Tampilkan postingan dengan label Pluralisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pluralisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2010

Kekeliruan Pluralisme

Saat ini sering diperbincangkan tentang Pluralisme dan Tokoh Pluralisme.

Konsep pluralisme yang umat muslim pahami adalah keliru !
Baik dengan arti semua agama benar atau semua agama sama, karena Allah “memberitahukan” kepada manusia melalui nabi dan rasul secara bergantian tidak bersamaan !

Nabi yang kemudian bertugas sekaligus “memperbaiki” ajaran nabi sebelumnya yang kitabnya “dirusak”, “diubah”,”dilempar” oleh manusia.

Sampai Allah telah menetapkan yang “terakhir” dan akan menjaganya sampai akhir zaman.

Jadi urgensi diutusnya Nabi Muhammad dengan Islam adalah karena umat manusia sebelumnya telah merusak atau mengubah atau melempar ajaran/kitab dari nabi sebelum Nabi Muhammad.

Apakah manusia tidak menyadarinya ?

Klo sekedar toleransi, kita tidak perlu menerima paham pluralisme cukup dengan berpegangan pada kode etik dengan non muslim.

Kehidupan kita di dunia ini, diserang oleh isme-isme yang keliru seperti Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (SPILIS).

Isme-isme itu sesungguhnya disebarluaskan oleh suatu kaum yang telah disebut oleh Allah dalam firmanNya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82)

Kaum itu mempunyai maksud lain dari penyebaran paham Pluralisme , bagi mereka sesungguhnya,

Pluralisme,  paham yang membuat manusia “floating” / “ragu” akan Allah / Agama.

Kaum itulah yang sesungguhnya , secara halus, mengarahkan olah pikir kita, pemahaman, filsafat, paradigma yang mengakibatkan kita konflik, berbeda pendapat bahkan peperangan.

Untuk itulah kita harus waspada dengan cara memahami mereka.

Selengkapnya baca tulisan sebelumnya

******************

Pustaka buku:

1. Zionisme - Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era Habibi)
2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya
3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara
4. Freemansory di asia tenggara , Abdullah Pattani
5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman
6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas
7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah

Senin, 18 Januari 2010

Sekularisme Pluralisme dan Liberalisme

Tanpa kita sadari Sekularisme, Pluralisme maupun Liberalisme adalah paham yang diserbarluaskan oleh kaum Illuminati.

Kita harus menyadari kekeliruan selama ini dengan memahami apa sebenarnya arti Sekularisme, Pluralisme maupun Liberalisme bagi illuminati,

Liberalisme, paham yang “membebaskan” manusia terhadap aturan Allah / Agama
Pluralisme, paham yang membuat manusia “floating” / “ragu” akan Allah / agama.
sedangkan
Sekularisme
, paham yang menghindarkan manusia dalam kehidupannya me”referensi” kepada Allah / Agama

selengkapnya baca di blog saya, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/

Saat ini sering diperbincangkan tentang Pluralisme dan Tokoh Pluralisme.

Konsep pluralisme yang umat muslim pahami adalah keliru !
Baik dengan arti semua agama benar atau semua agama sama, karena Allah “memberitahukan” kepada manusia melalui nabi dan rasul secara bergantian tidak bersamaan !

Nabi yang kemudian “memperbaiki” ajaran nabi sebelumnya yang “dirusak”, “diubah”,”dilempar” oleh manusia.

Sampai Allah telah menetapkan untuk yang “terakhir” dan akan menjaganya sampai akhir zaman.

Wallahu a’lam

Minggu, 17 Januari 2010

Sekularisme Pluralisme dan Liberalisme

Tanpa kita sadari Sekularisme, Pluralisme maupun Liberalisme adalah paham yang diserbarluaskan oleh kaum Illuminati.

Kita harus menyadari kekeliruan selama ini dengan memahami apa sebenarnya arti  Sekularisme, Pluralisme maupun Liberalisme bagi illuminati,

Liberalisme, paham yang "membebaskan" manusia terhadap aturan Allah / Agama


Pluralisme, paham yang membuat manusia "floating" / "ragu" akan Allah / Agama.

sedangkan

Sekularisme, paham yang menghindarkan manusia dalam kehidupannya me"referensi" kepada Allah / Agama

Illuminati adalah bagian dari kaum Yahudi dan orang-orang musyrik (menyekutukan Allah).

Illuminati memahami paganisme, mereka para penyembah syetan (lucifer) yang mereka kembangkan sampai saat ini dari peninggalan mesir kuno.

Illuminati berupaya agar manusia tidak mereferensikan segala sesuatu dalam kehidupan di dunia kepada Allah dengan paham humanisme, materilisme dll. Salah satu paham yang mereka usung adalah terori evolusi charles darwin yang pada akhirnya dipatahkan oleh teori-teori lain di masa kini.

Illuminasi berupaya mengenyahkan agama dalam kehidupan manusia. Dalam zaman kehidupannya mereka mengenyahkan Taurat yang dibawa Nabi Musa dan menggantikan dengan / merubah menjadi talmud yang diambil dari "peninggalan" mesir kuno.

Mereka adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus) yang mengubah esensi dasar agama Nasrani dari yang hanya sebagai agama kaum Nabi Isa menjadi agama misi ke seluruh dunia. Mereka adalah Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman) yang memecah umat Islam. Mereka adalah Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka adalah Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia. Mereka adalah Snouck Hurgronje (Yahudi Belanda) yang pura-pura masuk Islam dan menggunakan ‘keIslamannya’ sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam Indonesia.

Illuminati bergabung dengan freemason.

Mereka juga membuat/mengarahkan agama baru seperti Bahaiyah  yang  didirikan  seseorang Freemason  Abdulbaha
Ahmadiyah  didirikan  oleh  seorang Freemasonry  India  Mirza  Ghulam  Ahmad,  yang  radikal  disebut aliran  Qadyani,  dan  yang  halus  disebut  aliran  Lahore.  Biaya dakwah dan  tablighnya  itu dari Freemasonry  International melalui penguasa  Inggris.
Freemasonry  pun  mensponsori  terbentuknya tharekat-tharekat Islam yang berfatwa dan bergerak sejalan dengan ajaran  Freemasonry  itu,  di  bentuknya  pada  tahun  1946  gerakan Quraniyah  dipimpin   oleh  Syekh  Yakub dari  Palestina,  segala sesuatu harus berdasar Qur’an  tanpa  tafsir dan semua hadits Nabi saw  ditolaknya,  sehingga  mereka  shalat  dan  saum  hanya berdasarkan  Qur’an,  tidak  ada  raka’at  dalam  shalat,  tidak  ada bacaan  tertentu  dalam  shalat,  tidak  ada  adzan,  qamat  dsb.

Allah telah mengingatkan dengan firmanNya,

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat, kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisai adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu

Dalam al-Qur'an dikabarkan pula tentang samiri.

"kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara , maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa". (20:88)

Berkata Musa: "Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?" (20:95)

Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku". (20:96).

Sampai saat ini belum saya ketahui hubungan dengan Amerika yang dipanggil dengan Uncle Sam.

Di Amerika, jika memerlukan "bantuan" manusia maka menghubungi 9 11, yang dikabari sebagai perwakilan dua lambang Illuminati 9 dan 11.  Dimana 9 yang menunjukan lambang  mata dewa horus sedangkan angka 11 yang menyerupai gerbang, artinya kekuataan dan kecerdasan menuju gerbang keabadian.

Illuminati  diberi cobaan oleh Allah berupa kemampuan akal (kecerdasan) yang dengan akal ini mereka menjadi sombong.  Dengan akal ini mereka mendapatkan kekuatan / kekuasaan. Dari pencapaian kekuasaan saat ini mereka merencanakan New World Order (NWO) atau Novus Ordo Seclorum.

Bagi sebagaian pendapat orang, sesungguhnya tragedi WTC 11/9 adalah merupakan fitnah yang dipengaruhi oleh kaum Illuminati. Berdasarkan fitnah inilah mereka dapat melakukan "pembunuhan" di Afghanistan, Irak dll

Fitnah, peperangan, konflik adalah bagian dari 40 teknik Illuminati dalam mencapai tujuannya

Wallahu a'lam

Sehubungan dengan Illuminati, baca juga tulisan sebelumnya, dibalik-krisis

Silahkan baca pula tulisan pada blog tetangga tentang Sejarah Mesir, Bani Israil, Yahudi dan Freemason

Kekeliruan Pluralisme

Saat ini sering diperbincangkan tentang Pluralisme dan Tokoh Pluralisme.

Konsep pluralisme yang umat muslim pahami adalah keliru !
Baik dengan arti semua agama benar atau semua agama sama, karena Allah “memberitahukan” kepada manusia melalui nabi dan rasul secara bergantian tidak bersamaan !

Nabi yang kemudian bertugas sekaligus “memperbaiki” ajaran nabi sebelumnya yang kitabnya “dirusak”, “diubah”,”dilempar” oleh manusia.

Sampai Allah telah menetapkan yang “terakhir” dan akan menjaganya sampai akhir zaman.

Jadi urgensi diutusnya Nabi Muhammad dengan Islam adalah karena umat manusia sebelumnya telah merusak atau mengubah atau melempar ajaran/kitab dari nabi sebelum Nabi Muhammad.

Apakah manusia tidak menyadarinya ?

Klo sekedar toleransi, kita tidak perlu menerima paham pluralisme cukup dengan berpegangan pada kode etik dengan non muslim.

Kehidupan kita di dunia ini, diserang oleh isme-isme yang keliru seperti Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (SPILIS).

Isme-isme itu sesungguhnya disebarluaskan oleh suatu kaum yang telah disebut oleh Allah dalam firmanNya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82)

Kaum itu mempunyai maksud lain dari penyebaran paham Pluralisme , bagi mereka sesungguhnya,

Pluralisme,  paham yang membuat manusia “floating” / “ragu” akan Allah / Agama.

Kaum itulah yang sesungguhnya , secara halus, mengarahkan olah pikir kita, pemahaman, filsafat, paradigma yang mengakibatkan kita konflik, berbeda pendapat bahkan peperangan.

Untuk itulah kita harus waspada dengan cara memahami mereka.

*******

Pustaka buku:

1. Zionisme - Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era Habibi)
2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya
3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara
4. Freemansory di asia tenggara , Abdullah Pattani
5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman
6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas
7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah

Selasa, 08 September 2009

Petunjuk Allah

Petunjuk Allah.

(Seruan kepada para pemimpin dan umat Islam Indonesia)

Kembali negara kita dilanda musibah, bencana alam dalam bentuk gempa bumi, pesawat jatuh, bencana kelaparan di Papua dll. Hal ini mengingatkan kepada tulisan saya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/06/25/taatilahulama/

Perhatikanlah cara dan kerja pemerintah dalam menanggulangi bencana. Semoga mereka dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Juga semoga dengan bencana gampa bumi ini membuat para pemimpin sadar dan tergerak untuk segera pula mengatasi masalah rakyat korban Lapindo, tidak menelantarkan rakyat bertahun-tahun lagi. Betapa besar kerugian rakyat di sana, baik secara material maupun immaterial.

Bencana alam menjadikan peringatan bagi manusia, suhu bumi meningkat, permukaan air laut meninggi dikarenakan kerusakan hutan dan alam serta faktor lain seperti efek samping industri/karbon. Kerusakan hutan di Indonesia 51 kilometer persegi per hari atau 300x luas lapangan bola per jam, kerusakan alam dan kesenjangan ekonomi dari pertambangan seperti freeport , lapindo dll merupakan bagian dari tanggung jawab para pemimpin. Firman Allah, "Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik *, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar" (Al-Maaidah: 33),

Bencana alam, musibah, musibah penyakit, musibah kemiskinan yang kita alami di nergeri kita ini, bisa merupakan cobaan dari Allah sekaligus peringatan Allah bagi kita.

Peringatan Allah bagi pemimpin negeri dan rakyat negeri ini karena dalam kehidupan tidak lagi menggunakan petunjuk dari Allah. Sebagian pemimpin di negeri ini malah mempergunakan petunjuk kaum kuffar , dalam kepemimpinan mencari ridho kaum kuffar dan mengharapkan pertolongan kaum kuffar. Hubungan antar manusia, ridho kaum kuffar begitu diupayakan sampai mereka menjadi kaum Sekulerisme, Liberalisme, Plurarisme Agama. Padahal MUI sudah mengeluarkan fatwa haram dengan fatwa Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005, Tentang PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA, http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=137

Untuk menjadikan negeri ini makmur dan sentosa (nikmat dari Allah), maka pemimpin dan rakyat wajib mengikuti petunjuk Allah. Bukan petunjuk kaum kuffar dan bukan juga mengharapkan ridho kaum kuffar. Kepada kaum kuffar cukuplah sebatas menghargai sebagai manusia.

Pemimpin dan rakyat sebagai manusia agar mendapatkan nikmat Allah dalam kehidupan baik di dunia dan akhirat, wajib memperhatikan firman Allah, Al-Fatihah, 5,6,7

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. (5)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (6)

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (7)

Pemimpin dan rakyat sebagai manusia mendapatkan petunjuk Allah dari kitabullah, firman Allah, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (Al-Baqarah : 2)

“Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaannya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izinNya dan menunjukkan ke jalan yang lurus. (Al Maidah : 16)

Dengan petunjuk Allah lah, para pemimpin dan rakyat akan mendapatkan nikmat Allah, bebas dari rasa khawatir/takut dan bebas dari rasa sedih. Sesuai firman Allah,

"Kami berfirman: Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran/takut atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (Al Baqarah: 38)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran/takut terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al Baqarah 277)

Kesimpulan, solusi bagi pemerintah dan rakyat mengatasi permasalahan di dunia/negara adalah kembali kepada petunjuk Allah, kembali pada Al-Qur’an. Sekali lagi bukan petunjuk kaum kuffar, bukan pula mengharapkan ridho kaum kuffar. Pada Al-Qur'an akan ditemukan resep ekonomi, politik, pendidikan, hukum, bernegara dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Bukanlah resep ekonomi ala IMF, Washington Consensus, Free Trade dan petunjuk kaum imperialisme dan kapitalis lainnya.

Buat pemerintah baiklah mengambil pendapat, sebagai contoh apa yang telah dipelajari INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) http://insistnet.com atau lembaga, institute, LSM lainnya yang pada prinsipnya tidak tercemar oleh paham Liberalisme, Sekulerisme dan Pluralisme Agama.

Lebih baik lagi pada sisi Presiden dapat dibentuk Majelis Pertimbangan Ulama Indonesia (MPUI) yang memberikan pertimbangan segala hal yang berhubungan dengan pemerintahan dan kebijakannya agar sesuai dengan Al Quran dan Hadits. MPUI ini terdiri dari wakil seluruh ormas Islam, lembaga penelitian pemerintahan berdasarkan Islam, pada prinsipnya perwakilan yang disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar terhindar dari paham yang sesat.

Wassalam

Zon at Jonggol

Selasa, 28 Juli 2009

Wakil Presiden Terpilih

Pada 4 Juni 2009 lalu, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Jakarta menggelar kuliah umum bertema "Reading for Gender: Al-Ghazali and the Nature of the Person in Islamic Ethic" yang disajikan oleh Prof. Dr. Amina Wadud. Wadud adalah tokoh feminis liberal radikal dan paling kontroversial sepanjang 14 abad menyusul ulahnya mengimami shalat Jumat di sebuah Gereja Katedral di Sundram Tagore Gallery 137 Greene Street, New York pada tahun 2005 lalu. Selanjutnya pada 17/10/08, Wadud kembali menjadi imam dan khatib Jumat di Oxford Centre, Oxford dengan makmum laki-laki dan perempuan bercampur-baur. Shalat Jumat ini adalah aksi pembukaan sebelum memulai Konferensi Islam dan Feminisme yang digelar di Wolfson College, Oxford

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=147&Itemid=45

Kaum SPILIS (sekuler, plural dan liberalisme agama) mulai kembali menyebarkan pemahaman mereka, kali ini mereka mengadakan seminar dengan pembicara Amina Wadud, Kuliah Umum "Jender, Seni dan Tasauf"
http://www.salihara.org/main.php?type=detail&module=news&menu=child&parent_id=5&id=34&item_id=785

Dr. Amina Wadud menyampaikan kuliah umumnya dalam bahasa Inggris, dengan terjemahan langsung dalam Bahasa Indonesia. Acara ini  diselenggarakan pada hari Minggu 26 Juli 2009 pukul 19:00 WIB di Teater Salihara. CP:  Guntur di 0815-1319-1313 atau kunjungi www.salihara.org. Komunitas Salihara; Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520. Tel: 021-789-1202.

Komunitas Salihara merupakan sayap kesenian Komunitas Utan Kayu, kini sudah berumur sekitar sepuluh tahun, bertekad meneruskan dan mengembangkan apa yang selama ini telah dicapai. Demi menampung perluasan aktivitas itu, para pendiri dan pengelolanya lantas mengambil prakarsa membangun kompleks Komunitas Salihara.

KOMUNITAS SALIHARA berdiri di atas sebidang tanah seluas sekitar 3.060 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Terdiri atas tiga unit bangunan utama: Teater Salihara, Galeri Salihara, serta ruang perkantoran dan wisma.

Prasarana pada komunitas ini tampaknya tidak sekedar kesenian, terbukti mereka dapat menggunakan untuk kegiatan seminar, “kuliah umum” dll.

Salah satu kegiatan bidang kesenian yakni pameran seni rupa di Galeri Salihara dibuka oleh Wakil Presiden Terpilih Prof. Dr. Boediono Kamis 16 Juli 2009 pukul 17.00 WIB. Pameran ini mengambil tajuk Perang, Kata dan Rupa merupakan bagian dari Festival Salihara 2009. Pembukaan pameran ini terbuka untuk umum
http://www.salihara.org/main.php?type=detail&module=news&menu=child&parent_id=4&id=29&item_id=777

Buat saya agak menarik perhatian adalah title untuk Prof Dr. Boediono, yakni "Wakil Presiden Terpilih". Padahal perencanaan pameran jauh sebelum pengumuman resmi oleh KPU.

Tampak pergerakan kaum SPILIS akan semakin maju, terlebih setelah beberapa tokoh mereka yang merupakan bagian team sukses, akan sukses mengantarkan kembali SBY/BOEDIONO sebagai pasangan CAPRES/CAWAPRES periode 2009 – 2014.  Mudah-mudah an,  partai-partai Islam yang bergabung dalam koalisi SBY/BOEDIONO dapan berperan untuk menegakkan kebenaran walaupun pada akhirnya tampak "kepasrahan" petinggi partai untuk ketetapan "kekuasaan" kementrian berdasarkan hak prerogatif sang Presiden terpilih atau sejak dari awal sang Presiden memang membutuhkan partai-partai Islam  sekedar "stempel" atau legitimasi saja ?

Apakah langkah kaum muslim yang harus diperbuat untuk memperjuangkan apa yang telah di fatwa haram oleh MUI yakni, paham sekularisme, plurarisme dan liberalisme agama. ? Tampak Pemerintah (UMARA) mendatang kembali tidak lagi mempedulikan fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan oleh para ULAMA (MUI).

Marilah kita tegakkan UKHUWAH ISLAMIYAH dengan melepaskan ego, golongan, partai, dll   demi  menegakkan KEBENARAN (Al  Haq).

Kamis, 23 April 2009

Jangan Memfitnah Buya HAMKA

Adian Husaini

http://adianhusaini.blogspot.com/2008/01/jangan-menfitnah-buya-hamka.html

Yang lebih menyedihkan adalah artikel berjudul ”Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”, ditulis oleh Ayang Utriza NWAY, seorang alumnus Fakultas Syariah UIN Jakarta, yang menyelesaikan masternya di Paris. Sebagaimana banyak penganut paham Pluralisme Agama, penulis ini juga menggunakan QS Al-Baqarah ayat 62 sebagai rujukan pendapatnya. Celakanya, dia mengutip pendapat Hamka dalam Tafsir al-Azhar secara serampangan, lalu membuat kesimpulan yang menyesatkan. Dia menulis dalam artikel ini:

”Buya Hamka dengan sangat mengagumkan menafsirkan ayat ini. Ia menulis ”Kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dan dunia ini [...]. Ayat ini sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak dingin, manakah dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, diikuti amal saleh. Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur’an. Suatu hal yang amat perlu dalam dunia modern.” Lebih jauh Buya Hamka mengutip hadits yang diriwayatkan dari Ibn Abi Hatim dari Salman al-Farisi yang bertanya kepada Rasulullah tentang agama mana yang paling benar dari semua agama yang pernah dimasuki olehnya: Majusi, Nasrani, dan Islam. Rasulullah menjawab dengan QS 2:62 tersebut.” (hal. 306-307).

Lalu, penulis yang juga peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina ini, mengutip pendapat Hamka yang tidak setuju dengan pendapat Ibn Abbas bahwa QS 2:62 itu sudah dinasakh oleh QS 3:85.

”Buya Hamka menyatakan: ”Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan (dihapus) oleh ayat 85 surat Ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk dia saja [...].”

Yang kemudian sangat sembrono dan tidak etis, adalah kesimpulan yang dibuat oleh penulis, bahwa:

”Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam, maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga. Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga.” (hal. 307).

Sebenarnya, jika seorang peneliti dan penulis yang jujur dalam membaca penafsiran Hamka terhadap QS 2:62, pastilah tidak akan membuat kesimpulan seperti itu. Sebab, Hamka memang tidak menyimpulkan seperti itu. Dalam tafsirnya, Hamka menulis tentang hadits Ibn Abi Hatim sebagai berikut:

”Telah meriwayatkan Ibnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman, bahwasanya aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. dari hal pemeluk-pemeluk agama yang telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada beliau bagaimana cara sembahyang mereka masing-masing dan cara ibadah mereka masing-masing. Lalu aku minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau jawablah pertanyaanku itu dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu dan seterusnya itu.”

Artinya ialah bahwa perlainan cara sembahyang atau cara ibadah adalah hal lumrah bagi berbagai ragam pemeluk agama, karena syariat berubah sebab perubahan zaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku disatu tempat, dengan tidak mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang sejati, lalu menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati puas. Itulah dia Islam.” (Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juzu’ I, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982) hal. 216).”

Hamka sangat menekankan bahwa makna ”iman sejati” adalah beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, dan beramal shalih. Jadi, formalitas Islam, atau ”mengaku-aku Islam” saja – tanpa diikuti dengan keyakinan yang mendalam dan amal shalih -- memang tidak menjamin keselamatan di akhirat. Siapa pun akan setuju dengan kesimpulan Hamka ini. Tetapi, perlu dicatat, Hamka sama sekali tidak berpendapat, bahwa kaum Yahudi, Kristen, Shabiin, dan lain-lain, semuanya akan masuk surga, tanpa perlu masuk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad saw dan beriman kepada al-Quran. Hamka menulis:

”Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.” (Ibid, hal. 213).

Justru disinilah persolan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka menolak kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran. Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Muslim:

”Berkata Rasulullah s.a.w.: Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Lalu, selanjutnya, Hamka menjelaskan makna hadits Rasul saw tersebut:

”Dengan hadits ini jelaslah bahwa kedatangan nabi Muhammad s.a.w. sebagai penutup sekalian Nabi (Khatimil Anbiyaa) membawa Al-Quran sebagai penutup sekalian Wahyu, bahwa kesatuan ummat manusia dengan kesatuan ajaran Allah digenap dan disempurnakan. Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai. Maka, orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak Wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, mereka menolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.” (Ibid, hal. 217-218).

Inilah penafsiran Hamka tentang QS 2:62, yang telah dikutip dan disimpulkan secara keliru oleh peneliti Paramadina yang mengaku pernah kuliah pasca sarjana di Universitas Al-Azhar Kairo. Kita sangat menyesalkan cara-cara seperti ini, yang jauh dari etika ilmiah. Apalagi, buku ini dimaksudkan untuk mengenang orang yang disanjung-sanjung oleh kaum liberal sebagai salah satu ”cendekiawan terkemuka” di Indonesia. Kita gembira dengan banyaknya orang yang menulis tentang Hamka, tetapi kita berharap mereka jujur dan cermat dalam menulis. Pemikiran dan kiprah perjuangan Buya Hamka jelas amat sangat jauh bedanya dengan kaum Pluralis Agama yang menyatakan bahwa kaum Yahudi, Kristen, dan sebagainya, adalah ”saudara seiman” mereka.

Rabu, 22 April 2009

Toleransi beragama

Tafsir Al Azhar, Buya Hamka

Surat Al-Baqarah Ayat 62 - 66


(62) إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ الَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْ

Sesungguhnyaorang-orangyang beriman dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi'in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka-cita.





(63) وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَ رَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَ خُذُوْا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَ اذْكُرُوْا مَا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ


Dan (ingatlah) tatkala telah Kami ambil perjanjian dengan kamu, dan telah Kami angkatkan gunung di atas kamu; Pegang­lah apa yang telah Kami berikan kepada kamu dengan sungguh-sungguh, dan ingatlah olehmu apa yang ada di dalamnya, supaya kamu semua­nya takwa.





(64) ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ لَكُنْتُم مِّنَ الْخَاسِرِيْنَ


Kemudian kamupun berpaling sesudah itu. Maka kalau bukanlah karunia Allah dan belas-kasihanNya atas kamu, sesungguhnyalah telah jadilah kamu dari orang-orang yang merugi.





(65) وَ لَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ


Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang me­langgar perintah pada hari Sabtu, maka Kami firmankan : Jadilah kamu kera-kera yang dibenci !





(66) فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَ مَا خَلْفَهَا وَ مَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْن


Maka Kami jadikanlah dianya sebagai suatu teladan bagi mereka yang semasa dengan nya dan bagi yang dibelakang­nya, dan pengajaran bagi orang­orang yang bertakwa.





إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman. " (pangkal ayat 62).

Yang dimaksud dengan orang beriman di sini ialah orang yang memeluk agama Islam; yang telah menyatakan percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w dan akan tetaplah menjadi pengikutnya sampai Hari Kiamat :

وَ الَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ
"Dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi'in ",

yaitu tiga golongan beragama yang percaya juga kepada Tuhan tetapi telah dikenal dengan nama-nama yang demikian,

مَنْ آمَنَ بِاللهِ
"barangsiapa yang beriman kepada Allah".

Yaitu yang mengaku adanya Allah Yang Maha Esa, dengan sebenar-benar pengakuan, mengikut suruhanNya clan menghentikan laranganNya

وَ الْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً
"dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, "

yaitu Hari Akhirat, kepercayaan yang telah tertanam kepada Tuhan dan Hari Kemudian itu, mereka buktikan pula dengan mempertinggi mutu diri mereka.

فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ
"Maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka:

Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merek apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shahih yang telah mereka kerjakan itu.

وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْ
"Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita. " (ujung ayat 62).

Di dalam ayat ini terdapatlah nama dari empat golongan:
1. Orang yang beriman.
2. Orang-orang yang jadi Yahudi.


3. Orang-orang Nasrani.
4. Orang-orang Shabi'in.


Golongan pertama, yang disebut orang-orang yang telah beriman, ialah orang-orang yang telah terlebih dahulu menyatakan percaya kepada segala ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w yaitu mereka-mereka yang telah berjuang karena imannya, berdiri rapat di sekelilling Rasul s. a.w sama-sama menegakkan ajaran agama seketika beliau hidup. Di dalam ayat ini mereka dimasukkan dalam kedudukan yang pertama dan utama.

Yang kedua ialah orang-orang yang jadi Yahudi, atau pemeluk agama Yahudi. Sebagaimana kita ketahui, nama Yahudi itu dibangsakan atau diambil dari nama Yahuda, yaitu anak tertua atau anak tertua dari Nabi Ya'qub a. s. . Oleh sebab itu merekapun disebut juga Bani Israil. Dengan jalan demikian, maka nama agama Yahudi lebih merupakan agama "keluarga" daripada agama untuk manusia pada umumnya.

Yang ketiga, yaitu Nashara, dan lebih banyak lagi disebut Nasrani. Dibangsakan kepada desa tempat Nabi Isa al-Masih dilahirkan, yaitu Desa Nazaret (dalam bahasa Tbrani) atau Nashirah (dalam bahasa Arab). Menurut riwayat Ibnu Jarir, Qatadah berpendapat bahwa Nasrani itu memang diambil dari nama Desa Nashirah.
Ibnu Abbas pun menafsirkan demikian.

Yang keempat Shabi'in; kalau menurut asal arti kata maknanya, ialah orang yang keluar dari agamanya yang asal, dan masuk ke dalam agama lain, sama juga dengan arti asalnya ialah murtad. Sebab itu ketika Nabi Muhammad mencela-cela agama nenek-moyangnya yang menyembah berhala , lalu menegakkan paham Tauhid, oleh orang Quraisy , Nabi Muhammad s.a.w itu dituduh telah shabi' dari agama nenek-moyangnya.

Menurut riwayat ahli-ahli tafsir, golongan Shabi'in itu memanglah satu golongan dari orang-orang yang pada mulanya memeluk agama Nasrani, lalu mendirikan agama sendiri. Menurut penyelidikan, mereka masih berpegang teguh pada cinta-kasih ajaran al-Masih, tetapi disamping merekapun mulai menyembah Malaikat. Kata setengah orang pula, mereka percaya akan pengaruh bintang­ bintang. Ini menunjukan pula bahwa agama menyembah bintang­ bintang pusaka Yunani mempengaruhi pula perkembangan Shabi'in ini.

Di jaman sekarang penganut Shabi'in masih terdapat sisa-sisanya di negeri Irak. Mereka menjadi warga negara yang baik dalam Republik Irak.

Di dalam ayat ini dikumpulkanlah keempat golongan ini menjadi satu. Bahwa mereka semuanya tidak merasai ketakutan dan duka-cita asal saja mereka sudi beriman kepada Allah dan Hari Akhirat golongan itu diikuti oleh amal yang shalih. Dan keempat-empat lalu iman kepada Allah dan Hari Akhirat itu akan mendapat ganjaran di sisi Tuhan mereka.

Ayat ini adalah suatu tuntunan bagi menegakkan jiwa, untuk seluruh orang yang percaya kepada Allah. Baik dia bernama mukmin, atau muslim pemeluk Agama Islam, yang telah mengakui kerasulan Muhammad s.a.w atau orang Yahudi, Nasrani dan Shabi'in. Disini kita bertemu syarat yang mutlak.

Syarat pertama iman kepada Allah dan Hari Pembalasan, sebagai inti ajaran dari sekalian agama. Syarat pertama itu belum cukup kalau belum dipenuhi dengan syarat yang kedua, yaitu beramal yang shalih, atau berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik, yang berfaedah dan bermanfaat baik untuk diri sendiri ataupun untuk masyarakat. Mafhum atau sebaliknya dari yang tertulis adalah demikian : "Meskipun dia telah mengakui beriman kepada Allah (golongan pertama), mengaku beriman mulutnya kepada Nabi Muhammad, maka kalau iman itu tidak dibuktikannya dengan amalnya yang shalih, tidak ada pekerjaannya yang utama, tidaklah akan diberikan ganjaran oleh Tuhan."

Demikian juga orang Yahudi, walaupun mulutnya telah mengakui dirinya Yahudi, penganut ajaran Taurat, padahal tidak diikutinya dengan syarat pertama iman sungguh-sungguh kepada Allah dan Hari Akhirat, dan tidak dibuktikannya dengan amal yang shalih, perbuatan yang baik, berfaedah dan bermanfaat bagi peri-kemanusiaan, tidaklah dia akan mendapat ganjaran dari Tuhan.

Begitu juga orang Nasrani dan Shabi'in. hendaklah pengakuan bahwa diri orang nasrani atau Shabiin itu dijadikan kenyataan dalam perbuatan yang baik. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat ! Inilah pokok pertama, sehingga pengakuan beriman yang pertama bagi orang Islam, pengakuan Yahudi bagi orang Yahudi, pengakuan Nasrani bagi orang Nasrani, pengakuan Shabi'in bagi pemeluk Shabi'in, belumlah sama sekali berarti apa-apa sebelum dijadikan kesadaran dan kenyakinan dan diikuti dengan amal yang shalih.

Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada RasulNya; tidak membeda-bedakan di antara satu Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.
Di dalam sejarah Rasul s.a.w berjumpalah hal ini. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sahabat-sahabat yang utama, telah lebih dahulu menyatakan iman.

Kemudian baik seketika masih di Mekkah atau setelah berpindah ke Madinah, menyatakan iman pula beberapa orang Yahudi, sebagai Abdullah bin Salam, Ubai bin Ka'ab dan lain-lain. Orang-orang Nasranipun menyatakan pula iman kepada Allah dan Hari Akhirat yang diikuti dengan amal yang shalih, seumpama Tamim ad-Dari, Adi bin Hatim atau Kaisar Habsyi (Negus) sendiri dan beberapa lagi yang lain. Cuma yang tidak terdengar riwayatnya ialah orang Shabi'in.

Salman al-Farisipun berpindah dari agama Majusi, lalu memeluk Nasrani dan kernudian menyatakan iman kepada Allah dan Hari Akhirat dan mengikutinya dengan amal yang shalih. Maka semua orang-orang yang telah menyatakan iman dan mengikuti dengan bukti ini, hilanglah dari mereka rasa takut, cemas dan duka­cita.

Apa sebab ?

Apabila orang telah berkumpul dalam suasana iman, dengan sendirinya sengketa akan hilang dan kebenaran akan dapat dicapai. Yang menimbulkan cemas dan takut di dalam dunia ini ialah apabila pengakuan hanya dalam mulut, aku mukmin, aku Yahudi, aku Nasrani, aku Shabi'in, tetapi tidak pernah diamalkan.



Maka terjadilah perkelahian karena agama telah menjadi golongan, bukan lagi dakwah kebenaran. Yang betul hanya aku saja, orang lain salah belaka. Orang tadinya mengharap agama akan membawa ketentraman bagi jiwa, namun kenyataannya hanyalah membawa onar dan peperangan, kerena masing-masing pemeluk agama itu tidak ada yang beramal dengan amalan yang baik, hanya amal mau menang sendiri.

Kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dalam dunia ini. Janganlah hanya semata-mata mengaku Islam, Yahudi atau Nasrani atau Shabi'in, pengakuan yang hanya di lidah dan karena keturunan. Lalu marah kepada orang kalau dituduh kafir, padahal Iman kepada Allah dan Hari Akhirat tidak dipupuk, dan amal shalih yang berfaedah tidak dikerjakan.

Kalau pemeluk sekalian agama telah bertindak zahir dan batin di dalam kehidupan menurut syarat-syarat itu tidaklah akan ada silang sengketa di dunia ini tersebab agama. Tidak akan ada fanatik buta, sikap benci dan dendam kepada pemeluk agama yang lain.


Nabi Muhammad sendiri meninggalkan contoh teladan yang amat baik dalam pergaulan antara agama. Beliau bertetangga dengan orang Yahudi, lalu beliau beramal-shalih terhadap mereka. Pernah beliau menyembelih binatang ternaknya, lalu disuruhnya lekas-lekas antarkan sebagian daging sembelihannya itu ke rumah tetangganya orang Yahudi.



Seketika datang utusan Najran Nasrani menghadap beliau ke Madinah, seketika utusan-utusan itu hendak menghadap di waktu yang ditentukan, semuanya memakai pakaian-pakaian kebesaran agama mereka sebagaimana yang kita lihat pada pendeta-pendeta Katholik sekarang ini , sehingga mereka terlalu terikat dengan protokol-protokol yang memberatkan dan kurang bebas berkata-kata, lalu beliau suruh tanggalkan saja pakaian itu dan mari bercakap lebih bebas. Yahudi dan Nasrani itu beliau ucapkan dengan kata hormat: "Ya Ahlal Kitab " : Wahai orang-orang yang telah menerima Kitab-kitab Suci.

Dalam kehidupan kita di jaman modern pun begitu pula. Timbul rasa cemas di dalam hidup apabila telah ada di antara pemeluk agama yang fanatik. Yang kadang-kadang saking fanatiknya, maka imannya bertukar dengan cemburu: "Orang yang tidak seagama dengan kita, adalah musuh kita. "Dan ada lagi yang bersikap agresif., menyerang, menghina, dan menyiarkan propaganda agama mereka dan kepercayaan yang tidak sesuai ke dalam daerah negeri yang telah memeluk suatu agama.

Ayat ini sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai suatu golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak dingin, manakala dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, diikuti oleh amal yang shalih.

Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur'an ! Suatu hal yang amat perlu dalam dunia modern. Kalau nafsu loba manusia di jaman modern telah menyebabkan timbul perang-perang besar dan senjata­senjata pemusnah, maka kaum agama hendaklah mencipta perdamaian dengan mencari dasar kepercayaan kepada Allah dan Hari Akhirat, serta membuktikannya dengan amal yang shalih. Bukan amal merusak.

Kerapkali menjadi kemusykilan bagi orang yang membaca ayat ini, karena disebut yang pertama sekali ialah orang-orang yang telah beriman. Kemudiannya baru disusuli dengan Yahudi, Nasrani dan Shabi'in. Setelah itu disebutkan bahwa semuanya akan diberi ganjaran oleh Tuhan, apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, lalu beramal yang shalih. Mengapa orang yang beriman diisyaratkan beriman lagi ?

Setengah ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud di sini barulah iman pengakuan saja. Misalnya mereka telah mengucapkan Dua Kalimat Syahadat, mereka telah mengaku dengan mulut, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Tetapi pangakuan itu baru pengakuan saja, belum diikuti oleh amalan, belum mengerjakan Rukun Islam yang lima perkara.

Maka iman mereka itu masih sama saja dengan iman Yahudi, nasrani dan Shabi'in. Apatah lagi orang Islam peta bumi saja atau Islam turunan. Maka Islam yang semacam itu masih sama saja dengan Yahudi, Nasrani dan Shabi'in. Barulah keempatnya itu berkumpul menjadi satu, apabila semuanya memperbaharui iman kembali kepada Allah dan Hari Akhirat, serta mengikutinya dengan perbuatan dan pelaksanaan.

Apabila telah bersatu mencari kebenaran dan kepercayaan, maka pemeluk segala agama itu akhir kelaknya pasti bertemu pada satu titik kebenaran. Ciri yang khas dan titik kebenaran itu ialah menyerah diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah yang Satu, itulah Tauhid, itulah Ikhlas, dan itulah Islam! Maka dengan demikian, orang yang telah memeluk Islam sendiripun hendaklah menjadi Islam yang sebenarnya.

Untuk lebih dipahamkan lagi maksud ayat ini, hendaklah kita perhatikan beberapa banyaknya orang-arang yang tadinya memeluk Yahudi atau Nasran'z di jaman modern ini, lalu pindah ke Islam. Mereka yang memeluk Tslam itu bukan sembarang orang, bukan orang awam. Seumpama Leopold Weiss, seorang wartawan dan pengarang ternama dari Austria; dahulunya dia beragama Yahudi, lalu masuk Islam. Pengetahuannya tentang Islam, pandangan hidup dan keyakinannya ditulisnya dalarn berbagai buku. Di antara buku yang ditulisnya itu terpaksa ke dalam bahasa Arab, untuk diketahui oleh orang-orang Islam sendiri di negeri Arab, yang telah Islam sejak turun­ temurun.

Bahkan di waktu dia menyatakan pendapatnya tentang Dajjal di dalam suatu majelis yang dihadiri oleh Mufti Besar Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdullah bin Bulaihid, maka beliau ini telah menyatakan kagumnya dan mengakui kebenarannya. Namanya setelah Islam ialah Mohammad Asad.

Pada bulan Mei 1966 seorang ahli ruang angkasa Amerika Serikat bernama Dr. Clark telah menyatakan dirinya masuk Islam, lalu memakai nama Dr. Ibrahim Clark. Apa yang menarik hatinya memeluk Islam, kebetulan setelah dia tiba di Indonesia pula ? Ialah sebagai seorang ahli ruang angkasa dia bergaul dengan beberapa sarjana Indonesia, beliau mendapat suatu pendirian hidup yang baru dikenalnya, yang tidak didapatnya di Barat. Yaitu bahwa sarjana-sarjana beragama Islam itu, yang berkecimpung di dalam bidangnya masing­ masing, selalu berpadu satu antara pendapat akal dan ilmu (Science)nya dengan kejiwaan.

Kesan inilah yang memikat minatnya untuk menyelami Islam, sehingga bertemulah dia dengan hakikat yang sebenarnya; memang begitulah ajaran Islam. Akhirnya dengan segenap kesadaran hati, dia memilih Islam sebagai agamanya dengan meninggalkan agama Kristen (Protestan).

Dalam minggu pertama dalam bulan Mei itu juga datang lagi seorang sarjana perempuan bangsa Austria, pergi beri'tikaf ke dalam Masjid Agung A1 Azhar selama tiga hari tiga malam sambil berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala moga-moga tercapai1ah perdamaian di dunia ini, dan berdamailah kiranya perang Vietnam. Dia bersembahyang dengan khusyunya dan dia mengatakan bahwa dia telah memeluk Islam sejak sejak 7 tahun, dan telah tujuh kali mengerjakan puasa Ramadhan. Namanya Dr. Barbara Ployer.

Kita kemukakan ketiga contoh ini disamping beratus-ratus contoh yang lain seperti Malcolm X, Negro dari Amerika dan lain-lain di seluruh perjuangan dunia ini.
Menurut sabda Nabi s.a.w kepada sahabat beliau Amr bin al-Ash, seketika beliau ini yang tadinya amat benci kepada Nabi s.a.w., lalu masuk Islam dan meminta maaf kepada beliau atas kesalahan kesalahan yang telah lalu Nabi s.a.w telah bersabda kepadanya: "Hai Amr, Islam itu menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu."Artinya, mulai dia memeluk Islam itu, habislah segala kesalahan yang lama, dimulailah hidup baru.

Kalau setelah mereka memeluk Islam, mereka melanjutkan studi mereka, dan mereka perdalam iman kepada Allah dan Rasul, mereka insafi akan hari Akhirat, lalu mereka ikuti dengan amal yang shalih, niscaya tinggilah martabat mereka di sisi Tuhan daripada orang-orang yang Islam sejak kecil, Islam karena keturunan, tetapi tidak tahu dan tidak mau tahu hakikat Islam. Tidak menyelidiki terus-menerus dan tidak memperdalam.

Telah bertahun-tahun penulis ini mencoba mencari tafsir dari ayat ini, namun hasilnya belumlah memuaskan hati penafsir sendiri, apatah lagi yang mendengarkannya. Tetapi setelah bertemu suatu riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abi Hatim daripada Salman al- Farisi, barulah terasa puas dan tafsir yang telah kita tafsirkan ini adalah berdasarkan kepada riwayat itu.

"Telah meriwayatkan lbnu Abi Hatim daripada Salman, berkata Salman bahwasanya aku telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w dari hal pemeluk-pemeluk agama yang telah pernah aku masuki, lalu aku uraikan kepada beliau bagaimana cara sembahyang mereka masing­ masing dan cara ibadah mereka masing-masing. Lalu aku minta kepada beliau manakah yang benar. Maka beliau jawablah pertanyaanku itu dengan ayat: Innalladzina amanu wal-ladzina hadu dan seterusnya itu."

Artinya ialah bahwa berlainan cara sembahyang atau cara ibadah adalah hal lumrah bagi berbagai-ragam pemeluk agama, karena syari'at berubah sebab perubahan jaman. Tetapi manusia tidak boleh membeku disatu tempat, dengan tidak mau menambah penyelidikannya, sehingga bertemu dengan hakikat yang sejati, lalu menyerah kepada Tuhan dengan sebulat hati. Menyerah dengan hati puas. Itulah dia Islam.

Lantaran itu tidaklah penulis tafsir ini dapat menerima saja suatu keterangan yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang mereka terima dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini telah mansukh, tidak berlaku lagi. Sebab dia telah dinasikhkan oleh ayat 58 daripada Surat Ali- Imran yang berbunyi :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ ديناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَ هُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخاسِرين
"Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi Agama, sekali­kali tidaklah akan diterima daripadanya. Dan dia di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi. " (Ali Imran 85).

Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dari Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada firmanNya, segala RasulNya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih.

Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 Surat Ali- Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik, mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap-melengkapi, maka pintu dakwah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fithrah, tetapi dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia.

Nabi s.a.w menegaskan menurut sebuah hadits yang dirawikan oleh Muslim daripada Abu Musa al-Asy'ari:


albaqo1



"Berkata Rasullah s.a.w. : Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari umat sekarang ini. Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka. "

Dengan Hadits ini jelaslah bahwa kedatangan Nabi Muhammad s.a.w sebagai penutup sekalian Nabi (Khatamul-Anbiyaa) membawa al-Qur'an sebagai penutup sekalian wahyu, bahwa kesatuan umat manusia dengan kesatuan ajaran Allah digenap dan disempurnakan. Dan kedatangan Islam bukanlah sebagai musuh dari Yahudi dan tidak dari Nasrani, melainkan melanjutkan ajaran yang belum selesai.

Maka orang yang mengaku beriman kepada Allah, pasti tidak menolak kedatangan Nabi dan Rasul penutup itu dan tidak pula menolak wahyu yang dia bawa. Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak. Sebab iman mereka kepada Allah tidak sempurna, mereka rnenolak kebenaran seorang daripada Nabi Allah.

Janganlah orang mengira bahwa ancaman masuk neraka itu suatu paksaan di dunia ini, karena itu adalah bergantung kepada kepercayaan. Dan neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh Dzi Nuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid, lalu digalikan lobang (Ukhdud) dan diunggunkan api di dalamnya dan dibakar orang-orang yang ingkar itu, sampai 20.000 orang banyaknya.
Neraka adalah ancaman di hari Akhirat esok, karena menolak kebenaran.

Agama Islam telah berkembang luas selarna 14 abad, tetapi pihak kepala gereja-gereja Yahudi dan Nasrani sendiri berusaha besar­ besaran menghambat perhatian pemeluknya terhadap Nabi Muhammad s. a.w dan Agama Islam, membuat berbagai kata bohong, lalu dinamai Ilmiah, sehingga terjadilah batas jurang yang dalam di antara mereka dengan Islam, dan selalu menggangap bahwa Islam itu musuhnya. Padahal Islam selalu membahasakan mereka dengan hormat, yaitu Ahlul Kitab - pemegang kitab-kitab suci; dan kedatangan mereka senantiasa ditunggu. Bukan dengan paksaan, sebagaimana kelak akan dijelaskan di dalam ayat 256 Surat al-Baqarah ini. (Permulaan Juz 3), melainkan dengan pikiran jernih dan akal yang terbuka.**
Dengan sebab itu pula maka Bani Israil dengan rentetan ayat­ ayat ini tidak terlepas dari seruan dakwah, agar mereka berpikir.

وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَ رَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَ خُذُوْا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ
"Dan (ingatlah tatkala telah Kami ambil perjanjiun dengan kamu, dan telah Kami angkatkan gunung diatas kamu: Peganglah apa yang telah Kami berikan kepada kamu dengan sungguh-sungguh ". (pangkal ayat 63).

Diperingatkan lagi janji yang telah diikat di antara mereka dengan Tuhan bahwa mereka akan beriman kepada Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan dan tidak membuat berhala, hormat kepada kedua ibu-bapak, jangan berzina dan mencuri. Lalu diangkatkan gunung ke atas kepala mereka. Setengah ahli Tafsir mengatakan bahwa benar­benar gunung itu diangkat. Tetapi setengah penafsiran lagi menolak penafsiran demikian. Karena Allah Maha Kuasa berbuat dernikian, dan itu tidak mustahil bagi Allah; namun yang begitu adalah berisi paksaan. Tentu saja paksaan begitu akan hilang bekasnya kalau gunung itu tidak terangkat lagi. Tetapi ayat yang lain, yaitu ayat 170 dari Surat al A'raf (Surat 7), memberikan kejelasan apa arti gunung diangkat di atas mereka itu.



وَ إِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَ ظَنُّوا أَنَّهُ واقِعٌ بِهِمْ خُذُوا ما آتَيْناكُمْ بِقُوَّةٍ وَ اذْكُرُوا ما فيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan (ingatlah) tatkala Kami angkatgunung itu di atas mereka, seakan­akan suatu penudung dan mereka sangka bahwa dia akan jatuh ke atas mereka : Ambillah apa yang Kami datangkan kamu, dan ingatlah apa yang ada padanya, supaya kamu terpelihara. " ( al-A'raf: 171)

Ayat ini telah menafsirkan ayat yang tengah kita perkatakan ini. Yaitu bahwa mereka berdiam di dekat gunung yang tinggi, yang selalu mereka lihat seakan-akan menudungi mereka dan sewaktu-waktu rasa rasakan jatuh juga menimpa mereka. Mungkin dari gunung itu selalulah menguap asap, tandanya dia berapi. Menjadi peringatan kepada mereka, demikianpun kepada kita umat manusia yang tinggal di lereng-lereng gunung berapi, bahwa ancaman Allah selalu ada. Sebab itu peganglah agama yang didatangkan Allah dengan teguh. Ketahuilah bahwa alam ini selalu mempunyai rahasia-rahasia dan pesawat, yang setiap waktu dapat menghancurkan manusia :

وَ اذْكُرُوْا مَا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Dan ingatlah kamu apa yang ada di dalamnya. "Yaitu syari'at yang tersebut di dalam Kitab Taurat itu; "supaya kamu semuanya takwa." (ujung ayat 63). Yakni terpelihara dari bahaya.

Pendeknya, asal betul-betul kamu pegang isi Taurat, pastilah tidak akan ada selisihmu dengan ajaran Muhammad s.a.w ini. Peganglah apa yang Kami berikan kepadamu itu dengan sungguh­sungguh, dengan bersemangat dan dengan hati-hati. Jangan sebagai menggenggam bara panas, terasa hangat dilepaskan. Pegang benar­benar dari hati sanubari, jangan hanya pegangan mulut. Ingat baik­baik apa yang tertulis di dalamnya; jangan hanya mengaku beragama, padahal isi agama tidak diamalkan. Dengan demikian barulah ada faedahnya beragama. Barulah mereka akan menjadi orang yang terpelihara atau orang yang takwa.

Ayat ini bagi kaum Muslimin yang telah 14 abad lamanya berjarak dengan Rasulullah s.a.w pun dapatlah diambil bandingan. Jangan kita sebagai Bani Israil di jaman Muhammad s.a.w mendakwakan diri pengikut Musa, tetapi isi kitab Musa tidak dipegang sungguh ­sungguh. Ada janji dengan Tuhan, tetapi janji itu tidak ditepati. Bukankah kitapun pernah jatuh hina sehingga tanah air kaum Muslimin dijajah oleh bangsa lain, karena kita tidak lagi memegang isi al-Qur'an dengan sungguh-sungguh. Sehingga ada orang yang lancang menuduh bahwa kemunduran hidup kita adalah karena kita masih saja memegang agama kita. Padahal setelah dia tidak kita pegang sungguh-sungguh lagi baru kita jatuh hina.

Ayat ini dilanjutkan kepada Bani Israil :

ثُمَّ تَوَلَّيْتُم مِّنْ بَعْدِ ذَلِكَ
"Kemudian kamupun berpaling sesudah itu. " (pangkal ayat 64).

Janjimu dengan Tuhan telah kamu lupakan. Kesungguhan telah kamu ganti dengan main-main. Agama hanya menjadi permainan mulut, tidak berurat ke hati.

فَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَتُهُ لَكُنْتُم مِّنَ الْخَاسِرِيْنَ
Maka kalau bukan karena karunia Allah dan belas­kasihanNya atas kamu, sesungguhnya telah jadilah kamu dari orang-orang yang merugi. "(ujung ayat 64).

Belas-kasihan dan karunia Tuhanlah yang menyebabkan kamu masih ada sekarang, masih ada anak-cucu yang akan melanjutkan keturunan. Kalau tidak sudah lamalah kamu hancur.Maka selama kamu sebagai anak-cucu masih ada, keadaan yang telah hancur karena kesia-siaan nenek moyangmu itu masih dapat kamu perbaiki. Yaitu dengan mengakui kebenaran yang dibawa oleh Muhammad s.a.w .

Sejarah berjalan terus. Undang-undang Tuhan berlaku terus buat umat manusia. Di saat kini kaum Bani Israil itu telah dapat mendirikan kembali Kerajaannya di tengah-tengah Tanah Arab, di Palestina yang telah dipunyai oleh orang Arab Islam sejak 1.400 tahun, dan beratus­ ratus tahun sebelum itu telah dikuasai negeri itu oleh orang Romawi dan Yunani.

Sudah lebih dari 2.000 tahun tidak lagi orang Yahudi mempunyai negeri itu.Tetapi dengan uang dan pengaruh, mereka menguasai pendapat dunia untuk tidak mengakui negeri Islam itu. Tujuh Negara Arab, hanya satu yang tidak resmi negara Islam, yaitu Negara Libanon. Ketujuh Negara Islam itu kalah berperang dengan mereka (1948), dan langsung juga negeri Israel berdiri.

Maka setelah ditanyai orang kepada Presiden negeri Mesir, (ketika itu Republik Arab Persatuan) Jamal Abdel Nasser, apa sebab tujuh Negara Arab dapat kalah oleh satu negara Israel, Nasser menjawab : "kami kalah ialah karena kami pecah jadi tujuh, sedang mereka hanya satu."

Pada Tahun 1948, peperangan hebat di antara orang Islam Arab dengan Yahudi itu, yang menyebabkan kekalahan Arab, negara-negara Arab baru tujuh buah. Kemudian, tengah buku "Tafsir Al-Azhar"ini masih dalam cetakan yang pertama (Juni 1967), Negara Arab tidak lagi tujuh, melainkan telah menjadi tiga belas. Waktu itu sekali lagi Israel mengadakan serbuan besar-besaran. Sehingga dalam enam hari saja lumpuhlah kekuatan Arab Islam, hancur segenap kekuatannya. Beratus buah pesawat terbang kepunyaan Republik Arab Mesir dihancurkan sebelum sempat naik ke udara. Belum pernah negeri­negeri Arab khususnya dan umat Islam umumnya menderita kekalahan sebesar ini, walaupun dibandingkan dengan masuknya tentara kaum Salib dari Eropa, sampai dapat mendirikan Kerajaan Palestina Kristen selama 92 tahun, sepuluh abad yang lalu.

Maka dikaji oranglah apa sebab sampai demikian ?

Setengah orang mengatakan karena persenjataan Israel lebih lengkap, dan lebih modern. Setengah orang mengatakan bahwa bantuan dari negara-negara Barat terlalu besar kepada Israel, sedang Republik Arab Mesir sangat mengharap bantuan Rusia. Tetapi di saat datangnya penyerangan besar Israel itu, tidak datang bantuan Rusia itu.

Setengahnya mengatakan bahwa Amerika dan Rusia menasihati RepublikArab Mesir agar jangan menyerang lebih dahulu; kalau sudah diserang baru membalas. Tetapi Israellah yang memang menyerang lebih dahulu, sedang pihak Arab telah taat kepada anjuran Rusia dan Amerika itu.

Tetapi segala analisa itu tidaklah kena mengena akan jadi sebab ­musabab kekalahan. Kalau dikatakan persenjataan Israel lebih lengkap, senjata Republik Arab Mesir tidak kurang lengkapnya. Kalau bukan lengkap persenjataan Mesir, tentu Presiden Jamal Abdel Nasser dan terompet-terompetnya di radio tidak akan berani mengatakan bahwa kalau mereka telah menyerang Israel pagi-pagi, sore harinya mereka sudah bisa menduduki Tel Aviv.

Kalau dikatakan bahwa orang Yahudi Israel itu lebih cerdas dan pintar, maka sejarah dunia sejak jaman Romawi sampai jaman Arab menunjukkan bahwa bangsa yang lebih cerdas kerapkali dapat dikalahkan oleh yang masih belum cerdas. Bangsa Jerman yang waktu itu masih biadab, telah dapat mengalahkan Romawi. Bangsa Arab yang dikatakan belum cerdas waktu itu, telah dapat menaklukkan Kerajaan Romawi dan Persia.

Sebab yang utama bukan itu. Yang terang ialah karena orang Arab khususnya dan orang Islam umumnya telah lama meninggalkan senjata batin yang jadi sumber dari kekuatannya. Orang-orang Arab yang berperang menangkis serangan Israel atau ingin merebut Palestina sebelum tahun 1967 itu, tidak lagi menyebut-nyebut Islam. Islam telah mereka tukar dengan Nasionalisme.Jahiliyah, atau Sosialisme ilmiah ala Marx.

Bagaimana akan menang orang Arab yang sumber kekuatannya ialah imannya, lalu meninggalkan iman itu, malahan barangsiapa yang masih mempertahankan ideologi Islam, dituduh Reaksioner. Nama Nabi Muhammmad sebagai pemimpin dan pembangun dari bangsa Arab telah lama ditinggalkan, lalu ditonjolkan nama Karl Marx, seorang Yahudi.

Jadi untuk melawan Yahudi mereka buangkan pemimpin mereka sendiri, dan mereka kemukakan pemimpin Yahudi. Dalam pada itu kesatuan akidah kaum Muslimin telah dikucar­ kacirkan oleh ideologi-ideologi lain, terutama mementingkan bangsa sendiri. Sehingga dengan tidak bertimbang-rasa, di Indonesia sendiri, di saat orang Arab bersedih karena kekalahan, Negara Republik Indonesia yang penduduknya 90% pemeluk Islam, tidaklah mengirimkan utusan pemerintah buat mengobat hati negara-negara itu, melainkan mengundang Kaisar Haile Selassie, seorang Kaisar Kristen yang berjuang dengan gigihnya menghapuskan Islam dari Negaranya.

Ahli-ahli Pikir Islam modern telah sampai kepada kesimpulan bahwasanya Palestina dan Tanah Suci Baitul-Maqdis , tidaklah akan dapat diambil kembali dari rampasan Yahudi (Zionis) itu, sebelum orang Arab khususnya clan orang-orang Islam seluruh dunia umumnya, mengembalikan pangkalan pikirannya kepada Islam. Sebab, baik Yahudi dengan Zionisnya, atau negara-negara Kapitalis dengan Christianismenya, yang membantu dengan moril dan materil berdirinya Negara Islam itu, keduanya bergabung jadi satu melanjutkan Perang Salib secara modern, bukan untuk menantang Arab karena dia Arab, melainkan menantang Arab karena dia Islam.

وَ لَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ
"Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar perintah pada hari Sabtu. " (pangkal ayat 65).

Diperingatkan lagi bagaimana sekumpulan Bani Israil melanggar perintah memuliakan hari Sabtu. Memuliakan hari Sabtu, istirahat bekerja pada hari itu dan sediakan diri buat beribadat. Memuliakan hari Sabtu adalah salah satu janji mereka dengan Tuhan. Tetapi mereka mencari helah, memutar hukum dengan cerdik sekali. Kata setengah ahli tafsir, kejadian ini ialah di danau Thabriah, kata setengah di Ailah dan kata setengah di Madiyan.

Di manapun tempat kejadian tidaklah penting, sebab perangai begini bisa saja terjadi di mana-mana karena hendak menghelah-helah (memutar-mutar) hukum.Menurut ahli tafsir mereka tinggal di tepi pantai. Mereka dilarang mengail atau memukat di hari Sabtu. Segala pekerjaan mesti dihentikan di hari itu. Mereka dapat akal buruk; mereka pasang lukah hari Jum'at petang hari, lalu mereka bangkitkan pada hari Ahad pagi. Sabtu itu sangat banyak ikan keluar. Rupanya ikan sudah mempunyai naluri bahwa mereka tidak akan dipancing dan dipukat pada hari Sabtu.



Mereka merasa bangga sebab telah dapat mempermainkan Allah. Tetapi mereka tidak tahu bahwa mereka telah celaka besar lantaran itu.

فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَاسِئِيْنَ
"Maka Kami firmankan : ,jadilah kamu kera-kera yang dibenci " (ujung ayat 65).

Berkata pula ahli tafsir, mereka dikutuk Tuhan sehingga menjadi kera atau jadi beruk semua. Kata setengah penafsir pula, ada yang jadi babi. Kata setengah penafsir pula, ada yang jadi keledai. Tetapi kalau kita lanjutkan merenungkan ayat itu, jika mereka dikutuk Tuhan menjadi kera, monyet, beruk atau babi dan keledai, bukan berarti bahwa mesti mereka bertukar bulu, berubah rupa. Tetapi perangai merekalah yang telah berubah menjadi perangai binatang. Rupa, masih rupa manusia, tetapi perangai, perangai beruk, adalah lebih hina daripada disumpah menjadi beruk Iangsung. Sebab kalau beruk berperangai beruk, tidaklah heran dan bukanlah azab. Yang azab ialah jika manusia berperangai beruk. Orang tidak benci kepada beruk berperangai beruk, yang orang benci ialah manusia beruk.

Adakah anda pernah melihat "orang jadi beruk". Seorang Mubaligh Islam di Minangkabau, saudara Duski Samad pernah membuat misal : "Beruk tua terpaut". Kebiasaan di Minangkabau orang menurunkan buah kelapa dengan mempergunakan beruk. Setelah beruk itu tua, dipautkan dia oleh empunya di sudut rumah. Apa kerjanya ? Akan disuruh memanjat kembali, dia tidak kuat lagi. Dan dia belum juga mati. Maka kerjanya setiap hari hanya mencabuti bulunya sendiri, sehingga tinggal kulit licin seperti baju kaos. Tiap orang yang lalu-lintas, walau orang itu Engku Imam atau Engku Lebai sekalipun, selalu dicibirkannya. Kalau diberi makanan, cepat sekali disambutnya. Kalau tidak diberi dia menjijir. Berapapun diberikan, disambutnya, meskipun perutnya telah kenyang. Namun makanan itu disimpannya terus dalam lehernya sampai gembung, dan dia masih saja meminta.

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَ مَا خَلْفَهَا
"Maka Kami jadikanlah dianya sebagai suatu teladan bagi mereka yang semasa dengannya dan bagi yang di belakangnya. " (pangkal ayat 66).

Itulah orang-orang yang merasa bangga karena telah banyak mendapat keuntungan, tetapi tidak insaf bahwa mereka telah tersisih dari masyarakat manusia yang berbudi. Yang mereka ingat hanya keunturgan sebentar itu saja. Budi mereka menjadi kasar. Semua orang yang berakal budi dan memegang agama dengan baik, tidak mau lagi mendekati mereka. Sebab perangai orang yang demikian tidak ubahnya dengan kera dan beruk. Kawan sendiripun kalau dapat dimakannya akan dimakannya juga. Diisinya lehernya banyak-banyak dan penuh­penuh dengan persediaan makanan walaupun bentuk hidupnya sudah menjemukan dan mernbencikan orang. Ini menjadi pengajaran bagi umat yang hidup di jaman mereka, dan menjadi pengajaran juga bagi umat yang datang di belakang, sebab dimana-mana jika ada orang yang demikian, tidak ubahnya mereka dengan beruk dan kera, menjemukan dan menimbulkan muak.

وَ مَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْن
"Dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa. "(ujung ayat 66).

Karena bagi orang yang bertakwa biarlah sedikit mendapat, asal halal. Asal jangan menghelah-helah agama dengan cerdik beruk.



Sebab itu maka penafsir ini tidaklah berpegang pada setengah ahli tafsir yang menafsirkan bahwa mereka disumpah Tuhan, sehingga langsung bertukar jadi beruk, jalan dengan kaki empat, gigi berganti dengan saing. Tetapi lebih hebatlah azab itu; tubuh tetap tubuh manusia tetapi perangai sudah menjadi perangai beruk dan kera. Dia datang berkelompok-kelompok ke ladang orang. Bukan saja hasil ladang itu dimakannya sekenyang perut sampai berlebih dalam lehernya, tetapi batang-batang pisang, ketela, jagung yang bertemu mereka rusakkan dan patahkan. Sesudah hasil mereka ambil, dasar yang tinggal mereka rusakkan pula, sehingga tidak bisa tumbuh lagi. Kalau dikejar merekapun lari, dan dari tempat jauh mereka menjijir dan mencibir kepada orang-orang yang mengejarnya.

Mereka lari dan hilang bersembunyi ke hutan dengan perut kenyang dengan harta dicuri, lehernya gembung menyimpan makanan yang dirampok, dan orang yang empunya kebun tinggallah mengutuk dan menyumpah, karena mereka ditinggalkan dengan dua kerugian; kerugian hasil ladangnya yang dirampas dan kerugian bekas yang telah hancur rusak, padahal sudah berbulan-bulan dipelihara karena mengharapkan hasilnya. Bukankah perangai beruk itu menimbulkan benci ?

Ada beberapa riwayat penafsiran tentang Bani Israil yang dikutuk Tuhan menjadi kera atau monyat itu. Menurut riwayat dari Ibnu Ishak, Ibnu Jarir dan Ibnu Abbas, semua mereka itu dikutuk sehingga berubah rupa menjadi monyet. Tetapi setelah mereka menjadi monyet itu, mereka tidak bisa makan dan tidak bisa minum, sehingga tidak sampai tiga hari sesudah perubahan rupa itu, merekapun mati semua. Satu riwayat pula dari Ibnul Mundzir, katanya dari Ibnu Abbas juga, bahwa segala monyet dan segala babi yang ada sekarang ini adalah keturunan mereka. Tetapi pada riwayat Ibnu Mundzir yang diterimanya dari al-Hasan ini, keturunan mereka terputus. Sebab itu menurut pendapat al-Hasan ini, kera dan babi yang ada sekarang tidaklah dari keturunan mereka.

Di dalam riwayat yang lain dari Ibnu Mundzir juga disertai riwayat dari Ibnul Abi Hatim, yang mereka terima dari Mujahid : "Yang disumpah Tuhan sehingga menjadi kera dan monyet itu ialah hati mereka, bukan badan mereka."Kejadian ini adalah sebagai suatu perumpamaan sebagaimana tersebut dalam ayat :

كَمَثَلِ الْحِمارِ يَحْمِلُ
"Laksana keledai memikul kitab-kitab." ( al-Jum'ah : 5)

Maka penafsiran mujahid yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir ini­lah yang lebih dekat kepada faham saya sebagai penafsiran sekarang ini.