Tampilkan postingan dengan label Wakil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wakil. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Agustus 2010

Berjamaah dan Kepemimpinan

Tulisan kali ini, Insyaallah saya akan menguraikan sebuah kesalahpahaman lagi, yakni mengenai berjama'ah dan kepemimpinan. Kesalahpahaman ini mulai terjadi sejak kejatuhan khalifah Turki Ustmani dan terus sampai saat kini atau sampai zaman modern ini.

Sebagian kaum Wahabi atau Salaf(i) melarang kaum muslim untuk membentuk jama’atul minal muslimin (kelompok muslim, organisasi masa muslim, tandzim, harokah, tarekat atau bentuk yang lain).

Bagi mereka perihal ini akan mempengaruhi Ukhuwah Islamiyah. Sebenarnya apa yang mereka khawatirkan adalah bentuk firqah atau aliran dalam agama Islam.

Firqah atau aliran terbentuk jika terjadi perbedaan dalam i’tiqad/aqidah/keyakinan dengan yang disepakati oleh jumhur ulama.

Perbedaan i’tiqad/keyakinan, sebagai contoh yang telah diuraikan oleh Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya– berkata: "Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir. Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu'aththil -atheis- (orang yang meniadakan Allah). Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim". (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya)

Kita harus dapat membedakan antara berfirqah dengan berjama'ah.

Sedangkan jama’atul minal muslimin atau berjamaah sangat dianjurkan jika kita mempertimbangkan belum lagi terbentuk Jama’atul Muslimin sejak berakhirnya sistem khalifah (pemerintahan) pada masa Turki Ustmani.

Diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).

Oleh karena telah lepasnya ikatan Jama’atul Muslimin dalam sistem khalifah (pemerintahan) maka kewajiban kaum muslimin sekarang adalah untuk membentuk Jama’atul minal muslimin seperti dalam bentuk Majelis, Organisasi Masa Muslim, Partai Muslim, Harokah, Gerakan Muslim, Tandzim, Tarekat dan bentuk-bentuk kelompok Muslim lainnya, untuk memperteguh ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Firman Allah, yang artinya
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS Ali-Imraan [3]:103 ).

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berjuang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS as Shaff [61]:4 )

Begitu juga mengingat sunnah Rasulullah saw agar kita dalam sebuah perjalanan sebaiknya dilakukan lebih dari seorang dan menunjuk salah satu diantaranya sebagai pemimpin.

Dari 'AbduUah bin 'Umar r.a. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, "Sekiranya orang-orang tahu bahaya menyendiri seperti yang aku ketahui niscaya tidak akan ada orang yang berani berpergian seorang diri pada malam hari" (HR Bukhari [2998]).

Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, yakni 'Abdullah bin 'Amr r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Musafir seorang diri adalah syaitan, dua orang adalah dua syaitan, tiga orang jauh dari syaitan'," (Hasan, HR Abu Dawud [2607], at-Tirmidzi [1673], Malik [II/978/35], Ahmad [II/186, 214], al-Hakim [II/102], al-Baihaqi [V/267], al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [2675]).

Dari 'Abdullah bin 'Umar r.a, "Bahwa Rasulullah saw. melarang menyendiri, yaitu seseorang bermalam seorang diri atau bersafar seorang diri," (Shahih, HR Ahmad [11/9]).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak dibenarkan tiga orang bepergian di tengah padang pasir yang tandus, kecuali jika mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin)”.

Apalagi dalam "perjalanan" kita di alam dunia, wajib kita mengikuti sunnah Rasulullah saw untuk menjalaninya tidak dengan seorang diri namun dengan bergabung pada jama'atul minal muslimin dan menunjuk seorang pemimpin / amir yang taat pada Allah dan RasulNya, atau bergabung pada jama’atul minal muslimin yang dibentuk atau dipimpin seorang ulama yang taat pada Allah dan RasulNya.

Sesuai dengan firmah Allah yang artinya,
” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )

Seluruh pemimpin jama’atul minal muslimin yang ada dalam suatu negara/wilayah/pemerintahan kemudian membentuk ahlul halli wal ‘aqdi atau perwakilan tingkat negara/wilayah/pemerintahan  yang menunjuk seorang pemimpin sebagai pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa atau yang kita kenal sebagai umara.

Dalam penunjukkan pemimpin tidak berdasarkan ras, suku bangsa, kaum, atau keturunan namun berdasarkan ketaatan kepada Allah dan RasulNya serta kompetensi kepemimpinan negara sebagaiman yang ditauladankan oleh Salafush sholeh dalam menentukan kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa adalah sebagai pemegang amanat kaum muslimin yang melayani kaum muslimin bukan sebaliknya.

Jika pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa  yang berlaku dzhalim atau tidak berkompeten/mampu dalam kepemimpinan maka wajib bagi ahlul halli wal ‘aqdi mencabut amanat dan menunjuk seorang pemimpin yang baru. Jangan dibiarkan membuat “kerusakan” yang berlarut-larut.

Inilah sistem pemerintahan dan kepemimpinan yang sesuai dengan syariah Islam dengan mempertimbangkan kesadaran pada realitas peran dan fungsi kita di dunia sebagai hamba Allah.

Sistem pemerintahan dan pemilihan kepemimpinan di negeri kita harus pula  dikembalikan dan mengikuti syariah Islam sebagaimana yang diupayakan para pendiri bangsa kita yakni sistem perwakilan untuk mufakat, karena sistem yang sekarang memungkinkan terpilihnya pemimpin yang dzhalim, lamban, tidak tegas, tidak taat kepada ulama, pemimpin sekedar popularitas, pemimpin yang lahir dari proses pencitraan semata maupun pemimpin yang tidak berkompeten karena hanya berdasarkan jumlah suara pemilih semata bukan kepada ketaatan pada Allah dan RasulNya sebagai hambaNya di muka bumi.

Ketaatan pada Ulama diatas ketaatan pada Umara. Bentuk kesatuan negara atau Nasionalisme adalah dibawah kesatuan dalam akidah sebagai perwujudan pengakuan sebagai hamba Allah.

Dimanapun umat muslim berada di dunia ini harus dalam kesatuan akidah (Ukhuwah Islamiyah), ketaatan pada ulama harus diatas ketaatan kepada Umara karena sungguh kita adalah hamba Allah bukan hamba manusia / umara.  Ketaatan kita kepada Negara, atau ketaatan kepada pemimpin Negara hanyalah sebuah kesepakatan/perjanjian antar manusia sebagai bagian yang disebut “perhiasan” dunia.

Kita harus belajar dari kesalahpahaman kaum Wahabi atau Salaf(i) mengedepankan semangat kebangsaan (nasionalisme Arab) diatas kesatuan dalam akidah atau Ukhuwah Islamiyah.

Strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya dimakan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan sistem Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari’at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.

Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.

Kita harus berupaya mengembalikan kepada sistem pemerintahan dalam Islam, wujud dari kembali kepada Allah dan mengakui sekaligus  menguatkan peranan para ulama sebagai wali Allah di muka bumi ini.

Sehingga tidak ada lagi ungkapan, “Jangan memberontak pada pemimpin muslim walaupun dia dzhalim asalkan ia masih sholat dan tidak menganjurkan perbuatan maksiat”, karena tidak diperlukan pemberontakan namun sekedar mencabut amanat dari kaum muslimin yang terwakili oleh para amir dan para ulama pemimpin yang tergabung dalam ahlul halli wal ‘aqdi.

Kita harus segera tinggalkan sistem demokrasi atau sistem-sistem lain hasil olah pikir manusia atau sistem-sistem hasil budaya atau interaksi manusia, kembali kepada sistem berdasarkan petunjukNya sebagai perwujudan kesadaran pada realitas peran dan fungsi kita di dunia sebagai hamba Allah.

"Hai jiwa yang tenang,
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku
masuklah ke dalam syurga-Ku
"
(QS al Fajr [89]: 27-30 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Selasa, 08 September 2009

Petunjuk Allah

Petunjuk Allah.

(Seruan kepada para pemimpin dan umat Islam Indonesia)

Kembali negara kita dilanda musibah, bencana alam dalam bentuk gempa bumi, pesawat jatuh, bencana kelaparan di Papua dll. Hal ini mengingatkan kepada tulisan saya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/taatilahulama/

Perhatikanlah cara dan kerja pemerintah dalam menanggulangi bencana. Semoga mereka dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Juga semoga dengan bencana gampa bumi ini membuat para pemimpin sadar dan tergerak untuk segera pula mengatasi masalah rakyat korban Lapindo, tidak menelantarkan rakyat bertahun-tahun lagi. Betapa besar kerugian rakyat di sana, baik secara material maupun immaterial.

Bencana alam menjadikan peringatan bagi manusia, suhu bumi meningkat, permukaan air laut meninggi dikarenakan kerusakan hutan dan alam serta faktor lain seperti efek samping industri/karbon. Kerusakan hutan di Indonesia 51 kilometer persegi per hari atau 300x luas lapangan bola per jam, kerusakan alam dan kesenjangan ekonomi dari pertambangan seperti freeport , lapindo dll merupakan bagian dari tanggung jawab para pemimpin. Firman Allah, "Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik *, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar" (Al-Maaidah: 33),

Bencana alam, musibah, musibah penyakit, musibah kemiskinan yang kita alami di nergeri kita ini, bisa merupakan cobaan dari Allah sekaligus peringatan Allah bagi kita.

Peringatan Allah bagi pemimpin negeri dan rakyat negeri ini karena dalam kehidupan tidak lagi menggunakan petunjuk dari Allah. Sebagian pemimpin di negeri ini malah mempergunakan petunjuk kaum kuffar , dalam kepemimpinan mencari ridho kaum kuffar dan mengharapkan pertolongan kaum kuffar. Hubungan antar manusia, ridho kaum kuffar begitu diupayakan sampai mereka menjadi kaum Sekulerisme, Liberalisme, Plurarisme Agama. Padahal MUI sudah mengeluarkan fatwa haram dengan fatwa Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005, Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA, http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=137

Untuk menjadikan negeri ini makmur dan sentosa (nikmat dari Allah), maka pemimpin dan rakyat wajib mengikuti petunjuk Allah. Bukan petunjuk kaum kuffar dan bukan juga mengharapkan ridho kaum kuffar. Kepada kaum kuffar cukuplah sebatas menghargai sebagai manusia.

Pemimpin dan rakyat sebagai manusia agar mendapatkan nikmat Allah dalam kehidupan baik di dunia dan akhirat, wajib memperhatikan firman Allah, Al-Fatihah, 5,6,7

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (5)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (6)

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (7)

Pemimpin dan rakyat sebagai manusia mendapatkan petunjuk Allah dari kitabullah, firman Allah, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al-Baqarah : 2)

“Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaannya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izinNya dan menunjukkan ke jalan yang lurus. (Al Maidah : 16)

Dengan petunjuk Allah lah, para pemimpin dan rakyat akan mendapatkan nikmat Allah, bebas dari rasa khawatir/takut dan bebas dari rasa sedih. Sesuai firman Allah,

"Kami berfirman: Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran/takut atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (Al Baqarah: 38)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran/takut terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah 277)

Kesimpulan, solusi bagi pemerintah dan rakyat mengatasi permasalahan di dunia/negara adalah kembali kepada petunjuk Allah, kembali pada Al-Qur’an. Sekali lagi bukan petunjuk kaum kuffar, bukan pula mengharapkan ridho kaum kuffar. Pada Al-Qur'an akan ditemukan resep ekonomi, politik, pendidikan, hukum, bernegara dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Bukanlah resep ekonomi ala IMF, Washington Consensus, Free Trade dan petunjuk kaum imperialisme dan kapitalis lainnya.

Buat pemerintah baiklah mengambil pendapat, sebagai contoh apa yang telah dipelajari INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) http://insistnet.com atau lembaga, institute, LSM lainnya yang pada prinsipnya tidak tercemar oleh paham Liberalisme, Sekulerisme dan Pluralisme Agama.

Lebih baik lagi pada sisi Presiden dapat dibentuk Majelis Pertimbangan Ulama Indonesia (MPUI) yang memberikan pertimbangan segala hal yang berhubungan dengan pemerintahan dan kebijakannya agar sesuai dengan Al Quran dan Hadits. MPUI ini terdiri dari wakil seluruh ormas Islam, lembaga penelitian pemerintahan berdasarkan Islam, pada prinsipnya perwakilan yang disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar terhindar dari paham yang sesat.

Wassalam

Zon at Jonggol

Kamis, 16 Juli 2009

JK yang mereka kenal (2)

Sirikit Syah Wrote:

Di bawah ini catatan pribadi seorang pemred yang hadir di tempat JK saat beliau menerima telepon SBY.

Komentar saya:

1) JK polos banget, ditelepon SBY malah keluar dari ruangan yang dipenuhi para petinggi media dan malah sembunyi di ruang khususnya.

2) Ternyata banyak petinggi media yang bersimpati dan memberi
empati kepada JK.

SS

------------------------------------------

Mbak Sirikit yang baik,
Kamis (9/7) malam saya termasuk salah satu diantara pemred2 dan wartawan2 senior yang diundang bertemu pak JK. Sebagaimana biasanya, pak JK memang sangat sering mengundang Pemred2 untuk sekedar makan malam, sambil berdiskusi tentang berbagai hal. Acara semacam ini memang tergolong rutin. Kami para Pemred senang diundang dalam setiap pak JK hendak mendiskusikan segala hal yang berkembang.
Pak JK selalu terbuka memberi informasi apapun, berkaitan dengan berbagai isu yang berkembang menyangkut kebijakan yang berkembang. Mulai dari misalnya kebijakan ekonomi, kenaikan BBM, konversi minyak gas, hingga hal-hal yang untuk background yang sifatnya off the record.

Apalagi hidangan di tempat pak JK selalu saja nikmat. Yang paling sering ikan bakar atau sup telur ikan terbang, pisang hijau palu butung. Makanan khas Makkasar kombinasi dengan masakan Padang. Maklum ibu Mufida, isteri pak JK yang pintar masak itu asalnya dari Padang..

Kamis malam itu, pertemuannya terasa agak berbeda. Sejak di depan pintu
penjagaan, kami sudah disorot kamera TV One, saya sempat terkejut karena bahkan saat menulis namapun disclose up. Saya merasa agak merasa terganggu,

"Ada apa sih, kok begitunya. Kita disorot-sorot kayak gitu?" Tanya saya ke kamerawan TVONe.

"Anu mbak..kita disuruh kantor mengambil gambar semua pemred yang masuk ke sini.", jawabnya agak takut, seraya kemudian mematikan kamera. Lalu saya menuju ruang tunggu di sana ada Rikard Bagun (Pemred Kompas), Budiarto Sambazi (Wartawan senior Kompas, yang pernah jadi model klip kampanye JK), ibu Clara (Pengamat Politik senior?) , Pak Ishadi (Transcorp), Endi Bayuni (Pemred Jakarta Pos), dan beberapa wartawan senior lainnya, seperti Agus Parengkuan, Fikri Jufri hingga pak Rosihan Anwar yang sepuh itu, datang bergabung, juga beberapa Pemred media lainnya. Tapi dibanding pertemuan-pertemuan biasanya, kali ini jumlah wartawan senior yang hadir
cukup sedikit. Beberapa Pemred yang biasanya rajin, kali ini tidak hadir,.

Uni Lubis (Wapemred Anteve) mondar-mandir dari ruang tunggu ke ruang pak JK. Uni adalah koordinator acara, dia mengabsen satu-satu kami yang hadir. Tidak lama kemudian kami semua diminta masuk ke ruang pertemuan. Belum lama kita duduk, pak JK masuk dengan wajah yang seperti biasanya ceria, didampingi tim suksesnya, Yudi Chrisnandi, Sumarsono, Aksa Mahmud, Poemida, Sofyan Wanandi, Syamsul Maarif. Kami semua bersalaman dengan pak JK , sambil kemudian mempersilakan kami
makan. Wah kali ini menunya lumayan enak. Ada ikan bakar, teri goreng sambal hijau, rawon ( yang ini kayaknya gak nyambung), kepiting kenari bumbu lada hitam dan tumis sayuran.. Belum lama menikmati makanan, pak Wiranto datang, kali ini sendirian tanpa orang-orang Hanura.

Usai makan, pertemuan dimulai dengan pernyataan pak JK tentang ucapan terima kasih kepada para pemred yang hadir.. Uni sempat menyela, "Ada beberapa Pemred yang kayaknya gak berani hadir", disambut ketawa dari semua yang hadir.

Baru saja pak JK meneruskan kalimatnya, tiba-tiba ajudan datang tergopoh-gopoh sambil menyodorkan HP ke pak JK , " Maaf bapak, dari Bapak Presiden". Lantas pak JK pun bergegas menuju ruangan pribadinya, berbicara di telpon dengan SBY.

Saat itu kami yang masih bertanya-tanya tiba-tiba, di layar Metro TV
menayangkan Live, SBY sedang bertelpon dengan JK. SBY berkata pada JK panjang lebar dengan wajah yang sumringah.

Sesaat kita semua sempat kaget, "wah kok ternyata telponnya disetting kayak gitu yah"

Usai terima telpon, JK muncul dengan ketawa-ketawa. Saat ditanyta tentang apa yang dikatakannya pada SBY, "Oh, saya hanya jawab. "baik, baik pak,
tetapi saya akan di kampung" ,  jawab JK, disambut tawa semua yang hadir.

Menurut JK sejak siang ia memang sudah berusaha menghubungi SBY, sehubungan dengan undangan Rapat Kabinet yang akan digelar Selasa pekan depan via telpon tetapi tidak diangkat. Sambil memang hendak mengucapkan ucapan selamat sementara atas hasil Quick Count, dalam kapasitasnya sebagai Wapres. Tetapi baru malam itulah SBY menelpon JK., dibuka dengan pembicaraan basa-basi lalu SBY minta izin bahwa pembicaraan ini diliput pers. JK pun tidak bisa berkata lain, " silahkan saja", jawabnya.

Lalu pertemuan malam itu akhirnya dilanjutkan, diawali dengan pernyataan JK yang sama sekali tidak menyangka bahwa hasil Pemilu seperti ini. Kekecewaan nampak di wajah pak JK, meski dicobanya untuk dikaburkan dengan senyum khasnya. Bisa kita rasakan, ada sesuatu yang tidak beres, tetapi apa itu kami tidak tahu. Untuk itu maka akan coba kita cari tahu.

"Kami sama sekali tidak menyangka suara yang kami dapat sekecil ini ", kata JK.

"Kami sudah habis-habisan bekerja, siang malam".

"Bahkan pak JK ini setiap hari bisa hadiri di lebih dari 10 titik. Di setiap kunujungan sambutan masyarakat begitu antusias", sambung Wiranto yang juga tidak menyangka perolehan suara mereka serendah itu.

Dalam sesi tanya jawab, sebagian menanyakan tentang bagaimana sikap pak JK selanjutnya, ia menyatakan "Saya masih akan meneruskan pekerjaan saya sebagai Wapres, mengusut berbagai kasus pelanggaran Pemilu, setelah itu pulang kampung".

Tanya jawab berlangsung begitu mangharukan. Rikar Bagun, pak
Rosihan Anwar malah agak larut dalam keharuan. Betapa selama ini jarang ada seorang pemimpin begitu egaliter seperti JK.

"pak JK bahkan selalu bersedia melayani pertanyaan di manapun berada. Bahkan seorang JK tak segan-segan menerima telpon2 dari kami termask juga membalas sms-sms kami", kata Rikard Bagun.

"Dalam sejarah setelah Adam Malik, baru JK yang melakukan hal itu.
Tidak peduli dengan birokrasi, kepada para wartawan sangat dekat dan akrab,
seperti dengan sahabatnya", tambah Rosihan.

JK lalu menunjukkan tumpukan dokumen berwarna kuning, yang ternyata berisi semua minutes of meeting seluruh rapat yang dipimpinnya , dari tahun 2004 hingga 2009.
Di situ JK menunjukkan bukti bahwa sebagian besar keputusan pemerintah, ternyata tak lepas dari kerja keras dan keputusan JK.

"Hampir semua kebijakan pemerintah dirapatkan oleh para menteri di bawah koordinasi saya, dimatangkan dan diputuskan di sini (Kantor Wapres-red)", kata JK.

"Mulai dari kebijakan yang strategis seperti pemberian BLT sebagai subsidi kenaikan BBM, kenaikan harga BBM, penurunan harga BBM, kenaikan gaji pegawai negeri, pembagian raskin, rencana Pembangunan Listrik 10 ribu Megawatt, Penetapan status Bencana Nasional pada Tsunami Aceh, Gempa Yogyakarta, hingga penetapan hari libur Ramadhan-pun dilakukan olehnya JK, sebelum kemudian tinggal dibuatkan Kepres dan tinggal diteken oleh Presiden. "Kan tidak ada Kepwapres, yang ada hanya Kepres, maka saya tidak bisa tanda tangan", demikian kata JK dalam berbagai kesempatan.

Itulah dokumen, sebagai kenang-kenangan pak JK dan bukti, apa yang dikerjakan selama ini oleh seorang JK. Sebagai Wapres JK adalah Wapres plus. Kalau biasanya Wapres-wapres sebelumnya adalah sekadar ban serep, tetapi JK, bisa diibaratkan seorang CEO dalam sebuah perusahaan yang justru menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada di pemerintahan.

Maka tak heran kalau Mantan Ketua Muhammadiyah Syafi'i Maarif menjuluki JK sebagai "The Real Presiden"
Bahkan saat penunjukkan personil kabinet, sejak pasangan SBY-JK terpilih pada 2004 lalu, JK memutuskan lebih dari 70 persen dari menteri-menteri yang dipilih.. Ada 3 menteri yang tidak boleh diberikan ke partai, Menteri
Keuangan, Meneg BUMN dan ESDM, kata JK.

Namun banyak orang yang tak mengetahui yang dikerjakan JK selama ini. Dan celakanya, ketika JK menyatakan bahwa dialah yang mengerjakan semua itu, sebagian besar orang mencibirnya "Tak sopan seorang Wapres kok mengklaim keberhasilan pemerintah. Kan itu semua karena putusan Presiden" , sebagaimana yang dinyatakan para pendukung SBY.

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/message/48480

JK yang mereka kenal (1)

Jawaban Habibana Munzir tentang pertanyaan CAPRES.

Saudaraku yg kumuliakan, maaf saya lama tidak online karena di Madinah selama beberapa hari yg lalu, memang diantara dua capres, keduanya muslim, pria, dan keduanya tidak terlalu
banyak berbeda, namun Yusuf Kalla lebih menyolok dalam keperduliannya terhadap Islam, dan beliau selalu hadir di event besar majelis Rasulullah saw tanpa diundang, beliau lihat baliho di jalan lalu langsung perintahkan sekprinya untuk menghubungi sekertariat MR apakah beliau boleh hadir?, maka kita menyambut hangat niat mulia seorang wapres yg demikian itu,

kejadian itu jauh sebelum pemilu, sekitar 2 tahun yg lalu.. dan saya sendiri melihat akhlah mulia beliau dan penghormatannya yg belum pernah saya lihat pejabat apalagi tingkat Ring 1 sampai sedemikian santunnya, beliau makan bersama murid murid saya, anak anak yatim, anak anak papua, makan dari makanan kotak berisi makanan sederhana, duduk bersama kita dg sendok plastik dan aqua plastik, sama rata dg para fuqara, dan terlihat tidak dibuat buat.

beliau tidak suka protokoler, dan beliau menyesuaikan diri dg kita, sebagaimana acara acara kita di Istiqlal, monas yg beberapa kali dihadiri beliau, para paspampres dan sekpri nya mengajukan aturan acara, harus mulai jam sekian, harus selesai jam sekian, wapres sambutan jam sekian..

semua saya tolak, saya katakan kalau beliau mau hadir ikuti acara kami, saya mulai jam sekian, selesai jam sekian, sambutan beliau jam sekian, jika beliau berkenan hadir jam berapa saja silahkan, jika akan meninggalkan majelis maka mesti selepas maulid dan ceramah saya, jika tidak berkenan karena ada skedul lain, maka baiknya hadir di event lainnya.

maka ketika hal itu diajukan pada beliau, beliau malah ikut saja dan setuju, dan beliau datang di awal acara dan keluar saat selesai acara.
maka saya menyenangi beliau..

namun saudaraku, secara fikiran yg bijaksana, tidak mustahil SBY pun demikian, namun karena saya belum mengenalnya dg dekat saja, bisa saja SBY tidak seperti jusuf kalla, tapi bisa saja sama seperti JK, atau mungkin lebih santun lagi, saya tidak bisa mengambil kesimpulan mana yg lebih baik kecuali jika telah jumpa dg keduanya.

maka memang selama ini MR condong pada JK, karena belum mengenal SBY. namun jika Allah menghendaki SBY sebagai presiden kembali, kita doakan saja semoga kebaikannya yg masa lalu tetap terjaga, dan kesalahannya yg masa lalu diperbaiki oleh Allah swt.
dan kita tidak berfihak dg mutlak kpd salah satu, siapapiun yg memimpin negara ini selama ia muslim maka ia pemimpin kita

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam

sumber :

http://groups.yahoo.com/group/keluarga-sejahtera/message/6340

Kemiskinan dan Pemimpin tidak Adil

Untuk menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan, pada 1 Juli 2009, baru saja BPS mengumumkan penurunan angka kemiskinan. Saat ini angka kemiskinan Indonesia sebesar 32,5 juta jiwa atau sebesar 14,15 persen. Selama tiga tahun terakhir jumlah penduduk miskin di Indonesia berkurang sebanyak 6,8 juta jiwa, penurunan yang cukup signifikan.

Jumlah rakyat Indonesia yang hidup dibawah batas garis kemiskinan yakni Rp 200.262 per bulan perkapita adalah 32.5 juta.

Sedangkan Bank Dunia mencatat hampir 50% atau 100 juta penduduk Indonesia saat ini berpenghasilan di bawah US$2 atau kurang dari Rp 20.000 per hari atau sekitar Rp. 600.000 per bulan . Kondisi ini mencerminkan masih tingginya angka kemiskinan di Tanah Air.

Disisi lain , kesanggupan negara untuk berhutang dan membayar pokok dan bunga hutang negara berjalan digunakan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2008 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 4.954 triliun. Sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp 2.082,1 triliun. PDB/PNB (Produk Nasional Bruto) per kapita merupakan PDB/PNB (atas dasar harga berlaku) dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Demikian data Badan Pusat Statistik, Senin (16/2/2009).

Pada tahun 2008 angka PDB per kapita diperkirakan mencapai Rp 21,7 juta (US$ 2.271,2) dengan laju peningkatan sebesar 23,6 persen dibandingkan dengan PDB per kapita tahun 2007 sebesar R p17,5 juta (US$ 1.942,1).

Jadi untuk berhutang, indikator yang dipakai bahwa pendapatan rakyat Indonesia per kapita per tahun US$ 2.271.2 atau sekitar Rp. 1.800.000 per bulan.

Suatu keadaan yang ironis dari kedua indikator ini, untuk menunjukan kemajuan pembangunan digunakan indikator pendapatan penduduk per kapita Rp. 200.262 per bulan (14.15% jumlah penduduk) sedangkan untuk kesanggupan berhutang digunakan indikator pendapataan penduduk per kapita Rp. 1.800.000 per bulan dimana menurut Bank Dunia 50% penduduk Indonesia berpendapatan Rp. 600.000 per bulan.

Belum ada data berapa jumlah penduduk yang mencapai dan diatas pendapatan penduduk per kapita Rp. 1.800.000 per bulan. Klo boleh saya perkirakan mungkin hanya sekitar 25% saja. Artinya 75% rakyat Indonesia hidup dengan pendapatan per kapita di bawah Rp. 1.800.000 per bulan.

Kita tahu sumber daya alam yang dianugerahi oleh Allah begitu berlimpah di tanah air Indonesia. Brunei dengan wilayah negara hanya sebagian dari pulau Kalimantan dapat hidup dengan makmur. Sungguh berbeda dengan negara kita, walaupun sudah diamanahkan oleh UUD 1945 pasal 33 ayat 3, " Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."

Tampaklah sampai hari ini kita belum mendapatkan pemimpin yang adil, yang memperhatikan rakyat banyak / miskin, khususnya memperhatikan 50% rakyat Indonesia yang pendapatan per kapita dibawah Rp. 600.000 per bulan.

Bersabarlah, karena pemerintahan dengan pemimpin yang tahu benar tentang dunia sihir ini, kemungkinan akan melanjutkan pemerintahan periode 2009 s/d 2014.

Semoga pemimpin, menteri, para pejabat, anggota dewan dalam berpenampilan dapat berempati atau mencerminkan keadaan rakyat yang 50% jumlah penduduk berpendapatan per kapita Rp 600.000 per bulan.

Di kantor-kantor pemerintah bisa pula dipasang sticker bahwa,

Ingat! 32.5 Juta rakyat Indonesia bependapatan per kapita rata-rata Rp 200.262 per bulan atau

Ingat! 100 Juta lebih rakyat Indonesia berpendapatan per kapita rata-rata Rp. 600.000 per bulan.

Kemiskinan terjadi dari sabang sampai merauke, baca juga

http://infoindonesia.wordpress.com/2008/03/17/dari-sabang-sampai-merauke-rakyat-indonesia-mati-kelaparan/

Salam

Zon di Jonggol

referensi:

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/07/03/279/235274/polemik-angka-kemiskinan

http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=9342&Itemid=701

http://www.menkokesra.go.id/content/view/2317/39/

Senin, 13 Juli 2009

Teguhkan kekuasaan dengan berbohong ?

Beberapa pertanyaan datang kepada saya, mengapa seolah-olah saya tidak dapat  menerima hasil sementara bahwa suara terbanyak yang telah memilih pa SBY sebagai presiden RI periode 2009 s/d 2014.  Bagi saya bukanlah masalah suara terbanyak, bukanlah menang atau kalah, namun bagaimana kita menegakkan kebenaran dalam kehidupan di dunia.  Kadang penegakan kebenaran bisa saja datang dari hanya segelintir orang.  Bagi saya, suara rakyat banyak belum tentu suara Tuhan, karena bisa saja rakyat banyak itu sesungguhnya tidak paham dengan keadaan. Sebagaimana saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya tentang ketidak siapan rakyat Indonesia menjalankan pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat, mempertimbangkan taraf pendidikan, ekonomi dan faktor lainnya.

Alhamdulillah, sosok yang saya dukung, yakni pa JK belum diperkenankan Allah menjadi pemimpin negeri, karena klo beliau menjadi pemimpin negeri , maka saya harus pula ikut bertanggung jawab terhadap referensi/dukungan yang saya sampaikan kepada publik.

Saya juga sampaikan kepada teman-teman yang telah bersusah payah mendukung dan mereferensikan pa SBY untuk siap-siap ikut bertanggung jawab terhadap hasil kepemimpinan beliau kelak. Mohon maaf, menurut pendapat saya pribadi, saya meragukan kejujuran pa SBY. Untuk menopang "pencitraan"  (jaga image / tidak menjadi dirinya sendiri) dan upaya-upaya meneguhkan kekuasaan, beliau kadang berbohong pada rakyat. Berbohong itu bisa timbul dari diri beliau sendiri karena "keadaan", maupun dari bawahannya yang melaporkan kebohongan (laporan ABS).

Seperti yang disampaikan Rizal Malarangeng (RM) dalam artikelnya di Kompas pada 6 Oktober 1997. Disitu RM menulis, "……Dengan kata lain, ajaran Machiavelli misalnya, Sang Penguasa, dalam mempertahankan kekuasaannya, harus berbohong, menipu, menindas haruslah dimengerti bukan sebagai "nasehat politik" dalam pengertian yang umum. Ia adalah sebuah pernyataan faktual bahwa dunia kekuasaan memang tidak semurni dunia mitologi surgawi jaman pra-Renaisans. Dunia kekuasaan, sebagaimana adanya, adalah sebuah dunia yang penuh intrik, kekejian, ambisi, dan ketololan". Ya, 12 tahun yang silam, pada saat mematangkan konsep neoliberalismenya, RM memahami politik sebagai dunia kekuasaan yang yang penuh intrik, kekejian, ambisi dan ketololan. Tentunya sebelum kembali ke Indonesia, RM telah menyiapkan diri untuk mengakali dunia kekuasaan yang digambarkannya sesuai konsep pemikiran Machiavelli tersebut. Dan Realitas dunia RM yang kejam mengajarkan,dia harus lebih cepat dalam adu intrik, dia harus lebih keji terhadap lawan, dia harus sangat ambisius dan tentu saja dia harus bisa menjadikan politik sebagai parade ketololan. Dalam dunia kekuasaan, Etika akan menjadi sesuatu yang sangat langka. RM sangat percaya dengan itu.

Saya sangat khawatir bahwa pemikiran seperti RM lah yang menghasilkan kemenangan pada pilpres 2009 ini. Artinya kemenangan pilpres 2009 adalah kemenangan kaum cendekia/pintar namun sekuler, terhadap "ketidak-pahaman" rakyat banyak, dan secara tidak langsung adalah "penjajahan" oleh bangsa sendiri.

Untuk itulah di beberapa tulisan saya terdahulu bahwa pemerintah harus sangat memperhatikan keterpenuhan kebutuhan pendidikan bagi rakyat Indonesia sampai jenjang perguruan tinggi dalam bentuk subsidi dan bantuan lainnya. Janganlah seperti pemerintahan Belanda dahulu kala untuk melanggengkan penjajahan, mereka "mempersulit" rakyat Indonesia mendapatkan pendidikan.

Saya sangat berharap kekhawatiran saya bukanlah sesuatu kenyataan, namun waktulah yang akan memperlihatkannya kelak.

Politik dalam Islam berbeda dengan politik sekular yang bersumber kepada spekulasi akal yang rentan berubah, politik Islam bersumber ke pada Wahyu. Jadi, sistem, nilai, visi, misi dan agenda dalam politik Islam juga didasarkan kepada, dan diderivasi dari Wahyu. Politik Islam tidak akan memperjuangkan nilai nilai yang bertentangan dengan Wahyu seperti memperjuangkan kebebasan kesesatan akidah, kebebasan seks seperti gerakan homoseksual, lesbianisme, pornografi, dan lainnya. Sebaliknya, politik sekular bisa melindungi dan menyebarkan kekeliruan-kekeliruan kepada masyarakat dengan mengkambing-hitamkan kebebasan, relativitas nilai dan budaya. Politik sekular berjuang untuk meraih kekuasaan yang dibangun dengan dasar kepentingan. Tiada musuh yang abadi dalam politik karena yang ada adalah kepentingan. Inilah jargon sekular yang sering dilontarkan. Dampaknya, politik sekular tidak memiliki integritas. Dengan konsep moral yang pragmatis, semua serba boleh, asal kan kekuasaan dapat diraih. Jikapun terdapat integritas, maka integritas itupun di bangun di atas filsafat pragmatis. Sedangkan dalam politik Islam, yang diperjuangkan adalah kebenaran, bukan semata-mata kekuasaan. Kebenaran lebih penting dari kemenangan yang dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Kekuasaan diraih dengan kebenaran dan kekuasaan adalah amanah dan sarana dakwah, untuk menyebarkan rahmat Allah di atas muka bumi. Jadi bukanlah menang atau kalah , namun yang diutamakan adalah benar atau salah.

Saya berdoa agar Presiden terpilih nanti dengan kekuasaan yang ada ditangannya dapat memerintah dengan adil dan tidak zalim pada rakyatnya walaupun kekuasan telah didapat dengan  “berbagai cara”.

Sabtu, 11 Juli 2009

Mimpi-mimpi seputar pilpres 2009

Berikut mimpi-mimpi yang saya alami, seputar pilpres 2009. Semoga apa yang saya "mimpi" kan bukanlah suatu kenyataan.

Mimpi-mimpi saya salah satunya diawali dari perbedaan "pendapat/pola pikir" dari dua capres khususnya SBY dan JK.

SBY

http://swaramuslim.net/siyasah/more.php?id=5922_0_6_0_M

"Sebuah Imperium Menunggu Rubuh", Amran Nasution

Dalam suatu kesempatan mengunjungi Amerika di tahun 2003, sebagai Menko Polkam, SBY berkata, ‘’I love the United State, with all its faults. I consider it my second country’’. Terjemahan bebas penulis: “Saya cinta Amerika, dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negeri kedua saya.” (lihat Al Jazeera English – Archive, 6 Juli 2004).

JK

Kompas, 1 Juli 2009 hal 33,

“Muhammad Jusuf Kalla, Sudah Kaya, Cari Apa Lagi”

Jawaban beliau, “Tidak. Saya sudah cukup mampu untuk tidak mengambil apapun kekayaan dari negeri ini. Bersama pa’ Wiranto, saya tidak mencari keuntungan apa-apa. Saya hanya mau bekerja, mencari kemuliaan dan kehormatan rakyat. Bukan kemuliaan dan kehormatan saya. Saya tidak mau meninggalkan bangsa yang kurang kehormatannya karena kurang mandiri di bidang ekonomi.”

Lalu mempertimbangkan terjadi "krisis keuangan" yang telah terjadi di Amerika dan beberapa negara lain yang menyukai "paper money".

Alhamdulillah, Indonesia menurut pendapat saya "agak" sedikit gangguan "krisis keuangan" karena ditopang oleh "real money" yakni dari hasil alam yang merupakan anugerah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam suatu mimpi saya, saya "membaca" bahwa Amerika sangat membutuhkan Indonesia yang merupakan "kantong ekonomi" mereka, "real money" dari sumber alam terkaya di dunia, bumi Indonesia. Amerika sangat membutuhkan "real money" untuk mengatasi "krisis keuangan" dan pembiayaan "penjajahan" mereka di Irak, Palestina, Afghanistan dll serta biaya "merawat" beberapa negara "boneka" bentukan Amerika dibeberapa belahan dunia. Pada saat JK mulai mengusik "kantong ekonomi" Amerika dengan "memperbincangkan" kembali kontrak-kontrak pertambangan / hasil bumi maka Amerika mengeluarkan kebijakan "pemisahan" JK dari SBY. Langkah-langkah kebijakan bersama SBY dan Amerika mulai dituangkan dalam suatu bentuk "kerjasama".

Salah satu mimpi saya yang buruk, "terlihat" salah satu langkah suksesi pilpres dalam bentuk "pembiaran" masalah lapindo untuk kepentingan "mengikat" keluarga Bakri yang termasuk kelompok keluarga terkaya di negeri kita. Langkah ini cukup aman dalam pencitraan SBY karena Aburizal Bakri "tercantum" pada Golkar walaupun Aburizal Bakrie merupakan "top" donatur dalam pilpres 2004.

Dimimpi lain saya, langkah suksesi pilpres dalam bentuk "dukungan suksesi" pemilihan gubernur Jatim dan "penetapan" gubernur dan bupati lainnya yang masih "bermasalah" dalam pengangkatan atau "tinggal" menunggu pengangkatan.

Dalam mimpi saya, langkah suksesi pilpres dalam bentuk "legitimasi" dari partai-partai berbasis mayoritas massa muslim seperti PKB,PPP,PAN, PKS dll. "Dukungan" dari PKB didapat dari "imbalan campur tangan" pemerintah seputar partai PKB. PPP didapat dari "dukungan" beberapa pimpinan partai yang "diikat" dengan "kasus" hukum. PAN dalam mimpi saya,"dukungan" didapat dari "perbicangan" (tidak jelas dalam mimpi saya) antara SBY dan Amien Rais, juga seputar "kekuasaan" Hatta Rajasa kelak. PKS dalam mimpi saya, "dukungan" didapat dari "pembicaraan" SBY dengan pucuk majelis syuro Hilmi Aminudin yang ditindaklanjuti dengan "penyebaran" citra negatif/fitnah terhadap JK dan "menakuti" dengan "dosa-dosa" partai Golkar dahulu.

Dalam mimpi saya yang lain untuk mendapatkan "dukungan" dari rakyat banyak, layaknya acara idol dibeberapa stasiun TV, maka dibuatlah "pencitraan" yang baik. Pencitraan "diserang" oleh capres lainnya, ditambah penampilan/sosok fisik SBY yang sangat mendukung. Dengan memanfaatkan budaya masyarakat kebanyakan tentang "tren" dan "pilihan" banyak orang maka dibuatlah "pengaturan" hasil survey, pooling SMS, dll.

Dalam mimpi saya, untuk mendapatkan dukungan dari beberapa kalangan/golongan rakyat dengan cara "melanjutkan" program BLT, "bertepatan" waktu gaji ke 13 PNS yang sesungguhnya untuk membantu biaya sekolah anak PNS, "pemberian penghargaan" atas pengabdian PNS dan pejabat dll.

Dalam mimpi saya lainnya, tidak cukup jelas (sedikit lupa) bagaimana pembiayaan kampanye dari BUMN dan beberapa pihak lainnya yang total jumlahnya luar biasa besar, dan tidak terdeteksi oleh PPATK, juga tidak terdeteksi oleh para penegak peraturan "dana" kampanye.

Dalam mimpi saya lain dalam dukungan "operasional", kapal perang AS merapat ke perairan Indonesia untuk pemanfaatan teknologi dan komunikasi. Operasional didukung oleh TNI termasuk intelejen dan "penggunaan" koramil di seluruh pelosok negeri. Keberadaan kapal perang AS ini juga untuk "memastikan" pelaksanaan "kerjasama" yang telah disepakati.

Dalam mimpi saya lain, saya berbincang dengan beberapa anggota KPU, saya mengatakan anda seorang mukmin yang taat sebagai anggota KPU kenapa "terlihat" tidak independen ? kami sekedar melaksanakan "tugas negara" untuk kepentingan negara yang lebih besar dan bagi kemaslahatan negara. Salah satu upaya adalah "penggelembungan" jumlah DPT dengan "penggandaan" beberapa pemilih, "pencantuman" pemilih yang sesungguhnya belum berhak, pencantuman data pemilih yang sesungguhnya sudah meninggal dunia dll. Kelemahan partai politik pesaing adalah tidak memiliki seluruh form C1 dari saksi-saksi setiap TPS. Padahal dengan merekapitulasi seluruh data otentik form C1 merupakan hasil pilpres yang sesungguhnya, karena di form C1 juga sudah tercantum jumlah surat suara yang tidak terpakai, jumlah surat suara yang tidak sah.

Dalam mimpi saya pula, JK tidak pula mendapat dukungan yang solid dari DPD I dan DPD II. Bahkan terlihat dalam mimpi, salah seorang caleg dari Golkar yang sudah mendapat kursi di DPRD tingat II, sama sekali tidak menunjukan upaya keras untuk mensukseskan JK dalam pilpres 2009. Bahkan beberapa menyatakan pendapatnya, bagus pemilihan legislatif sekarang berdasarkan suara terbanyak, sehingga saya memungkinkan duduk di DPRD, dahulu kala saya berupaya keras dalam pemenangan pemilihan legislatif namun pemimpin pusat selalu meletakan saya pada nomor urut yang secara logika tidak memungkinkan mendapatkan kursi. Sekarang saya sudah aman, peduli amat dengan pilpres.

Begitulah mimpi-mimpi yang saya alami selama masa kampanye pilpres 2009, dan itu semua bukanlah kenyataan. Penyebutan nama bukanlah menunjukan data/kenyataan namun sekedar hadir dalam mimpi saya. Bukan saya bermaksud provokasi namun ini sekedar menceritakan mimpi yang saya alami dan sangat mengganggu aktivitas saya. Dengan menulis mimpi ini membuat saya terbebas dari gangguan mimpi-mimpi ini. Sekali lagi anggaplah tulisan ini sebagai cerita fiksi belaka.

Wallahu a'lam

Namun, mencermati ucapan selamat atas pemilu yang berjalan dengan baik, dari para petinggi negara seperti Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang menurut pendapat saya merupakan pemimpin "boneka" bentukan Amerika, membuat saya khawatir apakah mimpi-mimpi diatas adakah sebuah kenyataan ? Benarkah SBY juga "boneka" bentukan Amerika ? katakanlah bukan "boneka" namun "sahabat" ? Saya tidak berani menjawabnya karena saya sama sekali tidak mempunyai data.

Siapapun yang akhirnya terpilih sebagai presiden untuk periode 2009-2014, marilah kita tetap menjaga kedaulatan dan menjaga NKRI.

Allah memberikan karunia alam yang begitu luas di bumi Indonesia dititipkan pada penduduknya mayoritas muslim. Jikalau penduduknya tidak mensyukuri ni'mat, membuat kezaliman di muka bumi Indonesia dan tidak menegakkan kebenaran, maka akan ada bencana dan musibah yang akan berlaku. Percayalah.

Kamis, 09 Juli 2009

Presiden populer

Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un, kemungkinan pemenang pilpres 2009 kali ini, menurut pendapat saya bukanlah yang terbaik, namun yang terpopuler dan "tercitra" baik. Layaknya sebuah acara "idol" di beberapa stasiun tv. Tim pemenang pilpres berupaya dengan segala cara untuk memenuhi persepsi rakyat banyak sehingga apa yang tampil di acara debat capres/cawapres menjadi tidak ada relevansi sama sekali dengan pilihan rakyat banyak.

Untuk itu perlu dikaji ulang pemilihan presiden secara langsung, karena kesiapan rakyat pemilih belum lah memadai. Lebih baik untuk kembali ke sistem perwakilan sesuai amanat Pancasila, bahwa Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Keputusan diwakilkan kepada yang ahli/berkompentensi dan juga bermoral baik. Lihat tulisan saya sebelumnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/25/kedaulatan/

Allah tentu mempunyai kehendak lain, misalkan dengan kejadian ini, maka berkuranglah beban tanggung jawab pa JK di akhirat nanti sebagai pemimpin negeri. Beban tanggung jawab akan ditanggung oleh pasangan SBY/Boediono nanti setelah dilantik. Beban tanggung jawab juga akan diemban oleh para pendukungnya yang telah menempuh upaya berbagai cara. Jikalau pasangan SBY/Boediono dalam kepemimpinan mereka kelak, ternyata tidak adil dan zalim maka para pendukung juga turut bertanggung jawab di akhirat kelak. Wallahu a'lam.

Point-point yang harus diperhatikan pemerintah kelak antara lain,

1. Bagaimana pemerintah melakukan pemerataan pendapatan agar indikator pendapatan penduduk perkapita sebesar 1.8 juta per bulan menjadi real/nyata, karena pada saat ini upah minimum regional rata-rata saja masih berkisar dibawah 1 juta per bulan. Apalagi pekerja-pekerja non formil atau setengah pengangguran mempunyai pendapatan yang berkisar 600 ribu per bulan atau 20ribu per hari. Indikator pendapatan penduduk perkapita terjadi dikarenakan kesenjangan pendapatan antra penduduk berpendapatan tinggi dengan penduduk berpendapatan rendah terlampau jauh.

2. Pemerintah kelak harus terus mendukung upaya KPK atau lembaga pengganti untuk memberantas korupsi. Juga terus berupaya peningkatan penegakan hukum oleh lembaga kepolisian dan kejaksaan. Keberhasilan kedua lembaga ini  ini merupakan alat ukur sesungguhnya bagi keberhasilan pemerintahan dalam mencegah dan memberantas korupsi bukanlah hasil kerja KPK sebagai indikator keberhasilan pemerintahan.

3. Sangat perlu memperhatikan implementasi dan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN yang seperti diamanatkan oleh UUD 1945 dengan perubahan. Menurut pendapat saya , anggaran yang cukup besar ini sangat rentan dari korupsi. Alokasi anggaran pendidikan yang sangat besar ini diamanatkan agar rakyat indonesia dapat memperoleh pendidikan dengan biaya relatif murah, untuk itu perlu sekali subsidi biaya pendidikan sampai perguruan tinggi. Sebagai contoh negara India, dengan jumlah penduduk berkali-kali lipat penduduk Indonesia, sangat mengutamakan subsidi biaya pendidikan bagi rakyatnya sampai jenjang perguruan tinggi, bahkan biaya trasportasi pelajar dan mahasiswa , masih dapat disubsidi oleh pemerintah. Sekarang sebagai contoh memasuki pendidikan SMA Negeri di kab. Bogor, biaya permulaan yang harus disiapkan rakyat Indonesia berkisar Rp. 1.5 juta s/d Rp. 2.5 juta bahkan bisa lebih. Belum lagi biaya transportasi, BP3 perbulan dan lain-lain. Apalagi biaya memasuki perguruan tinggi negeri yang memerlukan biaya yang sangat besar.

4. Pemerintah harus terus berupaya mengurangi hutang negara. Saat ini negara berhutang relatif untuk membayar hutang negara baik pokok maup;un bunga. Pemerintah harus terus berpupaya agar rakyat Indonesia dapat "menjemput" rezeki nya masing-masing. Agar mereka dapati kemandirian ekonomi yang kemudian berdasarkan pendapatan mereka akan sanggup membayar pajak yang merupakan penerimaan negara. Kecepatan penambahan hutang negara sebesar Rp. 400 T (400 ribu Milyar) dalam tempo 5 tahun merupakan penambahan hutang negara yang luar biasa besar. Indikator pendapatan penduduk per kapita sebesar Rp. 1.8 juta perbulan yang sesungguhnya tidak nyata, janganlah menjadi patokan sebagai kesanggupan membayar hutang atau menambah hutang baru. Jikalau diperlukan ajukan peninjauan kembali hutang atau pemunduran jangka waktu agar alokasi APBN untuk pembayaran pokok dan bunga hutang negara, sebagian bisa dialihkan untuk pembangungan dan perawatan infrastruktur. Marilah pemerintah mengupayakan rakyat Indonesia menjadi "produsen" bukannya menjadikan "konsumen" bagi pihak asing maupun kaum kapitalis.

Jumat, 03 Juli 2009

Amanat Ummat Islam untuk JK-Wiranto

Sumber:

http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/message/23176

Amanat Ummat Islam untuk JK-Wiranto

Setelah Muhammadiyah, NU, FPI, dan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) mendukung JK-Wiranto, Forum Umat Islam (FUI) juga menyampaikan Amanatnya kepada JK-Wiranto.

Di antara amanatnya:
- Menjaga akidah umat dengan memberantas berbagai aliran sesat
- Memperjuangkan penerapan syariah
- membangun sistem ekonomi syariah; menghentikan sistem kontrak karya
pertambangan; nasionalisasi aset-aset strategis; menghentikan privatisasi BUMN, mengembangkan industri strategis, mengembalikan sumberdaya alam kepada perusahaan umum milik negara; serta menggerakkan sektor riil sebagai basis perekonomian.

Kenapa para ulama Ormas Islam tersebut mendukung JK-Wiranto? Mungkin karena kedua orang itulah yang rajin mendatangi ulama dan menghormatinya. Entah apa ada calon lain seperti itu. Selain itu ada pula calon lain yang tidak memilih cawapresnya dari kalangan Islam meski beberapa petinggi parpol Islam jadi marah-marah karenanya. Itu semua terlihat jelas di TV-TV Nasional.

Mudah-mudahan siapa pun yang terpilih mampu menjalankan amanat tersebut dan tidak membiarkan kekayaan alam Indonesia dinikmati asing.

Wassalam

Piagam Umat Islam

Sekitar seribuan orang akan hadir di acara deklarasi Piagam Umat Islam antara Forum Umat Islam (FUI) dengan capres Jusuf Kalla di gedung Daarul Aitam Jakarta Pusat. Rencananya, deklarasi akan dilaksanakan hari ini (Jumat 3/7) jam 2 siang dan dihadiri beberapa tokoh ormas Islam.

Selebaran Piagam Umat Islam tersebut sudah disebar di beberapa masjid di
Jakarta. Isi dari piagam tersebut menitipkan amanah umat Islam kepada Capres HM Jusuf Kalla dan Cawapres Wiranto untuk melaksanakan amanat sebagai berikut:

1. Menjaga akidah umat dengan memberantas berbagai aliran sesat dan menyesatkan, seperti Ahmadiyah, menanggulangi penyebaran pemikiran yang menyimpang seperti sekularisme, pluralisme dan liberalisme; serta berbagai tindakan yang menista agama.

2. Memperjuangkan penerapan syariah dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara konstitusional dalam berbagai bentuk; mempertahankan perda-perda syariah yang sudah diberlakukan; serta mendukung lahirnya perda-perda syariah di berbagai daerah.

3. membangun sistem ekonomi syariah; menghentikan sistem kontrak karya
pertambangan; nasionalisasi aset-aset strategis; menghentikan privatisasi BUMN, mengembangkan industri strategis, mengembalikan sumberdaya alam kepada perusahaan umum milik negara; serta menggerakkan sektor riil sebagai basis perekonomian.

4. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan umat; membangun sisten kesehatan gratis bagi seluruh rakyat; membangun sistem pendidikan berbasis iman dan takwa, mengalokasikan anggaran pendidikan secara penuh dan mewujudkan pendidikan gratis bagi rakyat, serta memajukan sekolah-sekolah Islam baik negeri maupun swasta.

5. Menentang intervensi asing dalam politik, ekonomi dan berbagai aspek
kehidupan masyarakat Indonesia, membersihkan pemerintah Indonesia dari kaki tangan imperialis, serta menolak pendirian pangkalan militer negara asing di wilayah Indonesia.

Piagam Umat Islam ini ditandatangani pada tanggal 2 Rajab atau 25 Juni 2009. Di antara yang menandatangi adalah sekjen FUI, Muhammad Al Khaththath. mnh
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/piagam-umat-islam.htm

Muhammadiyah, NU, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), dan FPI Dukung JK-Win

Isyaratkan Dukung JK-Wiranto
Din: Muhammadiyah Tak Kenal Istilah Netral
Gunawan Mashar – detikPemilu

Jakarta – Pengurus Pusat Muhammadiyah semakin mengisyaratkan mendukung pasangan JK-Wiranto.. Saat JK menghadiri peresmian Gedung Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ciputat, Banten, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengajak para hadirin untuk mendoakan JK-Wiranto.

â€Å“Warga Muhammdiyah berdoa agar Pak Jusuf Kalla dapat ridho untuk memimpin bangsa ini ke depan,” kata Din saat dalam pidato sambutannya, Jumat (3/6/2009). Din juga menyebut doa orang Muhammadiyah itu makbul.

â€Å“Kita tidak mengenal istilah netral, karena kita harus menentukan pilihan.
Karena kalau netral berarti golput,” tambahnya.

Terkait pilihan itu, Din mengatakan, warga Muhammadiyah akan memilih yang memperhatikan keberadaan ormas Islam tersebut.

â€Å“Muhammadiyah membuka peluang bagi capres-cawapres yang mau datang ke Muhammadiyah, dan satu-satunya yang datang adalah Pak Jusuf Kalla dan Pak Wiranto. Dan saya yakin cuma mereka saja yang datang,” bebernya.

Sebelumnya, Din juga menyebut bahwa dalam diri Jusuf Kalla juga mengalir darah Muhammadiyah lewat ibunya, Athirah Kalla, yang adalah pengurus Aisyah, bagian Muhammadiyah yang mengurusi masalah perempuan. Selain itu, lanjut Din, mertua JK juga adalah tokoh Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Dalam kesempatan itu, Din juga membacakan 9 kriteria bagi capres-cawapres
pilihan Muhammadiyah, antara lain mempunyai watak kenegarawanan dan akomodatif serta aspiratif terhadap umat Islam.
( lrn / nrl )
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/03/102507/1158337/700/din-muhammadiyah-\
tak-kenal-istilah-netral


Rabu, 23 Juni 2009
MAKLUMAT FPI TENTANG PEMILIHAN PRESIDEN RI 2009

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, setelah melalui Musyawarah Pimpinan DPP-FPI dengan pertimbangan syar’i, maka secara tulus dan ikhlas DPP-FPI menyerukan seluruh umat Islam dan segenap anak bangsa untuk mendukung, memilih dan memenangkan dalam Pilpres 2009 pasangan Capres – Cawapres RI :

H.M. YUSUF KALLA – H. WIRANTO

dengan menitipkan amanat :

JAMINAN KEBEBASAN MENJALANKAN IBADAH DAN SYARIAT BAGI TIAP AGAMA SESUAI DENGAN AJARANNYA MASING-MASING

&

PELARANGAN SEGALA BENTUK PENISTAAN DAN PENODAAN TERHADAP AGAMA APA PUN
http://www.fpi.or.id/

Ulama NU Jatim Sepakat Dukung JK-Wiranto
Rita Ayuningtyas

Rabu, 1 Juli 2009 | 20:14 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Imam Prihadiyoko

JOMBANG, KOMPAS.com — Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur Mutawakil Alala mengungkapkan, para ulama NU sudah sepakat untuk memberikan dukungan pada capres JK-Wiranto.

â€Å“Keputusan itu dibuat dalam sebuah pertemuan para ulama dan kiai sepuh NU,” ujar Mutawakil Alala ketika ditemui di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Rabu (1/7) petang.
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/01/20144716/Ulama.NU.Jatim.Sepakat.D\
ukung.JK-Wiranto


Kiai Kultural NU Bersatu Dukung JK

JAKARTA- Sebanyak 20 kiai kultural NU (Nahdaltul Ulama) menyatakan dukungan kepada duet capres-cawapres, M Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto. Dukungan itu dimanifestasikan dengan pernyataan terbuka dalam bentuk iklan di sebuah media cetak legendaris di kalangan tokoh dan warga NU, Duta Masyarakat , edisi Jumat (19/6).
Di antara kiai NU kultural yang mendukung duet JK-Wiranto adalah KH Abdullah Faqih, pimpinan Pondok Langitan Tuban. Ada pula KH Mutawakkil Alallah, Ketua PWNU Jatim; KH Chotib Umar, pimpinan Pondok Raudhlatul Ulum Jember; KH Muchit Muzadi, salah satu deklarator PKB dan kakak kandung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi; KH Sofyan Miftah dari Situbondo, KH Zainuddin Djazuli, pimpinan Pondok Ploso Kediri, dan banyak kiai lainnya.

http://www.radarjogja.co.id/berita/utama/4223-kiai-kultural-nu-bersatu-dukung-jk\
.html


18 Juta Anggota Jemaah Majelis Taklim se-Indonesia Dukung JK-Win
LIN

Senin, 22 Juni 2009 | 17:03 WIB

BEKASI, KOMPAS.com — Pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto mendapat dukungan sekitar 18 juta ibu yang tergabung dalam majelis taklim di seluruh Indonesia pada Pilpres 8 Juli 2009.

Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Tuti Alawiyah di sela-sela
kampanye dialogis cawapres Wiranto di Bekasi, Senin (22/6), mengatakan, dukungan bulat tersebut dikristalkan pada saat Rakernas BKMT yang diikuti pengurus dari 31 provinsi di Indonesia.
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/22/17032083/18.juta.anggota.jemaah.m\
ajelis.taklim.se-indonesia.dukung.jk-win

http://kabarislam.wordpress.com/2009/07/03/muhammadiyah-nu-badan-kontak-majelis-\
taklim-bkmt-dan-fpi-dukung-jk-win/

Rabu, 01 Juli 2009

Janji JK bagi Rakyat Indonesia

Janji JK bagi Rakyat Indonesia

Kompas hari ini 1 Juli 2009 hal 33,
"Muhammad Jusuf Kalla, Sudah Kaya, Cari Apa Lagi"

Jawaban beliau,
"Tidak. Saya sudah cukup mampu untuk tidak mengambil apapun kekayaan dari negeri ini. Bersama pa' Wiranto, saya tidak mencari keuntungan apa-apa. Saya hanya mau bekerja, mencari kemuliaan dan kehormatan rakyat. Bukan kemuliaan dan kehormatan saya. Saya tidak mau meninggalkan bangsa yang kurang kehormatannya karena kurang mandiri di bidang ekonomi."

Sungguh sebuah "kontrak politik" yang jauh bernilai dibanding "kontrak politik"  capres lainnya, dan yang itupun baru sebatas kepada partai politik pendukung saja,  kepentingan elite / petinggi partai.

Alhamdulillah, sungguh rakyat Indonesia cukup dengan memegang perkataan/ janji beliau ini, sudah bisa yakin untuk memilih JK. Karena pa JK, Insyaalllah satu kata dengan perbuatan.

Kapan lagi kita bisa bebas dan merdeka, dari penjajahan ekonomi secara tidak langsung dari kaum kapitalis dan pihak asing ?

Jangan mau kita diadu domba oleh pihak asing ataupun pihak-pihak yang
menginginkan negeri ini bangkrut.

Marilah kita bangkit dan bersatu padu bersama pemimpin yang mau memuliakan rakyatnya.
Amin

Kamis, 25 Juni 2009

Taatilah Ulama

Taatilah Ulama


Kita ketahui bahwa bencana alam, musibah, musibah penyakit, musibah kemiskinan yang kita alami di nergeri kita ini, merupakan cobaan dari Allah ta'ala dan merupakan peringatan Allah ta'ala bagi kita.

Coba kita memeriksa kejadian-kejadian di negeri kita

1.  Keadilan tidak ditegakkan dan kezaliman terjadi di segala bidang.

2.  Pendapat ulama yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadits tidak lagi ditaati.

Semakin hari kita mengamati petunjuk Ilahi tersebut,  telah tampak tidak tegaknya keadilan dan terjadinya kezaliman disegala bidang di negeri kita ini.

Sebagian pemimpin tidak lagi amanah, baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif.  Korupsi, kolusi dan nepotisme masih merajalela. Alih-alih terjadi peningkatan perkara yang bisa ditangani KPK , namun ternyata tidak juga menjadi efek jera. Keadilan yang “tebang pilih” dan berdasarkan “pesanan” terlihat jelas di aparat penegak hukum (yudikatif). Bisa kita lihat terakhir ini betapa mudahnya menjadi buron dari dugaan korupsi pada kasus Bank Bali atau kasus “pencemaran nama baik” di Pengadilan Tinggi Tanggerang,  menggugat seorang pasien yanag sesungguhnya tidak mendapat pelayanan baik di sebuah rumah sakit, dll.

Begitu juga pendapat Ulama tidak juga ditaati, bisa kita amati. Fatwa MUI dengan tegas menyatakan kesesatan paham Liberalisme,  Sekularisme  Agama dangan Fatwa MUI No: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 namun pada kenyataan pemimpin negeri  saat ini menggunakan kaum liberalisme sebagai orang-orang dekat / kepercayaan pada team sukses PILPRES mereka seperti Rizal Malarangeng, Saiful Mujani, Hamid Basyaib, Denny JA dll. Begitu juga kerjasama FOX Indonesa dengan Lembaga Survey, menunjukan betapa liberalnya mereka dengan hasil survey dan pencitraan yang salah, hal ini sebenarnya merupakan pembodohan rakyat. Juga pengangkatan Boediono sebagai cawapres yang didukung juga oleh Goenawan Mohammad. Dukungan kepada Boediono diberikan karena ideologi liberalisme yang dianut anggota Mafia Barkeley ini.  Begitulah rangkuman informasi yang bisa kita dapatkan dari majalah Islam Sabili edisi 25 TH XVI, 9 Rajab 1430.

Jika kita berharap tidak lagi ketidak-adilan merajalela di negeri ini maka mulailah dengan mentaati para Ulama.

Saat ini hampir semua elite ormas Islam seperti, NU, Muhammadiyah, Hidayatullah, Forum Umat Islam, FPI dan lain-lain mendukung JK.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh KH Cholil Ridwan, Ketua MUI, bimbingan yang Beliau sampaikan bahwa, “mempertimbangkan usul fiqih yang menyebutkan pilihlah "yang paling sedikit mudharatnya (bahaya dan negatifnya)". Kita lihat kandidat JK, background keluarga dan dirinya adalah Muslim. Keluarga besar dan dirinya juga sudah ibadah haji, istri dan keluarga besarnya yang muslimah sehari-hari menutup aurat (berjilbab). Meski begitu umat Islam juga harus memahami bahwa kandidat ini bukan yang ideal, yang akan memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Tetapi dibandingkan dua kandidat lainnya, yang ini memiliki kebaikan lebih yang tercermin dari perilaku dan ketaatannya dalam menjalankan ajaran Islam. Dilihat dari sudut keburukan, kejelekan paling sedikit. Dilihat dari sudat kebaikan, kebaikannya lebih banyak."

Sebaiknya kita tidak mengatakan bahwa Ulama mencampuri urusan politik. Pendapat inilah yang sesungguhnya yng diinginkan kaum sekuler dan liberalisme, memisahkan wilayah agama dengan negara. Namun sesungguhnya agama Islam wajib diimplementasikan di segala aspek kehidupan. Politik dalam Islam berbeda dengan politik sekular yang bersumber kepada spekulasi akal yang rentan berubah, politik Islam bersumber ke pada Wahyu. Jadi, sistem, nilai, visi, misi dan agenda dalam politik Islam juga didasarkan kepada, dan diderivasi dari Wahyu. Politik Islam tidak akan memper juangkan nilai nilai yang bertentangan dengan Wahyu seperti memperjuangkan kebebasan kesesatan akidah, kebebasan seks seperti gerakan homoseksual, lesbianisme, pornografi, dan lainnya. Sebaliknya, politik sekular bisa melindungi dan menyebarkan kekeliruan-kekeliruan kepada masyarakat dengan mengkambing-hitamkan kebebasan, relativitas nilai dan budaya. Politik sekular berjuang untuk meraih kekuasaan yang dibangun dengan dasar kepentingan. Tiada musuh yang abadi dalam politik karena yang ada adalah kepentingan. Inilah jargon sekular yang sering dilontarkan. Dampaknya, politik sekular tidak memiliki integritas. Dengan konsep moral yang pragmatis, semua serba boleh, asal kan kekuasaan dapat diraih. Jikapun terdapat integritas, maka integritas itupun di bangun di atas filsafat pragmatis. Sedangkan dalam politik Islam, yang diperjuangkan adalah kebenaran, bukan semata-mata kekuasaan. Kebenaran lebih penting dari kemenangan yang dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Kekuasaan diraih dengan kebenaran dan kekuasaan adalah amanah dan sarana dakwah, untuk menyebarkan rahmat Allah di atas muka bumi. Jadi bukanlah menang atau kalah , namun yang diutamakan adalah benar atau salah.

Akhir-akhir ini banyak umat Islam yang sudah berani melecehkan para ulama dan tidak menghormati mereka lagi, ini adalah salah satu tanda akhir zaman. Padahal dalam Islam, para ulama mendapatkan kedudukan yang sangat terhormat sekali. Diantaranya adalah apa yang disebutkan Allah swt dalam salah satu firman-Nya :

” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )

Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah , Rosul-Nya dan ulil amri. Hanya saja ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya adalah ketaatan mutlak, sedangkan ketaaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya. Adapun maksud dari ulil amri dalam ayat tersebut menurut Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya adalah para pakar fiqh dan para ulama yang komitmen dengan ajaran Islam. Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat bahwa ulil amri di atas mencakup para ulama dan umara ( pemimpin ). Ini sesuai dengan apa yang kita dapati dalam perjalanan sejarah Islam pertama, bahwa Rosulullah saw adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafa’ rasyidin sesudahnya : Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.

Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara. Dalam posisi seperti ini, manakah yang harus kita taati terlebih dahulu, ulama atau umara ?

Kalau kita perhatikan ayat di atas secara seksama, akan kita dapati bahwa ketaatan kepada ulil amri tergantung kepada ketaatan mereka kepada Allah dan Rosul-Nya.

Sedang orang yang paling mengetahui tentang perintah Allah dan Rosul-Nya adalah para ulama, dengan demikian ketaatan kepada para ulama didahulukan daripada ketaatan kepada umara, karena umara sendiri wajib mentaati ulama yang komitmen dengan ajaran Islam. Dalam hal ini Ibnu Qayyim dalam bukunya ” I’lam Al Muwaqi’in ” ( 1/9 ) menyatakan : ” Pendapat yang benar adalah bahwa para umara’ hanya boleh ditaati jika mereka memerintahkan kepada sesuatu yang berdasarkan ilmu, hal itu bisa terwujud jika para umara’ tersebut mengikuti para ulama, karena ketaatan itu hanya diwajibkan pada hal-hal yang baik –baik saja dan berdasarkan ilmu. Oleh karenanya, kita mentaati ulama, karena mereka mentaati Rosulullah saw, begitu juga kita mentaati umara’ karena mereka mentaati para ulama . ”

Maka, sangatlah indah jika para umara dan ulama tersebut saling bekerjasama untuk memimpin, mengajak, dan memerintahkan umat ini kepada hal-hal yang baik dan bermanfaat di dunia dan akherat, serta melarang hal-hal yang jelek yang akan membawa mudharat bagi bangsa dan umat. Suatu negara akan baik dan maju jika para pemimpin dan ulamanya baik, sebaliknya jika keduanya rusak, maka negarapun pasti akan rusak. Ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Abdullah Mubarak : ” Dua kelompok manusia, jika mereka baik, maka masyarakat akan baik, sebaliknya jika mereka rusak, maka masyarakatpun akan ikut rusak, mereka itu adalah para ulama dan umara’.

Para ulama dalam sebuah masyarakat dan negara mempunyai peran yang sangat besar, mereka berhak untuk ikut campur dalam urusan-urusan yang berhubungan dengan maslahat umat, karena mereka mempunyai bekal dan ilmu yang cukup untuk berbicara masalah tersebut, apalagi kalau hal tersebut dilakukan secara musyawarah dan bersama-sama, tentunya akan lebih kuat dan akan terhindar dari mengikuti hawa nafsu atau sekedar mencari jabatan serta kesenangan dunia, seperti yang dituduhkan oleh beberapa pihak. Bahkan dalam kajian ilmu ushul fiqh, kita dapatkan bahwa Ijma’ ( konsensus ulama ) merupakan sumber hukum ketiga setelah Al Qur’an dan hadist. Hal itu, mengingat bahwa para ulama tersebut tidak akan mungkin berkumpul dan menyepakati hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam.

” Dan Barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orng mukmin , maka Kami biarkan ia bergelimang dalam kesesatannya, dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam, dan neraka Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali ( QS An Nisa’ : 115 )

Imam Syafi’I melihat dalam kalimat Al Qur’an di atas, yaitu yang berbunyi : ” dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin ” sebagai landasan keabsyahan ijma’ ( konsensus ulama ). Adapun keterangannya adalah barang siapa yang menyelisihi jalan atau cara pandang orang-orang yang beriman, dalam hal ini adalah ijma’ ( konsensus ) para ulama , maka dia diancam oleh Allah dengan neraka Jahannam. Padahal secara kenyataannya para ulama itu adalah bagian dari umat ini, bahkan jumlah mereka sangat sedikit, namun karena kapasitas keilmuan mereka, maka kesepakatan mereka dianggap telah mewakili umat Islam secara keseluruhan. Dari sini, kita mengetahui betapa tinggi kedudukan para ulama di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, ayat di atas memberikan pesan kepada umat Islam untuk selalu bersama dengan para ulama, dan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui, sekaligus larangan untuk menyelisihi para ulama dengan mengeluarkan pendapat – pendapat aneh yang tidak ada dasarnya dari Al Qur’an dan hadist. Semoga Allah swt menjaga kita dari berbuat yang tidak sesuai dengan jalannya orang-orang beriman .

Semoga pemimpin yang terpilih nanti, pada sisi Presiden dapat dibentuk Majelis Pertimbangan Ulama Indonesia (MPUI) yang memberikan pertimbangan segala hal yang berhubungan dengan pemerintahan dan kebijakannya agar sesuai dengan Al Quran dan Hadits. MPUI ini terdiri dari wakil seluruh ormas Islam, lembaga penelitian pemerintahan berdasarkan Islam seperti INSIST, pada prinsipnya perwakilan yang disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar terhindar dari paham yang sesat.

Dalam rangka mendukung siapakah sosok yang didukung oleh para Ulama dan mempertimbangkan bahwa “tak kenal maka tak sayang”, marilah kita lihat sosok JK berdasarkan buah pikiran beliau yang diambil dari 2 buah buku kumpulan pidato tanpa teks yang direkam dan ditranskripsikan dalam judul.

Pikiran-pikiran Praktis M. Jusuf Kalla – Mengurai benang Kusut, 68 Pidato

Bunga Rampai Lepas M. Jusuf Kalla – Krisis Membuahkan Kemajuan., 71 Pidato

Dengan melihat buah pikiran beliau, semoga kita dapat membaca kompetensi/ kemampuan dan harapan beliau dalam memimpin negeri ini kelak.

Berikut cuplikan 8 buah pidato yang diambil dari kedua buku tersebut.

1.  Pemikiran JK bag 1 – Tentang Konflik

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/23/pemikiranjk1/

2.  Pemikiran JK bag 2 – Tentang Partai

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/23/pemikiran-jk-bag-2-tentang-partai/

3.  Pemikiran JK bag 3 – Tentang Birokrasi Yang Tidak Korup

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/23/pemikiranjk/

Pemikiran JK bag 4 – Kemandirian

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/kemandirian/

5.  Pemikiran JK bag 5 – Koperas dan Zakat

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/koperasizakat/

Pemikiran JK bag 6 – Ruang Ditata untuk Rakyat

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/ruangrakyat/

Pemikiran JK bag 7 -  Demokrasi yang Santun

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/demokrasisantun/

Pemikiran JK bag 8 – Berdakwah dan Berdagang

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/berdakwah/

Kita berlindung diri kepada Allah swt dari sikap mengindahkan kata hati nurani dan akal sehat, karena dikalahkan oleh nafsu syahwat. Dan sekaligus kita berdo’a agar kita dikaruniai iman dan aqidah yang kokoh sehingga melahirkan mental yang sehat dan hati yang waras –qalbun salim-. Tentunya dengan usaha keras kita menggapai hidayah-Nya

Janganlah karena lebih mementingkan urusan dunia, kita bercerai berai. Marilah kita menjaga Ukhuwah Islamiyah dan saling menghormati pada umat agama lain serta bertoleransi dengan mereka secara tidak berlebihan.

Alhamdulillah, Ulama berikan bimbingan pilpres 2009

Di negeri yang dikaruniai Allah, sumber daya alam yang berlimpah ruah, bencana alam silih berganti yang merupakan peringatan Allah bagi kita diantaraya tsunami Aceh,  gempa bumi Jogyakarta, jebol tanggul situ gintung, tanah longsor cianjur, banjir bandang dan rob dibeberapa kota. Juga bencana lumpur lapindo yang terjadi di jawa timur, propinsi yang banyak pondok pesantren dan tentunya banyak para alim ulama terlahir dan tinggal di sana. Sungguh ganjil pula di propinsi tersebut, beribu-ribu umat muslim yang begitu percaya "manfaat" sebuah batu yang menjurus kesyirikan.

Ironis pula pemimpin yang mengutarakan bahwa rakyat "mulai" sejahtera namun bisa terlihat adanya anak/bayi kurang gizi, ibu yang tega melempar bayinya ke sumur hanya karena "lelah" dengan penyakit bayinya atau ada suami yang tega membunuh anak dan istrinya karena merasa tidak sanggup/putus asa untuk membiayai hidup keluarga. Juga masih banyak rakyatnya yang makan cuma sanggup sekali dalam sehari. Namun kurang tampak "keprihatinan" dikalangan pemimpin negeri, alih-alihsebagian beralasan mereka sebagai pemimpin memang "layak" untuk bepenampilan
jauh diatas rata-rata rakyatnya agar dapat "diterima" dikalangan pemimpin negara lainnya.

Kita terkenal dengan bangsa yang ramah, namun kini terlihat dibeberapa tempat begitu bringasnya waktu berdemo, pelaksanaan pilkada, usulan pemekaran wilayah atau terlihat pada satpol pp yang begitu tega "melaksanakan" perintah tanpa hati dan tanpa peduli manusia yang dihadapi mereka, sehingga bisa terlihat sebagi contoh Choiriyah yang tewas melepuh akibat tersiram kuah baso panas.

Penegakkan hukum yang masih lemah, "tebang-pilih" dan berdasarkan "pesanan". Mereka tidak menyadari bahwa mereka sebagai penegak keadilan di dunia ini. Posisi polisi yang belum juga "dicintai" rakyat nya sehingga masih dibenarkan pomeo bahwa kalau rakyat minta bantuan polisi karena kehilangan sesuatu maka "biaya" nya akan lebih besar dari nilai kehilangannya. Pejabat negara yang diantaranya mereka muslim, namun karena mereka tidak merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya sehingga mereka tega melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme serta penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Dapatkah kita mendapatkan petunjuk Ilahi dari kejadian-kejadian diatas ?

Menurut pendapat saya , petunjuk Ilahi tersebut adalah merupakan "teguran"
kepada pemimpin tertinggi bangsa. Allah tidak akan sia-sia menurunkan bencana kepada suatu negeri / kaum agar pemimpin negeri / kaum tersebut dapat memahaminya.

Sehingga bagi umat Islam dalam memilih pemimpin negeri harus berlandaskan Al-Qur'an dan Hadits. Pemilu atau pilpres adalah bagian dari ibadah ghairu mahdah.

Ada sementara orang terjebak dalam memahami ibadah. Dikiranya ibadah itu
hanyalah ibadah mahdah saja. Ibadah mahdah (atau ibadah khusus) adalah ibadah yang syarat rukunnya telah ditetapkan sesuai dengan syariat.

Kita harus ingat bahwa hakekat manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk
beribadah. Sesuai firman Allah, Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Az Zariyat 56). Maka segala bentuk tindakan, hati, pikiran, semuanya, seharusnyalah untuk beribadah kepada-Nya. Dan segala tindak tanduk kita akan bernilai ibadah jika diniatkan untuk beribadah.

Sedangkan membedakan urusan agama (ibadah) dengan urusan dunia itu adalah konsep sekuler, yang dianut oleh kaum liberalisme. Dan itu bukan konsep ibadah dalam islam. Kita harus menentang keras pemikiran kaum liberalisme seperti yang diungkapkan oleh Ulil Abshar-Abdalla, Rizal Mallarangeng dan Denny J.A dll bahwa wilayah agama dan negara itu harus dibedakan. Pendapat mereka seperti tercantum
http://islamlib.com/id/artikel/islam-bukan-wewenang-negara/
Saat sekarang ini peran kaum liberal sangat besar di tim sukses SBY/Boediono.
Hal ini merupakan potensi bahaya jika mereka nanti ikut dalam "kekuasaan".

Selain ibadah mahdah, ada ibadah ghairu mahdah (ibadah umum). Ibadah ghairu mahdah bisa bercampur dengan perbuatan-perbuatan duniawi kita. Ibadah ghairu mahdah dapat terkandung (bahkan menjiwai) di dalam kita berhubungan dengan antar umat manusia (muamalah). Selain ibadah mahdah yang memang telah diperintahkan-Nya, alangkah ruginya orang islam jika melakukan kegiatan-kegiatan duniawinya tanpa berniat ibadah kepada Allah swt. Padahal Allah sendiri telah menjamin nilai pahalanya.
Ibadah ghairu mahdah (umum) ada hujahnya di dalam al Qur'an dan/atau sunnah Nabi saw. Tetapi tata-cara, syarat rukun pelaksanaannya tidak diatur. Ada yang berupa kebaikan-kebaikan amal, fadhilah, keutamaan-keutamaan, dan amalan sunnah seperti dzikir, sholawat, dsb. Ada juga yang berupa kegiatan-kegiatan duniawi yang diniatkan ibadah, seperti bekerja, makan minum, berkunjung, arisan, dll. Hal itu diperbolehkan sepanjang itu tidak melanggar aturan syara'.

Amandemen UUD 1945 khususnya Pasal 1 ayat (2) menetapkan kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar dan Pasal 6A ayat (1) menetapkan "Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat", menurut pendapat saya terlampau dini utntuk diterapkan. Rakyat dapat menentukan pilihan sangat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi dan pendidikannya. Khususnya pemilih umat islam haruslah berpegang teguh berdasarkan Al-qur'an dan Hadist.  Nah karena pemahaman dan penguasaan terhadap al-qur'an dan hadist sebagian umat masih lemah maka diperlukan peranan/bimbingan ulama. Pendapat saya tentang kedaulatan rakyat bisa dikunjugi,
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/25/kedaulatan/

Alhamdulillah, akhirnya salah satu ulama, Ketua MUI, KH Cholil Ridwan memberikan bimbingan agar umat Islam tidak salah memilih pemimpin dengan dasar Al-Qur'an dan Hadist. Beliau memaparkan dalam satu wawancara yang dimuat oleh majalah Sabili edisi terbaru No. 25 TH XVI 9 RAJAB 1430 hal 18 s/d 25.
Salah satu cuplikan bimbingan beliau, (hal 22 kolom 2 bawah)
"Ketiga (capres/cawapres no 3) , ada usul fiqih yang menyebutkan pilihlah "yang paling sedikit mudharatnya (bahaya dan negatifnya)". Kita lihat kandidat ini, background keluarga dan dirinya adalah Muslim. Keluarga besar dan dirinya juga sudah ibadah haji, istri dan keluarga besarnya yang muslimah sehari-hari menutup aurat (berjilbab). Meski begitu umat Islam juga harus memahami bahwa kandidat ini bukan yang ideal, yang akan memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Tetapi dibandingkan dua kandidat lainnya, yang ini memiliki kebaikan lebih yang tercermin dari perilaku dan ketaatannya dalam menjalankan ajaran Islam. Dilihat dari sudut keburukan, kejelekan paling sedikit. Dilihat dari sudut kebaikan, kebaikannya lebih banyak."

Edisi SABILI kali ini memuat banyak bimbingan dan informasi seputar pilpres, begitu juga media-media Islam lainnya, Insyaallah telah bersepakat akan memberikan bimbingan dan arahan bagi pembaca khususnya umat muslim dalam mengikuti pilpres 2009 ini.

Sehingga semakin jelaslah koalisi yang terjadi pada pasangan SBY/Boediono,
semata-mata adalah koalisi "petinggi-petinggi" partai dengan basis masa Islam bukanlah mencerminkan kepentingan Islam. Perlu diambil langkah-langkah penting agar mengembalikan kepercayaan kader/anggota partai dengan menyadari "kekeliruan" lebih awal.

Kenyataan saat ini ditataran kader/anggota partai-partai mayoritas berbasis massa muslim, yang berkoalisi dengan SBY/Boediono terdapat 4 jenis "pilihan" langkah mereka yakni

- 100% mendukung pilihan partai.
- Jauh dalam lubuk hati mereka condong untuk memilih pasangan JK/Wiranto namun dalam pilpres nanti tetap memilih sesuai pilihan partai.
- Dari luar mereka terlihat mendukung pilihan partai namun dalam pilpres nanti memilih pasangan JK/Wiranto.
- Diam, dan dalam pilpres nanti memilih pasangan JK/Wiranto.

Jadi petinggi partai-partai mayoritas berbasis masa muslim membimbing
kader/anggota menjadi tidak satu kata dengan perbuatan.

Marilah, kita sebagai umat Islam dalam kehidupan bernegara, berpegang teguh pada Al-quran dan hadits.  Jikalau pemahaman masih kurang gunakanlah bimbingan para Ulama agar kita dalam kehidupan dunia ini tidak tersesat dan tercipta kehidupan negara yang diridhoi Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang. Negara yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofurun. amin

Marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah, saling menghormati pada umat non muslim dan bertoleransi tidak berlebihan dalam rangka persatuan Indonesia.

Wassalam

(mohon sebar luaskan kepada seluruh umat Islam baik yang bisa akses internet maupun yang tidak agar umat Islam mengikuti bimbingan ulamanya.

Keputusan berkoalisi yang keliru ?

Berikut pendapat yang saya berikan kepada beberapa kader dan simpatisan PKS, yang menanyakan ketidak sesuaian keputusan syuro/pimpinan partai terhadap kata hati mereka.

Fungsi syuro akan terlaksana baik apabila terpenuhi 3 syarat yakni:

1. Tersedianya sumber-sumber informasi yang cukup untuk menjamin bahwa keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
2. Tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang memadai harus dimiliki setiap peserta syuro.
3. Adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat yang menjamin keragaman pendapat yang terjadi dalam syuro dapat terkelola dengan baik.

Berikut analisa pribadi saya dan evaluasi terhadap hasil keputusan syuro / dewan pembina partai,  pada kenyataannya tidak sesuai dengan kata hati sebagian kader/anggota partai.

Kemungkinan kekeliruan itu tentu bukan terjadi karena point 2 dan point 3
sehingga penyebabnya adalah tidak terpenuhi syarat point 1, tidak terpenuhi
sumber-sumber informasi yang cukup. Tidak terjadi pembanding yang fair antara pa SBY dan Pa JK (tentu pilihan bu Megawati secara wajar dieliminir oleh partai dakwah). Sesuai ungkapan tak kenal maka tak sayang. Juga tidak menghilangkan kemungkinan "penghilangan" sumber informasi untuk suatu "pesanan"/"kepentingan" atau juga ada langkah "pencitraan" yang keliru.

Sebagaimana yang saya ungkapkan dibeberapa kesempatan, saya contohkan bagaimana membandingkan sumber-sumber informasi sangat sederhana untuk pengambilan keputusan dalam mengikuti pilpres nanti.
Pembanding ini dilakukan dengan sangat fair, menurut istilah yang kita kenal
"apel to apel"

Pilihan yang tersedia sekarang menjadi lebih sederhana adalah,
2. Susilo B Yudoyono / Boediono
3. M Jusuf Kalla / Wiranto

Sesuai di tulisan saya di,
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/05/19/seruan-umat-islam/

Hal yang harus diperhatikan dalam memilih pemimpin sebaiknya berdasarkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Ketaqwaan dapat dilihat dari hasil / perbuatan sang pemimpin apakah sesuai
dengan perintah Allah SWT.

Sekarang secara sederhana kita memperhatikan bentuk ketaqwaan pa SBY dan pa JK,

Pada saat deklrasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui menghambur-hamburkan uang untuk untuk sekedar acara deklarasi sedangkan pa JK menyetujui mengeluarkan uang sebaik mungkin. Ternyata kebijakan beliau dalam pembiayaan acara deklarasi paling rendah dibandingkan calon pemimpin lainnya.

Firman Allah,
"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS Al Isra' : 27)
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)" (QS. At-Takatsur:1-3)

Pada saat deklarasi, pa SBY sebagai pemimpin menyetujui format acara
meniru/meneladani kaum Amerika. Sedangkan pa JK sebagai pemimpin meniru keadaan yang dirahmati Allah SWT yakni proklamasi kemerdekaan dahulu.

Firman Allah, "Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah." (Ar-Ra'd: 36-37).

Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syariat bahwa tidak boleh bagi muslim atau muslimah untuk ber-tasyabbuh (meniru) orang kafir baik dalam perkara ibadah, hari raya atau tasyabbuh dalam penampilan.

Kita berlindung diri kepada Allah swt dari sikap mengindahkan kata hati nurani dan akal sehat, karena dikalahkan oleh nafsu syahwat. Dan sekaligus kita berdo'a agar kita dikaruniai iman dan aqidah yang kokoh sehingga melahirkan mental yang sehat dan hati yang waras –qalbun salim-. Tentunya dengan usaha keras kita menggapai hidayah-Nya

Wassalam

Zon

Kedaulatan Rakyat Berlandaskan Kedaulatan Allah

Kedaulatan Rakyat Berlandaskan Kedaulatan Allah (Demokrasi Pancasila sesungguhnya)


Amandemen UUD 1945 khususnya Pasal 1 ayat (2) menetapkan kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang Undang Dasar dan Pasal 6A ayat (1) menetapkan "Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat" , menurut pendapat saya perlu ditinjau ulang karena penyimpangan konstitusional.


Amandemen tersebut bertentangan dengan pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.  Kita telah sepakat bahwa pembukaan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara tidak boleh diubah. Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila inilah harus dipegang teguh sebagai sandaran amandemen UUD 1945 dan menjalankan pemerintahan. Pembukaan UUD 1945 berikut batang tubuhnya dan Pancasila merupakan produk para Pendiri Negara dengan pemahaman sangat mendalam dan didukung oleh referensi yang luas, mencakup sebagian besar negara-negara di dunia dan menyesuaikannya dengan keunikan negara kita.


Notulen rapat-rapat BPUPKI dan PPKI mulai pertengahan Mei sampai Juli 1945 memberikan gambaran betapa mendalam dan tinggi mutu diskusi para Bapak Bangsa tentang sistem pemerintahan. Dengan semangat kemandirian bangsa sebelum kemerdekaan, tidak mungkin lagi dilakukan perubahan Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila pada zaman sekarang ini karena sulit menghadirkan kembali "jiwa" dan pemahaman keinginan yang sesungguhnya dari mereka pendiri negara yang merancang dan mengesahkan hukum dasar tersebut kecuali perubahan pada batang tubuh UUD 45 yang mereka memang memperbolehkannya namun sekali lagi harus sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.


Kedaulatan rakyat adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat sangat sesuai dengan sila ke empat dari Pancasila, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.


Ditegaskan dalam pembukaan UUD 1945 bahwa susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar pada pancasila yang mana pada sila kesatu adalah ketuhanan yang Maha Esa. Jelas sekali kedaulatan rakyat berdasarkan kedaulatan Tuhan dimana seluruh rakyat harus berserah diri, ikhlas menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan berdasarkan agama yang dianut. Hukum Tuhan diatas hukum manusia yang dibuat secara musyawarah dan mufakat berdasarkan sila-sila lain dari pancasila dan pembukaan UUD 1945. Begitu pula hak asasi Tuhan diatas hak asasi manusia.


Sungguh mulia pemikiran, pemberian dasar negara oleh para Pendiri Negara dimana mereka selalu menyadari kuasa mereka sesungguhnya atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dimana tersebut dalam pembukaan UUD 1945 dan produk – produk mereka lainnya. Dengan kesadaran ini melahirkan pengertian kekuasaan negara berdasarkan izin kuasa Allah semata. Kesadaran kehadiran Allah disetiap saat kehidupan, sehingga tidak ada sama sekali dualisme masa/waktu, sekedar urusan dunia maupun sekedar urusan akhirat, karena sesungguhnya kedua urusan masa/waktu tersebut dalam kesatuan. Kesadaran kehadiran Allah akan melahirkan bangsa besar dengan warga negara yang dapat mengendalikan hawa nafsu sehingga dapat menghindari segala kejahatan, korupsi, dengki , kikir, amarah, angkuh ,dll


Kesadaran kehadiran Allah akan merealisasikan cita-cita para Pendiri Bangsa sesuai pembukaan UUD 1945 yaitu suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.


Inilah sesungguhnya arti dari Bangsa yang religius yang diridhoi oleh Allah yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang. Negara Indonesia dianugerahi Allah dengan kekayaan alam dan budaya. Namun karena pemerintahan dan seluruh elemen pemimpin bangsa belum menyadari apa yang dicita-citakan oleh para Pendiri Bangsa sehingga rakyat belum merasakan kemakmuran dan keadilan merata. Tidak ada kata terlambat dan harus dilakukan perubahan dari mulai sekarang.


Semoga Allah meridhoinya.

Jumat, 19 Juni 2009

Harapan dan doa bagi pemimpin Indonesia

Semoga presiden dan wakil presiden nanti dalam memimpin dapat meneladani Rasulullah SAW, salah satunya bahwa Beliau sangat menghargai kaum minoritas bahkan menghargai orang yang menghina Beliau seperti kisah Rasulullah dan pengemis Yahudi buta, yang mana pada akhirnya pengemis Yahudi buta tersebut masuk Islam setelah menyadari mendapatkan perlakuan yang mulia dari Rasulullah.

Semoga pula presiden dan wakil presiden terpilih dapat pula meneladani kepemimpinan Khalifah Umar ibn Khattab ra yang tegas dan bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya, Seperti kisah Beliau dengan ibu dan anak yang kelaparan. Khalifah Umar merasa bahwa kelaparan yang dialami oleh keluarga miskin tersebut adalah disebabkan karena kelalaiannya dan ketidak mampuannya memberikan keadilan terhadap semua lapisan masyarakat.

Sayidina Umar tidak berbangga dan sangat menjaga hatinya ketika menjadi khalifah. Pada satu ketika dia mengangkut air di belakang badannya. Maka beliau ditegur oleh sahabat-sahabatnya, "Hai Amirul Mukminin, mengapa tuan sendiri yang memikul air ini?" Jawabnya, "Aku merasa bahwa diriku telah merasa takabur, lalu kupikul air ini untuk menundukkannya."

Beliau sangat menganjurkan rakyatnya hidup berdikari. Sayidina Umar pernah berkata, "Pelajarilah hidup susah, karena mungkin engkau kelak akan menderita dengan kesusahan." Beliau juga pernah berpesan, "Pekerjaan yang kelihatannya rendah lebih mulia dari sikap meminta-minta." Semoga pemimpin negara kita dapat mewujudkan bangsa mandiri dan berkedaulatan, bukannya meminta-minta walaupun dalam bentuk bantuan atau kata lain berhutang.

Disisi lain apa yang dicontohkan khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang menegakkan keadilan di dalam pemerintahannya. Penguasa-penguasa yang zalim dipecat dan digantikan dengan orang yang lebih layak untuk memperbaiki keadaan masyarakat. Yahya Al-Ghassani menceritakan :

Seorang gubernur menulis surat kepada beliau :

Wahai amirul mukminin, negeri kami ini telah rusak, alangkah baiknya jika tuan memberi jalan untuk memulihkan negeri kami.

Khalifah Umar menjawab surat itu dengan berkata,

Apabila engkau membaca suratku ini hendaklah engkau memagari negerimu dengan keadilan dan bersihkanlah jalan-jalannya dari kezaliman. Sesungguhnya itulah pemulihannya.

Janganlah karena pilpres (lebih mementingkan dunia), kita bercerai berai. Marilah kita menjaga Ukhuwah Islamiyah dan saling menghormati pada umat agama lain serta bertoleransi dengan tidak berlebihan. Pilpres bukanlah sebuah peperangan, peperangan sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu.

Kamis, 21 Mei 2009

Tunjukilah pemimpin kami jalan yang lurus

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/15/15563559/Deklarasi.SBY-Boediono.Tiru.Obama-Biden

Setelah saya memperhatikan deklarasi salah satu calon pemimpin negeri barulah saya tersadar bahwa pemimpin kami sangat mengidolakan/berkiblat pemimpin negara Amerika. Maaf, pemimpin negara yang biadap. Pemimpin yang menghalalkan menyerang kedaulatan negara lain seperti irak, afghanistan dll. Pemimpin Amerika, pemimpin yang belum mendukung kemerdekaan bangsa lain seperti Palestina. Sangat tidak sesuai dengan cita-cita luhur pendiri bangsa sesuai dengan pembukaan UUD 1945, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Ya Allah,  maafkan dan sadarkanlah pemimpin kami , agar mencontoh/meneladankan tuntunan kami nabi Muhammad SAW.

http://www.inilah.com/berita/2009/05/15/107249/bedanya-deklarasi-jk-win-dan-sby/
http://www.pemiluindonesia.com/pemilihan-presiden/biaya-deklarasi-mega-pro-bisa-buat-beli-340-ton-beras-miskin.html

Ya Allah, saya tersadar bahwa pemimpin kami menghambur-hamburkan uang hanya untuk sekedar deklarasi.

Ya Allah, pemimpin kini masih saja melanjutkan terus berhutang dengan bangsa lain dengan salah satu alasan bahwa pendapatan per kapita rakyat terus bertambah, Pada tahun 2008 angka PDB per kapita diperkirakan mencapai Rp. 21,7 juta (US$ 2.271,2). Padahal kita sadar bahwa indikator ini tidak memperlihatkan keadaaan ekonomi rakyat sesungguhnya karena kesenjangan pendapatan dimana pendapatan tinggi hanya diperoleh dari sebagian kecil rakyat seperti maaf, salah satu cawapres yang melaporkan kekayaan lebih dari 1.5 Trilyun. Klo indikator PDB per kapita per bulan maka terlihat sebesar Rp. 21.7 juta / 12 bulan = Rp. 1.800.000 per bulan. Padahal kebanyakan rakyat mendapatkan penghasilan dibawah pendapatan minimum rata-rata Rp. 900.000 (UMR Perusahaan rata-rata). Bubble hampir 2 kali lipat bahkan lebih karena kenyataannya rakyat berpenghasilan masih banyak yang jauh dari Rp. 900.000 per bulan.

Ya Allah, pempimpin kami masih saja rela menggunakan uang rakyat (pendapatan negara) untuk membayar bunga dan pokok hutang luar negeri, surat utang negara dll disisi lain juga rela membayar bunga SBI dimana bank-bank nasional meletakkannya di BI dari simpanan para-para kapitalis (rakyat-rakyat kami yang berpendapatan tinggi).

Ya Allah, sadarkanlah pemimpin kami, tunjukilah mereka jalan yang lurus.

Selasa, 19 Mei 2009

Seruan kepada Umat Islam

Manusia/Pemimpin di hadapan Allah yang berbeda hanya ke taqwa an nya bukan sekedar suku asal, sekedar keturunan, sekedar baik maupun sekedar berbudi.
Ke taqwa an nya dapat dilihat dari hasil perbuatan manusia/pemimpin apakah banyak kesesuaian dengan perintah Allah.
Manusia/pemimpin yang baik adalah yang takut hanya pada Allah, bukan yang takut pada ciptaanNya.

Jadi dalam pilpres nanti, periksa dan analisa, rekam jejak hasil perbuatan para capres/cawapres selama ini.

Pilihlah yang terbaik dari pilihan yang ada, apapun partai pendukung tidak lagi menjadi persoalan dan tidak lagi menjadi jaminan.
Sungguh atas pilihan itu kita bertanggung jawab di akhirat nanti. Juga tidak memilih pun kita bertanggung jawab di akhirat nanti. Semua perbuatan kita di dunia ini, akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti. Setelah menentukan dengan baik, yang InsyaAllah, pilihan pemimpin yang mendapat dukungan Allah yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang, maka sampaikanlah kepada keluarga, handai taulan dan masyarakat pada umumnya, agar mereka tidak memilih sembarangan.

Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat.
Sungguh perubahan itu tergantung usaha umat Islam itu sendiri.
Setelah berusaha maka bertawakallah.

Wassalam
Hamba yang berserah diri dan ikhlas menghamba pada Allah dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Note:
Sampaikanlah keseluruh mailing list yang ada kesesuaian dengan isi, janganlah melakukan spamming.
Sampaikanlah ke selain media internet.
Semoga amal kita diridhoi Allah.