dekat/ yaitu istighfar, syahadah, laahaulaa , sholawat dstnya..

Dizkrullah adalah alat atau sarana  kita untuk mi'raj kepada Allah Azza wa Jalla atau untuk sampai kepada Allah Azza wa Jalla.  Sebaik-baiknya dzikir atau sebaik-baiknya mi'raj adalah sholat.  Inilah yang dimaksud perkataan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin,  “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“

Demikianlah tips dari kami untuk memulai bertasawuf, dalam perjalanannya nanti, jika dikehendaki Allah Azza wa Jalla datanglah mursyid yang ditetapkanNya.

Kalau ada waktu silahkan baca tulisan di blog kami. Temukan daftar/indeks tulisan pada kolom paling kanan dengan judul/kelompok
"Seputar Tasawuf", "Perjalanan Hidup (suluk)" dan "Tulisan khusus"

Tulisan ini kita akhiri dengan firman Allah swt yang terkait dengan jiwa, yang artinya
"Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku" QS (Al Fajr [89] 27-30 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Kamis, 10 Februari 2011

Rasulullah bertasawuf

Sering ditanyakan kepada kami, "apakah Rasulullah & para Sahabat serta Imam yang Empat, Tabi’in & tabi’ut tabi'in bertasawuf?"

Jawaban kami

Tahukah kita, mengapa mereka ada yang dipanggil sebagai Salafush Sholeh?


Karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.

Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin/muhsinin). Ihsan (kata arab) yang maknanya baik, terbaik.

Kami berupaya mengikuti/mencontoh para Salafush sholeh. Kami mendalami tasawuf dalam islam adalah mendalami tentang akhlakul karimah, mendalami upaya agar dapat “seolah-olah melihatNya”, mendalami tentang ihsan yang bagian dari pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril.

Tentang Islam (rukun Islam/fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin) , Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf)

Rasulullah saw berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.” (HR Muslim)

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/15/muslim-tingkatan-ihsan/

Kadang kita mendengar saudara muslim kita yang memperturutkan hawa nafsunya, sibuk dengan istilah tasawuf mengatakan,

kalau tasawuf ajaran Rasulullah ?? dari mana asal kata tasawuf ??

Apakah Muhammad Rasulullah saw, pernah bertutur dalam hadist sahih bahwa “Sarana atau ilmu untuk paham seputar mengenal Allah adalah ilmu Tasawuf”?

Apakah Muhammad Rasulullah saw pernah mengaku sebagai sufi dan pendiri aliran tasawuf??

Berikut tulisan yang menarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang senada dengan itu, memperdebatkan masalah yang bukan substansi, yakni istilah tasawuf.

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/25/istilah-tasawuf/
*****awal kutipan*****
Membahas masalah Tasawuf saya jadi ingat pengajian rutin mingguan yang diadakan di Masjid Al-Buthi, Damaskus, setiap Jumat bakda Ashar, membahas kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiah yang disampaikan langsung oleh Syaikh Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi. Pembahasan terakhir kebetulan sampai pada Bab Tasawuf, setelah selesai membahas Bab Al-Faqr.

Dalam pengajian terakhir (14/5/2010), Syaikh Al-Buthi menerangkan bahwa istilah tasawuf adalah istilah yang tidak memiliki asal. Memang ada yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari kata Shuuf (bulu domba), Ahlus Shuffah (penghuni Shuffah), Shafaa (jernih), Shaff (barisan) dan lain-lain. Namun teori-teori itu tidak ada yang tepat menurut beliau sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Qusyairi sendiri dalam kitabnya. Namun yang menjadi fokus pembahasan bukanlah itu, yaitu meributkan masalah nama atau istilah yang takkan pernah ada habisnya, karena setiap orang bisa membuat istilah sesuka hatinya. Yang menjadi fokus adalah substansinya. Oleh karena itu, ada sebuah ungkapan yang sudah sangat masyhur di kalangan para ulama dan santri, “La musyahata fil ishthilah (tidak perlu ribut karena membahas istilah).”

Dalam dunia ushul fikih kita mengenal istilah Wajib dan Fardhu, menurut Jumhur Fuqoha keduanya memiliki arti yang sama, namun menurut Hanafiyah keduanya berbeda. Dalam dunia Mushtolah Hadis kita mengenal istilah Hadis Mursal yang menurut ahli hadis artinya adalah hadis yang dinaikkan oleh seorang tabii tanpa menyebutkan siapa perantaranya kepada Nabi SAW, namun menurut ahli ushul artinya adalah hadis yang terputus secara mutlak, di mana pun letaknya dan berapa pun jumlah perawinya, mirip Hadis Munqathi’. Imam Asy-Syafii mengingkari Istihsan dan mengatakan bahwa “Barangsiapa ber-istihsan maka ia telah membuat syariat (baru)”, sedangkan Ulama Hanafiyah paling banyak menggunakan Istihsan. Setelah diselidiki dan diteliti ternyata perbedaan mereka hanya sampai pada tataran istilah saja (ikhtilaf lafzhi), namun pada substansinya mereka sepakat. Istihsan yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafii bukanlah Istihsan yang selama ini dipakai oleh Ulama Hanafiyah. Kata Sunnah pun memiliki pengertian yang bebeda-beda menurut ahli fikih, ushul fikih dan mustholah hadis. Demikianlah seterusnya, perdebatan dalam masalah istilah takkan pernah menemui titik temu dan takkan memberikan manfaat yang signifikan.

Demikian pula dalam masalah Tasawuf. Banyak orang berbondong-bondong mengumandangkan genderang dan mengibarkan bendera perang terhadap apa yang disebut Tasawuf. Buku-buku ditulis, pengajian-pengajian digelar, perang opini dikobarkan. Semuanya dengan satu tujuan, memberangus Tasawuf dari muka bumi. Sementara itu, di sisi lain berbondong-bondong pula orang yang siap membela mati-matian Tasawuf. Padahal, banyak di antara mereka yang tidak mengerti dan tidak memahami apa hakikat dari istilah Tasawuf itu sendiri. Ironis.

Syaikh Al-Buthi berkata, “Jika Tasawuf yang kalian maksud itu adalah pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat seperti ikhtilath (campur baur) laki-laki dengan perempuan dan lain-lain, maka aku akan berdiri bersama kalian dalam memerangi Tasawuf. Namun jika yang kalian perangi adalah perkara-perkara yang memang berasal dari Islam seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), akhlak dan lain-lain, maka berhati-hatilah!”

Beliau juga sering mengulang-ulang perkataan ini, “Namailah sesuka kalian: Tasawuf, Tazkiyah, Akhlak atau yang lainnya selama substansinya sama.”

Ya, ternyata istilah tidaklah sedemikian penting dibandingkan dengan subtansinya selama dalam batas-batas yang bisa ditolerir. Syaikh Al-Buthi bahkan menegaskan dalam ceramahnya, “Saya sengaja berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan istilah tasawuf dalam kitab saya, Syarah Hikam Atho’iyah, demi menjaga perasaan saudara-saudara kami yang sudah termakan opini bahwa tasawuf bukanlah dari Islam.”

Namun, apakah dengan demikian beliau mengingkari inti atau substansi Tasawuf? Jawabannya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Apapun istilahnya, jika memang terbukti berupa pelanggaran terhadap syariat maka kita harus berdiri dalam satu barisan untuk memeranginya. Namun jika hal-hal itu adalah bagian dari Islam atau bahkan inti ajaran Islam, maka tidak semestinya kita menolaknya.

Jadi, kita mesti banyak berhati-hati dalam menggunakan istilah sebelum memahami makna sebenarnya. Jangan sampai kita terjebak dalam perangkap musuh yang sengaja mengkotak-kotakkan umat Islam dengan cara menciptakan istilah-istilah agar umat Islam disibukkan membahasnya lalu terlupakan akan tugas yang lebih penting dan lebih besar manfaatnya daripada itu. Jangan sampai kita terpecah-pecah karena masalah furu’iyyah sementara kita melupakan prinsip-prinsip agama kita. Wallahu a’lam.
*****akhir kutipan*****

Orang-orang kafir atau orang-orang Yahudi, mereka tahu bahwa jalan menuju kesempurnaan (ihsan) seorang muslim adalah mendalami tentang ihsan(tasawuf), sehingga mereka berupaya mencitrakan buruk kepada tasawuf dalam Islam dan sebagian ulama termakan propaganda tersebut.

Perhatikanlah bagaimana Orang-orang kafir atau orang-orang yahudi berupaya meruntuhkan akhlak kaum muslim dengan budaya mereka, pornografi, seks bebas, homoseksual, miras, narkoba dll.

Hal inilah yang terjadi di zaman yang dikatakan modernisasi agama dimana ulama-ulama melupakan tentang tasawuf dalam islam, sehingga dari ulama-ulama seperti itu lahirlah kaum muslim yang taat beribadah namun tidak berakhlakul karimah.

Untuk itulah kami menganjurkan kepada mereka yang berwenang dan sedang memasukkan aspek “etika” kedalam kurikulum pendikan memperhatikan tentang Ihsan atau Tasawuf dalam Islam. Silahkan baca tulisan selengkapnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Jadi kemerosotan akhlak yang kita temui di negeri kita, bisa jadi karena para ulama telah melupakan tentang tasawuf dalam Islam atau melupakan tentang ihsan, melupakan tentang akhlakul karimah

Akhlakul karimah adalah kesadaran atau perbuatan/perilaku secara sadar dan mengingat Allah.

Perhatikanlah mereka yang korupsi, mafia peradilan/hukum atau yudikatif yang tidak menegakkan keadilan, para penguasa (eksekutif) yang masih kurang peduli dengan nasib rakyatnya, para legislatif yang sebagian mereka masih belajar tentang etika dan belajar membedakan antara uang rakyat dengan uang pribadi, belajar bagaimana mereka mewakili rakyat dengan keadaan rakyat sesungguhnya dan lain lain, tentu sebagian mereka taat menjalankan ibadah sholat, puasa, zakat bahkan ibadah haji namun pada hakikatnya mereka tidak berakhlakul karimah. Mereka tidak mengingat Allah ta’ala ketika mereka hendak melakukan perbuatannya atau mereka tidak mengingat Allah ta'ala ketika mereka hendak bersikap.

Sekarang kita dapat pahami bahwa tasawuf adalah tentang akhlak atau tentang Ihsan.  Sejak dahulu kala,  dalam perguruan tinggi Islam, mata kuliah Tasawuf adalah mata kuliah akhlak. Coba periksa silabus tentang akhlak di berbagai perguruan tinggi Islam misalkan

http://rmp.ums.ac.id/silabi/G000/TAR31052/SILABUS_AKHLAQ.rtf
atau
http://www.uinsuska.info/psikologi/attachments/074_bab3_kurikulumdansilabus.pdf

Jadi intinya bahwa Rasulullah itu bertasawuf karena memang tujuan Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak

Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S Al-Ahzab : 21).

Urutannya adalah Ilmu --> Amal --> Akhlak

Dengan ilmu kita melakukan amal/perbuatan/ibadah, dengan amal/perbuatan/ibadah yang kita lakukan terbentuk akhlak.

Inilah yang diibaratkan sebagai ilmu padi,  "merunduk ketika semakin berisi"

Sebagaimana yang diketahui, bahwa ajaran ahwal (suatu perolehan dengan karunia dari Allah) dan maqamat (suatu perolehan dengan usaha manusia) yang semuanya itu ditujukan untuk memperbaiki akhlak.

Sedang tujuan perbaiki akhlak adalah untuk membersihkan qalbu yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) yang selanjutnya akan memperoleh kenyataan Tuhan (TAJALLI).  Allah ta'ala bertajalli maka kita akan mencapai muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau muslim yang dapat seolah-olah melihatNya atau melihat Allah ta'ala dengan hati / akhlak yang suci / keimanan.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.

Dengan demikian maka kita dapat paham bahwa jalan untuk mengenal Allah , tidak dapat ditempuh dengan sekaligus, tetapi adalah sesuai dengan peribadi masing masing yaitu harus ditempuh secara bertingkat tingkat.

Pada tingkat untuk memasuki Ilmu Hakekat dan Ilmu Ma’rifat, berarti memasuki suatu jalan pengetahuan yang bertujuan untuk mengenal sesuatu itu dengan cara bersungguh sungguh, bahwa siapakah manusia itu, siapakah yang menjadikannya dan siapakah yang menciptakan sekalian itu.

Tasawwuf meringkaskan jalan pengetahuan ini dengan berdasarkan sabda Rasulullah SAW

MAN ‘ARAFA NAFSAHU FAQAD ‘ARAFA RABBAHU

(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah)

Firman Allah Taala :

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“  (QS. Fush Shilat [41]:53 )

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/04/kenali-diri/

Dengan tulisan ini, kita dapat memahami adalah sebuah keliruan besar telah terjadi pada ulama-ulama Wahhabi  dan penguasa kerajaan dinasti Saudi yang berpemahaman bahwa muslim yang menjalankan tasawuf  / tentang ihsan / berakhlak adalah telah keluar dari Islam atau telah sesat.  Bahkan sebagaimana yang disampaikan oleh alm Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani bahwa Wahhabi telah memasukkan kedalam kurikulum pendidikan bahwa kelompok Shuufiyyah (aliran–aliran tashowwuf ) adalah syirik dan keluar dari agama. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Kekeliruan besar yang terjadi di sana adalah karena mereka secara tidak disadari telah berteman dengan orang-orang yang memang telah dicptakan oleh Allah Azza wa Jalla untuk mempunyai  rasa permusuhan kepada kaum muslim

Firman Allah ta’ala yang artinya,
orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Mereka menjadikan orang-orang Yahudi  dan orang-orang Musyrik sebagai teman kepercayaan atau penasehat segala bidang seperti penasehat keamanan, penasehat ekonomi, penasehat pembangunan, penasehat pengelolaan sumber daya alam bahkan penasehat kurikulum pengajaran/pendidikan sebagaimana yang kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

Terbuktilah mereka secara tidak sadar telah bersekutu dengan orang-orang yang memang telah dicptakan oleh Allah Azza wa Jalla untuk mempunyai  rasa permusuhan kepada kaum muslim. Tambahan informasi silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/bersekutu-dengan-amerika/

Pada akhirnya yang harus kita ingat selalu bahwa apapun yang telah terjadi pada para umara/penguasa dan para ulama di wilayah kerajaan dinasti Saudi adalah kehendak Allah ta'ala. Bagi kita umat muslim pada umumnya adalah sebagai cobaan. Kita harus menghadapi cobaan ini dengan perbuatan/sikap yang dicintai oleh Allah Ar Rahmaan dan Ar Rahiim dalam semangat Ukhuwah Islamiyah.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Praktis Memahami Bid'ah

Memahami bid'ah secara praktis

Kullu bid’atin dlalalah atau kebanyakan (sebagian besar) bid'ah dlalalah adalah sesuatu yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah, Sahabat, Tabi'in, Tabi'it tabi'in dalam urusan kami atau dalam syariat atau dalam syarat atau dalam sesuatu yang telah disyaratkan/ditetapkan oleh Allah ta'ala baik dalam perkara yang hukumnya wajib maupun perkara hukumnya haram.

Jadi tidak boleh mengatakan sesuatu itu hukumnya haram atau hukumnya wajib kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah ta'ala dan Allah ta'ala tidaklah lupa.

Pada masa kini ada fatwa ulama (hasil kesepakatan banyak ulama) untuk sesuatu yang baru dan hukumnya haram berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits atau "turunan" dari sesuatu yang hukumnya haram pula.

Landasan pendapat kami ini adalah

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Sedangkan bid'ah untuk perkara/perbuatan yang "telah Allah ta'ala diamkan" adalah baik atau amal baik atau amal kebaikan atau amal sholeh selama tidak melanggar Al-Qur'an dan Hadits.

Contoh Sholawat, sholawat adalah perkara/perbuatan yang tidak ditetapkan oleh Allah ta'ala atau bukan perkara yang hukumnya wajib.

Jadi sholawat termasuk perkara/perbuatan yang "telah Allah ta'ala diamkan" artinya jika dilakukan/dibacakan, kita akan mendapatkan pahala dan tidak dilakukan oleh kita maka Allah ta'ala akan diamkan.

Oleh karenanya sholawat bukan perkara hukumnya wajib sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah namun dibolehkan kita bersholawat sesuai dengan keinginan kita asalkan matan/isi sholawat tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits.

Buktinya banyak sekali macam sholawat yang dapat kita temukan seperti sholawat imam Syafi'i ~ rahimullah, sholat imam sayyidina Ali ~ ra, sholawat Nariyah, sholawat Badar dll.

Bahkan kita tidak disadari sering bersholawat dengan bahasa kita sendiri seperti "sholawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam"

Uraian selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/09/peta-perbuatan-ibadah/

Contoh bid'ah yang lain yang baik atau hasanah adalah pemahaman tentang sifat Allah dengan pemahan sifat 20 Allah karya Imam Asy'ari dan Imam Ma'turidi, pemahaman mereka tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits karena kita paham bahwa mereka menggali dan menyiarkan pemahaman tentang sifat Allah berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits

Contoh pemahaman bid'ah yang keliru , salah satunya apa yang dipahami oleh Syaikh Al Albani bahwa menurut pemahaman dia, semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama. Setiap orang wajib langsung merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan untuk memahaminya, tidak dibutuhkan ilmu dan metodologi apa pun. Keberadaan mazhab-mazhab itu dianggap oleh Al-Albani sebagai bid’ah yang harus dihancurkan, karena semata-mata buatan manusia.

Padahal kita semua paham bahwa Ilmu fiqih dan mazhab pada ulama yang ada itu bukan didirikan untuk menyelewengkan umat Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah. Justru ilmu fiqih itu sangat diperlukan sebagai metodologi yang istimewa dalam memahami Quran dan Sunnah dan imam madzhab yang empat itu menggali semuanya berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits atau Istinbatul ahkam. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

Jadi kita harus bisa membedakan antara

Berpendapat berdasarkan akal (ro'yu)
dengan
Berpendapat menggunakan akal berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits


Berpendapat berdasarkan akal adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh kaum non muslim mencari atau mengenal tuhan dengan akal mereka

Berpendapat menggunakan akal berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Imam Madzhab yang empat dengan uraian tentang fiqih , Imam Asy'ari dan Imam Maturidi dengan uraian tentang sifat 20 Allah ta'ala, fatwa ulama (hasil kesepakatan banyak ulama), dll

Wassalam

Zon di Jonggol,  Kab Bogor 16830

Kamis, 21 Oktober 2010

Melupakan Tasawuf

Tahukah para pembaca, mengapa mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh?

Karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.
Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin/muhsinin).  Ihsan (kata arab) yang maknanya baik, terbaik.

Kami berupaya mengikuti/mencontoh para Salafush sholeh.  Kami mendalami tasawuf dalam islam adalah mendalami tentang akhlakul karimah, mendalami upaya agar dapat "seolah-olah melihatNya", mendalami tentang ihsan yang bagian dari pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril

Tentang Islam (rukun Islam/fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin) , Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf)

Rasulullah saw berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.

Orang-orang kafir atau orang-orang yahudi, mereka tahu bahwa jalan menuju kesempurnaan (ihsan) seorang muslim adalah mendalami tentang ihsan(tasawuf), sehingga mereka berupaya mencitrakan buruk kepada tasawuf dalam Islam dan sebagian ulama termakan propaganda tersebut. Perhatikanlah bagaimana Orang-orang kafir atau orang-orang yahudi berupaya meruntuhkan akhlak kaum muslim dengan budaya mereka, pornografi, seks bebas, homoseksual, miras, narkoba dll.

Hal inilah yang terjadi di zaman yang dikatakan modernisasi agama dimana ulama-ulama melupakan tentang tasawuf dalam islam, sehingga dari ulama-ulama seperti itu lahirlah kaum muslim yang taat beribadah namun tidak berakhlakul karimah.

Untuk itulah kami menganjurkan kepada mereka yang berwenang dan sedang memasukkan aspek  "etika"  kedalam kurikulum pendikan memperhatikan tentang Ihsan atau Tasawuf dalam Islam. Silahkan baca tulisan selengkapnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Jadi kemerosotan akhlak yang kita temui di negeri kita,  bisa jadi karena para ulama telah melupakan tentang tasawuf dalam Islam  atau melupakan tentang ihsan, melupakan tentang akhlakul karimah

Akhlakul karimah adalah kesadaran atau perbuatan/perilaku secara sadar dan mengingat Allah.

Perhatikanlah mereka yang korupsi, mafia peradilan/hukum atau yudikatif yang tidak menegakkan keadilan, para penguasa (eksekutif) yang masih kurang peduli dengan nasib rakyatnya, para legislatif yang sebagian mereka masih belajar tentang etika dan belajar membedakan antara uang rakyat dengan uang pribadi, belajar bagaimana mereka mewakili rakyat dengan keadaan rakyat sesungguhnya dan lain lain,  tentu sebagian mereka taat menjalankan ibadah sholat, puasa, zakat bahkan ibadah haji namun pada hakikatnya mereka tidak berakhlakul karimah. Mereka tidak mengingat Allah ta'ala ketika hendak melakukan perbuatannya.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Kamis, 07 Oktober 2010

Maulid Nabi saw

Tidak ada larangan bagi kaum Muslim melakukan Maulid Nabi saw


Ada sebagian ulama melarang kaum muslim melakukan peringatan Maulid Nabi saw semata-mata dengan sebuah kaidah yang membawa malapetaka yakni “Hukum asal ibadah adalah bathil/haram/terlarang kecuali ada dalil yang memerintahkan” Kaidah ini tidak pernah diketahui siapa pencetusnya pertama kali.

Perihal yang terlarang jika melarang perbuatan/ibadah kaum muslim lainnya hanya dengan sebuah kaidah buatan manusia tanpa dalil/hujjah dalam Al-Qur'an dan Hadits karena kita sudah ketahui bahwa larangan/batas dan pengharaman bagi kaum muslim adalah merupakan hak Allah swt.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Ada pula sebagaian ulama melarang perbuatan/ibadah peringatan Maulid Nabi saw dengan memahami perbuatan itu merupakan bid'ah dalam agama dan mereka menyatakan sebagai perbuatan/ibadah yang sesat/tertolak, berpegang pada dalil/hujjah salah satunya

Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Rasulullah menerangkan sbb: “Jauhilah olehmu sesuatu yang diada-adakan karena yang diada-adakan itu bid’ah dan sekalian bid’ah adalah dholalah (sesat)”.

Inilah kesalahpahaman yang membawa malapetaka bagi dunia Islam yakni kesalahpahaman tentang bid'ah. Selengkapnya baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/17/kesalahpahaman-bidah/

Bagi pemahaman mereka perbuatan/ibadah peringatan Maulid Nabi terlarang dilakukan karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin dan para Sahabat, serta tidak pula para tabi’in dan pada masa yang utama (Salafush Sholeh).

Mereka salah memahami hukum seluruh perbuatan/ibadah yang dicontohkan Rasulullah saw atau salah memahami antara sunnah dalam arti hadits Nabi saw dan sunnah dalam arti anjuran Nabi saw.  Selengkapnya baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/27/gigitlah-sunnah/

Bagi pemahaman mereka perbuatan/ibadah yang tidak pernah dicontohkan adalah bid’ah dan sesat (dholalah).

Bagaimanakah mungkin Rasulullah saw menyatakan sesat/tertolak bagi perbuatan/ibadah yang hukum dasarnya Allah swt telah diamkan/bolehkan selama tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Bagaimanakah mungkin Allah swt telah mendiamkan/membolehkan kemudian Rasulullah saw tidak membolehkannya ?

Kesimpulannya tentu bukan haditsnya (perkataan Nabi saw) yang keliru namun mereka salah memahami hadits “Jauhilah olehmu sesuatu yang diada-adakan karena yang diada-adakan itu bid’ah dan sekalian bid’ah adalah dholalah (sesat)

Adalah sebuah kekeliruan kalau hanya berhujjah/berdalil dengan sebuah hadits dan hadits yang semakna, karena hadits-hadits saling menguraikan/menjelaskan, terutama hadits-hadits bersifat umum selalu dijelaskan oleh hadits-hadits bersifat khusus.

Hadits “Jauhilah olehmu sesuatu yang diada-adakan karena yang diada-adakan itu bid’ah dan sekalian bid’ah adalah dholalah (sesat)” dan yang semakna, telah dijelaskan atau diuraikan oleh hadits lain seperti

Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak” (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)

Sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw bahwa perbuatan/ibadah yang baru (bid’ah) dan tertolak adalah bid’ah dalam urusan kami. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/17/urusan-kami/

Mustahil Rasulullah saw menyatakan tertolak untuk perbuatan/ibadah yang telah Allah swt diamkan/bolehkan.

Jelaslah yang tertolak adalah bid’ah dalam urusan kami. Urusan kami adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah swt baik berupa kewajiban, larangan dan pengharaman.

Kewajiban adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya wajib.
Larangan dan pengharaman adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya haram

Marilah kita lihat kembali pemetaan perbuatan/ibadah
Peta perbuatan/ibadah

Ibadah mahdah (ibadah ketaatan), ibadah wajib, ibadah yang ditetapkan oleh Allah swt yakni
• wajib dilakukan (perbuatan/ibadah yang hukumnya wajib)
• wajib dihindari (perbuatan/ibadah yang hukumnya haram, berupa yang dilarang dan diharamkan)

Ibadah ghairu mahdah (ibadah kebaikan), ibadah boleh, ibadah yang didiamkan/dibolehkan oleh Allah swt yakni
• sebaiknya dilakukan (perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh-dianjurkan / sunnah / mandub)
• sebaiknya dihindari (perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh-boleh / mubah dan boleh-tidak disukai / makruh)

Dasar/Hujjah/Dalil peta perbuatan/ibadah

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah [2]:277 )

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqarah [2]:110 )

Tahapan perbuatan/ibadah adalah

1. Menjadi Muslim, mengucapkan syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. (rukun Islam)
2. Menjadi Mukmin, menjalankan perbuatan/ibadah yang wajib dijalankan dan wajib dihindari serta meyakini seluruh rukun iman (QS Lukman [31]:4)
3. Menjadi Muhsin (muhsinin), menjalankan perbuatan/ibadah yang boleh-dianjurkan (sunnah/mandub) dan berupaya menjauhi perbuatan boleh-boleh (mubah) , boleh-tidak disukai (makruh) (QS Lukman [31]:3)

Jadi dapat kita pahami bahwa bid’ah yang tertolak (dholalah) adalah bid’ah pada perbuatan/ibadah yang wajib dilakukan dan yang wajib dihindari (ibadah wajib/ibadah mahdah)

Sedangkan bid’ah dalam perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh/ibadah ghairu mahdah asalkan tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits merupakan perbuatan baik atau bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah.

Oleh karenanya sebagian ulama menganggap kaum Wahabi atau salaf(i) justru telah melakukan bid’ah dan sesat/dholalah karena mereka menetapkan perbuatan/ibadah sebagai hukum wajib padahal sesungguhnya perbuatan/ibadah tersebut adalah hukumnya sunnah/mandub atau sebaliknya mereka melarang/mengharamkan (hukumnya haram) padahal sesungguhnya perbuatan/ibadah tersebut adalah hukumnya sunnah/mandub, seperti melarang/mengharamkan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh-dianjurkan atau sunnah/mandub berdasarkan firman Allah swt

Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad
"Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu" (QS al Hasyr [59] : 18 )

Jika dikatakan bahwa perbuatan/ibadah Maulid Nabi Muhammad saw meniru/mengikuti perbuatan kaum Nasrani yang memperingati hari kelahiran Nabi Isa as berdasarkan dalil/hujjah bahwasannya orang-orang kafir bergembira dengan perbuatan kaum muslimin yang menyerupai mereka adalah firman Allah ta’ala :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” [QS. Al-Baqarah : 120].

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw bukanlah “mengikuti agama mereka” dan bukan pula “mengikuti kemauan mereka”.

Agama mereka, kemauan mereka adalah menjadikan Nabi Isa as sebagai anak Tuhan

Sekali lagi kami sampaikan bukanlah sebuah kesalahan/dosa perbuatan kaum Nasrani memperingati hari kelahiran Nabi Isa as.

Dosa / kesesatan mereka adalah menjadikan Nabi Isa as sebagai anak Tuhan.

Kesimpulannya adalah tidak ada larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits bagi kaum muslim yang melakukan perbuatan/ibadah Maulid Nabi saw.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Sabtu, 24 Juli 2010

Generasi Terbaik

Kesalahpahaman tentang Generasi Terbaik


Sebagian muslim menyerukan supaya kita ramai-ramai mengikuti generasi Salaf. Ketika mereka mengetahui bahwa saya seorang muslim yang sependapat, mendalami dan menyiarkan  Tasawuf dalam Islam, mereka mengatakan seperti ini,

Sezuhud-zuhudnya, sewara'-wara'nya, se tawadhu'-tawadhu'nya generasi Khalaf....Tidak akan pernah mampu menandingi generasi salaf

Pernyataan ini mereka merujuk pada hadits berikut,

Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya". HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.

Bagaimana mungkin matan hadits tersebut "sebaik-baiknya manusia adalah (yang hidup) di zamanku" berlaku untuk seluruh manusia generasi salaf di zaman Rasulullah SAW.

Matan hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an yang lebih banyak menyematkan atribut dan sifat-sifat negatif terhadap kebanyakan kaum muslimin yang sezaman dengan Nabiullah Muhammad saw?. Al-Qur’an menginformasikan kepada kita kebanyakan dari mereka yang sezaman dengan Nabi sebagai orang-orang munafik, yang keterlaluan dalam kemunafikannya (Qs. At-Taubah: 101), masih berpenyakit dalam hatinya, tidak memiliki keteguhan iman, dan berprsangka jahiliyah terhadap Allah swt (Qs. Ali-Imran: 154), sangat enggan berjihad (Qs. An-Nisa': 71-72 dan At-Taubah ayat 38), melakukan kekacauan dalam barisan (Qs. At-Taubah: 47), lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan musuh (Qs. Ali-Imran: 153 dan At-Taubah : 25), bahkan kebanyakan mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (Qs. Al-Jumu’ah: 11).

Kalau pula dikatakan bahwa ketiga generasi itu yang dikatakan terbaik, orang-orang muslim semuanya akan berpegang teguh pada satu akidah yang benar sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saw.

Namun realitanya beragam sekte, firqah dan mazhab dalam masyarakat Islam timbul pada generasi itu.
Khawarij muncul dipenghujung tahun ke-30 H, mereka memiliki akidah yang batil mengenai keimanan, mereka membunuhi kaum muslimin yang berselisih paham dengan keyakinan mereka, dengan mudah mereka menyematkan kekafiran kepada banyak kaum muslimin, sehingga hamparan bumi bersimbah darah karenanya. Belum berakhir satu abad pertama, kembali muncul Murjiah, mereka mengajak umat Islam untuk berlepas dari tatanan dan komitmen syariat dengan slogan yang terkesan humanis dan elegan, “Selama seseorang masih beriman, maksiat apapun yang dilakukan tidak tercatat sebagai dosa”. Iman bagi paham ini cukup dengan ucapan, sehingga berbagai kewajiban agama, moralitas dan berbagai kode etik diremehkan dan ditinggalkan. Tidak lama berselang setelah itu, muncul kembali Mu’tazilah pada tahun 105 H dengan jarak yang singkat sebelum wafatnya Hasan al Bashri. Kehadiran paham baru ini semakin membuat jurang perselisihan dan perpecahan kaum muslimin semakin menganga dan melebar dan bahkan terkadang perselisihan yang ada mesti diselesaikan dengan pertumpahan darah.

Bagaimana mungkin sebuah hadits bertentangan dengan realita yang terjadi ?

Pengertian sebenarnya dari Salafush Sholeh adalah mereka-mereka generasi salaf yang sholeh, sholeh = berakhlak baik. Yang menjalankan ketiga pokok ajaran Islam , termasuk Ihsan yang artinya berakhlak baik atau pun muslim yang terbaik atau muhsinin. (Ihsan dalam bahasa arab artinya terbaik, sempurna).

Siapa mereka ?, tentu adalah para Sahabat, para Tabi'in dan para Tabi'ut Tabi'in, disini jelas yang dimaksud adalah orangnya bukan generasinya.

Lalu, apakah tidak mungkin muslim yang hidup setelah generasi Salaf menjadi muslim yang terbaik, berakhlak baik, atau muhsinin ?

Firman Allah SWT, "Sungguh sebaik-baiknya diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (Qs. Al-Hujurat: 13).

Allah SWT berfirman, "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran." (Qs. Al-'Asr: 1-3). Ayat ini menegaskan manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Allah SWT tidak mempersyaratkan generasi, masa dan zaman di mana seorang hambanya hidup dan bermukim.

Seorang manusia tidak pernah memilih dan tidak punya ikhtiar mengenai kapan dan dimana ia dilahirkan, sebab telah menjadi hak mutlak Allah swt untuk menetapkannya. Karenanya berdasarkan falsafah keadilan Ilahi adalah keniscayaan tidak menjadikan semata-mata masa dan tempat lahir sebagai persyaratan seseorang disebut memiliki kebaikan dan kemuliaan, melainkan berdasarkan kekuatan iman, kedalaman ilmu dan keikhlasan amal.

Coba kita perhatikan hadits diriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah saww dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah saww adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau saww menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata hadis ini shahih.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih. Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak

Begitu juga ada sebagian muslim yang menyerukan bahwa kita sebaiknya tidak mengikuti Imam Madzhab yang empat yakni, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali, karena mereka tidak maksum (terjaga dari kesalahan).  Padahal kita tahu bahwa yang maksum adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Imam Madzhab yang empat mengikuti Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam, para Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in. Mereka menggali hukum (fikih) berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits.

Begitu pula dengan metode pemahaman mereka secara dzahir, harfiah atau tekstual mereka beralasan kenapa kita tidak perlu mengikut imam madzhab yang empat, karena imam madzhab pernah menyatakan bahwa jika kita menemukan pendapat mereka yang keliru maka kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Mereka memahami pernyataan imam-imam madzhab itu dengan apa-adanya atau tekstual atau secara tersurat.

Padahal maksud Imam-Imam madzhab itu adalah agar kita mengikuti mereka tetap  merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Yang tersirat dari pernyataan Imam-imam Madzhab itu adalah  sikap tawadhu mereka. Ini adalah suatu tauladan akhlak yang terpuji.

Marilah kita mendalami dan menjalankan pokok-pokok ajaran dalam Islam secara menyeluruh (kaffah), sebaiknya tidak menolak/meningkari satu pokokpun. Pokok-pokok ajaran dalam Islam yakni, , Islam (rukun Islam, fiqih), Iman (rukun Iman, Ushuluddin), Ihsan (akhlak,  Tasawuf). Kita mendalami dan menjalankan keseluruhan pokok-pokok ajaran dalam Islam  agar menjadi muslim yang sholeh, muslim terbaik, muslim yang ihsan atau muhsinin  yakni muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah.

Seolah-olah melihat Allah timbul dari akhlakul karimah = keadaan sadar (kesadaran) atau perbuatan/perilaku secara sadar dan Mengingat Allah.

Setiap perilaku kita / akhlak kita harus dengan mengingat Allah, seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Alllah

Bagaimana caranya?

Caranya adalah menjadikan Qur’an itu sebagai hidayah,

Artinya setiap perilaku kita / akhlak kita selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an, dan seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Al Qur’an.

Contoh:

Kita mendirikan Sholat , sholat sudah mengikuti Al-Qur’an dan Hadits (Fikih), sholat dilakukan diniatkan karena Allah (Ushuluddin) , namun memandang (melihat) selainNya (Tasawuf), misalkan timbul di hati memandang (melihat) manusia agar dianggap sebagai muslim yang sholeh. Sehingga sholatnya lalai. Maka celakalah !

Jadi yang benar adalah,  sholat mengikuti Al-Qur'an dan Hadits (fikih), sholat diniatkan karena Allah (Ushuluddin) dan dilakukan secara sadar dan mengingat Allah (tasawuf) ===> amal ibadah sholat kita akan sampai (wushul) ke hadhirat Allah. Inilah yang disebut sholat adalah mi'raj nya kaum muslimin (Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin ).

Wassalam

Zon di Jonggol

Rabu, 30 Juni 2010

Zuhudlah di dunia

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya". HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.

Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim di atas, ada tiga kelompok yang merupakan sebaik-baik manusia, yang hidup sezaman dengan Nabi saw yakni para sahabat, zaman setelahnya yakni tabi’in dan zaman setelahnya lagi, yakni generasi tabi’ut tabi’in.

Mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.

Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin), seolah-olah mereka melihat-Nya walaupun mereka tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat mereka.

Sekarang kita yang jauh dari masa generasi terbaik itu, mulai timbullah sikap "membela diri" yang sesungguhnya adalah memperturuti hawa nafsu.
Nah, memperturuti hawa nafsu inilah yang menghijab kita dari "seolah-olah kita melihatNya"

Apa akibatnya bagi kita kaum muslim yang tidak lagi dapat atau terhijab dari “seolah-olah kita melihatNya”.

Sebagian dari kita berani membuka aurat, setengah bugil bahkan bugil di depan kamera atau di depan orang lain.

Bahkan ada pula yang berani melakukan perbuatan zina di depan kamera atau di depan orang lain.

Jelas sudah bahwa mereka memperturutkan hawa nafsu sehingga menghijabi dirinya dari “seolah-olah melihatNya”.

Sikap “membela diri” mereka adalah atas nama seni, hak asasi manusia atau hak pribadi, kami lakukan atas kesukaan bukan paksaan, tidak mengganggu orang lain, dan lain-lain alasan.

Begitu pula sebagian dari muslim yang mengkhawatirkan akan terjadi kemunduran masyarakat Islam , terutama dari segi ekonomi dan urusan duniawi,  dalam mereka memahami sebuah hadits “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir” (HR Muslim).

Kekhawatirkan mereka sesungguhnya adalah sebuah bentuk sikap “membela diri” karena pandangan mereka yang sebenarnya menjurus kepada materialisme dan mereka terhijab dari “seolah-olah melihatNya”.

Mereka memahami firman Allah yang artinya “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga” (QS ar Rahmaan: 24) dimana bagi mereka yang dimaksud dua syurga adalah syurga dunia dan syurga akhirat.

Padahal Allah telah menggambari tentang dunia pada firmanNya, antara lain yang artinya,

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS  al Hadid : 20)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 64)

Mereka membela diri, oleh karena mereka muslim maka mereka berhak atas penghidupan yang baik di alam dunia dibandingkan orang kafir.

Mereka yakin bahwa mereka dicintai Allah sehingga mereka merasa wajar meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik  bahkan kaya raya.

Padahal anjuran (sunnah) Rasulullah SAW agar kita dicintai Allah dan dicintai manusia adalah sebagaimana sebuah hadits

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Zuhud adalah tidak adanya ketergantungan dan terpusatnya perhatian terhadapnya.

Bersikap qanaah terhadap rizki yang halal dan ridho terhadapnya serta bersikap ‘iffah dari perbuatan haram dan hati-hati atau bahkan menghindari terhadap syubhat.

Jiwa yang merasa cukup dan iffah serta berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah merupakan hakekat zuhud.

Zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, bererti menjauhkan diri dari merasa iri hati terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta mengosongkan hati dari mengingati harta milik orang..

... (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Al-Hadiid :23)

Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu!  Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kehidupan zuhud ini dicontoh oleh para sahabatnya: Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang beriman.

Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.

Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang bertanya, ”Dimana orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat?” Lalu Ibnu Umar menunjukkan kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, seraya balik bertanya, ”Bukankah kalian bertanya tentang mereka?

Abu Sulaiman berkata, ”Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah dua gudang harta dari sekian banyak gudang harta Allah yang ada di bumi. Keduanya menginfakkan harta tersebut dalam rangka mentaati Allah, dan bersiap menuju Allah dengan hati dan ilmunya.”

Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia, mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya.

Pemerintahan Islam berhasil menghadirkan keamanan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Perdaban dibangun atas dasar keimanan dan moral. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin yang paling zuhud, masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkahan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta, karena kebutuhannya sudah tercukupi.

Dengan adanya sikap membela diri maka akan sulitlah mengamalkan sunnah Nabi untuk berlaku Zuhud di dunia. Sikap membela diri sesungguhnya adalah memperturutkan hawa nafsu sehingga menghijabi diri kita sehingga tidak mencapai keadaan “seolah-olah melihatNya”.

Sikap diri, akhlak,  budi pekerti, moral, bertalian dengan hati, ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha ,qanaah,  tawakal, mengenal diri, mengenal Allah (ma’rifatullaH) adalah perihal yang wajib kita pahami .

Untuk itulah kami menganggap penting dalam pendidikan agama untuk memperdalam Akhlak sebagaimana yang kami sampaikan dalam tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Pendidikan agama dengan akhlak , insyaallah akan menghasilkan muslim yang mencapai tingkatan Ihsan (muhsin) yakni “seolah-olah melihatNya” , sehingga apa pun perbuatan yang dilakukan di alam dunia ini selalu keadaan “seolah-olah melihatNya”  yang akan memotivasi untuk  selalu mentaati perintahNya  serta menjauhi laranganNya.

Wassalam

Zon di Jonggol