Tampilkan postingan dengan label Salafiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salafiyyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 April 2010

Keluar Salafy Wahabi

Mengapa Mereka "keluar" dari pemahaman Salaf(i) Wahabi

Sesungguhnya saudara-saudara muslimku kaum Salaf(i) (pengikut Salafy Wahabi) dan Syaikh-Syaikh mereka seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikh Al Albani dan lainnya yang sepemahaman  adalah saudara-saudara muslim ku yang “berupaya” mengikuti Sunnah, Sahabat, Tabi’in, Tabi’ Tabi’in namun pada kenyataannya mereka menyandarkan pada metode pemahaman (madzhab) Syaikh Ibnu Taimiyah semata.

Kesimpulan kami (lihat tulisan-tulisan di blog kami ini tentang Salaf(i) ) , Syaikh Ibnu Taimiyah mempergunakan nama madzhab “generik” agar dikalangan muslim beranggapan sesuai dengan yang dimaksud sebagai “generasi terbaik”. Padahal sesungguhnya untuk “membungkus” nama Madzhab Taimiyah

Bahkan Syaikh Ibnu Taimiyah menfatwakan sendiri bahwa madzhab beliau adalah pasti benar.

“Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan madzab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar” [Majmu Fatawa 4/149]

Tentang Mazhab Salaf lihat tulisan di http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/20/madzhab-salaf/

Oleh karena banyak fitnah ditimbulkan atas metode pemahaman mereka maka saya sarankan bebaskanlah diri kita dari mereka.

Jadi sudah saatnya kita merujuk (fanatik) kepada Al-Qur’an dan Hadits.

Sesuai firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya:
“Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

Bebaskan akal dan hati kita untuk mempersiapkan menerima anugerah Al-hikmah dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang sebagaimana firman Nya yang artinya.

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Al-Baqarah – 269)

Kesimpulan:
Sebaiknya tidak membatasi diri kita dengan terbatasnya atau sebatas anugerah al-hikmah yang diterima orang lain.

Klo mau mengikuti metode pemahaman (madzhab) maka ikutilah yang sudah disepakati jumhur ulama yakni Imam Madzhab yang empat.

Alhamdulillah, beberapa orang yang  “keluar” dari metode pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah adalah orang-orang yang membebaskan akal dan hati mereka dan kembali fanatik pada Al-Qur’an dan Hadits.

Nyatalah sudah mengapa metode pemahaman (madzhab) Syaikh Ibnu Taimiyah ditentang oleh jumhur ulama pada zamannya

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab  yang "mengangkat" kembali metode pemahaman (madzhab) Syaikh Ibnu Taimiyah pun ditentang oleh kakaknya (Sulaiman bin Abdul Wahab) yang bermadzhab Hanbali

Anggapan saudara-saudara muslimku kaum Salaf(i)  justru sebaliknya bahwa kakaknya menentang da'wah sunnah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Anggapan yang keliru atau memutar balikkan fakta. Naudzubillah min Zalik.

Kami sama sekali bukan menentang da'wah Sunnah namun kami tidak sependapat dengan da'wah Sunnah ala Syaikh Ibnu Taimiyah.

Salah satu guru Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Muhammad bin Abdul Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”

Wassalam

Catatan : Untuk seluruh istilah kaum Salaf(i) dalam blog ini adalah yang dimaksud dengan Salaf(i) Wahabi. Agak sulit untuk menulis "pangillan"nya karena mereka melarang penamaan kelompok.


Info penting ! Sebuah ebook sudah dipublikasikan

Inilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah oleh A. Shihabuddin
(Kumpulan Dialog Membela Faham Aswaja Dari Faham Salaf(i) Wahabi)

Penerbit menganjurkan bagi setiap muslim untuk mencetak ulang dan menyebarkan serta mengajarkan materi buku tsb  ke seluruh pelosok dunia, dan baginya pahala dari Alloh ‘azza wa jalla.

Untuk download silahkan melalui link dibawah ini.

Alternatif 1
4shared.com

Alternatif 2
docstoc.com

Alternatif 3 (download langsung)
docstoc.com (direct download)

Sabtu, 24 April 2010

Orang Muda

Saya tidak membenci saudara-saudara muslimku kaum Salaf(i).  Semua ini saya lakukan dalam rangka saling-mengingatkan.

Sekarang mereka menyadari sebagai "kaum minoritas muslim", atau sebagai orang-orang yang terasing (alghuroba)  namun mereka keliru memaknai hadits tentang "alghuroba".

Saya cuma sedih bagi saudara-saudara muslim ku yang mengatakan bersandar pada Salaf.  Namun pada kenyataannya mereka bersandar pada syaikh-syaikh mereka seperti syaikh Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnu Qoyim Al Jauzi, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikh Al Albani dan selanjutnya.

Inilah yang kita kenal dengan "kaum muda" atau kaum pembaruan atau kaum modernisasi Islam

Mulai perkembangannya ketika ditandai kejatuhan khalifah Turki Ustmani (1924)

Sesuai dengan firman Allah yang artinya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Di saat itu diupayakan kejatuhan khalifah Turki Ustmani  oleh orang-orang yang memusuhi Islam (orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik) dengan gerakan mereka "Pusat-Pusat kajian ketimuran" yang dipimpin orientalis barat, "Modernisasi agama" , "Nasionalisme" yang salah satunya di motori Edward Terrence Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dengan sebutan “Lawrence of Arabia,  "Sekularisme" yang dimotori Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Inilah sesungguhnya yang dimaksud ghazwul fikri (perang pemahaman).

Orang-orang yang memusuhi Islam paham bahwa mereka tidak akan dapat "mengutak-utik" Al-Qur'an karena terjaga sampai akhir zaman. Yang mereka lakukan adalah menyerang dalam tataran pemahaman / pemikiran.

Mereka suka sekali "mengangkat" ulama yang bertentangan dengan jumhur ulama pada waktu itu yakni Syaikh Ibnu Taimiyah yang sesungguhnya belum memenuhi syarat sebagai imam mujtahid karena keterbatasan pemahaman agamanya.  Metode pemahaman beliau yang kita kenal sebagai secara tekstual atau harfiah. Orang-orang yang melabeli beliau sebagai "Syaikhul Islam" sebatas dari kalangan mereka.

Akibat dari perang pemikiran ini timbullah fitnah-fitnah dan kaum muslim terpecah. Sebagian saudara-saudara muslimku menganggap mereka sedang memerangi bid'ah namun pada kenyataannya mereka tidak memahami arti bid'ah sesungguhnya.

Sekarang bisa kita jumpai saudara-saudara muslimku yang memasuki bulan Rabiul Awwal (Maulid Nabi) dengan penuh amarah.  Mereka memperturutkan hawa nafsu membenci kepada saudara-saudara muslim yang melaksanakan pengajian dalam rangka maulid nabi. Mereka mengatakan perayaan Maulid Nabi terlarang berdasarkan pengamatan mereka hanya kepada umat muslim yang keliru mengadakan/memahami Maulid Nabi.  Begitu juga mereka melarang belajar ilmu Tasawuf karena berdasarkan pengamatan mereka hanya kepada umat muslim yang keliru mengimplementasikan ilmu Tasawuf.

Berhati-hatilah dalam memahami agama.  Fanatiklah hanya pada Al-Qur'an dan Hadits.

Sekali lagi berhati-hatilah dan ingatlah Nabi Muhammad Saw bersabda yang artinya,

“Akan keluar suatu kaum akhir zaman, orang-orang muda berpaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah” (maksudnya firman-firman Allah yang dibawa Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagai meluncurnya anak panah dari busurnya, Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka” (Hadits sahih riwayat Imam Bukhari).

Marilah kita tegakkan Ukhuwah Islamiyah.  Sebaiknya jangan memusuhi / membenci sesama muslim karena Allah telah menegaskan (dalam Al-Maidah: 82) bahwa yang paling keras permusuhannya dengan kita adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Wassalam

Rabu, 21 April 2010

Mengapa Salafiyyah

Sebagian bertanya, "Mengapa saya merasa perlu mengungkap Wahabi/Salaf(i) ?"

Selain keanehan mereka  ketika memasuki bulan Rabiul Awwal dengan penuh amarah dan berdasarkan buku-buku,  berita/tulisan situs-situs yang saya pelajari saya menemukan beberapa keanehan salah satunya,

Kaum salaf(i) / wahabi karena amarahnya melihat muslim bermaulid Nabi sering menyampaikan bahwa “Nabi Maupun Wali Adalah Manusia Biasa, Tidak Berhak Disembah! ”
lihat contoh http://www.almanhaj.or.id/content/2709/slash/0

Padahal kalimat sebaiknya adalah “Nabi maupun Wali adalah manusia, tidak berhak disembah”. Bukannya “Manusia Biasa” !.   Keterlaluan.

Juga kalimat tersebut bisa mempunyai arti  lain bahwa manusia luar biasa berhak disembah.  Ini mengingatkan saya kepada kepercayaan orang-orang Yahudi & Orang-Orang Musyrik bahwa "Manusia dalam perwujudan yang tinggi menyerupai Tuhan" lihat tulisan di  penghambaan sesama manusia.

Saudara-saudara ku  Wahabi / Salafi   (bukan yang dimaksud salaf) mengelompokkan saudara muslim lainnya Ahlu bid’ah namun mereka tidak paham dengan bid’ah. Apakah kita biarkan ?

Dikarenakan mereka menganggap saudara muslim lainnya sebagai ahlul bid’ah maka mereka memutus silaturahim, meng-hajr (boikot/isolir) atau tindakan-tindakan lainnya. Padahal semua itu karena mereka tidak paham tentang bid’ah.

Dan sesungguhnya pelabelan  "Ahlul bid'ah" adalah pelabelan secara halus yang sesungguhnya bisa diartikan  sebagai "kamu sesat",  karena mereka tahunya bahwa sekalian bid'ah adalah sesat.

Kaum wahabi/salaf(i) diindoktrinasi oleh syaikh-syaikh mereka dengan pernyaatan sbb:  "Jangan mengambil ilmu agama dari ahli bid’ah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari. Sehingga hal ini akan mengantarkannya kepada jurang kehancuran"  Lihat contoh : http://www.almanhaj.or.id/content/2602/slash/0

Dengan pengaruh ini maka pengikut wahabi salaf(i) akan "menutup diri" dengan pemahaman saudara-saudara muslim lainnya. Andaikata pemahaman mereka sesat/keliru maka sulit bagi saudara-saudara muslim diluar mereka memberikan nasehat.

Kalau jam'ah/majlis yang menutup diri seperti ini biasanya mengarah ada sesuatu/misi yang disembunyikan.  Dari sejak dahulu seorang yang mempelajari agama bebas berganti guru/syaikh karena sesungguhnya dasar pegangan adalah sama yakni Al-Qur'an dan Hadits. Yang berbeda dari guru/syaikh adalah semata-mata besarnya karunia al hikmah yang telah dianugerahi Allah sesuai dengan firmanNya yang artinya,

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)" (Al-Baqarah - 269)

Apakah mereka menjamin bahwa Allah menganugerahkan al-hikmah hanya dikalangan syaikh-syaikh mereka saja ?

Orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik sudah paham mereka tidak dapat "mengutak-utik" ayat-ayat Al-Qur'an karena terjaga sampai akhir zaman. Hal yang mungkin mempengaruhi bagi umat Islam adalah di tataran pemahaman/pemikiran  (ghazwul fikri).

Mengingat firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Saya menduga semua keanehan ini,  tanpa kita sadari,  bisa jadi ulah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.  Ketika mereka berupaya menjatuhkan khalifah Turki Ustmani, mereka sebenarnya yang turut mengangkat kembali pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah bersama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mempunyai kepentingan membantu kekuasaan cikal bakal keluarga saudi.  (Lihat tulisan bahaya laten).

Orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik tentu paham bahwa pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah ditolak banyak ulama pada zamannya, sehingga dengan mengangkat kembali pemahaman ini akan terjadi konflik diantara umat Islam di kemudian hari.

Bahkan menurut info mereka pun turut membantu mencetak kembali karya-karya Ibnu Taimiyah, sehingga umat Islam pun dengan mudah mendapatkannya.

Bahkan di Arab sendiri buku-buku untuk menyebarluaskan paham wahabi / salaf(i) dibagi-bagikan secara gratis.

Pertimbangan lain adalah sebuah  hadist tentang Imam Mahdi akan berperan sebagai panglima perang ummat Islam di akhir zaman. Beliau akan mengajak ummat Islam untuk memerangi para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa Diktator).

“Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal,dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

Wallahu a'lam.

Selengkapnya lihatlah tulisan untuk saudaraku wahabi / salaf(i).

Saudaraku Salafiyyah

Untuk saudaraku kaum salaf(i).

Beberapa tulisan di blog ini diperuntukan bagi saudara-saudaraku dari kaum Salaf(i) dengan maksud semoga mereka mendapatkan pelajaran sebagai bahan intropeksi diri / jama’ah. Juga diperuntukkan bagi umat muslim yang sedang menuntut ilmu atau sedang bingung memilih jama’ah / majlis / pengajian yang hendak diikuti. Untuk memilih dapat merujuk pada dua buah tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/pilih-jamaah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/18/firqah-masuk-surga/

Dalam seluruh tulisan harus dibedakan antara salaf dan salaf(i).

Asal muasalnya saya menulis tentang kaum Salaf(i) adalah  dikarenakan kita jumpai sebagian muslim ketika memasuki bulan Rabiul Awwal dengan penuh amarah.

Sebab mereka menganggap ungkapan kecintaan kepada Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam di bulan Rabiul Awwal sebagai hal yang mungkar. Karena mereka beranggapan bahwa ungkapan cinta dan syukur atas kelahiran dan diutusnya Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam sebagai penambahan dalam agama ( bid’ah ) yang tidak pernah dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam.

Menurut meraka, setiap amaliyah yang tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam adalah bid’ah dan kesesatan.

Setelah saya telusuri, ternyata mereka sesungguhnya tidak memahami arti bid’ah. Silahkan merujuk tiga buah tulisan untuk memahami bid’ah.

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/18/memahami-bidah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/20/bidah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/20/semua-ibadah/

Saya maksudkan dengan kaum salaf(i) adalah sebatas mereka yang sepahaman dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengikuti pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah yang diikuti pula salah satunya adalah Syaikh Ibnu Qoyyim Al Jauzi.

Silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/2010/02/21/salaf-ala-ibnu-taimiyah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/21/2010/02/10/ibnu-taimiyah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/21/2010/02/10/muhammad-bin-abdul-wahab/

Mereka ini saya sebut sebagai ulama salaf(i) ,  kita bedakan dengan ulama zaman salaf

Imam madzhab yang empat, lebih terdahulu (salaf) dibandingkan ketiga imam-imam salafi yang saya sebutkan.

Kita ketahui kehidupan empat imam madzhab adalah ketika dan dekat masa generasi salaf (sahabat, tabi'in, tabi,ut tabi'in) yakni
* Imam Hanafi (lahir 81H, wafat 150 H)
* Imam Malik bin Anas (lahir 83H, wafat 179 H)
* Imam Syafi’i (lahir 150 H, wafat 204 H)
* Imam Ahmad bin Hambal (lahir 162H, wafat 241 H)

Sedangkan Syaikh Ibnu Taimiyah (lahir 661 H, wafat 724 H) apalagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (1115H – 1206H) waktunya lebih kebelakang dibandingkan empat imam madzhab.

Jadi aneh koq sekarang sebagian umat muslim lebih memilih imam-imam "yang berupaya kembali ke salaf"  (salafi) di bandingkan "imam-imam yang sudah jelas lebih terdahulu (salaf)". Bahkan sebagian dari kaum  Salaf(i)  ada yang anti madzhab atau anti ilmu fiqh.

Kunci meluasnya pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah adalah apa yang diupayakan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Bagi saya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah ulama yang pragmatis karena kita ketahui beliau “membantu” kekuasaan Muhammad bin Sa’ud (cikal bakal kerajaan Saudi).

Saat ini kita ketahui pemerintahan kerajaan Saudi Arabia berkehendak meluaskan pemahaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kita kenal dengan Wahabi atau diluar negeri mereka diberi nama Salaf(i).

Sikap pragmatis dari Muhammad bin Abdul Wahab mengikat perjanjian dengan Muhammad bin Saud, seorang pemimpin suku di wilayah Najd. Sesuai kesepakatan, Ibnu Saud ditunjuk sebagai pengurus administrasi
politik sementara Ibnu Abdul Wahhab menjadi pemimpin spiritual. Sampai saat ini, gelar “keluarga kerajaan” negara Arab Saudi dipegang oleh keluarga Saud. Namun mufti umum tidak selalu dari keluarga Ibnu abdul wahhab misalnya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz.

Selengkapnya lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/16/2010/04/16/waspada-salafiyyah/

Dari gerakan da’wah yang sepemahaman dengan Syaikh Ibnu Taimiyah ini terpecah menjadi dua bagian besar yang bertolak belakang yakni,

Kelompok pertama, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang berkeras untuk berjihad, berperang melawan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Kelompok pertama yang sepemahaman sepert ini, contohnya Sayyid Qutb, Hasan al Banna atau bahkan Osama bin Laden

Kelompok kedua, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang taat kepada penguasa muslim asalkan masih sholat walaupun bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Kelompok kedua yang sepemahaman  seperti ini,  contohnya Imam bin Baz, al-Utsaimin dan al-Albani.

Selengkapnya lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/14/potret-salafiyyah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/14/divide-et-impera/ (versi ringkasnya)

Pada masa proses kejatuhan khalifah Turki Ustmani, salah satu strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman.

Selengkapnya silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/2010/02/23/bahaya-laten/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/2010/02/10/modernisasi-agama/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/2010/02/12/tanggapan-modernisasi-agama/

Kalau kita lihat diskusi atau perdebatan, kaum Salaf(i) dengan kaum lainnya atau kaum Salaf(i) dengan Salaf(i) lainnya dapat terlihat mereka seperti “keras”. Setelah saya pelajari ternyata  dalam pemahaman Salaf(i), mereka menolak ilmu tasawuf yang merupakan kelompok ajaran Islam seputar akhlak, hati, tazkiyatun nafs, ruhiyah dll.

Selengkap silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/13/kelemahan-salafiyyah/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/2010/04/12/ilmu-tasawuf/

Kalau kita mebandingkan pemahaman kaum Salaf(i) dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah ternyata banyak perbedaan. Silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/2010/04/09/banyak-perbedaan/

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/2010/03/29/taqlid-dan-ittiba/

Metodologi pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah adalah secara tekstual atau harfiah bahkan sebagian menyebut ilmiah mungkin sering kita jumpai catatan kaki sebagai sumber dalil.

Syaikh Ibnu Taimiyah memaknai berlebihan bahwa akal tunduk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sampai ada kecederungan tidak menggunakan akal lagi untuk mempelajari / memaknai Al-Qur'an dan Sunnah. Padahal kita diperintahkan untuk mempergunakan akal untuk mempelajari sesuai firman Allah yang artinya,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah - 269)

Akal terlarang jika kita menggunakan untuk membuat dalil, aturan, hukum baru, karena agama Islam telah sempurna sedangkan mengambil pelajaran atau memaknainya harus dengan akal (inilah kelebihan mahluk manusia). Dari akal kemudian menuju ke hati sehingga kita mencapai yang kita kenal sebagai haqul yakin. Sehingga dari semula muslim menjadi mukmin dan dilanjuti mencapai ihsan (sempurna) atau seorang muhsin,  ketika semua sudah mencapai hati, itulah yang dipaparkan dengan ihsan bahwa seolah-olah melihat Allah atau minimal, kita harus yakin bahwa Allah melihat kita. Ujung-ujungnya semua yang kita ingin tahu tentang hati, tazkiyatun nafs, ruhiyah asal kita mau mempelajari dan mengamalkan ilmu tasawuf.

Dalam urusan i’tiqad khususnya ayat-ayat mutasyaabihaat,

Aliran salaf adalah yang berserah diri, menghadapi ayat-ayat mutasyaabihaat mereka umumnya menyatakan "Kita tidak perlu tahu artinya ayat ini, serahkan kepada Allah apa artinya. Maha Suci Allah akan serupa dengan mahluk"

Sedangkan ulama salaf(i)  (Syaikh Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan sepemahaman)  menghadapi ayat-ayat mutasyaabihaat mereka umumnya menyatakan "Tidak boleh dita'wilkan, artikanlah secara tekstual, lahiriah di langit, tangan, duduk, namun semuanya tidak serupa dengan mahluk"

Nah kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah dalam metode mengajarkan dan menghadapi muslim-muslim yang tidak sepenuhnya berserah diri melakukan ta'wil.
Lalu siapa yang berhak menta'wilkan ?
Silahkan  lihat  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/12/tawil/

Sedangkan untuk contoh tentang Allah turun ke langit dunia silahkan lihat tulisan

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/29/2010/04/10/allah-turun/

Ketika kehidupan Syaikh Ibnu Taimiyah, pendapat maupun fatwa beliau ditentang oleh jumhur ulama, bahkan beliau sampai dipenjara karena keganjilan (klo menurut kaum Salaf(i), beliau mempertahankan akidah). Sebenarnya beberapa ratus tahun kemudian pemahaman Syaik Ibnu Taimiyah sudah mulai ditinggalkan orang namun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengangkat kembali bahkan lebih keras dan lebih ekstrim.

Demikianlah uraian perbedaan dan keganjilan pemahaman ulama-ulama kaum Salaf(i), bahkan beberapa info mengatakan pada akhirnya Ibnu Taimiyah bertobat atas pemahaman i’tiqad / akidah yang beliau sampaikan salah satunya dapat kita ketahui

http://www.indonesiaindonesia.com/f/50416-bukti-ibnu-taymiyah-al-bany-taubat/

Ibnu Taimiyah Tobat

Namun oleh ulama-ulama salaf(i) lainnya informasi ini dikesampingkan.

Wallahu a’lam

Jumat, 16 April 2010

Waspada Salafiyyah

Ada dua fenomena yang bisa kita amati pada zaman ini.
Umat muslim yang mengikuti pendidikan pada orang Barat (seperti Amerika) kembali dari sana ada kemungkinan berpemahaman Liberal
Umat muslim yang mengikuti pendidikan pada orang Timur (jazirah Arab) kembali dari sana ada kemungkinan berpemahaman Wahabi atau Salaf(i)

Kita harus membedakan antara Salaf dengan Salaf(i).
Salaf(i) adalah kaum yang menjadi berbeda dengan pemahaman ulama Salaf.
Salafi adalah kaum yang merujuk kepada pemahaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, dan beliau merujuk kepada pemahaman syaikh Ibnu Taimiyah.

Saya sampai bertanya dalam hati "Siapa sesungguhnya Syaikh Ibnu Taimiyah itu".

Maaf, bagi saya umat Islam yang mengikuti  pemahaman beliau itu mengacaukan pemahaman.

Sebagai contoh adalah cara memahami firman Allah, Al 'Araf : 54 yang artinya  "Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy" .
Istawa = bersemayam atau bahkan ada yang memahami dengan duduk, walaupun diberi catatan bersemayam/duduk yang tidak serupa dengan mahluk. Pemahaman atau terjemahan Al-Qur'an seperti inilah yang kita jumpai pada umumnya.

Sedangkan saya pribadi memahami istawa tersebut tidak dengan arti tekstualnya bersemayam atau duduk. Namun saya memahami sebagai menguasai dan/atau memerintah.

Begitu juga kata Istawa yang kita temukan pada ayat-ayat lain yang tidak kita artikan secara tekstual sebagai bersemayam/duduk seperti.

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (Al Baqarah: 29)

Disini Istawa dipahami sebagai berkehendak menciptakan.

"Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al Qashash : 14)

Disinipun istawa tidak dipahami sebagai  bersemayam atau duduk.

Saya sepemahaman yang menyatakan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya, Dia tidak membutuhkan kepada tempat atau arsy, karena arsy adalah makhluk Allah sendiri. Mustahil Allah membutuhkan kepada makhluk-Nya.

Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut:
“Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”

Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Sesuai dengan yang dimaksud oleh Al-Imam Abu Hanifah bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah tanpa tasybih, tanpa Kayfiyyah, dan tanpa kammiyyah.

Jadi memahami Istiwa sebagai menguasai dan/atau memerintah dibeberapa ayat Al-Qur'an ketimbang bersemayam atau duduk adalah lebih aman buat i'tiqad karena tidak akan ada sedikitpun bertentangan dengan firman Allah yang artinya, ... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia ... (As Syuura: 11).

Saya sangat khawatir dengan beredar luasnya pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah selain kata bersemayam/duduk, ada kata lain seperti tangan, turun, bertubuh dll.

Mengenai pemahaman turunnya  Allah silahkan baca tulisan sebelumnya

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/10/allah-turun/

Pada masa hidupnya Syaikh Ibnu Taimiyah, pendapat, perkataan atau fatwa beliau bertentangan dengan jumhur ulama dan fatwa beliau dianggap ganjil. Sehingga beliau beberapa kali masuk penjara karena keganjilannya namun sebagian umat Islam saat ini menganggap beliau dipenjara karena keteguhan beliau dalam i'tiqad. Wallahu a'lam.

Kunci meluasnya pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah adalah apa yang diupayakan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Bagi saya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah ulama yang pragmatis karena kita ketahui beliau "membantu" kekuasaan Muhammad bin Sa'ud (cikal bakal kerajaan Saudi).

Saat ini kita ketahui pemerintahan kerajaan Saudi Arabia berkehendak meluaskan pemahaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kita kenal dengan Wahabi atau diluar negeri mereka diberi nama Salaf(i).

Pertimbangan Pertama
Upaya kerajaan Saudi Arabia untuk penyeragaman / perluasan pemahaman wahabi atau salaf(i)  ke seluruh dunia,  adanya kemungkinan menyesatkan setelah kita lihat perbedaan pemahaman yang telah saya uraikan.

Terlebih lagi mempertimbangkan hadist tentang Imam Mahdi akan berperan sebagai panglima perang ummat Islam di akhir zaman. Beliau akan mengajak ummat Islam untuk memerangi para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa Diktator).
“Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal,dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

Pertimbangan Kedua
Sikap pragmatis dari Muhammad bin Abdul Wahab mengikat perjanjian dengan Muhammad bin Saud, seorang pemimpin suku di wilayah Najd. Sesuai kesepakatan, Ibnu Saud ditunjuk sebagai pengurus administrasi
politik sementara Ibnu Abdul Wahhab menjadi pemimpin spiritual. Sampai saat ini, gelar "keluarga kerajaan" negara Arab Saudi dipegang oleh keluarga Saud. Namun mufti umum tidak selalu dari keluarga Ibnu abdul wahhab misalnya Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Abdillah bin Baz.

Dan hadist yang menyatakan bahwa fitnah berasal dari Najd
Daripada Abdullah Ibn Umar r.a., beliau berkata: Rasulullah SAW menyebut: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.
Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah!
Rasulullah pun bersabda: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.
Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah!
Dan aku menyangka (seingat aku) pada kali ketiga Rasulullah SAW bersabda: Di sanalah berlakunya gegaran-gegaran, fitnah-fitnah dan di sanalah terbitnya tanduk Syaitan.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam al-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan lain-lain.

Wallahu a'lam

Rabu, 14 April 2010

Divide et impera

Berikut ini adalah  versi ringkas dari tulisan sebelumnya,  potret salafiyyah

Umat muslim sebaiknya melihat  sejenak situasi dunia Islam kini

Saya samakan persepsi dahulu.
Salaf(i) adalah saudara-saudaraku yang sepemahaman dengan Syaikh Ibnu Taimiyah dan/atau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
Gerakan da'wah ini dikenal sebagai gerakan modernisasi agama, gerakan pemberantas Tahayul, Bid'ah dan Kurafat

Pada masa hidupnya Syaikh Ibnu Taimiyah, pendapat, perkataan atau fatwa beliau bertentangan dengan jumhur ulama dan fatwa beliau dianggap ganjil. Sehingga beliau beberapa kali masuk penjara karena keganjilannya.

Gerakan neo-modernis, neo-fundamentalis,  pembaharuan pada umumnya berpedoman pada apa yang telah diupayakan oleh pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah.

Dari gerakan da'wah yang sepemahaman dengan Syaikh Ibnu Taimiyah ini terpecah menjadi dua bagian besar yang bertolak belakang yakni,

Kelompok pertama, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang berkeras untuk berjihad, berperang melawan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Kelompok pertama yang sepemahaman sepert ini, contohnya Sayyid Qutb, Hasan al Banna atau bahkan Osama bin Laden

Kelompok kedua, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang taat kepada penguasa muslim asalkan masih sholat walaupun bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Kelompok kedua yang sepemahaman  seperti ini,  contohnya Imam bin Baz, al-Utsaimin dan al-Albani.

Kedua kelompok inipun dimanfaatkan oleh “mereka” yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Kelompok pertama dimanfaatkan “mereka” untuk alasan berperang dan kepentingan “mereka” membunuh saudara-saudara muslim kita.

Sedangkan kelompok kedua digunakan untuk menumpuk kekayaaan dengan mengeruk hasil sumber daya alam, minyak bumi dari negeri penguasa-penguasa  yang bersekutu dengan “mereka”. Selanjutnya kekayaan yang didapat digunakan untuk membiayai peperangan dengan kelompok pertama.

Sehingga secara tidak langsung kita sesama muslim saling membunuh. Naudzubillah Min Zalik.

Inilah kenyataan pahit yang ada.

Nyatalah peringatan Allah dalam firmanNya, yang artinya

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Untuk saudara-saudara muslim yang bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik, ingatlah firman Allah yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” ,  (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali Imran, 119)

Jadi dengan situasi seperti ini, kita bisa paham mengapa permasalahan Palestina, Afghanistan, Irak,  Somalia dll berlarut-larut.

Wallahu a'lam

Potret Salafiyyah

Banyak pihak melalui email, milis, forum yang menanggapi tulisan saya sebelumnya

Kelemahan Salaf(i)

Mereka sebagian besar menanyakan metode pengkajian yang telah saya lakukan terhadap metode pengajaran Salaf(i)  atau paling tidak, sumber atau buku mana saja yang saya pergunakan dalam pengkajian. Untuk mengetahui beberapa sumber pustaka silahkan merujuk ke blog saya http://mutiarazuhud.wordpress.com disana ada beberapa tercantum buku-buku yang saya pergunakan.

Namun kali ini saya akan menuliskan fakta kondisi global dunia muslim, khususnya  potret kaum Salaf(i) yang merupakan hasil pengkajian saya selama ini.  Semoga bermanfaat.

Sebelumnya mari kita bersama ulangi ucapkan “Bismillaahirrahmaanirrahiim”.

Kita samakan persepsi terlebih dahulu dengan apa yang dinamakan ulama sezaman salaf dan membedakannya dengan ulama wahabi atau salaf(i).

Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi).

Sezaman dengan generasi terbaik yakni sebelum 300 Hijrah,  Ulama yang kita kenal sebagai  Empat Imam Madzhab

  • Imam Hanafi (lahir 81H, wafat 150 H)

  • Imam Malik bin Anas (lahir 83H, wafat 179 H)

  • Imam Syafi’i  (lahir 150 H, wafat 204 H)

  • Imam Ahmad bin Hambal (lahir 162H, wafat 241 H)


Ulama salaf(i) adalah ulama yang “mengaku” bersandar / bermanhaj kepada ulama salaf.

Diawali oleh Syaikh Ibnu Taimiyah (lahir 661 H, wafat 724 H) diikuti oleh Syaikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (1115H  – 1206H).

Kita setuju bahwa umat muslim harus bersandar pada salaf.

Namun bukan berarti kita diharuskan bersandar pada ulama salaf(i) !

Mana yang lebih dahulu kehidupannya, apakah ulama salaf(i) atau empat imam madzhab ?

Banyak saudara-saudara muslim kita dalam pengajian, jama’ah minal muslimin atau pondok pesantren bersandar pada salaf namun  bukan bersandar pada ulama salaf(i) atau dengan kata lain mereka bukan Salaf(i).

Mereka dalam pengkajian memakai rujukan Al-Qur’an dan Tafsir, Hadist-Hadist dan Syarahnya. Kitab-Kitab Fiqih empat madzhab, Kitab-Kitab Ushuluddin, Kitab-Kitab Tasawuf, Kamus-Kamus, dll

Umat Islam sekarang ini dalam belajar agama sebagian mau serba instan.

Mereka mau bersandar pada salaf atau bermanhaj salaf namun sejatinya adalah bersandar pada ulama salaf(i) atau paling tidak mereka membaca karya-karya tulis ulama salaf(i) dan sekali-kali memeriksa ayat-ayat yang dicantumkan pada karya-karya tulis ulama salaf(i) dengan Al-Qur’an dan Hadits. Selebihnya kadang-kadang mereka tidak memeriksa kembali dan percaya saja dengan ulama salaf(i).

Inilah bahayanya !

Pada saat kita berulang-ulang memeriksa pada Al-Qur’an dan Hadits bahwa apa yang dituliskan itu benar adanya dan kemudian lengah, maka selanjutnya apapun perkataan / pendapat ulama salaf(i), kita menerimanya sebagai kebenaran.

Inilah yang disebut indoktrinasi atau cuci otak ! Saya tidak mengatakan bahwa semua perkataan ulama Salaf(i) itu keliru namun saya hanya menganjurkan untuk selalu merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. Jangan lengah !

Ulama-ulama Salaf(i) mengatakan bahwa akal tunduk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun sebagian pengikut ulama-ulama Salaf(i) menundukkan akal pula terhadap semua perkataan / pendapat ulamanya

Indoktrinasi dari ulama salaf(i) yang saya tidak sepahaman diantaranya adalah bahwa empat imam madzhab (dengan rendah hati) mengatakan jikalau pendapat/perkataan mereka keliru maka kembalilah pada Al-Qur’an dan Hadist.

Para ulama salaf(i) mengatakan  “Imam-Imam Madzhab melarang dan mewanti-wanti orang lain agar tidak taqlid kepada mereka dalam beragama. Dan mereka memerintahkan orang lain agar mengkonfirmasi perkataan mereka dengan nash-nash kitab Allah dan sunnah Rasululla Saw. Jika cocok, maka hendaklah dilaksanakan, dan jika tidak cocok maka hendaklah di campakkan”

Perkataan ulama-ulama salaf(i) ini benar adanya namun seolah-olah mereka mengatakan bahwa perkataan-perkataan Imam-imam Madzhab banyak yang dicampakkan dan perkataan-perkataan mereka yang dilaksanakan. Sehingga sebagian pengikut-pengikut ulama salaf(i) keliru menjadi anti-madzhab.

Dalam karya-karya tulis ulama Salaf(i) ada kemungkinan indoktrinasi, memasukkan pendapat / perkataan Syaikh-Syaikh yang sesuai “kepentingan” diantara dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits sehingga pengikut-pengikut Salaf(i) terbagi dua “kepentingan” besar yakni,

Kelompok pertama, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang berkeras untuk berjihad, berperang melawan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Kelompok kedua, Syaikh-syaikh yang menghasilkan pengikut Salaf(i) yang taat kepada penguasa muslim asalkan masih sholat walaupun bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Kelompok pertama mengatakan kelompok kedua “murtad”

Kelompok kedua mengatakan kelompok pertama “sesat”

Kedua kelompok inipun dimanfaatkan oleh “mereka” yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Kelompok pertama dimanfaatkan “mereka” untuk alasan berperang dan kepentingan “mereka” membunuh saudara-saudara muslim kita.

Sedangkan kelompok kedua digunakan untuk menumpuk kekayaaan dengan mengeruk hasil sumber daya alam, minyak bumi dari negeri penguasa-penguasa  yang bersekutu dengan “mereka”. Selanjutnya kekayaan yang didapat digunakan untuk membiayai peperangan dengan kelompok pertama.

Sehingga secara tidak langsung kita sesama muslim saling membunuh. Naudzubillah Min Zalik.

Nyatalah peringatan Allah dalam firmanNya, yang artinya

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Untuk saudara-saudara muslim yang bersekutu dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik, ingatlah firman Allah yang artinya,

“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” ,  (Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali Imran, 119)

Inilah potret salaf(i) sesungguhnya, keadaan dunia muslim saat ini. Semoga dengan potret ini kita dapat mengetahui kondisi global sesungguhnya dan membuat kita bersatu menegakkan ukhuwah Islamiyah sehingga kita tidak diperdaya atau dicerai-beraikan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Apa yang dikerjakan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dkk adalah apa yang disebut dengan modernisasi agama. Modernisasi agama adalah isu yang dihembuskan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Menurut alm. K.H. Siradjuddin Abbas, bagi kita sesungguhnya tidak menolak seluruh modernisasi. Modernisasi dianjurkan untuk bidang-bidang keduniaan yang belum ada aturannya dari Allah dan Rasul. Namun dalam soal kegamaan, soal syariat, soal ibadah, soal i’tiqad (aqidah) maka kita menolak sekuat-kuatnya akan modernisasi. Agama adalah dari Allah dan Rasul, kita wajib menerima bagaimana adanya, sebagai yang diajarkan Rasulullah.
Nabi Rasulullah bersabda: “Dari Anas bin Malik Rda, beliau berkata, Rasulullah telah bersabda: Apabila ada sesuatu urusan duniamu maka kamu yang lebih tahu, tetapi apabila dalam urusan agamamu maka Saya yang mengaturnya”. (HR Imam Ahmad bin Hanbal).
Agama tidaklah mengikuti zaman tetapi sebaliknya zaman yang harus tunduk kepada agama.

Kalau agama dimodernisir dan disesuaikan dengan zaman maka akibatnya agama itu akan hapus dengan sendirinya, karena tuntutan zaman itu berobah-obah terus dan agama akan berobah pula sesuai dengan zaman itu.

Marilah kita menjadi muslim yang terbaik dimana dapat mencapai tingkatan sseolah-olah melihat Allah atau paling tidak mencapai tingkatan yang  meyakini  bahwa Allah melihat seluruh perbuatan kita.

Sehingga sebelum melakukan perbuatan dapat merujuk pada Al-Quran dan Hadits, karena sesungguhnya kita diciptakan Allah, semata - mata untuk  menyembah Allah.

Selasa, 13 April 2010

Kelemahan Salafiyyah

Setelah saya mengkaji metode pengajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang sepemahaman dengan Syaikh Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dan yang sepahaman lainnya yang ketika kenal dengan kaum Salaf(i), titik kelemahannya salah satu yang utama  adalah menolak pengajaran bidang Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat)..



Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat) bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, tazkiyatun nafs, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.

Pokok pengajaran mereka hanya pada bidang Ilmu Fiqih (tentang Islam / Syariat) dan Ilmu Tauhid /. Usuluddin (tentang Iman / Hakikat).

Kemungkinan penolakan pengajaran Ilmu Tasawuf  disebabkan oleh

  • Allah tidak menganugerahkan kemampuan pemahaman ilmu Tasawuf kepada mereka.

  • Mereka mengambil kesimpulan yang keliru terhadap data/fakta  yang mereka ketahui terhadap orang-orang yang “mengaku” telah mempeljari ilmu Tasawuf.


Contoh fakta-fakta keliru yang mereka ketahui tentang mereka yang berkecimpung pada ilmu Taswuf antara lain:

  1. Ahli tasawuf, umumnya, dalam menjalankan agama dan melaksanakan ibadah tidak berpedoman kepada Al-Qur`ân dan Sunnah, tetapi, pedoman mereka adalah bisikan jiwa dan perasaan mereka, serta ajaran yang digariskan oleh pimpinan-pimpinan mereka.

  2. Juga termasuk doktrin ajaran tashawwuf yang sesat, yaitu apa yang mereka namakan sebagai suatu keadaan/tingkatan, yang jika seseorang telah mencapainya, maka ia akan bebas dari kewajiban melaksanakan syariat Islam.

  3. Mereka membatasi ibadah hanya pada aspek al-mahabbah (kecintaan) saja dengan mengenyampingkan aspek-aspek lainnya, seperti aspek al-khauf (rasa takut) dan ar-raja` (pengharapan), sebagaimana terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tasawuf: "Aku beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka" .


Pelurusan atas fakta-fakta keliru di atas,

  1. Pendapat syaikh  Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits

  2. Pendapat Syaikh Abu al Hasan Asy-Syadzali, jika seorang yang fakir tidak mewajibkan dirinya untuk mendirikan sholat 5 waktu dengan berjamaah, maka jangan engkau dengarkan ocehannya”  atau Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”

  3. Pemahaman kaum Salaf(i) terhadap pernyataan ahli tasawuf  di atas, dkarenakan metode mereka dalam pemahaman secara tekstual, harfiah atau apa yang tersurat. Mereka tidak dianugerahi kemampuan pemahaman secara tersirat.


Metode pengajaran kaum Salaf(i) yang tidak memasukkan pengajaran ilmu Tasawuf  mengakibatkan Al-Qur’an dan Hadist dimaknai hanya sebagai dalil, hukum, perintah dan larangan semata.

Metode pengajaran seperti ini memang baik sebagai bentuk ketaatan, penyeragaman, doktrinisasi.  Efektif untuk mengatasi permasalahan waktu itu yakni  tahyul, bid’ah dan khurafat.

Kelemahannya adalah menjadikan manusia seperti robot yang terprogram secara logika/akal tanpa unsur hati.  Sehingga dengan metode pengajaran Salaf(i) ini para pengikutnya akan mengikuti atau diwarnai  oleh "suasana hati" atau kepentingan dari yang mengajarkan.  Sebagai contoh bagaimana “suasana hati” dari kaum yang kita kenal Salafi Jihadi, "suasana hati" kaum Ikhwanul Muslimin  atau  para pengikut ketika kehidupan Muhammad bin Abdul Wahab memenuhi “kepentingan” penguasa Muhammad bin Sa’ud.

Manfaat pengajaran ilmu Tasawuf adalah seraya mempersiapkan pengikut / murid / umat dalam urusan hati agar mudah (ikhlas) menerima pengetahuan baik dalil, hukum, perintah dan larangan. Dimulai mengenal diri sendiri kemudian dilanjutkan mengenal Allah (makrifatullah) yang mengeluarkan perintah dan larangan. Dari pengenalan inilah kita dapat memaklumi kenapa Allah membuat perintah dan larangan yang semua itu dalam rangka ke Maha Pengasih dan ke Maha Penyayang  Nya.

Sehingga kita ikhlas menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya walaupun ibaratnya tidak ada surga maupun neraka seperti yang dinyatakan ahli tasawuf sebelumnya.

Sebagaimana pendapat  syaikh  Abu Al Hasan Asy-Syadzili,

Kaum sufi (orang yang mengeluti tasawuf) telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Kalau kita ibaratkan kaum Salaf(i) adalah yang melihat dengan "mata kepala" sehingga emas dan tanah itu tetap berbeda

Sedangkan kaum Sufi adalah yang dapat melihat dengan "mata hati" sehingga dapat melihat emas  dan tanah  itu sama

Dalam hadits  diriwayatkan bahwa ketika Nabi saw. bertanya kepada Haritsah, “Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Haritsah?” Ia menjawab, “Pagi ini aku benar-benar beriman.”

Mendengar jawabannya, Nabi berujar, “Setiap kebenaran ada hakikatnya. Apa hakikat imanmu?”

Ia menjawab, “Aku berpaling dari dunia sehingga bagiku sama saja antara emas atau tanah. Seolah-olah aku melihat penduduk surga tengah merasakan nikmat surga. Dan seolah-olah aku melihat penduduk neraka sedang merasakan siksa. Juga seolah-olah aku melihat Arasy dengan jelas. Karena itu, aku bangun malam (untuk beribadah) dan berpuasa di siang hari.”

Mendengar jawabannya, Nabi bersabda, “Wahai Haritsah, kau telah makrifat. Tetaplah dalam keadaanmu!”

Kemudian Nabi melanjutkan, “Ia hamba yang Allah terangi hatinya dengan cahaya iman.”4

Silahkan membaca tulisan yang berhubungan di http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/29/seolah-melihat/

Wallahu a’lam

Kamis, 08 April 2010

Banyak Perbedaan

Kita pahami bahwa Allah menghendaki agar kita kaum muslim tidak bercerai-berai sebagaimana firmanNya yang artinya,

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).



Namun saat ini kita temui bahwa kita belum lagi bersatu dan menegakkan Ukhuwah Islamiyah karena terjadinya perbedaan pemahaman/i’tiqad/akidah.

Diantara yang berbeda dengan kaum Ahlussunah wal Jama’ah adalah  antara lain yang jumlahnya cukup banyak, kaum Syiah dan kaum Salaf(i) / Wahabi.

I'tiqad/akidah  kaum Syiah terlampau banyak perbedaannya dengan Ahlusunnah Wal Jama'ah diantaranya, kaum Syiah hanya mengakui hadits-hadits yang diriwayatkan Saidina 'Ali, Saidinan Hasan dan Husen dan mereka menolak hadits-hadits dari Saidina Abu Bakar, Umar dan Ustman, apalagi hadits-hadits yang dirawikan oleh Sahabat-sahabat Nabi dari suku Bani Umayyah, semuanya tak diterima.

Sebagian kaum Syi'ah ada yang mempercayai bahwa ruh Imam-imam itu turun temurun, dari Imam Ali turun ke bawah, turun lagi kebawah sampai kepada Imam yang ke 12, sehingga ruh itu menjadi suci.

Di dalam Islam tidak diakui paham "Ruh turun temurun". Setiap orang mempunyai ruh tersendiri yang akan bertanggung jawab kepada Tuhan bersama jasadnya tentang apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.

Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.

Bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, khalifah (yang dalam golongan Syi’ah dinamai Imam) adalah manusia biasa yang dapat salah dan lupa. Jadi tidak ma’shum sebagaimana pandangan Syi’ah

Lain lagi kaum Syiah aliran Abdullah bin Saba (Yahudi dari Yaman) yang meyakini Saidina Ali sebagai putera Mahkota dari Nabi Muhammad dan meyakini Ali tidak terbunuh melainkan Ali naik ke langit. Suara guruh dan petir adalah suara Saidina Ali yang marah melihat tindak tanduk Mu'awiyah, kata Abdullah bin Saba.

Salah satu pokok bagi i'tiqad kaum Syiah adalah at-taqiyah yaitu menyembunyikan paham yang sebenarnya dan melahirkan yang lain daripada yang ada dalam hati. Paham at-taqiyah ini sama dengan "membohong".  Bagi kaum Syiah kalau kita takut boleh melahirkan bohong, boleh melahirkan apa yang tidak ada dalam hati. Hal ini betentangan dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah dan tetap beranggapan termasuk golongan orang munafik.

Begitu juga ada perbedaan dengan I'tiqad kaum dengan pemahaman dari Muhammad bin Abdul Wahab atau dikenal dengan nama kaum Wahabi atau kaum Salaf(i).

I'tiqad Muhammad bin Abdul Wahab sepemahaman dengan I'tiqad Ibnu Taimiyah bahkan sebagian orang mengatakan lebih  lebih fanatik dan lebih radikal dari Ibnu Taimiyah.

Bagi saya pemahaman Wahabi cenderung menuju sekuler lebih mengutamakan urusan individu terhadap Tuhan dan "menyerahkan" urusan negara bagi penguasa. Sehingga mereka berpegang teguh untuk taat terhadap penguasa walaupun zhalim asalkan masih sholat dan penguasa tidak memerintahkan berbuat maksiat. Kecenderungan ini terjadi karena sikap pragmatis dari Muhammad bin Abdul Wahab..

Berdasarkan sejarah, gerakan da’wah wahabi pada awalnya ditolak dibeberapa tempat. Pahamnya tidak diterima di Basrah juga tidak diterima di “Ainiyah, sehingga ia diusir dari kedua tempat itu oleh penguasa. Guru-gurunya semua termasuk bapak dan kakaknya adalah ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini dapat dibaca dalam, buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi al Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi),  karangan kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahab.

Tersebut dalam sejarah, bahwa suatu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan ini.

Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab:  “lima”.
Sulaiman:  Tetapi kamu menjadikan enam!
Muhammad:  Apa, ?
Sulaiman:  Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
Muhammad    : Terdiam dan marah.

Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” yang tersebut di atas tadi.

Dari buku ini kita dapat melihat fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab yang ganjil-ganjil.

Pemahaman Abdullah bin Abdul Wahab sangat berbeda dengan pemahaman jumhur ulama (ulama pada umumnya) namun akhirnya dapat diterima di Dur’iyah.

Raja Dur’iyah bernama Muhammad bin Sa’ud  menolong Muhammad bin Abdul Wahab dalam penyiaran paham-pahamnya.

Maka bersatulah dua orang “Muhammad”, yang berlain kepentingan, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa’ud.

Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi (yang sesuai) untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.

Maka bersatulah antara paham agama dengan raja, sebagai bersatunya paham Syi’ah di Iran dengan Syah Iran dan bersatunya paham Syi’ah Imamiyah di Yaman dengan “Imam” yang menguasai Yaman (sebelum Republik).

Keturunan Muhammad bin Sa'ud yang akhirnya “menguasai” daerah Hijaz dan sekitarnya sehingga terbentuk Kerajaan Saudi Arabia.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik suka cita melihat pemahaman “nation state” (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme dapat diterima dan diwujudkan oleh kaum muslim di jazirah arab.

Padahal sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M.

Hadits yang diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan/hukum dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).

Contoh ikatan shalat yang terlepas adalah kaum Ahmadiyah tidak mau sholat berjamaah dengan kaum non Ahmadiyah. Ini sebagai contoh memang mereka berbeda dengan kaum Ahlus sunnah wal jama’ah.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ketika perang dunia dan penyerangan/ peperangan ke negeri/ wilayah muslim melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang  banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Oleh karenanya banyak tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah banyak tersimpan dengan baik di negeri-negeri yang dikuasai orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Merekapun turut membantu menyebarluaskan / penerbitan ulang karya-karya Ibnu Taimiyah  yang ulama sejaman dengannya banyak berbeda pendapat dengan harapan terjadi konflik sesama muslim. Mereka turut menyebar luaskan dengan dalih pembaharuan. Sedangkan di luar jazirah Arab mereka menakut-nakuti dan menganjurkan  kaum muslim untuk waspada terhadap paham Wahabi. Mereka sejatinya memecah belah umat muslim, “devide et impera” (farriq tasud).

Berpegang teguhlah pada peringatan yang di firmankan Allah yang artinya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sedangkan kaum Wahabi "mengundang" orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik untuk mendirikan pangkalan militer . Sehingga kaum Wahabi akan tetap menjaga dan melindungi mereka dengan dalil terikat perjanjian (al-mu’âhad).

Kaum Wahabi meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi yang membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik makin bertambah sehingga mereka sanggup membiayai persenjataan untuk mengganggu kehidupan dan membunuh saudara-saudara muslim kita dipelbagai negeri muslim.

Hal serupa terjadi pula di negeri kami Indonesia, dimana pemerintah selalu meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi, hasil alam, hasil tambang lainnya yang merupakan karunia Allah, sehingga membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang Musyrik bertambah banyak. Sehingga bertolak belakang dengan slogan "mendukung" saudara-saudara muslim yang sedang terjajah di negeri lain. Hal ini membuat pemimpin / penguasa menjurus kepada golongan orang munafik. Naudzubillah min zalik.  Semoga Allah memberikan kekuataan kepada para pemimpin / penguasa  untuk dapat  mentaatiMu dan Rasulullah serta berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.

Perbedaan pemahaman antara Wahabi dan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah ini yang dapat kita lihat dalam hal "pembiaran" masalah Palestina.  Walaupun Kerajaan Arab Saudi dan negara lain-lain yang tergabung dalam OKI sebenarnya mempunyai "kekuasaan" untuk menegakkan kebenaran terhadap masalah Palestina tidak lagi selemah-lemahnya bantuan hanya dengan doa semata.

Bagi kaum Wahabi, saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina (seperti HAMAS) adalah mereka yang tidak mengikut ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan mereka juga termasuk Ahlul Bidaah. Oleh karenanya fatwa-fatwa mufti Wahabi menyerukan (bahkan cenderung memastikan) bahwa saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina untuk bertobat.

Bagi kaum Wahabi, faktor penyebab berkuasanya kaum kuffar terhadap kaum muslimin  adalah semata-mata  kelemahan  dan  pertikaian  pada  kaum muslimin  itu  sendiri, mendurhakai  perintah Nabi Shallallâhu  ‘alaihi  wa  Sallam  dan  hasrat mereka  terhadap  dunia  yang  lebih  didahulukan.

Bahkan sebagian kaum Wahabi menuduh mereka berperang dgn Yahudi hanya karena tanah (hasrat terhadap dunia) bukan agama.

Sesungguhnya yang membuat Wahabi menjaga jarak dengan kaum Ahlu sunnah wal jamaah adalah salah satunya karena perbedaan pemahaman tentang bid’ah.

Nabi Muhammad Saw bersabda yang artinya

Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)

Arti kata-kata “dalam urusan kami” ialah urusan keagamaan, karena Nabi Muhammad Saw, diutus Allah untuk menyampaikan agama. Maka dari hadist ini dapat diambil pengertian bahwa kalau dalam urusan kedunian atau ghairu mahdah boleh saja diadakan asal tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Hal lain perbedaan kaum Wahabi dengan kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah  adalah keenganan mereka untuk berkelompok / berjama’ah / jama’ah minal muslimin karena kekhawatirkan akan terjadinya fanatik tahazzub (bergolong-golongan), hizbiyyah yang memecah belah kaum muslim. Padahal Allah mewajibkan kita berjamaah sesuai firmanNya yang artinya,



Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).

Agak aneh kita temui dalam terjemahan Al-Qur’an akhi-akhir ini kalimat “secara berjama’ah”  tidak dicantumkan.

Turunnya ayat ini,  suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban  dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing,  saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar peristiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?. Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpelukkan.

Sesungguhnya keenganan berjamaah adalah mendukung paham orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik, akan bersandar pada kekuatan individu. Sebagaimana mereka mensosialisakan demokrasi pemilihan langsung oleh rakyat/individu padahal kita lebih baik secara perwakilan (ahlul halli wal ‘aqdi) atau bersandar pada jama'ah yang berkompeten, berilmu dan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.

Dirikanlah jama’ah minal muslimin dengan semangat  Ukhuwah Islamiyah dan dalam harapan terwujudnya  jama’atul muslimin disaat Allah menghendakinya nanti.

Sekali lagi, mari kita tegakkan Ukhuwah Islamiyah tanpa memandang bangsa, suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah. Kita bersatu dalam kesatuan akidah Islam dan bersaudara sesama muslim.

Berikut pegangan kita untuk saling mengasihi dan bersaudara  karena Allah,

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs. Al-Hujjarat :10)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs Al-Hujurat : 13)

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian! (HR. Muslim).

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat mereka yang bukan para Nabi maupun para Syuhada, namun para Nabi dan para Syuhada cemburu dengan mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka? “ Beliau bersabda: ”Mereka adalah kaum yang saling mencinta dengan ruh Allah, mereka tidak diikat oleh hubungan keluarga di antara mereka maupun harta yang mereka kejar. Maka, demi Allah, sungguh wajah mereka bercahaya, dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Dan mereka tidak bersedih saat manusia bersedih.” Lalu beliau membacakan ayat: ”Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak merasa takut dan tidak bersedih hati.” (HR Abu Dawud 3060)

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
Sesunguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku”

Jalinan persaudaraan yang ada antara kaum muslimin adalah jalinan yang lahir akibat adanya persamaan yang mendasar antara kita, yaitu persamaan akidah tauhid yang terwujud melalui dua kalimat syahadat, dengan demikian seluruh yang mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi bersaudara.

Ukhuwah Islamiyah memiliki peranan yang penting bagi kehidupan muslim. Sehingga syareat Islam menggariskan beberapa aturan agar hubungan sesama kaum muslimin selalu Bagai tanaman yang harus dipupuk dan disiram, begitu pula ukhuwah Islamiyah haruslah dijaga dan dikokohkan.

Sekali lagi, marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah apapun suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah.

Klo kita bersatu maka akan ada kekecewaan dikalangan orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar bagi orang-orang mukmin.

Orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar adalah yang sesuai dengan firman Allah yang artinya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Jadi sekali lagi harus diingat bahwa yang mempunyai rasa permusuhan yang besar terhadap orang mukmin bukanlah sesama muslim.

Juga marilah kita "periksa" pemahaman / i'tiqad / manhaj / metode masing-masing agar kita mendapatkan kebahagian akhirat kelak.
Jika sepanjang hidup dengan paham / i'tiqad / manhaj yang dipilih ternyata hanya  disibukkan dengan "pembenaran", "mencari-cari" dalil semata sehingga tidak menegakkan/mendapatkan kebenaran sejati. Sebagaimana Saidina Ali mengingatkan, “kalimatu haqin urida bihil batil” yang artinya perkataan/dalil yang benar dengan tujuan yang salah atau perkataan/dalil yang benar untuk maksud / tujuan yang "lain".

Sekali lagi marilah kita berjalan diatas "kebenaran" dengan merujuk pada Al-Qur 'an dan Hadits dan hindarilah berjalan diatas "pembenaran" dengan Al-qur'an dan Hadits karena akan membuat anda lelah dan merugi.

Wassalam

Catatan :

Pemahaman penulis, Wahabi  berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah walaupun mereka mengakui sebagai/termasuk Ahlussunnah Wal Jama'ah atau mereka mengakui sebagai Ahlussunnah saja.

Tulisan terkait bacalah bahaya laten

Link terkait yang perlu kajian lebih lanjut dan otentifikasi (periksa kebenarannya).

Dinasti SAUD Satu Trah Dengan Yahudi ?

Bangsa Yahudi dan Palestina yang Sebenarnya

Senin, 29 Maret 2010

Taqlid dan Ittiba'

Marilah kita perhatikan beberapa dalil yang biasa dipergunakan sebagian muslim kita untuk mencela sikap taqlid yang dilakukan kaum ahlussunah wal jama'ah

Apabila dikatakan kepada mereka:  "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ?". (Al Maidah : 104)

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al Baqarah : 170)

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". (At Taubah : 31)

Dalam mengartikan ayat ini dikemukakan bahwa pendeta-pendeta itu bukan disembah seperti Tuhan, tetapi dituruti saja perkataan yang mengharamkan yang halal dan  menghalalkan yang haram. Itu berarti sudah menjadikannya menjadi Tuhan.

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa dengan dalil tsb untuk melarang taqlid kepada Imam Mujtahid, menganggap bahwa:

  1. Mengikuti Imam Mujtahid itu sama dengan orang kafir yang mengikuti bapaknya yang bodoh-bodoh dalam menyembah berhala.

  2. Imam Mujtahid itu orang bodoh-bodoh yang tidak dapat petunjutk sedikit pun dari Tuhan.

  3. Imam Mujtahid itu menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

  4. Pengikut Imam Mujtahid adalah orang-orang yang menjadikan gurunya menjadi Tuhan.


La haula wala quwwata illa billah ! ini betul-betul terlalu

Ayat  dalam (Surat Al Maidah :  104) dengan Al Baqarah  : 107) itu adalah ayat-ayat yang diturunkan untuk menyatakan hal ihwal orang kafir yang ikut-ikutan saja kepada bapak mereka dalam menyembah berhala.

Ini diterangkan Tuhan dalam ayat surat (At Taubah : 31), dimana dinyatakan bahwa mereka mengambil pendeta-pendetanya dan padri-padrinya dan Isa bin Maryam menjadi Tuhan selain Allah.

Ayat ini tidak tepat dipakai untuk orang Islam yang mengikut Imam Mujtahid, karena:

  1. Imam Mujtahid bukan mendakwakan dirinya Tuhan.

  2. Imam-imam Mujtahid bukanlah orang-orang yang tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula orang-orang yang tidak menurut jalan kebenaran.

  3. Imam Mujtahid bukanlah orang-orang yang tidak berakal dengan tidak dapat menimbang buruk dan baik.

  4. Pengikut Imam Mujtahid bukanlah orang-orang yang menyembah guru atau menyembah Imam, tetapi hanya menghormati Imam dan mengikutinya.


Jadi tegasnya ayat-ayat ini tdak boleh dan tidak tepat dipakai untuk dijadikan dalil pelarang ummat Islam mengikut  Madzhab-madzhab.

Ada sebagian muslim “membedakan” antara taqlid (mengikuti) dan ittiba’ (mengikuti).

Mereka berkata, bahwa arti taqlid adalah mengikuti orang lain tanpa diketahui dalil-dalilnya dan ittiba’ mengikuti orang lain dengan mengetahui dalil-dalilnya.

Kalau begitu perlu kita bertanya:

  1. Dari mana diambilnya arti taqlid dan ittiba’ yang begitu ?

  2. Apakah ada Allah dan Rasul mengatakan begitu ?

  3. Apakah kedua-duanya tidak sama-sama berarti mengikut (taqlid kepada Mujtahid)? Kalau sama, kenapa dibeda-bedakan hukumnya ?


Dilihat dalam kamus, “tabi’a” artinya mengikut / berjalan di belakang (lihat Munjid hal 56 – Al Mu’tamad hal 58 – Qamus al Munjib juz 3 halaman 8, Adz Dzhabi hal 46).

Tidak ada sebuah kamus pun yang mengartikan arti “ittiba” itu mengikut orang lain dengan mengetahui dalilnya.

Dan perkataan ittiba’ di dalam Al-Qur’an dipakai untuk segala macam, ada yang dipakai untuk hal yang baik, ada untuk hal yang buruk.

Untuk hal yang baik :

a. Ikutlah Agama Ibrahim   (An Nisa : 125)

b. Ikutlah apa yang diwahyukan kepadamu  (Al Ahzab : 2)

c. Ikutlah saya, Tuhan akan mengasihimu  (Imran : 31)

d. Ikutlah jalan orang yang kembali kepada Ku   (Luqman : 15)

e. dan banyak lagi yang lain

Untuk hal yang buruk :

a. Maka mengikut akan dia Syetan   (Al A’raf : 174)

b. Maka mengikut akan mereka Fir’aun  (Thaha : 78).

c. Jangan diikuti jalan orang berbuat binasa  (Al A’raf: 142)

d. Jangan diikuti hawa nafsu   (Shad : 26)

c. dan banyak lagi yang lain.

Kesimpulannya, kalau kita lihat dan perhatikan kitab kamus atau kita lihat didalam Al-Qur’an, tidak dijumpai arti ittiba' mengikut orang dengan mengetahui dalilnya,  sebagai yang dibuat-buat.

Demikianlah yang diuraikan KH. Siradjuddin Abbas dalam bukunya, "Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i" yang diterbitkan  Pustaka Tarbiyah Baru.

Ciri-ciri sebagian muslim yang berprinsip tsb  sbb:

  • Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan

  • Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama. dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.


Mereka telah "menggunakan" firman Allah sebagai dalil dengan maksud/tujuan tertentu.

Dibeberapa tulisan mereka menyatakan seperti ini

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mencela taqlid dalam Kitab-Nya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah” [AtTaubah :31]

http://www.almanhaj.or.id/content/2194/slash/0

Mereka “menggunakan” ayat-ayat tersebut dengan mengatakan bahwa Allah telah mencela taqlid ?

Hal ini mengingatkan penulis pada apa yang disampaikan Saidina Ali Rda, “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan maksud/tujuan yang salah).

Wallahu a'lam