Tampilkan postingan dengan label teroris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teroris. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Maret 2010

Siapakah Teroris Sesungguhnya

Banyak peneliti yang menyatakan bahwa pemerintahan Bush telah  memanfaatkan sikap ekstrim Al-Qaeda sehingga terjadi peristiwa 11 September.

Pemerintahan Bush telah mengetahui rencana aksi Al-Qaeda. Namun pemerintahan Bush bukan hanya tidak melakukan pencegahan, bahkan ada kemungkinan mereka memasang bom di gedung kembar WTC sehingga kehancuran sepasang gedung tersebut lebih dramatis (informasi terkait mengenai fakta-fakta gelap peristiwa 11 September, dapat dibaca dalam majalah Eramuslim Digest edisi 2, The Dark Side of 911).

Berbekal “fitnah” tragedi 11 September lah, sesungguhnya sebagai alasan pemimpin Amerika untuk melakukan tindakan teroris sesungguhnya dengan menyerang Irak, Afghanistan dan negara lain yang "diduga" sebagai tempat persembunyian Al-Qaeda. Semua penyerangan dilakukan dengan dalih perang melawan terorisme.

Seperti yang kita dapat duga, lembaga dunia seperti PBB tidak dapat berbuat banyak bagi tindakan teroris yang dipimpin Amerika  karena adanya ketidak adilan dalam  pada Dewan Keamanan PBB dalam bentuk hak veto.

Begitu juga pada awal tahun 2009, PBB “membisu” dengan kejahatan perang (terorisme yang sesungguhnya)  yang dilakukan Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza, semua karena adanya hak veto.

Di zaman Pemerintah Soekarno, Indonesia pernah keluar dari PBB di tahun 1965 karena PBB telah menjadi boneka Imperaliasme dan neo-kolonialisme Amerika dan sekutunya. Ini terjadi setelah Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap DK PBB.

Jauh sebelumnya, pada 30 September 1960, Bung Karno menyampaikan pidato kenegaraan di Sidang Umum PBB yang mendapat gemuruh tepuk tangan dan semangat yang berkobar-kobar. Pidato yang berlangsung hampir 1 jam, berjudul “To Build the World A New” – Membangun Kembali Dunia Yang Baru.

Presiden Soekarno mampu melihat PBB yang saat ini dan akan datang hanya menjadi boneka. Banyak negara anggota hanya diam dan pasrah. Oleh karena itu, Soekarno mengajak semua elemen anggota PBB agar sigap melihat realita ini.

Berikut salah satu cuplikan pidatonya di SU PBB, 30 September 1960.
“…..Saya katakan pada Tuan-tuan: Janganlah bertindak sebagai alat yang tak tahu apa-apa dari imperialisme. Janganlah bertindak sebagai tangan kanan yang buta dari kolonialisme. Jika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, dan dengan begitu tuan akan membunuh harapan dari berjuta-juta manusia, yang tiada terhitung itu dan mungkin tuan akan menyebabkan hari depan mati dalam kandungan…..”

Kesimpulan pidatonya, Bung Karno menyatakan bahwa setelah KAA 1955 di Bandung, negara-negara dunia di Asia Afrika telah muncul menjadi kekuatan baru dunia ketiga. Karena itu, harus ada reformasi pada tubuh PBB. Hak Veto oleh 5 negara yang dapat sewenang-wenang menggunakan vetonya harus dihapus. [pemikiran Soekarno terlalu jauh ke depan...tidak ada Presiden yang begitu revolusioner] Dan hal yang menarik, Soekarno menyarankan Markas PBB harus dipindahkan dari New York ke negara yang tak terpengaruh oleh blok AS maupun Uni Soviet.

Apa yang Bung Karno ucapkan 4 tahun yang lalu, ia tetap konsisten. Setelah Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap DK PBB [manefestasi dari neo-kolonialsme], maka pada tanggal 7 Januari 1965, Indonesia keluar dari PBB.  Beberapa bulan kemudian dengan tragedi G30S yang berujung penggulingan Soekarno dan setelah Soekarno digulingkan oleh tentara Orba yang menjadi antek neo-liberalisme dan imperialisme, Indonesia kembali bergabung dengan PBB.

Saat ini pun para pemimpin negeri masih menjadikan kaum kuffar sebagai “teman kepercayaan” dengan taat dan santun tetap menjalankan konsep ekonomi neo-liberalisme walaupun dalam masa kampanye dikatakan sebagai konsep ekonomi jalan tengah.

Begitu juga pemimpin negeri yang mengaku muslim, tetap taat kepada “Washington consensus” . Padahal sewaktu masa kampanye, sempat berkomitmen dengan Amien Rais untuk tidak lagi memperhatikan “Washington consensus”. Namun apa daya teman kepercayaan dari Boediono maupun Sri Mulyani adalah dari IMF dan penasehat-penasehat ekonomi lainnya dari kaum kuffar.

Ironis, mereka semua pemimpin negeri ini yang mengaku muslim namun tidak memperhatikan firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” ,  (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali Imran, 119)

Pada kasus Bom Bali 12 Oktober 2002, intelijen asing dengan komprador intelijen lokal memanfaatkan ekstrimisme jihad dari sisa-sisa jaringan JI. Saat itu dua buah bom meledak di Bali. Bom pertama meledak di Paddys Café, termasuk berdaya ledak rendah (low explosive). Disusul kemudian dengan ledakan bom berkekuatansangat tinggi (high explosive) di Sari Club, Kuta.

Saat itu pemerintah Bush tengah gencar merekrut negara-negara lain, salah
satunya Indonesia, agar mau bergabung dalam perang melawan terorisme.

Khawatir akan reaksi umat Islam, pemerintah Megawati kala itu gamang merespon ajakan Bush.

Lalu terjadilah Bom Bali sehingga Megawati pun ikut berperan aktif dalam
kampanye perang melawan terorisme yang diusung Amerika. Segera terjadi berbagai penangkapan terhadap para aktivis Islam. Muncul pula persepsi di masyarakat umum bahwa orang-orang yang menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh, termasuk dalam hal politik, maka orang-orang tersebut berpotensi menjadi teroris.

Amrozi dan kawan-kawannya telah mengakui membom Paddys Café, yang berdaya ledak rendah. Namun mereka menolak sebagai pelaku yang meledakkan bom berkekuatan sangat tinggi di Sari Club. "Kami tidak memiliki kemampuan untuk membuat bom sedahsyat itu, " ujar Imam Samudera. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), ZA Maulani menyatakan bahwa yang meledak di Sari Club adalah bom mikro nuklir. Sementara yang memiliki akses nuklir hanyalah beberapa negara tertentu, seperti Amerika dan Israel.

Joe Vialls, seorang investigator independen dari Australia, juga meyakini bom yang meledak di Sari Club adalah mikro nuklir karena ada efek cendawannya.

Dengan kejadian-kejadian tersebut membuat saya yakin dengan peringatan Allah,

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik" (Al Maaidah: 82).

Apakah kita masih saja ingin “lanjutkan” tidak memperhatikan firman Allah ?

Salam.

Zon di Jonggol

Sumber:

http://studislam.blogdetik.com/2009/12/10/gerakan-islam-dan-jihad-di-era-tanpa-daulah/

http://nusantaranews.wordpress.com/2009/01/04/indonesia-ancam-keluar-dari-pbb-mungkinkah/

http://www.detiknews.com/read/2009/05/03/013039/1125278/700/andi-3-syarat-pan-sudah-dipraktekkan-demokrat

Selasa, 16 Maret 2010

Surat Terbuka utk SBY

(Surat terbuka untuk presiden RI, SBY )

Assalamu'alaikum wr. wb.

Satu lagi (maaf) kekeliruan yang telah dilakukan pemimpin negeri, presiden RI, SBY.

Kekeliruan ini dilakukan ketika beliau tidak “didampingi” oleh Jusuf Kalla, yang dapat menguasai perdamaian sesungguhnya.

Saat ini ironis sekali, pemimpin negeri yang mengaku muslim dan rakyatnya mayoritas muslim dapat "membunuh" sesama muslim yang berijtihad/berpemahaman berbeda, bahkan saudara-saudara muslim kita diberi "label" oleh pemerintah sebagai "teroris" seperti pelabelan yang dilakukan oleh kaum kafir.

Saudara-saudara muslim kita yang telah dilabeli  oleh negara  sebagai teroris dilakukan “pembunuhan” tanpa proses pengadilan yang merupakan hak asasi mereka sebagai warganegara/manusia.

Seharusnya pemerintah melakukan "penyelarasan" ijtihad / pemahaman mereka, dibantu oleh para alim ulama dalam rangka saling mengingatkan.

Sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya manusia dalam kerugian” (Al ‘Ashr, 2)

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling mengingatkan supaya mentaati kebenaran dan saling mengingatkan supaya menetapi kesabaran” (Al ‘Ashr: 3)

Apapun pemahaman/ijtihad muslim selagi sama-sama menegakkan La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah, maka tetaplah kita bersaudara. Marilah kita bersatu dalam kesatuan Aqidah Islam tanpa disekat oleh batasan negara, bangsa, suku maupun tarekat, kelompok atau golongan.

Ingatlah selalu apa sesungguhnya maksud Allah menciptakan manusia dan jin sebagaimana firmanNya,

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Az Zariyat 56)

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu (al Hijr 99)

Saya mengajak diri saya pribadi dan para pemimpin untuk menggapai ridho Allah bukannya menggapai ridho kaum kuffar.

Sudah saatnya kita menegakkan Islam sesungguhnya bagi perdamaian dunia tidak sekedar “menggunakan” Islam untuk  kepentingan politik atau kekuasaan.

Pemimpin negeri ini, presiden RI, SBY yang muslim dengan potensi/kekuatan jumlah umat muslim yang sangat besar  sebaiknya berperan dalam menjaga perdamaian dunia dan menegakkan kebenaran, bukannya “mengekor” saja kepada kaum kuffar, (maaf) bagaikan kerbau dicucuk hidungnya.

Sebagaimana firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya" ,  (Ali Imran, 118)

"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali Imran, 119)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sebagai muslim sesungguhnya,  Andalah yang berhak “mewarnai” tatanan dunia baru atau bahkan memimpin dunia. Umat terbaik yang memimpin dunia.

Allah telah berfirman dengan artinya,
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" (Ali Imron : 110).

Saatnya sekarang pemimpin negeri ini yang muslim dibantu para alim ulama untuk “menyatakan pendapat” kepada mereka-mereka yang melabeli “teroris” kepada saudara-saudara muslim kita. Saatnya “menyatakan pendapat” terhadap saudara-saudara muslim kita yang negaranya “diguncang”, “diserang”,  bahkan “dijajah” seperti Palestina, Afghanistan, Irak, Somalia dll. Umumnya  adalah saudara-saudara muslim kita yang dalam kehidupan mereka di dunia hendak menegakkan Syariah Islam

Saatnya kita memainkan peran dalam kancah dunia sebagai bentuk upaya perdamaian dunia  sejati sebagai perwujudan perintah Allah agar kita tidak membuat kerusakan dimuka bumi  Sekaligus perwujudan kehendak Allah menjadikan manusia sebagai khalifah sebagaimana firman Allah,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:  "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al Baqarah:30)

Salam Ukhuwah Islamiyah.

Zon di Jonggol

*********************     *******       ***********************

*********************      *******     ***********************

(Berikut tanggapan atas tanggapan para pembaca (netters) )

Banyak tanggapan yang disampaikan oleh para pembaca (netters). Pada umumnya berisikan "mengajak" saya memahami korban-korban yang diakibatkan oleh bom-bom seperti di bali, kuningan, jw marriot dll.

Bagaimana klo korban itu, ada hubungan keluarga dengan penulis, mereka anggap mungkin saya akan memikirkan kembali tulisan diatas.

Saya bukannya sekedar membela saudara-saudara muslim saya yang oleh pemerintah dilabeli "teroris" untuk memperoleh haknya sebagai warganegara/manusia, namun saya juga membela para pemimpin negeri ini agar tidak membuat kekeliruan. Sekaligus menghindari kemungkinan korban-korban berikutnya dari kemungkinan kekeliruan kebijakan pemerintah.

Kita sebagai manusia, pada umumnya selalu berpikir atau memberikan reaksi
terhadap suatu akibat bukan pada "penyebab"nya.

Sebagai contoh ketika kita sakit dan "mengeluh" sakit kepala, umumnya kita
berpikir atau memberikan reaksi pada sakit kepalanya. Padahal untuk memecahkan masalah tersebut, sang dokter akan mencari tahu apa yang menyebabkan sakit kepala.

Berkali-kali negeri kita ditimpa masalah dari "akibat" Bom Bali, Bom Kuningan, Bom Marriot. Namun tampaknya "kecerdasan" pemerintah, hampir sama dengan masyarakat pada umumnya, memberikan reaksi terhadap "akibat" semata.

Bagi saya, solusi yang baik untuk mengatasi "akibat" yang telah terjadi adalah
pemerintah bersama alim-ulama membahas, mencari tahu kenapa (sebab apa) saudara-saudara muslim kita itu berpemahaman / ijtihad seperti itu ? Inilah yang saya sebut mencari penyebab atau mendiagnosa masalah.

Sayapun sebagai warganegara tidak menginginkan berjatuhan korban-korban berikut, apalagi kalau korban tersebut adalah mempunyai hubungan keluarga dengan saya.

Saya turut menghaturkan terima kasih atas kepedulian, bantuan yang telah
diberikan terhadap saudara-saudara saya juga yang menjadi korban bom-bom yang lalu.

Sungguh jangan sampai terulang kembali kejadian bom di negeri ini.

Juga janganlah ada polisi-polisi atau warga sipil lainnya yang meninggal karena sebuah kebijakan pemerintah yang keliru.
Salam damai.

*********************     *******       ***********************

*********************      *******     ***********************

(Berikut tanggapan atas tanggapan lain para pembaca (netters) )

Menurut pembaca (netter):  Dalam kasus teroris , yang harus dilakukan oleh manusia adalah satu , yaitu mengutuknya . Titik . Tidak perlu mencari pembenaran atas tindakan yg melanggar kemanusiaan tersebut .Tidak perlu melakukan pembelaan terhadap mereka. Jangan berikan dukungan apapun terhadap para penebar teror dan ketakutan ini , bahkan simpati sekalipun . Hukum harus ditegakkan !

Setuju, hukum harus ditegakkan. Saya tidak melakukan pembenaran namun mempertanyakan hak saudara-saudara muslim yang telah dilabeli teroris oleh pemerintah.

Bagaimanakah pendapat anda, jika ada kemungkinan pemerintah berkeinginan melakukan “pembunuhan” kepada sekelompok warganegara muslim  dengan membuat sebuah “rencana”, “perangkap”, “siasat” sehingga sekelompok warganegara muslim tersebut terkondisikan dan dilabeli “teroris” kemudian dilaksanakanlah “pembunuhan” atau penghukuman terhadap mereka ?

Tentu hal itu hanyalah sebuah mimpi / skenario buruk yang tidak terjadi di negeri yang berlandaskan Pancasila ini. Namun tetaplah itu sebuah kemungkinan.

Sekali lagi tidak mungkin seperti itu.

Sebagaimana yang saya muat di tulisan “surat terbuka”  diatas, solusi yang terbaik adalah

Pemerintah melakukan “penyelarasan” ijtihad / pemahaman mereka, dibantu oleh para alim ulama dalam rangka saling mengingatkan.

Kita ibaratkan negeri/pemerintahan ini sebagai sebuah keluarga besar. Presiden sebagai orang tua / kepala keluarga  dan warganegara sebagai putra-putri / anak.

Apakah yang dilakukan orang tua / kepala keluarga untuk mewujudkan keluarga sakinah ?

Diantaranya adalah,

Membuat peraturan/hukum dalam keluarga agar hubungan antar anggota keluarga terjalin harmonis.

Mendidik,  memberikan pemahaman, membuat kesepakatan agar setiap anggota keluarga dapat berperilaku baik

Seorang anak  dapat saja menerima pegaruh / pemahaman yang buruk dari luar/eksternal.

Kadang kita temukan orang tua yang kurang baik akan melabeli anak tersebut sebagai “anak nakal”.  Sebagaimana pemerintah melabeli warga negaranya sebagai “teroris”.

Pemberian label kepada anak tersebut sesungguhnya bagaikan sebuah “sertifikat” kegagalan orang tua mewujudkan keluarga sakinah bahkan sebagian orang berpendapat bahwa pemberian label kepada anak tersebut bisa jadi merupakan sebuah “doa” kepada Allah.

Belajar dari contoh kasus anak menerima pengaruh / pemahaman buruk dari luar/eksternal, solusi yang terbaik adalah “menyelaraskan” kembali pemahaman anak tersebut sesuai aturan/hokum yang berlaku dalam keluarga.

Kita sebagai orang tua tidak baik jika memberi hukuman “membuang” anak tsb atau bahkan “membunuh” anak tersebut. Hal ini karena ada “ikatan”/”hubungan” antara orang tua dengan anak.

Dalam dunia pemerintahan/negara, antara pemimpin dan yang dipimpin tampak semakin memudar “ikatan” atau “hubungan” tersebut.

Apalagi seorang pemimpin yang muslim   terhadap warga negara yang muslim seharusnya berlaku sesuai yang difirmankan Allah,

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10).

Silahkan baca sebuah tulisan yang cukup menyentuh dan menarik sebagai bahan pelajaran bagi kita semua,

http://syumulnetwork.blogspot.com/2008/08/muslim-itu-bersaudara.html

Salam damai dan bersaudara.