Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

Wahabi Syiah Liberal

Dalam sebuah diskusi ada pertanyaan yang diajukan kepada kami

Apa beda antara kaum Wahabi/Salafi, syiah dan Liberal??
manakah yg benar / bisa diikuti??



Jawaban kami adalah

Mengapa harus menjadi kaum Wahabi/Salafi, kaum Syiah atau Kaum Liberal ?

Setiap kaum tersebut mempunyai "ciri khas" sehingga mereka berbeda dengan umat muslim pada umumnya.

Bagi kami jadilah seorang muslim, mukmin dan yang terbaik adalah muhsin (muslim yang ihsan) atau muslim yang sholeh atau ‘ibaadillaahish shoolihiin

Jika kita bisa mencapai muslim yang terbaik atau muhsin atau muslim yang sholeh maka kita akan didoakan / disholawatkan oleh umat muslim sampai akhir zaman.

Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
“Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

Muslim yang sholeh dijamin masuk surga tanpa di hisab.

Berikut uraian singkat kami mengenai ketiga kaum tersebut,

Kaum Liberalisme, Pluralisme, sekularisme, sudah ada fatwanya dari MUI

Kaum Syiah.

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: "Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu".

Kaum Wahabi/Salafi
Kaum yang dicetuskan oleh Syaikh Ibnu Abdul Wahab yang berguru secara tidak langsung dengan Syaikh Ibnu Taimiyah. Berguru tidak langsung artinya mereka tidak pernah bertemu karena zaman kehidupannya berbeda ratusan tahun. Pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah yang menisbatkan kepada pemahaman Salafush Sholeh. Perhatikan menisbatkan bukan berarti apa yang dipahami oleh Syaikh Ibnu Taimiyah adalah serupa apa yang dipahami oleh Salafush Sholeh. Lalu kemudian dalam perjalanannya apa yang dipahami oleh kaum Wahabi pada masa sekarangpun belum tentu serupa dengan yang dimaksud Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau Syaikh Ibnu Taimiyah

Berikut cuplikan tanggapan  Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasan terhadap kaum Wahabi/Salafi masa sekarang.
Banyak kita lihat di dunia Islam para pemuda yang mengaku salafiyah (pengikut jejak para ulama terdahulu).

Sungguh, pengakuan itu sangat mulia apabila pengakuan itu mereka realisasikan.

Beberapa golongan lainnya mengaku ahli hadits (berpegang teguh kepada hadits).

Pengakuan ini pun sangat mulia.

Sebagian yang lain mengatakan tidak perlunya bermadhzab dan hanya berpegang teguh dengan al Qur’an dan as Sunnah saja karena al Qur’an dan as Sunnah adalah pilar-pilar agung berdirinya agama Islam sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam. إِنِّى قَدْ خَلَفْتُ فِيْكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا مَا أَخَذْ تُمْ بِهِمَا أَوْ عَمِلْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ الله وَسُنَّتِى وَلَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَي الْحَوْضِ (رواه البيهقى في السنن

“Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Kalian tidak akan tersesat selagi berpegang teguh atau mengamalkan keduanya, yaitu al Qur’an dan Sunnahku. Keduanya tidak terpisahkan sampai mengantarkan aku ke al-haudl/telaga.”(H.R. al Baihaqy).

Pengakuan ini pada hakikatnya sangat terpuji.

Namun, pengakuan-pengakuan ini hanya pengakuan dari orang-orang yang bukan ahlinya. Pengakuan dari orang-orang yang berfatwa secara individual tanpa ada dasar ataupun sandaran dari para ulama yang terpercaya. Pendapat dan fatwa-fatwa mereka terlontar begitu saja tanpa adanya batasan, keterikatan kaidah-kaidah, bahkan asal-usulnya.

Oleh karena itu, mereka mengingkari dan menyanggah keyakinan orang-orang selain mereka.

Mereka beranggapan, “hanya merekalah yang berada dalam jalan kebenaran dan selain mereka telah terjerumus dalam kesesatan.”

Hal ini adalah salah satu pijakan atas apa-apa yang kita dengar dari mereka dalam mengafirkan, memusyrikkan, dan menuduhkan hukum-hukum dengan memberikan julukan-julukan dan sifat-sifat yang tidak pantas bagi seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah ta’ala dan bahwa Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam adalah utusan Allah ta’ala.

Misalnya, tuduhan mereka dengan mengatakan kepada orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dengan sebutan ”perusak! dajjal! ahli bid’ah! Bahkan, pada akhirnya mereka mengatakan “musyrik, kafir, dan lainnya. Sungguh, sangat sering kita dengar dari orang-orang yang mengaku berakidah, mereka membabi buta mengucapkan kata-kata keji di atas.

Bahkan, sebagian dari mereka menuduh orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dengan berkata,

”Wahai orang yang mengajak kepada kemusyrikan dan kesesatan di zaman ini”.

“Wahai pembaharu agama, Amr bin Luhai!”

Begitulah, sering kita dengar mereka melontarkan hinaan dan ejekan yang tidak sepantasnya terlontar dari mulut seorang pelajar apalagi dari mulut seorang ahli ilmu yang seyogyanya memilih cara-cara terbaik dalam berdakwah dan bersopan santun dalam berdiskusi.

Kemudian setelah itu, mereka mengaku pengikut Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka menjadikan beliau sebagai pintu atas segala perilaku mereka, sandaran hukum bagi pendapat mereka, dan mengajak manusia seraya menakut-nakuti mereka dengan berlindung pada nama besar beliau.

Dalam kesempatan ini akan saya paparkan perkataan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab yang membebaskan dirinya dari orang-orang yang mengaku sebagai pengikutnya. Mereka melakukan segala kehendak mereka dengan berlindung kepada beliau. Mereka membunuh siapa saja yang mereka kehendaki dengan menggunakan tajamnya pedang beliau.

Mereka mengafirkan siapa saja yang mereka kehendaki dengan bersandar pada fatwa beliau. Mereka membagi segolongan manusia di surga dan sebagian yang lain di neraka hanya menurut pendapat mereka.

Al Imam Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam suratnya yang dikirim kepada orang-orang al Qashim: ”Telah kalian ketahui bahwasanya aku mendengar Sulaiman bin Suhaim telah mengirim surat kepada kalian. Bahkan, kalangan orang-orang berilmu di daerah kalian menerima dan membenarkan isi surat itu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui bahwasannya orang itu (Sulaiman bin Suhaim) telah berbohong mengatasnamakan aku dalam beberapa perkara yang aku tidak pernah mengucapkannya. Bahkan, tidak pernah terlintas dalam hatiku.

Di antara isi surat itu yang dia tulis bahwa aku mengingkari kitab-kitab empat madzhab yang ada dan aku berkata, ‘sesungguhnya manusia selama 600 tahun telah hidup dalam keadaan sia-sia dan bahwa aku mengaku sebagai mujtahid, aku tidak bertaqlid, dan aku berkata bahwa perbedaan pendapat di antara para ulama adalah bencana dan bahwa aku mengafirkan orang-orang yang bertawasul dengan orang sholeh, dan bahwa aku mengafirkan al Bushiri karena dia berkata, ‘Wahai makhluk termulia!’ Dan bahwa aku berkata, ‘andai aku mampu menghancurkan kubah Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam, niscaya akan aku hancurkan dan andai aku mampu, aku akan mengambil talang emas ka’bah dan aku ganti dengan talang kayu, dan aku mengharamkan ziarah ke makam Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam dan aku mengingkari ziarah kepada kedua orang tua dan lainnya, dan aku bersumpah dengan selain nama Allah ta’ala dan aku mengafirkan Ibnu al Faridl dan Ibnu ‘Arobiy, dan aku membakar kitab Dalailul Khoirot dan kitab Roudur Royyahin dan menamainya Roudus Syaithan. “

Aku jawab semua masalah ini seraya aku katakan, ”Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang besar dan sebelumnya telah ada orang yang mendustakan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, juga ada orang yang telah menghina Isa bin Maryam dan orang-orang sholeh sehingga hati mereka menjadi serupa dalam kedustaan dan kebohongan.

Allah ta’ala berfirman:

إِِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ

”Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.”(Q.S. An Nahl:105)

Mereka semua telah mendustakan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam bahwa para malaikat, Isa, dan Uzair akan masuk neraka.

Maka Allah swt menjawab perkataan mereka dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمُ ِّمنَّا الْحُسْنَى أُولئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ

”Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (Q.S. Al Anbiya’: 101)

Surat Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab lainnya:

Surat ini dikirim oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab kepada as Suwaidi, seorang ulama di Iraq, sebagai jawaban dari surat as Suwaidi kepadanya.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam suratnya berkata: “Sungguh, menyebarkan kebohongan adalah hal yang memalukan bagi orang yang berakal apalagi mengadakan kebohongan. Adapun yang Anda katakan bahwasanya aku mengafirkan segenap manusia kecuali pengikutku sungguh mengherankan. Bagaimana hal ini bisa terpikirkan oleh orang yang berakal? Apakah pantas seorang muslim berkata demikian?

Adapun yang Anda katakan bahwa aku berkata, ’Andai aku mampu menghancurkan kubah Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam, niscaya akan aku hancurkan. Juga tentang Kitab Dalailul Khairot, bahwa aku melarang untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam. Hal itu semua adalah dusta belaka dan seorang muslim tidak akan berkeyakinan adanya hal yang lebih mulia dari pada kitab Allah (al Qur’an). ”

Selengkapnya silahkan baca pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Lalu mereka bertanya,
Apakah penjelasan anda itu dapat disimpulkan bahwa Wahabi,Syiah dan Liberal itu sudah menyimpang dari ajaran Islam??
mohon tdk terprovokasi dgn pertanyaan saya...


Jawaban kami,

Kalau kaum Liberalisme kita sudah sepakat dengan apa yang telah difatwakan oleh MUI

Sedangkan untuk kaum Wahabi/Salafi dan kaum Syiah sejauh ini MUI belum ada keterangan atau bahkan fatwa bahwa mereka menyimpang dari ajaran Islam.

Namun yang kita perlu cermati adalah sikap ghuluw atau fanatik dengan pemahaman kaum sendiri sehingga beranggap bahwa hamba Allah lainnya yang tidak sesuai pemahaman dengan kaumnya adalah tidak pada jalan yang lurus atau jauh dari kebenaran.

Sayyid Muhammad Alwi alMaliki mengatakan:
"Perlu adanya kesadaran bahwa semua pintu di medan ini (medan pemikiran, aliran, pemahaman dan pendapat ) tidak bisa terlepas dari kritik, sanggahan, dan garis bawah (dari pihak lain).

Sebab, terjaga dari kesalahan (ishmah) hanya berlaku bagi Kitab Allah yang tidak bisa didatangi kebatilan dari depan maupun belakang, dan berlaku bagi Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam yang tidak berkata atas dasar keinginan, melainkan wahyu yang diwahyukan.

Dalam masalah ini, Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) telah menggariskan satu standar ideal dan ungkapan yang tepat yang bisa dijadikan ukuran keadilan. Beliau mengatakan, “Setiap dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam. "

Selengkapnya silahkan baca pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Kalau hanya pengertian Syiah Ali hanyalah pengikut Imam Sayyidina Ali ra, maka kami pun Syiah Ali namun tidak dalam pengertian kaum Syiah dengan segenap ciri khasnya termasuk 12 Imam ataupun kepercayaan bahwa Sayyidina Abu Bakar ra dan Sayyidina Umar ra dan Sayyidina Ustman ra telah berkhianat kepada Rasulullah karena menyalahi ketetapan Rasululullah di Ghaidir khum.

Begitu pula jika pengertiaan Salafiyyah adalah menisbatkan pada Salafush Sholeh, maka kamipun Salafiyyah namun tidak dalam pegertian/pemahaman secara dzahir kaum Wahabi/Salafi atau sifat/karakter kaum Wahabi/Salafi yang mereka perlihatkan bahwa hanya manhaj. mereka yang benar.

Apakah pasti masuk neraka bagi muslim yang tidak kenal dengan 12 imam di kaum Syiah atau tidak kenal Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahab di kaum Wahabi/Salafi atau tidak kenal syaikh-syaikh di Wahabi/Salafi yang mengatakan hanya manhaj kami yang benar ?
Pertanyaan ini membuktikan bahwa memang ada pemahaman/ijtihad terhadap Al-Qur’an dan Hadits selain kaum mereka.

Contoh kaum muslim yang bermadzhab Syafi’i mereka tidak pernah mengklaim bahwa hanya mereka yang benar dan madzhab yang lain seperti madzhab Maliki adalah sesat karena kaum muslim pada umumnya menyadari bahwa memang ada perbedaan pemahaam/ijtihad namun ijtihad/pemahaman hanya dilakukan oleh Imam Mujtahid dengan berbagai syarat untuk menjadi Imam Mujtahid.

Hal inilah yang mendorong saya untuk menuliskan tulisan ini, dengan diawali bentuk pertanyaan, mengapa harus menjadi kaum Syiah atau mengapa harus menjadi kaum Wahabi/Salafi.

Realitanya kita diantara kaum muslim bersyahadat menjadi berbeda dalam beberapa kaum, terjadi perbedaan/perselisihan/perdebatan maka kita diminta untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Hadits dimana di dalamnya ada petunjuk jadilah muslim sholeh, musim yang baik dan terbaik (ihsan), muhsin/muhsinin.

Oleh karenanya, bagi kami (admin blog) cara menguji sebuah pemahaman/ijtihad adalah memeriksa apakah benar akan menghantarkan kita menuju kepada tujuan yakni menjadi muslim yang terbaik (ihsan).

Muslim yang terbaik atau muslim yang ihsan atau muhsin/muhsinin adalah minimal mereka yang selalu yakin bahwa Allah ta'ala melihat perbuatan kita dan yang terbaik adalah mereka yang seolah-olah melihat Allah ta'ala.

…أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ …

“…. hendaknya kamu menyembah Allah seakan–akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu .…” (H.R. Muslim)

Contoh, mereka yang mengaku beriman, menjalankan seluruh rukun Islam sampai dengan menunaikan ibadah haji namun mereka korupsi, memimpin dengan tidak adil dan perbuatan-perbuatan lain yang telah dilarang oleh Allah ta'ala, hal ini sesungguhnya terjadi karena mereka tidak mencapai tingkatan muslim yang Ihsan. Mereka seperti tidak yakin bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan mereka atau dengan kata lain mereka sebagai hamba Allah yang berakhlak tidak baik terhadap Allah yang menciptakan mereka. Ihsan adalah bagaimana kita berakhlak baik terhadap Allah ta'ala dan berakhlak baik kepada ciptaan Allah ta'ala lainnya termasuk kepada sesama manusia. Inilah yang disebut akhlakul karimah atau juga disebut menuju muslim yang sholeh sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dan Salafush Sholeh.

“Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S Al-Ahzab : 21)

Wassalam

Kamis, 08 April 2010

Banyak Perbedaan

Kita pahami bahwa Allah menghendaki agar kita kaum muslim tidak bercerai-berai sebagaimana firmanNya yang artinya,

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).



Namun saat ini kita temui bahwa kita belum lagi bersatu dan menegakkan Ukhuwah Islamiyah karena terjadinya perbedaan pemahaman/i’tiqad/akidah.

Diantara yang berbeda dengan kaum Ahlussunah wal Jama’ah adalah  antara lain yang jumlahnya cukup banyak, kaum Syiah dan kaum Salaf(i) / Wahabi.

I'tiqad/akidah  kaum Syiah terlampau banyak perbedaannya dengan Ahlusunnah Wal Jama'ah diantaranya, kaum Syiah hanya mengakui hadits-hadits yang diriwayatkan Saidina 'Ali, Saidinan Hasan dan Husen dan mereka menolak hadits-hadits dari Saidina Abu Bakar, Umar dan Ustman, apalagi hadits-hadits yang dirawikan oleh Sahabat-sahabat Nabi dari suku Bani Umayyah, semuanya tak diterima.

Sebagian kaum Syi'ah ada yang mempercayai bahwa ruh Imam-imam itu turun temurun, dari Imam Ali turun ke bawah, turun lagi kebawah sampai kepada Imam yang ke 12, sehingga ruh itu menjadi suci.

Di dalam Islam tidak diakui paham "Ruh turun temurun". Setiap orang mempunyai ruh tersendiri yang akan bertanggung jawab kepada Tuhan bersama jasadnya tentang apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.

Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.

Bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, khalifah (yang dalam golongan Syi’ah dinamai Imam) adalah manusia biasa yang dapat salah dan lupa. Jadi tidak ma’shum sebagaimana pandangan Syi’ah

Lain lagi kaum Syiah aliran Abdullah bin Saba (Yahudi dari Yaman) yang meyakini Saidina Ali sebagai putera Mahkota dari Nabi Muhammad dan meyakini Ali tidak terbunuh melainkan Ali naik ke langit. Suara guruh dan petir adalah suara Saidina Ali yang marah melihat tindak tanduk Mu'awiyah, kata Abdullah bin Saba.

Salah satu pokok bagi i'tiqad kaum Syiah adalah at-taqiyah yaitu menyembunyikan paham yang sebenarnya dan melahirkan yang lain daripada yang ada dalam hati. Paham at-taqiyah ini sama dengan "membohong".  Bagi kaum Syiah kalau kita takut boleh melahirkan bohong, boleh melahirkan apa yang tidak ada dalam hati. Hal ini betentangan dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah dan tetap beranggapan termasuk golongan orang munafik.

Begitu juga ada perbedaan dengan I'tiqad kaum dengan pemahaman dari Muhammad bin Abdul Wahab atau dikenal dengan nama kaum Wahabi atau kaum Salaf(i).

I'tiqad Muhammad bin Abdul Wahab sepemahaman dengan I'tiqad Ibnu Taimiyah bahkan sebagian orang mengatakan lebih  lebih fanatik dan lebih radikal dari Ibnu Taimiyah.

Bagi saya pemahaman Wahabi cenderung menuju sekuler lebih mengutamakan urusan individu terhadap Tuhan dan "menyerahkan" urusan negara bagi penguasa. Sehingga mereka berpegang teguh untuk taat terhadap penguasa walaupun zhalim asalkan masih sholat dan penguasa tidak memerintahkan berbuat maksiat. Kecenderungan ini terjadi karena sikap pragmatis dari Muhammad bin Abdul Wahab..

Berdasarkan sejarah, gerakan da’wah wahabi pada awalnya ditolak dibeberapa tempat. Pahamnya tidak diterima di Basrah juga tidak diterima di “Ainiyah, sehingga ia diusir dari kedua tempat itu oleh penguasa. Guru-gurunya semua termasuk bapak dan kakaknya adalah ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Hal ini dapat dibaca dalam, buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi al Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi),  karangan kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahab.

Tersebut dalam sejarah, bahwa suatu kali terjadi perdebatan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan ini.

Sulaiman bertanya kepada adiknya: “Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab:  “lima”.
Sulaiman:  Tetapi kamu menjadikan enam!
Muhammad:  Apa, ?
Sulaiman:  Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
Muhammad    : Terdiam dan marah.

Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” yang tersebut di atas tadi.

Dari buku ini kita dapat melihat fatwa-fatwa Muhammad bin Abdul Wahab yang ganjil-ganjil.

Pemahaman Abdullah bin Abdul Wahab sangat berbeda dengan pemahaman jumhur ulama (ulama pada umumnya) namun akhirnya dapat diterima di Dur’iyah.

Raja Dur’iyah bernama Muhammad bin Sa’ud  menolong Muhammad bin Abdul Wahab dalam penyiaran paham-pahamnya.

Maka bersatulah dua orang “Muhammad”, yang berlain kepentingan, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad bin Sa’ud.

Muhammad bin Abdul Wahab membutuhkan seorang penguasa untuk menolong penyiaran pahamnya yang baru dan Muhammad bin Sa’ud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi (yang sesuai) untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.

Maka bersatulah antara paham agama dengan raja, sebagai bersatunya paham Syi’ah di Iran dengan Syah Iran dan bersatunya paham Syi’ah Imamiyah di Yaman dengan “Imam” yang menguasai Yaman (sebelum Republik).

Keturunan Muhammad bin Sa'ud yang akhirnya “menguasai” daerah Hijaz dan sekitarnya sehingga terbentuk Kerajaan Saudi Arabia.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik suka cita melihat pemahaman “nation state” (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme dapat diterima dan diwujudkan oleh kaum muslim di jazirah arab.

Padahal sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M.

Hadits yang diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy dari Rasulullah saw bersabda,”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan/hukum dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad).

Contoh ikatan shalat yang terlepas adalah kaum Ahmadiyah tidak mau sholat berjamaah dengan kaum non Ahmadiyah. Ini sebagai contoh memang mereka berbeda dengan kaum Ahlus sunnah wal jama’ah.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik ketika perang dunia dan penyerangan/ peperangan ke negeri/ wilayah muslim melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang  banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Oleh karenanya banyak tulisan-tulisan Ibnu Taimiyah banyak tersimpan dengan baik di negeri-negeri yang dikuasai orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Merekapun turut membantu menyebarluaskan / penerbitan ulang karya-karya Ibnu Taimiyah  yang ulama sejaman dengannya banyak berbeda pendapat dengan harapan terjadi konflik sesama muslim. Mereka turut menyebar luaskan dengan dalih pembaharuan. Sedangkan di luar jazirah Arab mereka menakut-nakuti dan menganjurkan  kaum muslim untuk waspada terhadap paham Wahabi. Mereka sejatinya memecah belah umat muslim, “devide et impera” (farriq tasud).

Berpegang teguhlah pada peringatan yang di firmankan Allah yang artinya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sedangkan kaum Wahabi "mengundang" orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik untuk mendirikan pangkalan militer . Sehingga kaum Wahabi akan tetap menjaga dan melindungi mereka dengan dalil terikat perjanjian (al-mu’âhad).

Kaum Wahabi meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi yang membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik makin bertambah sehingga mereka sanggup membiayai persenjataan untuk mengganggu kehidupan dan membunuh saudara-saudara muslim kita dipelbagai negeri muslim.

Hal serupa terjadi pula di negeri kami Indonesia, dimana pemerintah selalu meneruskan "perjanjian" pengolahan minyak bumi, hasil alam, hasil tambang lainnya yang merupakan karunia Allah, sehingga membuat kekayaan orang-orang Yahudi dan orang Musyrik bertambah banyak. Sehingga bertolak belakang dengan slogan "mendukung" saudara-saudara muslim yang sedang terjajah di negeri lain. Hal ini membuat pemimpin / penguasa menjurus kepada golongan orang munafik. Naudzubillah min zalik.  Semoga Allah memberikan kekuataan kepada para pemimpin / penguasa  untuk dapat  mentaatiMu dan Rasulullah serta berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.

Perbedaan pemahaman antara Wahabi dan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah ini yang dapat kita lihat dalam hal "pembiaran" masalah Palestina.  Walaupun Kerajaan Arab Saudi dan negara lain-lain yang tergabung dalam OKI sebenarnya mempunyai "kekuasaan" untuk menegakkan kebenaran terhadap masalah Palestina tidak lagi selemah-lemahnya bantuan hanya dengan doa semata.

Bagi kaum Wahabi, saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina (seperti HAMAS) adalah mereka yang tidak mengikut ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan mereka juga termasuk Ahlul Bidaah. Oleh karenanya fatwa-fatwa mufti Wahabi menyerukan (bahkan cenderung memastikan) bahwa saudara-saudara muslim yang berjuang di Palestina untuk bertobat.

Bagi kaum Wahabi, faktor penyebab berkuasanya kaum kuffar terhadap kaum muslimin  adalah semata-mata  kelemahan  dan  pertikaian  pada  kaum muslimin  itu  sendiri, mendurhakai  perintah Nabi Shallallâhu  ‘alaihi  wa  Sallam  dan  hasrat mereka  terhadap  dunia  yang  lebih  didahulukan.

Bahkan sebagian kaum Wahabi menuduh mereka berperang dgn Yahudi hanya karena tanah (hasrat terhadap dunia) bukan agama.

Sesungguhnya yang membuat Wahabi menjaga jarak dengan kaum Ahlu sunnah wal jamaah adalah salah satunya karena perbedaan pemahaman tentang bid’ah.

Nabi Muhammad Saw bersabda yang artinya

Barangsiapa yang menbuat-buat sesuatu dalam urusan kami ini maka sesuatu itu ditolak (H.R Muslim – Lihat Syarah Muslim XII – hal 16)

Arti kata-kata “dalam urusan kami” ialah urusan keagamaan, karena Nabi Muhammad Saw, diutus Allah untuk menyampaikan agama. Maka dari hadist ini dapat diambil pengertian bahwa kalau dalam urusan kedunian atau ghairu mahdah boleh saja diadakan asal tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Hal lain perbedaan kaum Wahabi dengan kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah  adalah keenganan mereka untuk berkelompok / berjama’ah / jama’ah minal muslimin karena kekhawatirkan akan terjadinya fanatik tahazzub (bergolong-golongan), hizbiyyah yang memecah belah kaum muslim. Padahal Allah mewajibkan kita berjamaah sesuai firmanNya yang artinya,



Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali-Imraan : 103).

Agak aneh kita temui dalam terjemahan Al-Qur’an akhi-akhir ini kalimat “secara berjama’ah”  tidak dicantumkan.

Turunnya ayat ini,  suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban  dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing,  saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar peristiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?. Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpelukkan.

Sesungguhnya keenganan berjamaah adalah mendukung paham orang-orang yahudi dan orang-orang musyrik, akan bersandar pada kekuatan individu. Sebagaimana mereka mensosialisakan demokrasi pemilihan langsung oleh rakyat/individu padahal kita lebih baik secara perwakilan (ahlul halli wal ‘aqdi) atau bersandar pada jama'ah yang berkompeten, berilmu dan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits.

Dirikanlah jama’ah minal muslimin dengan semangat  Ukhuwah Islamiyah dan dalam harapan terwujudnya  jama’atul muslimin disaat Allah menghendakinya nanti.

Sekali lagi, mari kita tegakkan Ukhuwah Islamiyah tanpa memandang bangsa, suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah. Kita bersatu dalam kesatuan akidah Islam dan bersaudara sesama muslim.

Berikut pegangan kita untuk saling mengasihi dan bersaudara  karena Allah,

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” ( Qs. Al-Hujjarat :10)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs Al-Hujurat : 13)

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian! (HR. Muslim).

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat mereka yang bukan para Nabi maupun para Syuhada, namun para Nabi dan para Syuhada cemburu dengan mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepada kami, siapakah mereka? “ Beliau bersabda: ”Mereka adalah kaum yang saling mencinta dengan ruh Allah, mereka tidak diikat oleh hubungan keluarga di antara mereka maupun harta yang mereka kejar. Maka, demi Allah, sungguh wajah mereka bercahaya, dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Dan mereka tidak bersedih saat manusia bersedih.” Lalu beliau membacakan ayat: ”Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak merasa takut dan tidak bersedih hati.” (HR Abu Dawud 3060)

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
Sesunguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman, “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku”

Jalinan persaudaraan yang ada antara kaum muslimin adalah jalinan yang lahir akibat adanya persamaan yang mendasar antara kita, yaitu persamaan akidah tauhid yang terwujud melalui dua kalimat syahadat, dengan demikian seluruh yang mengucapkan dua kalimat syahadat menjadi bersaudara.

Ukhuwah Islamiyah memiliki peranan yang penting bagi kehidupan muslim. Sehingga syareat Islam menggariskan beberapa aturan agar hubungan sesama kaum muslimin selalu Bagai tanaman yang harus dipupuk dan disiram, begitu pula ukhuwah Islamiyah haruslah dijaga dan dikokohkan.

Sekali lagi, marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah apapun suku, ras, warna kulit, negara, wilayah, kerajaan, aliran, manhaj, metode, madzhab, golongan, tarekat, kelompok maupun jama’ah.

Klo kita bersatu maka akan ada kekecewaan dikalangan orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar bagi orang-orang mukmin.

Orang-orang yang mempunyai rasa permusuhan besar adalah yang sesuai dengan firman Allah yang artinya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Jadi sekali lagi harus diingat bahwa yang mempunyai rasa permusuhan yang besar terhadap orang mukmin bukanlah sesama muslim.

Juga marilah kita "periksa" pemahaman / i'tiqad / manhaj / metode masing-masing agar kita mendapatkan kebahagian akhirat kelak.
Jika sepanjang hidup dengan paham / i'tiqad / manhaj yang dipilih ternyata hanya  disibukkan dengan "pembenaran", "mencari-cari" dalil semata sehingga tidak menegakkan/mendapatkan kebenaran sejati. Sebagaimana Saidina Ali mengingatkan, “kalimatu haqin urida bihil batil” yang artinya perkataan/dalil yang benar dengan tujuan yang salah atau perkataan/dalil yang benar untuk maksud / tujuan yang "lain".

Sekali lagi marilah kita berjalan diatas "kebenaran" dengan merujuk pada Al-Qur 'an dan Hadits dan hindarilah berjalan diatas "pembenaran" dengan Al-qur'an dan Hadits karena akan membuat anda lelah dan merugi.

Wassalam

Catatan :

Pemahaman penulis, Wahabi  berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah walaupun mereka mengakui sebagai/termasuk Ahlussunnah Wal Jama'ah atau mereka mengakui sebagai Ahlussunnah saja.

Tulisan terkait bacalah bahaya laten

Link terkait yang perlu kajian lebih lanjut dan otentifikasi (periksa kebenarannya).

Dinasti SAUD Satu Trah Dengan Yahudi ?

Bangsa Yahudi dan Palestina yang Sebenarnya

Rabu, 10 Februari 2010

Riwayat Ahlussunah Wal Jamaah

Riwayat i'tiqad (aqidah) Ahlussunah Wal Jamaah


Pada masa hidup Nabi Muhammad SAW, semuanya mudah dan gampang, karena segala sesuatu dapat ditanyakan kepada beliau. Perselisihan paham timbul sesudah Nabi wafat

Yang teramat mulia Nabi Muhammad SAW. Wafat tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriah,  sesuai  dengan 8 Juni 632 M. Pada hari wafat beliau sekumpulan kaum Anshar ( Sahabat-sahabat Nabi yang berasal dari Madinah ) berkumpul di suatu Balairung yang bernama SAQIFAH BANI SA’IDAH untuk mencari khalifah ( pengganti Nabi yang sudah wafat ).

Kaum Anshar ini dipimpin oleh Sa’ad bin Ubadah ( Ketua kaum Anshar dari suku Khazraj ). Mendengar hal ini kaum Muhajirin ( Sahabat-sahabat dari Mekkah yang pindah ke Madinah ) datang bersama-sama ke Balairung itu, dengan dipimpin oleh Saidina Abu Bakar Shiddiq Rda.

Sesudah terjadi perdebatan yang agak sengit antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin yang setiapnya mengemukakan calon dari pihaknya, bersepakatlah mereka mengangkat Sahabat yang paling utama Saidina Abu Bakar Shiddiq sebagai Khalifah yang pertama.

Perdebatan ketika itu hanya terjadi antara golongan kaum Anshar yang mengemukakan Sa’ad bin Ubadah sebagai calonnya dengan kaum Muhajirin yang mengemukakan Saidina Umar bin Khatab atau Saidina Abu Bakar sebagai calon-calon khalifah Nabi.

Dalam rapat itu tidak ada seorangpun yang mengemukakan Saidina’Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah pertama pengganti Nabi. Paham kaum Syi’ah belum ada ketika itu. Yang ada hanya kaum Anshar dan kaum Muhajirin, tetapi ternyata bahwa perselisihan paham antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin tidak menimbulkan firqah dalam ushuluddin, karena perselisihan pendapat sudah selesai dikala Saidina Abu Bakar sudah terangkat dan terpilih secara aklamasi ( suara sepakat ).

Pada tahun 30 Hijriyah timbul paham Syi’ah yang diapi-apikan oleh Abdullah bin Saba’ yang beroposisi terhadap Khalifah Saidina Utsman bin Affan.  Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang masuk Islam. Ketika ia datang ke Madinah tidak begitu dapat penghargaan dari Khalifah dan juga dari ummat Islam yang lain. Oleh karena itu ia jengkel.

Sesudah terjadi “peperangan Siffin”, peperangan saudara sesama Islam, yaitu antara tentara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan tentara Mu’awiyah bin Abu Sofyan ( Gubernur Syria ) pada tahun 37 Hijriyah timbul pula firqah Khawarij, yaitu orang-orang yang keluar dari Saidina Mu’awiyah Rda. dan dari Saidina ‘Ali Rda. .

Pada permulaan abad ke II H timbul pula Kaum Mu’tazilah, yaitu kaum yang dipimpin oleh Washil bin Atha’ (lahir 80 H – wafat 113 H) dan Umar bin Ubeid (Wafat 145 H).

Kaum Mu’tazilah ini mengeluarkan fatwa yang ganjil-ganjil, yang berlainan dan berlawanan dengan i’tikad Nabi dan sahabat-sahabat beliau.

Di antara fatwa-fatwa yang ganjil dari Kaum Mu’tazilah itu, ialah adanya “manzilah bainal manzilatein”, yakni ada tempat di antara dua tempat, ada tempat yang lain selain syurga dan neraka.

Banyak lagi fatwa-fatwa kaum Mu’tazilah, umpamanya fatwa yang mengatakan bahwa sifat Tuhan tidak ada, bahwa Qur’an itu makhluk, bahwa mi’raj Nabi hanya dengan ruh saja, bahwa pertimbangan akal lebih didahulukan dari hadist-hadist Nabi, bahwa syurga dan neraka akan lenyap, dan lain-lain fatwa yang keliru.

Kemudian timbul pula paham Qadariyah yang mengatakan bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh manusia sendiri, tidak sangkut-paut dengan Tuhan. Hak mencipta telah diberikan Tuhan kepada manusia, sehingga Tuhan tidak tahu dan tidak perduli lagi apa yang akan dibuat oleh manusia.

Kemudian timbul pula paham, Jabariyah yang mengatakan bahwa sekalian yang terjadi adalah dari Tuhan, manusia tak punya daya apa-apa, tidak ada usaha dan tidak ada ikhiar.

Kemudian timbul pula paham Mujassimah, yakni paham yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk, punya tangan, punya kaki, duduk di atas kursi, turun dari tangga serupa manusia, Tuhan adalah cahaya seperti lampu, dan lain-lain kepercayaan.

Kemudian lahir pula paham-paham yang keliru tentang tawasul dan wasilah, tentang ziarah dan istigatsah dari Ibnu. Thaimiyah yang semuanya mengacaukan dunia Islam dan kaum Muslimin.

Kaum Ahlussunah Wal Jama’ah Muncul pada Abad ke III Hijriyah

Sebagai reaksi dari firqah-firqah yang sesat tadi maka pada akhir abad ke III Hijriyah timbullah golongan yang bernama Kaum Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA), yang dikepalai oelh dua orang Ulama besar dalam Ushuluddin, yaitu Syeikh Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari dan Syekh Abu Mansur al Maturidi.

Perkataan Ahlussunah wal Jama’ah kadang-kadang dipendekkan menyebutnya dengan Ahlussunah saja, atau Sunny saja dan kadang-kadang disebut ‘Asy’ari atau Asya'irah, dikaitkan kepada guru besarnya yang pertama Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari.

Sejarah ringkas guru besar ini adalah :

Nama lengkap beliau adalah Abu Hasan ‘Ali bin Ismail, bin Abi Basyar, Ishaq bin Salim, bin Isma’il, bin Abdillah, bin Musa, bin Bilal, bin Abi Burdah, bin Abi Musa al Asy’ari.

Abi Musa ini seorang sahabat Nabi yang terkenal dalam sejarah Islam.

Abu Hasan lahir di Basrah (Iraq) tahun 260 H yakni 55 tahun sesudah meninggalnya Imam Syafi’i Rda dan meninggal di Basrah juga pada tahun 324 H, dalam usia 64 tahun.

Beliau pada mulanya adalah murid dari bapak tirinya seorang Ulama Besar kaum Mu’tazilah, Syeikh Abu ‘Ali Muhammad bin Abdul Wahab al Jabai (meninggal tahun 303 H),  tetapi kemudian beliau taubat dan keluar dari golongan Mu’tazilah itu.

Pada masa itu (abad ke III H) banyak sekali Ulama-ulama Mu’tazilah mengajar di Basrah, Kufah dan Bagdad.

Ada 3 orang Khalifah ‘Abbasiyah yaitu Ma’mun bin Harun ar Rasyid (198 – 218 H), Al Mu’tashim (218 – 227 H) dan Al Watsiq (227 – 232 H) adalah Khalifah-khalifah penganut faham Mu’tazilah atau sekurangnya penyokong-penyokong yang utama dari golongan Mu’tazilah.

Dalam sejarah dinyatakan bahwa pada zaman itu terjadilah apa yang dinamakan “fitnah Qur’an makhluq” yang mengorbankan beribu-ribu ulama yang tidak sepaham dengan kaum Mu’tazilah.

Pada masa Abu Hasan al Asy’ari muda remaja ulama-ulama Mu’tazilah sangat banyak di Basrah, Kufah dan Bagdad. Masa itu masa gilang-gemilang bagi mereka, karena pahamnya disokong oleh pemerintahan.

Imam Abu Hasan termasuk salah seorang pemuda yang belajar kepada seorang Syekh dari Mu’tazilah, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab al Jabai (wafat 303 H).

Pembaca jangan keliru, ini bukan Muhammad bin Abdul Wahab, pembangun Madzhab Wahabi di Nejdi (1115 H – 1206 H).

Imam Abu Hasan al Asy’ari melihat, bahwa dalam paham kaum Mu’tazilah banyak terdapat kesalahan besar, banyak yang bertentangan dengan i’itiqad dan kepercayaan Nabi Muhammad SAW, dan sahabat-sahabat beliau dan banyak yang bertentangan dengan Qur’an dan Hadits.

Maka karena itu beliau keluar dari golongan Mu’tazilah dan taubat kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahannya yang lalu. Bukan saja begitu, tetapi beliau tampil kemuka di garis depan untuk melawan dan mengalahkan kaum Mu’tazilah yang salah itu.

Pada suatu hari beliau naik ke sebuah mimbar di Mesjid Basrah yang besar itu dan mengucapkan pidato yang berapi-api dengan suara lantang yang didengar oleh banyak kaum Muslimin yang berkumpul di situ.

Diantara pidato beliau :

“Saudara-saudara Kaum Muslim Yang Terhormat!

Siapa yang sudah mengetahui saya, baiklah, tetapi bagi yang belum mengetahui maka saya ini adalah Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari anak dari Isma’il bin Abi Basyar. Dulu saya berpendapat bahwa Qur’an itu makhluq, bahwa Tuhan Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di akhirat, dan bahwasanya manusia menjadikan (menciptakan) perbuatannya, serupa dengan kaum Mu’tazilah.

Nah, sekarang saya nyatakan terus terang bahwa saya telah taubat dari paham Mu’tazilah dan sekarang saya lemparkan i’itiqad Mu’tazilah itu seperti saya melemparkan baju saya ini (ketika itu dibukanya bajunya dan dilemparkan) dan saya setiap saat siap untuk menolak paham Mu’tazilah yang salah dan sesat itu” (Zhumrul Islam IV halaman 67).

Dari mulai tanggal itu Imam Abu Hasan Ali al Asy’ari berjuang melawan kaum Mu’tazilah dengan lisan dan tulisan, berdebat dan bertanding dengan kaum Mu’tazilah di mana-mana, merumuskan dan menuliskan dalam kitab-kitabnya i’itiqad-i’itiqad kaum Ahlussunah wal Jama’ah sehingga nama beliau masyhur sebagai seorang Ulama Tauhid yang dapat menundukkan dan menghancurkan paham Mu’tazilah yang salah itu.

Beliau mengumpulkan sebaik-baiknya dari Qur’an dan Hadits paham-paham atau i’itiqad Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabat Nabi, diperincikan dengan sebaik-baiknya.

Beliau mengarang buku-buku Ushuluddin banyak sekali.

Berkata Imam Zabidi, pengarang, Kitab Ittihaf Sadatil Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin : “Imam Asy’ari mengarang sekitar 200 kitab” (lihat Ittihat jilid II pagina 7).

Diantara kitab-kitab karangan Imam Abu Hasan al Asy’ari.

  1. Ibanah fi Ushuluddiyanah, 3 jilid besar.

  2. Maqalaatul Islamiyiin.

  3. Al Mujaz, 3 jilid besar.

  4. Dan lain-lain.


Keistimewaan Imam Abu Hasan al Asy’ari dalma menegakkan pahamnya ialah, dengan mengutamakan dalil-dalil dari Qur’an dan Hadits dan juga dengan pertimbangan aqal dan pikiran, tidak seperti kaum Mu’tazilah yang mendasarkan pikirannya kepada aqal dan falsafah yang berasal dari Yunani dalam membicarakan Ushuluddin dan pula tidak seperti kaum Mujassimah (kaum yang menyerupakan Tuhan dengan  makhluq) yang memegang arti lahir dari Qur’an dan Hadits, sehingga sampai mengatakan bahwa Tuhan bertangan, Tuhan bermuka, Tuhan duduk-duduk diatas ‘arsy, dan lain-lain sebagainya.

Alhamdulillah, Imam Abu Hasan al Asy’ari dapat menegakkan paham yang kemudian dinamai “Paham Ahlussunah wal Jama’ah, yaitu paham sebagaimana diyakini dan dii’tiqadkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW dan para Sahabat-sahabat beliau.

Pada abad-abad berikutnya muncullah ulama-ulama besar kaum Ahlussunah wal Jama’ah yang menyebar-luaskan pengajian-pengajian Imam Abu Hasan al Asy’ari, di antaranya :

  1. Imam Abu Bakar al Qaffal (wafat 365 H).

  2. Imam Abu Ishaq al Asfaraini (wafat 411 H).

  3. Imam al Hafizh al Baihaqi (wafat 458 H).

  4. Imamul Haramain al Juwaini (wafat 460 H).

  5. Imam al Qasim al Qusyairi (wafat 465 H).

  6. Imam al Baqilani (wafat 403 H).

  7. Imam al Gazali (wafat 505 H).

  8. Imam Fakhruddin ar Razi (wafat 606 H).

  9. Imam Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H).


Ulama-ulama yang tersebut adalah Ulama-ulama penganut dan pendukung yang kuat dari paham Ahlussunah wal Jama’ah yang dibentuk oleh Imam Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari.

Kemudian dalam abad-abad seterusnya, banyak muncul Ulama-ulama Ushuluddin di seluruh dunia Islam yang menganut, mempertahankan dan menyiarkan paham Ahlussunah wal Jama’ah yang dibentuk oleh Imam Abu Hasan al Asy’ari ini, di antaranya :

  1. Syeikhul Islam Syeikh Abdullah as Syarqawi (Wafat 1227 H) pengarang kitab Tauhid yang dimasyhurkan dengan nama Kitab Syarqawi.

  2. Syekh Ibrahim al Bajuri (Wafat : 1272 H) pengarang kitab tauhid “Tahqiqul Maqam fi Kifayatil A’wam”, dan kitab “Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid”.

  3. Al Allamah Syeikh Muhammad Nawawi Bantan, seorang Ulama Indonesia yang mengarang kitab, Tauhid “Tijanud Darari”. (Wafat: 1315 H).

  4. Syeikh Zanal Abidin bin Muhammad al Fathani yang mengarang kitab Tauhid bernama “’Aqidatun Najiin fi Ushuliddin”.

  5. Syeikh Husein bin Muhammad al Jasar at Thalabilisi, pengarang kitab Tauhid yang terkenal “Hushunul Hamidiyah”.

  6. Dan lain-lain.


Adapun Imam Mansur Al Maturidi, yang dianggap juga sebagai pembangun Madzhab Ahlussunah wal Jama’ah dalam Ushuluddin nama lengkapnya ialah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud.

Beliau lahir di suatu desa di Samarqand yang bernama “Maturid”. Beliau meninggal di situ juga pada tahun 333 Hijriyah, yaitu 10 tahun sesudah wafatnya Imam Abu Hasan al Asy’ari.

Makam beliau sampai sekarang diziarahi di Samarqand.

Dunia Islam dahulu sampai sekarang menganggap bahwa kedua Imam ini adalah pembangun Madzhab Ahlussunah wal Jama’ah.

Berkata Sayid Mutadha az Zabidi, pengarang kitab “Ittihaf Sadaatul Muttaqin”, yaitu kitab yang mensyarah kitab “Ihya Ulumuddin”, karangan Imam Ghazali :

Artinya :

Apabila disebut “Ahlussunah wal Jama’ah” maka yang dimaksudkan dengan ucapan itu ialah paham atau fatwa-fatwa yang disiarkan oleh Imam Asy’ari dan Abu Mansur al Maturidi (I’tihaf jilid II, halaman 6).

Suatu hal lagi baik juga diketahui bahwa pada umumnya dunia Islam menganggap dalam furu’ syari’at (fikih), yang benar adalah fatwanya Imam-imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, dan dalam Ushuluddin, yang benar dan yang sesuai dengan Qur’an dan Hadits, adalah fatwa kaum Ahlussunah wal Jama’ah.

Kalau pembaca berjalan keliling dunia, dari Barat ke Timur atau dari Utara ke Selatan dan bertanya-tanya tentang Madzhab dalam furu’ syari’at dan dalam i’itiqad di sesuatu daerah Islam, saudara-saudara akan mendapat jawaban begini :

  1. Di Maroko Madzhab Maliki/Ahlussunah wal Jama’ah.

  2. Di Aljazair Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  3. Di Tunisia Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  4. Di Libya Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  5. Di Turki Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  6. Di Mesir Madzhab Hanafi dan Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  7. Di Iraq Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sebagian kecil Syi’ah (Najaf – Karabela).

  8. Di India Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  9. Di Pakistan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sebagian kecil Syi’ah Isma’iliyah (Agha Khan).

  10. Di Indonesia Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  11. Di Pilipina Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  12. Di Thailand Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  13. Di Malaysia Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  14. Di Somali Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  15. Di Sudan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  16. Di Negeria Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  17. Di Afganistan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  18. Di Libanon Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah, sebagian Syi’ah.

  19. Di Hadharamaut Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  20. Di Hijaz Madzhab Syafi’i dan Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sedikit Hambali/Wahabiyah.

  21. Di Nejdi Madzhab Hambali/Wahabiyah.

  22. Di Yaman Madzhab Zaidiyah (Syi’ah), Sebagian Syafi’iyah/Ahlussunah wal Jama’ah.

  23. Di Iran Syi’ah Dua Belas.

  24. Di seluruh daerah Sovyet 90% dari 24.000.000 Muslim adalah Ahlussunah wal Jama’ah/Hanafi, 10% Syi’ah.

  25. Di Tiongkok, Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.


Begitulah daftarnya pada umumnya.

Nampaklah bahwa sebahagian besar ummat Islam di atas dunia pada zaman sekarang adalah penganut dan pendukung paham Ahlussunah wal Jama’ah.

Sumber: I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah, K.H. Siradjuddin Abbas.

File : Aqidah / I'tiqad Ahlusunnah Wal Jama'ah


====================================================

Dari Anas bin Malik ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas.” [HR. Ibnu Majah (3950), Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1220) dan al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (2069).

====================================================

"Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya'irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi" (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.). وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة (الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص: 38) "Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy'ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya'irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari)" (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38). كذلك عند أهل السنة وإمامهم أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي (الفواكه الدواني ج: 1 ص: 103) "Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103) وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج. 1، ص. 151) "Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya'irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Hasyiyah Al-'Adwi, Ali Ash-Sha'idi Al-'Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105). والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص. 4) "Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama'ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu 'anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)" (Hasyiyah At-Thahthawi 'ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4)

==================================================

Pada saat ini kaum Ahlussunah Wal Jamaah (Ahlusunah/ Sunny) adalah kaum yang paling dimusuhi oleh orang-orang Yahudi dan dan orang-orang  Musyrik.  Diberbagai belahan dunia yang menjadi korban peperangan/pembunuhan  orang muslim sebagian besar adalah kaum Ahlussunah Wal Jamaah.

Sebagaimana difirmankan oleh Allah,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat,  kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu.

Secara sederhana dapat diartikan jika ada orang/jamaah/kelompok/organisasi muslim namun sama sekali tidak dimusuhi oleh kaum Yahudi maupun kaum Musyrik artinya ada kemungkinan sudah tersusupi orang mereka atau tersusupi pemikiran mereka yang keliru/sesat atau i'tiqad itu sendiri yang tersesati oleh syetan/iblis.

Wallahu a'lam

File terkait : Ahlussunnah Bantah Ahmad Ibn Taimiyah