Jumat, 21 Januari 2011

Agama hanya Islam

Manusia,  Dunia dan ciptaanNya yang lain,  ada namun tidak berdiri sendiri.
Segala ciptaanNya itu maujud artinya ada namun karena pengaruh yang lain yakni karena Allah ta’ala.

Segala ciptaanNya, ada karena Ar Rahmaan dan Ar Rahiim nya Allah ta’ala

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/lillahi-taala/

Jadi kalau kita pahami secara hakikat, bukan lagi tiada tuhan selain Allah melainkan tiada selain Allah.

Inilah ajaran tauhid yang disampaikan oleh nabi Adam a.s s/d nabi terakhir, nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam

Juga seluruh para Nabi sejak nabi Adam a.s telah bersaksi (syahadah) bahwa Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata:  ‘Setiap kali Allah swt. mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah swt. menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah saw. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )

"Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah  yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )

Inilah yang ditelaah lebih lanjut dalam hakikat "Nur Muhammad" bahwa Rasulullah telah "ada" sebelum Beliau lahir.  Kita  yakin bahwa kesaksian akan Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah dilakukan oleh seluruh nabi, karena pada hakikatnya seluruh nabi menyampaikan tentang Islam


“…dia (malaikat Jibril) langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata 

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “,Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”




Islam adalah bersyahadat bahwa "tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah" sedangkan syariat lainnya yang dibawa para Nabi berbeda-beda tergantung kehendakNya  (zaman dan kaum para Nabi) sampai dengan ketika Allah ta'ala menyampaikan
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu" QS Al Maa'idah [5]: 3) .  Sejak itu berlakulah selain syahadat, syariat yang kita kenal dengan syariat Islam didalamnya sholat, zakat, puasa dan ibadah haji

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS Al Baqarah [2]: 132 )

"Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi  atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah : "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik" (QS Al Baqarah [2]: 139 )

"Sesungguhnya agama  disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka" (QS Ali Imran [3]: 19)

Sesungguhnya agama sejak nabi Adam a.s sampai Rasulullah hanyalah Islam, tidak berselisih jika orang-orang yang mengetahuinya.

Namun sayang sekali orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidaklah lagi dikatakan beragama karena mereka tidak menegakkan syahadat.

Firman Allah ta’ala yang artinya

Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu“. (QS Al Maa’idah [5]:68 )

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Wassalam

Lillahi ta'ala

Ma'rifatullah --- Mengenal Allah

Lillahi ta'ala maknanya "karena Allah ta'ala"

Dalam sifat 20 Allah kita paham dan yakin bahwa Allah itu Wujud (ada). Tidak mungkin/mustahil Allah itu ‘Adam (tidak ada).

Allah itu Qiyamuhi Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya). Mustahil Allah itu Iftiqoorullah (Berhajat/butuh) pada makhlukNya

Manusia atau kita ada namun tidak berdiri sendiri. Kita itu maujud artinya ada namun karena pengaruh yang lain yakni karena Allah ta'ala.

Kita ada karena Ar Rahmaan dan Ar Rahiim nya Allah ta'ala

Coba bayangkan jika seluruh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, penciuman/rasa itu tidak diberikan oleh Allah yang maha pengasih dan penyayang,  apakah kita ada ?

Kita maujud karena Allah ta'ala ,  karena Ar Rahmaan dan Ar Rahiim Nya dalam berupa panca indera. Kita harus bersyukur untuk itu

Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

Begitu pula kita harus bersyukur atas nikmat Iman dan nikman Islam karena Allah ta'ala , karena karuniaNya, karena Taufiq dan HidayahNya.

Oleh karenanya segala perbuatan kita (seorang hamba Allah yang bergantung padaNya)  haruslah karena Allah ta'ala bukan karena hawa nafsu dan bukan pula karena selainNya

Kita sholat karena Allah ta'ala bukan karena surgaNya.  SurgaNya adalah ciptaanNya yang adanya pun  karena Allah ta'ala.

"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (QS Al An'aam [6]:162 )

SurgaNya bukan lah tujuan namun sebuah keniscayaan bagi  "orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya"

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

Wassalam

Zon di Jonggol

Kamis, 20 Januari 2011

Mengapa Berselisih

Mengapa umat Islam berselisih

Salah satu penyebab penghambat kemajuan umat Islam adalah bagaimana menyikapi perbedaan pemahaman agama (Al-Qur’an dan Hadits). Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/17/kemajuan-umat-islam/

Perbedaan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits adalah kehendak Allah ta’ala

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).(QS Al Baqarah [2]: 269)

"Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan". [QS An Nahl [16]:93 )

Namun yang akan ditanyakan kepada kita adalah bagaimana kita menyikapi adanya perbedaan pemahaman.

Apakah perbedaan pemahaman akan disikapi dengan perselisihan , berbantah-bantahan, pertengkaran bahkan saling membunuh antara sesama saudara muslim yang telah bersyahadat seperti yang kita lihat pertikaian/peperangan antara kaum Syiah dan kaum Sunni?

Allah telah berfirman, “Jangan kalian saling berselisih karena itu membuat kalian lemah dan hilang bau kalian.” (Q.S. al Anfaal: 46)

Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dengan berjama’ah dan jangan berpecah belah.” (Q.S. Ali Imran: 103)

Sebagian ulama lainnya bahkan belum dapat memahami maksud ”perbedaan umatku adalah rahmat” bahkan sebagian lainnya mengingkari sehingga secara tidak disadari mengingkari kehendak Allah.

Perbedaan pemahaman tidak dapat dihindari karena akan adanya kesalahpahaman. Kita paham yang pasti benar hanyalah Al Qur’an dan Hadits

Sebenar benar perkataan adalah kitabullah(alquran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.”(HR.Muslim).

Pendapat, pemahaman, perkataan manusia selain kedua pokok itu, bisa diambil dan bisa pula ditolak

Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) mengatakan, “Setiap dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam."

Bagi mereka yang biasa berdiskusi, bertukar pendapat, dan berdialog pasti mengenal ungkapan, “Pendapatku benar, tetapi mungkin juga salah. Dan pendapat lawanku salah, tetapi mungkin juga benar.

Hakikat perbedaan pemahaman

Pada hakikatnya keadaan/kejadian (akwan) perbedaan pemahaman ini adalah dinding/hijab yang mendidingi kita dari Allah ta'ala. Padahal hanya Allah ta'ala inilah yang berbuat (berkehendak) dibalik hijab semua keadaan / kejadian ini.

Jadi barang siapa terbuka hijab niscaya dilihatnya bahwa yang berbuat (berkehendak) pada segala keadaan/kejadian (akwan) itu adalah Allah ta’ala sendiri.
Dan barang siapa tidak terbuka hijab, maka ia terdinding dari keadaan/kejadian ini, sehingga ia tidak mampu memandang fa’il (pelaku) yang sebenarnya yaitu Allah.

Hakikat fungsi pemahaman

Apapun dan bagaimanapun pemahaman, madzhab, manhaj, tharekat, halaqah, kelompok atau bentuk jama'ah minal muslimin lainnya, semua itu adalah alat, sarana, kendaraan atau wadah mencapai tujuan hidup kita.

Kemanakah tujuan hidup kita ? surgakah ?
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

Surga adalah ciptaanNya sedangkan tujuan hidup kita adalah untuk sampai (wushul) kepada-Nya.

Benarkah yang kita tuju ?

Untuk itulah kita harus mengenal Allah (ma’rifatullah) karena Allah ta’ala yang menjadi tujuan kita.
Awaluddin makrifatullah, awal-awal agama ialah mengenal Allah
Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, Siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah.
Firman Allah Taala :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )

Bagaimanakah cara mencapai tujuan ?

Pemahaman, madzhab, manhaj, tharekat, halaqah, kelompok atau bentuk jama'ah minal muslimin lainnya, semua itu adalah alat, sarana, kendaraan untuk melakukan perjalanan (suluk) agar sampai kepada Allah.

Bagaimanakah cara melakukan perjalanan (suluk) agar sampai kepada Allah adalah memahami dan mengamalkan tasawuf dalam Islam

Sebagian orang bertanya ”Apakah ajaran tasawuf ajaran Islam ?” atau ada ulama yang menyatakan “tasawuf bukan Islam” atau bahkan ”tasawuf sesat”. Pertanyaan dan pernyataan tersebut menunjukkan ketidaktahuan mengenai istilah tasawuf.

Pertanyaan yang benar seperti ”Bagian manakah dalam agama Islam yang menguraikan tentang tasawuf?”

Tasawuf dalam Islam adalah bagian atau salah satu pokok dari agama Islam yakni tentang ihsan atau tentang akhlak.

Tasawuf dalam Islam menguraikan bagaimana akhlak sebagai hamba Allah terhadap Allah ta’ala, bagaimana akhlak terhadap diri sendiri, bagaimana berakhlak terhadap ciptaanNya yang lain seperti alam, tumbuh2an, hewan dan lain lain, termasuk berakhlak terhadap sesama manusia.

Tasawuf dalam Islam menguraikan ma’rifatullah, bertalian dengan hati (tazkiyatun nafs), khauf, raja, khusyu, tawadhu, mujahadah, muraqabah, sabar, qanaah, ikhlas, tawakal, zuhud dan lain-lain

Kita untuk sampai kepada Allah harus menjadi muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) yakni muslim yang seolah-olah melihat Allah ta’ala atau minimal muslim yang yakin bahwa Allah ta’ala melihat segala perbuatan/perilaku.

Sikap sebagian muslim atas perbedaan pemahaman

Saat ini sebagian muslim, dengan perbedaan pemahaman disikapi dengan berselisih, saling mengaku paling benar dan yang lain salah, saling mensesatkan atau saling mentakfirkan sehingga pada hakikatnya mereka seolah berselisih pada ”kendaraan” yang digunakan pada jalan yang lurus sehingga melupakan tujuan atau melenakan untuk sampai kepada Allah.

Perhatikanlah di beberapa milis, blog, forum diskusi,  jejaring sosial dapat kita temukan diskusi tentang Islam namun diikuti saling hujat, saling berolok-olok,  mencela, menuliskan kata-kata yang tidak perlu, menilai pribadi seseorang dan perbuatan tercela lainnya. Mereka seolah tidak merasa malu dengan Allah ta'ala yang begitu dekat. Kalaupun mereka tidak merasa dekat dengan Allah ta'ala, setidak-tidaknya mereka yakin bahwa Allah ta'ala melihat perbuatan mereka.

Sebagian muslim lainnya salah bersikap terhadap hadits tentang 73 firqah. Bagaimana kita bersikap, silahkan baca tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/18/firqah-masuk-surga/

"Tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka. " (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya setiap muslim yang telah bersyahadat dengan “sidqan min qalbihi“ (betul-betul keluar dari qalbu) berada pada jalan yang lurus. Jika diantara mereka ada melakukan perbuatan yang mengakibatkan kekufuran maka perlu kehati-hatian dalam memvonis kufur dan hakikatnya muslim yang melakukan perbuatan kekufuran berbeda dengan orang kafir (orang tidak bersyahadat / non muslim).

Imam Al-Haramain pernah berkata, “ Jika ditanyakan kepadaku : Tolong jelaskan dengan detail ungkapan-ungkapan yang menyebabkan kufur dan tidak”. Maka saya akan menjawab,” Pertanyaan ini adalah harapan yang bukan pada tempatnya. Karena penjelasan secara detail persoalan ini membutuhkan argumentasi mendalam dan proses rumit yang digali dari dasar-dasar ilmu Tauhid. Siapapun yang tidak dikarunia puncak-puncak hakikat maka ia akan gagal meraih bukti-bukti kuat menyangkut dalil-dalil pengkafiran”.

Vonis kufur (takfir) pada hakikatnya tidak dapat dikenakan pada suatu kaum/kelompok karena bisa saja seorang yang merupakan bagian dari kaum/kelompok tersebut ternyata sama sekali tidak melakukan perbuatan yang mengakibatkan kekufuran.

Selengkap mengenai takfir (pengkafiran) silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/12/19/takfir/

Wassalam

Zon di Jonggol, 16830

Catatan, contoh pemahaman Tasawuf dalam Islam
Mengenal Allah (ma’rifatullah)

Allah ta’ala mengabulkan doa manusia bukanlah karena doa manusia karena “Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS Al Hajj [22]:14 )
Pahami bahwa Allah ta’ala berbuat bukan dikarenakan/dipengaruhi ciptaanNya.

Allah ta’ala memberikan kebutuhan, keinginan ataupun cobaan bagi manusia yang mengaku sebagai hamba Allah, pada hakikatnya Allah ta’ala tidak mengukur atau mempedulikan bentuk, kadar ataupun jenis kebutuhan, keinginan ataupun cobaan tersebut.
Namun pada hakikatnya Allah ta’ala ingin tahu kemanakah hamba Allah tersebut berserah diri dalam menghadapi kebutuhan, keinginan atau cobaan tersebut.
Kemudian apakah hamba Allah tsb merasakan “bersama” Allah ketika kebutuhan dan keinginan itu terpenuhi atau cobaan tersebut teratasi ?

****

Hakikat Berdoa

Mengenal Allah (ma’rifatullah) -- Hakikat Berdoa

Allah ta’ala mengabulkan doa manusia bukanlah karena doa manusia karena “Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS Al Hajj [22]:14 )
Pahami bahwa Allah ta’ala berbuat bukan dikarenakan/dipengaruhi ciptaanNya.

Allah ta’ala memberikan kebutuhan, keinginan ataupun cobaan bagi manusia yang mengaku sebagai hamba Allah, pada hakikatnya Allah ta’ala tidak mengukur atau mempedulikan bentuk, kadar ataupun jenis kebutuhan, keinginan ataupun cobaan tersebut.
Namun pada hakikatnya Allah ta’ala ingin tahu kemanakah hamba Allah tersebut berserah diri dalam menghadapi kebutuhan, keinginan atau cobaan tersebut.
Kemudian apakah hamba Allah tsb merasakan “bersama” Allah ketika kebutuhan dan keinginan itu terpenuhi atau cobaan tersebut teratasi ?

Rabu, 19 Januari 2011

Perbedaan Pemahaman

Perbedaan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits adalah kehendak Allah ta’ala

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)". (QS Al Baqarah [2]: 269)

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

Perbedaan pemahaman adalah kehendak Allah ta'ala, sedangkan perselisihan adalah sikap terhadap perbedaan pemahaman yang ditunjukkan oleh sebagian muslim.

Bagaimana kita menyikapi perbedaan pemahaman inilah yang hendak diujikan oleh Allah ta'ala bagi kita. Kemudian Dia menguji kita disaat ibadah haji dengan melarang berbantah-bantahan.

Berselisih adalah sikap yang tidak kita inginkan, begitu pula menyikapi perbedaan pamahaman yang lain seperti saling menghujat, saling berolok-olok, berbantah-bantahan, pertengkaran bahkan saling membunuh antara sesama saudara muslim yang telah bersyahadat seperti yang kita lihat pertikaian/peperangan antara kaum Syiah dan kaum Sunni. Sikap seperti ini dapat kita temukan pada blog, milis, forum diskusi, jejaring sosial yang menunjukkan mereka seolah tidak merasa malu dengan Allah ta'ala yang dekat, andaipun mereka tidak merasakan kedekatan minimal mereka yakin bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan kita.

Begitu pula dengan saudara-saudara kita kaum Salafi Wahabi belum meyakini adanya perbedaan pemahaman, sehingga secara tidak disadari mereka mengingkari kehendak Allah ta'ala Seperti contoh pernyataan ulama Salafi Wahabi, Syaikh Al Albani berikut:



******************
Golongan atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari perkumpulan Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam serta di atas manhaj (jalan/cara) Salafus Shalih, maka dia (golongan itu) berada dalam kesesatan yang nyata!

Tidak diragukan lagi bahwasanya golongan (hizb) apa saja yang tidak berdiri di atas tiga dasar ini (Al Qur’an, Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan Manhaj Shalafus Shalih) maka akan berakibat atau membawa kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu (dalam dakwahnya) ikhlas.

Berdasarkan pengetahuan saya, setiap golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya berpendapat sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang ketiga, sementara dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh. Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.
**********************



Beliau mengatakan sesatlah golongan atau kelompok yang hanya bersandar pada Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah saja tidak berdiri di atas dasar yang ketiga yakni manhaj Salafus Sholeh

Hal ini mengingatkan saya pada perbincangan antara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan saudaranya Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, dalam soal kafir-mengkafirkan ini.

Sulaiman bertanya kepada adiknya: “...Berapa, rukun Islam”
Muhammad menjawab: “lima”.
Sulaiman: Tetapi kamu menjadikan 6!
Muhammad: Apa, ?
Sulaiman: Kamu memfatwakan bahwa siapa, yang mengikutimu adalah
mu’min dan yang tidak sesuai dengan fatwamu adalah kafir.
Muhammad : Terdiam dan marah.

Sesudah itu ia berusaha menangkap kakaknya dan akan membunuhnya, tetapi Sulaiman dapat lolos ke Makkah dan setibanya di Makkah ia mengarang buku “As Shawa’iqul Ilahiyah firraddi ‘alal Wahabiyah” (Petir yang membakar untuk menolak paham Wahabi)

Wassalam

Selasa, 18 Januari 2011

Paham anti Mazhab

Paham Anti Mazhab Ingin Meruntuhkan Syariah Islam


Jumat, 04 Desember 2009 00:46

Pertanyaan


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Maaf beribu maaf ustad,saya ingin tabayyun ke ustad.

Di situs pribadi ustad,ada artikel judulnya "Anti mazhab,Bid'ah paling merusak" dalam artikel tersebut  disebutkan tokoh terbesar anti mazhab adalah Nashirudin Albani.padahal beliau (setahu saya yg ilmunya masih sedikit ini) diakui keilmuan dan keulamaannya oleh banyak kalangan termasuk oleh syekh bin Baz,syekh qardhawi,dll.mohon penjelasan.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


tyo

Jawaban


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Artikel pada situs saya itu adalah bagian dari bedah buku yang ditulis oleh ulama besar Syria, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy. Apa yang saya tulis di dalam artikel itu lebih merupakan buah pemikiran beliau sang penulis buku.

Dr. Said Ramadhan Al-Buthy sendiri juga mengakui ketokohan seorang Al-Albani. Justru karena dianggap sebagai tokoh itulah, maka kemudian perlu diajak berdialog untuk dicari titik temu. Barangkali seorang Al-Albani kurang memahami sepenuhnya tentang ilmu fiqih. Mengingat beliau itu memang bukan ulama syariah. Dan hal seperti ini bukan merupakan aib. Karena di masa sekarang ini, setiap ulama punya spesialisasi sendiri-sendiri.

Dan sebagai perwakilan dari para ulama ahli fiqih, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy berupaya membangun dialog yang baik, agar tidak terjadi salah paham.

Al-Albani sendiri memang tokoh penting di dalam dunia hadits. Sudah banyak karya beliau yang memenuhi rak-rak buku para pelajar dan mahasiswa. Dan sudah banyak orang yang menjadikannya sebagai rujukan dalam masalah hadits.

Akan tetapi di dalam dunia ilmu fiqih, Al-Albani memang punya catatan tersendiri, dimana dirinya sering menyerang ilmu fiqih dan cenderung anti dan memusuhi  mazhab-mazhab fiqih yang sudah ada. Hal ini dikemukakan oleh guru besar ilmu fiqih, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, ulama fiqih kenamaan dari Syria.

Buku ini menceritakan bagaimana terjadinya perdebatan seru antara kedua tokoh penting yang sama-sama tinggal di Syria. Al-Albani dengan pendiriannya yang ingin merobohkan bangunan besar ilmu Fiqih Islam, yang sudah berdiri sejak awal peradaban Islam. Sedangkan Dr. Said Ramadhan Al-Buthy berada pada posisi membela dan mempertahankan kedudukan ilmu Fiqih serta urgensinya dalam memahami Al-Quran dan Sunnah.

Menurut Al-Albani, semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama. Setiap orang wajib langsung merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan untuk memahaminya, tidak dibutuhkan ilmu dan metodologi apa pun. Keberadaan mazhab-mazhab itu dianggap oleh Al-Albani sebagai bid'ah yang harus dihancurkan, karena semata-mata buatan manusia.

Tentu saja pendapat seperti ini adalah pendapat yang keliru besar. Ilmu fiqih dan mazhab pada ulama yang ada itu bukan didirikan untuk menyelewengkan umat Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah. Justru ilmu fiqih itu sangat diperlukan sebagai metodologi yang istimewa dalam memahami Quran dan Sunnah.

Menurut Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, kedudukan ilmu fiqih kira-kira sama dengan kedudukan ilmu hadits. Keduanya tidak pernah diajarkan secara baku oleh Rasulullah SAW. Ilmu hadits atau juga dikenal dengan ilmu naqd (kritik) hadits, juga merupakan produk manusia, hasil ijtihad, bukan ilmu yang turun dari langit.

Tapi dengan ilmu hadits, kita jadi tahu mana hadits yang shahih, mana hadits yang dhaif dan mana hadits yang maudhu'. Padahal yang menyusun ilmu hadits itu bukan Rasulullah SAW, juga bukan para shahabat, tetapi para ulama dengan ijtihad mereka.

Ketika menetapkan syarat-syarat hadits shahih agar bisa dimasukkan ke dalam kitab As-Shahih, sesungguhnya Al-Bukhari juga sedang berijtihad. Dan kita umat muslim sedunia mengikuti ijtihad beliau dan menggunakan syarat-syarat yang beliau tetapkan.

Maka ketika Al-Imam Asy-Syafi'i yang lahir jauh sebelum zaman Bukhari meletakkan syarat dan aturan dalam mengistimbath hukum dari Quran dan Sunnah,  lalu mendirikan ilmu Ushul fiqih, sebenarnya beliau telah berjasa besar kepada umat Islam. Sama dengan Al-Bukhari yang juga berjasa agar umat Islam tidak salah dalam memilih hadits.

Demikian juga ketika Abu Hanifah menetapkan dasar-dasar istimbath hukumnya, agar setiap orang tidak asal main qiyas begitu saja, sebenarnya ilmu yang beliau tetapkan itu sangat bermanfaat buat umat Islam. Sama dengan Al-Bukhari yang juga berijtihad agar umat Islam tidak jatuh ke dalam hadits palsu atau lemah.

Sayangnya, ilmu fiqih dan ushul fiqih yang sudah sejak 14 abad dijadikan standar dalam mengistimbath hukum oleh seluruh umat Islam, oleh Al-Albani ingin dirobohkan begitu saja, dengan alasan kedua ilmu itu dianggap bid'ah dan hanya merupakan ijtihad manusia.

Karena itulah para ulama fiqih meradang dan marah besar kepada Al-Albani yang dengan naifnya ingin merobohkan asas-asas dan sendi pokok ilmu fiqih. Salah satunya adalah Dr. Said Ramadhan Al-Buthy yang akhirnya mengajak Al-Albani bertukar fikiran, agar jangan sampai terjadi salah paham.

Sayangnya, ternyata Al-Albani tetap ngotot dan bersikeras untuk meruntuhkan bangunan ilmu fiqih. Bahkan meski sudah berdialog semalam suntuk, dia tetap 'keukeuh' dengan pendiriannya. Dia tetap ingin meruntuhkan ilmu fiqih karena dalam pandangannya ilmu fiqih itu bid'ah.

Maka Dr. Said Ramadhan hanya bisa menghela nafas panjang. Susah rasanya bicara dengan orang yang tidak mau mengalah dan tidak mau mengerti dengan realitas yang ada. Untuk itulah beliau kemudian menyusun tulisan sebagai counter dari serang-serangan yang selalu dilancarkan oleh Al-Albani, agar umat Islam sedunia mengerti dan paham, apa sesungguhnya misi dan visi seorang Al-Albani.

Judul buku itu dalam bahasa arab adalah : Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid'atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid'ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.

Dalam pandangan saya, kita memang tidak boleh terlalu fanatik dengan mazhab fiqih. Maksudnya, pendapat para ulama itu mungkin benar dan mungkin juga salah. Namanya juga ijtihad.

Tetapi alangkah kelirunya kalau pendapat para ulama itu kita benturkan dengan Quran dan Sunnah. Tidak akan pernah terjadi hal itu. Sebab pendapat para ulama itu justru lahir dari Quran dan Sunnah.

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa seorang Al-Albani ketika membaca Quran dan Sunnah, lalu dia pun berjtihad dengan pendapatnya. Apa yang dia katakan tentang Quran dan Sunnah, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra'yu dia sendiri. Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang dia sampaikan semata-mata lahir dari kepalanya sendiri.

Sayangnya, para pendukung Al-Albani diyakinkan bahwa yang keluar dari mulut Al-Albani itulah isi dan makna Quran yang sebenarnya. Lalu ditambahkan bahwa pendapat yang keluar dari mulut para ulama lain termasuk pada imam mazhab dianggap hanya meracau dan mengada-ada. Naudzu billahi min dzalik.

Disinilah letak ketidak-adilan para pendukung Al-Albani. Seolah-olah mereka mendudukkan Al-Albani sebagai orang yang paling mengerti dan paling tahu isi Quran dan Sunnah. Apa pun yang dikatakan Al-Albani tentang pengertian Quran dan Sunnah, dianggap kebenaran mutlak. Sedangkan kalau ada ulama lain berbicara dengan merujuk kepada Quran dan Sunnah juga, dianggap sekedar ijtihad dan penafsiran.

Padahal kapasitas Al-Albani yang sebenarnya bukan ahli tafsir, juga bukan ahli fiqih. Bahkan sebagai ahli hadits sekalipun, banyak para ulama hadits di masa sekarang ini yang masih mempertanyakan kapasitasnya. Sebab secara tradisi, seorang ahli hadits itu idealnya punya guru tempat dia mendapatkan riwayat hadits. Al-Albani memang tidak pernah belajar hadits secara tradisi lewat perawi dan sanad, sebagaimana umumya para ulama hadits. Al-Albani hanya sekedar duduk di perpustakaan membolak-balik kitab, kemudian tiba-tiba mengeluarkan statemen-statemen yang bikin orang bingung.

Al-Albani adalah tokoh hadits yang cukup kontroversial. Setidaknya menurut sebagian kalangan. Baik di kalangan ulama hadits sendiri, apalagi . di kalangan ulama fiqih. Tetapi yang menarik, Al-Albani memang sangat produktif dalam menerbitkan buku. Dan dahsyatnya, buku-buku karyanya memang cukup menghebohkan dunia ilmu syariah.

Selama ini para ulama dan ahli ilmu kebanyakan hanya diam saja dan tidak terlalu menanggapi ulah Al-Albani. Dan hanya sedikit ulama yang secara serius menanggapi dan meladeninya. Salah satunya yang pernah langsung menghadapinya adalah Dr. Said Ramadhan Al-Buthy.

Kalau tertarik membaca bukunya, silahkan download disini [klik]. Tapi mohon maaf buku ini masih dalam versi Arabnya. Dahulu pernah diterbitkan dalam bahasa Indonesia, tapi entah bagaimana, ketika saya baca versi terjemahannya, saya malah semakin bingung. Makanya saat ini saya sedang meminta salah seorang ustadz untuk menterjemahkan ulang dengan bahasa yang lebih komunikatif.

Namun artikel itu saya angkat bukan dengan niat untuk menjelekkan atau melecehkan, apalagi merendahkan seorang Al-Albani. Dalam beberapa tulisan, saya pun banyak memuji beliau, bahkan saya banyak juga mengutip pendapat beliau. Namun dalam dunia ilmiyah, mengkritik pendapat seseorang bukan hal yang tabu. Justru semakin terbuka seseorang atas kritik, semakin tinggi nilai kemampuan ilmiyahnya.

Kalau saya menampilkan kritik atas pendapat Al-Albani, jangan dianggap saya membenci beliau. Sebaliknya, justru karena saya menyukai beliau. Tapi kadang adik-adik kelas saya yang baru saja belajar agama, sering kali salah tanggap. Dikiranya kalau seseorang sudah mengkritik Al-Albani, seolah dianggap memusuhinya.

Nah, semoga tulisan ini tidak dianggap sebagai 'serangan' kepada mereka.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber:

http://www.warnaislam.com/syariah/hadis/2009/12/4/2760/Paham_Anti_Mazhab_Ingin_Meruntuhkan_Syariah_Islam.htm

Senin, 17 Januari 2011

Kemajuan Umat Islam

Timbul pertanyaan dikalangan kita mengapa kemajuan umat Islam tertinggal dibandingkan dengan kaum Barat khususnya kaum non muslim.

Kemajuan umat Islam sangat-sangat tergantung dari pengetahuan, pemahaman dan pengamalan tentang IHSAN bagi seluruh umat Islam.

Ihsan adalah seolah-olah melihat Allah atau yakin bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan

Dengan syarat minimal dari Ihsan bahwa setiap umat Islam harus dapat meyakini bahwa Allah ta'ala melihat segala perbuatan kita dapat mengatasi masalah korupsi, ketidak adilan, mafia pajak, mafia hukum dan masaah-masalah lainnya yang diakibatkan perbuatan yang telah dilarang oleh Allah ta'ala yang menciptakan kita.

Coba kita bayangkan bagaimana kemajuan umat Islam di negeri kita jika tidak ada sama sekali korupsi dan keadilan ditegakkan oleh para penguasa/pemimpin

Hal itu bisa terwujud jika umat Islam secara umum atau khususnya para penguasa maupun aparat pemerintah, malu dengan Allah ta'ala yang begitu dekat dan bagi mereka yang belum dapat merasakan kedekatan denganNya, minimal meyakini bahwa Allah ta'ala melihat seluruh perbuatan mereka.

Sungguh Allah itu dekat, sesuai dengan firman Allah yang artinya

Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah: 85).

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" ( Al Baqarah: 186).

Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )

Saat ini kesalahpahaman telah terjadi, meluas dan sistematik, sebagian umat Islam meyakini bahwa Allah ta'ala bertempat di tempat yang begitu tinggi yakni di atas arasy (cipataanNya yang paling tinggi) sehingga secara tidak disadari umat Islam tidak merasakan kedekatan dengan Alah ta'ala

Allah itu dekat itu bukan berarti bahwa Allah ta’ala itu bertempat di bumi , di langit atau di mana-mana. Maha suci Allah ta’ala dari “di mana”.

Allah itu dekat dapat kita yakini dengan sifatNya, namaNya dan perbuatanNya sedangkan sifatNya,namaNya dan perbuatanNya tidak berpisah dengan dzatNya.
Jadi dengan sifatNya,namaNya dan perbuatanNya, atas kehendakNya kita dapat menjadi seolah-olah melihat dzatNya inilah yang dinamakan dengan Ihsan

Dari sifat 20 Allah ta'ala kita paham dan yakin bahwa Allah itu wujud (ada) , mustahil tidak ada (adam).

Kita secara syariat ada karena Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim nya Allah ta'ala.

Coba bayangkan jika seluruh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, penciuman/rasa itu tidak diberikan oleh Allah yang maha pengasih dan penyayang , apakah kita ada ?

Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

Lalu pada bagian manakah dari agama Islam kita dapat mengetahui tentang Ihsan.
Tentang Ihsan atau tentang Akhlak diuraikan dalam Tasawuf dalam Islam.

Dengan tasawuf dalam Islam kita dapat mengetahui tentang akhlak yakni bagaimana kita berakhlak sebagai hamba Allah dengan Allah ta'ala, bagaimana kita berakhlak dengan ciptaanNya yang lain seperti alam, tumbuh2an, hewan dan termasuk bagaimana kita berakhlak dengan sesama manusia.

Baik, kita sedikit masuk ke dalam tasawuf dalam Islam.

Pada hakikatnya kita mengenal Allah ta'ala sejak kesaksian kita sewaktu di rahim ibu sampai kita dewasa.

Kesaksian kita sewaktu di rahim Ibu
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Namun sayangnya kita lupa akan kesaksian tersebut dipengaruhi beberapa hal yang pada awalnya keadaan fitri (suci). Silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/01/posisi-di-sisi-allah/

Dari keadaan fitri (bagaikan kertas putih) berubah karena pengaruh orang tua, guru dan lingkungan terhadap pemahaman agama. Pokok-pokok agama Islam yakni, tentang Islam (rukun Islam/Fiqih), tentang Iman (rukun iman/Ushuluddin/I’tiqad) dan tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam).

Umumnya kita diajarkan lebih mengutamakan dua pokok saja yakni tentang Islam dan Tentang Iman namun umumnya sebagian ulama tidak mengajarkan dan membimbing tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam) karena belum paham atau salah paham. Sebagaiman yang kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/20/tasawuf-dalam-islam/

Padahal dalam dunia Tasawuf dalam Islam dikenal
Awaluddin makrifatullah, awal-awal agama ialah mengenal Allah
Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, (dzohir atau “mata kepala”)
tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”. (dilihat oleh hati atau bashirah, “mata hati”)

Sayyidina Ali ra, merupakan khalifah penutup dari Khulafaur Rasyidin yang empat, beliaulah yang lebih khusus menyiarkan tentang Ihsan atau akhlak atau tasawuf dalam Islam. Silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/15/2010/11/04/nasehat-sayyidina-ali-ra/

Sayang sekali sebagian umat muslim tidak atau belum mendalami apa yang beliau syiarkan karena terganggu oleh "pencitraan" terhadap Sayyidina Ali ra yang dilakukan oleh saudara-saudara muslim kita kaum Syiah

Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu”.

Terjadi perbedaan pemahaman tentang Sayyidina Ali ra sebagai imam dan khalifah antara kaum Syiah dengan kaum Ahlussunnah Wal Jama'ah atau disingkat Sunni
Silahkan baca tulisan (bagian akhir) pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/siapakah-wali-allah/

Perbedaan pemahaman inilah salah satunya gangguan bagi kemajuan umat Islam

Jadi kesimpulan kami kemajuan umat Islam sangat-sangat tergantung dari pengetahuan, pemahaman dan pengamalan tentang IHSAN bagi seluruh umat Islam.

Wassalam