Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Februari 2011

Peta Salafy

Peta Salafy dan Dunia Islam  menurut "kaca mata"  kami.

Secara umum Salafi atau mereka yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh terbagi dua bagian besar yang bertolak belakang berdasarkan pemahaman mereka terhadap al-bara.

Satu bagian memahami al-bara sebagai "menegakkan perintah Allah tentang kebencian terhadap orang musyrik, orang yahudi,  nasrani bahkan saudara muslim mereka sendiri yang dianggap musyrik berdasarkan pemahaman (kaum) mereka sendiri.  Bagi mereka slogannya bisa jadi seperti "bunuh, musnahkan orang musyrik". Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/ dan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/mengelola-kebencian/

Satu bagian lagi memahami al-bara sebagai sekedar "berlepas diri" sebagaimana yang disampaikan di http://almanhaj.or.id/content/2661/slash/0 Inilah yang sebagaimana dipahami oleh Salafi Wahhabi. Sehingga mereka secara tidak disadari menjadikan orang musyrik, teman kepercayaan. Mereka di wilayah kerajaan dinasti Saudi, telah memperlihatkan bagaimana mereka menjadikan Amerika sebagai teman kepercayaan, menjadikan penasehat keamanan, pembangunan, pengelolaan sumber daya alam / pertambangan bahkan menjadikan penasehat kurikulum pengajaran dan pendidikan sebagaimana yang telah kami uraikan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

Jadi keadaan umat Islam saat ini sebenarnya secara tidak disadari telah di adu domba dengan pemahaman sendiri atau memang ada gerakan ghazwul fikri yang dilancarkan oleh orang-orang yang memang diciptakan oleh Allah ta'ala mempunyai rasa permusuhan terhadap kaum muslim. Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Satu sisi (misalkan salafi jihadi / haraki) meneriakkan "bunuh orang musyrik" dan satu sisi lagi (Salafi Wahhabi) secara tidak langsung mendanai orang musyrik untuk memerangi Salafi lain (misalkan salafi jihadi/haraki)

Perhatikanlah fatwa-fatwa dari ulama Salafi Wahhabi dan bandingkan dengan fatwa-fatwa ulama Salafi yang bertolak belakang dengan Salafi Wahhabi seperti Salafi Jihadi atau Salafi Haraki.  Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/kita-diadu-domba/

Kalau kita telusuri lebih lanjut, maka sumbernya adalah pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah yang dikenal sebagai ulama pembaharu atau modernisasi agama.

Salafi Wahhabi mengangkat dari sebagian pemahaman Syaikh Ibnu Taimiya untuk kepentingan mendirikan dan mempertahankan dinasti kerajaan Saudi. Inilah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Salafi Jihadi / Haraki mengangkat dari sebagian pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah kepentingan pergerakan / politik / siyasi

Salafy Wahhabi membenci Hizbiyyah atau kelompok atau organisasi, bisa jadi untuk menghindari kepemimpinan informal atau kepemimpinan diluar kepemimpinan kerajaan. Sedangkan sebaliknya Salafy Jihadi / Haraki membutuhkan hizb, kelompok , organisasi atau harakah.

Pemahaman/Ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah ini yang merujuk kepada Al-Qur'an dan hadits dengan metodologi yang kami katakan sebagai "terjemahkan saja". Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Sesungguhnya Syaikh Ibnu Taimiyah tidak mencapai derajat imam mujtahid apalagi imam mujtahid mutlak

Oleh karena Syaikh Ibnu Taimiyah "takut" hasil pemahaman beliau tidak diterima orang maka beliau memberi nama "mazhab"nya dengan nama generik / umum yaitu manhaj/madzhab salaf. Seharusnya dinamakan mazhab Taimiyah.

Madzhab Taimiyah telah ditolak oleh jumhur ulama sejak zaman beliau hidup bahkan beliau harus berulang kali masuk penjara

I'tiqad beliau yang sangat ditolak adalah bahwa Allah bertempat di atas arasy. Maha suci Allah ta’ala dari bertempat dan dari bagaimana.

Juga dengan metodologi "terjemahkan saja" akhirnya mereka "berserah diri" dengan i'tiqod bahwa Allah ta'ala memupunyai tangan, kaki, wajah namun tidak serupa dengan makhluk

Salah satu ulama terdahulu kita yang menolak madzhab Taimiyah adalah Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/2010/11/03/syaikh-ahmad-khatib-al-minangkabawi/

Ulama-ulama terdahulu seperti beliau dikenal dengan ulama-ulama "kaum tua"

Namun sebagian ulama-ulama setelah generasi "kaum-tua" atau dikenal sebagai ulama-ulama "kaum-muda" mulai terpapar madzhab Taimiyah.  Termasuk di dalamnya ulama-ulama  saudara kita dari kalangan Muhammadiyah. Namun mereka terpapar tidak terlampau jauh atau diambil yang baik-baik saja dari madzhab Taimiyah dan pemahaman/ijtihad ulama yang lain atau dikenal dengan istilah manhaj tarjih atau berdalil dengan yang lebih/paling kuat.

Yang terpapar jauh atau secara bulat-bulat adalah kaum muda kita yang mengenyam pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi atau tempat pendidikan di negara lain dengan paham Wahhabi. Termasuk yang menyebut dirinya "mantan kiyai NU"

Orang-orang yang memusuhi Islam sangat berkepentingan agar pintu ijtihad terbuka kembali walaupun waktu sudah terpaut jauh dari masa generasi terbaik (Salafush Soleh). Kepentingan mereka agar memungkinkan mereka mengadakan pemahaman-pemahaman baru (modernisasi agama) terhadap Al-Qur’an dan Hadist. Inilah sebenar-benarnya ghazwul fikri atau perang pemahaman/pemikiran.

Sebagai contoh apa yang dipahami oleh Musdah Mulia (tokoh liberalisme). Menurut Musdah, sebetulnya kajian politik yang lebih serius bukan dalam buku al-Siyãsah al-syar’iyyah, melainkan buku Minhãj al-Sunnah al-Nabawiyyah dan Ahisbatul Islam. Musdah menekankan bahwa sebelum membaca pemikiran Ibnu Taimiyyah, kita... harus masuk ke abad XIV. Ibnu Taimiyyah pertama-tama mengembangkan pemikirannya dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang tidak mencerahkan. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/

Jadi pandangan mereka terhadap Syaikh Ibnu Taimiyah bahwa beliau tokoh yang mengembangkan pemikiran dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran taklid, yang dalam hal ini adalah sufisme. Dia menulis buku Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah. Dia ingin membersihkan pemikiran-pemikiran ummat Islam dari pemikiran sufi yang “tidak mencerahkan”. Dia kemudian mengembangkan perlunya membuka kembali pintu ijtihad. Berangkat dari komitmen inilah kemudian Ibnu Taimiyyah merumuskan konsep-konsep mengenai negara.

Mereka membutuhkan justifikasi dari keinginan mereka mensosialisasikan program mereka yakni negara atau nation state dan “nasionalisme” untuk menggantikan “kesatuan akidah “umat Islam pada waktu itu dengan sistem khalifah. Sehingga sebagian muslim menganggap bahwa “bela negara” adalah sebagian dari iman walaupun tanpa disadari “lawan negara” yang diperangi adalah saudara-saudara muslim sendiri.

Inilah yang terjadi dengan propaganda "nasionalisme Arab" yang dilancarkan oleh musuh Islam seperti Edward Terrence Lawrence. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/bahaya-laten/

Sebenarnya pemahaman/ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah sudah terkubur sebelumnya namun diangkat kembali oleh orang-orang yang memerlukan dengan berbagai kepentingan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, Rasyid Redha, dll. Termasuk digunakan untuk kepentingan kaum SPILIS (Sekelurisme, Pluralisme dan Liberalisme). Metode pemahaman/ijtihad Syaikh Ibnu Taimiyah sangat digemari mereka karena metodologi “terjemahkan saja” mudah dipelajari dan dipahami.

Demikianlah hasil analisa kami terhadap keadaan dunia Islam, dulu dan sekarang. Semoga kita dapat memposisikan diri kita masing-masing dan saling mengingatkan dalam semangat Ukhuwah Islamiyah.

Hal yang perlu kita ingat selalu bahwa kalau perdebatan/perselisihan/pertengkaran diantara manusia yang telah bersyahadat adalah semata-mata kesalahpahaman, karena mereka yang telah bersyahadat pada dasarnya tidak dikaruniakan rasa permusuhan namun dikaruniakan rasa persaudaraan. Hanya orang-orang yang tak mau bersyahadat / musyrik saja yang dikehendaki oelh Allah Azza wa Jalla mempunyai rasa permusuhan.

Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Wassalammualaikum

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Selasa, 16 Maret 2010

Surat Terbuka utk SBY

(Surat terbuka untuk presiden RI, SBY )

Assalamu'alaikum wr. wb.

Satu lagi (maaf) kekeliruan yang telah dilakukan pemimpin negeri, presiden RI, SBY.

Kekeliruan ini dilakukan ketika beliau tidak “didampingi” oleh Jusuf Kalla, yang dapat menguasai perdamaian sesungguhnya.

Saat ini ironis sekali, pemimpin negeri yang mengaku muslim dan rakyatnya mayoritas muslim dapat "membunuh" sesama muslim yang berijtihad/berpemahaman berbeda, bahkan saudara-saudara muslim kita diberi "label" oleh pemerintah sebagai "teroris" seperti pelabelan yang dilakukan oleh kaum kafir.

Saudara-saudara muslim kita yang telah dilabeli  oleh negara  sebagai teroris dilakukan “pembunuhan” tanpa proses pengadilan yang merupakan hak asasi mereka sebagai warganegara/manusia.

Seharusnya pemerintah melakukan "penyelarasan" ijtihad / pemahaman mereka, dibantu oleh para alim ulama dalam rangka saling mengingatkan.

Sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya manusia dalam kerugian” (Al ‘Ashr, 2)

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling mengingatkan supaya mentaati kebenaran dan saling mengingatkan supaya menetapi kesabaran” (Al ‘Ashr: 3)

Apapun pemahaman/ijtihad muslim selagi sama-sama menegakkan La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah, maka tetaplah kita bersaudara. Marilah kita bersatu dalam kesatuan Aqidah Islam tanpa disekat oleh batasan negara, bangsa, suku maupun tarekat, kelompok atau golongan.

Ingatlah selalu apa sesungguhnya maksud Allah menciptakan manusia dan jin sebagaimana firmanNya,

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (Az Zariyat 56)

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu (al Hijr 99)

Saya mengajak diri saya pribadi dan para pemimpin untuk menggapai ridho Allah bukannya menggapai ridho kaum kuffar.

Sudah saatnya kita menegakkan Islam sesungguhnya bagi perdamaian dunia tidak sekedar “menggunakan” Islam untuk  kepentingan politik atau kekuasaan.

Pemimpin negeri ini, presiden RI, SBY yang muslim dengan potensi/kekuatan jumlah umat muslim yang sangat besar  sebaiknya berperan dalam menjaga perdamaian dunia dan menegakkan kebenaran, bukannya “mengekor” saja kepada kaum kuffar, (maaf) bagaikan kerbau dicucuk hidungnya.

Sebagaimana firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya" ,  (Ali Imran, 118)

"Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali Imran, 119)

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sebagai muslim sesungguhnya,  Andalah yang berhak “mewarnai” tatanan dunia baru atau bahkan memimpin dunia. Umat terbaik yang memimpin dunia.

Allah telah berfirman dengan artinya,
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" (Ali Imron : 110).

Saatnya sekarang pemimpin negeri ini yang muslim dibantu para alim ulama untuk “menyatakan pendapat” kepada mereka-mereka yang melabeli “teroris” kepada saudara-saudara muslim kita. Saatnya “menyatakan pendapat” terhadap saudara-saudara muslim kita yang negaranya “diguncang”, “diserang”,  bahkan “dijajah” seperti Palestina, Afghanistan, Irak, Somalia dll. Umumnya  adalah saudara-saudara muslim kita yang dalam kehidupan mereka di dunia hendak menegakkan Syariah Islam

Saatnya kita memainkan peran dalam kancah dunia sebagai bentuk upaya perdamaian dunia  sejati sebagai perwujudan perintah Allah agar kita tidak membuat kerusakan dimuka bumi  Sekaligus perwujudan kehendak Allah menjadikan manusia sebagai khalifah sebagaimana firman Allah,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:  "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al Baqarah:30)

Salam Ukhuwah Islamiyah.

Zon di Jonggol

*********************     *******       ***********************

*********************      *******     ***********************

(Berikut tanggapan atas tanggapan para pembaca (netters) )

Banyak tanggapan yang disampaikan oleh para pembaca (netters). Pada umumnya berisikan "mengajak" saya memahami korban-korban yang diakibatkan oleh bom-bom seperti di bali, kuningan, jw marriot dll.

Bagaimana klo korban itu, ada hubungan keluarga dengan penulis, mereka anggap mungkin saya akan memikirkan kembali tulisan diatas.

Saya bukannya sekedar membela saudara-saudara muslim saya yang oleh pemerintah dilabeli "teroris" untuk memperoleh haknya sebagai warganegara/manusia, namun saya juga membela para pemimpin negeri ini agar tidak membuat kekeliruan. Sekaligus menghindari kemungkinan korban-korban berikutnya dari kemungkinan kekeliruan kebijakan pemerintah.

Kita sebagai manusia, pada umumnya selalu berpikir atau memberikan reaksi
terhadap suatu akibat bukan pada "penyebab"nya.

Sebagai contoh ketika kita sakit dan "mengeluh" sakit kepala, umumnya kita
berpikir atau memberikan reaksi pada sakit kepalanya. Padahal untuk memecahkan masalah tersebut, sang dokter akan mencari tahu apa yang menyebabkan sakit kepala.

Berkali-kali negeri kita ditimpa masalah dari "akibat" Bom Bali, Bom Kuningan, Bom Marriot. Namun tampaknya "kecerdasan" pemerintah, hampir sama dengan masyarakat pada umumnya, memberikan reaksi terhadap "akibat" semata.

Bagi saya, solusi yang baik untuk mengatasi "akibat" yang telah terjadi adalah
pemerintah bersama alim-ulama membahas, mencari tahu kenapa (sebab apa) saudara-saudara muslim kita itu berpemahaman / ijtihad seperti itu ? Inilah yang saya sebut mencari penyebab atau mendiagnosa masalah.

Sayapun sebagai warganegara tidak menginginkan berjatuhan korban-korban berikut, apalagi kalau korban tersebut adalah mempunyai hubungan keluarga dengan saya.

Saya turut menghaturkan terima kasih atas kepedulian, bantuan yang telah
diberikan terhadap saudara-saudara saya juga yang menjadi korban bom-bom yang lalu.

Sungguh jangan sampai terulang kembali kejadian bom di negeri ini.

Juga janganlah ada polisi-polisi atau warga sipil lainnya yang meninggal karena sebuah kebijakan pemerintah yang keliru.
Salam damai.

*********************     *******       ***********************

*********************      *******     ***********************

(Berikut tanggapan atas tanggapan lain para pembaca (netters) )

Menurut pembaca (netter):  Dalam kasus teroris , yang harus dilakukan oleh manusia adalah satu , yaitu mengutuknya . Titik . Tidak perlu mencari pembenaran atas tindakan yg melanggar kemanusiaan tersebut .Tidak perlu melakukan pembelaan terhadap mereka. Jangan berikan dukungan apapun terhadap para penebar teror dan ketakutan ini , bahkan simpati sekalipun . Hukum harus ditegakkan !

Setuju, hukum harus ditegakkan. Saya tidak melakukan pembenaran namun mempertanyakan hak saudara-saudara muslim yang telah dilabeli teroris oleh pemerintah.

Bagaimanakah pendapat anda, jika ada kemungkinan pemerintah berkeinginan melakukan “pembunuhan” kepada sekelompok warganegara muslim  dengan membuat sebuah “rencana”, “perangkap”, “siasat” sehingga sekelompok warganegara muslim tersebut terkondisikan dan dilabeli “teroris” kemudian dilaksanakanlah “pembunuhan” atau penghukuman terhadap mereka ?

Tentu hal itu hanyalah sebuah mimpi / skenario buruk yang tidak terjadi di negeri yang berlandaskan Pancasila ini. Namun tetaplah itu sebuah kemungkinan.

Sekali lagi tidak mungkin seperti itu.

Sebagaimana yang saya muat di tulisan “surat terbuka”  diatas, solusi yang terbaik adalah

Pemerintah melakukan “penyelarasan” ijtihad / pemahaman mereka, dibantu oleh para alim ulama dalam rangka saling mengingatkan.

Kita ibaratkan negeri/pemerintahan ini sebagai sebuah keluarga besar. Presiden sebagai orang tua / kepala keluarga  dan warganegara sebagai putra-putri / anak.

Apakah yang dilakukan orang tua / kepala keluarga untuk mewujudkan keluarga sakinah ?

Diantaranya adalah,

Membuat peraturan/hukum dalam keluarga agar hubungan antar anggota keluarga terjalin harmonis.

Mendidik,  memberikan pemahaman, membuat kesepakatan agar setiap anggota keluarga dapat berperilaku baik

Seorang anak  dapat saja menerima pegaruh / pemahaman yang buruk dari luar/eksternal.

Kadang kita temukan orang tua yang kurang baik akan melabeli anak tersebut sebagai “anak nakal”.  Sebagaimana pemerintah melabeli warga negaranya sebagai “teroris”.

Pemberian label kepada anak tersebut sesungguhnya bagaikan sebuah “sertifikat” kegagalan orang tua mewujudkan keluarga sakinah bahkan sebagian orang berpendapat bahwa pemberian label kepada anak tersebut bisa jadi merupakan sebuah “doa” kepada Allah.

Belajar dari contoh kasus anak menerima pengaruh / pemahaman buruk dari luar/eksternal, solusi yang terbaik adalah “menyelaraskan” kembali pemahaman anak tersebut sesuai aturan/hokum yang berlaku dalam keluarga.

Kita sebagai orang tua tidak baik jika memberi hukuman “membuang” anak tsb atau bahkan “membunuh” anak tersebut. Hal ini karena ada “ikatan”/”hubungan” antara orang tua dengan anak.

Dalam dunia pemerintahan/negara, antara pemimpin dan yang dipimpin tampak semakin memudar “ikatan” atau “hubungan” tersebut.

Apalagi seorang pemimpin yang muslim   terhadap warga negara yang muslim seharusnya berlaku sesuai yang difirmankan Allah,

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10).

Silahkan baca sebuah tulisan yang cukup menyentuh dan menarik sebagai bahan pelajaran bagi kita semua,

http://syumulnetwork.blogspot.com/2008/08/muslim-itu-bersaudara.html

Salam damai dan bersaudara.