Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Februari 2011

Peduli Salafy

Saudara-saudara muslim yang hanya mau memperdalam syariat atau tentang Islam (rukun Islam) dan tentan Iman (rukun Iman) saja tanpa tentang Ihsan (akhlak/tasawuf) dan mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh, kita sebut saja sebagai Salafy Wahhabi atau selanjutnya agar lebih singkat, kita sebut saja  Salafy.

Kami khawatir melihat saudara-saudara kami kaum Salafy, berslogan memberantas bid'ah , tahayul, kurafat namun pada hakikatnya mereka tidak dapat memahami tentang bid'ah dan apa-apa yang mereka tidak dipahami dianggap tahayul dan kurafat.

Bagaimana dapat dikatakan Salafy memahami tentang bid'ah jika salah satu ulamanya Syaikh Al Albani menganggap fiqih itu adalah bid'ah dan buatan manusia dan harus dihancurkan serta menetapkan bahwa semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama



***** awal kutipan *****

Menurut Al-Albani, semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama. Setiap orang wajib langsung merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan untuk memahaminya, tidak dibutuhkan ilmu dan metodologi apa pun. Keberadaan mazhab-mazhab itu dianggap oleh Al-Albani sebagai bid’ah yang harus dihancurkan, karena semata-mata buatan manusia. 

Tentu saja pendapat seperti ini adalah pendapat yang keliru besar. Ilmu fiqih dan mazhab pada ulama yang ada itu bukan didirikan untuk menyelewengkan umat Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah. Justru ilmu fiqih itu sangat diperlukan sebagai metodologi yang istimewa dalam memahami Quran dan Sunnah.

Selengkapnya pada : http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/


***** akhir kutipan *****



Bagaimana dapat dikatakan Salafy memahami apa-apa yang dianggap mereka tahayul, khurafat jika mereka berkeyakinan Rasulullah tidak mengetahui yang ghaib. Contoh ulama mereka Syaikh Ibnu Baz mengatakan



*****awal kutipan*****

Siapa saja yang mati di atas keyakinan seperti ini, yakni meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah manusia biasa alias bukan dari Bani Adam atau meyakini bahwa beliau mengetahui hal yang ghaib; maka ini adalah keyakinan kufur yang pelakunya dianggap sebagai orang kafir karena melakukan kekufuran yang besar
Sumber: http://tamanqolbi.wordpress.com/2010/12/09/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa-rasulullah-bukan-manusia-biasa/ atau
http://fatwaulama-online.blogspot.com/2008/03/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa.html

*****akhir kutipan*****



Semua muslim tentu berkeyakinan bahwa Rasulullah berasal dari Bani Adam, manusia seperti kita dalam hal berasal dari unsur tanah

Allah Azza wa Jalla memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya, akan tetapi pada manusia, Allah Azza wa Jalla. ciptakan juga unsur lainnya, yakni ruhNya. yang justru dapat membuat manusia lebih tinggi dari makhluk mana pun, termasuk malaikat karena melalui ruh itu manusia mampu mengatasi unsur biologisnya.

Oleh karena itulah mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud (penghormatan tinggi) kepada Adam atau manusia.

Itulah pula mengapa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam dapat menembus Sidratul-Muntaha (waktu peristiwa Isra Mi’raj), sementara Jibril as akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Tidak lain karena Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani (Insan Kaamil).

Kesalahpahaman Salafy yang menolak mengakui kesempurnaan Rasul Shallallahu alaihi Wasallam dan menolak memujinya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan!

Salafy tidak lain melihat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.

Melihat seorang hanya dari dimensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir, bukan logika orang-orang beriman. Orang-orang kafir menolak mengakuinya sebagai Nabi atau Rasul dengan alasan bahwa para utusan Allah ta'ala itu hanya manusia seperti mereka.

Sebagaimana firman Allah swt.: “Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi orang-orang (kafir) untuk beriman tatkala datang kepada mereka petunjuk kecuali perkataan mereka: ‘Apakah Allah mengutus Rasul dari golongan manusia?’ ”.(QS. Al Isra [17]:94 ).
Tapi "orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." . (QS. Ali Imran: 7 ).

Intinya mereka menolak memahami tentang sisi ruhani (diluar sisi biologis atau materi) atau tentang hakikat atau tentang ghaib. Mereka anggap hal yang ghaib itu adalah tahayul ataupun kurafat

Berdasarkan pemahaman Salafy sebagaimana Syaikh Ibnu Baz,  bahwa Rasulullah tidak mengetahui tentang ghaib atau sisi ruhani atau tentang hakikat.

Memang ada nash-nash dalam Al-Qur'an dan Hadist dikatakan bahwa Rasulullah tidak mengetahui tentang ghaib namun itu merupakan penjelasan masalah ghaib yang mana yang tidak diketahui oleh Rasulullah. Namun Rasulullah mengetahui tentang ghaib, tentang hakikat walaupun sedikit saja sebagaimana yang diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla

Dibukakan rahasia kegaiban kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. sebagaimana firman Allah swt.; “Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27).

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS Al Isra [17]:85 )

Salafy adalah saudara-saudara kami yang seolah-olah terhipniotis atau terindoktrinisasi oleh ulama/syaikh/ustadz mereka bahwa mereka berpemahaman sebagaimana Salafush Sholeh dan merujuk langsung kepada Al-Qur'an dan Hadits sehingga apapun yang disampaikan atau ditetapkan/difatwakan oleh ulama/syaikh/ustadz mereka adalah pasti benar sedangkan disisi lain mereka berseru bahwa imam madzhab adalah tidak ma'sum.

Salafy adalah saudara-saudara kami yang terhipnotis bahwa ulama/syaikh/ustadz mereka adalah mereka yang berkemampuan bahasa arab yang tinggi dan pastilah mereka dapat memahami Al-Qur'an dan Hadits dengan baik dan benar.

Salafy adalah saudara-saudara kami yang diibaratkan "terkukung dalam tempurung" karena diidoktrin jangan bergaul dengan ustadz/syaikh/ulama yang menurut mereka ahlul bid'ah , padahal mereka tidak memahami tentang bid'ah dengan baik

Untuk mengetahui kajian atau temuan seorang ustadz tentang seputar Salafy Wahhabi, silahkan ketahui pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/waspadai-wahhabi/

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Kamis, 27 Januari 2011

Mazhab ataukah Manhaj

Mazhab ataukah Manhaj

Pernah kita mendengar dari saudara muslim kita kaum Salafi Wahabi sebuah ajakan dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits, agar kita melihat kehidupan Sayyidina Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan para Sahabatnya serta Salafush Sholih dibanding mengikuti salah satu mazhab.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita "melihat" kehidupan Sayidina Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan para Shahabatnya serta salafush sholih ?

Bukankah waktunya sudah berlalu (Al-Ghaibul Madhi) yaitu segala sesuatu atau kejadian yang terjadi pada zaman dahulu.

Jawabannya tentu "melihat" melalui pemahaman (ijtihad).

Jadi siapa orang yang kita ikuti, yang telah "melihat" kehidupan Sayidina Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan para Shahabatnya serta salafush sholih ?

Apakah syaikh/ulama kaum Salafi Wahabi telah ”melihat” atau imam-imam madzhab kita tidak ”melihat” kehidupan Sayyidina Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan para Shahabatnya serta Salafush Sholih

Imam-imam madzhab telah ”melihat” melalui pemahaman (ijtihad) mereka terhadap hadits yang ”sampai” kepada mereka.

Sebagai contoh Imam Syafi’i ~rahimullah.
Imam Syafi’i sebagai dimaklumi adalah seorang yang sering pindah-pindah tempat tinggal dari satu negeri ke negeri lain.

Beliau tinggal di Mekkah dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, kemudian pindah ke Madinah dan bergaul juga dengan seluruh Tabi’in, pindah lagi ke Yaman dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, pindah ke Iraq dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, pindah ke Persia, kembali lagi ke Mekkah, dari sini pindah lagi ke Madinah dan akhirnya ke Mesir.

Perlu dimaklumi bahwa perpindahan beliau itu bukanlah untuk berniaga, bukan untuk turis, tetapi untuk mencari ilmu, mencari hadits-hadits, untuk pengetahuan agama.

Jadi tidak heran kalau Imam Syafi’i ~rahimullah, lebih banyak mendapatkan hadits daripada Tabi’in yang lain, melebih dari yang didapat oleh Imam Hanafi dan Imam Maliki ~rahimullah.

Ilmu beliau pun lebih banyak dari kedua Imam sebelumnya karena beliau banyak melihat, banyak mendengar, banyak bergaul dengan bangsa-bangsa lain bukan Arab (dari Persia, Turki dll).

Hadits-hadits dicari beliau kemana-mana. Para Tabi’in yang telah berjauhan tempat tinggalnya dijumpai dan ditemui beliau. Oleh karena itu beliau banyak sekali mendapat Hadits.

Selengkapnya tentang sekilas proses ”sampai” hadits kepada imam mazhab, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/03/madzhab-empat/

Lalu bagaimana syaikh/ulama kaum Salafi Wahabi ”melihat” melalui pemahaman (ijtihad) mereka terhadap hadits yang ”sampai” kepada mereka.

Sebagai contoh Syaikh Ibnu Taimiyah (yang diakui sebagai “guru” oleh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, pendiri Salafi Wahabi).  Zaman kehidupan Syaikh Ibnu Taimiyah jauh terpaut dengan imam-imam mazhab, tentu hadits sampai kepada beliau tidak melalui pergaulan dengan tabi’in atau tabi’ut tabi’in sekalipun.

Hadits “sampai” kepada Syaikh Ibnu Taimiyah pertama kali dari Syihabuddin (bapaknya) seorang ulama muqolid, pengikut Mazhab Hanbali dan selanjutnya melalui guru/ulama yang diikuti oleh Syaikh Ibnu Taimiyah

Lalu bagaimana sampainya dari Syaikh Ibnu Taimiyah kepada Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab yang zaman hidupnya beratus tahun setelah wafatnya Syaikh Ibnu Taimiyah ?  tentulah melalui upaya pemahaman melalui guru/ulama yang diikuti oleh beliau. Inilah yang kami sampaikan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab  "mengangkat" kembali pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah. Dalam penyiaran pemahamannya Syaikh Muhammad bin Abdulwhahab bersekutu dengan penguasa Muhammad bin Sa’ud pendiri dinasti/kerajaan Saudi.

Seorang pengunjung blog kami menyampaikan bahwa ustadz mereka mengajak orang-orang yang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab membawa pemahaman baru, untuk menunjukkan satu saja perkataan Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab yang tidak didahului oleh ulama’-ulama’ sebelum beliau.”

Ada kesalahpahaman selama ini yang tidak disadari bahwa seolah-olah Syaikh/Imam kaum Salafi/Wahabi tidak membawa pemahaman baru atau tidak melakukan pemahaman (ijtihad). Sesungguhnya setiap kita menyatakan pendapat dan mengambil firman Allah atau hadits Rasulullah sesungguhnya termasuk kedalam upaya pemahaman (ijtihad)

Contohnya dalam sebuah forum diskusi, ada salah satu peserta diskusi yang mengaku bukan pengikut Salafi Wahabi (mungkin seorang pendukung) namun dia mengaku paham minhaj ilahi, "memperbolehkan" dirinya menghujat ataupun mengolok-olok saudara muslim lain dalam forum diskusi (menurut pemahaman dia) berdasarkan firman Allah antara lain,

“atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” (QS Al Furqan [25]:44 )
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS Al Anfaal [8]: 22 )
“Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti” [QS Al Baqarah [2]:171 )

Benarkah kaitan firman Allah dengan pendapat dia ?
Inilah contoh upaya pemahaman (ijtihad).
Jelaslah bahwa pemahaman yang disampaikan saudara kita itu bukanlah pemahaman Salafush Sholeh.

Disinilah kesalahpahaman pengikut kaum yang menisbatkan kepada manhaj Salaf. Apapun yang disampaikan oleh syaikh/ulama mereka maka para pengikutnya menganggap pastilah itu pemahaman Salafush Sholeh , sedangkan ulama/syaikh diluar kaum mereka pastilah bukan pemahaman Salafush Sholeh.

Jadi ketika kita menyatakan pendapat dan berhujjah dengan nash-nash Al-Qur'an dan hadits, atau pendapat-pendapat ulama salaf/terdahulu termasuk upaya pemahaman (ijtihad)

Syaikh/Ulama Salafi/Wahabi yang menyertakan nash-nash Al Qur'an, Hadits, dan pendapat-pendapat ulama salaf/terdahulu, yang terkait pendapat mereka adalah termasuk upaya pemahaman (ijtihad).

Berdasarkan pengamatan kami, syaikh/ulama Salafi/Wahabi ada berhujah dengan nash-nash untuk orang kafir (yang tidak bersyahadah) untuk pendapat mereka terhadap orang yang bersyahadah, saudara muslim mereka sendiri.

Oleh karenanya kita harus menghindari kekeliruan berhujjah dengan nash-nash Al-Quran, Hadits, pendapat para ulama salaf atas pendapat yang akan kita sampaikan sehingga kita tidak termasuk yang dikatakan

"....orang-orang muda berpemahaman kurang baik. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah” (maksudnya firman-firman Allah dan hadis Rasul) namun iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati) ..." (Hadits sahih riwayat Imam Bukhari).

Yang dimaksud orang-orang muda disini adalah penuntut ilmu yang baru, ulama-ulama yang belum dikenal keulamaannya, dukhala ilmi (mereka yang berkecimpung dalam ilmu namun bukan ahlinya)

Syeikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi dalam pembukaan Forum Alumni Al Azhar VI, yang mengangkat tema tentang "Persatuan dalam Komunitas Ahlu Sunnah" mengingatkan umat islam untuk tidak perlu mendengar dukhala ilmi terkait pentakfiran yang dilakukan oleh mereka. Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengingatkan bahaya terpecah-belahnya umat Islam karena sikap kita menghadapi perbedaan pemahaman.

Selengkapnya baca berita di http://www.hidayatullah.com/read/15001/26/01/2011/al-qaradhawi:-%E2%80%9Djangan-dengar-dukhala%E2%80%99-ilmi dan
http://hidayatullah.com/read/15006/26/01/2011/syeikh-al-azhar:%E2%80%9Dada-pihak-yang-berusaha-rusak-karya-ulama%E2%80%9D.html

Perbedaan pemahaman tidak dapat kita ingkari. Kebenaran itu dari Allah yang Ahad namun kita tidak dapat mengatakan satu pemahaman saja yang benar yang lain sesat. Semua upaya pemahaman adalah berupaya untuk meraih kebenaran, upaya menuju jalan yang lurus.

Kita harus dapat menghargai perbedaan pemahaman diantara hamba-hamba Allah yang telah bersyahadat. Perbedaan pemahaman adalah kehendakNya. Kita tidak dapat mempertanyakan kehendakNya, namun kita di akhirat nanti, hakikatnya akan ditanya bagaimana sikap kita atas kehendakNya.

Wassalam

Zon di Jonggol

 

Tulisan terkait:
 
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/23/2010/05/07/perlunya-madzhab/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/03/madzhab-empat/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/23/2010/03/31/imam-mujtahid/

 

Sabtu, 22 Januari 2011

Jalan yang lurus

"Jalan yang lurus", "(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka" (QS Al Fatihah,[1]: 7)

Benar bahwa yang Haq adalah tunggal , kebenaran hanyalah dari Allah yang Ahad.

Namun "jalan yang lurus" diatasnya terdiri dari beberapa jalur/alur/track, pahamilah dari firman Allah dalam (QS Al Fatihah, [1]:7). Dalam firman tersebut Allah ta'ala menyatakan "Jalan orang-orang" , bersifat jamak atau bersifat plural (beragam). Keberagaman inilah yang disebut dengan cabang (furuiyah).

Semua hamba Allah akan berada pada "jalan yang lurus" (walaupun berbeda jalur) minimal adalah yang telah bersyahadat.

Inilah maksud hadits berikut
“Tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka“. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan mereka yang tidak bersyahadat, salah satunya tidak mengakui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah atau bahkan sebagian lagi ada yang mengakui ada tuhan yang lain termasuk mereka yang menuhankan hawa nafsu atau orang yang tidak mengakui adanya Allah adalah mereka yang TIDAK berada pada "jalan yang lurus" yakni "(jalan) mereka yang dimurkai dan  jalan mereka yang sesat"

Pahamlah kita bagaimana kesalahpahaman tentang paham pluralisme, selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/04/2010/10/27/orang-orang-beriman/ Tulisan tersebut dapat dipergunakan untuk "menjawab" paham pluralisme.

Semoga bisa dipahami bahwa memang kehendak Allah "di atas" jalan yang lurus ada banyak cabang (furuiyah)atau ada beberapa madzhab, manhaj, thareqat, kelompok, dan ada beberapa metode pemahaman terhadap Al-Qur'an dan Hadits.

Semua adalah jalan menuju kepada Allah ta'ala dengan syarat minimal adalah bersyahadat.

Semua hamba Allah yang telah bersyahadat baik yang hanya mengenal tentang syariat saja (rukun Iman dan rukun Islam) maupun ditambah menjalankan Tasawuf (ihsan) adalah mereka yang berada pada jalan yang lurus menuju kepada Allah.
Pertanyaannya adalah seberapa cepat sampai kepada Allah, seberapa cepat dapat seolah-olah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati atau disebut Ihsan.

Selambat-lambatnya seorang muslim mendapatkan karunia Allah untuk dapat melihat Allah adalah ketika di akhirat nanti.

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/22/perjalanan-menuju-allah/

Jadi apa yang diperdebatkan, apa yang didiskusikan secara sengit di beberapa milis islam, forum diskusi Islam, blog Islami, diskusi pada jejaring sosial sebagian besar adalah memperbincangkan jalur/alur/cabang (furuiyah) sampai-sampai tidak malu dengan Allah yang dekat , apalagi seolah-olah melihat Allah.

Sebagai contoh orang yang muslim yang keliru berziarah kubur , namun salah paham menyembah kuburan atau menyembah orang-orang yang shaleh". Benarlah hal itu sebuah perbuatan kekufuran namun belum pasti orang muslim itu telah kafir. Bisa jadi dia belum tahu, apa yang telah diperbuat. Kemudian setelah berziarah kubur dia kembali bersyahadat (minimal pada saat sholat). Sehingga dia kembali ke jalan yang lurus setelah sesaat waktu mereka berpaling dari jalan yang lurus. Vonis kafir kepada seorang muslim yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan melakukan proses konfirmasi terhadap kekufuran yang mereka lakukan. Bisa jadi pada saat konfirmasi apa yang telah mereka lakukan mereka akan tersadar atau sampai kepadanya pengetahuan tersebut. Jika proses konfirmasi atau penyampaian tersebut telah dilakukan dan dia tetap melakukan kekufuran  maka resmilah dia "membatalkan" syahadatnya.

Vonis kufur tidak boleh dijatuhkan kecuali oleh orang yang mengetahui seluk-beluk keluar masuknya seseorang dalam lingkaran kufur dan batasan-batasan yang memisahkan antara kufur dan iman dalam hukum syari’at Islam.

Tidak diperkenankan bagi siapapun memasuki wilayah ini dan menjatuhkan vonis kufur berdasarkan prasangka dan dugaan tanpa kehati-hatian, kepastian dan informasi akurat. Jika vonis kufur dilakukan dengan sembarangan maka akan kacau dan mengakibatkan penduduk muslim yang berada di dunia ini hanya tinggal segelintir.

Demikian pula, tidak diperbolehkan menjatuhkan vonis kufur terhadap tindakan-tindakan maksiat sepanjang keimanan dan pengakuan terhadap syahadatain tetap terpelihara. Dalam sebuah hadits dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda :
ثلاث من أصل الإيمان : الكف عمن قال : لا إله إلا الله لا نكفره بذنب ولا نخرجه عن الإسلام بالعمل , والجهاد ماض منذ بعثني الله إلى أن يقاتل آخر أمتي الدجال لا يبطله جور جائر
ولا عدل عادل والأقدار.( أخرجه أبو داود )
“Tiga hal merupakan pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa ; Jihad berlangsung terus semenjak Allah mengutusku sampai akhir ummatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh kelaliman orang yang lalim dan keadilan orang yang adil ; dan meyakini kebenaran takdir”.

Imam Al-Haramain pernah berkata, “ Jika ditanyakan kepadaku : Tolong jelaskan dengan detail ungkapan-ungkapan yang menyebabkan kufur dan tidak”. Maka saya akan menjawab,” Pertanyaan ini adalah harapan yang bukan pada tempatnya. Karena penjelasan secara detail persoalan ini membutuhkan argumentasi mendalam dan proses rumit yang digali dari dasar-dasar ilmu Tauhid. Siapapun yang tidak dikarunia puncak-puncak hakikat maka ia akan gagal meraih bukti-bukti kuat menyangkut dalil-dalil pengkafiran”.

Vonis kafir hanya dikenakan pada orang-perorang yang telah jelas seluk-beluk keluar masuknya seseorang dalam lingkaran kufur
Dapat dikenakan kepada pada suatu kaum, setelah jelas apa yang diyakini mereka (pemahaman pokok/ keyakinan pokok/i'tiqad) adalah sebuah kekufuran seperti kaum Musyabbihah atau Mujassimah.

Terjadi kesalahpahaman yang telah dilakukan banyak ulama pada saat ini, mereka mensesatkan / mengkafirkan pada suatu kaum yang telah bersyahadat dan tidak pula mempunyai i'tiqad dalam kekufuran.

Sebagai contoh apa yang dilakukan oleh Syaikh Al Albani (semoga beliau dirahmati Allah).
Golongan atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari perkumpulan Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta di atas manhaj (jalan/cara) Salafus Shalih, maka dia (golongan itu) berada dalam kesesatan yang nyata!

Tidak diragukan lagi bahwasanya golongan (hizb) apa saja yang tidak berdiri di atas tiga dasar ini (Al Qur’an, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Manhaj Shalafus Shalih) maka akan berakibat atau membawa kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu (dalam dakwahnya) ikhlas.

Berdasarkan pengetahuan saya, setiap golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya berpendapat sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang ketiga, sementara dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh. Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.

Beliau mengatakan sesatlah golongan atau kelompok yang hanya bersandar pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saja tidak berdiri di atas dasar yang ketiga yakni manhaj Salafus Sholeh

Bagaimanakah mungkin dikatakan sesat bagi mereka-mereka yang hanya bersandar pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saja ?

Hal ini mengingatkan saya pada perbincangan antara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan ini.

Sulaiman bertanya kepada adiknya: “…Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab: “lima”.
Sulaiman: Tetapi kamu menjadikan 6!
Muhammad: Apa, ?
Sulaiman: Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah
mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
Muhammad : Terdiam dan marah.

Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi)

Begitulah kesalah-pahaman saudara-saudara kita kaum Salafi/Wahabi yang menisbatkan pada pemahaman Salafush Sholeh, namun tidak ada kejelasan pemahaman siapa dari Salafush Sholeh yang mereka ikuti "perjalanan" nya karena Salafush Sholeh adalah terdiri dari banyak orang. Dahulu kala pemahaman para Sahabat selalu ditengahi oleh Rasulullah begitu pula selanjutnya selalu ditengahi oleh orang-orang Sholeh sehingga mereka tersebut dikatakan para Salafush Sholeh.
Contoh penengahan pemahaman para Sahabat di jaman Rasulullah bisa di baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/04/akhlak-rasulullah/


Juga termasuk kesalahpahaman akan pengakuan mereka bahwa pemahaman atau manhaj seperti mereka sajalah yang benar , secara tidak disadari mengingkari kehendak Allah.

Semoga bisa dipahami oleh para pembaca kenapa kami kerap menyampaikan tentang kesalahpahaman saudara-saudara kita kaum Salafi / Wahabi, semua itu bukanlah atas dasar kebencian , semata-mata kami melakukan dalam rangka saling mengingatkan terutama pada diri saya sendiri.

Semoga bisa dipahami mengapa kami tidak mensesatkan/mengkafirkan saudara-saudara kita kaum Salafi / Wahabi , salah satunya karena mereka terus-menerus bersyahadat.

Begitu juga terhadap saudara-saudara kita kaum Syiah , tidaklah bisa dikatakan sesat karena mereka bersyahadat sama seperti kita. Kalaupun ada kesalahpahaman yang mereka lakukan dalam "perjalanan" menuju Allah , kita berprasangka baik kepada mereka bahwa mereka seolah-olah berputar-putar di atas "jalan yang lurus" atau terhalangi/terdindingi oleh sesuatu.

Sungguh tujuan hidup kita adalah "perjalanan" menuju kepada Allah. Bukti telah sampai adalah menjadi muslim yang sholeh atau muslim yang Ihsan, muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah

Terhalang melihat Allah , silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/22/2010/07/19/terhalang-melihat-allah/

Semoga kita semua bisa menjadi wali-wali Allah, Shiddiqin, muslim yang ihsan, muslim yang sholeh. Sehingga kita bisa termasuk yang disholawatkan oleh seluruh muslim sampai akhir zaman.

Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
“Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.


Sesuai janji Allah ta’ala maka setiap muslim yang sholeh (muhsin) atau orang-orang beriman dan beramal sholeh maka akan masuk surga tanpa di hisab,

Janji Allah swt dalam firmanNya yang artinya.

“….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.” (QS Al Mu’min [40]:40 )

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An Nisaa’ [4]:124

Marilah kita berlomba-lomba menuju kepada Allah, berlarilah kepada Allah , “Fafirruu Ilallah” berlomba-loba untuk dapat seolah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.

Wassalam

Zon di Jonggol

Jumat, 21 Januari 2011

Berselisih

Berselisih penghambat untuk sampai pada tujuan hidup kita

Dalam tulisan sebelumnya sudah kami sampaikan tentang perbedaan pemahaman adalah kehendakNya
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/19/perbedaan-pemahaman/

Sikap kita dengan berselisih, berbantah-bantahan,bertengkar, saling membunuh adalah salah satu yang menghambat kemajuan umat Islam.
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/17/kemajuan-umat-islam/

Berselisih, berbantah-bantahan, bertengkar, saling membunuh adalah sikap yang tidak disukai Allah ta'ala

Kita harus dapat membedakan antara berbeda dengan berselisih. Berbeda adalah beragam (plural) sedangkan berselisih adalah sikap atas perbedaan.

Sikap yang baik adalah sabar dan ikhlas atas kehendak Allah tsb, salah satunya dengan saling menghargai perbedaan pemahaman.

Sungguh setiap hamba Allah yang telah bersyahadat dengan “sidqan min qalbihi“ (betul-betul keluar dari qalbu), mereka telah berjalan pada jalan yang lurus

"Tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka". (H.R. Bukhari dan Muslim).

Metode pemahaman, madzhab, manhaj, tharekat, halaqah, kelompok atau bentuk jama'ah minal muslimin lainnya adalah diibaratkan "kendaraan" untuk berjalan di jalan yang lurus. Keberagamaan "kendaraan" tersebutlah yang merupakan kehendak Allah.

Sekarang marilah kita intropeksi bagaimana "kendaraan" yang telah kita gunakan apakah dapat mengantarkan kepada tujuan kita ?.
Seberapa cepat sampai tujuan ?
Kadang tidak kita sadari , kita terlampau sibuk memperbincangkan tentang "kendaraan" sehingga "kendaraan" tersebut tidak juga berjalan kepada tujuan.

Kemanakah tujuan kita ? surgakah ?
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

Surga adalah ciptaanNya sedangkan tujuan kita sampai (wushul) kepada-Nya.

Hamba Allah akan sampai (wushul) kepadaNya bisa dengan cepatnya yakni pada saat ini juga di dunia atau berlambat-lambat ketika di akhirat nanti.

Hamba-hamba Allah yang telah sampai kepadaNya di dunia adalah mereka yang seolah-olah melihat Allah, melihat Allah dengan hati atau muslim yang ihsan. (Ihsan,bahasa arab yanga artinya terbaik/sempurna.)

Marilah kita bersegera kepada Allah, jangan sibuk memperbincangkan "kendaraan" sampai lupa menjalankan kendraan atau lupa pada tujuan yang sebenarnya.

Mereka, muslim yang mendalami dan mengamalkan tentang Ihsan (tasawuf/akhlak) mengenal “Fafirruu Ilallah” berlarilah kepada Allah.

Mudah2an para pengunjung/pembaca blog dapat memahami kami mengapa kami begitu kukuh menyampaikan tentang Ihsan atau tasawuf dalam Islam, begitu kukuh kami mengingatkan tentang akhlak, Insyaallah semua itu kami lakukan adalah atas persaudaraan muslim dan mengingatkan pada tujuan kita sebenarnya dalam melangkahkan kaki di bumi ciptaan Allah ta'ala.

Wassalam

Rabu, 13 Oktober 2010

Pemahaman Salaf

Pemahaman kami adalah pemahaman Salaf.

Ada sesuatu kesalahpahaman dan kita temui dalam kehidupan beragama pada masa kini. Kesalahpahaman ini menimbulkan malapetaka berkelanjutan sehingga timbul perdebatan, perselisihan, pertengkaran  bahkan ada yang saling menghancurkan.

Kadang kita temui sebagian muslim berpemahaman bahwa yang mereka pahami adalah pasti benar karena mereka memahami Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Salaf.  Tentu yang dimaksud mereka dengan “Pemahaman Salaf” adalah “Pemahaman Salafush Sholeh” karena kita tahu bahwa orang salaf (terdahulu) ada yang baik (sholeh) dan ada pula yang buruk.

Keliru jika ada yang mengatakan bahwa pemahaman kami terhadap Al-Qur’an dan Hadits sesuai/sama/identik dengan pemahaman Salafush Sholeh.

Bagaimana pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh menjadi termasuk perihal yang ghaib karena waktunya sudah berlalu (Al-Ghaibul Madhi) yaitu segala sesuatu atau kejadian yang terjadi pada zaman dahulu, yang mana kita tidak hidup sezaman dengannya. Sehingga kita tidak bisa melakukan konfirmasi (temu-muka) akan pemahaman mereka sesungguhnya.

Apa yang kita lakukan adalah upaya pemahaman (ijtihad) terhadap tulisan, riwayat, lafadz, nash Al-Qur’an , Hadits, riwayat atau perkataan Salafush Sholeh, yakni para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan juga pemahaman-pemahaman ulama–ulama terdahulu.

Jadi setiap upaya pemahaman/pemkiran/pendapat seorang muslim bukan selalu mutlak benar , bisa saja salah.

Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) berkata “Setiap (pendapat) dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaih

Hal ini ditunjukkan pula oleh sikap tawadhu dari Imam Madzhab yang empat bahwa jika kita menemukan kesalahan/perselisihan atas pemahaman/pendapat/pemikiran mereka maka kita diminta  kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :

] يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا [

“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri ( pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul ( Al Hadits), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya” ( QS. An nisa’, 59 ).

Pendapat/Pemahaman/Pemikiran seorang muslim bisa  benar dan bisa salah namun perkataan dalam Al-Qur’an dan Hadits adalah yang pasti benar.

“Sebenar benar perkataan adalah kitabullah(alquran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam..”(HR.Muslim).

Syaikh  Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan.:
“Tidak tercela orang yang menunjukkan madzhab salaf, menisbatkan dan menyandarkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima hal itu darinya, karena madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran” [Al-Fatawa 4/149]

Dari uraian di atas, dapat kita pahami letak kekeliruan perkataan Syaikh Ibnu Taimiyah.

Benar, bahwa tidak tercela menunjukkan, menisbatkan, menyandarkan kepada Salafush Sholeh.  Namun upaya mereka menyandarkan tersebut belum tentu atau pasti sebuah keberhasilan sehingga mendapatkan kebenaran.

Tetaplah apa yang dipahami oleh Syaikh Ibnu Taimiyah adalah pemahaman beliau sendiri dan tidak selalu identik/sama/serupa dengan pemahaman  Salafush Sholeh, karena bagaimana pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh menjadi termasuk perihal yang ghaib karena waktunya sudah berlalu (Al-Ghaibul Madhi).

Sedangkan yang pasti benar hanyalah perkataan Allah swt dan RasulNya. Dengan kata lain setiap arti/makna/terjemahan, tafsir, pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits belum pasti benar, yang pasti benar adalah perkataan/lafadz/nash-nash dalam Al-Qur’an dan Hadits. Terjaganya Al-Qur’an, salah satunya dikarenakan ada yang selalu menghafal Al-Qur’an.

"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu". (QS Al Baqarah [2]:147 )

Oleh karenanya kita kaum muslimin harus dapat saling menghargai , dengar pendapat (murooja’ah), berusaha saling memahami (mufaahamah), dan mengadakan dialog (muhaawaroh) jika ditemukan perbedaan/perselisihan  pendapat/pemikiran/pemahaman.

Contoh paling baru bahwa adanya perbedaan pemahaman adalah perbedaan pemahaman antara Ustadz Ja’far Umar Thalib dengan Ustadz  Abu Bakar Baasyir, selengkapnya silahkan baca tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/10/pertengkaran-wahabisalafi/

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor

Senin, 26 Juli 2010

Salahpaham Pemahaman

Kesalahpahaman tentang pemahaman
( manhaj salaf(i) atau wahabi ).


Berikut ini tulisan merupakan kelanjutan tulisan saya sebelumnya, kesalahpahaman tentang generasi terbaik, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/24/generasi-terbaik/

Suatu kesalahpahaman lainnya yang telah berlarut-larut dan masih terjadi sampai zaman modern ini adalah kesalahpahaman tentang pemahaman (manhaj).  Kesalahpahaman yang telah membuat umat muslim kebingungan, dalam keraguan dan bahkan menimbulkan konflik antara umat muslim sendiri.

Sebagian muslim atau kaum muslim mengikuti pemahaman  ulama Muhammad  bin Abdul Wahab, ulama yang mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyah. Mereka disebut kaum Wahabi atau Salaf(i).

Kesalahpahaman terjadi karena mereka menyatakan bahwa pemahaman mereka adalah sebagaimana pemahaman Salafush Sholeh. Mereka mengatasnamakan pemahaman mereka sebagaimana pemahaman Salafush Sholeh. Lihat tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/atasnama-salaf/

Begitu juga , saya agak risih jika menemukan tulisan dimulai dengan
"Pemahaman dalam Islam ..........", secara tidak disadari merupakan tulisan yang mengatasnamakan Islam, yang bisa mengakibatkan bahwa klo berbeda pemahamannya maka pemahaman yang berbeda bisa diartikan pemahaman di luar Islam ?

Kita sebaiknya tidak mengatasnamakan pemahaman kita atau kaum kita pada muslim lainnya atau kaum muslim lainnya. Kita harus tegas mengatakan atau mengakui sebagai pemahaman kita atau sebagai pemahaman kaum kita.  Begitu juga harus tegas mengatakan atau mengakui sebagai penafsiran kita, yang umumnya mengikuti nama yang menafsirkan atau yang memahaminya. Contoh Mazhab Syafi’i, Manhaj Asy’ariah, Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir , Tafsir Buya Hamka dll.

Bagaimana pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh menjadi termasuk perihal yang ghaib karena waktunya sudah berlalu (Al-Ghaibul Madhi) yaitu segala sesuatu atau kejadian yang terjadi pada zaman dahulu, yang mana kita tidak hidup sezaman dengannya. Sehingga kita tidak bisa melakukan konfirmasi (temu-muka) akan pemahaman mereka sesungguhnya.

Apa yang kita lakukan adalah upaya pemahaman (ijtihad) terhadap tulisan, riwayat, lafadz, nash Al-Qur’an , Hadits, riwayat atau perkataan Salafush Sholeh, yakni para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan juga pemahaman-pemahaman ulama–ulama terdahulu.

Pendapat/Pemahaman/Pemikiran seorang muslim bisa  benar dan bisa salah namun perkataan dalam Al-Qur’an dan Hadits adalah yang pasti benar.

Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) berkata “Setiap (pendapat) dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaih

“Sebenar benar perkataan adalah kitabullah(alquran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam..”(HR.Muslim)

Upaya pemahaman yang telah dilakukan dan disampaikan kepada muslim lainnya atau kaum muslim lainnya harus diakui oleh orang yang melakukan pemahaman  yang kelak harus mempertanggungjawabkan di akhirat nanti.  Kita tahu apapun lisan maupun tulisan kita harus mempertanggung jawabkan di akhirat nanti. Apalagi pemahaman kita menjadi dasar amal atau perbuatan muslim lainnya.

Oleh karenanya pemahaman dengan sistem guru-murid secara temu muka atau lisan, turun temurun (memperhatikan sanad/keterhubungan), sistem peng-ijazah-an pada suatu thariqah lebih baik dibandingkan pemahaman yang digali berdasarkan tulisan atau tekstual semata.

Bayangkan kemungkinan distorsi yang terjadi antara ulama Muhammad bin Abdul Wahab dengan ulama Ibnu Taimiyah yang terpaut ratusan tahun zamannya. Oleh karananya saya katakan bahwa ulama Muhammad bin Abdul Wahab, "mengangkat kembali" metode pemahaman ulama Ibnu Taimiyah dan dicampur dengan pemahaman pribadi beliau sendiri.

Jadi harus kita katakan dengan tegas dan mengakui bahwa  apa yang telah dipahami oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahab ataupun ulama Ibnu Taimiyah adalah pemahaman mereka masing-masing

Sehingga jika kita menemukan perbedaan pemahaman, kita masing-masing harus memutuskan dengan merujuk kepada  Al-Qur’an dan Hadits.

Kenapa saya katakan masing-masing pribadi yang memutuskan, karena kita bertanggung jawab pada pemahaman kita masing-masing, tidak bisa kita membebankan tanggung jawab kepada orang lain yang telah mengutarakan pemahamannya.  Pemahaman adalah dasar dari sebuah amal / perbuatan. Di akhirat nanti kita tidak bisa mengatakan bahwa perbuatan kita didunia dikarenakan buah dari pemahaman si fulan

Firman Allah,

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)

“Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)

Oleh karenanya, jika kita mengeluarkan sebuah pemahaman, kita wajib mengingatkan orang yang menerima pemahaman itu  untuk selalu merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits.

Kesalahpahaman lain yang berhubungan dengan kesalahpahaman diatas adalah kesalahpahaman memahami hadits berikut,

Nabi bersabda yang artinya, “Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditanganNya, akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah,  yang satu masuk surga  dan yang lain masuk neraka”.
Berkata para Sahabat : ” Siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu Ya Rasulullah ?”
Nabi menjawab :
(nama firqah) .

Kita dapat menemukan matan nama firqah yang berbeda  pada hadits atau riwayat lainnya.

Sebagian umat muslim “menggunakan” hadits di atas sebagai “keputusan” bahwa jama’ah  mereka adalah firqah “yang satu masuk surga”. Bahkan lebih keji dengan menyatakan bahwa diluar jamaah mereka adalah sesat, ahlu bid’ah dan kafir. Naudzubillah min zalik.

Sangat berbahaya jika mengukur, menilai saudara muslim atau jamaah lainnya dengan batasan ukuran ilmu atau pemahaman kita sendiri, karena sesungguhnya tingkat pemahaman muslim terhadap agama adalah sangat berbeda-beda tergantung anugerah / karunia yang telah Allah berikan.

Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Al-Baqarah – 269).

Kita harus menghormati perbedaan pemahaman saudara-saudara muslim lainnya.

Hadits-hadits, riwayat-riwayat yang senada dengan di atas , kita pergunakan untuk selalu sadar dan merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Sebaiknya kita harus meyakini bahwa “keputusan” atau hasil bahwa “firqah yang masuk surga” adalah hak Allah sedangkan hak manusia hanyalah pada proses, upaya atau ikhtiar pemahaman semata.

Sedangkan petunjuk Allah dalam al-Qur’an  tentang kaum yang dicintaiNya ada dalam firmaNya  yang artinya,

"…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Maidah: 54)

Pada zaman modern ini, malah kita dapatkan menemukan suatu kaum yang bersikap keras kepada orang muslim dan berlemah-lembut kepada orang-orang kafir. Kitapun dapat menemukan para penguasa negeri yang muslim namun seolah-olah  keras/tegas terhadap rakyatnya yang muslim dan tetap melanjutkan perjanjian dengan orang-orang kafir untuk mengolah anugerah Allah yakni hasil bumi, pertambangan dll.

Padahal Allah telah memperingatkan  kita lewat firmanNya yang artinya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Kita harus berupaya untuk termasuk kedalam kaum yang Allah cintai itu

Bagaimana agar kita  atau kaum kita dicintai Allah ?

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Selengkapnya tentang zuhud, silahkan baca tulisan pada,

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/30/zuhudlah-di-dunia/

Inti dari zuhud itu adalah menjadi muslim yang memahami dan menjalankan seluruh pokok-pokok dalam ajaran agama Islam secara menyeluruh (kaffah), sebaiknya tidak menolak/meningkari satu pokokpun. Pokok-pokok ajaran dalam Islam yakni, , Islam (rukun Islam, fiqih), Iman (rukun Iman, Ushuluddin), Ihsan (akhlak,  Tasawuf).

Upaya untuk menjadi muslim yang terbaik, muslim sholeh, muslim berakhlakul karimah, muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin yakni muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah atau minimal muslim yang yakin bahwa segala perbuatan di lihat Allah.

Muslim yang sholeh, sebagaimana Tauladan  kita, Junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika mi'raj dan bertemu dengan para Nabi terdahulu disambut dengan sambutan "Saudaraku yang sholeh", "Nabi yang sholeh" atau "Anakku yang sholeh".

Begitu juga ketika mi'raj dan menghadap Allah Subhaanahu wa Ta'ala, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membaca, "Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin" yang artinya  "Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh".  Do'a yang selalu kita baca pula setiap sholat.

Muslim yang sholeh yakni muslim yang selalu sadar dan mengingat Allah. Setiap perilaku kita / akhlak kita harus dengan mengingat Allah, seluruh waktu kita penuh berinteraksi dengan Allah.

Berinteraksi dengan Allah dengan cara berinteraksi dengan firman-firmanNya yakni Al-Qur’an. Seluruh perbuatan / akhlak kita harus selalu sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits

“Dengan kitab (al Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (QS-al Maaidah [5]: 16).

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS Al-Baqarah [2] : 2).

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”(QS  al Baqarah [2] : 147)

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quraan) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quraan itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu” (QS al An’aam [6]: 114)

Wassalam

Zon di Jonggol

Rabu, 14 April 2010

Potret Salafiyyah

Banyak pihak melalui email, milis, forum yang menanggapi tulisan saya sebelumnya

Kelemahan Salaf(i)

Mereka sebagian besar menanyakan metode pengkajian yang telah saya lakukan terhadap metode pengajaran Salaf(i)  atau paling tidak, sumber atau buku mana saja yang saya pergunakan dalam pengkajian. Untuk mengetahui beberapa sumber pustaka silahkan merujuk ke blog saya http://mutiarazuhud.wordpress.com disana ada beberapa tercantum buku-buku yang saya pergunakan.

Namun kali ini saya akan menuliskan fakta kondisi global dunia muslim, khususnya  potret kaum Salaf(i) yang merupakan hasil pengkajian saya selama ini.  Semoga bermanfaat.

Sebelumnya mari kita bersama ulangi ucapkan “Bismillaahirrahmaanirrahiim”.

Kita samakan persepsi terlebih dahulu dengan apa yang dinamakan ulama sezaman salaf dan membedakannya dengan ulama wahabi atau salaf(i).

Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi).

Sezaman dengan generasi terbaik yakni sebelum 300 Hijrah,  Ulama yang kita kenal sebagai  Empat Imam Madzhab

  • Imam Hanafi (lahir 81H, wafat 150 H)

  • Imam Malik bin Anas (lahir 83H, wafat 179 H)

  • Imam Syafi’i  (lahir 150 H, wafat 204 H)

  • Imam Ahmad bin Hambal (lahir 162H, wafat 241 H)


Ulama salaf(i) adalah ulama yang “mengaku” bersandar / bermanhaj kepada ulama salaf.

Diawali oleh Syaikh Ibnu Taimiyah (lahir 661 H, wafat 724 H) diikuti oleh Syaikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (1115H  – 1206H).

Kita setuju bahwa umat muslim harus bersandar pada salaf.

Namun bukan berarti kita diharuskan bersandar pada ulama salaf(i) !

Mana yang lebih dahulu kehidupannya, apakah ulama salaf(i) atau empat imam madzhab ?

Banyak saudara-saudara muslim kita dalam pengajian, jama’ah minal muslimin atau pondok pesantren bersandar pada salaf namun  bukan bersandar pada ulama salaf(i) atau dengan kata lain mereka bukan Salaf(i).

Mereka dalam pengkajian memakai rujukan Al-Qur’an dan Tafsir, Hadist-Hadist dan Syarahnya. Kitab-Kitab Fiqih empat madzhab, Kitab-Kitab Ushuluddin, Kitab-Kitab Tasawuf, Kamus-Kamus, dll

Umat Islam sekarang ini dalam belajar agama sebagian mau serba instan.

Mereka mau bersandar pada salaf atau bermanhaj salaf namun sejatinya adalah bersandar pada ulama salaf(i) atau paling tidak mereka membaca karya-karya tulis ulama salaf(i) dan sekali-kali memeriksa ayat-ayat yang dicantumkan pada karya-karya tulis ulama salaf(i) dengan Al-Qur’an dan Hadits. Selebihnya kadang-kadang mereka tidak memeriksa kembali dan percaya saja dengan ulama salaf(i).

Inilah bahayanya !

Pada saat kita berulang-ulang memeriksa pada Al-Qur’an dan Hadits bahwa apa yang dituliskan itu benar adanya dan kemudian lengah, maka selanjutnya apapun perkataan / pendapat ulama salaf(i), kita menerimanya sebagai kebenaran.

Inilah yang disebut indoktrinasi atau cuci otak ! Saya tidak mengatakan bahwa semua perkataan ulama Salaf(i) itu keliru namun saya hanya menganjurkan untuk selalu merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Jangan lengah !

Ulama-ulama Salaf(i) mengatakan bahwa akal tunduk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun sebagian pengikut ulama-ulama Salaf(i) menundukkan akal pula terhadap semua perkataan / pendapat ulamanya

Indoktrinasi dari ulama salaf(i) yang saya tidak sepahaman diantaranya adalah bahwa empat imam madzhab (dengan rendah hati) mengatakan jikalau pendapat/perkataan mereka keliru maka kembalilah pada Al-Qur’an dan Hadist.

Para ulama salaf(i) mengatakan  “Imam-Imam Madzhab melarang dan mewanti-wanti orang lain agar tidak taqlid kepada mereka dalam beragama. Dan mereka memerintahkan orang lain agar mengkonfirmasi perkataan mereka dengan nash-nash kitab Allah dan sunnah Rasululla Saw. Jika cocok, maka hendaklah dilaksanakan, dan jika tidak cocok maka hendaklah di campakkan”

Perkataan ulama-ulama salaf(i) ini benar adanya namun seolah-olah mereka mengatakan bahwa perkataan-perkataan Imam-imam Madzhab banyak yang dicampakkan dan perkataan-perkataan mereka yang dilaksanakan. Sehingga sebagian pengikut-pengikut ulama salaf(i) keliru menjadi anti-madzhab.

Dalam karya-karya tulis ulama Salaf(i) ada kemungkinan indoktrinasi, memasukkan pendapat / perkataan Syaikh-Syaikh yang sesuai “kepentingan” diantara dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits sehingga pengikut-pengikut Salaf(i) terbagi dua “kepentingan” besar yakni,

Kelompok pertama, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang berkeras untuk berjihad, berperang melawan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Kelompok kedua, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang taat kepada penguasa muslim asalkan masih sholat walaupun bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Kelompok pertama mengatakan kelompok kedua “murtad”

Kelompok kedua mengatakan kelompok pertama “sesat”

Kedua kelompok inipun dimanfaatkan oleh “mereka” yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Kelompok pertama dimanfaatkan “mereka” untuk alasan berperang dan kepentingan “mereka” membunuh saudara-saudara muslim kita.

Sedangkan kelompok kedua digunakan untuk menumpuk kekayaaan dengan mengeruk hasil sumber daya alam, minyak bumi dari negeri penguasa-penguasa  yang bersekutu dengan “mereka”. Selanjutnya kekayaan yang didapat digunakan untuk membiayai peperangan dengan kelompok pertama.

Sehingga secara tidak langsung kita sesama muslim saling membunuh. Naudzubillah Min Zalik.

Nyatalah peringatan Allah dalam firmanNya, yang artinya

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Untuk saudara-saudara muslim yang bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik, ingatlah firman Allah yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” ,  (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali Imran, 119)

Inilah potret salaf(i) sesungguhnya, keadaan dunia muslim saat ini. Semoga dengan potret ini kita dapat mengetahui kondisi global sesungguhnya dan membuat kita bersatu menegakkan ukhuwah Islamiyah sehingga kita tidak diperdaya atau dicerai-beraikan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Apa yang dikerjakan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dkk adalah apa yang disebut dengan modernisasi agama. Modernisasi agama adalah isu yang dihembuskan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Menurut alm. K.H. Siradjuddin Abbas, bagi kita sesungguhnya tidak menolak seluruh modernisasi. Modernisasi dianjurkan untuk bidang-bidang keduniaan yang belum ada aturannya dari Allah dan Rasul. Namun dalam soal kegamaan, soal syariat, soal ibadah, soal i’tiqad (aqidah) maka kita menolak sekuat-kuatnya akan modernisasi. Agama adalah dari Allah dan Rasul, kita wajib menerima bagaimana adanya, sebagai yang diajarkan Rasulullah.
Nabi Rasulullah bersabda: “Dari Anas bin Malik Rda, beliau berkata, Rasulullah telah bersabda: Apabila ada sesuatu urusan duniamu maka kamu yang lebih tahu, tetapi apabila dalam urusan agamamu maka Saya yang mengaturnya”. (HR Imam Ahmad bin Hanbal).
Agama tidaklah mengikuti zaman tetapi sebaliknya zaman yang harus tunduk kepada agama.

Kalau agama dimodernisir dan disesuaikan dengan zaman maka akibatnya agama itu akan hapus dengan sendirinya, karena tuntutan zaman itu berobah-obah terus dan agama akan berobah pula sesuai dengan zaman itu.

Marilah kita menjadi muslim yang terbaik dimana dapat mencapai tingkatan sseolah-olah melihat Allah atau paling tidak mencapai tingkatan yang  meyakini  bahwa Allah melihat seluruh perbuatan kita.

Sehingga sebelum melakukan perbuatan dapat merujuk pada Al-Quran dan Hadits, karena sesungguhnya kita diciptakan Allah, semata - mata untuk  menyembah Allah.

Senin, 12 April 2010

Pilih Jama'ah

Kita pahami bahwa Allah menghendaki agar kita kaum muslim tidak bercerai-berai sebagaimana firmanNya yang artinya,

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai” (Ali-Imraan : 103).

Simaklah dalam majlis diskusi atau forum diskusi Islam, blog/situs muslim, begitu banyak yang fanatik golongan/kelompok (tahazzub) sehingga perlu "marah", mengeluarkan kata sindiran atau mungkin kata makian dalam tulisan-tulisan mereka. Naudzubillah min zalik.

Apakah ketika mereka menulis  tidak sedang "merasakan" bersama Allah ?

Apalah artinya kita mengawali segala perbuatan / aktivitas dengan mengucapkan "Bismillaahirrahmaanirrahiim" ?

Yakinlah bahwa ucapan "Bismillaahirrahmaanirrahiim" itu akan mendekatkan diri kita dengan Allah yang Maha Kuasa dan tentu Allah tidak memerlukan bantuan "kemarahan" kita untuk menegakkan kebenaran. Justru kita seharusnya merasa butuh "pertolongan" dan "bimbingan" Allah agar kita dapat menulis dengan baik tanpa diliputi hawa nafsu dan keinginan/kepentingan pribadi kita.

Pada zaman ini, saya sedih melihat saudara-saudara muslim saling ber-tahazzub (fanatik golongan/kelompok)

Keliru klo kita katakan,

  • Saya Islam NU

  • Saya Islam Muhammadiyah

  • Saya Islam Persis

  • Saya Islam Salafy

  • Saya Islam Syiah

  • dll


Yang benar

  • Saya muslim dan berjamaah di NU

  • Saya muslim dan berjamaah di Muhammadiyah

  • Saya muslim dan berjamaah di Persis

  • Saya muslim dan berjamaah di Salafy

  • Saya muslim dan berjamaah di kaum Syiah.

  • dll


Jamaah minal muslimin - Jamaah minal muslimin ini pada hakekatnya bisa digabung atau melebur dan tidak boleh ada pertentangan yang mendasar. Klo ada pertentangan maka sesungguhnya ada kemungkinan kekeliruan pemahaman di dalamnya.

Dimanapun jamaah minal muslimin kita ikuti seharusnya akan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.

Mulai dari muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam,Iman dan Ihsan

Kita sebaiknya mencari jamaah minal muslimin yang dapat mengantarkan kita ketingkat muhsin/ihsan. dan menjadi Muslim yang terbaik.

Sesuai dengan tulisan di

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/28/menjadi-muslim-terbaik/

Seorang yang sampai pada tingkatan seolah-olah melihat Allah atau paling tidak seorang yang yakin bahwa segala perbuatannya dilihat Allah maka tentu akan terdorong melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Inilah sesungguhnya bentuk ketaqwaan kepada Allah yang menentukan tingkat/ukuran kemuliaan seorang muslim dihadapan Allah.

Sesuai firman Allah yang artinya,

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa” (QS. Al-Hujurat: 13)

Oleh karenanya mari "periksa" kembali jamaah minal muslimin yang kita ikuti.

Kita diingatkan Allah dengan firmanNya yang artinya

"Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka". (Al Baqarah 2 : 167)

Jadi apapun jalan / manhaj / madzhab / metode / jamaah yang kita pilih, kita periksa output / manfaat / hasilnya

  • Apakah membuat kita menyembah hanya kepada Allah ?

  • Apakah mendekatkan diri kita kepada Allah ?

  • Apakah hati kita menjadi bersih suci dari segala sifat tercela seperti hasut, dengki, marah dll.

  • Apakah kita menjadi "memusuhi" , "berlepas diri" , boikot/ isolir meng hajr terhadap sesama muslim ?


Inilah cara-cara untuk mengetahui apakah jalan / manhaj / madzhab / metode / jamaah itu apakah "salah" atau pada "jalan yang lurus".

Dan kita diperintah Allah untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 153 :

“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.”

Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan

Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya:

“Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

Jadi kita sebaiknya jangan menyandarkan diri kepada Jamaah minal Muslimin semata.
Kita sebaiknya jangan menyandarkan diri pada “pilihan” ayat-ayat Al-Qur’an atau "pilihan" hadits yang dilakukan oleh Jamaah minal muslimin.
Jamaah minal muslimin bermanfaat untuk membantu kita mendapatkan / memahami petunjuk Allah.
Manfaat ber-jamaah dibanding sendiri adalah yang disebut dengan manfaat sinergi.

Wassalam

Sabtu, 20 Februari 2010

Salaf ala Ibnu Taimiyah

Sebagian umat muslim, semakin hari semakin merasa ibadah mereka seperti
rutinitas yang "kering". Pengajian yang mereka ikuti, bagi mereka memang terasa lebih "ilmiah"dan "masuk-akal" namun kurang terasa "kedalamannya" pada lubuk hati mereka.

Begitu banyak cara, jalan, metode, aliran, manhaj, madzhab dalam mempelajari agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits. Kesempatan kali ini saya cuplikan pengkajian salah seorang ulama negeri kita, Alm. K.H Siradjuddin Abbas disekitar tahun 1976 (34 tahun yang lampau). Salah satu kajian beliau pada Madzhab ala Ibnu Taimiyah.

"MADZHAB SALAF” IBNU TAIMIYAH MUNCUL

Berkata Muhammad Abu Zahra, pengarang terkenal di Mesir pada abad ini, dalam bukunya “Tarikh Al Madzahibul Islamiyah” (Sejarah Madzhab-madzhab dalam Islam), Juz I halaman 211 :

“Yang Kami maksudkan dengan orang-orang Salaf” ialah orang-orang yang menamakan dirinya penganut faham Salaf. Mereka lahir pada kurun ke IV H. Mereka adlaah penganut-penganut Madzhab Hanbali, dan mereka mengatakan bahwa faham mereka diambil dari faham Imam Ahmad bin Hanbal, yang dikatakannya Imam yang menghidupkan dan mempertahankan i’tiqad salaf itu.

Kemudian, diperbaharui lahir mereka pada kurun yang ke VII Hijriyah, oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau dengan cara gigih menganjurkan supaya orang mengikut Madzhab Salaf itu”.

Dari uraian pengarang sejarah terkenal Abu Zahrah ini nyatalah, bahwa apa yang dinamakan “Madzhab Salaf” itu muncul pada abad ke IV H., tetapi tidak dikatakan siapa itu ulama yang memunculkan Madzhab Salaf itu, dan orang-orang penganut faham apa.

Tetapi pengarang Tafsir Qurthubi mengungkapkan sedikit orang-orang itu, yaitu Hisyam al Jawaliqi dan sekumpulan orang-orang firqah Mujassimah, yakni orang yang berfaham bahwa Tuhan itu bertubuh. (Tafsir Qurthubi Juz 12 halaman 256).

Jadi, apa yang dinamakan “Madzhab Salaf” ditimbulkan pada mulanya oleh orang-orang yang menganut faham firqah Mujassimah, yaitu faham yang menganggap Tuhan itu mempunyai tubuh.

Kemudian madzhab ini hilang saja, tak terdengar lagi kabar beritanya. Mungkin karena dasar madzhab itu tidak kuat, tidak tahan menghadapi tantangan zaman.

Baru pada abad ke VII H., yakni 300 tahun kemudian, muncul seorang ulama penganut Madzhab Hanbali juga,  bernama Ibnu Taimiyah di Damsyik, Syria., yang mengeluarkan sejumlah fatwa tentang ‘aqidah KeTuhanan, yang dikatakannya, bahwa fatwanya itu adalah Madzhab Salaf.

Beliau memperinci dasar-dasar madzhab itu, mengarang buku-buku tentang apa yang dinamakannya Madzhab Salaf, dan menyiarkan seluas-luasnya kepada Ummat Islam di pelosok dunia.

Jadi, apa yang dinamakan “Madzhab Salaf itu pada hakikatnya adalah Madzhab Ibnu Taimiyah yang dikatakannya Madzhab Salaf, atau dengan kata lain boleh disebut Madzhab Salafnya Ibnu Taimiyah.

POKOK-POKOK PENGAJIAN MADZHAB SALAFNYA IBNU TAIMIYAH.

Dalam kitab-kitab karangannya, yaitu kitab “Aqidah al Wa Sithiyah, Munazharah fil ‘Aqidah al wasithiyah,’Aqidah al Hamawiyah al Kubra dan lain-lain, cetakan Muhd. Ali Sabih, Kairo 1966 M, Ibnu Taimiyah menerangkan dasar-dasar pokok dari pengajiannya, terutama dalam soal mengartikan ayat-ayat mutasyabih.

Kesatu

Di antara dasar pengajiannya dikatakan:

Artinya : Memperlakukan/mengartikan Ayat-ayat dan Hadits-hadits yang bertalian dengan Sifat Tuhan menurut lahirnya (sebagai yang tertulis), dengan catatan meniadakan bentuk dan keserupaan Tuhan dengan makhluk (Lihat Munazharah fil ‘Aqidah al Wasithiyah, hal. 416).

Kedua

Ibnu Taimiyah berkata :

Artinya : Iman dengan Allah ialah mempercayai sifat-sifat Tuhan sebagaimana yang diterangkanNya dan yang diterangkan RasulNya, dengan tidak membelokkan, tidak meniadakan, tidak merupakan, dan tidak menyerupakan.

Maksudnya ini meniadakan ta’wil, yaitu memalingkan lafazh dari lahirnya, baik ta’wil wajib atau ta’wil harus. (Majmu’ah Rasailul Kubra, hal. 415)

Ketiga

Perkataan Imam Malik :

Artinya : Istimewa telah dikenal, Kaifiatnya tidak diketahui dan bertanya-tanya dalam soal itu bid’ah (Munazharah fil Aqidah al wasithiyah halaman 416).

Maka sesuai dengan dasar-dasar itu, Ibnu Taimiyah mengeluarkan fatwa dalam ‘aqidah usuluddin, menyiarkan, mempropagandakan dengan gigih dan mempertahankannya mati-matian.

Fatwa-fatwa itu adalah :

  1. Tuhan Allah duduk bersela mantap di atas ‘Arsy.

  2. ‘Arsy itu di atas langit yang tujuh, dus Tuhan Allah itu duduk di atas ‘Arsy dan di atas langit yang tujuh.

  3. Tuhan Allah berada dijihat atas, boleh ditunjuk dengan telunjuk ke atas.

  4. Tuhan Allah mempunyai muka.

  5. Tuhan Allah mempunyai mata dua atau bermata banyak.

  6. Tuhan Allah bertangan dua.

  7. Tuhan Allah mempunyai anak jari banyak.

  8. Tuhan Allah mempunyai kaki dan tumit.

  9. Tuhan Allah berada di langit dan turun tiba-tiba malam ke langit dunia (langit yang dekat ke dunia).

  10. Tuhan datang dan pergi.

  11. Tuhan marah dan ketawa

  12. Tuhan Allah berjalan dalam naungan awan.

  13. Tuhan Allah bersama manusia dimana saja manusia berada.

  14. Muka Tuhan serupa dengan muka Nabi Adam.

  15. Hijir Aswad tangan kanan Allah di bumi.

  16. Tuhan mempunyai nyawa.

  17. Dan lain-lain.


Tetapi, kata Ibnu Taimiyah, sifat-sifat Tuhan yang serupa itu tidak serupa dengan yang ada pada makhluk, Maha suci Tuhan akan serupa dengan Makhluk.

Dan barangsiapa yang menta’wilkan atau mentafsirkan Ayat-ayat atau Hadits-hadits yang bertalian dengan sifat-sifat Tuhan, maka orang itu adalah orang yang tersesat, dikutuk, dan harus ditaubatkan.

Dalil-dalil yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah untuk memperkuat faham Madzhab Salafnya adalah Ayat-ayat dan Hadits-hadits yang diartikannya sercara harfiah, yakni menurut lahir lafazhnya saja, yaitu :

Kesatu

Tuhan berfirman :

Terjemahannya : Tuhan Yang Rahman bersela mantap di atas ‘Arsy (Surat Thaha: 5).

Artinya “istawa”, menurut Ibnu Taimiyah, ialah duduk bersela mantap, sebagaimana biasa disebut oleh orang ‘Arab :

Terjemahannya : Duduk bersela mantap seorang laki-laki di atas punggung untanya (Kamus Mukhtar Shihah, hal. 566).

Kedua

Ada dalil yang mengatakan begini, kata Ibnu Taimiyah :

Tuhan Allah di langit, di atas ‘Arsy. ‘Arsy itu  di atas langit yang tujuh (Lihat kitab Hamawiyah al Kubra, hal. 452).

Jadi Tuhan Allah duduk di atas langit.

Ketiga

Dalam Khutbah Haji Wada’ di ‘Arafah Nabi berkata :

Artinya : Hei, apakah saya sudah menyampaikan ?

Maka dijawab oleh ummat : “sudah”.

Lalu Nabi mengangkat anak jarinya ke langit (menunjuk ke atas), dan memutar kepada mereka, sambil mendo’a : Ya Allah, saksikanlah.

Dalam hadits ini dinyatakan bahwa Nabi menunjukkan tangan beliau ke langit ketika berdo’a. Ini satu tanda, bahwa Tuhan itu di langit, kata Ibnu Taimiyah.

Keempat

Tuhan berfirman :

Artinya : Sekalian yang berada di dunia akan lenyap, dan kekal ialah hanya “Muka Tuhan” yang punya sifat Kebesaran dan Kemuliaan (Ar Rahmaan : 26-27).

Ini satu dalil, kata Ibnu Taimiyah, bahwa Tuhan itu mempunyai muka.

Kelima

Artinya : Dan buatlah perahu itu dengan Mata Kami dan Wahyu Kami (Hud : 37)

Ayat ini menyatakan, bahwa Tuhan mempunyai mata, kata Ibnu Taimiyah.

Keenam

Tuhan berfirman :

Artinya : Tangan Tuhan Allah di atas tangan mereka (Al Fath : 10).

Dan dalam satu hadits ada Nabi mengatakan, bahwa Tangan Tuhan itu dua. Tuhan Allah mempunyai tangan dua, kata Ibnu Taimiyah.

Ketujuh

Tersebut dalam Hadits :

Artinya : Bahwasanya hati manusia terletak diantara dua anak jari dari anak-anak jari Tuhan.

Tuhan Allah itu mempunyai anak jari, kata Ibnu Taimiyah.

Kedelapan

Tersebut dalam Hadits :

Artinya : Meletakkan Tuhan akan tumitNya ke dalam Neraka.

Tuhan Allah mempunyai Tumit, kata Ibnu Taimiyah.

Kesembilan

Tersebut dalam Al Qur’an :

Artinya : Apakah kamu berasa aman terhadap Siapa (Tuhan) yang di langit, bahwa kamu akan ditenggelamkannya ke dalam bumi, yang ketika itu bergoncang keras (Al Mulk : 16).

Dalam ayat ini dinyatakan, kata Ibnu Taimiyah, bahwa Tuhan itu di langit.

Kesepuluh

Tersebut dalam satu Hadits :

Artinya : Berkata Nabi Muhammad SAW : Tuhan kita, Maha Suci Ia, turun tiap-tiap malam ke langit dunia. Hadits ini sahih riwayat Bukhari.

Jadi, Tuhan Allah itu turun ke langit dunia tiap-tiap malam, kata Ibnu Taimiyah.

Kesebelas

Ibnu Taimiyah melanjutkan :

Tuhan berfirman :

Artinya : Tiada suatu juga yang menyerupai Dia (As Syura :11).

Oleh karena itu, kata Ibnu Taimiyah, duduk Tuhan di atas langit, Muka Tuhan, Mata Tuhan, Tangan Tuhan, Anak jari Tuhan, Tumit Tuhan, Adanya Tuhan di langit, Turunnya Tuhan ke langit dunia tiap-tiap malam mesti diakui.

Tetapi semuanya itu, baik bentuknya, baik kaifiatnya, baik tubuhnya tidak serupa dengan makhluq, Maha suci Tuhan akan serupa dengan makhluq.

Demikianlah kesimpulan fatwa Ibnu Taimiyah yang tertulis dalam bukunya, walaupun Ibnu Bathutah melaporkan bahwa Ibnu Taimiyah pernah berkata di atas mimbar mesjid Bani Umaiyah di Damsyik, bahwa duduk dan turun Tuhan serupa dengan duduk dan turun Ibnu Taimiyah.

Aliran Salaf dan Aliran Khalaf

Pada zaman terakhir timbul istilah-istilah “Ahlus Salaf (orang salaf), “Qaulus Salaf” (perkataan orang salaf) “thariqatus Salaf” (aliran orang Salaf) dalam membicarakan masalah Ushuluddin. Tetapi sejarah tidak mencatat dengan pasti bila istilah-istilah itu muncul dan siapa yang  membuat istilah istilah itu.

Ada kemungkinan istilah-istilah ini muncul pada abad ke IV Hijriah.

Imam Ghazali (lahir 450H – wafat 505H), telah mempergunakan istilah-istilah ini dalam kitabnya “Iljamul Awam fi Ilmil Kalam”, yaitu kitab yang paling akhir dikarangnya atau yang paling akhir kitab tauhid yang dikarangnya.

Sesudah zaman Imam Ghazali banyak sajalah ulama-ulama Ushuluddin dan ulama-ulama Tafsir menyebut dalam kitab-kitabnya perkataan “Thariqatus Salaf” (Aliran Orang Terdahulu), Thariqatul Khalaf (Aliran Orang Terkemudian).

Kami selanjutnya akan memakai juga istilah itu, yaitu istilah Aliran Salaf dan Aliran Khalaf, dengan arti sebagai berikut:

  1. Aliran Salaf ialah cara-cara sebagian orang Salaf, yaitu Sahabat-sahabat Nabi, Tabi’i  dan Tabi’i Tabi’in, dalam menafsirkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang mutasyabih.

  2. Aliran Khalaf ialah cara-cara sebagian orang Khalaf, yaitu ulama-ulama yang hidup dibawah tahun 300H, dalam menafsirkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang mutasyabih.


Imam Badaruddin Zarkasy (lahir : 745H – wafat : 794H) menerangkan dalam kitabnya “Al Burhan fi ‘Ulumil Quran” begini artinya: ‘Sesungguhnya telah terjadi perbedaan pendapat dalam mengartikan ayat-ayat mutasyabih atas 3 aliran :

  1. Golongan yang pertama yang memperlakukan ayat-ayat itu menurut lafazhnya yang lahir saja, tidak boleh dita’wilkan sedikitpun. Cara yang begini dianut oleh firqah Musyabbihah (firqah yang beri’tiqad bahwa Tuhan itu dapat serupa dengan makhluq).

  2. Golongan yang kedua ialah golongan yang berpendapat bahwa ayat-ayat yang mutasyabih itu mesti dita’wilkan, yaitu dialihkan artinya ke arti lain, tetapi apa “arti lain” itu kita tidak tahu, serahkan saja kepada Tuhan yang paling mengetahui, tetapi  kita tetap mengi’tiqadkan bahwa Tuhan itu Maha Suci dari akan menyerupai makhluk dan Maha Suci dari akan tidak mempunyai sifat. Cara yang begini adakah aliran orang-orang Salaf..

  3. Golongan yang ketiga ialah golongan orang-orang Khalaf yang menta’wilkan ayat-ayat mutasyabih, yaitu mengalihkankan artinya ke arti lain yang layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Golongan yang pertama adalah aliran batil, sedang aliran yang kedua dan ketiga bersumber diambil dari sahabat-sahabat Nabi.

Golongan  yang kedua diambil dari Ummu Salamah Rda, sedang Golongan  yang ketiga diambil dari Saidina ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas dll Radhiyallahu ‘anhum (Al Burhan fi Ulumil Quran, juz II, halaman 78 dan 79)

Demikian keterangan Imam Badaruddin Zarkasyi, seorang ulama terbesar pada akhir abad ke VIII H.

Dapat diterangkan lebih lanjut, bahwa golongan yang pertama adalah golongan “Musyabbihah” atau kadang-kadang disebut golongan “Mujasimah”, ya’ni golongan orang-orang yang berpendapat, bahwa Tuhan itu bisa serupa dengan makhluq, dengan kita ini.

Kata mereka : Tuhan Allah mempunyai tangan serupa dengan tangan kita, mempunyai muka serupa dengan muka kita, mempunyai mata serupa dengan mata kita, mempunyai kaki serupa dengan kaki kita dll.

Di dalam Al Quran – kata mereka – ada dalil-dalil yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai tangan, mempunyai muka, mempunyai mata, dan mempunyai rusuk dan didalam hadits-hadits ada dikatakan, bahwa Tuhan itu mempunyai kaki, mempunyai anak jari, mempunyai nyawa dan lain-lain serupa manusia.

Mereka, kaum musyabbihah, mengartikan ayat-ayat dan hadits-hadits yang bertalian dengan sifat Tuhan secara harfiyah, menurut lafazhnya yang tersurat saja.

Faham Kaum Musyabbihah ini, menurut Imam Badaruddin Zarkasyi, pengarang kitab “ Al Burhan fi ‘Ulumil Quran” adalah faham bathil, faham salah dan sesat karena menentang ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits yang mengatakan bahwa Tuhan ‘Azza wa Jalla tidak serupa dengan mahluk.

Tuhan berfirman dalam Al Qur’an:

Artinya : Tiada sesuatu juga menyerupai Dia (As Syura:11)

Golongan kedua dimasyhurkan dengan nama “Aliran Salaf (aliran orang-orang yang terdahulu), walaupun pada hakikatnya tidak semua orang terdahulu berfaham begitu.

Yang menganut faham ini adalah sahabat-sahabat Nabi serupa Ummu Salamah (Isteri Nabi),Imam Malik bin Anas (Tabi’in), Sofyan Tsuri (Tabi’in) dan lain lain

“Aliran Salaf” ini berpendapat, bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits yang bertalian dengan sifat Tuhan, mesti dita’wilkan dan dialihkan artinya ke arti-lain, tetapi apa “arti lain” kita tidak perlu tahu, kita serahkan 100% kepada Tuhan, dengan pengertian bahwa kita selalu beri’tiqad bahwa Tuhan Maha Sucir daripada akan serupa dengan mahlukNya. Ta’wil aliran salaf ini dinamai “Ta’wil Ijmali” , yaitu Ta’wil secara umum.

Golongan yang ketiga ialah golongan yang berpendapat bahwa, ayat-ayat dan hadits-hadits yang mutasyabihaat mesti dita’wilkan sama juga dengan pendapatan Aliran Salaf, tetapi ta’wilnya itu diterangkan seterang-terangnya. Ta’wil ini dinamai ta’wil Tafsili, ta’wil secara terperinci.

Golongan ketiga dimasyurkan namanya dengan Aliran Kalaf (aliran orang-orang terkemudian), walaupun pada haikiatnya tidak semua orang yang hidup terkemudian berfaham begitu.

Sumber dari faham aliran khalaf, sebagai yang dikatakan Imam Zarkasyi, adalah dari sahabat-sahabat Nabi juga, yaitu dari Saidina Ali, dari Ibnu Abbas, dari Ibuny Mas’ud dan lain lain

Ditegaskan sekali lagi, baik aliran salaf maupun aliran khalaf  tidak mengartikan ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabihaat secara harfiah menurut lafazhnya yang lahir, tetapi keduanya sama-sama menta’wilkan. Hanya perbedaannya, aliran Salaf tidak menerangkan secara terang-terangan Ta’wilnya, tetapi aliran halaf menerangkan ta’wilnya seterang-terangnya.

Hal ini diterangkan dalam kitap tauhid ”Tuhfatul Murid Syarah Jauharatut-tauhid” karangan Syeikh Ibrahim al Bajuri begini:

Artinya : maka jelaslah dari uraian kami diatas , bahwa”aliran salaf “ dan” aliran khalaf sepakat untuk menta‘wilkan secara ”ijmali”, yaitu menglihkan arti nash – nash yg seolah –olah sebangai menunjukkan sesuatuhal yg mustahil bagi Allah SWT, tetapi mereka (salaf dan khalaf ) berbeda pendapat antara diterangkan ta’wilnya atau tidak diterangkan (Tuhfatul Murid hal.54).

Selanjutnya kitab “Tuhfatul Murid” mengatakan:

Artinya: kesimpulan

Kalau terdapat dalam ayat Quran atau hadist-hadist  Nabi sesuatu yang seolah-olah menyatakan bahwa Tuhan ada di suatu tempat ,atau Tuhan bertubuh ,atau Tuhan berupa ,atau Tuhan beranggota ,telah sepakat Ahlul Haqqi (maksudnya Kaum Ahlus Sunah waljama’ah) dan lain untuk menta‘wilkan yang demikian, karena Tuhan maha suci dan bersih dari akan bersifat dengan dengan sifat yang disebutkan dalam arti yang lahir dari ayat-ayat dan hadits-hadits itu (Tuhfatul Murid hal.54)

Dari uraian Syeikh Ibrahim al Bajuri, seorang ulama tauhid yang terbesar dalam abad terakhir, dapat diiambil kesimpulan, bahwa:

a. aliran Salaf dan Khalaf sepakat untuk menta’wilkan ayat-ayat yang mutasyabih.

b. aliran Salaf menta’wilkan secara ”ijmali”, yaitu ta’wil secara umum, yakni tanpa menerangkan ta’wilnya tetapi alrian khalaf menta’wilkan secara ”tafsili”, yaitu ta’wil secara terperinci sebagai dikatakan diatas.

Umpamanya perkataan dalam surat al Fatah:10 yang kalau diartikan secara harfiyah adalah ”Tangan Tuhan”, tapi aliran Salaf mengartikan: itu tidak tahu artinya. Apa artinya diserahkan saja kepada Tuhan, Maha Suci Tuhan akan serupa dengan makhluk.

Aliran khalaf bahwa makna disini adalah ”kekuasaan”. Maka maknanya yang benar dari ayat ini adalah: ”kekuasaan Tuhan diatas mereka.”

Untuk lebih jelas permasalahannya dibawah ini dibuat Tanya jawab yang bertalian dengan ta’wil ayat-ayat qur’an suci.

Tanya

Apakah boleh ayat-ayat quran dita’wilkan, yakni dialihkan maknanya  ke makna lain. Kalau boleh siapakah yang berhak menta’wilkan itu?

Jawaban

Boleh saja, kalau dibutuhkan.

Yang berhak mentawilkan itu adalah :

  1. Quran juga,karena Quran itu tafsir-mentafsirkan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

  2. Nabi Muhammad Saw, karena beliau diutus oleh Tuhan, selain menyampaikan risalah kerasulan, juga diberi tugas untuk menafsirkan, menta’wilkan dan menjelaskan arti dan maksud ayat-ayat Quran itu yang sesuai dengan tujuan Tuhan yang sebenarnya.

  3. Para sahabat nabi,yaitu orng-orang yang dekat kepada nabi, yang tahu sebab-sebab turunnya ayat-ayat, tahu maksud ayat sebenarnya yang ditermanya dari nabi, tahu kapan ayat-ayat itu diturunkan, malam atau siang, dimana ayat-ayat diturunkan di Mekah atau di Madinah, tahu bahasa Arab yang murni yang mana Quran diturunkan dalam bahasa itu.


Para sahabat yang terkemukan dalam menafsirkan quran adalah : Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin ‘abas (ibnu ‘abbas), Anas bin Malik, Abdullah bin Mas’ud (ibnu mas’ud), Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar (Ibnu Umar), Abdullah bin ‘Amr, Siti ‘Aisyah Ummul mu’minin, dan lain-lain, Radhiyallahu’anhum ajma’in.

d.  Para tabi’in yaitu orang-orang yang berjumpa dan mengambil ilmu agama dari sahabat nabi. Para tabi’in itu adalah orang-orang yang masih sangat dekat kepada nabi, karena jamannya belum begitu jauh. Jalan pikirannya dan ilmunya masih sangat murni, tidak ada beda dengan jalan pikiran Nabi dan sahabat nabi.

Orang-orang ini yang terkemuka dalam menafsirkan Quran adalah: Hasan Basri, Mujahid, Sa’id bin Jubeir, Alqamah, ‘Ikrimah, Dhahak, ‘Atha bin Abi Rabah, Qutadah, Mutaqil, Muhammad bin Zaid, Ali bin Abi Thalhah, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslanm, Suddi al Kabir, Abu Abdirrahman as Sulami dan lain-lain.

Demikianlah yang dapat menta’wilkan atau mentafsirkan ayat-ayat Quran.

Tafsir atau ta’wil dari yang lain, yang menyimpang (dari tafsir Quran sama Quran, tafsir Nabi, tafsir Sahabat, tafsir Tabi’in) tidak diterima, karena dianggap “Tafsirbir Ra’yi’”, yakni tafsir dengan “pendapat” saja.

Perhatikanlah dalil-dalil yang dibawah ini:

Kesatu:

Ada firman Tuhan dalam Al Qur’an  begini bunyinya:

Artinya: Tuhan yang menurunkan Quran atasmu. Diantara isinya ada yang Muhkamaat(terang maksudnya) dan ada pula yang Mutasyabihaat (samar-samar, tidak langsung maksudnya). Adapun orang yang cenderung  hatinya kepada kesalahan diturutnya saja arti yang samar-samar itu, tersebab mereka hendak mencari fitnah  dan mencari kesalahan pengertian (mengartikan menurut pendapatnya sendiri).

Tidak ada yang mengetahui ta’wilnya  itu kecuali Allah dan orang yang dalam ilmunya. Mereka berkata: kami iman kepada itu, semuanya datang dari Allah, Tuhan kami, dan yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang yang mengerti,  yang mempunyai ilmu (Al Imran: 7)

Jelas dalam ayat ini dinyatakan bahwa Tuhan  dan orang yang dalam ilmunya mengerti makna ayat-ayat Mutasyabih itu.

Jelas dalam ayat ini disebutkan bahwa mengetahui ta’wil ayat-ayat Mutasyabih hanyalah Tuhan dan orang-orang yang dalam ilmunya dalam menafsirkan Quran adalah Nabi, Sahabat-Sahabat beliau dan para  Tabi’in.

Kedua

Tersebut dalam Hadits Bukhari begini bunyinya:

Artinya: dari Abdillah (bin Mas’ud) Rda.  Beliau berkata : tatkala turun ayat yang berarti : “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanan dengan zhulm (aniaya) (mereka memperoleh keimanan dan itulah orang-orang yang diberi hidayah (Al an’am:82)”, setelah turun ayat ini ada diantara Sahabat - Sahabat Nabi yang merasa kesusahan, sehingga mereka bertanya-tanya sesama mereka: Siapakah diantara kita yang tidak menganiaya diri dengan  membuat dosa?  lalu Nabi menjawab: bukan begitu, bukanlah sebagai yang kamu sangka. Ayat itu hanya sebagai yang dikatakan oleh Luqman kepada anaknya : Hai anakku! Janganlah kamu “syirik” kepada Tuhan, karena “syirik”  itu adalah “zhulm” yang besar (riwayat Bukhari – lihat Fathul Bari Juz 15 hal 334-335 ).

Jadi, kata: “zhulm” yang artinya pada mulanya “perbuatan aniaya” dita’wilkan oleh Nabi dengan “syirik” yakni mempersekutukan Tuhan.

Maka jadilah arti ayat ini  sesudah dita’wilkan : “Orang yang beriman dan tidak  mencampurkan keimanannya itu dengan syirik akan memperoleh keamanan dan itulah  orang yang dapat hidayah”.

Ketiga

Dalam sebuah hadits yang panjang yang tersebut dalam kitab Hadits Bukhari, bahwa Saidina Umar Rda, memanggil Ibnu Abbas berkumpul bersama Sahabat-Sahabat tertua, yaitu sahabat-sahabat yang menghadiri peperangan Badara.

Saidina Umar bertanya kepada mereka:

Artinya :

Bagaimana pendapatmu tentang ayat “apabila datang pertolongan Tuhan dan kemenangan” ?

Jawab sebagian mereka: Kita diperintah apabila datang pertolongan Tuhan dan kemenangan supaya memperbanyak Tahmid dan Tasbih.

Sebagian sahabat yang lain tidak  menjawab.

Dan engkau hai Ibnu Abbas, Bagaimana pendapatmu?

Jawabku: Tidak, bukan begitu, itu adalah ajal Rosulullah diberi tahukan sudah dekat. Apabila datang pertolongan  Tuhan dan kemenangan itu suatu tanda bahwa ajal engkau sudah dekat. Pada ketika itu tasbihlah, tahmidlah dan istighfarlah karena Tuhan itu penerima taaubat.

Lalu Saidina ‘Umar berkata : Saya baru sekarang mengetahui arti serupa itu (HSR Bukhari – Shahih Bukhari III hal 158 ).

Berkata Iman Ibnu Hajar Asqalani pada ketika mensyarahkan hadits ini, bahwa ini adalah suatu pertanda boleh menta’wilkan Quran, dengan apa yang difahamkan dari isyarat-isyarat. Yang mengerjakan yang demikian addalah orang-orang yang dalam ilmunya (Fathul Bari Syarah  Bukhari juz 10 halaman 367)

Sumber: Buku  "40 Masalah Agama", K.H Siradjuddin Abbas,  Masalah Salaf dan Khalaf  (Hal 156-165)

Tentang bagaimana Ibnu Taimiyah melakukan penafsiran Al-Qur'an dan Hadits yang sebagian pihak memberikan istilah "Pemurnian Pemahaman" dalam arti bahwa penafsiran dilakukan secara harfiah, yakni menurut lahir lafazhnya saja.  Silahkan baca Jurnal Penelitian Agama, "Pemikiran Ibn Taimiyah  Tentang Metode Penafsiran Al-Qur'an Sebagai Upaya Pemurnian Pemahaman Terhadap Al-Qur'an", H. Masyhud.

Mungkin dengan adanya "pemurnian pemahaman" atau penafsiran secara harfiah, penafsiran menurut lahir lafazhnya saja mengakibatkan umat muslim yang mengikuti cara,metode,jalan,manhaj,aliran atau mazhab salaf ala Ibnu Taimiyah terasa "kering" dalam beribadah atau mendalami agama dikarenakan "mungkin" tidak adanya "kedalaman", "ta'wil" atau "rasa" dalam teknik pemahaman/penafsiran.

Wallahu a'alam

Wassalam

Zon at Jonggol

Files terkait : pemikiran-ibnu-taimiyah-masyhud