Tampilkan postingan dengan label wahabbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wahabbi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 April 2010

Saudaraku Salafiyyah

Untuk saudaraku kaum salaf(i).

Beberapa tulisan di blog ini diperuntukan bagi saudara-saudaraku dari kaum Salaf(i) dengan maksud semoga mereka mendapatkan pelajaran sebagai bahan intropeksi diri / jama’ah. Juga diperuntukkan bagi umat muslim yang sedang menuntut ilmu atau sedang bingung memilih jama’ah / majlis / pengajian yang hendak diikuti. Untuk memilih dapat merujuk pada dua buah tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/pilih-jamaah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/18/firqah-masuk-surga/

Dalam seluruh tulisan harus dibedakan antara salaf dan salaf(i).

Asal muasalnya saya menulis tentang kaum Salaf(i) adalah  dikarenakan kita jumpai sebagian muslim ketika memasuki bulan Rabiul Awwal dengan penuh amarah.

Sebab mereka menganggap ungkapan kecintaan kepada Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam di bulan Rabiul Awwal sebagai hal yang mungkar. Karena mereka beranggapan bahwa ungkapan cinta dan syukur atas kelahiran dan diutusnya Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam sebagai penambahan dalam agama ( bid’ah ) yang tidak pernah dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam.

Menurut meraka, setiap amaliyah yang tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam adalah bid’ah dan kesesatan.

Setelah saya telusuri, ternyata mereka sesungguhnya tidak memahami arti bid’ah. Silahkan merujuk tiga buah tulisan untuk memahami bid’ah.

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/18/memahami-bidah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/20/bidah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/20/semua-ibadah/

Saya maksudkan dengan kaum salaf(i) adalah sebatas mereka yang sepahaman dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengikuti pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah yang diikuti pula salah satunya adalah Syaikh Ibnu Qoyyim Al Jauzi.

Silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/2010/02/21/salaf-ala-ibnu-taimiyah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/21/2010/02/10/ibnu-taimiyah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/21/2010/02/10/muhammad-bin-abdul-wahab/

Mereka ini saya sebut sebagai ulama salaf(i) ,  kita bedakan dengan ulama zaman salaf

Imam madzhab yang empat, lebih terdahulu (salaf) dibandingkan ketiga imam-imam salafi yang saya sebutkan.

Kita ketahui kehidupan empat imam madzhab adalah ketika dan dekat masa generasi salaf (sahabat, tabi'in, tabi,ut tabi'in) yakni
* Imam Hanafi (lahir 81H, wafat 150 H)
* Imam Malik bin Anas (lahir 83H, wafat 179 H)
* Imam Syafi’i (lahir 150 H, wafat 204 H)
* Imam Ahmad bin Hambal (lahir 162H, wafat 241 H)

Sedangkan Syaikh Ibnu Taimiyah (lahir 661 H, wafat 724 H) apalagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (1115H – 1206H) waktunya lebih kebelakang dibandingkan empat imam madzhab.

Jadi aneh koq sekarang sebagian umat muslim lebih memilih imam-imam "yang berupaya kembali ke salaf"  (salafi) di bandingkan "imam-imam yang sudah jelas lebih terdahulu (salaf)". Bahkan sebagian dari kaum  Salaf(i)  ada yang anti madzhab atau anti ilmu fiqh.

Kunci meluasnya pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah adalah apa yang diupayakan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Bagi saya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah ulama yang pragmatis karena kita ketahui beliau “membantu” kekuasaan Muhammad bin Sa’ud (cikal bakal kerajaan Saudi).

Saat ini kita ketahui pemerintahan kerajaan Saudi Arabia berkehendak meluaskan pemahaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kita kenal dengan Wahabi atau diluar negeri mereka diberi nama Salaf(i).

Sikap pragmatis dari Muhammad bin Abdul Wahab mengikat perjanjian dengan Muhammad bin Saud, seorang pemimpin suku di wilayah Najd. Sesuai kesepakatan, Ibnu Saud ditunjuk sebagai pengurus administrasi
politik sementara Ibnu Abdul Wahhab menjadi pemimpin spiritual. Sampai saat ini, gelar “keluarga kerajaan” negara Arab Saudi dipegang oleh keluarga Saud. Namun mufti umum tidak selalu dari keluarga Ibnu abdul wahhab misalnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz.

Selengkapnya lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/16/2010/04/16/waspada-salafiyyah/

Dari gerakan da’wah yang sepemahaman dengan Syaikh Ibnu Taimiyah ini terpecah menjadi dua bagian besar yang bertolak belakang yakni,

Kelompok pertama, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang berkeras untuk berjihad, berperang melawan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Kelompok pertama yang sepemahaman sepert ini, contohnya Sayyid Qutb, Hasan al Banna atau bahkan Osama bin Laden

Kelompok kedua, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang taat kepada penguasa muslim asalkan masih sholat walaupun bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Kelompok kedua yang sepemahaman  seperti ini,  contohnya Imam bin Baz, al-Utsaimin dan al-Albani.

Selengkapnya lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/14/potret-salafiyyah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/14/divide-et-impera/ (versi ringkasnya)

Pada masa proses kejatuhan khalifah Turki Ustmani, salah satu strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman.

Selengkapnya silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/2010/02/23/bahaya-laten/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/2010/02/10/modernisasi-agama/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/2010/02/12/tanggapan-modernisasi-agama/

Kalau kita lihat diskusi atau perdebatan, kaum Salaf(i) dengan kaum lainnya atau kaum Salaf(i) dengan Salaf(i) lainnya dapat terlihat mereka seperti “keras”. Setelah saya pelajari ternyata  dalam pemahaman Salaf(i), mereka menolak ilmu tasawuf yang merupakan kelompok ajaran Islam seputar akhlak, hati, tazkiyatun nafs, ruhiyah dll.

Selengkap silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/13/kelemahan-salafiyyah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/2010/04/12/ilmu-tasawuf/

Kalau kita mebandingkan pemahaman kaum Salaf(i) dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah ternyata banyak perbedaan. Silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/2010/04/09/banyak-perbedaan/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/2010/03/29/taqlid-dan-ittiba/

Metodologi pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah adalah secara tekstual atau harfiah bahkan sebagian menyebut ilmiah mungkin sering kita jumpai catatan kaki sebagai sumber dalil.

Syaikh Ibnu Taimiyah memaknai berlebihan bahwa akal tunduk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sampai ada kecederungan tidak menggunakan akal lagi untuk mempelajari / memaknai Al-Qur'an dan Sunnah. Padahal kita diperintahkan untuk mempergunakan akal untuk mempelajari sesuai firman Allah yang artinya,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah - 269)

Akal terlarang jika kita menggunakan untuk membuat dalil, aturan, hukum baru, karena agama Islam telah sempurna sedangkan mengambil pelajaran atau memaknainya harus dengan akal (inilah kelebihan mahluk manusia). Dari akal kemudian menuju ke hati sehingga kita mencapai yang kita kenal sebagai haqul yakin. Sehingga dari semula muslim menjadi mukmin dan dilanjuti mencapai ihsan (sempurna) atau seorang muhsin,  ketika semua sudah mencapai hati, itulah yang dipaparkan dengan ihsan bahwa seolah-olah melihat Allah atau minimal, kita harus yakin bahwa Allah melihat kita. Ujung-ujungnya semua yang kita ingin tahu tentang hati, tazkiyatun nafs, ruhiyah asal kita mau mempelajari dan mengamalkan ilmu tasawuf.

Dalam urusan i’tiqad khususnya ayat-ayat mutasyaabihaat,

Aliran salaf adalah yang berserah diri, menghadapi ayat-ayat mutasyaabihaat mereka umumnya menyatakan "Kita tidak perlu tahu artinya ayat ini, serahkan kepada Allah apa artinya. Maha Suci Allah akan serupa dengan mahluk"

Sedangkan ulama salaf(i)  (Syaikh Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan sepemahaman)  menghadapi ayat-ayat mutasyaabihaat mereka umumnya menyatakan "Tidak boleh dita'wilkan, artikanlah secara tekstual, lahiriah di langit, tangan, duduk, namun semuanya tidak serupa dengan mahluk"

Nah kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah dalam metode mengajarkan dan menghadapi muslim-muslim yang tidak sepenuhnya berserah diri melakukan ta'wil.
Lalu siapa yang berhak menta'wilkan ?
Silahkan  lihat  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/tawil/

Sedangkan untuk contoh tentang Allah turun ke langit dunia silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/29/2010/04/10/allah-turun/

Ketika kehidupan Syaikh Ibnu Taimiyah, pendapat maupun fatwa beliau ditentang oleh jumhur ulama, bahkan beliau sampai dipenjara karena keganjilan (klo menurut kaum Salaf(i), beliau mempertahankan akidah). Sebenarnya beberapa ratus tahun kemudian pemahaman Syaik Ibnu Taimiyah sudah mulai ditinggalkan orang namun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengangkat kembali bahkan lebih keras dan lebih ekstrim.

Demikianlah uraian perbedaan dan keganjilan pemahaman ulama-ulama kaum Salaf(i), bahkan beberapa info mengatakan pada akhirnya Ibnu Taimiyah bertobat atas pemahaman i’tiqad / akidah yang beliau sampaikan salah satunya dapat kita ketahui

http://www.indonesiaindonesia.com/f/50416-bukti-ibnu-taymiyah-al-bany-taubat/

Ibnu Taimiyah Tobat

Namun oleh ulama-ulama salaf(i) lainnya informasi ini dikesampingkan.

Wallahu a’lam