Tampilkan postingan dengan label Wahhabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wahhabi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Maret 2011

NU bercerminlah

NU Bercerminlah


Berikut sebuah potret di kalangan ulama NU menghadapi paham Wahhabi
Siang itu, Katib PCNU Jak-Sel disambangi oleh seorang muridnya yang baru saja kembali dari Tanah Suci. Sang murid datang dengan membawa sebuah buku dan kaset yang ia peroleh dari pemerintah Saudi. “Ustadz, saya datang kemari untuk bertanya prihal isi buku dan kaset ini, apakah sejalan dengan ajaran dan faham kita?” sang murid bertanya.
Beliau sempat tertegun sejenak lalu menjawab, “Kitab dan kaset ini memang tidak sejalan dengan faham dan ajaran kita, Ahlussunnah wal jama’ah ‘ala thoriqati Nahdatil ‘Ulama, dan perlu mendapatkan penjelasan agar tidak salah dalam menerapkannya”.
Sumber: http://www.pcnujaksel.com/index.php?option=com_content&view=article&id=53%3Ajamaah-haji-umrah-dan-proses-wahabisasi

Kalangan ulama NU memprihatinkan keadaan warga NU yang menunaikan ibadah haji,  menurut perkiraan mereka sendiri hampir 70% masih awam beragama atau belum memahami dan mendalami agama dengan baik.  Keprihatinan ini kita bisa kita ketahui dari pernyaataan mereka berikut,
“Seandainya dari 207.000 jama’ah haji Indonesia, 40% nya adalah warga Nahdiyyin, maka ada sekitar 82.800 warga Nahdiyyin yang melaksanakan Haji.
Andaikan dari jumlah tersebut terdapat 70 % jama’ah yang tergolong awam (belum memahami dan mendalami agama), maka terdapat 57.960 jama’ah Nahdiyyin yang rawan atau berpotensi terpengaruh ajaran dan faham Wahabi per musim haji. Angka tersebut belum termasuk dari jama’ah Umroh yang ribuan juga jumlahnya.”
Sumber: http://www.pcnujaksel.com/index.php?option=com_content&view=article&id=53%3Ajamaah-haji-umrah-dan-proses-wahabisasi


Keprihatinan tersebut harus diatasi dengan langkah-langkah yang terarah dan terukur, agar agama dapat  dipahami dengan baik oleh mayoritas warga NU.  Kita bisa termasuk munafik jika mengaku ahlussunnah namun dalam kehidupan sehari-hari tidak menjalankan sunnah Rasulullah.

Ada beberapa langkah yang dilakukan kalangan Nahdiyin  dalam menghadapi paham Wahhabi antara lain

Pembentukan kepengurusan Kelompok Anak Ranting (KAR) yang berbasis di masjid dan musholla. Tugas utama kelompok ini adalah sebagai media diskusi seputar agama bagi warga NU.
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8535

Menjawab buku "Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik" karangan H Mahrus Ali
http://www.nu.or.id/page.php/tfiles/File/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=11867

Penerbitan buku “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi” Penulis: Muhammad Idrus Ramli , buku penjelasan kaum Nahdliyyin terkait kritik yang selama ini disematkan kaum salafi/wahhabi terhadap mereka.
http://www.nu.or.id/page.php/tfiles/templates/en/images/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=26868

Namun tampaknya langkah-langkah tersebut hanya diketahui dan dipahami oleh sebagin kecil saja dari warga NU, menurut pendapat kami belum menjangkau 70% yang masih awam beragama .

Perlu langkah cepat dan meluas agar 70% warga NU yang masih awam beragama itu benar-benar dapat menerapkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari-harinya berdasarkan pemahaman agama yang baik.

Indikator keberhasilan bukan dilihat dari kehadiran mereka dalam acara tahlilan, yasinan, muludan, istighotsah atau berbagai acara selamatan namun perlu indikator lain seperti berapa banyak kehadiran jama’ah yang mengikuti sholat wajib 5 waktu di setiap masjid dan musholla.

Mereka yang berpemahaman Wahhabi dengan baik menyiarkan dan menegakkan sunnah Rasulullah. Bahkan salah seorang Banser NU Jember telah mengaku bersalah / bertobat ketika menjadi warga NU. Silahkan lihat video-video berikut

http://www.youtube.com/watch?v=SwFi9Js7FMI
http://www.youtube.com/watch?v=fj-h3p71wfg
http://www.youtube.com/watch?v=YvVXybxCsg4
http://www.youtube.com/watch?v=1iI6CATMeVg
http://www.youtube.com/watch?v=1zPURbwCw9I
http://www.youtube.com/watch?v=ZiJGZEYtJQE
http://www.youtube.com/watch?v=1iI6CATMeVg
http://www.youtube.com/watch?v=SsobgzyPeLk

Dalam salah satu video tersebut mereka mengaku setelah keluar pesantren tidak mempunyai rasa keimanan. Pernyataan ini tentu tidak bisa digeneralisir untuk mengukur sistem pendidikan dikalangan NU, namun setidak-tidaknya menjadi bahan untuk bercermin.

Dari pengakuan mereka menjadikan kita bertanya sebenarnya apa yang dimaksud dengan ajaran ahlussunnah wal jama’ah ‘ala thoriqati Nahdatil ‘Ulama ataukah mereka yang mengaku dalam video tersebut saja yang tidak benar menerapkan ajaran aswaja ‘ala thoriqati Nahdatil ‘Ulama

Mereka bertobat menjadi warga NU dan mengikuti paham Wahhabi yang memang  baik dalam upaya menegakkan Sunnah Rasulullah namun mempunyai beberapa perbedaan dalam pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits..

Kaum Wahhabi, dalam hal mengenal Allah ta’ala salah satunya berpegang pada hadits Jariyah tentang “di mana Allah” dan “Allah di langit” . Maha suci Allah dari “di mana” dan “bagaimana”.

Hadits itu bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat secara naqli dan `aqli. Hadits itu adalah hadits mudltharib, yang disebabkan oleh banyaknya versi dari hadits ini, baik secara redaksional maupun secara sanad hadits. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah sahih tapi syadz dan tidak bisa dijadikan landasan menyangkut masalah akidah.

Begitu juga dalam video tersebut kita dapat diketahui  bahwa kaum Wahhabi memaknai ayat-ayat mutasyabihah secara dzahir contohnya dalam video tersebut mereka menyatakan bahwa Allah ta’ala mempunyai tangan namun tidak serupa dengan makhlukNya.

Padahal memaknai dzahir ayat-ayat mutasyabihat merupakan pangkal kekufuran sebagaimana pendapat Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

Selain perbedaan dalam pengenalan Allah ta’ala, kaum Wahhabi berbeda dalam memahami tentang bid’ah , pembagian tauhid menjadi tauhid Rububiyah dan Uluhiyah,   dan perbedaan pemahaman lainnya yang beberapa telah kami uraikan dalam blog http://mutiarazuhud.wordpress.com

Diluar perbedaan tersebut , kaum Wahhabi terkenal gigih untuk  i’ttiba  (mengikuti) Rasulullah berdasarkan pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an dan Hadits. Itupun mereka i’ttiba dengan memandang Rasulullah adalah manusia biasa dengan perbedaan utama Rasulullah menyampaikan wahyu. Mereka menolak mengagungkan , memuliakan  dan mencintai Rasulullah dengan cara umat muslim pada umumnya. Bagi mereka mencintai  Rasulullah cukup dengan mengikuti (i”ttiba) atau mentaati sunnah Rasulullah.

Muslim yang mengikuti (i’ttiba) Rasulullah belum tentu ia mencintai Rasulullah akan tetapi yang mencintai Rasulullah pasti ia akan berusaha untuk mencari tahu kabar tentang kekasihnya dan akan selalu berusaha untuk mengikutinya.

Kaum NU terkenal mencintai Rasulullah, terbukti dengan adanya muludan, barzanji dan berbagai macam sholawat seperti sholawat nariyah, sholawat baddar dll.  Namun tampaknya kecintaan itu belum diikuti sepenuhnya menegakkan sunnah Rasulullah terbukti dengan perkiraan ulama mereka sendiri bahwa 70% kaum NU yang menjalankan ibadah haji masih termasuk orang awam dalam beragama.

Sudah saatnya ulama  NU bercermin dan lebih memperhatikan kualitas kaumnya dibandingkan membanggakan kuantitasnya. Kualitas kaum merupakan bagian dari tanggung jawab ulama.

Perbedaan pemahaman juga merupakan kehendak Allah Azza wa Jalla namun setiap muslim adalah bersaudara.

Kita harus berlomba dalam kebaikan agar kelak dapat berkumpul dengan Rasulullah, para Nabi,  para Shiddiqin,  Para Syuhada dan Orang-orang sholeh.

Wassalam

Zon di Jonggol , Kab Bogor 16830

Sabtu, 19 Februari 2011

Di manakah Rasulullah

***** awal kutipan *****
Siapa saja yang mati di atas keyakinan seperti ini, yakni meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah manusia biasa alias bukan dari Bani Adam atau meyakini bahwa beliau mengetahui hal yang ghaib; maka ini adalah keyakinan kufur yang pelakunya dianggap sebagai orang kafir karena melakukan kekufuran yang besar
Sumber: http://tamanqolbi.wordpress.com/2010/12/09/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa-rasulullah-bukan-manusia-biasa/ atau
http://fatwaulama-online.blogspot.com/2008/03/hukum-orang-yang-meyakini-bahwa.html
*****akhir kutipan ****

Kami tertarik mengangkat fatwa/ketetapan Syaikh Ibnu Baz yang merupakan dasar pentakfiran bagi mereka, ada dua kriteria di sana berdasarkan adanya kata hubung "atau".

Pertama, pentakfiran berdasarkan "siapa yang meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah manusia biasa alias bukan dari Bani Adam"

Kedua, pentakfiran berdasarkan "siapa yang meyakini bahwa beliau mengetahui hal yang ghaib"

Jika salah satu terpenuhi maka bagi Syaikh Ibnu Baz adalah pelakunya dianggap sebagai orang kafir karena melakukan kekufuran yang besar.

Untuk kriteria kedua jelas fatwa/ketetapan tersebut bisa dibantah dengan
Dibukakan rahasia kegaiban kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. sebagaimana firman Allah swt.; “Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27).

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“. (QS Al Isra [17]:85 )

Sedangkan untuk kriteria pertama ada kalimat "alias bukan dari Bani Adam". Namun kita belum tahu apa maksud perkataan "alias bukan dari Bani Adam" disandingkan dengan "siapa yang meyakini bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah manusia biasa" karena "bukan dari Bani Adam" sudah tidak perlu diperbincangkan lagi.
Namun pertanyaan sesungguhnya apakah Rasulullah itu manusia biasa atau manusia sempurna (insan kaamil).

Kami teringat sebuah keterangan adanya seorang murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan bahwa “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali".
Mohon maaf tulisan di copy paste secara utuh dan dari sumbernya memang tidak terulis Shallallahu Alaihi Wasallam, mohon ampunannya ya Allah, ya Rasululllah, ya Habibullah.

Kalau kami perhatikan para peziarah makam baginda Rasulullah, mulai tampak seperti ibadah ritual fisik semata bahkan sebagian muslim mengatakan bahwa ibadah haji adalah ritual fisik yang memerlukan bekal fisik yang kuat.

Sehingga saudara muslim kita dari malaysia menuliskan curahan hatinya mengenai suasana di dua tanah suci pada blognya silahkan baca http://ibnunajm.blogspot.com/2010/12/10-sebab-kenapa-wahabi-dikatakan.html

Ini cuplikannya
"Hudaibiyah adalah tempat sejarah yang pasti dilawati oleh sesiapa yang ke Mekah. Kejadian yang merupakan strategi paling licik oleh Allah dan Rasul keatas para penentangNya. Perjanjian yang dibuat untuk menipu Allah dan Rasul akhirnya menjadi senjata makan tuan. Islam menang besar hasil menandatangani perjanjian Hudaibiyah oleh Rasulullah SAW terhadap Kafir Quraisy. Sedangkan sejarah Ashabul Kahfi pun masih dibesarkan orang di Amman, inilah pula Hudaibiyah.

Sepatutnya tentulah sebuah muzium besar yang cukup gah dibangunkan di sekitar tempat kejadian terutama perigi dimana Rasulullah SAW meludah kepadanya hingga keluar air!

Tapi kenapakah Wahabi telah biarkan tempat itu menjadi tempat bakar sampah sahaja. Tulisan kecil pun tiada menunjukan itulah tempatnya. Alasan apakah yang boleh mengubat luka hati kami ini wahai Wahabi terhadap perbuatan mu kepada nabi kami? Kenapa kamu benci sangat kepadanya?

Ketika kami membaca tulisan-tulisan itu meneteslah air mata kami, tiada kuasa menahan sedih dan perihnya hati namun kita harus tetap sabar. Semua terjadi pasti atas kehendak Allah Azza wa Jalla juga. KepadaNyalah kita mengadu.

Sekarang coba kami bertanya kepada sauadara-saudaraku Wahhabi atau para pembela Wahhabi yang sempat berkunjung dan membaca blog ini.

Apakah Rasulullah sesudah wafat sebagaimana "orang biasa" ?

Dimanakah menurut keyakinan antum sekalian Rasulullah berada saat ini ?

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Senin, 14 Februari 2011

Waspadai Wahhabi

BACA DAN SEBARKAN LINK ARTIKEL BERIKUT INI!!! 100% HALAL UNTUK DI COPY PASTE!!

WASPADAI TERUS AJARAN WAHHABI!!!

Oleh Ustadz Abou Fateh -Hafizhahullahu-

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=188416944508556&id=351534640896&ref=mf

  1. Para Ulama Telah Membantah Muhammad Ibn Abd Al-Wahhab; Perintis Gerakan Wahhabi, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112485828768335&id=351534640896&ref=mf

  2. Imam Taqiyyudin Abu Bakr al-Husni, penulis kitab Kifayat al-Akhyar, (--herannya kitab ini menjadi salah satu buku rujukan Wahabi--) dalam kitabnya berjudul "Daf'u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad" menuliskan: "Kekufuran Ibn Taimiyah telah disepakati oleh Ulama empat madzhab". klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112479795435605&id=351534640896&ref=share

  3. BACA DAN SEBARKAN!! al Imam Ibn al Jawzi Membongkar Kesesatan Aqidah Tasybih ((( Mewaspadai Ajaran Wahabi ))) klik inihttp://www.facebook.com/note.php?note_id=164430070240577&id=351534640896&ref=mf

  4. Wahabi Punya Akal Sehat Ga Sih???? Dia Yakin Arsy Makhluk Allah; Tapi Dia Bilang Allah bertempat Di arsy!! Na'udzu Billah!!! klikhttp://www.facebook.com/note.php?note_id=139898152693769&id=351534640896&ref=mf

  5. Dalil Kebolehan Mencium Makam Rasulullah Atau Orang-orang Saleh Dari Kitab Wafa' al Wafa (Menohok Ajaran Sesat Wahabi) klik ini http://www.facebook.com/note.php?note_id=160954943921423&id=351534640896&ref=mf

  6. Wahabi Merusak Kitab Nihayah al-Qaul al-Mufid, [[ Ini Buktinya ]], baca dan sebarkan.... tengok kiri kanan jangan sampai ada kerabat kita yang jadi Wahhabi, Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154182567931994&id=351534640896&ref=mf

  7. Dalil Kebolehan Mencium Makam Rasulullah Atau Orang-orang Saleh Dari Kitab Wafa' al Wafa (Menohok Ajaran Sesat Wahabi), baca dan sebarkan. Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=160954943921423&id=351534640896&ref=mf

  8. Hadits Riwayat Imam Muslim Dalam Kitab Shahih Dengan Syarh-nya Tentang Anjuran Tabarruk Dengan Peninggalan Orang2 Saleh, Sementara Wahabi sesat mengatakan tabarruk perbuatan bid'ah dan syirik. Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=162827517067499&id=351534640896&ref=mf

  9. Imam Syafi'i Setiap Hari Ziarah Ke Makam Imam Abu Hanifah Dan Tawassul Dengannya, Sementara Wahabi Mengatakan Syirik Dan Kufur. Waspadai terus ajaran sesat Wahabi.... Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=162829053734012&id=351534640896&ref=mf

  10. Satu catatan untuk Ibnu Utsaimin dan para pengikutnya: "DI MATA KALIAN SENDIRI RAJA KALIAN ADALAH ORANG KAFIR" karena ia berdoa dengan menghadap ke makam Rasulullah... Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=177951145555136&id=351534640896&ref=mf

  11. Dedengkot Wahabi "Berantem" Saling Menyesatkan; Ibnu Bas dan Ibnu Utsaimin [Bukti Nyata Kesesatan Aqidah Wahabi]... baca dan sebarkan!!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=181310078552576&id=351534640896&ref=mf

  12. Ibn al Jawzi Dalam Sifat as Shofwah Menganjurkan Ziarah Ke Makam Orang2 Saleh Dan Tawassul, Sementara Wahabi Mengatakan Syirik Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=162824827067768&id=351534640896&ref=mf

  13. Salah Seorang Ulama Terkemuka Dalam Madzhab Hanafi; Imam Ibn Abidin, MENGATAKAN bahwa Kaum Wahabi SESAT...!!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=150450398305211&id=351534640896&ref=mf

  14. Ibnu Hajar al-Haitami; Ulama Terkemuka Madzhab Syafi'i, Mengatakan: "IBNU TAIMIYAH SESAT" (Menohok Wahabi) Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=150951658255085&id=351534640896&ref=mf

  15. Menohok Kaum Wahabi Yang Anti Tawassul, Dari Tulisan Adz-Dzahabi. Sodorkan Tulisan adz-Dzahabi Ini Kepada Mereka!!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=151512118199039&id=351534640896&ref=mf

  16. Lengkap membahas masalah peray...aan Maulid Nabi dari a sampe z, sangat penting untuk membantah ajaran sesat Wahabi, baca dan sebarkan.... Barakallah fikum!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=153892607960990&id=351534640896&ref=mf

  17. Konyol, salah seorang pemuka Wahabi, bernama al Qanuji, dlm karyanya berjudul "ad Din al Khalish", j. 1, h. 140, brkt: "Taqlid dengan madzhab-madzhab adalah syirik". Ini artinya, menurut dia seluruh umat Islam telah menjadi kafir karena mreka semua bertaqlid kepada empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali). klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154893354527582

  18. Di Atas Arsy Terdapat Tempat [[[ Membongkar Kesesatan Nashiruddin al Albani; Salah Satu Tiang Ajaran Sesat Wahhabi ]]] Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=153597111323873&id=351534640896&ref=mf

  19. Ibnu Taimiyah Dalam Karyanya Mengatakan Bahwa Dari Arah Timur Akan Muncul FITNAH BESAR Dan PANGKAL KEKUFURAN yaitu Fitnah Wahhabi An-Najedi Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154442421239342&id=351534640896&ref=mf

  20. Wahabi mengatakan: "Maulid nabi sesat, ga ada di zaman Rasulullah". heh.. Wahabi, buka dan baca link ini; Imam Kalian; Ibnu Taimiyah al Mujassim mengatakan perayaan maulid nabi pekerjaan yang baik. Katakan oleh kalian: "IBNU TAIMIYAH SESAT". Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154866137863637&id=351534640896&ref=mf

  21. Lagi; Kaum Wahabi "Mengoyak" (mereduksi) Kitab al Adzkar Karya Imam An Nawawi, heh!! mereka ga punya amanat ilmiah, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=160029190680665

  22. Hati2, Ada Dua Orang Bernama Abu Ya’la, Keduanya Orang Berbeda [Sangat Penting Untuk Menghindari Tipu Daya Kaum Wahhabi], klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=185239738159610&id=351534640896&ref=mf

  23. Heh..!"Cium Tangan" Dibilang Mendekati Perbuatan Syirik?! Membasmi Atau Menyebarkan "TBC"??! [Mendudukan Persoalan Dengan Dalil] Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=132078848329&id=1789501505&ref=mf

  24. Nasehat adz-Dzahabi Terhadap Ibn Taimiyah; Bukti Pengakuan Seorang Murid Bagi Kesesatan Sang Guru Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=381439268329&id=1789501505&ref=mf

  25. Wahabi = Khawarij,,,,, Khawarij = Wahabi, demikain tulisan Syekh Shawi dalam Hasyiyah Tafsir al Jalalain, silahkan cek dalam link berikut Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=153873444629573&id=351534640896&ref=mf

  26. Diantaranya, Karena Takwil Berikut Ini Ulama Sekaliber Imam an-Nawawi Dianggap sesat Oleh Kaum Wahhabi. Hasbunallah!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=154238364593081&id=351534640896&ref=mf

  27. Dedengkot Wahabi; IBNU UTSAIMIN mengatakan bahwa Imam Ibnu Hajar al Asqalani bukan dari golongan Ahlussunnah Wal Jama'ah, klik ini http://www.facebook.com/note.php?note_id=112481828768735&id=351534640896&ref=mf

  28. Supaya Jangan Sembarangan Mengklaim Ahli Bid'ah Kepada Orang Lain (Hakekat Bid'ah Lengkap Dari a Sampai z, Mewaspadai Wahabi) Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112546762095575&id=351534640896&ref=mf

  29. Supaya Tidak Sembarang Berbicara Masalah Hukum Agama; Anda Tidak Akan Mencapai Derajat Mujtahid Maka Anda Harus Menjadi Muqallid, klikhttp://www.facebook.com/note.php?note_id=112489875434597&id=351534640896&ref=share

  30. Salah satu akar terorisme; karena salahpaham terhadap kandungan QS. al-Ma'idah: 44. Waspada, jangan sampai anda terjebak...Oleh Wahabi Teroris!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112481618768756&id=351534640896&ref=mf

  31. Membongkar Kesesatan Ajaran Wahabi Yang Membagi Tauhid kepada 3 Bagian; Aqidah Mereka Ini Nyata Bid'ah Sesat Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112480862102165&id=351534640896&ref=mf

  32. Imam Taqiyyudin Abu Bakr al-Husni, penulis kitab Kifayat al-Akhyar, (--herannya kitab ini menjadi salah satu buku rujukan Wahabi--) dalam kitabnya berjudul "Daf'u Syubah Man Syabbaha Wa Tamarrad" menuliskan: "Kekufuran Ibn Taimiyah telah disepakati oleh Ulama empat madzhab". Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112479795435605&id=351534640896&ref=share

  33. [Mewaspadai Wahhabiyyah] Masa Memakai Tasbih Untuk Menghitung Bilangan Dzikir Disebut Bid'ah Juga?! [Panjang.. Baca yang sabar] Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112554782094773&id=351534640896&ref=mf

  34. al Imam Ibn al Jawzi Membongkar Kesesatan Aqidah Tasybih ((( Mewaspadai Ajaran Wahabi ))) klik ini http://www.facebook.com/note.php?note_id=164430070240577&id=351534640896&ref=mf

  35. Jangan Salah Memahami Hadits Ini, Orang2 Wahhabi Mengkafirkan Banyak Orang Islam Karena Salah Memahami Hadits Ini, Hattiii2..!!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112487062101545&id=351534640896&ref=mf

  36. Di Antara Argumen Buruk Kaum Wahhabi Tentang Tabarruk Dan Tawassul; KITA BONGKAR DI SINI.. !!! Klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=112482865435298&id=351534640896&ref=m

Rabu, 05 Mei 2010

Tauhid jadi tiga

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga

Dewasa ini berkembang pandangan pembagian Tauhid menjadi tiga, yakni Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid al-Asma’ wal al-Shifat.

Bahkan pradigma Tauhid menjadi tiga tersebut, kini juga masuk dalam kurikulum akidah dan akhlak yang diajarkan di sekolah-sekolah agama. Oleh karena itu, disini perlu dipaparkan bagaimana sebenarnya pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut.

Pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Ululiyyah dan Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, belum pernah dikatakan oleh seorangpun sebelum masa Ibn Taimiyah.

Rasulullah Saw juga tidak pernah berkata kepada seseorang yang masuk Islam, bahwa di sana ada dua macam Tauhid dan kamu tidak akan menjadi Muslim sebelum bertauhid dengan Tauhid Uluhiyyah.

Rasulullah Saw juga tidak pernah mengisyaratkan hal tersebut meskipun hanya dengan satu kalimat. Bahkan tak seorangpun dari kalangan ulama salaf atau para imam yang menjadi panutan yang mengisyaratkan terhadap pembagian tauhid tersebut. Hingga akhirnya datang Ibnu Taimiyah pada abad ketujuh Hijriah yang menetapkan konsep pembagian Tauhid menjadi tiga.

Menurut Ibnu Taimiyah Tauhid itu terbagi tiga:

Pertama, Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah saja. Menurut Ibn Taimiyah, Tauhid Rububiyyah ini telah diyakini oleh semua orang, baik orang-orang Musyrik maupun orang-orang Mukmin.

Kedua, Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Ibn Taimiyah berkata, “Ilah (Tuhan) yang haqq adalah yang berhak untuk disembah. Sedangkan Tauhid adalah beribadah kepada Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya.76

Ketiga, Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti literal (zhahir)nya yang telah dikenal di kalangan manusia.

Pandangan Ibn Taimiyah yang membagi Tauhid menjadi tiga tersebut kemudian diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab perintis ajaran Wahhabi.

Dalam pembagian tersebut, Ibn Taimiyah membatasi makna Rabb atau rububiyyah terhadap sifat Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur langit, bumi dan seisinya. Sedangkan makna Ilah atau uluhiyyah dibatasi pada sifat Tuhan sebagai Dzat yang berhak untuk disembah dan menjadi tujuan  dalam beribadah.

Tentu saja, pembagian Tauhid menjadi tiga tadi serta pembatasan makna-maknanya tidak rasional dan bertentangan dengan dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits dan pendapat seluruh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah77.

Ayat-ayat al-Qur’an , hadits-hadits dan pernyataan para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak ada yang membedakan antara makna Rabb dan makna Ilah.

Bahkan dalil-dalil Al-qur’an dan Hadits mengisyaratkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan)”  (QS Ali-Imran : 80)

Ayat diatas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan) selain Allah seperti Malaikat dan para Nabi.

Dengan demikian berarti orang-orang Musyrik tersebut tidak mengakui Tauhid Rububiyyah.

Konsep Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa orang-orang kafir sebenarnya mengakui Tauhid Rububiyyah, akan semakin fatal apabila kita memperhatikan pengakuan orang-orang kafir sendiri kelak di hari kiamat seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an al-Karim yang artinya, “ Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) semesta alam” QS al Syu’ara :97-98)

Ayat tersebut menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di Akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan).

Pendapat Ibn Taimiyah yang mengkhususkan kata Uluhiyyah terhadap makna ibadah bertentangan pula dengan ayat berikut ini yang artinya,  “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam itu, ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya” (QS. Yusuf : 39-40)

Ayat di atas menjelaskan, bagaimana kedua penghuni penjara itu tidak mengakui Tauhid Rububiyyah dan menyembah-nyembah tuhan-tuhan (arbab) selain Allah. Disamping itu, ayat berikutnya menghubungkan ibadah dengan Rububiyyah, bukan Uluhiyyah, sehingga dapat disimpulkan konotasi makna Rububiyyah itu pada dasarnya sama dengan Uluhiyyah.

Dalam surat al-Kahfi, mengisahkan pengakuan seorang Mukmin yang tidak melanggar Tauhid Rububiyyah dan seorang kafir yang mengakui telah melanggar Tauhid Rububiyyah.

Orang Mukmin tersebut berkata: yang artinya “tetapi aku (percaya bahwa): dialah Allah, Tuhanku, dan Aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” QS al Kahfi : 38)

Sedangkan orang kafir tersebut berkata, yang artinya: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku” (QS al Kahfi : 42)

Kedua ayat di atas memberikan kesimpulan bahwa antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah ada keterkaitan (talazum) yang sangat erat. Disamping itu, ayat kedua di atas membatalkan pandangan Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah. Justru dalam ayat tersebut, orang Musyrik sendiri mengakui kalau telah melanggar Tauhid Rububiyyah.

Konsep pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut akan batal pula, apabila kita mengkaitkannya dengan hadits-hadits Nabi Saw. Misalnya dengan hadits shahih berikut ini, yang artinya.  Dari al Barra’ bin Azib, Nabi Saw bersabda, “Allah berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh itu” (QS. Ibrahim : 27).  Nabi Saw bersabda, “Ayat ini turun mengenai azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, “Siapa Rabb (Tuhan)mu ?” Lalu dia menjawab, “Allah, Rabbku, dan Muhammad Saw Nabiku” H.R. Muslim 5117).

Hadits diatas memberikan pengertian, bahwa Malaikat Munkar dan Nakir, akan bertanya kepada si mayit tentang Rabb, bukan Ilah, karena kedua Malaikat tersebut tidak membedakan antara Rabb dengan Ilah atau antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah.

Seandainya pandangan Ibn Taimiyah dan Wahhabi yang membedakan antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah itu benar, tentunya kedua Malaikat itu akan bertanya kepada si mayit dengan, “Man Ilahuka (Siapa Tuhan Uluhiyyah-mu)?”, bukan “Man Rabbuka (Siapa Tuhan Rububiyyah-mu)?” atau mungkin keduanya akan menanyakan semua, “Man Rabbuka wa man Ilahuka?” 78

Sekarang apabila pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut batil, lalu apa sebenarnya makna yang tersembunyi (hidden meaning) di balik pembahgian Tauhid menjadi tiga tersebut ?

Apabila diteliti dengan seksama, dibalik pembagian tersebut, setidaknya mempunyai dua tujuan:

Pertama,  Ibn Taimiyah berpendapat bahwa praktek-praktek seperti tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain yang menjadi tradisi dan dianjurkan sejak zaman Nabi Saw adalah termasuk bentuk kesyirikan dan kekufuran. Nah, untuk menjustifikasi (pembenaran) pendapat ini, Ibn Taimiyah menggagas pembagian Tauhid menjadi tiga, antara lain Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah. Dari sini, Ibn Taimiyah mengatakan bahwa sebenarnya keimanan seseorang itu tidak cukup hanya dengan mengakui Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah semata, karena Tauhid Rububiyyah atau pengakuan semacam ini juga dilakukan oleh orang-orang musyrik, hanya saja mereka tidak mengakui Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Oleh karena itu, keimanan seseorang akan sah apabila disertai Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.

Kemudian setelah melalui pembagian Tauhid tersebut, untuk mensukseskan pandangan bahwa praktek-praktek seperti Tawassul, Istighatsah, Tabarruk, Ziarah kubur dan lain-lain adalah syirik dan kufur.

Ibn Taimiyah membuat kesalahan lagi, yaitu mendefinisikan ibadah dalam konteks yang sangat luas, sehingga praktek-praktek seperti tawassul, istighatsah, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain dia kategorikan juga sebagai ibadah secara syar’i.

Dari sini Ibn Taimiyah kemudian mengatakan, bahwa orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul dan tabarruk dengan para wali dan nabi itu telah beribadah kepada selain Allah dan melanggar Tauhid Uluhiyyah sehingga dia divonis syirik.79

Tentu saja pradigma Ibn Taimiyah tersebut merupakan kesalahan di atas kesalahan.

  1. Dia mengklasifikasi Tauhid menjadi tiga tanpa ada dasar dari dalil-dalil agama.

  2. Dia mendefinisikan ibadah dalam skala yang sangat luas sehingga berakibat fatal, yaitu menilai syirik dan kufur praktek-praktek yang telah diajarkan Rasulullah Saw dan para Sahabatnya.80 Dan secara tidak langsung pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut berarti mengkafirkan Rasulullah, para Sahabat dan seluruh kaum Muslimin selain golongan / kelompok nya (Ibn Taimiyah).


Kedua, berkaitan dengan teks-teks mutasyabihat dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menyangkut nama-nama dan sifat-sifat Allah, Ibn Taimiyah mengikuti aliran Musyabbihah yang mengartikan teks-teks tersebut secara literal (zhahir). Dalam upaya menjustifikasi (pembenaran) pandangannya yang cenderung menyerupakan Allah dengan mahlukNya. Ibn Taimiyah menggagas Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat. Dari sini dia kemudian mengatakan bahwa kelompok-kelompok yang melakukan ta’wil terhadap teks-teks Mutasyabihat dan tidak mengartikannya secara literal, telah terjerumus dalam kebid’ahan dan kesesatan karena melanggar Tauhid al-Asma wa al-Shifat.81

************************




76 Ibn Taimiyah, al Risalah al Tadmuriyyah, hal 106.

77 Abu Hamid bin Marzuq, al-Tawassul bi al-Nabiy wa bi al-Shalihin,  Istanbul, Hakikat Kitabevi, 1993 hlm 23.

78 Umar Abdullah Kamil, Kalimah hadi’ah fi Bayan Khatha’ al Taqsim al Tsulatsi bil Tauhid, Ammand : Dar al Razi, 2007, hlm 13

79 Ibarahim al Samannudi, Sa’adat al Darain fil al-Radd ‘ala al Firqatain al Wahhabiyyah wa Muqallidat al Zhahiriyyah, Ajuzah: Maktabah al-Imam hal 22

80 Abu Hamid bin Marzuq,al-Tawassul bi al-Nabiy wa bi al Shalihin, Istanbulm Hakikat Kitabevi, 1993 hlm 22.

81 Umar Abdullah Kamil, Kalimah hadi’ah fi Bayan Khatha’ al Taqsim al Tsulatsi bil Tauhid, Ammand : Dar al Razi, 2007, hlm 13

Sumber:  Muhammad Idrus Ramli, Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ? (Jawaban Terhadap Aliran Salafi), Penerbit Khalista,  Surabaya hal 224 s/d  230

Tulisan sejenis dengan yang di atas

http://al-ashairah.blogspot.com/search/label/Kebathilan%20Tauhid%20Tiga%20T

Contoh tulisan pembagian Tauhid menjadi tiga dari Wahhabi

http://statics.ilmoe.com/kajian/users/sunniy/Syarh-Qawaidul-Arba-Indonesia.zip

===============================================
Berikut tulisan tentang Ajaran Wahabi Yang Membagi Tauhid kepada 3 Bagian bersumber pada http://allahadatanpatempat.wordpress.com/2010/05/09/membongkar-kesesatan-ajaran-wahabi-yang-membagi-tauhid-kepada-3-bagian-aqidah-mereka-ini-nyata-bidah-sesat/

Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yan menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut.

Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang; mereka mengaku datang untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah. Lebih lanjut klik SEDIKIT BANTAHAN AHLUSSUNNAH TERHADAP KAUM WAHABI YANG SANGAT APRIORI TERHADAP ILMU KALAM.

Di antara dasar yang dapat membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:

أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ)

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darang-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam. Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Tujuan kaum Musyabbihah membagi tauhid kepada tiga bagian ini adalah tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang Islam ahi tauhid yang melakukan tawassul dengan Nabi Muhammad, atau dengan seorang wali Allah dan orang-orang saleh. Mereka mengklaim bahwa seorang yang melakukan tawassul seperti itu tidak mentauhidkan Allah dari segi tauhid Ulûhiyyah. Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tujuan mereka tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyâbihât. Oleh karenanya, kaum Musyabbihah ini adalah kaum yang sangat kaku dan keras dalam memegang teguh zhahir teks-teks Mutasyâbihât dan sangat “alergi” terhadap takwil. Bahkan mereka mengatakan: “al-Mu’aw-wil Mu’ath-thil”; artinya seorang yang melakukan takwil sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah. Na’ûdzu Billâh.

Dengan hanya hadits shahih di atas, cukup bagi kita untuk menegaskan bahwa pembagian tauhid kepada tiga bagian di atas adalah bid’ah batil yang dikreasi oleh orang-orang yang mengaku memerangi bid’ah yang sebenarnya mereka sendiri ahli bid’ah. Bagaimana mereka tidak disebut sebagai ahli bid’ah, padahal mereka membuat ajaran tauhid yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam?! Di mana logika mereka, ketika mereka mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, tetapi juga harus dengan pengakuan tauhid Rubûbiyyah?! Bukankah ini berarti menyalahi hadits Rasulullah di atas?! Dalam hadits di atas sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang yang mengakui ”Lâ Ilâha Illallâh” ditambah dengan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad maka cukup bagi orang tersebut untuk dihukumi sebagai orang Islam. Dan ajaran inilah yang telah dipraktekan oleh Rasulullah ketika beliau masih hidup. Apa bila ada seorang kafir bersaksi dengan ”Lâ Ilâha Illallâh” dan ”Muhammad Rasûlullâh” maka oleh Rasulullah orang tersebut dihukumi sebagai seorang muslim yang beriman. Kemudian Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk melaksanakan shalat sebelum memerintahkan kewajiban-kewajiban lainnya; sebagaimana hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits oleh al-Imâm al-Bayhaqi dalam Kitâb al-I’tiqâd. Sementara kaum Musyabbihah di atas membuat ajaran baru; mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, ini sangat nyata telah menyalahi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka tidak paham bahwa ”Ulûhiyyah” itu sama saja dengan ”Rubûbiyyah”, bahwa ”Ilâh” itu sama saja artinya dengan ”Rabb”.

Kemudian kita katakan pula kepada mereka; Di dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa di antara pertanyaan dua Malaikat; Munkar dan Nakir yang ditugaskan untuk bertanya kepada ahli kubur adalah: ”Man Rabbuka?”. Tidak bertanya dengan ”Man Rabbuka?” lalu diikutkan dengan ”Man Ilahuka?”. Lalu seorang mukmin ketika menjawab pertanyaan dua Malaikat tersebut cukup dengan hanya berkata ”Allâh Rabbi”, tidak harus diikutkan dengan ”Allâh Ilâhi”. Malaikat Munkar dan Nakir tidak membantah jawaban orang mukmin tersebut dengan mengatakan: ”Kamu hanya mentauhidkan tauhid Rubûbiyyah saja, kamu tidak mentauhidkan tauhid Ulûhiyyah!!”. Inilah pemahaman yang dimaksud dalam hadits Nabi tentang pertanyaan dua Malaikat dan jawaban seorang mukmin dikuburnya kelak. Dengan demikian kata ”Rabb” sama saja dengan kata ”Ilâh”, demikian pula ”tauhid Ulûhiyyah” sama saja dengan ”tauhid Rubûbiyyah”.
Dalam kitab Mishbâh al-Anâm, pada pasal ke dua, karya al-Imâm Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:

”Tauhid Ulûhiyyah masuk dalam pengertian tauhid Rubûbiyyah dengan dalil bahwa Allah telah mengambil janji (al-Mîtsâq) dari seluruh manusia anak cucu Adam dengan firman-Nya ”Alastu Bi Rabbikum?”. Ayat ini tidak kemudian diikutkan dengan ”Alastu Bi Ilâhikum?”. Artinya; Allah mencukupkannya dengan tauhid Rubûbiyyah, karena sesungguhya sudah secara otomatis bahwa seorang yang mengakui ”Rubûbiyyah” bagi Allah maka berarti ia juga mengakui ”Ulûhiyyah” bagi-Nya. Karena makna ”Rabb” itu sama dengan makna ”Ilâh”. Dan karena itu pula dalam hadits diriwayatkan bahwa dua Malaikat di kubur kelak akan bertanya dengan mengatakan ”Man Rabbuka?”, tidak kemudian ditambahkan dengan ”Man Ilâhuka?”. Dengan demikian sangat jelas bahwa makna tauhid Rubûbiyyah tercakup dalam makna tauhid Ulûhiyyah.
Di antara yang sangat mengherankan dan sangat aneh adalah perkataan sebagian pendusta besar terhadap seorang ahli tauhid; yang bersaksi ”Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasulullah”, dan seorang mukmin muslim ahli kiblat, namun pendusta tersebut berkata kepadanya: ”Kamu tidak mengenal tahuid. Tauhid itu terbagi dua; tauhid Rubûbiyyah dan tauhid Ulûhiyyah. Tauhid Rubûbiyyah adalah tauhid yang telah diakui oleh oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara tauhid Ulûhiyyah adalah adalah tauhid murni yang diakui oleh orang-orang Islam. Tauhid Ulûhiyyah inilah yang menjadikan dirimu masuk di dalam agama Islam. Adapun tauhid Rubûbiyyah saja tidak cukup”. Ini adalah perkataan orang sesat yang sangat aneh. Bagaimana ia mengatakan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagai ahli tauhid?! Jika benar mereka sebagai ahli tauhid tentunya mereka akan dikeluarkan dari neraka kelak, tidak akan menetap di sana selamanya, karena tidak ada seorangpun ahli tauhid yang akan menetap di daam neraka tersebut sebagaimana telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Adakah kalian pernah mendengar di dalam hadits atau dalam riwayat perjalanan hidup Rasulullah bahwa apa bila datang kepada beliau orang-orang kafir Arab yang hendak masuk Islam lalu Rasulullah merinci dan menjelaskan kepada mereka pembagian tauhid kepada tauhid Ulûhiyyah dan tauhid Rubûbiyyah?! Dari mana mereka mendatangkan dusta dan bohong besar terhadap Allah dan Rasul-Nya ini?! Padalah sesungguhnya seorang yang telah mentauhidkan ”Rabb” maka berarti ia telah mentauhidkan ”Ilâh”, dan seorang yang telah memusyrikan ”Rabb” maka ia juga berarti telah memusyrikan ”Ilâh”. Bagi seluruh orang Islam tidak ada yang berhak disembah oleh mereka kecuali ”Rabb” yang juga ”Ilâh” mereka. Maka ketika mereka berkata ”Lâ Ilâha Illallâh”; bahwa hanya Allah Rabb mereka yang berhak disembah; artinya mereka menafikan Ulûhiyyah dari selain Rabb mereka, sebagaimana mereka menafikan Rubûbiyyah dari selain Ilâh mereka. Mereka menetapkan ke-Esa-an bagi Rabb yang juga Ilâh mereka pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan pada segala perbuatan-Nya; artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya secara mutlak dari berbagai segi”.

(Masalah): Para ahli bid’ah dari kaum Musyabbihah biasanya berkata: ”Sesungguhnya para Rasul diutus oleh Allah adalah untuk berdakwah kepada umatnya terhadap tauhid Ulûhiyyah; yaitu agar mereka mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Adapun tauhid Rubûbiyyah; yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam ini, dan bahwa Allah adalah yang mengurus segala peristiwa yang terjadi pada alam ini, maka tauhid ini tidak disalahi oleh seorang-pun dari seluruh manusia, baik orang-orang musyrik maupun orang-orang kafir, dengan dalil firman Allah dalam QS. Luqman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)

(Jawab): Perkataan mereka ini murni sebagai kebatilan belaka. Bagaimana mereka berkata bahwa seluruh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama dengan orang-orang mukmin dalam tauhid Rubûbiyyah?! Adapun pengertian ayat di atas bahwa orang-orang kafir mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi adalah pengakuan yang hanya di lidah saja, bukan artinya bahwa mereka sebagai orang-orang ahli tauhid; yang mengesakan Allah dan mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Terbukti bahwa mereka menyekutukan Allah, mengakui adanya tuhan yang berhak disembah kepada selain Allah. Mana logikanya jika orang-orang musyrik disebut sebagai ahli tauhid?! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa di dalam Islam terdapat dua tauhid; Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa tidak cukup baginya untuk menjadi seorang muslim hanya bertauhid Rubûbiyyah saja, tapi juga harus bertauhid Ulûhiyyah! Oleh karena itu di dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan Nabi Yusuf saat mengajak dua orang di dalam penjara untuk mentauhidkan Allah:

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرّقُوْنَ خَيْرٌ أمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهّار (يوسف: 39

”Adakah rabb-rabb yang bermacam-macam tersebut lebih baik ataukah Allah (yang lebih baik) yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan yang maha menguasai?!” (QS. Yusuf: 39).

Dalam ayat ini Nabi Yusuf menetapkan kepada mereka bahwa hanya Allah sebagai Rabb yang berhak disembah.
Perkataan kaum Musyabbihah dalam membagi tauhid kepada dua bagian, dan bahwa tauhid Ulûhiyyah (Ilâh) adalah pengakuan hanya Allah saja yang berhak disembah adalah pembagian batil yang menyesatkan, karena tauhid Rubûbiyyah adalah juga pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, sebagaimana yang dimaksud oleh ayat di atas. Dengan demikian Allah adalah Rabb yang berhak disembah, dan juga Allah adalah Ilâh yang berhak disembah. Kata “Rabb” dan kata “Ilâh” adalah kata yang memiliki kandungan makna yang sama sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imâm Abdullah ibn Alawi al-Haddad di atas.

Dalam majalah Nur al-Islâm, majalah ilmiah bulanan yang diterbitkan oleh para Masyâyikh al-Azhar asy-Syarif Cairo Mesir, terbitan tahun 1352 H, terdapat tulisan yang sangat baik dengan judul “Kritik atas pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah” yang telah ditulis oleh asy-Syaikh al-Azhar al-‘Allamâh Yusuf ad-Dajwi al-Azhari (w 1365 H), sebagai berikut:

[[“Sesungguhnya pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah adalah pembagian yang tidak pernah dikenal oleh siapapun sebelum Ibn Taimiyah. Artinya, ini adalah bid’ah sesat yang telah ia munculkannya. Di samping perkara bid’ah, pembagian ini juga sangat tidak masuk akal; sebagaimana engkau akan lihat dalam tulisan ini. Dahulu, bila ada seseorang yang hendak masuk Islam, Rasulullah tidak mengatakan kepadanya bahwa tauhid ada dua macam. Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa engkau tidak menjadi muslim hingga bertauhid dengan tauhid Ulûhiyyah (selain Rubûbiyyah), bahkan memberikan isyarat tentang pembagian tauhid ini, walau dengan hanya satu kata saja, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Demikian pula hal ini tidak pernah didengar dari pernyataan ulama Salaf; yang padahal kaum Musyabbihah sekarang yang membagi-bagi tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah tersebut mengaku-aku sebagai pengikut ulama Salaf. Sama sekali pembagian tauhid ini tidak memiliki arti. Adapun firman Allah:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)
Ayat ini menceritakan perkataan orang-orang kafir yang mereka katakan hanya di dalam mulut saja, tidak keluar dari hati mereka. Mereka berkata demikian itu karena terdesak tidak memiliki jawaban apapun untuk membantah dalil-dalil kuat dan argumen-argumen yang sangat nyata (bahwa hanya Allah yang berhak disembah). Bahkan, apa yang mereka katakan tersebut (pengakuan ketuhanan Allah) ”secuil”-pun tidak ada di dalam hati mereka, dengan bukti bahwa pada saat yang sama mereka berkata dengan ucapan-ucapan yang menunjukan kedustaan mereka sendiri. Lihat, bukankah mereka menetapkan bahwa penciptaan manfaat dan bahaya bukan dari Allah?! Benar, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dari mulai perkara-perkara sepele hingga peristiwa-peristiwa besar mereka yakini bukan dari Allah, bagaimana mungkin mereka mentauhidkan-Nya?! Lihat misalkan firman Allah tentang orang-orang kafir yang berkata kepada Nabi Hud:

إِن نَّقُولُ إِلاَّ اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ (هود: 54)

”Kami katakan bahwa tidak lain engkau telah diberi keburukan atau dicelakakan oleh sebagian tuhan kami” (QS. Hud: 54).

Sementara Ibn Taimiyah berkata bahwa dalam keyakinan orang-orang musyrik tentang sesembahan-sesembahan mereka tersebut tidak memberikan manfaat dan bahaya sedikit-pun. Dari mana Ibn Taimiyah berkata semacam ini?! Bukankah ini berarti ia membangkang kepada apa yang telah difirmankah Allah?! Anda lihat lagi ayat lainnya dari firman Allah tentang perkataan-perkataan orang kafir tersebut:

وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَاكَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَيَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَاكَانَ للهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ (الأنعام: 136)

”Lalu mereka berkata sesuai dengan prasangka mereka: ”Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sajian-sajian yang diperuntukan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukan bagi Allah maka sajian-sajian tersebut sampai kepada berhala mereka” (QS. al-An’am: 136).
Lihat, dalam ayat ini orang-orang musyrik tersebut mendahulukan sesembahan-sesembahan mereka atas Allah dalam perkara-perkara sepele.

Kemudian lihat lagi ayat lainnya tentang keyakinan orang-orang musyrik, Allah berkata kepada mereka:

و َمَانَرَى مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاؤُا (الأنعام: 94)

”Dan Kami tidak melihat bersama kalian para pemberi syafa’at bagi kalian (sesembahan/berhala) yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu”(QS. al-An’am: 94).
Dalam ayat ini dengan sangat nyata bahwa orang-orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka memberikan mafa’at kepada mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka mengagung-agungkan berhala-berhala tersebut.

Lihat, apa yang dikatakan Abu Sufyan; ”dedengkot” orang-orang musyrik di saat perang Uhud, ia berteriak: ”U’lu Hubal” (maha agung Hubal), (Hubal adalah salah satu berhala terbesar mereka). Lalu Rasulullah menjawab teriakan Abu Sufyan: ”Allâh A’lâ Wa Ajall” (Allah lebih tinggi derajat-Nya dan lebih Maha Agung).

Anda pahami teks-teks ini semua maka anda akan paham sejauh mana kesesatan mereka yang membagi tauhid kepada dua bagian tersebut!! Dan anda akan paham siapa sesungguhnya Ibn Taimiyah yang telah menyamakan antara orang-orang Islam ahli tauhid dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala tersebut, yang menurutnya mereka semua sama dalam tauhid Rubûbiyyah!”]].

Rabu, 10 Februari 2010

Riwayat Ahlussunah Wal Jamaah

Riwayat i'tiqad (aqidah) Ahlussunah Wal Jamaah


Pada masa hidup Nabi Muhammad SAW, semuanya mudah dan gampang, karena segala sesuatu dapat ditanyakan kepada beliau. Perselisihan paham timbul sesudah Nabi wafat

Yang teramat mulia Nabi Muhammad SAW. Wafat tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriah,  sesuai  dengan 8 Juni 632 M. Pada hari wafat beliau sekumpulan kaum Anshar ( Sahabat-sahabat Nabi yang berasal dari Madinah ) berkumpul di suatu Balairung yang bernama SAQIFAH BANI SA’IDAH untuk mencari khalifah ( pengganti Nabi yang sudah wafat ).

Kaum Anshar ini dipimpin oleh Sa’ad bin Ubadah ( Ketua kaum Anshar dari suku Khazraj ). Mendengar hal ini kaum Muhajirin ( Sahabat-sahabat dari Mekkah yang pindah ke Madinah ) datang bersama-sama ke Balairung itu, dengan dipimpin oleh Saidina Abu Bakar Shiddiq Rda.

Sesudah terjadi perdebatan yang agak sengit antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin yang setiapnya mengemukakan calon dari pihaknya, bersepakatlah mereka mengangkat Sahabat yang paling utama Saidina Abu Bakar Shiddiq sebagai Khalifah yang pertama.

Perdebatan ketika itu hanya terjadi antara golongan kaum Anshar yang mengemukakan Sa’ad bin Ubadah sebagai calonnya dengan kaum Muhajirin yang mengemukakan Saidina Umar bin Khatab atau Saidina Abu Bakar sebagai calon-calon khalifah Nabi.

Dalam rapat itu tidak ada seorangpun yang mengemukakan Saidina’Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah pertama pengganti Nabi. Paham kaum Syi’ah belum ada ketika itu. Yang ada hanya kaum Anshar dan kaum Muhajirin, tetapi ternyata bahwa perselisihan paham antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin tidak menimbulkan firqah dalam ushuluddin, karena perselisihan pendapat sudah selesai dikala Saidina Abu Bakar sudah terangkat dan terpilih secara aklamasi ( suara sepakat ).

Pada tahun 30 Hijriyah timbul paham Syi’ah yang diapi-apikan oleh Abdullah bin Saba’ yang beroposisi terhadap Khalifah Saidina Utsman bin Affan.  Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang masuk Islam. Ketika ia datang ke Madinah tidak begitu dapat penghargaan dari Khalifah dan juga dari ummat Islam yang lain. Oleh karena itu ia jengkel.

Sesudah terjadi “peperangan Siffin”, peperangan saudara sesama Islam, yaitu antara tentara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan tentara Mu’awiyah bin Abu Sofyan ( Gubernur Syria ) pada tahun 37 Hijriyah timbul pula firqah Khawarij, yaitu orang-orang yang keluar dari Saidina Mu’awiyah Rda. dan dari Saidina ‘Ali Rda. .

Pada permulaan abad ke II H timbul pula Kaum Mu’tazilah, yaitu kaum yang dipimpin oleh Washil bin Atha’ (lahir 80 H – wafat 113 H) dan Umar bin Ubeid (Wafat 145 H).

Kaum Mu’tazilah ini mengeluarkan fatwa yang ganjil-ganjil, yang berlainan dan berlawanan dengan i’tikad Nabi dan sahabat-sahabat beliau.

Di antara fatwa-fatwa yang ganjil dari Kaum Mu’tazilah itu, ialah adanya “manzilah bainal manzilatein”, yakni ada tempat di antara dua tempat, ada tempat yang lain selain syurga dan neraka.

Banyak lagi fatwa-fatwa kaum Mu’tazilah, umpamanya fatwa yang mengatakan bahwa sifat Tuhan tidak ada, bahwa Qur’an itu makhluk, bahwa mi’raj Nabi hanya dengan ruh saja, bahwa pertimbangan akal lebih didahulukan dari hadist-hadist Nabi, bahwa syurga dan neraka akan lenyap, dan lain-lain fatwa yang keliru.

Kemudian timbul pula paham Qadariyah yang mengatakan bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh manusia sendiri, tidak sangkut-paut dengan Tuhan. Hak mencipta telah diberikan Tuhan kepada manusia, sehingga Tuhan tidak tahu dan tidak perduli lagi apa yang akan dibuat oleh manusia.

Kemudian timbul pula paham, Jabariyah yang mengatakan bahwa sekalian yang terjadi adalah dari Tuhan, manusia tak punya daya apa-apa, tidak ada usaha dan tidak ada ikhiar.

Kemudian timbul pula paham Mujassimah, yakni paham yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk, punya tangan, punya kaki, duduk di atas kursi, turun dari tangga serupa manusia, Tuhan adalah cahaya seperti lampu, dan lain-lain kepercayaan.

Kemudian lahir pula paham-paham yang keliru tentang tawasul dan wasilah, tentang ziarah dan istigatsah dari Ibnu. Thaimiyah yang semuanya mengacaukan dunia Islam dan kaum Muslimin.

Kaum Ahlussunah Wal Jama’ah Muncul pada Abad ke III Hijriyah

Sebagai reaksi dari firqah-firqah yang sesat tadi maka pada akhir abad ke III Hijriyah timbullah golongan yang bernama Kaum Ahlussunah Wal Jama’ah (ASWAJA), yang dikepalai oelh dua orang Ulama besar dalam Ushuluddin, yaitu Syeikh Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari dan Syekh Abu Mansur al Maturidi.

Perkataan Ahlussunah wal Jama’ah kadang-kadang dipendekkan menyebutnya dengan Ahlussunah saja, atau Sunny saja dan kadang-kadang disebut ‘Asy’ari atau Asya'irah, dikaitkan kepada guru besarnya yang pertama Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari.

Sejarah ringkas guru besar ini adalah :

Nama lengkap beliau adalah Abu Hasan ‘Ali bin Ismail, bin Abi Basyar, Ishaq bin Salim, bin Isma’il, bin Abdillah, bin Musa, bin Bilal, bin Abi Burdah, bin Abi Musa al Asy’ari.

Abi Musa ini seorang sahabat Nabi yang terkenal dalam sejarah Islam.

Abu Hasan lahir di Basrah (Iraq) tahun 260 H yakni 55 tahun sesudah meninggalnya Imam Syafi’i Rda dan meninggal di Basrah juga pada tahun 324 H, dalam usia 64 tahun.

Beliau pada mulanya adalah murid dari bapak tirinya seorang Ulama Besar kaum Mu’tazilah, Syeikh Abu ‘Ali Muhammad bin Abdul Wahab al Jabai (meninggal tahun 303 H),  tetapi kemudian beliau taubat dan keluar dari golongan Mu’tazilah itu.

Pada masa itu (abad ke III H) banyak sekali Ulama-ulama Mu’tazilah mengajar di Basrah, Kufah dan Bagdad.

Ada 3 orang Khalifah ‘Abbasiyah yaitu Ma’mun bin Harun ar Rasyid (198 – 218 H), Al Mu’tashim (218 – 227 H) dan Al Watsiq (227 – 232 H) adalah Khalifah-khalifah penganut faham Mu’tazilah atau sekurangnya penyokong-penyokong yang utama dari golongan Mu’tazilah.

Dalam sejarah dinyatakan bahwa pada zaman itu terjadilah apa yang dinamakan “fitnah Qur’an makhluq” yang mengorbankan beribu-ribu ulama yang tidak sepaham dengan kaum Mu’tazilah.

Pada masa Abu Hasan al Asy’ari muda remaja ulama-ulama Mu’tazilah sangat banyak di Basrah, Kufah dan Bagdad. Masa itu masa gilang-gemilang bagi mereka, karena pahamnya disokong oleh pemerintahan.

Imam Abu Hasan termasuk salah seorang pemuda yang belajar kepada seorang Syekh dari Mu’tazilah, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab al Jabai (wafat 303 H).

Pembaca jangan keliru, ini bukan Muhammad bin Abdul Wahab, pembangun Madzhab Wahabi di Nejdi (1115 H – 1206 H).

Imam Abu Hasan al Asy’ari melihat, bahwa dalam paham kaum Mu’tazilah banyak terdapat kesalahan besar, banyak yang bertentangan dengan i’itiqad dan kepercayaan Nabi Muhammad SAW, dan sahabat-sahabat beliau dan banyak yang bertentangan dengan Qur’an dan Hadits.

Maka karena itu beliau keluar dari golongan Mu’tazilah dan taubat kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahannya yang lalu. Bukan saja begitu, tetapi beliau tampil kemuka di garis depan untuk melawan dan mengalahkan kaum Mu’tazilah yang salah itu.

Pada suatu hari beliau naik ke sebuah mimbar di Mesjid Basrah yang besar itu dan mengucapkan pidato yang berapi-api dengan suara lantang yang didengar oleh banyak kaum Muslimin yang berkumpul di situ.

Diantara pidato beliau :

“Saudara-saudara Kaum Muslim Yang Terhormat!

Siapa yang sudah mengetahui saya, baiklah, tetapi bagi yang belum mengetahui maka saya ini adalah Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari anak dari Isma’il bin Abi Basyar. Dulu saya berpendapat bahwa Qur’an itu makhluq, bahwa Tuhan Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala di akhirat, dan bahwasanya manusia menjadikan (menciptakan) perbuatannya, serupa dengan kaum Mu’tazilah.

Nah, sekarang saya nyatakan terus terang bahwa saya telah taubat dari paham Mu’tazilah dan sekarang saya lemparkan i’itiqad Mu’tazilah itu seperti saya melemparkan baju saya ini (ketika itu dibukanya bajunya dan dilemparkan) dan saya setiap saat siap untuk menolak paham Mu’tazilah yang salah dan sesat itu” (Zhumrul Islam IV halaman 67).

Dari mulai tanggal itu Imam Abu Hasan Ali al Asy’ari berjuang melawan kaum Mu’tazilah dengan lisan dan tulisan, berdebat dan bertanding dengan kaum Mu’tazilah di mana-mana, merumuskan dan menuliskan dalam kitab-kitabnya i’itiqad-i’itiqad kaum Ahlussunah wal Jama’ah sehingga nama beliau masyhur sebagai seorang Ulama Tauhid yang dapat menundukkan dan menghancurkan paham Mu’tazilah yang salah itu.

Beliau mengumpulkan sebaik-baiknya dari Qur’an dan Hadits paham-paham atau i’itiqad Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabat Nabi, diperincikan dengan sebaik-baiknya.

Beliau mengarang buku-buku Ushuluddin banyak sekali.

Berkata Imam Zabidi, pengarang, Kitab Ittihaf Sadatil Muttaqin syarah Ihya Ulumuddin : “Imam Asy’ari mengarang sekitar 200 kitab” (lihat Ittihat jilid II pagina 7).

Diantara kitab-kitab karangan Imam Abu Hasan al Asy’ari.

  1. Ibanah fi Ushuluddiyanah, 3 jilid besar.

  2. Maqalaatul Islamiyiin.

  3. Al Mujaz, 3 jilid besar.

  4. Dan lain-lain.


Keistimewaan Imam Abu Hasan al Asy’ari dalma menegakkan pahamnya ialah, dengan mengutamakan dalil-dalil dari Qur’an dan Hadits dan juga dengan pertimbangan aqal dan pikiran, tidak seperti kaum Mu’tazilah yang mendasarkan pikirannya kepada aqal dan falsafah yang berasal dari Yunani dalam membicarakan Ushuluddin dan pula tidak seperti kaum Mujassimah (kaum yang menyerupakan Tuhan dengan  makhluq) yang memegang arti lahir dari Qur’an dan Hadits, sehingga sampai mengatakan bahwa Tuhan bertangan, Tuhan bermuka, Tuhan duduk-duduk diatas ‘arsy, dan lain-lain sebagainya.

Alhamdulillah, Imam Abu Hasan al Asy’ari dapat menegakkan paham yang kemudian dinamai “Paham Ahlussunah wal Jama’ah, yaitu paham sebagaimana diyakini dan dii’tiqadkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW dan para Sahabat-sahabat beliau.

Pada abad-abad berikutnya muncullah ulama-ulama besar kaum Ahlussunah wal Jama’ah yang menyebar-luaskan pengajian-pengajian Imam Abu Hasan al Asy’ari, di antaranya :

  1. Imam Abu Bakar al Qaffal (wafat 365 H).

  2. Imam Abu Ishaq al Asfaraini (wafat 411 H).

  3. Imam al Hafizh al Baihaqi (wafat 458 H).

  4. Imamul Haramain al Juwaini (wafat 460 H).

  5. Imam al Qasim al Qusyairi (wafat 465 H).

  6. Imam al Baqilani (wafat 403 H).

  7. Imam al Gazali (wafat 505 H).

  8. Imam Fakhruddin ar Razi (wafat 606 H).

  9. Imam Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H).


Ulama-ulama yang tersebut adalah Ulama-ulama penganut dan pendukung yang kuat dari paham Ahlussunah wal Jama’ah yang dibentuk oleh Imam Abu Hasan ‘Ali al Asy’ari.

Kemudian dalam abad-abad seterusnya, banyak muncul Ulama-ulama Ushuluddin di seluruh dunia Islam yang menganut, mempertahankan dan menyiarkan paham Ahlussunah wal Jama’ah yang dibentuk oleh Imam Abu Hasan al Asy’ari ini, di antaranya :

  1. Syeikhul Islam Syeikh Abdullah as Syarqawi (Wafat 1227 H) pengarang kitab Tauhid yang dimasyhurkan dengan nama Kitab Syarqawi.

  2. Syekh Ibrahim al Bajuri (Wafat : 1272 H) pengarang kitab tauhid “Tahqiqul Maqam fi Kifayatil A’wam”, dan kitab “Tuhfatul Murid ala Jauharatut Tauhid”.

  3. Al Allamah Syeikh Muhammad Nawawi Bantan, seorang Ulama Indonesia yang mengarang kitab, Tauhid “Tijanud Darari”. (Wafat: 1315 H).

  4. Syeikh Zanal Abidin bin Muhammad al Fathani yang mengarang kitab Tauhid bernama “’Aqidatun Najiin fi Ushuliddin”.

  5. Syeikh Husein bin Muhammad al Jasar at Thalabilisi, pengarang kitab Tauhid yang terkenal “Hushunul Hamidiyah”.

  6. Dan lain-lain.


Adapun Imam Mansur Al Maturidi, yang dianggap juga sebagai pembangun Madzhab Ahlussunah wal Jama’ah dalam Ushuluddin nama lengkapnya ialah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud.

Beliau lahir di suatu desa di Samarqand yang bernama “Maturid”. Beliau meninggal di situ juga pada tahun 333 Hijriyah, yaitu 10 tahun sesudah wafatnya Imam Abu Hasan al Asy’ari.

Makam beliau sampai sekarang diziarahi di Samarqand.

Dunia Islam dahulu sampai sekarang menganggap bahwa kedua Imam ini adalah pembangun Madzhab Ahlussunah wal Jama’ah.

Berkata Sayid Mutadha az Zabidi, pengarang kitab “Ittihaf Sadaatul Muttaqin”, yaitu kitab yang mensyarah kitab “Ihya Ulumuddin”, karangan Imam Ghazali :

Artinya :

Apabila disebut “Ahlussunah wal Jama’ah” maka yang dimaksudkan dengan ucapan itu ialah paham atau fatwa-fatwa yang disiarkan oleh Imam Asy’ari dan Abu Mansur al Maturidi (I’tihaf jilid II, halaman 6).

Suatu hal lagi baik juga diketahui bahwa pada umumnya dunia Islam menganggap dalam furu’ syari’at (fikih), yang benar adalah fatwanya Imam-imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, dan dalam Ushuluddin, yang benar dan yang sesuai dengan Qur’an dan Hadits, adalah fatwa kaum Ahlussunah wal Jama’ah.

Kalau pembaca berjalan keliling dunia, dari Barat ke Timur atau dari Utara ke Selatan dan bertanya-tanya tentang Madzhab dalam furu’ syari’at dan dalam i’itiqad di sesuatu daerah Islam, saudara-saudara akan mendapat jawaban begini :

  1. Di Maroko Madzhab Maliki/Ahlussunah wal Jama’ah.

  2. Di Aljazair Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  3. Di Tunisia Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  4. Di Libya Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  5. Di Turki Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  6. Di Mesir Madzhab Hanafi dan Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  7. Di Iraq Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sebagian kecil Syi’ah (Najaf – Karabela).

  8. Di India Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  9. Di Pakistan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sebagian kecil Syi’ah Isma’iliyah (Agha Khan).

  10. Di Indonesia Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  11. Di Pilipina Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  12. Di Thailand Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  13. Di Malaysia Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  14. Di Somali Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  15. Di Sudan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  16. Di Negeria Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  17. Di Afganistan Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.

  18. Di Libanon Madzhab Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah, sebagian Syi’ah.

  19. Di Hadharamaut Madzhab Syafi’i/Ahlussunah wal Jama’ah.

  20. Di Hijaz Madzhab Syafi’i dan Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah dan sedikit Hambali/Wahabiyah.

  21. Di Nejdi Madzhab Hambali/Wahabiyah.

  22. Di Yaman Madzhab Zaidiyah (Syi’ah), Sebagian Syafi’iyah/Ahlussunah wal Jama’ah.

  23. Di Iran Syi’ah Dua Belas.

  24. Di seluruh daerah Sovyet 90% dari 24.000.000 Muslim adalah Ahlussunah wal Jama’ah/Hanafi, 10% Syi’ah.

  25. Di Tiongkok, Hanafi/Ahlussunah wal Jama’ah.


Begitulah daftarnya pada umumnya.

Nampaklah bahwa sebahagian besar ummat Islam di atas dunia pada zaman sekarang adalah penganut dan pendukung paham Ahlussunah wal Jama’ah.

Sumber: I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah, K.H. Siradjuddin Abbas.

File : Aqidah / I'tiqad Ahlusunnah Wal Jama'ah


====================================================

Dari Anas bin Malik ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas.” [HR. Ibnu Majah (3950), Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1220) dan al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (2069).

====================================================

"Apabila disebut nama Ahlussunnah secara umum, maka maksudnya adalah Asya'irah (para pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari) dan Maturidiyah (para pengikut faham Abu Manshur al-Maturidi" (Ithaf Sadat al-Muttaqin, Muhammad Az-Zabidi, juz 2, hal. 6.). وأما حكمه على الإطلاق وهو الوجوب فمجمع عليه في جميع الملل وواضعه أبو الحسن الأشعري وإليه تنسب أهل السنة حتى لقبوا بالأشاعرة (الفواكه الدواني، أحمد النفراوي المالكي، دار الفكر، بيروت، 1415، ج: 1 ص: 38) "Adapun hukumnya (mempelajari ilmu aqidah) secara umum adalah wajib, maka telah disepakati ulama pada semua ajaran. Dan penyusunnya adalah Abul Hasan Al-Asy'ari, kepadanyalah dinisbatkan (nama) Ahlussunnah sehingga dijuluki dengan Asya'irah (pengikut faham Abul Hasan al-Asy'ari)" (Al-Fawakih ad-Duwani, Ahmad an-Nafrawi al-Maliki, Dar el-Fikr, Beirut, 1415, juz 1, hal. 38). كذلك عند أهل السنة وإمامهم أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي (الفواكه الدواني ج: 1 ص: 103) "Begitu pula menurut Ahlussunnah dan pemimpin mereka Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Al-Fawakih ad-Duwani, juz 1 hal. 103) وأهل الحق عبارة عن أهل السنة أشاعرة وماتريدية أو المراد بهم من كان على سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فيشمل من كان قبل ظهور الشيخين أعني أبا الحسن الأشعري وأبا منصور الماتريدي (حاشية العدوي، علي الصعيدي العدوي، دار الفكر، بيروت، 1412 ج. 1، ص. 151) "Dan Ahlul-Haqq (orang-orang yang berjalan di atas kebenaran) adalah gambaran tentang Ahlussunnah Asya'irah dan Maturidiyah, atau maksudnya mereka adalah orang-orang yang berada di atas sunnah Rasulullah Saw., maka mencakup orang-orang yang hidup sebelum munculnya dua orang syaikh tersebut, yaitu Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi" (Hasyiyah Al-'Adwi, Ali Ash-Sha'idi Al-'Adwi, Dar El-Fikr, Beirut, 1412, juz 1, hal. 105). والمراد بالعلماء هم أهل السنة والجماعة وهم أتباع أبي الحسن الأشعري وأبي منصور الماتريدي رضي الله عنهما (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح، أحمد الطحطاوي الحنفي، مكتبة البابي الحلبي، مصر، 1318، ج. 1، ص. 4) "Dan yang dimaksud dengan ulama adalah Ahlussunnah Wal-Jama'ah, dan mereka adalah para pengikut Abul Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi radhiyallaahu 'anhumaa (semoga Allah ridha kepada keduanya)" (Hasyiyah At-Thahthawi 'ala Maraqi al-Falah, Ahmad At-Thahthawi al-Hanafi, Maktabah al-Babi al-Halabi, Mesir, 1318, juz 1, hal. 4)

==================================================

Pada saat ini kaum Ahlussunah Wal Jamaah (Ahlusunah/ Sunny) adalah kaum yang paling dimusuhi oleh orang-orang Yahudi dan dan orang-orang  Musyrik.  Diberbagai belahan dunia yang menjadi korban peperangan/pembunuhan  orang muslim sebagian besar adalah kaum Ahlussunah Wal Jamaah.

Sebagaimana difirmankan oleh Allah,

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)

Ingat,  kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik

Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu.

Secara sederhana dapat diartikan jika ada orang/jamaah/kelompok/organisasi muslim namun sama sekali tidak dimusuhi oleh kaum Yahudi maupun kaum Musyrik artinya ada kemungkinan sudah tersusupi orang mereka atau tersusupi pemikiran mereka yang keliru/sesat atau i'tiqad itu sendiri yang tersesati oleh syetan/iblis.

Wallahu a'lam

File terkait : Ahlussunnah Bantah Ahmad Ibn Taimiyah