Tampilkan postingan dengan label Pemimpin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemimpin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

Butuh Fatwa Ulama

Tragedi yang terjadi seperti di Mesir, yang bertanggung jawab adalah Umara / penguasa dan termasuk pula Ulama karena Ulama selama ini tidak memperingatkan Umara / penguasa.

Umumnya fatwa ulama dikeluarkan untuk "akibat" bukan pada "penyebab"

Demonstrasi seperti di Mesir, hakikatnya adalah sebuah akibat, sedangkan umat muslim sebenarnya butuh fatwa ulama untuk "penyebab". Itulah yang kami tuliskan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2010/06/08/fatwa-untuk-penguasa/

Untuk mengatasi permasalahan baik di Mesir, Palestina, Afghanistan dan negara-negara lain yang pemimpinnya cuma "boneka" Amerika.

Sebaiknya seluruh ulama mengeluarkan fatwa bagi seluruh pemimpin yang mengaku sebagai muslim wajib hukumnya untuk menghentikan pergaulan/pertemanan dengan Amerika atau sejenisnya, dimana dibelakang mereka semua adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik

Mengingat bahwa Allah ta'ala memang menciptakan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik mempunyai rasa permusuhan kepada kaum muslim.

Firman Allah ta’ala yang artinya,
“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Sudah jelas kita ketahui bahwa negara-negara dengan pemimpin bonekanya Amerika telah menimbulkan kemudharatan bagi kaum muslim.

Sudah dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)

Kita harus selalu ingat bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak beragama karena agama hanyalah Islam. Baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2011/01/21/agama-hanya-islam/
dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Marilah kita perlakukan orang-orang non muslim itu sebatas manusia biasa. Kita baik pada mereka jika mereka baik kepada kita, namun jangan pernah menjadikan teman ataupun penasehat bidang apapun.
“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

Bagaimanakah kita harus bersikap terhadap para pemimpin dan penguasa yang berteman dengan orang-orang yang memang telah diciptakan Allah Azza wa Jalla untuk dimurkai, marilah kita ikuti sabda Rasulullah berikut ini

Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang dungu.” Ka’ab bertanya, “Apakah kepemimpinan orang-orang dungu itu ?”. Beliau berkata, “Yaitu para penguasa yang ada setelahku, mereka tidak mengikuti tuntutanku, dan mereka tidak meneladani sunnahku. Siapa yang membenarkan mereka dengan kebohongannya dan membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bukan bagian dariku dan aku bukan dari mereka, serta mereka tidak akan menemuiku di atas telagaku. Dan siapa yang tidak membenarkan mereka dengan kebohongannya dan tidak membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bagian dariku dan aku bagian darinya serta akan menemuiku di atas telagaku.” (HR. Ahmad, haditsnya Shahih)

Wassalamu’alaikum


Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Senin, 17 Januari 2011

Kemajuan Umat Islam

Timbul pertanyaan dikalangan kita mengapa kemajuan umat Islam tertinggal dibandingkan dengan kaum Barat khususnya kaum non muslim.

Kemajuan umat Islam sangat-sangat tergantung dari pengetahuan, pemahaman dan pengamalan tentang IHSAN bagi seluruh umat Islam.

Ihsan adalah seolah-olah melihat Allah atau yakin bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan

Dengan syarat minimal dari Ihsan bahwa setiap umat Islam harus dapat meyakini bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan kita dapat mengatasi masalah korupsi, ketidak adilan, mafia pajak, mafia hukum dan masaah-masalah lainnya yang diakibatkan perbuatan yang telah dilarang oleh Allah ta'ala yang menciptakan kita.

Coba kita bayangkan bagaimana kemajuan umat Islam di negeri kita jika tidak ada sama sekali korupsi dan keadilan ditegakkan oleh para penguasa/pemimpin

Hal itu bisa terwujud jika umat Islam secara umum atau khususnya para penguasa maupun aparat pemerintah, malu dengan Allah ta'ala yang begitu dekat dan bagi mereka yang belum dapat merasakan kedekatan denganNya, minimal meyakini bahwa Allah ta'ala melihat seluruh perbuatan mereka.

Sungguh Allah itu dekat, sesuai dengan firman Allah yang artinya

“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah: 85).

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" ( Al Baqarah: 186).

Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )

Saat ini kesalahpahaman telah terjadi, meluas dan sistematik, sebagian umat Islam meyakini bahwa Allah ta'ala bertempat di tempat yang begitu tinggi yakni di atas arasy (cipataanNya yang paling tinggi) sehingga secara tidak disadari umat Islam tidak merasakan kedekatan dengan Alah ta'ala

Allah itu dekat itu bukan berarti bahwa Allah ta’ala itu bertempat di bumi , di langit atau di mana-mana. Maha suci Allah ta’ala dari “di mana”.

Allah itu dekat dapat kita yakini dengan sifatNya, namaNya dan perbuatanNya sedangkan sifatNya,namaNya dan perbuatanNya tidak berpisah dengan dzatNya.
Jadi dengan sifatNya,namaNya dan perbuatanNya, atas kehendakNya kita dapat menjadi seolah-olah melihat dzatNya inilah yang dinamakan dengan Ihsan

Dari sifat 20 Allah ta'ala kita paham dan yakin bahwa Allah itu wujud (ada) , mustahil tidak ada (adam).

Kita secara syariat ada karena Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim nya Allah ta'ala.

Coba bayangkan jika seluruh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, penciuman/rasa itu tidak diberikan oleh Allah yang maha pengasih dan penyayang , apakah kita ada ?

“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

Lalu pada bagian manakah dari agama Islam kita dapat mengetahui tentang Ihsan.
Tentang Ihsan atau tentang Akhlak diuraikan dalam Tasawuf dalam Islam.

Dengan tasawuf dalam Islam kita dapat mengetahui tentang akhlak yakni bagaimana kita berakhlak sebagai hamba Allah dengan Allah ta'ala, bagaimana kita berakhlak dengan ciptaanNya yang lain seperti alam, tumbuh2an, hewan dan termasuk bagaimana kita berakhlak dengan sesama manusia.

Baik, kita sedikit masuk ke dalam tasawuf dalam Islam.

Pada hakikatnya kita mengenal Allah ta'ala sejak kesaksian kita sewaktu di rahim ibu sampai kita dewasa.

Kesaksian kita sewaktu di rahim Ibu
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Namun sayangnya kita lupa akan kesaksian tersebut dipengaruhi beberapa hal yang pada awalnya keadaan fitri (suci). Silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/01/posisi-di-sisi-allah/

Dari keadaan fitri (bagaikan kertas putih) berubah karena pengaruh orang tua, guru dan lingkungan terhadap pemahaman agama. Pokok-pokok agama Islam yakni, tentang Islam (rukun Islam/Fiqih), tentang Iman (rukun iman/Ushuluddin/I’tiqad) dan tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam).

Umumnya kita diajarkan lebih mengutamakan dua pokok saja yakni tentang Islam dan Tentang Iman namun umumnya sebagian ulama tidak mengajarkan dan membimbing tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam) karena belum paham atau salah paham. Sebagaiman yang kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/20/tasawuf-dalam-islam/

Padahal dalam dunia Tasawuf dalam Islam dikenal
Awaluddin makrifatullah, awal-awal agama ialah mengenal Allah
Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, (dzohir atau “mata kepala”)
tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”. (dilihat oleh hati atau bashirah, “mata hati”)

Sayyidina Ali ra, merupakan khalifah penutup dari Khulafaur Rasyidin yang empat, beliaulah yang lebih khusus menyiarkan tentang Ihsan atau akhlak atau tasawuf dalam Islam. Silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/15/2010/11/04/nasehat-sayyidina-ali-ra/

Sayang sekali sebagian umat muslim tidak atau belum mendalami apa yang beliau syiarkan karena terganggu oleh "pencitraan" terhadap Sayyidina Ali ra yang dilakukan oleh saudara-saudara muslim kita kaum Syiah

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.

Terjadi perbedaan pemahaman tentang Sayyidina Ali ra sebagai imam dan khalifah antara kaum Syiah dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah atau disingkat Sunni
Silahkan baca tulisan (bagian akhir) pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/siapakah-wali-allah/

Perbedaan pemahaman inilah salah satunya gangguan bagi kemajuan umat Islam

Jadi kesimpulan kami kemajuan umat Islam sangat-sangat tergantung dari pengetahuan, pemahaman dan pengamalan tentang IHSAN bagi seluruh umat Islam.

Wassalam

Senin, 16 Agustus 2010

Berjamaah dan Kepemimpinan

Tulisan kali ini, Insyaallah saya akan menguraikan sebuah kesalahpahaman lagi, yakni mengenai berjama'ah dan kepemimpinan. Kesalahpahaman ini mulai terjadi sejak kejatuhan khalifah Turki Ustmani dan terus sampai saat kini atau sampai zaman modern ini.

Sebagian kaum Wahabi atau Salaf(i) melarang kaum muslim untuk membentuk jama’atul minal muslimin (kelompok muslim, organisasi masa muslim, tandzim, harokah, tarekat atau bentuk yang lain).

Bagi mereka perihal ini akan mempengaruhi Ukhuwah Islamiyah. Sebenarnya apa yang mereka khawatirkan adalah bentuk firqah atau aliran dalam agama Islam.

Firqah atau aliran terbentuk jika terjadi perbedaan dalam i’tiqad/aqidah/keyakinan dengan yang disepakati oleh jumhur ulama.

Perbedaan i’tiqad/keyakinan, sebagai contoh yang telah diuraikan oleh Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya– berkata: "Barang siapa yang berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir. Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu'aththil -atheis- (orang yang meniadakan Allah). Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim". (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya)

Kita harus dapat membedakan antara berfirqah dengan berjama'ah.

Sedangkan jama’atul minal muslimin atau berjamaah sangat dianjurkan jika kita mempertimbangkan belum lagi terbentuk Jama’atul Muslimin sejak berakhirnya sistem khalifah (pemerintahan) pada masa Turki Ustmani.

Diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).

Oleh karena telah lepasnya ikatan Jama’atul Muslimin dalam sistem khalifah (pemerintahan) maka kewajiban kaum muslimin sekarang adalah untuk membentuk Jama’atul minal muslimin seperti dalam bentuk Majelis, Organisasi Masa Muslim, Partai Muslim, Harokah, Gerakan Muslim, Tandzim, Tarekat dan bentuk-bentuk kelompok Muslim lainnya, untuk memperteguh ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Firman Allah, yang artinya
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS Ali-Imraan [3]:103 ).

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berjuang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS as Shaff [61]:4 )

Begitu juga mengingat sunnah Rasulullah saw agar kita dalam sebuah perjalanan sebaiknya dilakukan lebih dari seorang dan menunjuk salah satu diantaranya sebagai pemimpin.

Dari 'AbduUah bin 'Umar r.a. dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, "Sekiranya orang-orang tahu bahaya menyendiri seperti yang aku ketahui niscaya tidak akan ada orang yang berani berpergian seorang diri pada malam hari" (HR Bukhari [2998]).

Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, yakni 'Abdullah bin 'Amr r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Musafir seorang diri adalah syaitan, dua orang adalah dua syaitan, tiga orang jauh dari syaitan'," (Hasan, HR Abu Dawud [2607], at-Tirmidzi [1673], Malik [II/978/35], Ahmad [II/186, 214], al-Hakim [II/102], al-Baihaqi [V/267], al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [2675]).

Dari 'Abdullah bin 'Umar r.a, "Bahwa Rasulullah saw. melarang menyendiri, yaitu seseorang bermalam seorang diri atau bersafar seorang diri," (Shahih, HR Ahmad [11/9]).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak dibenarkan tiga orang bepergian di tengah padang pasir yang tandus, kecuali jika mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin)”.

Apalagi dalam "perjalanan" kita di alam dunia, wajib kita mengikuti sunnah Rasulullah saw untuk menjalaninya tidak dengan seorang diri namun dengan bergabung pada jama'atul minal muslimin dan menunjuk seorang pemimpin / amir yang taat pada Allah dan RasulNya, atau bergabung pada jama’atul minal muslimin yang dibentuk atau dipimpin seorang ulama yang taat pada Allah dan RasulNya.

Sesuai dengan firmah Allah yang artinya,
” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 )

Seluruh pemimpin jama’atul minal muslimin yang ada dalam suatu negara/wilayah/pemerintahan kemudian membentuk ahlul halli wal ‘aqdi atau perwakilan tingkat negara/wilayah/pemerintahan  yang menunjuk seorang pemimpin sebagai pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa atau yang kita kenal sebagai umara.

Dalam penunjukkan pemimpin tidak berdasarkan ras, suku bangsa, kaum, atau keturunan namun berdasarkan ketaatan kepada Allah dan RasulNya serta kompetensi kepemimpinan negara sebagaiman yang ditauladankan oleh Salafush sholeh dalam menentukan kepemimpinan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa adalah sebagai pemegang amanat kaum muslimin yang melayani kaum muslimin bukan sebaliknya.

Jika pemimpin negara/wilayah/pemerintahan atau penguasa  yang berlaku dzhalim atau tidak berkompeten/mampu dalam kepemimpinan maka wajib bagi ahlul halli wal ‘aqdi mencabut amanat dan menunjuk seorang pemimpin yang baru. Jangan dibiarkan membuat “kerusakan” yang berlarut-larut.

Inilah sistem pemerintahan dan kepemimpinan yang sesuai dengan syariah Islam dengan mempertimbangkan kesadaran pada realitas peran dan fungsi kita di dunia sebagai hamba Allah.

Sistem pemerintahan dan pemilihan kepemimpinan di negeri kita harus pula  dikembalikan dan mengikuti syariah Islam sebagaimana yang diupayakan para pendiri bangsa kita yakni sistem perwakilan untuk mufakat, karena sistem yang sekarang memungkinkan terpilihnya pemimpin yang dzhalim, lamban, tidak tegas, tidak taat kepada ulama, pemimpin sekedar popularitas, pemimpin yang lahir dari proses pencitraan semata maupun pemimpin yang tidak berkompeten karena hanya berdasarkan jumlah suara pemilih semata bukan kepada ketaatan pada Allah dan RasulNya sebagai hambaNya di muka bumi.

Ketaatan pada Ulama diatas ketaatan pada Umara. Bentuk kesatuan negara atau Nasionalisme adalah dibawah kesatuan dalam akidah sebagai perwujudan pengakuan sebagai hamba Allah.

Dimanapun umat muslim berada di dunia ini harus dalam kesatuan akidah (Ukhuwah Islamiyah), ketaatan pada ulama harus diatas ketaatan kepada Umara karena sungguh kita adalah hamba Allah bukan hamba manusia / umara.  Ketaatan kita kepada Negara, atau ketaatan kepada pemimpin Negara hanyalah sebuah kesepakatan/perjanjian antar manusia sebagai bagian yang disebut “perhiasan” dunia.

Kita harus belajar dari kesalahpahaman kaum Wahabi atau Salaf(i) mengedepankan semangat kebangsaan (nasionalisme Arab) diatas kesatuan dalam akidah atau Ukhuwah Islamiyah.

Strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya dimakan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan sistem Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari’at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.

Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.

Kita harus berupaya mengembalikan kepada sistem pemerintahan dalam Islam, wujud dari kembali kepada Allah dan mengakui sekaligus  menguatkan peranan para ulama sebagai wali Allah di muka bumi ini.

Sehingga tidak ada lagi ungkapan, “Jangan memberontak pada pemimpin muslim walaupun dia dzhalim asalkan ia masih sholat dan tidak menganjurkan perbuatan maksiat”, karena tidak diperlukan pemberontakan namun sekedar mencabut amanat dari kaum muslimin yang terwakili oleh para amir dan para ulama pemimpin yang tergabung dalam ahlul halli wal ‘aqdi.

Kita harus segera tinggalkan sistem demokrasi atau sistem-sistem lain hasil olah pikir manusia atau sistem-sistem hasil budaya atau interaksi manusia, kembali kepada sistem berdasarkan petunjukNya sebagai perwujudan kesadaran pada realitas peran dan fungsi kita di dunia sebagai hamba Allah.

"Hai jiwa yang tenang,
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku
masuklah ke dalam syurga-Ku
"
(QS al Fajr [89]: 27-30 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Selasa, 16 Maret 2010

Surat Terbuka utk SBY

(Surat terbuka untuk presiden RI, SBY )

Assalamu'alaikum wr. wb.

Satu lagi (maaf) kekeliruan yang telah dilakukan pemimpin negeri, presiden RI, SBY.

Kekeliruan ini dilakukan ketika beliau tidak “didampingi” oleh Jusuf Kalla, yang dapat menguasai perdamaian sesungguhnya.

Saat ini ironis sekali, pemimpin negeri yang mengaku muslim dan rakyatnya mayoritas muslim dapat "membunuh" sesama muslim yang berijtihad/berpemahaman berbeda, bahkan saudara-saudara muslim kita diberi "label" oleh pemerintah sebagai "teroris" seperti pelabelan yang dilakukan oleh kaum kafir.

Saudara-saudara muslim kita yang telah dilabeli  oleh negara  sebagai teroris dilakukan “pembunuhan” tanpa proses pengadilan yang merupakan hak asasi mereka sebagai warganegara/manusia.

Seharusnya pemerintah melakukan "penyelarasan" ijtihad / pemahaman mereka, dibantu oleh para alim ulama dalam rangka saling mengingatkan.

Sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya manusia dalam kerugian” (Al ‘Ashr, 2)

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling mengingatkan supaya mentaati kebenaran dan saling mengingatkan supaya menetapi kesabaran” (Al ‘Ashr: 3)

Apapun pemahaman/ijtihad muslim selagi sama-sama menegakkan La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah, maka tetaplah kita bersaudara. Marilah kita bersatu dalam kesatuan Aqidah Islam tanpa disekat oleh batasan negara, bangsa, suku maupun tarekat, kelompok atau golongan.

Ingatlah selalu apa sesungguhnya maksud Allah menciptakan manusia dan jin sebagaimana firmanNya,

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Az Zariyat 56)

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu (al Hijr 99)

Saya mengajak diri saya pribadi dan para pemimpin untuk menggapai ridho Allah bukannya menggapai ridho kaum kuffar.

Sudah saatnya kita menegakkan Islam sesungguhnya bagi perdamaian dunia tidak sekedar “menggunakan” Islam untuk  kepentingan politik atau kekuasaan.

Pemimpin negeri ini, presiden RI, SBY yang muslim dengan potensi/kekuatan jumlah umat muslim yang sangat besar  sebaiknya berperan dalam menjaga perdamaian dunia dan menegakkan kebenaran, bukannya “mengekor” saja kepada kaum kuffar, (maaf) bagaikan kerbau dicucuk hidungnya.

Sebagaimana firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya" ,  (Ali Imran, 118)

"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali Imran, 119)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sebagai muslim sesungguhnya,  Andalah yang berhak “mewarnai” tatanan dunia baru atau bahkan memimpin dunia. Umat terbaik yang memimpin dunia.

Allah telah berfirman dengan artinya,
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" (Ali Imron : 110).

Saatnya sekarang pemimpin negeri ini yang muslim dibantu para alim ulama untuk “menyatakan pendapat” kepada mereka-mereka yang melabeli “teroris” kepada saudara-saudara muslim kita. Saatnya “menyatakan pendapat” terhadap saudara-saudara muslim kita yang negaranya “diguncang”, “diserang”,  bahkan “dijajah” seperti Palestina, Afghanistan, Irak, Somalia dll. Umumnya  adalah saudara-saudara muslim kita yang dalam kehidupan mereka di dunia hendak menegakkan Syariah Islam

Saatnya kita memainkan peran dalam kancah dunia sebagai bentuk upaya perdamaian dunia  sejati sebagai perwujudan perintah Allah agar kita tidak membuat kerusakan dimuka bumi  Sekaligus perwujudan kehendak Allah menjadikan manusia sebagai khalifah sebagaimana firman Allah,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:  "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al Baqarah:30)

Salam Ukhuwah Islamiyah.

Zon di Jonggol

*********************     *******       ***********************

*********************      *******     ***********************

(Berikut tanggapan atas tanggapan para pembaca (netters) )

Banyak tanggapan yang disampaikan oleh para pembaca (netters). Pada umumnya berisikan "mengajak" saya memahami korban-korban yang diakibatkan oleh bom-bom seperti di bali, kuningan, jw marriot dll.

Bagaimana klo korban itu, ada hubungan keluarga dengan penulis, mereka anggap mungkin saya akan memikirkan kembali tulisan diatas.

Saya bukannya sekedar membela saudara-saudara muslim saya yang oleh pemerintah dilabeli "teroris" untuk memperoleh haknya sebagai warganegara/manusia, namun saya juga membela para pemimpin negeri ini agar tidak membuat kekeliruan. Sekaligus menghindari kemungkinan korban-korban berikutnya dari kemungkinan kekeliruan kebijakan pemerintah.

Kita sebagai manusia, pada umumnya selalu berpikir atau memberikan reaksi
terhadap suatu akibat bukan pada "penyebab"nya.

Sebagai contoh ketika kita sakit dan "mengeluh" sakit kepala, umumnya kita
berpikir atau memberikan reaksi pada sakit kepalanya. Padahal untuk memecahkan masalah tersebut, sang dokter akan mencari tahu apa yang menyebabkan sakit kepala.

Berkali-kali negeri kita ditimpa masalah dari "akibat" Bom Bali, Bom Kuningan, Bom Marriot. Namun tampaknya "kecerdasan" pemerintah, hampir sama dengan masyarakat pada umumnya, memberikan reaksi terhadap "akibat" semata.

Bagi saya, solusi yang baik untuk mengatasi "akibat" yang telah terjadi adalah
pemerintah bersama alim-ulama membahas, mencari tahu kenapa (sebab apa) saudara-saudara muslim kita itu berpemahaman / ijtihad seperti itu ? Inilah yang saya sebut mencari penyebab atau mendiagnosa masalah.

Sayapun sebagai warganegara tidak menginginkan berjatuhan korban-korban berikut, apalagi kalau korban tersebut adalah mempunyai hubungan keluarga dengan saya.

Saya turut menghaturkan terima kasih atas kepedulian, bantuan yang telah
diberikan terhadap saudara-saudara saya juga yang menjadi korban bom-bom yang lalu.

Sungguh jangan sampai terulang kembali kejadian bom di negeri ini.

Juga janganlah ada polisi-polisi atau warga sipil lainnya yang meninggal karena sebuah kebijakan pemerintah yang keliru.
Salam damai.

*********************     *******       ***********************

*********************      *******     ***********************

(Berikut tanggapan atas tanggapan lain para pembaca (netters) )

Menurut pembaca (netter):  Dalam kasus teroris , yang harus dilakukan oleh manusia adalah satu , yaitu mengutuknya . Titik . Tidak perlu mencari pembenaran atas tindakan yg melanggar kemanusiaan tersebut .Tidak perlu melakukan pembelaan terhadap mereka. Jangan berikan dukungan apapun terhadap para penebar teror dan ketakutan ini , bahkan simpati sekalipun . Hukum harus ditegakkan !

Setuju, hukum harus ditegakkan. Saya tidak melakukan pembenaran namun mempertanyakan hak saudara-saudara muslim yang telah dilabeli teroris oleh pemerintah.

Bagaimanakah pendapat anda, jika ada kemungkinan pemerintah berkeinginan melakukan “pembunuhan” kepada sekelompok warganegara muslim  dengan membuat sebuah “rencana”, “perangkap”, “siasat” sehingga sekelompok warganegara muslim tersebut terkondisikan dan dilabeli “teroris” kemudian dilaksanakanlah “pembunuhan” atau penghukuman terhadap mereka ?

Tentu hal itu hanyalah sebuah mimpi / skenario buruk yang tidak terjadi di negeri yang berlandaskan Pancasila ini. Namun tetaplah itu sebuah kemungkinan.

Sekali lagi tidak mungkin seperti itu.

Sebagaimana yang saya muat di tulisan “surat terbuka”  diatas, solusi yang terbaik adalah

Pemerintah melakukan “penyelarasan” ijtihad / pemahaman mereka, dibantu oleh para alim ulama dalam rangka saling mengingatkan.

Kita ibaratkan negeri/pemerintahan ini sebagai sebuah keluarga besar. Presiden sebagai orang tua / kepala keluarga  dan warganegara sebagai putra-putri / anak.

Apakah yang dilakukan orang tua / kepala keluarga untuk mewujudkan keluarga sakinah ?

Diantaranya adalah,

Membuat peraturan/hukum dalam keluarga agar hubungan antar anggota keluarga terjalin harmonis.

Mendidik,  memberikan pemahaman, membuat kesepakatan agar setiap anggota keluarga dapat berperilaku baik

Seorang anak  dapat saja menerima pegaruh / pemahaman yang buruk dari luar/eksternal.

Kadang kita temukan orang tua yang kurang baik akan melabeli anak tersebut sebagai “anak nakal”.  Sebagaimana pemerintah melabeli warga negaranya sebagai “teroris”.

Pemberian label kepada anak tersebut sesungguhnya bagaikan sebuah “sertifikat” kegagalan orang tua mewujudkan keluarga sakinah bahkan sebagian orang berpendapat bahwa pemberian label kepada anak tersebut bisa jadi merupakan sebuah “doa” kepada Allah.

Belajar dari contoh kasus anak menerima pengaruh / pemahaman buruk dari luar/eksternal, solusi yang terbaik adalah “menyelaraskan” kembali pemahaman anak tersebut sesuai aturan/hokum yang berlaku dalam keluarga.

Kita sebagai orang tua tidak baik jika memberi hukuman “membuang” anak tsb atau bahkan “membunuh” anak tersebut. Hal ini karena ada “ikatan”/”hubungan” antara orang tua dengan anak.

Dalam dunia pemerintahan/negara, antara pemimpin dan yang dipimpin tampak semakin memudar “ikatan” atau “hubungan” tersebut.

Apalagi seorang pemimpin yang muslim   terhadap warga negara yang muslim seharusnya berlaku sesuai yang difirmankan Allah,

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10).

Silahkan baca sebuah tulisan yang cukup menyentuh dan menarik sebagai bahan pelajaran bagi kita semua,

http://syumulnetwork.blogspot.com/2008/08/muslim-itu-bersaudara.html

Salam damai dan bersaudara.

Kamis, 28 Januari 2010

Jama'atul Muslimin

Pada dasarnya seluruh kaum muslimin hanya diikat oleh satu jama’ah yaitu jama’atul muslimin dengan satu kepemimpinan yaitu khalifah.

Jamaatul muslimin ini merupakan ikatan yang kuat didalam menjalankan hukum Allah dan syari’at-Nya ditengah-tengah kehidupan umat manusia sehingga menjadikan islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan ketika ikatan jama’atul muslimin ini hancur maka hancurlah seluruh ikatan-ikatan islamnya, hilanglah syia’ar-syi’arnya dan umat menjadi terpecah-pecah. Inilah makna ungkapan Umar bin Khottob,”Wahai masyarakat Arab, tidak ada islam kecuali dengan jama’ah, tidak ada jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.” (HR. Bukhori)

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Dan ketika jamaatul muslimin atau jama’ah yang mengikat seluruh kaum muslimin di alam ini dengan satu kepemimpinan khilafah telah terwujud maka umat islam diharuskan untuk membaiatnya serta dilarang untuk melepaskan baiatnya dari keterikatannya dengan jama’atul muslimin, sebagaimana didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari
Hudzaifah bin al Yaman berkata bahwa orang-orang banyak bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan dan aku pernah menanyakan kepadanya tentang keburukan, karena aku khawatir menemui keburukan itu. Aku bertanya,”Apa yang engkau printahkan kepadaku jika aku menemui keadaan itu?’ Beliau saw bersabda,”Hendaklah engkau berkomitmen (iltizam) dengan jama’atul muslimin dan imam mereka.” (HR. Bukhori)

Dari Abdullah bin ‘Amr ra bahwa Nabi saw bersabda,”Barangsiapa yang membaiat seorang imam kemudian imam itu memberikan untuknya buah hatinya dan mengulurkan tangannya maka hendaklah ia menaatinya sedapat mungkin.” (HR. Muslim)

Demikianlah beberapa hadits diatas yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan seorang imam jama’atul muslimin didalam diri setiap rakyatnya. Di situ juga disebutkan betapa setiap muslim harus senantiasa mengedepankan kesabaran, tidak membangkang, tetap menaatinya dengan segenap kemampuannya.

Hadits-hadits itu melarang setiap muslim untuk meninggalkan ketaatan kepadanya atau keluar darinya dan membentuk jama’ah sendiri atau tidak berjama’ah.

Adakah Jama’atul Muslimin Saat Ini

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah jama’atul muslimin ada pada saat ini?
Bisakah jama’ah-jama’ah pergerakan, partai-partai islam, ormas-ormas islam yang ada saat ini disebut dengan jama’atul muslimin?

Husein bin Muhammad bin Ali Jabir mengatakan bahwa sesuai dengan pengertian syar’inya maka jamaatul muslimin boleh dikatakan tidak ada lagi di dunia sekarang ini. Beberapa bukti yang menunjukkan hal itu adalah :
1. Diantara alasan-alasan yang digunakannya adalah hadits yang diriwayatkan dari Huzaifah bin Yaman yang berkata bahwa orang-orang banyak bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan dan aku pernah menanyakan kepadanya tentang keburukan, karena aku khawatir menemui keburukan itu. Aku bertanya,”Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemui keadaan itu?’ Beliau saw bersabda,”Hendaklah engkau berkomitmen (iltizam) dengan jama’atul muslimin dan imam mereka.” (HR. Bukhori)
Hadits ini memberitahu akan datangnya suatu zaman kepada umat islam dimana jama’atul muslimin tidak muncul di tengah kehidupan umat islam. Seandainya ketidakmunculannya itu mustahil, niscaya dijelaskan oleh Rasulullah saw kepada Hudzaifah. Tetapi, Rasulullah saw justru mengakui terjadinya hal tersebut dan mengarahkan Hudzaifah agar menggigit akar pohon (islam) dalam menghadapi tidak adanya Jama’atul Muslimin dan imam mereka itu.

2. Bukti lainnya yang menunjukkan tidak adanya Jama’atul Muslimin ialah adanya beberapa pemerintahan yang memerintah umat islam. Sebab, islam tidak mengakui selain satu pemerintahan yang memerintah umat islam. Bahkan islam memerintakan umat islam agar membunuh penguasa kedua secara langsung, sebagaimana dijelaskan oleh nash-nash syariat.
Dari Abu Said al Khudriy bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila ada baiat kepada dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Ahmad)

Imam Nawawi dalam mengomentari hadits ini berkata,”Arti hadits ini ialah apabila seorang khalifah yang dibaiat setelah ada seorang khalifah maka baiat pertama itulah yang sah dan wajib ditaati. Sedangkan bai’at kedua dinyatakan batil dan diharamkan untuk taat kepadanya.

3. Bukti lainnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah al Bahiliy bahwa Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)
Hadits ini jelas menyatakan akan datangnya suatu masa dimana pemerintahan dan khilafah tidak muncul. (Menuju Jama’atul Muslimin hal 42 – 46)

Sementara itu jama’ah-jama’ah pergerakan yang ada saat ini, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Salafi, PKS, PPP, NU, Muhammadiyah atau lainnya bukanlah jama’atul muslimin namun hanyalah jama’ah minal muslimin yaitu jama’ah yang terdiri dari sekelompok kaum muslimin yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita islam berdasarkan manhaj atau metode gerakan masing-masing.

Kepemimpinan pada masing-masing jama’ah minal muslimin tidaklah bersifat universal mengikat seluruh kaum muslimin namun ia hanya mengikat setiap anggota yang ada didalam jama’ahnya.

Keberadaan jama’ah minal muslimin pada saat ini atau saat tidak adanya jama’atul muslimin sangatlah dibutuhkan dan diperlukan sebagai ruh dan anak tangga dari kemunculan jama’atul muslimin sebagaimana disebutkan dalam suatu kaidah “Tidaklah suatu perkara wajib dapat sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain maka sesuatu itu menjadi wajib pula.”

Menegakkan khilafah atau jama’atul muslimin adalah kewajiban setiap muslim dan ia tidak akan terwujud kecuali dengan da’wah yang dilakukan secara berkelompok maka menegakkan da’wah dengan cara berjamaah (jama’ah minal muslimin) ini adalah wajib.

Melepaskan Ba’iat atau Keluar dari Jama’ah Minal Muslimin

Tentunya sebagai sebuah jamaah yang menggabungkan sekian banyak da’i atau orang-orang yang ingin berjuang untuk islam didalamnya maka diperlukan soliditas, komitmen dan ketaatan semua anggotanya kepada pemimpin dan aturan-aturan jamaah tersebut. Untuk meneguhkan itu semua maka jamaah perlu mengambil janji setia dari setiap anggotanya yang kemudian dikenal dengan istilah baiat, sebagaimana firman Allah swt :
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya : “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al Fath : 10)
Tentulah kedudukan baiat kepada imam, amir, qiyadah jama’ah minal muslimin berbeda dengan baiat kepada imam dari jama’atul muslimin dikarenakan imam jama’atul muslimin dipilih oleh ahlul halli wal aqdi dari seluruh umat islam sedangkan imam dari jama’ah minal muslimin dipilih oleh majlis atau dewan syuro sebagai perwakilan seluruh anggota di jama’ah itu.

Hadits-hadits yang melarang bahkan mengancam seseorang melepaskan baiatnya adalah terhadap imam atau khalifah dari jama’atul muslimin bukan terhadap imam dari jama’ah minal muslimin, seperti hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melepaskan tangannya (baiat) dari suatu keaatan maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa adanya hujjah (alasan) baginya. Dan barangsiapa mati sementara tanpa ada baiat di lehernya maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR. Muslim)

Dan para pemimpin atau amir suatu jamaah minal muslimin tidaklah termasuk didalam hadits ini. DR. Husamuddin Unafah, Ustadz bidang studi fiqih dan ushul di Universitas al Quds, Palestina mengatakan bahwa yang dimaksud dengan baiat didalam hadits diatas adalah baiat imam kaum muslimin atau khalifah kaum muslimin yang dibaiat oleh ahlul halli wal ‘aqdi dari umat islam.

Hadits ini tidak bisa diterapkan kepada para pemimpin di zaman ini atau pembesar partai (jamaah) karena setiap dari mereka bukanlah imam (pemimpin) dari seluruh kaum muslimin.

Al Mawardi mengatakan bahwa apabila ahlul halli wal ‘aqdi didalam pemilihan melihat ahlul imamah memenuhi persyaratan maka hendaklah ahlul halli wal ‘aqdi mengedepankan untuk dibaiat orang yang lebih utama dan lebih sempurna persyaratannya diantara mereka dan hendaklah manusia segera menaatinya dan tidak berhenti untuk membaiatnya.

Untuk itu ahlul halli wal ‘aqdi dari kaum muslimin adalah orang-orang yang berwenang memilih imam kaum muslimin dan khalifah mereka dan pendapat orang-orang awam tidaklah dianggap terhadap kesahan baiat. Ar Romli dari ulama Syafi’i mengatakan bahwa baiat yang dilakukan oleh selain ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan awam tidaklah dianggap.

Imam kaum muslimin yang diharuskan berbaiat kepadanya memiliki berbagai persyaratan yang telah disebutkan ahlul ilmi. Dan persyaratan itu tidaklah bisa diterapkan kepada pemimpin partai, jama’ah-jama’ah yang ada sekarang ini.

Imam Nawawi meletakkan hadits Ibnu Umar diatas pada bab “Kewajiban Bersama Jamaah Kaum Muslimin..”. Maksud dari hadits itu adalah bahwa barangsiapa yang mati tanpa ada baiat dilehernya maka matinya seperti kematian jahiliyah yaitu ketika terdapat imam syar’i saja. Inilah pemahaman yang benar dari hadits itu bahwa jika terdapat imam syar’i yang memenuhi berbagai persyaratan kelayakan untuk dibaiat dan tidak terdapat padanya hal-hal yang menghalanginya maka wajib bagi setiap muslim untuk bersegera memberikan baiatnya apabila ahlul halli wal ‘aqdi memintanya atau meminta darinya dan tidak boleh bagi seorang pun yang bermalam sementara dirinya tidak memiliki imam.

Adapun apabila tidak terdapat berbagai persyaratan baiat pada seorang hakim maka tidaklah ada kewajiban baginya dibaiat akan tetapi hendaklah dia berusaha untuk mengadakan seorang imam syar’i sesuai dengan kemampuannya dan Allah tidaklah membebankan seseorang kecuali dengan kemampuannya.

Dengan demikian diperbolehkan bagi seseorang untuk melepaskan baiatnya dari imam atau pemimpin jama’ah minal muslimin atau keluar darinya setelah meyakini bahwa telah terjadi penyimpangan yang cukup significan dalam tubuh jama’ah tersebut baik penyimpangan dalam diri qiyadah, para pemimpin, garis perjuangannya atau prinsip-prinsip pergerakannya yang dapat memberikan pengaruh negatif kepada umat, sebagaiamana hadits Rasulullah saw,”Tidak ada ketaatan dalam suatu kemaksiatan akan tetapi ketaatan kepada hal yang ma’ruf.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Pada dasarnya baiat yang diberikan kepada pemimpin jamaah itu adalah baiat untuk beramal islam. Artinya baiat atau janji setia diantara orang yang berbaiat dengan orang yang dibaiat dalam hal ini adalah pemimpin sebagai representasi dari jama’ah itu bisa diteruskan selama mereka komitmen dengan amal-amal islam, seperti tidak melanggar rambu-rambu akidah, berpegang teguh dengan syariah, tidak mengerjakan yang diharamkan Allah dan lainnya.

Namun hendaklah pelepasan baiat atau keluar darinya dilakukan setelah berbagai upaya megingatkan atau memberikan nasehat baik secara langsung atau pun tidak langsung baik yang telah dilakukan olehnya maupun orang-orang selainnya yang menginginkan perbaikan didalam tubuh jama’ah tidaklah diterima atau digubris sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan itu terus berulang dan berulang karena agama ini tegak diatas landasan nasehat sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Ruqayyah bin Aus ad Dary ra menerangkan bahwa Nabi saw bersabda,”Agama itu nasehat.” Kami bertanya,”Bagi siapa?” Beliau saw menjawab,”Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin muslim dan bagi kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim)

Ketika dia memutuskan untuk melepaskan baiatnya maka hendaklah setelah itu dia mencari jama’ah minal muslimin lainnya yang diyakininya lebih baik darinya untuk bisa beramal islam secara berjama’ah meskipun hal ini bukan menjadi suatu kewajiban baginya pada masa-masa ketidakberadaan jama’atul muslimin akan tetapi hal itu merupakan bagian dari keutamaan. Dan jika dirinya tidak melihat ada jama’ah minal muslimin lainnya yang lebih baik darinya maka diperbolehkan baginya untuk berdiam diri sejenak atau tidak bergabung dengan jama’ah manapun sampai dia menemukan jama’ah lainnya yang lebih baik darinya atau kembali kepada jama’ah yang ditinggalkannya itu ketika diyakini bahwa jama’ah tersebut telah kembali ke jalannya seperti sediakala.

Sumber: (disarikan dari) http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/arti-berbaiat.htm

Peringatan:

Yang perlu diperhatikan bahwa jangan pernah terjadi konflik atau perdebatan antara jama'ah minal muslimin karena sesungguhnya sesama muslim adalah bersaudara !

Tidak ada permusuhan sesama muslim, jikalau terjadi konflik, semata karena mis komunikasi atau mis informasi.

Sesungguhnya kaum yang membangkitkan permusuhan atau kaum yang memusuhi kita, orang beriman, sudah dinyatakan dalam Al-Qur’an.
Firman Allah, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82)

Sebaiknya yang perlu diingat selalu adalah,
“Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu”.

Wallahu a'lam

Senin, 16 November 2009

Kezuhudan Pemimpin

Sebagian orang mengatakan bahwa sufi mengajak orang mukmin agar menghindari nikmat-nikmat duniawi, meninggalkan pakaian-pakaian yang elok, makanan-makanan yang lezat dan tak mau tinggal di tempat-tempat yang mewah. Mereka mencela orang-orang yang menikmati pemberian-pemberian Ilahi ini, dan mencap orang-orang seperti itu sebagai “ahli dunia” dan jauh dari sisi Allah.

Bagi saya tidak ada yang salah tentang kesufian. Namun perlu kehati-hatian dalam memahaminya, karena sufi itu halus dan begitu besar godaan syetan sehingga sekali tersesat maka itu akan jauh dari "jalan yang lurus".

Sufi bukanlah ajaran atau seolah mazhab baru, namun sekedar pengelompokan dari ajaran Islam yang berhubungan dengan pengenalan diri, penyakit hati, pensucian hati/diri, untuk menghadap ke hadirat Allah.

Sufi bukanlah menjauhi/menghindari dunia yang dikenal dengan zuhud namun sejauh yang saya pahami, konsep zuhud adalah meletakkan dunia pada tangan dan menempatkan akhirat pada hati kita. Apapun yang menarik dari kehidupan didunia tidak akan memalingkan kita dari Allah sang pencipta.

Kita berusaha/berupaya/berikhtiar di dunia sebagai bekal di akhirat.

Sesuai firman Allah, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku" (Az Zariyat 56)

"Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu" (al Hijr 99).

Sufi adalah suatu sarana untuk mendalami ihsan. Dengan pemahaman sufi yang baik, sebagai contoh kita dapat segera meninggalkan pekerjaan/usaha ketika mendengar azan dan mensegerakan mendirikan sholat dan mengupayakan yang terbaik yakni mengikuti sholat berjamaah bagi pria.

Bagi pria, ketika kita dapat mendengarkan azan dengan jelas dan masjid/musholla dalam "jangkauan", maka lebih baik kita berjama'ah di masjid/musholla. Kalau kita cinta dunia dan mengikuti kecondongan hati yang keliru maka hal ini akan berat dilakukan.

Bagi yang memahami sufi tentu bukanlah sosok yang sempurna tetap saja ada kemungkinan keliru/ berbuat salah. Namun biasanya ketika mereka keliru / berbuat salah maka insyaallah mereka akan segera beristighfar. Bagi mereka yang memahami sufi, mereka akan berupaya  selalu bersama Allah dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Mereka adalah lemah sehingga mereka selalu membutuhkan Allah.

Berdasarkan uraian diataslah maka saya menamakan blog saya sebagai mutiarazuhud.wordpress.com.

Dalam blog tsb ada artikel seputar sufi antara lain,

Seputar sufi dan yang saya alami

Mengapa harus berserah

Inginkah anda bahagia

Salah satu tokoh sufi yang tulisan-tulisan yang baik untuk dipahami adalah tulisan-tulisan dari Ibn Athoillah.

Mohon maaf,  blog saya beberapa tulisan terakhir adalah seputar politik untuk mengingatkan mereka yang cinta dunia.

Bagi saya menjadi seorang pemimpin adalah berat dan mereka harus menyadarinya.  Sebagai pemimpin sebaiknya meneladani sebagai contoh Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA.

Meskipun Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari kalangan Bani Umayah yang terbiasa hidup mewah, namun pada kenyataannya ia lebih suka hidup sederhana. Bahkan terkenal dengan kezuhudan serta kewara’annya.

Pernah ada suatu malam ketika Khalifah Umar sedang memeriksa dokumen didalam kamar kerjanya dengan memakai lampu milik negara, tiba-tiba sang istri mengetuk pintu.

Umar segera mempersilahkan masuk dan bertanya: “Ada keperluan apa dinda datang kemari, keperluan pribadi atau negara?”

Tatkala istrinya menjawab bahwa ada urusan pribadi, Umar segera memadamkan lampu tersebu. Tentu saja wanita itu sangat terkejut atas pebuatan suaminya. Selanjutnya khalifah memberikan penjelasan, bahwa dalam urusan pribadi sangat tidak tepat jika memakai lampu yang minyaknya dibeli dengan uang dari kas negara.

Di malam yang lain ketika khalifah sedang menulis, kedatangan seorang tamu. Sementara lampu penerangan yang dipakai hampir padam karena kehabisan minyak. Melihat hal itu sang tamu segera meminta ijin untuk memperbaiki lampu tersebut, namun khalifah menolaknya. “Jangan, sangat tidak baik jika seseorang memperlakukan tamunya sebagai pelayan. Dan itu bukan akhlak mulia.”

Tamu: “Kalau begitu, biar saya bangun kan pelayan.”

Khalifah : “Jangan, ia baru saja tidur karena dari tadi belum merasakan kelezatan bantalnya.”

Khalifah segera mengisi minyak pada lampu tersebut.

Tamu : “Wahai aminul mu’minin. Kenapa anda sendiri yang mengisi minyak ke dalam lamput itu?

Khalifah : “Kenapa ? Kalau saya pergi, tetap sebagai Umar. Pulang pun tetap Umar, tidak kurang sedikitpun dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan ? Selamanya saya tetap Umar.”

Pada suatu hari datang seseorang dengan membawa hadiah yang aka diserahkan kepada Khahfah Umar. Tetapi khalifah menolak, sehingga orang tersebut bertanya: “Bukankah Nabi dahulu suka meneri ma hadiah?”

Khalifah Umar menjawab dengan singkat dan tegas: “Hadiah pada zaman Nabi adalah benar-benar hadiah, sedangkan pada saat ini adalah bentuk lain dari suap atau kolusi.”

Sumber: http://tabloid_info.sumenep.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1643&Itemid=32

Demikianlah contoh kezuhudan walaupun beliau dari kalangan yang terbiasa hidup mewah. Sekarang kita tengok dengan fakta terkini dari pemimpin-pemimpin di negeri kita yang dianugerahkan Allah sumber daya alam yang begitu besar.

Wakil-wakil rakyat dengan senang hati menerima kendaraan dengan harga ratusan juta bahkan sampai milyar rupiah ditengah rakyatnya yang menurut Bank Dunia 50% rakyat Indonesia berpendapatan Rp. 600.000 per bulan.

Mereka mengatakan hal ini kewajaran atas “pencapaian” mereka pada posisi saat ini. Mereka beralasan bahwa mereka adalah orang-orang yang pandai menggunakan ni’mat Allah, sehingga mereka berpendidikan tinggi bahkan lulusan Amerika sehingga saat ini wajar menikmatinya.

Jikalau orang lain atau rakyat yang diwakili mereka dengan pendapatan Rp. 600.000 per bulan, mereka anggap wajar karena mereka rata-rata malas dan berpendidikan kurang ?

Beberapa lagi meneladanai sebagian pernyataan Imam Ja’far Ash-Shadiq, guru dari seluruh imam-imam mazhab dalam Islam bahwa jika hidup di suatu masa dimana keperluan–keperluan hidup mudah didapat dan kondisinya mengizinkan kita untuk menikmati pemberian-pemberian Ilahi, maka yang paling berhak untuk menikmati karunia dan nikmat-nikmat Allah tersebut adalah orang-orang yang saleh dan bertakwa, bukan orang-orang fasiq, bukan orang-orang kafir, melainkan orang-orang Muslim

Disisi lain mereka melupakan pernyataan Imam Ja’ far Ash-Shadiq saat berdialoq dengan Sufyan Al-Tsury (yang terlampau sempit mengartikan zuhud). Seperti di sampaikan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq bahwa “Sejak masa baligh-ku sampai sekarang, tidak pernah malam dan siang berlalu tanpa aku menyadari apakah hak orang lain masih ada di tanganku atau tidak. Kalau ada, segera aku lunasi dan kusampaikan kepadanya.”

Jadi Imam Ja’far Ash-Shadiq mengingatkan kita bahwa boleh hidup mewah / berkecukupan asalkan peduli dengan lingkungan, apalagi sebagai orang pemimpin harus terlebih dahulu memperhatikan rakyat yang dipimpinnya.

Coba perhatikan lingkungan seperti yang disampaikan di http://infoindonesia.wordpress.com/2008/03/17/dari-sabang-sampai-merauke-rakyat-indonesia-mati-kelaparan/

Atau perhatikan bagaimana pemimpin membiarkan rakyatnya sebagai contoh korban lapindo yang merana bertahun-tahun sedangkan menteri-menteri sedang mempertimbangkan kenaikan gaji.

Bahkan pemimpin seperti kita dengar dalam rekaman yang diperdengarkan pada sidang MK, bahwa karena uang memungkinkan untuk pengaturan keadilan / penegakan hukum.

Sebaliknya mereka mengatakan bahwa mereka akan berlaku adil jika tingkat pendapatan mereka layak seperti yang mereka inginkan. Mereka seolah-seolah menyandarkan segala tindakan di dunia berdasarkan uang semata tanpa menyadari bahwa takdir Allah yang menetapkan mereka sebagai penegak hukum. Maaf,  mereka cinta dunia dan mereka bagaikan menuhankan uang. Nauzubillahi min zalik.

Disisi lain, pemimpin di Bank Indonesia, mereka dengan tingkat pendapatan tinggi bahkan menurut kabar melebihi presiden ? namun hasilnya mereka tetap saja memberikan unjuk kerja yang mengecewakan seperti kasus Century. Mereka cukup berkata maafkan atas kelalaian kami dalam pengawasan. Uang sebesar 6,7 Trilyun cukup untuk mencegah rakyat yang mati karena kelaparan / sakit.

Ingatlah kematian rakyat karena ulah kepemimpinan akan diminta pertanggung jawaban kelak di akhirat.

Sebagai contoh terkini, bagaimana bisa pemimpin seperti menkes Endang Rahayu, membiarkan tanpa pengusutan, kematian 8 orang rakyat setelah pengobatan massal filariasis di Kabupaten Bandung dan dengan cepat beralasan kematian disebabkan penyakit bawaan semata. Padahal sebagian rakyat yang “selamat” setelah pengobatan massal mengeluh pusing, mual, dan muntah.

Sumber: http://bandung.detik.com/read/2009/11/16/120335/1242456/486/usut-insiden-kaki-gajah-polres-bandung-periksa-plt-kadinkes

Logika sederhananya andaikan kedelapan orang yang meninggal dengan penyakit bawaan tsb, tentu ada kemungkinan tidak meninggal jika tidak mendapatkan pengobatan missal. Besar kemungkinan ada efek samping dari pengobatan dengan penyakit bawaan yang mereka derita.

Semoga para pemimpin, pejabat publik di negeri kita dapat memahami arti kezuhudan sesungguhnya. Sebaiknya janganlah hidup berlebihan jika sebagian besar rakyat hidup kekurangan.

Ibarat makan yang baik, sebagaimana dicontohkan Rasulullah,  maka sebaiknya cukuplah sekedar untuk menegakkan tulang punggung.

Wassalam

Zon di Jonggol

Selasa, 08 September 2009

Petunjuk Allah

Petunjuk Allah.

(Seruan kepada para pemimpin dan umat Islam Indonesia)

Kembali negara kita dilanda musibah, bencana alam dalam bentuk gempa bumi, pesawat jatuh, bencana kelaparan di Papua dll. Hal ini mengingatkan kepada tulisan saya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/taatilahulama/

Perhatikanlah cara dan kerja pemerintah dalam menanggulangi bencana. Semoga mereka dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Juga semoga dengan bencana gampa bumi ini membuat para pemimpin sadar dan tergerak untuk segera pula mengatasi masalah rakyat korban Lapindo, tidak menelantarkan rakyat bertahun-tahun lagi. Betapa besar kerugian rakyat di sana, baik secara material maupun immaterial.

Bencana alam menjadikan peringatan bagi manusia, suhu bumi meningkat, permukaan air laut meninggi dikarenakan kerusakan hutan dan alam serta faktor lain seperti efek samping industri/karbon. Kerusakan hutan di Indonesia 51 kilometer persegi per hari atau 300x luas lapangan bola per jam, kerusakan alam dan kesenjangan ekonomi dari pertambangan seperti freeport , lapindo dll merupakan bagian dari tanggung jawab para pemimpin. Firman Allah, "Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik *, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar" (Al-Maaidah: 33),

Bencana alam, musibah, musibah penyakit, musibah kemiskinan yang kita alami di nergeri kita ini, bisa merupakan cobaan dari Allah sekaligus peringatan Allah bagi kita.

Peringatan Allah bagi pemimpin negeri dan rakyat negeri ini karena dalam kehidupan tidak lagi menggunakan petunjuk dari Allah. Sebagian pemimpin di negeri ini malah mempergunakan petunjuk kaum kuffar , dalam kepemimpinan mencari ridho kaum kuffar dan mengharapkan pertolongan kaum kuffar. Hubungan antar manusia, ridho kaum kuffar begitu diupayakan sampai mereka menjadi kaum Sekulerisme, Liberalisme, Plurarisme Agama. Padahal MUI sudah mengeluarkan fatwa haram dengan fatwa Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005, Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA, http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=137

Untuk menjadikan negeri ini makmur dan sentosa (nikmat dari Allah), maka pemimpin dan rakyat wajib mengikuti petunjuk Allah. Bukan petunjuk kaum kuffar dan bukan juga mengharapkan ridho kaum kuffar. Kepada kaum kuffar cukuplah sebatas menghargai sebagai manusia.

Pemimpin dan rakyat sebagai manusia agar mendapatkan nikmat Allah dalam kehidupan baik di dunia dan akhirat, wajib memperhatikan firman Allah, Al-Fatihah, 5,6,7

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (5)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (6)

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (7)

Pemimpin dan rakyat sebagai manusia mendapatkan petunjuk Allah dari kitabullah, firman Allah, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al-Baqarah : 2)

“Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaannya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izinNya dan menunjukkan ke jalan yang lurus. (Al Maidah : 16)

Dengan petunjuk Allah lah, para pemimpin dan rakyat akan mendapatkan nikmat Allah, bebas dari rasa khawatir/takut dan bebas dari rasa sedih. Sesuai firman Allah,

"Kami berfirman: Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran/takut atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (Al Baqarah: 38)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran/takut terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah 277)

Kesimpulan, solusi bagi pemerintah dan rakyat mengatasi permasalahan di dunia/negara adalah kembali kepada petunjuk Allah, kembali pada Al-Qur’an. Sekali lagi bukan petunjuk kaum kuffar, bukan pula mengharapkan ridho kaum kuffar. Pada Al-Qur'an akan ditemukan resep ekonomi, politik, pendidikan, hukum, bernegara dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Bukanlah resep ekonomi ala IMF, Washington Consensus, Free Trade dan petunjuk kaum imperialisme dan kapitalis lainnya.

Buat pemerintah baiklah mengambil pendapat, sebagai contoh apa yang telah dipelajari INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) http://insistnet.com atau lembaga, institute, LSM lainnya yang pada prinsipnya tidak tercemar oleh paham Liberalisme, Sekulerisme dan Pluralisme Agama.

Lebih baik lagi pada sisi Presiden dapat dibentuk Majelis Pertimbangan Ulama Indonesia (MPUI) yang memberikan pertimbangan segala hal yang berhubungan dengan pemerintahan dan kebijakannya agar sesuai dengan Al Quran dan Hadits. MPUI ini terdiri dari wakil seluruh ormas Islam, lembaga penelitian pemerintahan berdasarkan Islam, pada prinsipnya perwakilan yang disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar terhindar dari paham yang sesat.

Wassalam

Zon at Jonggol

Sabtu, 18 Juli 2009

Ada Apa SBY

Turut berduka pada korban ledakan bom di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott. Juga turut berduka sedalam-dalamnya pada rakyat Indonesia yang terkena dampak dari musibah ledakan bom tersebut. Seperti pada tulisan-tulisan saya sebelumnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/taatilahulama/

Marilah kita untuk selalu mengingat Allah dan juga mentaati Ulama yang mereka selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist. Sungguh Allah Maha Kuasa lagi Maha Penyayang. Bercukuplah pada Allah sebagai penolong hamba. Saya semakin banyak melihat beberapa orang berpendapat bahwa tiada karunia Allah, yang ada adalah usaha manusia yang keras dan sungguh-sungguh. Mereka bersandarkan pada akal dan kemampuan manusia semata. Nauzubillah min zalik. Benar-benar mereka telah menantang Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang.

Berduka hal yang lain adalah pada pemimpin, SBY, koq bisa beliau dengan tergesa-gesa mentautkan musibah ledakan bom dengan kegiatan pilpres. Pendapat saya, secara psikologis ada “sesuatu” sehubungan pilpres yang disembunyikan oleh SBY, sehingga “sesuatu” itu, menurut pemikiran Beliau, sepadan dengan kejahatan ledakan bom. Lalu, beliau juga menyampaikan bahwa, ada pernyataan akan ada revolusi jika SBY menang. Atau pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Hal ini menjadi kontradiktif dengan apa yang disampaikan oleh ketua DPP PD, Anas Purbaningrum, bahwa berdasarkan hasil jajak pendapat LSI terakhir , 80% rakyat Indonesia menyatakan bahwa pilpres telah dilakukan secara jujur dan adil. Apakah SBY, sang incumbent justru sadar telah berupaya mendapatkan kekuasaan kembali dengan ”segala cara” sehingga penyelenggaraan pilpres 2009 ini menjadi tidak jujur dan tidak adil serta penyelenggaraan pilpres oleh KPU terkesan tidak independent, sehingga sepadan untuk di revolusi ? Ataukah mimpi-mimpi saya dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/07/11/mimpi/ adakah suatu kenyataan ? Benarkah intelijen terlampau sibuk ”mengamankan” pilpres sehingga kecolongan dengan musibah ledakan bom ?

Bagi saya apapun yang telah dilakukan oleh SBY untuk meneguhkan kekuasaan, jikalau itu merupakan suatu ”kesalahan”, mintakan ampun pada Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang. Pemberi kekuasaan yang sesungguhnya. Allah Maha Penerima Taubat. Lakukanlah pemerintahan yang adil dan tidak zalim pada rakyat.

Menurut pengamatan saya, pelaku ledakan bom dilakukan oleh pihak asing atau rakyat Indonesia yang telah ”digunakan” pihak asing. Untuk itulah kita jangan terlampau percaya dengan pihak asing yang penuh dengan ”kepentingan” mereka. Marilah pemimpin menumbuhkan kemandirian di segala bidang, kemandirian ekonomi, sehingga tercipta kedaulatan bangsa dan pada akhirnya pihak asing pun menghormati kita.

Jangan lagi pernah membiarkan IFES ”membantu” penghitungan cepat KPU, masih banyak kaum akademisi yang mempunyai kemampuan melebihi mereka. Saya ingat pemilu 2004 dibantu BPS dan beberapa perguruan tinggi , hal yang tidak saya lihat pada pemilu 2009.  ”Cintailah produk-produk Indonesia”.

Marilah kita menjaga persatuan dan keutuhan NKRI, bersatu padu melawan terorisme, percayakan pada kemampuan dan kekuatan bangsa sendiri. Saya sekali lagi berpendapat bahwa terorisme datang dari pihak luar karena ada kemungkinan mereka sangat tertarik dengan anugerah alam yang begitu besar yang telah diberikan Allah untuk rakyat Indonesia. Jikalau terorisme berasal dari dalam (sangat kecil kemungkinan) berarti kita harus intropeksi dengan kepemimpinan yang berlangsung.

Jumat, 17 Juli 2009

Kepemimpinan di partai Golkar

Wacana penggulingan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar kembali meruncing setelah suara pasangan JK-Wiranto kembali melempem mengikuti suara Golkar di Pemilu Legislatif lalu. Skenario besar bahkan sudah disiapkan petinggi Golkar yang tak sejalan dengan JK itu. Menurut Wakil Sekjen Partai Golkar Iskandar Mandji, salah satu skenario yang dibuat oleh kader Golkar yang menginginkan JK lengser dari singgasana ketua umum adalah menempatkan Aburizal Bakrie sebagai kandidat terkuat pada Munaslub yang akan segera digelar. “Skenarionya Aburizal Bakrie akan diplot sebagai Ketua Umum Golkar, Akbar Tandjung sebagai Ketua Dewan Penasehat. Sementara Agung Laksono sebagai Wakil Ketua Umum ataupun Sekjen,” ujar Iskandar di DPR, Jumat (10/7/2009).

Sumber:

http://www.pemiluindonesia.com/berita-pemilu/inilah-skenario-penggulingan-jk.html.

Tampak Triple “A”  berupaya membawa kembali partai Golkar ke “wajah” lama. Kita dapat melihat upaya-upaya JK dan kader-kader sepahaman/sejalan untuk memperbaiki partai Golkar kearah yang lebih baik, namun tampaknya tabiat lama sudah berurat akar pada beberapa pemimpin kaum lama.

Pendapat saya, apalah yang bisa diharapkan pada calon ketua umum, Aburizal Bakrie yang dalam kepemimpinan beliau di perusahaan dapat dengan rela menelantarkan rakyat dalam musibah Lapindo ?  Phobia Lapindo inilah yang mengganggu citra JK pada pilpres lalu.

Apalah yang bisa diharapkan pada Akbar Tanjung yang masih berbekas di hati rakyat tentang kasus Bulog dll, sehingga membuat rakyat Phobia terhadap Golkar, yang juga mengganggu citra JK pada pilpres lalu.

Apalah yang bisa diharapkan pada Agung Laksono, yang dalam pemilihan legislatif tidak banyak rakyat yang memilih beliau. Sedangkan mengenai kasus yang melibatkan Agung Laksono, silahkan search di paman Google dengan kata kunci:  Kasus “Agung Laksono”.

Semoga pemimpin partai Golkar terpilih nanti adalah dari kaum baru yang  sepahaman/sejalan dengan pemikiran JK.  Walaupun sebagian orang mengatakan, bahwa saat ini yang ber”daging” adalah Aburizal Bakrie. Begitulah pemahaman kaum lama Golkar bahwa uang sangat mempengaruhi kekuasaan.

Semoga kaum lama menyadarinya dan menyerahkan kepemimpinan pada kaum baru yang sepahaman/sejalan dengan pemikiran dan perbuatan yang telah diteladankan JK atau mungkin kembali rakyat berteriak “BUBARKAN GOLKAR”.

Kamis, 16 Juli 2009

JK yang mereka kenal (2)

Sirikit Syah Wrote:

Di bawah ini catatan pribadi seorang pemred yang hadir di tempat JK saat beliau menerima telepon SBY.

Komentar saya:

1) JK polos banget, ditelepon SBY malah keluar dari ruangan yang dipenuhi para petinggi media dan malah sembunyi di ruang khususnya.

2) Ternyata banyak petinggi media yang bersimpati dan memberi
empati kepada JK.

SS

------------------------------------------

Mbak Sirikit yang baik,
Kamis (9/7) malam saya termasuk salah satu diantara pemred2 dan wartawan2 senior yang diundang bertemu pak JK. Sebagaimana biasanya, pak JK memang sangat sering mengundang Pemred2 untuk sekedar makan malam, sambil berdiskusi tentang berbagai hal. Acara semacam ini memang tergolong rutin. Kami para Pemred senang diundang dalam setiap pak JK hendak mendiskusikan segala hal yang berkembang.
Pak JK selalu terbuka memberi informasi apapun, berkaitan dengan berbagai isu yang berkembang menyangkut kebijakan yang berkembang. Mulai dari misalnya kebijakan ekonomi, kenaikan BBM, konversi minyak gas, hingga hal-hal yang untuk background yang sifatnya off the record.

Apalagi hidangan di tempat pak JK selalu saja nikmat. Yang paling sering ikan bakar atau sup telur ikan terbang, pisang hijau palu butung. Makanan khas Makkasar kombinasi dengan masakan Padang. Maklum ibu Mufida, isteri pak JK yang pintar masak itu asalnya dari Padang..

Kamis malam itu, pertemuannya terasa agak berbeda. Sejak di depan pintu
penjagaan, kami sudah disorot kamera TV One, saya sempat terkejut karena bahkan saat menulis namapun disclose up. Saya merasa agak merasa terganggu,

"Ada apa sih, kok begitunya. Kita disorot-sorot kayak gitu?" Tanya saya ke kamerawan TVONe.

"Anu mbak..kita disuruh kantor mengambil gambar semua pemred yang masuk ke sini.", jawabnya agak takut, seraya kemudian mematikan kamera. Lalu saya menuju ruang tunggu di sana ada Rikard Bagun (Pemred Kompas), Budiarto Sambazi (Wartawan senior Kompas, yang pernah jadi model klip kampanye JK), ibu Clara (Pengamat Politik senior?) , Pak Ishadi (Transcorp), Endi Bayuni (Pemred Jakarta Pos), dan beberapa wartawan senior lainnya, seperti Agus Parengkuan, Fikri Jufri hingga pak Rosihan Anwar yang sepuh itu, datang bergabung, juga beberapa Pemred media lainnya. Tapi dibanding pertemuan-pertemuan biasanya, kali ini jumlah wartawan senior yang hadir
cukup sedikit. Beberapa Pemred yang biasanya rajin, kali ini tidak hadir,.

Uni Lubis (Wapemred Anteve) mondar-mandir dari ruang tunggu ke ruang pak JK. Uni adalah koordinator acara, dia mengabsen satu-satu kami yang hadir. Tidak lama kemudian kami semua diminta masuk ke ruang pertemuan. Belum lama kita duduk, pak JK masuk dengan wajah yang seperti biasanya ceria, didampingi tim suksesnya, Yudi Chrisnandi, Sumarsono, Aksa Mahmud, Poemida, Sofyan Wanandi, Syamsul Maarif. Kami semua bersalaman dengan pak JK , sambil kemudian mempersilakan kami
makan. Wah kali ini menunya lumayan enak. Ada ikan bakar, teri goreng sambal hijau, rawon ( yang ini kayaknya gak nyambung), kepiting kenari bumbu lada hitam dan tumis sayuran.. Belum lama menikmati makanan, pak Wiranto datang, kali ini sendirian tanpa orang-orang Hanura.

Usai makan, pertemuan dimulai dengan pernyataan pak JK tentang ucapan terima kasih kepada para pemred yang hadir.. Uni sempat menyela, "Ada beberapa Pemred yang kayaknya gak berani hadir", disambut ketawa dari semua yang hadir.

Baru saja pak JK meneruskan kalimatnya, tiba-tiba ajudan datang tergopoh-gopoh sambil menyodorkan HP ke pak JK , " Maaf bapak, dari Bapak Presiden". Lantas pak JK pun bergegas menuju ruangan pribadinya, berbicara di telpon dengan SBY.

Saat itu kami yang masih bertanya-tanya tiba-tiba, di layar Metro TV
menayangkan Live, SBY sedang bertelpon dengan JK. SBY berkata pada JK panjang lebar dengan wajah yang sumringah.

Sesaat kita semua sempat kaget, "wah kok ternyata telponnya disetting kayak gitu yah"

Usai terima telpon, JK muncul dengan ketawa-ketawa. Saat ditanyta tentang apa yang dikatakannya pada SBY, "Oh, saya hanya jawab. "baik, baik pak,
tetapi saya akan di kampung" ,  jawab JK, disambut tawa semua yang hadir.

Menurut JK sejak siang ia memang sudah berusaha menghubungi SBY, sehubungan dengan undangan Rapat Kabinet yang akan digelar Selasa pekan depan via telpon tetapi tidak diangkat. Sambil memang hendak mengucapkan ucapan selamat sementara atas hasil Quick Count, dalam kapasitasnya sebagai Wapres. Tetapi baru malam itulah SBY menelpon JK., dibuka dengan pembicaraan basa-basi lalu SBY minta izin bahwa pembicaraan ini diliput pers. JK pun tidak bisa berkata lain, " silahkan saja", jawabnya.

Lalu pertemuan malam itu akhirnya dilanjutkan, diawali dengan pernyataan JK yang sama sekali tidak menyangka bahwa hasil Pemilu seperti ini. Kekecewaan nampak di wajah pak JK, meski dicobanya untuk dikaburkan dengan senyum khasnya. Bisa kita rasakan, ada sesuatu yang tidak beres, tetapi apa itu kami tidak tahu. Untuk itu maka akan coba kita cari tahu.

"Kami sama sekali tidak menyangka suara yang kami dapat sekecil ini ", kata JK.

"Kami sudah habis-habisan bekerja, siang malam".

"Bahkan pak JK ini setiap hari bisa hadiri di lebih dari 10 titik. Di setiap kunujungan sambutan masyarakat begitu antusias", sambung Wiranto yang juga tidak menyangka perolehan suara mereka serendah itu.

Dalam sesi tanya jawab, sebagian menanyakan tentang bagaimana sikap pak JK selanjutnya, ia menyatakan "Saya masih akan meneruskan pekerjaan saya sebagai Wapres, mengusut berbagai kasus pelanggaran Pemilu, setelah itu pulang kampung".

Tanya jawab berlangsung begitu mangharukan. Rikar Bagun, pak
Rosihan Anwar malah agak larut dalam keharuan. Betapa selama ini jarang ada seorang pemimpin begitu egaliter seperti JK.

"pak JK bahkan selalu bersedia melayani pertanyaan di manapun berada. Bahkan seorang JK tak segan-segan menerima telpon2 dari kami termask juga membalas sms-sms kami", kata Rikard Bagun.

"Dalam sejarah setelah Adam Malik, baru JK yang melakukan hal itu.
Tidak peduli dengan birokrasi, kepada para wartawan sangat dekat dan akrab,
seperti dengan sahabatnya", tambah Rosihan.

JK lalu menunjukkan tumpukan dokumen berwarna kuning, yang ternyata berisi semua minutes of meeting seluruh rapat yang dipimpinnya , dari tahun 2004 hingga 2009.
Di situ JK menunjukkan bukti bahwa sebagian besar keputusan pemerintah, ternyata tak lepas dari kerja keras dan keputusan JK.

"Hampir semua kebijakan pemerintah dirapatkan oleh para menteri di bawah koordinasi saya, dimatangkan dan diputuskan di sini (Kantor Wapres-red)", kata JK.

"Mulai dari kebijakan yang strategis seperti pemberian BLT sebagai subsidi kenaikan BBM, kenaikan harga BBM, penurunan harga BBM, kenaikan gaji pegawai negeri, pembagian raskin, rencana Pembangunan Listrik 10 ribu Megawatt, Penetapan status Bencana Nasional pada Tsunami Aceh, Gempa Yogyakarta, hingga penetapan hari libur Ramadhan-pun dilakukan olehnya JK, sebelum kemudian tinggal dibuatkan Kepres dan tinggal diteken oleh Presiden. "Kan tidak ada Kepwapres, yang ada hanya Kepres, maka saya tidak bisa tanda tangan", demikian kata JK dalam berbagai kesempatan.

Itulah dokumen, sebagai kenang-kenangan pak JK dan bukti, apa yang dikerjakan selama ini oleh seorang JK. Sebagai Wapres JK adalah Wapres plus. Kalau biasanya Wapres-wapres sebelumnya adalah sekadar ban serep, tetapi JK, bisa diibaratkan seorang CEO dalam sebuah perusahaan yang justru menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada di pemerintahan.

Maka tak heran kalau Mantan Ketua Muhammadiyah Syafi'i Maarif menjuluki JK sebagai "The Real Presiden"
Bahkan saat penunjukkan personil kabinet, sejak pasangan SBY-JK terpilih pada 2004 lalu, JK memutuskan lebih dari 70 persen dari menteri-menteri yang dipilih.. Ada 3 menteri yang tidak boleh diberikan ke partai, Menteri
Keuangan, Meneg BUMN dan ESDM, kata JK.

Namun banyak orang yang tak mengetahui yang dikerjakan JK selama ini. Dan celakanya, ketika JK menyatakan bahwa dialah yang mengerjakan semua itu, sebagian besar orang mencibirnya "Tak sopan seorang Wapres kok mengklaim keberhasilan pemerintah. Kan itu semua karena putusan Presiden" , sebagaimana yang dinyatakan para pendukung SBY.

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/message/48480

JK yang mereka kenal (1)

Jawaban Habibana Munzir tentang pertanyaan CAPRES.

Saudaraku yg kumuliakan, maaf saya lama tidak online karena di Madinah selama beberapa hari yg lalu, memang diantara dua capres, keduanya muslim, pria, dan keduanya tidak terlalu
banyak berbeda, namun Yusuf Kalla lebih menyolok dalam keperduliannya terhadap Islam, dan beliau selalu hadir di event besar majelis Rasulullah saw tanpa diundang, beliau lihat baliho di jalan lalu langsung perintahkan sekprinya untuk menghubungi sekertariat MR apakah beliau boleh hadir?, maka kita menyambut hangat niat mulia seorang wapres yg demikian itu,

kejadian itu jauh sebelum pemilu, sekitar 2 tahun yg lalu.. dan saya sendiri melihat akhlah mulia beliau dan penghormatannya yg belum pernah saya lihat pejabat apalagi tingkat Ring 1 sampai sedemikian santunnya, beliau makan bersama murid murid saya, anak anak yatim, anak anak papua, makan dari makanan kotak berisi makanan sederhana, duduk bersama kita dg sendok plastik dan aqua plastik, sama rata dg para fuqara, dan terlihat tidak dibuat buat.

beliau tidak suka protokoler, dan beliau menyesuaikan diri dg kita, sebagaimana acara acara kita di Istiqlal, monas yg beberapa kali dihadiri beliau, para paspampres dan sekpri nya mengajukan aturan acara, harus mulai jam sekian, harus selesai jam sekian, wapres sambutan jam sekian..

semua saya tolak, saya katakan kalau beliau mau hadir ikuti acara kami, saya mulai jam sekian, selesai jam sekian, sambutan beliau jam sekian, jika beliau berkenan hadir jam berapa saja silahkan, jika akan meninggalkan majelis maka mesti selepas maulid dan ceramah saya, jika tidak berkenan karena ada skedul lain, maka baiknya hadir di event lainnya.

maka ketika hal itu diajukan pada beliau, beliau malah ikut saja dan setuju, dan beliau datang di awal acara dan keluar saat selesai acara.
maka saya menyenangi beliau..

namun saudaraku, secara fikiran yg bijaksana, tidak mustahil SBY pun demikian, namun karena saya belum mengenalnya dg dekat saja, bisa saja SBY tidak seperti jusuf kalla, tapi bisa saja sama seperti JK, atau mungkin lebih santun lagi, saya tidak bisa mengambil kesimpulan mana yg lebih baik kecuali jika telah jumpa dg keduanya.

maka memang selama ini MR condong pada JK, karena belum mengenal SBY. namun jika Allah menghendaki SBY sebagai presiden kembali, kita doakan saja semoga kebaikannya yg masa lalu tetap terjaga, dan kesalahannya yg masa lalu diperbaiki oleh Allah swt.
dan kita tidak berfihak dg mutlak kpd salah satu, siapapiun yg memimpin negara ini selama ia muslim maka ia pemimpin kita

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam

sumber :

http://groups.yahoo.com/group/keluarga-sejahtera/message/6340

Kemiskinan dan Pemimpin tidak Adil

Untuk menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam pembangunan, pada 1 Juli 2009, baru saja BPS mengumumkan penurunan angka kemiskinan. Saat ini angka kemiskinan Indonesia sebesar 32,5 juta jiwa atau sebesar 14,15 persen. Selama tiga tahun terakhir jumlah penduduk miskin di Indonesia berkurang sebanyak 6,8 juta jiwa, penurunan yang cukup signifikan.

Jumlah rakyat Indonesia yang hidup dibawah batas garis kemiskinan yakni Rp 200.262 per bulan perkapita adalah 32.5 juta.

Sedangkan Bank Dunia mencatat hampir 50% atau 100 juta penduduk Indonesia saat ini berpenghasilan di bawah US$2 atau kurang dari Rp 20.000 per hari atau sekitar Rp. 600.000 per bulan . Kondisi ini mencerminkan masih tingginya angka kemiskinan di Tanah Air.

Disisi lain , kesanggupan negara untuk berhutang dan membayar pokok dan bunga hutang negara berjalan digunakan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2008 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 4.954 triliun. Sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp 2.082,1 triliun. PDB/PNB (Produk Nasional Bruto) per kapita merupakan PDB/PNB (atas dasar harga berlaku) dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Demikian data Badan Pusat Statistik, Senin (16/2/2009).

Pada tahun 2008 angka PDB per kapita diperkirakan mencapai Rp 21,7 juta (US$ 2.271,2) dengan laju peningkatan sebesar 23,6 persen dibandingkan dengan PDB per kapita tahun 2007 sebesar R p17,5 juta (US$ 1.942,1).

Jadi untuk berhutang, indikator yang dipakai bahwa pendapatan rakyat Indonesia per kapita per tahun US$ 2.271.2 atau sekitar Rp. 1.800.000 per bulan.

Suatu keadaan yang ironis dari kedua indikator ini, untuk menunjukan kemajuan pembangunan digunakan indikator pendapatan penduduk per kapita Rp. 200.262 per bulan (14.15% jumlah penduduk) sedangkan untuk kesanggupan berhutang digunakan indikator pendapataan penduduk per kapita Rp. 1.800.000 per bulan dimana menurut Bank Dunia 50% penduduk Indonesia berpendapatan Rp. 600.000 per bulan.

Belum ada data berapa jumlah penduduk yang mencapai dan diatas pendapatan penduduk per kapita Rp. 1.800.000 per bulan. Klo boleh saya perkirakan mungkin hanya sekitar 25% saja. Artinya 75% rakyat Indonesia hidup dengan pendapatan per kapita di bawah Rp. 1.800.000 per bulan.

Kita tahu sumber daya alam yang dianugerahi oleh Allah begitu berlimpah di tanah air Indonesia. Brunei dengan wilayah negara hanya sebagian dari pulau Kalimantan dapat hidup dengan makmur. Sungguh berbeda dengan negara kita, walaupun sudah diamanahkan oleh UUD 1945 pasal 33 ayat 3, " Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."

Tampaklah sampai hari ini kita belum mendapatkan pemimpin yang adil, yang memperhatikan rakyat banyak / miskin, khususnya memperhatikan 50% rakyat Indonesia yang pendapatan per kapita dibawah Rp. 600.000 per bulan.

Bersabarlah, karena pemerintahan dengan pemimpin yang tahu benar tentang dunia sihir ini, kemungkinan akan melanjutkan pemerintahan periode 2009 s/d 2014.

Semoga pemimpin, menteri, para pejabat, anggota dewan dalam berpenampilan dapat berempati atau mencerminkan keadaan rakyat yang 50% jumlah penduduk berpendapatan per kapita Rp 600.000 per bulan.

Di kantor-kantor pemerintah bisa pula dipasang sticker bahwa,

Ingat! 32.5 Juta rakyat Indonesia bependapatan per kapita rata-rata Rp 200.262 per bulan atau

Ingat! 100 Juta lebih rakyat Indonesia berpendapatan per kapita rata-rata Rp. 600.000 per bulan.

Kemiskinan terjadi dari sabang sampai merauke, baca juga

http://infoindonesia.wordpress.com/2008/03/17/dari-sabang-sampai-merauke-rakyat-indonesia-mati-kelaparan/

Salam

Zon di Jonggol

referensi:

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/07/03/279/235274/polemik-angka-kemiskinan

http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=9342&Itemid=701

http://www.menkokesra.go.id/content/view/2317/39/

Senin, 13 Juli 2009

Teguhkan kekuasaan dengan berbohong ?

Beberapa pertanyaan datang kepada saya, mengapa seolah-olah saya tidak dapat  menerima hasil sementara bahwa suara terbanyak yang telah memilih pa SBY sebagai presiden RI periode 2009 s/d 2014.  Bagi saya bukanlah masalah suara terbanyak, bukanlah menang atau kalah, namun bagaimana kita menegakkan kebenaran dalam kehidupan di dunia.  Kadang penegakan kebenaran bisa saja datang dari hanya segelintir orang.  Bagi saya, suara rakyat banyak belum tentu suara Tuhan, karena bisa saja rakyat banyak itu sesungguhnya tidak paham dengan keadaan. Sebagaimana saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya tentang ketidak siapan rakyat Indonesia menjalankan pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat, mempertimbangkan taraf pendidikan, ekonomi dan faktor lainnya.

Alhamdulillah, sosok yang saya dukung, yakni pa JK belum diperkenankan Allah menjadi pemimpin negeri, karena klo beliau menjadi pemimpin negeri , maka saya harus pula ikut bertanggung jawab terhadap referensi/dukungan yang saya sampaikan kepada publik.

Saya juga sampaikan kepada teman-teman yang telah bersusah payah mendukung dan mereferensikan pa SBY untuk siap-siap ikut bertanggung jawab terhadap hasil kepemimpinan beliau kelak. Mohon maaf, menurut pendapat saya pribadi, saya meragukan kejujuran pa SBY. Untuk menopang "pencitraan"  (jaga image / tidak menjadi dirinya sendiri) dan upaya-upaya meneguhkan kekuasaan, beliau kadang berbohong pada rakyat. Berbohong itu bisa timbul dari diri beliau sendiri karena "keadaan", maupun dari bawahannya yang melaporkan kebohongan (laporan ABS).

Seperti yang disampaikan Rizal Malarangeng (RM) dalam artikelnya di Kompas pada 6 Oktober 1997. Disitu RM menulis, "……Dengan kata lain, ajaran Machiavelli misalnya, Sang Penguasa, dalam mempertahankan kekuasaannya, harus berbohong, menipu, menindas haruslah dimengerti bukan sebagai "nasehat politik" dalam pengertian yang umum. Ia adalah sebuah pernyataan faktual bahwa dunia kekuasaan memang tidak semurni dunia mitologi surgawi jaman pra-Renaisans. Dunia kekuasaan, sebagaimana adanya, adalah sebuah dunia yang penuh intrik, kekejian, ambisi, dan ketololan". Ya, 12 tahun yang silam, pada saat mematangkan konsep neoliberalismenya, RM memahami politik sebagai dunia kekuasaan yang yang penuh intrik, kekejian, ambisi dan ketololan. Tentunya sebelum kembali ke Indonesia, RM telah menyiapkan diri untuk mengakali dunia kekuasaan yang digambarkannya sesuai konsep pemikiran Machiavelli tersebut. Dan Realitas dunia RM yang kejam mengajarkan,dia harus lebih cepat dalam adu intrik, dia harus lebih keji terhadap lawan, dia harus sangat ambisius dan tentu saja dia harus bisa menjadikan politik sebagai parade ketololan. Dalam dunia kekuasaan, Etika akan menjadi sesuatu yang sangat langka. RM sangat percaya dengan itu.

Saya sangat khawatir bahwa pemikiran seperti RM lah yang menghasilkan kemenangan pada pilpres 2009 ini. Artinya kemenangan pilpres 2009 adalah kemenangan kaum cendekia/pintar namun sekuler, terhadap "ketidak-pahaman" rakyat banyak, dan secara tidak langsung adalah "penjajahan" oleh bangsa sendiri.

Untuk itulah di beberapa tulisan saya terdahulu bahwa pemerintah harus sangat memperhatikan keterpenuhan kebutuhan pendidikan bagi rakyat Indonesia sampai jenjang perguruan tinggi dalam bentuk subsidi dan bantuan lainnya. Janganlah seperti pemerintahan Belanda dahulu kala untuk melanggengkan penjajahan, mereka "mempersulit" rakyat Indonesia mendapatkan pendidikan.

Saya sangat berharap kekhawatiran saya bukanlah sesuatu kenyataan, namun waktulah yang akan memperlihatkannya kelak.

Politik dalam Islam berbeda dengan politik sekular yang bersumber kepada spekulasi akal yang rentan berubah, politik Islam bersumber ke pada Wahyu. Jadi, sistem, nilai, visi, misi dan agenda dalam politik Islam juga didasarkan kepada, dan diderivasi dari Wahyu. Politik Islam tidak akan memperjuangkan nilai nilai yang bertentangan dengan Wahyu seperti memperjuangkan kebebasan kesesatan akidah, kebebasan seks seperti gerakan homoseksual, lesbianisme, pornografi, dan lainnya. Sebaliknya, politik sekular bisa melindungi dan menyebarkan kekeliruan-kekeliruan kepada masyarakat dengan mengkambing-hitamkan kebebasan, relativitas nilai dan budaya. Politik sekular berjuang untuk meraih kekuasaan yang dibangun dengan dasar kepentingan. Tiada musuh yang abadi dalam politik karena yang ada adalah kepentingan. Inilah jargon sekular yang sering dilontarkan. Dampaknya, politik sekular tidak memiliki integritas. Dengan konsep moral yang pragmatis, semua serba boleh, asal kan kekuasaan dapat diraih. Jikapun terdapat integritas, maka integritas itupun di bangun di atas filsafat pragmatis. Sedangkan dalam politik Islam, yang diperjuangkan adalah kebenaran, bukan semata-mata kekuasaan. Kebenaran lebih penting dari kemenangan yang dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Kekuasaan diraih dengan kebenaran dan kekuasaan adalah amanah dan sarana dakwah, untuk menyebarkan rahmat Allah di atas muka bumi. Jadi bukanlah menang atau kalah , namun yang diutamakan adalah benar atau salah.

Saya berdoa agar Presiden terpilih nanti dengan kekuasaan yang ada ditangannya dapat memerintah dengan adil dan tidak zalim pada rakyatnya walaupun kekuasan telah didapat dengan  “berbagai cara”.

Sabtu, 11 Juli 2009

Mimpi-mimpi seputar pilpres 2009

Berikut mimpi-mimpi yang saya alami, seputar pilpres 2009. Semoga apa yang saya "mimpi" kan bukanlah suatu kenyataan.

Mimpi-mimpi saya salah satunya diawali dari perbedaan "pendapat/pola pikir" dari dua capres khususnya SBY dan JK.

SBY

http://swaramuslim.net/siyasah/more.php?id=5922_0_6_0_M

"Sebuah Imperium Menunggu Rubuh", Amran Nasution

Dalam suatu kesempatan mengunjungi Amerika di tahun 2003, sebagai Menko Polkam, SBY berkata, ‘’I love the United State, with all its faults. I consider it my second country’’. Terjemahan bebas penulis: “Saya cinta Amerika, dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negeri kedua saya.” (lihat Al Jazeera English – Archive, 6 Juli 2004).

JK

Kompas, 1 Juli 2009 hal 33,

“Muhammad Jusuf Kalla, Sudah Kaya, Cari Apa Lagi”

Jawaban beliau, “Tidak. Saya sudah cukup mampu untuk tidak mengambil apapun kekayaan dari negeri ini. Bersama pa’ Wiranto, saya tidak mencari keuntungan apa-apa. Saya hanya mau bekerja, mencari kemuliaan dan kehormatan rakyat. Bukan kemuliaan dan kehormatan saya. Saya tidak mau meninggalkan bangsa yang kurang kehormatannya karena kurang mandiri di bidang ekonomi.”

Lalu mempertimbangkan terjadi "krisis keuangan" yang telah terjadi di Amerika dan beberapa negara lain yang menyukai "paper money".

Alhamdulillah, Indonesia menurut pendapat saya "agak" sedikit gangguan "krisis keuangan" karena ditopang oleh "real money" yakni dari hasil alam yang merupakan anugerah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam suatu mimpi saya, saya "membaca" bahwa Amerika sangat membutuhkan Indonesia yang merupakan "kantong ekonomi" mereka, "real money" dari sumber alam terkaya di dunia, bumi Indonesia. Amerika sangat membutuhkan "real money" untuk mengatasi "krisis keuangan" dan pembiayaan "penjajahan" mereka di Irak, Palestina, Afghanistan dll serta biaya "merawat" beberapa negara "boneka" bentukan Amerika dibeberapa belahan dunia. Pada saat JK mulai mengusik "kantong ekonomi" Amerika dengan "memperbincangkan" kembali kontrak-kontrak pertambangan / hasil bumi maka Amerika mengeluarkan kebijakan "pemisahan" JK dari SBY. Langkah-langkah kebijakan bersama SBY dan Amerika mulai dituangkan dalam suatu bentuk "kerjasama".

Salah satu mimpi saya yang buruk, "terlihat" salah satu langkah suksesi pilpres dalam bentuk "pembiaran" masalah lapindo untuk kepentingan "mengikat" keluarga Bakri yang termasuk kelompok keluarga terkaya di negeri kita. Langkah ini cukup aman dalam pencitraan SBY karena Aburizal Bakri "tercantum" pada Golkar walaupun Aburizal Bakrie merupakan "top" donatur dalam pilpres 2004.

Dimimpi lain saya, langkah suksesi pilpres dalam bentuk "dukungan suksesi" pemilihan gubernur Jatim dan "penetapan" gubernur dan bupati lainnya yang masih "bermasalah" dalam pengangkatan atau "tinggal" menunggu pengangkatan.

Dalam mimpi saya, langkah suksesi pilpres dalam bentuk "legitimasi" dari partai-partai berbasis mayoritas massa muslim seperti PKB,PPP,PAN, PKS dll. "Dukungan" dari PKB didapat dari "imbalan campur tangan" pemerintah seputar partai PKB. PPP didapat dari "dukungan" beberapa pimpinan partai yang "diikat" dengan "kasus" hukum. PAN dalam mimpi saya,"dukungan" didapat dari "perbicangan" (tidak jelas dalam mimpi saya) antara SBY dan Amien Rais, juga seputar "kekuasaan" Hatta Rajasa kelak. PKS dalam mimpi saya, "dukungan" didapat dari "pembicaraan" SBY dengan pucuk majelis syuro Hilmi Aminudin yang ditindaklanjuti dengan "penyebaran" citra negatif/fitnah terhadap JK dan "menakuti" dengan "dosa-dosa" partai Golkar dahulu.

Dalam mimpi saya yang lain untuk mendapatkan "dukungan" dari rakyat banyak, layaknya acara idol dibeberapa stasiun TV, maka dibuatlah "pencitraan" yang baik. Pencitraan "diserang" oleh capres lainnya, ditambah penampilan/sosok fisik SBY yang sangat mendukung. Dengan memanfaatkan budaya masyarakat kebanyakan tentang "tren" dan "pilihan" banyak orang maka dibuatlah "pengaturan" hasil survey, pooling SMS, dll.

Dalam mimpi saya, untuk mendapatkan dukungan dari beberapa kalangan/golongan rakyat dengan cara "melanjutkan" program BLT, "bertepatan" waktu gaji ke 13 PNS yang sesungguhnya untuk membantu biaya sekolah anak PNS, "pemberian penghargaan" atas pengabdian PNS dan pejabat dll.

Dalam mimpi saya lainnya, tidak cukup jelas (sedikit lupa) bagaimana pembiayaan kampanye dari BUMN dan beberapa pihak lainnya yang total jumlahnya luar biasa besar, dan tidak terdeteksi oleh PPATK, juga tidak terdeteksi oleh para penegak peraturan "dana" kampanye.

Dalam mimpi saya lain dalam dukungan "operasional", kapal perang AS merapat ke perairan Indonesia untuk pemanfaatan teknologi dan komunikasi. Operasional didukung oleh TNI termasuk intelejen dan "penggunaan" koramil di seluruh pelosok negeri. Keberadaan kapal perang AS ini juga untuk "memastikan" pelaksanaan "kerjasama" yang telah disepakati.

Dalam mimpi saya lain, saya berbincang dengan beberapa anggota KPU, saya mengatakan anda seorang mukmin yang taat sebagai anggota KPU kenapa "terlihat" tidak independen ? kami sekedar melaksanakan "tugas negara" untuk kepentingan negara yang lebih besar dan bagi kemaslahatan negara. Salah satu upaya adalah "penggelembungan" jumlah DPT dengan "penggandaan" beberapa pemilih, "pencantuman" pemilih yang sesungguhnya belum berhak, pencantuman data pemilih yang sesungguhnya sudah meninggal dunia dll. Kelemahan partai politik pesaing adalah tidak memiliki seluruh form C1 dari saksi-saksi setiap TPS. Padahal dengan merekapitulasi seluruh data otentik form C1 merupakan hasil pilpres yang sesungguhnya, karena di form C1 juga sudah tercantum jumlah surat suara yang tidak terpakai, jumlah surat suara yang tidak sah.

Dalam mimpi saya pula, JK tidak pula mendapat dukungan yang solid dari DPD I dan DPD II. Bahkan terlihat dalam mimpi, salah seorang caleg dari Golkar yang sudah mendapat kursi di DPRD tingat II, sama sekali tidak menunjukan upaya keras untuk mensukseskan JK dalam pilpres 2009. Bahkan beberapa menyatakan pendapatnya, bagus pemilihan legislatif sekarang berdasarkan suara terbanyak, sehingga saya memungkinkan duduk di DPRD, dahulu kala saya berupaya keras dalam pemenangan pemilihan legislatif namun pemimpin pusat selalu meletakan saya pada nomor urut yang secara logika tidak memungkinkan mendapatkan kursi. Sekarang saya sudah aman, peduli amat dengan pilpres.

Begitulah mimpi-mimpi yang saya alami selama masa kampanye pilpres 2009, dan itu semua bukanlah kenyataan. Penyebutan nama bukanlah menunjukan data/kenyataan namun sekedar hadir dalam mimpi saya. Bukan saya bermaksud provokasi namun ini sekedar menceritakan mimpi yang saya alami dan sangat mengganggu aktivitas saya. Dengan menulis mimpi ini membuat saya terbebas dari gangguan mimpi-mimpi ini. Sekali lagi anggaplah tulisan ini sebagai cerita fiksi belaka.

Wallahu a'lam

Namun, mencermati ucapan selamat atas pemilu yang berjalan dengan baik, dari para petinggi negara seperti Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang menurut pendapat saya merupakan pemimpin "boneka" bentukan Amerika, membuat saya khawatir apakah mimpi-mimpi diatas adakah sebuah kenyataan ? Benarkah SBY juga "boneka" bentukan Amerika ? katakanlah bukan "boneka" namun "sahabat" ? Saya tidak berani menjawabnya karena saya sama sekali tidak mempunyai data.

Siapapun yang akhirnya terpilih sebagai presiden untuk periode 2009-2014, marilah kita tetap menjaga kedaulatan dan menjaga NKRI.

Allah memberikan karunia alam yang begitu luas di bumi Indonesia dititipkan pada penduduknya mayoritas muslim. Jikalau penduduknya tidak mensyukuri ni'mat, membuat kezaliman di muka bumi Indonesia dan tidak menegakkan kebenaran, maka akan ada bencana dan musibah yang akan berlaku. Percayalah.