Tampilkan postingan dengan label salafy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salafy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2011

Bagaimana mengikutinya

Sungguh bagus dan mulia motto sebagian saudara muslim kita,  yakni : "Belajar Islam Sesuai Al-Qur'an dan Sunnah Menurut Pemahaman Para Sahabat"

Cobalah periksa salah satunya http://www.alquran-sunnah.com/artikel/manhaj/94-salah-paham-tentang-salafi.html

Kami kutipkan dari situs tersebut
*****awal kutipan *****
Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbahkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih. Atau dengan kata lain “Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka”. (Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, hal. 10)
***** akhir kutipan ****

Inilah pokok kesalahpahaman selama ini yang menjadikan sebagian umat muslim gemar mentakfirkan sesama saudara muslim, terpecah belah, saling berlepas diri, saling berdebat bahkan saling bertengkar seperti kejadian di NTB

Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka

Pertanyaan sekarang adalah bagaimana cara mengikuti pemahaman dan cara beragama mereka ?

Ada tiga metode "cara mengikuti" atau penyampaian dari Salafush Sholeh yakni

1. Penyaksian langsung atau bergaul, hidup sezaman dengan para Salafush Sholeh
2. Penyampaian dari mulut ke mulut / lisan / temu muka atau dikenal dengan sanad ilmu/ pengijazahan atau bisa pula sanad silsilah (keturunan).
3. Mengikuti yang paling lemah adalah melalui tulisan / literatur karena tidak ada proses konfirmasi apa yang dipahami.

Imam Mazhab yang empat termasuk yang menggunakan metode 1 karena mereka bertemu dengan Salafush Sholeh
***** awal kutipan *****
Imam Abu Hanifah hanya berjumpa dengan 7 orang sahabat Nabi, yaitu:
Anas bin Malik, Abdullah bin Harits, Abdullah bin Abi Aufa, Wasnilan bi Al Asda, Maaqil bin Yasar, Abdullah bin Anis, Abu Thafail.

Guru-gurnya yang lain para Tabi’in. Abu Hanifah menggali hukum dari Al-Qur’an dan Hadits, baik hukum yang ditanyakan kepada beliau atau yang belum ditanyakan.

Imam Hanafi di Kufah (Ibu kerajaan Islam), tetapi Imam Maliki tinggal di Madinah, negeri yang pada ketika itu boleh dikatakan tidak ramai, hanya didiami oleh pemangku-pemangku hadits, ulama ahli tasawuf, ahli tafsir, sedang kota Kufah didiami oleh ahli-ahli politik dan ulama-ulama fungsinya.

Pemangku-pemangku hadits yaitu Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in banyak tinggal di madinah. Hal ini sangat menolong Imam Maliki dengan mudahnya dalam mengumpulkan Hadits-hadits Nabi, Sunnah Rasul.

Imam Maliki sebelum menjadi Imam Mujtahid Muthlaq telah menghafal hadits-hadits sahih sejumlah 100.000 hadits yang dikumpulkan dari gurunya.

Hadits yang 100.000 itu diteliti lagi oleh beliau, diteliti matannya, diteliti pemangkunya, dicocokan isinya dengan Al-Qur’an dan kalau kedapatan agak lemah maka hadits itu ditinggalkannya dan tidak pakai untuk dasar hukum.

Imam Syafi’I sebagai dimaklumi adalah seorang yang sering pindah-pindah tempat tinggal dari satu negeri ke negeri lain.

Beliau tinggal di Mekkah dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, kemudian pindah ke Madinah dan bergaul juga dengan seluruh Tabi’in, pndah lagi ke Yaman dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, pindah ke Iraq dan bergaul dengan seluruh Tabi’in, pindah ke Persia, kembali lagi ke Mekkah, dari sini pindah lagi ke Madinah dan akhirnya ke Mesir.

Perlu dimaklumi bahwa perpindahan beliau itu bukanlah untuk berniaga, bukan untuk turis, tetapi untuk mencari ilmu, mencari hadits-hadits, untuk pengetahuan agama.

Jadi tidak heran kalau Imam Syafi’I Rhl, lebih banyak mendapatkan hadits daripada Tabi’in yang lain, melebih dari yang didapat oleh Imam Hanafi dan Imam Maliki.

Ilmu beliau pun lebih banyak dari kedua Imam sebelumnya karena beliau banyak melihat, banyak mendengar, banyak bergaul dengan bangsa-bangsa lain bukan Arab (dari Persia, Turki dll).

Hadits-hadits dicari beliau kemana-mana. Para Tabi’in yang telah berjauhan tempat tinggalnya dijumpai dan ditemui bliau. Oleh karena itu beliau banyak sekali mendapat Hadits.

Imam Hanbali belajar Tafsir, Hadits, Tasauf dan lain-lain, yaitu kepada murid-murid Imam Abu Hanifah dan lain-lain, juga kepada Imam Syafi’I Rhl, ketika beliau berada di Bagdad.

Imam Hanbali kemudian sampai derajat ilmunya kepada Mujtahid yang bisa berijtihad sendiri, lepas dari ijtihad guru-gurunya. Sebagai bukti atas ke’aliman beliau adalah sebagai yang diceritakan oleh anak beliau sendiri Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa, “ayahku telah menghafal diluar kepala 10.000.000 (sepuluh juta).

Di dalam kitab al Masnad karangan Imam Ahmad bin Hanbal yang kemudian terkenal dengan nama Masnad Ahmad bin Hanbal dikumpulkannya empat puluh ribu (40.000) hadits, yaitu hadits-hadits yang disaringnya dari yang 10.000.000 itu.

Selengkapnya silahkan baca arsip pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/03/madzhab-empat/
***** akhir kutipan *****

Jadi Imam Mazhab yang empat menggunakan metode yang paling shahih dalam mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, tabi'in, tabi'ut tabi'in

Lalu bagaimana metode yang dipergunakan oleh para syaikh/ulama/ustadz yang mengaku menisbatkan kepada Salafush Sholeh ?

Pada umumnya dengan metode 3 yakni melalui tulisan , mereka memahami melalui tulisan tanpa dapat konfirmasi sehingga bercampur dengan pemahaman mereka sendiri. Tepatlah apa yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Sarwat Lc sbb:
*****awal kutipan *****
Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa seorang Al-Albani ketika membaca Quran dan Sunnah, lalu dia pun berjtihad dengan pendapatnya. Apa yang dia katakan tentang Quran dan Sunnah, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu dia sendiri. Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang dia sampaikan semata-mata lahir dari kepalanya sendiri.

Sayangnya, para pendukung Al-Albani diyakinkan bahwa yang keluar dari mulut Al-Albani itulah isi dan makna Quran yang sebenarnya. Lalu ditambahkan bahwa pendapat yang keluar dari mulut para ulama lain termasuk pada imam mazhab dianggap hanya meracau dan mengada-ada. Naudzu billahi min dzalik.

Disinilah letak ketidak-adilan para pendukung Al-Albani. Seolah-olah mereka mendudukkan Al-Albani sebagai orang yang paling mengerti dan paling tahu isi Quran dan Sunnah. Apa pun yang dikatakan Al-Albani tentang pengertian Quran dan Sunnah, dianggap kebenaran mutlak. Sedangkan kalau ada ulama lain berbicara dengan merujuk kepada Quran dan Sunnah juga, dianggap sekedar ijtihad dan penafsiran.

Padahal kapasitas Al-Albani yang sebenarnya bukan ahli tafsir, juga bukan ahli fiqih. Bahkan sebagai ahli hadits sekalipun, banyak para ulama hadits di masa sekarang ini yang masih mempertanyakan kapasitasnya. Sebab secara tradisi, seorang ahli hadits itu idealnya punya guru tempat dia mendapatkan riwayat hadits. Al-Albani memang tidak pernah belajar hadits secara tradisi lewat perawi dan sanad, sebagaimana umumya para ulama hadits. Al-Albani hanya sekedar duduk di perpustakaan membolak-balik kitab, kemudian tiba-tiba mengeluarkan statemen-statemen yang bikin orang bingung.
Selengkapnya silahkan baca arsip tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/07/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

*****akhir kutipan*****

Lalu bagaimana dengan Syaikh Ibnu Taimiyah (yang diakui sebagai “guru” oleh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, pendiri Salafi Wahabi).

Zaman kehidupan Syaikh Ibnu Taimiyah jauh terpaut dengan imam-imam mazhab, tentu hadits sampai kepada beliau tidak melalui pergaulan dengan tabi’in atau tabi’ut tabi’in sekalipun.

Hadits “sampai” kepada Syaikh Ibnu Taimiyah pertama kali dari Syihabuddin (bapaknya) seorang ulama muqolid, pengikut Mazhab Hanbali dan selanjutnya melalui guru/ulama yang diikuti oleh Syaikh Ibnu Taimiyah. Syaikh Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya memahami Al-Qur'an dan Hadits secara dzahir/harfiah/tersurat, kami memberi nama metodology "terjemahkan saja" .

Dengan metodology inilah beliau menjelaskan dan menyebarluaskn konsep Tauhid jadi tiga, seperti Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti secara dzahir/harfiah/tersurat , yang telah dikenal/dipahami di kalangan manusia.

Dalih metodology pemahaman mereka adalah firman Allah yang artinya,
“dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS Asy Syu’ara’ [26]: 195).

Padahal ada firman Allah ta’ala pada ayat lain yang menerangkan bahwa walaupun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten (ahlinya). “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)
Selengkapnya silahkan baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Oleh karena metodologi "terjemahkan saja",  i'tiqad Syaikh Ibnu Taimiyah antara lain adalah
"Allah Azza wa Jalla bertempat di atas arasy"
"Allah Azza wa Jalla, punya tangan, kaki,dll namun tidak serupa dengan makhluk"

Ada keterengan sebenarnya Syaikh Ibnu Taimiyah telah bertobat dengan i'tiqad tsb, cuma kebenarannya perlu dikaji dahulu
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/waspadai-wahhabi/

Lalu bagaimana sampainya dari Syaikh Ibnu Taimiyah kepada Syaikh Muhammad bin AbdulWahhab yang zaman hidupnya beratus tahun setelah wafatnya Syaikh Ibnu Taimiyah ?
Tentulah melalui upaya pemahaman melalui guru/ulama yang diikuti oleh beliau.

Inilah yang kami sampaikan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab “mengangkat” kembali pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah. Dalam penyiaran pemahamannya Syaikh Muhammad bin Abdulwhahab bersekutu dengan penguasa Muhammad bin Sa’ud pendiri dinasti/kerajaan Saudi.

Seorang pengunjung blog kami menyampaikan bahwa ustadz mereka mengajak orang-orang yang menuduh Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab membawa pemahaman baru, untuk menunjukkan satu saja perkataan Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab yang tidak didahului oleh ulama’-ulama’ sebelum beliau.”

Ada kesalahpahaman selama ini yang tidak disadari bahwa seolah-olah Syaikh/Imam kaum Salafi/Wahabi tidak membawa pemahaman baru atau tidak melakukan pemahaman (ijtihad). Sesungguhnya setiap kita menyatakan pendapat dan mengambil firman Allah atau hadits Rasulullah sesungguhnya termasuk kedalam upaya pemahaman (ijtihad)

Contohnya dalam sebuah forum diskusi,  ada salah satu peserta diskusi yang mengaku bukan pengikut Salafi Wahabi (mungkin seorang pendukung) namun dia mengaku paham minhaj ilahi, “memperbolehkan” dirinya menghujat ataupun mengolok-olok saudara muslim lain dalam forum diskusi (menurut pemahaman dia) berdasarkan firman Allah antara lain,

“atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” (QS Al Furqan [25]:44 )

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.” (QS Al Anfaal [8]: 22 )

“Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti” [QS Al Baqarah [2]:171 )

Benarkah kaitan firman Allah dengan pendapat dia ?
Inilah contoh upaya pemahaman (ijtihad).
Jelaslah bahwa pemahaman yang disampaikan saudara kita itu bukanlah pemahaman Salafush Sholeh.

Disinilah kesalahpahaman pengikut kaum yang menisbatkan kepada manhaj Salaf. Apapun yang disampaikan oleh syaikh/ulama mereka maka para pengikutnya menganggap pastilah itu pemahaman Salafush Sholeh , sedangkan ulama/syaikh diluar kaum mereka pastilah bukan pemahaman Salafush Sholeh.

Jadi ketika kita menyatakan pendapat dan berhujjah dengan nash-nash Al-Qur’an dan hadits, atau pendapat-pendapat ulama salaf/terdahulu termasuk upaya pemahaman (ijtihad)

Syaikh/Ulama Salafi/Wahabi yang menyertakan nash-nash Al Qur’an, Hadits, dan pendapat-pendapat ulama salaf/terdahulu, yang terkait pendapat mereka adalah termasuk upaya pemahaman (ijtihad).

Oleh karenanya kami sampaikan dalam tulisan terdahulu
***** awal kutipan *****
Salafy adalah saudara-saudara kami yang seolah-olah terhipniotis atau terindoktrinisasi oleh ulama/syaikh/ustadz mereka bahwa mereka berpemahaman sebagaimana Salafush Sholeh dan merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Hadits sehingga apapun yang disampaikan atau ditetapkan/difatwakan oleh ulama/syaikh/ustadz mereka adalah pasti benar sedangkan disisi lain mereka berseru bahwa imam madzhab adalah tidak ma’sum.

Salafy adalah saudara-saudara kami yang terhipnotis bahwa ulama/syaikh/ustadz mereka adalah mereka yang berkemampuan bahasa arab yang tinggi dan pastilah mereka dapat memahami Al-Qur’an dan Hadits dengan baik dan benar.

Salafy adalah saudara-saudara kami yang diibaratkan “terkukung dalam tempurung” karena diidoktrin jangan bergaul dengan ustadz/syaikh/ulama yang menurut mereka ahlul bid’ah , padahal mereka tidak memahami tentang bid’ah dengan baik

Arsip tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/18/peduli-salafy/
*****akhir kutipan *****

Wahai saudaraku Wahhabi / Salafi periksalah hasil kajian atau temuan seorang ustadz tentang seputar Salafy Wahhabi pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/waspadai-wahhabi/
Biar antum sekalian dapat memahami keadaan antum sebenarnya.

Sungguh kami bukan salah paham tentang salafi. Juga kami tidaklah membenci kalian namun kami peduli kepada antum sekalian dengan semangat persaudaraan sesama manusia yang telah bersyahadat. Kepedulian kami karena Allah Azza wa Jalla semata.


Kembalilah kepada ulama/syaikh/ustadz negeri kita sendiri yang tidak tercemar dengan paham Wahhabi/Salafi.

Hal yang perlu dingat selalu ketika kita berguru dan untuk intropeksi diri adalah
Semakin berilmu seorang hamba, semakin ia merunduk
Semakin bodoh seorang hamba, semakin kepalanya tegak.


Semoga Allah Azza Wa Jalla, memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Di manakah Rasulullah

***** awal kutipan *****
Siapa saja yang mati di atas keyakinan seperti ini, yakni meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah manusia biasa alias bukan dari Bani Adam atau meyakini bahwa beliau mengetahui hal yang ghaib; maka ini adalah keyakinan kufur yang pelakunya dianggap sebagai orang kafir karena melakukan kekufuran yang besar
Sumber: http://tamanqolbi.wordpress.com/2010/12/09/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa-rasulullah-bukan-manusia-biasa/ atau
http://fatwaulama-online.blogspot.com/2008/03/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa.html
*****akhir kutipan ****

Kami tertarik mengangkat fatwa/ketetapan Syaikh Ibnu Baz yang merupakan dasar pentakfiran bagi mereka, ada dua kriteria di sana berdasarkan adanya kata hubung "atau".

Pertama, pentakfiran berdasarkan "siapa yang meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah manusia biasa alias bukan dari Bani Adam"

Kedua, pentakfiran berdasarkan "siapa yang meyakini bahwa beliau mengetahui hal yang ghaib"

Jika salah satu terpenuhi maka bagi Syaikh Ibnu Baz adalah pelakunya dianggap sebagai orang kafir karena melakukan kekufuran yang besar.

Untuk kriteria kedua jelas fatwa/ketetapan tersebut bisa dibantah dengan
Dibukakan rahasia kegaiban kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. sebagaimana firman Allah swt.; “Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27).

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“. (QS Al Isra [17]:85 )

Sedangkan untuk kriteria pertama ada kalimat "alias bukan dari Bani Adam". Namun kita belum tahu apa maksud perkataan "alias bukan dari Bani Adam" disandingkan dengan "siapa yang meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah manusia biasa" karena "bukan dari Bani Adam" sudah tidak perlu diperbincangkan lagi.
Namun pertanyaan sesungguhnya apakah Rasulullah itu manusia biasa atau manusia sempurna (insan kaamil).

Kami teringat sebuah keterangan adanya seorang murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan bahwa “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali".
Mohon maaf tulisan di copy paste secara utuh dan dari sumbernya memang tidak terulis Shallallahu Alaihi Wasallam, mohon ampunannya ya Allah, ya Rasululllah, ya Habibullah.

Kalau kami perhatikan para peziarah makam baginda Rasulullah, mulai tampak seperti ibadah ritual fisik semata bahkan sebagian muslim mengatakan bahwa ibadah haji adalah ritual fisik yang memerlukan bekal fisik yang kuat.

Sehingga saudara muslim kita dari malaysia menuliskan curahan hatinya mengenai suasana di dua tanah suci pada blognya silahkan baca http://ibnunajm.blogspot.com/2010/12/10-sebab-kenapa-wahabi-dikatakan.html

Ini cuplikannya
"Hudaibiyah adalah tempat sejarah yang pasti dilawati oleh sesiapa yang ke Mekah. Kejadian yang merupakan strategi paling licik oleh Allah dan Rasul keatas para penentangNya. Perjanjian yang dibuat untuk menipu Allah dan Rasul akhirnya menjadi senjata makan tuan. Islam menang besar hasil menandatangani perjanjian Hudaibiyah oleh Rasulullah SAW terhadap Kafir Quraisy. Sedangkan sejarah Ashabul Kahfi pun masih dibesarkan orang di Amman, inilah pula Hudaibiyah.

Sepatutnya tentulah sebuah muzium besar yang cukup gah dibangunkan di sekitar tempat kejadian terutama perigi dimana Rasulullah SAW meludah kepadanya hingga keluar air!

Tapi kenapakah Wahabi telah biarkan tempat itu menjadi tempat bakar sampah sahaja. Tulisan kecil pun tiada menunjukan itulah tempatnya. Alasan apakah yang boleh mengubat luka hati kami ini wahai Wahabi terhadap perbuatan mu kepada nabi kami? Kenapa kamu benci sangat kepadanya?

Ketika kami membaca tulisan-tulisan itu meneteslah air mata kami, tiada kuasa menahan sedih dan perihnya hati namun kita harus tetap sabar. Semua terjadi pasti atas kehendak Allah Azza wa Jalla juga. KepadaNyalah kita mengadu.

Sekarang coba kami bertanya kepada sauadara-saudaraku Wahhabi atau para pembela Wahhabi yang sempat berkunjung dan membaca blog ini.

Apakah Rasulullah sesudah wafat sebagaimana "orang biasa" ?

Dimanakah menurut keyakinan antum sekalian Rasulullah berada saat ini ?

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Jumat, 18 Februari 2011

Peduli Salafy

Saudara-saudara muslim yang hanya mau memperdalam syariat atau tentang Islam (rukun Islam) dan tentan Iman (rukun Iman) saja tanpa tentang Ihsan (akhlak/tasawuf) dan mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh, kita sebut saja sebagai Salafy Wahhabi atau selanjutnya agar lebih singkat, kita sebut saja  Salafy.

Kami khawatir melihat saudara-saudara kami kaum Salafy, berslogan memberantas bid'ah , tahayul, kurafat namun pada hakikatnya mereka tidak dapat memahami tentang bid'ah dan apa-apa yang mereka tidak dipahami dianggap tahayul dan kurafat.

Bagaimana dapat dikatakan Salafy memahami tentang bid'ah jika salah satu ulamanya Syaikh Al Albani menganggap fiqih itu adalah bid'ah dan buatan manusia dan harus dihancurkan serta menetapkan bahwa semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama



***** awal kutipan *****

Menurut Al-Albani, semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama. Setiap orang wajib langsung merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan untuk memahaminya, tidak dibutuhkan ilmu dan metodologi apa pun. Keberadaan mazhab-mazhab itu dianggap oleh Al-Albani sebagai bid’ah yang harus dihancurkan, karena semata-mata buatan manusia. 

Tentu saja pendapat seperti ini adalah pendapat yang keliru besar. Ilmu fiqih dan mazhab pada ulama yang ada itu bukan didirikan untuk menyelewengkan umat Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah. Justru ilmu fiqih itu sangat diperlukan sebagai metodologi yang istimewa dalam memahami Quran dan Sunnah.

Selengkapnya pada : http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/


***** akhir kutipan *****



Bagaimana dapat dikatakan Salafy memahami apa-apa yang dianggap mereka tahayul, khurafat jika mereka berkeyakinan Rasulullah tidak mengetahui yang ghaib. Contoh ulama mereka Syaikh Ibnu Baz mengatakan



*****awal kutipan*****

Siapa saja yang mati di atas keyakinan seperti ini, yakni meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah manusia biasa alias bukan dari Bani Adam atau meyakini bahwa beliau mengetahui hal yang ghaib; maka ini adalah keyakinan kufur yang pelakunya dianggap sebagai orang kafir karena melakukan kekufuran yang besar
Sumber: http://tamanqolbi.wordpress.com/2010/12/09/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa-rasulullah-bukan-manusia-biasa/ atau
http://fatwaulama-online.blogspot.com/2008/03/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa.html

*****akhir kutipan*****



Semua muslim tentu berkeyakinan bahwa Rasulullah berasal dari Bani Adam, manusia seperti kita dalam hal berasal dari unsur tanah

Allah Azza wa Jalla memang menciptakan manusia dari unsur tanah, yang menghasilkan dimensi biologisnya, akan tetapi pada manusia, Allah Azza wa Jalla. ciptakan juga unsur lainnya, yakni ruhNya. yang justru dapat membuat manusia lebih tinggi dari makhluk mana pun, termasuk malaikat karena melalui ruh itu manusia mampu mengatasi unsur biologisnya.

Oleh karena itulah mengapa malaikat dan jin atau Iblis diperintahkan untuk sujud (penghormatan tinggi) kepada Adam atau manusia.

Itulah pula mengapa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam dapat menembus Sidratul-Muntaha (waktu peristiwa Isra Mi’raj), sementara Jibril as akan hangus terbakar jika berani mencoba melangkahkan kaki meskipun hanya setapak. Padahal Jibril adalah penghulu para malaikat. Tidak lain karena Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah mencapai derajat kesempurnaan mutlak insani (Insan Kaamil).

Kesalahpahaman Salafy yang menolak mengakui kesempurnaan Rasul Shallallahu alaihi Wasallam dan menolak memujinya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan kultus yang diharamkan!

Salafy tidak lain melihat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.

Melihat seorang hanya dari dimensi biologisnya adalah logika orang-orang kafir, bukan logika orang-orang beriman. Orang-orang kafir menolak mengakuinya sebagai Nabi atau Rasul dengan alasan bahwa para utusan Allah ta'ala itu hanya manusia seperti mereka.

Sebagaimana firman Allah swt.: “Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi orang-orang (kafir) untuk beriman tatkala datang kepada mereka petunjuk kecuali perkataan mereka: ‘Apakah Allah mengutus Rasul dari golongan manusia?’ ”.(QS. Al Isra [17]:94 ).
Tapi "orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." . (QS. Ali Imran: 7 ).

Intinya mereka menolak memahami tentang sisi ruhani (diluar sisi biologis atau materi) atau tentang hakikat atau tentang ghaib. Mereka anggap hal yang ghaib itu adalah tahayul ataupun kurafat

Berdasarkan pemahaman Salafy sebagaimana Syaikh Ibnu Baz,  bahwa Rasulullah tidak mengetahui tentang ghaib atau sisi ruhani atau tentang hakikat.

Memang ada nash-nash dalam Al-Qur'an dan Hadist dikatakan bahwa Rasulullah tidak mengetahui tentang ghaib namun itu merupakan penjelasan masalah ghaib yang mana yang tidak diketahui oleh Rasulullah. Namun Rasulullah mengetahui tentang ghaib, tentang hakikat walaupun sedikit saja sebagaimana yang diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla

Dibukakan rahasia kegaiban kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. sebagaimana firman Allah swt.; “Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27).

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS Al Isra [17]:85 )

Salafy adalah saudara-saudara kami yang seolah-olah terhipniotis atau terindoktrinisasi oleh ulama/syaikh/ustadz mereka bahwa mereka berpemahaman sebagaimana Salafush Sholeh dan merujuk langsung kepada Al-Qur'an dan Hadits sehingga apapun yang disampaikan atau ditetapkan/difatwakan oleh ulama/syaikh/ustadz mereka adalah pasti benar sedangkan disisi lain mereka berseru bahwa imam madzhab adalah tidak ma'sum.

Salafy adalah saudara-saudara kami yang terhipnotis bahwa ulama/syaikh/ustadz mereka adalah mereka yang berkemampuan bahasa arab yang tinggi dan pastilah mereka dapat memahami Al-Qur'an dan Hadits dengan baik dan benar.

Salafy adalah saudara-saudara kami yang diibaratkan "terkukung dalam tempurung" karena diidoktrin jangan bergaul dengan ustadz/syaikh/ulama yang menurut mereka ahlul bid'ah , padahal mereka tidak memahami tentang bid'ah dengan baik

Untuk mengetahui kajian atau temuan seorang ustadz tentang seputar Salafy Wahhabi, silahkan ketahui pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/waspadai-wahhabi/

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Selasa, 15 Februari 2011

Peta Salafy

Peta Salafy dan Dunia Islam  menurut "kaca mata"  kami.

Secara umum Salafi atau mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh terbagi dua bagian besar yang bertolak belakang berdasarkan pemahaman mereka terhadap al-bara.

Satu bagian memahami al-bara sebagai "menegakkan perintah Allah tentang kebencian terhadap orang musyrik, orang yahudi,  nasrani bahkan saudara muslim mereka sendiri yang dianggap musyrik berdasarkan pemahaman (kaum) mereka sendiri.  Bagi mereka slogannya bisa jadi seperti "bunuh, musnahkan orang musyrik". Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/mengelola-kebencian/

Satu bagian lagi memahami al-bara sebagai sekedar "berlepas diri" sebagaimana yang disampaikan di http://almanhaj.or.id/content/2661/slash/0 Inilah yang sebagaimana dipahami oleh Salafi Wahhabi. Sehingga mereka secara tidak disadari menjadikan orang musyrik, teman kepercayaan. Mereka di wilayah kerajaan dinasti Saudi, telah memperlihatkan bagaimana mereka menjadikan Amerika sebagai teman kepercayaan, menjadikan penasehat keamanan, pembangunan, pengelolaan sumber daya alam / pertambangan bahkan menjadikan penasehat kurikulum pengajaran dan pendidikan sebagaimana yang telah kami uraikan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

Jadi keadaan umat Islam saat ini sebenarnya secara tidak disadari telah di adu domba dengan pemahaman sendiri atau memang ada gerakan ghazwul fikri yang dilancarkan oleh orang-orang yang memang diciptakan oleh Allah ta'ala mempunyai rasa permusuhan terhadap kaum muslim. Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Satu sisi (misalkan salafi jihadi / haraki) meneriakkan "bunuh orang musyrik" dan satu sisi lagi (Salafi Wahhabi) secara tidak langsung mendanai orang musyrik untuk memerangi Salafi lain (misalkan salafi jihadi/haraki)

Perhatikanlah fatwa-fatwa dari ulama Salafi Wahhabi dan bandingkan dengan fatwa-fatwa ulama Salafi yang bertolak belakang dengan Salafi Wahhabi seperti Salafi Jihadi atau Salafi Haraki.  Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/kita-diadu-domba/

Kalau kita telusuri lebih lanjut, maka sumbernya adalah pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah yang dikenal sebagai ulama pembaharu atau modernisasi agama.

Salafi Wahhabi mengangkat dari sebagian pemahaman Syaikh Ibnu Taimiya untuk kepentingan mendirikan dan mempertahankan dinasti kerajaan Saudi. Inilah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Salafi Jihadi / Haraki mengangkat dari sebagian pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah kepentingan pergerakan / politik / siyasi

Salafy Wahhabi membenci Hizbiyyah atau kelompok atau organisasi, bisa jadi untuk menghindari kepemimpinan informal atau kepemimpinan diluar kepemimpinan kerajaan. Sedangkan sebaliknya Salafy Jihadi / Haraki membutuhkan hizb, kelompok , organisasi atau harakah.

Pemahaman/Ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah ini yang merujuk kepada Al-Qur'an dan hadits dengan metodologi yang kami katakan sebagai "terjemahkan saja". Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Sesungguhnya Syaikh Ibnu Taimiyah tidak mencapai derajat imam mujtahid apalagi imam mujtahid mutlak

Oleh karena Syaikh Ibnu Taimiyah "takut" hasil pemahaman beliau tidak diterima orang maka beliau memberi nama "mazhab"nya dengan nama generik / umum yaitu manhaj/madzhab salaf. Seharusnya dinamakan mazhab Taimiyah.

Madzhab Taimiyah telah ditolak oleh jumhur ulama sejak zaman beliau hidup bahkan beliau harus berulang kali masuk penjara

I'tiqad beliau yang sangat ditolak adalah bahwa Allah bertempat di atas arasy. Maha suci Allah ta’ala dari bertempat dan dari bagaimana.

Juga dengan metodologi "terjemahkan saja" akhirnya mereka "berserah diri" dengan i'tiqod bahwa Allah ta'ala memupunyai tangan, kaki, wajah namun tidak serupa dengan makhluk

Salah satu ulama terdahulu kita yang menolak madzhab Taimiyah adalah Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/2010/11/03/syaikh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/

Ulama-ulama terdahulu seperti beliau dikenal dengan ulama-ulama "kaum tua"

Namun sebagian ulama-ulama setelah generasi "kaum-tua" atau dikenal sebagai ulama-ulama "kaum-muda" mulai terpapar madzhab Taimiyah.  Termasuk di dalamnya ulama-ulama  saudara kita dari kalangan Muhammadiyah. Namun mereka terpapar tidak terlampau jauh atau diambil yang baik-baik saja dari madzhab Taimiyah dan pemahaman/ijtihad ulama yang lain atau dikenal dengan istilah manhaj tarjih atau berdalil dengan yang lebih/paling kuat.

Yang terpapar jauh atau secara bulat-bulat adalah kaum muda kita yang mengenyam pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi atau tempat pendidikan di negara lain dengan paham Wahhabi. Termasuk yang menyebut dirinya "mantan kiyai NU"

Orang-orang yang memusuhi Islam sangat berkepentingan agar pintu ijtihad terbuka kembali walaupun waktu sudah terpaut jauh dari masa generasi terbaik (Salafush Soleh). Kepentingan mereka agar memungkinkan mereka mengadakan pemahaman-pemahaman baru (modernisasi agama) terhadap Al-Qur’an dan Hadist. Inilah sebenar-benarnya ghazwul fikri atau perang pemahaman/pemikiran.

Sebagai contoh apa yang dipahami oleh Musdah Mulia (tokoh liberalisme). Menurut Musdah, sebetulnya kajian politik yang lebih serius bukan dalam buku al-Siyãsah al-syar’iyyah, melainkan buku Minhãj al-Sunnah al-Nabawiyyah dan Ahisbatul Islam. Musdah menekankan bahwa sebelum membaca pemikiran Ibnu Taimiyyah, kita... harus masuk ke abad XIV. Ibnu Taimiyyah pertama-tama mengembangkan pemikirannya dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang tidak mencerahkan. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/

Jadi pandangan mereka terhadap Syaikh Ibnu Taimiyah bahwa beliau tokoh yang mengembangkan pemikiran dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang “tidak mencerahkan”. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Berangkat dari komitmen inilah kemudian Ibnu Taimiyyah merumuskan konsep-konsep mengenai negara.

Mereka membutuhkan justifikasi dari keinginan mereka mensosialisasikan program mereka yakni negara atau nation state dan “nasionalisme” untuk menggantikan “kesatuan akidah “umat Islam pada waktu itu dengan sistem khalifah. Sehingga sebagian muslim menganggap bahwa “bela negara” adalah sebagian dari iman walaupun tanpa disadari “lawan negara” yang diperangi adalah saudara-saudara muslim sendiri.

Inilah yang terjadi dengan propaganda "nasionalisme Arab" yang dilancarkan oleh musuh Islam seperti Edward Terrence Lawrence. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/bahaya-laten/

Sebenarnya pemahaman/ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah sudah terkubur sebelumnya namun diangkat kembali oleh orang-orang yang memerlukan dengan berbagai kepentingan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, Rasyid Redha, dll. Termasuk digunakan untuk kepentingan kaum SPILIS (Sekelurisme, Pluralisme dan Liberalisme). Metode pemahaman/ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah sangat digemari mereka karena metodologi “terjemahkan saja” mudah dipelajari dan dipahami.

Demikianlah hasil analisa kami terhadap keadaan dunia Islam, dulu dan sekarang. Semoga kita dapat memposisikan diri kita masing-masing dan saling mengingatkan dalam semangat Ukhuwah Islamiyah.

Hal yang perlu kita ingat selalu bahwa kalau perdebatan/perselisihan/pertengkaran diantara manusia yang telah bersyahadat adalah semata-mata kesalahpahaman, karena mereka yang telah bersyahadat pada dasarnya tidak dikaruniakan rasa permusuhan namun dikaruniakan rasa persaudaraan. Hanya orang-orang yang tak mau bersyahadat / musyrik saja yang dikehendaki oelh Allah Azza wa Jalla mempunyai rasa permusuhan.

Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Wassalammualaikum

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Senin, 14 Februari 2011

Waspadai Wahhabi

BACA DAN SEBARKAN LINK ARTIKEL BERIKUT INI!!! 100% HALAL UNTUK DI COPY PASTE!!

WASPADAI TERUS AJARAN WAHHABI!!!

Oleh Ustadz Abou Fateh -Hafizhahullahu-

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=188416944508556&id=351534640896&ref=mf

  1. Para Ulama Telah Membantah Muhammad Ibn Abd Al-Wahhab; Perintis Gerakan Wahhabi, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112485828768335&id=351534640896&ref=mf

  2. Imam Taqiyyudin Abu Bakr al-Husni, penulis kitab Kifayat al-Akhyar, (--herannya kitab ini menjadi salah satu buku rujukan Wahabi--) dalam kitabnya berjudul "Daf'u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad" menuliskan: "Kekufuran Ibn Taimiyah telah disepakati oleh Ulama empat madzhab". klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112479795435605&id=351534640896&ref=share

  3. BACA DAN SEBARKAN!! al Imam Ibn al Jawzi Membongkar Kesesatan Aqidah Tasybih ((( Mewaspadai Ajaran Wahabi ))) klik inihttp://www.facebook.com/note.php?note_id=164430070240577&id=351534640896&ref=mf

  4. Wahabi Punya Akal Sehat Ga Sih???? Dia Yakin Arsy Makhluk Allah; Tapi Dia Bilang Allah bertempat Di arsy!! Na'udzu Billah!!! klikhttp://www.facebook.com/note.php?note_id=139898152693769&id=351534640896&ref=mf

  5. Dalil Kebolehan Mencium Makam Rasulullah Atau Orang-orang Saleh Dari Kitab Wafa' al Wafa (Menohok Ajaran Sesat Wahabi) klik ini http://www.facebook.com/note.php?note_id=160954943921423&id=351534640896&ref=mf

  6. Wahabi Merusak Kitab Nihayah al-Qaul al-Mufid, [[ Ini Buktinya ]], baca dan sebarkan.... tengok kiri kanan jangan sampai ada kerabat kita yang jadi Wahhabi, Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154182567931994&id=351534640896&ref=mf

  7. Dalil Kebolehan Mencium Makam Rasulullah Atau Orang-orang Saleh Dari Kitab Wafa' al Wafa (Menohok Ajaran Sesat Wahabi), baca dan sebarkan. Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=160954943921423&id=351534640896&ref=mf

  8. Hadits Riwayat Imam Muslim Dalam Kitab Shahih Dengan Syarh-nya Tentang Anjuran Tabarruk Dengan Peninggalan Orang2 Saleh, Sementara Wahabi sesat mengatakan tabarruk perbuatan bid'ah dan syirik. Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=162827517067499&id=351534640896&ref=mf

  9. Imam Syafi'i Setiap Hari Ziarah Ke Makam Imam Abu Hanifah Dan Tawassul Dengannya, Sementara Wahabi Mengatakan Syirik Dan Kufur. Waspadai terus ajaran sesat Wahabi.... Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=162829053734012&id=351534640896&ref=mf

  10. Satu catatan untuk Ibnu Utsaimin dan para pengikutnya: "DI MATA KALIAN SENDIRI RAJA KALIAN ADALAH ORANG KAFIR" karena ia berdoa dengan menghadap ke makam Rasulullah... Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=177951145555136&id=351534640896&ref=mf

  11. Dedengkot Wahabi "Berantem" Saling Menyesatkan; Ibnu Bas dan Ibnu Utsaimin [Bukti Nyata Kesesatan Aqidah Wahabi]... baca dan sebarkan!!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=181310078552576&id=351534640896&ref=mf

  12. Ibn al Jawzi Dalam Sifat as Shofwah Menganjurkan Ziarah Ke Makam Orang2 Saleh Dan Tawassul, Sementara Wahabi Mengatakan Syirik Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=162824827067768&id=351534640896&ref=mf

  13. Salah Seorang Ulama Terkemuka Dalam Madzhab Hanafi; Imam Ibn Abidin, MENGATAKAN bahwa Kaum Wahabi SESAT...!!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=150450398305211&id=351534640896&ref=mf

  14. Ibnu Hajar al-Haitami; Ulama Terkemuka Madzhab Syafi'i, Mengatakan: "IBNU TAIMIYAH SESAT" (Menohok Wahabi) Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=150951658255085&id=351534640896&ref=mf

  15. Menohok Kaum Wahabi Yang Anti Tawassul, Dari Tulisan Adz-Dzahabi. Sodorkan Tulisan adz-Dzahabi Ini Kepada Mereka!!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=151512118199039&id=351534640896&ref=mf

  16. Lengkap membahas masalah peray...aan Maulid Nabi dari a sampe z, sangat penting untuk membantah ajaran sesat Wahabi, baca dan sebarkan.... Barakallah fikum!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=153892607960990&id=351534640896&ref=mf

  17. Konyol, salah seorang pemuka Wahabi, bernama al Qanuji, dlm karyanya berjudul "ad Din al Khalish", j. 1, h. 140, brkt: "Taqlid dengan madzhab-madzhab adalah syirik". Ini artinya, menurut dia seluruh umat Islam telah menjadi kafir karena mreka semua bertaqlid kepada empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali). klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154893354527582

  18. Di Atas Arsy Terdapat Tempat [[[ Membongkar Kesesatan Nashiruddin al Albani; Salah Satu Tiang Ajaran Sesat Wahhabi ]]] Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=153597111323873&id=351534640896&ref=mf

  19. Ibnu Taimiyah Dalam Karyanya Mengatakan Bahwa Dari Arah Timur Akan Muncul FITNAH BESAR Dan PANGKAL KEKUFURAN yaitu Fitnah Wahhabi An-Najedi Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154442421239342&id=351534640896&ref=mf

  20. Wahabi mengatakan: "Maulid nabi sesat, ga ada di zaman Rasulullah". heh.. Wahabi, buka dan baca link ini; Imam Kalian; Ibnu Taimiyah al Mujassim mengatakan perayaan maulid nabi pekerjaan yang baik. Katakan oleh kalian: "IBNU TAIMIYAH SESAT". Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154866137863637&id=351534640896&ref=mf

  21. Lagi; Kaum Wahabi "Mengoyak" (mereduksi) Kitab al Adzkar Karya Imam An Nawawi, heh!! mereka ga punya amanat ilmiah, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=160029190680665

  22. Hati2, Ada Dua Orang Bernama Abu Ya’la, Keduanya Orang Berbeda [Sangat Penting Untuk Menghindari Tipu Daya Kaum Wahhabi], klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=185239738159610&id=351534640896&ref=mf

  23. Heh..!"Cium Tangan" Dibilang Mendekati Perbuatan Syirik?! Membasmi Atau Menyebarkan "TBC"??! [Mendudukan Persoalan Dengan Dalil] Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=132078848329&id=1789501505&ref=mf

  24. Nasehat adz-Dzahabi Terhadap Ibn Taimiyah; Bukti Pengakuan Seorang Murid Bagi Kesesatan Sang Guru Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=381439268329&id=1789501505&ref=mf

  25. Wahabi = Khawarij,,,,, Khawarij = Wahabi, demikain tulisan Syekh Shawi dalam Hasyiyah Tafsir al Jalalain, silahkan cek dalam link berikut Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=153873444629573&id=351534640896&ref=mf

  26. Diantaranya, Karena Takwil Berikut Ini Ulama Sekaliber Imam an-Nawawi Dianggap sesat Oleh Kaum Wahhabi. Hasbunallah!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154238364593081&id=351534640896&ref=mf

  27. Dedengkot Wahabi; IBNU UTSAIMIN mengatakan bahwa Imam Ibnu Hajar al Asqalani bukan dari golongan Ahlussunnah Wal Jama'ah, klik ini http://www.facebook.com/note.php?note_id=112481828768735&id=351534640896&ref=mf

  28. Supaya Jangan Sembarangan Mengklaim Ahli Bid'ah Kepada Orang Lain (Hakekat Bid'ah Lengkap Dari a Sampai z, Mewaspadai Wahabi) Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112546762095575&id=351534640896&ref=mf

  29. Supaya Tidak Sembarang Berbicara Masalah Hukum Agama; Anda Tidak Akan Mencapai Derajat Mujtahid Maka Anda Harus Menjadi Muqallid, klikhttp://www.facebook.com/note.php?note_id=112489875434597&id=351534640896&ref=share

  30. Salah satu akar terorisme; karena salahpaham terhadap kandungan QS. al-Ma'idah: 44. Waspada, jangan sampai anda terjebak...Oleh Wahabi Teroris!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112481618768756&id=351534640896&ref=mf

  31. Membongkar Kesesatan Ajaran Wahabi Yang Membagi Tauhid kepada 3 Bagian; Aqidah Mereka Ini Nyata Bid'ah Sesat Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112480862102165&id=351534640896&ref=mf

  32. Imam Taqiyyudin Abu Bakr al-Husni, penulis kitab Kifayat al-Akhyar, (--herannya kitab ini menjadi salah satu buku rujukan Wahabi--) dalam kitabnya berjudul "Daf'u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad" menuliskan: "Kekufuran Ibn Taimiyah telah disepakati oleh Ulama empat madzhab". Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112479795435605&id=351534640896&ref=share

  33. [Mewaspadai Wahhabiyyah] Masa Memakai Tasbih Untuk Menghitung Bilangan Dzikir Disebut Bid'ah Juga?! [Panjang.. Baca yang sabar] Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112554782094773&id=351534640896&ref=mf

  34. al Imam Ibn al Jawzi Membongkar Kesesatan Aqidah Tasybih ((( Mewaspadai Ajaran Wahabi ))) klik ini http://www.facebook.com/note.php?note_id=164430070240577&id=351534640896&ref=mf

  35. Jangan Salah Memahami Hadits Ini, Orang2 Wahhabi Mengkafirkan Banyak Orang Islam Karena Salah Memahami Hadits Ini, Hattiii2..!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112487062101545&id=351534640896&ref=mf

  36. Di Antara Argumen Buruk Kaum Wahhabi Tentang Tabarruk Dan Tawassul; KITA BONGKAR DI SINI.. !!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112482865435298&id=351534640896&ref=m

Rabu, 26 Januari 2011

Virus Salafy Wahabi

Himbauan untuk saudara-saudaraku yang menganggap salafi wahabi adalah virus.
Tentu akan berupaya/berikhtiar untuk menangkal dan menghambat virus tersebut.

Betul kita berikhtiar untuk itu namun lakukanlah dengan langkah-langkah yang dicintaiNya

Virus Wahabi adalah kehendakNya, bagi kita adalah cobaan namun kita tidak boleh berselisih dengan mereka yang telah bersyahadat.

Hak kita adalah menyampaikan apa yang kita pahami , hak mereka adalah menyampaikan apa yang mereka pahami.

Kalau mereka menyampaikan dengan hujatan, olok-olokan, itu tanggung jawab mereka kepada Allah ta'ala.

Hak kita adalah menyampaikan nasehat agar mereka tidak menghujat dan berolok-olok. Hak mereka untuk tidak mengikuti nasehat kita.

Namun hal yang perlu kita ingat selalu jika kita telah tahu perbuatan itu salah namun tetap melakukannya maka kita bisa termasuk orang-orang yang dimurkai Allah ta'ala.

Tafsir Ibnu Katsir tentang orang-orang yang dimurkai dan mereka yang sesat.
“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”,
yakni bukan jalan orang-orang yang dimurkai. Mereka adalah orang yang rusak kehendaknya; mereka mengetahui kebenaran, namun berpindah darinya.
Dan “bukan jalannya orang-orang yang sesat”, yaitu mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan menggandrungi kesesatan. Mereka tidak mendapat petunjuk kepada kebenaran.

Wassalam

Minggu, 10 Oktober 2010

Pertengkaran Wahabi/Salaf(i)

Sebelumnya kami telah menguraikan bagaimana kebencian kaum Wahabi/Salaf(i) terhadap saudara muslim yang mendalami Tasawuf. Bahkan sebagaimana yang disampaikan oleh Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani, kaum Wahabi dengan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi telah memasukkan pentakfiran kaum muslim yang mendalami tasawuf dalam Islam kedalam kurikulum pendidikan.

Lihatlah, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/16/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/
Dalam materi tersebut terdapat pengafiran, tuduhan syirik dan sesat terhadap kelompok-kelompok Islam sebagaimana dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiy (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah yang berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Shuufiyyah (aliran–aliran tashowwuf ) adalah syirik dan keluar dari agama.

Materi kurikulum tersebut menjadikan sebagian pengajar terus memperdalam luka dan memperlebar wilayah perselisihan. Padahal, 3/4 penduduk muslim seluruh dunia adalah Shuufiyyah dan seluruhnya terikat dan meramaikan padepokan (zaawiyah) mereka dengan tashowwuf.

Suatu kesalahpahaman kaum Wahabi/Salaf(i) yang besar lainnya adalah menganggap / menilai bahwa muslim yang mendalami tasawuf, asya’riah dan muslim lainnya yang tidak sepamahaman dengan mereka adalah termasuk orang musyrik

Lihatlah
http://allangkati.blogspot.com/2010/07/keganasan-wahabi-di-pakistan.html

Para pengikut ajaran wahabi adalah kelompok yang sangat membencikan orang-orang sufi dan mengkafirkan mereka, mereka menganggap bahwa orang -orang sufi menyembah kuburan-kubura wali sehingga halal darahnya di bunuh, pemahaman ini bersumber dari aqidah mereka yang menyatakan bahwa tauhd itu terbagi kepada tiga bahagian, tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, tauhid asma` dan sifat, orang-orang sufi hanya percaya dengan tauhid rububiyyah dan tidak menyakini tauhid uluhiyyah, sebab itulah mereka kafir dan boleh di bunuh, bahkan mereka mengatakan bahwa orang-orang kafir qurasy lebih bagus tauhidnya daripada orang-orang sufi.

Begitu juga kebencian mereka terhadap saudara muslim kita Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya. Intinya mereka membenci saudara muslim lainnya di luar pemahaman mereka dan menjuluki sebagai Hizbiyyun.
Silahkan periksa
http://abuumar.multiply.com/journal/item/255/Menurut_Salafi_Hizbut_Tahrir_Itu_Sesat_1
Kaum Muslimin hanyalah dikatakan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah baik secara pokok-pokoknya dan patokan-patokannya, apabila di samping berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah, mereka juga berpegang dengan apa yang ditempuh oleh Salafus Shalih. Karena ayat di atas mengandung nash yang jelas tentang dilarangnya kita menyelisihi jalannya para shahabat.

Artinya wajib bagi kita mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan tidak menyelisihi (menentang) beliau, demikian pula wajib bagi kita untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin dan tidak menyimpang darinya. Dari sini kita menyatakan bahwa wajib atas tiap golongan/kelompok/jamaah Islamiyah untuk memperbaharui tolok ukur mereka yakni agar mereka bersandar kepada Al Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih.

Dan sangat kita sayangkan Hizbut Tahrir tidak berdiri di atas dasar yang ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya.

Atau kebencian mereka terhadap saudara muslim dari Jama'ah Tabligh (JT)

http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/24/kritik-ijtima%E2%80%99-tahunan-jama%E2%80%99ah-tabligh/
Sehingga bisa disimpulkan bahwa perkumpulan tahunan yang dilakukan oleh JT adalah salah satu bentuk menentang Allah dan rasul-Nya.

وذلك أنه لا يوجد في الإسلام تجمع على هذا النحو شرعه الله إلا عبادة الحج فحينئذ يتبين معنى مضاهاة الشريعة .

Bisa disimpulkan demikian karena dalam Islam tidaklah dijumpai acara perkumpulan semisal ini yang Allah syariatkan melainkan dalam ibadah haji. Dengan demikian jelaslah bahwa perkumpulan semisal ini adalah perkumpulan yang menyaingi perkumpulan yang ada dalam syariat.

Bahkan kaum muslimin mendekat dan bekerjasama dengan saudara muslim yang mereka panggil dengan Hizbiyyun pun ditetapkan mereka sebagai sebuah kesesatan
lihat
http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/08/21/walhamdulillah-pernyataan-resmi-tentang-ruju-nya-ust-jafar-umar-thalib-hafizhohullah/
Lebih seru lagi berita negatif tentang Ja’far Umar Thalib itu, di saat saya hadir dalam acara Dzikir Bersama yang diadakan oleh saudara Muhammad Arifin Ilham bersama para tokoh Sufi (yakni tokoh pengamal ilmu Tasawwuf) dan bahkan tokoh-tokoh Kuburi (yakni tokoh-tokoh penganjur perbuatan syirik dengan mengkeramatkan kuburan orang yang dianggap wali Allah). Ja’far Umar Thalib semakin dianggap telah keluar dari Manhaj Salaf (yakni pemahaman dan pengamalan agama para Salafus Shalih). Apalagi Ja’far Umar Thalib menulis dua artikel di majalah SALAFY edisi tiga dan empat yang menerangkan alasan ilmiah mengapa ikut hadir di acara Dzikir Bersama itu. Maka Ja’far Umar Thalib dianggap telah bergabung dengan aliran Sufi dan meninggalkan Manhaj Salaf. Begitulah terus berlangsung pemberitaan tentang Ja’far Umar Thalib di kalangan Salafiyyin (yakni para penganut Manhaj Salafus Shaleh) di berbagai negeri di dunia, baik kalangan Ulama’nya

Atau periksa tulisan pada
http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/mengapa-saya-keluar-dari-wahdah-islamiyah-bag-1.html
Perkara inilah yang paling mendorong saya untuk keluar dari WI, sebab keadaan batin saya sangat sulit menerima untuk terus bersama dan berta’awun dalam dakwah bersama orang-orang yang menganggap ringan berteman, bermajelis, menjadikan orang-orang dari kalangan hizbiyyun atau orang yang dikenal memiliki manhaj yang menyimpang dari manhaj Salaf sebagai penceramah dalam acara-acara mereka.

http://almakassari.com/artikel-islam/manhaj/jawaban-ilmiah-terhadap-silsilah-pembelaan-wahdah-islamiyah-bag-2-lanjutan.html
Pertama : Sebagaimana jawaban sebelumnya bahwa hakikat pernyataan WI bukan bagian dari Ahlus Sunnah bukanlah “fatwa” dari kami, sehingga menjadi alasan bagi mereka untuk menghina kami dengan sebutan “al-mufti”, “al-maghrur” “al-‘Allamah al-Mushonnif” -semoga mereka segera bertaubat dari perbuatan menghina sesama muslim-. Bahkan mereka sendiri telah mengetahui dengan pasti bahwa yang telah mengeluarkan fatwa bahwa “WI bukan termasuk Ahlus Sunnah” dari kalangan Ulama adalah Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhali –hafizhahullah-. Terlepas dari apakah kalian setuju atau tidak dengan fatwa tersebut, yang pasti bukan kami yang mengeluarkan “fatwa meng-eliminasi WI dari barisan dakwah Salaf”.[5]

Adapun sikap asatidzah Salafiyin, jauh sebelum kami mengenal mereka pun jelas, yaitu tidak menganggap WI sebagai Ahlus Sunnah, disebabkan penyimpangan-penyimpangan dari manhaj Ahlus Sunnah yang ada pada WI.

Atau periksa tulisan pada
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/31543
Analisis untung rugi kalo sekolah di Sekolah Islam Terpadu yg dikelola hizbiyyun itu misalnya:
- Keuntungannya: seakidah, ada pelajaran-pelajaran tentang akhlak, membaca Al Qur'an, menghafal Al Qur'an dll
- Kerugian: Terkadang ada yang memulai pelajarannya di pagi hari dengan wirid ma'tsurat yang bid'ah, mengajarkan doa sehari-hari yang berasal dari hadits dhoif. Terkadang ada yang merayakan perayaan-perayaan bid'ah seperti maulid, muharram dll.
Untuk SMU Islam Terpadu yang dikelola hizbiyyun kerugiannya bertambah lagi: biasanya anak sudah diarahkan untuk masuk hizb tertentu lewat liqo-liqo-nya. (Saya mendapat informasi-informasi ini dari seorang teman dekat saya yang bekerja di sebuah Sekolah Islam Terpadu)

Siapakah kaum Wahabi atau Salaf(i) ?

Kalau di jazirah Arab umumnya mereka dikenal dengan nama kaum Wahabi suatu kaum yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab atau Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama dari Najd yang menurut kabar, beliau seorang ulama yang mempelajari tulisan/karya-karya Syaikh Ibnu Taimiyah. Namun kita sadari bahwa apa yang dipahami oleh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mungkin 100% sama dengan pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah. Pastilah bercampur dengan pemahaman beliau sendiri apalagi "belajar" nya beliau hanya melalui tulisan/karya bukan bertemu langsung karena masa kehidupan mereka terpaut jauh..

Kaum Wahabi mengusahakan agar mereka diluar jazirah Arab dikenal dengan nama salaf(i) atau Salafy agar mendekati kemiripan dengan ulama salaf.

Kalau dilihat dari sisi nama pencetusnya, Muhammad bin Abdil Wahhab seharusnya kaum itu bernama Muhammadiy, karena takut disalah artikan maka akhirnya disepakati mengambil dari nama ayahnya sehingga menjadi kaum Wahabi.

Mereka senang dipanggil sebagai kaum Wahabi karena mereka pahami panggilan itu serupa dengan Al-Wahhab ( الوهاب ) yang merupakan salah satu diantara nama-nama Allah Yang Agung, yang berarti Yang Maha Memberi.

Namun karena sejarah kelam "pergerakan" kaum Wahabi yang melakukan "gerakan" berdasarkan pemahaman dan penilaian mereka sendiri akhirnya mereka tidak meyukai panggilan Wahabi sehingga selanjutnya memperkenalkan diri dengan panggilan Salafy, kalau saya lebih suka memanggil mereka dengan Salaf(i) agar kita bisa membedakan dengan salaf yang sesungguhnya.

Ulama Muhammad bin Abdul Wahab ketika ia pindah ke Dur’iyah.

Raja Dur’iyah bernama Muhammad bin Sa’ud menolong Muhammad bin Abdul Wahab dalam penyiaran paham-pahamnya.

Maka bersatulah dua orang “Muhammad”, yang berlain kepentingan, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa’ud.

Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.

Jadi bagi saya ulama Muhammad bin Abdul Wahab merupakan ulama pragmatis, demi kepentingan kekuasan Muhammad bin Sa'ud atau dinasti Sa'ud. Oleh karenanya dapat kita pahami bagaimana ulama Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan pemahamannya untuk mempertahankan kekuasaan Muhammad bin Sa'ud salah satunya dengan slogan "Jangan memberontak kepada penguasa selama mereka masih sholat walaupun penguasa itu dzhalim". Kaum Wahabi sangat menghindari jama'atul minal muslimin dengan alasan akan menimbulkan firqah/golongan padahal hakikatnya mereka mencegah timbulnya "kekuataan" jama'ah disamping kekuatan sang penguasa dinasti Sa'ud. Wallahu a'lam

Cobalah kita tengok perkembangan langkah-langkah perjalanan saudara kita Ustadz Ja'far Umar Thalib.

Sumber:
http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/08/21/walhamdulillah-pernyataan-resmi-tentang-ruju-nya-ust-jafar-umar-thalib-hafizhohullah/
atau
http://alghuroba.org/print.php?read=142&title=Laporan%20Khusus

Beliau adalah pada awalnya bagian dari kaum Wahabi atau Salaf(i). Beliau terkenal dikarenakan memimpin Laskar Jihad dan dikenang bahwa beliau Jihad Fi Sabilillah di Maluku dan di Poso.
Silahkan baca tulisan selengkapnya pada
http://nyata.wordpress.com/2007/08/21/dakwah-antara-jamarto-yazid-jawaz-dan-aunur-rofiq/

Namun akhirnya "pergerakan" beliau di Indonesia dinilai oleh para pemimpin kaum Wahabi atau Salaf(i) adalah sebuah kekeliruan atau kesesatan sehingga diperlukan pertobatan.
Ja'far Umar Thalib: "akhirnya pada tanggal 10 Mei 2008 saya bertemu As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali di rumah kediaman beliau di komplek perumahan Awali Makkah. Tampak beliau lebih tua dibanding pertemuan saya dengannya tujuh tahun yang lalu".

As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali:
"Saya nasehatkan kepadamu agar kamu meninggalkan arena politik praktis. Sebab dengan terlibat dalam arena politik itu kamu terlalaikan dari kemestian da’wah Salafiyah.
As-Syaikh Al-Allamah Muhammad Amin As-Syanqithi rahimahullah menyatakan: “Politik gaya demokratisme itu adalah anak perempuannya anjing. Maka jangan kamu memasuki arena politik praktis itu.”

Juga saya nasehatkan kepadamu untuk kamu bertaqwa kepada Allah dalam menjalankan kegiatan Da’wah dan ikhlaskanlah amalanmu itu hanya untuk Allah.
Saya nasehatkan kepadamu agar engkau menulis berbagai kesalahanmu untuk kemudian kamu bertaubat kepada Allah Ta’ala dari berbagai kesalahan itu. Saya menasehatkan kepadamu agar kamu berupaya sungguh-sungguh untuk membangun semangat saling mencinta di antara kamu dengan saudara-saudaramu kalangan Salafiyyin.
Upayakanlah untuk kamu kembali dalam suasana saling tolong menolong dengan mereka dalam rangka kebaikan dan ketaqwaan. Jauhkanlah berbagai sebab yang mengarah kepada perselisihan dan perpecahan di kalangan kalian. Karena perpecahan dan permusuhan diantara kalian itu telah melemahkan Da’wah Salafiyah di Indonesia".

Oleh karena nasehat para pemimpin kaum Wahabi atau salaf(i) akhirnya ustadz JUT membubarkan laskar jihad dan membuat surat pernyataan yang menunjukkan pertobatannya.
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/10/jut_taubat.pdf
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/10/jut_ruju.pdf
http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/10/jut_cerita_ruju.pdf

Namun tampaknya pertobatan tersebut masih dianggap para pemimpin kaum Wahabi atau Salaf(i) belum menunjukkan kesesuaian dengan apa yang mereka pahami
http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1706
3. Membiarkan Al-Akh Ja'far pada keadaannya yang semula sebagaimana sikap kita sebelumnya berupa pemutusan hubungan apapun dengannya, sampai dia tampakkan taubatnya serta membaik taubatnya tersebut.

http://nyata.wordpress.com/2008/10/05/jut-jafar-umar-taubat-1/
Ja’far Umar Thalib memang mengaku ruju’ pada al haq, akan tetapi bergerombol dengan para Turotsi dari kalangan yayasan Al Sofwa, juga masih terlibat membela dalam pertikaian Al Irsyad legal dan liar. Ja’far pula yang dulu secara ilmiyah menjelaskan penyimpangan dan kesesatan dakwah As Surkati dengan Al Irsyad, organisasi bantuan dari uang lotre Belandanya dan sekarang Ja’far telah ruju’ dan membela Al Irsyad beserta segenap tokoh-tokoh hizbi tanah air, bergabung bersama mereka mempertontonkan aksi "simpatiknya" dalam melawan pemerintah.

Sebagian bukti dan link menunjukkan bahwa Ja’far bukanlah pendamai antara Al Irsyad legal dan liar, tapi justru mendukung mereka. Toh aparat kepolisian, Kodim, sudah bertugas baik, untuk apa memboyong “laskar” nekat dari Jogjakarta ? ? ? Inilah tindakan berbau Khawarij, hizbiyyah, ashobiyyah yang amat sangat tidak pantas bagi beliau yang mendatangi ulama Ahlussunnah dan mengaku ruju’ disana maupun di majalah dan situsnya. Wallahul musta’an. (a/h)

Tambahan :
Djafar Umar Thalib mengakui sendiri diminta kubu Al Irsyad yang dikalahkan PN Jakpus menjadi preman penghalang eksekusi oleh negara tersebut, ditulis di situs resminya sendiri http://www.alghuroba.org/index.php?read=158 sbb :

"Singkat cerita, kubu liberal hendak bertindak sebagai eksekutor guna mengeksekusi kantor Al-Irsyad yang ada di Jalan Kramat Raya no. 25 JAKPUS. Upaya ini pada mulanya didukung oleh PN JAKPUS (Pengadilan Negeri Jakarta Pusat) yang bertindak sebagai juru sita. Melihat fenomena diatas kader Al-Irsyad dari kubu pertama tidak bisa menerima hal itu, karena sesungguhnya pada Jalan Kramat Raya no. 25 tidaklah terdapat kantor Al-Irsyad sebagaimana anggapan kubu liberal, dan hal ini sempat dibuktikan dihadapan juru sita pada tanggal 29 September 2008 yang lalu.

Dengan adanya upaya eksekusi secara sepihak ini, kader Al-Irsyad dari kubu pertama meminta Ustadz Ja’far Umar Thalib guna membantu mereka untuk menggagalkan upaya eksekusi bangunan tersebut, dan Ustadz Ja’far pun menyatakan kesiapannya."

Djafar Umar Thalib mengaku melakukan anarkhisme dengan mencopot kacamata salah seorang dari pihak Al Irsyad legal, yang memicu kesigapan Kapolsek Senin, A.L Tobing bertindak mengamankan. Demi mengamankan emosi Djafar Umar dkk, A.L Tobing mencium tangan Djafar untuk meredam, namun Djafar tambah congkak rupanya.

Padahal Ulama Ja'far Umar Thalib (JUT) telah "berupaya" untuk menunjukkan bahwa beliau tidak sependapat atau sejalan lagi dengan ulama-ulama pergerakan sebagai contoh dengan Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB)

Inilah tanggapan dari mereka yang sependapat atau sejalan dengan Ustadz ABB terhadap Ustadz JUT

http://lintastanzhim.wordpress.com/2010/08/23/ja%E2%80%99far-umar-thalib-ternyata-penasihatnya-thagut/
Sehari setelah penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (10/08) Metro TV mewawancarai Ja’far Umar Thalib. Jika para Ulama dan tokoh Islam bergabung mengecam penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebaliknya Ja’far justru tidak sama sekali ikut prihatin apalagi mengecam. Ia bahkan menuduh Ustadz Abu sebagai tokoh sesat berpaham takfiriy dan khawarij. Jika kita menyaksikan acara tersebut kita akan melihat sungguh luar biasa kebencian Ja’far Umar Thalib kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Video terkait :
http://www.youtube.com/watch?v=m3h1jEQFNhI
http://www.youtube.com/watch?v=CNrEijcGSKQ
http://www.youtube.com/watch?v=9R-ZDU0ig-k

Inilah tanggapan dari kaum Wahabi atau Salaf(i) terhadap penangkapan Ustadz ABB
http://kampungsalaf.wordpress.com/2010/08/30/sebuah-catatan-atas-tertangkapnya-abu-bakar-ba%E2%80%99asyir-bag-1/
http://kampungsalaf.wordpress.com/2010/09/28/sebuah-catatan-atas-tertangkapnya-abu-bakar-ba%E2%80%99asyir-bag-2/
Ucapan terima kasih juga selayaknya diberikan kepada Pemerintah RI, khususnya POLRI melalui Densus 88 –jazaahumullahu khairan- yang telah mengerahkan segenap tenaga untuk menangkap tokoh yang satu ini dan mengumpulkan bukti-bukti keterlibatannya dalam aksi-aksi Teroris Khawarij.

Namun ternyata, di tengah-tengah kegembiraan kaum muslimin atas tertangkapnya tokoh kesesatan tersebut, ada sekelompok kecil orang-orang yang mengatasnamakan umat Islam yang memprotes dan menyatakan secara terbuka ketidaksetujuan mereka, bahkan mengecam pemerintah dengan keras atas penangkapan tersebut. Diantaranya adalah sebuah forum yang menamakan diri Forum Umat Islam (FUI), yang mengklaim beranggotakan ormas-ormas Islam, diantaranya Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid, Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Al Irsyad Al Islamiyyah, Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Az Zikra, PP Daarut Tauhid, Hidayatullah, PII dan Wahdah Islamiyah yang berpusat di Makassar.

Kalau kita amati , bahwa pemahaman yang dibawa oleh ustadz ABB dengan JAT (Anshorut Tauhid) merupakan upaya menegakkan Sunnah Rasululloh, hancurkan syirik, musnahkan bid’ah, terapkan syari'at Allah swt, sebagaimana motto salah satu situs dari kaum mereka, http://jihaddandakwah.blogspot.com/
(Jihad Menegakkan Tauhid, Membela Sunnah Rasululloh, Hancurkan Syirik, Musnahkan Bid’ah, Terapkan Syari'at Alloh, Berantas Kemungkaran dan Kemaksiatan). " Tegaknya Agama ini haruslah dengan Kitab (Al-Qur'an dan sunnah) sebagai petunjuk dan Pedang (Senjata) sebagai penolong. Kitab menjelaskan apa-apa yang diperintahkan dan apa-apa yang dilarang Alloh. Pedang (senjata) menolong dan membelanya ". (Nasehat berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahulloh)

Kalau boleh saya simpulkan dan juga telah saya uraikan dalam blog http:/mutiarazuhud.wordpress.com, hasil kajian kami, bahwa kaum muslimin secara tidak disadari telah diadu domba hanya dikarenakan oleh cara pemahaman mereka masing-masing terhadap pemahaman/ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah yang dipelajari dan di i'ttiba (diikuti) oleh dua kaum yang saling bertentangan.

Silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/29/keterhubungan-salafy/
Kenyataan yang kita lihat bahwa saudara-saudara muslimku Salaf(i) terpecah dalam beberapa kelompok walaupun sesungguhnya mereka tidak menghendaki adanya pengelompokan.

Secara umum saudara-saudara muslim ku Salaf(i), terbagi menjadi dua kelompok yang saling bertolak belakang dan antar kelompok itupun mereka “bertengkar”

“Salaf(i) pertama”
Salaf(i) yang dengan metode pemahaman mereka membentuk pengikut yang taat kepada Penguasa, asalkan Penguasa itu muslim dan masih sholat walaupun Penguasa itu bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

“Salaf(i) kedua”
Salaf(i) yang dengan metode pemahaman mereka membentuk pengikut yang taat untuk berjihad dan berpolitik memerangi orang-orang Yahudi dan Orang-Orang Musyrik.

“Salaf(i) pertama” “mempersilahkan” (mengikat perjanjian dengan) orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik menikmati kekayaan alam dari negeri Islam. Dengan kekayaan yang didapat dari negeri-negeri Islam, orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik menggunakkannya untuk berperang dengan “Salaf(i) kedua”

Sehingga secara tidak langsung kita sesama muslim saling membunuh.

Salaf(i) pertama adalah kaum Wahabi di Jazirah Arab
Salaf(i) kedua adalah Salaf(i) pergerakan

Dapat kita pahami bahwa secara tidak langsung kita kaum muslimin telah diadu domba.
Silahkan baca selengkapnya tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/kita-diadu-domba/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/14/divide-et-impera/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/09/banyak-perbedaan/

Semoga dengan tulisan ini dapat memetakan keadaan sesungguhnya dari dunia Islam dan bagaimana kita sebaiknya bersikap.

Cukuplah Allah swt sebagai penolong kita.

Wassalam

Zon di Jonggool. Kab Bogor 16830

Sabtu, 01 Mei 2010

Ideologi Salafisme

Alhamdulillah,  beberapa dukungan baik secara lisan maupun tulisan telah disampaikan kepada saya atas langkah-langkah saya "mengingatkan" saudara-saudara muslim saya yakni Salafy.  Di bawah ini saya contohkan salah satunya dari saudara muslimku yang telah berdakwah secara langsung (face to face / individual) dalam rangka "menyelamatkan" adiknya.

Sebagian muslim keliru berpendapat bahwa saya telah mengatakan Salafy Wahabi itu adalah sesat. Saya sama sekali tidak berhak mengatakan sebuah metode pemahaman adalah sesat. Saya hanya sekedar menyampaikan perbedaan dan kelemahan metode pemahaman saja.  Saudara-saudaraku yang "keluar" dari  Salafy adalah yang tidak menginginkan mengikuti "keterbatasan" metode pemahaman Salafy yakni metode pemahaman secara harfiah atau tekstual.

Sekali lagi kita harus membedakan antara Salaf dengan Salafy. Salafy adalah mereka yang berupaya mengikuti Salaf dalam hal ini saya mengkhususkan mereka yang mengikuti metode pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah dan sepemahaman. Lalu bagaimana "upaya" mereka mengikuti Salaf, dapat kita lihat dari output dan perilaku pengikut pada umumnya. Secara sederhana dapat kita lihat bagaimana mereka mengungkapkan hawa nafsu mereka (emosional)  ketika berdiskusi.  Sesuatu akhlak (dipelajari dalam ilmu tasawuf) yang harus dihindari jika muslim paham bahwa mereka mengarungi kehidupan di dunia sesungguhnya di hadapan Allah karena Allah Maha Melihat, Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Wassalam

Contoh dukungan  dalam sebuah tulisan.

Sumber : http://myquran.com/forum/showthread.php/9092-Mengapa-saya-merasa-perlu-mengungkap-Salafiyyah?p=122027&viewfull=1#post122207

Saya mendukung anda dalam "membendung ideologi salafisme".

setiap jumat malam, saya mengikuti pengajian salafi. saya tau betul, bagaimana ideologi mereka itu. saya ikut pengajian mereka, agar dalam menilai ajaran mereka tidak dikatakan "cuma tau dari buku".

saya ingin mengungakapkan kekeliruan-kekeliruan pemikiran wahabisme, agar anak-anak muda Indonesia tidak terjerat ideologi wahabi tersebut. tapi, saya tidak punya banyak waktu. saya memilih masuk ke dalam pengajian mereka, sehingga sedikit demi sedikit saya bisa membukakan akal pikiran mereka. alhamdulilah, telah banyak kawan wahabi, yang kini telah "sadar" termasuk adik saya sendiri.

mulanya, saya benar-benar tertarik untuk menjadi pengikut salafi. saya mengaji cukup lama. untunglah, akal saya bekerja dengan benar. sehingga hanya dalam waktu 2 tahun ikut mengaji, sayapun berhenti dari situ. tetapi, tak disangka, adik saya malah ikut mengaji di salafi. sudah untuk dinasihati, susah untuk diajak berhenti, membenci Maulud, Tahlilan, dan Haul. akhirnya, saya mencari cara lain untuk menyadarkan adik saya, yakni dengan cara ikut serta dengan adekku ke tempat pengajian yang dia ikuti. saya menjadi jamaah "yang banyak bertanya", dan akhirnya pertanyaan-pertanyaan saya telah menyadarkan adik saya sendiri dan beberapa kawan lainnya.

ketika adik saya menyatakan hendak berhenti, saya berkata, "janganlah berhenti, trus saja mengaji. mereka tidak akan menerima nasihat dari orang selain kelompok mereka sendiri. ingatlah, selain dari kelompok mereka, itu artinya ahlul bidah. dan mereka mustahil menerima nasihat dari ahlul bidah. oleh karena itu jadilah kawan mereka, agar km bisa menasihati mereka".

dalam pergaulan sehari-hari, saya dan adik saya rukun dan baik dengan orang-orang salafi ini. salah satu ustadz salafi itu sangat percaya kepada adik saya. kalau dia bepergian beberapa hari, kunci rumah dan rumhanya diditipkan dan ditinggali oleh Adikku. ustadz tersebut juga tak segan-segan memberi kami buku-buku dan kaset-kaset salafi. saya menerimanya dengan tersenyum dan ucapan syukur.

mungkin, saya dianggap "orang munafik" diantara mereka. tak masalah, saya hanya melakukan strategi dakwah untuk menyelamatkan adik saya sendiri.

****

Kamis, 29 April 2010

Tinggalkanlah Salafy

Tinggalkanlah metode pemahaman Salaf(i) (madzhab Taimiyah).

Saya menyarankan kepada saudara-saudara muslim  Salaf(i), sebaiknya untuk meninggalkan metode pemahaman Salaf(i)  (Salaf ala Syaikh Ibnu Taimiyah).

Lihatlah bagaimana tanggapan saudara-saudara muslim pada umumnya terhadap pengikut Syaikh Ibnu Taimiyah / Salaf(i) ?

Beberapa gambarab  situasi dapat dibaca di sini,

http://www.evans86.cybermq.com/post/detail/8545/gelombang-penolakan-salafy-ekstrim

atau situasi di sini http://salafiyunpad.wordpress.com/2010/01/24/salafi-vs-sabili-sebuah-bantahan-terhadap-majalah-sabili/

atau situasi di sini http://salafibeneran.blogspot.com/2009/03/agar-para-pengaku-salafi-mau-berpikir.html

atau situasi di sini http://orgawam.wordpress.com/2007/07/31/kajian-ilmiah-tentang-harokah-salafy/

atau situasi di sini http://insyaflahsalafy.files.wordpress.com/2007/11/memahamikaraktersalafi.pdf

atau situasi di sini http://insyaflahsalafy.files.wordpress.com/2007/11/gerakan_salafi_modern_di_indonesia.pdf

atau situasi di sini http://jihaddandakwah.blogspot.com/2009/03/beda-salafus-shalih-dengan-khawarij.html

atau situasi di sini http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2008/11/05/fahami%E2%80%A6-tentang-apa-siapa-sururiyyah/

atau situasi di sini http://salafyindependent.wordpress.com/2009/12/15/pedang-menghunus-tepat-di-jantung-abu-bakar-basyir/

atau situasi adanya perbedaan tanggapan muslim menghadapi maulid Nabi.

Bahkan ada contoh sebuah ungkapan/"rumus"  kalangan Salaf(i), yakni:

- Mengkritik ulama/syaikh Salaf(i) (pengikut Taimiyah) artinya mencela dan menyerang.
- Mereka membid'ah-bid’ahkan yang lain artinya nasihat

Madzhab Taimiyah atau metode pemahaman Salaf(i) adalah metode pemahaman yang disusun dan diolah oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dalam upaya beliau mengikuti Sunnah dan Salafush Sholeh.  Metode ini dikenal pula sebagai metode pemahaman secara harfiah atau tekstual terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

Bagi saya metode pemahaman secara harfiah atau tekstual adalah menunjukkan suatu keterbatasan atau membatasi diri. Allah telah berfirman yang artinya,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”. (Al Baqarah : 269)

Syaikh Ibnu Taimiyah terlampau berlebihan memaknai ketundukan akal terhadap nash-nash Al-Qur'an  dan nash-nash Sunnah.

Dalam hal ini ketundukan akal sesungguhnya adalah tidak boleh menambah nash-nash Al-Quran dan nash-nash Sunnah  karena Islam telah sempurna, namun mempergunakan akal untuk mengambil pelajaran dari nash-nash Al-qur’an dan Sunnah adalah sebuah kewajiban muslim yang merupakan anugerah karunia dari Allah, dimana setiap muslim bisa berbeda-beda kadar mendapatkannya.

Sebagai contoh, pengikut Syaikh Ibnu Taimiyah /  Salaf(i)  belum dapat memahami (mengambil pelajaran) dari pernyataan muslim yang belajar  tentang Tasawuf bahwa "Aku beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka"

Bagi Salaf(i) yang pemahaman mereka terbatas (atau membatasi diri) secara harfiah atau tekstual, pernyataan murid Tasawuf ini adalah sebagai bentuk mengenyampingkan aspek al-khauf (rasa takut) dan ar-raja` (pengharapan).

Pelajaran yang dapat ditarik atau makna dari pernyataan murid Tasawuf itu sesungguhnya adalah “Bagi mereka yang sudah mencapai keadaan/tingkatan tertentu, mereka beribadah secara ikhlas kepada Allah bukan karena Surga atau Neraka karena mereka paham bahwa sesungguhnya perintah dan larangan dari Allah adalah wujud dari ke Maha Pemurah dan Maha Penyayang Allah. Sungguh perintah dan larangan Allah adalah demi kebaikan manusia itu sendiri

Kaum Salaf(i) sesungguhnya membatasi diri mereka pada keadaan / tingkatan keimanan berdasarkan aspek al-kauf (rasa takut) dan ar-raja’ (pengharapan) semata.

Kalau kita ambil pelajaran dari kehidupan seorang anak. Seorang anak dilarang oleh orang tuanya untuk menaiki dan berjalan di sebuah tembok yang tinggi. Anak pada umumnya akan mengikuti larangan orangtuanya karena mengerti perintah larangan orang tua itu secara harfiah dan aspek rasa takut pada orangtuanya maupun mengetahui akibat jika larangan itu dilanggar.

Namun bagi anak yang telah “mengenal” orangtuanya, dia akan mengikuti larangan orang tuanya, karena dia paham bahwa orang tuanya melarangnya merupakan wujud rasa sayang orang tua kepadanya. Jadi anak itu ikhlas mengikuti larangan orangtuanya tanpa peduli dengan akibat jika larangan itu dilanggar.

Anak yang “mengenal” orangtua itu adalah ibarat murid Tasawuf  “mengenal” Allah atau pada kalangan ahli Tasawuf dikenal dengan istilah ma'rifatullah.

Nasehat Imam Syafi'i, "Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (Syariat) dan juga menjalani tasawuf (hakikat & marifat), dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (syariat) tapi tidak mahu menjalani tasawuf (hakikat & marifat) , maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa.

Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf (hakikat & marifat) tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih (syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik ?"

Namun sangat disayangkan kaum Salaf(i) dilarang oleh pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah untuk belajar Tasawuf (seputar hakikat dan marifat). Pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah terbatas bahwa ilmu Tasawuf adalah bid’ah dholalah (terlarang sesat).

Syaikh Ibnu Taimiyah sudah “mengumpulkan” hadits-hadits yang berhubungan dengan bid’ah namun kenyataannya beliau belum dapat mengambil pelajaran (al-hikmah) dari sekumpulan nash-nash hadist tersebut. Sehingga beliau berpendapat sekalian bid’ah adalah sesat.

Padahal umat muslim pada umumnya sebagaimana Imam Syafi’i, berpemahaman bahwa bid’ah itu terbagi secara umum dalam dua sifat yakni bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah.

Kita maklum keterbatasan pemahaman Salafy sesuai firman Allah pada Al-Baqarah ayat 269, bahwa anugerah  al hikmah (pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits) diberikan kepada siapa yang dikehendaki Allah dan dalam derajat/kedalaman pemahaman yang berbeda-beda.

Nah, kenapa kita harus membatasi diri atau mengikuti keterbatasan pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah ?

Sebaiknya ikutilah metode pemahaman Imam Mujtahid yang lain yang dapat membebaskan kita untuk menerima anugerah al-hikmah dari Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Wassalam

Zon di Jonggol

PDF Files:

Gerakan salafi modern di indonesia

Memahami karakter salafi

Kajian ilmiah tentang harokah salafy

Keterhubungan Salafy

Kenyataan yang kita lihat bahwa saudara-saudara muslimku Salaf(i) terpecah dalam beberapa kelompok walaupun sesungguhnya mereka tidak menghendaki adanya pengelompokan.

Secara umum  saudara-saudara muslim ku Salaf(i), terbagi menjadi dua kelompok yang saling bertolak belakang dan antar kelompok itupun mereka “bertengkar”

"Salaf(i) pertama"
Salaf(i) yang dengan metode pemahaman mereka membentuk pengikut yang taat kepada Penguasa, asalkan Penguasa itu muslim dan masih sholat walaupun Penguasa itu bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

"Salaf(i) kedua"
Salaf(i) yang dengan metode pemahaman mereka membentuk pengikut yang taat untuk berjihad dan berpolitik memerangi orang-orang Yahudi dan Orang-Orang Musyrik.

"Salaf(i) pertama" "mempersilahkan" (mengikat perjanjian dengan) orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik menikmati kekayaan alam dari negeri Islam. Dengan kekayaan yang didapat dari negeri-negeri Islam, orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik menggunakkannya untuk berperang dengan "Salaf(i) kedua"

Sehingga secara tidak langsung kita sesama muslim saling membunuh.

"Salaf(i) pertama" mudah dipahami adalah mereka yang "menguasai" dan bermukim di wilayah kerajaan Arab Saudi dan mencoba menyebarluaskan paham Salaf(i) Wahabi termasuk ke negeri kita Indonesia dan mengundang para pemuda dari negeri kita untuk "belajar agama" di wilayah kerajaan Arab Saudi.

"Salaf(i) kedua"
Saya contohkan adalah pemahaman Sayyid Qutb dan Hasan Al-Banna.

Lihat tulisan sebelumnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/14/divide-et-impera/

Sudah pasti tokoh-tokoh pergerakan Islam akan tersinggung dengan contoh yang di sebutkan. Lebih baik "tersinggung" sekarang daripada sudara-saudara muslimku terlambat menyadari keadaan.

Kalau dalam Ahlussunnah wal Jamaah, seorang guru sebaiknya mempunyai "hubungan" dengan yang terdahulu dan pada ujungnya adalah ahlul bait (keluarga) Nabi.

Kalau dalam Salaf(i) beginilah keterhubungan mereka.

Metode Pemahaman Ibnu Taimiyah disiarluaskan oleh muridnya Ibnu Qayim Al jauzi, pengarang salah satu kitabnya adalah "Zadul Ma'ad"
Metode pemahaman beliau-beliau ini tidak mendapat sambutan baik di Siria dan Mesir, karena banyak bertentangan dengan fata-fatwa ulama yang lazim dipakai ketika itu.

Tetapi lama kelamaan, kira-kira 500 tahun kemudian Metode Pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah disambut dan "diangkat kembali" oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, pembangunan Salaf(i) Wahabi atau "Salaf(i) Pertama"

Jalur "Salaf(i) Kedua"
Metode pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah disambut pula di Mesir oelh Syaikh Muhammad Abduh (lahir 1849M, Wafat 1905M).
Dan Muhammad Abduh dengan perantaraan muridnya Syaikh Muhammad Rasyid Redha (wafat 1935M) Metode pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah disiarkan ke seluruh dunia, juga ke Indonesia, dengan memakai sarana majalah "Al-Manar" yang dipimpin oleh Muhammad Rasyid Redha sendiri.
Dari Rasyid Redha tersambung ke Sayyid Quthb dan Hasan al Bana

Ada pula yang berpendapat, bahwa "paham politik" bercampur dengan pemahaman "modernisasi agama" Syaikh Ibnu Taimiyah melalui seorang bangsa Afghanistan, bernama Sayid Jamaluddin Al Afgani (wafat 1897, lebih awal 8 tahun dibandingkan Muhammad Abduh).
Sayid Jamaluddin Al Afgani ini adalah guru dari Muhammad Abduh. Ia seorang "pemimpin politik", penganut faham Syiah (Zuhrul Islam, Juz I, hal 191).

Sesunggunhya racun "Modernisasi agama", "Nasionalisme" yang merupakan unsur-unsur yang dihembuskan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik dalam upaya "mengakhiri” khalifah Turki Ustmani sudah menjadi jelas adanya.

Di saat itu diupayakan kejatuhan khalifah Turki Ustmani oleh orang-orang yang memusuhi Islam (orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik) dengan gerakan mereka “Pusat-Pusat kajian ketimuran” yang dipimpin orientalis barat, “Modernisasi agama” , “Nasionalisme” yang salah satunya di motori Edward Terrence Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dengan sebutan “Lawrence of Arabia, “Sekularisme” yang dimotori Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Inilah sesungguhnya yang dimaksud ghazwul fikri (perang pemahaman).

Orang-orang yang memusuhi Islam paham bahwa mereka tidak akan dapat “mengutak-utik” Al-Qur’an karena terjaga sampai akhir zaman. Yang mereka lakukan adalah menyerang dalam tataran pemahaman / pemikiran.

Mereka suka sekali “mengangkat” ulama yang bertentangan dengan jumhur ulama pada waktu itu yakni Syaikh Ibnu Taimiyah yang sesungguhnya belum memenuhi syarat sebagai imam mujtahid karena keterbatasan pemahaman agamanya. Metode pemahaman beliau yang kita kenal sebagai secara tekstual atau harfiah. Orang-orang yang melabeli beliau sebagai “Syaikhul Islam” sebatas dari kalangan mereka.

“Salaf(i) pertama”  mengeluarkan pernyataan / pendapat bertentangan dengan pendapat kaum Muslim pada umumnya,

Di saat warga Gaza dibantai Zionis Israel, ulama Salaf(i) asal Saudi, Syaikh Shalih Al Luhaidan melarang umat berdemo. Bahkan menyebut pendemo itu sebagai khawarij. ”Demonstrasi yang terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat fasad fi Al Ardhi alias kerusakan di muka bumi,” kata Syeikh Shalih.

Syaikh Nasiruddin al-Albani menyatakan bahwa semua Muslim dan bangsa Palestina yang masih berada di tanah/negeri yang diduduki/dijajah wajib meninggalkan seluruh negeri itu dan menyerahkannya kepada kaum Yahudi, yang telah mengubahnya, setelah mereka menjajahnya, menjadi sebuah Negeri Kafir.

Menurut Abu Hanifah yang mengemukakan kemungkinan berubahnya Negeri Islam menjadi Negeri Kafir syaratnya adalah bahwa
• tanda-tanda Islam telah disingkirkan/dihilangkan darinya dan diganti dengan aturan-aturan kafir
• tidak ada seorang muslim atau kafir dzimmi pun yang masih tinggal disitu merasa aman dengan hukum Islam yang murni/asli,
• negeri itu diberi batas sebagai Negeri Kafir ataupun Negeri Perang.

Dan kita tahu bahwa tidak satupun syarat tersebut ada pada negeri yang sedang dijajah seperti di Palestina, sebab tanda-tanda Islam secara terbuka masih tetap eksis disana, kaum muslimin masih tetap bisa menikmati hukum-hukum Islam, dan tidak ada batas tersendiri sebagai Negeri Kafir ataupun Negeri Perang dalam Wilayah / Negeri Jajahan tersebut, saat ini.

Tetapi syeikh (al-Albani), telah mengumumkan/memfatwakan tanpa kesepakatan ummat bahwa Palestina telah berubah, yang tentu saja menguntungkan Israel, menjadi Negeri Kafir dan Negeri Perang. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban semua muslim yang adalah pemilik dan penduduk negeri untuk mengecam/menentang fatwa tersebut.

Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz mengharuskan warga Palestina yang tertindas (madhlum) untuk berdamai dengan Yahudi Israel dengan pendapat bahwa Palestina, Irak, Iran, Kuwait, Indonesia dan bahkan Saudi, tidak mempunyai kekuatan atas Negara Yahudi Israel ?
Menurut Ibn Baz, si tertindas (madhlum) – dalam hal ini warga Palestina -, boleh saja merelakan haknya demi perdamaian untuk keselamatan mereka.
Sebagaimana kaedah: “sesuatu yang tidak bisa didapatkan seluruhnya, maka tidak boleh ditinggalkan seluruhnya”. Ini berdasarkan QS. at-Taghabun ayat 16 dan bahwa "perdamaian itu adalah suatu kebaikan (agama)". Berdasarkan pada QS. an-Nisa’ ayat 128:
Ibn Baz hanya fokus pada perintah Allah yakni "mengadakan perdamaian" namun beliau melupakan larangan Allah pada QS al-Baqarah ayat 120, QS Ali Imran ayat 118 dan 119.

“Salaf(i) pertama” adalah ulama-ulama pragmatis sebagaimana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang berupaya mempertahankan “status quo” kerajaan Su’ud. Sehingga bahasa “fatwa” wahhabi tergantung regulasi-politis kerajaan.

Untuk  memenuhi sikap pragmatis tersebut,  ada kemungkinan sampai melakukan  "perubahan" atas kitab-kitab Ulama di Timur Tengah yang terdahulu

Sekarang kita dapat melihat beragam tanggapan muslim lain terhadap saudara-saudara muslim kita Salaf(i).  Salah satunya

http://www.evans86.cybermq.com/post/detail/8545/gelombang-penolakan-salafy-ekstrim

Mengapa mereka tidak mengkaji ulang metode pemahaman (madzhab) yang diikuti ?

Saya pribadi menyarankan saudara-saudaraku untuk meninggalkan madzhab Salaf(i), kalau pun mau mengikuti Salaf / Sunnah secara langsung maka ikutilah yang sesungguhnya, sebaiknya jangan mengikuti metode pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah atau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau syaikh-syaikh sealiran.

Persiapkanlah sumber-sumber penggalian salaf sesungguhnya. Namun karena terlampau jauhnya waktu masa sekarang dengan generasi terbaik (Salafush Solih) dan sukarnya mencari sumber-sumber / kitab yang asli  maka sebagaimana kebanyakan umat muslim dapat menggunakan hasil yang telah dicapai imam madzhab yang empat atau imam-imam mujtahid lainnya yang diakui oleh jumhur ulama bukannya imam yang ditentang oleh jumhur ulama.

Wallahu a’lam

Selasa, 27 April 2010

Mengangkat Taimiyah

Mengapa orang-orang yang memusuhi Islam yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik "mengangkat" kembali metode pemahaman (madzhab) Syaikh Ibnu Taimiyah ?

Mereka mengangkat metode pemahaman tokoh Islam yang ditentang oleh jumhur ulama pada zaman dahulu agar kelak dikemudian hari terjadi konflik dikalangan umat Islam.

Pandangan mereka terhadap Syaikh Ibnu Taimiyah  bahwa beliau tokoh yang mengembangkan pemikiran dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme.  Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah.  Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang "tidak mencerahkan". Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad.  Berangkat dari komitmen inilah kemudian Ibnu Taimiyyah merumuskan konsep-konsep mengenai negara.

Orang-orang yang memusuhi Islam sangat berkepentingan agar pintu ijtihad terbuka kembali walaupun waktu sudah terpaut jauh dari masa generasi terbaik (Salafush Soleh). Kepentingan mereka agar memungkinkan mereka mengadakan pemahaman-pemahaman baru (modernisasi agama) terhadap  Al-Qur'an dan Hadist. Inilah sebenar-benarnya ghazwul fikri atau perang pemahaman/pemikiran.

Disamping itu mereka membutuhkan justifikasi dari keinginan mereka mensosialisasikan program mereka yakni negara atau nation state dan "nasionalisme" untuk menggantikan "kesatuan akidah "umat Islam pada waktu itu dengan sistem khalifah. Sehingga sebagian muslim menganggap bahwa "bela negara" adalah sebagian dari iman walaupun tanpa disadari "lawan negara" yang diperangi adalah saudara-saudara muslim sendiri.

Untuk memahami semua keinginan mereka, saya angkat sebuah tulisan tentang Syaikh Ibnu Taimiyah dari sudut pandang mereka yakni saya contohkan dari kalangan Liberal sebagai  "wakil" orang-orang yang memusuhi Islam.

Sumber : http://islamlib.com/id/artikel/jejak-liberal-dan-fundamentalis-dalam-pemikiran-ibnu-taimiyyah/
Jejak Liberal dan Fundamentalis dalam Pemikiran Ibnu Taimiyah

Oleh Saidiman

Charles Cruzman mengemukakan teori tentang asal muasal kaum liberal dan fundamentalis yang berakar pada pemikiran yang sama. Keduanya berangkat dari kegelisahan untuk melakukan perubahan. Bedanya adalah bahwa jika kaum liberal melakukan perubahan dengan menatap ke depan sambil membawa masa lalu yang relevan, sementara kaum fundamentalis sepenuhnya kembali ke masa lalu. Ibnu Taimiyyah (1263 – 1328) tampak mewakili tesis yang dikemukakan oleh Cruzman ini. Tadarus Ramadan Jaringan Islam Liberal 2008 hari kedua (9 September 2008) mengupas pemikiran Ibnu Taimiyyah yang tertuang dalam buku al-Siyãsah al-Syar’iyyah. Pada tadarus ini, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia dan Novriantoni, Lc, M.Si. tampil sebagai pembicara.

Musdah Mulia mengawali pengajian dengan memberi latar belakang kehidupan Ibnu Taimiyyah. Abul Abbas bin Abdul Halim bin Abdullah bin Muhammad Ibn Taimiyyah lahir dari lingkungan mazhab Hanbali. Ayahnya, Shihabuddin bin Abdul Halim, adalah seorang ulama Hanbali. Kakeknya, Majduddin bin Abdullah, juga adalah ulama besar Hanbali. Demikian pula dengan pamannya, Fakhruddin bin Abdul Salam. Dia sendiri tidak pernah mengklaim diri sebagai ulama Hanbali.

Ibnu Taimiyyah lahir di tengah kondisi yang carut marut. Berasal dari Harran, kota kecil di Suriah. Ketika Mongol menyerbu kota itu, dia dan keluarganya hijrah ke Damaskus. Saat itu adalah beberapa tahun ketika kekuatan Mongol, Khulaghu Khan, menghancurkan Baghdad. Khilafah hancur. Kekuasaan Islam kemudian berhasil dibangun kembali di tangan Dinasti Mamluk, dinasti yang terbangun dari budak-budak dari Turki yang kemudian berhasil menghalau pasukan Mongol. Di masa inilah Sajarat al-Durr menjadi ratu pertama di dalam pemerintahan Islam. Tetapi dinasti yang tidak terlalu kokoh ini kemudian dipenuhi dengan cerita kelam dan darah.

Di atas situasi huru hara itulah Ibnu Taimiyyah tumbuh menjadi intelektual. Muridnya, Abdul Rahman, mengatakan bahwa karya Ibn Taimiyyah tidak kurang dari 500 judul. Karya terbesarnya adalah Majmu’ Fatãwa (Kumpulan Fatwa) yang mencapai 37 jilid. Sebagian besar bukunya ditulis di dalam penjara. Dia sendiri meninggal di penjara.

Menurut Musdah, sebetulnya kajian politik yang lebih serius bukan dalam buku al-Siyãsah al-syar’iyyah, melainkan buku Minhãj al-Sunnah al-Nabawiyyah dan Ahisbatul Islam. Musdah menekankan bahwa sebelum membaca pemikiran Ibnu Taimiyyah, kita harus masuk ke abad XIV. Ibnu Taimiyyah pertama-tama mengembangkan pemikirannya dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang tidak mencerahkan. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Berangkat dari komitmen inilah kemudian Ibnu Taimiyyah merumuskan konsep-konsep mengenai negara.

Kenapa kita perlu bernegara? Dalam kitab al-Siyãsah, dia menyebut alasan sosiologis bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, harus berkelompok. Ibnu Taimiyyah percaya bahwa membangun negara adalah bagian dari perintah Allah bahwa kita harus memikirkan urusan-urusan bersama. Untuk mendukung argumentasinya, ia mengemukakan hadis “man lam yahtam bi amri al-muslimîn fa laisa minhum” (siapa yang tidak memikirkan urusan masyarakat maka sebetulnya dia bukan seorang Muslim). Ini tidak berbeda dengan pemikiran sebelumnya: Al-Farabi, Ibn Abi Rabi, dan Al-Gazali yang mengadopsi pemikiran Plato dan Aristoteles.

Menurut Ibnu Taimiyyah, negara timbul karena perlunya menegakkan doktrin amar ma’ruf nahî mungkar. Amar makruf nahi mungkar tidak mungkin diwujudkan tanpa adanya negara. Dalam buku al-Siyãsah, negara bertujuan untuk menegakkan syariah. Tetapi dia tidak memerinci tentang apa yang dimaksud dengan melaksanakan syariah. Dia hanya menyebut bahwa negara adalah amanah. Untuk itu kepala negara harus berlaku amanah.

Kepercayaan Ibnu Taimiyyah kepada negara untuk menjamin terlaksananya perintah agama tampak sangat dominan. Semakin nyata kemudian ketika Ibnu Taimiyyah merumuskan posisi kepala negara dalam buku Minhãju al-Sunnah. Bagi Ibnu Taimiyyah, kepala negara adalah bayangan Tuhan di muka bumi. Pandangan ini sebetulnya muncul dari Arianisme yang kemudian diadopsi oleh ummat Islam pada abad ke-9. Bagi Ibnu Taimiyyah, tidak boleh ada upaya penurunkan kepala negara atau beroposisi. Karena sejelek-jeleknya kepala negara jauh lebih baik daripada tidak bernegara. Namun begitu, Ibnu Taimiyyah juga menolak pandangan yang mengatakan bahwa imãmah adalah rukun Islam, sebagaimana yang diakui oleh kelompok Syiah.

Kendati Ibnu Taimiyyah tidak memberi perincian mengenai bentuk negara ideal. Beberapa respon terhadap pemikiran yang berkembang saat itu menempatkannya sebagai pemikir yang cukup maju. Secara tegas Ibnu Taimiyyah menolak konsep kelompok Syi’ah yang menyatakan bahwa kepala negara harus berasal dari ahl al-bait, karena dianggap ma’sum atau terbebas dari dosa. Menurut Ibnu Taimiyyah, tidak ada seorang pun yang ma’sum, bahkan seorang nabi sekalipun. Nabi hanya ma’sum pada perkara-perkara kenabian, tetapi tidak untuk urusan duniawi.

Dia juga menolak pandangan kelompok Sunni, yang dirumuskan oleh al-Mawardi, bahwa kepala negara harus sehat jasmani dan berasal dari suku Quraisy. Prasyarat sehat dan penampilan fisik, bagi Ibnu Taimiyyah, tidak perlu untuk seorang kepala negara, sebab Nabi sendiri pernah menyuruh sahabat untuk taat kepada seorang budak yang buruk rupa.

Pengenai pemimpin yang harus berasal dari suku Quraisy, Ibnu Taimiyyah jelas menolak bahkan mengecamnya. Pandangan mengenai al-aimmatu min Quraisyin adalah pandangan dominan dalam Islam sejak abad ke-2 sampai masa Ibn Khaldun. Jika Ibn Taimiyyah sudah melakukan penolakan terhadap konsep ini, Ibn Khaldun justru melakukan rasionalisasi. Menurut Ibn Khaldun, yang dimaksud dengan Quraisy bukan lagi berarti keturunan darah Quraisy, tetapi yang diambil adalah sifat-sifat kepemimpinan yang mencerminkan suku Quraisy, yaitu keberanian, keperkasaan, dan ta’ashshub (solidaritas kelompok).

Musdah Mulia melihat bahwa ada yang ganjil pada masalah ini. Ummat Islam demikian mudah menerima penolakan terhadap konsep kepemimpinan Quraisy, di mana sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang taken for granted. Tidak ada persoalan yang benar-benar keras ketika doktrin ini dihapus. Sementara konsep-konsep mengenai ketimpangan gender sangat susah untuk dicabut, misalnya hadis “lan yufliha qaumun wallû amra’ahum imra’atan” (tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan).

Bagaimana mengangkat kepala negara? Masyarakat Muslim ketika itu menerima dua metode: penunjukan dan pemilihan. Penunjukan berasal dari kalangan Syiah. Sementara Sunni memilih konsep pemilihan tetapi oleh segelintir orang yang disebut sebagai ahl al-halli wa al-aqdi. Ibn Taimiyyah menolak konsep ahl al-halli wa al-aqdi sembari mengajukan konsep ahl al-syauqah yakni semua kelompok dalam masyarakat yang memiliki otoritas: petani, militer, pengusaha, dan seterusnya. Di sini Ibnu Taimiyyah secara sederhana mulai memperkenalkan konsep perwakilan dalam politik. Dia memang tidak menyebut bahwa ahl al-syauqah juga terdiri dari orang awam, budak, dan perempuan. Namun ahl al-halli wa al-aqdi jelas tidak memasukkan unsur orang awam, budak, perempuan, difabel, dan orang kafir dalam komposisinya.

Perhatian Ibnu Taimiyyah terhadap upaya membangun negara memiliki dasarnya dalam karakter pemikiran Ibnu Taimiyyah yang secara umum berupaya untuk menjadikan segala sesuatu tampak jelas. Dia mengutip hadis: “Anã nabiy al rahmah anã nabiy al malhamah” (saya adalah nabi yang penuh kasih sayang tapi juga hebat di medan pertempuran).  Dia juga mengutip “Anã al-duhhûq al qaththãl” (saya adalah nabi yang suka guyon, tapi saya juga bisa sangat mematikan). Bagi Ibn Taimiyyah, Islam bukan hanya semata-mata agama damai, tapi juga bisa menjadi agama yang keras. Buku yang sedang dikaji dimulai dengan ayat “wa anzala ma’ahul hadid.” Menurut Novriantoni, sebetulnya ini adalah ayat yang berhubungan dengan besi, tetapi Ibnu Taimiyyah kemudian menghubungkannya dengan doktrin lain bahwa Nabi itu diberi bekal dengan kitab dan timbangan. Sebetulnya ada ayat “huwa alladzî ba’atsa fî al-ummiyyîna rasûlan minhum yatlû alaihim ãyãtihî wa yuzakkîhim wa yu’allimuhumul kitãba wa al-hikmah”.Tetapi Ibnu Taimiyyah kelihatan tidak terlalu suka dengan konsep kitab dan hikmah, dia lebih suka dengan konsep kitab dan timbangan (mizãn). Timbangan ini adalah sebuah upaya untuk menjadikan sesuatu menjadi jelas dan pasti. Hadid adalah besi. Dan besi adalah kekuasaan.

Menurut Novri, kitab al-Siyãsah adalah semacam doktrin agar ummat Islam tidak bersifat lemah. Agama bukan hanya spiritualitas. Agama ini juga adalah persoalan supremasi atau perebutan kekuasaan. Di akhir kitab, dia menyebut empat jenis manusia: yurîdûna al ‘ulû ala al-nãs wa al-fasãd fî al-ardhy (mereka yang ingin merebut kekuasaan dan ingin melakukan pengrusakan, berbuat onar); alladzina yurîdûna al-fasãd bila ‘ulû (semata-mata untuk bikin onar tapi tidak ingin mendominasi); yurîdûna al-‘ulû bila fasãd (ingin berkuasa tapi tidak mau malakukan pengrusakan); dan alladzina lã yurîdûna ‘uluwwan fi al-ardhy wa lã fasãd (tidak ingin supremasi tapi juga tidak ingin melakukan pengrusakan di bumi).

Ibnu Taimiyyah mengejek bentuk agama tanpa kekuasaan, demikian pula kekuasaan tanpa agama. Bagi dia, ini adalah jalan bagi maghdûb alaihim wa al-dhãllîn (jalan yang termurkai dan sesat). Pada teks lain dia menyebut bahwa jalan yang termurkai itu adalah jalan orang-orang Yahudi, sementara jalan yang sesat adalah jalan orang-orang Kristen. Yahudi dalam konteks ini identik dengan Daud yang membangun kekuasaan. Sementara Kristen bersama Yesus tidak berhasil membangun kerajaan duniawi. Yang paling ideal adalah Muhammad yang berhasil mengambil jalan tengah atau mewujudkan keduanya, dia menyebutnya sebagai al-shirãt al-mustaqîm (jalan yang lurus).

Menurut Novri, dalam memandang kekuasaan, Ibn Taimiyyah mengambil posisi yang sangat pragmatis. Tujuan kekuasaan, bagi Ibnu Taimiyyah, sesungguhnya adalah ambisi untuk menjadi seperti Fir’aun; sementara mereka yang ingin kaya adalah untuk meniru Qarun. Karena itu, dia mendesak agar agama masuk ke dalam kekuasaan. Pandangan ini berbeda dengan pandangan ulama-ulama sebelumnya yang cenderung positif terhadap politik. Imam Syafi’i, misalnya, mengatakan “La siyãsata illã mã wafaqa al-syar’” (tidak ada politik yang menyalahi syariah). Ibn al-Jauzi menyatakan “Inna al-syari’ata siyãsatun ilãhiyyatun wa muhal ayyaqa siyãsatun ila halalun yahtãju ma’ahu siyãsatu al-halqi” (politik identik dengan syariat, syariat sendiri adalah politik ketuhanan). Bagi Jauzi, Tuhan berpolitik di dunia dengan cara menurunkan syariat. Dalam syariat itu sendiri sudah terkandung semua aspek kehidupan ummat manusia untuk diatur menurut hukum-hukum Tuhan.

Buku ini berisi dua hal utama: bagaimana mencari pemimpin dan masalah hukum. Ketika bicara mengenai hukum, maka semua bentuk hukum Islam itu keras. Kesemuanya ini, menurut Novri, diadopsi hampir seratus persen oleh rezim Taliban. Dalam buku Khazanah Intelektual Islam, Nurcholish Madjid menyebut Ibnu Taimiyyah adalah pemikir yang sering disalahpahami. Bagi Cak Nur, Ibnu Taimiyyah justru memiliki banyak sumbangan penting dalam studi-studi sosial. Namun menurut Novri, agak berlebihan jika terlalu banyak berharap kepada Ibnu Taimiyyah. Sebab jika dirujuk dari sejarah, maka Ibnu Taimiyyah sesungguhnya lahir pada masa kemunduran Islam yang mencoba untuk melakukan purifikasi Islam. Dia adalah seorang literalis. Hampir tidak ada statemen yang tidak mengutip al-Qur’an dan Hadis, dia hampir tidak pernah mengutip orang lain.

Ibnu Taimiyyah memang menawarkan beberapa konsep yang bisa dijadikan landasan bagi pengembangan pemikiran liberal, tetapi juga menjadi pemicu bagi perkembangan pemikiran fundamentalis. Mengenai jihad, misalnya, Ibnu Taimiyyah dianggap sebagai bapak kaum salafis-jihadis. Dia mengatakan bahwa membunuh orang-orang kafir adalah jihãdul fãdhil. Dia juga menegaskan bahwa orang yang kepadanya sudah sampai kabar mengenai Nabi Muhammad yang membawa syariat Islam kemudian dia tidak menganut Islam wajib dibunuh. Jika dalam tradisi klasik perdebatan yang muncul seputar mereka yang menerima kabar tapi tidak beriman adalah apakah dia masuk surga atau tidak, maka bagi Ibnu Taimiyyah apakah dia dibunuh atau dibiarkan hidup. Ibnu Taimiyyah berpandangan bahwa sepanjang kehidupan nabi adalah jihad. Nabi istirahat dari jihad hanya karena ia lemah. Sepanjang tahun di Madinah dipenuhi dengan perang.

Di akhir pengajian, salah satu peserta diskusi, M. Dawam Rahardjo, mengajukan tesis mengenai Islam dan negara. Dawam mencoba melampaui pemikiran Ibnu Taimiyyah mengenai negara yang dicipta sebagai instrumen agama. Bagi Dawam, cita-cita utama Nabi Muhammad adalah kekuasaan atau membangun negara. Agama justru adalah intrumen untuk mempertahankan negara.

Wallahu a’lam




Catatan penulis blog,

Sadarlah saudara-saudara muslimku. Tampak jelas bahwa kita secara tidak disadari telah di adu domba oleh orang-orang yang memusuhi Islam yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Sebagaimana firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam (khalifah Turki Ustmani), maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat. Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa).

Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.

Inilah titik awal suksesnya propaganda orang-orang yang memusuhi Islam, karena kita mau menerima nation-state (kesatuan berdasarkan negara) atau yang dikenal dengan nasionalisme menggantikan aqidah-state (Wilayah kesatuan berdasarkan akidah/agama)

Kerajaan Saudi, sejauh ini, sejauh yang kita tahu, mereka “melindungi” orang-orang Yahudi maupun orang-orang musyrik yang “masuk” ke negara mereka dengan alasan “terikat” perjanjian. Namun kita tak pernah tahu sampai kapan pernjanjian itu diakhiri. Begitu pula dengan pemerintahan negeri kita.
Dengan ‘perjanjian” itu, mereka (orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik) mendapatkan kekayaan dari sumber daya alam yang dianugerahkan Allah kepada negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim.

Dengan kekayaan yang mereka peroleh, mereka gunakan memerangi saudara-saudara muslim kita di belahan dunia yang lain. Secara tidak lansung penguasa Saudi maupun penguasa negeri kita, ikut andil untuk membunuh saudara-saudara muslim tsb dengan adanya “ikatan perjanjian”.

Wallahu a’lam