Tampilkan postingan dengan label penguasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penguasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

Butuh Fatwa Ulama

Tragedi yang terjadi seperti di Mesir, yang bertanggung jawab adalah Umara / penguasa dan termasuk pula Ulama karena Ulama selama ini tidak memperingatkan Umara / penguasa.

Umumnya fatwa ulama dikeluarkan untuk "akibat" bukan pada "penyebab"

Demonstrasi seperti di Mesir, hakikatnya adalah sebuah akibat, sedangkan umat muslim sebenarnya butuh fatwa ulama untuk "penyebab". Itulah yang kami tuliskan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2010/06/08/fatwa-untuk-penguasa/

Untuk mengatasi permasalahan baik di Mesir, Palestina, Afghanistan dan negara-negara lain yang pemimpinnya cuma "boneka" Amerika.

Sebaiknya seluruh ulama mengeluarkan fatwa bagi seluruh pemimpin yang mengaku sebagai muslim wajib hukumnya untuk menghentikan pergaulan/pertemanan dengan Amerika atau sejenisnya, dimana dibelakang mereka semua adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik

Mengingat bahwa Allah ta'ala memang menciptakan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik mempunyai rasa permusuhan kepada kaum muslim.

Firman Allah ta’ala yang artinya,
“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Sudah jelas kita ketahui bahwa negara-negara dengan pemimpin bonekanya Amerika telah menimbulkan kemudharatan bagi kaum muslim.

Sudah dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)

Kita harus selalu ingat bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak beragama karena agama hanyalah Islam. Baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2011/01/21/agama-hanya-islam/
dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Marilah kita perlakukan orang-orang non muslim itu sebatas manusia biasa. Kita baik pada mereka jika mereka baik kepada kita, namun jangan pernah menjadikan teman ataupun penasehat bidang apapun.
“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

Bagaimanakah kita harus bersikap terhadap para pemimpin dan penguasa yang berteman dengan orang-orang yang memang telah diciptakan Allah Azza wa Jalla untuk dimurkai, marilah kita ikuti sabda Rasulullah berikut ini

Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang dungu.” Ka’ab bertanya, “Apakah kepemimpinan orang-orang dungu itu ?”. Beliau berkata, “Yaitu para penguasa yang ada setelahku, mereka tidak mengikuti tuntutanku, dan mereka tidak meneladani sunnahku. Siapa yang membenarkan mereka dengan kebohongannya dan membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bukan bagian dariku dan aku bukan dari mereka, serta mereka tidak akan menemuiku di atas telagaku. Dan siapa yang tidak membenarkan mereka dengan kebohongannya dan tidak membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bagian dariku dan aku bagian darinya serta akan menemuiku di atas telagaku.” (HR. Ahmad, haditsnya Shahih)

Wassalamu’alaikum


Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Rabu, 26 Januari 2011

Bersekutu dengan Amerika

Persekutuan Ulama dengan Penguasa dinasti kerajaan Arab Saudi, kita semua telah mengetahui. Semua itu adalah kehendak Allah ta’ala

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita menyikapi kehendak Allah tersebut dengan sikap yang dicintaiNya.

Sepanjang riwayat Penguasa dinasti Saudi, Raja Faisal bin Abdul Azis sajalah yang sesuai dengan apa yang kaum muslimin inginkan, namun atas kehendak Allah, beliau terbunuh.

Kenapa Raja Faisal bin Abdul Azis terbunuh ?

Hampir seluruh informasi yang kita dapat menceritakan bahwa beliau terbunuh karena kepemimpinan beliau tidak sesuai dengan keinginan orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman.

Allah ta’ala telah memperingatkan kita semua dengan firmanNya yang artinya “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )

Contoh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Faisal_dari_Arab_Saudi
***** awal kutipan *****
Faisal bin ‘Abd al ‘Aziz Al Sa’ud (1906-25 Maret 1975) (bahasa Arab: فيصل بن عبدالعزيز آل سعود) adalah Raja Arab Saudi yang menjabat mulai tahun 1964 hingga tahun 1975.

Raja Faisal lahir di Riyadh dan merupakan anak keempat Raja Abdul Aziz Al Saud. Raja Faisal memerintah sekumpulan laskar dan berhasil memenangkan pertempuran di Hijaz. Oleh karena itu, ia dilantik menjadi Gubernur Hijaz pada tahun berikutnya. Setelah Arab Saudi didirikan, dia diberi jabatan Menteri Luar Negeri Arab Saudi pada tahun 1932.

Setelah resolusi PBB mengenai pemecahan Palestina dan pendirian Israel, Pangeran Faisal (masih belum menjadi raja) mendesak ayahandanya supaya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, tetapi desakannya itu ditolak. Selepas skandal keuangan Raja Saud, Pangeran Faisal dilantik menjadi pemerintah sementara. Pada tanggal 2 November 1964, ia dilantik menjadi raja setelah Raja Saud di usir keluar dari Arab Saudi ke Yunani.

Raja Faisal melakukan banyak reformasi sewaktu menjadi raja, diantaranya adalah memperbolehkan anak-anak perempuan bersekolah, televisi, dan sebagainya. Usahanya ini mendapat tentangan dari berbagai pihak karena perkara-perkara ini dianggap bertentangan dengan Islam. Ia berasa amat kecewa saat Israel memenangkan Perang Enam Hari pada tahun 1967.

Pada tahun 1973, Raja Faisal memulai suatu program yang bertujuan untuk memajukan kekuatan tentara Arab Saudi. Pada tanggal 17 Oktober 1973, ia menghentikan ekspor minyak Arab Saudi ke Amerika Serikat yang menyebabkan harga minyak di Amerika Serikat melambung tinggi. Hal ini dilakukan untuk mendesak Amerika Serikat agar menekan Israel keluar dari wilayah Palestina.
***** akhir kutipan *****

Kemudian secara dzahir (yang tampak) pada tanggal 25 Maret 1975, Raja Faisal ditembak mati oleh anak adiknya, yaitu Faisal bin Musad.

Namun kami yang mendalami Tasawuf memandang terbunuhnya Raja Faisal adalah semata-mata karena kepemimpinannya yang paling sesuai dengan syariat Islam diantara raja-raja Saudi. karena beliau tidak bersekutu dengan Amerika.

Raja Faisal-lah, sosok kepemimpinan yang diharapkan oleh umat Islam untuk mengatasi kebiadaban Amerika.

Namun sistem kerajaan yang berlaku di Saudi dan diterima oleh para ulama Salafi Wahabi dan membiarkan persekutuan penguasa dinasti Saudi dengan Amerika yang menjadikan seolah-olah para ulama Salafi Wahabi membiarkan kezhaliman terjadi di muka bumi.

Dari persekutuan dengan Amerika, Inggris dll yang merupakan orang-orang yang keras permusuhan dengan kita itulah diduga mempengaruhi ulama-ulama Salafi Wahabi. Ulama-ulama disana diduga mulai mau menerima konsep atau pemikiran dari teman sekutunya.

Untuk itulah kita harus selalu mengingat peringatan yang disampaikan oleh Allah ta’ala dalam firmanNya yang artinya “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)

Hal yang terjadi saat ini di Kerajaan Saudi adalah hasil persekutuan antara ulama dan penguasa / dinasti Kerajaan

Ulama disana seolah-olah mengatakan janganlah kalian berdemonstrasi ataupun berkelompok, selama penguasa masih sholat dan tidak memerintah rakyatnya perbuatan maksiat, sabarlah semua itu kehendak Allah ta’ala. Salah satu hadits pegangan mereka adalah
Ali bin Hujr menceritakan kepada kami, Baqiyyah bin Al-Walid memberitahukan kepada kami, dari Bahir bin Said dari Kholid bin Ma’dan, dari Abdur Rahman bin Amr As Sulami, dari Al-Irbadh bin Sariyah berkata: “Rasulullah saw menasehati kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh suatu nasehat yang penting yang mana mata menangis dan hati bergetar karenanya. Seseorang berkata: “Sesungguhnya ini adalah nasehat orang yang akan meninggalkan, maka dalam hal apa saja engkau mengamanatkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at, biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu) karena sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kamu tentu akan melihat terjadinya banyak perselisihan. Dan jauhilah perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya perkara-perkara yang baru (bid’ah) itu sesat. Barang siapa di antara kamu menjumpai hal itu, maka ia harus berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus yang diberi petunjuk, peganglah sunnah itu dengan kuat-kuat.” (HR At Tirmidzi)

Bagi mereka, mereka harus taat walaupun seorang hamba sahaya yang memimpin

“Beliau bersabda: “Aku pesan kepadamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta’at, biarpun seorang hamba sahaya dari Habsyah (yang memimpinmu)”

Bagi kami memahami hadits yang mencontohkan seorang hamba sahaya bukanlah kepada kemampuan atau kompetensi mereka dalam memimpin atau tidak mempermasalahkan siapapun yang menjadi pemimpin namun hadits itu mencontohkan walaupun hamba sahaya yang terpenting adalah ketaqwaan kepada Allah ta’ala.

Sungguh sebaik-baik pemimpin adalah yang paling taqwa kepada Allah ta’ala, begitu pula sebaik-baiknya imam sholat, sebaik-baiknya pemimpin keluarga (bagaimana memilih calon suami).

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.[QS. Al-Hujurat (49) : 13]

Hadits tersebut kami pahami agar kita mentaati pemimpin yang bertaqwa kepada Allah ta’ala walaupun dia hanya seorang hamba sahaya.

Mustahil kita mentaati pemimpin yang tidak cakap(berkompeten) atau pemimpin yang dzhalim.

Kita boleh mengingkari dan membenci pemimpin seperti itu namun kita dilarang memberontak atau makar apalagi sampai tertumpah darah sesama muslim (selama masih sholat).

“Seburuk-buruknya Pemimpin adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka melaknat kalian.” (HR. Muslim).

Dari Ummu Salamah radliyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

“Akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para shahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya).

Jelaslah bagi siapa yang ridha dan terus mengikuti pempimpin yang buruk maka mereka pun turut berdosa.

Kita wajib berupaya memilih pemimpin apalagi pemimpin sebuah negeri.

Rasulullah bersabda : “Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) ”

Sungguh, dianggap (penisbatan) berkhianat kepada Allah , Rasul-Nya dan kaum mukminin, merupakan ancaman keras bagi siapapun yang tidak bertanggung jawab dalam memilih pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)

Diskusi selengkapnya silahkan baca pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/17/pemimpin-dalam-islam/

Berikut foto-foto yang menceritakan "pertemanan" penguasa dinasti  Saudi dengan  orang-orang yang sudah diperingatkan oleh Allah ta'ala sebagai orang-orang  yang paling keras permusuhannya. Hakikatnya "pertemanan" ini  adalah menentang peringatan Allah ta'ala

Sekali lagi kita harus selalu mengingat peringatan Allah ta'ala yang disampaikan dalam firmanNya yang artinya  “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )



 

 

 

 

 

 

 

 







 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak,  atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”
(Qs. Al Mujadilah : 22)

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…”  (Qs. Ali-Imran : 28)

Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang dungu.” Ka’ab bertanya, “Apakah kepemimpinan orang-orang dungu itu ?”. Beliau berkata, “Yaitu para penguasa yang ada setelahku, mereka tidak mengikuti tuntutanku, dan mereka tidak meneladani sunnahku. Siapa yang membenarkan mereka dengan kebohongannya dan membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bukan bagian dariku dan aku bukan dari mereka, serta mereka tidak akan menemuiku di atas telagaku. Dan siapa yang tidak membenarkan mereka dengan kebohongannya dan tidak membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bagian dariku dan aku bagian darinya serta akan menemuiku di atas telagaku.”  (HR. Ahmad, haditsnya Shahih)

“Tidak ada yang merusak agama ini, kecuali raja (penguasa/umara) dan para ulama su’u serta para rahibnya.”  (Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi)

Wassalam

Senin, 17 Januari 2011

Kemajuan Umat Islam

Timbul pertanyaan dikalangan kita mengapa kemajuan umat Islam tertinggal dibandingkan dengan kaum Barat khususnya kaum non muslim.

Kemajuan umat Islam sangat-sangat tergantung dari pengetahuan, pemahaman dan pengamalan tentang IHSAN bagi seluruh umat Islam.

Ihsan adalah seolah-olah melihat Allah atau yakin bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan

Dengan syarat minimal dari Ihsan bahwa setiap umat Islam harus dapat meyakini bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan kita dapat mengatasi masalah korupsi, ketidak adilan, mafia pajak, mafia hukum dan masaah-masalah lainnya yang diakibatkan perbuatan yang telah dilarang oleh Allah ta'ala yang menciptakan kita.

Coba kita bayangkan bagaimana kemajuan umat Islam di negeri kita jika tidak ada sama sekali korupsi dan keadilan ditegakkan oleh para penguasa/pemimpin

Hal itu bisa terwujud jika umat Islam secara umum atau khususnya para penguasa maupun aparat pemerintah, malu dengan Allah ta'ala yang begitu dekat dan bagi mereka yang belum dapat merasakan kedekatan denganNya, minimal meyakini bahwa Allah ta'ala melihat seluruh perbuatan mereka.

Sungguh Allah itu dekat, sesuai dengan firman Allah yang artinya

“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah: 85).

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" ( Al Baqarah: 186).

Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )

Saat ini kesalahpahaman telah terjadi, meluas dan sistematik, sebagian umat Islam meyakini bahwa Allah ta'ala bertempat di tempat yang begitu tinggi yakni di atas arasy (cipataanNya yang paling tinggi) sehingga secara tidak disadari umat Islam tidak merasakan kedekatan dengan Alah ta'ala

Allah itu dekat itu bukan berarti bahwa Allah ta’ala itu bertempat di bumi , di langit atau di mana-mana. Maha suci Allah ta’ala dari “di mana”.

Allah itu dekat dapat kita yakini dengan sifatNya, namaNya dan perbuatanNya sedangkan sifatNya,namaNya dan perbuatanNya tidak berpisah dengan dzatNya.
Jadi dengan sifatNya,namaNya dan perbuatanNya, atas kehendakNya kita dapat menjadi seolah-olah melihat dzatNya inilah yang dinamakan dengan Ihsan

Dari sifat 20 Allah ta'ala kita paham dan yakin bahwa Allah itu wujud (ada) , mustahil tidak ada (adam).

Kita secara syariat ada karena Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim nya Allah ta'ala.

Coba bayangkan jika seluruh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, penciuman/rasa itu tidak diberikan oleh Allah yang maha pengasih dan penyayang , apakah kita ada ?

“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

Lalu pada bagian manakah dari agama Islam kita dapat mengetahui tentang Ihsan.
Tentang Ihsan atau tentang Akhlak diuraikan dalam Tasawuf dalam Islam.

Dengan tasawuf dalam Islam kita dapat mengetahui tentang akhlak yakni bagaimana kita berakhlak sebagai hamba Allah dengan Allah ta'ala, bagaimana kita berakhlak dengan ciptaanNya yang lain seperti alam, tumbuh2an, hewan dan termasuk bagaimana kita berakhlak dengan sesama manusia.

Baik, kita sedikit masuk ke dalam tasawuf dalam Islam.

Pada hakikatnya kita mengenal Allah ta'ala sejak kesaksian kita sewaktu di rahim ibu sampai kita dewasa.

Kesaksian kita sewaktu di rahim Ibu
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Namun sayangnya kita lupa akan kesaksian tersebut dipengaruhi beberapa hal yang pada awalnya keadaan fitri (suci). Silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/01/posisi-di-sisi-allah/

Dari keadaan fitri (bagaikan kertas putih) berubah karena pengaruh orang tua, guru dan lingkungan terhadap pemahaman agama. Pokok-pokok agama Islam yakni, tentang Islam (rukun Islam/Fiqih), tentang Iman (rukun iman/Ushuluddin/I’tiqad) dan tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam).

Umumnya kita diajarkan lebih mengutamakan dua pokok saja yakni tentang Islam dan Tentang Iman namun umumnya sebagian ulama tidak mengajarkan dan membimbing tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam) karena belum paham atau salah paham. Sebagaiman yang kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/20/tasawuf-dalam-islam/

Padahal dalam dunia Tasawuf dalam Islam dikenal
Awaluddin makrifatullah, awal-awal agama ialah mengenal Allah
Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, (dzohir atau “mata kepala”)
tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”. (dilihat oleh hati atau bashirah, “mata hati”)

Sayyidina Ali ra, merupakan khalifah penutup dari Khulafaur Rasyidin yang empat, beliaulah yang lebih khusus menyiarkan tentang Ihsan atau akhlak atau tasawuf dalam Islam. Silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/15/2010/11/04/nasehat-sayyidina-ali-ra/

Sayang sekali sebagian umat muslim tidak atau belum mendalami apa yang beliau syiarkan karena terganggu oleh "pencitraan" terhadap Sayyidina Ali ra yang dilakukan oleh saudara-saudara muslim kita kaum Syiah

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.

Terjadi perbedaan pemahaman tentang Sayyidina Ali ra sebagai imam dan khalifah antara kaum Syiah dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah atau disingkat Sunni
Silahkan baca tulisan (bagian akhir) pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/siapakah-wali-allah/

Perbedaan pemahaman inilah salah satunya gangguan bagi kemajuan umat Islam

Jadi kesimpulan kami kemajuan umat Islam sangat-sangat tergantung dari pengetahuan, pemahaman dan pengamalan tentang IHSAN bagi seluruh umat Islam.

Wassalam

Senin, 16 Agustus 2010

Berjamaah dan Kepemimpinan

Tulisan kali ini, Insyaallah saya akan menguraikan sebuah kesalahpahaman lagi, yakni mengenai berjama'ah dan kepemimpinan. Kesalahpahaman ini mulai terjadi sejak kejatuhan khalifah Turki Ustmani dan terus sampai saat kini atau sampai zaman modern ini.

Sebagian kaum Wahabi atau Salaf(i) melarang kaum muslim untuk membentuk jama’atul minal muslimin (kelompok muslim, organisasi masa muslim, tandzim, harokah, tarekat atau bentuk yang lain).

Bagi mereka perihal ini akan mempengaruhi Ukhuwah Islamiyah. Sebenarnya apa yang mereka khawatirkan adalah bentuk firqah atau aliran dalam agama Islam.

Firqah atau aliran terbentuk jika terjadi perbedaan dalam i’tiqad/aqidah/keyakinan dengan yang disepakati oleh jumhur ulama.

Perbedaan i’tiqad/keyakinan, sebagai contoh yang telah diuraikan oleh Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya– berkata: "Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir. Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu'aththil -atheis- (orang yang meniadakan Allah). Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim". (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya)

Kita harus dapat membedakan antara berfirqah dengan berjama'ah.

Sedangkan jama’atul minal muslimin atau berjamaah sangat dianjurkan jika kita mempertimbangkan belum lagi terbentuk Jama’atul Muslimin sejak berakhirnya sistem khalifah (pemerintahan) pada masa Turki Ustmani.

Diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).

Oleh karena telah lepasnya ikatan Jama’atul Muslimin dalam sistem khalifah (pemerintahan) maka kewajiban kaum muslimin sekarang adalah untuk membentuk Jama’atul minal muslimin seperti dalam bentuk Majelis, Organisasi Masa Muslim, Partai Muslim, Harokah, Gerakan Muslim, Tandzim, Tarekat dan bentuk-bentuk kelompok Muslim lainnya, untuk memperteguh ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Firman Allah, yang artinya
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS Ali-Imraan [3]:103 ).

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berjuang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS as Shaff [61]:4 )

Begitu juga mengingat sunnah Rasulullah saw agar kita dalam sebuah perjalanan sebaiknya dilakukan lebih dari seorang dan menunjuk salah satu diantaranya sebagai pemimpin.

Dari 'AbduUah bin 'Umar r.a. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, "Sekiranya orang-orang tahu bahaya menyendiri seperti yang aku ketahui niscaya tidak akan ada orang yang berani berpergian seorang diri pada malam hari" (HR Bukhari [2998]).

Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, yakni 'Abdullah bin 'Amr r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Musafir seorang diri adalah syaitan, dua orang adalah dua syaitan, tiga orang jauh dari syaitan'," (Hasan, HR Abu Dawud [2607], at-Tirmidzi [1673], Malik [II/978/35], Ahmad [II/186, 214], al-Hakim [II/102], al-Baihaqi [V/267], al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [2675]).

Dari 'Abdullah bin 'Umar r.a, "Bahwa Rasulullah saw. melarang menyendiri, yaitu seseorang bermalam seorang diri atau bersafar seorang diri," (Shahih, HR Ahmad [11/9]).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak dibenarkan tiga orang bepergian di tengah padang pasir yang tandus, kecuali jika mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin)”.

Apalagi dalam "perjalanan" kita di alam dunia, wajib kita mengikuti sunnah Rasulullah saw untuk menjalaninya tidak dengan seorang diri namun dengan bergabung pada jama'atul minal muslimin dan menunjuk seorang pemimpin / amir yang taat pada Allah dan RasulNya, atau bergabung pada jama’atul minal muslimin yang dibentuk atau dipimpin seorang ulama yang taat pada Allah dan RasulNya.

Sesuai dengan firmah Allah yang artinya,
” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )

Seluruh pemimpin jama’atul minal muslimin yang ada dalam suatu negara/wilayah/pemerintahan kemudian membentuk ahlul halli wal ‘aqdi atau perwakilan tingkat negara/wilayah/pemerintahan  yang menunjuk seorang pemimpin sebagai pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa atau yang kita kenal sebagai umara.

Dalam penunjukkan pemimpin tidak berdasarkan ras, suku bangsa, kaum, atau keturunan namun berdasarkan ketaatan kepada Allah dan RasulNya serta kompetensi kepemimpinan negara sebagaiman yang ditauladankan oleh Salafush sholeh dalam menentukan kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa adalah sebagai pemegang amanat kaum muslimin yang melayani kaum muslimin bukan sebaliknya.

Jika pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa  yang berlaku dzhalim atau tidak berkompeten/mampu dalam kepemimpinan maka wajib bagi ahlul halli wal ‘aqdi mencabut amanat dan menunjuk seorang pemimpin yang baru. Jangan dibiarkan membuat “kerusakan” yang berlarut-larut.

Inilah sistem pemerintahan dan kepemimpinan yang sesuai dengan syariah Islam dengan mempertimbangkan kesadaran pada realitas peran dan fungsi kita di dunia sebagai hamba Allah.

Sistem pemerintahan dan pemilihan kepemimpinan di negeri kita harus pula  dikembalikan dan mengikuti syariah Islam sebagaimana yang diupayakan para pendiri bangsa kita yakni sistem perwakilan untuk mufakat, karena sistem yang sekarang memungkinkan terpilihnya pemimpin yang dzhalim, lamban, tidak tegas, tidak taat kepada ulama, pemimpin sekedar popularitas, pemimpin yang lahir dari proses pencitraan semata maupun pemimpin yang tidak berkompeten karena hanya berdasarkan jumlah suara pemilih semata bukan kepada ketaatan pada Allah dan RasulNya sebagai hambaNya di muka bumi.

Ketaatan pada Ulama diatas ketaatan pada Umara. Bentuk kesatuan negara atau Nasionalisme adalah dibawah kesatuan dalam akidah sebagai perwujudan pengakuan sebagai hamba Allah.

Dimanapun umat muslim berada di dunia ini harus dalam kesatuan akidah (Ukhuwah Islamiyah), ketaatan pada ulama harus diatas ketaatan kepada Umara karena sungguh kita adalah hamba Allah bukan hamba manusia / umara.  Ketaatan kita kepada Negara, atau ketaatan kepada pemimpin Negara hanyalah sebuah kesepakatan/perjanjian antar manusia sebagai bagian yang disebut “perhiasan” dunia.

Kita harus belajar dari kesalahpahaman kaum Wahabi atau Salaf(i) mengedepankan semangat kebangsaan (nasionalisme Arab) diatas kesatuan dalam akidah atau Ukhuwah Islamiyah.

Strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya dimakan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan sistem Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari’at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.

Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.

Kita harus berupaya mengembalikan kepada sistem pemerintahan dalam Islam, wujud dari kembali kepada Allah dan mengakui sekaligus  menguatkan peranan para ulama sebagai wali Allah di muka bumi ini.

Sehingga tidak ada lagi ungkapan, “Jangan memberontak pada pemimpin muslim walaupun dia dzhalim asalkan ia masih sholat dan tidak menganjurkan perbuatan maksiat”, karena tidak diperlukan pemberontakan namun sekedar mencabut amanat dari kaum muslimin yang terwakili oleh para amir dan para ulama pemimpin yang tergabung dalam ahlul halli wal ‘aqdi.

Kita harus segera tinggalkan sistem demokrasi atau sistem-sistem lain hasil olah pikir manusia atau sistem-sistem hasil budaya atau interaksi manusia, kembali kepada sistem berdasarkan petunjukNya sebagai perwujudan kesadaran pada realitas peran dan fungsi kita di dunia sebagai hamba Allah.

"Hai jiwa yang tenang,
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku
masuklah ke dalam syurga-Ku
"
(QS al Fajr [89]: 27-30 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830