Tampilkan postingan dengan label I'tiqad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I'tiqad. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Februari 2011

Abdullah Hamba Allah

Abdullah artinya hamba Allah

Kita paham bahwa Abdullah artinya hamba Allah. Namun sebagian muslim  ada yang meyakini bahwa ayahanda Rasulullah, Abdullah pastilah masuk neraka karena menurut mereka ayahanda Rasulullah termasuk orang kafir.

Kami belum bisa mengerti mengapa pemahaman seperti itu tersebar cukup luas. Pemahaman seperti itu sejalan dengan penyebar luasan keyakinan/i'tiqad "pemisahan" Allah ta'ala. Mereka memahami bahwa dzatNya bertempat di atas Arasy sedangkan Allah itu dekat dengan ilmuNya. Maha suci Allah dari "di mana" dan "bagaimana".

I'tiqad "pemisahan" Allah, serupa dengan keyakinan orang-orang Nasrani bahwa Tuhan bertempat di surga sedangkan Yesus yang dekat dengan manusia. Selain kita membantah trinitas, kita juga paham bahwa surga adalah salah satu ciptaan Allah ta'ala dan Allah ta'ala tidak membutuhkan ciptaanNya atau Allah ta'ala tidak membutuhkan tempat.

Ini semua akibat konsep yang kami katakan dengan konsep "terjemahkan saja". Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/

Kita harus berhati-hati dengan propaganda yang dilakukan oleh orang-orang yang telah diperingatkan bagi kita oleh Allah ta’ala yakni “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Untuk mudahnya orang-orang yang seperti itu kita sebut saja "Kaum SPILIS" (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme) karena sesengguhnya orang-orang Yahudi dan orang-orang musyriklah yang atas kehendak Allah ta'ala mereka menyebarkan paham-paham tsb. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/

dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/2010/01/26/kekeliruan-pluralisme/

dan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia

Orang-orang Nasrani adalah termasuk orang-orang yang terkena pengaruh kaum SPILIS atau orang Yahudi dan orang Musyrik. Mereka "berpura-pura" menjadi pengikut Nabi Isa as dan mereka mensesatkan orang-orang Nasrani atas kehendak Allah Azza wa Jalla. Sehingga orang-orang Nasrani tersesat dengan konsep trinitas, "pemisahan" Allah, padahal sejak Nabi Adam a.s sampai dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan tentang tauhid, atau pada hakikatnya mengajarkan Islam dan seluruh nabi telah bersyahadah.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata:  ‘Setiap kali Allah swt. mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah swt. menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah saw. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )

“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/agama-hanya-islam/

Sayang sekali sebagian ulama/syaikh/ustadz ada pula yang terkena propaganda kaum SPILIS karena mereka menerima konsep dari kaum SPILIS yakni konsep "terjemahkan saja"

Kalau konsep “terjemahkan saja” dapat diterima oleh saudara-saudara kita yang telah bersyahadat maka kaum SPILIS akan menyampaikan apa yang mereka pahami terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

Jelas kaum SPILIS membaca dan memahami Al-Qur’an tanpa berwudhu dan mereka tidak akan mendapatkan karunia hikmah (pemahaman yang dalam).

Kaum SPILIS membaca dan memahami Al-Qur’an dan Hadits untuk menumpahkan rasa kebencian mereka kepada kita.

Kesalahan besar sebagian ulama/syaikh/ustadz itu adalah  membiarkan diri mereka (tidak disadari) "bersekutu" dengan 'kaum SPILIS.

Kita tidak membenci orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik, karena mereka memang diciptakan oleh Allah ta'ala dengan peran yang diikuti rasa kebencian/permusuhan.

“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )

Kita tidak membenci mereka namun kita membenci sikap/perbuatan mereka terhadap kita, seperti penjajahan tanah Palestina

Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/

Wassalam

Zon di Jonggol

*****
Bagaimana bahayanya konsep "terjemahkan saja" sehingga sebagian muslim berkeyakinan bahwa Ayahanda Rasulullah termasuk orang kafir, diuraikan salah satunya dalam tulisan berikut ini,

Sumber: http://www.forsansalaf.com/2009/sanggahan-orang-tua-nabi-kafir/

Assalamualaikum
Ana mau tanya menurut akidah habaib bagaimana hukum orang tua nabi mukmin ato musrik?

FORSAN SALAF menjawab :

Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.

Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :
“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.

Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :
لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ?

Kemudian turun ayat yang berbunyi :
{ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Jawaban :

Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab, yaitu :
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)

sampai ayat 129 :
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).

Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.

Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar berikut :

* Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Sebagian ulama’ mentafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya.

Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrohim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhNya dan juga pamanNya.

* Hadits Nabi SAW :

قال رسول الله (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات ))

“ aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”

Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”

* Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala.

Jika anda ingin mengetahui lebih banyak, maka bacalah kitab ‘Masaliku al-hunafa fi waalidai al-Musthafa” karangan Imam Suyuthi.

Kamis, 16 September 2010

Tidak bertempat

Mengapa kaum wahabi atau salaf(i) belum dapat meyakini bahwa seorang muslim dapat seolah-olah melihat Allah swt ?

…أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ …

“…. hendaknya kamu menyembah Allah seakan–akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu .…” (H.R. Muslim)

Mereka berkeyakinan bahwa Allah swt menempati Arsy, sehingga mereka merasa Allah swt itu begitu "jauh"nya karena Arsy adalah tempat yang tinggi. Arsy (Bahasa Arab عَرْش, ‘Arasy) adalah makhluk tertinggi. Sehingga mereka mungkin sukar merasakan kedekatan dengan Allah swt.

Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya, "Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)". (QS Al-'Alaq [96]:19 )

Allah ta'ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur'an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya.

Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim).

Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam;
1. Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
2. Benda Katsif: sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.

Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta'ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al Jawhar al Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda.

Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.

Rasulullah  shallallahu  'alayhi wasallam  bersabda:  “Allah  ada  pada azal  (keberadaan  tanpa  permulaan)  dan  belum  ada  sesuatupun  selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

Makna hadits  ini bahwa Allah ada pada azal  (keberadaan  tanpa permulaan),  tidak  ada  sesuatu  (selain-Nya)  bersama-Nya.  Pada  azal  belum  ada  angin,  cahaya,  kegelapan,  'Arsy,  langit,  manusia,  jin,  malaikat,  waktu,  tempat  dan  arah. Maka  berarti  Allah  ada  sebelum terciptanya  tempat  dan  arah,  maka  Ia  tidak  membutuhkan  kepada keduanya  dan  Ia  tidak  berubah  dari  semula,  yakni  tetap  ada  tanpa tempat  dan  arah,  karena  berubah  adalah  ciri  dari  sesuatu  yang  baru (makhluk).

Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya: "Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)" (diriwayatkan oleh Abu Nu'aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya', juz I hal. 72).

Maksud perkataan sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran.

Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah mengatakan: "Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil".

Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah bahwa ruang kosong yang diisi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda.

Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat,  hlm.  506,  mengatakan:  "Sebagian  sahabat  kami  dalam menafikan  tempat  bagi  Allah mengambil  dalil  dari  sabda  Rasulullah shalllallahu 'alayhi wa sallam:

Maknanya:  "Engkau  azh-Zhahir  (yang  segala  sesuatu menunjukkan akan  ada-Nya),    tidak  ada  sesuatu  di  atas-Mu  dan  Engkaulah  al Bathin  (yang  tidak  dapat  dibayangkan)  tidak  ada  sesuatu  di  bawah-Mu" (H.R. Muslim dan lainnya).

Jika  tidak  ada  sesuatu  di  atas-Nya  dan  tidak  ada  sesuatu  di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat".

Allah tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam ini termasuk tempat, sebagaimana firman Allah swt yang artinya

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS Al Ankabut [29]:6 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Minggu, 25 Juli 2010

Firqah Musyabbihah

Firqah MUSYABBIHAH adalah firqah dengan pemahaman yang menyerupakan Allah dengan Makhluk :
- Bersifat BENDA
- Punya organ tubuh (MUJASIMAH)
- Mengambil tempat di tempat tertentu
- Terikat dengan arah tertentu
- Melakukan gerakan transposition : turun, datang.

Pembahasan tentang Firqoh Musyabbihah secara lebih detail ada di kitab :
- Maqolat Islamiyyin karangan Imam Abu Hasan Asy'ari.
- Al Farq Bain Al Firaq karangan Imam Abu Qahir Muhammad Al Baghdadi.
- Al Milal Wa An Nihal karangan Imam Syarastani.

Siapakah kaum MUSYABBIHAH ?

Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al Jami li Ahkaam Al Qur'an (Tafsir Qurthubi) dalam penafsirannya tentang lafadz "Tsumma ASTAWA" pada QS Al Baqarah : 29 menjelaskan secara ringkas :

"...Ayat ini termasuk musykilat (sulit dipahami). Berkaitan dengan ayat musykilat ini para ulama terbagi menjadi tiga kelompok :

Kelompok pertama : Kita membacanya dan mengimaninya, tetapi tidak boleh menafsirkannya.

Kelompok kedua : Kita membacanya dan boleh menafsirkannya sesuai (dzahirnya) bahasa. Ini adalah pendapat AL-MUSYABBIHAH (yang menyerupakan Allah dengan makhluk).

Kelompok ketiga : Kita membacanya dan boleh mentakwilkannya serta mengalihkan maknanya kepada makna yang layak bagi Allah.

Penjelasan yang hampir sama dijelaskan oleh Imam Badaruddin Zarkasy (lahir : 745H – wafat : 794H) menerangkan dalam kitabnya “Al Burhan fi ‘Ulumil Quran”

‘Sesungguhnya telah terjadi perbedaan pendapat dalam mengartikan ayat-ayat mutasyabih atas 3 aliran :

1. Golongan pertama yang memperlakukan ayat-ayat itu menurut lafazhnya yang dzahir, tidak boleh dita’wilkan sedikitpun. Cara yang begini dianut oleh firqah Musyabbihah.

2. Golongan kedua ialah golongan yang berpendapat bahwa ayat-ayat yang mutasyabih itu mesti dita’wilkan, yaitu dialihkan artinya ke arti lain, tetapi apa “arti lain” itu kita tidak tahu, serahkan saja kepada Tuhan yang paling mengetahui, tetapi kita tetap mengi’tiqadkan bahwa Tuhan itu Maha Suci dari akan menyerupai makhluk dan Maha Suci dari akan tidak mempunyai sifat. Cara yang begini adakah aliran Salaf.

3. Golongan ketiga ialah golongan orang-orang Khalaf yang menta’wilkan ayat-ayat mutasyabih, yaitu mengalihkankan artinya ke arti lain yang layak bagi Allah.

Saat ini ada suatu kaum menyerupai kaum Musyabbihah

Kaum Musyabbihah artinya kaum yang menyerupakan.

Kaum Musyabbihah digelari kaum Musybih (menyerupakan) karena mereka menyerupakan Tuhan dengan makhlukNya.

Mereka mengatakan bahwa Allah, bertangan, bermuka, berkaki, bertubuh seperti manusia,

Kaum Musyabbihah memfatwakan bahwa Allah bermuka dan bertangan.

Mereka mengemukakakn dua dalil dari ayat al-Qur'an yaitu, yang artinya

'Dan yang kekal muka Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (Ar- Rahman : 27)

"Tangan Tuhan di atas tangan mereka" (al Fath : 10)

Kaum Musyabbihah mengatakan bahwa dalam ayat-ayat ini nyata benar bahwa Tuhan mempunyai muka dan itulah yang kekal dan mempunyai tangan yang lebih tinggi dari tangan manusia.

Kaum Musyabbihah berpendapat bahwa Allah itu duduk/bersemayam di atas Arsy.

Dalil yang dikemukakannya ialah, yang artinya

"Ar Rahman itu duduk / bersemayam di atas 'Arsy" (Thaha : 5)

Kaum Musyabbihah mengatakan bahwa Tuhan di atas langit

Dallil yang dikemukakannya ialah, yang artinya

"Adakah kamu merasa aman dengan yang ada di langit, bahwa kamu akan ditenggelamkan ke dalam bumi ketika ia bergoncang dengan kerasnya" (al Mulk: 16)

Dalam sebuah hadits yang panjang yang tersebut dalam kitab Hadits Bukhari, bahwa Saidina Umar Rda, memanggil Ibnu Abbas berkumpul bersama Sahabat-Sahabat tertua, yaitu sahabat-sahabat yang menghadiri peperangan Badara.
Saidina Umar bertanya kepada mereka:
Artinya :
Bagaimana pendapatmu tentang ayat “apabila datang pertolongan Tuhan dan kemenangan” ?
Jawab sebagian mereka: Kita diperintah apabila datang pertolongan Tuhan dan kemenangan supaya memperbanyak Tahmid dan Tasbih.
Sebagian sahabat yang lain tidak menjawab.
Dan engkau hai Ibnu Abbas, Bagaimana pendapatmu?
Jawabku: Tidak, bukan begitu, itu adalah ajal Rosulullah diberi tahukan sudah dekat. Apabila datang pertolongan Tuhan dan kemenangan itu suatu tanda bahwa ajal engkau sudah dekat. Pada ketika itu tasbihlah, tahmidlah dan istighfarlah karena Tuhan itu penerima taaubat.
Lalu Saidina ‘Umar berkata : Saya baru sekarang mengetahui arti serupa itu (HSR Bukhari – Shahih Bukhari III hal 158 ).
Berkata Iman Ibnu Hajar Asqalani pada ketika mensyarahkan hadits ini, bahwa ini adalah suatu pertanda boleh menta’wilkan Quran, dengan apa yang difahamkan dari isyarat-isyarat. Yang mengerjakan yang demikian adalah orang-orang yang dalam ilmunya (Fathul Bari Syarah Bukhari juz 10 halaman 367)

Masalah ayat atau hadist tasybih (kesaruan makna) atau mutasyabihat  dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1. Pendapat Tafwidh Ma’attanzih
2. Pendapat Ta’wil

Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah swt, dengan I’tiqad Tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu’minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yang juga dipegang oleh Imam Abu Hanifah (imam hanafi).

Madzhab Takwil yaitu menakwilkan ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan dan Keagungan Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari, Imam Nawawi dll. (Syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)

Dengan Takwil kita dapat pula menghindari dari kekufuran.

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad menyatakan:

"Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri"

“Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Wassalam


Sabtu, 03 Juli 2010

Di mana Allah

Sebagian muslim memahami hadits secara dzahir, lahiriah atau tekstual tentang Jariyah ( budak perempuan ) yang ditanya Rasulullah SAW, “Dimanakah Allah” . ( Shahih Muslim no:537).

Kita ketahui bahwa pertanyaan / dakwah disesuaikan dengan keadaan si penerima pertanyaan / dakwah maupun suasana kejadian pada saat itu. Hal ini sudah saya tuliskan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/06/di-atas-langit/

dan dari sumber lain, silahkan baca tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/12/hadits-jariyah/

.

Kali ini saya menyampaikan perkataan Imam Al Qusyairi

Imam al Qusyairi mengatakan,

” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.

Ketika saya sampaikan perkataan Imam al Qusyairi kepada mereka , mereka balik bertanya ”Mengapa mengikuti perkataan Imam al Qusyairi, seorang ulama Sufi  yang wafat tahun 465H, bukan shahabat, bukan tabi'in) yang melarang bertanya "Dimana Allah?"

Inilah yang saya sedihkan, apakah ulama yang bukan sahabat atau tabi'in atau tabi'ut tabi'in jauh dari kebenaran ?

Pendapat ulama, wajib kita periksa dengan Al-Qur'an dan Hadits.

Imam Qusairy tidak melarang , namun beliau mengatakan ”Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya" , ini sangat sesuai dengan firman Allah yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”. (QS.al-Syura : 11).

Secara dzahir atau dengan "mata kepala", tidak akan mendapatkan jawaban "bagaimana Dia" atau "dimana Dia". Begitu pula tidak akan mendapatkan jawaban jika hanya dengan diskusi berkepanjangan saja.

Oleh karenanya Imam Qusairy memberitahukan jalan untuk mendapatkan jawaban dimanakah Allah, dengan jalan  kita menjadi “penyaksi” (asy syahid) dengan “mata hati” atau bashirah



“Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Inipun sesuai dengan Al-qur'an bahwa untuk mengambil pelajaran akan ayat-ayat mutasyabihat adalah orang-orang berakal (ulil albab).

"Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal". (QS Ali Imran : 7)

Allah menyampaikann bahwa orang-orang berakal (ulil albab) adalah,

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 191).

Dan upaya itupun bukan karena amal, perbuatan manusia namun semata-mata kehendak Allah.

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

Jadi menjadi "penyaksi" (as syahid), ihsan (seolah-olah melihatNya), dapat mengenal Allah (ma'rifatullah), sampai (wushul) ke hadirat Allah adalah semata-mata kehendak Allah.

Begitu juga saya sedih atas sebagian muslim yang anti madzhab dengan alasan bahwa imam-imam madzhab tidak maksum atau tidak terbaik.



Padahal mereka kurang tepat mengartikan Salafush sholeh.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya“. HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.

Mereka dipanggil sebagai Salafush Sholeh karena mereka sholeh, baik, berakhlak baik, mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya.

Mereka yakin bahwa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Mereka adalah yang berserah diri (Islam) kepada Allah.

Sehingga mereka mencapai tingkatan muslim yang terbaik yakni Ihsan (muhsin), seolah-olah mereka melihat-Nya walaupun mereka tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat mereka.

Sekarang kita yang jauh dari masa generasi terbaik itu, mulai timbullah sikap “membela diri” yang sesungguhnya adalah memperturuti hawa nafsu. Nah, memperturuti hawa nafsu inilah yang menghijab kita dari “seolah-olah kita melihatNya”

Oleh karenanya orang-orang yang mendalami tasawuf sangat concern dengan masalah menghilangkan hijab, yakni dosa dengan taubat, akhlak, tazkiyatun nafs, dll

Salah satu cara mengingat Allah yang lebih besar keutamaannya adalah Sholat,

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS al Ankabut : 45)

Inilah yang dikatakan "Ash-shalatul Mi'rajul Mu'minin"  , Sholat adalah mi’raj nya kaum mukmin.

Perihal ini sudah saya uraikan dalam tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/20...sholat-khusyu/

Sholat adalah amal / perbuatan yang merupakan kelanjutan atau perwujudan dari syahadat (kesaksian) yang telah diucapkan atau kita janjikan.

Marilah kita wujudkan atau buktikan kepada Allah, apa yang kita ucapkan dan kita janjikan (syahadat) dalam bentuk amal dan perbuatan.

Wassalam

Zon di Jonggol

Lafadz dan Makna Dzahir


Sebagaimana yang disampaikan Salaf, bahwa kami mengimani LAFADZ DZAHIR ayat-ayat Mutasyabihat  (semua dari sisi ALLAH) namun tidak MAKNA DZAHIR dan kami menyerahkan MAKNAnya kepada Allah dan Allah menganugerahkan al-hikmah (pemahaman yang dalam) kepada siapa yang dikehendakiNya, sehingga hambaNya dapat mengambil pelajaran.

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad menyatakan:

"Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri"

“Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat mutasyabihat dan hadits mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Klo boleh disimpulkan , kita tidak akan mendapatkan jawaban jika memulai pertanyaan makna dengan awalan di ........

Allah dalam pengertian makna tidak dapat secara dzahir, tekstual atau harfiah, Dia tidak di bumi, tidak di langit dan tidak di mana-mana

Kita tidak bisa berbicara tentang Allah secara bermakna. bagaimana kita bisa memahami tentang Dia, sedang kata-kata yang ada hanya melemparkan kita keluar dari seluruh konsepsi manusia.

Seperti,

Aku adalah dekat, Allah Maha Tinggi

Al awwalu wal akhiru (Dia yang Awal dan yang akhir),

Dia yang tampak dan yang tersembunyi (Al dhahiru wal bathinu),

cahaya-Nya tidak di timur dan tidak di barat (la syarkiya wa la gharbiya),

tidak laki-laki dan tidak tidak perempuan,

tidak serupa dengan ciptaan-Nya dst….

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani,

"Apakah Anda pernah melihat Tuhan?"

Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?"

"Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab, "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, (dzohir atau "mata kepala))

tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ...". (dilihat oleh hati atau bashirah, "mata hati")

Hakikat keimanan yang dimaksud dengan i'tiqad atau akidah.

Oleh karenanya kita sebagai muslim dapat mengetahui tentang Allah dapat melalui sifatNya yang semuanya Allah berikan petunjuk dalam Al-Qur'an. Ulama-ulama ushuludin mengumpulkan atau merumuskan untuk mengajarkan kepada kita dalam

20 sifat yang wajib (mesti ada) pada Allah

20 sifat yang mustahil (tidak mungkin ada ) pada Allah dan

1 sifat yang harus (boleh ada - boleh tidak) pada Allah.

Ulama yang mengumpulkan atau merumuskan adalah Syaikh Abu Hasan 'Ali al Asy'ari dan Syaikh Abu Mansur al Maturidi

Karena itu orang-orang memberi nama kepada kaum Ahlussunnah wal Jama'ah, juga dengan nama kaum Asya'irah , jama' dari Asy'ari.

Tersebut dalam kitab, "Ihtihaf Sadatul Muttaqin" karangan Imam Muhmammad bin Muhammad al Husni az Zabidi, yaitu kitab syarah dari kitab "Ihya Ulummuddin" karangan Imam Ghazali, pada jili II, hal 6 yang artinya,

"Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal Jama'ah, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikuti rumusan (paham) Asy'ari dan paham Abu Mansur al Maturidi"

Selengkapnya, silahkan baca tulisan pada

http://mutiarazuhud.wordpress.com/20...ah-wal-jamaah/

Dan dalam tasawuf didalami bahwa selain mengenal Allah dengan sifatNya, maka mengenal Allah (ma'rifatullah) dengan berupaya mencapai muslim yang Ihsan (muhsin), seolah-olah melihatNya atau bertemu Allah atau sampai (wushul) ke hadhirat Allah.

Sebagaimana yang disampaikan Sayyidina Ali r.a. bahwa "Bagaimana kita menyembah yang tidak pernah kita lihat?"

Sebagaimana firman Allah yang artinya,

"Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi segala sesuatu. (QS Fushshilat 41:54)

Untuk itulah , untuk menghilangkan keragu-raguan kita wajib beri'tiqad/akidah sesuai apa yang Allah berikan petunjukNya dalam Al-Qur'an dan penjelasan dalam Hadits. Jangan sekedar atau bahkan "buta" mengikuti metode pemahaman orang lain. Kembalilah kepada Al-Qur'an dan Hadits.

Janganlah kita menyia-nyiakan kehidupan di dunia dan dalam keraguan.

Ikutilah sunnah Rasulullah saw, "Zuhudlah di dunia" sehingga mencapai tingkatan orang arif yakni meninggalkan hal-hal yang menyibukkan seorang hamba sehingga melupakan Allah.

Orang-orang arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan jika Allah yang berkenan dan bukan karena keinginan mereka sendiri. Mari kita gunakan waktu sepenuhnya untuk berbekal bagi kehidupan akhirat dengan menyibukkan diri kepada Allah dengan selalu MENGINGAT ALLAH

.

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/10/mengingat-allah/

Wassalam

Zon di Jonggol

Senin, 29 Maret 2010

Taqlid dan Ittiba'

Marilah kita perhatikan beberapa dalil yang biasa dipergunakan sebagian muslim kita untuk mencela sikap taqlid yang dilakukan kaum ahlussunah wal jama'ah

Apabila dikatakan kepada mereka:  "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ?". (Al Maidah : 104)

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al Baqarah : 170)

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". (At Taubah : 31)

Dalam mengartikan ayat ini dikemukakan bahwa pendeta-pendeta itu bukan disembah seperti Tuhan, tetapi dituruti saja perkataan yang mengharamkan yang halal dan  menghalalkan yang haram. Itu berarti sudah menjadikannya menjadi Tuhan.

Maka dapat diambil kesimpulan bahwa dengan dalil tsb untuk melarang taqlid kepada Imam Mujtahid, menganggap bahwa:

  1. Mengikuti Imam Mujtahid itu sama dengan orang kafir yang mengikuti bapaknya yang bodoh-bodoh dalam menyembah berhala.

  2. Imam Mujtahid itu orang bodoh-bodoh yang tidak dapat petunjutk sedikit pun dari Tuhan.

  3. Imam Mujtahid itu menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

  4. Pengikut Imam Mujtahid adalah orang-orang yang menjadikan gurunya menjadi Tuhan.


La haula wala quwwata illa billah ! ini betul-betul terlalu

Ayat  dalam (Surat Al Maidah :  104) dengan Al Baqarah  : 107) itu adalah ayat-ayat yang diturunkan untuk menyatakan hal ihwal orang kafir yang ikut-ikutan saja kepada bapak mereka dalam menyembah berhala.

Ini diterangkan Tuhan dalam ayat surat (At Taubah : 31), dimana dinyatakan bahwa mereka mengambil pendeta-pendetanya dan padri-padrinya dan Isa bin Maryam menjadi Tuhan selain Allah.

Ayat ini tidak tepat dipakai untuk orang Islam yang mengikut Imam Mujtahid, karena:

  1. Imam Mujtahid bukan mendakwakan dirinya Tuhan.

  2. Imam-imam Mujtahid bukanlah orang-orang yang tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula orang-orang yang tidak menurut jalan kebenaran.

  3. Imam Mujtahid bukanlah orang-orang yang tidak berakal dengan tidak dapat menimbang buruk dan baik.

  4. Pengikut Imam Mujtahid bukanlah orang-orang yang menyembah guru atau menyembah Imam, tetapi hanya menghormati Imam dan mengikutinya.


Jadi tegasnya ayat-ayat ini tdak boleh dan tidak tepat dipakai untuk dijadikan dalil pelarang ummat Islam mengikut  Madzhab-madzhab.

Ada sebagian muslim “membedakan” antara taqlid (mengikuti) dan ittiba’ (mengikuti).

Mereka berkata, bahwa arti taqlid adalah mengikuti orang lain tanpa diketahui dalil-dalilnya dan ittiba’ mengikuti orang lain dengan mengetahui dalil-dalilnya.

Kalau begitu perlu kita bertanya:

  1. Dari mana diambilnya arti taqlid dan ittiba’ yang begitu ?

  2. Apakah ada Allah dan Rasul mengatakan begitu ?

  3. Apakah kedua-duanya tidak sama-sama berarti mengikut (taqlid kepada Mujtahid)? Kalau sama, kenapa dibeda-bedakan hukumnya ?


Dilihat dalam kamus, “tabi’a” artinya mengikut / berjalan di belakang (lihat Munjid hal 56 – Al Mu’tamad hal 58 – Qamus al Munjib juz 3 halaman 8, Adz Dzhabi hal 46).

Tidak ada sebuah kamus pun yang mengartikan arti “ittiba” itu mengikut orang lain dengan mengetahui dalilnya.

Dan perkataan ittiba’ di dalam Al-Qur’an dipakai untuk segala macam, ada yang dipakai untuk hal yang baik, ada untuk hal yang buruk.

Untuk hal yang baik :

a. Ikutlah Agama Ibrahim   (An Nisa : 125)

b. Ikutlah apa yang diwahyukan kepadamu  (Al Ahzab : 2)

c. Ikutlah saya, Tuhan akan mengasihimu  (Imran : 31)

d. Ikutlah jalan orang yang kembali kepada Ku   (Luqman : 15)

e. dan banyak lagi yang lain

Untuk hal yang buruk :

a. Maka mengikut akan dia Syetan   (Al A’raf : 174)

b. Maka mengikut akan mereka Fir’aun  (Thaha : 78).

c. Jangan diikuti jalan orang berbuat binasa  (Al A’raf: 142)

d. Jangan diikuti hawa nafsu   (Shad : 26)

c. dan banyak lagi yang lain.

Kesimpulannya, kalau kita lihat dan perhatikan kitab kamus atau kita lihat didalam Al-Qur’an, tidak dijumpai arti ittiba' mengikut orang dengan mengetahui dalilnya,  sebagai yang dibuat-buat.

Demikianlah yang diuraikan KH. Siradjuddin Abbas dalam bukunya, "Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i" yang diterbitkan  Pustaka Tarbiyah Baru.

Ciri-ciri sebagian muslim yang berprinsip tsb  sbb:

  • Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan

  • Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama. dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.


Mereka telah "menggunakan" firman Allah sebagai dalil dengan maksud/tujuan tertentu.

Dibeberapa tulisan mereka menyatakan seperti ini

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mencela taqlid dalam Kitab-Nya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah” [AtTaubah :31]

http://www.almanhaj.or.id/content/2194/slash/0

Mereka “menggunakan” ayat-ayat tersebut dengan mengatakan bahwa Allah telah mencela taqlid ?

Hal ini mengingatkan penulis pada apa yang disampaikan Saidina Ali Rda, “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan maksud/tujuan yang salah).

Wallahu a'lam

Rabu, 10 Februari 2010

Riwayat Ahlussunah Wal Jamaah

Riwayat i'tiqad (aqidah) Ahlussunah Wal Jamaah


Pada masa hidup Nabi Muhammad SAW, semuanya mudah dan gampang, karena segala sesuatu dapat ditanyakan kepada beliau. Perselisihan paham timbul sesudah Nabi wafat

Yang teramat mulia Nabi Muhammad SAW. Wafat tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriah,  sesuai  dengan 8 Juni 632 M. Pada hari wafat beliau sekumpulan kaum Anshar ( Sahabat-sahabat Nabi yang berasal dari Madinah ) berkumpul di suatu Balairung yang bernama SAQIFAH BANI SA’IDAH untuk mencari khalifah ( pengganti Nabi yang sudah wafat ).

Kaum Anshar ini dipimpin oleh Sa’ad bin Ubadah ( Ketua kaum Anshar dari suku Khazraj ). Mendengar hal ini kaum Muhajirin ( Sahabat-sahabat dari Mekkah yang pindah ke Madinah ) datang bersama-sama ke Balairung itu, dengan dipimpin oleh Saidina Abu Bakar Shiddiq Rda.

Sesudah terjadi perdebatan yang agak sengit antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin yang setiapnya mengemukakan calon dari pihaknya, bersepakatlah mereka mengangkat Sahabat yang paling utama Saidina Abu Bakar Shiddiq sebagai Khalifah yang pertama.

Perdebatan ketika itu hanya terjadi antara golongan kaum Anshar yang mengemukakan Sa’ad bin Ubadah sebagai calonnya dengan kaum Muhajirin yang mengemukakan Saidina Umar bin Khatab atau Saidina Abu Bakar sebagai calon-calon khalifah Nabi.

Dalam rapat itu tidak ada seorangpun yang mengemukakan Saidina’Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah pertama pengganti Nabi. Paham kaum Syi’ah belum ada ketika itu. Yang ada hanya kaum Anshar dan kaum Muhajirin, tetapi ternyata bahwa perselisihan paham antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin tidak menimbulkan firqah dalam ushuluddin, karena perselisihan pendapat sudah selesai dikala Saidina Abu Bakar sudah terangkat dan terpilih secara aklamasi ( suara sepakat ).

Pada tahun 30 Hijriyah timbul paham Syi’ah yang diapi-apikan oleh Abdullah bin Saba’ yang beroposisi terhadap Khalifah Saidina Utsman bin Affan.  Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang masuk Islam. Ketika ia datang ke Madinah tidak begitu dapat penghargaan dari Khalifah dan juga dari ummat Islam yang lain. Oleh karena itu ia jengkel.

Sesudah terjadi “peperangan Siffin”, peperangan saudara sesama Islam, yaitu antara tentara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan tentara Mu’awiyah bin Abu Sofyan ( Gubernur Syria ) pada tahun 37 Hijriyah timbul pula firqah Khawarij, yaitu orang-orang yang keluar dari Saidina Mu’awiyah Rda. dan dari Saidina ‘Ali Rda. .

Pada permulaan abad ke II H timbul pula Kaum Mu’tazilah, yaitu kaum yang dipimpin oleh Washil bin Atha’ (lahir 80 H – wafat 113 H) dan Umar bin Ubeid (Wafat 145 H).

Kaum Mu’tazilah ini mengeluarkan fatwa yang ganjil-ganjil, yang berlainan dan berlawanan dengan i’tikad Nabi dan sahabat-sahabat beliau.

Di antara fatwa-fatwa yang ganjil dari Kaum Mu’tazilah itu, ialah adanya “manzilah bainal manzilatein”, yakni ada tempat di antara dua tempat, ada tempat yang lain selain syurga dan neraka.

Banyak lagi fatwa-fatwa kaum Mu’tazilah, umpamanya fatwa yang mengatakan bahwa sifat Tuhan tidak ada, bahwa Qur’an itu makhluk, bahwa mi’raj Nabi hanya dengan ruh saja, bahwa pertimbangan akal lebih didahulukan dari hadist-hadist Nabi, bahwa syurga dan neraka akan lenyap, dan lain-lain fatwa yang keliru.

Kemudian timbul pula paham Qadariyah yang mengatakan bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh manusia sendiri, tidak sangkut-paut dengan Tuhan. Hak mencipta telah diberikan Tuhan kepada manusia, sehingga Tuhan tidak tahu dan tidak perduli lagi apa yang akan dibuat oleh manusia.

Kemudian timbul pula paham, Jabariyah yang mengatakan bahwa sekalian yang terjadi adalah dari Tuhan, manusia tak punya daya apa-apa, tidak ada usaha dan tidak ada ikhiar.

Kemudian timbul pula paham Mujassimah, yakni paham yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk, punya tangan, punya kaki, duduk di atas kursi, turun dari tangga serupa manusia, Tuhan adalah cahaya seperti lampu, dan lain-lain kepercayaan.

Kemudian lahir pula paham-paham yang keliru tentang tawasul dan wasilah, tentang ziarah dan istigatsah dari Ibnu. Thaimiyah yang semuanya mengacaukan dunia Islam dan kaum Muslimin.

Kaum Ahlussunah Wal Jama’ah Muncul pada Abad ke III Hijriyah

Sebagai reaksi dari firqah-firqah yang sesat tadi maka pada akhir abad ke III Hijriyah timbullah golongan yang bernama Kaum Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA), yang dikepalai oelh dua orang Ulama besar dalam Ushuluddin, yaitu Syeikh Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari dan Syekh Abu Mansur al Maturidi.

Perkataan Ahlussunah wal Jama’ah kadang-kadang dipendekkan menyebutnya dengan Ahlussunah saja, atau Sunny saja dan kadang-kadang disebut ‘Asy’ari atau Asya'irah, dikaitkan kepada guru besarnya yang pertama Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari.

Sejarah ringkas guru besar ini adalah :

Nama lengkap beliau adalah Abu Hasan ‘Ali bin Ismail, bin Abi Basyar, Ishaq bin Salim, bin Isma’il, bin Abdillah, bin Musa, bin Bilal, bin Abi Burdah, bin Abi Musa al Asy’ari.

Abi Musa ini seorang sahabat Nabi yang terkenal dalam sejarah Islam.

Abu Hasan lahir di Basrah (Iraq) tahun 260 H yakni 55 tahun sesudah meninggalnya Imam Syafi’i Rda dan meninggal di Basrah juga pada tahun 324 H, dalam usia 64 tahun.

Beliau pada mulanya adalah murid dari bapak tirinya seorang Ulama Besar kaum Mu’tazilah, Syeikh Abu ‘Ali Muhammad bin Abdul Wahab al Jabai (meninggal tahun 303 H),  tetapi kemudian beliau taubat dan keluar dari golongan Mu’tazilah itu.

Pada masa itu (abad ke III H) banyak sekali Ulama-ulama Mu’tazilah mengajar di Basrah, Kufah dan Bagdad.

Ada 3 orang Khalifah ‘Abbasiyah yaitu Ma’mun bin Harun ar Rasyid (198 – 218 H), Al Mu’tashim (218 – 227 H) dan Al Watsiq (227 – 232 H) adalah Khalifah-khalifah penganut faham Mu’tazilah atau sekurangnya penyokong-penyokong yang utama dari golongan Mu’tazilah.

Dalam sejarah dinyatakan bahwa pada zaman itu terjadilah apa yang dinamakan “fitnah Qur’an makhluq” yang mengorbankan beribu-ribu ulama yang tidak sepaham dengan kaum Mu’tazilah.

Pada masa Abu Hasan al Asy’ari muda remaja ulama-ulama Mu’tazilah sangat banyak di Basrah, Kufah dan Bagdad. Masa itu masa gilang-gemilang bagi mereka, karena pahamnya disokong oleh pemerintahan.

Imam Abu Hasan termasuk salah seorang pemuda yang belajar kepada seorang Syekh dari Mu’tazilah, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab al Jabai (wafat 303 H).

Pembaca jangan keliru, ini bukan Muhammad bin Abdul Wahab, pembangun Madzhab Wahabi di Nejdi (1115 H – 1206 H).

Imam Abu Hasan al Asy’ari melihat, bahwa dalam paham kaum Mu’tazilah banyak terdapat kesalahan besar, banyak yang bertentangan dengan i’itiqad dan kepercayaan Nabi Muhammad SAW, dan sahabat-sahabat beliau dan banyak yang bertentangan dengan Qur’an dan Hadits.

Maka karena itu beliau keluar dari golongan Mu’tazilah dan taubat kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahannya yang lalu. Bukan saja begitu, tetapi beliau tampil kemuka di garis depan untuk melawan dan mengalahkan kaum Mu’tazilah yang salah itu.

Pada suatu hari beliau naik ke sebuah mimbar di Mesjid Basrah yang besar itu dan mengucapkan pidato yang berapi-api dengan suara lantang yang didengar oleh banyak kaum Muslimin yang berkumpul di situ.

Diantara pidato beliau :

“Saudara-saudara Kaum Muslim Yang Terhormat!

Siapa yang sudah mengetahui saya, baiklah, tetapi bagi yang belum mengetahui maka saya ini adalah Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari anak dari Isma’il bin Abi Basyar. Dulu saya berpendapat bahwa Qur’an itu makhluq, bahwa Tuhan Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di akhirat, dan bahwasanya manusia menjadikan (menciptakan) perbuatannya, serupa dengan kaum Mu’tazilah.

Nah, sekarang saya nyatakan terus terang bahwa saya telah taubat dari paham Mu’tazilah dan sekarang saya lemparkan i’itiqad Mu’tazilah itu seperti saya melemparkan baju saya ini (ketika itu dibukanya bajunya dan dilemparkan) dan saya setiap saat siap untuk menolak paham Mu’tazilah yang salah dan sesat itu” (Zhumrul Islam IV halaman 67).

Dari mulai tanggal itu Imam Abu Hasan Ali al Asy’ari berjuang melawan kaum Mu’tazilah dengan lisan dan tulisan, berdebat dan bertanding dengan kaum Mu’tazilah di mana-mana, merumuskan dan menuliskan dalam kitab-kitabnya i’itiqad-i’itiqad kaum Ahlussunah wal Jama’ah sehingga nama beliau masyhur sebagai seorang Ulama Tauhid yang dapat menundukkan dan menghancurkan paham Mu’tazilah yang salah itu.

Beliau mengumpulkan sebaik-baiknya dari Qur’an dan Hadits paham-paham atau i’itiqad Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabat Nabi, diperincikan dengan sebaik-baiknya.

Beliau mengarang buku-buku Ushuluddin banyak sekali.

Berkata Imam Zabidi, pengarang, Kitab Ittihaf Sadatil Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin : “Imam Asy’ari mengarang sekitar 200 kitab” (lihat Ittihat jilid II pagina 7).

Diantara kitab-kitab karangan Imam Abu Hasan al Asy’ari.

  1. Ibanah fi Ushuluddiyanah, 3 jilid besar.

  2. Maqalaatul Islamiyiin.

  3. Al Mujaz, 3 jilid besar.

  4. Dan lain-lain.


Keistimewaan Imam Abu Hasan al Asy’ari dalma menegakkan pahamnya ialah, dengan mengutamakan dalil-dalil dari Qur’an dan Hadits dan juga dengan pertimbangan aqal dan pikiran, tidak seperti kaum Mu’tazilah yang mendasarkan pikirannya kepada aqal dan falsafah yang berasal dari Yunani dalam membicarakan Ushuluddin dan pula tidak seperti kaum Mujassimah (kaum yang menyerupakan Tuhan dengan  makhluq) yang memegang arti lahir dari Qur’an dan Hadits, sehingga sampai mengatakan bahwa Tuhan bertangan, Tuhan bermuka, Tuhan duduk-duduk diatas ‘arsy, dan lain-lain sebagainya.

Alhamdulillah, Imam Abu Hasan al Asy’ari dapat menegakkan paham yang kemudian dinamai “Paham Ahlussunah wal Jama’ah, yaitu paham sebagaimana diyakini dan dii’tiqadkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW dan para Sahabat-sahabat beliau.

Pada abad-abad berikutnya muncullah ulama-ulama besar kaum Ahlussunah wal Jama’ah yang menyebar-luaskan pengajian-pengajian Imam Abu Hasan al Asy’ari, di antaranya :

  1. Imam Abu Bakar al Qaffal (wafat 365 H).

  2. Imam Abu Ishaq al Asfaraini (wafat 411 H).

  3. Imam al Hafizh al Baihaqi (wafat 458 H).

  4. Imamul Haramain al Juwaini (wafat 460 H).

  5. Imam al Qasim al Qusyairi (wafat 465 H).

  6. Imam al Baqilani (wafat 403 H).

  7. Imam al Gazali (wafat 505 H).

  8. Imam Fakhruddin ar Razi (wafat 606 H).

  9. Imam Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H).


Ulama-ulama yang tersebut adalah Ulama-ulama penganut dan pendukung yang kuat dari paham Ahlussunah wal Jama’ah yang dibentuk oleh Imam Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari.

Kemudian dalam abad-abad seterusnya, banyak muncul Ulama-ulama Ushuluddin di seluruh dunia Islam yang menganut, mempertahankan dan menyiarkan paham Ahlussunah wal Jama’ah yang dibentuk oleh Imam Abu Hasan al Asy’ari ini, di antaranya :

  1. Syeikhul Islam Syeikh Abdullah as Syarqawi (Wafat 1227 H) pengarang kitab Tauhid yang dimasyhurkan dengan nama Kitab Syarqawi.

  2. Syekh Ibrahim al Bajuri (Wafat : 1272 H) pengarang kitab tauhid “Tahqiqul Maqam fi Kifayatil A’wam”, dan kitab “Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid”.

  3. Al Allamah Syeikh Muhammad Nawawi Bantan, seorang Ulama Indonesia yang mengarang kitab, Tauhid “Tijanud Darari”. (Wafat: 1315 H).

  4. Syeikh Zanal Abidin bin Muhammad al Fathani yang mengarang kitab Tauhid bernama “’Aqidatun Najiin fi Ushuliddin”.

  5. Syeikh Husein bin Muhammad al Jasar at Thalabilisi, pengarang kitab Tauhid yang terkenal “Hushunul Hamidiyah”.

  6. Dan lain-lain.


Adapun Imam Mansur Al Maturidi, yang dianggap juga sebagai pembangun Madzhab Ahlussunah wal Jama’ah dalam Ushuluddin nama lengkapnya ialah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud.

Beliau lahir di suatu desa di Samarqand yang bernama “Maturid”. Beliau meninggal di situ juga pada tahun 333 Hijriyah, yaitu 10 tahun sesudah wafatnya Imam Abu Hasan al Asy’ari.

Makam beliau sampai sekarang diziarahi di Samarqand.

Dunia Islam dahulu sampai sekarang menganggap bahwa kedua Imam ini adalah pembangun Madzhab Ahlussunah wal Jama’ah.

Berkata Sayid Mutadha az Zabidi, pengarang kitab “Ittihaf Sadaatul Muttaqin”, yaitu kitab yang mensyarah kitab “Ihya Ulumuddin”, karangan Imam Ghazali :

Artinya :

Apabila disebut “Ahlussunah wal Jama’ah” maka yang dimaksudkan dengan ucapan itu ialah paham atau fatwa-fatwa yang disiarkan oleh Imam Asy’ari dan Abu Mansur al Maturidi (I’tihaf jilid II, halaman 6).

Suatu hal lagi baik juga diketahui bahwa pada umumnya dunia Islam menganggap dalam furu’ syari’at (fikih), yang benar adalah fatwanya Imam-imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, dan dalam Ushuluddin, yang benar dan yang sesuai dengan Qur’an dan Hadits, adalah fatwa kaum Ahlussunah wal Jama’ah.

Kalau pembaca berjalan keliling dunia, dari Barat ke Timur atau dari Utara ke Selatan dan bertanya-tanya tentang Madzhab dalam furu’ syari’at dan dalam i’itiqad di sesuatu daerah Islam, saudara-saudara akan mendapat jawaban begini :

  1. Di Maroko Madzhab Maliki/Ahlussunah wal Jama’ah.

  2. Di Aljazair Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  3. Di Tunisia Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  4. Di Libya Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  5. Di Turki Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  6. Di Mesir Madzhab Hanafi dan Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  7. Di Iraq Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sebagian kecil Syi’ah (Najaf – Karabela).

  8. Di India Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  9. Di Pakistan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sebagian kecil Syi’ah Isma’iliyah (Agha Khan).

  10. Di Indonesia Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  11. Di Pilipina Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  12. Di Thailand Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  13. Di Malaysia Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  14. Di Somali Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  15. Di Sudan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  16. Di Negeria Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  17. Di Afganistan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  18. Di Libanon Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah, sebagian Syi’ah.

  19. Di Hadharamaut Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  20. Di Hijaz Madzhab Syafi’i dan Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sedikit Hambali/Wahabiyah.

  21. Di Nejdi Madzhab Hambali/Wahabiyah.

  22. Di Yaman Madzhab Zaidiyah (Syi’ah), Sebagian Syafi’iyah/Ahlussunah wal Jama’ah.

  23. Di Iran Syi’ah Dua Belas.

  24. Di seluruh daerah Sovyet 90% dari 24.000.000 Muslim adalah Ahlussunah wal Jama’ah/Hanafi, 10% Syi’ah.

  25. Di Tiongkok, Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.


Begitulah daftarnya pada umumnya.

Nampaklah bahwa sebahagian besar ummat Islam di atas dunia pada zaman sekarang adalah penganut dan pendukung paham Ahlussunah wal Jama’ah.

Sumber: I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah, K.H. Siradjuddin Abbas.

File : Aqidah / I'tiqad Ahlusunnah Wal Jama'ah


====================================================

Dari Anas bin Malik ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas.” [HR. Ibnu Majah (3950), Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1220) dan al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (2069).

====================================================

"Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya'irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi" (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.). وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة (الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص: 38) "Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy'ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya'irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari)" (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38). كذلك عند أهل السنة وإمامهم أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي (الفواكه الدواني ج: 1 ص: 103) "Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103) وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج. 1، ص. 151) "Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya'irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Hasyiyah Al-'Adwi, Ali Ash-Sha'idi Al-'Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105). والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص. 4) "Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama'ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu 'anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)" (Hasyiyah At-Thahthawi 'ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4)

==================================================

Pada saat ini kaum Ahlussunah Wal Jamaah (Ahlusunah/ Sunny) adalah kaum yang paling dimusuhi oleh orang-orang Yahudi dan dan orang-orang  Musyrik.  Diberbagai belahan dunia yang menjadi korban peperangan/pembunuhan  orang muslim sebagian besar adalah kaum Ahlussunah Wal Jamaah.

Sebagaimana difirmankan oleh Allah,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat,  kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu.

Secara sederhana dapat diartikan jika ada orang/jamaah/kelompok/organisasi muslim namun sama sekali tidak dimusuhi oleh kaum Yahudi maupun kaum Musyrik artinya ada kemungkinan sudah tersusupi orang mereka atau tersusupi pemikiran mereka yang keliru/sesat atau i'tiqad itu sendiri yang tersesati oleh syetan/iblis.

Wallahu a'lam

File terkait : Ahlussunnah Bantah Ahmad Ibn Taimiyah