Tampilkan postingan dengan label yahudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yahudi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Februari 2011

Mengelola Kebencian

Bagaimana kita mengelola rasa kebencian.

Sungguh sangat menyedihkan kalau kita melihat kejadian akhir-akhir ini seperti penyerangan (Ahmadiyah) di Cikeusik dan Temanggung ataupun tragedi demonstrasi di Mesir. Semua terjadi pada hakikatnya karena tidak dapat mengelola dengan baik rasa kebencian.

Namun untuk kasus Temanggung menurut laporan Forum Umat Islam ada pihak tertentu memprovokasi rasa kebencian
http://voa-islam.com/news/pembaca/2011/02/10/13265/mengoreksi-berita-media-soal-kerusuhan-temanggung-yang-sudutkan-islam/
.
Hal yang sebaiknya kita ingat selalu adalah apapun atau siapapun yang kita benci, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla

Mari kita perhatikan tanggapan mereka yang mengaku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh atas pendapat kami sbb:
"Seorang muslim sejati tidak akan pernah membenci orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani karena orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani keberadaan mereka pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla. Jika kita membenci mereka maka kita pada hakikatnya adalah membenci kehendak Allah Azza wa Jalla."

Tanggapan mereka,
"Antum harus belajar apa itu al-bara yaitu kita harus membenci orang yahudi dan nasrani karena perintah Allah. Allah tidak menyukai orang2 musyrik (yahudi & nasrani) dan mereka adalah penghuni neraka jahanam se-lama2nya ber-sama2 syetan/iblis. Syetan juga juga keberadannya atas kehendakNya tapi Allah menyebut syetan sebagai musuh2 Allah dan kita harus memusuhi syetan2 tsb. Yahudi dan Nasrani berkolaborasi dengan syetan2 untuk memusuhi umat Islam, jadi antum tidak mau memusuhi Yahudi dan Narsani berarti menentang perintah Allah dan antum termasuk teman2 syetan sekaligus musuh Allah dan umat Islam".

Dari tanggapan tersebut kita dapat memahami bahwa saudara muslim kita tersebut terprovokasi/terindoktrinisasi pemahaman para ulama/syaikh/ustadz mereka. Hal ini menurut analisa kami, serupa dengan kejadian-kejadian tragedi bom di negeri kita. Mereka salah memahami petunjuk dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Allah Azza wa Jalla mustahil memberikan perintah untuk membenci apa yang Dia telah ciptakan.

Keberadaan mereka (orag-orang Yahudi, Orang-orang musyrik atau non muslim lainnya) di dunia adalah kehendakNya yang merupakan cobaan bagi kita kaum muslim. Allah ta'ala pada hakikatnya ingin melihat bagaimana kita menghadapi kehendakNya. Kita menghadapi kehendakNya haruslah dengan sikap/perbuatan yang dicintai Allah ta’ala.

Firman Allah yang artinya,
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

Begitu juga keberadaan syaitan adalah kehendakNya, yang kita benci adalah perbuatan/sikap/upaya syetan menyesatkan manusia.

Uraian selengkapnya mengenai kebencian terhadap ciptaanNya atau terhadap sikap/perbuatan ciptaanNya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/

Sekarang mulai terbukti pada kejadian-kejadian itu bahwa rasa kebencian bukanlah diawali oleh kaum muslim namun diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang menurut analisa perkiraan kami bersumber dari orang-orang yang memang diciptakan oleh Allah ta’ala mempunyai rasa permusuhan dengan kaum muslim.
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Untuk itulah kita harus dapat mengelola rasa kebencian dengan selalu sadar bahwa apapun atau siapapun yang menimbulkan rasa kebencian pada diri kita, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla.

Baik kaum muslim maupun kaum non muslim salah paham dengan nash-nash Al Qur’an atau hadits seperti , ”Perangilah orang-orang kafir” atau ”halal darah orang-orang kafir”

Contoh firman Allah ta’ala yang artinya,
”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At Taubah [9]:123 )

Kita sebaiknya tidak memahami Al-Qur’an dan Hadits dengan metode "terjemahkan saja". Sedikit penjelasan tentang metode ini dapat ditemukan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Namun kita harus memperhatikan riwayat turunnya ayat tersebut (asbabun nuzul) , juga memperhatikan hubungan kalimat dalam satu ayat, hubungan dengan ayat-ayat lain dan termasuk hubungan dengan hadits-hadits.

Ayat diatas yang memuat perintah “perangilah orang-orang kafir” turun ketika Rasulullah menghadapi sikap/perbuatan orang-orang kafir yang menentang penyiaran agama Islam.

Perintah “perangilah” bukanlah berarti “bunuhlah”. Perangilah bisa dilakukan dengan menyatakan pendapat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, klarifikasi kejadian, mendudukan masalah, koreksi berita, menyatakan ketidak-setujuan, tidak membenarkan, tidak sependapat dll. Perang seperti ini yang disebut perang pendapat/pemikiran (ghazwul fikri). Sedangkan pada waktu ayat itu turun, memang orang-orang kafir telah meperlihatkan sikap/perbuatan memerangi atau mengadakan peperangan terhadap Rasulullah beserta kaum muslim.

Kesalahpahaman yang fatal adalah memahami ”halal darah dan harta orang kafir” seolah-olah memerintahkan untuk membunuh orang kafir. ”Halal darah orang kafir” berlaku ketika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh mereka, seperti ketika keadaan dimana tinggal ada dua pilihan membunuh atau dibunuh. Karena pada hakikatnya Allah ta’ala melarang keras membunuh manusia (ciptaanNya) apalagi membunuh sesama saudara muslim.
Firman Allah: "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan (dilindungi) Allah, kecuali dengan benar." (al-An'am: 151)
Rasulullah bersabda "Tidak halal darah seseorang muslim kecuali sebab tiga hal: karena membunuh jiwa, seorang janda/duda berzina dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hukuman berlaku terhadap mereka yang melakukan pembunuhan dan janda/duda berzina setelah syarat-syarat terpenuhi. Sedangkan bagi orang yang meninggalkan agamanya, pada hakikatnya bukan berarti harus segera dibunuh namun berubah statusnya dari haram darahnya menjadi halal darahnya jika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh mereka. Prinsipnya Allah ta’ala dalam surah Al An’am diatas melarang membunuh manusia (ciptaanNya) , kecuali dengan benar atau dengan alasan yang dibenarkan.

Begitupula kepada kaum Ahmadiyah (selama mereka masih bersyahadat dan syahadatnya sama dengan kaum muslim) tetap statusnya haram untuk dibunuh. Ketika mereka telah nyata-nyata keluar dari agama Islam pun baru berubah statusnya dari haram darahnya menjadi halal darahnya dan bukan berarti segera/boleh dibunuh namun diperbolehkan membunuh jika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh.

Keberadaan kaum Ahmadiyah atau pemahaman kaum Ahmadiyah, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla dan merupakan cobaan bagi kaum muslim. Pada hakikatnya, Allah Azza wa Jalla ingin melihat bagi mana sikap/perbuatan kita, kaum muslim menghadapi cobaan dariNya.

Langkah-langkah yang diambil oleh para ulama sebaiknya tetap berupaya meluruskan pemahaman mereka, bukankah keadaan mereka belumlah ”final” atau sebelum kematian menjemput mereka keadaan masih bisa berubah.

Sedangkan umara/penguasa perlu menetapkan dan menyiarkan kabar bahwa pemahaman Ahmadiyah bukanlah termasuk agama Islam pada seluruh jalur komunikasi/informasi, jika sudah jelas pemahaman Ahmadiyah bukanlah termasuk agama Islam berdasarkan rekomendasi yang berkompeten seperti Majelis Ulama Indonesia. Sejak penetapan tersebut maka tidak boleh menyandingkan kata Islam dengan Ahmadiyah diseluruh dokumen, tulisan, cetakan, dll Begitu pula perlakuan terhadap kaum Ahamadiyah menjadi serupa dengan perlakuan kita terhadap non muslim.

Hal yang lain perlu diperhatikan dalam mengelola kebencian adalah dengan menjauhi sumber yang akan menimbulkan kebencian yakni upayakan untuk tidak menjadikan mereka teman kepercayaan. Maksud teman kepercayaan disini adalah hubungan dengan mereka yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk memasukkan apa yang mereka pahami (ghazwul fikri). Rasulullah pernah mencontohkan berhubungan dengan kaum non muslim dalam hal transaksi jual beli, menolong, memberikan perlindungan, membuat perjanjian, berlaku adil kepada orang kafir bukan bekerjasama ataupun berteman dengan mereka. Rasulullah pernah mencontohkan menjadikan mereka penunjuk jalan namun tentu tidak memberikan kesempatan mereka untuk memasukkan pemahaman (ghazwul fikri).

Kita sebaiknya tidak menentang peringatan Allah Azza wa Jalla karena Dia Maha Mengetahui segalanya.

Allah Azza wa Jalla telah memberikan peringatan kepada kita bahwa kalau kita menjadikan mereka teman kepercayaan maka kemudharatan pasti akan menimpa kita karena mereka memang diciptakan dengan rasa permusuhan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

Oleh karenanya pada zaman kini, dapat kita lihat kemudharatan telah menimpa kaum muslim di berbagai belahan dunia hanya dikarenakan para pemimpin negeri/penguasa/umara menjadikan orang-orang Yahudi atau orang-orang Musyrik sebagai teman kepercayaan. Mereka menjadikan penasehat segala bidang. Bahkan di wilayah kerajaan dinasti Saudi menjadikan mereka penasehat kurikulum pendidikan/pengajaran. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ Begitu pula di negeri kita, penguasa menjadikan mereka penasehat ekonomi seperti kasus kejatuhan p’ Suharto oleh IMF. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/17/siapakah-teroris-sesungguhnya/
dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/13/dibalik-krisis/

Pada saat kini yang menurut pendapat pakar ekonomoi, presiden SBY tetap menjalankan sistem ekonomi neoliberal berdasarkan nasehat orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik walaupun Presiden berulang-ulang mengatakan bahwa pemerintahannya menjalankan ekonomi ”jalan tengah”. Apakah ini termasuk pula kebohongan sebagaimana yang telah diperingatkan oleh para ulama kepada pemerintah. Sedangkan analisa kami, orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik diduga telah berupaya ”menyingkirkan” pa JK ketika, ketika kebijakan beliau dalam bidang ekonomi, terlihat ingin memajukan perekonomian bangsa berdasarkan kemandirian ekonomi. Salah satu buktinya adalah negosiasi ulang kontrak-kontrak pertambangan dengan mereka yang pada hakikatnya adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Jadi pada zaman ini memerangi mereka bukanlah membunuh mereka karena mereka adalah ciptaan Allah atau kehendak Allah Azza wa Jalla, namun sebagai contoh adalah mengakhiri perjanjian kerjasama pengelolaan karunia Allah ta’ala berupa sumber daya alam dengan meningkatkan kemandirian.

Cara lain adalah agar dikeluarkan fatwa ulama untuk umara/penguasa sebagaimana yang kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/09/butuh-fatwa-ulama/

Insyalllah, apa yang kami lakukan dengan membuat tulisan ini dan menyampaikannya termasuk upaya memerangi mereka di jalan Allah. Semoga perbuatan kami termasuk yang dicintai oleh Allah ta’ala dan juga dicintai sesama manusia.

Amin ya Robbal Alamin.

Inti tulisan kami di atas adalah:

Provokasi tidak akan mendapat hasil atau kerusuhan tidak akan terjadi jika kita dapat mengelola rasa kebencian

Resume tulisan kami atau cara mengelola rasa kebencian adalah pada kalimat berikut,


"Untuk itulah kita harus dapat mengelola rasa kebencian dengan selalu sadar bahwa apapun atau siapapun yang menimbulkan rasa kebencian pada diri kita, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla."



dan


"Hal yang lain perlu diperhatikan dalam mengelola kebencian adalah dengan menjauhi sumber yang akan menimbulkan kebencian yakni upayakan untuk tidak menjadikan mereka teman kepercayaan"




 

Wassalamu'alaikum

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Senin, 07 Februari 2011

Muslim bukanlah ekstrimis

Muslim bukanlah Ekstrimis

Saat ini orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik mempropagandakan bahwa umat Islam cenderung bersikap ekstrimis. Bagi mereka sikap ekstrimis pada seorang muslim dikarenakan kebencian terhadap suatu kaum seperti kepada kaum Yahudi.

Padahal merekalah yang memang diciptakan oleh Allah ta’ala dengan rasa permusuhan terhadap kaum muslim.

Firman Allah ta’ala yang artinya,
“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Seorang muslim sejati tidak akan pernah membenci orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani karena orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani keberadaan mereka pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla. Jika kita membenci mereka maka kita pada hakikatnya adalah membenci kehendak Allah Azza wa Jalla.

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS Al Maaidah [5]:8 ).

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

Hal yang kami, umat muslim tidak setujui atau perangi adalah atas sikap/perbuatan mereka yang tidak baik bagi orang muslim seperti contoh sikap/perbuatan kaum Yahudi menjajah tanah Palestina. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/

Sangat disayangkan sebagian ulama muslim ada pula yang sependapat dengan mereka. Bahkan ulama-ulama di wilayah kerajaan dinasti keluarga Saudi bersama pemerintahan kerajaan bekerjasama dengan Amerika menyusun kembali atau mengkoreksi kurikulum pengajaran / pendidikan untuk menghindari yang menurut prasangka mereka adanya pemahaman dalam Islam yang menimbulkan rasa kebencian kepada suatu kaum atau agama yang lain.

Kami sangat menyayangkan adanya ulama yang mengakui adanya agama lain selain agama Islam. Dalam Al-Qur’an tidak pernah diakui adanya agama Yahudi maupun agama Nasrani, yang ada adalah kaum Yahudi dan kaum Nasrani dan mereka tidaklah dikatakan beragama sejak sampai kepada mereka tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam dan mereka mengenal Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa salam bagaikan mereka mengenal anak-anaknya sendiri.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

”ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan." (QS Al Baqarah [2]: 140)

Pada hakikatnya yang disampaikan dari sejak Nabi Adam a.s sampai dengan Rasulullah adalah menyampaikan agama Islam atau ke-tauhidan-an. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/agama-hanya-islam/

Dengan kerjasama menyusun kembali kurikulum pengajaran/pendidikan yang diupayakan penguasa kerajaan dinasti Saudi dengan persetujuan para ulama disana, membuktikan mereka telah tercemar paham SPILIS (sekulerisme, liberalisme dan pluralisme)

Perhatikan video pertama yang dimulai pada menit ke 2:56
http://www.youtube.com/watch?v=690j3fAWIZY
kemudian lanjutkan video kedua dari awal.
http://www.youtube.com/watch?v=48kUEx9iGk8

Berikut transkript subtitle yang kami dapatkan dari melihat kedua video tersebut.


***** awal transkript subtitle *****
Setelah bertahun-tahun melakukan pengawasan dan persiapan, salibis berhasil mengeset waktu untuk merubah kurikulum pelajaran di negeri dua tanah suci

Perwakilan pemerintah Amerika:
”Selama bertahun-tahun kami bekerja sama dengan pemerintahan Saudi untuk urusan menghapus segala apa yang mengarah kepada fanatisme terhadap kelompok-kelompok agama lain di dalam kurikulum pelajaran di Arab Saudi dan di beberapa tempat lainnya”. ”Hasilnya, pemerintahan Saudi di bulan Juli 2006 telah menetapkan untuk keperluan mengkoreksi dan memperbaharui buku-buku pelajarannya, juga menghilangkan semua celah besar yang mengarah pada kebencian terhadap berbagai kelompok dan agama lain”
”Sedangkan pemerintah Saudi telah menyebutkan bahwa mereka akan menyelesaikan proyek ini, di awal tahun pelajaran 2008”

Adapun langkah yang berbahaya adalah apa yang dilakukan Raja Abdulloh yang meminta untuk mendekatkan berbagai agama dan menyetujui suatu agama yang diridhoi oleh PBB dan dianut oleh seluruh bangsa.

Raja Abdullah:
”Saya meminta kepada seluruh agama yang turun dari langit” (samawi)
”Untuk berkumpul dengan saudara-saudara mereka dalam satu iman dan ketaatan kepada seluruh agama, karena kita menghadap kepada satu Tuhan”
”Saya pernah berpikiran untuk mengunjungi Vatican, dan sayapun telah mengunjunginya”
”Sayapun bertemu dengan Paus dan saya berterima kasih padanya”
”Saya berterima kasih (karena) dia menemui saya”
”Saya tidak akan melupakan pertemuan seorang manusia dengan seorang manusia”
”dan ketika itu aku tawarkan ide ini kepadanya yaitu untuk menghadap kepada Tuhan ~ Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~”
”Menghadap kepada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Mulia, dalam apa yang Dia perintahkan dalam agama-agama yang turun dari langit dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an”
”Kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Perkasa agar memberi petunjuk pada kita semua”
”Semua agama-agama ini kepada satu kalimat yang diperintahkan oleh Tuhan ~Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~ untuk dilaksanakan oleh manusia”
”Insyaallah dalam waktu sedekat mungkin, dan ketika kita berkumpul dan telah disetujui, Insyaallah, semuanya dalam kebaikan ~ semua agama”
”Saya akan pergi ke PBB, Saya juga yakin hingga orang yang beriman dengan Abrahamisme”
”Saya juga menginginkan mereka …. tapi ketiganya ini wajib bagi mereka Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan selebihnya Insyaallah semuanya baik”
”Pada mereka ada kebaikan, karena kemanusiaan mereka juga bagus”
”karena moral mereka juga bagus dan karena negara mereka juga bagus dan karena semuanya adalah keluarga”

Sungguh keluarga Saudi telah memulai ~dalam kemurtadan yang jelas ~ mepersiapkan sebuah agama baru , dan itu dilakukan dengan beberapa langkah. Yang pertama adalah konferensi Makkah yang terakhir yang mengumpulkan beberapa kelompok sesat dan menyimpang dari hukum Allah untuk menyetujui agama yang baru. Sebagaimana pada fase berikutnya ditawarkan kepada Yahudi, Nasrani dan Budha di konferensi Spanyol dengan munculnya sebuah agama yang disetujui oleh PBB dan agar bisa diterima oleh semuanya. Padahal cukuplah Allah bagi kita, dan (Dia lah) sebaik-baiknya Pelindung.
***** akhir transkript subtitle *****



Apa yang telah diperbuat para penguasa kerajaan dinasti Saudi dan atas sepengetahuan ulama-ulama disana memperlihatkan mereka condong bersekutu dengan Amerika. Hal ini juga diperlihatkan mereka dengan menjadikan Amerika sebagai penasehat baik bidang keamanan dan juga bidang penngelolaan sumber daya alam. Beda dengan ulama-ulama di negeri kita masih tetap memperjuangkan agar para penguasa/pemimpin negeri jangan ”condong” ke Amerika seperti penolakan ekonomi neoliberalisme. Tugas ulama adalah menyampaikan kepada penguasa/pemimpin negeri dan umat secara umumnya sedangkan bagaimana perubahan yang terjadi pada para penguasa/pemimpin negeri merupakan kehendak Allah ta’ala.

Begitu pula kita menyesalkan pemimpin-pemimpin negeri yang muslim mau menjadi "pemimpin boneka" Amerika seperti di Afghanistan, Palestina dan termasuk pemimpin seperti Husni Mubarak di Mesir yang saat ini sedang dalam kemelut besar. Begitupula kita menyesalkan Wakil Presiden Mesir, Omar Suleiman yang mempunyai "hubungan dekat" dengan Amerika.

Mereka adalah para pemimpin yang mempunyai ”hubungan dekat” dengan Amerika. Mereka menjadi pemimpin yang ”memenuhi” kepentingan Amerika. Pada hakikatnya mereka berkawan dengan Amerika, yang sangat berperan didalamnya adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Padahal Allah ta’ala telah memperingatkan dengan firmanNya yang artinya
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”
(Qs. Al Mujadilah : 22)

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui". (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

Selengkapnya mengenai kaum yang dimurkai Allah silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Sedangkan orang-orang Nasrani adalah kaum yang berkeinginan untuk menjadi orang-orang beriman namun mereka telah dipengaruhi oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi yang "mengaku" pengikut Nabi Isa a.s, atas kehendak Allah Azza wa Jalla telah dapat mempengaruhi pemahaman orang-orang Nasrani. Konsep mereka adalah Allah itu di surga sedangkan Yesus Tuhan yang dekat dengan manusia.

Bagaimanakah kita harus bersikap terhadap para pemimpin dan penguasa yang berteman dengan orang-orang yang memang telah diciptakan Allah Azza wa Jalla untuk dimurkai, marilah kita ikuti sabda Rasulullah berikut ini

Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang dungu.” Ka’ab bertanya, “Apakah kepemimpinan orang-orang dungu itu ?”. Beliau berkata, “Yaitu para penguasa yang ada setelahku, mereka tidak mengikuti tuntutanku, dan mereka tidak meneladani sunnahku. Siapa yang membenarkan mereka dengan kebohongannya dan membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bukan bagian dariku dan aku bukan dari mereka, serta mereka tidak akan menemuiku di atas telagaku. Dan siapa yang tidak membenarkan mereka dengan kebohongannya dan tidak membantu mereka di atas kezalimannya, maka mereka itu bagian dariku dan aku bagian darinya serta akan menemuiku di atas telagaku.” (HR. Ahmad, haditsnya Shahih)


Wassalamualaikum


Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Selasa, 01 Juni 2010

Kita diadu domba

Sadarlah saudara-saudara muslimku. Tampak jelas bahwa kita secara tidak disadari, telah di adu domba oleh orang-orang yang memusuhi Islam yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.
Sebagaimana firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam (khalfiah Turki Ustmani), maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat. Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa).

Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.

Inilah titik awal suksesnya propaganda orang-orang yang memusuhi Islam, karena kita mau menerima nation-state (kesatuan berdasarkan negara) atau yang dikenal dengan nasionalisme menggantikan aqidah-state (Wilayah kesatuan berdasarkan akidah/agama)

Sebagai contoh, Kerajaan Saudi, sejauh ini, sejauh yang kita tahu, mereka “melindungi” orang-orang Yahudi maupun orang-orang musyrik yang “masuk” ke negara mereka dengan alasan “terikat” perjanjian. Namun kita tak pernah tahu sampai kapan pernjanjian itu diakhiri. Begitu pula dengan pemerintahan/penguasa negeri kita.

Dengan ‘perjanjian” itu, mereka (orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik) mendapatkan kekayaan dari sumber daya alam yang dianugerahkan Allah kepada negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim.

Dengan kekayaan yang mereka peroleh, mereka gunakan memerangi saudara-saudara muslim kita di belahan dunia yang lain. Secara tidak lansung penguasa Saudi maupun penguasa negeri kita, ikut andil untuk membunuh saudara-saudara muslim tsb dengan adanya “ikatan perjanjian”. Wallahu a’lam

Silahkan baca lebih dalam pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/

Sedangkan bahaya laten "adu domba", silahkan baca pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/bahaya-laten/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/01/26/kekeliruan-pluralisme/

atau tulisan-tulisan atau kajian-kajian kami lainnya yang sejnis di atas, lihat blog ini, pada kotak indeks (sisi kanan) "Kategori Islam"

Sedangkan "adu domba" dengan propaganda modernisasi agama silahkan baca pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/10/modernisasi-agama/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/12/tanggapan-modernisasi-agama/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/04/14/divide-et-impera/
atau
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/04/29/keterhubungan-salafy/

atau tulisan-tulisan atau kajian-kajian kami lainnya yang sejenis, lihat blog ini, pada kotak indeks (sisi kanan) "Tentang Salafi Wahabi".

Salaf(i) atau Wahabi adalah kaum yang secara tidak langsung  / tidak disadari terkena adu-domba ataupun perang pemikiran (ghazwul fikri) dari  oleh orang-orang yang memusuhi Islam yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Wassalam

Kamis, 08 April 2010

Banyak Perbedaan

Kita pahami bahwa Allah menghendaki agar kita kaum muslim tidak bercerai-berai sebagaimana firmanNya yang artinya,

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).



Namun saat ini kita temui bahwa kita belum lagi bersatu dan menegakkan Ukhuwah Islamiyah karena terjadinya perbedaan pemahaman/i’tiqad/akidah.

Diantara yang berbeda dengan kaum Ahlussunah wal Jama’ah adalah  antara lain yang jumlahnya cukup banyak, kaum Syiah dan kaum Salaf(i) / Wahabi.

I'tiqad/akidah  kaum Syiah terlampau banyak perbedaannya dengan Ahlusunnah Wal Jama'ah diantaranya, kaum Syiah hanya mengakui hadits-hadits yang diriwayatkan Saidina 'Ali, Saidinan Hasan dan Husen dan mereka menolak hadits-hadits dari Saidina Abu Bakar, Umar dan Ustman, apalagi hadits-hadits yang dirawikan oleh Sahabat-sahabat Nabi dari suku Bani Umayyah, semuanya tak diterima.

Sebagian kaum Syi'ah ada yang mempercayai bahwa ruh Imam-imam itu turun temurun, dari Imam Ali turun ke bawah, turun lagi kebawah sampai kepada Imam yang ke 12, sehingga ruh itu menjadi suci.

Di dalam Islam tidak diakui paham "Ruh turun temurun". Setiap orang mempunyai ruh tersendiri yang akan bertanggung jawab kepada Tuhan bersama jasadnya tentang apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.

Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.

Bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, khalifah (yang dalam golongan Syi’ah dinamai Imam) adalah manusia biasa yang dapat salah dan lupa. Jadi tidak ma’shum sebagaimana pandangan Syi’ah

Lain lagi kaum Syiah aliran Abdullah bin Saba (Yahudi dari Yaman) yang meyakini Saidina Ali sebagai putera Mahkota dari Nabi Muhammad dan meyakini Ali tidak terbunuh melainkan Ali naik ke langit. Suara guruh dan petir adalah suara Saidina Ali yang marah melihat tindak tanduk Mu'awiyah, kata Abdullah bin Saba.

Salah satu pokok bagi i'tiqad kaum Syiah adalah at-taqiyah yaitu menyembunyikan paham yang sebenarnya dan melahirkan yang lain daripada yang ada dalam hati. Paham at-taqiyah ini sama dengan "membohong".  Bagi kaum Syiah kalau kita takut boleh melahirkan bohong, boleh melahirkan apa yang tidak ada dalam hati. Hal ini betentangan dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah dan tetap beranggapan termasuk golongan orang munafik.

Begitu juga ada perbedaan dengan I'tiqad kaum dengan pemahaman dari Muhammad bin Abdul Wahab atau dikenal dengan nama kaum Wahabi atau kaum Salaf(i).

I'tiqad Muhammad bin Abdul Wahab sepemahaman dengan I'tiqad Ibnu Taimiyah bahkan sebagian orang mengatakan lebih  lebih fanatik dan lebih radikal dari Ibnu Taimiyah.

Bagi saya pemahaman Wahabi cenderung menuju sekuler lebih mengutamakan urusan individu terhadap Tuhan dan "menyerahkan" urusan negara bagi penguasa. Sehingga mereka berpegang teguh untuk taat terhadap penguasa walaupun zhalim asalkan masih sholat dan penguasa tidak memerintahkan berbuat maksiat. Kecenderungan ini terjadi karena sikap pragmatis dari Muhammad bin Abdul Wahab..

Berdasarkan sejarah, gerakan da’wah wahabi pada awalnya ditolak dibeberapa tempat. Pahamnya tidak diterima di Basrah juga tidak diterima di “Ainiyah, sehingga ia diusir dari kedua tempat itu oleh penguasa. Guru-gurunya semua termasuk bapak dan kakaknya adalah ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini dapat dibaca dalam, buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi al Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi),  karangan kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahab.

Tersebut dalam sejarah, bahwa suatu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan ini.

Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab:  “lima”.
Sulaiman:  Tetapi kamu menjadikan enam!
Muhammad:  Apa, ?
Sulaiman:  Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
Muhammad    : Terdiam dan marah.

Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” yang tersebut di atas tadi.

Dari buku ini kita dapat melihat fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab yang ganjil-ganjil.

Pemahaman Abdullah bin Abdul Wahab sangat berbeda dengan pemahaman jumhur ulama (ulama pada umumnya) namun akhirnya dapat diterima di Dur’iyah.

Raja Dur’iyah bernama Muhammad bin Sa’ud  menolong Muhammad bin Abdul Wahab dalam penyiaran paham-pahamnya.

Maka bersatulah dua orang “Muhammad”, yang berlain kepentingan, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa’ud.

Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi (yang sesuai) untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.

Maka bersatulah antara paham agama dengan raja, sebagai bersatunya paham Syi’ah di Iran dengan Syah Iran dan bersatunya paham Syi’ah Imamiyah di Yaman dengan “Imam” yang menguasai Yaman (sebelum Republik).

Keturunan Muhammad bin Sa'ud yang akhirnya “menguasai” daerah Hijaz dan sekitarnya sehingga terbentuk Kerajaan Saudi Arabia.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik suka cita melihat pemahaman “nation state” (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme dapat diterima dan diwujudkan oleh kaum muslim di jazirah arab.

Padahal sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M.

Hadits yang diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan/hukum dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).

Contoh ikatan shalat yang terlepas adalah kaum Ahmadiyah tidak mau sholat berjamaah dengan kaum non Ahmadiyah. Ini sebagai contoh memang mereka berbeda dengan kaum Ahlus sunnah wal jama’ah.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ketika perang dunia dan penyerangan/ peperangan ke negeri/ wilayah muslim melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang  banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Oleh karenanya banyak tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah banyak tersimpan dengan baik di negeri-negeri yang dikuasai orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Merekapun turut membantu menyebarluaskan / penerbitan ulang karya-karya Ibnu Taimiyah  yang ulama sejaman dengannya banyak berbeda pendapat dengan harapan terjadi konflik sesama muslim. Mereka turut menyebar luaskan dengan dalih pembaharuan. Sedangkan di luar jazirah Arab mereka menakut-nakuti dan menganjurkan  kaum muslim untuk waspada terhadap paham Wahabi. Mereka sejatinya memecah belah umat muslim, “devide et impera” (farriq tasud).

Berpegang teguhlah pada peringatan yang di firmankan Allah yang artinya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sedangkan kaum Wahabi "mengundang" orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik untuk mendirikan pangkalan militer . Sehingga kaum Wahabi akan tetap menjaga dan melindungi mereka dengan dalil terikat perjanjian (al-mu’âhad).

Kaum Wahabi meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi yang membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik makin bertambah sehingga mereka sanggup membiayai persenjataan untuk mengganggu kehidupan dan membunuh saudara-saudara muslim kita dipelbagai negeri muslim.

Hal serupa terjadi pula di negeri kami Indonesia, dimana pemerintah selalu meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi, hasil alam, hasil tambang lainnya yang merupakan karunia Allah, sehingga membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang Musyrik bertambah banyak. Sehingga bertolak belakang dengan slogan "mendukung" saudara-saudara muslim yang sedang terjajah di negeri lain. Hal ini membuat pemimpin / penguasa menjurus kepada golongan orang munafik. Naudzubillah min zalik.  Semoga Allah memberikan kekuataan kepada para pemimpin / penguasa  untuk dapat  mentaatiMu dan Rasulullah serta berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.

Perbedaan pemahaman antara Wahabi dan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah ini yang dapat kita lihat dalam hal "pembiaran" masalah Palestina.  Walaupun Kerajaan Arab Saudi dan negara lain-lain yang tergabung dalam OKI sebenarnya mempunyai "kekuasaan" untuk menegakkan kebenaran terhadap masalah Palestina tidak lagi selemah-lemahnya bantuan hanya dengan doa semata.

Bagi kaum Wahabi, saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina (seperti HAMAS) adalah mereka yang tidak mengikut ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan mereka juga termasuk Ahlul Bidaah. Oleh karenanya fatwa-fatwa mufti Wahabi menyerukan (bahkan cenderung memastikan) bahwa saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina untuk bertobat.

Bagi kaum Wahabi, faktor penyebab berkuasanya kaum kuffar terhadap kaum muslimin  adalah semata-mata  kelemahan  dan  pertikaian  pada  kaum muslimin  itu  sendiri, mendurhakai  perintah Nabi Shallallâhu  ‘alaihi  wa  Sallam  dan  hasrat mereka  terhadap  dunia  yang  lebih  didahulukan.

Bahkan sebagian kaum Wahabi menuduh mereka berperang dgn Yahudi hanya karena tanah (hasrat terhadap dunia) bukan agama.

Sesungguhnya yang membuat Wahabi menjaga jarak dengan kaum Ahlu sunnah wal jamaah adalah salah satunya karena perbedaan pemahaman tentang bid’ah.

Nabi Muhammad Saw bersabda yang artinya

Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)

Arti kata-kata “dalam urusan kami” ialah urusan keagamaan, karena Nabi Muhammad Saw, diutus Allah untuk menyampaikan agama. Maka dari hadist ini dapat diambil pengertian bahwa kalau dalam urusan kedunian atau ghairu mahdah boleh saja diadakan asal tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Hal lain perbedaan kaum Wahabi dengan kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah  adalah keenganan mereka untuk berkelompok / berjama’ah / jama’ah minal muslimin karena kekhawatirkan akan terjadinya fanatik tahazzub (bergolong-golongan), hizbiyyah yang memecah belah kaum muslim. Padahal Allah mewajibkan kita berjamaah sesuai firmanNya yang artinya,



Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).

Agak aneh kita temui dalam terjemahan Al-Qur’an akhi-akhir ini kalimat “secara berjama’ah”  tidak dicantumkan.

Turunnya ayat ini,  suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban  dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing,  saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar peristiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?. Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpelukkan.

Sesungguhnya keenganan berjamaah adalah mendukung paham orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik, akan bersandar pada kekuatan individu. Sebagaimana mereka mensosialisakan demokrasi pemilihan langsung oleh rakyat/individu padahal kita lebih baik secara perwakilan (ahlul halli wal ‘aqdi) atau bersandar pada jama'ah yang berkompeten, berilmu dan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.

Dirikanlah jama’ah minal muslimin dengan semangat  Ukhuwah Islamiyah dan dalam harapan terwujudnya  jama’atul muslimin disaat Allah menghendakinya nanti.

Sekali lagi, mari kita tegakkan Ukhuwah Islamiyah tanpa memandang bangsa, suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah. Kita bersatu dalam kesatuan akidah Islam dan bersaudara sesama muslim.

Berikut pegangan kita untuk saling mengasihi dan bersaudara  karena Allah,

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs. Al-Hujjarat :10)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs Al-Hujurat : 13)

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian! (HR. Muslim).

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat mereka yang bukan para Nabi maupun para Syuhada, namun para Nabi dan para Syuhada cemburu dengan mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka? “ Beliau bersabda: ”Mereka adalah kaum yang saling mencinta dengan ruh Allah, mereka tidak diikat oleh hubungan keluarga di antara mereka maupun harta yang mereka kejar. Maka, demi Allah, sungguh wajah mereka bercahaya, dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Dan mereka tidak bersedih saat manusia bersedih.” Lalu beliau membacakan ayat: ”Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak merasa takut dan tidak bersedih hati.” (HR Abu Dawud 3060)

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
Sesunguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku”

Jalinan persaudaraan yang ada antara kaum muslimin adalah jalinan yang lahir akibat adanya persamaan yang mendasar antara kita, yaitu persamaan akidah tauhid yang terwujud melalui dua kalimat syahadat, dengan demikian seluruh yang mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi bersaudara.

Ukhuwah Islamiyah memiliki peranan yang penting bagi kehidupan muslim. Sehingga syareat Islam menggariskan beberapa aturan agar hubungan sesama kaum muslimin selalu Bagai tanaman yang harus dipupuk dan disiram, begitu pula ukhuwah Islamiyah haruslah dijaga dan dikokohkan.

Sekali lagi, marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah apapun suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah.

Klo kita bersatu maka akan ada kekecewaan dikalangan orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar bagi orang-orang mukmin.

Orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar adalah yang sesuai dengan firman Allah yang artinya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Jadi sekali lagi harus diingat bahwa yang mempunyai rasa permusuhan yang besar terhadap orang mukmin bukanlah sesama muslim.

Juga marilah kita "periksa" pemahaman / i'tiqad / manhaj / metode masing-masing agar kita mendapatkan kebahagian akhirat kelak.
Jika sepanjang hidup dengan paham / i'tiqad / manhaj yang dipilih ternyata hanya  disibukkan dengan "pembenaran", "mencari-cari" dalil semata sehingga tidak menegakkan/mendapatkan kebenaran sejati. Sebagaimana Saidina Ali mengingatkan, “kalimatu haqin urida bihil batil” yang artinya perkataan/dalil yang benar dengan tujuan yang salah atau perkataan/dalil yang benar untuk maksud / tujuan yang "lain".

Sekali lagi marilah kita berjalan diatas "kebenaran" dengan merujuk pada Al-Qur 'an dan Hadits dan hindarilah berjalan diatas "pembenaran" dengan Al-qur'an dan Hadits karena akan membuat anda lelah dan merugi.

Wassalam

Catatan :

Pemahaman penulis, Wahabi  berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah walaupun mereka mengakui sebagai/termasuk Ahlussunnah Wal Jama'ah atau mereka mengakui sebagai Ahlussunnah saja.

Tulisan terkait bacalah bahaya laten

Link terkait yang perlu kajian lebih lanjut dan otentifikasi (periksa kebenarannya).

Dinasti SAUD Satu Trah Dengan Yahudi ?

Bangsa Yahudi dan Palestina yang Sebenarnya

Rabu, 17 Maret 2010

Siapakah Teroris Sesungguhnya

Banyak peneliti yang menyatakan bahwa pemerintahan Bush telah  memanfaatkan sikap ekstrim Al-Qaeda sehingga terjadi peristiwa 11 September.

Pemerintahan Bush telah mengetahui rencana aksi Al-Qaeda. Namun pemerintahan Bush bukan hanya tidak melakukan pencegahan, bahkan ada kemungkinan mereka memasang bom di gedung kembar WTC sehingga kehancuran sepasang gedung tersebut lebih dramatis (informasi terkait mengenai fakta-fakta gelap peristiwa 11 September, dapat dibaca dalam majalah Eramuslim Digest edisi 2, The Dark Side of 911).

Berbekal “fitnah” tragedi 11 September lah, sesungguhnya sebagai alasan pemimpin Amerika untuk melakukan tindakan teroris sesungguhnya dengan menyerang Irak, Afghanistan dan negara lain yang "diduga" sebagai tempat persembunyian Al-Qaeda. Semua penyerangan dilakukan dengan dalih perang melawan terorisme.

Seperti yang kita dapat duga, lembaga dunia seperti PBB tidak dapat berbuat banyak bagi tindakan teroris yang dipimpin Amerika  karena adanya ketidak adilan dalam  pada Dewan Keamanan PBB dalam bentuk hak veto.

Begitu juga pada awal tahun 2009, PBB “membisu” dengan kejahatan perang (terorisme yang sesungguhnya)  yang dilakukan Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza, semua karena adanya hak veto.

Di zaman Pemerintah Soekarno, Indonesia pernah keluar dari PBB di tahun 1965 karena PBB telah menjadi boneka Imperaliasme dan neo-kolonialisme Amerika dan sekutunya. Ini terjadi setelah Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap DK PBB.

Jauh sebelumnya, pada 30 September 1960, Bung Karno menyampaikan pidato kenegaraan di Sidang Umum PBB yang mendapat gemuruh tepuk tangan dan semangat yang berkobar-kobar. Pidato yang berlangsung hampir 1 jam, berjudul “To Build the World A New” – Membangun Kembali Dunia Yang Baru.

Presiden Soekarno mampu melihat PBB yang saat ini dan akan datang hanya menjadi boneka. Banyak negara anggota hanya diam dan pasrah. Oleh karena itu, Soekarno mengajak semua elemen anggota PBB agar sigap melihat realita ini.

Berikut salah satu cuplikan pidatonya di SU PBB, 30 September 1960.
“…..Saya katakan pada Tuan-tuan: Janganlah bertindak sebagai alat yang tak tahu apa-apa dari imperialisme. Janganlah bertindak sebagai tangan kanan yang buta dari kolonialisme. Jika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, dan dengan begitu tuan akan membunuh harapan dari berjuta-juta manusia, yang tiada terhitung itu dan mungkin tuan akan menyebabkan hari depan mati dalam kandungan…..”

Kesimpulan pidatonya, Bung Karno menyatakan bahwa setelah KAA 1955 di Bandung, negara-negara dunia di Asia Afrika telah muncul menjadi kekuatan baru dunia ketiga. Karena itu, harus ada reformasi pada tubuh PBB. Hak Veto oleh 5 negara yang dapat sewenang-wenang menggunakan vetonya harus dihapus. [pemikiran Soekarno terlalu jauh ke depan...tidak ada Presiden yang begitu revolusioner] Dan hal yang menarik, Soekarno menyarankan Markas PBB harus dipindahkan dari New York ke negara yang tak terpengaruh oleh blok AS maupun Uni Soviet.

Apa yang Bung Karno ucapkan 4 tahun yang lalu, ia tetap konsisten. Setelah Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap DK PBB [manefestasi dari neo-kolonialsme], maka pada tanggal 7 Januari 1965, Indonesia keluar dari PBB.  Beberapa bulan kemudian dengan tragedi G30S yang berujung penggulingan Soekarno dan setelah Soekarno digulingkan oleh tentara Orba yang menjadi antek neo-liberalisme dan imperialisme, Indonesia kembali bergabung dengan PBB.

Saat ini pun para pemimpin negeri masih menjadikan kaum kuffar sebagai “teman kepercayaan” dengan taat dan santun tetap menjalankan konsep ekonomi neo-liberalisme walaupun dalam masa kampanye dikatakan sebagai konsep ekonomi jalan tengah.

Begitu juga pemimpin negeri yang mengaku muslim, tetap taat kepada “Washington consensus” . Padahal sewaktu masa kampanye, sempat berkomitmen dengan Amien Rais untuk tidak lagi memperhatikan “Washington consensus”. Namun apa daya teman kepercayaan dari Boediono maupun Sri Mulyani adalah dari IMF dan penasehat-penasehat ekonomi lainnya dari kaum kuffar.

Ironis, mereka semua pemimpin negeri ini yang mengaku muslim namun tidak memperhatikan firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” ,  (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali Imran, 119)

Pada kasus Bom Bali 12 Oktober 2002, intelijen asing dengan komprador intelijen lokal memanfaatkan ekstrimisme jihad dari sisa-sisa jaringan JI. Saat itu dua buah bom meledak di Bali. Bom pertama meledak di Paddys Café, termasuk berdaya ledak rendah (low explosive). Disusul kemudian dengan ledakan bom berkekuatansangat tinggi (high explosive) di Sari Club, Kuta.

Saat itu pemerintah Bush tengah gencar merekrut negara-negara lain, salah
satunya Indonesia, agar mau bergabung dalam perang melawan terorisme.

Khawatir akan reaksi umat Islam, pemerintah Megawati kala itu gamang merespon ajakan Bush.

Lalu terjadilah Bom Bali sehingga Megawati pun ikut berperan aktif dalam
kampanye perang melawan terorisme yang diusung Amerika. Segera terjadi berbagai penangkapan terhadap para aktivis Islam. Muncul pula persepsi di masyarakat umum bahwa orang-orang yang menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh, termasuk dalam hal politik, maka orang-orang tersebut berpotensi menjadi teroris.

Amrozi dan kawan-kawannya telah mengakui membom Paddys Café, yang berdaya ledak rendah. Namun mereka menolak sebagai pelaku yang meledakkan bom berkekuatan sangat tinggi di Sari Club. "Kami tidak memiliki kemampuan untuk membuat bom sedahsyat itu, " ujar Imam Samudera. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), ZA Maulani menyatakan bahwa yang meledak di Sari Club adalah bom mikro nuklir. Sementara yang memiliki akses nuklir hanyalah beberapa negara tertentu, seperti Amerika dan Israel.

Joe Vialls, seorang investigator independen dari Australia, juga meyakini bom yang meledak di Sari Club adalah mikro nuklir karena ada efek cendawannya.

Dengan kejadian-kejadian tersebut membuat saya yakin dengan peringatan Allah,

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik" (Al Maaidah: 82).

Apakah kita masih saja ingin “lanjutkan” tidak memperhatikan firman Allah ?

Salam.

Zon di Jonggol

Sumber:

http://studislam.blogdetik.com/2009/12/10/gerakan-islam-dan-jihad-di-era-tanpa-daulah/

http://nusantaranews.wordpress.com/2009/01/04/indonesia-ancam-keluar-dari-pbb-mungkinkah/

http://www.detiknews.com/read/2009/05/03/013039/1125278/700/andi-3-syarat-pan-sudah-dipraktekkan-demokrat

Selasa, 23 Februari 2010

Bahaya Laten

Bahaya Laten Orang-Orang Yahudi. Dan Orang-Orang Musyrik

Secara umum bahaya laten adalah bahaya atau ancaman secara sistemik, terorganisir yang ada, namun kehadirannya tidak disadari dan mengganggu sendi-sendi kehidupan manusia baik dalam hal beragama, berpolitik, berideologi, bernegara dll.

Lalu mengapa kita harus menyoroti orang-orang Yahudi  dan orang-orang Musyrik?

Sesuai dengan firman Allah,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Selanjutnya kami menulis  mereka (dalam huruf miring/italic) adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Kecuali dalam firman Allah atau Hadits yang memang biasa tertulis dalam huruf miring/italic



Bahaya Laten pada  zaman Rasulullah.

Abu Al-Yaman telah menceritakan pada kami, Syuaib telah mengabarkan pada kami dari Al-Zuhri, ia berkata: Abu Salamah ibn Abdurrahman telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Said Al-Khudri r.a. berkata, “Ketika kami berada di samping Rasulullah, sementara Beliau sedang membagikan bagian harta (rampasan perang), dating kepadanya Dzul Huwaishirah. Ia adalah seorang laki-laki dari Bani Tamim. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah Engkau!” Rasul pun menjawab, “Celakalah engkau! Siapa lagi yang akan berbuat adil kalau aku tidak berlaku adil? Kau pasti akan kecewa dan merugi kalau aku tidak berbuat adil.” Umar kemudian berkata, “Izinkan aku, wahai Rasulullah, untuk memukul tengkuknya.” Beliau menjawab, “Biarkan saja dia. Sebab, dia memiliki teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka......

Dalam kasus Rasulullah Saw. mereka yang kurang ilmu ini memprotes Rasulullah saat membagikan ghanimah. Mereka menuduh Rasulullah Saw. tidak adil karena tidak membagi rata harta itu. Jelas ini kebodohan. Rasulullah tentu lebih tahu daripada orang ini. Tapi, dia merasa bahwa dialah yang benar. Inilah sifat dasar orang-orang Khawarij.

Semasa Rasulullah Saw. memang belum terjadi fitnah karena mereka. Sebab, saat para sahabat ingin memerangi mereka, oleh Rasulullah Saw. dicegah. Rasulullah Saw. tahu di belakangnya ada teman-teman mereka yang sifatnya sama. Sangat mungkin saat temannya dianiaya, mereka akan mengobarkan perang melawan Rasulullah Saw. dan sahabatnya. Padahal, mereka bukan orang “kafir.” Shalat, shaum, dan ritual mereka boleh dikatakan di atas rata-rata orang kebanyakan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang akan merusak Islam. Rasulullah Saw. memilih menjauhkan mereka dari Madinah. Dan mereka memilih tinggal di suatu kampung bernama Haruri. Oleh sebab itu pula, mereka sering disebut kaum Haruriyyah.

Sedangkan kisah suku Aus dan Khajraj. Pada masa Jahiliyah kedua suku tersebut saling bermusuhan dan berperang selama 120 tahun. Setelah mereka memeluk Islam Allah menyatukan hati mereka sehingga mereka menjadi bersaudara dan saling menyayangi.

Ketika orang-orang Aus dan Khajraj sedang berkumpul dalam satu majlis, kemudian ada seorang Yahudi yang melalui mereka, lalu ia mengungkit-ungkit permusuhan dan peperangan mereka pada bani Bu’ats.  Maka permusuhan diantara kedua suku tersebut mulai memanas kembali, kemarahan mulai timbul, sebagian mencerca sebagian lain dan keduanya saling mengangkat senjata, lalu ketegangan tersebut disampaikan kepada nabi shallallahu alaihi wa salam. Kemudian beliau mendatangi mereka untuk menenangkan dan melunakkan hati mereka, seraya bersabda:

“Apakah dengan panggilan-panggilan jahiliyah, sedang aku masih berada di tengah-tengah kalian?.” Lalu beliau membacakan Ali Imron ayat 103 yang artinya,

'Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya  agar kamu mendapat petunjuk”

Setelah itu mereka menyesal atas apa yang telah terjadi dan berdamai kembali seraya berpeluk-pelukan dan meletakan senjata masing-masing.



Bahaya laten pada zaman sahabat nabi.

Fitnah paling besar yang ditimbulkan oleh orang-orang Khawarij terjadi pada masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib yang dimulai saat terbunuhnya Utsman ibn ‘Affan. Kekerasan yang mereka lakukan dipicu oleh kekecewaan mereka terhadap keputusan Ali ibn Abi Thalib untuk berdamai dengan Mu’awiyah setelah Perang Shiffin melalui perundingan Tahkim.



Mereka semula mendukung Ali ra. dan berlindung di bawah kekuasannya setelah sebelumnya terlibat dalam pembunuhan Utsman ibn ‘Affan. Agar kejahatan mereka tidak terbongkar, mereka ingin memanfaatkan Ali ra. dengan bersegera membai’atnya sebagai Khalifah dan masuk menjadi barisan pendukung Ali.

Mereka tahu bahwa Aisyah, Thalhah, Zubair, dan Mu’awiyah sangat vokal meuntut alas atas kematian Utsman. Namun, mereka pula yang memprovokasi Ali dan pasukannya untuk memerangi mereka atas nama tindakan bughât.

Perang Jamal dan Shiffin yang sama-sama tidak diinginkan oleh para sahabat yang mulia itu akhirnya terjadi. Pemicu meletusnya kedua perang itu adalah orang-orang Khawarij yang posisinya juga dimanfaatkan oleh Abdullah ibn Saba, pentolan Yahudi-Munafik yang menjadi dalang dari semua fitnah pada masa Khulafaur-Rasyidin.

Saat Ali memutuskan untuk berdamai dengan Mu’awiyah dan melakukan perundingan (Tahkîm), serta masng-masing pihak menyadari kekeliruannya, terlihatlah watak asli kelompok ini Mereka terlihat sangat kecewa; dan akhirnya membuat makar terhadap otoritas kekuasaan Ali ra. Makar yang berakhir dengan pembunuhan keji yang mereka lakukan terhadap Khalifah kekasih Rasulullah Saw. ini.

Orang yang membunuh Ali bernama Abdurrahman ibn Muljam. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa pembunuh ini sebenarnya sangat tidak pantas menjadi seorang pembunuh, apalagi membunuh Ali bin Abi Thalib yang sudah dijanjikan Allah Swt. akan masuk surga.

Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan Al-Qurannya sangat baik. Karena bacaannya yang baik itu, pada masa Umar ibn Khattab, ia diutus untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-’Ash.

Namun, karena ilmunya yang dangkal, sesampai di Mesir ia malah terpangaruh oleh hasutan orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun terpengaruh. Ia tinggalkan tugasnya mengajar dan memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Ali ibn Abi Thalib.

Pada masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia diadili. Hukuman Qishash pun dijatuhkan padanya. Saat hendak dipenggal kepalanya, ia berteriak,  “Jangan kau penggal kepalaku sekaligus! Potonglah bagian-bagian tubuhku sedikit demi sedikit supaya aku menyaksikan bagaimana tubuhku disiksa di jalan Allah!” Lihatlah betapa ia dengan sangat percaya diri meyakini bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ali ibn Abi Thalib kekasih Rasulullah Saw. adalah sebuah kebenaran. Ia tidak pernah merasa bahwa hal demikian melanggar aturan yang jelas dalam Islam.

Sedemikian hebat peran Khawarij dalam menghancurkan barisan umat Islam. Sampai-sampai Rasulullah Saw. mensinyalir bahwa sampai kiamat orang-orang yang berperilaku semacam ini akan ada sampai hari kiamat.

Mereka tetap akan mengibarkan panji-panji Islam. Perilaku keseharian mereka mencerminkan orang yang dekat dengan Allah Swt., namun kebodohan mereka telah menyeret mereka ke lembah kenistaan dan pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah Swt.

Pada umumnya mereka akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan kekuasaan atau ekonomi untuk melakukan tindakan-tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam, namun mereka melakukannya atas nama Islam.

Dalam kasus ini yang paling dirugikan adalah Islam. Rasulullah mengibaratkan apa yang mereka lakukan seperti anak panah yang mengoyak binatang buruan dengan sangat cepat, tapi tanpa bekas. Dari ujung sampai pangkal anak panah tidak terlihat bekas sama sekali saking cepatnya anak panah itu menyambar dan menembus tubuh binatang buruan itu. Binatang itu mati, tapi tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya. Jangankan pelakunya, jejak pada anak panah pun tidak ada.

Belajar dari peristiwa gencatan senjata dalam perang “Shiffin” antara tentara Saidina ‘Ali dan Saidina Mu’awiyah maka kedua belah pihak mengangkat suatu panitia yang terdiri dari dua golongan yang bermusuhan ini. Panitia ini tujuannya untuk menjadi hakim dalam perselisihan ini, yakni mencari jalan untuk terlaksananya perdamaian antara dua golongan ummat Islam yang melakukan perang saudara.

Sekumpulan orang “khawarij” tidak mau menerima terbentuknya panitia penyelesai itu, karena menurut pendapat mereka hukum tidak boleh diminta kepada manusia, tetapi harus diminta kepada Allah.  Mereka mengeluarkan semboyan: “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah.

Ketika disampaikan kepada Saidina ‘Ali semboyan orang khawarij ini,  beliau menjawab:  “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah)

Pesan Saidina ‘Ali ini sebaiknya untuk selalu diingat kaum muslim untuk menghadapi bahaya laten dari orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Bahaya Laten pada masa akhir kekhalifahan Turki Ustmani

Sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal.

Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Jumlah orang-orang kafir pun meningkat. Lewat penguasaan jaringan media dunia, Yahudi Internasional menghembuskan stigma jahat kepada Turki Utsmani jika Turki merupakan “The Sickman From Asia”, Orang Sakit Dari Asia. Sejumlah kebijakan ekonomi Turki disabotase. Dan perekonomian Turki pun terpuruk.

Dari luar, strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari’at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.

Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.



Bahaya Laten dalam Pemikiran / Pemahaman / Akidah / I’tiqad.

Mereka adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus) yang mengubah esensi dasar agama Nasrani dari yang hanya sebagai agama kaum Nabi Isa menjadi agama misi ke seluruh dunia. Mereka adalah Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman) yang memecah umat Islam. Mereka adalah Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka adalah Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia. Mereka adalah Snouck Hurgronje (Yahudi Belanda) yang pura-pura masuk Islam dan menggunakan ‘keIslamannya’ sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam Indonesia.

Mereka juga membuat/mengarahkan agama baru seperti Bahaiyah  yang  didirikan  seseorang Freemason  Abdulbaha.

Ahmadiyah  didirikan  oleh  seorang Freemasonry  India  Mirza  Ghulam  Ahmad,  yang  radikal  disebut aliran  Qadyani,  dan  yang  halus  disebut  aliran  Lahore.  Biaya dakwah dan  tablighnya  itu dari Freemasonry  International melalui penguasa  Inggris.

Freemasonry  pun  mensponsori  terbentuknya tharekat-tharekat Islam yang berfatwa dan bergerak sejalan dengan ajaran  Freemasonry  itu,  di bentuknya  pada  tahun  1946  gerakan Quraniyah  dipimpin   oleh  Syekh  Yakub dari  Palestina,  segala sesuatu harus berdasar Qur’an  tanpa  tafsir dan semua hadits Nabi saw  ditolaknya,  sehingga  mereka  shalat  dan  saum  hanya berdasarkan  Qur’an,  tidak  ada  raka’at  dalam  shalat,  tidak  ada bacaan  tertentu  dalam  shalat,  tidak  ada  adzan,  qamat  dsb.



Mereka melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang  banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Biasa mereka lakukan pengrusakan disaat peperangan/penyerangan wilayah/negara Muslim.  Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Ingat pesan Saidina Ali Rda, “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan maksud/tujuan yang salah).

Setelah mereka pelajari dan sesuai dengan maksud/tujuan mereka maka mereka “menyebar luaskan” dan membantu/mendanai penerbitan buku-buku / tulisan tersebut. Setelah mereka berhasil “menyusupi” Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) ke Arab Saudi, diawali  dengan konsep keamanan dan bentuk negara kerajaan maka selanjutnya mereka “seolah-olah” mendukung kemajuan Islam dengan membantu menerbitkan buku-buku karya Imam Muslim yang sesuai dengan maksud/tujuan mereka minimal adalah upaya menimbulkan konflik dan pertentangan dikalangan muslim diseluruh dunia.

Pemikiran dan pemahaman yang cocok menurut mereka adalah pemikiran dan pemahaman seperti Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabiyyah) yang menginduk pada pemikiran salaf ala Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah melakukan penafsiran Al-Qur’an dan Hadits yang sebagian pihak memberikan istilah “Pemurnian Pemahaman” dalam arti bahwa penafsiran dilakukan secara harfiah, yakni menurut lahir lafazhnya saja. Banyak ulama-ulama yang sezaman dengan Ibnu Taimiyah, menentang pemikiran/pemahaman Ibnu Taimiyah bahkan mengakibatkan beliau dipenjara.

Metode pemikiran, pemahaman atau penafsiran Ibnu Taimiyah terhadap Al-Qur’an dan Hadits dan dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, mudah dipahami mereka dan sesuai dengan maksud/tujuan, salah satunya adalah timbul pertentangan dengan ulama/imam pada umumnya, anti mazhab, bahkan ada pemahaman saling “mengkafirkan” atau saling “mensesatkan” .

Sebagian kaum muslimin yang sepahaman dengan Ibnu Taimiyah dan/atau dengan Muhammad bin Abdul Wahab dapat berlaku keras/kasar kepada sesama muslim namun mereka bisa berlaku lembut/lunak kepada orang-orang Yahudi maupun orang-orang musyrik.  Perhatikan fatwa Ibnu Taimiyah yang dapat digunakan pihak lain untuk maksud/tujuan mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata , ”Seorang mu’min terhadap mu’min lainnya bagaikan kedua tangan, salah satu mencuci tangan yang lain, namun bisa saja kotoran ( yang melekat ditangan) tidak bisa hilang kecuali dengan bentuk cara (pembersihan) yang keras/kasar. Namun (cara keras/kasar seperti) itu benar-benar mendatangkan kebersihan dan kehalusan (pada tangan) yang membuat kita memuji cara yang kasar tersebut.” [ lihat : Majmu' Fatawa XXvIII/53-54]

Bagi Ibnu Taimiyah, hak pertama yang harus diperoleh oleh non muslim adalah perlindungan terhadap ancaman eksternal dan internal. Untuk perlindungan dari ancaman dari luar, umat Islam, termasuk pemerintahannya berkewajiban menggunakan segala potensinya, meski jumlah kelompok non muslim hanya hitungan jari.

Ibnu Hazm, Ahli Fiqh terkenal, berpendapat: “Bila ada tentara yang masuk ke negara kita untuk menyerang ahli zimmah (kelompok non muslim), kita harus membela mereka dengan senjata sampai nafas terakhir, demi membela orang dilindungi Allah dan RasulNya. Siapa yang tidak melakukannya, berarti telah melecehkan perjanjian perlindungan dengan Allah dan Rasul.

Al-Qurafi dari mazhab al-Maliki menambahkan bahwa ‘perjanjian’ yang membawa korban nyawa dan harta umat Islam untuk melindungi Ahli Kitab adalah perjanjian yang maha agung.

Sikap Ibnu Taimiyah terhadap kelompok non muslim, juga mencerminkan betapa konsistennya terhadap perjanjian perlindungan dalam Islam (zimmah). Ketika tentara Tartar hanya membebaskan tawaran orang Islam, Ibnu Taimiyah berkata kepada komandan Tartar waktu itu: “Kami tidak rela, kecuali kalau semua tawanan Yahudi dan Nashrani dibebaskan, karena mereka dalam perjanjian perlindungan dengan kami (zimmah). Kami tidak rela membiarkan orang Zimmah dan kelompok agama lain tetap menjadi tawanan .

Perlindungan jiwa dan kekayaaan kelompok non muslim, menurut Ma’badi, mencakup perlindungan kekayaan yang dilarang dalam Islam spt minuman keras dan babi dan melaksanakan ritual yang bertentangan dengan ajaran agama. Termasuk juga, kesaksian selama tidak terkait dengan masalah agama Islam spt perkawinan dan perceraian.

Hak non muslim lainnya adalah kehidupan yang layak di hari tua dan merupakan fardu kifayah bagi umat Islam; pembebasan bila ditawan musuh; dan menduduki jabatan publik selama tidak terkait langsung dengan ajaran Islam spt Imam, Jihad dan sebagainya .

Sebagian muslim yang sepahaman dengan Ibnu Taimiyah dan/atau sepahaman dengan Muhammad bin Abdul Wahab bahkan dapat menolak mengibaratkan orang-orang yahudi zionis bagaikan Ya’juj Ma’juj hanya dikarenakan kaum Zionis, walaupun kebanyakan mereka datang dari berbagai negara Eropa, akan tetapi mereka adalah kaum Yahudi keturunan Sam bin Nuh. Mereka hanya menyandarkan kepada keturunan saja tanpa melihat realita yang sesungguhnya.

Saat ini sebagian orang tua di negara kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia mulai ada ke khawatirkan jika anaknya melanjutkan pendidikan agama di Arab Saudi, sehingga mereka menyatakan pendapat bahwa, “berhati-hatilah karena jika anakmu kembali mereka memungkinkan untuk “mengkafirkan” orang tuanya.

Begitu juga sebagian orang tua di negara kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia mulai ada ke khawatiran jika anaknya melanjutkan pendidikan di Universitas Islam (IAIN dahulunya) di Indonesia karena mereka khawatir jika anaknya selesai pendidikan akan berpahaman liberal.

Paham liberal yang didapat oleh ulama/imam Indonesia yang didapat dari pendidikan di Barat seperti Amerika.  Pendidikan yang dibiayai oleh mereka yang sesungguhnya adalah orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman.



Bahaya laten dengan mecerai-beraikan umat muslim.

Sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M. Lalu “mereka” (orang-orang yang keras permusuhannya dengan orang beriman) merubahnya dan memecah ukhuwah Islamiyah kedalam nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme. Sehingga saat ini, kita dengan sesama negara tetangga  seperti Malaysia yang muslimpun dapat terjangkit permusuhan hanya berdasarkan nasionalisme.

Kemudian dalam bentuk nation-state atau negara  dalam kesatuan bangsa, “mereka” memecahkan kekuatan negara dengan konsep desentralisasi atau otonomi daerah.

Mereka juga mengupayakan memecah “kekuatan” negara kepada warganegara masing-masing dengan memasyarakatkan demokrasi secara langsung, yakni pemilihan kepala negara  / presiden dipilih langsung oleh rakyat. Padahal Negara kita bertahun-tahun telah menerapkan pemilihan kepala Negara / presiden dipilih dengan sistem perwakilan, oleh orang-orang berkompeten, berilmu dan utusan golongan.  Hal ini menyerupai dengan system syariah Islam yang salah satunya menggunakan prinsip perwakilan/legislatif atau dikenal dengan istilah ahlu halli wal aqdhi ., berisikan orang-orang yang berkompeten, berilmu dan utusan golongan yang diharapkan dalam memutuskan berpegang teguh pada Al Qur’an dan Hadist.

Saat ini, pemilihan presiden/kepala negara di negeri kita bagaikan acara pemilihan penyanyi secara idola atau besarnya tanggapan pemirsa/penonton (idol). Kita bisa bandingkan hasil pemilihan  yang dilakukan oleh pemirsa/penonton  dengan pemilihan yang dilakukan oleh orang-orang berkompeten seperti dewan juri.

Begitu juga dalam urusan akidah, mereka memecah kekuatan berjamaah, berkelompok, bermahzab menjadi kekuatan-kekuatan individu masing-masing dengan mensoalisasikan pemikiran anti mahzab, hizb, kelompok.

Mereka mencari pembenaran dari pemahaman Ibnu Taimiyah yang dilanjuti Muhammad bin Abdul Wahab. Tanpa kita sadari mereka membuat sebagian umat muslim tidak mempercayai ulama/imam, padahal Allah telah berfirman, ” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 ).  Sebagian dari mereka menyempitkan batasan ulil amri kepada imam/ahlu bait.

Sebenarnya mereka memang telah berniat untuk menghilangkan pengaruh ulama/imam/mujtahid (mereka menyebut rohaniawan non yahudi) dari kaum muslim perhatikan apa yang mereka sebut dengan protokol.

Protokol Zionis yang ketujuhbelas

…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para “rohaniawan non-Yahudi” dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..

Dengan memasyarkatkan “tidak mempercayai ulama/imam/mujtahid”,  mereka juga berupaya “memberatkan” kaum muslim untuk seluruhnya mempunyai kemampuan ijtihad (pemahaman/penafsiran) atau memecah kekuatan kaum muslim kepada kemapuan/kekuatan individu muslim masing-masing.

Arti Ijtihad menurut ilmu Usul-fiqih yang terpakai dalam syari’at Islam ialah “usaha seorang ahli fiqih menggali dan mengeluarkan hukum-hukum fiqih yang tersirat di dalam Qur’an dan Hadits”

Di dalam ta’rif ini ada beberapa unsur:

  1. Usaha seorang ahli fiqih.

  2. Ahli fiqih.

  3. Menggali dan mengeluarkan hukum fiqih.

  4. Hukum fiqih yang tersirat.

  5. Dari dalam Al Qur’an dan Hadits.


Usaha seorang yang bukan ahli fiqih tidaklah dinamakan ijtihad. Yang dinamakan ahli fiqih ialah seorang ulama atau katakanlah sarjana yang dalam ilmunya dalam bahasa Arab, dan dalam pula ilmunya dalam tafsir Al Qur’an dan Tafsir Hadits, yang dengan ilmunya itu mempunyai kesanggupan mengeluarkan hukum-hukum agama yang akan dipakai seluruh ummat Islam. Ahli fiqih yang seperti itu dinamai Imam Mujtahid.

Adapun orang awam atau rakyat banyak yang tidak sanggup berijtihad boleh mengikuti saja kepada Imam Mujtahid itu dan mereka dinamai “pengikut” atau “muqallid” atau orang yang taqlid. Jadi arti taqlid ialah mengikuti imam-imam Mujtahid; bukan mengikuti bapak-bapak, bukan mengikuti orang-orang dulu, bukan mengikuti nenek-moyang.

Mereka berupaya agar umat muslim terpecah kepada kekuatan individu dengan memperjuangkan hak-hak indinvidu. Sehingga memungkinkan terjadi kompetisi pada sesama individu dan individu yang kuat yang akan berkuasa dan memimpin. Sehingga pada akhirnya akan tercipta penghambaan kepada manusia sesuai dengan maksud/tujuan mereka menguasai dunia, satu pemimpin (the new world order). Bagi mereka, manusia dalam perwujudan tertinggi menyerupai Tuhan.

Lihat SABILI No. 16 Th XVII, 4 Maret 2010, 18 Rabiul Awal 1431, hal 30

Bagi mereka tidak ada Tuhan (Allah). Nabi Adam hanya mitos, karena manusia berasal dari proses evolusi (teori Darwin). Alam semesta berjalan sendiri tanpa campur tangan Tuhan, karena Tuhan juga dianggap mitos. Bahkan saking keblingernya mereka meyakini “manusialah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya.

****

Akhirnya, baiklah kita selalu mengingat bahwa sesama muslim adalah bersaudara meskipun di negara yang berbeda. Marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah, persatuan dalam aqidah Islam apapun cara,jalan,metode,manhaj,mazhab,aliran,kelompok .dalam hal mendalami agama Islam, asalkan selalu berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits.

Sebaiknya selalu diingat firman Allah bahwa,

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat, kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu.

Setinggi apapun pencapaian pemahaman agama Islam, sebaiknya tidak menganggap muslim lain lebih rendah dan berlaku sombong. Allah berfirman,

”Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS al-Qashash : 76).

Dalam berda’wah kepada non muslim apalagi mengingatkan kepada sesama muslim lakukanlah dengan sebaik-baiknya perlakuan dan bersabarlah. Sungguh umat muslim yang marah, emosi dalam berda’wah menunjukkan ketidak-dekatan dengan Allah dan bukanlah sebagai muslim yang terbaik (muslim yang pada tingkatan seolah-olah melihat Allah atau paling tidak muslim yang yakin bahwa segala perbuatannya selalui dilihat Allah).

Seberapapun  kita merasa tinggi dalam beribadah ingatlah selalu  hadits Rasulullah bahwa, …. yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka.

“Tidak sampai melewati tenggorokan mereka”, inilah yang terjadi, ada sebagian umat muslim, semakin hari semakin merasa ibadah mereka seperti rutinitas yang “kering”. Pengajian yang mereka ikuti, bagi mereka memang terasa lebih “ilmiah”dan “masuk-akal” namun kurang terasa “kedalamannya” pada lubuk hati mereka. Mereka mendalami Al-Qur’an dan Hadist sebagaimana ilmu pengetahuan semata

Wallahu a’lam

Pustaka buku:

  1. Zionisme – Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era Habibi)

  2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya

  3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara

  4. Freemansory di Asia Tenggara , Abdullah Pattani

  5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman

  6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas

  7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah

  8. I'tiqad Ahlussunah Wal Jama'ah, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru

  9. "40 Masalah Agama", Buku 1 s/d 4, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru

Rabu, 10 Februari 2010

Baha'iyah

Salah satu kekeliruan terjadi ketika Abdurrahman Wahid menjabat sebagai presiden RI. Beliau mengeluarkan Keputusan Presiden RI Nomor 69 Tahun 2000, Tentang pencabutan Keputusan Presiden RI No. 264 Tahun 1962, tentang larangan adanya organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loge  (Loge Agung Indonesia), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization of Rosi Crucians (AMORC) dan Organisasi Baha’i

Larangan terhadap organisasi-organisasi bentukan atau pendukung kaum Yahudi / Zionisme ditambah organisasi Baha'i  (organisasi yang berusaha menyatukan semua agama) dikeluarkan oleh Presiden I RI, Sukarno.

Menurut kabar, sesungguhnya "kejatuhan" Sukarno, salah satunya ditenggarai karena terbitnya Keppres No. 264 tahun 1962, yang "mengusik" kaum Yahudi dan menggerakkan "konspirasi".

Sama pula dengan "kejatuhan" Suharto,  ada sebuah analisa bahwa kejatuhan Suharto (semula “a good boy” Amerika) karena adanya kemungkinan jika kekuasaan Suharto “diperpanjang” maka akan terjadi kebangkitan Islam di Indonesia. Untuk itu Rakyat Indonesia harus “diusik” dengan sesuatu.

Amerika mulai “terusik” oleh kelakuan Suharto, diawali pada tahun 1992, gerakan Non Blok putuskan untuk mengirim utusan Palestina ke negara-negara Arab adalah untuk langsung terlibat dalam negosiasi-negosiasi yang mendukung usaha Palestina memperoleh haknya kembali yang mana keputusan yang diambil oleh Ketua GNB – Presiden Soeharto mendapat dukungan dari Menlu Palestina Farouk Kaddoomi seusai sidang Komite Palestina GNB di Bali yang dalam hal ini menurutnya keputusan tersebut menunjukkan dukungan Gerakan Non Blok kepada rakyat Palestina dalam memperoleh haknya kembali dan akan berusaha membuat warga Israel mundur dari kawasan yang diduduki. Komite Palestina GNB terdiri dari Aljazair, India, Bangladesh, Senegal, Gambia, Zimbabwe, Palestina dan Indonesia, komisi GNB untuk Palestina diketuai oleh Indonesia.

(lihat tulisan sebelumnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/13/dibalik-krisis/ )

Baha'iyah

(Sumber: I'tiqad Ahlussunah Wal Jama'ah, K.H. Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru)

Kepercayaan Bahaiyah timbul dalam kalangan kaum Syi’ah Imamiyah di Iran pada abad ke 19. Ada seorang Syi’ah namanya Mirza Ali Muhammad (meninggal tahun 1853 M). Ia mendakwakan dirinya “Al Bab” dan pengajarannya awalnya dinamakan “Babbiyah”.

Dalam dakwahnya ini ia menerangkan bahwa agama yang tiga semuanya benar, semuanya datang dari Allah. Karena itu ketiganya harus disatukan, tidak ada Yahuidi, tidak ada Nasrani dan tidak ada Islam, yang ada ialah “Dinullah” (Agama Tuhan).

Ia menyeru manusia kepada memeluk “agama internasional”.

Fatwanya itu menimbulkan heboh di Iran, sehingga Mirza Ali Muhammad ini ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Syah di Tibriz pada tahun 1853M.

Sesudah itu murid dan penganut paham Mirza Ali Muhammad ini cerai-berai, berserakan. Ada yang ke Istambul, ke Adernah, ke Cyprus dan ke ‘Aka (daerah Palestina).

Diantara penganut paham Babbiyah ini ada seorang bernama Mirza Husein Ali Bahaullah di Aka Palestina (lahir 1817M dan meninggal 1892M). Ia mendakwakan dirinya wakil dari Mirza Ali Muhammad al Bab. Ia mengembangkan ajarannya di Aka sampai akhir umurnya

Wakil atau khalifah Mirza Ali Muhammad itu, yang bernama Mirza Husein ‘Ali Babaullah menyempurnakan pelajaran al Bab dan bahkan menukar nama mahzabnya dengan Bahaiyah, dibangsakan kepada dirinya yang bernama Bahaullah.

Jadi kalau tersebut dalam bukuk-buku agama ada nama-nama babbiyah, ada nama Bahaiyah maka itu adalah sama.

Sesudah Mirza Husein Ali ini meninggal tahun 1892 M, maka ajaranya diperluas oleh anaknya bernama Abdul Baha’, dan anaknya ini berjasa mengembangkan pahan Bahaiyah ke Eropa dan Amerika, sehingga sekarang paham Bahaiyah agak terdengar di gelanggang Internasional.

Dalam suatu siarannya, kaum Bahai mengatakan: "Sekarang kami sampaikan kepada saudara berita yang sangat baik. Bergembiralah bahwa Tuhan telah mengirimkan lagi kepada kita Matahari Kebenaran. Ia telah mewujudkan diri Nya dalam seorang besar untuk menyelamatkan kita dari semua kesengsaraan dan duka cita. Perwujudan Tuhan zaman ini bernama Bahaullah, yang berarti kemuliaan atau Cahaya Tuhan" (Lihat siaran ummat beragama Bahai Indonesia - Jakarta).

Jelas dalam siaran ini bahwa kaum Bahai beri’tiqad (aqidah) bahwa Tuhan menjelma ke dalam tubuh Bahaullah, jadi ia adalah manifestasi dari Tuhan diatas dunia.

Nampak i’tiqadnya diambil dari kepercayaan Kristen atau kepercayaan Budha, yang mempercayai ada Tuhan yang batin dan ada bagiannya yang melahirkan diri.

Kaum Bahaiyah mengharamkan perang dengan senjata, walaupun perang itu untuk mempertahankan diri atau mempertahankan agama. Mereka hanya menganjurkan jihad dengan lisan saja.

Umpama dikatakan kepada kaum Bahaiyah, bahwa nabi Muhammad Saw,  acap kali perang dengan kafir Quraisy dan orang-orang yahudi, maka mereka menjawab bahwa hal itu dibolehkan pada zaman dahulu, tetapi pada zaman sekarang – abad sekarang ini – maka perang tidak dibutuhkan lagi.

Paham Inilah yang membawa terkenalnya paham Bahaiyah di Eropa dan Amerika, karena paham ini sesuai dengan selera kaum imperialis yang menjajah negeri-negeri Asia – Afrika.

Pada ketika itu kaum imperialis barat sedang menjajah hampir seluruh negeri Islam, dan ummat Islam di dunia sedang mempersiapkan perlawanan senjata dengan kaum imperialis untuk mengusir mereka.

Tiba-tiba datang kaum bahaiyah di Timur Tengah yang mengharamkan peperangan dengan senjata. Alangkah senangnya hati kaum imperialis ketika itu.

Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah berpendapat, bahwa peperangan itu wajib dilakukan kalau kemerdekaan ummat Islam terganggu, kalau orang Muslim dijajah atau disiksa, kalau ummat islam diusir dari kampungnya, maka ketika itu wajiblah perang walaupun dengan senjata.

Firman Allah, “perangilah orang-orang musyrik seluruhnya, sebagaimana mereka memerangi kamu pula seluruhnya” (At Taubah : 36)

Jadi, berperang dengan senjata untuk mempertahankan diri adalah wajib menurut  i’tiqad kaum Ahlussunnah wal jama’ah, sesuai dengan ayat suci ini.

Rabu, 03 Februari 2010

Penghambaan sesama manusia

Tahukah anda apakah tujuan Imam Mahdi ditugaskan Allah pada akhir zaman ?

Secara umum Imam Mahdi ditugaskan kedunia untuk pembebasan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menjadi penghambaan manusia kepada Allah semata.

Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa pada akhir zaman nanti, suasananya adalah begitu luasnya penghambaan manusia kepada sesama manusia.

Periode kehidupan umat Islam di dunia telah digambarkan oleh Nabi Muhammad saw,

"Kalian akan mengalami babak Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak Raja-raja yang menggigit,selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak para penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian kalian akan mengalami babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian, kemudian Nabi diam." (HR Ahmad)



Sebagaimana kita ketahui Ummat Islam dewasa ini sedang menjalani babak keempat dari lima babak perjalanan sejarahnya di Akhir Zaman.

Tiga babak sebelumnya telah dilalui:

Babak pertama, babak An-Nubuwwah (Kenabian) yakni masa ketika manhaj kenabian berlangsung

Babak kedua,  babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Sistem / Metode Kenabian),

Babak ketiga, babak Mulkan ’Aadhdhon (Raja-raja yang menggigit)., masa ketika raja-raja masih “mengigit” / berpegangan pada Al-Qur’an dan Hadits.

Sesudah berlalunya babak ketiga yang ditandai dengan tigabelas abad masa kepemimpinan Kerajaan Daulat Bani Umayyah, kemudian Kerajaan Daulat Bani Abbasiyyah dan terakhir Kesultanan Utsmani Turki,  maka selanjutnya ummat Islam memasuki babak keempat, babak Mulkan Jabbriyyan (Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).

Babak keempat diawali semenjak runtuhnya Kesultanan Utsmani Turki yang sekaligus merupakan kekhalifahan Islam terakhir pada tahun 1924. Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam, maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat.

Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa). Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.

Sesungguhnya kehidupan babak keempat inilah mengarah dan mengawali kepada penghambaan manusia kepada sesama manusia.

Dimana "kekuasaan" menjadikan "raja" diantara manusia sehingga manusia lebih menyukai "dekat" dengan kekuasaan seperti Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, dan manusia berkuasa lainnya,  ketimbang manusia "dekat" dengan Allah yang menciptakan manusia,  Allah yang Maha Kuasa.

Bahkan beberapa menukarkan "idealisme", pegangan hidup atau menukar agama dengan kekuasaan.

Kesultanan Ustmani Turki

Kesultan Ustmani Turki diawali dengan jatuhnya konstantinopel, ibukota Bizantium, ke tangan pasukan Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Muhammad II pada tahun 1453. Konstantinopel yang selanjutnya diganti menjadi Istanbul, adalah suatu kota metropolis yang berada di benua Asia dan Eropa. Inilah titik awal masa keemasan Turki Usmani, yang terus cemerlang hingga abad ke-18 dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas membentang dari Hongaria Utara di Barat hingga Iran di Timur; dari Ukrania di Utara hingga Lautan India di Selatan.

Turki Usmani berhasil membentuk suatu Imperium besar dengan masyarakat yang multi-etnis dan multi-religi. Kebebasan dan otonomi kultural yang diberikan Imperium kepada rakyatnya yang non-muslim, adalah suatu bukti bagi dunia kontemporer bahwa sistem kekhalifahan dengan konsep Islam telah mempertunjukkan sikap toleransi dan keadilan yang luhur.

Sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal.

Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Jumlah orang-orang kafir pun meningkat. Lewat penguasaan jaringan media dunia, Yahudi Internasional menghembuskan stigma jahat kepada Turki Utsmani jika Turki merupakan “The Sickman From Asia”, Orang Sakit Dari Asia. Sejumlah kebijakan ekonomi Turki disabotase. Dan perekonomian Turki pun terpuruk.

Dari luar, strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari'at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.

Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki.

Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.

Reaksi Dunia Islam, Saudi Memboikot

Dunia Islam menyatakan belasungkawa dan sangat prihatin atas apa yang terjadi di Turki. Dari Indonesia, Syarikat Islam membentuk sebuah komite pada 4 Oktober 1924, diketuai oleh Wondosoedirdjo dan wakilnya, KH. Abdul Wahab Hasbullah. Tujuan didirikan komite ini adalah untuk membahas undangan kongres khilafah di Kairo, Mesir. Lalu ditindaklanjuti dengan Kongres Al-Islam Hindia III di Surabaya (24-27 Desember 1924). Kongres ini dihadiri ulama dari seluruh penjuru Hindia Belanda dan menyepakati untuk mengirimkan utusan, wakil umat Islam Indonesia, ke kongres dunia Islam. Utusan ini terdiri dari Suryopranoto (SI), Haji Fakhruddin (Muhammadiyah) dan KHA. Wahab dari kalangan tradisional.

Disebabkan ada perbedaan pendapat dengan kalangan Muhammadiyah, KH. Abdul Wahab dan kawan-kawannya menggelar rapat dengan kalangan ulama tradisionil dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Berdirilah Komite Merembuk Hijaz sebagai pegimbang Komite Khilafah yang “jatuh” ke tangan Muhammadiyah dan menyerukan kepada Ibnu Sa'ud, Raja Saudi, agar tradisi keagamaan yang sudah berjalan selama ini jangan dihentikan. Komite Merembut Hijaz ini kemudian dikenal dengan sebutan Nahdlatul Ulama, diresmikan di Surabaya, 31 Januari 1926.

Di tahun 1927 berlangsung Kongres Khilafah II di Mekkah. Agus Salim (Syarikat Islam) hadir dalam kapasitas sebagai utusan Hindia-Belanda. Awalnya para peserta kongres menginginkan agar masalah hancurnya Kekhalifahan Islam di Turki dibahas.

Namun agenda ini menemui kegagalan karena Raja 'Abdul 'Aziz bin Sa'ud sebagai tuan rumah kongres menolak membicarakan hal ini.

Hidup di bawah tekanan dan penindasan kekuatan sekularis Turki yang menguasai hampir seluruh bidang kehidupan, sipil maupun militer, ternyata tidak memadamkan api keislaman rakyatnya.

Sejak Mustafa Kemal menguasai Turki pada tahun 1923, Yahudi dari Salonika tersebut berusaha keras memisahkan Turki dengan Islam. Bentuk kekhalifahan diganti dengan bentuk Republik sekuler. Mustafa Kemal dan para pengikutnya juga meracuni rakyat Turki dengan mengatakan jika Islam itu identik dengan kekolotan dan keterbelakangan, sedangkan Barat merupakan simbol kemajuan dan modernitas. Mustafa Kemal pun memindahkan ibukota Turki dari Istanbul ke Angora atau Ankara.

Sebagai perwira militer, Mustafa Kemal menggunakan angkatan bersenjata Turki sebagai garda terdepan dalam menghancurkan keislaman. Bahkan angkatan bersenjata Turki dinyatakan sebagai pendukung utama ideologi Kemalis yang sangat anti Islam, dan sebab itu tentara Turki memiliki peran ganda sebagai “Tentara Politik”. Mustafa tentu tidak sendirian, kekuatan Barat senaniasa berada di belakangnya.

Dari uraian panjang tentang kejatuhan kesultanan Turki Ustmani diatas dapat kita ketahui andil dari kaum Zionis, Konspirasi Yahudi. Sehingga makin jelas apa yang telah Allah firmankan bahwa, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat, kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu

Orang-orang Zionis Yahudi  melakukan penyerangan melalui metode penyusupan, perang pemikiran dan penguasaan ekonomi. Semua tertuang dalam metode, pemikiran, strategi mereka yang dikenal sebagai protokol zionisme antara lain

Protokol Zionis yang pertama,

“Kemenangan dapat kita capai dengan lebih mudah berdasarkan kenyataan bahwa dalam hubungan  dengan masyarakat  yang kita inginkan, kita selalu bekerja pada simpul-simpul yang paling sensitif pada pikiran manusia, yaitu pada urusan dana, pada aspek nafsu syahwat manusia, pada keserakahan akan materi yang tidak pernah dapat dipuaskan; dan setiap kelemahan manusia tadi bila diamati satu persatu cukup untuk melumpuhkan daya prakarsa, karena semuanya itu terenggut dari diri mereka, yang pada dasarnya menjadi motor pendorong kegiatan kehidupan mereka”.

Protokol Zionis yang ketujuh,

“Kita harus memaksa pemerintahan bukan-Yahudi untuk menerima langkah-langkah yang akan meningkatkan secara luas rencana yang telah kita buat yang telah kian dekat dengan tujuannya dengan cara meletakkan tekanan pada pendapat umum yang telah kita agendakan yang harus didorong oleh kita dengan bantuan apa yang dinamakan ‘kekuatan besar’ pers. Dengan sedikit perkecualian, tak perlu terlalu dipikirkan, kekuatan itu telah berada dalam genggaman kita”.

Protokol Zionis yang kedelapan
...Untuk sementara waktu sampai saat yang cukup aman tiba untuk memberikan jabatan-jabatan pemerintahan kepada saudara-saudara kita kaum Yahudi, kita akan mempercayakan jabatan-jabatan itu kepada mereka yang track-record dan wataknya sedemikian rupa, yaitu adanya jurang yang lebar antara mereka dengan rakyatnya...

...Kita akan mengepung pemerintahan yang ada dengan para ekonom kita. Karena alasan inilah ilmu ekonomi menjadi mata pelajaran utama yang dituntut dan diajarkan oleh kaum Yahudi. Kita akan dikelilingi oleh galaksi yang terdiri dari para banker, industrialis, kapitalis, dan terutama kaum milyuner, karena sebenarnya segala sesuatu akan ditentukan oleh daya tarik kepada angka-angka...

Protokol Zionis yang kelimabelas

...Dibawah pengaruh kita, pelaksanaan hukum kaum non_yahudi harus dapat diredusir seminim mungkin. Penghormatan kepada hukum harus dirongrong dengan cara interpretasi sebebas mungkin sesuai dengan apa yang telah kita perkenalkan pada bidang ini. Pengadilan akan memutuskan apa yang kita dikte, bahkan dalam kasus-kasus yang mungkin mencakup prinsip-prinsip dasar atau isu-isu politik melalui jalur pendapat surat kabar dan jalur lainnya..

Protokol Zionis yang ketujuhbelas
...Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniawan non-Yahudi dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan diaman-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..

Strategi dibidang ekonomi, salah satunya  tertuang pada protokol zionis yang keenam

“Membangun kekuatan Zionisme melalui manipulasi ekonomi, terutama melalui monopoli perbankan dan kekuatan keuangan”

“Berikan kepada saya kewenangan mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan sesudah itu terjadi saya tidak perlu ambil peduli kepada para pembuat hukum di Negara tersebut”. (Meyer Amschel Rothschild, 1743-1812, pendiri dinasti Rothschilds)

Untuk mewujudkan mimpi-mimpinya,  sejak tahun 1999, seluruh wilayah belahan bumi sudah dikuasai oleh jaringan kekuasaan Lucifer.

Semua umat manusia harus memandang pada satu arah, yaitu kekuatan mata uang, sebagaimana yang dilambangkan oleh mata uang satu dolar Amerika --novus ordo seclorum.

Seluruh struktur perekonomian global telah dikuasai oleh kaum Iluminasi, gerak World Bank dan IMF telah menjadi "dewa Lucifer" yang akan menyelamatkan umat manusia sekaligus menguasainya.

Hal ini sesuai dengan ucapan Prof. J.S. Malan, seorang ahli ekonomi dari Universitas Sao Paolo yang mengatakan:

"Setiap bangsa akan menanggung utang yang berat dan mereka tidak akan mampu membayarnya, sehingga mereka harus menebusnya sebagai budak yang setia dan patuh terhadap perintah. Kekuatan IMF sangat absolut sehingga tidak akan ada satu negara pun yang mampu mendapatkan satu sen pun, kecuali atas persetujuan atau arahan dari IMF"

Kekuasaan IMF adalah perpanjangan tangan dari gerakan zionis yang merupakan perwujudan dari perintah Tuhan, "Orang kaya menguasai orang miskin yang berutang menjadi budak dari yang mengutangi. " (Amsal 22:7).

Mereka harus menguasai seluruh ladang karena berat kelaparan yang ditanggung bangsa-bangsa di muka bumi. Kaum zionis akan menjadikan seluruh bangsa merangkak dan mengemis kepada kekuasaannya (Kejadian 47: 13-20).

Sikap tamak dan memakan harta secara batil ini telah diingatkan Allah kepada orang-orang beriman agar tidak mencontoh dan mengikuti sikap kaum Yahudi dan Nasrani tersebut, sebagaimana fiman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalangi-halangi (manusia) dari jalan Allah...." (at-Taubah: 34)

Berkaitan dengan ayat tersebut, orang-orang alim Yahudi atau Ahbar adalah orang yang mempunyai pengetahuan dalam urusan tertentu, yaitu para eksekutif Yahudi yang telah "memakan" seluruh kekuatan ekonomi dunia untuk kepentingan misi zionisme mereka, seraya menjadikan dana yang mereka kumpulkan untuk menghalangi orang beriman menegakkan hukum dan syariat yang telah ditetapkan Allah SWT.

Mereka yang dikategorikan sebagai Ahbar tersebut telah eksis; jauh sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw, yaitu perilaku sebuah kaum jahiliah di kalangan Ahli Kitab yang sangat tercela dan kemudian dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya. Untuk mengukuhkan ambisinya, kita dapat melihat peristiwa yang luput dari pengamatan umat Islam selama ini, yaitu peristiwa menjelang hari kemerdekaan Amerika Serikat --diperingati setiap 4 Juli (ed.) . Pada saat itu dibentuk panitia untuk membuat mata uang Amerika (dolar) yang terdiri atas: Benyamin Franklin, Thomas Jefferson, John Adam, dan Pierre du Simitiere yang semuanya adalah para anggota Iluminasi freemason tingkat ke-33, bahkan Thomas Jefferson adalah pengikut mistik agama Desime yang menjadi pelopor lahirnya pemikiran unitarian-universalist.

Pada saat itu, pemikiran Adam Weishaupt serta bukunya Novus ordo Seclorum telah merasuki jiwa para anggota freemason. Sebagai penghargaan kepada Adam Weishaupt sebagai tokoh sentral zionis, maka mereka menyepakati bahwa lambang satu dolar Amerika memakai simbol-simbol dari Iluminasi dan mencantumkan nama judul buku Weishaupt tersebut sebagai motto pada uang dolar Amerika. Mereka tidak memilih mata uang dalam bentuk pecahan lima, sepuluh, atau dua puluh dolar, karena pecahan satu dolar mewakili pemikiran "satu dunia baru". Itulah sebabnya pada pecahan satu dolar tersebut sarat dengan falsafah Iluminasi.

Prof. J.S. Malan dalam tulisannya, New Age Reforms bahwa seluruh sumber daya alam dunia, seperti moneter dan industri harus dikontrol sepenuhnya oleh "pemerintahan dunia" karena dengan cara seperti ini, sistem persamaan ekonomi serta kesejahteraaan dunia dapat dilaksanakan serta dinikmati secara merata. Seluruh dunia hanya mempunyai satu sistem moneter yang pengawasannya di bawah satu badan yang tersentralisasi. Dengan cara seperti ini memungkinkan "pemerintahan dunia" menjalankan kebijaksanaannya untuk mengendalikan seluruh negara dan rakyatnya. Inilah yang dinamakan the New World Order (NWO); tatanan dunia baru.

Dunia harus "tunduk" dan "menyembah" kepada dolar sebagai medium untuk mendapatkan karunia dari tuhan (setan) Lucifer. Mereka yang mendapatkan limpahan dolar akan mampu menjadi manusia unggul. Dan mereka yang menguasai dolar --di bidang ekonominya-- adalah mereka yang menguasai dunia.

Seluruh lembaga keuangan internasional yang telah dirintis oleh Meyer Rothchild harus menunjukkan keperkasaannya dalam bidang finansial. Pemilikan saham perbankan, multinasional, dan teknologi termasuk microchip harus dimiliki secara mayoritas oleh persaudaraan anggota freemason.

Keberhasilan mereka “memutuskan” hubungan alat tukar/uang dengan karunia Allah adalah ketika mereka tidak lagi menggunakan emas sebagai patokan alat tukar. Sesungguhnya emas adalah salah satu bentuk referensi terhadap karunia Allah.

Salah satu firman Allah yang mengutarakan tentang alat tukar emas,

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Ali Imran (3):91)

Tujuan serta misi dari New World Order (tatanan dunia baru) sangat sederhana.

  • Menciptakan satu pemerintahan dunia.

  • Satu pemimpin dunia.

  • Satu kepercayaan dunia.

  • Menjaga dan melindungi ras unggul melalui pengendalian jumlah penduduk.

  • Warga negara dunia ketiga akan menjadi pembantu dan buruh.


Sumber: Deadly Mist, Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia, Jerry D. Gray, Sinergi Publishing, 2009 hal 14

Pemikiran/kepercayaan mereka pada umumnya adalah,

  • Manusia ada dengan sendirinya, tidak diciptakan Allah. (mereka umumnya menyebarluaskan teori evolusi Darwin.)

  • Manusia mati kembali menjadi materi tanah.

  • Manusia harus peduli dengan kemanusiaannya demi menjadi manusia unggul sehingga mereka menyebar luaskan hak asasi manusia (HAM) tanpa peduli dan percaya akan hak Allah.

  • Tidak ada karunia atau rezeki dari Allah, yang ada adalah tukar menukar usaha/upaya antar manusia.

  • Manusia dalam perwujudan tertinggi menyerupai Tuhan.

  • Dan kemusyrikan lainnya. Nauzubillah min Zalik.


Akhirnya, sekali lagi saya mengingatkan, marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu ?

Wallahu a’lam

Bahan bacaan:
Tanda-Tanda Kemunculan Imam Mahdi
Tiga Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini
Berkasa Pada Politik Islam Turki

Pustaka buku:

1. Zionisme - Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era Habibi)
2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya
3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara
4. Freemansory di asia tenggara , Abdullah Pattani
5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman
6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas
7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah


Tujuan serta misi dari new world order sangat sederhana.

  • Menciptakan satu pemerintahan dunia.

  • Satu pemimpin dunia.

  • Satu kepercayaan dunia.

  • Menjaga dan melindungi ras unggul melalui pengendalian jumlah penduduk.

  • Warga negara dunia ketiga akan menjadi pembantu dan buruh.


Sumber: Deadly Mist, Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia, Jerry D. Gray, Sinergi Publishing, 2009 hal 14