Senin, 07 Juni 2010

Pendidikan Akhlak

Pendidikan Agama & Akhlak


(Sebuah catatan untuk yang sedang atau akan menuntut ilmu)

Saya sedih sekali melihat keadaan saudara-saudara muslim kita saat ini. Oleh karenanya saya menuliskan pada blog http://mutiarazuhud.wordpress.com dalam rangka mengingatkan dan menjelaskan kepada saudara-saudara muslimku.

Apapun istilah atau propaganda yang tanpa mereka sadari ikuti, modernisasi agama, fundamentalis agama, pemabaharuan agama, ijtihad baru, persatuan dalam negara atau nasionalisme menggantikan persatuan dalam agama, taat pada penguasa negara yang mereka katakan ulil amri dll.

Semua itu bagi saya, semata-mata propaganda orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap kaum mukmin sebagaimana Allah berfirman yang artinya,
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sebagai contoh, akibat "modernisasi agama", pendidikan agama telah mengalami pendangkalan tujuan, menjadi sekedar pengetahuan/pelajaran/pengajaran agama. Berbeda jauh dengan apa yang disebut dahulu sebagai "pondok" atau "mondok" atau "berguru".

Sehingga sekarang kita dapati sebagian umat muslim semata-mata menjalankan sholat berdasarkan "pengetahuan" dan menurut pemahaman mereka bahwa mereka sudah "menyelesaikan" kewajibannya. Tampak masih jauh dari makna mendirikan sholat apalagi makna mi'raj seorang muslim.

Begitu pula yang mengikuti pendidikan tinggi agama baik di dalam negeri maupun di luar negeri sampai ketempat yang menggunakan bahasa arab, baik tingkat S1, S2, S3 dengan title LC,DR,PROF dll. Pendapat saya, mereka mendapatkan sekedar pengetahuan atau mendapatkan pengajaran agama. Sama sekali bukan "pendidikan" agama sebagaimana dahulu dikenal dengan kegiatan "pondok" , "mondok" atau "berguru".

Memang mereka yang mengikuti "pondok","mondok" dan "berguru" tidak mendapatkan title, namun mereka mendapatkan "didikan" sehingga mereka Insyaallah sampai pada tingkatan Ihsan (muhsin), menyembah kepada Allah seolah-olah mereka melihat-Nya walaupun mereka tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat mereka. Guru mereka membantu, membimbing, mendidik , menhantarkan mereka menuju kepada Allah, membuat mereka dapat mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring, untuk "bertemu" Allah atau"terhubung" (wushul) dengan Allah. Sehingga mereka adalah sebenar-benarnya "bersaksi" atau "penyaksi" (syahid).

Setelah murid dapat "bertemu" Allah atau "terhubung"(wushul) dengan Allah,  Allah yang akan memimpin murid, mengajarkan,  membimbing dan mewariskan ilmu. Sebagaimana firman Allah yang artinya, "...Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (QS al Baqarah, 2: 282).   Diriwayatkan pula dalam suatu kabar, "Barangsiapa mengamalkan sesuatu yang telah diketahui maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui".

Insyaallah mereka yang telah "bersaksi" atau menjadi "penyaksi" (syahid) akan menjemput kematian (kembali kepada Allah) dengan husnul khotimah dan mati syahid (mati dalam keadaan bersaksi) sebagaimana mereka diciptakan Allah pada awal mula kejadian (ketika dalam alam kandungan).

Mengenai "bersaksi", bacalah tulisan  selengkapnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/03/saya-bersaksi/

Pada awal mulai kejadian, sebagaimana firman Allah yang artinya,
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Ketika mereka "kembali", sebagaimana firman Allah yang artinya,
“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada saat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” (QS Al An’am 6: 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: “ Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu” (QS Al Kahfi 18:48).

Sungguh, para pembaca , kalau umat muslim dapat sebenar-benarnya bersaksi, tidak akan terpecah, tidak akan berdebat, tidak akan mencaci, tidak akan menghujat, tidak akan mengolok-olok, tidak akan mensesatkan saudara muslimnya, tidak akan mengkafirkan sesama muslim, tidak akan memperturutkan hawa nafsunya, tidak akan sombong.

Jika sebenar-benarnya bersaksi, insyaallah kita akan tersungkur sujud dan mengatakan sebenar-benarnya perkataan , "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan".

Bacalah selengkapnya tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/03/saya-bersaksi/

"Ya Allah, berikanlah kemudahan untuk menyampaikan kepada saudara-saudara muslimku agar mereka tidak menyia-nyiakan kehidupan mereka di dunia, agar mereka dapat berbekal bagi kehidupan akhirat dengan sebaik-baiknya bekal"

Wassalam

.

.

Zon di Jonggol

======================================================

Link / tulisan  terkait,

Kisah Sedih Pendidikan Akhlak


Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ivan Illich dalam buku monumentalnya, Deschooling Society, mensyaratkan penghapusan sistem sekolah, demi terbebasnya potensi kreatif manusia.

Dalam potensi itu, manusia bisa mengalami pencerahan, yang sejak terbangunnya pendidikan formal, telah terbrangus, menjadi robot yang cetakan mesin pendidikan.

Ya, sebuah warna kontras, antara fungsi pendidikan sebagai penemuan kembali fitrah manusia, dengan formalisme sistem yang membuat manusia semakin jauh dari hakikat diri.

Apakah seradikal itu?

Ya, dan ini soal lain. Yakni soal bagaimana proses menjadi manusia yang fitri itu terhambat. Macet. Terkhusus sistem pendidikan akhlak kita. Sebuah pendidikan nan sumir, karena akhlak begitu abstrak, eufimis, dan sering hipokrit.

Bicara akhlak adalah bicara moral, yang setiap kita melongok ke ruang kuasa, baik pemerintah, sekolah, bahkan agama, seakan menjadi jual-bualan yang membuat kita pesimis, apakah sebegitu parah akhlak masyarakat kita?

Lalu kitapun menengok ke pesantren, tentu sebelum sistem sekolah itu mengotakkanya dalam silabus formal, yang mengikis mozaik tradisi keilmuan Islam.

Adalah fiqh-sufistik, sebuah korpus keilmuan yang menyatukan antara ketaatan terhadap hukum Islam, dengan pendalaman batiniah tasawuf. Ia bahkan sejak gelombang kedua Islamisasi awal abad ke-19, telah membentuk corak budaya dari warga muslim kita.

Di pesantren, pendidikan akhlak diajarkan bukan hanya level teoritis, tetapi praktis, sehari-hari, membentuk sub-kultur yang berbeda dengan hedonisme masyarakat luar pesantren.

Ia terlembaga, tidak dalam kurikulum formal, tetapi dalam tradisi wirid, keberanian mengutamakan motivasi keilahian diatas tarikan ego, menjadikan standar minimalis bagi materi, dan maksimalis bagi spiritualitas. Dan setelah itu, tidak perlu nilai : C, untuk mata pelajaran akhlak.

Dalam kaitan ini, Ahmad Shodiq, dosen akhlak dan tasawuf di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, akan menceritakan kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan kita.

Ia merupakan dilema, antara jauhnya standar akhlak menurut kualitas hidup sufi, dengan angkuh sistem pendidikan. Dilema sistemik ini dipersedih oleh fakta bahwa para gurupun ternyata jauh dari standar akhlak, dalam sebuah ruang kelas, dimana para murid hanya mencari coretan nilai, atau sebatas titik absensi.

Apakah begitu parah wajah sistem pendidikan akhlak kita, dan masihkah ada kesempatan memperbaikinya?

Berikut wawancara Cahaya Sufi dengan dosen yang akhirnya membuat pengajian rutin di rumah, dengan para mahasiswanya.

Bagaimana penerimaan tasawuf di ruang pendidikan kita, pak?
Ada kecenderungan beberapa mahasiswa yang anti tasawuf.  Kemungkinan karena ada unsur ideologi Wahabi atau salafi yang anti tasawuf. Itu karena tasawuf memang tidak langsung bisa dijelaskan, apalagi pada masa-masa awal kita menjelaskan, pasti ada yang menyangsikan.

Apakah ia merupakan realitas yang bisa dipahami?
Itu kan yang sering dipertanyakan. Anak-anak yang kritis kadang mengambil posisi kontra dulu. Tapi setelah pertemuan tiga sampai empat kali, kecenderungannya menjadi mereda, kemudian akomodatif, dan cenderung memahami.

Menyikapi keadaan ini?
Saya lebih menggunakan pendekatan persuasif, lebih mencari cara yang rasional. Karena menurut saya, perubahan akhlak itu tidak mungkin terjadi tanpa melalui rasionalisasi. Kecuali kalau kita menggunakan metodologi robbani, intuitif. Kalau itu kerjanya para masyayikh, mursyid, dan orang yang belum mencapai walayah (kewalian) saya kira kalau kita tidak akan mampu seperti itu.

Kalau dalam dunia akademis, maka harus melalui rasionalisasi. Karena sesungguhnya, jika ada perilaku salah, itu pasti karena konstruk batin yang salah. Karena menurut Imam al-Ghazali, akhlak itu gambaran keadaan batin ('ibaaratun an al-hayatin nafsih) yang sudah tertanam mendalam (raasikhun) dimana semua perilaku menyandar pada keadaan yang mendalam itu (tashduuru fiihal af'al) yang kemunculannya secara gampang (bisuhuulatin wa yusrin).

Karena sudah mengalami internalisasi yang lama, sehingga perilaku itu menjadi kebiasaan yang tidak disadari lagi, maka ia muncul sebagai bentuk perilaku negatif atau positif. Ketika ada perilaku negatif, persoalannya bukan memarahi, tetapi lebih kita pahami, bahwa ini adalah tampilan dari kondisi dalam yang harus dibenahi secara intens.

Oleh karena itu keadaan batin ini nggak akan berubah selama sikap batin orang tidak berubah. Dari sini, perubahan harus dimulai dari sisi wacana, selayak Imam al-Ghazali yang selalu taqdiimul 'ilmi.

Maksudnya perubahan wacana?
Ya dalam arti, berbagai konsep tentang kebaikan dan keburukan menurut murid harus di dekonstruksi dulu. Nah dekonstruksi ini tidak perlu mencaci-maki, tetapi lebih mendudukkan persoalan baik-buruk secara proporsional menurut dasar agama. Ketika itu dijelaskan, dia bisa mengerti, apa sebenarnya kebaikan dan alasan mengapa orang berbuat baik. Kenapa orang harus tunduk pada aturan Allah, dan kenapa orang harus mengikutinya.

Biasanya, saya memulai penjelasan dengan menjelaskan jati diri manusia. Saya lebih mengenalkan hakikat ruhani itu apa, supaya dia bisa mengenali dirinya sendiri. Dalam waktu terbatas, kita menginginkan dia mengintorspeksi diri, dan sedikit banyak bisa membenahi apa yang salah.

Karena ini pembelajaran orang dewasa kan tidak bisa murni indoktrinasi, tetapi harus melalui proses penyadaran. Kalau penyadaran ini berhasil, dia akan melakukan pilihan ulang terhadap sandaran hidup yang selama ini dia pegang.

Nah pada saat dia melakukan pilihan-pilihan ulang, kita berharap ada rasionalisasi yang lebih lurus. Pada saat itu, kalau dia berpihak pada kebenaran yang lebih lurus, baru kita bisa berharap, sikap atau akhlak yang lama terbentuk, kemudian terkoreksi. Maka dia akan menjadi gamang untuk melakukan keburukan lagi. Nah gamang ini menjadi pertanda baik. Tapi mungkin dia tidak sesegera itu berubah. Ini adalah masa dimana kita harus sabar menunggu orang untuk berubah. Karena semua bi 'aunillah, semua dengan pertolongan Allah. Kalau Allah memberikan hidayah dengan kecepatan tertentu, orang bisa berubah sewaktu-waktu, tapi dalam proses normal biasanya butuh waktu.

Bagaimana anda  menyikapi akhlak murid yang kurang baik?
Saya memegang qaul Imam Syafi'i yang menyatakan bahwa orang yang buruk itu seperti pantatnya dandang (tempat menanak nasi) yang hitam. Kata Imam Syafi'i, dia hitam, dan dia ingin menempelkannya ke kulit kita. Kalau kita terpancing, maka yang hitam itu dua. Jadi kalau sampai kita sadar bahwa ada ruhani yang tidak stabil, dan kita terpancing untuk tidak stabil, maka sesungguhnya yang terjadi adalah dua ketidakstabilan, karena kita terpancing.

Saya teringat muridnya Aby Yazid al-Busthami, yang selama 30 tahun selalu qiyamullail, shaimunnahar, puasa dan sholat malam tiap hari. Tapi ketika bertanya kepada Abu Yazid, "Syekh, perasaan saya, selama 30 tahun mendampingin Anda, saya tidak pernah merasakan apapun dari kenikmatan batin yang engkau ceritakan itu".

Abu Yazid kemudian berkata, "Sampai mati kamu puasa dan sholat malam terus, kamu tidak akan merasakan apa-apa". Dia kaget dan dia meminta terapi ruhani yang bisa mengobatinya.

Kata Abu Yazid, "Ada, tapi kamu tidak akan mampu". Abu Yazid kemudian memberitahu, "Kamu harus mencukur jenggotmu, menjual semua hartamu, kemudian bajumu diubah dengan baju gembel, setelah hartamu yang kamu jual itu, kamu belikan mainan dan makanan anak-anak, kemudian dironce (di kalungkan) di leher, dan pergi ketempat dimana anak-anak kecil berada. Mintalah anak-anak itu untuk meludahimu, dan setiap satu kali ludahan, kau beri anak-anak itu satu mainan dan makanan, sampai makanan itu habis.

Kalau itu sudah selesai, kamu pergi ke pasar, dimana kau terkenal sebagai orang terhormat, kemudian dengan pakaian seperti itu kamu tidak boleh beranjak sebelum orang-orang sepasar itu melihat kamu dalam keadaan seperti itu".

Nah sang murid itu kemudian berkata, "Subhanallah".

Subhanallah-mu musyrik, kata Abu Yazid, karena Subhanallah kau ucapkan untuk menyanjung dirimu, yang tidak pantas kau perlakukan seperti itu. Akhirnya si murid tidak mampu melakukan itu, karena ada kesombongan dalam dirinya.

Memang kalau saya analisis penjelasan para sufi, hijab itu kan banyak. Nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ' ibadah, sampai karomah juga hijab.

Tetapi para ulama menyebut, hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain nggak kelihatan, bagaimana dia bisa melihat Allah.

Hal yang sama terjadi, ketika seorang sufi besar menemukan cara untuk menyembuhkan kesombongan muridnya. Jadi pada saat itu sang mursyid menyatakan, kalau kau mau sembuh dari kesombongan itu, kau harus menjadi orang miskin, dan membawa mangkok pengemis. Dan kau harus meminta-minta kesemua kampung dimana kau tinggal. Tapi kenyataannya setelah dilakukan, dan dia pulang ke mursyid, sang mursyid mengatakan, "Saya tidak tahu lagi caranya. Setelah kau lakukan saran saya, ternyata kau itu, kalau dulu sombong karena kekayaan, hari ini kau sombong karena mampu melaksanakan cara hidup seperti orang miskin".

Bisa jadi kita itu bisa tidak sombong karena memakai baju mewah, tapi jangan lupa, menggunakan baju sederhanapun bisa sombong.

Seberapa efektifnya  pendidikan akhlak dan tasawuf dalam sistem pendidikan kita?
Bagi saya, pendidikan formal dalam rangka mewarisi akhlak yang digambarkan oleh para sufi, saya sebenarnya termasuk orang yang pesimis.

Kenapa?

Karena pendidikan kita itu lucu. Kalau saya analisis kurikulum madrasah ibtidaiyyah (mata pelajaran aqidah akhlak), setelah saya lihat, saya jadi bingung sendiri. Ini yang menyusun sadar atau tidak ya?

Karena kalau dari kaca mata pendidikan, sesungguhnya sangat verbalistik, dan kognitif oriented.

Kalau pembelajaran akhlak seperti itu, menurut saya tidak bisa. Kalau saya kembali ke penjelasan Imam al-Ghazali di Ihya', beliau mengharuskan akhlak itu dalam bentuk pembiasaan, tidak bisa dengan pembelajaran.

Kalau kita ingin menjadikan orang melakukan suatu hal, maka Imam al-Ghazali mengharuskan ia melakukan perbuatan orang seperti yang ia inginkan. Jadi kalau dia ingin menjadi faqih, maka dia harus melakukan apa yang dilakukan faqih, sampai dia menjadi faqih.

Kalau ingin menjadi orang sabar, dia harus berbuat seperti orang sabar, meskipun dia susah melakukan itu.

Kalau melihat itu, maka pendidikan akhlak kita nggak mengacu kesana. Jadi pendidikan itu hanya masuk dalam logika-logika dangkal, yang tidak meresap dalam batin.

Itu saja, kalau kita ngomong kurikulum, seburuk apapun, asal sang guru 'alim, saya kira nggak masalah. Guru bisa melakukan itu. Tapi persoalannya berapa persen guru yang benar-benar bisa mendidik anak-anaknya?

Karena akhlak itu tidak bisa terwujud jika seseorang tidak melakukannya kan. Itu yang repot di pendidikan akhlak. Bagaimana seseorang bisa mengajarkan sabar, kalau dia sendiri nggak sabar.

Bukankah di Risalah Qusyairiyah dijelaskan, bahwa al-tashawwufu khuluqun faman zaada 'alaika fi khuluqi zaada 'alaika fi al-shifa'. Tasawuf itu kan akhlaq. Semakin  akhlaknya tambah bagus, pasti ruhaninya tambah bersih.

Bahkan sufi lain mendefinisikan laisa al-tashawwuf al-rasman walaa 'ilman, tasawuf itu bukan keterampilan, bukan juga ilmu. Kalau tasawuf itu keterampilan, lafashala bil mujahadah, dia pasti bisa dicapai dengan mujahadah, training.

Seandainya tasawuf adalah ilmu, pasti dia bisa diperoleh melalui ta'lum, belajar. Tapi tasawuf itu sesungguhnya adalah takhalluq bi akhlaaqillah, bagaimana mengakhlakkan batin ruhani ini menjadi baik, sehingga tampil diluar menjadi baik, sebagai refleksi batin.

Contoh simple, ketika saya bertemu dengan Romo Yai Asrori (KH Ahmad Asrori Al Ishaqi) , ketika beliau menjelaskan masalah ini.

Beliau bilang, "Gampang ngukur orang itu sabar atau punya ilmu tentang sabar. Kalau ada kyai cerita tentang kesabaran, coba buang sandalnya. Kalau kemudian dia marah, berarti dia baru punya ilmu sabar, tetapi belum sabar".

Jadi batasnya sandal ya, ha..ha..

Lha iya. Apalagi kalau kyai itu sambil marah mengatakan, "Kamu bisa dilaknat Allah, sandalnya kyai dibuang!",

Ya itu, semakin menjustifikasi kemarahannya dengan dalil. Jadi dalam kaitan ini, maka orang tidak menjadi mudah dalam mengukur orang lain. Karena ukuran-ukuran substantif itu menjadi lebih esensial dalam tasawuf, daripada ukuran formal.

Bisa jadi orang itu tidak bisa mengeluarkan satu dalilpun tentang tasawuf, tetapi bisa jadi ruhaninya sampai pada Allah.

Orang-orang tua yang tulus mencarikan rejeki untuk anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Meskipun anaknya kuliah dan master dalam bidang ketasawufan, belum tentu dia bisa mengalahkan kesabaran bapak-ibunya.

Nah menurut saya, itu yang membuat Imam al-Ghazali mengatakan, sesungguhnya yang disebut ilmu ladunni dalam definisi luas, itu ya semua bentuk kesadaran batin yang mengantarkan orang untuk konsisten kembali kepada Allah.

Termasuk sabar, sebenarnya bagian dari mawahid. Kalau orang tidak diberi kesadaran ya nggak akan bisa.

Jadi kalau hadits Rasul mengatakan idza ahabballahu 'abdan ibtalaahu wa idzabtalaahu shobbaraahu. Kalau Allah sayang kepada seorang hamba-Nya, maka ia akan dicoba, tapi ia dijadikan sabar oleh Allah. Kalau sudah sabar, innallaha ma'a al-shabirin.

Bagaimana anda memaknai tugas sebagai guru, dalam sistem pendidikan yang sebenarnya membuat para guru hanya fungsional, cari pekerjaan?
Ya benar. Dan saya tahu kita mengerti benar bagaimana hakikat mendidik dalam Islam. Tentu saja Sayyidina Ali mensyaratkan ada keikhlasan, tapi ya bagaimana wong sekarang ini anak-anak kuliah itu nyari nilai. Nah itu kan masalahnya.

Ya. Dan ketika masuk harus diabsen, sehingga absen itu lebih penting dari ilmunya kan.

Saya kira perjuangan yang sangat berat bagi orang yang memahami benar posisi pendidik, akan sepakat dengan Imam al-Ghazali di kitab Risalah, bahwa sesungguhnya pendidik itu seperti dokter, dan anak-anak itu pasien yang mengalami sakit. Yakni sakit ruhani yang terjadi karena pengalaman-pengalaman negatif setelah fitrah. Karena fitrah itu suci.

Imam al-Ghazali mengatakan kesucian fitrah itu bima'na ahlul ma'rifah.. Bahkan semua orang menurut Imam al-Ghazali punya kemungkinan untuk ma'rifat, tentu dalam skala yang berbeda, dan kualitas berbeda. Tetapi karena kemudian tarikan nafsu, syahwat, ghodlob, ketertarikan dunia, dsb membuat noktah-noktah hitam semakin banyak.

Ini membuat orang terjebak dalam sakit, dan tidak seorangpun lepas dari penyakit ruhani itu. Termasuk sang guru.

Maka sebenarnya guru harus belajar menyembuhkan dirinya. Dan dia harus punya guru, karena kalau dia nggak punya guru, konsultasinya sama siapa. Karena orang yang tidak punya guru akan cenderung menyebut baik dirinya.

Dan tentu saja, pengalaman sebaik-baiknya dari eksperimentasi sendiri, itu tidak akan lebih baik dari kesimpulan yang diambil dari sekian ribu guru yang sudah terwarisi, dan sudah disarikan dalam tradisi thariqah.

Saya tetap mengatakan bahwa seharusnya kalau kita bicara tasawuf yang hakiki, pasti tidak ada jalan selain thariqah, dan harus ada mursyid. Kalau kita bicara tentang posisi guru yang hakiki ya mursyid thariqah saya kira. Hanya persoalannya, mencari mursyid yang hakiki juga tidak mudah.

Tentang mursyid itu saya kira berat sekali persyaratannya. KH Hasyim Asy'ari misalnya dalam ad-Duratul Muntatsirah, memberi syarat mursyid itu harus mutabakhir, ilmunya melaut. Dia harus ahli fiqh, tafsir, hadist, dan syarat yang paling berat adalah dia harus waashil ilallah (sudah sampai kepada Allah).

Kalau dia tidak menguasai fiqh, tafsir, hadist, dan tidak waashil, KH Hasyim menyatakan, berada diluar thariqah lebih baik daripada didalam thariqah (tidak perlu jadi Mursyid).

Tapi kalau ketemu orang seperti itu, maka didalam thariqah  (tetap menjadi murid thariqah saja) lebih baik daripada diluar thariqah. Hanya bagi saya, meskipun ini belum ada penelitian, tapi saya sangat yakin, bahwa guru sufi, saya tidak pernah menemukan guru sufi yang tidak cerdas. Jarang sekali ada mursyid yang tidak kokoh dalam berbagai keilmuan.

Apakah guru sekolah bisa menjadi mursyid?
Nah persoalannya itu. Apakah guru dalam pendidikan formal bisa menjadi mursyid?

Terlalu berharap banyak kalau kita memberi syarat seperti itu. Guru itu bisa konsisten dengan standar akhlak yang standar saja, itu sudah baik. Guru itu bisa memberi contoh untuk tidak rakus ketika makan, tidak gampang marah, benar-benar berfungsi sebagai bapak bagi anak didiknya, itu sudah bagus.

Kalau kita tuntut untuk menjadi mursyid, itu terlalu tinggi. Meskipun saya berupaya untuk melakukan itu. Tapi menurut saya butuh usaha keras.

Ada satu hal yang menarik, ketika saya memberikan pelajaran tentang pemikiran ulama Indonesia. Waktu itu selesai mengkaji tentang Sultan Hasanudin Banten. Saya ingin ngajak anak-anak ke Banten, supaya mereka tahu kondisi di lapangan. Ternyata, ketika saya pinjam kendaraan ke fakultas, fakultas nggak mau menfasilitasi.

Jadi saya berpikir, pendidikan itu tidak sekadar formalistik, dan tidak betul-betul membentuk keruhanian anak yang baik. Itu yang membuat saya mengambil keputusan, harus berjalan sendiri. dan karena itu akhirnya, forum tersebut saya alihkan ke rumah. Karena menurut saya kita tidak bisa berharap banyak dari model sistem sekolah.

sumber:  http://www.sufinews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=265%3Akisah-sedih-pendidikan-akhlak&catid=84%3Awawancara&Itemid=303&showall=1

Kita Butuh Gaza

Surat "Gaza tidak membutuhkanmu !", dibuat Santi Soekanto ( wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010 ) di atas kapal Mavi Marmara saat masih berada di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.

Surat ini beredar cukup luas dan cepat. Menurut saya dikarenakan disebarluaskan oleh baik yang pro membantu Palestina maupun yang “membiarkan” Palestina.

Mungkin para pembaca akan terkejut, saya katakan bahwa ada sebagian umat muslim yang “membiarkan” palestina ?
Bacalah tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/dukung-palestina/

Bagi mereka yang “membiarkan” palestina,  tertarik menyebar luaskan dikarenakan judul surat tersebut “Gaza Tidak Membutuhkanmu!”

Komentar mereka secara cepat tanpa membaca isi surat itu, diantaranya adalah "Benar, Gaza tidak membutuhkanmu !"

Padahal inti surat itu ada pada kalimat berikut

…Gaza tidak membutuhkan aku. Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds….

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak -betapa pun sedikitnya- menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.

Tepat sekali ungkapan hati, jurnalis kita bahwa “Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini”…

Benarlah saudara-saudara muslimku. Kita yang membutuhkan Gaza ! Kita yang membutuhkan saudara-saudara muslim kita di Palestina !

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
“Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai……..(HR. Muslim).

Ketetapan Allah tentang keadaan di Palestina saat ini, merupakan cobaan bagi kita, umat muslim di tempat lain.
Membantu dan Mendukung saudara-saudara muslim kita di Palestina adalah bagian dari penyempurnaan keimanan kita sebagaimana hadits di atas.
Sedangkan membiarkan mereka adalah wujud dari cinta dunia.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)

”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” [Asy Syuura:20]

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’aam : 44 ).

Kamis, 03 Juni 2010

Saya bersaksi

Marilah merasakan dan mengalami sebenar-benarnya
"saya bersaksi"


Pada dunia maya (internet), baik melalui  email, chatting, milis,  forum diskusi, blog   kadang kita temui perdebatan dalam bidang agama dengan berbekal pemahaman maupun ilmu yang dipahami/diketahui.

Kita dapat pula temukan sebagian umat muslim gemar “mencela”, “menghujat”, “menilai”, “menghakimi” saudara-saudara muslim lainnya berdasarkan tingkat pemahaman mereka sendiri.

Padahal Allah telah sampaikan bahwa adanya perbedaan tingkat pemahaman / kompetensi pada muslim semata-mata semua itu merupakan kehendak Allah sebagaimana firmanNya yang artinya.

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

Insyaallah muslim yang sudah memahami dan mengupayakan ma’rifatullah tidak akan “mencela”, “menghujat”, “menilai” atau “menghakimi” saudara-saudara muslim lainnya, karena mereka sudah “merasakan”  dan “mengalami” makna “saya bersaksi” dalam kalimat syahadatain.

Sebagaimana yang disampaikan imam Al Qusyairi bahwa,
Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Orang-orang yang terhijab tidak akan mampu "bersaksi". Hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul 'ibadah,  sampai karomah juga hijab, dll. Salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain nggak kelihatan, bagaimana dia bisa "melihat" Allah ( "bersaksi").

Orang-orang yang sibuk memperturutkan hawa nafsu adalah bukan sebenar-benarnya seorang syahid (penyaksi) pantaslah kalau mereka masih “mencari” “di mana Allah” atau “bagaimana Allah”. Celakalah mereka ! Semoga Allah memberikan pertolongan karunia pemahaman yang lebih baik kepada mereka.

Imam Al Qusyairi mengatakan, " Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan "bagaimana Dia?" atau "dimana Dia?". Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu  menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apap pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa".

Secara syariat, seorang muslim sudah terpenuhi rukun Islam ketika telah dengan sungguh-sungguh mengucapkan “saya bersaksi” dalam kalimat syahadatain ( 2 kalimat syahadat). Sebaiknya kita tidak berpuas diri sebatas pengucapan atau pernyataan saja.

Bilakah manusia sebenar-benarnya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah ?

Setiap manusia sudah bersaksi bahwa Allah adalah sebagai Rabbnya ketika masih dalam alam kandungan. Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firman yang artinya.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Keadaan sebenar-benarnya bersaksi terjadi dikarenakan manusia (ketika bayi dalam kandungan) dalam keadaan suci dan bersih.

Ketika bayi dalam kandungan berada di dalam air ketuban (omnium water). Sehingga seorang bayi dalam kandungan tidak melakukan aktifitas inderawi secara sempurna. Dengan kata lain seorang bayi tidak makan dan tidak minum atau berbicara dengan mulut, tidak bernapas dengan hidung, tidak melihat dengan mata, tidak mendengar dengan telinga, dan tidak buang air besar atau kecil melalui anus atau kemaluan. Tetapi bayi tersebut mendapatkan semua kebutuhan jasmaninya melalui saluran plasenta yang menghubungkan antara pusar bayi dengan dinding rahim ibu.

Dalam kandungan, seorang bayi juga tidak berpikir dikarenakan fungsi otaknya belum sempurna, tetapi kemampuan ruhani bayi telah hidup sempurna.

Keadaan sebenar-benarnya bersaksi terjadi dikarenakan dalam keadaan suci dan bersih, ketika panca indera dan hawa nafsu (jasmani) belum mempengaruhi ruhani. Saat-saat manusia terhubung (wushul) dengan Allah SWT.

Jadi upaya yang harus dilakukan agar kita bisa merasakan dan mengalami sebenar-benarnya bersaksi  dan kembali terhubung (wushul) dengan Allah SWT adalah kembali bersih dan suci.  Upaya yang dilakukan adalah dengan bertaubat yang sungguh-sungguh, akhlak yang baik, adab yang mulia, mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs), mengenal diri, manajemen hati, sebagaimana upaya yang dilakukan oleh kaum sufi.

Sekarang kita dapat mengambil pelajaran (al-hikmah) dari perkataan Rasulullah SAW,  "Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid" (HR.Ibnu Majah), dengan makna mensucikan jiwa, akhlak yang baik, adab yang mulia dalam perjalanan hidup kita, mengantarkan kita kembali sebenar-benarnya bersaksi (syahid) sebagaimana pada awal mula kejadian kita (ketika bayi dalam kandungan).

Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan, agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada saat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” (QS Al An’am 6: 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: “ Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahwa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu” (QS Al Kahfi 18:48).

Pahamlah kita kenapa muslim ketika selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan kembali dalam keadaan suci bersih, kembali fitri dengan kiasan "berbaju baru" yakni kemenangan menjaga hawa nafsu, mensucikan jiwa, berakhlak baik dan beradab mulia.  Namun sebagian umat muslim hanya memaknai secara lahiriah atau tekstual dengan mengenakan "baju baru" disaat hari raya Idul Fitri.  Akhlak adalah pakaian ruhani. Semakin  akhlaknya tambah bagus, pasti ruhaninya tambah bersih.

Begitu pula syarat syahnya sholat (mi'raj kaum muslim) adalah dengan bersuci atau berwudhu, yang diuraikan dalam thaharah.

"Tak akan diterima sholatnya orang yang ber-hadats sampai ia berwudhu’" . [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (135 & 6954), dan Muslim dalam Shohih-nya (536)]

Nasehat Syaikh Ibnu Athailllah

Betapa hati manusia akan menyinarkan cahaya, bila cermin hati kita masih memantulkan beraneka macam gambaran tentang alam kemakhlukan? Betapa seorang hamba mampu menjumpai Allah, padahal ia terbelenggu ke dalam syahwat. Bagaimana mungkin seorang hamba dengan keinginan kerasnya untuk masuk kehadirat Allah, padahal ia belum bersih dari janabat kelalaiannya. Bagaimana mungkin seorang hamba mampu memahami berbagai rahasia yang halus halus, padahal ia belum juga bertobat dari kesalahannya. ”

Wasssalam

Zon di Jonggol

.

.

Anjuran:  Silahkan lanjutkan dengan membaca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/09/mereka-lalai/

Selasa, 01 Juni 2010

Bulat dukung Palestina

Kita harus bulat mendukung  dan membantu Palestina.

Berlarut-larutnya masalah kebebasan atau belum terwujudnya kemerdekaan Palestina dari penjajah dan penyerang Yahudi Israel ada kemungkinan besar karena kita sesama saudara muslim belum “bulat” mendukung dan membantu Palestina.

Kita bisa dapatkan sebagian saudara muslim kita berpendapat sebagai berikut:

-    Warga muslim Palestina harus meninggalkan negerinya dan hijrah ke negara  lain
-    Kami berwasiat kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
-    Demo membela saudara muslim Palestina termasuk membuat kerusakan di muka bumi.
-    Kenapa sih Palestina dipikirin, mereka itu kan sering berbuat maksiat

Perhatikan pendapat terakhir, khususnya “mereka itu kan sering berbuat maksiat”

Apa yang terlintas di pikiran antum ketika membaca kalimat tersebut ?
Berapa banyakkah kemungkinan saudara-saudara muslim kita yang berpikiran/berpendapat/berpemahaman seperti itu ?
Mengapa mereka merasa berhak atau gemar “menilai” saudara muslim lain, seolah-olah mewakili Allah ?
Apakah mungkin pemikiran seperti itu yang menyebabkan tidak tegaknya Ukhuwah Islamiyah sehingga permasalahan Palestina, Afghanistan, Somalia dan lain-lain belum terselesaikan ?

Tanpa kita sadari,  kita diadu domba oleh orang-orang yang memusuhi kaum mukmin, sebagaimana saya uraikan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/kita-diadu-domba/

Dengan adanya pemikiran/pemahaman bahwa “mereka itu kan sering berbuat maksiat” sebagai bukti  bahwa kita diadu domba oleh orang-orang yang memusuhi orang yang beriman.

Orang-orang yang memusuhi orang-orang yang beriman, sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firmanNya yang artinya,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Sadarlah saudara-saudaraku, bahwa ghazwul fikri / perang pemikiran telah diupayakan oleh orang-orang yang memusuhi kaum mukmin.
orang beriman.

Ingatlah selalu, setiap muslim yang telah bersaksi Laa Ilaha Illallah,  tidak akan “menilai” atau bahkan memusuhi  saudara muslim lainnya, kecuali mereka yang telah gagal “bersaksi” atau tidak paham dengan yang dimaksudbersaksi”.

Hati-hatilah jika antum mempunyai “rasa benci” atau “rasa permusuhan” terhadap sesama muslim karena sesungguhnya tidak bisa bercampur antara haq dan bathil.

Pahamilah firman Allah yang artinya
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara....” ( Qs. Al-Hujjarat :10)

Jika tidak peduli saudara-saudara muslim lainnya, mungkin berarti karena lebih cinta dunia, merasa aman dengan kedudukan, kekuasaan, harta dan kehidupan di dunia yang sementara ini.

Wassalam

Zon di Jonggol

.

.

Tulisan ini sebagai bentuk solidaritas bagi saudara-saudara muslimku di Palestina. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi saudara-saudaraku dalam menjalankan kehidupan di dunia ini sesuai ketentuan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.  Semoga Allah selalu mencurahkan kepada mereka, karunia Iman dan Islam dan kekuatan untuk teguh bertaqwa kepada Allah.

Contoh ulama yang "menilai" saudara muslim kita di Palestina belum pada manhaj yang benar.

http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/surat-terbuka-untuk-yahudi-dan-juga-kaum-muslimin.html

Berikut cuplikan dari link di atas, khusus yang berkenaan penilaian mereka terhadap saudara-saudara muslim kita di Palestina



Khusus kepada pemerintah Muslimin

Hendaklah kalian membentuk pasukan Islam yang terdidik di atas Kitabullah dan Sunnah dan menjadikannya sebagai pondasi bagi pasukan Islam dan untuk mencapai tujuan dan target dari pasukan yang tegak di atas manhaj Muhammad shallallahu alaihi wasallam Wajib bagi kalian mendidiknya diatas aqidah, manhaj Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, metode Al-Faruq, Khalid (bin Al-Walid) dan mendidiknya di atas tujuan yang telah ditentukan oleh Allah kepada Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, agar mereka menjadi tentara Allah dengan sebenar-benarnya

Kepada rakyat Palestina secara khusus:
Hendaklah rakyat ini mengetahui bahwa Palestina tidaklah dimenangkan kecuali dengan Islam, melalui tangan Al-Faruq milik Islam dan pasukan Islamnya di bawah bimbingan Al-Faruq. Tidaklah akan dapat dibebaskan (tanah Palestina) dari kotoran Yahudi kecuali dengan Islam yang benar pula, sebagaimana dimenangkannya melalui tangan Al-Faruq.

Kalian telah melakukan lemparan batu terhadap mereka dan aku tidak mengetahui ada rakyat yang memiliki kesabaran seperti kalian. Akan tetapi kebanyakan dari kalian tidak membawa aqidah yang dimiliki Al-Faruq, tidak pula manhajnya. Sekiranya jihad kalian ditegakkan di atas ini, maka akan terselesaikan problem kalian dan kalian akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan.

Maka wajib atas kalian untuk menegakkan aqidah,manhaj dan jihad kalian di atas Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan berpegang teguh secara keseluruhan dengan tali Allah dan jangan kalian berpecah belah.

Lakukan semua ini dengan kesungguhan dan ikhlas di masjid-masjid kalian, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi. Bersikap jujurlah terhadap Allah dalam semua itu. Insya Allah pasti pertolongan akan datang untuk mengalahkan saudara-saudara monyet dan babi itu.

Sesungguhnya penduduk Syam yang muslim mendapatkan janji yang benar melalui lisan Hamba yang benar dan dibenarkan ,yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dimana mereka mendapatkan kemenangan melawan Yahudi dan Nashara. Maka singsingkanlah lengan kalian dengan penuh kesungguhan. Niscaya Allah akan mewujudkannya untuk kalian. Tanpa itu semua, kalian tidak akan mendapatkan hasil kecuali kegagalan dan kerugian. Dan tidak –demi Allah-, tidak akan bermanfaat bagi kalian adanya campur tangan Amerika dan tidak pula PBB ataupun fanatisme yang terkutuk terhadap suatu kaum,atau negara.

Maka bersegeralah menuju kepada sebab –sebab pertolongan yang hakiki. Cukuplah bagi kalian banyaknya pengalaman yang tidak membawa hasil dan tidak akan membawa hasil bagi kalian sedikitpun. Janganlah kalian seperti apa yang disebutkan dalam sebuah sya’ir:
“Bagaikan unta dipadang pasir yang mati kehausan, Sementara air dipikul diatas punggungnya”

“Ya ALLAH, kokohkanlah umat ini diatas petunjuk, sehingga mulia para penolong agamaMu dan menjadi hina musuh-musuhMu.
Ya allah, tinggikanlah kalimatMu dan agungkanlah agamaMu dan agungkanlah kaum muslimin.
Bimbinglah mereka menuju jalanMu

.

Ditulis oleh :
Rabi’ bin Hadi Umair Al-Madkhali
Pada tanggal 21-7-1421 H.

Kita diadu domba

Sadarlah saudara-saudara muslimku. Tampak jelas bahwa kita secara tidak disadari, telah di adu domba oleh orang-orang yang memusuhi Islam yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.
Sebagaimana firman Allah yang artinya,
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).

Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam (khalfiah Turki Ustmani), maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat. Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa).

Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.

Inilah titik awal suksesnya propaganda orang-orang yang memusuhi Islam, karena kita mau menerima nation-state (kesatuan berdasarkan negara) atau yang dikenal dengan nasionalisme menggantikan aqidah-state (Wilayah kesatuan berdasarkan akidah/agama)

Sebagai contoh, Kerajaan Saudi, sejauh ini, sejauh yang kita tahu, mereka “melindungi” orang-orang Yahudi maupun orang-orang musyrik yang “masuk” ke negara mereka dengan alasan “terikat” perjanjian. Namun kita tak pernah tahu sampai kapan pernjanjian itu diakhiri. Begitu pula dengan pemerintahan/penguasa negeri kita.

Dengan ‘perjanjian” itu, mereka (orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik) mendapatkan kekayaan dari sumber daya alam yang dianugerahkan Allah kepada negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim.

Dengan kekayaan yang mereka peroleh, mereka gunakan memerangi saudara-saudara muslim kita di belahan dunia yang lain. Secara tidak lansung penguasa Saudi maupun penguasa negeri kita, ikut andil untuk membunuh saudara-saudara muslim tsb dengan adanya “ikatan perjanjian”. Wallahu a’lam

Silahkan baca lebih dalam pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/28/mengangkat-taimiyah/

Sedangkan bahaya laten "adu domba", silahkan baca pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/23/bahaya-laten/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/01/26/kekeliruan-pluralisme/

atau tulisan-tulisan atau kajian-kajian kami lainnya yang sejnis di atas, lihat blog ini, pada kotak indeks (sisi kanan) "Kategori Islam"

Sedangkan "adu domba" dengan propaganda modernisasi agama silahkan baca pada tulisan
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/10/modernisasi-agama/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/02/12/tanggapan-modernisasi-agama/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/04/14/divide-et-impera/
atau
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/2010/04/29/keterhubungan-salafy/

atau tulisan-tulisan atau kajian-kajian kami lainnya yang sejenis, lihat blog ini, pada kotak indeks (sisi kanan) "Tentang Salafi Wahabi".

Salaf(i) atau Wahabi adalah kaum yang secara tidak langsung  / tidak disadari terkena adu-domba ataupun perang pemikiran (ghazwul fikri) dari  oleh orang-orang yang memusuhi Islam yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

Wassalam

Atasnama Salaf

Mengatasnamakan Salafush Sholeh



Sebagian ulama kadang mengatasnamakan pemahaman mereka sebagaimana pemahaman salafush sholeh. Sebaiknya mereka menulis dengan pemahaman saya atau yang saya pahami atau pemahaman kami atau yang kami pahami.

Begitu juga , saya agak risih jika menemukan tulisan dimulai dengan
"Pemahaman dalam Islam ..........", secara tidak disadari merupakan tulisan yang mengatasnamakan Islam, yang bisa mengakibatkan bahwa klo berbeda pemahamannya maka pemahaman yang berbeda bisa diartikan pemahaman di luar Islam ?

Coba kita perhatikan pemahaman seorang ulama dari sumber: http://abuumar.multiply.com/journal/...ir_Itu_Sesat_1
(Dikutip dari buku Terjemahan HT Mu'tazilah Gaya Baru, terbitan Cahaya Tauhid Press)

Pernyataan Syaikh Al Albani: “Golongan (Hizb) atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari perkumpulan Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam serta di atas manhaj (jalan/cara) Salafus Shalih, maka dia (golongan itu) berada dalam kesesatan yang nyata!

Manhaj Salafus Shalih ini adalah dasar yang agung maka dakwah setiap golongan kaum Muslimin harus berada di atasnya.

Berdasarkan pengetahuan saya, setiap golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya berpendapat sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang ketiga, sementara dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh.

Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.

Dan sangat kita sayangkan Hizbut Tahrir tidak berdiri di atas dasar yang ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya.

Mereka itu baik yang dulu maupun yang sekarang tidak terdapat padanya perbedaan, tak satupun di antara mereka yang menyatakan dan mengumandangkan bahwasanya mereka di atas manhaj Salafus Shalih.

Semua kelompok-kelompok ini dengan perselisihan yang ada pada mereka, baik dalam masalah akidah, dasar-dasar atau permasalahan-permasalahan hukum dan furu’ (cabang-cabang), semuanya menyatakan berada di atas Kitab dan Sunnah, akan tetapi mereka berbeda dengan kita, karena mereka tidak mengatakan apa yang kita katakan, yang perkataan itu merupakan kesempurnaan dakwah kita. Yakni (perkataan) berada di atas manhaj Salafus Shalih.



Begitulah pendapat, pemahaman, pernyataan saudara-saudara kita salaf(i) atau wahabi.

Sering kita mendapatkan tulisan-tulisan dari saudara-saudara kita salaf(i) atau wahabi mengatasnamakan Salafush Sholeh, ulama Salaf, agama Islam secara keseluruhan, namun pada kenyataan adalah pemahaman mereka sendiri.

Pendapat saya,  mereka salaf(i) atau wahabi adalah kelompok yang berupaya mengikuti Salafush Sholeh. Sedangkan bagaimana hasil upaya mereka, terserah penilaian pembaca.

Pemahaman atau Peng"aku"an ulama salaf(i) atau wahabi diatas, mungkin saja menjadi sebuah bentuk kesombongan.

Ulama sufi mengatakan hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain nggak kelihatan, bagaimana dia bisa seolah-olah "melihat" Allah (mencapai tingkatan ihsan atau seorang muhsin)

Wassalam

Zon di Jonggol

Selasa, 25 Mei 2010

I’tiqad Salafi

I'tiqad aliran salafi (madzhab Taimiyah)

Berikut tulisan-tulisan mengenai perbedaan pada bagian yang mendasar/pokok yakni i'tiqad antara metode pemahaman salafi (madzhab Taimiyah) dengan metode pemahaman Ahlussunnah wal Jama'ah

Subhanallah….! Allah Mahasuci dari Kebutuhan Tempat dan Arah
Memaknai di atas langit dengan mata hati
Pembagian Tauhid Menjadi Tiga
Tuhan Turun Ke Langit Dunia Setiap malam
Taqlid dan Ittiba’

Sedangkan berikut ini tulisan yang  diambil dari buku karya saudara kita, Muhammad Idrus Ramli, semoga beliau dirahmati Allah, dengan judul:  “Madzhab Al-Asy’ari”, Jawaban Terhadap Aliran Salafi, Penerbit KHALISTA Surabaya, 2009.

Buku ini sangat dianjurkan untuk dimiliki umat Muslim sebagai bahan kajian lebih lanjut agar dapat diketahui dan dipahami letak perbedaan Aliran Salafi sesungguhnya.

Untuk melihat cuplikan/bagian dari buku tersebut silahkan klik di sini


Madzhab Al-Asy'ari

Muhammad Idrus Ramli - Madzhab Al-Asy'ari

Dapat pula di download ebook terkait yang menjelaskan perbedaan Madzhab Taimiyah (aliran Salafi) dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah

Inilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah oleh A. Shihabuddin
(Kumpulan Dialog Membela Faham Aswaja Dari Faham Salafy Wahabi)

Penerbit menganjurkan bagi setiap muslim untuk mencetak ulang dan menyebarkan serta mengajarkan materi buku tsb  ke seluruh pelosok dunia, dan semoga baginya pahala dari Allah ‘azza wa jalla.

Untuk download silahkan melalui link dibawah ini.

Alternatif 1
4shared.com

Alternatif 2
docstoc.com

Alternatif 3 (download langsung)
docstoc.com (direct download)

Dalam blog ini ada beberapa tulisan-tulisan saya pribadi dan tulisan-tulisan yang saya sebutkan sumbernya,  dalam rangka untuk mengingatkan saudara-saudaraku Salafy (khusus untuk pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah dan sepemahaman).

Salah satu kelemahan mereka, saya telah tuangkan dalam tulisan http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/13/kelemahan-salafiyyah/
salah satu kelemahan mereka adalah menolak pengajaran bidang Ilmu Tasawuf (tentang Ihsan / Ma’rifat).

Andaikan saja saudara-saudaraku salafy mau meluangkan waktu dan membaca kitab/buku, sebagai contoh “Ar Risalatul Qusyairiyah fi ‘Ilmit Tashawwuf, Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi atau versi terjemahan “Risalah Qusyairiyah”, sumber kajian ilmu tasawuf, penterjemah Umar Faruq, penerbit Pustaka Amani, Jakarta. InsyaAllah dengan buku/kitab tersebut, saudara-saudara ku Salafy dan pembaca pada umumnya dapat memahami tentang dasar-dasar Ma’rifatullah sehingga dapat memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Allah “di atas langit”.

Syaikh Al-Qusyairy adalah seorang imam dalam majelis tadzkir. Pembicaraannya amat berpengaruh hingga meresap kedalam sanubari para jama’ahnya. Abu Hasan Ali bin Hasan Al-Bakhirizi yang hidup di tahun 462 H/ 1070M, sering menyebut-nyebut kehebatannya, bahkan memujinya dengan sanjungan yang amat istimewa. Beliau mengatakan, “seandainya sebuah batu cadas diketuk dengan “tongkat peringatan”-nya niscaya akan meleleh menangis, dan seumpama iblis tetap aktif mengikuti majelis tadzkirnya, niscaya dia akan tobat.  Subhanallah.

Kesimpulan:

Kita harus bisa membedakan antara Salaf dan Salafi.

Memang kita sebaiknya  mengikuti Rasulullah , Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ Tabi’in.

Namun berhati hati kalau mengikuti orang yang berupaya mengikuti Rasulullah, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’Tabi’in.

Salafi adalah mengikuti orang yang berupaya mengikuti Salaf.

Semoga saudara-saudaraku Salafi dapat memahami perbedaannya.

Semua ini karena Syaikh Ibnu Taimiyah menggunakan nama madzhab "generik" sehingga membingungkan orang.

Beliau "membungkus" metode pemahamannya (hasil ijtihadnya) dengan nama madzhab "salaf",  seharusnya  semua yang merupakan upaya/hasil ijtihad beliau, lebih baik diberi nama madzhab Taimiyah. Sehingga umat muslim dapat menilai batas dan bagaimana ijtihad beliau sesungguhnya.

Sekali lagi kami menghimbau untuk berhati-hati mengikuti "orang yang berupaya" mengikuti salaf, apalagi kalau perbedaan pemahaman ada dibidang i'tiqad.

Wassalam

Jonggol,  Mei 2010

.

.

Metode pemahaman Salaf(i) Wahabi dalam I'tiqad atau Akidah.

Kita perhatikan terlebih dahulu pemahaman mereka dalam i'tiqad atau akidah.

Sumber: Studi Kritis Tentang Akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan Sikap Pergerakan Islam Modern Terhadapnya, Prof. DR. Nashir bin Abdul Kariem al-’Aql

Allah Subhaanahu Wata'ala menyatakan diri-Nya dan begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwasanya Allah itu Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Berbicara, Maha Hidup, Maha Berkehendak dan bahwasanya Allah bersemayam (istawa) di atas ‘arasy, di atas hamba-hamba-Nya, dan Allah Subhaanahu Wata'ala itu meridhai, murka, mencintai dan membenci, datang dan turun; tertawa dan kagum sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya (dengan pasti menafikan tasybih) sebagaimana diungkapkan dan dinyatakan oleh Allah tentang diri-Nya dan sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Dia, (bahwasanya Allah itu mempunyai) wajah, tangan (yadd), mata dan lain-lainnya yang dijelaskan oleh al-Qur’an dan hadits-hadits shahih.

Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini sifat-sifat Allah sebagaimana Allah ungkapkan mengenai Diri-Nya dan sebagaimana pula diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa tasybih, takyif, tamtsil, ta’thil dan tidak juga ta’wil.

Beriman kepada Allah Subhaanahu Wata'ala mengesakan rububiyyah-Nya, Uluhiyyah-Nya dan nama dan sifat-sifat-Nya.

Sumber: AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS, Abu Isma'il Ash-Shabuni

Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas 'Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Mereka mengatakan:"Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal"(QS Ali-'Imran:7).
Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.

Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Inilah yang saya katakan sebagai metode pemahaman secara lahiriah, tekstual atau dzahirnya.

Allah telah berfirman yang artinya,

Kami, kata Allah, menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu fikirkan dan teliti (memahaminya) .” (Surat Yusuf : 2)

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran : 7 ).

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah – 269).

"Orang-orang berakal" (Ulil Albab).

Jika dipahami dengan metode pemahaman lahiriah, tekstual atau dzahir maka orang-orang berakal adalah mempunyai akal atau menggunakan akal.

Allah telah menerangkan bahwa maksud dari orang-orang berakal, salah satunya adalah sebagaimana firmanNya yang artinya,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 191).

Oleh karenanya, untuk memahami ayat mutasyabihat, sebaiknya kita tidak bertumpu kepada kemampuan, ilmu kita, pendidikan, penguasaan bahasa Arab, banyaknya kitab yang telah dibaca namun kita harus bertumpu kepada Allah, kita harus "mengingat Allah" agar dapat "menemui" Allah karena Allah-lah yang akan mengajari kita sebagaimana firman Allah yang artinya,
"…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282).

Kita harus meninggalkan maksud literal (makna dzahir) ayat-ayat mutasyabihat tersebut, dan mengembalikan pemahamannya dan berpegang teguh kepada ayat yang muhkamat seperti ayat, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”. (QS.al-Syura : 11)

Allah telah memerintahkan kepada kita agar pikirkan, teliti (memahaminya), dan mengambil pelajaran dengan mengharapkan anugerah dari Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat terhadap lafadznya namun kami mengambil pelajaran dengan mengharapkan pertolongan, anugerah dari Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

Syaikh Ibnu Athoillah memberikan nasehat,
"Allah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”

Kita dapat mengenal Allah (ma'rifatullah) bukan karena kemampuan atau upaya kita namun semuanya atas kehendak Allah.

Untuk itulah saya mengajak saudara-saudara muslimku untuk mendalami Tasawuf dalam Islam.
Sebagian ulama-ulama setelah zaman Salafush Sholeh ada yang menampik Tasawuf dalam Islam.

Janganlah terpengaruh oleh fitnah yang dilontarkan oleh musuh-musuh orang beriman atau prasangka buruk terhadap kami yang mendalami Tasawuf atau berdasarkan hasil pengamatan terhadap mereka yang keliru mendalami Tasawuf dalam Islam.

Sebaiknya tidak mengkhawatirkan kami karena kami berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Hadits.

Kami berupaya mengikuti sunnah Rasulullah SAW, antara lain anjuran Beliau agar kita bersikap Zuhud di dunia

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Harapan kita adalah Allah akan mencintai kita dan begitu pula dicintai oleh manusia lainnya.

Ketika Allah mencintai kita, maka seperti apa yang disampaikan dalam sabda Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman: “Apabila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya (kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku

Wassalam

Zon di Jonggol