Tampilkan postingan dengan label Sholeh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholeh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Februari 2011

Menjadi Fitnah

Bisa menjadi fitnah siapa yg mengaku-aku berpemahaman sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh

Dalam sebuah forum diskusi, ada peserta diskusi menanyakan sanad ilmu kami.

Kami tidak dapat menyampaikan sanad ilmu, karena kami menyadari bahwa kami belum ada apa-apanya dibandingkan guru atau ulama atau syaikh sebelum kami. Juga kami menghindari fitnah terhadap guru/ulama/syaikh di atas kami kalau-kalau khalayak ramai menemukan ketidaksesuaian pemahaman dengan guru/ulama/syaikh di atas kami.

Sebaiknya perhatikanlah saja apa yang kami sampaikan dan tidak berupaya melihat siapa kami atau menilai/menghukum pribadi kami (adhominem).


Kata orang bijak "Dengarkan lagunya dan jangan terbius figur siapa penyanyinya,"

Sebaiknya kita menyampaikan sanad ilmu kalau memang kita sudah sangat berkompeten atau ada banyak kesesuaian dengan guru/ulama/syaikh di atas kita.

Oleh karenanya kami lebih baik menyampaikan bahwa apa yang kami sampaikan adalah apa yang kami pahami.

Kalaupun kita hendak menyampaikan siapa guru/ulama kita , cukup sampaikan perkataan guru/ulama kita , persis sama dengan apa yang mereka katakan tanpa upaya penafsiran. Selebihnya adalah pemahaman kita sendiri.

Sesungguhnya sebagian syaikh/ulama/ustadz yang mengaku-aku bahwa pemahaman mereka sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh bisa menjadi fitnah bagi Salafush Sholeh.

Mereka mengaku menisbatkan diri kepada Salafush Sholeh namun kenyataan yang ada, kami temukan adanya kesalahpahaman-kesalahpahaman sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam blog kami. Silahkan lihat daftar tulisan dalam blog kami pada lajur/sisi paling kanan dengan judul "Kesalahpahaman" di bawah "Tulisan Teratas"

Kesalahpahaman adalah salah menurut apa yang kami pahami. Lebih tepatnya disebut sebagai kebedapahaman artinya beda menurut apa yang kami pahami.

Pada hakikatnya kita sebaiknya tidak mengatakan itu salah , itu benar, karena dalam upaya pemahaman (ijitihad) sangat mungkin terjadi bahwa pendapat teman diskusi kita benar dan pendapat kita salah atau sebaliknya. Yang pasti benar hanyalah firman Allah Azza wa Jalla dan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Jadi boleh kami simpulkan, maaf, bahwa sesungguhnya mereka yang menisbatkan diri pada Salafush Sholeh, pada kenyataannya sebagian mereka menjadi merupakan fitnah terhadap Salafush Sholeh jika pemahaman/pendapat mereka tidak sesuai dengan pendapat/pemamahan Salafush Sholeh sebenarnya.

Begitupula , maaf, kita sebaiknya tidak mempergunakan id / nick name seperti sahabat atau salafi kalau pada kenyataannya pernyataan / pendapat yang disampaikan, bisa ada yang tidak sesuai dengan pendapat Sahabat atau Salafi yang sebenarnya yakni Salafush Sholeh. Jadi tanpa disadari telah memfitnah Sahabat ataupun Salafush Sholeh.

Sebagaimana yang kata bijak yang kami sampaikan sebelumnya yakni "Dengarkan lagunya dan jangan terbius figur siapa penyanyinya,"

Maka kita sebaiknya menyimak/memperhatikan apa pendapat/perkataan mereka jangan terbius bahwa mereka adalah yang menisbatkan kepada Salafush Sholeh

Salafush sholeh adalah Salafush baik atau Salafush Ihsan atau sebagain mereka pada tingkat muslim yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati / hakikat keimananan dan sebagian lainnya lagi adalah mereka yang selalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla selalu melihat mereka. Kalau mereka membuat sebuah kesalahan maka mereka menyegerakan memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla karena mereka tidak ma'sum sebagaimana tauladan mereka yakni baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Salafush sholeh, mereka bukan sekedar mentaati sunnah Rasulullah namun mereka mempunyai ikatan bathin atau ikatan hati dengan Rasulullah, mereka mengagungkan dan memuliakan Rasulullah dan tidak menganggap Rasulullah sebagai manusia biasa yang bedanya cuma menerima wahyu.
Mereka merasakan bahwa Rasulullah hidup di sisi Allah Azza wa Jalla sebagaimana mereka memandang para Syuhada sebagaimana apa yang disampaikan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya yanga artinya

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

Bagaimana kita dapat me-rasa-kan bahwa Rasulullah hidup disisi Allah Azza wa Jalla, tidak ada jalan selain kita berupaya menempuh jalan orang-orang yang telah diberi ni'mat yakni apa yang telah "dijalani" Rasulullah, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada atau para Sholihin (orang-orang sholeh).

Jalan itu tidak lain adalah perjalanan dengan Tasawuf atau perjalanan Ihsan atau perjalanan Akhlakul Kharimah atau perjalanan orang-orang sholeh atau perjalanan para Sufi atau perjalanan para Wali Allah.

"Tunjukilah kami jalan yang lurus" (QS Al Fatihah [1]: 6 )
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS Al Fatihah [1]:7 )

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa [4]: 69 )

Marilah kita ikuti perintah Allah Azza wa Jalla, jika kita ridho sebagai hamba Allah.

Berjihadlah pada jalan-Nya, istiqomah pada jalan-Nya agar kita mendapat keberuntungan atau mendapatkan akhir yang paling baik, berkumpul dengan Rasulullah, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan para Sholihin. Inilah yang dimaksud mereka yang telah sampai pada Allah Azza wa Jalla.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”

Kalau pembaca sudah berkeinginan untuk mendalami dan menjalankan Tasawuf maka ikutilah apa yang kami sampaikan dalam http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/tips-bertasawuf/

Belilah semua buku yang kami sarakan dalam Tips Bertawasuf, kalau di toko buku Jakarta, biayanya tidak melebih 300 ribu rupiah. Namun dengan investasi senilai itu dan meluangkan waktu untuk membaca dan memahami buku-buku tersebut, kami yakin insyaallah antum sekalian akan mengalami perubahan dalam hidup karena dengan membaca buku-buku karya ulama tasawuf seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani ~rahimullah, Syaikh Ibnu Athoillah ~rahimullah dan ulama tasawuf lainnya adalah termasuk bergaul dengan orang-orang Sholeh, orang-orang yang telah diberi ni'mat oleh Allah Azza wa Jalla.

Ilahi Anta Maqsudi Waridhoka Matlubi
Tuhan hanya Engkaulah yang kumaksud dan ridhoMu yang kuharap

Semoga Allah Azza wa Jalla meridhoi kita untuk bisa berkumpul dengan Rasulullah, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan para Sholihin,  mereka yang  hidup di sisi Allah Azza wa Jalla.

Amin ya Robbal alamin







Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor

Rabu, 23 Februari 2011

Perantara Orang Sholeh

Bolehkah meminta tolong orang lain untuk menyampaikan maksud kita kepada Allah Azza wa Jalla

Menurut pemahaman kita kenapa kita tidak berdo'a langsung kepada Allah Azza wa Jalla?
Kenapa harus melalui perantara ?

Sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa kita bisa minta tolong orang lain (yang menurut mereka mempunyai kelebihan didalam berdo'a atau termasuk orang-orang sholeh) sehingga mereka berkeyakinan bahwa do'anya orang tersebut lebih "didengar" oleh Allah Azza wa Jalla daripada do'a yang disampaikan oleh kita sendiri.

Ada kisah menarik berkaitan dengan pertanyaan tersebut

Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :
"Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?".

Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.

"Siapa namamu?" tanya Umar.

"Aku Uwais", jawabnya datar.

"Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.

"Benar, Amirul Mu'minin", jawab Uwais tegas.

Umar masih penasaran lalu bertanya kembali "Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?" (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).

"Benar, Amirul Mu'minin, dulu aku terkena penyakit kulit "belang", lalu aku berdo'a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku".

"Mintakan aku ampunan kepada Allah".

Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan
penuh keheranan. "Wahai Amirul Mu'minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?"

Lalu Umar berkata "Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w berkatab "Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah"

Uwais lalu mendoa'kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah.
(H.R. Muslim dan Ahmad)

Mungkin ini cukup dijadikan tauladan bahwa orang setingkat Umar yang termasuk orang yang mendapat jaminan masuk sorga, diperintahkan oleh Rasulullah untuk meminta tolong kepada seorang Tabiin bernama Uwais agar memintakan ampunan kepada Allah Azza wa Jalla. Meminta ampunan adalah bagian dari do'a, karena do'a tidak lain adalah meminta sesuatu kepada Allah Azza wa Jalla.

Firman Allah, yang artinya,
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)“. (QS al Maaidah [5]: 55 )
"Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang". (QS al Maaidah [5] : 56 )

Wassalam

 

Zon di Jonggol

 

Catatan:

Boleh memohonkan bagi saudara muslim kita yang lainnya.

Namun kami menganjurkan sebelum kita mengabulkan permohonan mendoakan tersebut tetaplah kita menganjurkan kepada si pemohon untuk tetap memohon langsung kepada Allah swt. Seolah-olah doa kita sebagai pembuka hijab atau prasangka si pemohon atau ketidak yakinan pemohon dalam berdoa secara langsung.
Hal ini sebaiknya dilakukan untuk menghindari fitnah bahwa kita yang mengabulkan doa/permohonan si pemohon atau kita yang menjadikan apa yang mereka ingin doakan

Senin, 21 Februari 2011

Tips bertasawuf

Tips untuk memulai bertasawuf

Beberapa pertanyaan telah dilayangkan kepada kami, setelah mereka membaca tulisan “Rasulullah bertasawuf”,  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/rasulullah-bertasawuf/ dan tulisan “Penjelasan bertasawuf”,  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/penjelasan-bertasawuf/ . Pertanyaan umumnya berkisar tentang mursyid (pembimbing) dalam bertasawuf.

Pada hakikatnya siapakah mursyid yang akan ”menghampiri” kita adalah semata-mata kehendak Allah Azza wa Jalla.  Pesan kami jika pembaca dalam penantian mursyid, berhati-hatilah jika seseorang mempromosikan dirinya sebagai mursyid bagi anda namun jangan pernah menganggap remeh seorang muslimpun yang dijumpai karena bisa jadi beliau adalah mursyid anda.

Baiklah sambil menanti mursyid, berikut adalah tips atau langkah-langkah awal dalam bertasawuf

Bertauhidlah dengan cara menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pihak pertama yang dikomunikasikan segala permasalahan, cobaan, kebutuhan dan keinginan kita, termasuk atas segala kenikmatan  yang telah Allah ta’ala berikan dalam bentuk bersyukur.  Begitupula kita komunikasikan kebutuhan dan keinginan bertasawuf kepada Allah ta’ala.

Teguhkan tujuan hidup kita adalah untuk sampai kepada Allah Azza wa Jalla sedangkan surgaNya adalah keniscayaan/kepastian bagi mereka yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya.

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

Sampai kepada Allah Azza wa Jalla , sehingga dapat berkumpul dengan Rasulullah dan para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan para Sholihin.  Ikutilah jalan mereka yang termasuk orang-orang yang telah Allah Azza wa Jalla berikan nikmat.

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:7 )

Shiddiqin adalah orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul
Syuhada adalah orang-orang yang mati syahid
Sholihin adalah orang-orang sholeh atau muslim yang terbaik atau muslim yang Ihsan (muhsin), muslim yang dapat melihat Allah ta'ala dengan hati/keimanan atau muslim yang selalu yakin bahwa Allah ta'ala melihat perbuatan.

Allah Azza wa Jalla telah memberikan ni’mat kepada mereka dan setelah mereka merasakan kematian, mereka hidup di sisi Allah Azza wa Jalla, sesuai dengan kehendak Allah menempatkan mereka dan mereka masih mendapatkan rezeki atau kehendakNya.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

Imam al-Baihaqi telah membahas sepenggal kehidupan para nabi. Ia menyatakan dalam kitab Dalailun Nubuwwah: “Para nabi hidup di sisi Tuhan mereka seperti para syuhada.“

Selengkapnya silahkan baca tulisan ” Rasulullah hidup di sisi Allah Azza wa Jalla” pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/21/rasulullah-hidup/

Jadi tujuan kita bertasawuf karena Allah ta’ala semata atau agar kita sampai kepadaNya dan berkumpul dengan mereka yang telah menerima ni’mat dari Allah Azza wa Jalla.

Berikut langkah-langkah untuk memulai bertasawuf sampai Allah Azza wa Jalla menetapkan mursyid (pembimbing) bagi kita.

Mulailah dengan pembersihan diri, bertobatlah kepada Allah Azza wa Jalla

Bersikap tawaduk, merendah serta memohon maaf dan ampunan, apakah kita telah melakukan dosa atau tidak. Jika kita melakukan kesalahan atau dosa, akuilah segera dan mintalah ampunan, karena orang yang bertobat dari dosa laksana orang tidak berdosa. Semua manusia pasti melakukan kesalahan. Tak ada yang lepas sepenuhnya dari dosa. Namun yang paling penting, jagalah diri kita agar tidak terus berkubang dosa.

Nasehat Syaikh Ibnu Athoillah dalam al-Hikam,

Adakalanya Dia bukakan pintu ketaatan untukmu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaan.
Adakalanya Dia menetapkanmu berbuat dosa, tetapi itu menjadi sebab kau sampai kepada-Nya
Maksiat yang melahirkan rasa hina dan papa lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan kecongkakan dan kesombongan.

Setelah pembersihan diri dengan bertobat kemudian buktikan syahadat kita dengan menegakkan sholat wajib 5 waktu, zakat,  puasa dan berhaji jika mampu.

Jadikan sholat wajib 5 waktu bukan sebuah beban namun rasakan sebagai wujud Ar Rahmaan dan Ar Rahiim nya Allah Azza wa Jalla dalam bentuk peluang bagi kita untuk dapat berkomunikasi denganNya, 5 kali sehari. Kitalah yang membutuhkan sholat.

Raihlah ridho Allah ta’ala dengan sholat wajib 5 waktu dengan tepat waktu dan di masjid bagi pria. Karena sesungguhnya bagi yang tidak sholat berjamaah ke masjid tanpa alasan yang berarti dan mereka yang tidak sholat wajib 5 waktu tepat waktu tanpa alasan yang berarti adalah mereka yang mengharapkan maafnya Allah ta’ala. Sedangkan kita butuh ridho Allah ta’ala agar kita sampai kepadaNya. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/11/ridho-allah-taala/

Disetiap selesai sholat wajib 5 waktu, berdzikir dan berdoalah. Dalam berdzikir sebaiknya diawali istighfar, syahadah, sholawat dan dzikir sebagaimana Rasulullah anjurkan kemudian akhiri dengan doa yang menunjukkan keinginan kita bertasawuf  agar sampai kepadaNya. Berdoalah seperti “Ilahi Anta Maqsudi Waridhoka Matlubi“, Tuhan hanya Engkaulah yang kumaksud dan ridhoMu yang kuharap. dan ditambah berdoa dengan redaksi sesuai keinginan sendiri seperti “Ya Allah ampunkanlah dosa kami, Bimbinglah kami dengan kasih sayangMu, untuk sampai kepadaMu“. .

Setelah seluruh perkara yang Allah Azza wa Jalla  wajibkan berikut niat dan doa kita laksanakan maka lanjutkan untuk meraih cintanya Allah Ar Rahmaan dan Ar Rahiim dengan amalan-amalan sunnah agar kita sampai kepadaNya dengan derajat  kekasih Allah (Wali Allah).

Dari Abu Huriroh rodhi Allahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Ikutilah amalan-amalan sunnah sebagaimana para ulama kita terdahulu contohkan yakni para Wali Songo yang mengajak kita untuk mentaati Allah ta’ala dan RasulNya.

Nasehat  mereka tertuang dalam  syair lagu ”OBAT HATI”

Obat hati ada lima perkara.
Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua, shalat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.


Yang pertama, baca Qur’an dan Maknaya
Untuk bertasawuf atau menjadi orang khusus (yang dicintai Allah ta’ala) , bacalah Al-Qur’an dengan maknanya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kita melakukan segala aktivitas. Pergunakanlah terjemahan Al-Qur’an dan lebih baik dengan tafsir.

Yang kedua, Sholat malam dirikanlah
“Dan pada sebagian malam tahajudlah kamu, sebagai ibadah tambahan bagimu, semoga Rabbmu mengangkat derajatmu ke tempat yang paling terpuji.” (QS Al Isro’ [17]:79 )

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS Al Muzzammil [73]:6 )

Rasulullah SAW. bersabda: “Kerjakan sholat malam, sebab hal itu adalah kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kamu, juga sebagai suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagai penebus keburukan-keburukanmu, dan pencegah dosa.” (HR Tirmidzi)

Yang ketiga, berkumpulah dengan orang sholeh
Untuk bertasawuf atau menjadi orang sholeh maka kitapun harus memperbanyak berkumpul dengan orang sholeh.
“ar-ruuhu junnudun mujannadah
"Ruh itu kelompok (berbala) yang mengelompok atau teman yang ditemankan." (HR Bukhari)

Kalau kita berkumpul dengan orang-orang sholeh, maka kita akan menjadi orang sholeh. Orang sholeh seperti penjual minyak wangi – kata Nabi. Jadi orang sholeh itu akan menyemprotkan wangi-wangiannya ke sekelilingnya. Jadi sekitarnya akan menjadi wangi karenanya. Oleh karena itu dekat-dekatlah kita kepada penjual minyak wangi sebab kalaupun toh tidak mampu membeli kita akan memperoleh bau wanginya.

Berkumpul adalah melihat dan mendengar. Termasuk berkumpul dengan orang sholeh jika kita membaca tulisan/buku-buku yang ditulis oleh orang sholeh. Hindari membaca buku yang ditulis oleh  Dukhala ‘Ilmi yakni ahli ilmu (ulama) namun bukan ahli bidang tasawuf.

Kami merekomendasikan beberapa buku-buku baru yang merupakan terjemahan dari karya penulis ulama Tasawuf ternama.

Karya Syaikh Abdul Qadir Jailani yang diterjemahkan
Trilogi “Jalan Sejati Menuju Sang Khalik”
Buku ke 1 “Rahasia mencintai Allah”
Buku ke 2 “Rahasia berjumpa Allah”
Buku ke 3 “Rahasia menjadi kekasih Allah”
Buku-bukut itu diterbitkan oleh penerbit Sabil, Jogyakarta. http://www.divapress-online.com

Karya Syaikh Ibnu Athoillah yang diterjemahkan
1 set buku “Terapi Makrifat” penerbit Zaman, http://www.penerbitzaman.com
1. Misteri Berserah kepada Allah
2. Rahasia Kecerdasan Tauhid
3. Tutur Penerang Hati
4. Zikir Pententram Hati
5. Kasidah Cinta dan Amalan Wali Allah

Bacaan dalam bentuk majalah yang kami rekomendasikan adalah Cahaya Sufi.

Sejauh ini kami tidak ada hubungan dengan para penerbit, kami merekomendasikan karena untuk tahap permulaan lebih baik membaca buku yang mudah untuk dipahami, diresapi dan diambil hikmahnya. Buku-buku tersebut adalah termasuk buku yang baru diterbitkan dan diterjemahkan oleh penterjemah masa kini.

Ikuti pengajian yang membahas kitab-kitab Tasawuf seperti kitab Al Hikam , Syaikh Ibnu Athoillah atau pengajian yang membahas seputar hati atau tazkiyatun nafs seperti manajemen qalbu.

Selain bergaul dengan orang sholeh, kita upayakan meninggalkan pergaulan dengan orang yang tidak sholeh seperti

  1. Tinggalkan menonton sinetron TV yang berisikan atau mempertunjukkan sifat-sifat orang yang tidak sholeh seperti marah, sombong, dengki, iri, hasut dll. Menonton sinetron TV seperti itu pada hakikatnya kita bergaul dengan orang tidak sholeh.

  2. Tinggalkan menonton infotainment yang berisikan membicarakan keburukan orang lain (ghibah).

  3. Tidak menonton acara yang memperlihatkan gaya hidup yang bukan berzuhud. Sedangkan berzuhud adalah gaya hidup yang dicintai Allah ta’ala. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/30/zuhudlah-di-dunia/


Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari).

Dari Sahl dari Nabi bersabda : Sesungguhnya dalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama Ar Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat, dan selain mereka tidak akan masuk melaluinya. ….(Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

Lakukanlah puasa sunnah Senin-Kamis, sepanjang tahun jika kesempatan memungkinkan. Tulisan tentang puasa silahkan baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/05/hakikat-puasa/

Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al Ahzab [33]:41 )

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS Ar Rad [13]:28 ]

Hal yang sebaiknya dilakukan sebelum dalam berdzikir adalah harus diawali dengan bertawasul atau diawali beberapa dzikir yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/24/allah-itu-dekat/ yaitu istighfar, syahadah, laahaulaa , sholawat dstnya..

Dizkrullah adalah alat atau sarana  kita untuk mi'raj kepada Allah Azza wa Jalla atau untuk sampai kepada Allah Azza wa Jalla.  Sebaik-baiknya dzikir atau sebaik-baiknya mi'raj adalah sholat.  Inilah yang dimaksud perkataan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin,  “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“

Demikianlah tips dari kami untuk memulai bertasawuf, dalam perjalanannya nanti, jika dikehendaki Allah Azza wa Jalla datanglah mursyid yang ditetapkanNya.

Kalau ada waktu silahkan baca tulisan di blog kami. Temukan daftar/indeks tulisan pada kolom paling kanan dengan judul/kelompok
"Seputar Tasawuf", "Perjalanan Hidup (suluk)" dan "Tulisan khusus"

Tulisan ini kita akhiri dengan firman Allah swt yang terkait dengan jiwa, yang artinya
"Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku" QS (Al Fajr [89] 27-30 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Sabtu, 19 Februari 2011

Bagaimana mengikutinya

Sungguh bagus dan mulia motto sebagian saudara muslim kita,  yakni : "Belajar Islam Sesuai Al-Qur'an dan Sunnah Menurut Pemahaman Para Sahabat"

Cobalah periksa salah satunya http://www.alquran-sunnah.com/artikel/manhaj/94-salah-paham-tentang-salafi.html

Kami kutipkan dari situs tersebut
*****awal kutipan *****
Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbahkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih. Atau dengan kata lain “Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka”. (Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, hal. 10)
***** akhir kutipan ****

Inilah pokok kesalahpahaman selama ini yang menjadikan sebagian umat muslim gemar mentakfirkan sesama saudara muslim, terpecah belah, saling berlepas diri, saling berdebat bahkan saling bertengkar seperti kejadian di NTB

Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka

Pertanyaan sekarang adalah bagaimana cara mengikuti pemahaman dan cara beragama mereka ?

Ada tiga metode "cara mengikuti" atau penyampaian dari Salafush Sholeh yakni

1. Penyaksian langsung atau bergaul, hidup sezaman dengan para Salafush Sholeh
2. Penyampaian dari mulut ke mulut / lisan / temu muka atau dikenal dengan sanad ilmu/ pengijazahan atau bisa pula sanad silsilah (keturunan).
3. Mengikuti yang paling lemah adalah melalui tulisan / literatur karena tidak ada proses konfirmasi apa yang dipahami.

Imam Mazhab yang empat termasuk yang menggunakan metode 1 karena mereka bertemu dengan Salafush Sholeh
***** awal kutipan *****
Imam Abu Hanifah hanya berjumpa dengan 7 orang sahabat Nabi, yaitu:
Anas bin Malik, Abdullah bin Harits, Abdullah bin Abi Aufa, Wasnilan bi Al Asda, Maaqil bin Yasar, Abdullah bin Anis, Abu Thafail.

Guru-gurnya yang lain para Tabi’in. Abu Hanifah menggali hukum dari Al-Qur’an dan Hadits, baik hukum yang ditanyakan kepada beliau atau yang belum ditanyakan.

Imam Hanafi di Kufah (Ibu kerajaan Islam), tetapi Imam Maliki tinggal di Madinah, negeri yang pada ketika itu boleh dikatakan tidak ramai, hanya didiami oleh pemangku-pemangku hadits, ulama ahli tasawuf, ahli tafsir, sedang kota Kufah didiami oleh ahli-ahli politik dan ulama-ulama fungsinya.

Pemangku-pemangku hadits yaitu Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in banyak tinggal di madinah. Hal ini sangat menolong Imam Maliki dengan mudahnya dalam mengumpulkan Hadits-hadits Nabi, Sunnah Rasul.

Imam Maliki sebelum menjadi Imam Mujtahid Muthlaq telah menghafal hadits-hadits sahih sejumlah 100.000 hadits yang dikumpulkan dari gurunya.

Hadits yang 100.000 itu diteliti lagi oleh beliau, diteliti matannya, diteliti pemangkunya, dicocokan isinya dengan Al-Qur’an dan kalau kedapatan agak lemah maka hadits itu ditinggalkannya dan tidak pakai untuk dasar hukum.

Imam Syafi’I sebagai dimaklumi adalah seorang yang sering pindah-pindah tempat tinggal dari satu negeri ke negeri lain.

Beliau tinggal di Mekkah dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, kemudian pindah ke Madinah dan bergaul juga dengan seluruh Tabi’in, pndah lagi ke Yaman dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, pindah ke Iraq dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, pindah ke Persia, kembali lagi ke Mekkah, dari sini pindah lagi ke Madinah dan akhirnya ke Mesir.

Perlu dimaklumi bahwa perpindahan beliau itu bukanlah untuk berniaga, bukan untuk turis, tetapi untuk mencari ilmu, mencari hadits-hadits, untuk pengetahuan agama.

Jadi tidak heran kalau Imam Syafi’I Rhl, lebih banyak mendapatkan hadits daripada Tabi’in yang lain, melebih dari yang didapat oleh Imam Hanafi dan Imam Maliki.

Ilmu beliau pun lebih banyak dari kedua Imam sebelumnya karena beliau banyak melihat, banyak mendengar, banyak bergaul dengan bangsa-bangsa lain bukan Arab (dari Persia, Turki dll).

Hadits-hadits dicari beliau kemana-mana. Para Tabi’in yang telah berjauhan tempat tinggalnya dijumpai dan ditemui bliau. Oleh karena itu beliau banyak sekali mendapat Hadits.

Imam Hanbali belajar Tafsir, Hadits, Tasauf dan lain-lain, yaitu kepada murid-murid Imam Abu Hanifah dan lain-lain, juga kepada Imam Syafi’I Rhl, ketika beliau berada di Bagdad.

Imam Hanbali kemudian sampai derajat ilmunya kepada Mujtahid yang bisa berijtihad sendiri, lepas dari ijtihad guru-gurunya. Sebagai bukti atas ke’aliman beliau adalah sebagai yang diceritakan oleh anak beliau sendiri Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa, “ayahku telah menghafal diluar kepala 10.000.000 (sepuluh juta).

Di dalam kitab al Masnad karangan Imam Ahmad bin Hanbal yang kemudian terkenal dengan nama Masnad Ahmad bin Hanbal dikumpulkannya empat puluh ribu (40.000) hadits, yaitu hadits-hadits yang disaringnya dari yang 10.000.000 itu.

Selengkapnya silahkan baca arsip pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/03/madzhab-empat/
***** akhir kutipan *****

Jadi Imam Mazhab yang empat menggunakan metode yang paling shahih dalam mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, tabi'in, tabi'ut tabi'in

Lalu bagaimana metode yang dipergunakan oleh para syaikh/ulama/ustadz yang mengaku menisbatkan kepada Salafush Sholeh ?

Pada umumnya dengan metode 3 yakni melalui tulisan , mereka memahami melalui tulisan tanpa dapat konfirmasi sehingga bercampur dengan pemahaman mereka sendiri. Tepatlah apa yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Sarwat Lc sbb:
*****awal kutipan *****
Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa seorang Al-Albani ketika membaca Quran dan Sunnah, lalu dia pun berjtihad dengan pendapatnya. Apa yang dia katakan tentang Quran dan Sunnah, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu dia sendiri. Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang dia sampaikan semata-mata lahir dari kepalanya sendiri.

Sayangnya, para pendukung Al-Albani diyakinkan bahwa yang keluar dari mulut Al-Albani itulah isi dan makna Quran yang sebenarnya. Lalu ditambahkan bahwa pendapat yang keluar dari mulut para ulama lain termasuk pada imam mazhab dianggap hanya meracau dan mengada-ada. Naudzu billahi min dzalik.

Disinilah letak ketidak-adilan para pendukung Al-Albani. Seolah-olah mereka mendudukkan Al-Albani sebagai orang yang paling mengerti dan paling tahu isi Quran dan Sunnah. Apa pun yang dikatakan Al-Albani tentang pengertian Quran dan Sunnah, dianggap kebenaran mutlak. Sedangkan kalau ada ulama lain berbicara dengan merujuk kepada Quran dan Sunnah juga, dianggap sekedar ijtihad dan penafsiran.

Padahal kapasitas Al-Albani yang sebenarnya bukan ahli tafsir, juga bukan ahli fiqih. Bahkan sebagai ahli hadits sekalipun, banyak para ulama hadits di masa sekarang ini yang masih mempertanyakan kapasitasnya. Sebab secara tradisi, seorang ahli hadits itu idealnya punya guru tempat dia mendapatkan riwayat hadits. Al-Albani memang tidak pernah belajar hadits secara tradisi lewat perawi dan sanad, sebagaimana umumya para ulama hadits. Al-Albani hanya sekedar duduk di perpustakaan membolak-balik kitab, kemudian tiba-tiba mengeluarkan statemen-statemen yang bikin orang bingung.
Selengkapnya silahkan baca arsip tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/07/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

*****akhir kutipan*****

Lalu bagaimana dengan Syaikh Ibnu Taimiyah (yang diakui sebagai “guru” oleh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, pendiri Salafi Wahabi).

Zaman kehidupan Syaikh Ibnu Taimiyah jauh terpaut dengan imam-imam mazhab, tentu hadits sampai kepada beliau tidak melalui pergaulan dengan tabi’in atau tabi’ut tabi’in sekalipun.

Hadits “sampai” kepada Syaikh Ibnu Taimiyah pertama kali dari Syihabuddin (bapaknya) seorang ulama muqolid, pengikut Mazhab Hanbali dan selanjutnya melalui guru/ulama yang diikuti oleh Syaikh Ibnu Taimiyah. Syaikh Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya memahami Al-Qur'an dan Hadits secara dzahir/harfiah/tersurat, kami memberi nama metodology "terjemahkan saja" .

Dengan metodology inilah beliau menjelaskan dan menyebarluaskn konsep Tauhid jadi tiga, seperti Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti secara dzahir/harfiah/tersurat , yang telah dikenal/dipahami di kalangan manusia.

Dalih metodology pemahaman mereka adalah firman Allah yang artinya,
dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS Asy Syu’ara’ [26]: 195).

Padahal ada firman Allah ta’ala pada ayat lain yang menerangkan bahwa walaupun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten (ahlinya). “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)
Selengkapnya silahkan baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Oleh karena metodologi "terjemahkan saja",  i'tiqad Syaikh Ibnu Taimiyah antara lain adalah
"Allah Azza wa Jalla bertempat di atas arasy"
"Allah Azza wa Jalla, punya tangan, kaki,dll namun tidak serupa dengan makhluk"

Ada keterengan sebenarnya Syaikh Ibnu Taimiyah telah bertobat dengan i'tiqad tsb, cuma kebenarannya perlu dikaji dahulu
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/waspadai-wahhabi/

Lalu bagaimana sampainya dari Syaikh Ibnu Taimiyah kepada Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab yang zaman hidupnya beratus tahun setelah wafatnya Syaikh Ibnu Taimiyah ?
Tentulah melalui upaya pemahaman melalui guru/ulama yang diikuti oleh beliau.

Inilah yang kami sampaikan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab “mengangkat” kembali pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah. Dalam penyiaran pemahamannya Syaikh Muhammad bin Abdulwhahab bersekutu dengan penguasa Muhammad bin Sa’ud pendiri dinasti/kerajaan Saudi.

Seorang pengunjung blog kami menyampaikan bahwa ustadz mereka mengajak orang-orang yang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab membawa pemahaman baru, untuk menunjukkan satu saja perkataan Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab yang tidak didahului oleh ulama’-ulama’ sebelum beliau.”

Ada kesalahpahaman selama ini yang tidak disadari bahwa seolah-olah Syaikh/Imam kaum Salafi/Wahabi tidak membawa pemahaman baru atau tidak melakukan pemahaman (ijtihad). Sesungguhnya setiap kita menyatakan pendapat dan mengambil firman Allah atau hadits Rasulullah sesungguhnya termasuk kedalam upaya pemahaman (ijtihad)

Contohnya dalam sebuah forum diskusi,  ada salah satu peserta diskusi yang mengaku bukan pengikut Salafi Wahabi (mungkin seorang pendukung) namun dia mengaku paham minhaj ilahi, “memperbolehkan” dirinya menghujat ataupun mengolok-olok saudara muslim lain dalam forum diskusi (menurut pemahaman dia) berdasarkan firman Allah antara lain,

atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” (QS Al Furqan [25]:44 )

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS Al Anfaal [8]: 22 )

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti” [QS Al Baqarah [2]:171 )

Benarkah kaitan firman Allah dengan pendapat dia ?
Inilah contoh upaya pemahaman (ijtihad).
Jelaslah bahwa pemahaman yang disampaikan saudara kita itu bukanlah pemahaman Salafush Sholeh.

Disinilah kesalahpahaman pengikut kaum yang menisbatkan kepada manhaj Salaf. Apapun yang disampaikan oleh syaikh/ulama mereka maka para pengikutnya menganggap pastilah itu pemahaman Salafush Sholeh , sedangkan ulama/syaikh diluar kaum mereka pastilah bukan pemahaman Salafush Sholeh.

Jadi ketika kita menyatakan pendapat dan berhujjah dengan nash-nash Al-Qur’an dan hadits, atau pendapat-pendapat ulama salaf/terdahulu termasuk upaya pemahaman (ijtihad)

Syaikh/Ulama Salafi/Wahabi yang menyertakan nash-nash Al Qur’an, Hadits, dan pendapat-pendapat ulama salaf/terdahulu, yang terkait pendapat mereka adalah termasuk upaya pemahaman (ijtihad).

Oleh karenanya kami sampaikan dalam tulisan terdahulu
***** awal kutipan *****
Salafy adalah saudara-saudara kami yang seolah-olah terhipniotis atau terindoktrinisasi oleh ulama/syaikh/ustadz mereka bahwa mereka berpemahaman sebagaimana Salafush Sholeh dan merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Hadits sehingga apapun yang disampaikan atau ditetapkan/difatwakan oleh ulama/syaikh/ustadz mereka adalah pasti benar sedangkan disisi lain mereka berseru bahwa imam madzhab adalah tidak ma’sum.

Salafy adalah saudara-saudara kami yang terhipnotis bahwa ulama/syaikh/ustadz mereka adalah mereka yang berkemampuan bahasa arab yang tinggi dan pastilah mereka dapat memahami Al-Qur’an dan Hadits dengan baik dan benar.

Salafy adalah saudara-saudara kami yang diibaratkan “terkukung dalam tempurung” karena diidoktrin jangan bergaul dengan ustadz/syaikh/ulama yang menurut mereka ahlul bid’ah , padahal mereka tidak memahami tentang bid’ah dengan baik

Arsip tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/18/peduli-salafy/
*****akhir kutipan *****

Wahai saudaraku Wahhabi / Salafi periksalah hasil kajian atau temuan seorang ustadz tentang seputar Salafy Wahhabi pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/waspadai-wahhabi/
Biar antum sekalian dapat memahami keadaan antum sebenarnya.

Sungguh kami bukan salah paham tentang salafi. Juga kami tidaklah membenci kalian namun kami peduli kepada antum sekalian dengan semangat persaudaraan sesama manusia yang telah bersyahadat. Kepedulian kami karena Allah Azza wa Jalla semata.


Kembalilah kepada ulama/syaikh/ustadz negeri kita sendiri yang tidak tercemar dengan paham Wahhabi/Salafi.

Hal yang perlu dingat selalu ketika kita berguru dan untuk intropeksi diri adalah
Semakin berilmu seorang hamba, semakin ia merunduk
Semakin bodoh seorang hamba, semakin kepalanya tegak.


Semoga Allah Azza Wa Jalla, memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Selasa, 15 Februari 2011

Peta Salafy

Peta Salafy dan Dunia Islam  menurut "kaca mata"  kami.

Secara umum Salafi atau mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh terbagi dua bagian besar yang bertolak belakang berdasarkan pemahaman mereka terhadap al-bara.

Satu bagian memahami al-bara sebagai "menegakkan perintah Allah tentang kebencian terhadap orang musyrik, orang yahudi,  nasrani bahkan saudara muslim mereka sendiri yang dianggap musyrik berdasarkan pemahaman (kaum) mereka sendiri.  Bagi mereka slogannya bisa jadi seperti "bunuh, musnahkan orang musyrik". Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/mengelola-kebencian/

Satu bagian lagi memahami al-bara sebagai sekedar "berlepas diri" sebagaimana yang disampaikan di http://almanhaj.or.id/content/2661/slash/0 Inilah yang sebagaimana dipahami oleh Salafi Wahhabi. Sehingga mereka secara tidak disadari menjadikan orang musyrik, teman kepercayaan. Mereka di wilayah kerajaan dinasti Saudi, telah memperlihatkan bagaimana mereka menjadikan Amerika sebagai teman kepercayaan, menjadikan penasehat keamanan, pembangunan, pengelolaan sumber daya alam / pertambangan bahkan menjadikan penasehat kurikulum pengajaran dan pendidikan sebagaimana yang telah kami uraikan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

Jadi keadaan umat Islam saat ini sebenarnya secara tidak disadari telah di adu domba dengan pemahaman sendiri atau memang ada gerakan ghazwul fikri yang dilancarkan oleh orang-orang yang memang diciptakan oleh Allah ta'ala mempunyai rasa permusuhan terhadap kaum muslim. Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Satu sisi (misalkan salafi jihadi / haraki) meneriakkan "bunuh orang musyrik" dan satu sisi lagi (Salafi Wahhabi) secara tidak langsung mendanai orang musyrik untuk memerangi Salafi lain (misalkan salafi jihadi/haraki)

Perhatikanlah fatwa-fatwa dari ulama Salafi Wahhabi dan bandingkan dengan fatwa-fatwa ulama Salafi yang bertolak belakang dengan Salafi Wahhabi seperti Salafi Jihadi atau Salafi Haraki.  Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/kita-diadu-domba/

Kalau kita telusuri lebih lanjut, maka sumbernya adalah pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah yang dikenal sebagai ulama pembaharu atau modernisasi agama.

Salafi Wahhabi mengangkat dari sebagian pemahaman Syaikh Ibnu Taimiya untuk kepentingan mendirikan dan mempertahankan dinasti kerajaan Saudi. Inilah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Salafi Jihadi / Haraki mengangkat dari sebagian pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah kepentingan pergerakan / politik / siyasi

Salafy Wahhabi membenci Hizbiyyah atau kelompok atau organisasi, bisa jadi untuk menghindari kepemimpinan informal atau kepemimpinan diluar kepemimpinan kerajaan. Sedangkan sebaliknya Salafy Jihadi / Haraki membutuhkan hizb, kelompok , organisasi atau harakah.

Pemahaman/Ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah ini yang merujuk kepada Al-Qur'an dan hadits dengan metodologi yang kami katakan sebagai "terjemahkan saja". Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Sesungguhnya Syaikh Ibnu Taimiyah tidak mencapai derajat imam mujtahid apalagi imam mujtahid mutlak

Oleh karena Syaikh Ibnu Taimiyah "takut" hasil pemahaman beliau tidak diterima orang maka beliau memberi nama "mazhab"nya dengan nama generik / umum yaitu manhaj/madzhab salaf. Seharusnya dinamakan mazhab Taimiyah.

Madzhab Taimiyah telah ditolak oleh jumhur ulama sejak zaman beliau hidup bahkan beliau harus berulang kali masuk penjara

I'tiqad beliau yang sangat ditolak adalah bahwa Allah bertempat di atas arasy. Maha suci Allah ta’ala dari bertempat dan dari bagaimana.

Juga dengan metodologi "terjemahkan saja" akhirnya mereka "berserah diri" dengan i'tiqod bahwa Allah ta'ala memupunyai tangan, kaki, wajah namun tidak serupa dengan makhluk

Salah satu ulama terdahulu kita yang menolak madzhab Taimiyah adalah Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/2010/11/03/syaikh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/

Ulama-ulama terdahulu seperti beliau dikenal dengan ulama-ulama "kaum tua"

Namun sebagian ulama-ulama setelah generasi "kaum-tua" atau dikenal sebagai ulama-ulama "kaum-muda" mulai terpapar madzhab Taimiyah.  Termasuk di dalamnya ulama-ulama  saudara kita dari kalangan Muhammadiyah. Namun mereka terpapar tidak terlampau jauh atau diambil yang baik-baik saja dari madzhab Taimiyah dan pemahaman/ijtihad ulama yang lain atau dikenal dengan istilah manhaj tarjih atau berdalil dengan yang lebih/paling kuat.

Yang terpapar jauh atau secara bulat-bulat adalah kaum muda kita yang mengenyam pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi atau tempat pendidikan di negara lain dengan paham Wahhabi. Termasuk yang menyebut dirinya "mantan kiyai NU"

Orang-orang yang memusuhi Islam sangat berkepentingan agar pintu ijtihad terbuka kembali walaupun waktu sudah terpaut jauh dari masa generasi terbaik (Salafush Soleh). Kepentingan mereka agar memungkinkan mereka mengadakan pemahaman-pemahaman baru (modernisasi agama) terhadap Al-Qur’an dan Hadist. Inilah sebenar-benarnya ghazwul fikri atau perang pemahaman/pemikiran.

Sebagai contoh apa yang dipahami oleh Musdah Mulia (tokoh liberalisme). Menurut Musdah, sebetulnya kajian politik yang lebih serius bukan dalam buku al-Siyãsah al-syar’iyyah, melainkan buku Minhãj al-Sunnah al-Nabawiyyah dan Ahisbatul Islam. Musdah menekankan bahwa sebelum membaca pemikiran Ibnu Taimiyyah, kita... harus masuk ke abad XIV. Ibnu Taimiyyah pertama-tama mengembangkan pemikirannya dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang tidak mencerahkan. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/

Jadi pandangan mereka terhadap Syaikh Ibnu Taimiyah bahwa beliau tokoh yang mengembangkan pemikiran dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang “tidak mencerahkan”. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Berangkat dari komitmen inilah kemudian Ibnu Taimiyyah merumuskan konsep-konsep mengenai negara.

Mereka membutuhkan justifikasi dari keinginan mereka mensosialisasikan program mereka yakni negara atau nation state dan “nasionalisme” untuk menggantikan “kesatuan akidah “umat Islam pada waktu itu dengan sistem khalifah. Sehingga sebagian muslim menganggap bahwa “bela negara” adalah sebagian dari iman walaupun tanpa disadari “lawan negara” yang diperangi adalah saudara-saudara muslim sendiri.

Inilah yang terjadi dengan propaganda "nasionalisme Arab" yang dilancarkan oleh musuh Islam seperti Edward Terrence Lawrence. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/bahaya-laten/

Sebenarnya pemahaman/ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah sudah terkubur sebelumnya namun diangkat kembali oleh orang-orang yang memerlukan dengan berbagai kepentingan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, Rasyid Redha, dll. Termasuk digunakan untuk kepentingan kaum SPILIS (Sekelurisme, Pluralisme dan Liberalisme). Metode pemahaman/ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah sangat digemari mereka karena metodologi “terjemahkan saja” mudah dipelajari dan dipahami.

Demikianlah hasil analisa kami terhadap keadaan dunia Islam, dulu dan sekarang. Semoga kita dapat memposisikan diri kita masing-masing dan saling mengingatkan dalam semangat Ukhuwah Islamiyah.

Hal yang perlu kita ingat selalu bahwa kalau perdebatan/perselisihan/pertengkaran diantara manusia yang telah bersyahadat adalah semata-mata kesalahpahaman, karena mereka yang telah bersyahadat pada dasarnya tidak dikaruniakan rasa permusuhan namun dikaruniakan rasa persaudaraan. Hanya orang-orang yang tak mau bersyahadat / musyrik saja yang dikehendaki oelh Allah Azza wa Jalla mempunyai rasa permusuhan.

Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Wassalammualaikum

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Kamis, 10 Februari 2011

Rasulullah bertasawuf

Sering ditanyakan kepada kami, "apakah Rasulullah & para Sahabat serta Imam yang Empat, Tabi’in & tabi’ut tabi'in bertasawuf?"

Jawaban kami

Tahukah kita, mengapa mereka ada yang dipanggil sebagai Salafush Sholeh?


Karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.

Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin/muhsinin). Ihsan (kata arab) yang maknanya baik, terbaik.

Kami berupaya mengikuti/mencontoh para Salafush sholeh. Kami mendalami tasawuf dalam islam adalah mendalami tentang akhlakul karimah, mendalami upaya agar dapat “seolah-olah melihatNya”, mendalami tentang ihsan yang bagian dari pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril.

Tentang Islam (rukun Islam/fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin) , Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf)

Rasulullah saw berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.” (HR Muslim)

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/15/muslim-tingkatan-ihsan/

Kadang kita mendengar saudara muslim kita yang memperturutkan hawa nafsunya, sibuk dengan istilah tasawuf mengatakan,

kalau tasawuf ajaran Rasulullah ?? dari mana asal kata tasawuf ??

Apakah Muhammad Rasulullah saw, pernah bertutur dalam hadist sahih bahwa “Sarana atau ilmu untuk paham seputar mengenal Allah adalah ilmu Tasawuf”?

Apakah Muhammad Rasulullah saw pernah mengaku sebagai sufi dan pendiri aliran tasawuf??

Berikut tulisan yang menarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang senada dengan itu, memperdebatkan masalah yang bukan substansi, yakni istilah tasawuf.

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/25/istilah-tasawuf/
*****awal kutipan*****
Membahas masalah Tasawuf saya jadi ingat pengajian rutin mingguan yang diadakan di Masjid Al-Buthi, Damaskus, setiap Jumat bakda Ashar, membahas kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiah yang disampaikan langsung oleh Syaikh Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi. Pembahasan terakhir kebetulan sampai pada Bab Tasawuf, setelah selesai membahas Bab Al-Faqr.

Dalam pengajian terakhir (14/5/2010), Syaikh Al-Buthi menerangkan bahwa istilah tasawuf adalah istilah yang tidak memiliki asal. Memang ada yang mengatakan bahwa Tasawuf berasal dari kata Shuuf (bulu domba), Ahlus Shuffah (penghuni Shuffah), Shafaa (jernih), Shaff (barisan) dan lain-lain. Namun teori-teori itu tidak ada yang tepat menurut beliau sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Qusyairi sendiri dalam kitabnya. Namun yang menjadi fokus pembahasan bukanlah itu, yaitu meributkan masalah nama atau istilah yang takkan pernah ada habisnya, karena setiap orang bisa membuat istilah sesuka hatinya. Yang menjadi fokus adalah substansinya. Oleh karena itu, ada sebuah ungkapan yang sudah sangat masyhur di kalangan para ulama dan santri, “La musyahata fil ishthilah (tidak perlu ribut karena membahas istilah).”

Dalam dunia ushul fikih kita mengenal istilah Wajib dan Fardhu, menurut Jumhur Fuqoha keduanya memiliki arti yang sama, namun menurut Hanafiyah keduanya berbeda. Dalam dunia Mushtolah Hadis kita mengenal istilah Hadis Mursal yang menurut ahli hadis artinya adalah hadis yang dinaikkan oleh seorang tabii tanpa menyebutkan siapa perantaranya kepada Nabi SAW, namun menurut ahli ushul artinya adalah hadis yang terputus secara mutlak, di mana pun letaknya dan berapa pun jumlah perawinya, mirip Hadis Munqathi’. Imam Asy-Syafii mengingkari Istihsan dan mengatakan bahwa “Barangsiapa ber-istihsan maka ia telah membuat syariat (baru)”, sedangkan Ulama Hanafiyah paling banyak menggunakan Istihsan. Setelah diselidiki dan diteliti ternyata perbedaan mereka hanya sampai pada tataran istilah saja (ikhtilaf lafzhi), namun pada substansinya mereka sepakat. Istihsan yang dimaksud oleh Imam Asy-Syafii bukanlah Istihsan yang selama ini dipakai oleh Ulama Hanafiyah. Kata Sunnah pun memiliki pengertian yang bebeda-beda menurut ahli fikih, ushul fikih dan mustholah hadis. Demikianlah seterusnya, perdebatan dalam masalah istilah takkan pernah menemui titik temu dan takkan memberikan manfaat yang signifikan.

Demikian pula dalam masalah Tasawuf. Banyak orang berbondong-bondong mengumandangkan genderang dan mengibarkan bendera perang terhadap apa yang disebut Tasawuf. Buku-buku ditulis, pengajian-pengajian digelar, perang opini dikobarkan. Semuanya dengan satu tujuan, memberangus Tasawuf dari muka bumi. Sementara itu, di sisi lain berbondong-bondong pula orang yang siap membela mati-matian Tasawuf. Padahal, banyak di antara mereka yang tidak mengerti dan tidak memahami apa hakikat dari istilah Tasawuf itu sendiri. Ironis.

Syaikh Al-Buthi berkata, “Jika Tasawuf yang kalian maksud itu adalah pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat seperti ikhtilath (campur baur) laki-laki dengan perempuan dan lain-lain, maka aku akan berdiri bersama kalian dalam memerangi Tasawuf. Namun jika yang kalian perangi adalah perkara-perkara yang memang berasal dari Islam seperti tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), akhlak dan lain-lain, maka berhati-hatilah!”

Beliau juga sering mengulang-ulang perkataan ini, “Namailah sesuka kalian: Tasawuf, Tazkiyah, Akhlak atau yang lainnya selama substansinya sama.”

Ya, ternyata istilah tidaklah sedemikian penting dibandingkan dengan subtansinya selama dalam batas-batas yang bisa ditolerir. Syaikh Al-Buthi bahkan menegaskan dalam ceramahnya, “Saya sengaja berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan istilah tasawuf dalam kitab saya, Syarah Hikam Atho’iyah, demi menjaga perasaan saudara-saudara kami yang sudah termakan opini bahwa tasawuf bukanlah dari Islam.”

Namun, apakah dengan demikian beliau mengingkari inti atau substansi Tasawuf? Jawabannya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Apapun istilahnya, jika memang terbukti berupa pelanggaran terhadap syariat maka kita harus berdiri dalam satu barisan untuk memeranginya. Namun jika hal-hal itu adalah bagian dari Islam atau bahkan inti ajaran Islam, maka tidak semestinya kita menolaknya.

Jadi, kita mesti banyak berhati-hati dalam menggunakan istilah sebelum memahami makna sebenarnya. Jangan sampai kita terjebak dalam perangkap musuh yang sengaja mengkotak-kotakkan umat Islam dengan cara menciptakan istilah-istilah agar umat Islam disibukkan membahasnya lalu terlupakan akan tugas yang lebih penting dan lebih besar manfaatnya daripada itu. Jangan sampai kita terpecah-pecah karena masalah furu’iyyah sementara kita melupakan prinsip-prinsip agama kita. Wallahu a’lam.
*****akhir kutipan*****

Orang-orang kafir atau orang-orang Yahudi, mereka tahu bahwa jalan menuju kesempurnaan (ihsan) seorang muslim adalah mendalami tentang ihsan(tasawuf), sehingga mereka berupaya mencitrakan buruk kepada tasawuf dalam Islam dan sebagian ulama termakan propaganda tersebut.

Perhatikanlah bagaimana Orang-orang kafir atau orang-orang yahudi berupaya meruntuhkan akhlak kaum muslim dengan budaya mereka, pornografi, seks bebas, homoseksual, miras, narkoba dll.

Hal inilah yang terjadi di zaman yang dikatakan modernisasi agama dimana ulama-ulama melupakan tentang tasawuf dalam islam, sehingga dari ulama-ulama seperti itu lahirlah kaum muslim yang taat beribadah namun tidak berakhlakul karimah.

Untuk itulah kami menganjurkan kepada mereka yang berwenang dan sedang memasukkan aspek “etika” kedalam kurikulum pendikan memperhatikan tentang Ihsan atau Tasawuf dalam Islam. Silahkan baca tulisan selengkapnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Jadi kemerosotan akhlak yang kita temui di negeri kita, bisa jadi karena para ulama telah melupakan tentang tasawuf dalam Islam atau melupakan tentang ihsan, melupakan tentang akhlakul karimah

Akhlakul karimah adalah kesadaran atau perbuatan/perilaku secara sadar dan mengingat Allah.

Perhatikanlah mereka yang korupsi, mafia peradilan/hukum atau yudikatif yang tidak menegakkan keadilan, para penguasa (eksekutif) yang masih kurang peduli dengan nasib rakyatnya, para legislatif yang sebagian mereka masih belajar tentang etika dan belajar membedakan antara uang rakyat dengan uang pribadi, belajar bagaimana mereka mewakili rakyat dengan keadaan rakyat sesungguhnya dan lain lain, tentu sebagian mereka taat menjalankan ibadah sholat, puasa, zakat bahkan ibadah haji namun pada hakikatnya mereka tidak berakhlakul karimah. Mereka tidak mengingat Allah ta’ala ketika mereka hendak melakukan perbuatannya atau mereka tidak mengingat Allah ta'ala ketika mereka hendak bersikap.

Sekarang kita dapat pahami bahwa tasawuf adalah tentang akhlak atau tentang Ihsan.  Sejak dahulu kala,  dalam perguruan tinggi Islam, mata kuliah Tasawuf adalah mata kuliah akhlak. Coba periksa silabus tentang akhlak di berbagai perguruan tinggi Islam misalkan

http://rmp.ums.ac.id/silabi/G000/TAR31052/SILABUS_AKHLAQ.rtf
atau
http://www.uinsuska.info/psikologi/attachments/074_bab3_kurikulumdansilabus.pdf

Jadi intinya bahwa Rasulullah itu bertasawuf karena memang tujuan Rasulullah adalah menyempurnakan akhlak

Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S Al-Ahzab : 21).

Urutannya adalah Ilmu --> Amal --> Akhlak

Dengan ilmu kita melakukan amal/perbuatan/ibadah, dengan amal/perbuatan/ibadah yang kita lakukan terbentuk akhlak.

Inilah yang diibaratkan sebagai ilmu padi,  "merunduk ketika semakin berisi"

Sebagaimana yang diketahui, bahwa ajaran ahwal (suatu perolehan dengan karunia dari Allah) dan maqamat (suatu perolehan dengan usaha manusia) yang semuanya itu ditujukan untuk memperbaiki akhlak.

Sedang tujuan perbaiki akhlak adalah untuk membersihkan qalbu yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) yang selanjutnya akan memperoleh kenyataan Tuhan (TAJALLI).  Allah ta'ala bertajalli maka kita akan mencapai muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) atau muslim yang dapat seolah-olah melihatNya atau melihat Allah ta'ala dengan hati / akhlak yang suci / keimanan.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.

Dengan demikian maka kita dapat paham bahwa jalan untuk mengenal Allah , tidak dapat ditempuh dengan sekaligus, tetapi adalah sesuai dengan peribadi masing masing yaitu harus ditempuh secara bertingkat tingkat.

Pada tingkat untuk memasuki Ilmu Hakekat dan Ilmu Ma’rifat, berarti memasuki suatu jalan pengetahuan yang bertujuan untuk mengenal sesuatu itu dengan cara bersungguh sungguh, bahwa siapakah manusia itu, siapakah yang menjadikannya dan siapakah yang menciptakan sekalian itu.

Tasawwuf meringkaskan jalan pengetahuan ini dengan berdasarkan sabda Rasulullah SAW

MAN ‘ARAFA NAFSAHU FAQAD ‘ARAFA RABBAHU

(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah)

Firman Allah Taala :

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“  (QS. Fush Shilat [41]:53 )

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/04/kenali-diri/

Dengan tulisan ini, kita dapat memahami adalah sebuah keliruan besar telah terjadi pada ulama-ulama Wahhabi  dan penguasa kerajaan dinasti Saudi yang berpemahaman bahwa muslim yang menjalankan tasawuf  / tentang ihsan / berakhlak adalah telah keluar dari Islam atau telah sesat.  Bahkan sebagaimana yang disampaikan oleh alm Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani bahwa Wahhabi telah memasukkan kedalam kurikulum pendidikan bahwa kelompok Shuufiyyah (aliran–aliran tashowwuf ) adalah syirik dan keluar dari agama. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Kekeliruan besar yang terjadi di sana adalah karena mereka secara tidak disadari telah berteman dengan orang-orang yang memang telah dicptakan oleh Allah Azza wa Jalla untuk mempunyai  rasa permusuhan kepada kaum muslim

Firman Allah ta’ala yang artinya,
orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Mereka menjadikan orang-orang Yahudi  dan orang-orang Musyrik sebagai teman kepercayaan atau penasehat segala bidang seperti penasehat keamanan, penasehat ekonomi, penasehat pembangunan, penasehat pengelolaan sumber daya alam bahkan penasehat kurikulum pengajaran/pendidikan sebagaimana yang kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

Terbuktilah mereka secara tidak sadar telah bersekutu dengan orang-orang yang memang telah dicptakan oleh Allah Azza wa Jalla untuk mempunyai  rasa permusuhan kepada kaum muslim. Tambahan informasi silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/bersekutu-dengan-amerika/

Pada akhirnya yang harus kita ingat selalu bahwa apapun yang telah terjadi pada para umara/penguasa dan para ulama di wilayah kerajaan dinasti Saudi adalah kehendak Allah ta'ala. Bagi kita umat muslim pada umumnya adalah sebagai cobaan. Kita harus menghadapi cobaan ini dengan perbuatan/sikap yang dicintai oleh Allah Ar Rahmaan dan Ar Rahiim dalam semangat Ukhuwah Islamiyah.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Rabu, 27 Oktober 2010

Amal Sholeh

Muslim pada kebanyakan (umumnya) atau pada awalnya adalah berupaya menjadi orang-orang beriman (mukmin). Orang-orang beriman (mukmin) adalah mereka yang memahami dan menjalankan rukun Islam dan rukun Iman dengan minimal melaksanakan seluruh kewajiban (hukum/perkara wajib) dan menjauhi seluruh larangan dan pengharaman (hukum/perkara haram). Selengkapnya silahkan baca tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Apa yang dijalankan dan ditaati oleh orang-orang beriman (mukmin) yakni menjalankan kewajiban, dan menjauhi batas/larangan dan pengharaman adalah melaksanakan amal ibadah atau ibadah ketaatan atau ibadah yang telah Allah ta’ala tetapkan atau ibadah yang telah Allah ta’ala syaratkan/syariatkan atau ibadah mahdah. Amal ibadah atau Ibadah ketaatan wajib mengikuti apa yang telah dijelaskan/disampaikan/dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun (dari perkataan atau perbuatan) yang (bisa) mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan (semuanya) telah dijelaskan bagimu (dalam agama Islam ini)” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)

Perkataan atau perbuatan yang "mendekatkan kamu dari surga" adalah perihal kewajiban, "menjauhkanmu dari neraka" adalah perihal larangan dan pengharaman.

Jadi seluruh kewajiban, larangan, pengharaman sudah ditetapkan dan dijelaskan sejelas-jelasnya, Allah ta’ala tidak lupa!, selebihnya Allah ta’ala diamkan atau bolehkan sebagai tanda kasihNya kepada hambaNya.

Amal atau perbuatan yang telah Allah ta’ala diamkan artinya jika amal atau perbuatan tersebut tidak dilakukan oleh hambaNya akan didiamkan oleh Allah ta’ala atau tidak akan berdosa.   Amal atau perbuatan itu adalah yang termasuk hukum/perkara boleh. Boleh-dianjurkan (sunnah/mandub), boleh-boleh (mubah) dan boleh-tidak disukai  (makruh).

Orang-orang yang melakukan amal sholeh atau amal kebaikan dan mendapatkan balasan yang baik (pahala) adalah mereka yang melaksanakan perbuatan yang hukum/perkara boleh-dianjurkan (sunnah/mandub) dan menghindari perbuatan yang hukum/perkara boleh-boleh (mubah) dan boleh-tidak disukai (makruh).  Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/09/peta-perbuatan-ibadah/

Contoh-contoh  amal sholeh / amal kebaikan

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran [3]:133-134 )

Abi Dzar r.a. berkata: Sekelompok sahabat berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.”Nabi Saw. Bersabda,”Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? (Yakni) bahwa setiap kali tasbih (bacaan subhnallah) adalah sedekah, setiap kali tahmid (bacaan alhamdulillah) adalah sedekah,setiap kali tahlil (bacaan la ilaha ilallah) adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan jimaknya salah seorang diantara kalian juga adalah sedekah.”Mereka bertanya,”Wahai Rasulullah,apakah jika salah seorang dari kami memenuhi hajat syahwatnya berpahala? “Rasulullah Saw. Menjawab, “Menurutmu ,bukanlah jika ia menyalurkan syahwatnya pada yang haram berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkannya pada yang halal, ia mendapatkan pahala.” (Diriwayatkan pada yang halal,ia mendapatkan pahala.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “Setiap ruas tulang manusia harus disedekahi setiap hari selama matahari masih terbit. Engkau mendamaikan dua orang (yang berselisih) adalah sedekah,menolong seseorang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkatkan barangnya ke atas kendaraan adalah sedekah,kata-kata yang baik adalah sedekah,setiap langkah kaki yang kau ayunkan untuk shalat adalah sedekah,dan engkau menyingkirkan aral dari jalan adalah juga sedekah. “(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim)

Nawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain meli-hatnya. “(Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Wabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah Saw., beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang mem-benarkanmu.” Ini adalah hadits yang kami riwayatkan dari dua imam, yaitu Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan

Dalam riwayat Ibnu Hibban, disebutkan: “Senyummu dihadapan saudaramu adalah shadaqah. Menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan manusia adalah shadaqah. Petunjukmu kepada seseorang yang tersesat di jalan juga shadaqah.”.  Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (al-Ihsan:474, 529)

Kesimpulannya bahwa amal sholeh atau amal kebaikan atau ibadah ghairu mahdah adalah perbuatan yang dilakukan atas kesadaran atau kemauan sendiri yang merupakan bagian dari akhlakul karimah.

Akhlakul karimah adalah kesadaran atau perbuatan/perilaku secara sadar dan mengingat Allah ta’ala

Selengkapnya tentang ibadah ketaatan (ibadah mahdah) dan ibadah kebaikan (ibadah ghairu mahdah) silahkan baca tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/08/ibadah-ketaatan-dan-kebaikan/

Ibadah ghairu mahdah adalah ibadah yang beberapa dicontohkan oleh Rasulullah saw dan dianjurkan untuk mengikuti , namun sebagian lagi diserahkan kepada manusia sesuai keinginan, kebutuhan, teknologi atau zaman asalkan tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan hadits, seperti bersedekah, berdoa, berdzikir, bersholawat, bekerja, makan, minum, jima’, menggunakan safety belt, menggunakan helm, menggunakan rem kendaraan dll

Jadi pada hakikatnya muslim yang melakukan amal sholeh/amal kebaikan dalam rangka berupaya menjadi muslim yang baik atau muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan (muhsinin)

Sebagian muslim menisbatkan dirinya pada Salafush Sholeh dari sisi ketaatan atau ibadah ketaatan (ibadah mahdah)

Sedangkan kami, muslim yang mengamalkan tasawuf dalam Islam memahami Salafush Sholeh dari sisi kesholehan atau ibadah kebaikan (ibadah ghairu mahdah) atau amal sholehnya.

Mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri. Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah. Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin/muhsinin).  Ihsan (kata arab) yang maknanya baik, terbaik.

Kami berupaya mengikuti/mencontoh para Salafush sholeh.  Kami mendalami tasawuf dalam Islam adalah mendalami tentang akhlakul karimah, mendalami upaya agar dapat “seolah-olah melihatNya”, mendalami tentang ihsan yang bagian dari pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril

Tentang Islam (rukun Islam/fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin) , Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf)

Kami mendalami tasawuf dalam Islam dalam upaya kami agar dapat seolah-olah melihat Allah ta'ala, berdasarkan sunnah Rasullah.

Rasulullah saw berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.”

Muslim pada umumnya adalah berupaya menjadi orang beriman (mukmin). Kemudian setelah menjadi mukmin dan setelah mempunyai kesadaran maka mereka berupaya menjadi mukmin yang sholeh (muhsin/muhsinin) dengan melakukan amal kebaikan atau amal sholeh.

( QS Lukman [31]:3-5 )

[31:3] menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin)

[31:4] (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

[31:5] Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

[10:9] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam syurga yang penuh keni’matan.

[19:76] Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya

Orang-orang shaleh

[29:9] Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh

[3:114] Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.

[7:196] Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

[4:69] Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

[26:83] (Ibrahim berdo’a): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh

Beriman dan mengerjakan amal shaleh merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah ta'ala

[34:37] Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh), mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga)

Balasan bagi orang beriman dan beramal saleh

[26:227] kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali

[2:82] Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

[3:57] Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

[4:122] Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?

[11:23] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni syurga; mereka kekal di dalamnya

[19:60] kecuali orang yang bertauanbat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.

[19:96] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang

[22:14] Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

[22:50] Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia

[29:7] Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

[30:15] Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.

[31:8] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh keni’matan,

[42:26] dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras.

[98:7] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

Allah ta’ala memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan/kerjakan

[16:97] Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan

[29:7] Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

Janji Allah ta’ala bagi mereka yang beriman (mukmin) dan mengerjakan amal saleh, masuk surga tanpa hisab

“….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Al Mu’min [40]:40 )

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124 )

Amalan tasawuf dalam Islam adalah upaya untuk mendapatkan keridhoan Allah ta'ala atau mendapatkan kecintaan Allah ta'ala kepada hambaNya, salah satunya dengan mengamalkan sunnah Rasulullah yakni berlaku zuhud.

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Semoga kami dengan mendalami tasawuf termasuk kaum yang dikabarkan oleh Allah ta'ala

…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Kamis, 21 Oktober 2010

Melupakan Tasawuf

Tahukah para pembaca, mengapa mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh?

Karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
Mereka adalah generasi terbaik yang berserah diri (Islam) kepada Allah.
Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin/muhsinin).  Ihsan (kata arab) yang maknanya baik, terbaik.

Kami berupaya mengikuti/mencontoh para Salafush sholeh.  Kami mendalami tasawuf dalam islam adalah mendalami tentang akhlakul karimah, mendalami upaya agar dapat "seolah-olah melihatNya", mendalami tentang ihsan yang bagian dari pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan oleh malaikat Jibril

Tentang Islam (rukun Islam/fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin) , Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf)

Rasulullah saw berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.

Orang-orang kafir atau orang-orang yahudi, mereka tahu bahwa jalan menuju kesempurnaan (ihsan) seorang muslim adalah mendalami tentang ihsan(tasawuf), sehingga mereka berupaya mencitrakan buruk kepada tasawuf dalam Islam dan sebagian ulama termakan propaganda tersebut. Perhatikanlah bagaimana Orang-orang kafir atau orang-orang yahudi berupaya meruntuhkan akhlak kaum muslim dengan budaya mereka, pornografi, seks bebas, homoseksual, miras, narkoba dll.

Hal inilah yang terjadi di zaman yang dikatakan modernisasi agama dimana ulama-ulama melupakan tentang tasawuf dalam islam, sehingga dari ulama-ulama seperti itu lahirlah kaum muslim yang taat beribadah namun tidak berakhlakul karimah.

Untuk itulah kami menganjurkan kepada mereka yang berwenang dan sedang memasukkan aspek  "etika"  kedalam kurikulum pendikan memperhatikan tentang Ihsan atau Tasawuf dalam Islam. Silahkan baca tulisan selengkapnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Jadi kemerosotan akhlak yang kita temui di negeri kita,  bisa jadi karena para ulama telah melupakan tentang tasawuf dalam Islam  atau melupakan tentang ihsan, melupakan tentang akhlakul karimah

Akhlakul karimah adalah kesadaran atau perbuatan/perilaku secara sadar dan mengingat Allah.

Perhatikanlah mereka yang korupsi, mafia peradilan/hukum atau yudikatif yang tidak menegakkan keadilan, para penguasa (eksekutif) yang masih kurang peduli dengan nasib rakyatnya, para legislatif yang sebagian mereka masih belajar tentang etika dan belajar membedakan antara uang rakyat dengan uang pribadi, belajar bagaimana mereka mewakili rakyat dengan keadaan rakyat sesungguhnya dan lain lain,  tentu sebagian mereka taat menjalankan ibadah sholat, puasa, zakat bahkan ibadah haji namun pada hakikatnya mereka tidak berakhlakul karimah. Mereka tidak mengingat Allah ta'ala ketika hendak melakukan perbuatannya.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Kamis, 09 September 2010

Peta Perbuatan / Ibadah

Peta perbuatan/ibadah

Ibadah mahdah (ibadah ketaatan), ibadah wajib, ibadah yang ditetapkan oleh Allah swt yakni
wajib dilakukan (perbuatan/ibadah yang hukumnya wajib)
wajib dihindari (perbuatan/ibadah yang hukumnya haram, berupa yang dilarang dan diharamkan)

Ibadah ghairu mahdah (ibadah/amal kebaikan), ibadah boleh, ibadah yang didiamkan/dibolehkan oleh Allah swt yakni
sebaiknya dilakukan (perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh-dianjurkan / sunnah / mandub)
sebaiknya dihindari (perbuatan/ibadah yang hukumnya boleh-boleh / mubah dan boleh-tidak disukai / makruh)

Dasar/Hujjah/Dalil peta perbuatan/ibadah

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah [2]:277 )

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqarah [2]:110 )

Tahapan perbuatan/ibadah adalah

1. Menjadi Muslim, mengucapkan syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.
2. Menjadi Mukmin, menjalankan perbuatan/ibadah yang wajib dijalankan dan wajib dihindari serta meyakini seluruh rukun iman (QS Lukman [31]:4)
3. Menjadi Muhsin (muhsinin), menjalankan perbuatan/ibadah yang boleh-dianjurkan (sunnah/mandub) dan berupaya menjauhi perbuatan boleh-boleh (mubah) , boleh-tidak disukai (makruh) (QS Lukman [31]:3)

Perkara baru / bid’ah



Sudah dijelaskan oleh Rasulullah saw bahwa perbuatan/ibadah yang baru (bid’ah) dan tertolak adalah "bid’ah dalam urusan kami".

Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak” (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)

Jelaslah yang tertolak adalah bid’ah dalam urusan kami. Urusan kami adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah swt baik berupa kewajiban, larangan dan pengharaman.

Kewajiban adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya wajib.
Larangan dan pengharaman adalah perbuatan/ibadah yang hukumnya haram

Jadi dapat kita pahami bahwa bid’ah yang tertolak (dholalah) adalah bid’ah pada perbuatan/ibadah yang wajib dilakukan dan yang wajib dihindari (ibadah wajib/ibadah mahdah)

Sedangkan bid’ah / perkara baru dalam hal perbuatan/ibadah yang Allah swt telah diamkan/bolehkan (ibadah ghairu mahdah)  tentu dibolehkan. Segala sesuatu yang Allah swt telah diamkan/bolehkan tentu juga perkara baru/bid’ah, inovasi, kreatifitas dibolehkan asalkan tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

Maknanya: “Barangsiapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun”. (H.R. Muslim dalam Shahih-nya)

Imam as Syafii ra berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)

Rasulullah saw mengatakan “perkara yang baik” dan  Imam as Syafi’i mengatakan “apa yang baru terjadi dari kebaikan” maknanya adalah perkara baru dalam  amal kebaikan / ibadah ghairu mahdah.

Mustahil Rasulullah saw menyatakan tertolak untuk perkara baru yang baik dalam perbuatan/ibadah yang telah Allah swt diamkan/bolehkan.  Kita yakin bahwa Allah swt tidak lupa.

Hakikatnya seluruh perbuatan/ibadah selain ibadah mahdah (ibadah wajib) yang tidak melanggar larangan dalam Al-Qur’an dan Hadits merupakan perkara / perbuatan yang baik.  Baik perkara/perbuatan itu timbulnya dahulu, kini, esok sampai akhir zaman. Inilah yang dinamakan menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai petunjuk hidup.

Masuk Surga tanpa hisab



Jika kita melaksanakan dan mentaati ibadah wajib  / ibadah mahdah (memenuhi syarat sebagai orang beriman)  dan  mengerjakan amal kebaikan / ibadah ghairu mahdah maka sesuai janji Allah swt, kita akan dimasukkan kedalam surga tanpa di hisab atau tanpa dianiaya walau sedikitpun,

Janji Allah swt dalam firmanNya yang artinya.

….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Al Mu’min [40]:40 )

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124



Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Senin, 02 Agustus 2010

Rahasia Kehidupan (Suluk)

Bahwa sesungguhnya seseorang masuk surga bukan karena amalnya, bukan karena banyak ilmu atau pemahaman yang telah diketahui, bukan karena kepandaiannya dalam bahasa Arab atau kepandaian memahami, menterjemahkan atau mentafsirkan, bukan karena pengetahuan atau hafalan al Qur'an dan haditsnya semata. Intinya bukan karena Amal dan Ilmu semata ! atau ibaratnya semua bukan karena "aku" (maksudnya diri kita).

Semua semata-mata karena pertolongan Allah, karunia Allah, rahmat Allah, hidayah dari Allah,  petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Intinya semua karena Dia (oleh karenanya orang-orang yang mendalami tasawuf, memanggilNya atau mengingatNya dengan Huwa artinya Dia).

"...Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga:"..Dan mereka berkata:"segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.."(QS Al-A'raaf:43)

."..Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS an Nuur : 21)

Untuk itulah kita berjanji sesuai firmanNya yang artinya,
"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" (QS al Fatihah : 5).

Pada saat kita mengucapkan "hanya Engkaulah yang kami sembah", pada saat itulah kita berupaya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kepada Wali Allah, Mursyid, Syaikh, Ulama, muslim yang sholeh atau mereka yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Berupaya untuk menjadi muslim yang menjalankan Ihsan (akhlak/tasawuf), muslim yang ihsan atau muhsinin yakni muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah atau minimal muslim yang yakin bahwa Allah melihat kita,  muslim yang sholeh, muslim terbaik.  Sebagaimana doa  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan doa yang selalu kita ucapkan “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin” yang artinya  “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”

Pada saat kita mengucapkan "hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan"
, pada saat itulah kita sadar bahwa upaya kita untuk taat atau untuk menjadi muslim yang sholeh  adalah semata-mata pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala,  pada saat itu pula kita menghilangkan / memfanakan "aku" (maksudnya diri kita), sehingga yang Ada hanyalah Dia.

Fana, itu secara sederhana bisa dimaknai menghilangkan pengakuan "Aku" atau ego. Sehingga tidak setitikpun rasa sombong, riya, ujub yang  timbul dari hati kita. Sehingga kita dapat mencapai puncak keikhlasan, menjadi tawadhu dan tersungkur sujud di hadapanNya.

Kita ketahui
"Keagungan adalah sarungKU dan kesombongan adalah pakaianKU. Barangsiapa merebutnya (dari AKU) maka AKU menyiksanya. (HR. Muslim)
Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia
” (HR. Muslim)

Sebagaimana yang saya sudah tuliskan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/10/kesombongan/

Fana itu dapat dimaknai mengendalikan "hawa nafsu" atau akhlak yang sadar dan mengingat Allah atau diibaratkan sebagai "mati".  "Mati" dalam keadaan syahid (bersaksi),  seolah-olah melihatNya.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya
”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)

Pakaian yang baru = Pakaian Ruhani = Akhlakul karimah = keadaan sadar (kesadaran) atau perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah.

Sebagaimana yang disampaikan ulama sufi, imam Al Qusyairi bahwa “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Wassalam

.
Wassalammualaikum Wr Wb.

.

Zon di Jonggol

Sabtu, 24 Juli 2010

Generasi Terbaik

Kesalahpahaman tentang Generasi Terbaik


Sebagian muslim menyerukan supaya kita ramai-ramai mengikuti generasi Salaf. Ketika mereka mengetahui bahwa saya seorang muslim yang sependapat, mendalami dan menyiarkan  Tasawuf dalam Islam, mereka mengatakan seperti ini,

Sezuhud-zuhudnya, sewara'-wara'nya, se tawadhu'-tawadhu'nya generasi Khalaf....Tidak akan pernah mampu menandingi generasi salaf

Pernyataan ini mereka merujuk pada hadits berikut,

Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya". HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.

Bagaimana mungkin matan hadits tersebut "sebaik-baiknya manusia adalah (yang hidup) di zamanku" berlaku untuk seluruh manusia generasi salaf di zaman Rasulullah SAW.

Matan hadits itu bertentangan dengan Al-Qur’an yang lebih banyak menyematkan atribut dan sifat-sifat negatif terhadap kebanyakan kaum muslimin yang sezaman dengan Nabiullah Muhammad saw?. Al-Qur’an menginformasikan kepada kita kebanyakan dari mereka yang sezaman dengan Nabi sebagai orang-orang munafik, yang keterlaluan dalam kemunafikannya (Qs. At-Taubah: 101), masih berpenyakit dalam hatinya, tidak memiliki keteguhan iman, dan berprsangka jahiliyah terhadap Allah swt (Qs. Ali-Imran: 154), sangat enggan berjihad (Qs. An-Nisa': 71-72 dan At-Taubah ayat 38), melakukan kekacauan dalam barisan (Qs. At-Taubah: 47), lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan musuh (Qs. Ali-Imran: 153 dan At-Taubah : 25), bahkan kebanyakan mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (Qs. Al-Jumu’ah: 11).

Kalau pula dikatakan bahwa ketiga generasi itu yang dikatakan terbaik, orang-orang muslim semuanya akan berpegang teguh pada satu akidah yang benar sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saw.

Namun realitanya beragam sekte, firqah dan mazhab dalam masyarakat Islam timbul pada generasi itu.
Khawarij muncul dipenghujung tahun ke-30 H, mereka memiliki akidah yang batil mengenai keimanan, mereka membunuhi kaum muslimin yang berselisih paham dengan keyakinan mereka, dengan mudah mereka menyematkan kekafiran kepada banyak kaum muslimin, sehingga hamparan bumi bersimbah darah karenanya. Belum berakhir satu abad pertama, kembali muncul Murjiah, mereka mengajak umat Islam untuk berlepas dari tatanan dan komitmen syariat dengan slogan yang terkesan humanis dan elegan, “Selama seseorang masih beriman, maksiat apapun yang dilakukan tidak tercatat sebagai dosa”. Iman bagi paham ini cukup dengan ucapan, sehingga berbagai kewajiban agama, moralitas dan berbagai kode etik diremehkan dan ditinggalkan. Tidak lama berselang setelah itu, muncul kembali Mu’tazilah pada tahun 105 H dengan jarak yang singkat sebelum wafatnya Hasan al Bashri. Kehadiran paham baru ini semakin membuat jurang perselisihan dan perpecahan kaum muslimin semakin menganga dan melebar dan bahkan terkadang perselisihan yang ada mesti diselesaikan dengan pertumpahan darah.

Bagaimana mungkin sebuah hadits bertentangan dengan realita yang terjadi ?

Pengertian sebenarnya dari Salafush Sholeh adalah mereka-mereka generasi salaf yang sholeh, sholeh = berakhlak baik. Yang menjalankan ketiga pokok ajaran Islam , termasuk Ihsan yang artinya berakhlak baik atau pun muslim yang terbaik atau muhsinin. (Ihsan dalam bahasa arab artinya terbaik, sempurna).

Siapa mereka ?, tentu adalah para Sahabat, para Tabi'in dan para Tabi'ut Tabi'in, disini jelas yang dimaksud adalah orangnya bukan generasinya.

Lalu, apakah tidak mungkin muslim yang hidup setelah generasi Salaf menjadi muslim yang terbaik, berakhlak baik, atau muhsinin ?

Firman Allah SWT, "Sungguh sebaik-baiknya diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (Qs. Al-Hujurat: 13).

Allah SWT berfirman, "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran." (Qs. Al-'Asr: 1-3). Ayat ini menegaskan manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Allah SWT tidak mempersyaratkan generasi, masa dan zaman di mana seorang hambanya hidup dan bermukim.

Seorang manusia tidak pernah memilih dan tidak punya ikhtiar mengenai kapan dan dimana ia dilahirkan, sebab telah menjadi hak mutlak Allah swt untuk menetapkannya. Karenanya berdasarkan falsafah keadilan Ilahi adalah keniscayaan tidak menjadikan semata-mata masa dan tempat lahir sebagai persyaratan seseorang disebut memiliki kebaikan dan kemuliaan, melainkan berdasarkan kekuatan iman, kedalaman ilmu dan keikhlasan amal.

Coba kita perhatikan hadits diriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah saww dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah saww adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau saww menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata hadis ini shahih.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih. Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak

Begitu juga ada sebagian muslim yang menyerukan bahwa kita sebaiknya tidak mengikuti Imam Madzhab yang empat yakni, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali, karena mereka tidak maksum (terjaga dari kesalahan).  Padahal kita tahu bahwa yang maksum adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Imam Madzhab yang empat mengikuti Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam, para Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in. Mereka menggali hukum (fikih) berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits.

Begitu pula dengan metode pemahaman mereka secara dzahir, harfiah atau tekstual mereka beralasan kenapa kita tidak perlu mengikut imam madzhab yang empat, karena imam madzhab pernah menyatakan bahwa jika kita menemukan pendapat mereka yang keliru maka kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Mereka memahami pernyataan imam-imam madzhab itu dengan apa-adanya atau tekstual atau secara tersurat.

Padahal maksud Imam-Imam madzhab itu adalah agar kita mengikuti mereka tetap  merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Yang tersirat dari pernyataan Imam-imam Madzhab itu adalah  sikap tawadhu mereka. Ini adalah suatu tauladan akhlak yang terpuji.

Marilah kita mendalami dan menjalankan pokok-pokok ajaran dalam Islam secara menyeluruh (kaffah), sebaiknya tidak menolak/meningkari satu pokokpun. Pokok-pokok ajaran dalam Islam yakni, , Islam (rukun Islam, fiqih), Iman (rukun Iman, Ushuluddin), Ihsan (akhlak,  Tasawuf). Kita mendalami dan menjalankan keseluruhan pokok-pokok ajaran dalam Islam  agar menjadi muslim yang sholeh, muslim terbaik, muslim yang ihsan atau muhsinin  yakni muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah.

Seolah-olah melihat Allah timbul dari akhlakul karimah = keadaan sadar (kesadaran) atau perbuatan/perilaku secara sadar dan Mengingat Allah.

Setiap perilaku kita / akhlak kita harus dengan mengingat Allah, seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Alllah

Bagaimana caranya?

Caranya adalah menjadikan Qur’an itu sebagai hidayah,

Artinya setiap perilaku kita / akhlak kita selalu sesuai dengan tuntunan Al Qur’an, dan seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Al Qur’an.

Contoh:

Kita mendirikan Sholat , sholat sudah mengikuti Al-Qur’an dan Hadits (Fikih), sholat dilakukan diniatkan karena Allah (Ushuluddin) , namun memandang (melihat) selainNya (Tasawuf), misalkan timbul di hati memandang (melihat) manusia agar dianggap sebagai muslim yang sholeh. Sehingga sholatnya lalai. Maka celakalah !

Jadi yang benar adalah,  sholat mengikuti Al-Qur'an dan Hadits (fikih), sholat diniatkan karena Allah (Ushuluddin) dan dilakukan secara sadar dan mengingat Allah (tasawuf) ===> amal ibadah sholat kita akan sampai (wushul) ke hadhirat Allah. Inilah yang disebut sholat adalah mi'raj nya kaum muslimin (Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin ).

Wassalam

Zon di Jonggol