Tampilkan postingan dengan label metode. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metode. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Mei 2010

I’tiqad Salafi

I'tiqad aliran salafi (madzhab Taimiyah)

Berikut tulisan-tulisan mengenai perbedaan pada bagian yang mendasar/pokok yakni i'tiqad antara metode pemahaman salafi (madzhab Taimiyah) dengan metode pemahaman Ahlussunnah wal Jama'ah

Subhanallah….! Allah Mahasuci dari Kebutuhan Tempat dan Arah
Memaknai di atas langit dengan mata hati
Pembagian Tauhid Menjadi Tiga
Tuhan Turun Ke Langit Dunia Setiap malam
Taqlid dan Ittiba’

Sedangkan berikut ini tulisan yang  diambil dari buku karya saudara kita, Muhammad Idrus Ramli, semoga beliau dirahmati Allah, dengan judul:  “Madzhab Al-Asy’ari”, Jawaban Terhadap Aliran Salafi, Penerbit KHALISTA Surabaya, 2009.

Buku ini sangat dianjurkan untuk dimiliki umat Muslim sebagai bahan kajian lebih lanjut agar dapat diketahui dan dipahami letak perbedaan Aliran Salafi sesungguhnya.

Untuk melihat cuplikan/bagian dari buku tersebut silahkan klik di sini


Madzhab Al-Asy'ari

Muhammad Idrus Ramli - Madzhab Al-Asy'ari

Dapat pula di download ebook terkait yang menjelaskan perbedaan Madzhab Taimiyah (aliran Salafi) dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah

Inilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah oleh A. Shihabuddin
(Kumpulan Dialog Membela Faham Aswaja Dari Faham Salafy Wahabi)

Penerbit menganjurkan bagi setiap muslim untuk mencetak ulang dan menyebarkan serta mengajarkan materi buku tsb  ke seluruh pelosok dunia, dan semoga baginya pahala dari Allah ‘azza wa jalla.

Untuk download silahkan melalui link dibawah ini.

Alternatif 1
4shared.com

Alternatif 2
docstoc.com

Alternatif 3 (download langsung)
docstoc.com (direct download)

Dalam blog ini ada beberapa tulisan-tulisan saya pribadi dan tulisan-tulisan yang saya sebutkan sumbernya,  dalam rangka untuk mengingatkan saudara-saudaraku Salafy (khusus untuk pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah dan sepemahaman).

Salah satu kelemahan mereka, saya telah tuangkan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/13/kelemahan-salafiyyah/
salah satu kelemahan mereka adalah menolak pengajaran bidang Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat).

Andaikan saja saudara-saudaraku salafy mau meluangkan waktu dan membaca kitab/buku, sebagai contoh “Ar Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf, Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi atau versi terjemahan “Risalah Qusyairiyah”, sumber kajian ilmu tasawuf, penterjemah Umar Faruq, penerbit Pustaka Amani, Jakarta. InsyaAllah dengan buku/kitab tersebut, saudara-saudara ku Salafy dan pembaca pada umumnya dapat memahami tentang dasar-dasar Ma’rifatullah sehingga dapat memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Allah “di atas langit”.

Syaikh Al-Qusyairy adalah seorang imam dalam majelis tadzkir. Pembicaraannya amat berpengaruh hingga meresap kedalam sanubari para jama’ahnya. Abu Hasan Ali bin Hasan Al-Bakhirizi yang hidup di tahun 462 H/ 1070M, sering menyebut-nyebut kehebatannya, bahkan memujinya dengan sanjungan yang amat istimewa. Beliau mengatakan, “seandainya sebuah batu cadas diketuk dengan “tongkat peringatan”-nya niscaya akan meleleh menangis, dan seumpama iblis tetap aktif mengikuti majelis tadzkirnya, niscaya dia akan tobat.  Subhanallah.

Kesimpulan:

Kita harus bisa membedakan antara Salaf dan Salafi.

Memang kita sebaiknya  mengikuti Rasulullah , Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ Tabi’in.

Namun berhati hati kalau mengikuti orang yang berupaya mengikuti Rasulullah, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’Tabi’in.

Salafi adalah mengikuti orang yang berupaya mengikuti Salaf.

Semoga saudara-saudaraku Salafi dapat memahami perbedaannya.

Semua ini karena Syaikh Ibnu Taimiyah menggunakan nama madzhab "generik" sehingga membingungkan orang.

Beliau "membungkus" metode pemahamannya (hasil ijtihadnya) dengan nama madzhab "salaf",  seharusnya  semua yang merupakan upaya/hasil ijtihad beliau, lebih baik diberi nama madzhab Taimiyah. Sehingga umat muslim dapat menilai batas dan bagaimana ijtihad beliau sesungguhnya.

Sekali lagi kami menghimbau untuk berhati-hati mengikuti "orang yang berupaya" mengikuti salaf, apalagi kalau perbedaan pemahaman ada dibidang i'tiqad.

Wassalam

Jonggol,  Mei 2010

.

.

Metode pemahaman Salaf(i) Wahabi dalam I'tiqad atau Akidah.

Kita perhatikan terlebih dahulu pemahaman mereka dalam i'tiqad atau akidah.

Sumber: Studi Kritis Tentang Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan Sikap Pergerakan Islam Modern Terhadapnya, Prof. DR. Nashir bin Abdul Kariem al-’Aql

Allah Subhaanahu Wata'ala menyatakan diri-Nya dan begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwasanya Allah itu Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Berbicara, Maha Hidup, Maha Berkehendak dan bahwasanya Allah bersemayam (istawa) di atas ‘arasy, di atas hamba-hamba-Nya, dan Allah Subhaanahu Wata'ala itu meridhai, murka, mencintai dan membenci, datang dan turun; tertawa dan kagum sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya (dengan pasti menafikan tasybih) sebagaimana diungkapkan dan dinyatakan oleh Allah tentang diri-Nya dan sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Dia, (bahwasanya Allah itu mempunyai) wajah, tangan (yadd), mata dan lain-lainnya yang dijelaskan oleh al-Qur’an dan hadits-hadits shahih.

Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini sifat-sifat Allah sebagaimana Allah ungkapkan mengenai Diri-Nya dan sebagaimana pula diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa tasybih, takyif, tamtsil, ta’thil dan tidak juga ta’wil.

Beriman kepada Allah Subhaanahu Wata'ala mengesakan rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya dan nama dan sifat-sifat-Nya.

Sumber: AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS, Abu Isma'il Ash-Shabuni

Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas 'Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Mereka mengatakan:"Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal"(QS Ali-'Imran:7).
Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.

Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Inilah yang saya katakan sebagai metode pemahaman secara lahiriah, tekstual atau dzahirnya.

Allah telah berfirman yang artinya,

“Kami, kata Allah, menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu fikirkan dan teliti (memahaminya) .” (Surat Yusuf : 2)

“Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran : 7 ).

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

"Orang-orang berakal" (Ulil Albab).

Jika dipahami dengan metode pemahaman lahiriah, tekstual atau dzahir maka orang-orang berakal adalah mempunyai akal atau menggunakan akal.

Allah telah menerangkan bahwa maksud dari orang-orang berakal, salah satunya adalah sebagaimana firmanNya yang artinya,
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 191).

Oleh karenanya, untuk memahami ayat mutasyabihat, sebaiknya kita tidak bertumpu kepada kemampuan, ilmu kita, pendidikan, penguasaan bahasa Arab, banyaknya kitab yang telah dibaca namun kita harus bertumpu kepada Allah, kita harus "mengingat Allah" agar dapat "menemui" Allah karena Allah-lah yang akan mengajari kita sebagaimana firman Allah yang artinya,
"…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282).

Kita harus meninggalkan maksud literal (makna dzahir) ayat-ayat mutasyabihat tersebut, dan mengembalikan pemahamannya dan berpegang teguh kepada ayat yang muhkamat seperti ayat, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”. (QS.al-Syura : 11)

Allah telah memerintahkan kepada kita agar pikirkan, teliti (memahaminya), dan mengambil pelajaran dengan mengharapkan anugerah dari Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat terhadap lafadznya namun kami mengambil pelajaran dengan mengharapkan pertolongan, anugerah dari Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

Syaikh Ibnu Athoillah memberikan nasehat,
"Allah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”

Kita dapat mengenal Allah (ma'rifatullah) bukan karena kemampuan atau upaya kita namun semuanya atas kehendak Allah.

Untuk itulah saya mengajak saudara-saudara muslimku untuk mendalami Tasawuf dalam Islam.
Sebagian ulama-ulama setelah zaman Salafush Sholeh ada yang menampik Tasawuf dalam Islam.

Janganlah terpengaruh oleh fitnah yang dilontarkan oleh musuh-musuh orang beriman atau prasangka buruk terhadap kami yang mendalami Tasawuf atau berdasarkan hasil pengamatan terhadap mereka yang keliru mendalami Tasawuf dalam Islam.

Sebaiknya tidak mengkhawatirkan kami karena kami berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Hadits.

Kami berupaya mengikuti sunnah Rasulullah SAW, antara lain anjuran Beliau agar kita bersikap Zuhud di dunia

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Harapan kita adalah Allah akan mencintai kita dan begitu pula dicintai oleh manusia lainnya.

Ketika Allah mencintai kita, maka seperti apa yang disampaikan dalam sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman: “Apabila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya (kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku”

Wassalam

Zon di Jonggol

Kamis, 29 April 2010

Tinggalkanlah Salafy

Tinggalkanlah metode pemahaman Salaf(i) (madzhab Taimiyah).

Saya menyarankan kepada saudara-saudara muslim  Salaf(i), sebaiknya untuk meninggalkan metode pemahaman Salaf(i)  (Salaf ala Syaikh Ibnu Taimiyah).

Lihatlah bagaimana tanggapan saudara-saudara muslim pada umumnya terhadap pengikut Syaikh Ibnu Taimiyah / Salaf(i) ?

Beberapa gambarab  situasi dapat dibaca di sini,

http://www.evans86.cybermq.com/post/detail/8545/gelombang-penolakan-salafy-ekstrim

atau situasi di sini http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/01/24/salafi-vs-sabili-sebuah-bantahan-terhadap-majalah-sabili/

atau situasi di sini http://salafibeneran.blogspot.com/2009/03/agar-para-pengaku-salafi-mau-berpikir.html

atau situasi di sini http://orgawam.wordpress.com/2007/07/31/kajian-ilmiah-tentang-harokah-salafy/

atau situasi di sini http://insyaflahsalafy.files.wordpress.com/2007/11/memahamikaraktersalafi.pdf

atau situasi di sini http://insyaflahsalafy.files.wordpress.com/2007/11/gerakan_salafi_modern_di_indonesia.pdf

atau situasi di sini http://jihaddandakwah.blogspot.com/2009/03/beda-salafus-shalih-dengan-khawarij.html

atau situasi di sini http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2008/11/05/fahami%E2%80%A6-tentang-apa-siapa-sururiyyah/

atau situasi di sini http://salafyindependent.wordpress.com/2009/12/15/pedang-menghunus-tepat-di-jantung-abu-bakar-basyir/

atau situasi adanya perbedaan tanggapan muslim menghadapi maulid Nabi.

Bahkan ada contoh sebuah ungkapan/"rumus"  kalangan Salaf(i), yakni:

- Mengkritik ulama/syaikh Salaf(i) (pengikut Taimiyah) artinya mencela dan menyerang.
- Mereka membid'ah-bid’ahkan yang lain artinya nasihat

Madzhab Taimiyah atau metode pemahaman Salaf(i) adalah metode pemahaman yang disusun dan diolah oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dalam upaya beliau mengikuti Sunnah dan Salafush Sholeh.  Metode ini dikenal pula sebagai metode pemahaman secara harfiah atau tekstual terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

Bagi saya metode pemahaman secara harfiah atau tekstual adalah menunjukkan suatu keterbatasan atau membatasi diri. Allah telah berfirman yang artinya,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (Al Baqarah : 269)

Syaikh Ibnu Taimiyah terlampau berlebihan memaknai ketundukan akal terhadap nash-nash Al-Qur'an  dan nash-nash Sunnah.

Dalam hal ini ketundukan akal sesungguhnya adalah tidak boleh menambah nash-nash Al-Quran dan nash-nash Sunnah  karena Islam telah sempurna, namun mempergunakan akal untuk mengambil pelajaran dari nash-nash Al-qur’an dan Sunnah adalah sebuah kewajiban muslim yang merupakan anugerah karunia dari Allah, dimana setiap muslim bisa berbeda-beda kadar mendapatkannya.

Sebagai contoh, pengikut Syaikh Ibnu Taimiyah /  Salaf(i)  belum dapat memahami (mengambil pelajaran) dari pernyataan muslim yang belajar  tentang Tasawuf bahwa "Aku beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka"

Bagi Salaf(i) yang pemahaman mereka terbatas (atau membatasi diri) secara harfiah atau tekstual, pernyataan murid Tasawuf ini adalah sebagai bentuk mengenyampingkan aspek al-khauf (rasa takut) dan ar-raja` (pengharapan).

Pelajaran yang dapat ditarik atau makna dari pernyataan murid Tasawuf itu sesungguhnya adalah “Bagi mereka yang sudah mencapai keadaan/tingkatan tertentu, mereka beribadah secara ikhlas kepada Allah bukan karena Surga atau Neraka karena mereka paham bahwa sesungguhnya perintah dan larangan dari Allah adalah wujud dari ke Maha Pemurah dan Maha Penyayang Allah. Sungguh perintah dan larangan Allah adalah demi kebaikan manusia itu sendiri

Kaum Salaf(i) sesungguhnya membatasi diri mereka pada keadaan / tingkatan keimanan berdasarkan aspek al-kauf (rasa takut) dan ar-raja’ (pengharapan) semata.

Kalau kita ambil pelajaran dari kehidupan seorang anak. Seorang anak dilarang oleh orang tuanya untuk menaiki dan berjalan di sebuah tembok yang tinggi. Anak pada umumnya akan mengikuti larangan orangtuanya karena mengerti perintah larangan orang tua itu secara harfiah dan aspek rasa takut pada orangtuanya maupun mengetahui akibat jika larangan itu dilanggar.

Namun bagi anak yang telah “mengenal” orangtuanya, dia akan mengikuti larangan orang tuanya, karena dia paham bahwa orang tuanya melarangnya merupakan wujud rasa sayang orang tua kepadanya. Jadi anak itu ikhlas mengikuti larangan orangtuanya tanpa peduli dengan akibat jika larangan itu dilanggar.

Anak yang “mengenal” orangtua itu adalah ibarat murid Tasawuf  “mengenal” Allah atau pada kalangan ahli Tasawuf dikenal dengan istilah ma'rifatullah.

Nasehat Imam Syafi'i, "Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (Syariat) dan juga menjalani tasawuf (hakikat & marifat), dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (syariat) tapi tidak mahu menjalani tasawuf (hakikat & marifat) , maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa.

Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf (hakikat & marifat) tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih (syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik ?"

Namun sangat disayangkan kaum Salaf(i) dilarang oleh pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah untuk belajar Tasawuf (seputar hakikat dan marifat). Pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah terbatas bahwa ilmu Tasawuf adalah bid’ah dholalah (terlarang sesat).

Syaikh Ibnu Taimiyah sudah “mengumpulkan” hadits-hadits yang berhubungan dengan bid’ah namun kenyataannya beliau belum dapat mengambil pelajaran (al-hikmah) dari sekumpulan nash-nash hadist tersebut. Sehingga beliau berpendapat sekalian bid’ah adalah sesat.

Padahal umat muslim pada umumnya sebagaimana Imam Syafi’i, berpemahaman bahwa bid’ah itu terbagi secara umum dalam dua sifat yakni bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah.

Kita maklum keterbatasan pemahaman Salafy sesuai firman Allah pada Al-Baqarah ayat 269, bahwa anugerah  al hikmah (pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits) diberikan kepada siapa yang dikehendaki Allah dan dalam derajat/kedalaman pemahaman yang berbeda-beda.

Nah, kenapa kita harus membatasi diri atau mengikuti keterbatasan pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah ?

Sebaiknya ikutilah metode pemahaman Imam Mujtahid yang lain yang dapat membebaskan kita untuk menerima anugerah al-hikmah dari Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wassalam

Zon di Jonggol

PDF Files:

Gerakan salafi modern di indonesia

Memahami karakter salafi

Kajian ilmiah tentang harokah salafy

Senin, 12 April 2010

Pilih Jama'ah

Kita pahami bahwa Allah menghendaki agar kita kaum muslim tidak bercerai-berai sebagaimana firmanNya yang artinya,

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai” (Ali-Imraan : 103).

Simaklah dalam majlis diskusi atau forum diskusi Islam, blog/situs muslim, begitu banyak yang fanatik golongan/kelompok (tahazzub) sehingga perlu "marah", mengeluarkan kata sindiran atau mungkin kata makian dalam tulisan-tulisan mereka. Naudzubillah min zalik.

Apakah ketika mereka menulis  tidak sedang "merasakan" bersama Allah ?

Apalah artinya kita mengawali segala perbuatan / aktivitas dengan mengucapkan "Bismillaahirrahmaanirrahiim" ?

Yakinlah bahwa ucapan "Bismillaahirrahmaanirrahiim" itu akan mendekatkan diri kita dengan Allah yang Maha Kuasa dan tentu Allah tidak memerlukan bantuan "kemarahan" kita untuk menegakkan kebenaran. Justru kita seharusnya merasa butuh "pertolongan" dan "bimbingan" Allah agar kita dapat menulis dengan baik tanpa diliputi hawa nafsu dan keinginan/kepentingan pribadi kita.

Pada zaman ini, saya sedih melihat saudara-saudara muslim saling ber-tahazzub (fanatik golongan/kelompok)

Keliru klo kita katakan,

  • Saya Islam NU

  • Saya Islam Muhammadiyah

  • Saya Islam Persis

  • Saya Islam Salafy

  • Saya Islam Syiah

  • dll


Yang benar

  • Saya muslim dan berjamaah di NU

  • Saya muslim dan berjamaah di Muhammadiyah

  • Saya muslim dan berjamaah di Persis

  • Saya muslim dan berjamaah di Salafy

  • Saya muslim dan berjamaah di kaum Syiah.

  • dll


Jamaah minal muslimin - Jamaah minal muslimin ini pada hakekatnya bisa digabung atau melebur dan tidak boleh ada pertentangan yang mendasar. Klo ada pertentangan maka sesungguhnya ada kemungkinan kekeliruan pemahaman di dalamnya.

Dimanapun jamaah minal muslimin kita ikuti seharusnya akan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.

Mulai dari muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam,Iman dan Ihsan

Kita sebaiknya mencari jamaah minal muslimin yang dapat mengantarkan kita ketingkat muhsin/ihsan. dan menjadi Muslim yang terbaik.

Sesuai dengan tulisan di

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/28/menjadi-muslim-terbaik/

Seorang yang sampai pada tingkatan seolah-olah melihat Allah atau paling tidak seorang yang yakin bahwa segala perbuatannya dilihat Allah maka tentu akan terdorong melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Inilah sesungguhnya bentuk ketaqwaan kepada Allah yang menentukan tingkat/ukuran kemuliaan seorang muslim dihadapan Allah.

Sesuai firman Allah yang artinya,

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa” (QS. Al-Hujurat: 13)

Oleh karenanya mari "periksa" kembali jamaah minal muslimin yang kita ikuti.

Kita diingatkan Allah dengan firmanNya yang artinya

"Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka". (Al Baqarah 2 : 167)

Jadi apapun jalan / manhaj / madzhab / metode / jamaah yang kita pilih, kita periksa output / manfaat / hasilnya

  • Apakah membuat kita menyembah hanya kepada Allah ?

  • Apakah mendekatkan diri kita kepada Allah ?

  • Apakah hati kita menjadi bersih suci dari segala sifat tercela seperti hasut, dengki, marah dll.

  • Apakah kita menjadi "memusuhi" , "berlepas diri" , boikot/ isolir meng hajr terhadap sesama muslim ?


Inilah cara-cara untuk mengetahui apakah jalan / manhaj / madzhab / metode / jamaah itu apakah "salah" atau pada "jalan yang lurus".

Dan kita diperintah Allah untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 153 :

“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”

Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan

Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya:

“Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

Jadi kita sebaiknya jangan menyandarkan diri kepada Jamaah minal Muslimin semata.
Kita sebaiknya jangan menyandarkan diri pada “pilihan” ayat-ayat Al-Qur’an atau "pilihan" hadits yang dilakukan oleh Jamaah minal muslimin.
Jamaah minal muslimin bermanfaat untuk membantu kita mendapatkan / memahami petunjuk Allah.
Manfaat ber-jamaah dibanding sendiri adalah yang disebut dengan manfaat sinergi.

Wassalam