Tampilkan postingan dengan label Zuhud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zuhud. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Februari 2011

Mengelola Kebencian

Bagaimana kita mengelola rasa kebencian.

Sungguh sangat menyedihkan kalau kita melihat kejadian akhir-akhir ini seperti penyerangan (Ahmadiyah) di Cikeusik dan Temanggung ataupun tragedi demonstrasi di Mesir. Semua terjadi pada hakikatnya karena tidak dapat mengelola dengan baik rasa kebencian.

Namun untuk kasus Temanggung menurut laporan Forum Umat Islam ada pihak tertentu memprovokasi rasa kebencian
http://voa-islam.com/news/pembaca/2011/02/10/13265/mengoreksi-berita-media-soal-kerusuhan-temanggung-yang-sudutkan-islam/
.
Hal yang sebaiknya kita ingat selalu adalah apapun atau siapapun yang kita benci, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla

Mari kita perhatikan tanggapan mereka yang mengaku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh atas pendapat kami sbb:
"Seorang muslim sejati tidak akan pernah membenci orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani karena orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani keberadaan mereka pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla. Jika kita membenci mereka maka kita pada hakikatnya adalah membenci kehendak Allah Azza wa Jalla."

Tanggapan mereka,
"Antum harus belajar apa itu al-bara yaitu kita harus membenci orang yahudi dan nasrani karena perintah Allah. Allah tidak menyukai orang2 musyrik (yahudi & nasrani) dan mereka adalah penghuni neraka jahanam se-lama2nya ber-sama2 syetan/iblis. Syetan juga juga keberadannya atas kehendakNya tapi Allah menyebut syetan sebagai musuh2 Allah dan kita harus memusuhi syetan2 tsb. Yahudi dan Nasrani berkolaborasi dengan syetan2 untuk memusuhi umat Islam, jadi antum tidak mau memusuhi Yahudi dan Narsani berarti menentang perintah Allah dan antum termasuk teman2 syetan sekaligus musuh Allah dan umat Islam".

Dari tanggapan tersebut kita dapat memahami bahwa saudara muslim kita tersebut terprovokasi/terindoktrinisasi pemahaman para ulama/syaikh/ustadz mereka. Hal ini menurut analisa kami, serupa dengan kejadian-kejadian tragedi bom di negeri kita. Mereka salah memahami petunjuk dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Allah Azza wa Jalla mustahil memberikan perintah untuk membenci apa yang Dia telah ciptakan.

Keberadaan mereka (orag-orang Yahudi, Orang-orang musyrik atau non muslim lainnya) di dunia adalah kehendakNya yang merupakan cobaan bagi kita kaum muslim. Allah ta'ala pada hakikatnya ingin melihat bagaimana kita menghadapi kehendakNya. Kita menghadapi kehendakNya haruslah dengan sikap/perbuatan yang dicintai Allah ta’ala.

Firman Allah yang artinya,
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

Begitu juga keberadaan syaitan adalah kehendakNya, yang kita benci adalah perbuatan/sikap/upaya syetan menyesatkan manusia.

Uraian selengkapnya mengenai kebencian terhadap ciptaanNya atau terhadap sikap/perbuatan ciptaanNya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/

Sekarang mulai terbukti pada kejadian-kejadian itu bahwa rasa kebencian bukanlah diawali oleh kaum muslim namun diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang menurut analisa perkiraan kami bersumber dari orang-orang yang memang diciptakan oleh Allah ta’ala mempunyai rasa permusuhan dengan kaum muslim.
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Untuk itulah kita harus dapat mengelola rasa kebencian dengan selalu sadar bahwa apapun atau siapapun yang menimbulkan rasa kebencian pada diri kita, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla.

Baik kaum muslim maupun kaum non muslim salah paham dengan nash-nash Al Qur’an atau hadits seperti , ”Perangilah orang-orang kafir” atau ”halal darah orang-orang kafir”

Contoh firman Allah ta’ala yang artinya,
”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At Taubah [9]:123 )

Kita sebaiknya tidak memahami Al-Qur’an dan Hadits dengan metode "terjemahkan saja". Sedikit penjelasan tentang metode ini dapat ditemukan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Namun kita harus memperhatikan riwayat turunnya ayat tersebut (asbabun nuzul) , juga memperhatikan hubungan kalimat dalam satu ayat, hubungan dengan ayat-ayat lain dan termasuk hubungan dengan hadits-hadits.

Ayat diatas yang memuat perintah “perangilah orang-orang kafir” turun ketika Rasulullah menghadapi sikap/perbuatan orang-orang kafir yang menentang penyiaran agama Islam.

Perintah “perangilah” bukanlah berarti “bunuhlah”. Perangilah bisa dilakukan dengan menyatakan pendapat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, klarifikasi kejadian, mendudukan masalah, koreksi berita, menyatakan ketidak-setujuan, tidak membenarkan, tidak sependapat dll. Perang seperti ini yang disebut perang pendapat/pemikiran (ghazwul fikri). Sedangkan pada waktu ayat itu turun, memang orang-orang kafir telah meperlihatkan sikap/perbuatan memerangi atau mengadakan peperangan terhadap Rasulullah beserta kaum muslim.

Kesalahpahaman yang fatal adalah memahami ”halal darah dan harta orang kafir” seolah-olah memerintahkan untuk membunuh orang kafir. ”Halal darah orang kafir” berlaku ketika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh mereka, seperti ketika keadaan dimana tinggal ada dua pilihan membunuh atau dibunuh. Karena pada hakikatnya Allah ta’ala melarang keras membunuh manusia (ciptaanNya) apalagi membunuh sesama saudara muslim.
Firman Allah: "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan (dilindungi) Allah, kecuali dengan benar." (al-An'am: 151)
Rasulullah bersabda "Tidak halal darah seseorang muslim kecuali sebab tiga hal: karena membunuh jiwa, seorang janda/duda berzina dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hukuman berlaku terhadap mereka yang melakukan pembunuhan dan janda/duda berzina setelah syarat-syarat terpenuhi. Sedangkan bagi orang yang meninggalkan agamanya, pada hakikatnya bukan berarti harus segera dibunuh namun berubah statusnya dari haram darahnya menjadi halal darahnya jika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh mereka. Prinsipnya Allah ta’ala dalam surah Al An’am diatas melarang membunuh manusia (ciptaanNya) , kecuali dengan benar atau dengan alasan yang dibenarkan.

Begitupula kepada kaum Ahmadiyah (selama mereka masih bersyahadat dan syahadatnya sama dengan kaum muslim) tetap statusnya haram untuk dibunuh. Ketika mereka telah nyata-nyata keluar dari agama Islam pun baru berubah statusnya dari haram darahnya menjadi halal darahnya dan bukan berarti segera/boleh dibunuh namun diperbolehkan membunuh jika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh.

Keberadaan kaum Ahmadiyah atau pemahaman kaum Ahmadiyah, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla dan merupakan cobaan bagi kaum muslim. Pada hakikatnya, Allah Azza wa Jalla ingin melihat bagi mana sikap/perbuatan kita, kaum muslim menghadapi cobaan dariNya.

Langkah-langkah yang diambil oleh para ulama sebaiknya tetap berupaya meluruskan pemahaman mereka, bukankah keadaan mereka belumlah ”final” atau sebelum kematian menjemput mereka keadaan masih bisa berubah.

Sedangkan umara/penguasa perlu menetapkan dan menyiarkan kabar bahwa pemahaman Ahmadiyah bukanlah termasuk agama Islam pada seluruh jalur komunikasi/informasi, jika sudah jelas pemahaman Ahmadiyah bukanlah termasuk agama Islam berdasarkan rekomendasi yang berkompeten seperti Majelis Ulama Indonesia. Sejak penetapan tersebut maka tidak boleh menyandingkan kata Islam dengan Ahmadiyah diseluruh dokumen, tulisan, cetakan, dll Begitu pula perlakuan terhadap kaum Ahamadiyah menjadi serupa dengan perlakuan kita terhadap non muslim.

Hal yang lain perlu diperhatikan dalam mengelola kebencian adalah dengan menjauhi sumber yang akan menimbulkan kebencian yakni upayakan untuk tidak menjadikan mereka teman kepercayaan. Maksud teman kepercayaan disini adalah hubungan dengan mereka yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk memasukkan apa yang mereka pahami (ghazwul fikri). Rasulullah pernah mencontohkan berhubungan dengan kaum non muslim dalam hal transaksi jual beli, menolong, memberikan perlindungan, membuat perjanjian, berlaku adil kepada orang kafir bukan bekerjasama ataupun berteman dengan mereka. Rasulullah pernah mencontohkan menjadikan mereka penunjuk jalan namun tentu tidak memberikan kesempatan mereka untuk memasukkan pemahaman (ghazwul fikri).

Kita sebaiknya tidak menentang peringatan Allah Azza wa Jalla karena Dia Maha Mengetahui segalanya.

Allah Azza wa Jalla telah memberikan peringatan kepada kita bahwa kalau kita menjadikan mereka teman kepercayaan maka kemudharatan pasti akan menimpa kita karena mereka memang diciptakan dengan rasa permusuhan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

Oleh karenanya pada zaman kini, dapat kita lihat kemudharatan telah menimpa kaum muslim di berbagai belahan dunia hanya dikarenakan para pemimpin negeri/penguasa/umara menjadikan orang-orang Yahudi atau orang-orang Musyrik sebagai teman kepercayaan. Mereka menjadikan penasehat segala bidang. Bahkan di wilayah kerajaan dinasti Saudi menjadikan mereka penasehat kurikulum pendidikan/pengajaran. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ Begitu pula di negeri kita, penguasa menjadikan mereka penasehat ekonomi seperti kasus kejatuhan p’ Suharto oleh IMF. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/17/siapakah-teroris-sesungguhnya/
dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/13/dibalik-krisis/

Pada saat kini yang menurut pendapat pakar ekonomoi, presiden SBY tetap menjalankan sistem ekonomi neoliberal berdasarkan nasehat orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik walaupun Presiden berulang-ulang mengatakan bahwa pemerintahannya menjalankan ekonomi ”jalan tengah”. Apakah ini termasuk pula kebohongan sebagaimana yang telah diperingatkan oleh para ulama kepada pemerintah. Sedangkan analisa kami, orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik diduga telah berupaya ”menyingkirkan” pa JK ketika, ketika kebijakan beliau dalam bidang ekonomi, terlihat ingin memajukan perekonomian bangsa berdasarkan kemandirian ekonomi. Salah satu buktinya adalah negosiasi ulang kontrak-kontrak pertambangan dengan mereka yang pada hakikatnya adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Jadi pada zaman ini memerangi mereka bukanlah membunuh mereka karena mereka adalah ciptaan Allah atau kehendak Allah Azza wa Jalla, namun sebagai contoh adalah mengakhiri perjanjian kerjasama pengelolaan karunia Allah ta’ala berupa sumber daya alam dengan meningkatkan kemandirian.

Cara lain adalah agar dikeluarkan fatwa ulama untuk umara/penguasa sebagaimana yang kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/09/butuh-fatwa-ulama/

Insyalllah, apa yang kami lakukan dengan membuat tulisan ini dan menyampaikannya termasuk upaya memerangi mereka di jalan Allah. Semoga perbuatan kami termasuk yang dicintai oleh Allah ta’ala dan juga dicintai sesama manusia.

Amin ya Robbal Alamin.

Inti tulisan kami di atas adalah:

Provokasi tidak akan mendapat hasil atau kerusuhan tidak akan terjadi jika kita dapat mengelola rasa kebencian

Resume tulisan kami atau cara mengelola rasa kebencian adalah pada kalimat berikut,


"Untuk itulah kita harus dapat mengelola rasa kebencian dengan selalu sadar bahwa apapun atau siapapun yang menimbulkan rasa kebencian pada diri kita, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla."



dan


"Hal yang lain perlu diperhatikan dalam mengelola kebencian adalah dengan menjauhi sumber yang akan menimbulkan kebencian yakni upayakan untuk tidak menjadikan mereka teman kepercayaan"




 

Wassalamu'alaikum

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Kamis, 15 Juli 2010

Muslim tingkatan Ihsan

Bagaimanakah agar kita mencapai tingkatan muslim yang Ihsan (muhsinin)

Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw.

Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”

Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.”

Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.”
Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.

Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).”
Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.

Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)

Dari hadits diatas kita dapat memahami pokok ajaran dari Agama Islam yakni tentang Islam (rukun Islam), Iman (rukun Iman) dan Ihsan (seolah-olah melihatNya).

Dimanakah kita dapat kita pelajari atau kita dalami ke tiga pokok ajaran Agama Islam itu?

Islam (rukun Islam) bisa kita dapati dengan mendalami fiqh / hukum.

Klo tidak mempunyai kemampuan untuk berijtihad maka bolehlah kita mengikuti ulama yang berkompetensi / ahli atau dikenal sebagai Imam Mujtahid.

Jumhur ulama sepakat ada empat Imam Besar yang kita kenal. salah satunya adalah Imam Syafi'i.

Iman (rukum Iman) bisa kita dapati dengan mendalami ushuluddin atau tentang i'tiqad /akidah. Imam yang telah menggali dan merumuskan dari Al-Qur'an dan Hadist, juga disepekati oleh jumhur ulama, salah satunya adalah Imam Abu Hasan al Asy'ari dan Imam Mansur al Maturidi yang dikenal dan disepakati sebagai ulama Ahlussunah Wal Jam'ah yang kaumnya dinamai kaum Ahlussunnah atau kaum Sunni.

Ihsan (seolah-olah melihatNya) bisa kita dapati dengan mendalami tentang akhlak, tazkiyatun nafs, ma'rifatullah yang secara umumnya dinamai Tasawuf. Banyak ulama yang telah menguraikan atau menceritakan pengalaman mereka  tentang Tasawuf , antara lain adalah Syaikh Ibnu Athoillah.

Ihsan adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.”

Sebagian muslim ternyata tidak pernah mencita-citakan untuk menjadi muslim yang terbaik, yakni yang mencapai tingkatan Ihsan (muhsin), seolah-olah melihatNya. Yang umumnya dan awamnya diketahui adalah Rukun Islam dan Rukun Iman semata.

Kenyataan yang ada, memang sebagian ulama hanya fokus pada fiqh dan ushuluddin saja.

Mereka jarang mendalami tentang Ihsan (seolah-olah melihatNya), bahkan sebagian menolak mendalami Tasawuf yang merupakan pendalaman tentang Ihsan , hanya semata-mata karena alergi dengan istilah Tasawuf. Menurut mereka, tasawuf adalah mistik, khurafat, tahakyul, kolot, tidak modern atau tidak dapat mengikuti zaman.

Inilah yang kami sedihkan melihat kenyataan bahwa dalam zaman modern ini sebagian muslim tanpa disadari terpengaruh dengan slogan modernisasi agama, pembaharuan, pemahaman/ijtihad baru dengan metode pemahaman tekstual, dzahir, harfiah atau menurut mereka secara ilmiah dan modern yang bersandarkan dalil dan masuk akal.

Setelah kami lakukan pengkajian, ternyata apa yang dimaksud dengan slogan-slogan diatas , secara tidak disadari adalah pendangkalan agama Islam semata karena hanya menguraikan seputar fiqh dan ushuluddin saja. Dengan metode pemahaman secara dzahir, tekstual atau lahiriah mereka tidak dapat mendalami tentang Ihsan atau tasawuf, karena pendalaman Tasawuf adalah semata-mata bergantung kepada karunia Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

Kita sesungguhnya tidak menolak seluruh modernisasi. Modernisasi dianjurkan untuk bidang-bidang keduniaan yang belum ada aturannya dari Allah dan Rasul. Namun dalam soal kegamaan, soal syariat, soal ibadah, soal i’tiqad (aqidah), soal hakikat, soal ma’rifat  maka kita menolak sekuat-kuatnya akan modernisasi. Agama adalah dari Allah dan Rasul, kita wajib menerima bagaimana adanya, sebagai yang diajarkan Rasulullah.

Nabi Rasulullah bersabda: “Dari Anas bin Malik Rda, beliau berkata, Rasulullah telah bersabda: Apabila ada sesuatu urusan duniamu maka kamu yang lebih tahu, tetapi apabila dalam urusan agamamu maka Saya yang mengaturnya”. (HR Imam Ahmad bin Hanbal).
Agama tidaklah mengikuti zaman tetapi sebaliknya zaman yang harus tunduk kepada agama.

Slogan modernisasi agama dihembuskan dan sepertinya memang ada pihak yang "mengangkat" atau "mengupayakan" untuk memasyarakatkan metode pemahaman secara dzahir, tekstual atau harfiah. Mereka mengaku sebagai pembaharu (mujaddid)  dan seolah-olah mempunyai kemampuan untuk melakukan ijtihad atau menjadi imam mujtahid.

Padahal banyak syarat harus dipenuhi untuk  melakukan ijtihad maupun menjadi imam mujtahid. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/31/imam-mujtahid/

Bagaimana proses pendalaman Tasawuf (tentang ihsan, seolah-olah melihatNya) ?

Tasawuf dalam Islam, sesungguhnya sangat mudah untuk dijalani. Tasawuf bukanlah pemahaman namun amalan atau perbuatan. Sehingga muslim yang telah mendalami Tasawuf bukannya mengajarkan pemahaman namun menceritakan pengalaman mereka atau perjalanan mereka. Kadang-kadang tulisan tidak lagi sanggup mengungkapkan pengalaman atau perjalanan mereka, oleh karenanya sebagian dari mereka mengungkapkan dengan syair , hikmah (pernyataan yang dalam maknanya)  atau nasehat.

Tasawuf dalam Islam, prinsip dasarnya adalah melakukan perbuatan apapun di alam dunia dalam rangka memenuhi keinginan Allah yakni beribadah atau menyembah kepadaNya atau selalu mengingat Allah.

Keinginan Allah, sebagaimana firmanNya yang artinya
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56)
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)

Setelah kesadaran ini dapat dipahami maka langkah selanjutnya adalah sebagaimana perkataan Rasulullah SAW,
”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)

Pakaian yang baru adalah bertobat, kemudian mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs), akhlak yang baik, adab yang mulia dalam perjalanan hidup kita, mengantarkan kita kembali sebenar-benarnya bersaksi (syahid) sebagaimana pada awal mula kejadian kita (ketika bayi dalam kandungan).

Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan, agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

Setiap manusia sudah bersaksi bahwa Allah adalah sebagai Rabbnya ketika masih dalam alam kandungan. Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firman yang artinya. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Sebagaimana yang disampaikan imam Al Qusyairi bahwa,
“Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Jadi langkah selanjutnya adalah selalu mengingat Allah, apapun yang kita lakukan di alam dunia wajib kita selalu mengingat Allah.

Silahkan baca tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/10/mengingat-allah/

Dan tulisan-tulisan lainnya di blog ini,  lihat indeks pada kolom paling kanan dengan judul "Perjalanan Hidup"

Firman Allah, yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui” (QS al Maaidah  5 : 54).

Suatu kaum yang Allah mencintai mereka. Dan merekapun mencintaiNya.

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Imam Ahmad berkata, “Zuhud ada tiga macam:

  • Pertama, meninggalkan perkara haram, dan ini adalah zuhudnya orang awam.

  • Kedua, meninggalkan perkara halal yang tidak berguna, dan ini adalah zuhudnya orang khas / khusus.

  • Ketiga, meninggalkan perkara yang menyibukkan seorang hamba sehingga melupakan Allah atau tidak mengingat Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.”


Orang-orang arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan dengan selalu mengingat Allah sehingga mereka adalah muslim yang mencapai tingakatan Ihsan (muhsin), seolah-olah melihatNya.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani,
"Apakah Anda pernah melihat Tuhan?"
Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?"
"Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali.  Sayyidina Ali ra menjawab, "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, (dzohir atau "mata kepala”)
tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ...". (dilihat oleh hati atau bashirah, "mata hati")

Kita harus yakin bahwa kita menyembah kepada Tuhan yang kita lihat (dengan mata hati) agar kita tidak tersesat atau salah menyembah.

Sebagaimana firman Allah yang artinya,

"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)." (QS Al Isra 17 : 72)

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (al Hajj 22 : 46)

"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami)." (QS Ar ruum 30 : 53)

"Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?" (QS As Zukhruf 43:40)

Dengan mengamalkan Tasawuf yang diantaranya Zuhudlah di didunia, maka kita akan dicintai Allah.

Jika Allah mencintai kita maka sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman:

“Apabila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya (kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku”

kesimpulan: bahwa dengan sadar dan selalu mengingat Allah , kita dapat seolah-olah melihatNya, mencapai muslim tingkatan Ihsan  (Muhsinin).

Tentang muhsinin , lihat QS Lukman 1-7
[31:1] Alif Laam Miim
[31:2] Inilah ayat-ayat Al Quraan yang mengandung hikmat
[31:3] menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)
[31:4] (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
[31:5] Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
[31:6] Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
[31:7] Dan apabila dibacakan kepadanya  ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.

Pengertian Muhsinin

Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang berbuat baik, Ihsan perbuatan atau tingakatannya, orangnya disebut Muhsin, kalau jamak muhsinin, Ihsan itu ialah kita menyembah kepada Allah seolah-olah kita melihatNya padahal kita tidak melihatNya.

Sifat-sifat Muhsinin
Pertama, muhsinin adalah orang yang menjadikan Qur’an itu sebagai hidayah Artinya setiap perilakunya selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an, dan seluruh waktunya penuh berinteraksi dengan Al Qur’an.

Allah menjadikan Al Qur’an ini sebagai obat/rujukan untuk orang yang muhsinin,
Mereka itu orang-orang yang selalu berbuat baik dengan mengikuti syari’at.
Kadang-kadang orang memahami syari’at itu sempit, potong tangan, rajam begitu pemahaman sebagian orang ketika syari’at itu akan ditegakan.
Padahal, bersikap adil, qanaah, zuhud, ikhlas, taqarub, dan akhlakul karimah yang lain  juga syari’at.

Wassalam

Zon di Jonggol

Jumat, 09 Juli 2010

Mengingat Allah

Revolusi akhlak bagi muslim di negeri kita dengan solusi selalu mengingat Allah


Kita sebagai muslim yang mengadakan “perjalanan” di alam dunia, secara tidak disadari menggantungkan cita-cita maupun tujuan hidup yang umumnya hubud dunya, cinta dunia.

Padahal Allah, telah memperingatkan kita dalam firmanNya, yang artinya

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)

Sebaiknya kita sebagai muslim harus berupaya atau bercita-cita menjadi muslim yang terbaik. Inilah perwujudan apa yang disunnahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yakni menjadi muslim yang Ihsan (muhsin). Ihsan adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.”

Sewaktu Jibril bertanya-jawab dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di depan para sahabat, Ihsan maksudnya adalah ”seolah-olah kita melihat-Nya walaupun kita tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat kita”

Keadaan muslim yang Ihsan , “seolah-olah melihatNya” akan memotivasi kita untuk melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya.

Muslim yang “seolah-olah melihatNya”, akan menjauhi laranganNya seperti, sombong, riya, ujub,  bohong, korupsi, mafia kasus/hukum, membuka aurat di depan orang yang tidak berhak, pornografi atau pornoaksi, zina, narkoba, riba  dll. Inilah solusi untuk revolusi akhlak bagi muslim di negeri kita ini.

Bagaimanakah kita mewujudkan “seolah-olah melihatNya” atau bertemu Allah atau dekat dengan Allah atau  bersama Allah (billah) ?

Imam Qusyairi mengatakan
“Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Dengan selalu sadar dan ingat kepada Allah (mengingat Allah), seorang muslim dapat mencapai tingkatan Ihsan, ”seolah-olah melihat-Nya”.

Penuhilah hati kita dengan selalu mengingat Allah, kita akan mencapai muslim yang Ihsan (muhsin), “seolah-olah melihat-Nya”.

Sebagaimana yang dikisahkan seorang pemuda dengan kekasih wanita nya. Di mana pemuda itu  setiap akan makan, mandi, tidur dan perbuatan lainnya selalu mengingat sang kekasih dan hatinya dipenuhi kekasihnya atau kekasihnya selalu hadir di hati pemuda itu, maka pemuda itu akan ”seolah-olah melihat kekasihnya”. Pemuda tersebut “seolah-olah” menjadi hamba sang kekasih.

Begitu pula bagi seorang muslim, yang mengingat Allah setiap melakukan perbuatan seperti ketika makan, mandi, tidur, mengadakan perjalanan dan perbuatan yang lain, muslim yang selalu mengingat Allah, sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi akan mencapai tingkatan ihsan, “seolah-olah melihatNya”.  Muslim yang menjadi hamba Allah.

Agar kehidupan kita di alam dunia ini selalu mengingat Allah maka seluruh perbuatan kita di alam dunia harus dengan sadar dan selalu mengingat Allah. Semua perbuatan muslim di alam dunia harus karena Allah (lillah) dan bersama atau dengan pertolongan Allah (billah).

Ini sekaligus bantahan bagi kaum sekuler yang memisahkan urusan dunia dengan urusan dengan Tuhan atau agama. Sehingga kelirulah bagi muslim yang mengatakan Agama Islam : Yes,  Partai Islam : No.

Apapun perbuatan, profesi, organisasi, institusi, lembaga, partai politik, jama’ah minal muslimin, harus merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits. Para pendiri negeri inipun menyadari bahwa pendirian atau kemerdekaan negara adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Oleh karenanya kelirulah manusia yang merasa hidup seorang diri dan segala sesuatu merupakan adalah upaya manusia sendiri sehingga lupa mengingat Allah. Sehingga ada yang merasa gagal dalam upaya dan hidupnya serta merasa seorang diri menjalankan kehidupannya, akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara bunuh diri.

Padahal Allah, setelah menciptakan Manusia, Dia tidak membiarkan ciptaanNya begitu saja. Dia mengurusi manusia dengan ke Maha Pemurah dan Maha Penyayang Nya. Sungguh seorang manusia dalam perjalanannya di alam dunia tidaklah seorang diri, kita selalu dekat dengan Allah, hanya kita menghijabi diri dari Allah. Salah satu hijabnya adalah ego diri atau kesombongan diri.

Firman Allah yang artinya,

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur” (QS al Baqarah 2 : 255) .

Katakanlah: "Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah?" Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka. (QS al Anbiyaa 21:42)

“Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. An Naml 27 : 62)

Berikut sebagian langkah-langkah kita sebagai muslim agar dalam perjalanan di alam dunia, seluruh waktunya dalam kesadaran dan selalu  mengingat Allah.

1. Tobat

Salah satu yang menghijabi manusia dari kedekatan atau bersama Allah (billah) adalah dosa. Segeralah mengingat Allah dengan bertobat yang sesungguhnya.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS Ali Imran 3 : 135)

Allah dengan tegas menyatakan dalam ayat diatas bahwa salah satu ciri orang yang bertaqwa kepada Allah yaitu mereka yang apabila melakukan kesalahan, mereka kemudian mengingat Allah serta bertaubat atas segala kesalahan yang dilakukannya dan tidak akan meneruskan atau mengulangi kesalahan.

Mengingat manusia adalah tempat salah dan lupa maka Allah dengan sifat Rahman dan RahimNya senantiasa membuka pintu taubat dan ampunanNya sampai kelak matahari terbit dari arah barat saat dimana kiamat kubra akan terjadi.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan akan hal itu dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim yang artinya: “ Sesungguhnya Allah taala membentangkan tanganNya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang, dan Ia membentangkan tanganNya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam, sehingga matahari terbit dari arah barat (sampai kiamat).” ( H.R. Muslim )

2. Akhlakul karimah
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) diartikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama.

Akhlak atau etika islami merupakan tema penting yang seringkali dibahas dalam kajian tazkiyatunnufus (pensucian diri), akhlak juga merupakan salah satu poin penting yang karenanya diturunkan Rasul pilihan, Nabi akhir zaman Muhammad Saw. "sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak".

Akhlak Islami merupakan sifat kepribadian yang sangat dianjurkan oleh agama yang hanif ini, dan menyerukan kepada segenap kaum muslimin untuk menghiasi diri mereka dengannya.

Akhlak adalah manifestasi batin seorang muslim yang mana pada hari akhir nanti akan ditampakkan segala hakikatnya. Sebagaimana pada diri manusia ada sisi jasmani yang dhohir, yang merupakan postur tubuh manusia itu sendiri manusia juga memiliki kerangka rohaniyahnya yang jika ditempa dengan baik dan dirawat maka akan menghasilkan bentuknya yang indah sebagaimana jasmani kita yang sering kita rawat dengan telitinya. Tetapi Allah hanya menilai bentuk rohaniyah dari seorang hamba-Nya saja, "seseunggunhnya Allah Swt tidak melihat kepada bentuk tubuh kalian melainkan pada hati kalian".

Akhlakul karimah merupakan akhlak muslim yang selalu dalam kesadaran dan mengingat Allah antara lain, menahan amarah, pemaaf, berprasangka baik, jujur, amanah, sabar, ikhlas, qanaah, wara’, tawadhu, dll

Alhamdulillah, adanya kesadaran dari pemerintah melalui melalui Kementerian Pendidikan Nasional yang sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD-Perguruan Tinggi . Namun pendidikan karakter bukanlah pendekatan melalui filsafat, psikologi, motivasi, menurut prasangka manusia atau hubungan antar manusia semata, yang terbaik adalah pendekatan melalui pendidikan akhlakul karimah, menghubungkan kembali manusia dengan Allah, mendidik manusia untuk dapat menghilangkan hijabnya dengan Allah sehingga dapat merasakan kedekatan atau kebersamaan dengan Allah yang memotivasi untuk mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Silahkan baca juga tulisan tentang pendidikan dan akhlak pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

3. Dzikir dan Doa

Dzikir jahar dan dzikir khofi kita lakukan dalam upaya untuk selalu mengingat Allah yang merupakan sebuah latihan untuk memunculkan akhlakul karimah karena selalu merasa dilihat Allah sampai meningkat kepada keadaan seolah-olah melihatNya.

4  Sholat wajib dan Sholat Sunnah, waktu terhubung kita dengan Allah pada waktu-waktu yang telah ditentukan..

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”  (QS  Thaha 20: 14)

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al Ankabut 29: 45)

Nabi Muhammad Saw bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi'rajul Mu'minin , “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.
Selengkapnya bacalah tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/20...sholat-khusyu/

2. Puasa, biasakanlah puasa senin-kamis atau yang lainnya, sehingga "keadaan" sedang berpuasa menambah waktu kita terhubung dengan Allah. Bukan sekedar menahan lapar dan haus saja.

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari)

Begitu juga selalu menjaga wudhu  atau selalu dalam keadaan berwudhu, menambah waktu kita terhubung dengan Allah.

3.  Zuhudlah di dunia, menambahah waktu kita terhubung dengan Allah, bahkan bisa dikatakan sepanjang kehidupan di alam dunia.

Selengkapnya, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/30/zuhudlah-di-dunia/

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Jika Allah mencintai kita maka sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman:

“Apabila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya (kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku”

Imam Ahmad berkata, “Zuhud ada tiga macam:

  • Pertama, meninggalkan perkara haram, dan ini adalah zuhudnya orang awam.

  • Kedua, meninggalkan perkara halal yang tidak berguna, dan ini adalah zuhudnya orang khas / khusus.

  • Ketiga, meninggalkan perkara yang menyibukkan seorang hamba sehingga melupakan Allah (lupa mengingat Allah), dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.”


Kita harus menjadi seorang arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan jika Allah yang berkenan dan bukan karena keinginan kita sendiri. Dengan zuhud di dunia ,  kita dapat mencapai keadaan manusia yang terhubung sampai (wushul) kehadhirat Allah.

Silahkan baca juga tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/20...adhirat-allah/

Wassalam

Zon di Jonggol

Kamis, 01 Juli 2010

Ayo Zuhud

Di tengah kerusakan akhlak sebagian rakyat negeri ini yang sedang dipimpin oleh pemimpin yang terlihat terlena dengan pujian orang-orang yang memusuhi orang mukmin sehingga terlihat begitu penurut atas apa "nasehat" mereka,  peminpin yang terlihat sibuk dengan pencitraan diri ketimbang kemakmuran negeri, pemimpin yang terlihat lamban dan kurang tegas dengan berlaru-larutnya masalah negeri, seperti kasus century, lapindo, mafia kasus,  korupsi dll.

Marilah kita kampanyekan gerakan yang dianjurkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "Zuhudlah di dunia", agar kita dan negeri kita dicintai Allah serta rakyatnya saling mencintai begitu pula para pemimpin negeri.

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/30/zuhudlah-di-dunia/

Kita harus mencontoh Pemerintahan Islam dahulu bawa keberhasilan menghadirkan keamanan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Peradaban dibangun atas dasar keimanan dan moral.

Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin yang paling zuhud, masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkahan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta, karena kebutuhannya sudah tercukupi.

Kehidupan zuhud ini dicontoh oleh para sahabatnya: Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang beriman.

Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”

Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia, mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya.

Inilah solusi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk negeri kita.

Ayo gabung dalam group "AYO ZUHUD" pada

http://www.facebook.com/group.php?gid=135065423184159

Wassalam

2 Juli 2010

Zon di Jonggol

Rabu, 30 Juni 2010

Zuhudlah di dunia

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya". HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.

Berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim di atas, ada tiga kelompok yang merupakan sebaik-baik manusia, yang hidup sezaman dengan Nabi saw yakni para sahabat, zaman setelahnya yakni tabi’in dan zaman setelahnya lagi, yakni generasi tabi’ut tabi’in.

Mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.

Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin), seolah-olah mereka melihat-Nya walaupun mereka tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat mereka.

Sekarang kita yang jauh dari masa generasi terbaik itu, mulai timbullah sikap "membela diri" yang sesungguhnya adalah memperturuti hawa nafsu.
Nah, memperturuti hawa nafsu inilah yang menghijab kita dari "seolah-olah kita melihatNya"

Apa akibatnya bagi kita kaum muslim yang tidak lagi dapat atau terhijab dari “seolah-olah kita melihatNya”.

Sebagian dari kita berani membuka aurat, setengah bugil bahkan bugil di depan kamera atau di depan orang lain.

Bahkan ada pula yang berani melakukan perbuatan zina di depan kamera atau di depan orang lain.

Jelas sudah bahwa mereka memperturutkan hawa nafsu sehingga menghijabi dirinya dari “seolah-olah melihatNya”.

Sikap “membela diri” mereka adalah atas nama seni, hak asasi manusia atau hak pribadi, kami lakukan atas kesukaan bukan paksaan, tidak mengganggu orang lain, dan lain-lain alasan.

Begitu pula sebagian dari muslim yang mengkhawatirkan akan terjadi kemunduran masyarakat Islam , terutama dari segi ekonomi dan urusan duniawi,  dalam mereka memahami sebuah hadits “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir” (HR Muslim).

Kekhawatirkan mereka sesungguhnya adalah sebuah bentuk sikap “membela diri” karena pandangan mereka yang sebenarnya menjurus kepada materialisme dan mereka terhijab dari “seolah-olah melihatNya”.

Mereka memahami firman Allah yang artinya “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga” (QS ar Rahmaan: 24) dimana bagi mereka yang dimaksud dua syurga adalah syurga dunia dan syurga akhirat.

Padahal Allah telah menggambari tentang dunia pada firmanNya, antara lain yang artinya,

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS  al Hadid : 20)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabut: 64)

Mereka membela diri, oleh karena mereka muslim maka mereka berhak atas penghidupan yang baik di alam dunia dibandingkan orang kafir.

Mereka yakin bahwa mereka dicintai Allah sehingga mereka merasa wajar meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik  bahkan kaya raya.

Padahal anjuran (sunnah) Rasulullah SAW agar kita dicintai Allah dan dicintai manusia adalah sebagaimana sebuah hadits

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Zuhud adalah tidak adanya ketergantungan dan terpusatnya perhatian terhadapnya.

Bersikap qanaah terhadap rizki yang halal dan ridho terhadapnya serta bersikap ‘iffah dari perbuatan haram dan hati-hati atau bahkan menghindari terhadap syubhat.

Jiwa yang merasa cukup dan iffah serta berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah merupakan hakekat zuhud.

Zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, bererti menjauhkan diri dari merasa iri hati terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta mengosongkan hati dari mengingati harta milik orang..

... (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Al-Hadiid :23)

Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah saw. tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu!  Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kehidupan zuhud ini dicontoh oleh para sahabatnya: Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang beriman.

Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”

Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang bertanya, ”Dimana orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat?” Lalu Ibnu Umar menunjukkan kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, seraya balik bertanya, ”Bukankah kalian bertanya tentang mereka?”

Abu Sulaiman berkata, ”Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah dua gudang harta dari sekian banyak gudang harta Allah yang ada di bumi. Keduanya menginfakkan harta tersebut dalam rangka mentaati Allah, dan bersiap menuju Allah dengan hati dan ilmunya.”

Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia, mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya.

Pemerintahan Islam berhasil menghadirkan keamanan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Perdaban dibangun atas dasar keimanan dan moral. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin yang paling zuhud, masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkahan. Tidak ada lagi orang yang miskin yang meminta-minta, karena kebutuhannya sudah tercukupi.

Dengan adanya sikap membela diri maka akan sulitlah mengamalkan sunnah Nabi untuk berlaku Zuhud di dunia. Sikap membela diri sesungguhnya adalah memperturutkan hawa nafsu sehingga menghijabi diri kita sehingga tidak mencapai keadaan “seolah-olah melihatNya”.

Sikap diri, akhlak,  budi pekerti, moral, bertalian dengan hati, ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha ,qanaah,  tawakal, mengenal diri, mengenal Allah (ma’rifatullaH) adalah perihal yang wajib kita pahami .

Untuk itulah kami menganggap penting dalam pendidikan agama untuk memperdalam Akhlak sebagaimana yang kami sampaikan dalam tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Pendidikan agama dengan akhlak , insyaallah akan menghasilkan muslim yang mencapai tingkatan Ihsan (muhsin) yakni “seolah-olah melihatNya” , sehingga apa pun perbuatan yang dilakukan di alam dunia ini selalu keadaan “seolah-olah melihatNya”  yang akan memotivasi untuk  selalu mentaati perintahNya  serta menjauhi laranganNya.

Wassalam

Zon di Jonggol

Senin, 03 Mei 2010

Zuhud

Berbuatlah apa yang Allah Berkenan

Merupakan fitrah manusia untuk senang mencintai dan dicintai, dan alangkah bahagianya jika kita mengetahui bahwa kita dicintai oleh manusia apalagi dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Berbagai cara ditempuh manusia agar dapat dicintai, namun umumnya mereka menempuh cara yang tidak dituntunkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Islam telah mengajarkan berbagai upaya untuk dapat meraih cinta Allah Subhanahu wa Ta'ala, demikian pula cinta manusia. Di antara upaya tersebut ialah berakhlak dengan akhlak karimah, dan salah satu akhlak yang berkaitan erat dengan hal ini ialah zuhud.

Menghiasi diri dengan zuhud adalah cara tepat untuk meraih cinta Allah dan cinta manusia, sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam riwayat yang shahih:

Dari Abul Abbas -- Sahl bin Sa'ad As-Sa'idy -- radliyallahu 'anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia." Maka Rasulullah menjawab: "Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu." (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya, lihat Shahihul Jami' 935).

Imam Ahmad berkata, “Zuhud ada tiga macam:

  • Pertama, meninggalkan perkara haram, dan ini adalah zuhudnya orang awam.

  • Kedua, meninggalkan perkara halal yang tidak berguna, dan ini adalah zuhudnya orang khas / khusus.

  • Ketiga, meninggalkan perkara yang menyibukkan seorang hamba sehingga melupakan Allah atau tidak mengingat Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.”


Orang-orang arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan jika Allah yang berkenan dan bukan karena keinginan mereka sendiri.

Mereka paham bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Jalan untuk dapat selalu menyibukkan diri dengan Allah adalah dengan “mengenal” Allah, yakni yang kita kenal marifatullah.  Dengan mengenal Allah (marifatullah) maka kita bisa memahami apa yang Allah berkenan.

Ilmu untuk mempelajari  tentang marifatullah itulah Ilmu Tasawuf.

Untuk mencapai pemahaman orang-orang arif tidak cukup dengan metode pemahaman secara harfiah atau tekstual akan tetapi melalui metode pemahaman yang lebih dalam / maknawi atau dikenal “mengambil pelajaran” dengan hikmah.

Sesuai dengan firman Allah,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)

Sekarang cari perbedaan  tulisan kami di atas ini dengan tulisan dari saudaraku yang mewakili Salafy,

http://myquran.com/forum/content.php/198-Zuhud-Akhlaknya-Orang-Orang-yang-bertakwa


Kami cuplikan, metode mereka memahami hadits khususnya penjelasan tentang zuhud nya orang-orang arif

Salaf(i) :  Meninggalkan hal-hal yang menyibukkan diri dari Allah, dan ini zuhudnya orang-orang yang arif.

Kami :  meninggalkan hal-hal yang menyibukkan diri  sehingga melupakan Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.

Orang-orang arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan jika Allah yang berkenan dan bukan karena keinginan mereka sendiri.

Tampaklah kaum salaf(i) dengan metode pemahaman lahiriah atau tekstual  belum dapat memahami tentang orang-orang arif yang umumnya menggunakan metode pemahaman yang dalam (al hikmah).

Sekali lagi kita harus membedakan antara Salaf dengan Salafy.

Salafy adalah mereka yang berupaya mengikuti Salaf dalam hal ini saya mengkhususkan mereka yang mengikuti metode pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah dan sepemahaman.

Lalu bagaimana “upaya” mereka mengikuti Salaf ?
Perihal itu dapat kita lihat dari output dan perilaku pengikut pada umumnya.
Secara sederhana dapat kita lihat bagaimana mereka mengungkapkan hawa nafsu mereka (emosional) ketika berdiskusi.
Sesuatu akhlak (dipelajari dalam ilmu tasawuf) yang harus dihindari jika muslim paham bahwa mereka mengarungi kehidupan di dunia sesungguhnya di hadapan Allah karena Allah Maha Melihat, Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Mengapa tulisan dari link yang saya sampaikan di atas, saya  ketegorikan tulisan dari saudaraku Salafy ?
Karena dalam tulisannya terkandung dan dijiwai dengan pendapat,

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan: "Zuhud ialah meninggalkan perkara-perkara yang tidak memberikan manfaat di akhirat."


Perhatikan kedua tulisan tersebut, sama-sama bersandar pada Al-Qur'an dan Hadist. Bedanya kalau saudara-saudaraku Salafy menggunakan metode pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah yakni,  secara harfiah atau tekstual.

Sedangkan kami berupaya menggunakan metode pemahaman yang lebih dalam / maknawi atau dikenal “mengambil pelajaran” dengan hikmah.

Sesuai dengan firman Allah,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269)

Perhatikanlah kedua tulisan tersebut dalam memaknai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, letak perbedaannya adalah pada metode pemahamannya.

Kesimpulan:
Saudara-saudaraku Salafy membatasi diri atau berpuas diri berdasarkan pencapaian pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah.
Sedangkan kami berupaya InsyaAllah menjadi orang-orang Arif

Wassalam

Rabu, 24 Maret 2010

Allah itu dekat

Sudahkah membaca tulisan sebelumnya tentang Menjadi Muslim Terbaik ?.

Klo belum, silahkan baca dahulu

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/28/menjadi-muslim-terbaik/.

Muslim yang terbaik adalah yang dapat mencapai tingkatan Ihsan (muhsin).

Seorang yang sampai pada tingkatan seolah-olah melihat Allah atau paling tidak seorang yang yakin bahwa segala perbuatannya dilihat Allah maka tentu akan terdorong melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya

Inilah sesungguhnya bentuk ketaqwaan kepada Allah yang menentukan tingkat/ukuran kemuliaan seorang muslim dihadapan Allah.

Sesuai firman Allah, “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa” (QS. Al-Hujurat: 13).



Tingkatan utama yakni  “Seolah-olah melihat Allah” bersifat aktif artinya dengan karunia Allah kita “melakukannya”/”merasakannya” sedangkan tingkatan dibawahnya adalah “Segala perbuatan  dilihat Allah” bersifat pasif.




“Seolah-olah melihat Allah”, tentu tidak boleh diartikan secara harfiah atau secara fisik atau tersurat.  Namun pahami secara hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi / tersirat, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan bathin (thathhir al bathin).



Sesungguhnya manusia tidak akan mampu “melihat” Allah ketika di dunia.

Peristiwa ini diabadikan dalam surat Al A’raf (7) ayat 143,

“Dan tatkala Musa tiba di miqat lalu berkata, ‘Tuhanku, tampakkanlah diri-Mu supaya aku bisa melihat-Mu.’ Maka Tuhan pun berkata, ‘Kamu tidak akan bisa melihat-Ku , tetapi pandang saja gunung di seberangmu, bila dia tetap di tempatnya, maka kamu akan melihat-Ku’. Maka ketika Tuhannya menampakkan cahaya-Nya ber-tajalli kepada gunung, jadilah gunung itu hancur lebur. Maka Musa tersungkur pingsan. Dan setelah siuman dia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku akan menjadi orang mukmin pertama’.”

Kisah ini tercantum juga dalam kitab Qishashul Anbiya’ karangan Ibnu Katsir yang mencoba menjelaskan bahwa Nabi Musa a.s. adalah Kalimullah, orang yang mampu berbicara langsung dengan Allah. Namun dia hanya mendengar suara Allah dari balik hijab. Ketika dia meminta hijab itu disingkapkan, Allah tidak menuruti, tetapi Ia memberikan pelajaran telak kepada hamba-Nya sehingga pingsan dan sadar kelemahan diri. Manusia memang tidak akan sanggup melihat Allah. Jangankan cahaya Allah, memandang matahari pun mata manusia akan terbakar.

Tetapi kelak di akhirat, melihat Allah merupakan puncak kenikmatan ahli surga. Lebih mulia dari kenikmatan istana, kebun, buah-buahan, dan bidadari surgawi.

Ketika para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, akankah kita kelak bisa memandang Allah?” Beliau menjawab, “Kalian akan memandang-Nya sebagaimana kalian memandang bulan purnama raya. Dan setelah itu para ahli surga tidak mau lagi memalingkan wajah mereka dari memandang Allah.”

Subhanallah.



Sebagian umat muslim memahami ihsan itu khususnya pada ketika ibadah saja, seperti ketika sholat.

Maka setiap melakukan ibadah khususnya pada waktu sholat, bila tidak disertai perasaan, “seperti sungguh-sungguh” melihat Tuhan, maka ibadah itu tidak tergolong dalam katagori ibadah yang ihsan (baik). Allah SWT. berfirman :

“Sesungguhnya sembahyang (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).

Sebagian umat muslim lainnya memahami ihsan ibaratnya “melihat” dengan “mata hati”.

Sebagian umat muslim lainnya memahami ihsan ibaratnya “merasakan” “kedekatannya” dengan Allah disetiap saat kehidupan.

Sungguh Allah itu dekat, sesuai dengan firman Allah yang artinya

“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah: 85).

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang "Aku" maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran ( Al Baqarah: 186).

Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )

Selalu berada dalam kebenaran bisa diartikan selalu merasakan “bersama” Allah dalam menjalani kehidupan di dunia.

Kedekatan kita dengan Allah terhalang/terhijab dengan dosa. Untuk itulah langkah pertama agar kita lebih dekat dengan Allah adalah bertaubat, salah satunya dengan berzikir

Astaghfirullah.

“Ampunilah hambamu ini ya Allah”.

Firman Allah yang artinya

“dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Al Hud : 3)

“dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (Al Hujurat : 12) .

Istighfar diikuti dengan taubat, penyesalan atas dosa dan sekuat tenaga dan sepenuh kesadaran untuk tidak mengulangi lagi.

Kemudian perbaharuilah selalu kesaksian dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.



Asyhadu anlaailaaha illallah Wa-asyhadu anna Muhammadar-rasulullah

Syahadat berarti bersaksi dan meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Membaca dua kaliamat Syahadat merupakan cara untuk mengislamkan kembali atau untuk mengembalikan iman seorang muslim yang telah murtad, karena melakukan perbuatan syirik kepada Allah atau lainnya baik disengaja ataupun tidak disengaja.

Seorang yang kafir bila beramal shaleh maka tidak akan diterima dan bila berdoa maka akan terhijab ( tertutup ). Semua amal dan doa mereka sia-sia dan ditolak oleh Allah, kecuali jika mereka beriman dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat.

"Dan doa ( ibadah ) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka " ( Arra'd : 14 ).

Selanjutnya biasakan Zikir Hauqolah  agar kita didekatkan dengan Allah atas pertolonganNya.



Laahaulaa walaaquw-wata il-laabillahil 'aliy-yil 'adziim.

”Tiada daya upaya dan kekuatan selain atas izin/pertolongan Allah”

Yakinlah bahwa kita sebagai manusia adalah “lemah”  dan upaya kita mendekatkan diri kepada Allah semata-mata atas karunia / izin Allah.

Tentang karunia Allah. Allah telah berfiman yang artinya,

“Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar” ( Al-Jumu’ah : 4)

Bershalawat kepada Nabi Muhammad adalah salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

"Allahumma sholli alaa Muhammad wa alaa ali Muhammad"

Membaca shalawat atas Nabi merupakan perintah Allah dan anjuran dari Nabi Muhammad.

Firman Allah yang artinya " Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya " ( Al Ahzab:56 ) ]

Membaca shalawat merupakan salah satu kunci diterimanya doa, karena tanpa diawali dengan shalawat maka doa tidak diterima oleh Allah.

" Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan " ( Al Maidah:35 ).

Selanjutnya adalah upaya yang sering  dilakukan oleh muslim agar terjaga dekat dengan Allah yakni dengan berdoa sebelum melakukan perbuatan/kegiatan atau minimal dengan membaca basmalah.



Bismillahirohmanirohim



"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih  Maha Penyayang"



Dalam Hadits Rasulullah saw bersabda, “Setiap pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan Allah)”.

Sebagaimana dalam kehidupan kita ,secara naluri jika ingin keberhasilan perbuatan atau permohonan biasanya kita menyebut nama orang yang berkuasa.

Misalnya,

-          Zaman orde baru, tingkat keberasilan menjadi besar, jika kita menyebut (mengenalkan/mereferensi) nama pa Harto yang berkuasa kala itu.

-          Memberikan perintah kepada bawahan atau ajakan kepada sesama staff akan “lebih segera” dilaksanakan/diikuti jika menyebut nama yang lebih berkuasa  seperti nama direktur atau manajer sebagai sumber perintah atau bentuk izin.

Begitu pula dalam mengarungi kehidupan kita di dunia, sebelum melakukan perbuatan/tindakan upayakan selalu diawali menyebut nama Allah, mengingat Allah. Sehingga Allah yang Maha Kuasa akan mengizinkan dan menolong perbuatan/tindakan tersebut akan terlaksana. Seberapa dekat dengan Allah akan memperbesar kemungkinan terkabulkannya.

Perbedaannya, kalau kita menyebut nama manusia, manusia yang kita sebutkan tidak mendengar dan bukan pula dia yang menolong. Namun kalau kita menyebut nama Allah, Allah Maha Mendengar dan berkenan menolong kita

Kita sangat ingin untuk taqarrub mendekatkan diri kepada-Nya.

Dari Abu Hurairah RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah bersabda, ‘Aku menuruti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kalau ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Kalau ia mengingat-Ku di tengah kerumunan orang, Aku pun akan mengingatnya di tengah kerumunan yang lebih baik daripada mereka. Kalau ia mendekat diri kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekatkan diri kepadanya sehasta. Kalau ia mendekatkan diri pada-Ku sehasta. Aku pun akan mendekatkan diri padanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil”.

Waktu-waktu di keseharian kita, perbanyaklah dzikir kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang duduk dalam suatu tempat, lalu di situ ia tak berdzikir kepada Allah, maka kelak ia akan mendapat kerugian dan penyesalan” (HR Abu Dawud).

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Berlaku zuhudlah di dunia, pasti dicintai Allah SWT dan berlaku zuhudlah terhadap milik orang lain, pasti dicintai oleh sesama manusia.”

Manakala sifat zuhud di kalangan muqarrabin (orang yang sentiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT) pula adalah dengan terus meninggalkan kenikmatan dunia; segala-galanya adalah tidak penting bagi mereka melainkan mendekati Allah SWT semata-mata.

Suatu saat terjadi dialog antara Rosulullah SAW dengan Hudzaifah Ra. Rosulullah bertanya kepada HUdzaifah, " Ya Hudzaifah, bagaimana keadaanmu saat ini?"

Jawab Hudzaifah, " Saat ini saya bener-bener beriman ya Rosulullah." Rosulullah kemudian mengatakan, " setiap kebenaran itu ada hakikatnya, maka apa hakikat keimananmu wahai Hudzaifah?"

Jawab Hudzaifah, " Ada dua, Ya rosulullah.

Pertama saya sudah hilangkan unsur dunia dari kehidupan saya, sehingga bagi saya debu dan emas itu sama saja. Dalam pengertian, saya akan cari kenikmatan dunia, lantas andaikata saya dapatkan maka saya akan menikmatinya dan bersyukur pada Allah SWT.

Tapi kalau suatu saat kenikmatan dunia itu hilang dari tangan saya, maka saya tinggal bersabar sebab dunia bukanlah tujuan. Bila ia datang maka Alhamdulillah dan bila ia pergi maka Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Yang kedua Hudzaifah mengatakan, " Setiap saya ingin melakukan sesuatu, saya bayangkan seakan-akan syurga dan neraka itu ada di depan saya. Lantas saya bayangkan bagaimana ahli syurga itu menikmati kenikmatan syurga, dan sebaliknya bagaimana pula ahli neraka itu merasakan azab neraka jahanam. Sehingga terdoronglah bagi saya untuk melakukan yang di perintahkan dan meninggalkan yang dilarang Nya."

Kesimpulan,

Atas karunia Allah kita berupaya mendekatkan diri kepada Allah, Dengan kedekatan itulah kita terdorong untuk melakukan yang diperintah dan meninggalkan yang dilarangNya. Dengan ketaqwaan inilah membuat kita menjadi lebih mulia di sisi Allah.

Senin, 16 November 2009

Kezuhudan Pemimpin

Sebagian orang mengatakan bahwa sufi mengajak orang mukmin agar menghindari nikmat-nikmat duniawi, meninggalkan pakaian-pakaian yang elok, makanan-makanan yang lezat dan tak mau tinggal di tempat-tempat yang mewah. Mereka mencela orang-orang yang menikmati pemberian-pemberian Ilahi ini, dan mencap orang-orang seperti itu sebagai “ahli dunia” dan jauh dari sisi Allah.

Bagi saya tidak ada yang salah tentang kesufian. Namun perlu kehati-hatian dalam memahaminya, karena sufi itu halus dan begitu besar godaan syetan sehingga sekali tersesat maka itu akan jauh dari "jalan yang lurus".

Sufi bukanlah ajaran atau seolah mazhab baru, namun sekedar pengelompokan dari ajaran Islam yang berhubungan dengan pengenalan diri, penyakit hati, pensucian hati/diri, untuk menghadap ke hadirat Allah.

Sufi bukanlah menjauhi/menghindari dunia yang dikenal dengan zuhud namun sejauh yang saya pahami, konsep zuhud adalah meletakkan dunia pada tangan dan menempatkan akhirat pada hati kita. Apapun yang menarik dari kehidupan didunia tidak akan memalingkan kita dari Allah sang pencipta.

Kita berusaha/berupaya/berikhtiar di dunia sebagai bekal di akhirat.

Sesuai firman Allah, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" (Az Zariyat 56)

"Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu" (al Hijr 99).

Sufi adalah suatu sarana untuk mendalami ihsan. Dengan pemahaman sufi yang baik, sebagai contoh kita dapat segera meninggalkan pekerjaan/usaha ketika mendengar azan dan mensegerakan mendirikan sholat dan mengupayakan yang terbaik yakni mengikuti sholat berjamaah bagi pria.

Bagi pria, ketika kita dapat mendengarkan azan dengan jelas dan masjid/musholla dalam "jangkauan", maka lebih baik kita berjama'ah di masjid/musholla. Kalau kita cinta dunia dan mengikuti kecondongan hati yang keliru maka hal ini akan berat dilakukan.

Bagi yang memahami sufi tentu bukanlah sosok yang sempurna tetap saja ada kemungkinan keliru/ berbuat salah. Namun biasanya ketika mereka keliru / berbuat salah maka insyaallah mereka akan segera beristighfar. Bagi mereka yang memahami sufi, mereka akan berupaya  selalu bersama Allah dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Mereka adalah lemah sehingga mereka selalu membutuhkan Allah.

Berdasarkan uraian diataslah maka saya menamakan blog saya sebagai mutiarazuhud.wordpress.com.

Dalam blog tsb ada artikel seputar sufi antara lain,

Seputar sufi dan yang saya alami

Mengapa harus berserah

Inginkah anda bahagia

Salah satu tokoh sufi yang tulisan-tulisan yang baik untuk dipahami adalah tulisan-tulisan dari Ibn Athoillah.

Mohon maaf,  blog saya beberapa tulisan terakhir adalah seputar politik untuk mengingatkan mereka yang cinta dunia.

Bagi saya menjadi seorang pemimpin adalah berat dan mereka harus menyadarinya.  Sebagai pemimpin sebaiknya meneladani sebagai contoh Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA.

Meskipun Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari kalangan Bani Umayah yang terbiasa hidup mewah, namun pada kenyataannya ia lebih suka hidup sederhana. Bahkan terkenal dengan kezuhudan serta kewara’annya.

Pernah ada suatu malam ketika Khalifah Umar sedang memeriksa dokumen didalam kamar kerjanya dengan memakai lampu milik negara, tiba-tiba sang istri mengetuk pintu.

Umar segera mempersilahkan masuk dan bertanya: “Ada keperluan apa dinda datang kemari, keperluan pribadi atau negara?”

Tatkala istrinya menjawab bahwa ada urusan pribadi, Umar segera memadamkan lampu tersebu. Tentu saja wanita itu sangat terkejut atas pebuatan suaminya. Selanjutnya khalifah memberikan penjelasan, bahwa dalam urusan pribadi sangat tidak tepat jika memakai lampu yang minyaknya dibeli dengan uang dari kas negara.

Di malam yang lain ketika khalifah sedang menulis, kedatangan seorang tamu. Sementara lampu penerangan yang dipakai hampir padam karena kehabisan minyak. Melihat hal itu sang tamu segera meminta ijin untuk memperbaiki lampu tersebut, namun khalifah menolaknya. “Jangan, sangat tidak baik jika seseorang memperlakukan tamunya sebagai pelayan. Dan itu bukan akhlak mulia.”

Tamu: “Kalau begitu, biar saya bangun kan pelayan.”

Khalifah : “Jangan, ia baru saja tidur karena dari tadi belum merasakan kelezatan bantalnya.”

Khalifah segera mengisi minyak pada lampu tersebut.

Tamu : “Wahai aminul mu’minin. Kenapa anda sendiri yang mengisi minyak ke dalam lamput itu?

Khalifah : “Kenapa ? Kalau saya pergi, tetap sebagai Umar. Pulang pun tetap Umar, tidak kurang sedikitpun dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan ? Selamanya saya tetap Umar.”

Pada suatu hari datang seseorang dengan membawa hadiah yang aka diserahkan kepada Khahfah Umar. Tetapi khalifah menolak, sehingga orang tersebut bertanya: “Bukankah Nabi dahulu suka meneri ma hadiah?”

Khalifah Umar menjawab dengan singkat dan tegas: “Hadiah pada zaman Nabi adalah benar-benar hadiah, sedangkan pada saat ini adalah bentuk lain dari suap atau kolusi.”

Sumber: http://tabloid_info.sumenep.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1643&Itemid=32

Demikianlah contoh kezuhudan walaupun beliau dari kalangan yang terbiasa hidup mewah. Sekarang kita tengok dengan fakta terkini dari pemimpin-pemimpin di negeri kita yang dianugerahkan Allah sumber daya alam yang begitu besar.

Wakil-wakil rakyat dengan senang hati menerima kendaraan dengan harga ratusan juta bahkan sampai milyar rupiah ditengah rakyatnya yang menurut Bank Dunia 50% rakyat Indonesia berpendapatan Rp. 600.000 per bulan.

Mereka mengatakan hal ini kewajaran atas “pencapaian” mereka pada posisi saat ini. Mereka beralasan bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai menggunakan ni’mat Allah, sehingga mereka berpendidikan tinggi bahkan lulusan Amerika sehingga saat ini wajar menikmatinya.

Jikalau orang lain atau rakyat yang diwakili mereka dengan pendapatan Rp. 600.000 per bulan, mereka anggap wajar karena mereka rata-rata malas dan berpendidikan kurang ?

Beberapa lagi meneladanai sebagian pernyataan Imam Ja’far Ash-Shadiq, guru dari seluruh imam-imam mazhab dalam Islam bahwa jika hidup di suatu masa dimana keperluan–keperluan hidup mudah didapat dan kondisinya mengizinkan kita untuk menikmati pemberian-pemberian Ilahi, maka yang paling berhak untuk menikmati karunia dan nikmat-nikmat Allah tersebut adalah orang-orang yang saleh dan bertakwa, bukan orang-orang fasiq, bukan orang-orang kafir, melainkan orang-orang Muslim

Disisi lain mereka melupakan pernyataan Imam Ja’ far Ash-Shadiq saat berdialoq dengan Sufyan Al-Tsury (yang terlampau sempit mengartikan zuhud). Seperti di sampaikan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq bahwa “Sejak masa baligh-ku sampai sekarang, tidak pernah malam dan siang berlalu tanpa aku menyadari apakah hak orang lain masih ada di tanganku atau tidak. Kalau ada, segera aku lunasi dan kusampaikan kepadanya.”

Jadi Imam Ja’far Ash-Shadiq mengingatkan kita bahwa boleh hidup mewah / berkecukupan asalkan peduli dengan lingkungan, apalagi sebagai orang pemimpin harus terlebih dahulu memperhatikan rakyat yang dipimpinnya.

Coba perhatikan lingkungan seperti yang disampaikan di http://infoindonesia.wordpress.com/2008/03/17/dari-sabang-sampai-merauke-rakyat-indonesia-mati-kelaparan/

Atau perhatikan bagaimana pemimpin membiarkan rakyatnya sebagai contoh korban lapindo yang merana bertahun-tahun sedangkan menteri-menteri sedang mempertimbangkan kenaikan gaji.

Bahkan pemimpin seperti kita dengar dalam rekaman yang diperdengarkan pada sidang MK, bahwa karena uang memungkinkan untuk pengaturan keadilan / penegakan hukum.

Sebaliknya mereka mengatakan bahwa mereka akan berlaku adil jika tingkat pendapatan mereka layak seperti yang mereka inginkan. Mereka seolah-seolah menyandarkan segala tindakan di dunia berdasarkan uang semata tanpa menyadari bahwa takdir Allah yang menetapkan mereka sebagai penegak hukum. Maaf,  mereka cinta dunia dan mereka bagaikan menuhankan uang. Nauzubillahi min zalik.

Disisi lain, pemimpin di Bank Indonesia, mereka dengan tingkat pendapatan tinggi bahkan menurut kabar melebihi presiden ? namun hasilnya mereka tetap saja memberikan unjuk kerja yang mengecewakan seperti kasus Century. Mereka cukup berkata maafkan atas kelalaian kami dalam pengawasan. Uang sebesar 6,7 Trilyun cukup untuk mencegah rakyat yang mati karena kelaparan / sakit.

Ingatlah kematian rakyat karena ulah kepemimpinan akan diminta pertanggung jawaban kelak di akhirat.

Sebagai contoh terkini, bagaimana bisa pemimpin seperti menkes Endang Rahayu, membiarkan tanpa pengusutan, kematian 8 orang rakyat setelah pengobatan massal filariasis di Kabupaten Bandung dan dengan cepat beralasan kematian disebabkan penyakit bawaan semata. Padahal sebagian rakyat yang “selamat” setelah pengobatan massal mengeluh pusing, mual, dan muntah.

Sumber: http://bandung.detik.com/read/2009/11/16/120335/1242456/486/usut-insiden-kaki-gajah-polres-bandung-periksa-plt-kadinkes

Logika sederhananya andaikan kedelapan orang yang meninggal dengan penyakit bawaan tsb, tentu ada kemungkinan tidak meninggal jika tidak mendapatkan pengobatan missal. Besar kemungkinan ada efek samping dari pengobatan dengan penyakit bawaan yang mereka derita.

Semoga para pemimpin, pejabat publik di negeri kita dapat memahami arti kezuhudan sesungguhnya. Sebaiknya janganlah hidup berlebihan jika sebagian besar rakyat hidup kekurangan.

Ibarat makan yang baik, sebagaimana dicontohkan Rasulullah,  maka sebaiknya cukuplah sekedar untuk menegakkan tulang punggung.

Wassalam

Zon di Jonggol