Tampilkan postingan dengan label musyrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musyrik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Februari 2011

Mengelola Kebencian

Bagaimana kita mengelola rasa kebencian.

Sungguh sangat menyedihkan kalau kita melihat kejadian akhir-akhir ini seperti penyerangan (Ahmadiyah) di Cikeusik dan Temanggung ataupun tragedi demonstrasi di Mesir. Semua terjadi pada hakikatnya karena tidak dapat mengelola dengan baik rasa kebencian.

Namun untuk kasus Temanggung menurut laporan Forum Umat Islam ada pihak tertentu memprovokasi rasa kebencian
http://voa-islam.com/news/pembaca/2011/02/10/13265/mengoreksi-berita-media-soal-kerusuhan-temanggung-yang-sudutkan-islam/
.
Hal yang sebaiknya kita ingat selalu adalah apapun atau siapapun yang kita benci, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla

Mari kita perhatikan tanggapan mereka yang mengaku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh atas pendapat kami sbb:
"Seorang muslim sejati tidak akan pernah membenci orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani karena orang-orang Yahudi maupun orang-orang Nasrani keberadaan mereka pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla. Jika kita membenci mereka maka kita pada hakikatnya adalah membenci kehendak Allah Azza wa Jalla."

Tanggapan mereka,
"Antum harus belajar apa itu al-bara yaitu kita harus membenci orang yahudi dan nasrani karena perintah Allah. Allah tidak menyukai orang2 musyrik (yahudi & nasrani) dan mereka adalah penghuni neraka jahanam se-lama2nya ber-sama2 syetan/iblis. Syetan juga juga keberadannya atas kehendakNya tapi Allah menyebut syetan sebagai musuh2 Allah dan kita harus memusuhi syetan2 tsb. Yahudi dan Nasrani berkolaborasi dengan syetan2 untuk memusuhi umat Islam, jadi antum tidak mau memusuhi Yahudi dan Narsani berarti menentang perintah Allah dan antum termasuk teman2 syetan sekaligus musuh Allah dan umat Islam".

Dari tanggapan tersebut kita dapat memahami bahwa saudara muslim kita tersebut terprovokasi/terindoktrinisasi pemahaman para ulama/syaikh/ustadz mereka. Hal ini menurut analisa kami, serupa dengan kejadian-kejadian tragedi bom di negeri kita. Mereka salah memahami petunjuk dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Allah Azza wa Jalla mustahil memberikan perintah untuk membenci apa yang Dia telah ciptakan.

Keberadaan mereka (orag-orang Yahudi, Orang-orang musyrik atau non muslim lainnya) di dunia adalah kehendakNya yang merupakan cobaan bagi kita kaum muslim. Allah ta'ala pada hakikatnya ingin melihat bagaimana kita menghadapi kehendakNya. Kita menghadapi kehendakNya haruslah dengan sikap/perbuatan yang dicintai Allah ta’ala.

Firman Allah yang artinya,
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

Begitu juga keberadaan syaitan adalah kehendakNya, yang kita benci adalah perbuatan/sikap/upaya syetan menyesatkan manusia.

Uraian selengkapnya mengenai kebencian terhadap ciptaanNya atau terhadap sikap/perbuatan ciptaanNya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/

Sekarang mulai terbukti pada kejadian-kejadian itu bahwa rasa kebencian bukanlah diawali oleh kaum muslim namun diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang menurut analisa perkiraan kami bersumber dari orang-orang yang memang diciptakan oleh Allah ta’ala mempunyai rasa permusuhan dengan kaum muslim.
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Untuk itulah kita harus dapat mengelola rasa kebencian dengan selalu sadar bahwa apapun atau siapapun yang menimbulkan rasa kebencian pada diri kita, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla.

Baik kaum muslim maupun kaum non muslim salah paham dengan nash-nash Al Qur’an atau hadits seperti , ”Perangilah orang-orang kafir” atau ”halal darah orang-orang kafir”

Contoh firman Allah ta’ala yang artinya,
”Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At Taubah [9]:123 )

Kita sebaiknya tidak memahami Al-Qur’an dan Hadits dengan metode "terjemahkan saja". Sedikit penjelasan tentang metode ini dapat ditemukan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Namun kita harus memperhatikan riwayat turunnya ayat tersebut (asbabun nuzul) , juga memperhatikan hubungan kalimat dalam satu ayat, hubungan dengan ayat-ayat lain dan termasuk hubungan dengan hadits-hadits.

Ayat diatas yang memuat perintah “perangilah orang-orang kafir” turun ketika Rasulullah menghadapi sikap/perbuatan orang-orang kafir yang menentang penyiaran agama Islam.

Perintah “perangilah” bukanlah berarti “bunuhlah”. Perangilah bisa dilakukan dengan menyatakan pendapat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, klarifikasi kejadian, mendudukan masalah, koreksi berita, menyatakan ketidak-setujuan, tidak membenarkan, tidak sependapat dll. Perang seperti ini yang disebut perang pendapat/pemikiran (ghazwul fikri). Sedangkan pada waktu ayat itu turun, memang orang-orang kafir telah meperlihatkan sikap/perbuatan memerangi atau mengadakan peperangan terhadap Rasulullah beserta kaum muslim.

Kesalahpahaman yang fatal adalah memahami ”halal darah dan harta orang kafir” seolah-olah memerintahkan untuk membunuh orang kafir. ”Halal darah orang kafir” berlaku ketika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh mereka, seperti ketika keadaan dimana tinggal ada dua pilihan membunuh atau dibunuh. Karena pada hakikatnya Allah ta’ala melarang keras membunuh manusia (ciptaanNya) apalagi membunuh sesama saudara muslim.
Firman Allah: "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan (dilindungi) Allah, kecuali dengan benar." (al-An'am: 151)
Rasulullah bersabda "Tidak halal darah seseorang muslim kecuali sebab tiga hal: karena membunuh jiwa, seorang janda/duda berzina dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hukuman berlaku terhadap mereka yang melakukan pembunuhan dan janda/duda berzina setelah syarat-syarat terpenuhi. Sedangkan bagi orang yang meninggalkan agamanya, pada hakikatnya bukan berarti harus segera dibunuh namun berubah statusnya dari haram darahnya menjadi halal darahnya jika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh mereka. Prinsipnya Allah ta’ala dalam surah Al An’am diatas melarang membunuh manusia (ciptaanNya) , kecuali dengan benar atau dengan alasan yang dibenarkan.

Begitupula kepada kaum Ahmadiyah (selama mereka masih bersyahadat dan syahadatnya sama dengan kaum muslim) tetap statusnya haram untuk dibunuh. Ketika mereka telah nyata-nyata keluar dari agama Islam pun baru berubah statusnya dari haram darahnya menjadi halal darahnya dan bukan berarti segera/boleh dibunuh namun diperbolehkan membunuh jika keadaan tidak ada jalan lain selain membunuh.

Keberadaan kaum Ahmadiyah atau pemahaman kaum Ahmadiyah, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla dan merupakan cobaan bagi kaum muslim. Pada hakikatnya, Allah Azza wa Jalla ingin melihat bagi mana sikap/perbuatan kita, kaum muslim menghadapi cobaan dariNya.

Langkah-langkah yang diambil oleh para ulama sebaiknya tetap berupaya meluruskan pemahaman mereka, bukankah keadaan mereka belumlah ”final” atau sebelum kematian menjemput mereka keadaan masih bisa berubah.

Sedangkan umara/penguasa perlu menetapkan dan menyiarkan kabar bahwa pemahaman Ahmadiyah bukanlah termasuk agama Islam pada seluruh jalur komunikasi/informasi, jika sudah jelas pemahaman Ahmadiyah bukanlah termasuk agama Islam berdasarkan rekomendasi yang berkompeten seperti Majelis Ulama Indonesia. Sejak penetapan tersebut maka tidak boleh menyandingkan kata Islam dengan Ahmadiyah diseluruh dokumen, tulisan, cetakan, dll Begitu pula perlakuan terhadap kaum Ahamadiyah menjadi serupa dengan perlakuan kita terhadap non muslim.

Hal yang lain perlu diperhatikan dalam mengelola kebencian adalah dengan menjauhi sumber yang akan menimbulkan kebencian yakni upayakan untuk tidak menjadikan mereka teman kepercayaan. Maksud teman kepercayaan disini adalah hubungan dengan mereka yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk memasukkan apa yang mereka pahami (ghazwul fikri). Rasulullah pernah mencontohkan berhubungan dengan kaum non muslim dalam hal transaksi jual beli, menolong, memberikan perlindungan, membuat perjanjian, berlaku adil kepada orang kafir bukan bekerjasama ataupun berteman dengan mereka. Rasulullah pernah mencontohkan menjadikan mereka penunjuk jalan namun tentu tidak memberikan kesempatan mereka untuk memasukkan pemahaman (ghazwul fikri).

Kita sebaiknya tidak menentang peringatan Allah Azza wa Jalla karena Dia Maha Mengetahui segalanya.

Allah Azza wa Jalla telah memberikan peringatan kepada kita bahwa kalau kita menjadikan mereka teman kepercayaan maka kemudharatan pasti akan menimpa kita karena mereka memang diciptakan dengan rasa permusuhan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

Oleh karenanya pada zaman kini, dapat kita lihat kemudharatan telah menimpa kaum muslim di berbagai belahan dunia hanya dikarenakan para pemimpin negeri/penguasa/umara menjadikan orang-orang Yahudi atau orang-orang Musyrik sebagai teman kepercayaan. Mereka menjadikan penasehat segala bidang. Bahkan di wilayah kerajaan dinasti Saudi menjadikan mereka penasehat kurikulum pendidikan/pengajaran. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ Begitu pula di negeri kita, penguasa menjadikan mereka penasehat ekonomi seperti kasus kejatuhan p’ Suharto oleh IMF. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/17/siapakah-teroris-sesungguhnya/
dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/13/dibalik-krisis/

Pada saat kini yang menurut pendapat pakar ekonomoi, presiden SBY tetap menjalankan sistem ekonomi neoliberal berdasarkan nasehat orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik walaupun Presiden berulang-ulang mengatakan bahwa pemerintahannya menjalankan ekonomi ”jalan tengah”. Apakah ini termasuk pula kebohongan sebagaimana yang telah diperingatkan oleh para ulama kepada pemerintah. Sedangkan analisa kami, orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik diduga telah berupaya ”menyingkirkan” pa JK ketika, ketika kebijakan beliau dalam bidang ekonomi, terlihat ingin memajukan perekonomian bangsa berdasarkan kemandirian ekonomi. Salah satu buktinya adalah negosiasi ulang kontrak-kontrak pertambangan dengan mereka yang pada hakikatnya adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Jadi pada zaman ini memerangi mereka bukanlah membunuh mereka karena mereka adalah ciptaan Allah atau kehendak Allah Azza wa Jalla, namun sebagai contoh adalah mengakhiri perjanjian kerjasama pengelolaan karunia Allah ta’ala berupa sumber daya alam dengan meningkatkan kemandirian.

Cara lain adalah agar dikeluarkan fatwa ulama untuk umara/penguasa sebagaimana yang kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/09/butuh-fatwa-ulama/

Insyalllah, apa yang kami lakukan dengan membuat tulisan ini dan menyampaikannya termasuk upaya memerangi mereka di jalan Allah. Semoga perbuatan kami termasuk yang dicintai oleh Allah ta’ala dan juga dicintai sesama manusia.

Amin ya Robbal Alamin.

Inti tulisan kami di atas adalah:

Provokasi tidak akan mendapat hasil atau kerusuhan tidak akan terjadi jika kita dapat mengelola rasa kebencian

Resume tulisan kami atau cara mengelola rasa kebencian adalah pada kalimat berikut,


"Untuk itulah kita harus dapat mengelola rasa kebencian dengan selalu sadar bahwa apapun atau siapapun yang menimbulkan rasa kebencian pada diri kita, pada hakikatnya adalah kehendak Allah Azza wa Jalla."



dan


"Hal yang lain perlu diperhatikan dalam mengelola kebencian adalah dengan menjauhi sumber yang akan menimbulkan kebencian yakni upayakan untuk tidak menjadikan mereka teman kepercayaan"




 

Wassalamu'alaikum

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Senin, 02 Agustus 2010

Mereka bukan Musyrik

Jika mereka tidak sepemahaman, mereka bukanlah orang musyrik.


Sebagian mereka yang berpemahaman bahwa Nabi Muhammad SAW seorang manusia biasa, juga kemungkinan berpemahaman bahwa tongkat itu lebih berguna daripada Muhammad SAW, karena tongkat bermanfaat, bisa dipakai untuk memukul ular, sedang Muhammad SAW telah wafat dan tidak ada sedikitpun kemanfaatan yang tersisa darinya.

Oleh karenanya jika seorang muslim ketika berziarah ke makam Nabi SAW, dan sedikit berlama disitu untuk bersholawat dan berdoa, membelakangi Ka'bah maka segeralah laskar-laskar wahabi melarangnya dengan asumsi mencegah perbuatan syirik (berdasarkan pemahaman mereka) dan pemahaman mereka bahwa Nabi Muhammad SAW seorang manusia biasa dan telah wafat.

Benar-benar sebuah kesalahpahaman yang luar biasa.

Cobalah lihat situs-situs sejenis  ini http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2010/07/26/nabi-maupun-wali-adalah-manusia-biasa-tidak-berhak-disembah/

Perhatikan kesimpulan mereka bahwa, "setiap orang akan bertanggung jawab masing-masing di hadapan Allah Ta’ala, maka janganlah seseorang bergantung kepada manusia yang lain. Karena sesungguhnya seluruh manusia itu tidak akan dapat memberikan manfaat dan madhorot, kecuali sekadar apa yang telah Allah tetapkan. Begitu pula dengan para rasul, manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah Yang Maha Kuasa, mereka tidak dapat berbuat apapun terhadap kekuasaan Allah Ta’ala".

Mereka seolah tidak mempercayai bahwa seorang muslim dapat memberikan manfaat (menolong) muslim lainnya dengan cara memohonkan ampunan untuk muslim lainnya.

Firman Allah, yang artinya, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)“. (QS al Maaidah  [5] : 55 )

‘…. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya diri, mereka datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun kepada Allah SWT untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.’ – ( QS An-Nisa [4]: 64 )

Selengkapnya, bacalah tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/02/mohonkan-ampunan/

Yang dilarang oleh Allah adalah memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik, sebagaimana firmanNya yang artinya

"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam" (QS at Taubah [9]: 113).

Bagi saya, seorang yang telah mengucapkan syahadat adalah seorang muslim dan bukan orang musyrik walaupun muslim itu telah berdosa.

Jadi jika ada seorang muslim yang berdosa (menganiya diri), meminta pertolongan kepada seorang ulama, syaikh, wali Allah, untuk memohonkan  ampunan kepada Allah, tentu tidak menyalahi firman Allah yang artinya,

"Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" (QS al fatihah: 5)

Tentu ketika ulama, syaikh, wali Allah yang  memohonkan ampunan bagi muslim yang berdosa itu, terlebih dahulu memberikan nasehat dan petunjuk kepada yang meminta seperti petunjuk untuk bertobat.

Suatu kesalahpahaman mereka yang besar lainnya adalah menganggap / menilai bahwa muslim yang mendalami tasawuf, asya'riah dan muslim lainnya yang tidak sepamahaman dengan mereka adalah termasuk orang musyrik

Lihatlah
http://allangkati.blogspot.com/2010/07/keganasan-wahabi-di-pakistan.html

Ini cuplikannya,

Para pengikut ajaran wahabi adalah kelompok yang sangat membencikan orang-orang sufi dan mengkafirkan mereka, mereka menganggap bahwa orang -orang sufi menyembah kuburan-kubura wali sehingga halal darahnya di bunuh, pemahaman ini bersumber dari aqidah merea yang menyatakan bahwa tauhd itu terbagi kepada tiga bahagian, tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, tauhid asma` dan sifat, orang-orang sufi hanya percaya dengan tauhid rububiyyah dan tidak menyakini tauhid uluhiyyah, sebab itulah mereka kafir dan boleh di bunuh, bahkan mereka mengatakan bahwa orang-orang kafir qurasy lebih bagus tauhidnya daripada orang-orang sufi.


Juga ada wahabi yang beranggapan orang-orang tua muslim terdahulu (mungkin termasuk orang tua mereka sendiri), ulama-ulama terdahulu baik yang sudah meninggal atau masih ada,  yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka adalah orang-orang musyrik.

Umumnya mereka menganggap sebagai orang musyrik karena (berdasarkan pemahaman mereka) muslim-muslim yang lain,  diliputi perbuatan bid'ah, tahayul dan kurafat.  Muslim-muslim yang hanya bertauhid Rububiyah. Inilah kemungkinan maksud mereka membagi tauhid menjadi tiga, agar muslim lainnya yang tidak sepemahaman dengan mereka, dapat dimasukkan kedalam kelompok yang bertauhid Rububiyah saja.

Mereka meyakini bahwa pemahaman mereka diatas hadits-hadits yang shahih dan pemahaman yang mereka dapati dengan ilmu yang otentik walaupun mereka hanya mempelajari atau memahamai dari tulisan atau literatur semata. Ulama-ulama merekapun dapat menshahih sebuah hadits walaupun hidup mereka lebih kemudian.

Mereka dikenal sebagai kaum yang tidak mau memahami lebih dalam tentang Ihsan (akhlak/tasawuf) atau ulama-ulama mereka secara tidak sadar mendangkalkan ajaran agama Islam dengan mengingkari salah satu pokok ajaran agama Islam yakni tentang Ihsan (akhlak/tasawuf) sebagaimana yang disampaikan perantara malaikat Jibril.

Dengan adanya pendangkalan ajaran agama Islam tersebut, kita menjadi paham kaum mereka "membatasi" ajaran Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, sebatas apa yang bisa mereka pahami.

Sehingga umat muslim lainnya yang berbeda pemahaman dengan pemahaman kaum mereka dianggap "diluar" ajaran Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam atau seolah-olah "penambahan" ajaran Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam atau dengan kata lain apa yang mereka sangka sebagai bid'ah.

Mereka yakin apa yang mereka pahami atau pemahaman mereka adalah sebagaimana pemahaman Salafush Sholeh sehingga mereka memberi nama atau mengatasnamakan  manhaj mereka adalah manhaj salaf atau kita kenal dengan salaf(i) atau wahabi

Itulah yang saya telah uraikan dalam tulisan kesalahpahaman tentang pemahaman
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/26/salahpaham-pemahaman/

Wassalam

Zon di Jonggol

Selasa, 01 Juni 2010

Kita diadu domba

Sadarlah saudara-saudara muslimku. Tampak jelas bahwa kita secara tidak disadari, telah di adu domba oleh orang-orang yang memusuhi Islam yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.
Sebagaimana firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam (khalfiah Turki Ustmani), maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat. Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa).

Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.

Inilah titik awal suksesnya propaganda orang-orang yang memusuhi Islam, karena kita mau menerima nation-state (kesatuan berdasarkan negara) atau yang dikenal dengan nasionalisme menggantikan aqidah-state (Wilayah kesatuan berdasarkan akidah/agama)

Sebagai contoh, Kerajaan Saudi, sejauh ini, sejauh yang kita tahu, mereka “melindungi” orang-orang Yahudi maupun orang-orang musyrik yang “masuk” ke negara mereka dengan alasan “terikat” perjanjian. Namun kita tak pernah tahu sampai kapan pernjanjian itu diakhiri. Begitu pula dengan pemerintahan/penguasa negeri kita.

Dengan ‘perjanjian” itu, mereka (orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik) mendapatkan kekayaan dari sumber daya alam yang dianugerahkan Allah kepada negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim.

Dengan kekayaan yang mereka peroleh, mereka gunakan memerangi saudara-saudara muslim kita di belahan dunia yang lain. Secara tidak lansung penguasa Saudi maupun penguasa negeri kita, ikut andil untuk membunuh saudara-saudara muslim tsb dengan adanya “ikatan perjanjian”. Wallahu a’lam

Silahkan baca lebih dalam pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/

Sedangkan bahaya laten "adu domba", silahkan baca pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/bahaya-laten/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/01/26/kekeliruan-pluralisme/

atau tulisan-tulisan atau kajian-kajian kami lainnya yang sejnis di atas, lihat blog ini, pada kotak indeks (sisi kanan) "Kategori Islam"

Sedangkan "adu domba" dengan propaganda modernisasi agama silahkan baca pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/10/modernisasi-agama/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/12/tanggapan-modernisasi-agama/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/04/14/divide-et-impera/
atau
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/04/29/keterhubungan-salafy/

atau tulisan-tulisan atau kajian-kajian kami lainnya yang sejenis, lihat blog ini, pada kotak indeks (sisi kanan) "Tentang Salafi Wahabi".

Salaf(i) atau Wahabi adalah kaum yang secara tidak langsung  / tidak disadari terkena adu-domba ataupun perang pemikiran (ghazwul fikri) dari  oleh orang-orang yang memusuhi Islam yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Wassalam

Selasa, 23 Februari 2010

Bahaya Laten

Bahaya Laten Orang-Orang Yahudi. Dan Orang-Orang Musyrik

Secara umum bahaya laten adalah bahaya atau ancaman secara sistemik, terorganisir yang ada, namun kehadirannya tidak disadari dan mengganggu sendi-sendi kehidupan manusia baik dalam hal beragama, berpolitik, berideologi, bernegara dll.

Lalu mengapa kita harus menyoroti orang-orang Yahudi  dan orang-orang Musyrik?

Sesuai dengan firman Allah,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Selanjutnya kami menulis  mereka (dalam huruf miring/italic) adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Kecuali dalam firman Allah atau Hadits yang memang biasa tertulis dalam huruf miring/italic



Bahaya Laten pada  zaman Rasulullah.

Abu Al-Yaman telah menceritakan pada kami, Syuaib telah mengabarkan pada kami dari Al-Zuhri, ia berkata: Abu Salamah ibn Abdurrahman telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Said Al-Khudri r.a. berkata, “Ketika kami berada di samping Rasulullah, sementara Beliau sedang membagikan bagian harta (rampasan perang), dating kepadanya Dzul Huwaishirah. Ia adalah seorang laki-laki dari Bani Tamim. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah Engkau!” Rasul pun menjawab, “Celakalah engkau! Siapa lagi yang akan berbuat adil kalau aku tidak berlaku adil? Kau pasti akan kecewa dan merugi kalau aku tidak berbuat adil.” Umar kemudian berkata, “Izinkan aku, wahai Rasulullah, untuk memukul tengkuknya.” Beliau menjawab, “Biarkan saja dia. Sebab, dia memiliki teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka......

Dalam kasus Rasulullah Saw. mereka yang kurang ilmu ini memprotes Rasulullah saat membagikan ghanimah. Mereka menuduh Rasulullah Saw. tidak adil karena tidak membagi rata harta itu. Jelas ini kebodohan. Rasulullah tentu lebih tahu daripada orang ini. Tapi, dia merasa bahwa dialah yang benar. Inilah sifat dasar orang-orang Khawarij.

Semasa Rasulullah Saw. memang belum terjadi fitnah karena mereka. Sebab, saat para sahabat ingin memerangi mereka, oleh Rasulullah Saw. dicegah. Rasulullah Saw. tahu di belakangnya ada teman-teman mereka yang sifatnya sama. Sangat mungkin saat temannya dianiaya, mereka akan mengobarkan perang melawan Rasulullah Saw. dan sahabatnya. Padahal, mereka bukan orang “kafir.” Shalat, shaum, dan ritual mereka boleh dikatakan di atas rata-rata orang kebanyakan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang akan merusak Islam. Rasulullah Saw. memilih menjauhkan mereka dari Madinah. Dan mereka memilih tinggal di suatu kampung bernama Haruri. Oleh sebab itu pula, mereka sering disebut kaum Haruriyyah.

Sedangkan kisah suku Aus dan Khajraj. Pada masa Jahiliyah kedua suku tersebut saling bermusuhan dan berperang selama 120 tahun. Setelah mereka memeluk Islam Allah menyatukan hati mereka sehingga mereka menjadi bersaudara dan saling menyayangi.

Ketika orang-orang Aus dan Khajraj sedang berkumpul dalam satu majlis, kemudian ada seorang Yahudi yang melalui mereka, lalu ia mengungkit-ungkit permusuhan dan peperangan mereka pada bani Bu’ats.  Maka permusuhan diantara kedua suku tersebut mulai memanas kembali, kemarahan mulai timbul, sebagian mencerca sebagian lain dan keduanya saling mengangkat senjata, lalu ketegangan tersebut disampaikan kepada nabi shallallahu alaihi wa salam. Kemudian beliau mendatangi mereka untuk menenangkan dan melunakkan hati mereka, seraya bersabda:

“Apakah dengan panggilan-panggilan jahiliyah, sedang aku masih berada di tengah-tengah kalian?.” Lalu beliau membacakan Ali Imron ayat 103 yang artinya,

'Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu  maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya  agar kamu mendapat petunjuk”

Setelah itu mereka menyesal atas apa yang telah terjadi dan berdamai kembali seraya berpeluk-pelukan dan meletakan senjata masing-masing.



Bahaya laten pada zaman sahabat nabi.

Fitnah paling besar yang ditimbulkan oleh orang-orang Khawarij terjadi pada masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib yang dimulai saat terbunuhnya Utsman ibn ‘Affan. Kekerasan yang mereka lakukan dipicu oleh kekecewaan mereka terhadap keputusan Ali ibn Abi Thalib untuk berdamai dengan Mu’awiyah setelah Perang Shiffin melalui perundingan Tahkim.



Mereka semula mendukung Ali ra. dan berlindung di bawah kekuasannya setelah sebelumnya terlibat dalam pembunuhan Utsman ibn ‘Affan. Agar kejahatan mereka tidak terbongkar, mereka ingin memanfaatkan Ali ra. dengan bersegera membai’atnya sebagai Khalifah dan masuk menjadi barisan pendukung Ali.

Mereka tahu bahwa Aisyah, Thalhah, Zubair, dan Mu’awiyah sangat vokal meuntut alas atas kematian Utsman. Namun, mereka pula yang memprovokasi Ali dan pasukannya untuk memerangi mereka atas nama tindakan bughât.

Perang Jamal dan Shiffin yang sama-sama tidak diinginkan oleh para sahabat yang mulia itu akhirnya terjadi. Pemicu meletusnya kedua perang itu adalah orang-orang Khawarij yang posisinya juga dimanfaatkan oleh Abdullah ibn Saba, pentolan Yahudi-Munafik yang menjadi dalang dari semua fitnah pada masa Khulafaur-Rasyidin.

Saat Ali memutuskan untuk berdamai dengan Mu’awiyah dan melakukan perundingan (Tahkîm), serta masng-masing pihak menyadari kekeliruannya, terlihatlah watak asli kelompok ini Mereka terlihat sangat kecewa; dan akhirnya membuat makar terhadap otoritas kekuasaan Ali ra. Makar yang berakhir dengan pembunuhan keji yang mereka lakukan terhadap Khalifah kekasih Rasulullah Saw. ini.

Orang yang membunuh Ali bernama Abdurrahman ibn Muljam. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa pembunuh ini sebenarnya sangat tidak pantas menjadi seorang pembunuh, apalagi membunuh Ali bin Abi Thalib yang sudah dijanjikan Allah Swt. akan masuk surga.

Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan Al-Qurannya sangat baik. Karena bacaannya yang baik itu, pada masa Umar ibn Khattab, ia diutus untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-’Ash.

Namun, karena ilmunya yang dangkal, sesampai di Mesir ia malah terpangaruh oleh hasutan orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun terpengaruh. Ia tinggalkan tugasnya mengajar dan memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Ali ibn Abi Thalib.

Pada masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia diadili. Hukuman Qishash pun dijatuhkan padanya. Saat hendak dipenggal kepalanya, ia berteriak,  “Jangan kau penggal kepalaku sekaligus! Potonglah bagian-bagian tubuhku sedikit demi sedikit supaya aku menyaksikan bagaimana tubuhku disiksa di jalan Allah!” Lihatlah betapa ia dengan sangat percaya diri meyakini bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ali ibn Abi Thalib kekasih Rasulullah Saw. adalah sebuah kebenaran. Ia tidak pernah merasa bahwa hal demikian melanggar aturan yang jelas dalam Islam.

Sedemikian hebat peran Khawarij dalam menghancurkan barisan umat Islam. Sampai-sampai Rasulullah Saw. mensinyalir bahwa sampai kiamat orang-orang yang berperilaku semacam ini akan ada sampai hari kiamat.

Mereka tetap akan mengibarkan panji-panji Islam. Perilaku keseharian mereka mencerminkan orang yang dekat dengan Allah Swt., namun kebodohan mereka telah menyeret mereka ke lembah kenistaan dan pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah Swt.

Pada umumnya mereka akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan kekuasaan atau ekonomi untuk melakukan tindakan-tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam, namun mereka melakukannya atas nama Islam.

Dalam kasus ini yang paling dirugikan adalah Islam. Rasulullah mengibaratkan apa yang mereka lakukan seperti anak panah yang mengoyak binatang buruan dengan sangat cepat, tapi tanpa bekas. Dari ujung sampai pangkal anak panah tidak terlihat bekas sama sekali saking cepatnya anak panah itu menyambar dan menembus tubuh binatang buruan itu. Binatang itu mati, tapi tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya. Jangankan pelakunya, jejak pada anak panah pun tidak ada.

Belajar dari peristiwa gencatan senjata dalam perang “Shiffin” antara tentara Saidina ‘Ali dan Saidina Mu’awiyah maka kedua belah pihak mengangkat suatu panitia yang terdiri dari dua golongan yang bermusuhan ini. Panitia ini tujuannya untuk menjadi hakim dalam perselisihan ini, yakni mencari jalan untuk terlaksananya perdamaian antara dua golongan ummat Islam yang melakukan perang saudara.

Sekumpulan orang “khawarij” tidak mau menerima terbentuknya panitia penyelesai itu, karena menurut pendapat mereka hukum tidak boleh diminta kepada manusia, tetapi harus diminta kepada Allah.  Mereka mengeluarkan semboyan: “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah.

Ketika disampaikan kepada Saidina ‘Ali semboyan orang khawarij ini,  beliau menjawab:  “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah)

Pesan Saidina ‘Ali ini sebaiknya untuk selalu diingat kaum muslim untuk menghadapi bahaya laten dari orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

Bahaya Laten pada masa akhir kekhalifahan Turki Ustmani

Sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal.

Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Jumlah orang-orang kafir pun meningkat. Lewat penguasaan jaringan media dunia, Yahudi Internasional menghembuskan stigma jahat kepada Turki Utsmani jika Turki merupakan “The Sickman From Asia”, Orang Sakit Dari Asia. Sejumlah kebijakan ekonomi Turki disabotase. Dan perekonomian Turki pun terpuruk.

Dari luar, strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari’at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.

Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.



Bahaya Laten dalam Pemikiran / Pemahaman / Akidah / I’tiqad.

Mereka adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus) yang mengubah esensi dasar agama Nasrani dari yang hanya sebagai agama kaum Nabi Isa menjadi agama misi ke seluruh dunia. Mereka adalah Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman) yang memecah umat Islam. Mereka adalah Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka adalah Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia. Mereka adalah Snouck Hurgronje (Yahudi Belanda) yang pura-pura masuk Islam dan menggunakan ‘keIslamannya’ sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam Indonesia.

Mereka juga membuat/mengarahkan agama baru seperti Bahaiyah  yang  didirikan  seseorang Freemason  Abdulbaha.

Ahmadiyah  didirikan  oleh  seorang Freemasonry  India  Mirza  Ghulam  Ahmad,  yang  radikal  disebut aliran  Qadyani,  dan  yang  halus  disebut  aliran  Lahore.  Biaya dakwah dan  tablighnya  itu dari Freemasonry  International melalui penguasa  Inggris.

Freemasonry  pun  mensponsori  terbentuknya tharekat-tharekat Islam yang berfatwa dan bergerak sejalan dengan ajaran  Freemasonry  itu,  di bentuknya  pada  tahun  1946  gerakan Quraniyah  dipimpin   oleh  Syekh  Yakub dari  Palestina,  segala sesuatu harus berdasar Qur’an  tanpa  tafsir dan semua hadits Nabi saw  ditolaknya,  sehingga  mereka  shalat  dan  saum  hanya berdasarkan  Qur’an,  tidak  ada  raka’at  dalam  shalat,  tidak  ada bacaan  tertentu  dalam  shalat,  tidak  ada  adzan,  qamat  dsb.



Mereka melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang  banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Biasa mereka lakukan pengrusakan disaat peperangan/penyerangan wilayah/negara Muslim.  Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Ingat pesan Saidina Ali Rda, “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan maksud/tujuan yang salah).

Setelah mereka pelajari dan sesuai dengan maksud/tujuan mereka maka mereka “menyebar luaskan” dan membantu/mendanai penerbitan buku-buku / tulisan tersebut. Setelah mereka berhasil “menyusupi” Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) ke Arab Saudi, diawali  dengan konsep keamanan dan bentuk negara kerajaan maka selanjutnya mereka “seolah-olah” mendukung kemajuan Islam dengan membantu menerbitkan buku-buku karya Imam Muslim yang sesuai dengan maksud/tujuan mereka minimal adalah upaya menimbulkan konflik dan pertentangan dikalangan muslim diseluruh dunia.

Pemikiran dan pemahaman yang cocok menurut mereka adalah pemikiran dan pemahaman seperti Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabiyyah) yang menginduk pada pemikiran salaf ala Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah melakukan penafsiran Al-Qur’an dan Hadits yang sebagian pihak memberikan istilah “Pemurnian Pemahaman” dalam arti bahwa penafsiran dilakukan secara harfiah, yakni menurut lahir lafazhnya saja. Banyak ulama-ulama yang sezaman dengan Ibnu Taimiyah, menentang pemikiran/pemahaman Ibnu Taimiyah bahkan mengakibatkan beliau dipenjara.

Metode pemikiran, pemahaman atau penafsiran Ibnu Taimiyah terhadap Al-Qur’an dan Hadits dan dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, mudah dipahami mereka dan sesuai dengan maksud/tujuan, salah satunya adalah timbul pertentangan dengan ulama/imam pada umumnya, anti mazhab, bahkan ada pemahaman saling “mengkafirkan” atau saling “mensesatkan” .

Sebagian kaum muslimin yang sepahaman dengan Ibnu Taimiyah dan/atau dengan Muhammad bin Abdul Wahab dapat berlaku keras/kasar kepada sesama muslim namun mereka bisa berlaku lembut/lunak kepada orang-orang Yahudi maupun orang-orang musyrik.  Perhatikan fatwa Ibnu Taimiyah yang dapat digunakan pihak lain untuk maksud/tujuan mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata , ”Seorang mu’min terhadap mu’min lainnya bagaikan kedua tangan, salah satu mencuci tangan yang lain, namun bisa saja kotoran ( yang melekat ditangan) tidak bisa hilang kecuali dengan bentuk cara (pembersihan) yang keras/kasar. Namun (cara keras/kasar seperti) itu benar-benar mendatangkan kebersihan dan kehalusan (pada tangan) yang membuat kita memuji cara yang kasar tersebut.” [ lihat : Majmu' Fatawa XXvIII/53-54]

Bagi Ibnu Taimiyah, hak pertama yang harus diperoleh oleh non muslim adalah perlindungan terhadap ancaman eksternal dan internal. Untuk perlindungan dari ancaman dari luar, umat Islam, termasuk pemerintahannya berkewajiban menggunakan segala potensinya, meski jumlah kelompok non muslim hanya hitungan jari.

Ibnu Hazm, Ahli Fiqh terkenal, berpendapat: “Bila ada tentara yang masuk ke negara kita untuk menyerang ahli zimmah (kelompok non muslim), kita harus membela mereka dengan senjata sampai nafas terakhir, demi membela orang dilindungi Allah dan RasulNya. Siapa yang tidak melakukannya, berarti telah melecehkan perjanjian perlindungan dengan Allah dan Rasul.

Al-Qurafi dari mazhab al-Maliki menambahkan bahwa ‘perjanjian’ yang membawa korban nyawa dan harta umat Islam untuk melindungi Ahli Kitab adalah perjanjian yang maha agung.

Sikap Ibnu Taimiyah terhadap kelompok non muslim, juga mencerminkan betapa konsistennya terhadap perjanjian perlindungan dalam Islam (zimmah). Ketika tentara Tartar hanya membebaskan tawaran orang Islam, Ibnu Taimiyah berkata kepada komandan Tartar waktu itu: “Kami tidak rela, kecuali kalau semua tawanan Yahudi dan Nashrani dibebaskan, karena mereka dalam perjanjian perlindungan dengan kami (zimmah). Kami tidak rela membiarkan orang Zimmah dan kelompok agama lain tetap menjadi tawanan .

Perlindungan jiwa dan kekayaaan kelompok non muslim, menurut Ma’badi, mencakup perlindungan kekayaan yang dilarang dalam Islam spt minuman keras dan babi dan melaksanakan ritual yang bertentangan dengan ajaran agama. Termasuk juga, kesaksian selama tidak terkait dengan masalah agama Islam spt perkawinan dan perceraian.

Hak non muslim lainnya adalah kehidupan yang layak di hari tua dan merupakan fardu kifayah bagi umat Islam; pembebasan bila ditawan musuh; dan menduduki jabatan publik selama tidak terkait langsung dengan ajaran Islam spt Imam, Jihad dan sebagainya .

Sebagian muslim yang sepahaman dengan Ibnu Taimiyah dan/atau sepahaman dengan Muhammad bin Abdul Wahab bahkan dapat menolak mengibaratkan orang-orang yahudi zionis bagaikan Ya’juj Ma’juj hanya dikarenakan kaum Zionis, walaupun kebanyakan mereka datang dari berbagai negara Eropa, akan tetapi mereka adalah kaum Yahudi keturunan Sam bin Nuh. Mereka hanya menyandarkan kepada keturunan saja tanpa melihat realita yang sesungguhnya.

Saat ini sebagian orang tua di negara kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia mulai ada ke khawatirkan jika anaknya melanjutkan pendidikan agama di Arab Saudi, sehingga mereka menyatakan pendapat bahwa, “berhati-hatilah karena jika anakmu kembali mereka memungkinkan untuk “mengkafirkan” orang tuanya.

Begitu juga sebagian orang tua di negara kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia mulai ada ke khawatiran jika anaknya melanjutkan pendidikan di Universitas Islam (IAIN dahulunya) di Indonesia karena mereka khawatir jika anaknya selesai pendidikan akan berpahaman liberal.

Paham liberal yang didapat oleh ulama/imam Indonesia yang didapat dari pendidikan di Barat seperti Amerika.  Pendidikan yang dibiayai oleh mereka yang sesungguhnya adalah orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman.



Bahaya laten dengan mecerai-beraikan umat muslim.

Sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M. Lalu “mereka” (orang-orang yang keras permusuhannya dengan orang beriman) merubahnya dan memecah ukhuwah Islamiyah kedalam nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme. Sehingga saat ini, kita dengan sesama negara tetangga  seperti Malaysia yang muslimpun dapat terjangkit permusuhan hanya berdasarkan nasionalisme.

Kemudian dalam bentuk nation-state atau negara  dalam kesatuan bangsa, “mereka” memecahkan kekuatan negara dengan konsep desentralisasi atau otonomi daerah.

Mereka juga mengupayakan memecah “kekuatan” negara kepada warganegara masing-masing dengan memasyarakatkan demokrasi secara langsung, yakni pemilihan kepala negara  / presiden dipilih langsung oleh rakyat. Padahal Negara kita bertahun-tahun telah menerapkan pemilihan kepala Negara / presiden dipilih dengan sistem perwakilan, oleh orang-orang berkompeten, berilmu dan utusan golongan.  Hal ini menyerupai dengan system syariah Islam yang salah satunya menggunakan prinsip perwakilan/legislatif atau dikenal dengan istilah ahlu halli wal aqdhi ., berisikan orang-orang yang berkompeten, berilmu dan utusan golongan yang diharapkan dalam memutuskan berpegang teguh pada Al Qur’an dan Hadist.

Saat ini, pemilihan presiden/kepala negara di negeri kita bagaikan acara pemilihan penyanyi secara idola atau besarnya tanggapan pemirsa/penonton (idol). Kita bisa bandingkan hasil pemilihan  yang dilakukan oleh pemirsa/penonton  dengan pemilihan yang dilakukan oleh orang-orang berkompeten seperti dewan juri.

Begitu juga dalam urusan akidah, mereka memecah kekuatan berjamaah, berkelompok, bermahzab menjadi kekuatan-kekuatan individu masing-masing dengan mensoalisasikan pemikiran anti mahzab, hizb, kelompok.

Mereka mencari pembenaran dari pemahaman Ibnu Taimiyah yang dilanjuti Muhammad bin Abdul Wahab. Tanpa kita sadari mereka membuat sebagian umat muslim tidak mempercayai ulama/imam, padahal Allah telah berfirman, ” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 ).  Sebagian dari mereka menyempitkan batasan ulil amri kepada imam/ahlu bait.

Sebenarnya mereka memang telah berniat untuk menghilangkan pengaruh ulama/imam/mujtahid (mereka menyebut rohaniawan non yahudi) dari kaum muslim perhatikan apa yang mereka sebut dengan protokol.

Protokol Zionis yang ketujuhbelas

…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para “rohaniawan non-Yahudi” dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..

Dengan memasyarkatkan “tidak mempercayai ulama/imam/mujtahid”,  mereka juga berupaya “memberatkan” kaum muslim untuk seluruhnya mempunyai kemampuan ijtihad (pemahaman/penafsiran) atau memecah kekuatan kaum muslim kepada kemapuan/kekuatan individu muslim masing-masing.

Arti Ijtihad menurut ilmu Usul-fiqih yang terpakai dalam syari’at Islam ialah “usaha seorang ahli fiqih menggali dan mengeluarkan hukum-hukum fiqih yang tersirat di dalam Qur’an dan Hadits”

Di dalam ta’rif ini ada beberapa unsur:

  1. Usaha seorang ahli fiqih.

  2. Ahli fiqih.

  3. Menggali dan mengeluarkan hukum fiqih.

  4. Hukum fiqih yang tersirat.

  5. Dari dalam Al Qur’an dan Hadits.


Usaha seorang yang bukan ahli fiqih tidaklah dinamakan ijtihad. Yang dinamakan ahli fiqih ialah seorang ulama atau katakanlah sarjana yang dalam ilmunya dalam bahasa Arab, dan dalam pula ilmunya dalam tafsir Al Qur’an dan Tafsir Hadits, yang dengan ilmunya itu mempunyai kesanggupan mengeluarkan hukum-hukum agama yang akan dipakai seluruh ummat Islam. Ahli fiqih yang seperti itu dinamai Imam Mujtahid.

Adapun orang awam atau rakyat banyak yang tidak sanggup berijtihad boleh mengikuti saja kepada Imam Mujtahid itu dan mereka dinamai “pengikut” atau “muqallid” atau orang yang taqlid. Jadi arti taqlid ialah mengikuti imam-imam Mujtahid; bukan mengikuti bapak-bapak, bukan mengikuti orang-orang dulu, bukan mengikuti nenek-moyang.

Mereka berupaya agar umat muslim terpecah kepada kekuatan individu dengan memperjuangkan hak-hak indinvidu. Sehingga memungkinkan terjadi kompetisi pada sesama individu dan individu yang kuat yang akan berkuasa dan memimpin. Sehingga pada akhirnya akan tercipta penghambaan kepada manusia sesuai dengan maksud/tujuan mereka menguasai dunia, satu pemimpin (the new world order). Bagi mereka, manusia dalam perwujudan tertinggi menyerupai Tuhan.

Lihat SABILI No. 16 Th XVII, 4 Maret 2010, 18 Rabiul Awal 1431, hal 30

Bagi mereka tidak ada Tuhan (Allah). Nabi Adam hanya mitos, karena manusia berasal dari proses evolusi (teori Darwin). Alam semesta berjalan sendiri tanpa campur tangan Tuhan, karena Tuhan juga dianggap mitos. Bahkan saking keblingernya mereka meyakini “manusialah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya.

****

Akhirnya, baiklah kita selalu mengingat bahwa sesama muslim adalah bersaudara meskipun di negara yang berbeda. Marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah, persatuan dalam aqidah Islam apapun cara,jalan,metode,manhaj,mazhab,aliran,kelompok .dalam hal mendalami agama Islam, asalkan selalu berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits.

Sebaiknya selalu diingat firman Allah bahwa,

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat, kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu.

Setinggi apapun pencapaian pemahaman agama Islam, sebaiknya tidak menganggap muslim lain lebih rendah dan berlaku sombong. Allah berfirman,

”Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS al-Qashash : 76).

Dalam berda’wah kepada non muslim apalagi mengingatkan kepada sesama muslim lakukanlah dengan sebaik-baiknya perlakuan dan bersabarlah. Sungguh umat muslim yang marah, emosi dalam berda’wah menunjukkan ketidak-dekatan dengan Allah dan bukanlah sebagai muslim yang terbaik (muslim yang pada tingkatan seolah-olah melihat Allah atau paling tidak muslim yang yakin bahwa segala perbuatannya selalui dilihat Allah).

Seberapapun  kita merasa tinggi dalam beribadah ingatlah selalu  hadits Rasulullah bahwa, …. yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka.

“Tidak sampai melewati tenggorokan mereka”, inilah yang terjadi, ada sebagian umat muslim, semakin hari semakin merasa ibadah mereka seperti rutinitas yang “kering”. Pengajian yang mereka ikuti, bagi mereka memang terasa lebih “ilmiah”dan “masuk-akal” namun kurang terasa “kedalamannya” pada lubuk hati mereka. Mereka mendalami Al-Qur’an dan Hadist sebagaimana ilmu pengetahuan semata

Wallahu a’lam

Pustaka buku:

  1. Zionisme – Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era Habibi)

  2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya

  3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara

  4. Freemansory di Asia Tenggara , Abdullah Pattani

  5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman

  6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas

  7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah

  8. I'tiqad Ahlussunah Wal Jama'ah, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru

  9. "40 Masalah Agama", Buku 1 s/d 4, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru

Rabu, 03 Februari 2010

Penghambaan sesama manusia

Tahukah anda apakah tujuan Imam Mahdi ditugaskan Allah pada akhir zaman ?

Secara umum Imam Mahdi ditugaskan kedunia untuk pembebasan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menjadi penghambaan manusia kepada Allah semata.

Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa pada akhir zaman nanti, suasananya adalah begitu luasnya penghambaan manusia kepada sesama manusia.

Periode kehidupan umat Islam di dunia telah digambarkan oleh Nabi Muhammad saw,

"Kalian akan mengalami babak Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak Raja-raja yang menggigit,selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak para penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian kalian akan mengalami babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian, kemudian Nabi diam." (HR Ahmad)



Sebagaimana kita ketahui Ummat Islam dewasa ini sedang menjalani babak keempat dari lima babak perjalanan sejarahnya di Akhir Zaman.

Tiga babak sebelumnya telah dilalui:

Babak pertama, babak An-Nubuwwah (Kenabian) yakni masa ketika manhaj kenabian berlangsung

Babak kedua,  babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Sistem / Metode Kenabian),

Babak ketiga, babak Mulkan ’Aadhdhon (Raja-raja yang menggigit)., masa ketika raja-raja masih “mengigit” / berpegangan pada Al-Qur’an dan Hadits.

Sesudah berlalunya babak ketiga yang ditandai dengan tigabelas abad masa kepemimpinan Kerajaan Daulat Bani Umayyah, kemudian Kerajaan Daulat Bani Abbasiyyah dan terakhir Kesultanan Utsmani Turki,  maka selanjutnya ummat Islam memasuki babak keempat, babak Mulkan Jabbriyyan (Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).

Babak keempat diawali semenjak runtuhnya Kesultanan Utsmani Turki yang sekaligus merupakan kekhalifahan Islam terakhir pada tahun 1924. Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam, maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat.

Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa). Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.

Sesungguhnya kehidupan babak keempat inilah mengarah dan mengawali kepada penghambaan manusia kepada sesama manusia.

Dimana "kekuasaan" menjadikan "raja" diantara manusia sehingga manusia lebih menyukai "dekat" dengan kekuasaan seperti Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, dan manusia berkuasa lainnya,  ketimbang manusia "dekat" dengan Allah yang menciptakan manusia,  Allah yang Maha Kuasa.

Bahkan beberapa menukarkan "idealisme", pegangan hidup atau menukar agama dengan kekuasaan.

Kesultanan Ustmani Turki

Kesultan Ustmani Turki diawali dengan jatuhnya konstantinopel, ibukota Bizantium, ke tangan pasukan Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Muhammad II pada tahun 1453. Konstantinopel yang selanjutnya diganti menjadi Istanbul, adalah suatu kota metropolis yang berada di benua Asia dan Eropa. Inilah titik awal masa keemasan Turki Usmani, yang terus cemerlang hingga abad ke-18 dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas membentang dari Hongaria Utara di Barat hingga Iran di Timur; dari Ukrania di Utara hingga Lautan India di Selatan.

Turki Usmani berhasil membentuk suatu Imperium besar dengan masyarakat yang multi-etnis dan multi-religi. Kebebasan dan otonomi kultural yang diberikan Imperium kepada rakyatnya yang non-muslim, adalah suatu bukti bagi dunia kontemporer bahwa sistem kekhalifahan dengan konsep Islam telah mempertunjukkan sikap toleransi dan keadilan yang luhur.

Sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal.

Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Jumlah orang-orang kafir pun meningkat. Lewat penguasaan jaringan media dunia, Yahudi Internasional menghembuskan stigma jahat kepada Turki Utsmani jika Turki merupakan “The Sickman From Asia”, Orang Sakit Dari Asia. Sejumlah kebijakan ekonomi Turki disabotase. Dan perekonomian Turki pun terpuruk.

Dari luar, strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari'at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.

Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki.

Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.

Reaksi Dunia Islam, Saudi Memboikot

Dunia Islam menyatakan belasungkawa dan sangat prihatin atas apa yang terjadi di Turki. Dari Indonesia, Syarikat Islam membentuk sebuah komite pada 4 Oktober 1924, diketuai oleh Wondosoedirdjo dan wakilnya, KH. Abdul Wahab Hasbullah. Tujuan didirikan komite ini adalah untuk membahas undangan kongres khilafah di Kairo, Mesir. Lalu ditindaklanjuti dengan Kongres Al-Islam Hindia III di Surabaya (24-27 Desember 1924). Kongres ini dihadiri ulama dari seluruh penjuru Hindia Belanda dan menyepakati untuk mengirimkan utusan, wakil umat Islam Indonesia, ke kongres dunia Islam. Utusan ini terdiri dari Suryopranoto (SI), Haji Fakhruddin (Muhammadiyah) dan KHA. Wahab dari kalangan tradisional.

Disebabkan ada perbedaan pendapat dengan kalangan Muhammadiyah, KH. Abdul Wahab dan kawan-kawannya menggelar rapat dengan kalangan ulama tradisionil dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Berdirilah Komite Merembuk Hijaz sebagai pegimbang Komite Khilafah yang “jatuh” ke tangan Muhammadiyah dan menyerukan kepada Ibnu Sa'ud, Raja Saudi, agar tradisi keagamaan yang sudah berjalan selama ini jangan dihentikan. Komite Merembut Hijaz ini kemudian dikenal dengan sebutan Nahdlatul Ulama, diresmikan di Surabaya, 31 Januari 1926.

Di tahun 1927 berlangsung Kongres Khilafah II di Mekkah. Agus Salim (Syarikat Islam) hadir dalam kapasitas sebagai utusan Hindia-Belanda. Awalnya para peserta kongres menginginkan agar masalah hancurnya Kekhalifahan Islam di Turki dibahas.

Namun agenda ini menemui kegagalan karena Raja 'Abdul 'Aziz bin Sa'ud sebagai tuan rumah kongres menolak membicarakan hal ini.

Hidup di bawah tekanan dan penindasan kekuatan sekularis Turki yang menguasai hampir seluruh bidang kehidupan, sipil maupun militer, ternyata tidak memadamkan api keislaman rakyatnya.

Sejak Mustafa Kemal menguasai Turki pada tahun 1923, Yahudi dari Salonika tersebut berusaha keras memisahkan Turki dengan Islam. Bentuk kekhalifahan diganti dengan bentuk Republik sekuler. Mustafa Kemal dan para pengikutnya juga meracuni rakyat Turki dengan mengatakan jika Islam itu identik dengan kekolotan dan keterbelakangan, sedangkan Barat merupakan simbol kemajuan dan modernitas. Mustafa Kemal pun memindahkan ibukota Turki dari Istanbul ke Angora atau Ankara.

Sebagai perwira militer, Mustafa Kemal menggunakan angkatan bersenjata Turki sebagai garda terdepan dalam menghancurkan keislaman. Bahkan angkatan bersenjata Turki dinyatakan sebagai pendukung utama ideologi Kemalis yang sangat anti Islam, dan sebab itu tentara Turki memiliki peran ganda sebagai “Tentara Politik”. Mustafa tentu tidak sendirian, kekuatan Barat senaniasa berada di belakangnya.

Dari uraian panjang tentang kejatuhan kesultanan Turki Ustmani diatas dapat kita ketahui andil dari kaum Zionis, Konspirasi Yahudi. Sehingga makin jelas apa yang telah Allah firmankan bahwa, “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat, kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu

Orang-orang Zionis Yahudi  melakukan penyerangan melalui metode penyusupan, perang pemikiran dan penguasaan ekonomi. Semua tertuang dalam metode, pemikiran, strategi mereka yang dikenal sebagai protokol zionisme antara lain

Protokol Zionis yang pertama,

“Kemenangan dapat kita capai dengan lebih mudah berdasarkan kenyataan bahwa dalam hubungan  dengan masyarakat  yang kita inginkan, kita selalu bekerja pada simpul-simpul yang paling sensitif pada pikiran manusia, yaitu pada urusan dana, pada aspek nafsu syahwat manusia, pada keserakahan akan materi yang tidak pernah dapat dipuaskan; dan setiap kelemahan manusia tadi bila diamati satu persatu cukup untuk melumpuhkan daya prakarsa, karena semuanya itu terenggut dari diri mereka, yang pada dasarnya menjadi motor pendorong kegiatan kehidupan mereka”.

Protokol Zionis yang ketujuh,

“Kita harus memaksa pemerintahan bukan-Yahudi untuk menerima langkah-langkah yang akan meningkatkan secara luas rencana yang telah kita buat yang telah kian dekat dengan tujuannya dengan cara meletakkan tekanan pada pendapat umum yang telah kita agendakan yang harus didorong oleh kita dengan bantuan apa yang dinamakan ‘kekuatan besar’ pers. Dengan sedikit perkecualian, tak perlu terlalu dipikirkan, kekuatan itu telah berada dalam genggaman kita”.

Protokol Zionis yang kedelapan
...Untuk sementara waktu sampai saat yang cukup aman tiba untuk memberikan jabatan-jabatan pemerintahan kepada saudara-saudara kita kaum Yahudi, kita akan mempercayakan jabatan-jabatan itu kepada mereka yang track-record dan wataknya sedemikian rupa, yaitu adanya jurang yang lebar antara mereka dengan rakyatnya...

...Kita akan mengepung pemerintahan yang ada dengan para ekonom kita. Karena alasan inilah ilmu ekonomi menjadi mata pelajaran utama yang dituntut dan diajarkan oleh kaum Yahudi. Kita akan dikelilingi oleh galaksi yang terdiri dari para banker, industrialis, kapitalis, dan terutama kaum milyuner, karena sebenarnya segala sesuatu akan ditentukan oleh daya tarik kepada angka-angka...

Protokol Zionis yang kelimabelas

...Dibawah pengaruh kita, pelaksanaan hukum kaum non_yahudi harus dapat diredusir seminim mungkin. Penghormatan kepada hukum harus dirongrong dengan cara interpretasi sebebas mungkin sesuai dengan apa yang telah kita perkenalkan pada bidang ini. Pengadilan akan memutuskan apa yang kita dikte, bahkan dalam kasus-kasus yang mungkin mencakup prinsip-prinsip dasar atau isu-isu politik melalui jalur pendapat surat kabar dan jalur lainnya..

Protokol Zionis yang ketujuhbelas
...Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para rohaniawan non-Yahudi dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan diaman-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..

Strategi dibidang ekonomi, salah satunya  tertuang pada protokol zionis yang keenam

“Membangun kekuatan Zionisme melalui manipulasi ekonomi, terutama melalui monopoli perbankan dan kekuatan keuangan”

“Berikan kepada saya kewenangan mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan sesudah itu terjadi saya tidak perlu ambil peduli kepada para pembuat hukum di Negara tersebut”. (Meyer Amschel Rothschild, 1743-1812, pendiri dinasti Rothschilds)

Untuk mewujudkan mimpi-mimpinya,  sejak tahun 1999, seluruh wilayah belahan bumi sudah dikuasai oleh jaringan kekuasaan Lucifer.

Semua umat manusia harus memandang pada satu arah, yaitu kekuatan mata uang, sebagaimana yang dilambangkan oleh mata uang satu dolar Amerika --novus ordo seclorum.

Seluruh struktur perekonomian global telah dikuasai oleh kaum Iluminasi, gerak World Bank dan IMF telah menjadi "dewa Lucifer" yang akan menyelamatkan umat manusia sekaligus menguasainya.

Hal ini sesuai dengan ucapan Prof. J.S. Malan, seorang ahli ekonomi dari Universitas Sao Paolo yang mengatakan:

"Setiap bangsa akan menanggung utang yang berat dan mereka tidak akan mampu membayarnya, sehingga mereka harus menebusnya sebagai budak yang setia dan patuh terhadap perintah. Kekuatan IMF sangat absolut sehingga tidak akan ada satu negara pun yang mampu mendapatkan satu sen pun, kecuali atas persetujuan atau arahan dari IMF"

Kekuasaan IMF adalah perpanjangan tangan dari gerakan zionis yang merupakan perwujudan dari perintah Tuhan, "Orang kaya menguasai orang miskin yang berutang menjadi budak dari yang mengutangi. " (Amsal 22:7).

Mereka harus menguasai seluruh ladang karena berat kelaparan yang ditanggung bangsa-bangsa di muka bumi. Kaum zionis akan menjadikan seluruh bangsa merangkak dan mengemis kepada kekuasaannya (Kejadian 47: 13-20).

Sikap tamak dan memakan harta secara batil ini telah diingatkan Allah kepada orang-orang beriman agar tidak mencontoh dan mengikuti sikap kaum Yahudi dan Nasrani tersebut, sebagaimana fiman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalangi-halangi (manusia) dari jalan Allah...." (at-Taubah: 34)

Berkaitan dengan ayat tersebut, orang-orang alim Yahudi atau Ahbar adalah orang yang mempunyai pengetahuan dalam urusan tertentu, yaitu para eksekutif Yahudi yang telah "memakan" seluruh kekuatan ekonomi dunia untuk kepentingan misi zionisme mereka, seraya menjadikan dana yang mereka kumpulkan untuk menghalangi orang beriman menegakkan hukum dan syariat yang telah ditetapkan Allah SWT.

Mereka yang dikategorikan sebagai Ahbar tersebut telah eksis; jauh sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw, yaitu perilaku sebuah kaum jahiliah di kalangan Ahli Kitab yang sangat tercela dan kemudian dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya. Untuk mengukuhkan ambisinya, kita dapat melihat peristiwa yang luput dari pengamatan umat Islam selama ini, yaitu peristiwa menjelang hari kemerdekaan Amerika Serikat --diperingati setiap 4 Juli (ed.) . Pada saat itu dibentuk panitia untuk membuat mata uang Amerika (dolar) yang terdiri atas: Benyamin Franklin, Thomas Jefferson, John Adam, dan Pierre du Simitiere yang semuanya adalah para anggota Iluminasi freemason tingkat ke-33, bahkan Thomas Jefferson adalah pengikut mistik agama Desime yang menjadi pelopor lahirnya pemikiran unitarian-universalist.

Pada saat itu, pemikiran Adam Weishaupt serta bukunya Novus ordo Seclorum telah merasuki jiwa para anggota freemason. Sebagai penghargaan kepada Adam Weishaupt sebagai tokoh sentral zionis, maka mereka menyepakati bahwa lambang satu dolar Amerika memakai simbol-simbol dari Iluminasi dan mencantumkan nama judul buku Weishaupt tersebut sebagai motto pada uang dolar Amerika. Mereka tidak memilih mata uang dalam bentuk pecahan lima, sepuluh, atau dua puluh dolar, karena pecahan satu dolar mewakili pemikiran "satu dunia baru". Itulah sebabnya pada pecahan satu dolar tersebut sarat dengan falsafah Iluminasi.

Prof. J.S. Malan dalam tulisannya, New Age Reforms bahwa seluruh sumber daya alam dunia, seperti moneter dan industri harus dikontrol sepenuhnya oleh "pemerintahan dunia" karena dengan cara seperti ini, sistem persamaan ekonomi serta kesejahteraaan dunia dapat dilaksanakan serta dinikmati secara merata. Seluruh dunia hanya mempunyai satu sistem moneter yang pengawasannya di bawah satu badan yang tersentralisasi. Dengan cara seperti ini memungkinkan "pemerintahan dunia" menjalankan kebijaksanaannya untuk mengendalikan seluruh negara dan rakyatnya. Inilah yang dinamakan the New World Order (NWO); tatanan dunia baru.

Dunia harus "tunduk" dan "menyembah" kepada dolar sebagai medium untuk mendapatkan karunia dari tuhan (setan) Lucifer. Mereka yang mendapatkan limpahan dolar akan mampu menjadi manusia unggul. Dan mereka yang menguasai dolar --di bidang ekonominya-- adalah mereka yang menguasai dunia.

Seluruh lembaga keuangan internasional yang telah dirintis oleh Meyer Rothchild harus menunjukkan keperkasaannya dalam bidang finansial. Pemilikan saham perbankan, multinasional, dan teknologi termasuk microchip harus dimiliki secara mayoritas oleh persaudaraan anggota freemason.

Keberhasilan mereka “memutuskan” hubungan alat tukar/uang dengan karunia Allah adalah ketika mereka tidak lagi menggunakan emas sebagai patokan alat tukar. Sesungguhnya emas adalah salah satu bentuk referensi terhadap karunia Allah.

Salah satu firman Allah yang mengutarakan tentang alat tukar emas,

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Ali Imran (3):91)

Tujuan serta misi dari New World Order (tatanan dunia baru) sangat sederhana.

  • Menciptakan satu pemerintahan dunia.

  • Satu pemimpin dunia.

  • Satu kepercayaan dunia.

  • Menjaga dan melindungi ras unggul melalui pengendalian jumlah penduduk.

  • Warga negara dunia ketiga akan menjadi pembantu dan buruh.


Sumber: Deadly Mist, Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia, Jerry D. Gray, Sinergi Publishing, 2009 hal 14

Pemikiran/kepercayaan mereka pada umumnya adalah,

  • Manusia ada dengan sendirinya, tidak diciptakan Allah. (mereka umumnya menyebarluaskan teori evolusi Darwin.)

  • Manusia mati kembali menjadi materi tanah.

  • Manusia harus peduli dengan kemanusiaannya demi menjadi manusia unggul sehingga mereka menyebar luaskan hak asasi manusia (HAM) tanpa peduli dan percaya akan hak Allah.

  • Tidak ada karunia atau rezeki dari Allah, yang ada adalah tukar menukar usaha/upaya antar manusia.

  • Manusia dalam perwujudan tertinggi menyerupai Tuhan.

  • Dan kemusyrikan lainnya. Nauzubillah min Zalik.


Akhirnya, sekali lagi saya mengingatkan, marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu ?

Wallahu a’lam

Bahan bacaan:
Tanda-Tanda Kemunculan Imam Mahdi
Tiga Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini
Berkasa Pada Politik Islam Turki

Pustaka buku:

1. Zionisme - Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era Habibi)
2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya
3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara
4. Freemansory di asia tenggara , Abdullah Pattani
5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman
6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas
7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah


Tujuan serta misi dari new world order sangat sederhana.

  • Menciptakan satu pemerintahan dunia.

  • Satu pemimpin dunia.

  • Satu kepercayaan dunia.

  • Menjaga dan melindungi ras unggul melalui pengendalian jumlah penduduk.

  • Warga negara dunia ketiga akan menjadi pembantu dan buruh.


Sumber: Deadly Mist, Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia, Jerry D. Gray, Sinergi Publishing, 2009 hal 14

Minggu, 17 Januari 2010

Sekularisme Pluralisme dan Liberalisme

Tanpa kita sadari Sekularisme, Pluralisme maupun Liberalisme adalah paham yang diserbarluaskan oleh kaum Illuminati.

Kita harus menyadari kekeliruan selama ini dengan memahami apa sebenarnya arti  Sekularisme, Pluralisme maupun Liberalisme bagi illuminati,

Liberalisme, paham yang "membebaskan" manusia terhadap aturan Allah / Agama


Pluralisme, paham yang membuat manusia "floating" / "ragu" akan Allah / Agama.

sedangkan

Sekularisme, paham yang menghindarkan manusia dalam kehidupannya me"referensi" kepada Allah / Agama

Illuminati adalah bagian dari kaum Yahudi dan orang-orang musyrik (menyekutukan Allah).

Illuminati memahami paganisme, mereka para penyembah syetan (lucifer) yang mereka kembangkan sampai saat ini dari peninggalan mesir kuno.

Illuminati berupaya agar manusia tidak mereferensikan segala sesuatu dalam kehidupan di dunia kepada Allah dengan paham humanisme, materilisme dll. Salah satu paham yang mereka usung adalah terori evolusi charles darwin yang pada akhirnya dipatahkan oleh teori-teori lain di masa kini.

Illuminasi berupaya mengenyahkan agama dalam kehidupan manusia. Dalam zaman kehidupannya mereka mengenyahkan Taurat yang dibawa Nabi Musa dan menggantikan dengan / merubah menjadi talmud yang diambil dari "peninggalan" mesir kuno.

Mereka adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus) yang mengubah esensi dasar agama Nasrani dari yang hanya sebagai agama kaum Nabi Isa menjadi agama misi ke seluruh dunia. Mereka adalah Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman) yang memecah umat Islam. Mereka adalah Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka adalah Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia. Mereka adalah Snouck Hurgronje (Yahudi Belanda) yang pura-pura masuk Islam dan menggunakan ‘keIslamannya’ sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam Indonesia.

Illuminati bergabung dengan freemason.

Mereka juga membuat/mengarahkan agama baru seperti Bahaiyah  yang  didirikan  seseorang Freemason  Abdulbaha
Ahmadiyah  didirikan  oleh  seorang Freemasonry  India  Mirza  Ghulam  Ahmad,  yang  radikal  disebut aliran  Qadyani,  dan  yang  halus  disebut  aliran  Lahore.  Biaya dakwah dan  tablighnya  itu dari Freemasonry  International melalui penguasa  Inggris.
Freemasonry  pun  mensponsori  terbentuknya tharekat-tharekat Islam yang berfatwa dan bergerak sejalan dengan ajaran  Freemasonry  itu,  di  bentuknya  pada  tahun  1946  gerakan Quraniyah  dipimpin   oleh  Syekh  Yakub dari  Palestina,  segala sesuatu harus berdasar Qur’an  tanpa  tafsir dan semua hadits Nabi saw  ditolaknya,  sehingga  mereka  shalat  dan  saum  hanya berdasarkan  Qur’an,  tidak  ada  raka’at  dalam  shalat,  tidak  ada bacaan  tertentu  dalam  shalat,  tidak  ada  adzan,  qamat  dsb.

Allah telah mengingatkan dengan firmanNya,

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat, kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisai adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu

Dalam al-Qur'an dikabarkan pula tentang samiri.

"kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara , maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa". (20:88)

Berkata Musa: "Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?" (20:95)

Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku". (20:96).

Sampai saat ini belum saya ketahui hubungan dengan Amerika yang dipanggil dengan Uncle Sam.

Di Amerika, jika memerlukan "bantuan" manusia maka menghubungi 9 11, yang dikabari sebagai perwakilan dua lambang Illuminati 9 dan 11.  Dimana 9 yang menunjukan lambang  mata dewa horus sedangkan angka 11 yang menyerupai gerbang, artinya kekuataan dan kecerdasan menuju gerbang keabadian.

Illuminati  diberi cobaan oleh Allah berupa kemampuan akal (kecerdasan) yang dengan akal ini mereka menjadi sombong.  Dengan akal ini mereka mendapatkan kekuatan / kekuasaan. Dari pencapaian kekuasaan saat ini mereka merencanakan New World Order (NWO) atau Novus Ordo Seclorum.

Bagi sebagaian pendapat orang, sesungguhnya tragedi WTC 11/9 adalah merupakan fitnah yang dipengaruhi oleh kaum Illuminati. Berdasarkan fitnah inilah mereka dapat melakukan "pembunuhan" di Afghanistan, Irak dll

Fitnah, peperangan, konflik adalah bagian dari 40 teknik Illuminati dalam mencapai tujuannya

Wallahu a'lam

Sehubungan dengan Illuminati, baca juga tulisan sebelumnya, dibalik-krisis

Silahkan baca pula tulisan pada blog tetangga tentang Sejarah Mesir, Bani Israil, Yahudi dan Freemason

Kekeliruan Pluralisme

Saat ini sering diperbincangkan tentang Pluralisme dan Tokoh Pluralisme.

Konsep pluralisme yang umat muslim pahami adalah keliru !
Baik dengan arti semua agama benar atau semua agama sama, karena Allah “memberitahukan” kepada manusia melalui nabi dan rasul secara bergantian tidak bersamaan !

Nabi yang kemudian bertugas sekaligus “memperbaiki” ajaran nabi sebelumnya yang kitabnya “dirusak”, “diubah”,”dilempar” oleh manusia.

Sampai Allah telah menetapkan yang “terakhir” dan akan menjaganya sampai akhir zaman.

Jadi urgensi diutusnya Nabi Muhammad dengan Islam adalah karena umat manusia sebelumnya telah merusak atau mengubah atau melempar ajaran/kitab dari nabi sebelum Nabi Muhammad.

Apakah manusia tidak menyadarinya ?

Klo sekedar toleransi, kita tidak perlu menerima paham pluralisme cukup dengan berpegangan pada kode etik dengan non muslim.

Kehidupan kita di dunia ini, diserang oleh isme-isme yang keliru seperti Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (SPILIS).

Isme-isme itu sesungguhnya disebarluaskan oleh suatu kaum yang telah disebut oleh Allah dalam firmanNya,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82)

Kaum itu mempunyai maksud lain dari penyebaran paham Pluralisme , bagi mereka sesungguhnya,

Pluralisme,  paham yang membuat manusia “floating” / “ragu” akan Allah / Agama.

Kaum itulah yang sesungguhnya , secara halus, mengarahkan olah pikir kita, pemahaman, filsafat, paradigma yang mengakibatkan kita konflik, berbeda pendapat bahkan peperangan.

Untuk itulah kita harus waspada dengan cara memahami mereka.

*******

Pustaka buku:

1. Zionisme - Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era Habibi)
2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya
3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara
4. Freemansory di asia tenggara , Abdullah Pattani
5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman
6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas
7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah